05
Jun
20

Kenegarawanan : Pancasila Bintang Penjuru Giat New Normal

Logo Kerabat 45

Suara Warga45

*Pancasila Bintang Penjuru Giat New Normal*

MERDEKA !

Pernyataan *Pancasila Bintang Penjuru Pergerakan* [Presiden RI, 1Jun20] perlu disambut baik
https://amp.kompas.com/edu/read/2020/06/01/204540471/presiden-jokowi-pancasila-jadi-bintang-penjuru-menggerakkan-kita-semua

Mengingat ternyata selaras saja dengan *Rekomendasi Tonggak Pancasila Mercusuar Dunia [1Jun20]*
https://jakarta45.wordpress.com/2020/06/01/kenegarawanan-rekomendasi-tonggak-pancasila-mercusuar-dunia-1-juni-2020/

Dalam pengertian diatas maka fakta keserasian diantara Faktor-faktor Resiko Pandemi Covid19 per 4Jun20 sebagaimana

1) IndoCovid19 = 5,97 %
2) JakCovid19. = 6,97 %
3) WorldCovid19 = 6,02 %

adalah petunjuk ketangguhan Indonesia cukup prima dan oleh karenanya *Pancasila Bintang Penjuru Giat New Normal* dapat menjadi paradigma giat kebangsaan Indonesia kini dan esok.

Selebihnya, bijak pula diterima adagium bahwa Pancasila itu Bintang Penjuru aplikasi strategis dan taktis bagi :

1) Konstitusi Proklamasi UUD 1945 [BRI Tahoen II No 7, 15 Febroeari 1946 jo LNRI No 75, 5 Djuli 1959];

2) 45 butir Pedoman Pengamalan Pancasila Tap MPRRI No 1/2003

*Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila*
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pedoman_Penghayatan_dan_Pengamalan_Pancasila

3) *17 Pusaka Bangsa Indonesia*
https://jakarta45.wordpress.com/2019/07/17/kenegarawanan-17-pusaka-bangsa-indonesia/amp/

4) *Cultural Quotient 17845*
https://jakarta45.wordpress.com/2019/10/06/cultural-quotient-17845-primer-pejoang-republik-indonesia-merdeka/amp/

5) *Pandekar Indonesia*
https://jakarta45.wordpress.com/2019/09/27/kenegarawanan-pandekar-indonesia/amp/

Dengan demikian dapatlah diharapkan ADAT (Amanah, Damai, Aman, Tangguh) INDONESIA tercapai se-baik2nya.

Jakarta Selatan, 5 Juni 2020

Tetap MERDEKA !
Pandji R Hadinoto
KaBPK45JakSel@GORBulungan

LAMPIRAN :

PHOTO-2020-05-31-07-34-41

Paparan Gubernur_PSBBTRANSISI_4 Juni 2020.pdf

PHOTO-2020-06-05-06-11-48

PHOTO-2020-06-05-20-16-29

PHOTO-2020-06-05-20-16-30

IMG_7216

CoPas ex WeKa Wawat Kurniawan, Peduli Negeri 1

*Periodesasi Pancasila negara Indonesia :*

I. Periode thn 18 Agustus 1945 sd 27 Desember 1949, Pancasila Dasar Negara , konstitusi UUD 45 asli 18-08-1945, isi:
1.Ketuhanan yg Maha Esa.
2.Kemanusiaan yg Adil dan Beradab.
3.Persatuan Indonesia.
4.Dan Kerakyatan yg dipimpin hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. 5.Serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia.

II. Periode 27 desember 1949 sd 17 agustus 1950, Pancasila Dasar Negara, konstitusi UUD RIS 1949 , sila2nya;
1.KeTuhanan Yg Maha Esa.
2.Peri Kemanusiaan.
3.Kebangsaan.
4.Kerakyatan.
5.Keadilan Sosial.

III. Periode 17 agustus 1950 sd 5 juli 1959, Pancasila Dasar Negara, Konstitusi UUDS 1950 sila2nya;
1.Ketuhanan Yg Maha Esa.
2.Kemanusiaan Yg Adil dan beradab.
3.Persatuan Indonesia
4.Kedaulatan Rakyat
5.Keadilan Sosial.

IV. Periode 5 juli 1959 sd 19 oktober 1999 amandemen pertama Pancasila Dasar Negara, Konstitusi UUD 1945 asli tgl 18 agustus 1945 dijiwai piagam jakarta sila2 nya;
1. KeTuhanan Yg Maha Esa.
2.Kemanusiaan Yg Adil dan beradab
3.Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan.
5.Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia

.V.Periode 19 oktober 1999 sd 10 agustus 2002, Pancasila Dasar Negara ,konstitusi uud 45 proses perubahan sila2 sbb:
1. KeTuhanan Yg Maha Esa.
2.Kemanusiaan Yg Adil dan Beradab.
3.Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan.
5.Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

VI.periode 10 agustus 2002 sampai dgn thn 2011,pancasila sbg dasar negara,konstitusi uud 2002/uud 45 NRI sila2 sbb:
1. KeTuhanan Yg Maha Esa.
2.Kemanusiaan Yg Adil dan Beradab.
3.Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan.
5.Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

VII. Periode thn 2011 sd 3 april 2014 ,pancasila sebagai *pilar negara* , konstitusi uud 2002/uud 45 NRI dgn sila2 sbb:
1. KeTuhanan Yg Maha Esa.
2.Kemanusiaan Yg Adil dan Beradab.
3.Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan.
5.Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

VIII periode 3 april 2014 sampai saat ini thn 2017 ada 2 pendapat :
1.Kelompok yg berpendapat Pancasila sebagai Dasar Negara ( Mahkamah Konstitusi,sebagian besar Rakyat Indonesia)
2.Kelompok yg berpendapat pancasila pilar negara (mpr/dpr,sebagian kecil rakyat) terbukti sosialisasi 4 pilar tetap berlanjut memakai dana Apbn yg klu di akumulasi sampai enam tahun sejak thn 2011 sdh mencapai trilyunan

Sikap pemerintah ttg 4 pilar jelas ambigu/mendua terbukti pemerintah tdk pernah secara tegas melarang frasa pancasila bkn pilar negara tapi dasar negara .dpt disimpulkan Pancasila yg benar adalah Pancasila yg sila2nya ada dalam pembukaan UUD 45, 18 agustus 1945 atau UUD 45 asli ,sesuai cita2 Proklamasi 17 agustus 1945.

Bukan pancasila uud Ris 49,bukan pancasila uuds 50,bukan pancasila uud 2002/nri 45, bukan pancasila sebagai pilar negara versi thn 2011.

Refleksi Penghianatan terhadap PANCASILA yang terdapat dalam praktek dengan menjadikan *PANCASILA Sebagai 4 PILAR Kebangsaan .*

Penghianatan terhadap Sila-Sila Pancasila yang terdapat di dalamnya dalam praktek kehidupan Ber Bangsa dan Ber Negara saat ini

• Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa ->> Pemerintah telah gagal melindungi kebebasan beragama. Kehidupan toleransi beragama telah dicederai oleh konflik antar agama.

• Sila Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan beradab ->> Pemerintah gagal memberikan perlindungan dan rasa aman terhadap rakyat serta gagal melakukan penegakan hukum yang berkeadilan.

• Sila Ketiga, Persatuan Indonesia ->> Pemerintah telah gagal menyelesaikan konflik horisontal antar warga masyarakat yang makin meningkat.

• Sila ke Empat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan : Tata cara permusyawaratan tidak lagi dilakukan dengan penuh hikmat kebijaksanaan karena tidak ada lagi keterwakilan rakyat melainkan keterwakilan partai politik semata.

• Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia ->> Pemerintah telah gagal menciptakan kesejahteraan rakyat yang merata dan berkeadilan dengan tetap menjaga nilai -nilai budaya dan adat istiadat serta kelestarian lingkungan hidup.

*KITA TELAH TERSESAT DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA .*

Setelah amandemen UUD 1945 dan tanpa disadari maupun disadari Bangsa Indonesia telah dilucuti dari nilai-nilai ke Indonesiaan nya yang dengan susah payah penuh pengorbanan dibangun oleh pendiri negeri ini .Hari ini nilai-nilai jati diri bangsa semua dihabisi dianggap sudah usang, dengan alasan setiap jaman punya jaman nya sendiri ,dan kita harus ikuti globalisasi, bahkan tanpa sungkan mengatakan globalisasi ini lah pikiran Soekarno.
Saya buka semua ajaran Soekarno tidak ada satupun yang berkompromi dengan Kapitalisme,Liberalisme, justru Pancasila itu antitesis dari Nekolim. Globalisasi telah disetubuhi dengan birahi kerakusan bahkan Nekolim di beri karpet merah untuk menjarah kekayaan ibu pertiwi dikeruk diangkut dan didatangkan tenaga untuk mengeruk nya, BUMN juga diberikan kepada Asing, pulau-pulau boleh dijarah dan diberi nama terserah negara asing yang menjarah, inilah akibat dari Pembukaan UUD 1945 tidak lagi dijadikan pedoman, arah, dasar, jiwa, cita-cita untuk menjalankan Negara Bangsa, kibat amandemen Pembukaan UUD1945 dipenggal dari batang tubuhnya. Kalau sudah begini tidak mungkin tujuan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia terwujud.

Pancasila itu lahir dari kandungan perlawanan terhadap penjajahan asing, demikian juga Bhineka Tunggal Ika itu adalah semangat untuk mempersatukan bangsa dari berbagai suku dan agama yang berbeda untuk melawan kolonialisme dan imperialisme yang menginjak injak nilai nilai Ketuhanan, KEMANUSIAN, Kebangsaan (nasionalisme), demokrasi dan keadilan.

Lhaaaa…kok sekarang Pancasila berubah arah untuk alat lawan intoleransi. Piye Iki….? Bhineka Tunggal Ika dijadikan kue tar, dipotong tunggal ikanya, yang penting berbeda aja…

Lhaa bukannya Intoleransi terjadi karena nilai nilai Pancasila nya tak diwujudkan…

Memang benar kata bung Karno, nekolim itu lihai…hehe

Yang mesti menjadi perhatian kita, revolusi digital telah mengubah secara mendasar ; bukan perdebatkan HARI LAHIR !!!

1. Terkuburnya ideologi produk revolusi industri. Baik itu komunisme, fasisme dan sejenisnya.

2. Teori dan konsep negara bangsa juga akan hancur seiring globalisasi pasar bebas, borderless.

3. Konsep warga negara akan runtuh dan digantikan jadi warga dunia.

4. Konsensus lama seperti Regionalisme pertahanan dan Regionalisme ekonomi juga akan runtuh (contoh Brexit).

5. Konsensus tentang aturan dan institusi perdagangan global yang melahirkan WTO, IMF, WB juga akan runtuh dan tak berfungsi.

Dunia berada pada persimpangan jalan; pilihan menuju pada situasi BARBAR karena tak ada lagi konsensus yang mengikat, tak ada lagi kekuatan super power.

Atau pilihan menuju pada Spiritualisme, seperti yang dicita citakan oleh Soekarno dan pendiri bangsa, PANCASILA SEBAGAI PIAGAM UNIVERSAL.

Aku kuatir NKRI tak lolos dari siklus dan seleksi Akbar yang sedang berlangsung….

Bagaimana Mungkin, Membentuk Negara *Demokrasi* Jika Semua Hal Didasarkan Dengan *Transaksi*

Bagaimana Mungkin Melahirkan Sosok Pemimpin Yang *Pancasilais* Di System Negara Yang *Liberalis*

Bagaimana Mungkin, Membentuk *Ideologi* Jika Yang Dicari Hanya Perolehan *Kursi* di DPR.

Bagaimana Mungkin Melahirkan Dan Menemukan Sosok *Negarawan,* Di Negara Dengan Pola *Gerombolan*.

Bagaimana Mungkin Mencari Pemimpin Yang *Tegas* Di Negara Yang *Bebas*

Bagaimana Mungkin Melahirkan *Politisi* Jika Parpol Merupakan Institusi *Korporasi*

Bagaiman Mungkin Membentuk *Koalisi* Jika Berdasarkan *Kongsi*

Bagaimana Mungkin Menjadi *Oposisi* Jika Didasarkan *Sakithati*

Bagaimana Mungkin Melahirkan *Pejuang* Jika Diukur Dengan *Uang*.

Bagaimana Mungkin Melahirkan *Pahlawan* Jika Berjuang Untuk Mengejar *Jabatan*

Bagaimana Mungkin, Presiden Ingin Mengendalikan Gubernur, Bupati & Walikota Jika Proses Pemilihannya, Melalui Partai Politik Dan Pemilihan Langsung.

Bagaimana Mungkin Negara Mengendalikan Harga Jika Harga Ditentukan Oleh Pasar Yang Dikendalikan Oleh Syndicates.

Bagaimana Mungkin, Mencari Dan Menilai Kinerja Sopir Jika Yang Dikendarai Mobil Rusak

Menurut saya Pancasila tidak boleh ditafsirkan pemerintah, cukup dipahami oleh rakyat saja sbg falsafah kita berbangsa dan bernegara

Dan pemerintah hanya sebaiknya menciptakan Aturan, hukum dan undang2 dgn memasukan Nilai2 sila – sila dr pancasila, agar masyarakat bisa lebih merasakan manfaat dr ideologi Pancasila tsb
Dgn demikian tiap kebijakan pemerintah menjadi Pancasilais = pro rakyat

PANCASILA YG SAYA MAKSUD ADALAH PANCASILA YG LAHIR *18 AGUSTUS 1945* krn itu adalah Pancasila yg juga ada pada ISI PEMBUKAAN UUD45 pada Alinea ke 4

“L’ETAT C’EST MOI”

Oleh: Irawan Santoso Shiddiq

Di Paris tahun 1655. Kerajaan Perancis dipimpin seorang raja muda, Louis XIV. Usianya masih belia, 17 tahun bertahta. Suatu pagi dia memasuki altar rapat parlemen. Bermimik marah. Beliau memakai sepatu bot dan memegang cambuk. Begitu masuk, dia berkata, “L’etat c’est moi!” (Akulah Negara). Dia minta rapat dihentikan. Karena dia-lah raja. Dialah sang hukum.Voltaire, seorang filosof yang iri dengan Montesquei, mengkisahkannya dalam ‘Siecle de Louis XIV’.

‘L’etat c’est moi’ menggaung kemana-mana. Ini seperti simbol keangkuhan raja. Seolah dijadikan alasan betapa monarkhi penuh ketidakadilan. Di kerajaan Inggris Raya, kisah serupa pernah membahana. Sang penerus Charlemagne, terkenal dengan ucapannya, “The King can do no wrong”. Raja tak pernah salah.

Belantara Eropa yang monarkhi dengan titah raja, patuh dengan azas “the law is king.” Epos inilah yang monarkhi seolah anti demokrasi. Nomokrasi seolah tak berkeadilan sama sekali.
15 Juni 1215, di pedesaan Runnymede, dekat kota Windsor, Inggris Raya, kejadian besar berlangsung. King John of England, menandatangani perjanjian. Sejumlah baron memberontak. Mereka ingin memisahkan diri dari kerajaan Inggris. Tapi di sisi sama, kerjaan Perancis tengah menyerbu. King John butuh dukungan kaum Inggris. Alhasil kesepakatan damai disepakati. Dia memberikan toleransi hukum buat kaum Baron. Mereka tak akan dipenjara semena-mena. Upeti dikurangi. Para baron juga mendapat perlindungan hak-hak Gereja. Piagam itulah Magna Charta.

25 baron itu dianggap sukses meluluhlantakkan hukum sang raja. Mereka berhasil membuat kesetaraan, raja dan rakyat, setatusnya sama. Sejak itulah equality before of the law membahana. Para baron itu bukan tak punya modul. Mereka mengambil kisah Romawi. Kala abad 450 SM, Romawi begitu digdaya. Raja adalah hukum, tak bisa disanggah. Sebuah kisah pertentangan kaum proletar datang. Mereka menuntut kesetaraan hak. Tersebutlah Lembaran Dua Belas. Ini kesepakatan damai antara Kaisar dan rakyat. Kaum proletar dibolehkan punya wakil di tribun, semacam majelis perwakilan di republik Romawi. Proletar mendapat hak-hak plebeian, terbebas dari penafsiran hukum yang sewenang-wenang.

Kaum ini mengacu pada Cicero, sang legenda. Praetor ternama itu penganut paham Stois. Cicero tak setuju kekuasaan kerajaan berada di satu tangan.

16 Desember 1792, Raja Louis XVI ketiban sial. Dia dikudeta paksa. Revolusi berdarah terjadi di Paris. Sang monarkhi disingkirkan. Sponsor utama pemberontakan, adalah kaum baron. Borjuis Perancis yang berada dibelakangnya. Mereka sengaja membebaskan para budak, untuk menjadi tentara revolusi, melawan kerajaan. Tapi revolusi diatur dan dijalankan dari Inggris. Jeremy Bentham, William Petty, sang Earl of Shelbourne, punya peran penting di drama itu. Sembilan orang tak dikenal, berada dibalik layar. Revolusi ini, sama seperti revolusi Bolshevik, benci terhadap Hukum Gereja.
Proletar seolah bebas.

Liberte, Egalite, fraternite berkumandang nyaring, Tak ada lagi “L’etat C’est moi”. Karena hukum disusun bersama. Dibuat bersama-sama, tanpa perlu lagi tunduk pada aturan Gereja. Itulah konstitusi.

Rechtstaat membahana. Negara hukum seolah jalan keluarnya. Rule of the law dibuat sebagai cita-cita. Rechtstaat berarti hukum yang berdiri pada aturan kesepakatan. Semua hukum dibuat bersama. Walau dengan perwakilan. Tak ada lagi hukum yang turun dari langit, karena dianggap tak ada kesepakatan sebelumnya. Du contract social jadi idola. Tuhan tak lagi bisa memerintah. Kitab suci bukan hukum, karena disusun bukan berdasarkan kesepakatan.

Tapi proletar terperangah. Mereka tak lagi jadi budak, tapi malah berubah menjadi kuli. Memang tak digari, dicambuk, diikat bersama-sama, tapi dijerat dengan riba. Kaum borjuis pegang kendali. Mereka menguasai sektor ekonomi.

Centeng-centeng diciptakan, demi mengamankan mesin produksi. Equality before of the law hanya bualan. Karena hanya mulut manis di undang-undang. Tapi kaum baron sejatinya menjalankan sistem hukum poenali sanctie. Hukum yang diciptakan demi kepentingan perusahaan. Inilah fakta selama berabad, selepas “L’etat c’est moi” menghilang.
Karena memang Barat penuh kegelapan.

Mereka tak rela belajar pada Islam. “L’etat c’est moi” memang kegagalan monarkhi. Rechstaat juga sebuah penyimpangan atas nama konstitusi. Keduanya bernegara, tapi tak pakai hukum dari Allah Subhanahuwata’ala.
Lihatlah kala era Sultaniyya. Lihatlah bagaimana hukumnya. Keadilannya teruji. Tak ada Khalifah yang kebal hukum. Kala Islam baru terletak, abad 7 lalu, sebuah keadilan hukum pun tertonggak. Di sebuah sudut kota Madinah, Umar Bin Khattab telah jadi Khalifah. Dia akrab juga dipanggil Amirul Mukminin. Suatu ketika dia membeli seekor kuda kepada seorang kampung. Transaksi terjadi. Kuda itu dibeli. Berjalan beberapa ratus meter, kuda itu pincang. Umar kembali, kuda itu ingin ditukar. Si proletar, orang dusun itu tak terima. Umar bilang kuda itu cacat. “Tadi waktu saya jual kondisinya baik”, kata orang dusun itu menolak. Dia berani melawan Khalifah, walau tak salah. Bayangkan jika itu terjadi kepada Louis XIV atau Charlemagne. Umar terdiam. Dia tak memerintah memenggal kepala orang dusun itu. Umar justru minta masalah ini ditangani seorang qadi. Si dusun itu setuju. Dan dia merekomendasikan qadi Syuraih al Haritz untuk menangani kasus ini. Mereka pun mendatangi. Keduanya bercerita di depan qadi Syuraih.

Setelah itu, dia memutuskan. “Ambillah kuda yang telah engkau beli, wahai Khalifah. Atau kembalikan saat seperti engkau membelinya,” begitu vonis sang qadi. Umar terdiam. Khalifah kalah.

Suatu kala, seorang pencuri tertangkap di Madinah. Dia dihadapkan kepada Umar, sang Khalifah untuk disidang. “Mengapa engkau mencuri?” tanya Umar. “Karena takdir Allah,” jawab si pencuri. Umar pun langsung mencambuknya dan memotong tangannya. “Dia dipotong tangannya karena mencuri. Dicambuk karena berdusta kepada Allah,” jawab Umar.

Berabad-abad berselang, di Istanbul, tahun 1454. Islam masih berjaya. Sultan Muhammad Al Fatih begitu membahana. Dialah pemimpin penaklukkan ibukota Romawi. Sultan ingin membangun masjid jami’ di Istanbul. Epsalanti, arsitek Romawi ditunjuk. Transaksi terjadi. Tiang-tiang harus dibangun tinggi. Tapi ditengah jalan, Epsalanti ternyata memotong tiang-tiang itu. Sultan Al Fatih marah. Mengurangi tiang, berarti mencuri. Sultan Al Fatih memotong tangan Epsalanti.

Si Romawi tak terima. Dia mengadukan Al Fatih kepada qadi Shaykh Shari Qidr Jalabi. Keduanya pun dipanggil menghadap qadi. Al Fatih percaya diri. Epsalanti menceritakan. Al Fatih tak membantah. Wadi memutuskan, “Sebagai bentuk syariat, tangan anda harus dipotong sebagai bentuk qishash, wahai Sultan!”. Al Fatih terdiam. Epsalanti belingsatan. Dia tak menyangka vonisnya begitu. Dia berharap hukumannya Sultan didenda. Bukan potong tangan. Karena tak ada untung buatnya. Alhasil Sultan diperintah membayar 10 Dinar setiap hari, selama seumur hidupnya, kepada Epsalanti. Sultan setuju. Romawi itu sumringah. Begitulah Sultaniyya mengadili. Tak ada “L’etat c’est moi”.
Juga bukan rechtstaat.

Syariat itu yogya kautaruh
Dalam syari’at hakekat tiada jauh
Lain daripada syariat akan tali sauh
Si sauh ma’rifat sukar berlabuh


0 Responses to “Kenegarawanan : Pancasila Bintang Penjuru Giat New Normal”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 4,137,731 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…

%d bloggers like this: