04
Jul
17

Kenegarawanan : Kebahagiaan Indonesia

Kebahagiaan Indonesia

Senin, 27 Maret 2017 00:54

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Apakah rakyat Indonesia bahagia? Menurut Laporan Kebahagiaan Dunia 2017 yang dirilis minggu lalu oleh Jaringan Solusi Pembangunan Berkesinambungan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Indonesia menempati urutan ke-81 dari 155 negara di dunia (Kompas, 21 Maret 2017: halaman 8). Ini berarti, peringkat Indonesia sedikit di bawah tengah.

Pada minggu lalu pula (Kompas, 23 Maret 2017: halaman 1 dan 15), Program Pembangunan PBB melaporkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2016 menurun dari peringkat 110 ke-113 dari 188 negara. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia masih jauh di bawah Malaysia yang berada di peringkat 59, tetapi di atas Vietnam (115) dan Filipina (116).

IPM diukur berdasarkan capaian pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Di Indonesia, kesenjangan antara kaya-miskin, desa-kota masih sangat lebar. Rata-rata pendidikan rakyat baru 4,6 tahun dan hampir lima juta anak tidak bersekolah. Sekitar 140 juta orang berpenghasilan kurang dari Rp 20.000 per hari. Selain itu, 19,4 juta orang menderita gizi buruk, dan angka kematian ibu mencapai 305 per 100.000 kelahiran.

Ketika mengukur kebahagiaan rakyat suatu negara, PBB tampaknya juga menggunakan capaian IPM di atas. Selain itu, unsur lain yang dicermati adalah tingkat korupsi, kebebasan sosial dan modal sosial. Warga negara yang paling bahagia adalah yang menikmati kemakmuran merata, memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi kepada pemerintah dan saling mempercayai dalam pergaulan di masyarakat.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa indeks kebahagiaan dari PBB itu adalah berdasarkan ukuran yang kurang lebih bersifat objektif. Berdasarkan ukuran inilah, pembangunan suatu negara dapat dinilai tingkat keberhasilan dan kegagalannya. Tugas utama pengelola negara adalah mewujudkan kebahagiaan itu dalam kehidupan rakyat, sedangkan rakyat harus mendukung dan berpartisipasi.

Kesejahteraan dan Kemakmuran
Dalam Undang-undang Dasar 1945, kita memang tidak menggunakan istilah ‘kebahagiaan’ rakyat, tetapi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Menurut kamus, sejahtera artinya aman sentosa, dan makmur artinya serba berkecukupan. Dalam artian ini, kesejahteraan dan kemakmuran itu objektif, bisa dinilai berdasarkan kenyataan yang diindra, sehingga pengelola negara bisa dituntut untuk mewujudkannya.

Adapun kebahagiaan, selain objektif (nyata), juga subjektif (rasa). Kesejahteraan dan kemakmuran adalah modal kebahagiaan, tetapi bukan kebahagiaan itu sendiri. Orang yang hidup serba berkecukupan dan aman, belum tentu bahagia, jika dia serakah dan tidak pandai bersyukur. Namun, orang yang miskin-papa juga sulit bahagia kecuali jika dia mampu menjalani hidup dengan ikhlas, sabar dan syukur.

Secara subjektif, orang bisa saja pesimistis. Baginya, kebahagiaan itu laksana fatamorgana, indah dari jauh tetapi setelah didekati malah sirna. Orang yang mencapainya akan kecewa atau biasa-biasa saja, sementara orang yang belum mencapainya justru iri dan dengki. Tetapi orang bisa pula optimistis, penuh keyakinan bahwa jika cita-citanya tercapai maka kebahagiaan benar-benar akan diraihnya.

Harus Diperjuangkan
Orang yang bijak kiranya adalah yang realistis, yang memandang hidup sebagaimana adanya. Suka dan duka adalah kenyataan. Kehidupan dunia ini sementara adalah kenyataan. Kekuasaan, kekayaan dan ketenaran takkan abadi. Kekuatan dan kenikmatan jelas terbatas. Tetapi, semua ini adalah ‘jatah’ yang harus dinikmati, disyukuri sekaligus dipertanggungjawabkan kepada sesama manusia dan Tuhan.

Yang pasti, rendahnya indeks kebahagiaan Indonesia menunjukkan bahwa masih banyak sekali masalah sosial di negeri ini. Negara masih belum mampu memenuhi janji-janjinya.

Di sisi lain, ketabahan dan daya tahan rakyat menunjukkan kecanggihan mereka dalam mengelola kebahagiaan subjektif. Mereka umumnya sabar, tidak putus asa, apalagi bunuh diri. Tetapi banyak pula yang lari ke narkoba dan pil jin!

Itulah realitas yang harus disikapi secara realistis, yakni sebagaimana adanya. Kebahagiaan subjektif dan objektif, kebahagiaan perasaan dan kenyataan, kedua-duanya harus diperjuangkan. (*)

 

Rapor Merah Indeks Kebahagiaan Indonesia

105 hari yang lalu2min read

IndoPress, Serba-serbi – Dalam rangka memperingati “International Day of Happiness” atau “Hari Bahagia Internasional” pada 20 Maret, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) merilis indeks kebahagiaan suatu negara.

Ternyata Indonesia berada di peringkat ke-81 dengan nilai 5.262 dari 155 negara di dunia. Sementara negara Asean paling bahagia adalah Singapura dengan nilai 6.578.

Dengan negara tetangga kita, Malaysia saja, Indonesia masih kalah jauh. Malaysia menduduki peringkat 42 dengan nilai 6.084.

Indeks negara dengan nilai kebahagiaan paling tinggi adalah Norwegia dengan nilai 7.537, diikuti Denmark dengan nilai 7.522, Island 7.504, Switzerland 7.494 dan Finlandia 7.469.

Survei dilakukan dengan memberikan pertanyaan subjektif kepada lebih dari 1.000 orang setiap tahunnya di lebih dari 150 negara.

Indeks kebahagiaan diukur dari faktor kekuatan ekonomi dalam Produk Domestik Bruto perkapita, dukungan sosial, harapan hidup, kebebasan memilih, kemurahan hati, dan persepsi korupsi. [Billy/Yudhi]

[bws_related_posts]

Inilah Negara-negara Paling Bahagia di Dunia Tahun 2017

Norwegia berhasil mendepak juara tahun lalu, Denmark, ke posisi kedua. Republik Afrika Tengah, menduduki posisi paling buncit. Bagaimana dengan Indonesia?

Inilah Negara-negara Paling Bahagia di Dunia Tahun 2017Ilustrasi (Thinkstock)

Bertepatan dengan perayaan Hari Kebahagiaan Internasional atau International Happiness Day, Senin (20/3), PBB kembali merilis World Happiness Report untuk yang kelima kalinya sejak pertama kali diluncurkan pada 2012.

Dalam laporan tahun ini, PBB mengurutkan peringkat 155 negara di dunia berdasarkan tingkat kebahagiaan penduduknya. Ada enam faktor yang digunakan sebagai tolok ukur penilaian, yaitu pendapatan per kapita, dukungan sosial, hidup yang sehat, kebebasan sosial, kedermawanan, dan level korupsi.

World Happiness Report 2017 menekankan pentingnya pondasi sosial dalam mencapai kebahagiaan dan mengeksplorasi lebih detail faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi tingkat kebahagiaan individu dalam tiap-tiap negara.

Tahun  ini, predikat negara paling bahagia disematkan pada Norwegia, yang berhasil menggeser juara tahun lalu, Denmark, ke posisi kedua. Posisi ketiga hingga kesepuluh berturut-turut diduduki oleh Islandia, Swiss, Finlandia, Belanda, Kanada, Selandia Baru, Australia, dan Swedia.

Sementara itu, sepuluh negara di peringkat paling bawah yaitu Yaman, Sudan Selatan, Liberia, Guinea, Togo, Rwanda, Suriah, Tanzania, Burundi, dan peringkat paling buncit diduduki oleh Republik Afrika Tengah.

Amerika Serikat, mengalami kemerosotan kebahagiaan. Tahun lalu, negeri Paman Sam menduduki peringkat ke-13 dan kini bertengger di peringkat ke-19.

Lalu, di mana posisi Indonesia? Dalam daftar tahun ini, Indonesia menduduki peringkat ke-81 atau turun dua peringkat dari tahun lalu. Indonesia berada di bawah Filipina (72) Malaysia (42), Thailand (32), dan Singapura (26), namun berada di atas Vietnam (94), Myanmar (114), dan Kamboja (129).

Laporan ini dibuat agar pemerintah, organisasi dan masyarakat sipil meningkatkan penggunaan indikator kebahagiaan dalam pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan mereka.

Simak World Happiness Report 2017 selengkapnya di sini.

(Lutfi Fauziah. Sumber: unsdsn.org/,worldhappiness.report/)

 

Advertisements

0 Responses to “Kenegarawanan : Kebahagiaan Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,222,320 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: