10
Jun
17

Korps Indonesia : Islam Radikal Buah Pertarungan Hegemoni AS dan RRC

Islam Radikal Buah Pertarungan Hegemoni AS dan RRC

ilustrasi / ist

SHNet, JAKARTA – Investigasi Program Four Corners American Broadcasting Company (ABC) bersama kelompok media Fairfax, Senin, 5 Juni 2017, secara mengejutkan, mengklaim, para agen Australian Security Intelligence Organization (ASIO) berhasil menemukan file rahasia pemerintah dari sebuah rumah di Canberra, Oktober 2015.

Rumah yang digelegah milik Roger Uren, mantan pejabat tinggi dan diplomat Australia, beristrikan agen intelijen Republik Rakyat Cina (RRC), Sheri Yan (58 tahun). Ini kasus kedua terungkap ke permukaan, setelah pada tahun 2005, Duta Besar RRC di Australia, Chen Yong Lin, membelot jadi warga Australia dan secara mengejutkan mengklaim sudah 1.000 agen spionase di Australia telah bekerja untuk kepentingan Beijing, RRC.

ASIO menuding Sheri Yan, salah satu sosialita ternama di Australia, bekerja untuk kepentingan Partai Komunis RRC, mensuplai berbagai informasi penting tentang strategi negara-negara sekutu Amerika Serikat, termasuk Australia, di dalam menenamkan hegemoninya di berbagai belahan dunia.

Uren dicurigai telah mengambil dokumen tersebut dari bekas kantornya, Office of National Assessments, sebelum dia meninggalkan lembaga tersebut pada bulan Agustus 2001.

Penggeledahan bertepatan dengan penangkapan Sheri Yan dilakukan Federal Bureau of Investigation (FBI) di New York. Yan ditangkap atas tuduhan menyuap John Ashe, saat menjabat Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Yan telah mengaku bersalah dan dijatuhi hukuman penjara 2016.

Sheri Yan memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh politik, bisnis dan luar negeri Australia, termasuk politisi senior dari Partai Buruh dan Partai Liberal. Yan putri seorang seniman China yang terkenal dan anggota Tentara Pembebasan Rakyat dan dikenal memiliki koneksi luas di kalangan Partai Komunis.

Operasi ASIO menambah kemungkinan Australia, sebagai penganut ideologi liberatis dimotori Amerika Serikat, serta tokoh-tokoh di PBB telah menjadi obyek target operasi intelijen RRC. Setelah dinobatkan sebagai negara paling kaya di dunia sejak tahun 2005, RRC terus memperluas hegenomoni ekonomi dan politiknya di luar negeri.

Keperkasaan RRC tidak tanggung-tanggung, dengan berhasil menanamkan investasinya terbesar nomor satu di seluruh dunia, di Amerika Serikat tahun 2016 senilai US$110 miliar, dan urutan kedua terbesar di dunia di Indonesia senilai US$22,280 miliar, urutan ketiga di Federasi Rusia dan urutan ketiga di India.

Perkembangan skenario global terutama dipengaruhi oleh faktor kemunduran hegemoni AS yang memicu terjadi kompetisi strategis antara AS dan RRC.  Kemunduran hegemoni AS ditandai terjadinya stagnasi ekonomi sejak tahun 2008.

Stagnasi ekonomi ini membuat semakin besarnya defisit anggaran dan perdagangan AS yang melemahkan posisi mata uang dollar sebagai mata uang internasional dibandingkan yuan.

Kemunduran hegemoni AS sekarang diikuti dengan terjadi kompetesi strategis antara AS dan RRC, terutama di sektor keamanan energi. Manuver RRC mencari minyak dan gas dari Afrika, Asia Tengah, dan Asia Tenggara bersinggungan dengan kepentingan liberalisasi ekonomi dan politik AS di wilayah ini.

Salah satu kunci RRC lebih kuat dari AS, karena untuk mewujudkan ”China Dream”, yang menjadi simbol kebangkitan etnis Tionghoa, Xi Jinping (Presiden Cina) dan Li Keqiang (PM Cina), maka Cina-Hongkong dan Makau harus saling bekerjasama dan saling melengkapi.

RRC tetap menganggap Huaren dan Huaqiao (warga Cina perantauan) menjadi aset penting mengejar “China Dream” tersebut. Langkahnya adalah semua elemen RRC dimanapun berada adalah “satu bangsa” melalui program cultural nationalism. Hal tersebut ditegaskan, Martin Jaques dalam bukunya ”When China Rules The World”.

RRC dalam menerapkan prinsip nasionalisme kultural tetap menganggap orang-orang di luar Zhungguo (Cina) adalah barbar dengan sebutan yang tidak enak seperti ”Yang Guizi atau Guilao”, ”Fanyin” atau ”Fangui”.

Pertanyaan kemudian, apakah AS sudah tidak berdaya lagi menghadapi kepercayaan RRC sebagai penganut ideologis sosialis, sama seperti Indonesia yang sudah dimodifikasi sesuai alam dan budaya internal, yakni Pancasila?

Jawabannya, tentu saja tidak. Pengaruh Amerika Serikat di negara-negara yang penduduknya mayoritas Islam seperti di Indonesia, masih cukup kuat. Sudah menjadi rahasia umum, sejak pemerintahan Presiden Soekarno, Amerika Serikat selalu berkolaborasi dengan kelompok Islam radikal, untuk merongrong pemerintahan.

Dampaknya muncullah Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang kemudian, tanpa ujung pangkal, Partai Komunis Indonesia (PKI) dibubarkan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen TNI Soeharto, sehingga Presiden Soekarno dipaksa turun dari jabatannya terhitung 22 Juni 1966.

Kemesraan kalangan kelompok Islam radikal di Indonesia dengan Amerika Serikat, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Pada Rabu, 23 November 2016, Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, menuding pentolan Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Syihab, sebagai korban provokasi penganut idelogi liberalis, yakni Amerika Serikat dan Australia. Gatot mempertanyakan motif demonstrasi umat Islam di Jakarta, Jumat, 4 November 2016 yang sudah mengarah kepada disintegrasi bangsa.

Dengan demikian, menguatnya paham radikal, munculnya dukungan sejumlah oknum elit politik akan kehadiran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk mengganti ideologi Pancasila menjadi Syarikat Islam beraliran kekhalifahan, hasil konkret operasi intelijen AS di Indonesia. AS cemburu, karena pemerintahan di Indonesia sekarang sudah dinilai sudah terlalu mesra dengan RRC.

Ini bukan pertama kali AS membina hubungan dengan dengan kelompok Islam radikal di dalam merongrong pemerintahan yang sah di sebuah negara. Selama Perang Dingin, 1946 – 1991, AS secara efektif mengumpulkan jihadis-jihadis dari negara-negara yang berpenduduk Islam untuk melawan Rezim Najibulllah pemimpin Afghanistan yang didukung Uni Soviet.

Kegagalan Uni Soviet mempertahankan Afghanistan dari tangan jihadis-jihadis yang dibina Badan Intelejen Amerika Serikat (CIA) di Afghanistan inilah yang turut memicu ambruknya Uni Soviet dan runtuhnya Blok Timur yang menandai akhir Perang Dingin.

Paska Perang Dingin, muncul RRC sebagai kekuatan ekonomi global yang menjadi penantang utama hegemoni Amerika Serikat. RRC secara ekonomi melakukan “lompatan jauh ke depan” dengan memeluk ekonomi pasar bebas atau kapitalisme dengan cara mengintegrasikan perekonomiannya kepada perekonomian pasar global.

AS semakin kewalahan menandingi pertumbuhan dan perkembangan perekonomian RRC dimana neraca perdagangannya selalu defisit dengan RRC. RRC sudah hampir sempurna menciptakan “One Belt, One Road/OBOR” atau “Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Baru”.

Jalur sutra baru mengintegrasikan perekonomian dan perdagangan bebas dari RRC, India, Indochina, Asia Tenggara, Rusia, Eropa, Timur Tengah hingga Afrika. RRC  melebarkan pengaruh hingga ke Amerika Selatan dimana wilayah tersebut secara tradisional merupakan backyard atau halaman belakang kepentingan nasional Amerika Serikat.

Melihat kenyataan ini, masih relakah kita Bangsa Indonesia diperalat Amerika Serikat hanya bertujuan untuk menghancurkan diri kita sendiri seperti di Irak dan Suriah di Timur Tengah.

Klaim kelompok radikal tentang isu kebangkitan PKI di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, sementara saat bersama menginginkan ideologi Pancasila diganti Syariat Islam, harus dicermati betul secara arif dan bijaksana, karena tidak akan berdiri sendiri. (Aju)

Advertisements

0 Responses to “Korps Indonesia : Islam Radikal Buah Pertarungan Hegemoni AS dan RRC”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,213,848 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: