15
Apr
17

Dankdut : Performa Kesenibudayaan Pemusik Indonesia

Performa Kesenibudayaan Pemusik Indonesia

ilustrasi / ist

SHNet – Menyimak pergelaran Dankdut Academy 4 IndoSiar yang didominasi oleh voting SMS (yang tergantung juga pada daya dukung ekonomis daerah asal kontestan) bahkan putusan selera Juri dan Komentator menentukan kelanjutan keikutsertaan Kontestan di babak2 berikutnya ketimbang obyektifitas Suara Masyarakat Senibudaya‎, maka seharusnya saatnya kini dipikirkan adanya Performa Kesenibudayaan Pemusik Indonesia berupa Indeks yang membedakan potensi kualitas pelantun musikal multi genre (kemampuan pelantunan hibrid genre dankdut dengan genre2 seperti rock, jazz, blues,  keroncong dlsb) dengan genre dankdut klasik.

Pemikiran hal ini penting agar supaya kehendak mulia menduniakan musik Dankdut sebagai salah satu ikon Indonesia dapat lebih mulus diterima warga dunia yang memang sudah multi genre itu.

Selebihnya, Indeks Performa Kesenibudayaan Pemusik Indonesia ini ditujukan untuk terfasilitasinya dinamika pelantunan Dankdut multi genre yang berbasis musikal pemusik2 handal (dual capacity) oleh ukuran kualitatif mendampingi ukuran2 kuatitatif hasil kerja voting SMS  dan hasil2 kerja baik Juri maupun Komentator yang kini faktanya didominasi kemampuan genre Dankdut klasik itu (single capacity).

Dengan demikian, sifat kompetisi di pentas Dankdut Academy IndoSiar yang kini populis itu dapat terimbangi dengan faktor2 kualitatif disamping kuantitatif semata sehingga perlindungan konsumen dalam hal ini para pemangku Suara Masyarakat Senibudaya juga dapat terakomodir sekaligus penguatan keunggulan Budaya Indonesia kedepan.

Jakarta, 14 April 2017

Pandji R Hadinoto
Pengamat Budaya Indonesia

Menjaga Jati Diri Indonesia Melalui Seni Budaya 01 Oktober 2014 17:17:55 Diperbarui: 17 Juni 2015 22:48:31 Dibaca : 320 Komentar : 1 Nilai : 1 Durasi Baca : 5 menit Menjaga Jati Diri Indonesia Melalui Seni Budaya 14121326491659748968 Bagiku, Indonesia adalah darah dagingku. Aku akan merasa sakit jasmani hingga batinku, ketika negera ini diusik oleh gangguan-gangguan asing. Apalagi saat ini, globalisasi menuntut negara ini mengikuti arus modernisasi yang sebenarnya bagiku itu adalah rambu-rambu bahaya besar bagi negara ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hendaknya mulai sadar bahwa akan ada serangan-serangan yang berpotensi mengobrak-abrik kedaulatan, tatanan, serta keajegan sosial yang telah lama tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara. Mengamati perkembangan zaman yang semakin terpengaruh oleh kebudayaan barat (baca : asing), bagiku merupakan gejala musibah bagi negara ini bila masyarakat penghuninya sama sekali tidak memiliki rasa peduli. Coba kita renungkan sejenak video singkat berikut yang berjudul “Aku Peduli”, ini justru bagiku, ini adalah masalah waktu saja untuk mengubahnya, hanya masalah syarat bahwa aku harus peduli kepada negara ini. Yang menjadi fokusku sampai saat ini adalah nasib seni dan budaya negara ini. Sering ku melihat tayangan entah di televisi entah di media maya hingga media cetak, orang asing sangat mahir memainkan peralatan musik semisal Gamelan yang berasal dari Jawa. Mereka begitu antusias dalam mempelajari instrumen Gamelan, malah hampir sebagian besar dari mereka sudah mampu menjadi seorang sinden (penyanyi dalam pergelaran wayang kulit). Di satu sisi, aku melihatnya memang bagus, tetapi di sudut hati yang dalam, aku mengamati banyak generasi muda Indonesia yang sudah menjauhi kesenian tradisional atau kesenian konvensional. Banyaknya tuntutan zaman membuat kesenian yang sifatnya khas dan asli berubah menjadi kesenian tradisional yang tercampur atau yang ngetrend disebut kesenian kontemporer. Selain itu, ada hal yang lebih parah lagi, banyak remaja hingga orang dewasa yang sekarang sudah meninggalkan kultur-kultur yang memegang erat budaya daerah Indonesia. Melihat dan mengamati kondisi inilah, maka sejak aku duduk dan mengenyam bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku mulai merajut usaha untuk mempertahankan kesenian tradisional daerah, khususnya kesenian tradisional tempatku lahir, Jawa Timur. Pada saat SMP, aku secara senggaja menamai setiap bukuku yang kumiliki dengan nama berhuruf hanacaraka (huruf Jawa kuno). Lantas, teman-temanku malah mengejek hal tersebut dengan menyatakan bahwa aku sangat ketinggalan zaman. Aku hanya tersenyum melihat presumsi tersebut. Tetapi, aku tetap konsisten dengan tekadku untuk terus melestarikan apa yang diajarkan oleh kakekku. Aku memahami betul Pasal 32 UUD 1945 tentang budaya daerah yang merupakan cikal bakal dan diakui sebagai budaya nasional bangsa Indonesia. Suatu ketika saat SMP, tak sengaja kutemukan sebuah buku tentang prinsip-prinsip orang Jepang yang secara penuh dan konsisten, mereka memiliki prinsip hidup kaizen dan hansei. Kaizen adalah prinsip untuk memfilter setiap segala sesuatu yang masuk pada kehidupan dengan mengadopsi yang baik dan membuang atau mengeliminasi yang buruk. Sedangkan, hanseiadalah prinsip hidup untuk terus melakukan perbaikan tiada henti. Meskipun aku lahir dan sangat membela NKRI, tetapi aku sangat perlu menganut kedua prinsip yang kutemukan dalam buku tersebut. Dengan mengambil setiap pelajaran dan pengajaran yang ada, tekad bulatku untuk terus melestarikan seni dan budaya Indonesia berlanjut sampai masuk dan mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Di SMA, aku mulai ikut aktif dan turut serta dalam komunitas Karawitan. Karawitan iya, melestarikan aksara Jawa juga iya. Lagi dan lagi, beberapa temanku pun menyatakan bahwa aku ini orang aneh hingga aku ini orang yang ketinggalan zaman. Saat itu yang notabene sudah mulai merambahnya orang memakai HandPhone (HP), sementara aku masih berkutat mempelajari mahir memainkan Demung dan Peking Gamelan. Demung Gamelan Jawa, sumber foto : gong.web.id 14121327082134115485 14121327082134115485 Peking Gamelan Jawa, sumber foto : yern-yernie.blogspot.com Meskipun banyak teman-teman yang tak sejalan dengan prinsipku terhadap nasib seni dan budaya Jawa, tetapi aku yakin aku tak sendiri, di luar di tempat yang lain, kurasa ada banyak teman-teman generasi muda yang masih setia melestarikan Gamelan. Guruku pun saat memberikan tugas juga bertanya, “ini bukunya siapa ? kok namanya dengan aksara Jawa begini?”. “Oh, itu miliknya Joko, Pak !”, salah seorang teman sekelas menjelaskannya kepada guruku. Dari kejadian saat itu pun aku hanya mengelus dada, orang Indonesia ini punya banyak dan beragam budaya, tetapi tidak bisa budayanya sendiri. Generasi bangsa ini memperlajari dengan getol budaya asing, tetapi meninggalkan jati dirinya sebagai bangsa yang bersurga seni budaya. Kulupakan hal itu semua dengan secara konsisten dan dengan komitmen yang tinggi, aku akan terus melestarikan seni budaya yang kumiliki. Berlanjut ke Perguruan Tinggi (PT), secara otodidak kumulai belajar menari tarian tradisional Jawa, seperti tari Kuda Lumping, tari Remo, dan tari Reyog Ponorogo. Syukurlah, ternyata usahaku tak sia-sia saat itu. Pada setiap ajang kompetisi seni budaya yang diadakan oleh kampus, aku dijadikan sebagai pelatih bagi teman-temanku. Menjadi seorang pelatih seni tarian tradisional saat itu memang melelahkan, tetapi inilah tekadku agar seni tarian tradisional lebih terpatri dalam sanubari teman-temanku. Dimulai dengan melatih teman-teman tari Remo yang merupakan ikon seni Jawa Timur. Sekitar kurang lebih sebulan lamanya, secara berkala teman-teman kulatih pada waktu-waktu tidak ada jadwal kuliah. Mereka cukup antusias, meskipun ada saja saat-saat mereka kehilangan semangat untuk mempelajari tari Remo. Di akhir, jerih payah itu memanglah menampakkan hasil, kami berhasil mengantar kesenian tari Remo menuju puncak dan menyisihkan kesenian yang lainnya. 14121327581840246078 14121327581840246078 Foto Saat Setelah Performance Tari Remo, Jawa Timur, sumber foto : Dok. Pribadi Pada semester berikutnya, sebenarnya diriku sudah saatnya tak ikut andil dan berkutat dalam kegiatan teman-temanku. Tetapi, untuk kedua kalinya, diriku ditunjuk kembali sebagai pelatih tari tradisional. Kali ini teman-teman membawakan tari Reyog Ponorogo untuk berkompetisi culture day yang diadakan oleh kampus. Seni tari Reyog Ponorogo memang terbilang susah bagiku, apalagi aku sendiri bukan asli orang Ponorogo, tetapi aku merasa ikut memilikinya sehingga secara otodidak kupelajari gaya tarian tersebut sekitar satu bulan lebih. Berguru pada seorang penari dadak merak di daerah Bogor akhirnya aku mampu membela kesenian Reyog Ponorogo sebagai seni identitas asli Indonesia dalam kancah negara-negara di dunia. Jujur, setiap kali mendengar Reyog Ponorogo diaku oleh negara lain hatiku merasa sakit, ingin sekali mempelajarinya. Dan akhirnya, aku bisa, aku bisa membawa sekaligus melestarikan seni budaya tari tradisional tersebut. 14121328231930487130 14121328231930487130 Latihan Tari Reyog Ponorogo, sumber foto : Dok. Pribadi Sekitar sebulan, kulatih teman-temanku, meskipun ada pula bagian tari yang memang belum sempat kukuasai, tetapi secara umum kuajak teman-teman melakukan yang terbaik dalam rangka melestarikan seni budaya tari tradisional. Berbekal alat seadanya, setiap gerak dan gemulai alunan lagu kami berusaha menyajikan tarian dengan baik. 1412132873260456875 1412132873260456875 Melatih Warog dan Klono, Itu Tari Topengnya Pakai Kardus, sumber foto : Dok. Pribadi Disertai dengan canda dan tawa, keluh dan kucuran keringat pun tak terasa. Aku dan teman-teman secara teratur dan terjadwal mengadakan latihan. Aku sendiri yang ditunjuk sebagai pelatih sekaligus pemain juga kadang kewalahan, sebab tarian Reyog Ponorogo merupakan tarian paduan beberapa bagian. Ada tari yang dibawakan oleh tokoh Warog, ada tari tokoh Klono sewandhono, ada tari Jathilan, ada juga yang paling susah dan penuh aksi, yaitu tari Bujang Ganong yang penuh dengan gerakan aktraktif dan memukau. 1412132952539986266 1412132952539986266 Atraksi Teman-Teman Bujang Ganong saat Performance Reyog, sumber foto : Dok. Pribadi 1412133118676252453 1412133118676252453 Performance Tari Jathilan Reyog, sumber foto : Dok. Pribadi 1412133019255499792 1412133019255499792 Performance Tari Topeng Malang, sumber foto : Dok. Pribadi Selain itu, saat itu juga ada pula sedikit tambahan yaitu tari Topeng yang berasal dari Malang Jawa Timur sehingga komplit sudah tugasku. Rencanaku dan teman-teman sekali lagi tak sia-sia, meskipun masih saja ada sebagian orang yang berkicau bahwa menari tak ada manfaatnya. Kata siapa tari tak ada manfaatnya ?. Menurutku, tari selain sebagai aksi melestarikan seni budaya, tari juga akan menjadikan jasmani menjadi sehat karena tari pada hakikatnya sama dengan senam. Inilah satu hal yang terus kuyakinkan kepada teman-teman. Dari beberapa jenis tari yang menjadi tanggung-jawabku, ternyata yang paling berat memang adalah bagianku sendiri yang juga terpaksa ikut andil saat itu. Berat Dadak Merak yang sekitar 80 kilograman harus kuangkat dengan gigiku. Awalnya memang diriku merasa takut melakukannya, tetapi karena tekadku untuk melestarikan dan membela milik Indonesia, Reyog Ponorogo, adalah hal yang hukumnya wajib ! bagiku. 14121331741360299153 14121331741360299153 Aksiku untuk Indonesiaku, Reyog Ponorogo adalah Milik Indonesia !, sumber foto : Dok. Pribadi 14121385871120405763 14121385871120405763 Atraksi Reyog untuk Indonesia, sumber foto : Dok. Pribadi Inilah saatnya ku beraksi untuk Indonesiaku. Aku tak ingin panji-panji seni budaya bangsa dan negara ini ternodai oleh budaya-budaya asing yang buruk dan berpotensi melunturkan keaslian dan jati dirinya. Aku bertekad akan terus mengawal kesenian tradisional ini, minimal dari seni budaya dari daerah asalku. Aku tak ingin generasi pemuda bangsa ini bobrok dengan adanya budaya-budaya asing yang licik menggerogoti budaya asli yang telah lama dibangun oleh para pendiri bangsa ini. Itu semua tak ada alasan lain melainkan karena aku peduli.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/jokoade/menjaga-jati-diri-indonesia-melalui-seni-budaya_54f47c3f745513a42b6c8a4e

SUARA MASYARAKAT SENIBUDAYA INDONESIA

Pecinta Dangdut Indosiar

Foto | Istimewa | ParlemenRakyat.com

SUARA MASYARAKAT SENIBUDAYA INDONESIA Pecinta Dangdut Indosiar

Jakarta Parlemen Rakyat.com,

Tereliminasinya kontestan RAFI SUMANTRI berasal dari Cirebon di Pergelaran Dankdut 4 IndoSiar hari Jumat malam tanggal 14 April 2017 setelah sukses meraih 5 (lima) Lampu Hijau dari Dewan Juri melalui pelantunan bergenre ganda dengan spektakuler sehingga didapuk pelantunan ulang oleh Host (Rina, Irfan, Ramzy, Gilang) oleh perolehan kuantitatif SMS terendah membuktikan kebenaran daripada opini yang diungkapkan PERFORMA KESENIBUDAYAAN PEMUSIK INDONESIA, 14 April 2017 , hal ini ditegaskan Suara Masyarakat Senibudaya Indonesia, Pandji R Hadinoto
Keluarga Besar Pejoang 45.

Menyimak pergelaran Dangdut Academy 4 IndoSiar yang didominasi oleh voting SMS (yang tergantung juga pada daya dukung ekonomis daerah asal kontestan) bahkan putusan selera Juri dan Komentator menentukan kelanjutan keikutsertaan Kontestan di babak2 berikutnya ketimbang obyektifitas Suara Masyarakat Senibudaya, maka seharusnya saatnya kini dipikirkan adanya Performa Kesenibudayaan Pemusik Indonesia berupa Indeks yang membedakan potensi kualitas pelantun musikal multi genre (kemampuan pelantunan hibrid genre dankdut dengan genre2 seperti rock, jazz, blues, keroncong dlsb) dengan genre dangdut klasik.

Pemikiran hal ini penting agar supaya kehendak mulia menduniakan musik Dankdut sebagai salah satu ikon Indonesia dapat lebih mulus diterima warga dunia yang memang sudah multi genre itu.

Selebihnya, Indeks Performa Kesenibudayaan Pemusik Indonesia ini ditujukan untuk terfasilitasinya dinamika pelantunan Dankdut multi genre yang berbasis musikal pemusik2 handal (dual capacity) oleh ukuran kualitatif mendampingi ukuran2 kuatitatif hasil kerja voting SMS dan hasil2 kerja baik Juri maupun Komentator yang kini faktanya didominasi kemampuan genre Dankdut klasik itu (single capacity).

Dengan demikian, sifat kompetisi di pentas Dankdut Academy IndoSiar yang kini populis itu dapat terimbangi dengan faktor2 kualitatif disamping kuantitatif semata sehingga perlindungan konsumen dalam hal ini para pemangku Suara Masyarakat Senibudaya juga dapat terakomodir sekaligus penguatan keunggulan Budaya Indonesia kedepan.

Berdasarkan fakta termaksud diatas, maka disarankan agar pada tahap audisi Dankdut Academy berikutnya sudah dilakukan seleksi pemilahan untuk membedakan kontestansi Pedandut kategori *Penyanyi Non Musisi* dan *Penyanyi Musisi*. Seperti Rekam jejak empiris, Penyanyi Musisi telah melahirkan senibudaya mendunia seperti kelompok2 legendaris The Beatles, The Rolling Stones, The Beach Boys, The Scorpions, dlsb sejak dekade 1960an. Dengan kata lain, penataan kompetisinya juga terbedakan bagi *Calon Pedandut Non Musisi* dan bagi *Calon Pedandut Musisi* sehingga proses Kontestasi Pedandut itu sendiri kedepan lebih mudah dipahami publik selain lebih akuntabel dan transparan. Hal ini perlu dilakukan guna menghindari dampak bias publik seperti pada sistim moda transportasi ibukota berlalulintas campuran (mixed traffic) sekaligus ditujukan guna memperlancar penetrasi senibudaya Dankdut yang ikon Indonesia itu ke pangkuan masyarakat dunia.
(Any SH)

Advertisements

0 Responses to “Dankdut : Performa Kesenibudayaan Pemusik Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,213,621 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: