28
Mar
17

BPK45 JakSel : Prakarsa Brigade 45

 kartunama GP45
Kepada Yth Sahabat2 WAG Seperjoangan
Di Jakarta Selatan
Perihal : *Brigade 45*
MERDEKA !
Berkaca kepada kesejarahan *Brigade 17* oleh unsur2 kejoangan 45 seperti Tentara Pelajar (TP), Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), Tentara Genie Pelajar (TGP), Corps Mahasiswa (CM) pada masa Perang Kemerdekaan 1945-1949, maka dikandung maksud kini dibentuk *Brigade 45* yaitu satuan Brigade Pembudayaan Kejoangan 45, berpenggerak mula Dewan Harian Cabang 45 Jakarta Selatan, GOR Bulungan, Blok M, Kebayoran  Baru, Jakarta Selatan,
Bilamana berkenan mengikuti kata bijak *Masa lalu adalah Sejarah, masa kini adalah Anugrah, masa depan adalah Misteri*, maka kesediaan Sahabat2 turut  prakarsai *Brigade 45* adalah peran serta terpuji bagi penguatan patriotisme kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan menghadapi perang nirmiliter (asimetrik, proksi, modern).
Kesediaan Sahabat2 dapat dikirimkan japri kepada kami.
Atas perhatian dan kerjasama terbaik ikut membudayakan berkelanjutan Jiwa, Semangat, Nilai-nilai 45 (JSN45), tiada lain diucapkan penghargaan se-tinggi2nya dan ungkapan selamat berjoang bersama.
Tetap MERDEKA !
Jakarta, 27 Maret 2017
Badan Pembudayaan Kejoangan 45,
Pandji R Hadinoto
Ketua DHC45 JakSel, Ketua GPA45/DHD45 Jakarta
Logo Segilima GPA45

FAREWELL BATTLE UNTUK KEMERDEKAAN = KEDAULATAN

Tanggal 29 April 2007 yang akan datang adalah patut diperingati bersama oleh anak bangsa Indonesia karena 29 April 1943 dan 29 April 1945 yang baru lalu adalah tonggak-tonggak Perjuangan Politik Kebangsaan Indonesia menuju Kemerdekaan Indonesia yang ditandai oleh Proklamasi 17 Agustus 1945 dan mencapai Kedaulatan Indonesia yang baru ditandai oleh Akta Penyerahan Dan Pengakuan Kedaulatan 27 Desember 1949.

Tanggal 29 April 1943 adalah awal terbentuknya Barisan Pemuda (Seinendan) dan Barisan Pembantu Polisi (Keibodan) disusul kemudian Barisan Pelopor (Suishintai), Barisan Bunuh Diri (Jibakutai), Barisan Hisbullah (Kaikyo Seinen Toishintai) dan Barisan Pelajar (Gokutotai) yaitu Barisan-barisan Para/Semi Militer yang dikemudian hari justru memperkuat sayap Operasi-operasi Militer di masa Perang Kemerdekaan 1945 – 1949.

Tanggal 29 April 1945 adalah hari Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia terbentuk, yang dikenali berujung dengan lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 dan Konstitusi Republik Indonesia 18 Agustus 1945.

Menurut pemahaman universal, pengertian Kemerdekaan dan Kedaulatan itu adalah menyatu sebagaimana juga dapat disimak dari Pembukaan UUD 1945, namun bagi situasi dan kondisi Indonesia berfakta unik, yakni dipisahkan oleh rentang waktu 4 (empat) tahun 4 (empat) bulan 10 (sepuluh) hari yang jumlah bilangannya menjadi 4 + 4 + 10 = 18 = 9 alias bertanda seperti 9 (sembilan) Pusaka Bangsa Indonesia (Sang Saka Merah Putih, Bhinneka Tunggal Ika, Soempah Pemoeda 1928, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Pancasila, Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, UUD 1945, Wawasan Nusantara NKRI, Jiwa-Semangat-Nilai2 Kejuangan 45).

Bagi yang percaya bilangan mistis, bilangan tanggal 17 berjumlah 8 dan bilangan tanggal 27 berjumlah 9, kedua jumlah bilangan itu dipercaya memiliki arti yang unik, dan kombinasi keduanya sepertinya bermakna bahwa tanggal 27 Desember 1949 itu memang dikehendaki sebagai melengkapkan makna tanggal 17 Agustus 1945, artinya guna memenuhi makna menyatunya Kemerdekaan dan Kedaulatan itu sendiri.

Oleh karena itulah, sungguh bijaksana sekiranya diperingati pula Pertempuran Perpisahan (Farewell Battle) prakarsa Brigade 17 Tentara Pelajar TNI di Solo pada tanggal 7 – 10 Agustus 1949 dimana berakhir dengan terkuasainya ¾ bagian kota Solo oleh 2 (dua) ribuan Tentara Pelajar Kota Solo itu. Hal ini kemudian berbuah keyakinan di pihak pimpinan bala tentara Belanda di Indonesia pada tanggal 11 Agustus 1949 bahwa bala tentara Belanda sudah pada titik ketidakmampuan untuk mengalahkan bala tentara Indonesia, sehingga memberikan tekanan yang menentukan bagi sikap pro syarat2 ajuan delegasi Republik Indonesia pada Konperensi Meja Bundar di Den Haag 1949.

Patut ditandai bahwa dari rekaman statistik markas besar staf umum tentara kerajaan Belanda di Jakarta, diperoleh jumlah 3812 (tiga ribu delapan ratus dua belas) serangan TNI ke pos-pos militer, kendaraan dan konvoi Belanda di mandala pertempuran pulau Jawa dan pulau Sumatera selama Perang Rakyat Semesta 1948 – 1949. Sedangkan Kota Solo dan sekitarnya sendiri tercatat 707 (tujuh ratus tujuh) serangan TNI atau 18,5 % dari jumlah total 3812 tersebut diatas, atau persentase tertinggi di seluruh mandala tempur.

Dengan demikian, tidak pelak lagi, gelar paparan Serangan Umum TNI / Tentara Pelajar di Solo tanggal 7 – 10 Agustus 1949 yang sedianya dijadwalkan pada tanggal 29 April 2007 jam 10.00 – 14.00 wib, bertempat di Gedung DHN Kejuangan 45, Jl. Menteng Raya 31, Jakarta Pusat 10340 adalah sungguh layak dihadiri oleh anak bangsa Indonesia.

Jakarta, 19 April 2007

Pandji R. Hadinoto / KaDep Politik & Hukum, DHN Kejuangan 45

Monday, 06 May 2013 22:57

19/02/11: Temu ex TP XVII (Bogor)

coverPada tanggal 19 Februari 2011 melakukan silahturahmi dengan puluhan anggota Tugas Prakarsa Siliwangi ex – Tentara Pelajar Pejoang Bersenjata 45 Brigade XVII Rayon Bogor sekaligus memberikan bantuan dan bingkisan kepada mereka bertempat di Museum Perjoangan Bogor Jl. Merdeka no. 56 Bogor. Acara ini diprakarsai oleh Sahabat Amanati (Ati) R Prasodjo.

[Klik foto untuk melihat gambar lainnya.]

Bela Tegaknya Keadilan Nasional, Brigade 411 Deklarasikan Diri

BERBAGI

Facebook
Twitter
Deklarasi Brigade 411.

Redaksikota – Mantan Kepala Staf TNI AL Laksamana (purn) Madya Slamet Soebijanto mengaku berdirinya Brigade 411 merupakan bentuk perwujudan dari kegelisahan bangsa Indonesia, yang merasa kedaulatan bangsa dan negaranya terpinggirkan.

“Deklarasi yang baru kita laksanakan ini adalah bentuk keinginan anak bangsa untuk bisa merdeka dan berdaulat kembali sebagai yang punya Negara. Kita merasa tidak berdaulat,” kata Slamet Soebijanto kepada Redaksikota, Kamis (10/11/2016).

Lemahnya kedaulatan Indonesia tersebut dikatakan Slamet, lantaran rusaknya sistem yang saat ini digerakkan oleh pemerintahan Indonesia. Baginya, sistem yang paling tepat bagi Indonesia adalah sistem yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.

“Negara ini yang dirusak sistemnya, jadi kita kembalikan sistem Pancasila. Sistem Pancasila adalah sistem majelis, yang duduk di sana adalah profesional, tokoh agama, ilmuwan, TNI, dan raja sultan,” tandasnya.

 

 

Laksamana (purn) TNI AL,Slamet Soebijanto dan Lily Chodidjah Wahid saat menghadiri deklarasi Brigade 411 di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat.

Apalagi jika melihat dari situasi dan kondisi keamanan, serta perpolitikan Indonesia saat ini, Slamet pun menilai jika seharusnya regulasi dikembalikan pada ruhnya yakni UUD 1945.

“Untuk meredakan situasi, selama sistem ini tidak diperbaiki maka kegaduhan akan tetap terjadi karena ada kepentingan di sini,” tukasnya.

Sementara itu, deklarator Brigade 411, Sofyano Zakaria mengatakan jika lahirnya Brigade 411 merupakan bentuk upaya untuk menjaga dan menegakkan kedaulatan hukum, kedaulatan keadilan di Indonesia. Apalagi supremasi hukum nasional saat ini tengah diuji dengan beberapa kasus peradilan yang membuat resah rakyat, termasuk yang saat ini melanda Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Bahwa kita sebagai bangsa butuh alat pergerakan yang bertujuan untuk menjaga ketahanan NKRI, untuk menegakkan UUD ’45 untuk melawan siapapun yang mengganggu kedaulatan bangsa,” tukasnya.

Terkait dengan isu akan munculnya gerakan Aksi Bela Islam jilid III, Sofyano menegaskan jika pihaknya tidak sedang memihak siapapun. Dia hanya menegaskan jika pihaknya hanya pro terhadap penegakan hukum dan Pancasila di Indonesia.

“Kita tidak pada kapasitas itu. Toh juga saya Islam, di sana juga ada yang non-muslim, jadi konteksnya bukan masalah bela Islamnya, tapi bela penegakan hukum,” tegasnya.

Rencananya dalam waktu dekat, Brigade 411 akan dilakukan pembentukan kepengurusan di kalangan grassroot. Dan penggunaan nama 411 tersebut dijelaskan Sofyano karena ada momentum aksi 4 November 2016 lalu.

[mib]

Pasukan T Ronggolawe

Setelah Yogyakarta diduduki oleh Militer Belanda pada 19 Desember 1948, pimpinan TNI memindahkan MBKD (Markas Besar Komando Djawa) keluar kota, dan system Wehrkreis dilaksanakan. Wehrkreis adalah bahasa Jerman dan merupakan siasat perang Gerilya dimana tidak ada front yang tetap. Kabupaten Wonosobo pada garis besarnya menjadi Sub-Wehrkreis dari SWKS X yang ditempati oleh pasukan T-Ronggolawe. T berarti “Tjadangan” atau Reserve. Ronggolawe nama divisi IV TNI di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Djenderal Major Djatikusumo.

Pasukan T-Ronggolawe adalah pasukan TNI yang terdiri dari para pelajar Sekolah menengah Atas (SMA), berusia 20 – 21 tahun, duduk di kelas 3, hampir semua menjadi perwira cadangan berpangkat sama dengan Vaandrig yang telah mempunyai pengalaman tentara selama 4 tahun. Anggota Pasukan T- Ronggolawe mempunyai pengalaman tempur melawan tentara Jepang di Semarang –Pertempuran Lima Hari, 15-20 Oktober 1945- juga melawan tentara Inggris di Ambarawa, dimana terdapat Kamp Interniran Belanda. Kemudian oleh Djatikusumo mereka ditarik untuk dilatih dalam “Pasoekan Opsir Tjadangan” di Salatiga.

SETELAH FRONT SEMARANG DAN AMBARAWA

Keputusan mengadakan Sekolah Opsir Tjadangan di dasarkan atas prakarsa Djenderal Major Djatikusumo, untuk membentuk satu korps opsir (perwira) cadangan, yang anggotanya dibentuk dari guru-guru dan pelajar pejuang yang kebetulan sudah berada dalam jajaran komandonya. Gagasan ini timbul setelah melihat kenyataan ketika pertempuran-pertempuran di front Ambarawa dan Semarang, banyak anak pelajar yang gugur. Beliau berpendapat bahwa sangat di sayangkan para pelajar yang memiliki kemampuan yang potensial dan merupakan harapan bangsa yang baru memproklamasikan kemerdekaannya ini, banyak menjadi korban dalam pertempuran karena hanya berbekal semangat berjuang besar tidak memiliki pengetahuan strategi pertempuran.

Program Sekolah Opsir Tjadangan (SOT) di Salatiga merupakan perpaduan antara pendidikan perwira cadangan dengan pendidikan umum SMP dan SMT, dengan pemikiran bahwa para pelajar yang menyelesaikan sekolah disini dapat meneruskan pelajarannya pada sekolah umum apabila keadaan mengijinkan.

Atas petunjuk Pak Djatikusumo, kurikulum dibuat oleh Bapak Darsono (bekas kepala sekolah, lulusan Hollands Inlandse Kweekschool yang menjabat kepala staf intelejen), Bapak Soemarso (Staf Pribadi Panglima Divisi, eks-CORO) dan Pak Sukamto (eks-PETA). Pelajaran militer dipimpin langsung oleh Djendral Major Djatikusumo. Sedangkan pelajaran di bidang pendidikan umum, diberikan oleh guru-guru lain.

Program militer terdiri dari: strategi, taktik, pengenalan senjata (wapenkennis), ilmu senjata (wapenleer), dan beberapa latihan kemahiran lain. Sedangkan program pendidikan umum lebih menekankan pada pelajaran eksakta. Tentang keinfanterian banyak juga diajarkan. Bagaimana perlindungan batalyon dalam keadaan bergerak. Susunan spits (cucuk), pengamanan depan, pengamanan belakang, dan pengamanan samping (flank), tugas sappeurs (pembuat parit), mineurs (pemasang dan penjinak ranjau), dan lain sebaginya.

Pada perundingan Perdana Menteri Sutan Syahrir dengan utusan khusus Inggris, Lord Killearn, awal 1946 di Jakarta, disepakati Republik Indonesia c,q. Tentara Republik Indonesia dilibatkan dalam hal pengurusan tawanan perang dan interniran. Maka sejak itu sekutu tidak akan begitu saja masuk ke wilayah RI dan mengambil langsung tawanan perang dan interniran yang berada dalam daerah kedaulatan RI. Dengan adanya pengaturan ini maka sekutu (Inggris) telah mengakui secara de facto kedaulatan RI dan keberadaan Tentara Republik Indonesia. Pelajar Sekolah Opsir Tjadangan ditugaskan membantu RAPWI (Relief/Recovery of Allied Prisoners of War and Internees) mengangkut kaum perempuan dan anak-anak Belanda dari Kamp Interniran di Banyubiru ke Lapangan Terbang Panasan di Solo untuk seterusnya di terbangkan ke Semarang.

Tugas ini membawa dampak yang baik bagi Negara Republik Indonesia yang baru berdiri ini. Memperlihatkan kepada dunia luar bahwa Tentara RI adalah tentara yang teratur dan memiliki prajurit-prajurit yang berdisiplin dan berkemampuan komunikasi dalam bahasa asing. Belanda yang membonceng NICA tidak setuju pengangkutan interniran yang di kawal Tentara RI langsung dari Banyubiru ke Semarang karena harus melalui front yang sudah mulai di duduki Belanda. Maka routenya dari Banyubiru ke Panasan Solo kemudian dengan pesawat terbang Inggris di bawa ke Semarang atau Jakarta.

Berdasarkan pertimbangan meredanya pertempuran setelah perundingan Linggarjati, pada penutupan SOT tanggal 8 Juni 1946 Pak Djatikusumo mengatakan:”sebaiknya kalian meneruskan sekolah dulu”. Sesuai dengan konsepnya, sekolah opsir cadangan ini hanya akan dikerahkan apabila keadaan memerlukan. Untuk itu mereka sewaktu-wkatu harus siap bila dipanggil. Dalam keadaan biasa mereka masing-masing harus melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan umum. Pelajar SOT terdiri dari pelajar yang sekolahnya mulai SMP kelas 3, SMT kelas 1,2, dan 3. Usianya dari 16 tahun sampai 21 tahun. Pada saat lulus pendidikan dibagikan piagam kelulusan yang ditandatangani oleh Jenderal Mayor Djatikusumo sebagai Kepala Divisi IV dan diketahui oleh Kepala MBO (Markas Besar Oemoem) Letnan Jenderal Urip Sumodiharjo. Hasil kelulusan ada yang letnan satu, letnan dua, sersan, dan yang paling rendah kopral. Yang semula berpangkat prajurit naik menjadi kopral semua. Walaupun ini pangkat terendah keluaran SOT, semua senang.

Pada waktu pelajar SOT mau kembali ke sekolah di salatiga sudah ada SMT (Sekolah Menengah Tinggi yang kemudian menjadi SMA/Sekolah Menengah Atas), yaitu SMT Semarang di Salatiga atas prakarsa guru SMT Semarang yang berada di Salatiga. Guru-gurunya hampir semua dari Semarang yang sudah dikenal pelajar SOT waktu mereka menjadi pelajar SMP di Semarang yang kemudian terlibat dalam pertempuran 5 hari dengan Jepang. Karena itu pelajar SOT praktis hampir semua masuk SMT ini. Setelah sebagian pelajar SOT lulus SMT di Magelang, maka mereka melanjutkan ke perguruan tinggi. Disamping kuliah ada pelajar SOT yang kuliah di perguruan tinggi di Yogya juga bertugas sebagai staf Oemoem III/MBT (Markas Besar Tentara) di Yogya. Pelajar SOT yang merupakan adik kelas di SMT Magelang masih dalam proses menyelesaikan pendidikannya di SMT Magelang.

CLASH KE-1

Sewaktu Belanda menyerang pada tanggal 21 Juli 1947 (Clash ke-1), Panglima Divisi V Ronggolawe Kolonel Djatikusumo segera memanggil para perwira cadangannya yang telah di didik dalam SOT 1946 di Salatiga. Panggilan disiarkan melalui RRI sehingga dapat diterima oleh hampir semua orang yang berkepentingan. TAnggapan yang spontan dari eks-SOT atas panggilan melalui radio membuktikan adanya ikatan bathin yang erat dengan Panglima Divisi Ronggolawe Kolonel Djatikusumo. Kedatangan mereka ke cepu dari berbagai tempat menyebar dari Magelang, Yogya, Solo, Klaten, Malang dan sebagainya diatur oleh mereka sendiri tanpa perlu disediakan sarananya oleh Divisi Ronggolawe.

Satu Kompi Pasukan T (Tjadangan), memiliki kekhususan karena terdiri dari para pelajar berpangkat perwira pertama (hak / kewajiban sbg tentara & biaya pendidikan sekolah ditanggung oleh negara) dan penggunaannya tidak pernah dalam hubungan satuan, tetapi penugasannya secara kelompok atau perorangan dgn tugas2 seperti:

a/ Combat Intelligence dengan mengadakan penyusupan ke daerah-daerah musuh, b/ Counter Combat Intelligence yaitu mengamati mata-mata musuh di Wilayah Divisi V Ronggolawe, c/Pembinaan Teritorial dan persiapan perlawanan dan pertahanan rakyat, e/Persiapan Bumi Hangus, d/ Sebagai Pasukan Tempur Biasa, e/Tugas Liason Officer, antara lain, mendampingi perwira peninjau yaitu Kolonel Meyers utusan Jenderal Mac Arthur Panglima USA dalam PD II di Pacific bermarkas di Tokyo, yang meninjau untuk melihat kekuatan TNI dan membuktikan bahwa Tentara Nasional Republik Indonesia di dukung oleh rakyat. Kolonel Meyers dengan seorang Letnan Kolonel dan seorang Mayor Amerika dikirim Pak Urip Sumodihardjo dari Markas Besar Tentara Yogyakarta ke Wonosari Cepu menemui Kolonel Djatikusumo. Perwira yang kebetulan berada bersama Kolonel Djatikusumo saat itu adalah Tjuk Suwondo, Sunario, dan Moh. Said. Maka Kolonel Meyers minta diantar Perwira Muda untuk pergi ke front, Perwira Senior tidak boleh ikut. Pada waktu melewati sebuah jembatan yang dijaga oleh seorang prajurit, Kolonel Meyers mendekati prajurit itu dan bertanya apa tugasnya. Prajurit itu menjawab untuk menjaga jembatan. Lalu ditanya lagi apa kerja sebelum jadi tentara. Prajurit itu menjawab “saya hanya petani biasa”. Dan saat ditanya kenapa masuk tentara. Dia menjawab “saya malu karena kawan-kawan juga masuk tentara untuk membela tanah air, jadi saya juga ingin ikut membela negara. Kemudian Kolonel Meyers memeriksa senjata prajurit tersebut baik dalam maupun luarnya, ternyata sangat bersih terpelihara dan bagian dalam laras terlihat mengkilap seperti cermin. Utusan Jenderal Mac Arthur Kolonel Meyers akhirnya memberi keyakinan dan kepastian bahwa adanya Republik Indonesia memang di kehendaki dan di dukung oleh seluruh rakyatnya bukan bikinan Soekarno saja dan TNI bukan gerombolan bersenjata liar seperti isue yang disebarkan Belanda melainkan TNI adalah tentara yang menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia dan sudah terorganisir dengan baik. Setelah itu Amerika mulai mendukung Republik Indonesia terutama di forum PBB. Peranan Inggris (yang membela Belanda) di UNCI (United Nation Commission for Indonesia) juga beralih ketangan Amerika.

Tugas di Cepu antara lain, Front Ronggolawe I, daerah pertahanan Surabaya Barat dan Utara, yang merupakan wilayah Resimen 30 Bojonegoro. Front Ronggolawe II, daerah Semarang Timur yang termasuk daerah Resimen 28 Pati. Front Ronggolawe I bermarkas di Deket (Lamongan), Front Ronggolawe II bermarkas di Kudus. Penugasan di daerah Front Ronggolawe II – Demak dititikberatkan pada tugas combat intelligence dan counter combat intelligence, yaitu penyusupan ke daerah penduduk yang dikuasai Belanda dan mengawasi mata-mata musuh yang menyusup ke wilayah Divisi Ronggolawe. Kegiatan mata-mata musuh ini memang luar biasa aktifnya. Kelanjutan menyusup ke daerah musuh biasa dilanjutkan dengan bumi hangus. Disamping itu mereka bertugas pembinaan teritorial dan pertahanan rakyat.

Saat itu terjadi pemberontakan PKI-Muso. Dalam menanggulangi pemborantakan PKI-Muso di daerah Pati, Gubernur Militer II Kolonel Gatot Subroto mengerahkan pasukan siliwangi untuk membantu pasukan teritorial setempat seperti Batalyon Chris Sudono Brigade Ronggolawe, yang menghadapi pasukan-pasukan Brigade SS yang memihak PKI-Muso. Pasukan Siliwangi yang dikerahkan di daerah Pati adalah Brigade 1/Siliwangi pimpinan Letkol Kusno Utomo dengan dua batalyonnya: Batalyon Kemal Idris dan Batalyon Kosasih. Batalyon Ahmad Wiranatakusumah dan Batalyon Daeng Mohamad masih bertugas di daerah Madiun.

Pasukan Siliwangi bergerak cepat dalam waktu singkat telah membebaskan kota-kota. Namun karena gerak cepatnya kadang harus direbut ulang kota yang sudah dibebaskan itu karena pasukan lawan memasuki kota itu kembali setelah pasukan siliwangi lewat.

Kolonel Djatikusumo sudah menjadi KSAD, juga bertugas menjamin berjalannya pemerintahan sipil. Sedangkan Kolonel AH Nasution sebagai Panglima Komando Djawa memimpin operasi militer. Dibeberapa daerah di Karesidenan Pati, pemerintahan sipil mengalami kemacetan sebab bupati, camat dan lurah digorok oleh PKI, atau melarikan diri menghindari bahaya maut. Dalam keadaan vakum pemerintahan sipil, maka Pasukan T ditugaskan berfungsi sebagai, bupati militer, wedana militer, camat militer dan sebagainya.

Kolonel GPH Djatikusumo KSAD bekas Panglima Divisi V Ronggolawe segera memanggil Pasukan T dan diperintahkan menuju Purwodadi dan daerah Pati, dengan tugas: 1). Diperbantukan kepada pasukan siliwangi (Brigade Kusno Utomo) untuk fungsi-fungsi liaison dengan rakyat dan pasukan daerah. 2). Diperbantukan kepada komando teritorial untuk fungsi pemulihan pemerintahan dan pembinaan teritorial, yang meliputi kegiatan operasi intelejen, operasi teritorial, bahkan fungsi yang kemudian dikenal dengan dwi fungsi ABRI.

Pada suatu pagi anggota Pasukan T dikumpulkan di suatu lapangan dekat hotel merdeka untuk mendapat penjelasan tentang tugas dari Kapten Arie Supit seorang perwira dari Brigade Kusno Utomo yang diperbantukan pada Mayor Kemal Idris. Dalam garis besarnya dijelaskan, anggota Pasukan T akan dijadikan Wedana Militer pada kewedanan-kewedanan di daerah pati dengan tugas: 1) mendampingi pemerintah sipil dan berusaha merehabilitasinya setelah dilumpuhkan oleh pihak PKI 2) Pasifikasi daerah masing-masing dari sisa-sisa PKI 3) Untuk tugas pasifikasi pada masing-masing wedana militer akan diperbantukan satu pasukan tentara dari brigade Slamet Sudiarto untuk pembinaan kembali akibat korban PKI.

Anggota Pasukan T menganalisis tugas itu sebagai berikut: 1) mendampingi Pak Wedana dalam melaksanakan tugas pemerintahan sipil agar mendapat kewibawaan dan kepercayaan rakyat kembali 2) mengadakan patroli-patroli pembersihan desa-desa yang termasuk wilayah kewadenaan masing-masing untuk mencari orang yang terlibat gerakan PKI, mencari senjata-senjata yang disimpan atau disembunyikan PKI, memelihara keamanan wilayah kewadenaan masing-masing dan mengaktifkan pemerintahan atau pamong desa 3) menginterogasi orang-orang yang terlibat gerakan PKI dan meneliti laporan-laporan yang masuk dari masyarakat kepada kawedanaan tempat mereka bertugas 4)mengembalikan hak milik rakyat yang telah diambil PKI 5) mengembalikan ketenangan masyarakat dengan memberikan penerangan-penerangan kepada rakyat tentang keadaan keamanan di daerah yang telah dikuasai kembali oleh Pemerintah RI yang sah 6) menganjurkan agar masyarakat kembali melaksanakan tugasnya masing-masing agar roda perekonomian pulih kembali.

Djatmiko dan Hari Bawono ditugaskan di Kabupaten Babat dan ditampung di Kodim Barat. Sediono dan Hardijono bertugas di Kawedanan Sukodadi. Lettu Adiwoso sebagai Bupati Militer di Kabupaten Pati. Kawedanan Juwana ditugaskan Hadi Cahyono dan Sampurno. Wedana Khrisnamurti dan Wakilnya Subari menjadi Wedana Militer Tayu. Di Kawedanan Jakenan ditugaskan Pramono dan Waluyo Wijoyokusumo.

Pada saat tugas pemerintahan sipil, anggota Pasukan T Ronggolawe yang masih SMA dianggap oleh rakyat di daerah mereka bertugas sebagai mahasiswa. Rakyat percaya “Tentara tapi kan Mahasiswa”. Karena keyakinan rakyat demikian para tentara yang masih SMA diam saja dan bertingkah seperti mahasiswa. Pada waktu itu mahasiswa belum banyak di daerah tugas Pasukan T Jawa Timur. Di Kawedanan Baureno yang bertugas menjadi wedana militer adalah Djatmiko dan Haribawono yang masih SMA. Mereka berdua berhasil mendamaikan perselisihan Bapak Wedana Baureno dengan Ketua Pondok Pesantren disitu yang juga laskar Hizbullah. Hampir saja terjadi kekerasan. Mereka berdua menjelaskan sistem ketatanegaraan Indonesia sehingga akhirnya tercapai perdamaian. Kedua anggota Pasukan T ini berhasil menyelesaikan tugasnya atas bantuan faktor psikologis predikat “mahasiswa” yang diperoleh dari masyarakat. Juga di Kawedanan Sukodadi dimana Hardijono dan Sediono bertugas. Pada hari pertama bertugas sesudah makan siang dihidangi sosok mayat petani korban bacokan dalam perebutan air untuk pengairan sawah. Di Kawedanan Sukadadi terjadi persaingan yang meruncing antara laskar Hizbullah dan Pesindo. Oleh Pasukan T keduanya dikumpulkan dilatih pertahanan rakyat, perang gerilya, dan pembuatan bom molotov. Persengketaan dilupakan mereka rukun kembali dan bersatu siap menghadapi musuh bersama yaitu Belanda.

Malam harinya saat acara pesta rakyat, salah satu acaranya, Sampurno (Pung) dari Pasukan T Ronggolawe menari gatotkaca dihadapan penduduk yang berjubel lengkap dengan gamelan pengiring dan pakaian yang entah diusahkan dari mana. Kesan rakyat sangat baik terhadap Pasukan T Ronggolawe yang sedang bertugas operasi pembinaan teritorial.

Pada tahun 1947 pangkat Panglima Divisi diturunkan dari Djenderal Major menjadi Kolonel termasuk Djatikusumo. Pada waktu itu tidak ada pangkat Brigadir Jenderal. Divisi IV menjadi Divisi V Ronggolawe. Kemudian tahun 1948 Kolonel GPH Djatikusumo diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Maka Pasukan T mulai saat itu secara organik langsung berada di bawah Komando KSAD dan resmi dinamakan Pasukan T SAD (Pasukan Tjadangan Staf Angkatan Darat). Semua kesatuan tentara pelajar di gabungkan ke dalam Brigade XVII/TP kecuali Pasukan T. Hal ini adalah karena kebijakan Kolonel GPH Djatikusumo sendiri yang selalu mengikuti dan mengawasi sendiri perkembangan para perwira cadangan yang beliau bentuk dalam Sekolah Opsir Tjadangan di Salatiga dan di lanjutkan pembinaannya di Cepu selama bertugas di Divisi Ronggolawe. Beliau memahami bahwa para pelajar itu sebagian besar tidak akan memililih berkarier sebagai tentara, namun mereka tetap bertekad besar turut dalam perjuangan fisik bangsanya, sementara tenaganya sangat di perlukan dalam tugas-tugas operasional maupun teritorial. Setiap ada kesempatan untuk belajar, mereka diberikan kesempatan untuk meneruskan pendidikan, bahkan diperintahkan untuk sekolah, tetapi pada saat diperlukan, mereka di panggil kembali (Pendidikan yang diselingi penugasan tempur)

KEMBALI KE SEKOLAH SETELAH CLASH KE-1

Setelah Perjanjian Renville yang mengakhiri Clash ke-1 dan TNI mengatasi pemberontakan PKI-Muso, oleh Kolonel Djatikusumo (KSAD) Pasukan T Ronggolawe diberangkatkan dari Cepu ke Magelang untuk mengikuti sekolah menengah atas peralihan Magelang yang berlokasi di Gedung Biara (Klooaster), dekat alun-alun. Mereka berkumpul bersama tentara pelajar dari Semarang, Pati, Kedu Selatan, Purwokerto, Pekalongan dan Siliwangi.

 

Kolonel GPH Djatikusumo

CLASH KE-2

Setelah dikonfirmasi bahwa Yoyakarta di serang Belanda, segera semua berkumpul di Asrama, baik Pasukan T, maupun TP Purwokerto, TP Semarang, TP Siliwangi. Masing-masing berkonsolidasi dan menentukan rencana berikutnya. Sebagian besar Pasukan T duduk di kelas 2 SMA peralihan, sehingga terhitung tanggal 20 Desember 1948, mereka telah naik ke kelas 3 SMA. Pasukan T yang berada dibawah perintah SAD (Staf Angkatan Darat) masih tetap tinggal di kota Magelang untuk kemungkinan datangnya perintah khusus dari Yogyakarta dalam hal ini KSAD Kolonel Djatikusumo. Saat itu anggota Pasukan T yang merupakan pelajar SMA Peralihan Magelang dan juga bergabung beberapa pelajar SMA Negeri Magelang terkumpul sekitar 60 orang. Karena tidak ada hubungan dengan Pusat Pemerintahan di Yogyakarta, maka Pasukan T segera mempersiapkan perang gerilya keluar kota Magelang.

Perlengkapan persenjataan yang berhasil di kumpulkan yang diberikan atau ditinggalkan oleh tentara dan polisi, yaitu:

18 senapan steyr/hembrug manlicher kaliber 6,5 mm (Senapan tua KNIL),

17 senapan arisaka, kaliber 7,7 mm (.303),

3 senapan eddystone kaliber 7,7 mm (.3303),

3 senapan LE (Lee Enfield), kaliber 7,7 mm (.303)

1 senapan springfield, kaliber .30

2 pistol mitrailiur schemeiser kaliber 9 mm

1 senapan beaumont kaliber 0.5 (senapan berburu) dengan 6 peluru

beberapa peti dan tas peluru, berbagai kaliber

1 tekidanto (mortir 5 cm Jepang) dengan 10 granat

beberapa senjata pribadi seperti pistol jenis luger, mauser dan nambu dan revolver colt 38

beberapa peti granat gombyok (granat bikinan yogya)

rata-rata untuk senapan tersebut tersedia kurang lebih 200 peluru/pucuk.

Untuk sumbangan logistik dan lainnya diperoleh dari keluarga-keluarga di Magelang.

Regu I Pasukan T SAD pada Agresi Militer Belanda II (Clash II)

Tentara Nasional Indonesia Pasukan T SAD pada Agresi Militer Belanda II (Clash II)

Pasukan T sudah siap lagi, kali ini tidak dalam penugasan-penugasan pribadi tetapi dalam kesatuan tempur (Combat Unit). Semangat dan suasana mengingatkan kembali pada tahun 1945/1946 di front Semarang Barat (Pertempuran 5 hari dengan Jepang), dan tahun 1947 di front Ronggolawe-2 (Demak). Perbedaannya sebelumnya satuan tempur Pasukan T bertempur secara organik melekat pada induknya yaitu Divisi V Ronggolawe, sedangkan sekaran Pasukan T SAD di Magelang merupakan satuan yang berdiri sendiri. Kecuali Letda (Letnan Dua) Sudharmono (Komandan), semuanya sekarang sudah berpangkat Letnan Muda. Beberapa minggu sebelumnya mereka masih bertugas secara individual di daerah Pati, sebagai wedana militer, staf teritorial dan sebagainya. Beberapa hari sebelumnya mereka masih sekolah di SMA Peralihan Magelang yang aman tenteram. Sekarang mnereka menjadi pasukan tentara yang siap untuk berperang dan melaksanakan pengamanan umum yang mendadak berubah suasananya.

Pasukan T sejak embrio dan lahirnya telah dibesarkan dalam kondisi lingkungan perjuangan yang relatif aman dan kemudian dididik serta dilatih untuk perkembangan situasi perang yang mencekam.

Pemerintah Daerah Magelang dan Pasukan Angkatan Darat dari Divisi Diponegoro sudah jauh hari mempersiapkan rencana-rencana untuk menghadapi keadaan darurat. Segera evakuasi badan-badan pemerintah pusat dan daerah yang ada di kota Magelang di jalankan. Menjelang tahun 1949 atas perintah Gubernur Militer III (Divisi Diponegoro), Pasukan T berfungsi sebagai pasukan pelindung mendekati jalur yang mendekati kota magelang, perintah ini merupakan pembebasan dari keragu-raguan yang selama ini menggantung. Dengan perintah ini jelas bahwa Pasukan T tetap tinggal di daerah Sumbing.

Kehidupan Tentara Pelajar tidak mudah, di gunung Sumbing yang suhunya dingin mereka kerap tidur dikandang kerbau yang agak hangat. Makanan mereka disiapkan oleh dapur umum. Didaerah yang tidak ada beras mereka makan jagung. Di sebuah desa tempat mereka berhenti, berhari-hari lamanya tak ada garam, ayam atau kambing, tapi karena lapar, apa saja makanan yang disuguhkan terasa enak. Kemudian Pasukan T bepindah-pindah tempat melakukan penghadangan terhadap konvoi Belanda dan melakukan penyerangan Markas Belanda di sekitar Wonosobo.

Dengan basis di Marongsari, daerah sasaran Pasukan T adalah jalan besar Wonosobo-Banjarnegara, ruas Wonosobo-Leksono. Selama tiga bulan dijalankan aksi penembakan konvoi di jalan besar Tunggoro-Wonosobo dengan tempat-tempat penghadangan sawangan, leksono, krasak, dan selomerto. Beberapa kali Pasukan T ke dalam kota Wonosobo pada malam hari dan sekali untuk menyerang Asrama Alegemeene Politie tetapi gagal. Pada masa ini hubungan dengan pasukan lain dalam sektor SWKS X semakin akbrab. Semua aksi yang dijalankan di jalan raya saat itu dilakukan dengan formasi yang sama. Lini pertama ditempati Pasukan T dan Lini kedua ditempati Kompi Kapten Gatot Suwagio (kemudian hari dikenal sebagai Ketua Umum KONI) dengan mitraliur berat dari satuan Peltu Husein Senaprawira (kemudian hari menjadi Wagub Jabar) sebagai penyangga.

Daerah Operasi Pasukan T kemudian berpindah ke daerah Kreteg dan Sapuran. Di daerah itu selain Pasukan T ada pasukan Stafdekking Gubernur Militer III dibawah pimpinan Lettu Suhardi dan pasukan artileri yang dipimpin Peltu Husein Senaprawira. Selain itu SWKS X diperkuat dengan Kompi Sukarno dari batalyon Bintoro, yang sebelumnya beroperasi di lereng timur Gunung Sindoro. Sektor Mayor Bintoro adalah daerah sekitar Parakan, Temanggung dan Candiroto.

Aksi yang dilakukan Pasukan T di Kreteg dan jalan Kreteg-Sapuran dilakukan bersama dengan kompi Sukarno seperti penembakan pada patroli KL (Koninklijke Landmacht – Angkatan Darat Belanda yang terdiri atas Prajurit Wajib Militer) di kedalon setengah perjalanan Kerteg-Sapuran.

Suatu hari Letnan Muda Aman Soejitno dari Pasukan T bersama Lettu Suhadi dari kompi staffdeckking Gubernur Militer III, menaiki puncak bukit di atas banaran, dianggap perlu untuk mencari tempat pertahanan yang sesuai yang lebih tinggi untuk melindungi pasukan-pasukan TNI. Lettu Suhadi dan Lmd Aman Soejitno menemukan tempat yang cocok untuk pandangan luas pada prapatan jalan banaran. Mitraliur dipasang dan bidang tembaknya sudah pas. Sekonyong terjadi tanda bahaya patroli KL dari Sapuran menuju Banaran. Langsung anggota pasukan disiapkan ditempatkan di atas bukit diatas jalan dari arah simpang tiga dari Banaran. Jebakan telah siap tinggal menunggu. Pasukan KL langsung masuk jebakan suatu killing ground yang sudah disiapkan. Tembakan-tembakan pertama secara tepat mengenai sasaran. Baris depan patroli KL dihancurkan. Meskipun pihak Belanda kuat persenjataannya (Brennya bukan main banyaknya), tetapi pasukan TNI kali ini memiliki keunggulan medan. Pasukan TNI tidak melakukan serbuan karena posisi bertahan yang sulit menyerang kebawah. Setelah pertempuran berdarah berlangsung pendek itu, pasukan KL mundur ke Sapuran dengan membawa serta yang meninggal dan cedera. Belanda menjebol pintu rumah di gunakan sebagai brancard untuk mengangkut korban.

Di banaran tampak bekas-bekas darah, juga ditemukan beberapa sepatu dan helm yang ditembus peluru. Meskipun bersukaria sukses memukul mundur pasukan KL, anggota Pasukan T waktu melihat helm yang tertembus peluru tersentak diam. Di dalam hati, bagaimana sedihnya orang di rumah yang dikasihi prajurit yang mati ini. Bukankah masing-masing juga ada orang yang dikasihi di rumah?

Selang beberapa minggu 11 rumah habis dibakar patroli KL di Marongsari dekat bantaran. SEBAGAI BALASAN.

Di desa-desa dimana anggota Pasukan T sering menetap dalam waktu lama seperti di Marongsari, Bumitirto, dan kembaran sehingga terjadilah ikatan keluarga, anggota Pasukan T dengan orang tua asuh mereka. Anggota Pasukan T diperlakukan seperti anak sendiri.

Ketika mereka pulang dari suatu operasi badan dan pakaian biasanya berlumpur. Karena kelelahan tidur tergeletak di balai-balai. Ketika bangun biasanya telah tersedia semangkuk kopi panas harum baunya, dengan gula batu atau gula aren secara terpisah. Tempat mereka tidur dirapikan dan di bereskan untuk ditempati lagi. Memang tidak dapat diungkapkan betapa kebaikan penduduk kepada Pasukan T, dimana mereka mau membagi miliknya yang tidak seberapa.

Anggota Pasukan T SAD beroperasi di daerah Magelang – Wonosobo selama Clash ke-2. Berdiri ketiga dari kanan adalah Letda Sudharmono, Komandan Pasukan T SAD.

 

Pasukan T SAD berjuang terus sampai akhirnya tiba saat diberlakukan gencatan senjata antara Tentara Belanda dengan TNI. 9 Agustus 1949 jam 24:00 genjatan senjata mulai di berlakukan. Pasukan T ditunjuk sebagai perwira penghubung dengan pihak belanda di Wonosobo untuk mempersiapkan perundingan karena anggotanya menguasai bahasa belanda dan mengenal daerahnya.Perwira yang ditugaskan adalah Khrisnamurti (diberi pangkat lokal Letnan Dua) dan Hermawan (diberi pangkat lokal Sersan). Tugas sebagai Perwira Penghubung tidak mudah karena tanpa alat Komunikasi. Dalam perundingan di Wonosobo Pihak Republik Indonesia di wakili oleh Letkol Sarbini Komandan Sub Teritorial Commando. Untuk menemukan Letkol Sarbini dalam dua hari adalah mission impossible tanpa radio. Namun pada saat seperti itu sistem WEHRKRIES menunjukan keandalannya. Letkol Sarbini dan staf hadir di tempat perundingan tepat pada waktunya. Dalam perundingan dibicarakan bahwa pasukan belanda harus ditarik dari kabupaten wonosobo. Perundingan serah terima wonosobo dilakukan dengan Mayor Kardjono selaku komando distrik militer yang saat itu bertindak sebagai komandan dari SWKS X. Urusan Pemerintahan ditangani oleh Pak Sumendro Bupati Wonosobo. Maka proses pergantian pasukan mulai dilaksanakan.

Hubungan TNI dengan Belanda pada tingkat pimpinan tidak ada masalah, tapi hubungan antar pasukan tampak kaku. Pihak Belanda masih kurang puas. Sekalipun sebagai pemenang Pasukan T ingin bergaul dengan Belanda tapi suasananya kaku. Letda Khrisnamurti mengalami, sewaktu di kamar hotel ia didatangi Kapten Belanda, tampak sombong sekali ia duduk dihadapannya kaki diselonjorkan di atas meja. Setelah pembicaraan basa basi, Kris bertanya mengapa waktu peperangan di Kawengan disamping Belanda merusak rumah Penduduk juga merampas kuda milik penduduk yang merupakan sarana transportasi satu-satunya di daerah tersebut. Si Kapten berdiam diri dan perlahan kakinya diturunkan dengan muka merah menahan malu dan ia pun lalu pergi.

Kemudian Kolonel GPH Djatikusumo dari Yogyakarta menginstuksikan agar anggota Pasukan T eks SOT (Sekolah Opsir Tjadangan) bergabung kembali ke unit Angkatan Darat, sedangkan mereka yang berasal dari pelajar non SOT di salurkan ke staf Brigade XVII. Pasukan T kemudian berangkat ke Yogya, disana para anggota eks SOT di perintahkan untuk menyelesaikan pendidikan perwira di Akademi Militer dan pindah ke Beteng, anggota lainnya di tugaskan sebagai staf dekking pada staf Brigade XVII, diterima oleh Komandan Brigade XVII Letkol Kusno Utomo, di tempatkan di Asrama Gondokusumo No. 2, diposisikan di seksi V atau Verkenner yang artinya Pengintai.

SETELAH CLASH KE-2

Pak Djatikusumo memang orang yang tidak bekerja setengah-setengah. Apa yang dimulai akan dituntaskan. Pendidikan Opsir Cadangan semula direncanakan 18 bulan, menurut beliau belum selesai. Sebagian dari anak didiknya masih berpangkat letnan muda. Karena itu kelompok Pasukan T yang masih berpangkat letnan muda itu di masukan ke MA Yogya untuk menyelesaikan semester akhir pendidikannya sebagai perwira cadangan. Kelompok ini menamatkan pendidikannya pada Januari 1950 dan Maret 1950 dilantik sebagai Letnan Dua di Jakarta. Kemudian mendapat penugasan yang tersebar. Ada yang di polisi militer, ada yang zeni, perhubungan, infanteri, kesenjataan dan lainnya. Praktis pada tahun 1951 semua telah menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya. Ada yang melanjutkan pendidikannya di bidang militer, maupun ke perguruan tinggi dengan berbagai disiplin ilmu, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan demikian maka Pasukan T dengan atau tanpa atribut mulai tahun 1950 keberadaannya sebagai satuan tidak ada lagi. Pak Djatikusumo mengungkapkan pembentukan opsir cadangan yang semula direncanakan hanya untuk selama 18 bulan, akhirnya menjadi 60 bulan lamanya dari Oktober 1945 di front Semarang sampai di Beteng Vrendenburg Yogya dan dilantik di Jakarta pada bulan Maret 1950. Pak Djatikusumo mengatakan: “Yang mestinya merupakan kursus 18 bulan, menjadi 60 bulan lamanya, sixty months, all-in. Setelah tahun 1950, Pasukan T menjadi nama legendaris dan diharapkan juga historis. Para anggotanya tersebar di segala bidang perjuangan. Menengok kembali dan melihat hasilnya, boleh kita katakan: “It was worthwhile to fight for and to live for”.

Letnan Dua Sampurno

Sekelumit kisah perjuangan Tentara Pelajar yang tergabung dalam T-Ronggolawe dapat dibaca dalam buku berjudul “Met de TNI op stap – De laatste patrouille van het vergeten leger” (Dengan TNI melangkah – Patroli terkahir tentara yang dilupakan), karangan Anton P. De Graaf, terbitan 1991. Buku ini di bahasa Indonesiakan oleh S. Hertini Adiwoso, isteri Peppy Adiwoso, berjudul Napak Tilas Tentara Belanda dengan TNI (1997).

Pada 1949, Penulis Anton P. De Graaf berperan juga sebagai Wajib Militer Belanda (KL – Koninklijke Landmacht – Angkatan Darat Belanda yang terdiri atas Prajurit Wajib Militer) yang dikirim ke Indonesia dan berhadapan dengan TNI di Jawa Tengah. Ketika itu pemerintah Belanda mengirimkan tentara sebanyak 125.000 personel dengan persenjataan lengkap dan mutakhir untuk menghancurkan Republik Indonesia. Tapi sia-sia, tidak berhasil. Kurang lebih 2.500 serdadu Belanda tewas (Yang ditinggalkan di Indonesia), tapi sang Penulis selamat pulang ke Belanda dengan mengenang trauma perang yang mengerikan. Dalam buku pertamanya De Heren Worden Bedankt ia mengisahkan jalan antara Kreteg dan Sapuran sebagai jalan maut.

Regu I Pasukan T SAD pada Agresi Militer Belanda II

AGRESI MILITER BELANDA

Komposisi pasukan Belanda saat Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1950

Tentara kerajaan: 120.000 tentara

Kerajaan Hindia Belanda (KNIL): 70.000 prajurit

Angkatan Laut: 15.000 prajurit

Pada 27 Desember 1949 konflik diakhiri dengan pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia. Ada hampir 6.000 tentara dalam pelayanan Kerajaan telah tewas. Lebih dari 150.000 tentara kembali ke Belanda, dan/atau menetap di Indonesia.

source: http://www.collectie.legermuseum.nl/strategion/strategion/i003559.html

KNIL

Sumber :

  1. Petite historie Indonesia (karya Rosihan Anwar, terbitan 2005);
  2. Met de TNI op stap – De laatste patrouille van het vergeten leger” (Anton P. De Graaf, terbitan 1991);
  3. Hoort Gij die donder niet (Dr. Daniel Van Der Moullen, terbitan 1977)
  4. http://forum.detik.com/showthread.php?t=52350&page=11
  5. Pasukan T Ronggolawe, Perjalanan Sejarah Sekelompok Pemuda Pelajar Semarang, Himpunan Pas T Ronggolawe, Pustaka Sinar Harapan Jakarta 2000

Djatikusumo adalah seorang Prajurit, Sahabat, Pendidik, Eksekutif Pemerintahan, Seniman dan Diplomat. Sebagai militer, pangkat terakhir Djatikusumo adalah Letnan Jenderal dan kemudian dinaikkan menjadi Jenderal Kehormatan. GPH Djatikusumo meninggal tanggal 4 Juli 1992. Pada tanggal 10 November 2002, Presiden Megawati menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Jenderal TNI Kehormatan Djatikusumo Kepres No.073/TK/TH. 2002; Tanggal 06-11-2002.).

Berikut Penuturan: Jenderal Kehormatan (Purn) GPH. Djatikusumo

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1992/07/18/MEM/mbm.19920718.MEM7853.id.html

Prajurit dari Kraton JANGKA JAYABAYA. BIDANG kemiliteran bukan hal baru buat saya. Sejak kecil penghuni keraton sudah dididik kemiliteran, antara lain lewat pertunjukan wayang kulit. Anak-anak diizinkan nonton sampai pukul 11 malam. Kami juga berlatih baris-berbaris. Di samping itu tentunya belajar pencak silat dan naik kuda. Saya dilahirkan dalam lingkungan yang dibayangi oleh sindrom Perang Diponegoro.

Pada 1897–empat tahun setelah ayah naik tahta sebagai Sri Susuhunan Paku Buwono X–beliau mengumpulkan orang-orang tua, menganjurkan mereka agar mempelajari mengapa kita selalu kalah dengan penyerbu-penyerbu asing. Bukankah Keraton Surakarta selain pernah dimasuki Belanda, juga pemah diduduki Lnggris (1811–1816). Bahkan Prancis pun pemah mencengkeram kita secara tidak langsung, yakni ketika Negeri Belanda dikuasai Prancis.

Dalam pertemuan itu Bapak minta kepada para orang tua keraton untuk mencari cara mengusir penjajah. Baru dua tahun kemudian, tahun 1899, mereka menjawab. Di antara sejumlah saran, yang terpenting adalah kita harus memiliki hanya satu pimpinan. Maksudnya, agar kita bisa mendirikan negara yang bersatu semacam Majapahit. Tidak terpecah-belah dalam beberapa pimpinan yang saling bersaing.

Pada tahun 1905 Jepang mengalahkan Rusia. Ini meruntuhkan anggapan bahwa orang kulit putih tidak bisa dikalahkan oleh kulit berwarna. Maka Bapak mencoba mengirim kakaknya yang bernama Pangeran Kusumodiningrat ke Jepang, agar mendapatkan latihan bidang ketentaraan. Tapi Jepang menjawab, belum berpikir ke arah sana.

Ide ini dilaksanakan Bung Kamo pada tahun 1942, ketika Jepang sudah menduduki Indonesia. Mengapa Bapak menoleh ke Jepang? Tentunya tidak terlepas dari pengetahuan orang Jawa tentang Jangka Jayabaya atau Sabdo-Palon Noyo Genggong. Sabdo artinya sabda atau ucapan yang pasti. Palon adalah yang digembleng. Noyo artinya sakti, atau bisa juga berarti yang paling tua. Genggong, maksudnya bila ada daya pasti ada bahaya. Ini sebuah filsafat atau pandangan hidup. Dalam Sabdo Palon dikatakan, “Yang bisa mengusir kerbau bule adalah orang-orang cebol kepalang dari utara, yang membawa tongkat tebu wulung. Mereka berada di sini hanya seumur jagung.

“Dalam lingkungan seperti itulah Subandono–nama kecil saya– dilahirkan pada 1 Juli 1917 atau pada hari ke-11 Poso, bulan puasa, di kedaton Surakarta. Ayah saya adalah Susuhunan Paku Buwono X. Dan Ibu bemama Kirono Rukmi, garwa ampeyan Sri Susuhunan, bukan permaisuri. Ibu berasal dari Kajoran, sebuah desa di selatan Klaten. Jadi saya ini punya darah desa. Kakek ibu saya memang seorang bangsawan, tapi nenek orang desa. Kelak lingkungan keraton dan suasana desa membentuk diri saya sebagai bangsawan sekaligus rakyat. Bapak menanamkan tekad untuk mengusir penjajah pada putra-putranya.

Untuk itu modal penting yang harus kita miliki antara lain mengetahui kekuatan musuh. Itulah sebabnya Bapak mengirim kami ke sekolah Belanda. Mula-mula saya di sekolahkan di Europesche Lagere School–setingkat sekolah dasar–di Solo (1921 – 1931). Hanya kalau libur saya pulang ke Kajoran. Bapak hanya sekali tiga bulan ke Kajoran, ke pesanggrahan yang dibangunnya. Agar kami lebih mengenal lawan, ada semacam tradisi baru di keraton waktu itu. Selepas sekolah dasar kami, putra-putra Sri Susuhunan, diharuskan keluar dari istana, hidup di lingkungan orang-orang Belanda. Bahkan putra tertua langsung disekolahkan di Negeri Belanda.

Akan halnya saya, selepas sekolah dasar, saya dan adik saya dititipkan kepada keluarga Belanda di Bandung. Di kota itu kami melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan Hogere Burger School (HBS) selama delapan tahun. Hanya kalau libur saya pulang ke Surakarta. Keluarga Belanda ini adalah keluarga seorang purnawirawan letnan kolonel yang tidak memiliki anak. Ada seorang anak angkat, anak Ambon, tapi waktu itu anak angkat itu sudah jadi dokter dan sudah berkeluarga. Dari keluarga Belanda itu saya memperoleh pengetahun tentang tingkah laku, cara berpikir, dan berbagai hal yang berkaitan dengan orang Belanda. Ternyata kemudian nasihat Bapak know well your enemy itu memang sangat menunjang karier militer saya. Oleh Bung Karno, saya diangkat menjadi kepala staf angkatan darat yang pertama pada 1948, posisi yang begitu strategis untuk berhadapan dengan musuh.

PETA. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, mengapa setelah menyelesaikan sekolah menengah di Bandung saya tidak melanjutkan pendidikan di sekolah militer. Sebenarnya ayah ingin memasukkan saya ke Akademi Militer Breda di Negeri Belanda seperti kakak saya, G.P.H. Purbonegoro. Saya tidak mau. Mengapa? Karena kalau lulus dari sana, saya harus mengangkat sumpah setia kepada Sri Ratu dan konstitusi Negeri Belanda. Padahal saya tahu, sebenarnya mereka adalah musuh saya. Maka saya memilih instituut Technologie Delf di Nederland (1936- 1939). Saya tidak menduga bahwa kemudian sumpah para siswa Akmil Breda tersebut bisa batal karena Belanda menyerah kepada Jepang, Maret 1942. Waktu itu Panglima Tentara Belanda berkata, “Dengan ini tentara Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL) dibubarkan.” Maka para pemuda Indonesia lulusan Breda yang masuk KNIL, seperti Pak Suryadarma, yang kemudian menjadi KSAU itu, menyatakan sumpah tersebut batal. Memang ada usaha-usaha dari pihak Belanda untuk menuntut kembali kesetiaan itu setelah usai Perang Dunia II. Misalnya, ketika kakak saya Purbonegoro menjadi penasihat militer Pemerintah Republik Indonesia berada di kapal Renville. Ia didatangi Jenderal Spoor, yang pernah sekamar dengannya di Breda. Spoor mengingatkan bahwa lulusan Breda masih terikat sumpah setia kepada Sri Ratu. Kakak saya menjawab, “Itu kan sudah dibatalkan ketika Belanda menyerah kalah tanpa syarat kepada Jepang.

” Karena pecah Perang Dunia II, pada Januari 1940 saya kembali ke Indonesia, meninggalkan Delf. Saya meneruskan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung, tahun 1940 sampai 1941. Sementara itu, Perang Pasifik pecah. Belanda semakin banyak merekrut pemuda Indonesia untuk dijadikan anggota milisi umum. Ketika itulah saya ingat tentang Sabdo Palon Noyo Genggong bahwa “Jepang akan berada di sini seumur jagung.” Ketika itu saya sudah membayangkan saatnya tak lama lagi Jepang akan meninggalkan Indonesia.

Pengetahuan tentang Jangka Jayabaya ini sedikit-banyak telah memotivasi saya untuk memasuki bidang kemiliteran. Maka, atas anjuran Ayah, saya masuk milisi Corps Opleiding voor Reserve Officieren (CORO) di Bandung, tahun 1941-1942. Lembaga pendidikan militer bagi para milisi ini bertugas mencetak perwira cadangan untuk KNIL. Saya memperoleh pangkat kopral. Waktu itu di Indonesia sudah ada Akademi Militer Bandung, cabang Akademi Militer Breda di Belanda. Cabang ini dibuka di tahun 1940, ketika Belanda dicaplok Jerman. Setahu saya, yang pernah masuk di Akademi itu antara lain Kartakusumah, A.H. Nasution, dan T.B. Simatupang. Saya sendiri tidak pernah mengikuti pendidikan di situ. Belum sampai delapan bulan saya di CORO, Jepang mendarat. Ketika itu taruna CORO ditempatkan di Tasikmalaya, untuk menjaga lapangan terbang Cibeureum. Karena itulah banyak perwira Belanda berhasil menyelamatkan diri dari kepungan Jepang. Tanggai 2 Maret 1942 CORO dipindahkan ke Ciater, Subang, Jawa Barat. Sesampai di sana, Senin sore, dor, dor, dor…. ternyata Jepang sudah menunggu. Sebagai kopral taruna CORO, tentu saja saya bertempur di pihak Belanda. Tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang. KNIL bubar.

Rakyat Indonesia menyambut Dai-Nippon sebagai saudara tua dengan penuh kekaguman. Suatu kali Bung Kamo pergi ke Negeri Sakura, minta supaya Jepang melatih bangsa Indonesia di bidang kemiliteran. Kabarnya, di sana Bung Karno disuguhi demonstrasi latihan perang-perangan oleh siswa-siswa Akademi Miiiter Jepang, dan amat terkesan. Maka, atas permintaan Sukarno, di akhir tahun 1943, dibentuklah PETA melalui O Samurai, semacam keputusan Presiden. Saya masuk PETA di Solo. Yang harus dicatat, PETA bukan bagian dari tentara Jepang. Sebelum masuk PETA, saya menganggur. Sehari-hari saya latihan setengah kemiliteran dengan bocah-bocah di Solo, sekadar melatih fisik dan mental untuk menyiapkan diri bila sewaktu-waktu diperlukan. Ini bukan kesatuan, cuma kumpulan anak-anak muda saja. Nah, ketika Bung Karno minta sukarelawan dari kalangan pemuda-pemuda Indonesia, dari kumpulan kami itu banyak yang masuk, termasuk saya. Suatu hari saya bersama sekitar 15 pemuda Indonesia yang lain ditawari belajar di Akademi Militer Jepang. Saya menolak. Sebab, ini menurut pikiran saya waktu itu, kalau lulus lantas menjadi tentara siapa? Yang berangkat antara lain Pak Yoga Soegama, yang kemudian menjadi kepala Bakin dan sekarang rektor Universitas Persada, Jakarta. Jadi saya cuma masuk PETA, yang lengkapnya disebut Tentara Sukarela Pembela Tanah Air.

Hanya dalam 18 bulan, Jepang berhasil membentuk pasukan siap tempur dari para prajurit PETA. Ini yang saya kagumi dari orang Jepang. Padahal prajurit- prajuritnya direkrut dari orang-orang desa yang cuma sekolah rakyat tiga tahun. Bayangkan, bagaimana melatih orang-orang desa yang masih lugu? Mereka belum pernah memegang senapan, apalagi mortir. Mungkin melihat saja baru waktu di PETA. Bagaimana mereka mengerti soal trigonometri dan koniometri yang diperlukan untuk menembakkan mortir? November, Desember 1944, sampai Januari 1945, saya mengikuti pendidikan di Bo’ei Giyugun Kanbu Renseitai, pendidikan calon perwira PETA, di Bogor. Kami dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama untuk calon komandan batalyon. Di kelompok ini banyak kiainya. Melihat para kiai sekonyong-konyong disuruh latihan baris-berbaris, ya aneh juga. Kelompok kedua, kelompok komandan kompi, termasuk saya. Dan ketiga, kelompok calon komandan peleton. Saya termasuk angkatan pertama yang berlatih di Bogor. Latihan calon perwira amat keras. Kena tempeleng itu biasa. Tapi saya belum pernah ditempeleng. Pagi, siang, malam, terus latihan. Praktis tidur cuma enam jam. Padahal waktu itu musim hujan. Mestinya kami berlatih selama enam bulan. Entah bagaimana, cuma dilangsungkan tiga bulan. Kalau saya bandingkan dengan latihan di CORO, latihan di PETA itu luar biasa hebat. CORO itu latihan militer untuk ndoro, priyayi. Lha, wong Jepang sudah sampai di Singapura, tapi latihannya itu-itu juga, baris-berbaris dan menghafal teori. Pelatihnya pun terdiri atas para perwira Londo, Belanda, yang belum pernah berperang. Makanya, waktu Jepang menyerang, ada komandan yang bunuh diri. Juga banyak komandan yang tidak mau lagi memimpin prajurit. Lha, ini komandan apa. PETA lain. Kami dilatih oleh perwira-perwira yang terlibat pertempuran di Cina. Hebat. Bayangkan, bila 17 Agustus 1945 tidak ada PETA yang jumlahnya 65 batalyon atau kira-kira 70.000 perajurit, mau apa kita?

Tentara KNIL sudah dibubarkan. PETA-lah yang memegang peranan. Makanya kemudian kita memilih Soedirman, anggota PETA, sebagai Panglima Besar. Dia tahu kemampuan dan keterbatasan pasukan kita. Delapan belas bulan orang-orang PETA tidur bersama-sama di bawah satu atap–sejak PETA dibentuk hingga Jepang kalah perang. So we know well each other. Karena pengalaman mengikuti PETA pula mengapa saya ditunjuk menjadi kepala staf angkatan darat. Bung Hatta tidak puas terhadap lulusan dari Breda. “Jangan-jangan mereka nanti mendidik perwira-perwira seperti di Breda, yang bisanya cuma mundur, bubar,” kata Bung Hatta waktu itu. Pak Harto juga orang PETA. Beliau masuk dalam PETA khusus, yaitu pasukan yang dididik untuk gerilya. Mereka dilatih di Jaga Monyet, Jakarta. Sebelumnya mereka dilatih di Bogor. Pada 1945 itu boleh dikatakan ada tiga kelompok militer: PETA, bekas KNL, dan lasykar rakyat. Yang dari lasykar, misalnya Hizbullah, Pasukan Banteng, dan sebagainya. Para perwiranya terdiri atas mereka yang lulus dari Akademi Militer Mister Cornelis Jatinegara, seperti Pak Uripsoemohardjo, lalu dari Akademi Militer Breda, Akademi Militer Bandung, dan dari PETA. Dari merekalah TNI terbentuk.

Itu sebabnya pada 1947 kita mengadakan rekapitulasi dan rasionalisasi TNI untuk menghasilkan tentara reguler yang lebih baik. Selepas kemerdekaan, saya diminta oleh Pak Urip Sumahardjo (Kepala Badan Keamanan Rakyat) membentuk satu batalyon BKR di Surakarta. Saya dipilih menjadi komandannya. Belum lagi lima bulan (kalau tak salah pada bulan Oktober 1945) BKR kami dua kali diminta membantu dor-dor-an dengan Jepang di Semarang. Di situ ada lelucon. Dulu sih tak terasa lucu, tapi sekarang mungkin lucu. Begini. Jepang mengusulkan gencatan senjata. Yang diutus oleh Pak Urip adalah Umar Slamet (ini bukan Slamet Riyadi, Iho). Mas Slamet juga bekas PETA dan Komandan BKR di Yogya. Kami pernah berlatih bersama di Bogor. Sekarang dia sudah almarhum. Sekitar pukul 18.30 saya dijemput Mas Slamet, padahal perundingan direncanakan pada pukul 12 malam. Dia rupanya ngeri sebab di markas Jepang ada senapan mesin Jepang. Akhirnya kami pergi bertiga–Mas Slamet, saya, dan Hadiwinangun (bekas Residen Cirebon) ke Jatingaleh–ke markas Jepang yang dijadikan tempat perundingan itu. Di markas Jepang terlihat banyak orang Jepang yang luka akibat pertempuran dengan anak-anak kita. Sebaliknya, di pihak kami juga banyak korban. Saya berbisik kepada Mas Slamet sambil berjalan menuju ruang perundingan, “Mas, pokoknya kita harus selamat keluar dari sini.” Perundingan dilakukan di ruangan komandan Jepang yang luas. Dia mempersilakan kami. Jleg! Kami duduk. Bulu kuduk saya berdiri sekaligus bangga karena bisa duduk sederajat dengan komandan Jepang. Tanpa banyak basa-basi kami segera membuka perundingan. Mas Slamet minta agar Jepang menyerah kepada pemerintah Indonesia. Jepang langsung nggebrak! Dan Mas Slamet berbisik kepada saya, “Mas Djati, kalau kita mati di sini tidak ada orang tahu.” Saya diam saja. Apa yang dikatakan Jepang? “Tidak ada ketentuan bahwa kami harus menyerah kepada Pemerintah Indonesia. Kami hanya akan menyerah kepada Tentara Sekutu.” Perundingan gagal. Syukurlah, kami dapat keluar dengan selamat.

Selesai Perang Dunia II Belanda harus membangun kembali negaranya yang rusak. Negeri Belanda itu rusak betul, Lho. Dari mana memperoleh uang. Tentunya mereka berharap dari jajahan-jajahannya. Dan yang memasukkan devisa paling besar waktu itu adalah perkebunan-perkebunan. Maka mereka membonceng Sekutu memasuki Indonesia, untuk menjajah negeri ini kembali. Letnan Gubernur Jenderai Van Mook, pemimpin tertinggi Belanda di Indonesia setelah PD II, mengerahkan tentaranya ke Jawa dan Sumatera, dua pulau yang memiliki banyak perkebunan. Tentu saja van Mook tahu daerah-daerah mana yang perlu diprioritaskan. Sebab, dia adalah Direktur Departemen Urusan Ekonomi di Batavia sebelum PD II. Tapi Jenderal Spoor, yang memimpin tentara Belanda di Indonesia, harus menghadapi kenyataan yang sama sekali di luar dugaannya. Rakyat Indonesia melawan dengan gigih. Kepala intelejen Belanda di Australia rupanya memperoleh laporan yang salah. Intel-intelnya melaporkan bahwa keadaan Indonesia belum berubah. Spoor mengira bila Belanda mendarat, mereka akan diterima dengan baik oleh rakyat. Dia tidak memahami bahwa selama Belanda pergi ada yang namanya PETA yang jumlahnya 65 batalyon atau kira-kira 70 ribu personel. Kalau jumlah tentara PETA dijadikan divisi, maka jumlahnya 7 divisi (1 divisi adalah 9 batalyon). Jumlah TNI kita memang 7 divisi.

Bulan November– sebulan setelah bertempur melawan Jepang di Semarang–Pak Urip memanggil saya lagi. Dia bilang, “Kamu jadi panglima divisi. Pilih yang mana?” Maka, sejak 1 November 1945 sampai 1 Juni 1945 saya menjabat sebagai Panglima Divisi IV Tentara Republik Indonesia (TRI), bermarkas di Salatiga. Wilayah pertahanan saya meliputi Keresidenan Pekalongan, Semarang, dan Pati. Di daerah-daerah itu Sekutu sudah masuk. Ha… waktu itulah saya berhadapan dengan Sekutu yang berintikan tentara Inggris di dataran tinggi Rawa Pening dan Semarang. Saya pernah pula menjadi delegasi perundingan genjatan sejata di Semarang. Sekutu memang pernah mencoba memasuki Jawa Tengah lewat Magelang, tapi kami dorong lagi ke Ambarawa dan Semarang, lalu akhirnya ke Surabaya.

Begitu bersemangatnya perlawanan rakyat dan tentara kita. Banyak yang berkata, “Pak, habiskan itu Inggris.” Saya jawab, “Mereka habis, kita juga habis.” Lha, mereka lebih terlatih ketimbang kita, kok. Persenjataannya pun lebih lengkap, canggih lagi. Nganggo montor mabur, nggago mortir, nganggo panser, nganggo reno-reno (memakai pesawat terbang, mortir, panser, dan macam- macam). Lagi pula kebanyakan dari tentara Inggris itu orang India dan Pakistan, yang disebut Gurkha. “Mereka itu kawan kita. Bukankah India dan Pakistan sendiri ingin merdeka? Mengapa harus kita bunuh? Dorong saja ke Surabaya,” kata saya. Tentara Inggris sendiri tampaknya tak terlalu bersemangat bertempur dengan kami. Sebab, tugas mereka sebenarnya adalah melucuti tentara Jepang, bukan bertempur melawan bangsa Indonesia. Jepang sudah dilucuti, jadi apalagi? Mungkin itulah yang mendorong Inggris mengajak kita mengadakan perjanjian gencatan senjata di Semarang, kalau saya tidak lupa, pada bulan Maret 1946. Lalu mereka mundur ke Surabaya. Praktis di Jawa Tengah dan Jawa Timur Sekutu hanya berada di daerah pesisir, seperti Surabaya. Seingat saya, kota di pedalaman yang bisa dimasuki Sekutu adalah Bandung. Saya nggak pemah mengerti mengapa mereka berhasil memasuki Bandung. Padahal medannya lebih berat ketimbang Jawa Timur. Untuk mencapai Bandung kan harus melalui daerah bergunung-gunung. Mengapa pasukan kita tidak menggugurkan gunung-gunung itu untuk menghambat Sekutu? Atau menghancurkan jembatan-jembatan besar yang curam itu.

Juni 1946 terjadi reorganisasi di jajaran tentara. Saya ditunjuk menjadi Panglima Divisi V (1 Juni 1946 – 1 Maret 1948). Wilayah teritorial saya meliputi Bojonegoro, Pati, dan Muncung. Divisi V disebut juga dengan Divisi Ronggolawe, ini nama seorang senopati Majapahit yang berhasil menangkal ekspedisi tentara Kubilai Khan. Anggota pasukan saya antara lain Sudharmono (sekarang wakil presiden) dan Ismail Saleh (menteri kehakiman). Mula-mula markas saya berada di Mantingan, persis di tengah hutan jati. Di masa itulah, dan di hutan jati pula, saya mengawini Raden Ayu Suharsi, tepatnya pada tahun 1947. Aneh juga, Wong, manten anyar (pengantin baru), kok di tengah hutan. Kelak, kami dikaruniai tiga orang anak dan lima cucu. Aksi polisionil Belanda I pecah tahun 1947. Waktu itu saya sudah Panglima Divisi V Ronggolawe. Perlawanan rakyat berkecamuk di Jawa Timur. Dulu saya khawatir Belanda menyerang saya. Ternyata mereka tidak terlalu peduli pada hutan jati yang menyebar luas dari sebelah timur Bojonegoro sampai Kedung Jati, dan ke sebelah selatan hingga Ngawi. Kami tidak berdiam diri. Saya mengerahkan pasukan ke sektor Gresik-Lamongan. Dalam suasana seperti itu ternyata banyak perwira dan taruna kita yang rewel. Ada yang maju-mundur untuk turun ke medan pertempuran. “Kita harus ikut bertempur,” begitu saya tegaskan kepada perwira-perwira dan taruna-taruna itu. Mereka berkata, “Kalau gugur bagaimana?” Saya jawab, “Lho, perang kok tanya kalau gugur. Kalau prajurit- prajurit biasa boleh gugur, apa kamu tak boleh gugur? ini pelajaran, guru perang terbaik adalah perang itu sendiri. Sekarang ada kesempatan untuk perang, ada musuh di depan mata. Cari musuh itu susah, mahal”. Agustus 1947 saya memindahkan markas ke Cepu tempat minyak. Situasinya sudah berubah. Pertempuran dengan Belanda mereda.

MENJADI JEMBATAN PIKIRAN. Tahun 1948 Pemerintah Republik memanggil saya ke Yogya. Waktu itu sudah Kabinet Hatta, menggantikan Kabinet Syahrir. Sejak saat itu saya semakin dekat dengan Bung Kamo. Saya berkenalan dengan beliau pada tahun 1947, ketika Panglima Besar Soedirman mengajak saya menghadiri sidang-sidang Dewan Siasat Militer, lembaga yang dipimpin langsung oleh Bung Kamo. Di situ ternyata saya cukup diperlukan. Terus terang saja, di antara kawan-kawan militer yang lancar berbahasa Inggris dan Belanda kan saya. Pak Dirman sendiri mengenal Bung Kamo baru setelah Pak Dirman menjadi Panglima Besar, Iho. Nah, untuk menghadapi orang-orang pintar, seperti Bung Hatta, Syahrir, Bung Kamo, dan menteri-menteri, Pak Dirman membawa saya. Mungkin karena beliau merasa sebagai orang desa, guru sekolah Muharnmadiyah, yang agak sulit memahami cara berpikir tokoh-tokoh brilyan di kabinet. Saya sendiri mengakui bahwa Bung Kamo, Bung Hatta, dan lain-lain adalah orang hebat yang berpikir secara modern dan pernah belajar di mana-mana. Sebaliknya, banyak anggota kabinet yang tidak memahami jalan pikiran Pak Dirman, Gatot Subroto, dan para pemimpin militer yang umumnya dari desa. Itu sebabnya saya juga dipercayai oleh anggota kabinet dan pemimpin-pemimpin militer untuk menjembatani mereka. Sekali waktu, seusai sidang Dewan Siasat Militer, Bung Kamo bilang pada saya, “Lain kali jangan mengajak Gatot Subroto.” Saya tanya kenapa. “Aku ndak mengerti pikirannya,” jawab Bung Karno. Lha, Gatot itu blak-blakan. Dia pernah bilang, “Aku iki wong bodo. Sekolah dasar wae ora rampung.” (Aku ini orang bodoh. Sekolah Dasar saja tidak selesai.) Memang komandan-komandan resimen umumnya dari desa. Ada guru Taman Siswa, guru Muhammadiyah, ada kiai, dan sebagainya.

Kolanel Sungkono (sebelum Rekapitulasi berpangkat Mayor Jenderal, lalu diturunkan menjadi Kolonel), Panglima Divisi VI Jawa Timur, pendidikannya cuma sampai sekolah dasar. Tapi harus dicatat, di kalangan rakyat yang didengar justru orang-orang militer ini. Pak Sungkono, Gatot Subroto, Pak Dirman, misalnya. Makanya sering saya katakan PETA adalah satria bambangan–satria dari desa. Seumpama mereka bukan dari desa, kami tak akan mendapat dukungan orang desa. Mereka mendukung karena anak-anak mereka menjadi prajurit kami. Rakyat pula yang menyediakan logistik untuk tentara.

Dalam Dewan Siasat Militer sering dibicarakan kemungkinan Belanda menyerang kembali. Dan kami yakin itu akan terjadi. Kami pun bersiap-siap dan berbagai alternatif sudah dipikirkan. Misalnya, ada rencana Bung Kamo dan Bung Hatta akan diungsikan luar negeri bila Belanda menyerang. Alternatif lain, para pemimpin negara, termasuk Bung Karno dan Bung Hatta, akan ikut bergerilya bersama-sama militer dan rakyat. Dewan juga telah merencanakan untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), untuk membuktikan pada dunia bahwa Pemerintah Republik yang sah masih ada. Di samping itu diputuskan pula untuk membentuk wadah setiap angkatan, termasuk angkatan darat. Nah, Bung Karno mengusulkan agar kepala staf angkatan adalah orang yang mengenal lawan dan kawan. Kebetulan saya dianggap memenuhi syarat menduduki jabatan kepala staf angkatan darat (KSAD) yang pertama (1 Maret 1948 -1 Mei 1950).

Belanda akhirnya benar-benar menyerang Yogyakarta, 19 Desember 1948. Hari itu juga Dewan Siasat Militer bersidang. Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah anggota kabinet lainnya tetap tinggal di istana. Diputuskan juga untuk membentuk PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) di Bukittinggi dan sebagian lagi di Aceh. Teman-teman PDRI yang masih hidup antara lain Jenderal Hidayat, Jenderal Askari. Semula di Jawa juga ada anggota Kabinet PDRI, misalnya, Menteri Soepeno yang kemudian gugur. Di New Delhi, India, juga dibentuk wakil Pemerintah di luar negeri. Mengapa Bung Karno dan anggota kabinet tidak lari ke luar negeri atau ikut bergerilya? Bila mereka ke luar negeri, Belanda tentu punya alasan untuk menyatakan Republik sudah tenggelam, dan menyatakan perlawanan rakyat Indonesia adalah tindakan kriminal. Kalau mere ka ikut bergerilya, siapa yang bisa menjamin keselamatan mereka? Belanda tentu akan berusaha membunuh mereka, sedangkan kemampuan pasukan kita belum cukup tangguh. Dengan adanya PDRI dan wakil pemerintah Republik di luar negeri, ekslstensi negara Indonesia tetap ada. Dan ketika Bung Karno dan Bung Hatta ditangkap Belanda, mereka hanyalah warga negara Indonesia biasa.

Dengan demikian Belanda tidak bisa menyatakan Republik telah tenggelam karena kita masih memiliki Pemerintah Darurat. Hampir seluruh anggota kabinet hadir daiam sidang Dewan Siasat Militer itu Tapi, sepengetahuan saya tidak ada yang dari TNI. Meskipun Panglima Besar Soedirman, T.B. Simatupang, Suryadharma, ada di istana waktu itu. Waktu itu A.H. Nasution berada di jawa Timur. Lapangan Terbang Maguwo (sekarang Adisucipto) sudah jatuh ke tangan Belanda. Saya tidak tahu mengapa Nasution tidak memasuki kota (Yogyakarta), melainkan ke Batu Ceper. Padahal jarak antara Yogya dan Batu Ceper paling-paling cuma 40 kilometer. Bisa saja ditempuh dengan 12 jam jalan kaki. Waktu itu, sebagai KSAD, saya berkantor di kantor Menteri Pengairan, di selatan Maguwo. Selain sebagai KSAD waktu itu saya juga bertanggung jawab atas keselamatan para taruna. Jumlahnya tak banyak, kira-kira 150 orang. Mereka ini adalah calon perwira pengganti. Saya juga tidak hadir dalam sidang Dewan Siasat Militer itu. Latif Hendraningrat, Panglima Komando Militer Yogyakarta Kota, dua kali menelepon saya. Dia bilang, “Kau dipanggil Bung Kamo ke istana.” Saya jawab, “Sidang Kabinet toh akan jalan tanpa saya. Kalau saya pergi dari sini, para taruna ini akan buyar.” Saya juga titip pesan kepada Latief agar disampaikan kepada Bung Karno, “Kalau sampai pemerintah dan kepala negara ke luar negeri, kita bisa dinyatakan tenggelam.” Mengapa saya tidak ke istana dan memilih bertahan di markas? Perhitungan saya, kalau saya pergi ke Istana, para taruna akan buyar Asrama itu terletak tidak jauh dari marka Brigade Soeharto.

Sebelum 19 Desember saya sudah melihat gelagat bahwa Belanda akan menyerang. Saya bilang kepada para taruna, “Sekarang kita ke luar kota, menghadang Belanda di Semaki.” Ketika itulah Pak Harto datang. Dia menanyakan langkah-langkah apa yang harus diambil. Saya tanya, pasukannya di mana? Menurut perintah Panglima Besar Soedirman, pasukan Brigade Soeharto ditempatkan di sepanjang jalan antara Karanganyar (Bagelen) dan Wates (Yogyakarta). Jadi di dalam kota hnya ada salu kompi. Satu peleton di Maguwo, dua peleton di sebelah barat. Saya bilang kepada Pak Harto, “Saya mau menghadang Belanda di Semaki.” Sesampai di Semaki, saya bertemu dengan satu regu CPM. Saya bertanya kepada mereka, “Mana batalyon yang mestinya di sini?” Mereka menjawab, “Sudah berangkat tadi malam.” Seluruh pasukan Siliwangi yang berada di Semaki (satu balyon) dan di Jembatan Gajah Wong (dua batalyon) sudah pergi.

Praktis Yogyakarta kosong. Yang tinggal hanya satu kompi Brigade Soeharto, dua kompi taruna di bawah tanggung jawab saya, dan sejumlah lasykar. Praktis, sewaktu memasuki Yogyakarta, Belanda tidak memperoleh perlawanan. Seandainya pasukan Siliwangi tidak pergi, keadaannya mungkin akan lain. Mungkin bisa ramai. Selesai berperang, saya katakan kepada mantan Kepala Staf Divisi Belanda di Jawa Tengah. “You hebat betul.” Dia menjawab dengan agak heran, “Sebetulnya kami menurunkan satu atau dua kompi pasukan payung hanya untuk mengacau saja. Kami sudah perhitungkarn mereka akan habis. Tapi ketika kami mendarat kok tidak ada perlawanan?” Teryata pesawat Belanda sedikit. Lha, wong yang menerjunkan pasukan payung itu hanya tiga pesawat Dakota DC-2 yang diterbangkan dari Andir, Bandung. Sesuai menerjunkan pasukan di Yogya, pesawat-pesawat ini pula yang diperintahkan ke Semarang untuk mengangkut batalyon cadangan ke Maguwo. Dan tiba di Yogya 20 Desember, sehari setelah awal penyerbuan. Belanda juga melancarkan serangan melalui darat. Belanda masuk ke Yogyakarta kan menyusup melalui Boyolali, daerahnya Slamet Riyadi. Slamet-lah yang bertugas menahan Belanda di daerah itu. Namun, pertahanan Slamet bobol. Maklum, pasukan Slamet paling-paling cuma satu batalyon sedangkan Belanda dua batalyon. Belanda kemudian menyerbu Kaliurang, ke markas Komisi Tiga Negara (KTN), tidak langsung ke kota (Yogyakarta).

Memang sasaran Belanda adalah Kaliurang, untuk mengisolasi tim KTN (Komisi Tiga Negara) yang ditugaskan oleh PBB. Setelah perjanjian Renville, PBB memang sudah mengambil alih penanganan atas konflik Indonesia- Belanda–hal yang belum dilakukan setelah Perjanjian Linggarjati. Dengan isolasi tersebut KTN tidak bisa berhubungan dengan Dewan Keamanan PBB utuk melaporkan tindakan Belanda yang menyerang Yogyakarta tanpa restu PBB. Posisi saya tidak diserang, karena Belanda memang tidak punya pasukan. Baru setelah saya pindah ke utara, Belanda sering mengadakan patroli, tapi tidak berhasil menduduki markas. Sekali-sekali terjadi pertempuran kecil-kecilan Menjelang KMB, Konperensi Meja Bundar, saya masih bolak-balik Jakarta-Yogya. Saya menjadi anggota Gencatan Senjata Pusat di Jakarta, khusus di bidang militer. Ketuanya Pak Wongsonegoro.

PERISTIWA 17 OKTOBER TAHUN 1950 berlaku Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat (UUD RIS) yang bersifat liberal demokratis. RIS memang telah dibubarkan pada Agustus 1950. Tetapi UUD-nya tetap jalan. Baru kemudian diganti dengan UUD Sementara yang juga liberal demokratis. Ya, dengan segala hommat pada rekan-rekan politisi, waktu itu usia kabinet rata-rata hanya 18 bulan. Bagaimana mereka sempat memikirkan program kerja dan pembangunan. Banyak menteri yang tidak tahu harus melakukan apa. Kekuasaan formal memang di tangan kabinet. Tetapi nyatanya yang didengar hanya Bung Karno. Rakyat jadi tidak tahu di mana letak kekuasaan itu sebenarnya. Pernah sekali waktu terjadi peristiwa lucu yang sebenarnya sangat serius. Partai-partai politik tidak bisa membentuk kabinet. Akhirnya Bung Kamo mengeluarkan Surat Keputusan yang bunyinya begini “Presiden Republik Indonesia, Sukarno. Dengan ini menunjuk warga negara Indonesia Sukarno untuk membentuk kabinet.” Sekarang kita boleh tertawa. Tetapi dulu itu masaiah serius. Lalu pemimpin-pemimpin partai politik dikumpulkan di istana. Saya lupa, di Istana Bogor atau istana Merdeka. “Sudah, sekarang bentuk kabinet,” kata Bung Kamo. “Nanti dulu, Bung. Kami perlu bicara dengan pimpinan partai lainnya,” jawab orang-orang partai. “Lho, katanya kamu itu pemimpin rakyat. Kok, begini saja mesti mengadakan pembicaraan dulu. Boleh. Silakan,” Bung Kamo menyahut. Mereka angkat telepon. Padahal semua telepon sudah diputus. Akhimya terbentuk kabinet Ali Sastroamidjojo (PNI), minus Masyumi. Sesudah itu keluar lagi Surat Keputusan Soekamo. “/Dengan Ini warga negara Soekarno menyerahkan kembali tugasnya kepada Presiden Republik Indonesia Soekarno.” Coba, coba, bayangkan. Kacau. Dalam setting kekacauan kabinet itulah peristiwa 17 Oktober 1952 terjadi. Saya memang aktif dalam gerakan tersebut. Ketika itu saya perwira tinggi di Kementerian Pertahanan. Jabatan saya Kepala Biro Perancang Operasi merangkap Kepaia Biro Pendidikan Pusat (1 Juii 1950–1 November 1952). Sayalah yang mula-mula mengambil inisiatif mengumpulkan para pimpinan TNI (AU, AD, AL) di aula Hankam sekarang. Saya bilang, “Mbok ya sekarang kita kembali saja ke UUD 1945. At least kita bisa tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas kekuasaan yang ada menurut UUD 1945 itu. Sebab, kenyataannya, rakyat hanya mendengar Bung Kamo, Presiden. Padahal ada Perdana Menteri selaku pemegang kekuasaan pemerintahan.” Tidak tercapai konsensus dalam pertemuan itu. Entah bagaimana ceritanya, apa yang telah saya mulai itu dioper oleh Markas Besar Angkatan Darat, yang KSAD-nya waktu itu A.H. Nasution. Sementara itu, suara-suara dari kaum politisi tentu saja menentang. Mereka tetap menginginkan liberalisme. Tapi bagaimana kita bisa membangun kalau sebentar-sebentar kabinet diganti? Bagaimana membicarakan kembalinya Irian Barat kaiau setiap 18 bulan ada kabinet baru? Hubungan miiiter dengan sipil memang tak enak. Kami begitu mendongkol pada oknum-oknum partai. Mau tidak mau, peristiwa lama diungkit pula: waktu perang gerilya kaiian di mana? Ketika itu tidak ada orang-orang partai yang turun ke tengah rakyat, membantu gerilya. Yang pemah saya jumpai cuma Jaksa Agung Kasman Singodimedjo. Beliau dua kali berjalan dari Jawa Barat ke Jawa Timur, bolak-balik. Maklum, beliau itu kan bekas PETA. Jadi, tidak takut. Politisi lainnya? tidak ada. Jangankan membantu, memberi semangat kepada rakyat saja tidak. Pada hari kejadian (17 Oktober) saya baru minum kopi bersama sejumlah perwira senior, seperti T.B. Simatupang, Dan Yahya, dan lain-lain di Kementerian Pertahanan. Di luar terdengar ramai-ramai demonstrasi. Tak lama kemudian kami mendapat telepon dari Istana, disuruh datang. Dalam perjalanan ke Istana, saya melihat meriam, tank, panser nongkrong di kantor telepon dekat Istana. Sampai di Istana, ternyata sudah ada KASAD Nasution dan perwira-perwira senior lainnya. Bung Kamo dan Bung Hatta juga sudah ada. Saya dan T.B. Simatupang bergabung. Di situlah perwira-perwira TNI mengusuikan untuk kembali ke UUD 1945 dan agar parlemen dibubarkan dalam waktu dekat ini. Ada kejadian lucu lagi. Sesudah usul TNI disampaikan, kami omong-omong santai. Kawilarang mau merokok. Dia berada di sebelah saya. Saya sederet dengan Askari dan Kawilarang. Asbak ada di depan saya. Saya berikan kepada Askari supaya diteruskan kepada Kawilarang. Waktu dipegang Askari, mrucut, jatuh ke lantai dan pecah, derr. Wartawan-wartawan di luar mengira ada apa-apa. Mereka pikir keadaan di dalam tegang betul. Padahal cuma asbak jatuh. Ada anggapan kekacauan itu disebabkan karena Partai Sosialis Indonesia (PSI) ke tubuh TNI. Sebenarnya tidak begitu. Yang menjadi Sekretaris Jenderal Pertahanan waktu itu adalah Ali Budiardjo. Dia itu PSI. Simatupang juga dituduh PSI karena istrinya adalah adik Ali Budiardjo. Tapi, sepengetahuan saya, tidak. Simatupang memang banyak didengar oleh orang-orang PSI karena dia memang brilyan. Tapi keliru kabu dia disebut sebagai PSI. Nasution juga bukan. Waktu itu dia sudah tidak punya kekuatan apa-apa. Orang-orang partai menghendaki dibentuknya tentara profesional meniru Barat. Sebagian kecil perwira militer pun berpikir begitu. Haa, mungkin ini yang dimaksud adanya orang partai yang menyusup ke militer. Tapi sebagian besar TNI menolak. Karena kalau kami meniru Barat berarti mengkhianati rakyat. Sebab, sejarah TNI tidak terlepas dari peranan rakyat. Rakyat-lah yang membantu dalam perang gerilya. Militer-lah yang didengar rakyat ketika para politisi tidak bisa menjalankan pemerintahan. TNI bukan hanya sekadar alat politisi sipil Apalagi kalau sipilnya semau gue. Cekcok terus. Sampa akhimya konflik di mana-mana. Kalau nasi sudah jadi bubur, militer yang disuruh menyelesaikan. Lihat peristiwa DI-TII, PRRI-Permesta. Militer disuruh menembak bangsa sendiri. Siapa yang senang menembaki bangsa sendiri? Mereka sebagai politisi, enak. Kalau sudah tidah bisa menyelesaikan masalah bisa mundur. Lha, militer? Masa, tentara dibubarkan? Kan tak mungkin.

Sesudah peristiwa 17 Oktober itu Nasution diberhentikan sebagai KSAD, digantikan oleh Bambang Sugeng. Gatot Subroto (wakil Kasad) juga dicopot. Saya sendiri disuruh ke Amerika, ke Port Levenberg. Saya bilang, saya tidak mau. Sebab, Levenberg itu jatah untuk Panglima Divisi. Saya ini bekas Kasad. Akhirnya, saya disuruh ke Bandung, menjadi Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD, sekarang Seskoad), menggantikan Mokoginta. Di situ saya menjabat sejak 1 November 1952 sampai 13 Februari 1955. Sedangkan yang disuruh ke Levenberg adalah Mokoginta. Dia paling aktif menyiapkan peristiwa 17 Oktober itu. Gatot Subroto pulang ke Ungaran. Saya disebut-sebut sebagai calon pengganti Nasution sebagai Kasad. Kalau itu benar, saya nggak akan mau. “Wong Jowo iku ora ilok mbaleni sego wadang.” (Tidak pantas bagi orang Jawa memakan kembali nasi basi). Dulu saya pernah Kasad. Lagi pula saya ini termasuk biang keladi 17 Oktober. Mana mungkin Bung Karno memilih saya. Kemudian saya menjadi Direktur Zeni Angkatan Darat (29 Februari 1955-24 Juni 1958). Di dalam pasukan Zeni itu ada Try Soetrisno (Pangab sekarang) dan 51 orang yang memiliki kemampuan rata-rata sama. Misalnya, Dirjen Imigrasi sekarang, Rony Sikap Sinuraya. Beberapa di antara mereka ada yang menjadi gubernur. Semasa menjadi Direktur Zeni saya pernah membantu Panglima Jamin Ginting menyelesaikan PRRI/Permesta. Saya ada di Sumatera kira-kira lima bulan. Saya berusaha agar konflik tersebut dapat diselesaikan tanpa meninggaikan rasa sakit hati. Boleh dikatakan saya bertindak sebagai penengah antara pihak Jamin Ginting (pemerintah) dan Kolonel Simbolon (PRRI). Saya bilang kepada orang PRRI, “Kalau memang Pemerintah tidak becus melaksanakan pembangunan, dengan cara kalian ini pelaksanaan pembangunan akan lebih jauh lagi.” Saya juga ingin menunjukkan kepada dunia luar bahwa PRRI adalah persoalan dalam negeri yang bisa diselesaikan dengan baik. Negara lain tak usah campur tangan. Anda tahu kan, AS ketika itu diduga terlibat membantu PRRI.

KONFRONTRASI INDONESIA-MALAYSIA BUNG Karno menunjuk saya sebagai duta besar luar biasa dan berkuasa penuh di Malaya (1 Juni 1963–25 Agustus 1963). Jadi sebelum sempat terbentuk Malaysia, saya sudah ditarik pulang. Saya ini bangsawan, orang keraton. Bung Karno tahu yang paling berkuasa di Maldya juga keluarga bangsawan. Suatu malam diadakan pertunjukan kesenian Indonesia. Saya dipersilakan duduk di kursi yang biasanya dipakai oleh Yang Dipertuan Agung, kepala negara Malaya. Kawan-kawan duta besar dari negara sahabat mengomel, “Mengapa you, Duta Besar Indonesia, duduk di tempat yang cuma diperuntukkan Yang Dipertuan Agung?” Sambil bergurau saya menjawab, “Begini. Rakyat Malaya itu separuh kepunyaan Yang Dipertuan Agung, separuh lagi kepunyaan saya. Soalnya, Yang Dipertuan Agung itu keturunan Bugis.” Orang sering tidak tahu apa yang dihasilKan oleh Kabinet Dwikora. Ketika itu saya ikut menyusun Deklarasi Malaya, Filipina, Indonesia (Maphilindo)-suatu kawasan damai di Asia Tenggara. Indonesia dan Malaya mengakui Mindanao sebagai bagian integral dari Filipina. Tetapi Indonesia dan Malaya minta otonomi yang seluas-luasnya untuk wilayah itu. Yang penting lagi adalah Malaya, Filipina, Indonesia tidak akan menerima pangkalan asing. Apabila masih ada pangkalan asing di kawasan ini, sifatnya hanya sementara. Pangkalan asing itu juga tidak boleh dipakai untuk melancarkan subversib ke negara tetangganya. Ternyata Malaya merasa keberatan melaksanakannya. Tentara Inggris masih berada di negara itu. Bung Karno tidak suka. Inilah yang mempertajam konfrontasi. Maklum, selain sedang dilanda gelombang anti-Barat, kita masih mencurigai Inggris. Bung Karno menghendaki agar pemerintah Malaya tidak memberi izin kepada Inggris membangun pangkalannya di sana. Tetapi pemerintah Malaya mempertahankannya. Kata Pemerintah Malaya, “Apa sih Indonesia maunya? Kalau Inggris keluar dari sini, saya harus menghadapi kaum komunis Cina. Indonesia enak. Kaum komunisnya orang Indonesia sendiri.” Bung Karno tidak menerima alasan tersebut. Hubungan Indonesia-Malaya pun semakin runcing. Saya dipanggil pulang dan didudukkan menjadi Penasihat Presiden untuk urusan konfrontasi. Praktis, saya menjadi Dubes di Malaya hanya kira-kira 100 hari. Sebagai penasihat, saya mencoba menyadarkan Bung Karno bahwa desakannya–agar Malaya mengusir Inggris–momentumnya tidak tepat. Kalau dipaksakan justru akan menyulitkan Malaya karena persoalan komunis Cina itu. Di tengah suasana runcing itu datang Jaksa Agung Amerika Bob Kennedy, adik Presiden Amerika Robert Kennedy. Bob menyarankan agar Bung Karno membubarkan Dwikora dan mengadakan gencatan senjata. Bung Karno segera mengadakan sidang, dihadiri para menteri Kabinet Dwikora, membahas saran Bob itu. Saya juga hadir. “Bagaimana pendapat saudara-saudara?” kata Bung Karno. Saya memberikan pendapat: “Katanya kita ini tidak perang dengan Malaya. Mengapa sekarang kita akan mengadakan cease-fire? Artinya, kita mengakui perang dengan Malaya?” Bung Karno menggebrak meja. Brak! Pokoknya, saya perintahkan cease-fire (gencatan senjata). Menjelang meletusnya G30S-PKI, Bung Karno memang sudah menunjukkan sikap yang cenderung keras, ingin selalu didengar. Fisiknya sudah tidak baik. Sepuluh hari setelah peristiwa G30S-PKI, saya berangkat ke Kerajaan Maroko sebagai duta besar luar biasa dan berkuasa penuh. Saya tidak tahu persis kejadian-kejadian yang berkaitan dengan G30S-PKI. Selama di Maroko saya tidak banyak tahu perkembangan Indonesia. Rakyat Maroko, sepengetahuan saya, tidak mengikuti perkembangan terakhir di Indonesia. Mereka tidak mengikuti peristiwa G30S-PKI dan pergantian kehasaan yang terjadi–saya tidak mau mengatakan Bung Karno jatuh atau dijatuhkan. Walaupun di sana ada taman yang bernama Sukamo. Jadi sebenamya negeri kita dikenal di sana. Sebab, ketika Maroko baru saja merdeka, yang membiayai perjuangannya di PBB adalah Indonesia. Saya hanya setahun di Maroko – Duta Besar. Kemudian pindah ke Prancis – Duta Besar RI berkuasa penuh untuk Prancis merangkap Duta Besar RI berkuasa penuh untuk Kerajaan Spanyol, merangkap Kepala Perwakilan tetap RI pada markas besar United Nation Educational, Scentific, and Cultural Organization (UNESCO) di Paris. Tugas Duta Besar waktu itu sangat berat, karena negara baru dilanda krisis politik. Peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Dari Presiden Soekarno kepada Presiden Suharto.

Selanjutnya, sebagai purnawirawan, saya menjadi anggota Penqurus Besar Persatuan Pumawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) dari 1970- 978. Lalu, dari 1978-1983 menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung. Zaman Bisnis BERSAMAAN waktunya ketika saya diangkat menjadi anggota DPA, Pak Harto meminta saya untuk duduk di Tim P-7, sampai sekarang. Siapa bilang tim ini tidak penting? Tim Penasihat Presiden mengenai Pelaksanaan Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Tim P-7) adalah satu-satunya lembaga yang bisa omong dengan bebas dengan Presiden. Siapa yang bisa bicara blak-biakan dengan Pak Harto selain Tim P-7? Siapa? Apa ada menteri yang berani blak-blakan? Ora wani–tak berani. Secara rutin Tim P-7 sekali dua bulan atau sekali tiga bulan berbicara dengan Pak Harto. Setiap kali pertemuan berlangsung rata-rata sekitar satu setengah jam. Apa yang dibicarakan, itu rahasia kami.

Sumber CV Djatikusumo: Solichin Salam

ANAK-ANAK DIDIK DJATIKUSUMO di PASUKAN T RONGGOLAWE/PASUKAN T SAD

Anggota Pasukan T Ronggolawe yang gugur pada perang kemerdekaan:

Soekandar, 21 tahun

Gugur ditembak di jembatan bengawan solo di cepu dalam pertempuran di Cepu antara batalyon Ronggolawe melawan pasukan-pasukan PKI yang lebih besar, Oktober 1948. Dimakamkan di TMP Cepu.

Hadi Tjahjono, 23 tahun

Gugur waktu menjabat wedana militer jakenan. Ia disergap dan ditembak pasukan Belanda di Kecamatan Puncakwangi, Kabupaten Pati. Dimakamkan di TMP Semaki Yogya.

Soewarsono, 21 tahun

Gugur sewaktu menjabat wedana militer kayen Januari 1949 dimakamkan di TMP Pati.

Kisbandi, 20 tahun

Tertembak sewaktu pertempuran dengan patroli anjing Nica di dekat Salman Magelang Januari 1949. Dimakamkan di TMP Girilaya Magelang.

Waluyo Hadisaputro, 20 tahun.

Ditembak Belanda di tepi Kali Progo, dekat jembatan Plikon, Megelang. Jenazahnya tidak ditemukan dan menjadi rahasia deru air Kali Progo.

Harsono, 20 tahun.

Ditembak patroli anjing Nica di dekat Desa Nganti sebelah timur kota Magelang. Dimakamkan di TMP Girilaya Magelang.

Perjalanan Anggota Pasukan T Ronggolawe yang tidak gugur pada perang kemerdekaan, antara lain:

Ir. Hermawan Kartowisastro

Lahir 8 April 1930 di Semarang. Sebagai pelajar Angkatan Perang menyelesaikan studi dalam jurusan Bangunan Mesin (S1) di University of Birmingham Inggris tahun 1957, untuk kemudian bertugas di Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Selesai pendidikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (SESKOAL) Angkatan VIII tahun 1971, ditugaskan di perusahaan dok dan galangan kapal PT. Pelita Bahari Persero, sebagai pimpinannya. Perusahaan ini pada tahun 1980 menjadi galangan kapal yang termodern dan memelopori pembangunan kapal dengan sistem blok di Indonesia.

Aman Suyitno, BA, Kol. CPM (purn)

Lahir 25 Desember 1927 di Kendal. Melanjutkan kariernya di Kepolisian Militer, dengan penugasan di luar jawa, antara lain di Sulawesi Selatan. Kemudian menjelang pensiunnya pada tahun 1983, di tugaskaryakan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rinto Suleiman, Kol. Kav (purn)

Lahir 17 Juni 1930 di Lhoksumawe. Menyelesaikan pendidikan militernya di Koninklijke Militaire Akademie (KMA), Breda Negeri Belanda, dalam kesenjataan kaveleri, lulus tahun 1995. Rinto Suleiman pada tahun 1963 menjadi anggota Kontingen Indonesia Garuda II, ke Kongo, dan pada tahun 1968-1971 menjadi Liason Officer RI untuk Kucing, Serawak di Malaysia.

Soewondo, SH, Kol. CKH (purn)

Lahir 1 November 1928. Melanjutkan kariernya di Angkatan Darat, Soewondo mengikuti pendidikan pada Akademi Hukum Militer (AHM), untuk kemudian menyelesaikan studi kesarjanaan (SH) pada Universitas Diponegoro (Undip). Jabatan terakhir yang dipegang adalah Inspektur Jenderal Departemen Pertanian RI tahun 1983 -1988.

Kartono S. Hamidjojo, Kol. Art (purn)

Lahir 11 November 1929. Melanjutkan karier di bidang militer melalui pendidikan di Sekolah calon perwira artileri di Cimahi tahun 1952, dilanjutkan ke Scholl of Artillery, Sydney Australia tahun 1963. Pada tahun 1968 beralih tugas ke bidang non militer di lingkungan Sekretariat Negara/Menko Kesra, hingga pensiun tahun 1990.

  1. Susilo Wibowo, Marsma TNI (purn)

Lahir 30 Desember 1930. Menyelesaikan studinya sebagai dokter di Universitas Indonesia pada tahun 1960. Menjadi dokter AURI dan mengkhususkan dalam “Aerospce Medicine” di Leningrad Rusia, pada tahun 1964 dan kemudian menjadi Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, tahun 1978. Setelah pensiun tahun 1985, menggeluti masalah Gerontologi.

Susatmoko

Lahir 27 Mei 1926 di Tegal. Meniti karir di Pertamina sejak tahun 1995. Susatmoko menyelesaikan pendidikan Ahli Minyak pada tahun 1985. Bertugas di instalasi perminyakan Pertamina di berbagai tempat dan sebelum pensiun tahun 1987, menjabat sebagai Kepala Pabrik Aspal, Unit Pengolahan Pertamina di Wonokromo.

Prof. Dr. Kardono Darmoyuwono

Lahir 25 Oktober 1928. Menyelesaikan studinya di jurusan geografi, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957. Membaktikan dirinya di UGM dan diangkat sebagai Dekan Fakultas Geografi UGM tahun 1971-1975. Kardono adalah juga Deputi Ketua Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) tahun 1970-1984.

Prof. Dr. Setijadi (Nong)

Lahir 18 April 1929. Setelah lulus tahun 1950 didemobilisasi, melanjutkan di Universitas Gadjah Mada (UGM), di bidang Paedagogi dan menyelesikan studinya S3 pada Cornell University, Ithaca, Amerika Serikat, pada tahun 1964. Setelah menjabat Kepala Badan Litbang Depdikbud, Setiadi ditugaskan untuk merintis mendirikan Universitas Terbuka (UT). Dari tahun 1984-1992 ia menjabat rektor pertama (founding rector) Universitas Terbuka.

Prof. Suwondo B. Sutedjo, Dipl. Ing

Lahir 2 Juni 1928 di Pekalongan. Setelah tahun 1950 ia melanjutkan studinya di Technische Hogeschool di Delf, Nederland, jurusan Bouwkunde (Arsitektur) dan karena ada gejolak politik pada waktu itu, ia terpaksa pindah ke Jerman dan menyelesaikan studinya (Dipl. Ing) pada Technische Hochshule di Hanover Jerman. Sekembali ke Indonesia Bismo dikenal sebagai Suwondo B. Sutedjo, mengajar di Institute Teknologi Bandung (ITB) dan kemudian pada Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Dari tahun 1972-1978 menjadi ketua jurusan Arsitektur dan kemudian diangkat menjadi Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (1974-1978).

Mardiono, Laksda TNI (purn)Lahir 27 November 1927 di Bogor.

Pada tahun 1947, Mardiono bersama Sularso dan Rochani Syamsudin ditangkap Belanda sewaktu bertugas combat intelligence di daerah Demak. Sebagai hasil kelanjutan Konferensi Meja Bundar (KMB) Desember 1949, mereka dibebaskan dari penjara Nusakambangan. Setelah menamatkan SMA, ia mendaftarkan diri pada Institute Angkatan Laut, Morokrembangan Surabaya sebagai kadet pelaut Angkatan ke 2. Pada tahun 1961 ia dikirim ke Vladivostok, Rusia, untuk mengikuti pendidikan kapal selam. Pada tahun 1962, masa TRIKORA, dengan kapal selam “Tjandrasa” yang ia komandoi, ia berhasil memasuki teluk tanah merah, barat laut kota Holandia (Jayapura sekarang), untuk mendaratkan sepasukan RPKAD. Atas keberhasilan operasi yang penuh resiko itu, Mardiono dan seluruh ABK KS “Tjandrasa” dianugerahi Bintang Sakti oleh Negara. Pada tahun 1963 ia mengikuti SESKO AL di Leningrad Rusia. Dari tahun 1974-1976 ia menjabat komandan Eskader, untuk kemudian menjadi Gubernur AKABRI bagian laut 1977-1983.

Sudharmono, SH, Letjen TNI (purn)

Lahir 12 Maret 1927 di Cerme Gresik. Sudharmono menempuh Pendidikannya dari SD, SMP, SLTA, Akademi Hukum Militer (1956) dan Perguruan Tinggi Hukum Militer (lulus tahun 1962) serta SESKOAD. Kariernya dimulai dengan Komandan Pasukan T SAD ( ex Divisi Ronggolawe) (Clash ke-2 1949), Perwira Staf Pusdik Perwira AD (1950-1952), Jaksa Tentara, merangkap Perwira Staf Penguasa Perang Pusat, Medan (1957-1961), Jaksa Tentara Tinggi, merangkap Perwira Staf Penguasa Perang Tertinggi (Peperti), Asisten Bidang Sosial Sekretariat Pembantu Pimpinan Revolusi, Wakil Ketua II Gabungan 5 Koti, Ketua Tim Penertiban Personil Pusat (1962-1966), Sekretaris Kabinet, merangkap Sekretaris Dewan Stabilisasi Ekonomi (1966-1972), Menteri Sekretaris Negara (1973-1988), Wakil Presiden RI (1988-1993). Sudharmono meninggal dunia pada tanggal 25 Januari 2006 pukul 19.40 setelah menjalani perawatan selama dua pekan di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC), Jakarta akibat infeksi paru-paru dan komplikasi penyakit lain. Jenazahnya dimakamkan sekitar pukul 10.00 pada hari Kamis 26 Januari 2006 di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan

Drs. Adiwoso (Peppy) Abubakar.

Lahir 15 Agustus 1925 di Semarang. Pada tahun 1947, sewaktu Pasukan T Ronggolawe resmi di bentuk di Cepu, Peppy Adiwoso ditunjuk sebagai Komandan Pasukan T Ronggolawe. Setelah tahun 1950 ia menyelesaikan studinya di Akademi Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, dan selanjutnya berkarier di Departemen Luar Negeri. Jabatan-jabatan penting sebelum ia pensiun, antara lain: Dubes RI di Brazil, Dirjen Sekretariat Nasional ASEAN, DUBES RI untuk Kanada.

Soesatijo (Lippy)

Lahir 29 Juli 1925. Selesai latihan Opsir Tjadangan di Salatiga (1946), pada tahun 1947 ia mendaftarkan diri ke AURI untuk menjadi penerbang. Akhir tahun 1947, bersama 20 kader AURI lainnya diterbangkan ke India dengan RI-002, dengan pilot Bob Freeberg, co-pilot Petit Moeharto dan telegrafis Budiardjo, tetapi karena cuaca terpaksa mendarat di Changi Singapore. Para calon penerbang baru sampai ke India pada bulan Mei 1948. Lippy dan 3 kadet penerbang lainnya dipilih dan ditarik ke Birma untuk menjadi pilot Indonesian Airways dan langsung menerbangkan Dakota RI-001 Seulawah. Lippy baru kembali ke Indonesia tahun 1950 setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) dan langsung masuk skwadron bomber B-25 AURI untuk terbang operasi. Tahun 1954 pindah ke penerbangan sipil sebagai pilot instruktur/Captain Dakota bangsa Indonesia yang pertama di Sekolah Penerbangan Curug.

  1. R Sunaryo, Marsda (purn)

Lahir 4 September 1925 di Magelang. Pada akhir 1947, sewaktu masih bertugas di Divisi Ronggolawe, Sunaryo dipanggil ke Yogya dan diperbantukan kepada AURI, dalam rangka tugas penyelundupan ke luar negeri. Ia sempat terdampar di Singapura. Menyelundup kembali ke Sumatera, kemudian oleh pimpinan AURI di ACEH diangkat menjadi OMU-1 (Opsir Muda Udara). Pada 1949 ia kembali ke Jawa, membantu Local Joint Committee (JLC). Lulus dokter dari Universitas Indonesia tahun 1956 dan menjadi dokter pangkalan AU di Kalijati Malang dan Jakarta. Jabatan sebelum pensiun: Direktur Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra), Kapuslitbang AU, Kapuslitbang Hankam dan Direktur Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Slamet (Gebod) Danusudirdjo, Mayjen TNI (purn)

Lahir 4 April 1925. Melanjutkan kariernya di Angkatan Darat. Tahun 1950 ia dikirim ke Belanda untuk mengikuti pendidikan pada sekolah infanteri dan artileri, kemudian dilanjutkan pada Ecole d”Aartillerie Anti Airienne (Sekolah Artileri Pertahanan Udara) di Lombardzyde Belgia. Pendidikan Sesko ditempuh pada Woyena Akademia M.W.Frunze, Moskwa Uni Soviet pada tahun 1963. Pernah menjabat antara lain: Dirjen Bea Cukai Departemen Keuangan RI 1972, Ketua Team Walisongo, Sekjen Dephub RI tahun 1973-1976, Deputy Ketua Bappenas, Anggota DPA tahun 1983-1988 dan Rektor Institute Kesenian Jakarta (IKJ). Slamet Danudirdjo juga seorang penulis novel dengan nama samaran Pandir Kelana. Novelnya antara lain: Kadarwati; Ibu Sinder; Suro Buldog; Kereta Api Terakhir, ada beberapa diantaranya telah dibuat film.

Soelarso, Mayjen TNI (purn)

Lahir 11 April 1929 di Semarang. Tahun 1947 bersama Mardiono dan Rochani Syamsudin ditangkap Belanda waktu bertugas combat intelegence di Demak. Dibebaskan dari Penjara Nusakambangan Desember 1949 berdasarkan kelanjutan hasil Konferensi Meja Bundar. Sularso melanjutkan karier militernya, masuk ke Koninklijke Militaire Akademie (KMA) di Breda Nederland taman 1954. Jabatan yang pernah di emban: Atase Militer RI di Moskow (1971-1974), Pangdam III/17 Agustus (1979-1981) dan Pangdam V/Brawjijaya (1983-1985), AsPam Kasad, dan kemudian Gubernur KDH Jawa Timur dan Duta Besar RI di Ankara, Turki.

Rochani (Hanny) Syamsudin, SH, Kol. Inf. (purn)

Pada tahun 1947, Hanny bersama Sularso dan Mardiono ditangkap Belanda sewaktu bertugas combat intelligence di daerah Demak. Sebagai hasil kelanjutan Konferensi Meja Bundar (KMB) Desember 1949, mereka dibebaskan dari penjara Nusakambangan. Setelah menamatkan SMA, ia melanjutkan pendidikan perwira di Pusat Infanteri dan kemudian menjadi guru/instruktur di pusat infanteri itu. Ia berhasil meraih gelar kesarjanaannya di Perguruan Tinggi Hukum Militer (PTHM). Pada tahun 1970, Hanny di karyakan ke Departemen Pariwisata dan sebelum pensiun menjabat Ka Kanwil Pariwisata DI Yogyakarta.

Hardijono, Brigjen TNI (purn)

Lahir 7 Desember 1929 di Kendal. Melanjutkan karier militer di Angkatan Darat. Di didik menjadi perwira ahli radar dan fire control di Akademi Teknik Artileri Pertahanan Udara di Leningrad, Rusia (1962-1963). Menjabat Asisten Direktur Research dan Pengujian Materiel (Resumat) Angkatan Darat, Atase Militer RI di Paris (1971-1974), Kepala Pusat Pengolahan Data Hankam (1983-1985) dan jabatan terakhir sebelum pensiun, Kepala Badan Pengembangan Industri dan Teknologi (BPPIT) Hankam (1983-1988)

Slamet Sukardi, Mayjen Pol (purn)

Lahir 14 Mei 1927 di Purwokerto. Setelah tahun 1950, mengawali karier di Kepolisian RI melalui pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), taman tahun 1953. Mengikuti pelatihan Company Advance Course di Front Benning USA. Jabatan terakhir: Komandan Jenderal Komando Logistik (Danjen Kolog).

Soejitno Soetopo, Brigjen TNI (purn)

Lahir 21 September 1926. Pada waktu Pasukan T Ronggolawe dibentuk tahun 1947, Soejitno diangkat menjadi wakil komandan Pasukan T Ronggolawe. Setelah tahun 1950 meniti karier di kesenjataan Zeni Angkatan Darat. Menjadi Atase Pertahanan RI di Manila, Filipina (1971-1974), Direktur Pendidikan di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) (1975-1981), dan kemudian diangkat menjadi Deputi Ketua Lembaga Administrasi Negara (LAN) tahun 1981-1986.

Krishnamurti Samil

Lahir 3 September 1928 di Tanjungkarang. Setelah tahun 1950 ia meniti karie di bidang sipil. Pada tahun 1978-1988 ia menjabat Sekretaris Menteri/Sekretaris Negara. Kemudian pada tahun 1988 dianggkat sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk masa jabatan lima tahun.

Entjung Abdullah Sadjadi, Brigjen TNI (purn)

Lahir 31 Juli 1929. Setelah latihan opsir cadangan salatiga (1946), ia menjadi komandan TP Purowokerto, Batalyon 400. Setelah tahun 1950 melanjutkan kariernya di TNI Angkatan Darat, khususnya di bidang penerangan. Jabatan terakhir: Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Hankam (1983).

Ismail Saleh, SH Letjen TNI (purn)

Lahir di Pati, Jawa Tengah, 7 September 1926. Setelah lulus HIS tahun 1941, Ismail masuk ke Sekolah Menengah Pertanian. Kemudian melanjutkan ke SMA dan tamat tahun 1950. Setelah itu ia masuk Akademi Hukum Militer dan Perguruan Tinggi Hukum Militer. Ismail mengawali karirnya sebagai anggota Intel Tentara Divisi III, Yogyakarta, anggota Pasukan Ronggolawe Divisi V di Pati dan Wonosobo (1948-1949), Direktorat Kehakiman Angkatan Darat (1952), Perwira Penasihat Hukum Resimen 16, Kediri (1957-1958), Jaksa Tentara di Surabaya (1959-1960), Jaksa Tentara Pengadilan Tentara Daerah Pertempuran Indonesia Timur dan Manado (1960-1962), Oditur Direktorat Kehakiman AD (1962), dan Perwira Menengah Inspektorat Kehakiman AD (1964-1965).Sekretariat Presidium Kabinet (1967-1968).Wakil Sekretaris Kabinet/Asisten Sekneg Urusan Administrasi Pemerintahan (1972). Sekretaris Kabinet (1978). Direktur LKBN Antara (1976-1979).Pj. Ketua BKPM, Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (1979-1981)Jaksa Agung (1983-1988). Menteri Kehakiman Kabinet Pembangunan V (1988-1993). Meninggal dunia Selasa malam (21 Oktober 2008), pukul 22.30 WIB di RSCM Jakarta dalam usia 82 tahun, karena sakit

Reff, http://a-culturalartfile.blogspot.com/2009/08/pasukan-t-ronggolawe.html

Pertempuran Medan Area

Diposkan oleh Prasetio Wardoyo |

27Feb 2014

Akhirnya kembali lagi. Nah. Kali ini, kita akan membahas tentang Pertempuran Medan Area. Ok, langsung saja…

Pendahuluan

Pertempuran Medan Area : Perjuangan Merebut Kota Medan

Tahun 1945 – 1949 adalah momen krusial bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Belanda, yang dengan bantuan Inggris dapat kembali ke Indonesia, berusaha keras untuk mendapatkan kembali ‘apa yang telah dirampas Jepang sebelumnya’ yaitu Indonesia, walaupun saat itu Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Disisi lain, Indonesia, sebuah negara yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya (Indonesia adalah negara pertama yang memproklamasikan kemerdekaan setelah Perang Dunia II), mati matian untuk mempertahankan kemerdekaannya yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.

Tak ayal, terjadi banyak pertempuran di berbagai daerah. Dengan semangat, para pejuang bertarung sekuat tenaga untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Republik yang baru berdiri ini. Tak terkecuali di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan.

Di Sumatera Utara, perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan, bisa dibilang, dilakukan di segala medan tempur. Mulai dari perbukitan Berastagi, kilang minyak Pangkalan Berandan hingga jalanan Kota Medan. Kali ini, kita khusus membahas tentang Pertempuran Medan Area yang bertujuan untuk membebaskan Kota Medan dari Sekutu.

Sekalipun nama pertempurannya ‘Medan Area’ yang diambil dari kata kata di papan yang dipasang di perbatasan kota Medan “Fixed Boundaries Medan Area”, pertempuran ini berkobar hingga ke luar Kota Medan. Pertempuran ini dimulai pada 13 Oktober 1945 setelah insiden Jalan Bali, dan penyerbuan terakhir para pejuang dilaksanakan pada 15 Februari 1947. Pertempuran ini, menurut sekretaris Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan, Erond Damanik, tidak kalah heroik dibandingkan pertempuran Surabaya karena para pejuang dalam pertempuran ini plural dan jangka waktunya yang panjang.

Latar Belakang Pertempuran Medan Area

Sebelum mulai pembahasan tentang latar belakang Pertempuran Medan Area, perlu untuk diketahui bahwa sejatinya pada tanggal 24 Agustus 1945, antara pemerintah Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda tercapai suatu persetujuan yang terkenal dengan nama Civil Affairs Agreement. Dalam persetujuan ini disebutkan bahwa panglima tentara pendudukan Inggris di Indonesia akan memegang kekuasaan atas nama pemerintah Belanda. Inilah yang menyebabkan kenapa yang datang ke Medan untuk menjalankan ‘tugas’ yang diamanahkan Sekutu adalah Tentara Inggris. Dalam melaksanakan hal-hal yang berkenaan dengan pemerintah sipil, pelaksanaannya diselenggarakan oleh NICA dibawah tanggungjawab komando Inggris. Kekuasaan itu kelak di kemudian hari akan dikembalikan kepada Belanda.

Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan cukup terlambat di Medan karena sulitnya komunikasi. Proklamasi Kemerdekaan baru dilakukan di Medan pada tanggal 27 Agustus 1945 oleh Teuku Muhammad Hasan, Gubernur Sumatera. Proklamasi dilaksanakan di Lapangan depan Balaikota saat itu (sekarang dinamakan Lapangan Merdeka). Untuk membantu pengamanan daerah Provinsi Sumatera, pada tanggal 7 Oktober 1945, dua hari setelah Presiden Sukarno membubarkan BKR dan memerintahkan pembentukan TKR, Gubernur Sumatera Mr.T.M. Hasan, mengangkat koordinator-koordinator TKR di setiap Residensi.. Sebagai koordinator untuk daerah Sumatera Timur diangkatlah  Abdul Karim M.S. dan untuk daerah Tapanuli dr. Ferdinand Lumbantobing. Mengingat tugasnya sebagai asisten senior pada kantor Gubernur, maka pada tanggal 9 Oktober 1945, Abdul Karim M.S. mengangkat Mahruzar (adik kandung Perdana Menteri Sutan Sayhrir) sebagai formatur untuk membentuk organisasi ketentaraan. Pada tanggal 10 Oktober 1945  dalam  pertemuan untuk membentuk TKR Sumatera Timur,  Ahmad Tahir terpilih sebagai Komandan  TKR Sumatera Timur. Sementera TKR Tapanuli dipimpin oleh Pandapotan Sitompul, TKR Aceh dipimpin Syamaun Gaharu, TKR Riau dipimpin oleh Hasan Basri, TKR Sumatera Barat dipimpin oleh Dahlan Jambek, TKR Jambi dipimpin oleh Abun Jani, dan TKR Palembang dipimpin oleh Hasan Kasim. Markas Besar TKR Sumatera berkedudukan di Lahat Sumatera Selatan. Sejak bulan November 1945, Dr. A.K. Gani diangkat oleh Markas Besar TKR di Jawa sebagai organisator dan koordinator TKR Sumatera. R. Soehardjo Hardjowardojo diangkat sebagai Kepala Markas Besar TKR Sumatera. Dr. A.K. Gani kemudian mengeluarkan intruksi yang menyatakan bahwa Sumatera dibentuk menjadi enam divisi dibawah Komandan Mayor Jendral Suhardjo Hardjo Wardjojo. Unit-unit TKR Sumatera Timur dan Tapanuli  dijadikan Divisi IV dan VI. Di Medan dibentuk  satu unit polisi militer. Pada tanggal 26 Januari TKR Sumatera diubah namanya menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), sesuai dengan instruksi Pemerintah Republik di Jawa.

Namun, sebagaimana yang terjadi di berbagai kota di Indonesia saat itu, Pasukan Sekutu Brigade-4 Divisi India ke-26 tiba di Sumatera Utara pada tanggal 10 Oktober 1945. Pasukan ini dipimpin oleh Brigadir Jenderal T. E. D. Kelly. Seperti halnya di daerah daerah lain, kedatangan pasukan Kelly ini disertai juga dengan Pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang didahului oleh kedatangan sebagian kecil Pasukan Sekutu pimpinan Letnan Brondgeest. Brondgeest dan empat orang lainnya dikirim dari Markas Admiral Mountbattens, Komandan South East Asia Command (SEAC) di Kondy (Cylon) dengan instruksi untuk mengawasi persiapan pendaratan pasukan Sekutu di Medan. Pasukan Sekutu disambut oleh Pemerintah Sumatera Utara dan mempersilahkan mereka untuk menempati beberapa hotel di Medan yang telah disiapkan oleh Brondgeest sebelumnya seperti Hotel de Boer (Dharma Deli), Grand Hotel (Granada), Hotel Astoria (Angkasa), Gedung NHM (Nederlands Handels Maatschappij), dan lain-lain. Sebagian lagi ditempatkan di Tanjung Morawa, Binjai dan kompi Batalyon-6/SWB pindah ke Brastagi dan menempati gedung Plantersschool (bekas tempat tawanan sipil Belanda) masa pendudukan tentara Jepang. Brigjend Kelly menyatakan kepada pemerintah RI akan melaksanakan tugas kemanusiaan, mengevakuasi tawanan dari beberapa kamp di luar Kota Medan.

Keesokan harinya, tim RAPWI (Relief of Allied Prisoners of War and Interness) mengunjungi kamp kamp tawanan yang ada di Brayan, Rantau Prapat, Saentis dan Berastagi untuk membebaskan tawanan dan membawanya ke Medan. Hal ini disetujui oleh Gubernur Sumatera, Teuku Muhammad Hasan. Akan tetapi, Inggris malah mempersenjatai mereka dan membentuk Medan Batalyon KNIL, yang terdiri atas seluruh tawanan yang telah dibebaskan dan dipersenjatai. Para bekas tawanan ini menjadi arogan terhadap para pejuang dan rakyat. Untuk hal ini, masyarakat masih bersabar.

Amarah para pejuang, terutama pemuda, mulai terbakar ketika seorang tentara NICA merampas dan menginjak injak lencana Merah Putih. Saat itu tanggal 13 Oktober 1945. Tidak hanya itu tindakan provokasi Inggris. Tanggal 18 Oktober, Brigjend Kelly mengeluarkan ultimatum yang berbunyi seba­gai berikut, bahwa bangsa Indonesia dilarang keras membawa senjata, termasuk senjata tajam, seperti pedang, tombak, keris, rencong dan sebagainya. Senjata-senjata itu harus diserahkan kepada tentara Sekutu. Kepada para komandan pasukan Jepang diperintahkan untuk tidak menyerahkan senjatanya kepada TKR dan Laskar rakyat, dan harus meny­erahkan semua daftar senjata api yang dimilikinya kepada Sekutu. Pada 23 Oktober 1945, Pasukan Inggris kemudian melakukan penggerebekan di dalam kota Medan dan sekitarnya. Dalam penggerebekan itu mereka berhasil menda­patkan 3 pistol, 1 senapan, 1 granat kosong, 2 ranjau rakitan sendiri, 6 granat tangan, 3 senapan tiga kaki, 36 pedang, 10 pisau, 4 detonator listrik, dan 6 tombak.

Sejak tentara Inggris melakukan razia di sekitar Medan, kecurigaan masyarakat terhadap Inggris bertambah besar. Patroli tentara Inggris  sampai ke Sunggal, Pancur Batu, Deli Tua, Tanjung Morawa, Saentis, bahkan ada serda­du-serdadu dan perwira Inggris yang berjalan-jalan sendiri ke luar kota Medan dan Belawan. Di samping itu Komandan Inggris untuk Sumatera, Mayor Jendral Chambers, menegaskan bahwa Pasukan Jepang diberikan kekuasaan untuk mengamankan daerah-daerah di luar kota Medan, Bukit Tinggi, dan Palembang. Kondisi itu akhirnya menimbulkan konflik ber­senjata dengan para pemuda Republik baik yang bergabung dengan TKR maupun dengan Laskar Rakyat. Dan provokasi Inggris yang paling puncak adalah ketika tanggal 1 Desember 1945 diberbagai sudut kota Medan, Inggris menandai secara sepihak wilayah kekuasaannya dengan memasang tulisan “Fixed Boundaries Medan Area”, dan daerah inilah kemudian terkenal menjadi Medan Area.

Tapi tentu saja, sikap provokatif Inggris harus dibayar dengan amarah rakyat. Di bagian berikutnya, akan dijelaskan bagaimana bentrokan pecah dan bertumbuh menjadi Pertempuran Medan Area.

Jalannya Pertempuran Medan Area

Pertempuran Medan Area dimulai dari bentrokan tanggal 13 Oktober 1945, baru empat hari setelah pasukan Inggris sampai di Medan, meledak suatu konflik bersenjata antara para pemuda revolusioner dengan pasukan NICA-Belanda. Peristiwa itu terjadi akibat adanya provokasi langsung seorang serdadu Belanda yang bertindak merampas lencana merah putih (sudah disebutkan di bagian sebelumnya) yang tersemat di peci seorang penggalas pisang yang melintas di depan Asrama Pension Wilhelmina, Jalan Bali (sekarang Jalan Veteran). Ratusan pemuda yang berada ditempat itu meny­erang serdadu itu dengan senjata pedang, pisau, bambu runcing, dan beberapa senjata api. Dalam peristiwa itu timbul korban sebagai berikut : 1 orang opsir  yaitu Letnan Goeneberg dan 7 orang serdadu NICA meninggal. Beberapa warga negara Swiss luka dan meninggal, dan 96 orang serdadu NICA luka-luka termasuk seorang laki-laki sipil dan 3 orang wani­ta. Di pihak Indonesia gugur 1 orang (menurut prasasti yang didirikan 7 orang) dan luka berat satu orang. Lokasi pertempuran saat ini berada dekat dengan Pusat Pasar.

Peristiwa Jalan Bali itu segera tersiar ke seluruh pelosok kota Medan, bahkan ke seluruh daerah Sumatera Utara dan  menjadi sinyal bagi kebanyakan pemuda, bahwa perjuangan menegakkan proklamasi telah dimulai. Darah orang Belanda dan kaum kolonialis harus ditumpahkan demi Revolusi Nasional. Akibatnya dengan cepat bergelora semangat anti Belanda di seluruh Sumatera Timur. Diantara pemuda itu adalah Bedjo, salah seorang pemimpin laskar rakyat di Pulo Brayan. Bedjo bersama pasukan selikur­nya pada tanggal 16 Okto­ber 1945, tengah hari setelah sehari sebelumnya terjadi peristiwa Siantar Hotel, menyerang gudang senjata Jepang di Pulo Brayan untuk memperkuat persenjataan. Setelah melakukan serangan terhadap gudang perbekalan tentara Jepang, Bedjo dan pasukannya kemudian menyerang Markas Tentara Belanda di Glugur Hong dan Halvetia, Pulo Brayan. Dalam pertempuran yang berlangsung malam hari, pasukan Bedjo yang menyerang Helvetia berhasil menewaskan 5 orang serdadu KNIL. Serangan yang dilakukan oleh para pemuda di Jalan Bali dan Bedjo itu telah menyentakkan pihak Sekutu (Inggris). Mereka mulai sadar bahwa para pemuda-pemuda Republik telah memiliki persenjataan dan semangat kemerdekaan yang pantas diperhi­tungkan.

Sementara itu, di simpang Jalan Deli dan Jalan Serdang yang sekarang disebut Jalan Perintis Kemerdekaan, pecah bentrokan lain. Bentrokan pecah di sebuah masjid di sana. Para pejuang yang dipimpin Wiji Alfisa dan Zain Hamid bertempur dengan tentara Inggris pada 17 Oktober 1945. Mereka berhasil bertahan dari gempuran Inggris hingga pada 20 Oktober 1945, Inggris memutuskan untuk menghancurkan masjid tempat mereka bertahan. Setelah perang, masjid lain dibangun diatasnya untuk mengenang perjuangan mereka. Masjid itu dinamai Masjid Perjuangan 45.

Oleh karena itu sebagai tentara yang ditugaskan untuk menjaga keamanan dan ketertiban, Komandan Inggris Brigadir Jenderal TED Kelly pada tanggal 18 Oktober 1945 mengeluar­kan sebuah ultimatum yang berbunyi seba­gai berikut, bahwa bangsa Indonesia dilarang keras membawa senjata, termasuk senjata tajam, seperti pedang, tombak, keris, rencong dan sebagainya. Senjata-senjata itu harus diserahkan kepada tentara Sekutu. Kepada para komandan pasukan Jepang diperintahkan untuk tidak menyerahkan senjatanya kepada TKR dan Laskar rakyat, dan harus meny­erahkan semua daftar senjata api yang dimilikinya kepada Sekutu. Pada tanggal 23 Oktober 1945, pasukan Inggris kemudian melakukan penggerebekan di dalam kota Medan dan sekitarnya. Dalam penggerebekan itu mereka berhasil menda­patkan 3 pistol, 1 senapan, 1 granat kosong, 2 ranjau rakitan sendiri, 6 granat tangan, 3 senapan tiga kaki, 36 pedang, 10 pisau, 4 denator listrik, dan 6 tombak.

Sejak tentara Inggris melakukan razia di sekitar Medan, kecurigaan masyarakat terhadap Inggris bertambah besar. Patroli tentara Inggris  sampai ke Sunggal, Pancur Batu, Deli Tua, Tanjung Morawa, Saentis, bahkan ada serda­du-serdadu dan perwira Inggris yang berjalan-jalan sendiri ke luar kota Medan dan Belawan. Di samping itu Komandan Inggris untuk Sumatera, Mayor Jendral Chambers, menegaskan bahwa Pasukan Jepang diberikan kekuasaan untuk mengamankan daerah-daerah di luar kota Medan, Bukit Tinggi, dan Palembang. Kondisi itu akhirnya menimbulkan konflik ber­senjata dengan para pemuda Republik baik yang bergabung dengan TKR maupun dengan Laskar Rakyat.

Demikianlah pada tanggal 2 Desember 1945, dua orang serdadu Inggris yang sedang mencuci trucknya di Sungai dekat Kampung Sungai Sengkol telah diserang oleh TKR. Kedua serdadu Inggris itu tewas, dua buah senjata dan trucknya dirampas. Dua hari kumudian, seorang perwira Inggris tewas terbunuh  di sekitar Saentis. Akibatnya pasukan Inggris terus melakukan patroli di sekitar Medan, dan mereka mulai bertindak kasar. Pada tanggal 6 Desember 1945, tentara Inggris datang mengepung Gedung Bioskop Oranye di Kota Medan. Mereka kemudian merampas semua filem di gedung tersebut. Tindakan tentara Inggris itu menyebab­kan para pemuda segera mengepung gedung bioskop itu, sehingga timbullah pertempuran kecil, yang berakhir dengan tewasnya seorang tentara Inggris.

Beberapa jam setelah peristiwa “Oranje Bioscop”, markas Pesindo di Jalan Istana dan markas Pasukan Pengawal Pesindo di sekolah Derma dirazia oleh tentara Inggris. Di sepanjang Jalan Mahkamah dan Jalan Raja, tentara Inggris melakukan show of force. Tidak lama sesu­dah itu, markas TKR di bekas restoran Termeulen diobrak-abrik dan penghuninya diusir oleh tentara Inggris. Pada malam harinya para pemuda dan anggota TKR menyerang gedung itu dengan granat botol, sehingga gedung itu terbakar. Pada tanggal 7, 8, dan 9 Desember 1945, siang dan malam hari di mana-mana asrama tentara India-Inggris/NICA diserang oleh pemuda dan TKR. Akibat serangan itu tentara Inggris/NICA  pada tanggal 10 Desember 1945 menyerang markas TKR di Deli Tua (Two Rivers). Tiga hari kemudian, Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly kembali mengeluarkan Maklumat yang meminta agar Bangsa Indonesia harus menyerahkan senjatanya kepada tentara Sekutu dan barang siapa memegang senjata di dalam kota Medan dan 8,5 Km dari batas kota Medan dan Belawan akan ditembak mati.

Untuk menindaklanjuti intruksi itu pada bulan Maret 1946 pasukan Sekutu/Inggris kembali melakukan razia ke basis-basis laskar rakyat di sekitar Tanjung Morawa. Barisan Pelopor dan Laskar Napindo yang berada berada di daerah ini kemudian mencegat pasukan Inggris sehingga terjadi baku tembak. Pertempuran kemudian berkobar selama dua hari  dan akhirnya pasukan Inggris menarik pasukannya dari Tanjung Morawa. Namun demikian pasukan sekutu terus melakukan razia di dalam kota. Akibatnya pada pertengahan April 1946, Markas Divisi IV berserta seluruh stafnya dan Kantor Gubernur Sumatera dan semua jawatan-jawatannya pindah ke Pematang Siantar.

Sejak pindahnya Komando Militer dan Pemerintahan Republik ke Pematang Siantar pasukan Inggris setiap hari melancarkan serangan ke kubu-kubu TRI dan Laskar Rakyat di sekitar Medan Area. Pada akhir bulan Mei, selama satu minggu mereka menggempur habis kampung-kampung di sekitar kota Medan. Akibat serangan itu tentu saja membuat penduduk sipil mengungsi ke luar kota, seper­ti ke Tanjung Morawa, Pancur Batu, Binjai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sebagainya. Kampung-kampung seperti Sidodadi, Tempel, Sukaramai, Jalan Antara, Jl. Japaris, Kota Maksum, Kampung Masdjid, Kampung Aur, Sukaraja, Sungai Mati, Kampung Baru, Padang Bulan, Petisah Darat, Petisah Pajak Bundar, Kampung Sekip, Glugur, dan sebagai­nya menjadi sepi. Meskipun demikian Inggris tidak leluasa bergerak ke luar kota, karena laskar rakyat dan TRI siap menghadangnya.

Sampai akhir bulan Juli 1946 pasukan republik yang bertempur di Medan Area bergerak tanpa komando. Karena itu pada bulan  Agustus 1946 dibentuklah Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area (K.R.L.R.M.A.). Kapten Nip Karim dan Marzuki Lubis dipilih sebagai Komandan dan Kepala Staf Umum. KRLMA membawahi laskar Napindo, Pesindo, Barisan Merah, Hisbullah, dan Pemuda Parkindo. Setiap pasukan disusun dalam formasi batalion yang terdiri dari empat kompi.  Medan Area dibagi dalam empat sektor dan tiap sektor terdiri atas dua sub-sektor. Markas Komando ditempatkan di Two Rivers (Treves).

Dalam pada itu Belanda mulai mengarah­kan kekuatan militernya ke Sumatera dalam rangka mengaman­kan sumber ekonomi yang vital di Sumatera Timur. Untuk  itu, maka pada awal bulan Oktober 1946 satu batalion pasukan bersen­jata dari negeri Belanda mendarat di Medan. Beberapa hari kemudian diikuti dengan satu batalion KNIL dari Jawa Barat. Gerakan militer pasukan Belanda ini tidak bisa dilepaskan dengan adanya rencana Inggris yang ingin sece­patnya meninggalkan Indonesia. Semua instasi penting yang ada di Medan Area segera diserahkan kepada Komandan Mili­ter Belanda. Pasukan Belanda kemudian mengambil alih semua tugas penyerangan terhadap pangkalan militer Republik di sekitar Medan Area. Unit-unit militer Republik, baik TRI maupun laskar rakyat segera bereaksi menanggapi pengambi­lalihan Belanda dan mulai meningkatkan serangannya terha­dap patroli-patroli Belanda maupun Inggris. Hingga akhir tahun 1946, berbagai bentrokan fisik antara kekuatan militer Republik dengan Belanda terus terjadi di segala front Medan Area.

Atas prakarsa pimpinan Divisi Gajah dan KRIRMA pada 10 Oktober 1941 disetujui untuk mengadakan serangan bersama. Sasaran yang akan direbut di Medan Timur adalah Kampung Sukarame, Sungai Kerah. Di Medan barat ialah Padang Bulan, Petisah, Jalan Pringgan, sedangkan di Medan selatan adalah kota Matsum yang akan jadi sasarannya. Rencana gerakan ditentukan, pasukan akan bergerak sepanjang jalan Medan-Belawan.
Hari “H” ditentukan tanggal 27 Oktober 1946 pada jam 20.00 WIB, sasaran pertama Medan Timur dan Medan Selatan. Tepat pada hari “H”, batalyon A resimen laskar rakyat di bawah Bahar bergerak menduduki Pasar Tiga bagian Kampung Sukarame, sedangkan batalyon B menuju ke Kota Matsum dan menduduki Jalan Mahkamah dan Jalan Utama. Di Medan Barat batalyon 2 resimen laskar rakyat dan pasukan Ilyas Malik bergerak menduduki Jalan Pringgan, kuburan China dan Jalan Binjei.

Patut diketahui, bahwa beberapa waktu yang lalu, pihak Inggris telah menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada Belanda. Pada saat sebagian pasukan Inggris bersiap-siap untuk ditarik dan digantikan oleh pasukan Belanda, pasukan kita menyerang mereka. Gerakan-gerakan batalyon-batalyon resimen Laskar Rakyat Medan Area rupanya tercium oleh pihak Inggris/Belanda. Daerah Medan Selatan dihujani dengan tembakan mortir. Pasukan kita membalas tembakan dan berhasil menghentikannya.

Sementara itu Inggris menyerang seluruh Medan Selatan. Pertempuran jarak dekat berkobar di dalam kota. Pada keesokan harinya Kota Matsum bagian timur diserang kembali. Pasukan Inggris yang berada di Jalan Ismailiah berhasil dipukul mundur.

Sementara pertempuran berlangsung, keluar perintah pada 3 November 1946, gencatan senjata diadakan dalam rangka penarikan pasukan Inggris dan pada gencatan senjata itu dilakukan, digunakan untuk berunding menentukan garis demarkasi. Pendudukan Inggris secara resmi diserahkan kepada Belanda pada tanggal 15 November 1946.

Tiga hari setelah Inggris meninggalkan Kota Medan, Belanda mulai melanggar gencatan senjata. Di Pulau Brayan pada tanggal 21 November, Belanda merampas harta benda penduduk dan pada hari berikutnya Belanda membuat persoalan lagi dengan menembaki pos-pos pasukan laskar di Stasiun Mabar, juga Padang Bulan ditembaki.

Pihak laskar membalas. Kolonel Schalten ditembak ketika lewat di depan pos Laskar. Belanda membalas dengan serangan besar-besaran di pelosok kota. Angkatan Udara Belanda melakukan pengeboman, sementara itu di front Medan Selatan di Jalan Mahkamah kita mendapat tekanan berat, tapi di Sukarame gerakan pasukan Belanda dapat dihentikan.

Pada tanggal 1 Desember 1946, pasukan kita mulai menembakkan mortir ke sasaran Pangkalan Udara Polonia dan Sungai Mati. Keesokan harinya Belanda menyerang kembali daerah belakang kota. Kampung Besar, Mabar, Deli Tua, Pancur Bata dan Padang Bulan ditembaki dan dibom. Tentu tujuannya adalah memotong bantuan logistik bagi pasukan yang berada di kota. Tapi walaupun demikian, moral pasukan kita makin tinggi berkat kemenangan yang dicapai.

Karena merasa terdesak, Belanda meminta kepada pimpinan RI agar tembak-menembak dihentikan dengan dalih untuk memastikan garis demarkasi yang membatasi wilayah kekuasaan masing-masing. Dengan adanya demarkasi baru, pasukan-pasukan yang berhasil merebut tempat-tempat di dalam kota, terpaksa ditarik mundur.

Selagi kita akan mengadakan konsolidasi di Two Rivers, Tanjung Morawa, Binjai dan Tembung, mereka diserang oleh Belanda. Pertempuran berjalan sepanjang malam. Serangan Belanda pada tanggal 30 Desember 1946 ini benar-benar melumpuhkan kekuatan laskar kita. Daerah kedudukan laskar satu demi satu jatuh ke tangan Belanda. Dalam serangan Belanda berhasil menguasai Sungai Sikambing, sehingga dapat menerobos ke segala arah.

Perkembangan perjuangan di Medan menarik perhatian Panglima Komandemen Sumatera. Ia menilai bahwa perjuangan yang dilakukan oleh Resimen Laskar Rakyat Medan Area ialah karena kebijakan sendiri. Komandemen memutuskan membentuk komando baru, yang dipimpin oleh Letkol Sucipto. Serah terima komando dilakukan pada tanggal 24 Januari 1947 di Tanjung Morawa. Sejak itu pasukan-pasukan TRI memasuki Front Medan Area, termasuk bantuan dari Aceh yang bergabung dalam Resimen Istimewa Medan Area.

Membuka awal tahun 1947, dibentuk “Komando Medan Area” (KMA) yang dipimpin langsung oleh perwira tinggi TRI, dan mengambil alih pimpinan operasi di front Medan Area dari tangan Resimen Laskar Rakyat Medan Area (RLRMA). Resimen Laskar Rakyat Medan Area  dibu­barkan. KMA kemudian melancarkan serangan yang dikenal dengan “Operasi 15 Februari 1947.”     Operasi militer tanggal 15 Februari itu merupakan operasi besar-besaran yang pertama di Medan Area, yang melibatkan kekuatan TRI dan Laskar Rakyat. Di sektor Barat dan Utara, dikerahkan pasukan TRI Divisi Gadjah II, pasukan Resimen Istimewa Medan Area (RIMA), dan dibantu oleh laskar rakyat yang berada di sektor tersebut. Opera­si di sektor itu dipimpin oleh Mayor Hasan Achmad, Koman­dan RIMA. Di sektor selatan dikerahkan pasukan-pasukan dari Resimen I, II, III Divisi Gadjah II Sumatera Timur dan dibantu oleh Laskar Rakyat Medan Selatan. Operasi di sektor tersebut dipimpin oleh Mayor Martinus Lubis, Koman­dan Batalion I Resimen II Divisi Gadjah II.

Dalam pertempuran tanggal 14-15 Februari, disamping gugurnya Komandan Batalion I Resimen II Divisi Gadjah II TRI, lebih dari 100 orang anggota laskar dan TRI menderi­ta luka berat dan ringan. Pertempuran itu juga telah menelan korban 17 orang penduduk sipil tewas dan 50 orang lainnya menderita luka-luka. Di sisi lain, sebanyak 70 buah rumah musnah terbakar. Di pihak Belanda telah gugur dalam pertempuran itu sebanyak 35 orang dan lebih 60 orang lainnya menderita luka-luka. Sebuah Mustang dan tiga buah pipercub mengalami kerusakan hebat dan sebuah tank brengun carrier rusak dan terbakar terkena granat di Jalan Mahka­mah. Di Sukaramai, sebuah panser dapat dirampas oleh laskar rakyat dan pengemudinya mati terbunuh dan lima kenderaan  militer lainnya hancur. Dalam pertempuran itu, sebanyak dua kali lapangan terbang Polonia mengalami kerusakan, sehingga tidak dapat dipergunakan untuk bebera­pa saat. Lemahnya koordinasi antar pasukan yang diaki­batkan oleh buruknya sarana komunikasi dan lemahnya per­senjataan, tampaknya menjadi faktor utama kurang berhasil­nya serangan frontal tanggal 15 Februari 1947.

Serangan yang dikordinasi oleh KMA itu dihentikan, karena  ada perintah penghentian tembak menembak (cease fire) pada tanggal 15 Februari 1947 jam 24.00. Sesudah itu Panitia Teknik genjatan senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis-garis demarkasi yang definitif untuk  Medan Area. Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1947 itu, ditetapkanlah suatu garis demarkasi yang melingkari kota Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai oleh tentara Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik seluruhnya adalah 8,5 Km. Pada tanggal 14 Maret 1947 dimulailah pemasangan patok-patok pada garis demarka­si itu. Pertempuran dan insiden bersenjata antara kedua pihak selalu mempersengketakan garis demarkasi itu.

Memasuki bulan Juni 1947, hubungan antara pemerintah Republik dan Belanda semakin buruk. Perjanjian Linggarjati dan Gencatan Senjata di Sumatera Timur (Medan Area) tidak ditepati. Belanda mulai merusak perjanjian linggarjati dengan membentuk Negara Pasundan. Di Sumatera Timur, Belanda melakukan tindakan profokatif untuk memecah belah persatuan antara rakyat dan Republik Indonesia. Untuk mencapai tujuan itu Belanda bahkan mengedarkan candu, uang palsu, dan memberikan hadiah uang kepada kaki tangannya untuk membunuh perwira TRI dan tokoh-tokoh Republik.

Mengantisipasi akan pecahnya konflik militer terbuka dengan Belanda, maka  Presiden Soekarno tanggal 3 Mei 1947  memerintahkan penggabungan semua pasukan bersen­jata ke dalam Tentara Nasional Indonesia. Pada tanggal 13 Juli 1947 Jendral Suhardjo Komandan T.R.I. Territorium Sumatera memerintahkan  semua kekuatan TRI dan Laskar Rakyat di Sumatera segera bergabung ke dalam TNI. Namun demikian, sejumlah unit-unit Laskar Rakyat tidak mau mematuhi perintah Suhardjo, terutama dari Pesin­do dan Barisan Merah. Bahkan unit-unit yang diterima sebagai bagian dari TNI pun sedikit sekali yang patuh, karena mereka memiliki otonomi dalam aspek politik dan ekonomi. Bagi beberapa Laskar Rakyat, pada umumnya terus beroperasi secara bebas seperti sebelumnya, mereka saling bersaing baik dengan Laskar Rakyat lainnya maupun dengan TRI, terutama dalam memperebutkan sumber-sumber ekonomi sebagai sarana memperoleh senjata.

Peran Para Pemuda dalam Pertempuran Medan Area

Para pemuda memegang peran penting dalam banyak peristiwa bersejarah negara ini. Sebut saja, Proklamasi Kemerdekaan, Pertempuran Surabaya, hingga Reformasi. Di Pertempuran Medan Area ini juga, peran pemuda sangat kentara dalam setiap pertempuran.

Di awal bagian jalan pertempuran sebelumnya, terdapat kisah mengenai insiden Jalan Bali. Jika ditilik pada prasasti penanda yang didirikan, nampak bahwa para pemuda lah yang melakukan penyerbuan ke markas NICA di Gedung Pension Wilhelmina. Selain itu, berbagai laskar rakyat yang ada dibentuk oleh pemuda seperti Pemuda Republik Indonesia Sumatera Timur (Pesindo). Ada juga organisasi pemuda yang terafiliasi ke partai seperti Napindo (Nasional Pelopor Indonesia) dari PNI, Barisan Merah dari PKI, Hisbullah dari Masyumi dan Pemuda Parkindo dari Parkindo. Selain itu, banyak dari tokoh pejuang yang berusia dibawah 30 tahun. Contohnya, Brigjend. Bedjo dan Jend. Ahmad Tahir, 2 tokoh pejuang yang terlibat dalam Pertempuran Medan Area yang saat itu terjadi, umur mereka masih dibawah 30 tahun.

Ketika pertempuran yang terjadi belum terorganisir dengan baik pada tahun 1945 – 1946, para pemuda selalu yang berada di garis depan dan bertempur dengan heroik melawan Belanda. Semangat para pemuda pulalah yang sering membuat Sekutu – baik Inggris maupun Belanda – kerepotan.

Apa yang membuat pemuda pejuang saat itu begitu kuat dan sulit dilawan penjajah ? Menurut saya, itu semua akibat jiwa nasionalisme dan darah muda mereka. Jiwa nasionalisme mereka membuat semangat mereka menggelora untuk membela negerinya, dan darah muda mereka menambah semangat tersebut dan membuat mereka semakin nekat.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa peran pemuda dalam Pertempuran Medan Area adalah :

  1. Ikut serta dalam setiap pertempuran yang terjadi
  2. Pengobar semangat rakyat untuk bertempur mempertahankan negaranya
  3. Ujung tombak bagi setiap kekuatan pasukan Republik Indonesia

Di bagian ini, akan dijelaskan tentang biografi salah seorang tokoh muda yang ikut memimpin Pertempuran Medan Area, yaitu Brigjend Bedjo.

Brigjend Bedjo, Pejuang Yang Diabadikan Menjadi Nama Jalan
Bekas Montir yang Dijuluki Harimau Sumatera

Ribuan warga kota Medan setiap harinya melintasi jalan yang diberi nama sama dengan namanya, Jalan Brigjend Bedjo. Namun tidak banyak yang kenal siapa dia dan apa jasanya kepada kemerdekaan Indonesia. Pria Pujakesuma ini lahir di Medan namun dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Seperti apa sepak terjangnya?

Suasana jembatan layang Pulo Brayan tidak pernah sepi dari kendaraan yang lalu lalang. Jembatan yang dibangun sejak 1992 dan selesai pada 2003 itu merupakan jalur yang menghubungkan dua jalan yakni Jalan Pertempuran dan Jalan Brigjend Bedjo di Kelurahan Pulo Brayan. Tidak banyak warga generasi zaman ini di kawasan itu yang tahu bahwa dua nama jalan tersebut berhubungan dengan peperangan militer pada masa perang kemerdekaan. Jalan yang dipisah oleh persimpangan Pulo Brayan ini memang merupakan salah satu jalur pertempuran dari Perang Medan Area pada 1947 lalu. Namun tidak banyak warga yang mengetahui sejarah itu dan siapa sosok Brigjend Bedjo, yang kemudian diabadikan namanya menjadi salah satu jalan di Kecamatan Medan Timur itu. “Dulu nama Jalan Brigjend Bedjo adalah Jalan Cemara, karena di sini dulunya banyak sekali pohon Cemara. Tapi sejak pertengahan 1990-an namanya diganti,” kata Herlina Purba (57), salah satu warga Jalan Brigjend Bedjo Medan. Saat ditanya koran ini apakah dia mengenal sosok Brigjend Bedjo, perempuan yang sejak tahun 1979 tinggal di daerah itu bersama keluarganya mengaku tidak kenal siapa Brigjend Bedjo, dan mengapa jalan Brigjend Bedjo tadi diletak di sana. Tidak pernah ada sosialisasi nama jalan oleh pejabat setempat, tahu-tahu dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka alamat Jalan Cemara sudah berganti bernama Jalan Kolonel Bedjo dan belakangan menjadi Brigjend Bedjo. Hal ini cukup dimaklumi, sebab tidak banyak media yang memaparkan sosok pejuang kota yang kemudian dikenalkan dan diabadikan melalui nama jalan. Setelah ditelusuri melalui sejumlah narasumber dan pustaka barulah diketahui siapa sosok Brigjend Bedjo ini. Dia adalah putra Jawa kelahiran Sumatera, seorang pejuang perang kemerdekaan yang awal keikutsertaan dirinya dalam pasukan militer tidak diawali dari pendidikan kemiliteran sama sekali.

Beberapa hari mencoba menelusuri jejak Brigjend Bedjo, koran ini akhirnya menemui sejarawan dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr phil Ichwan Azhari. Dari dialah kemudian diketahui bahwa Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) Unimed mengoleksi buku biografi Brigjend Bedjo karangan Edisaputra yang diterbitkan Yayasan Bina Satria-45. Buku itu diterbitkan pada 1985, setahun setelah Brigjend Bedjo wafat. Tepatnya pada 28 Mei 1984 lalu. Siapakah Brigjend Bedjo? Bedjo dilahirkan pada 10 Desember 1919 di sebuah kampung kecil di kawasan Medan Timur bernama Tanjung Mulia. Ayahnya bernama Sattar, berasal dari daerah Gunung Jeruk Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Dengan demikian ia adalah warga Medan putra Jawa kelahiran Sumatera (pujakesuma).
Setelah tamat dari melanjutkan sekolah desa, Bedjo yang bercita-cita ingin menjadi ahli teknik melanjutkan sekolah ke Ambach School di Medan, dan sore harinya belajar di Perguruan Agama Islam Aljamiyatul Wasliyah, di Pulo Brayan. Setelah menamatkan sekolahnya iapun bekerja pada perusahaan bengkel milik Belanda sebagai tenaga montir.
Begitu Belanda berhasil diusir oleh Jepang, Bedjopun berganti majikan, Jepang. Di samping menjadi montir di bengkel Jepang, Bedjo juga membuka bengkel kecil di rumah ibunya di Jalan Amplas, Medan. Khususnya membuat cangkul, rantang, dan sekrup-sekrup. Tapi beakangan, bengkel itupun kemudian berfungsi ganda. Yakni turut pula menjadi markas gelap gerakan antifasis yang disebar lewat ceramah dan diskusi dengan sejumlah tokoh pemuda seperti Slamat Ginting dan Liberty Malau, yang juga merupakan bagian dari pasukan bersenjata di Sumut. Saat itu Bedjo belum masuk dunia militer.
“Awal perjalanan karirnya di militer adalah tanpa sengaja. Saat Belanda terdesak oleh kedatangan pasukan Jepang, warga pribumi dipaksa masuk milisi oleh Belanda. Namun keahlian militer yang dipelajarinya kemudian malah ia pakai untuk menghabisi Belanda. Saat itu warga pribumi mendapat bantuan militer dari sisa Jepang,” kata Dr phil Ichwan.
Pertama sekali Bedjo merintis rasa nasionalisme dalam dunia keprajuritan, adalah ketika Barisan Pemuda Indonesia bentukan tokoh pemuda Medan, Soegondho, membuat panitia besar Rapat Umum Kemerdekaan RI di Medan. Yakni pembacaan teks Proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945, yang baru diketahui warga Sumut sebulan kemudian. Pada 1 Oktober 1945 di Lapangan Merdeka Medan, ribuan warga Sumut berkumpul untuk memekikkan kemerdekaannya. Saat itu Gubernur Sumatra Timur, Mr T Muhammad Hasan yang memimpin rapat. Nah, Bedjo dan ratusan pemuda lainnya mengambil peran sebagai pasukan pengaman momen bersejarah itu. Karena diduga kuat ada pihak-pihak asing yang akan mengacaukan perhelatan akbar itu. Terbukti, dua buah granat aktif berhasil disita dari tangan warga pengkhianat saat akan melaksanakan aksinya.
Perjalanan militer Bedjo baru mulai memasuki tahap pertempuran yang sesungguhnya adalah ketika pasukan asing kembali mendarat di Medan. Kala itu warga kota dihadapkan kepada pasukan NICA (Netherland Indies Civil Administration) yang diboncengi Inggris untuk menguasai lagi sejumlah daerah Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI termasuk daerah Sumatera Timur. Saat itu, Bedjo mulai masuk dalam sebuah pasukan milisi yang dipersenjatai dari hasil jarahan gudang senjata Jepang dulu.
Perang dahsyat dan bertubi-tubi dilalui pasukan Bedjo. Dengan merampas gudang senjata dan makanan Jepang, termasuk hasil perkebunan seperti karet dan tembakau yang saat itu sangat berdaya jual tinggi, pasukan Bedjo mendapat persediaan logistik. Meskipun demikian, tentu saja perbandingan persenjataan dan daya tahan antara pasukan Belanda dan Indonesia sangat jauh. Namun tekad ‘sekali merdeka tetap merdeka’ menjadi pekik dan motivasi untuk terus melawan dari penjajahan. Bedjo dan sejumlah pasukan yang terbentuk di bagian-bagian wilayah, terus melakukan adu senjata dengan pasukan musuh. Namun yang paling terkenal-karena akhirnya mampu memukul mundur pasukan NICA yang datang dari pelabuhan Belawan- adalah upaya pasukan Laskar Rakyat Medan Area. Menurut Dr Ichwan, Perang Medan Area merupakan salah satu mata rantai peristiwa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945, yang telah terjadi di beberapa tempat dalam lingkungan wilayah Indonesia. Antara lain Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, Palagan Ambarawa di Jawa Tengah, Desember 1945, Bandung Lautan Api di Jawa Barat, Maret 1946, Peristiwa Merah Putih di Manado 14 Februari 1946.
Nah, dalam perang ini Bedjo, yang sudah berpangkat Mayor, adalah salah satu pemimpin pasukan pada Perang Medan Area. Serangan Umum Laskar Rakyat Medan Area yang terjadi pada 27 Oktober – 3 Nopember 1946, berhasil menguasai setengah lebih wilayah Kota Medan dari pendudukan Sekutu yang baru menang Perang Dunia ke-II, mereka merapat melalui pelabuhan Belawan sejak tanggal 4 Oktober 1945. Kala itu pasukan NICA dipimpin Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly. “Karena kegigihan dan kenekatannya dalam memerangi Belanda, Brigjend Bedjo dijuluki Harimau Sumatera. Bahkan warga Tapanuli menyebutnya Si Tangan Besi,” tambah Ichwan. Betapa tidak, Bedjo mengalami pertempuran bersama pasukannya dari kawasan Timur hingga Barat Sumatra Utara. Pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman bersejarah berupa kinerja Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area ini adalah bahwa sumber kekuatan pertahanan suatu bangsa yang sedang berevolusi melawan kaum penjajah yang bersungguh-sungguh hendak berkuasa kembali, terletak pada persatuan seluruh rakyat yang berjuang dengan semangat yang berkobar-kobar serta rela memberikan korban-korban yang paling fantastis. “Brigjend Bedjo yang awalnya bukan militer akhirnya dengan semangat nasionalisme menjadi salah satu pejuang paling berpengaruh dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan,” pungkas Ichwan.

Selamatkan Nyawa Menteri, Jadi Inspirasi Film Nagabonar

Dua catatan penting lain menyangkut sosok Bedjo adalah ketangguhannya memimpin pasukan yang berhasil menyelamatkan seorang Menteri dan membunuh seorang pemimpin pasukan Belanda bernama Jenderal Spoor. Siapa dan bagaimana ceritanya?

Tahun 1947. Suasana di Kawasan Helvetia dan Titi Papan di kota Medan cukup menegangkan. Pasukan Belanda yang kembali datang untuk menguasai asetnya di kawasan Sumatra Timur pasca hengkangnya Jepang dari Bumi Indonesia, mendesak pasukan Indonesia untuk angkat senjata lagi. Padahal dua tahun lalu, Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya. Dalam masa menjelang penentuan garis demarkasi dengan Belanda di Medan Area tahun 1947, pasukan-pasukan bersenjata dari Aceh yang terdiri dari Tentara Rakyat Indonesia (TRI) yang tergabung dalam Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) dikerahkan ke Medan. Waktu itu dalam pasukan RIMA itu ada Bustanil Arifin, seorang perwira militer yang saat itu berpangkat Sersan Mayor. Dia adalah sosok yang kemudian diangkat menjadi Menteri Koperasi RI pada era 1980-an.
Waktu itu kompi Bustanil bertugas menggempur musuh dari Pasar 1, yang terletak di antara Kelambir V Helvetia dan Klumpang Titi Papan. Komandan kompi RIMA pada waktu itu kebetulan sakit, maka Bustanil pun ditugaskan menggantikannya. Ketika itulah terjadi pertempuran yang menegangkan tadi. Kompinya terkepung pasukan musuh dan terdesak untuk bersikap memilih, menyerah atau hancur di tangan lawan. Sudah 17 prajurit yang tewas.
Bustanil pun tidak kehilangan akal. Ia lalu mengutus seorang kurir untuk meminta bantuan kepada Bedjo yang kedudukan pasukannya, yakni Batalyon/Napindo Medan Utara, bersebelahan dengan kompinya. Pasukan Bedjo merespon cepat panggilan itu. Mereka kemudian langsung maju menggempur tentara Inggris dan Belanda lewat pasukan NICA-nya. Lepaslah bahaya maut yang sudah menunggu tadinya. “Saya berhutang nyawa kepada Pak Bedjo,” kata Bustanil, yang disampaikannya saat pertemuan silaturahim para pejuang kemerdekaan eks TNI Stoottoep Brigade ‘B’ Komandemen Sumatra di Jakarta pada 15 Mei 1983 lalu. Pengalamannya itu, diselamatkan oleh Bedjo, ia kenang hingga berpuluh tahun kemudian.

Sosok Bedjo pun dikenal oleh eks TNI kemerdekaan, karena pasukannya pernah berhasil menembak mati seorang jenderal Belanda bernama Jenderal Spoor. Ketika itu, pasukan Belanda terus mendesak pasukan Indonesia hingga ke wilayah barat Sumatra Utara. Pasukan Bedjo yang dikenal sebagai pasukan Selikur, berhadapan dengan konvoi pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Spoor. Pada 23 Mei 1949, konvoi itu kemudian diserang oleh pasukan Selikur di Bukit Simagomago, kota Padang Sidempuan. Banyak pasukan Belanda yang tewas, termasuk Jenderal Spoor. Namun. sempat beredar berita sumir bahwa kematian Jenderal Spoor adalah akibat serangan jantung. Namun diyakni Bedjo bahwa Spoor mati karena luka-luka serius yang dialaminya, dan isu sakit jantung itu digunakan Belanda untuk meredam euforia kemenangan di kalangan pasukan pribumi.

Belakangan, nama Mayor Bedjo semakin dikenal karena kegigihannya. Januari 1948, Bedjo memimpin perundingan garis demarkasi dengan Belanda di Prapat. Namun pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan apapun, sebaliknya justru berakhir perang. Belanda kembali menyerbu pasukan Bedjo, hingga ia terdesak dan sempat disangka tewas dalam pertempuran itu. Namun sangkaan itu tinggal ispan jempol belaka, sebab Mayor Bedjo masih hidup dan ikut berperang bersama pasukannya di beberapa daerah lain di Sumut.
Melihat itu, sebagian masyarakat saat itu meyakini bahwa Bedjo memiliki ilmu menghilang dan tahan peluru. Atas pandangan ini, Bedjo dalam biografinya sempat berkata bahwa nyawanya masih dilindungi Tuhan, makanya ia masih sempat menghirup udara kemerdekaan selama lebih kurang 40 tahun kemudian.

Nah, pertanyaan lain tentang sosok Bedjo ini adalah mengenai kebenaran bahwa Bedjo merupakan sosok Nagabonar dari Sumatra Timur yang muncul dalam film tersebut. Terkait hal itu, Dr phil Ichwan sepakat atas dugaan itu. Namun, tokoh Nagabonar adalah gabungan beberapa tokoh pahlawan kemerdekaan periode 1948-1949 yang berhasil diramu oleh sang penulis skenario, Asrul Sani. Untuk sosok Nagabonar, Asrul Sani mengambil latar belakang Bedjo yang tidak memiliki basis pendidikan militer namun bisa memegang pangkat tinggi tanpa sepengetahuan tentara pusat. Makanya dalam satu adegan ada upaya pusat melakukan klarifikasi pangkat terhadap petinggi militer di daerah, namun mendapat bantahan dari Nagabonar. “Karena memang pada masa itu ada istilah bagi-bagi pangkat, seperti yang ada dalam film Nagabonar itu. Namun cerdasnya film itu terletak dari kemampuan sang pembuat film mengangkat karakter pejuang daerah ke kancah nasional,” tukas Ichwan.

Hatta Kirim Surat Pujian dan Penghargaan Pribadi

Jasa-jasa Bedjo sebagai pemimpin pasukan kemerdekaan Indonesia di Sumatra Utara tidak bisa dipungkiri lagi. Selain menyelamatkan seorang perwira yang kemudian menjadi menteri, Bedjo juga berhasil memimpin pasukan untuk menggempur Belanda dan hal tersebut mendapat apresiasi yang tinggi dari pejabat pemerintahan pusat kala itu. Meskipun namanya diabadikan menjadi nama jalan di kota Medan, namun usulan menjadikannya pahlawan nasional belum kesampaian. Kenapa?

Mantan presiden Amerika Serikat yang juga merupakan pahlawan kemerdekaan mereka, Abraham Lincoln pernah berkata, bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa pahlawan bangsanya. Hal ini pulalah yang mendasari eks pejuang dan pemuka masyarakat asal Sumatra Utara di Jakarta untuk mengabadikan nama Bedjo, menjadi nama satu jalan di kota Medan.

Eks pejuang dan pemuka itu antara lain Mr T Muhammad Hasan (mantan Gubernur Sumatra Timur), HM Said (tokoh pers Sumut), Mayjen AE Manihuruk, Letjen Hidayat (eks Panglima Komando Sumatra), Slamat Ginting (eks Komandan Sektor III Komandemen Sumatra), dan Mayjen Richardo Siahaan (eks Komandan Komando Medan Area). Mereka mengirim surat kepada DPRD Kota Medan pada 10 Agustus 1984 yang ditembuskan kepada Menteri Dalam Negeri dan Panglima Kowilhan I serta Gubsu, agar nama Bedjo yang pada akhir hayatnya berpangkat Kolonel TNI Purnawirawan, menjadi nama jalan. Hal ini dilakukan agar jasa dan pengabdiannya kepada tanah air bisa selalu dikenang. Usulan ini pun disetujui, dan hingga kini Jalan Brigjend Bedjo masih ditemukan di kota Medan.
Satu hal yang belum terjadi adalah, usulan agar Brigjend Bedjo ini bisa dimasukkan dalam daftar pahlawan nasional sama seperti Jenderal Ahmad Yani dan pejuang lainnya. Keluarganya sempat menyatakan hal ini kepada pemerintah daerah kota Medan, namun persyaratan tokoh bisa dijadikan pahlawan nasional adalah harus melewati seminar nasional.
“Syarat seorang tokoh untuk dijadikan pahlawan nasional adalah lewat seminar nasional, dan dananya tidak sedikit mencapai ratusan juta rupiah. Nah, itulah yang tidak dimiliki oleh keluarga Bedjo saat ini,” kata Dr phil Ichwan Azhari, dari Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas negeri Medan (Unimed).

Soal sosok dan jasa Bedjo sendiri dalam membela bangsa ini dari upaya rongrongan bangsa Belanda dan Inggris awal-awal kemerdekaan dulu tidak usah didebat lagi. Catatan sejarah perjuangan kemerdekaan di Medan sudah menggores tinta emas tentang sepak terjangnya. Bahkan Wakil Presiden RI Mohammad Hatta yang pada masa itu juga menjabat sebagai Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI, ternyata juga mengagumi perjuangannya.

Hal ini terbukti dari adanya surat pribadinya kepada Mayor Bedjo tertanggal 12 September 1947. Katanya, Hatta sangat berkenan memberikan ucapan berupa surat pujian dan penghargaan atas jasa-jasa Bedjo bersama pasukannya dalam mengatasi segala kesulitan sebagai akibat penyerbuan Belanda dan kelakuan sewenang-wenang terhadap negara dan rakyat Indonesia. Saat itu, Mohammad Hatta sedang berdiam di Bukit Tinggi.
“Aku gembira bahwa Mayor Bedjo berada di Padang Sidempuan, untuk menghalau pasukan Belanda yang mencoba masuk ke daerah barat Sumut,” tulisnya dalam surat itu.
Dari tulisan tersebut tampaklah jelas bahwa harapan negara yang pada ketika itu sedang berada di ambang pintu agresi militer Belanda yang kedua, khusus untuk daerah Sumut bertumpu sepenuhnya ke pundak Mayor Bedjo dan pasukannya. Dan iapun tidak menyia-nyiakan kepercayaan dan amanat tersebut. Dengan segenap semangat mempertahankan kemerdekaan Bedjo dan pasukannya terus bertempur hingga ke ujung Barat Sumut, kota Sibolga.

Setelah pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 1949, pasukan Bedjo dengan kekuatan satu batalyon dipindahkan ke Jawa Barat, guna menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang menolak pembentukan RIS dan hendak melakukan makar. Sekitar tiga tahun kemudian ia dipindahkan ke mabes Angkatan Darat diperbantukan pada Asisten-1 dengan pangkat Letnan Kolonel pada tahun 1957. Dari sana ia lalu memimpin “Pasukan Lambung” di Pekan Baru untuk penumpasan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sempat juga mengikuti Pendidikan Staf Komando di Bandung.

Di tahun 1960-an setelah beberapa tahun berpangkat Kolonel, ia memasuki masa pensiun. Selama 5 tahun ia sempat duduk sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu tahun 1971. Usai melanglang dalam medan pertempuran dan politik, Sang Harimau Sumatra akhirnya menemui sang Khalik pada 28 Mei 1984 karena sakit komplikasi. Ia pun dikebumikan di Taman Makam Pahlawan.

Sosok Pemberani yang Diteladani Para Prajurit

Nama Brigjend Bedjo bagi sejumlah veteran Kemerdekaan RI bukanlah hal yang biasa. Sejumlah petinggi militer Indonesia memiliki kesan tersendiri bagi pejuang yang terkenal pemberani ini. Di antaranya Kolonel AE Kawilarang dan mantan Wapres RI, Tri Sutrisno. Seperti apa kisah kesannya?

Sosok Bedjo adalah pejuang yang banyak dikenal orang di kalangan militer. Sewaktu ia dalam keadaan sakit di Rumah Sakit Gatot Subroto Jakarta, banyak teman-teman seperjuangan yang datang berkunjung. Antara lain Mayjen AE Manihuruk, Mayjend Richardo Siahaan, Kolonel Haji Hasbullah, Drs Azhari, Brigjend Mardjans Saragih, Gazali Ibrahim dan lainnya. Dan ketika tanggal 28 Mei 1984 Pak Bedjo tutup usia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta, yang bertindak sebagai komandan upacara penguburannya adalah Letnan Jenderal Purnawirawan Achmad Tahir, Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Republik Indonesia kala itu.

Selanjutnya pada peringatan 40 hari wafatnya Pak Bedjo, hadir dan menyampaikan kata-kata duka dan penghargaan mantan Gubernur Provinsi Sumatera Timur yang pertama dan terakhir, Mr T Mohammad Hasan, dan bekas Gubernur pertama Sumut Mr SM Amin (Krieng Raba Nasution). Kata-kata kenangan kepada almarhum keluar dengan jujur dan lugas di hadapan para tamu waktu itu, termasuk di depan istri almarhum, Saniyem dan keluarganya.
Bedjo, Sang Harimau Sumatera dalam Perang Kemerdekaan Indonesia meninggalkan banyak kesan bagi rekan seperjuangannya dulu. Seperti yang dituturkan oleh Mayjend Rachmat Hidayat, dimana pada saat perang kemerdekaan RI pasca-Proklamasi, Pak Bedjo menjadi Panglima Tentara Territorium Sumatera (PTTS). “Waktu saya memasuki daerah Si Bedjo, maaf maksud saya Pak Bedjo, karena waktu itu demikian saya menyebutnya, saya merasa kagum sekali,” katanya.

“Pak Bedjo rupanya sudah berhasil menciptakan perjuangan rakyat semesta di daerahnya. Tegasnya, rakyat dan TNI sudah bersatu di Sumut, ibarat ikan dengan air dan seperti lepat dengan daun. Sama-sama memikul beban tanggung jawab mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hal itu memang sangat saya kagumi sebagai sebuah prestasi yang baik,” sambungnya.

Hal yang sama juga dilontarkan Kolonel AE Kawilarang, yang pada waktu perang Kemerdekaan RI pasca-Proklamasi bertindak sebagai Panglima Tentara Territorium VII meliputi Sumut dan Aceh. Ia meyakini bahwa perlawanan dan pertahanan Indonesia wilayah Sumut sudah dipersiapkan Bedjo dalam Sektor-I Sub Territorium VII. Terutama dalam menertibkan pasukan liar yang muncul pasca-hengkangnya Jepang dari bumi Indonesia termasuk Sumut.

“Justru itu saya merasa tidak perlu mengadakan inspeksi di daerah tersebut. Karena itulah maka Kepala Staf Kapten Ibrahim Adjie saja yang bertugas di daerah Pak Bedjo,” tuturnya.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Raya, Brigjend HKI Chourmain juga memiliki kesan khusus kepada sosok Pak Bedjo. Suatu hari pada masa perang kemerdekaan RI pasca Proklamasi, dalam perjalanan tugas dari Yogyakarta ke Aceh, ia bertemu dengan Bedjo di beberapa titik lokasi. Seperti di Kerinci, Batusangkar, daerah Lintau, Payakumbuh, Halaban, Rao (Sumatera Barat) kemudian di daerah Tapanuli. Selain itu ia juga melihat pasukan Bedjo di mulai dari Kotanopan, Penyabungan, Sihepeng yang merupakan tempat kedudukan Markas Besar Pak Bedjo, juga langsung ke garis paling depan yaitu di Huraba daerah Padang Sidimpuan, yang sekarang terkenal dengan Benteng Huraba, pun ia melihat pasukan Pak Bedjo. Brigjend HKI Chourmain sangat terkesan dengan wilayah juang Bedjo yang bahkan mencapai sebagian daerah Riau.

Namun rasa kagumnya dengan sosok Bedjo bukan hanya di situ. Saat berjalan melakukan patroli, malang bagi Chourmin. Setiba di Sosopan, dia dan pasukannya diperiksa dan ditahan oleh pasukan liar yang menamakan dirinya Barisan Harimau Liar di bawah pimpinan AE Simarmata. Untung di sekitar daerah itu ada pasukan Pak Bedjo yang sedang bersiap-siap untuk menertibkan pasukan liar itu. Mengetahui bahwa Chourmin sudah ditahan Barisan Harimau Liar itu, maka pasukan pimpinan Bedjo tersebut berkirim surat kepadanya. Caranya, dengan menempatkan surat kecil tersebut dalam sebelah tempurung kelapa yang dihanyutkan secara menghilir di sungai tempat ia mandi di bawah pengawasan prajurit Barisan Harimau Liar tadi.

“Surat itu lalu saya baca, isinya mengatakan bahwa saya harus segera melarikan diri karena Simarmata sangat mencurigai saya bahwa pasukannya akan diketahui pusat soal keberadaan dan kekuatannya jika saya lepas. Anak buah Kang Bedjo itu bilang bahwa saya akan dibunuh,” tuturnya.

Melihat bahwa yang mengirim surat itu adalah anak buah Pak Bedjo yang kala itu berpangkat Mayor, maka HKI Chourmin yakin atas kebenarannya. Seketika itu juga begitu ada kesempatan, dia langsung melarikan diri, tanpa menunggu besok pagi. “Dengan demikian, saya berhutang nyawa kepada Kang Bedjo,” kenangnya.

Selain Brigjend HKI Chourmin, Kolonel AE Kawilarang, atau Mayjend Rachmat Hidayat yang punya kesan dan pengalaman sendiri dengan sosok Pak Bedjo, mantan Wapres RI era Soeharto yang sempat menjabat sebagai Pangdam Jaya, Mayjend Tri Sutrisno juga memiliki kesan tersendiri dengan beliau. Secara pribadi dia memang belum pernah berhubungan langsung dengan sang pejuang Kemerdekaan RI yang dijuluki Harimau Sumatera itu. Namun dia mengaku sangat mengagumi sosoknya.
Perjuangan dan kepemimpinan Pak Bedjo di Sumatera Utara pada waktu perang kemerdekaan banyak dia ketahui, terutama dari teman-teman tentara yang berasal dari sana dan dari buku-buku sejarah, surat kabar dan majalah yang mengulas tentang sepak terjang pasukannya melawan Belanda dan pasukan pemberontakan.

“Terus terang saya merasa kagum sekali. Keberanian atas dasar jiwa patriotik, mampu membawa pasukannya untuk bertempur dengan musuh hingga ke luar Provinsi Sumut. Banyak pengalaman Pak Bedjo yang harus kami teladani,” pungkasnya.

Akibat Pertempuran Medan Area

Pertempuran Medan Area berakhir pada 15 Februari 1947 pukul 24.00 setelah ada perintah dari Komite Teknik Gencatan Senjata untuk menghentikan kontak senjata. Sesudah itu Panitia Teknik genjatan senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis-garis demarkasi yang definitif untuk  Medan Area. Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1947 itu, ditetapkanlah suatu garis demarkasi yang melingkari kota Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai oleh tentara Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik seluruhnya adalah 8,5 Km. Pada tanggal 14 Maret 1947 dimulailah pemasangan patok-patok pada garis demarka­si itu. Akan tetapi kedua pihak, Indonesia dan Belanda, selalu bertikai mengenai garis demarkasi ini. Empat bulan setelah akhir pertempuran ini, Belanda melaksanakan Operatie Product atau disebut Agresi Militer Belanda I.

Ada beberapa akibat dari Pertempuran Medan Area ini, yaitu :

  1. Terbaginya kawasan Medan oleh garis demarkasi
  2. Perpindahan pusat pemerintahan Provinsi Sumatera ke Pematang Siantar

Diposkan oleh Prasetio Wardoyo

Jumat, 31 Oktober 2014

Sejarah Pertempuran Medan Area

Latar Belakang Pertempuran Medan Area

Tahun 1945 – 1949 adalah momen krusial bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Belanda, yang dengan bantuan Inggris dapat kembali ke Indonesia, berusaha keras untuk mendapatkan kembali ‘apa yang telah dirampas Jepang sebelumnya’ yaitu Indonesia, walaupun saat itu Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Disisi lain, Indonesia, sebuah negara yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya (Indonesia adalah negara pertama yang memproklamasikan kemerdekaan setelah Perang Dunia II), mati matian untuk mempertahankan kemerdekaannya yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.

Tak ayal, terjadi banyak pertempuran di berbagai daerah. Dengan semangat, para pejuang bertarung sekuat tenaga untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Republik yang baru berdiri ini. Tak terkecuali di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan.

Di Sumatera Utara, perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan, bisa dibilang, dilakukan di segala medan tempur. Mulai dari perbukitan Berastagi, kilang minyak Pangkalan Berandan hingga jalanan Kota Medan. Kali ini, kita khusus membahas tentang Pertempuran Medan Area yang bertujuan untuk membebaskan Kota Medan dari Sekutu.

  • Pertempuran Medan Area : Perjuangan Merebut Kota Medan

  •  

Latar Belakang Pertempuran Medan Area

Sebelum mulai pembahasan tentang latar belakang Pertempuran Medan Area, perlu untuk diketahui bahwa sejatinya pada tanggal 24 Agustus 1945, antara pemerintah Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda tercapai suatu persetujuan yang terkenal dengan nama Civil Affairs Agreement. Dalam persetujuan ini disebutkan bahwa panglima tentara pendudukan Inggris di Indonesia akan memegang kekuasaan atas nama pemerintah Belanda. Inilah yang menyebabkan kenapa yang datang ke Medan untuk menjalankan ‘tugas’ yang diamanahkan Sekutu adalah Tentara Inggris. Dalam melaksanakan hal-hal yang berkenaan dengan pemerintah sipil, pelaksanaannya diselenggarakan oleh NICA dibawah tanggungjawab komando Inggris. Kekuasaan itu kelak di kemudian hari akan dikembalikan kepada Belanda.

Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan cukup terlambat di Medan karena sulitnya komunikasi. Proklamasi Kemerdekaan baru dilakukan di Medan pada tanggal 27 Agustus 1945 oleh Teuku Muhammad Hasan, Gubernur Sumatera. Proklamasi dilaksanakan di Lapangan depan Balaikota saat itu (sekarang dinamakan Lapangan Merdeka). Untuk membantu pengamanan daerah Provinsi Sumatera, pada tanggal 7 Oktober 1945, dua hari setelah Presiden Sukarno membubarkan BKR dan memerintahkan pembentukan TKR, Gubernur Sumatera Mr.T.M. Hasan, mengangkat koordinator-koordinator TKR di setiap Residensi. Sebagai koordinator untuk daerah Sumatera Timur diangkatlah  Abdul Karim M.S. dan untuk daerah Tapanuli dr. Ferdinand Lumbantobing. Mengingat tugasnya sebagai asisten senior pada kantor Gubernur, maka pada tanggal 9 Oktober 1945, Abdul Karim M.S. mengangkat Mahruzar (adik kandung Perdana Menteri Sutan Sayhrir) sebagai formatur untuk membentuk organisasi ketentaraan. Pada tanggal 10 Oktober 1945  dalam  pertemuan untuk membentuk TKR Sumatera Timur,  Ahmad Tahir terpilih sebagai Komandan  TKR Sumatera Timur. Sementera TKR Tapanuli dipimpin oleh Pandapotan Sitompul, TKR Aceh dipimpin Syamaun Gaharu, TKR Riau dipimpin oleh Hasan Basri, TKR Sumatera Barat dipimpin oleh Dahlan Jambek, TKR Jambi dipimpin oleh Abun Jani, dan TKR Palembang dipimpin oleh Hasan Kasim. Markas Besar TKR Sumatera berkedudukan di Lahat Sumatera Selatan. Sejak bulan November 1945, Dr. A.K. Gani diangkat oleh Markas Besar TKR di Jawa sebagai organisator dan koordinator TKR Sumatera. R. Soehardjo Hardjowardojo diangkat sebagai Kepala Markas Besar TKR Sumatera. Dr. A.K. Gani kemudian mengeluarkan intruksi yang menyatakan bahwa Sumatera dibentuk menjadi enam divisi dibawah Komandan Mayor Jendral Suhardjo Hardjo Wardjojo. Unit-unit TKR Sumatera Timur dan Tapanuli  dijadikan Divisi IV dan VI. Di Medan dibentuk  satu unit polisi militer. Pada tanggal 26 Januari TKR Sumatera diubah namanya menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), sesuai dengan instruksi Pemerintah Republik di Jawa.

Namun, sebagaimana yang terjadi di berbagai kota di Indonesia saat itu, Pasukan Sekutu Brigade-4 Divisi India ke-26 tiba di Sumatera Utara pada tanggal 10 Oktober 1945. Pasukan ini dipimpin oleh Brigadir Jenderal T. E. D. Kelly. Seperti halnya di daerah daerah lain, kedatangan pasukan Kelly ini disertai juga dengan Pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang didahului oleh kedatangan sebagian kecil Pasukan Sekutu pimpinan Letnan Brondgeest. Brondgeest dan empat orang lainnya dikirim dari Markas Admiral Mountbattens, Komandan South East Asia Command (SEAC) di Kondy (Cylon) dengan instruksi untuk mengawasi persiapan pendaratan pasukan Sekutu di Medan. Pasukan Sekutu disambut oleh Pemerintah Sumatera Utara dan mempersilahkan mereka untuk menempati beberapa hotel di Medan yang telah disiapkan oleh Brondgeest sebelumnya seperti Hotel de Boer (Dharma Deli), Grand Hotel (Granada), Hotel Astoria (Angkasa), Gedung NHM (Nederlands Handels Maatschappij), dan lain-lain. Sebagian lagi ditempatkan di Tanjung Morawa, Binjai dan kompi Batalyon-6/SWB pindah ke Brastagi dan menempati gedung Plantersschool (bekas tempat tawanan sipil Belanda) masa pendudukan tentara Jepang. Brigjend Kelly menyatakan kepada pemerintah RI akan melaksanakan tugas kemanusiaan, mengevakuasi tawanan dari beberapa kamp di luar Kota Medan.

Keesokan harinya, tim RAPWI (Relief of Allied Prisoners of War and Interness) mengunjungi kamp kamp tawanan yang ada di Brayan, Rantau Prapat, Saentis dan Berastagi untuk membebaskan tawanan dan membawanya ke Medan. Hal ini disetujui oleh Gubernur Sumatera, Teuku Muhammad Hasan. Akan tetapi, Inggris malah mempersenjatai mereka dan membentuk Medan Batalyon KNIL, yang terdiri atas seluruh tawanan yang telah dibebaskan dan dipersenjatai. Para bekas tawanan ini menjadi arogan terhadap para pejuang dan rakyat. Untuk hal ini, masyarakat masih bersabar.

Amarah para pejuang, terutama pemuda, mulai terbakar ketika seorang tentara NICA merampas dan menginjak injak lencana Merah Putih. Saat itu tanggal 13 Oktober 1945. Tidak hanya itu tindakan provokasi Inggris. Tanggal 18 Oktober, Brigjend Kelly mengeluarkan ultimatum yang berbunyi seba­gai berikut, bahwa bangsa Indonesia dilarang keras membawa senjata, termasuk senjata tajam, seperti pedang, tombak, keris, rencong dan sebagainya. Senjata-senjata itu harus diserahkan kepada tentara Sekutu. Kepada para komandan pasukan Jepang diperintahkan untuk tidak menyerahkan senjatanya kepada TKR dan Laskar rakyat, dan harus meny­erahkan semua daftar senjata api yang dimilikinya kepada Sekutu. Pada 23 Oktober 1945, Pasukan Inggris kemudian melakukan penggerebekan di dalam kota Medan dan sekitarnya. Dalam penggerebekan itu mereka berhasil menda­patkan 3 pistol, 1 senapan, 1 granat kosong, 2 ranjau rakitan sendiri, 6 granat tangan, 3 senapan tiga kaki, 36 pedang, 10 pisau, 4 detonator listrik, dan 6 tombak.

Sejak tentara Inggris melakukan razia di sekitar Medan, kecurigaan masyarakat terhadap Inggris bertambah besar. Patroli tentara Inggris  sampai ke Sunggal, Pancur Batu, Deli Tua, Tanjung Morawa, Saentis, bahkan ada serda­du-serdadu dan perwira Inggris yang berjalan-jalan sendiri ke luar kota Medan dan Belawan. Di samping itu Komandan Inggris untuk Sumatera, Mayor Jendral Chambers, menegaskan bahwa Pasukan Jepang diberikan kekuasaan untuk mengamankan daerah-daerah di luar kota Medan, Bukit Tinggi, dan Palembang. Kondisi itu akhirnya menimbulkan konflik ber­senjata dengan para pemuda Republik baik yang bergabung dengan TKR maupun dengan Laskar Rakyat. Dan provokasi Inggris yang paling puncak adalah ketika tanggal 1 Desember 1945 diberbagai sudut kota Medan, Inggris menandai secara sepihak wilayah kekuasaannya dengan memasang tulisan “Fixed Boundaries Medan Area”, dan daerah inilah kemudian terkenal menjadi Medan Area.

Tapi tentu saja, sikap provokatif Inggris harus dibayar dengan amarah rakyat. Di bagian berikutnya, akan dijelaskan bagaimana bentrokan pecah dan bertumbuh menjadi Pertempuran Medan Area.

Jalannya Pertempuran Medan Area

Pertempuran Medan Area dimulai dari bentrokan tanggal 13 Oktober 1945, baru empat hari setelah pasukan Inggris sampai di Medan, meledak suatu konflik bersenjata antara para pemuda revolusioner dengan pasukan NICA-Belanda. Peristiwa itu terjadi akibat adanya provokasi langsung seorang serdadu Belanda yang bertindak merampas lencana merah putih (sudah disebutkan di bagian sebelumnya) yang tersemat di peci seorang penggalas pisang yang melintas di depan Asrama Pension Wilhelmina, Jalan Bali (sekarang Jalan Veteran). Ratusan pemuda yang berada ditempat itu meny­erang serdadu itu dengan senjata pedang, pisau, bambu runcing, dan beberapa senjata api. Dalam peristiwa itu timbul korban sebagai berikut : 1 orang opsir  yaitu Letnan Goeneberg dan 7 orang serdadu NICA meninggal. Beberapa warga negara Swiss luka dan meninggal, dan 96 orang serdadu NICA luka-luka termasuk seorang laki-laki sipil dan 3 orang wani­ta. Di pihak Indonesia gugur 1 orang (menurut prasasti yang didirikan 7 orang) dan luka berat satu orang. Lokasi pertempuran saat ini berada dekat dengan Pusat Pasar.

Peristiwa Jalan Bali itu segera tersiar ke seluruh pelosok kota Medan, bahkan ke seluruh daerah Sumatera Utara dan  menjadi sinyal bagi kebanyakan pemuda, bahwa perjuangan menegakkan proklamasi telah dimulai. Darah orang Belanda dan kaum kolonialis harus ditumpahkan demi Revolusi Nasional. Akibatnya dengan cepat bergelora semangat anti Belanda di seluruh Sumatera Timur. Diantara pemuda itu adalah Bedjo, salah seorang pemimpin laskar rakyat di Pulo Brayan. Bedjo bersama pasukan selikur­nya pada tanggal 16 Okto­ber 1945, tengah hari setelah sehari sebelumnya terjadi peristiwa Siantar Hotel, menyerang gudang senjata Jepang di Pulo Brayan untuk memperkuat persenjataan. Setelah melakukan serangan terhadap gudang perbekalan tentara Jepang, Bedjo dan pasukannya kemudian menyerang Markas Tentara Belanda di Glugur Hong dan Halvetia, Pulo Brayan. Dalam pertempuran yang berlangsung malam hari, pasukan Bedjo yang menyerang Helvetia berhasil menewaskan 5 orang serdadu KNIL. Serangan yang dilakukan oleh para pemuda di Jalan Bali dan Bedjo itu telah menyentakkan pihak Sekutu (Inggris). Mereka mulai sadar bahwa para pemuda-pemuda Republik telah memiliki persenjataan dan semangat kemerdekaan yang pantas diperhi­tungkan.

Sementara itu, di simpang Jalan Deli dan Jalan Serdang yang sekarang disebut Jalan Perintis Kemerdekaan, pecah bentrokan lain. Bentrokan pecah di sebuah masjid di sana. Para pejuang yang dipimpin Wiji Alfisa dan Zain Hamid bertempur dengan tentara Inggris pada 17 Oktober 1945. Mereka berhasil bertahan dari gempuran Inggris hingga pada 20 Oktober 1945, Inggris memutuskan untuk menghancurkan masjid tempat mereka bertahan. Setelah perang, masjid lain dibangun diatasnya untuk mengenang perjuangan mereka. Masjid itu dinamai Masjid Perjuangan 45.

Oleh karena itu sebagai tentara yang ditugaskan untuk menjaga keamanan dan ketertiban, Komandan Inggris Brigadir Jenderal TED Kelly pada tanggal 18 Oktober 1945 mengeluar­kan sebuah ultimatum yang berbunyi seba­gai berikut, bahwa bangsa Indonesia dilarang keras membawa senjata, termasuk senjata tajam, seperti pedang, tombak, keris, rencong dan sebagainya. Senjata-senjata itu harus diserahkan kepada tentara Sekutu. Kepada para komandan pasukan Jepang diperintahkan untuk tidak menyerahkan senjatanya kepada TKR dan Laskar rakyat, dan harus meny­erahkan semua daftar senjata api yang dimilikinya kepada Sekutu. Pada tanggal 23 Oktober 1945, pasukan Inggris kemudian melakukan penggerebekan di dalam kota Medan dan sekitarnya. Dalam penggerebekan itu mereka berhasil menda­patkan 3 pistol, 1 senapan, 1 granat kosong, 2 ranjau rakitan sendiri, 6 granat tangan, 3 senapan tiga kaki, 36 pedang, 10 pisau, 4 denator listrik, dan 6 tombak.

Sejak tentara Inggris melakukan razia di sekitar Medan, kecurigaan masyarakat terhadap Inggris bertambah besar. Patroli tentara Inggris  sampai ke Sunggal, Pancur Batu, Deli Tua, Tanjung Morawa, Saentis, bahkan ada serda­du-serdadu dan perwira Inggris yang berjalan-jalan sendiri ke luar kota Medan dan Belawan. Di samping itu Komandan Inggris untuk Sumatera, Mayor Jendral Chambers, menegaskan bahwa Pasukan Jepang diberikan kekuasaan untuk mengamankan daerah-daerah di luar kota Medan, Bukit Tinggi, dan Palembang. Kondisi itu akhirnya menimbulkan konflik ber­senjata dengan para pemuda Republik baik yang bergabung dengan TKR maupun dengan Laskar Rakyat.

Demikianlah pada tanggal 2 Desember 1945, dua orang serdadu Inggris yang sedang mencuci trucknya di Sungai dekat Kampung Sungai Sengkol telah diserang oleh TKR. Kedua serdadu Inggris itu tewas, dua buah senjata dan trucknya dirampas. Dua hari kumudian, seorang perwira Inggris tewas terbunuh  di sekitar Saentis. Akibatnya pasukan Inggris terus melakukan patroli di sekitar Medan, dan mereka mulai bertindak kasar. Pada tanggal 6 Desember 1945, tentara Inggris datang mengepung Gedung Bioskop Oranye di Kota Medan. Mereka kemudian merampas semua filem di gedung tersebut. Tindakan tentara Inggris itu menyebab­kan para pemuda segera mengepung gedung bioskop itu, sehingga timbullah pertempuran kecil, yang berakhir dengan tewasnya seorang tentara Inggris.

Beberapa jam setelah peristiwa “Oranje Bioscop”, markas Pesindo di Jalan Istana dan markas Pasukan Pengawal Pesindo di sekolah Derma dirazia oleh tentara Inggris. Di sepanjang Jalan Mahkamah dan Jalan Raja, tentara Inggris melakukan show of force. Tidak lama sesu­dah itu, markas TKR di bekas restoran Termeulen diobrak-abrik dan penghuninya diusir oleh tentara Inggris. Pada malam harinya para pemuda dan anggota TKR menyerang gedung itu dengan granat botol, sehingga gedung itu terbakar. Pada tanggal 7, 8, dan 9 Desember 1945, siang dan malam hari di mana-mana asrama tentara India-Inggris/NICA diserang oleh pemuda dan TKR. Akibat serangan itu tentara Inggris/NICA  pada tanggal 10 Desember 1945 menyerang markas TKR di Deli Tua (Two Rivers). Tiga hari kemudian, Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly kembali mengeluarkan Maklumat yang meminta agar Bangsa Indonesia harus menyerahkan senjatanya kepada tentara Sekutu dan barang siapa memegang senjata di dalam kota Medan dan 8,5 Km dari batas kota Medan dan Belawan akan ditembak mati.

Untuk menindaklanjuti intruksi itu pada bulan Maret 1946 pasukan Sekutu/Inggris kembali melakukan razia ke basis-basis laskar rakyat di sekitar Tanjung Morawa. Barisan Pelopor dan Laskar Napindo yang berada berada di daerah ini kemudian mencegat pasukan Inggris sehingga terjadi baku tembak. Pertempuran kemudian berkobar selama dua hari  dan akhirnya pasukan Inggris menarik pasukannya dari Tanjung Morawa. Namun demikian pasukan sekutu terus melakukan razia di dalam kota. Akibatnya pada pertengahan April 1946, Markas Divisi IV berserta seluruh stafnya dan Kantor Gubernur Sumatera dan semua jawatan-jawatannya pindah ke Pematang Siantar.

Sejak pindahnya Komando Militer dan Pemerintahan Republik ke Pematang Siantar pasukan Inggris setiap hari melancarkan serangan ke kubu-kubu TRI dan Laskar Rakyat di sekitar Medan Area. Pada akhir bulan Mei, selama satu minggu mereka menggempur habis kampung-kampung di sekitar kota Medan. Akibat serangan itu tentu saja membuat penduduk sipil mengungsi ke luar kota, seper­ti ke Tanjung Morawa, Pancur Batu, Binjai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sebagainya. Kampung-kampung seperti Sidodadi, Tempel, Sukaramai, Jalan Antara, Jl. Japaris, Kota Maksum, Kampung Masdjid, Kampung Aur, Sukaraja, Sungai Mati, Kampung Baru, Padang Bulan, Petisah Darat, Petisah Pajak Bundar, Kampung Sekip, Glugur, dan sebagai­nya menjadi sepi. Meskipun demikian Inggris tidak leluasa bergerak ke luar kota, karena laskar rakyat dan TRI siap menghadangnya.

Sampai akhir bulan Juli 1946 pasukan republik yang bertempur di Medan Area bergerak tanpa komando. Karena itu pada bulan  Agustus 1946 dibentuklah Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area (K.R.L.R.M.A.). Kapten Nip Karim dan Marzuki Lubis dipilih sebagai Komandan dan Kepala Staf Umum. KRLMA membawahi laskar Napindo, Pesindo, Barisan Merah, Hisbullah, dan Pemuda Parkindo. Setiap pasukan disusun dalam formasi batalion yang terdiri dari empat kompi.  Medan Area dibagi dalam empat sektor dan tiap sektor terdiri atas dua sub-sektor. Markas Komando ditempatkan di Two Rivers (Treves).

Dalam pada itu Belanda mulai mengarah­kan kekuatan militernya ke Sumatera dalam rangka mengaman­kan sumber ekonomi yang vital di Sumatera Timur. Untuk  itu, maka pada awal bulan Oktober 1946 satu batalion pasukan bersen­jata dari negeri Belanda mendarat di Medan. Beberapa hari kemudian diikuti dengan satu batalion KNIL dari Jawa Barat. Gerakan militer pasukan Belanda ini tidak bisa dilepaskan dengan adanya rencana Inggris yang ingin sece­patnya meninggalkan Indonesia. Semua instasi penting yang ada di Medan Area segera diserahkan kepada Komandan Mili­ter Belanda. Pasukan Belanda kemudian mengambil alih semua tugas penyerangan terhadap pangkalan militer Republik di sekitar Medan Area. Unit-unit militer Republik, baik TRI maupun laskar rakyat segera bereaksi menanggapi pengambi­lalihan Belanda dan mulai meningkatkan serangannya terha­dap patroli-patroli Belanda maupun Inggris. Hingga akhir tahun 1946, berbagai bentrokan fisik antara kekuatan militer Republik dengan Belanda terus terjadi di segala front Medan Area.

Atas prakarsa pimpinan Divisi Gajah dan KRIRMA pada 10 Oktober 1941 disetujui untuk mengadakan serangan bersama. Sasaran yang akan direbut di Medan Timur adalah Kampung Sukarame, Sungai Kerah. Di Medan barat ialah Padang Bulan, Petisah, Jalan Pringgan, sedangkan di Medan selatan adalah kota Matsum yang akan jadi sasarannya. Rencana gerakan ditentukan, pasukan akan bergerak sepanjang jalan Medan-Belawan.
Hari “H” ditentukan tanggal 27 Oktober 1946 pada jam 20.00 WIB, sasaran pertama Medan Timur dan Medan Selatan. Tepat pada hari “H”, batalyon A resimen laskar rakyat di bawah Bahar bergerak menduduki Pasar Tiga bagian Kampung Sukarame, sedangkan batalyon B menuju ke Kota Matsum dan menduduki Jalan Mahkamah dan Jalan Utama. Di Medan Barat batalyon 2 resimen laskar rakyat dan pasukan Ilyas Malik bergerak menduduki Jalan Pringgan, kuburan China dan Jalan Binjei.

Patut diketahui, bahwa beberapa waktu yang lalu, pihak Inggris telah menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada Belanda. Pada saat sebagian pasukan Inggris bersiap-siap untuk ditarik dan digantikan oleh pasukan Belanda, pasukan kita menyerang mereka. Gerakan-gerakan batalyon-batalyon resimen Laskar Rakyat Medan Area rupanya tercium oleh pihak Inggris/Belanda. Daerah Medan Selatan dihujani dengan tembakan mortir. Pasukan kita membalas tembakan dan berhasil menghentikannya.

Sementara itu Inggris menyerang seluruh Medan Selatan. Pertempuran jarak dekat berkobar di dalam kota. Pada keesokan harinya Kota Matsum bagian timur diserang kembali. Pasukan Inggris yang berada di Jalan Ismailiah berhasil dipukul mundur.

Sementara pertempuran berlangsung, keluar perintah pada 3 November 1946, gencatan senjata diadakan dalam rangka penarikan pasukan Inggris dan pada gencatan senjata itu dilakukan, digunakan untuk berunding menentukan garis demarkasi. Pendudukan Inggris secara resmi diserahkan kepada Belanda pada tanggal 15 November 1946.

Tiga hari setelah Inggris meninggalkan Kota Medan, Belanda mulai melanggar gencatan senjata. Di Pulau Brayan pada tanggal 21 November, Belanda merampas harta benda penduduk dan pada hari berikutnya Belanda membuat persoalan lagi dengan menembaki pos-pos pasukan laskar di Stasiun Mabar, juga Padang Bulan ditembaki.

Pihak laskar membalas. Kolonel Schalten ditembak ketika lewat di depan pos Laskar. Belanda membalas dengan serangan besar-besaran di pelosok kota. Angkatan Udara Belanda melakukan pengeboman, sementara itu di front Medan Selatan di Jalan Mahkamah kita mendapat tekanan berat, tapi di Sukarame gerakan pasukan Belanda dapat dihentikan.

Pada tanggal 1 Desember 1946, pasukan kita mulai menembakkan mortir ke sasaran Pangkalan Udara Polonia dan Sungai Mati. Keesokan harinya Belanda menyerang kembali daerah belakang kota. Kampung Besar, Mabar, Deli Tua, Pancur Bata dan Padang Bulan ditembaki dan dibom. Tentu tujuannya adalah memotong bantuan logistik bagi pasukan yang berada di kota. Tapi walaupun demikian, moral pasukan kita makin tinggi berkat kemenangan yang dicapai.

Karena merasa terdesak, Belanda meminta kepada pimpinan RI agar tembak-menembak dihentikan dengan dalih untuk memastikan garis demarkasi yang membatasi wilayah kekuasaan masing-masing. Dengan adanya demarkasi baru, pasukan-pasukan yang berhasil merebut tempat-tempat di dalam kota, terpaksa ditarik mundur.

Selagi kita akan mengadakan konsolidasi di Two Rivers, Tanjung Morawa, Binjai dan Tembung, mereka diserang oleh Belanda. Pertempuran berjalan sepanjang malam. Serangan Belanda pada tanggal 30 Desember 1946 ini benar-benar melumpuhkan kekuatan laskar kita. Daerah kedudukan laskar satu demi satu jatuh ke tangan Belanda. Dalam serangan Belanda berhasil menguasai Sungai Sikambing, sehingga dapat menerobos ke segala arah.

Perkembangan perjuangan di Medan menarik perhatian Panglima Komandemen Sumatera. Ia menilai bahwa perjuangan yang dilakukan oleh Resimen Laskar Rakyat Medan Area ialah karena kebijakan sendiri. Komandemen memutuskan membentuk komando baru, yang dipimpin oleh Letkol Sucipto. Serah terima komando dilakukan pada tanggal 24 Januari 1947 di Tanjung Morawa. Sejak itu pasukan-pasukan TRI memasuki Front Medan Area, termasuk bantuan dari Aceh yang bergabung dalam Resimen Istimewa Medan Area.

Membuka awal tahun 1947, dibentuk “Komando Medan Area” (KMA) yang dipimpin langsung oleh perwira tinggi TRI, dan mengambil alih pimpinan operasi di front Medan Area dari tangan Resimen Laskar Rakyat Medan Area (RLRMA). Resimen Laskar Rakyat Medan Area  dibu­barkan. KMA kemudian melancarkan serangan yang dikenal dengan “Operasi 15 Februari 1947.” Operasi militer tanggal 15 Februari itu merupakan operasi besar-besaran yang pertama di Medan Area, yang melibatkan kekuatan TRI dan Laskar Rakyat. Di sektor Barat dan Utara, dikerahkan pasukan TRI Divisi Gadjah II, pasukan Resimen Istimewa Medan Area (RIMA), dan dibantu oleh laskar rakyat yang berada di sektor tersebut. Opera­si di sektor itu dipimpin oleh Mayor Hasan Achmad, Koman­dan RIMA. Di sektor selatan dikerahkan pasukan-pasukan dari Resimen I, II, III Divisi Gadjah II Sumatera Timur dan dibantu oleh Laskar Rakyat Medan Selatan. Operasi di sektor tersebut dipimpin oleh Mayor Martinus Lubis, Koman­dan Batalion I Resimen II Divisi Gadjah II.

Dalam pertempuran tanggal 14-15 Februari, disamping gugurnya Komandan Batalion I Resimen II Divisi Gadjah II TRI, lebih dari 100 orang anggota laskar dan TRI menderi­ta luka berat dan ringan. Pertempuran itu juga telah menelan korban 17 orang penduduk sipil tewas dan 50 orang lainnya menderita luka-luka. Di sisi lain, sebanyak 70 buah rumah musnah terbakar. Di pihak Belanda telah gugur dalam pertempuran itu sebanyak 35 orang dan lebih 60 orang lainnya menderita luka-luka. Sebuah Mustang dan tiga buah pipercub mengalami kerusakan hebat dan sebuah tank brengun carrier rusak dan terbakar terkena granat di Jalan Mahka­mah. Di Sukaramai, sebuah panser dapat dirampas oleh laskar rakyat dan pengemudinya mati terbunuh dan lima kenderaan  militer lainnya hancur. Dalam pertempuran itu, sebanyak dua kali lapangan terbang Polonia mengalami kerusakan, sehingga tidak dapat dipergunakan untuk bebera­pa saat. Lemahnya koordinasi antar pasukan yang diaki­batkan oleh buruknya sarana komunikasi dan lemahnya per­senjataan, tampaknya menjadi faktor utama kurang berhasil­nya serangan frontal tanggal 15 Februari 1947.

Serangan yang dikordinasi oleh KMA itu dihentikan, karena  ada perintah penghentian tembak menembak (cease fire) pada tanggal 15 Februari 1947 jam 24.00. Sesudah itu Panitia Teknik genjatan senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis-garis demarkasi yang definitif untuk  Medan Area. Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1947 itu, ditetapkanlah suatu garis demarkasi yang melingkari kota Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai oleh tentara Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik seluruhnya adalah 8,5 Km. Pada tanggal 14 Maret 1947 dimulailah pemasangan patok-patok pada garis demarka­si itu. Pertempuran dan insiden bersenjata antara kedua pihak selalu mempersengketakan garis demarkasi itu.

Memasuki bulan Juni 1947, hubungan antara pemerintah Republik dan Belanda semakin buruk. Perjanjian Linggarjati dan Gencatan Senjata di Sumatera Timur (Medan Area) tidak ditepati. Belanda mulai merusak perjanjian linggarjati dengan membentuk Negara Pasundan. Di Sumatera Timur, Belanda melakukan tindakan profokatif untuk memecah belah persatuan antara rakyat dan Republik Indonesia. Untuk mencapai tujuan itu Belanda bahkan mengedarkan candu, uang palsu, dan memberikan hadiah uang kepada kaki tangannya untuk membunuh perwira TRI dan tokoh-tokoh Republik.

Mengantisipasi akan pecahnya konflik militer terbuka dengan Belanda, maka  Presiden Soekarno tanggal 3 Mei 1947  memerintahkan penggabungan semua pasukan bersen­jata ke dalam Tentara Nasional Indonesia. Pada tanggal 13 Juli 1947 Jendral Suhardjo Komandan T.R.I. Territorium Sumatera memerintahkan  semua kekuatan TRI dan Laskar Rakyat di Sumatera segera bergabung ke dalam TNI. Namun demikian, sejumlah unit-unit Laskar Rakyat tidak mau mematuhi perintah Suhardjo, terutama dari Pesin­do dan Barisan Merah. Bahkan unit-unit yang diterima sebagai bagian dari TNI pun sedikit sekali yang patuh, karena mereka memiliki otonomi dalam aspek politik dan ekonomi. Bagi beberapa Laskar Rakyat, pada umumnya terus beroperasi secara bebas seperti sebelumnya, mereka saling bersaing baik dengan Laskar Rakyat lainnya maupun dengan TRI, terutama dalam memperebutkan sumber-sumber ekonomi sebagai sarana memperoleh senjata.
Akhir Pertempuran Medan Area

Pertempuran Medan Area berakhir pada 15 Februari 1947 pukul 24.00 setelah ada perintah dari Komite Teknik Gencatan Senjata untuk menghentikan kontak senjata. Sesudah itu Panitia Teknik genjatan senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis-garis demarkasi yang definitif untuk  Medan Area. Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1947 itu, ditetapkanlah suatu garis demarkasi yang melingkari kota Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai oleh tentara

Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik seluruhnya adalah 8,5 Km. Pada tanggal 14 Maret 1947 dimulailah pemasangan patok-patok pada garis demarka­si itu. Akan tetapi kedua pihak, Indonesia dan Belanda, selalu bertikai mengenai garis demarkasi ini. Empat bulan setelah akhir pertempuran ini, Belanda melaksanakan Operatie Product atau disebut Agresi Militer Belanda I.

Ada beberapa akibat dari Pertempuran Medan Area ini, yaitu :

  1. Terbaginya kawasan Medan oleh garis demarkasi.
  2. Perpindahan pusat pemerintahan Provinsi Sumatera ke Pematang Siantar.

Jumat, 31 Oktober 2014

Pertempuran Bandung Lautan Api

  •  

Latar Belakang Pertempuran Bandung Lautan Api

Pasukan Sekutu Inggris memasuki kota Bandung sejak pertengahan oktober 1945. Menjelang november 1945, pasukan NICA semakin merajelela di Bandung dengan aksi terornya. Masuknya tentara sektu dimanfaatkan oleh NICA untuk mengembalikan kekuasaanya di Indonesia. Tapi semangat juang rakyat dan para pemuda Bandung tetap berkobar.[1]

Latar belakang Bandung Lautan Api, antara lain :

  1.  Pasukan sekutu Inggris memasuki kota Bandung dan sikap pasukan NICA yang merajalela dengan aksi terornya.
  2.  Perundingan antara pihak RI dengan Sekutu/NICA, dimana Bandung dibagi dua bagian.[2]
  3. Bendungan sungai Cikapundung yang jebol dan menyebabkan banjir besar dalam kota.
  4. Keinginan sektu yang menuntut pengosongan sejauh 11km dari Bandung Utara.
  • Proses Terjadinya Pertempuran Bandung Lautan Api
  •  

Suatu peristiwa di bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Peristiwa itu di kenal sebagai Bandung Lautan Api. Sebuah memorabilia sejarah Bandung.

Pada awal tahun 1946, Inggris menjanjikan penarikan pasukannya dari Jawa Barat dan menyerahkan kepada Belanda, untuk selanjutnya digunakan sebagai basis militer. Kesepakatan sekutu, Inggris dan NICA (Nederlands Indie Civil Administration) memunculkan perlawanan heroic dari masyarakat dan pemuda pejuang di Bandung, ketika tentara Inggris dan NICA melakukan serangan militer ke Bandung. Tentara sekutu berusaha untuk menguasai Bandung, meskipun harus melanggar hasil perundingan dengan RI.Agresi militer Inggris dan NICA Belanda  pun memicu tindakan pembumihangusan kota oleh para pejuang dan masyarakat Bandung. Bumi hangus adalah memusnahkan dengan pembakaran semua barang, bangunan, gedung yang mungkin akan dipakai oleh musuh.

Sekutu dan NICA Belanda, yang menguasai wilayah Bandung Utara (wilayah di utara jalan kereta api yang membelah kota Bandung dari timur ke barat), memberikan ultimatum (23 Maret 1946) supaya Tentara Republik Indonesia (TRI) mundur sejauh 11 km dari pusat kota (wilayah di selatan jalan kereta api dikuasai TRI) paling lambat pada tengah malam tanggal 24 Maret 1946.Akibatnya pertempuran pun kembali menghebat. Pada saat itu datang dua buah surat perintah yang isinya membingungkan, yaitu :

  1. Dari perdana Menteri Amir Syarifudin bahwa para pejuang / pasukan RI harus mundur  dari kota Bandung sesuai dengan perjanjian antara pemerintah RI dengan Sekutu yanag saat itu sedang berlangsung di Jakarta.
  2. Dari Panglima TKR (Jenderal Sudirman) Bahwa para pejuang/pasukan RI harus mempertahankan Kota bandung sampai titik darah penghabisan.

Menghadapi dua perintah yang berbeda ini, akhirnya pada 24 Maret 1946 pukul 10.00 WIB, para petinggi TRI mengadakan rapat untuk menyikapi perintah PM Sjahril di Markas Divisi III TKR. Rapat ini dihadiri para pemimpin pasukan Komandan Divisi III Kolonel Nasution, Komandan Resimen 8 Letkol Omon Abdurrahman, Komandan Batalyon I Mayor Abdurrahman, Komandan Batalyon II Mayor Sumarsono, Komandan Batalyon III Mayor Ahmad Wiranatakusumah, Ketua MP3 Letkol Soetoko, Komandan Polisi Tentara Rukana, dan perwakilan tokoh masyarakat dan pejuang Bandung.

Dalam menyikapi ultimatum Inggris, sikap para pejuang terbelah. Ada yang menginginkan bertahan di Bandung sambil melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan, ada juga yang memilih meninggalkan Bandung sambil mengatur strategi gerilya ketika berada di luar Bandung. Meski begitu, tujuan mereka sama yakni menolak keras upaya penjajahan kembali oleh Belanda.

Rapat pun berlangsung alot dan panas. Berbagai usulan perlawanan disampaikan peserta rapat, salah satu usul adalah meledakkan terowongan Sungai Citarum di Rajamandala sehingga airnya merendam Bandung. Usul ini disampaikan Rukana. Namun saking emosinya, Rukana menyebut usulnya agar Bandung menjadi “lautan api”, padahal maksudnya “lautan air”. Diduga, dari rapat inilah muncul istilah Bandung Lautan Api.

Usul lain muncul dari tokoh Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon (AMPTT),  Soetoko,  yang tidak setuju jika hanya TRI saja yang meninggalkan Bandung. Menurutnya, rakyat harus bersama TKR mengosongkan kota Bandung.
Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam militer di Bandung, Nasution akhirnya memutuskan untuk mentaati keputusan pemerintah RI. Keputusan ini berisi beberapa poin, di antaranya TRI akan mundur sambil melakukan melakukan infiltrasi atau bumi hangus, hingga Bandung diserahkan dalam keadaan tidak utuh.[3]

Lalu rakyat akan diajak mengungsi bersama TRI. Selama pengungsian, TRI dan pejuang akan melakukan perlawanan dengan taktik gerilya ke Bandung Utara dan Selatan yang dikuasai musuh.

Melalui siaran RRI pada pukul 14.00, Nasution mengumumkan:  bahwa semua pegawai dan rakyat harus keluar sebelum pukul 24.00, tentara melakukan bumi hangus terhadap objek vital di Bandung agar tidak dipakai Inggris dan NICA.

Saat malam tiba, TRI akan menyerang Bandung. TRI juga mempersiapkan sejumlah titik pengungsian bagi Keresidenan Priangan, Walikota Bandung, Bupati Bandung, Jawatan KA, Jawatan PTT, rumah sakit, dan lain-lain.

Rakyat sebagian ada yang menerima informasi tersebut, sebagian lagi hanya mendengar desas-desus bahwa Bandung akan dibakar dan penduduknya harus ngungsi segera menyebar, tetapi banyak juga yang tidak mengetahui sama sekali. Namun situasi umum waktu itu mencekam, kepanikan di mana-mana.

Meski panik, secara umum rakyat mematuhi keputusan pemerintah. Banyak rakyat yang mengungsi, Meski berat hati harus meninggalkan rumah yang sudah mereka ditinggali sejak kecil. Tempat tujuan pengungsi menyebar, mulai dari Cililin, Ciparay dan Majalaya, Tasikmalaya, Cianjur, Ciwidey, Garut, Sukabumi, bahkan adaya yang mengikuti hingga Jogjakarta.

TRI menjadwalkan peledakan pertama dimulai pukul 24.00 WIB di Gedung Regentsweg, selatan Alun-alun Bandung yaitu Gedung Indische Restaurant (sekarang Gedung BRI), sebagai aba-aba untuk meledakan semua gedung.

Di tengah persiapan itu tiba-tiba terjadi ledakkan. Seorang pejuang, Endang Karmas, mengaku heran dengan adanya ledakan, padahal baru pukul 20.00 WIB. Ledakkan pertama itu terlanjut dianggap aba-aba, sehingga pejuang lain pun tergesa-gesa melakukan pembakaran dan peledakkan gedung.

Karena persiapan yang minim, banyak gedung vital yang tidak bisa diledakkan, kalaupun meledak, tidak sanggup merusak bangunan yang terlalu kokoh. Beberapa kemungkinan menjadi pemicu melesetnya jadwal ledakkan dari jadwal semula,  yakni faktor teknis atau keterampilan menguasi bahan peledak yang minim, alat peledak yang kurang, atau ada sabotase oleh musuh untuk menggagalkan sekenario Bandung Lautan Api.

Terlebih saat persiapan pengungsian pasukan Gurkha dan NICA terus melakukan provokasi hingga penembakan terhadap para pejuang. Hal itulah yang membuat rencana pembakaran dan penghancuran objek vital tidak berjalan seperti rencana.

Kebakaran hebat justru timbul dari rumah-rumah warga yang sengaja dibakar, baik oleh pejuang maupun oleh pemilik rumah yang sukarela membakar rumahnya sebelum berangkat ngungsi. Rumah-rumah warga yang dibakar membentang dari Jalan Buah Batu, Cicadas, Cimindi, Cibadak, Pagarsih, Cigereleng, Jalan Sudirman, Jalan Kopo. Kobaran api terbesar ada di daerah Cicadas dan Tegalega, di sekitar Ciroyom, Jalan Pangeran Sumedang (Oto Iskandar Dinata), Cikudapateuh, dan lain-lain.

Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut gugur sebagai pahlawan bangsa.

Sejarah heroic itu tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai peristiwa Bandung Lautan Api (BLA). Lagu Halo-halo Bandung ciptaan Ismail Marzuki menjadi lagi perjuangan pada saat itu. NICA Belanda berhasil menguasai Jawa Barat melalui Perjanjian Renville (17 Januari 1948).

Beberapa tahun kemudian, lagu “Halo-Halo Bandung” ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang telah menjadi lautan api. Perlambang emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang telah menjadi lautan api.

Advertisements

0 Responses to “BPK45 JakSel : Prakarsa Brigade 45”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,213,621 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: