16
Dec
16

Kenegarawanan : Politik Kepeloporan Pejoang45 Indonesia

Politik Kepeloporan Pejoang45 Indonesia

ilustrasi / warkopanime.com

SHNet – Memperingati 59 tahun Deklarasi Djoeanda 13 Desember 1957 tentang Wawasan Nusantara sekaligus menyambut Hari Bela Negara 19 Desember 2016 yad, perlu juga Politik Kepeloporan Pejoang45 Indonesia kembali dikiprahkan terkait tokoh pelopor Pembela Tanah Air (PETA) yang kelak anggota2ya juga jadi penggerak Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, pejoang Perang Kemerdekaan 1945-1949 dan cikal bakal bagi pembentukan Tentara Nasional Indonesia yakni sosok Ki Ageng Suryomentaram‎ (KAS), terlahir 20 Mei 1892 bernama BRM Kusdiarmaji, 1910 bergelar BPH Suryomentaram, wafat 18 Maret 1962.

1) Kepeloporan Pembela Tanah Air (PETA)

Pada 16 Juni 1943 Perdana Menteri Hideki Tojo berjanji memberikan partisipasi politik lebih besar kepada orang Indonesia a.l. membuka kemungkinan pembentukan pasukan sukarela melalui Markas Besar Tentara ke-16 di Indonesia yang kemudian memutuskan bahwa baiknya prakarsa pembentukan tentara bumiputera itu harus datang dari pemimpin Indonesia sendiri.
‎Menanggapi hal diatas, pada 17 September 1943, KAS menemui P.T.K. Yamauchi, gubernur militer Jepang di Yogyakarta, untuk mohon izin membentuk tentara sukarela, namun ditolak. Kemudian KAS bersama delapan rekannya membentuk panitia yang disebut Manggala Sembilan guna persiapkan surat permohonan pembentukan tentara sukarela termaksud.

Permohonan resmi kepada pemerintah Jepang itu dilakukan KAS dkk berisi dua hal penting : 1) Ucapan terima kasih kepada Jepang yang berhasil menyingkirkan Belanda dari Indonesia,  2) dan agar tidak dijajah lagi, meminta kepada pemerintah Jepang untuk memberi bangsa Indonesia pelajaran berperang secara modern melalui wadah Pembela Tanah Air (PETA).

Seorang pembesar Kenpei Tai (Polisi Militer Jepang) bernama Asano setelah menemui KAS, melaporkan kepada Tenno Haika di Tokyo Jepang yang kemudian perintahkan pimpinan pendudukan Jepang di Jawa (Seiko Shikikan) agar permohonan KAS itu diluluskan.

Untuk memantapkan maka KAS bersama 9 orang teman lainnya membuat pernyataan tertulis yang ditandatangani dengan darah masing2 yang isinya sanggupi mendirikan Pembela Tanah Air (PETA), dan dikirimkan kepada pemerintah Jepang. ‎Kesepuluh penandatangan dengan darah itu adalah: KAS, Ki Pronowidigdo, Ki Prawirowiworo, Ki Atmosutidjo, Ki Asrar, Ki Hadidarmo, Ki Djojobondo, Ki Puspoatmodjo, R.L. Atmokusumo (putra Mangkukusuman), R.L. Surjaatmodjo (putra Surjaputran).

KAS lantas membuat buku pedoman yang dinamai  \’Jimat Perang\’ untuk bekal atau pedoman bagi perwira2 Pembela Tanah Air dan diserahkan kepada \’4 Serangkai\’ {Bung Karno – Bung Hatta – Ki Hajar Dewantara – KH Moh. Mansyur) yang berpengaruh dalam masyarakat,  agar pelaksanaan pembentukan PETA segera terwujud, dengan pesan \’Kita akan dirikan tentara yang berani berperang dan berani mati. Lantas siapa yang mau ikut kalau kita tidak punya jimat berani mati atau jimat perang\’ Untuk pelaksanaan pembentukan PETA, Bung Karno kemudian menunjuk Gatot Mangkupraja sebagai pelaksananya.

Menurut Ki Pronowidigdo, pernyataan yang ditandatangani dengan darah tersebut di atas ditulis tangan diatas kertas biasa oleh Ki Atmosutidjo. Dan buku \’Jimat Perang\’ kemudian oleh Bung Karno digunakan untuk jadi pegangan dan propaganda.

Tentara sukarela itu terbentuk 3 Oktober 1943 dan kemudian pada 10 Oktober 2016 KAS berpidato melalui radio Yogyakarta dilanjutkan berkeliling pulau Jawa guna menggerakkan pemuda2 agar siap bergabung dengan pasukan sukarela Pembela Tanah Air (PETA) berdasar Jimat Perang KAS yang efektif memobilisasi pendaftaran pemuda sebagaii pasukan sukarela, namun segera diambilalih oleh pemerintah militer Jepang.‎

2) Kepejoangan 45

Pada era Perang Kemerdekaan 1945-1949, KAS memimpin gerilyawan Pasukan Jelata yang beroperasi di Wonosegoro- Boyolali.

3) Kebudayaan Bina Kebangsaan & Karakter Bumiputera

KAS berperan fasilitator bagi pembentukan perguruan Taman Siswa (Jogjakarta 1922) selain Penulis dan Penceramah Budaya Bina Karakter a.l. Kawruh Pangawikan Pribadi atau Kawruh Jiwa yang diawali dengan Ajaran Kawruh Bejo (Ilmu Bahagia) yang dilakoni paling tidak sejak 1927.

Pada 30 Juli 1996 KAS‎ menerima Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 067/TK/Tahun 1996 tentang Piagam Tanda Kehormatan Satyalencana Kebudayaan.‎

Oleh karena itu, dengan iktikad baik, Badan Pembudayaan Kejoangan 45 (BPK45) mengukuhkan KAS selaku Pejoang45 yang ‎‎ berkiprah/berperforma TRIBHAKTI 1-2-3 tersebut diatas.

Dan bercermin dari pengukuhan Pejoang45 ini, ‎dalam konteks kenegarabangsaan terkini, diharapkan kebersamaan dan kepeloporan segenap eksponen dan komponen pemangku kemasyarakatan dan kenegarabangsaan dapat kiranya mengambil hikmah kebijaksanaan bagi pemberdayaan UUD 1945 [BRI Th II, 1946 jo LNRI 75/1959] agar PANCASILA dapat utuh terstruktural konstitusional sebagai politik hukum nasional Indonesia yang mengikat dan melekat kokoh kini dan esok.

Jakarta, 13 Desember 2016‎

Badan Pembudayaan Kejoangan45 (BPK45),‎
Pandji R Hadinoto, KelBes Pejoang45
Ketua GPA45/DHD45 Jakarta‎

kartunama GP45


0 Responses to “Kenegarawanan : Politik Kepeloporan Pejoang45 Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,088,137 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: