16
Dec
16

Historia : 10 Orang Asing Membantu Indonesia Merdeka

Inilah 10 Orang Asing Yang Ikut Membantu Kemerdekaan Indonesia

Bung Karno dan Muriel Stuart Walker

Tepat tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tapi perjuangan tidak berhenti disitu saja. Indonesia masih harus menghadapi pihak sekutu yang mengambil alih dari Jepang, dan tidak serta merta kemerdekaan Indonesia mendapat pengakuan dunia internasional.

Di saat-saat itulah, ternyata banyak orang asing yang ikut mendukung dan membantu kemerdekaan Indonesia. Ada yang mendukung dari luar Indonesia, ada yang mendukung dari dalam. Ntah karena cinta Indonesia, ntah karena menghargai hak merdeka setiap sesama manusia. Berikut diantaranya, nama 10 orang asing yang ikut membantu kemerdekaan Indonesia.

1. Laksamana Muda Maeda Takashi (1898 – 1977)

Tahun 1930-an Maeda menjadi atase di Den Haag dan Berlin, di sanalah ia berhubungan dengan banyak pelajar dari Indonesia diantaranya Nazir Pamuntjak, Achmad Subardjo, Hatta, dan AA Maramis. Maeda merupakan orang yang diutus untuk mempelajari pergerakan Indonesia selama 10 tahun.

Laksamana Maeda

Peperangan Asia Timur Raya kemudian terjadi, yang disusul dengan penyerangan Jepang terhadap pemerintah Hindia Belanda di Indonesia hingga muncul peristiwa Kalijati 8 Maret 1942; Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Maeda kemudian mendapat tugas sebagai Kepala Penghubung Kaigun (Angkatan Laut Jepang) yang berpusat di Makassar dengan Tentara Angkatan Darat di Jakarta. Dalam tugasnya di Indonesia, Maeda mempekerjakan Subardjo. Secara umum, Maeda dan Kaigun lebih humanis daripada Angkatan Darat Jepang.

Setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom, tepatnya tanggal 14 Agustus 1945, Angkatan Perang Jepang wajib untuk tunduk kepada segala perintah komandan Angkatan Perang Sekutu khususnya mempertahankan status quo. Status quo artinya tidak boleh merubah keadaan sedikit pun di wilyah Indonesia, tidak boleh bertindak secara administratif dan politik. Tugas utama balatentara Jepang hanya menjaga keamanan dan ketertiban.

Kekalahan Jepang pada akhirnya diketahui oleh para pejuang kita. Maeda pun membenarkan berita tersebut dan menjamin rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 16 Agustus 1945 dilangsungkan. Singkatnya, setelah drama “penculikan” Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, rumah Maeda di Jl. Teji Meijidori No. 1 (kini Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat) menjadi tempat disusunnya naskah Proklamasi yang rampung pada tanggal 17 Agustus 1945 sekitar pukul 3 pagi. Pukul 10 paginya, naskah tersebut dibacakan beserta penjagaan dari beberapa bawahan Maeda.

Atas dukungannya terhadap kemerdekaan Republik Indonesia, Maeda mendapat Bintang Jasa Nararya di Upacara Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1973 dan sempat bertemu dengan Bung Hatta.

2. Muhammad Amin Al-Hussaini (1895/1897 – 1974)

Bernama lengkap Muhammad Effendi Amin Al-Husseini merupakan Mufti Besar Yerusalem dari tahun 1921 hingga 1948 yang menentang Zionisme dan pendudukan Yahudi di Palestina. Sementara dirinya sedang memperjuangkan negerinya sendiri, perhatian terhadap sesama negara muslim di Asia dan Afrika pun sama besarnya.

Muhammad Amin Al-Hussaini

Berdasarkan buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri karya M. Zein Hassan Lc. Lt., nama Syekh Muhammad Amin Al-Hussaini diceritakan mendukung secara terbuka kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini bahkan dimulai setahun sebelum Bung Karno dan Bung Hatta benar-benar memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Kekalahan Jepang dalam perang Pasifik sudah di depan mata, Perdana Menteri Jepang, Jenderal Kuniaki Koiso pada tanggal 7 September 1944 (waktu Jepang) mengumumkan bahwa Indonesia akan dimerdekakan kelak. Berita ini langsung disambut oleh pendukung kemerdekaan Indonesia, dan Syekh Muhammad Amin Al-Hussaini pun langsung mengucapkan selamat lewat siaran Radio Berlin berbahasa Arab. Berita tersebut disiarkan selama dua hari berturut-turut yaitu pada tanggal 6 dan 7 September 1944. Bahkan harian Al-Ahram yang terkenal teliti juga menyiarkan.

3. Muhammad Ali Taher (1896 – 1974)

Muhammad Ali Taher

Muhammad Ali Taher merupakan seorang saudagar kaya berasal dari Palestina. Beliau tidak pernah mengeyam pendidikan di bangku sekolah dan memperoleh segala pengetahuan hanya lewat sekolah Al-Qur’an tradisional (Kouttab). Selama hidupnya Taher memiliki tiga surat kabar yaitu Ashoura, Al-Shahab, dan Al-Alam Al-Masri, yang ketiganya selalu menyuarakan nasionalisme dari negara-negara muslim di Asia dan Afrika termasuk berita tentang Indonesia. Taher juga berkawan dengan Muhammad Amin Al-Hussaini meskipun hubungan mereka naik dan turun karena berbeda pandangan politik.

Karena begitu peduli dengan sesama muslim, Taher juga sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Secara spontan ia menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti. Setelah itu dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia mengalir dari masyarakat Timur Tengah, demonstrasi terjadi di jalanan Palestina.

4. Muriel Stuart Walker (1989 – 1997

Muriel Stuart Walker lahir di Glasgow, Skotlandia, yang kemudian bermigrasi bersama ibunya ke California, Amerika Serikat. Di sana ia bekerja menjadi penulis naskah di Hollywood. Sekitar tahun 1930 hingga 1932 dia menikah dengan seorang pria berkebangsaan Amerika Serikat bernama Karl Jenning Pearson. Tahun 1932 ia pindah ke Indonesia, tepatnya ke Bali karena terinspirasi sebuah film berjudul “Bali: The Last Paradise”.

Muriel Stuart Walker (Tantri)

Di Bali, Muriel diangkat anak oleh raja setempat bernama Anak Agung Nura. Muriel pun lalu merubah namanya menjadi K’tut Tantri yang mempunyai arti “anak keempat”. Lama tinggal di Indonesia membuatnya lancar berbahasa Bali dan Indonesia. Selanjutnya ia mendirikan sebuah hotel di Kuta.

Selama Perang Kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 1945 hingga 1949, Tantri direkrut oleh nasionalis Indonesia bergerilya bersama Bung Tomo dan pejuang lainnya. Ia juga turut menyaksikan Pertempuran Surabaya. Tantri kemudian menjadi penyiar radio “Voice of Free Indonesia” (kini menjadi Voice of Indonesia, sebuah divisi otonom di bawah RRI) dan sempat menjadi penulis pidato bahasa Inggris pertama Bung Karno. Ia membuat beberapa siaran dalam bahasa Inggris dengan target pendengar barat, dan mendapat julukan “Surabaya Sue”. Di awal-awal kemerdekaan Indonesia, siaran radio memegang peranan penting untuk mengirim pesan-pesan bangsa terbaru ke seluruh dunia agar bangsa-bangsa di dunia mengenali kedaulatan Indonesia. Tantri tinggal di Indonesia selama 15 tahun, 1932 – 1947, dan sempat menjadi tawanan tentara Jepang karena tidak mau membantu mereka.

Pada tahun 1960, K’tut Tantri menerbitkan buku memoir yang berjudul “Revolt in Paradise”, yang menceritakan tentang kisah hidupnya di Indonesia. Selama tidak tinggal di Indonesia, Tantri menetap di Singapura, dan akhirnya tinggal di Australia hingga akhir hayatnya.

5. Rokus Bernardus Visser (1915 – 1977)

Visser lahir di Kanada dan merupakan seorang anak dari petani Tulip yang sukses. Selepas kuliah Visser membantu ayahnya berjualan bola lampu di London. Ketika Perang Dunia II dimulai, mereka tidak bisa pulang ke Belanda karena sedang dikuasai Jerman. Visser kemudian mendaftar menjadi tentara Belanda yang mengungsi ke Britania.

Rokus Bernardus Visser

Visser dianggap berprestasi, ia kemudian disekolahkan di Sekolah Perwira sebelum dikirim ke Asia. Selanjutnya ia dikirim ke Sekolah Pasukan Para di India. Karena di Belanda sedang kacau, sementara Jepang mundur dari Indonesia di tahun 1945, dibentuklah Sekolah Pasukan Terjun Payung (School voor Opleiding van Parachutisten) dan dikirim ke Jakarta. Di bawah kepemimpinannya, sekolah ini kemudian dipindah ke Jayapura.

Visser ternyata menyukai tinggal di Asia hingga meminta istrinya yang berkebangsaan Inggris beserta keempat anaknya untuk ikut ke Indonesia, sayang istrinya menolak. Visser pun kemudian menceraikannya.

Saat Visser kembali ke Indonesia di tahun 1947, sekolah pimpinannya ternyata sudah pindah ke Cimahi, Bandung. Pada tahun 1949, Belanda harus menyerahkan kekuasaannya kepada Indonesia. Visser pun memilih menjadi rakyat sipil dan tetap tinggal di Indonesia. Ia lalu pindah ke Bandung, bertani bunga di Lembang, memeluk agama Islam, menikahi kekasihnya yang orang Sunda, dan mengganti namanya menjadi Muhammad Idjon Djanbi.

Pengalamannya sebagai anggota pasukan komando telah menarik perhatian Kolonel A. E. Kawilarang yang akan merintis pasukan komando. Djanbi pun kemudian direkrut dan aktif di TNI dengan pangkat Mayor. Pasukan istimewa ini dibentuk pada tanggal 16 April 1952 dan Djanbi menjadi komandannya. Pasukan istimewa ini selanjutnya menjadi RPKAD (Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat) yang nantinya akan menjadi Kopassus (Komando Pasukan Khusus).

6. Jan Cornelis Princen (1925 – 2002)

Princen lahir di Den Haag, Belanda, dan tumbuh menjadi anak yang tidak menyukai segala bentuk penindasan atas nama hak asasi manusia. Nantinya ia akan terkenal dengan nama Poncke Prince dan Haji Johannes Cornelis (HJC) Princen.

Jan Princen

Saat Nazi Jerman menguasai Belanda, Seminari tempatnya sekolah diisolasi. Princen yang tak tahan pun berusaha kabur, tapi sayang ia tertangkap. Ia pun dikirim ke kamp konsentrasi di Vught dan Utrecht. Selepas dari kurungan Nazi Jerman, Princen kembali di penjara karena tidak mau ikut wajib militer. Oleh pemerintah Belanda Princen dipaksa masuk dinas militer dan dikirim ke Indonesia untuk kemudian bergabung dengan tentara kerajaan Hindia Belanda, KNIL.

Tanggal 26 September 1948, Princen meninggalkan KNIL di Jakarta dan bergabung dengan TNI. Tahun 1949 ia telah menjadi prajurit divisi Siliwangi kompi staf brigade infanteri 2, Grup Purwakarta. Ia aktif bergerilya ikut longmarch ke Jawa Barat dan menikah dengan seorang wanita Sunda bernama Odah. Sayang, Odah bersama anak yang dikandungnya meninggal ditembak tentara Belanda. Pada tahun 1949, Princen mendapat anugerah Bintang Gerilya dari Presiden Sukarno.

Pada tahun 1956 Princen politikus populer dan menjadi anggota parlemen nasional mewakili Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Tapi ia kemudian melihat banyak penyelewengan dan akhirnya mengeluarkan diri dari parlemen dan memilih untuk vokal terhadap pemerintah. Keluar masuk penjara sudah menjadi makanan Princen.

Kritik tidak hanya ditujukan kepada Orde Lama tapi juga Orde Baru. Ia kemudian mendirikan LPHAM (Lembaga Pembela Hak Asasi Manusia) di tahun 1966 dan kemudian di tahun 1981 ia ikut mendirikan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Seumur hidupnya ia dinilai sebagai pejuang HAM.

7. Bobby Earl Freeberg (1921 – 1948)

Earl Freeberg

Bobby Earl Freeberg atau sering disebut Bob Freeberg merupakan seorang pria kelahiran Parsons, Kansas, Amerika Serikat. Pada awalnya Bob berkarir sebagai pilot Angkatan Laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II yang kemudian menjadi pilot komersial di CALI (Commercial Air Lines Incorporated) Filipina. Bob kemudian menjadi pilot di Indonesia berkat hubungannya dengan Opsir Udara III Petit Muharto Kartodirdjo yang ditugaskan mencari penerbangan komersial yang siap menembus blokade udara Belanda. Penerbangan tersebut dibutuhkan untuk bertransaksi dengan negara luar, membawa persenjataan, obat, serta melakukan misi terjun payung dan membawa orang pemerintahan Indonesia.

Penerbangan pertamanya di Indonesia terjadi pada Maret 1947. Dipandu oleh Muharto, Bob terbang ke Maguwo, Yogyakarta. Dari hasilnya menerbangkan pesawat komersil, Bob menabung dan akhirnya mampu membeli pesawat pertamanya, Dakota C-47 dan terdaftar di Republik Indonesia sebagai RI-002. Bob tidak mendaftarkannya sebagai RI-001 karena selayaknya nama tersebut disanding oleh pesawat pertama yang dimiliki oleh Indonesia. Saat itu Indonesia tidak punya satu pun pesawat angkut.

Dari surat-suratnya yang dikirim ke keluarganya di Amerika, Bob bercerita tentang ketidakadilan yang diterima Indonesia dari Belanda. Bob terlibat tidak hanya karena ia dibayar, tapi juga secara emosional.

Tanggal 1 Oktober 1948 menjadi penerbangan terakhir Bob. Ia bersama sejumlah awak pesawat menghilang yang akhirnya diketahui jatuh di sekitar Bukit Pungur, Lampung Utara, dan ditemukan bangkainya pada April 1978. Meskipun rongsokan pesawat sudah ditemukan, kerangka Bob tidak pernah ditemukan. Hal ini menyebabkan kematian Bob masih misteri, apakah jatuh ditembak, atau meninggal di tahanan Belanda.

Di kalangan AURI, Bob merupakan pribadi yang lembut namun penuh disiplin tinggi dan tak pernah mengeluh. Oleh sebab itu ia banyak disukai orang. Di mata Presiden Sukarno, Bob adalah seorang teman dari Amerika, orang yang idealis dan ditakdirkan datang untuk membantu perjuangan Indonesia.

8. Biju Patnaik (1916 – 1997)

Biju Patnaik merupakan seorang politisi dan penerbang yang berasal dari India. Kedekatannya dengan Jawaharlal Nehru membuatnya memahami perjuangan Indonesia, memandang bahwa bangsa Indonesia dengan India ada kemiripan, serta ke depannya yang bisa menjadi sekutu.

Biju Pattnaik

Pada tanggal 21 Juli 1947, Presiden Sukarno memerintahkan Sjahrir untuk mendatangi Konferensi Inter-Asia pertama dan guna membangunkan opini publik internasional melawan Belanda. Saat itu Belanda berupaya untuk meredam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Sjahrir tidak bisa keluar karena tidak ada akses untuk keluar dari Indonesia. Akhirnya Nehru meminta Patnaik untuk mengeluarkan Sjahrir dari Indonesia. Patnaik dan istrinya segera terbang ke Jawa dan membawa Sjahrir ke India lewat Singapura.

Atas keberaniannya, Patnaik diberi penghargaan ‘Bhoomi Putra’, salah satu penghargaan tertinggi yang jarang diterima oleh orang asing. Dan pada tahun 1996, ketika Indonesia berulang tahun yang ke-50, Patnaik diberi penghargaan ‘Bintang Jasa Utama’.

9. John Coast (1916 – 1989)

John Coast lahir di Kent, Inggris. Awalnya ia adalah pegawai Departemen Luar Negeri Inggris yang kemudian bergabung dengan Indonesia sebagai atase media untuk Presiden Sukarno di masa perjuangan kemerdekaan. Ia menuangkan pengalamannya dalam buku berjudul Recruit to Revolution (1952).

John Coast

Pada tahun 1950 ia mengundurkan diri dari politik dan pindah ke Bali. Bersama istrinya yang berasal dari Jawa, Supianti, ia menulis dan mengorganisir penari serta musisi Bali ke Eropa dan Amerika yang ternyata sukses besar. Keberhasilannya ia tuangkan dalam buku berjudul Dancers of Bali (1953).

Coast kemudian kembali ke London di pertengahan 1950-an, menjadi manajer artis besar seperti Luciano Pavarotti, dan menjadi kontributor untuk beberapa surat kabar, juga membuat beberapa film tentang budaya Bali untuk BBC.

10. George McTurnan Kahnin (1918 – 2000)

Kahin merupakan seorang sejarahwan dari Amerika dan ilmuan politik. Ia merupakan salah satu ahli mengenai Asia Tenggara. Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang sejarah dari Universitas Harvard di tahun 1940.

McTurnan Kahnin

Antara tahun 1942 hingga 1945 Kahin menjadi tentara dimana ia dilatih dalam sebuah grup berisi 60 orang berparasut yang nantinya akan diturunkan di Indonesia yang tengah dikuasai Jepang. Tapi hal itu akhirnya dibatalkan. Saat inilah Kahin tertarik dengan Asia Tenggara dan belajar bahasa Indonesia serta Belanda.

Gelar Master dan Doktor nya diperoleh dengan materi utama berkaitan dengan Indonesia. Ia melakukan langsung penelitiannya di Indonesia hingga akhirnya ia ditangkap kolonial Belanda dan dikeluarkan dari Indonesia. Dalam penelitiannya tersebut ia sempat bertemu dengan tokoh-tokoh RI seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan lainnya.

Kahnin yang sudah terpikat dengan perjuangan Indonesia, ikut membantu orang-orang Indonesia yang ingin belajar di Amerika Serikat. Pada tahun 1991, Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas, memberinya penghargaan Bintang Jasa Pratama atas jasanya sebagai perintis kajian Indonesia di Amerika Serikat.

Sumber:
eltaher.org
http://jurnalmaritim.com/2015/03/mengenang-jasa-laksamana-muda-maeda-dalam-kemerdekaan-indonesia/
http://www.fimadani.com/kemerdekaan-indonesia-berawal-dari-mesir-dan-palestina/
https://en.wikipedia.org/wiki/Voice_of_Indonesia
http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/03/siapa-penulis-pidato-pertama-bung-karno-dalam-bahasa-inggris
https://id.wikipedia.org/wiki/Idjon_Djanbi
https://id.wikipedia.org/wiki/Poncke_Princen
http://historia.id/persona/pilot-berhati-lembut
http://www.smithsonianmag.com/history/an-american-who-died-fighting-for-indonesias-freedom-11433684/?no-ist
http://langitkata.blogspot.com/2011/04/tokoh-asing-pejuang-ri.html
http://www.johncoast.org/biography.htm
https://en.wikipedia.org/wiki/Biju_Patnaik
https://en.wikipedia.org/wiki/George_McTurnan_Kahin

Advertisements

0 Responses to “Historia : 10 Orang Asing Membantu Indonesia Merdeka”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,225,090 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: