07
Dec
16

MAPINDO : Pembudayaan Keteladanan Pandu Indonesia

Pembudayaan Keteladanan Pandu Indonesia‎ Tentang Bapak-bapak Pandu Indonesia

Ketua Dewean Harian Daerah 45 Jakarta, Pandji R Hadinoto/Foto nusantaranews (Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Apel Nasional Nusantara Bersatu berikat kepala Merah Putih 30 Nopember 2016 mengingatkan kembali peran Bapak-bapak Pandu Indonesia saat berjoang mengusung Persatuan Indonesia seperti melalui PAPI (Persatoean Antar Pandoe Indonesia, 23 Mei 1928), KBI (Kepandoean Bangsa Indonesia,15 Desember 1929) dan PRI (Pandoe Rakyat Indonesia, 29 Desember 1945).

Nama Indonesia dicetuskan pertama kali pada tahun 1850 oleh James Richardson Logan, seorang pengacara di Penang sekaligus pengamat sosial budaya. Nama Indonesia ini dilekatkan sebagai identitas lembaga2 pengusung nasionalisme pada tahun 1925 oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda, dan pada tahun 1927 oleh Partai Nasional Indonesia di Bandung.

Yang menarik dicermati pada pra Resoloesi Kerapatan Besar Pemoeda Indonesia 28 Oktober 1928 yang ikrarkan 1 (satu) Nusa, Bangsa dan Bahasa Indonesia, pada tanggal 23 Mei 1928 telah lebih dulu ada pertemuan antara wakil-wakil Kepandoean Nasional, seperti Moewardi dari Pandoe Kebangsaan, Mr. Soenarjo dari INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie), Mr Kasman dari NATIPIJ (Nationale Islamietische Padvinderij), Ramlan dari SIAP (Syarikat Islam Afdeling Padvinderij), yang berujung pembentukan federasi kepanduan nasional PAPI‎ (Persatoean Antar Pandoe-pandoe Indonesia).

‎Artinya semangat Persatuan Indonesia (Sila-3 Pancasila) telah jadi pijakan bagi tokoh2 penggiat Kepanduan kala itu sebagai akar perekat bagi kebersamaan mengusung KeIndonesiaan.

Langkah kebijakan Kepanduan Indonesia ini dilanjutkan dengan prakarsa pada tanggal 15 Desember 1929 di temu PAPI Batavia dengan usulan SOKI (Satoe Organisasi Kepandoean indonesia) berprinsip “pandoe yang satoe adalah saoedara pandoe yang lainnya, oleh karena itu seloeroeh pandoe haroes menjadi satoe” yang lalu ditindaklanjuti dengan fusi PK, INPO dan PPS (Pandoe Pemoeda Soematera) jadi KBI (Kepandoean Bangsa Indonesia) dan Moewardi dilantik jadi Komisaris Besar pada tanggal 8 Pebruari 1930.‎ KBI ini di era pendudukan militer Jepang pada tahun 1944 dibekukan.

27-29 Desember 1945 di Solo berlangsung Kongres Kesatoean Kepandoean Indonesia (dari 300 perwakilan Pandoe) membentuk Pandoe Rakyat Indonesia (PRI) yang kemudian diketuai Dr Moewardi.

Dalam konteks pasca Nusantara Bersatu 30 Nopember 2016, bijak juga Bapak-bapak Pandu Indonesia yaitu Moewardi, Soenarjo, Kasman, Ramlan dikenang pula sebagai perintis aksi-aksi penegakan Persatuan Indonesia sekaligus perkuatan bagi amanat Pandu Ibuku [lagu kebangsaan Indonesia Raya, WR Soepratman 28 Oktober 1928] termasuk H Agoes Salim selaku penggagas istilah Pandu pengganti istilah Padvinder [1928] dan H Mutahar yang juga dikenal sebagai Pandu penyelamat Bendera Pusaka [1945]

Intinya, Ke-7 nama-nama tokoh termaksud diatas yaitu 1) Moewardi, 2) Soenarjo‎, 3) Kasman, 4) Ramlan, 5) WR Soepratman, 6) H Agoes Salim, 7) H Mutahar direkomendasikan memperoleh pengakuan publik dan negara sebagai Bapak-bapak Pandu Indonesia.

Pembudayaan Keteladanan Bapak-bapak Pandu Indonesia termaksud diatas ditujukan kepada segenap Generasi Penerus Angkatan 45 (GPA45) agar senantiasa terbekali dengan karakter Persatuan Indonesia sebagai modal bermasyarakat, berbangsa dan bertanah-air Negara Kesatuan Republik Indonesia kini dan esok. (Pandji R Hadinoto)

*Penulis adalah Ketua, Majelis Pandu Indonesia dan Ketua, GPA45/DHD45 Jakarta

Aksi Nusantara Bersatu Ingatkan Bapak-Bapak Pandu Indonesia

Apel Nasional Nusantara Bersatu di Monas. Foto Dok. TMC Polda metro Jaya

‎NUSANTARANEWS.CO – Apel nasional Nusantara Bersatu dengan mengenakan ikat kepala merah putih, Rabu (30/11/2016), menurut Ketua Majelis Pandu Indonesia (MPI), Pandji R Hadinoto mengingatkannya akan Bapak-Bapak Pandu Indonesia saat berjuang mengusung persatuan Indonesia tahun 1928, 1929 dan 1945.

Dirinya menjelaskan bahwa nama Indonesia pertama kali dicetuskan tahun 1850 oleh James Richardson Logan. Seorang pengacara di Penang sekaligus pengamat sosial budaya. Nama Indonesia dilekatkan sebagai identitas lembaga-lemba pengusung nasionalisme pada tahun 1925 oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda, dan pada tahun 1927 oleh Partai Nasional Indonesia di Bandung.

Menarik lagi, kata Pandji, sebelum Resolusi Kerapatan Besar Pemuda Indonesia tahun 1928 yang ikrarkan satu Nusa, bangsa dan bahasa Indonesia, pada tanggal 23 Mei 1928 telah lebih dulu ada pertemuan antara wakil-wakil Kepandoean Nasional, seperti Moewardi dari Pandoe Kebangsaan, Mr. Soenarjo dari INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie), Mr Kasman dari NATIPIJ (Nationale Islamietische Padvinderij), Ramlan dari SIAP (Syarikat Islam Afdeling Padvinderij), yang berujung pembentukan federasi kepanduan nasional PAPI‎ (Persatoean Antar Pandoe-pandoe Indonesia).

“Artinya semangat persatuan Indonesia (sila ke-3 Pancasila) telah jadi pijakan bagi tokoh-tokoh penggiat Kepanduan kala itu sebagai akar perekat bagi kebersamaan mengusung keindonesiaan,” katanya kepada Nusantaranews, melalui siaran pers Rabu (30/11/2016) di Jakarta.

Lebih lanjut, langkah kebijakan Kepanduan Indonesia ini menurut Pandji dilanjutkan dengan prakarsa pada tanggal 15 Desember 1929.

“‎Dalam konteks pasca Nusantara Bersatu 30 November 2016, bijak juga Bapak-Bapak Pandu Indonesia yaitu Moewardi, Soenarjo, Kasman, Ramlan dikenang pula sebagai perintis aksi-aksi penegakan persatuan Indonesia,” kata Pandji R Hadinoto. (Adhon/Red)

Deklarasi WR Soepratman Bapak Pandu Indonesia Raya 1928
Jumat, 30 Mei 2014 – 00:12 WIB

0

Surabaya – Dalam rangka turut mendukung HarKitNas 20Mei14 dan wacana Propinsi Surabaya Raya, Jaringan Aspirasi Pandu Republik Indonesia (JAPRI) besama Wisata Indonesia Raya (WIRA) pada Kamis (29/5/2014) pukul 9.00 WIB menggelar acara deklarasi pahlawan nasonal WR Soepratman sebagai Bapak Pandu Indonesia Raya 1928.

Pendiri Pimpinan Pusat JAPRI, Dr Ir Pandji R Hadinoto MH mengatakan, semangat acara ini adalah perubahan pola pikir ‘memerintah’ ke ‘memandu’ rakyat bersama sahabat-sahabat Kaum Nasionalis Pancasila Indonesia berkerangka bina budaya karakter negara bangsa Indonesia berdasar amanat Penjelasan UUD 1945.

Deklarasi Pahlawan Nasional Wage Rudolf Soepratman Pandu Indonesia Raya 1928 dibarengi dengan acara Ziarahi Taman Makam Pahlawan Nasional WR Soepratman, Surabaya, serta Menyanyikan 3 (tiga) kuplet Indonesia Raya versi 1928.

Acara tersebut dihadiri juga oleh eksponen-eksponen Gerakan Rakyat Nasionalis Indonesia (GRNI) dari Surabaya, Sidoarjo dan Malang, Senyor dan Senyorita Alumni serta Badan Pengurus Gerakan Mahasiswa Surabaya (GMS) dan Pimpinan Koran Jatim. (ira)

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://m.edisinews.com/berita-deklarasi-wr-soepratman-bapak-pandu-indonesia-raya-1928.html#ixzz4S9BertX5

Alm Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia (2)
Jumat, 23 Januari 2015 – 10:13 WIB

0

Suara Pembaca :
Alm Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia 

30 Januari 1907 adalah hari lahir Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr Moewardi sesuai Surat Keputusan Presiden RI No 190/1964 tanggal 4 Agustus 1964.

Dalam konteks ditengah situasi dan kondisi kenegaraan Republik Indonesia terkini khususnya Keadilan dan Persatuan Indonesia kiranya strategik ditampilkan sosok kepemimpinan Patriot Indonesia yang telah berkontribusi signifikan di 2 (dua) tonggak sejarah Indonesia strategik yaitu Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Indonesia Merdeka 1945, untuk diteladani bersama baik oleh pemangku pemerintahan maupun oleh komunitas masyarakat sipil.

Sebagai sosok intelektual terekam dari rangkaian pendidikan formal seperti HIS (Hollandsch Inlandsche School, Kudus), ELS (Europesche Lagere School, Pati), STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandshe Aartsen, Jakarta), NiAS (Nederlandch Indische Arts School), GH (Geneeskundig Hoogeschool, Jakarta) yang berujung dokter spesialis THT di tahun 1939.

Sebagai sosok pejoang politik kebangsaan terjejak dari keorganisasian yang digeluti semisal PemRed Majalah Jong Java 1922; Ketua Jong Java Cabang Djakarta 1925; Utusan Jong Java di Kerapatan Besar Pemuda 28 Oktober 1928 ikrarkan Sumpah Pemuda; turut bentuk Indonesia Muda (IM) Desember 1928 (fusi Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun, Sangkoro Mudo); Ketua Barisan Pelopor (BP) Djakarta 1944; pimpinan BP amankan acara Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 di Jl Pegangsaan Timur 56 Jakarta dan Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945; Pemimpin Umum Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI, pengganti BP), Solo; turut bentuk Persatuan Perjuangan (PP) 5 Januari 1946 di Purwokerto; turut sebagai penggerak Bandung Lautan Api 23 Maret 1946 bersama BBRI Bandung (M Toha, AH Nasution, Suprayogi); pimpinan Kongres BBRI Pebruari 1948 di Solo, bersikap anti perundingan dengan Belanda dan anti Swapraja, pasca Perjanjian Renville 17 Januari 1948.

Sebagai sosok berjiwa kepemimpinan Pandu Nasionalistik ditapaki dari Nederlandsch Indische Padvinder Vereneging (NIPV) dan di tahun 1925 berprestasi Kelas-I (Kepala Pasukan, Ploeg Leider / Assistant Troep); sebagai pimpinan Jong Java Padvinderij (JJP) mengubah nama jadi Pandu Kebangsaan (PK 1925); inisiator Persatuan Antara Pandu Indonesia (PAPI 23 Mei 1928) bersama Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) dan Indonesische Nationale Padvinders Organisatie (INPO); penggagas prinsip “pandu yang satu adalah saudara pandu yang lainnya, oleh karena itu seluruh pandu harus menjadi satu” atau Satu Organisasi Kepanduan Indonesia (SOKI) di temu PAPI 15 Desember 1929; pembentuk dan Komisaris Besar Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI 13 September 1930) fusi dari PK, Pandu Pemuda Sumatera (PPS) dan INPO; pembentuk dan pimpinan Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI 30 April 1938) bersama Kepanduan Azas Katholik Indonesia (KAKI), NATIPIj dan Syarikat Islam Afdeling Padvinderij (SIAP); pimpinan Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (PERKINO-I 19-23 Juli 1941, Jogjakarta dan PERKINO-II 2-12 Pebruari 1943, Jakarta); inisiator Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia, September 1945, Jogjakarta; pimpinan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia 27-29 Desember 1945, Solo dan pembentuk serta Ketua Pandu Rakyat Indonesia (PRI 28 Desember 1945, yang diakui satu2nya organisasi kepanduan per Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No 93/Bag A, 1 Pebruari 1947).

Sebagai tokoh Patriot Indonesia, sayang saat sedang menjalankan profesi kedokterannya
pada 13 September 1948 di Solo, dinyatakan hilang yang diduga sebagai korban revolusi di era Perang Kemerdekaan 1945-1949.    Sebagai inisiator Pandu Kebangsaan 1925, dimana istilah Pandu untuk pertama kalinya digunakan di Indonesia dan disyairkan WR Soepratman “Pandoe Iboekoe” pada lagu kebangsaan Indonesia Raja 28 Oktober 1928 lalu bermuara serta berkiprah jiwai Gerakan Pramuka 1961-sekarang, maka layaklah Dr Moewardi berkehormatan Bapak Pandu Indonesia dan diteladani pemangku Republik Indonesia jelang peringatan hari lahirnya ke 107 pada 30 Januari 2015 yang akan datang.

Jakarta, 22 Januari 2015
Pandji R Hadinoto, MAPINDO
Pandji R Hadinoto,
MAPINDO – Majelis Pandu Indonesia
Politisi Keadilan dan Persatuan Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor www.jakarta45.wordpress.com

 


0 Responses to “MAPINDO : Pembudayaan Keteladanan Pandu Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,093,660 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: