08
Jun
16

Politik : Ada Peran Komunis dan IMF dalam Tumbangnya Soeharto

Ada Peran Komunis dan IMF dalam Tumbangnya Soeharto

Ada Peran Komunis dan IMF dalam Tumbangnya Soeharto
Fadli Zon.

Jakarta, Obsessionnews Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon membenarkan ada beberapa faktor yang menyebabkan jatuhnya Presiden Soeharto di masa reformasi. Salah satunya adalah kelompok komunis dan International Monetary Fund (IMF).

Peran komunis diakui ada dalam peristiwa 1988, di mana kelompok ini sejak awal tidak cocok dengan gaya kepemimpinan yang dipakai Soeharto. Namun, pengaruhnya tidak begitu besar.

“Memang ada kelompok kiri (komunis) yang berusaha seperti itu tapi pengaruhnya tidak besar,” katanya di DPR, Kamis (2/6/2016).

Sementara peran IMF berdasarkan pengakuan Managing Direktur IMF. Menurutnya, pada saat krisis moneter melanda sebagian wilayah Asia, IMF memang menolong negara-negara berkembang, namun tidak untuk Indonesia.

“Diciptakan krisis makin parah dan kita tidak ditolong. Indonesia diminta menaikkan harga BBM yang akhirnya memicu kerusuhan di beberapa kota,” ucap dia.

Selain dua alasan dia atas, Fadli juga menyebut kejatuhan Soeharto juga disebabkan oleh kuatnya gerakan mahasiswa dan juga masyarakat. Mereka sudah tidak menginginkan lagi Soeharto menjadi Presiden, karena pemerintahan yang korup.

Dalam Simposium Anti-Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (1/6/2016), anggota DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana alias Lulung,  sempat menyebut tumbangnya Soeharto karena ada pengaruh dari kelompok komunis. ‎ (Albar, @aal_albar)

Serangan 1Mar49

Selamat pagi !
Info Buku.

Telah terbit buku:
“SERANGAN UMUM 1 MARET 1949”
Perjuangan TNI, Diplomasi dan Rakyat.

306 + xxx halaman.

Penulis: Batara R. Hutagalung.
Penerbit: Matapadi, Yogyakarta
Tersedia di Toko Buku GRAMEDIA
Harga Rp. 65.000,-

=========

Sejak tahun 70-an hingga sekarang, terus menjadi kontroversi, siapa penggagas dan pemberi perintah rperistiwa yang dinamakan Serangan Umum 1 Maret 1949.

Di era Orde Baru, hanya dikenal bahwa penggagas, pemberi perintah dan pemegang kendali operasi militer tersebut adalah Letkol Suharto, Komandan Wehrkreis III yang membawahi Yogyakarta.

Setelah Presiden Suharto lengser, muncul versi kedua, bahwa penggagas, dsb. adalah Sultan Hamengku Buwono IX.

Di versi ketiga ini, tidak ada aktor tunggal dalam operasi militer RI terbesar di masa Perang Gerilya selama agresi militer belanda ke II.

Ini adalah operasi militer dengan garis komando dari mulai Panglima Besar Sudirman, yang melibatkan pimpinan sipil yang ikut bergerilya dan dukungan logistik dari rakyat.

Latar belakang dan Tujuan Serangan Umum 1 Maret 1949:

Pada 28 Januari 1949 PBB mengeluarkan Resolusi yang isinya  a.l. menyerukan kepada Belanda agar membebaskan para pemimpin Republik Indonesia yang ditahan oleh Belanda, dan kembali ke meja perundingan.

Belanda menolak dengan menyatakan, bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi, demikian juga tidak ada lagi kekuatan bersenjata pendukung RI.

Belanda tidak mau menyebut TNI.

Dewan Keamanan PBB rencananya akan bersidang lagi pada bulan Maret 1949 untuk membahas “The Indonesian Question”.

Penolakan Belanda dan rencana Sidang Dewan Keamanan PBB dapat didengar oleh pimpinan Republik Indonesia, baik militer maupun sipil, yang sedang melakukan Perang Gerilya.

Kepada Panglima Besar Sudirman yang waktu itu berada di dekat Pacitan, masuk berbagai informasi mengenai hal ini, yang dapat didengar melalui “Radio Rimbu”

Diputuskan untuk mengadakan serangan secara besar-besaran di wilayah Divisi I, II dan III, yang tidak dapat ditutup-tutupi oleh Belanda, dan harus diketahui oleh dunia internasional.

Operasi militer ini harus dilaksanakan sebelum Sidang Dewan Keamanan PBB di Lake Placid, USA.

Hal ini perlu dilakukan untuk memperkuat posisi delegasi Indonesia, dibawah pimpinan Lambertus Nicodemus Palar, dalam Sidang Dewan Keamanan PBB bulan Maret.

Serangan Umum adalah serangan yang dilakukan serentak di seluruh wilayah suatu Divisi, dan perintah diberikan oleh Panglima Divisi.

Divisi I, Jawa Timur dibawah Panglima Divisi Kol. Sungkono, Divisi II, Jawa Tengah Bagian Timur dibawah Panglima Divisi Kol. Gatot Subroto dan Divisi III, Jawa Tengah Bagian Barat dibawah Panglima Divisi Kol. Bambang Sugeng.

Pada 18 Februari 1949, di Markas Divisi III di lereng Gunung Sumbing digagas Serangan Umum di seluruh wilayah Divisi III, dengan suatu SERANGAN SPEKTAKULER terhadap Ibukota RI, Yogyakarta, yang diduduki oleh Belanda ketika melancarkan agresi militernya tanggal 19 Desember 1949.

Operasi militer terbesar selama Perang Gerilya melibatkan seluruh jajaran pimpinan militer dan sipil yang ikut bergerilya.

Unit medis dan paramedis melibatkan Palang Merah Indonesia.

Logistik (makanan dan minuman) selama berlangsungnya Perang Gerilya, disediakan oleh rakyat.

Pemerintah Darurat RI di Bukittinggi juga selalu mengeluarkan siaran yang menunjukkan eksistensi dari Pemerintah Indonesia di pengasingan (Government in exile).

Siaran-siaran dari Jawa, secara estafet diteruskan melalui pemancar di Playen Jawa Tengah, Banten, Bukittinggi, Kota Raja (sekarang banda Aceh) sampai ke Singapura dan New Delhi … kemudian sampai ke PBB di Lake Placid, USA.

Operasi militer dengan garis komando yang ketat, dan dukungan pemerintah sipil serta peran para diplomat RI di PBB berhasil meyakinkan dunia internasional, bahwa Republik Indonesia masih ada, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), sanggup melancarkan serangan besar, dan bahkan menduduki Ibukota Yogyakarta selama beberapa jam.

MERDEKA!

Misteri Kelahiran dan Kematian Soeharto

 

Pengantar


Tentu kita sudah banyak mengetahui tentang informasi inti dari sebuah materi hidup, dalam hal ini , peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik  artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ini berlaku umum bagi setiap organisme.

Pada dunia nyata cetak biru sebuah kejadian dapat ditemukan dengan mencari bentuk dasar dari kejadian tsb, untuk kemudian diberikan sebuah operasi yang mudah agar ditemukan maksud dari kejadian tsb. Hal ini disebut sebagai DNA kejadian. Berikut ini sebagai contoh DNA kejadian yang dibahas pada diri SOEHARTO untuk mengetahui makna dan maksud dari sebuah kejadian (baca juga Misteri Kelahiran dan Kematian Soekarno)

Soeharto


Perhatikan 2 gambar berikut ini yang memuat 121 (sama dengan Soekarno yang juga memuat 121, baca Misteri Kelahiran dan Kematian Soekarno)

misteri_kelahiran_soeharto

misteri_kematian_soeharto_sama_dengan_kelahiran_soekarno

Semua orang di indonesia, bahkan luar negeri, tentu mengenal Soeharto d, mengutip wikipedia, Soekarto, Jend. Besar TNI Purn. Haji Muhammad Soeharto, (ER, EYD: Suharto) (lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921 – meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008 pada umur 86 tahun) adalah Presiden Indonesia yang kedua (1967-1998), menggantikan Soekarno. Di dunia internasional, terutama di Dunia Barat, Soeharto sering dirujuk dengan sebutan populer “The Smiling General” (bahasa Indonesia: “Sang Jenderal yang Tersenyum”) karena raut mukanya yang selalu tersenyum.

Misteri Kelahiran Soeharto


DNA kejadian dapat diperoleh dari nama Soeharto dan kelahiran beliau, Perhatikan arti nama Soeharto dan tanggal lahirnya yang membentuk sebuah memori ingatan yang nantinya akan terjadi pada kelahiran  Soekarno dan kematian beliau sendiri.  Mengutip wikipedia,

Pada 8 Juni 1921, Sukirah melahirkan bayi laki-laki di rumahnya yang sederhana di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Kelahiran itu dibantu dukun bersalin bernama Mbah Kromodiryo yang juga adik kakek Sukirah, Mbah Kertoirono. Oleh ayahnya, Kertoredjo alias Wagiyo alias Panjang alias Kertosudiro bayi laki-laki itu diberi nama Soeharto. Dia adalah anak ketiga Kertosudiro dengan Sukirah yang dinikahinya setelah lama menduda. Dengan istri pertama, Kertosudiro yang menjadi petugas pengatur air desa atau ulu-ulu, dikaruniai dua anak. Perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama. Keduanya bercerai tidak lama setelah Soeharto lahir. Sukirah menikah lagi dengan Pramono dan dikaruniai tujuh anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo.

Belum genap 40 hari, bayi Soeharto dibawa ke rumah Mbah Kromo karena ibunya sakit dan tidak bisa menyusui. Mbah Kromo kemudian mengajari Soeharto kecil untuk berdiri dan berjalan. Soeharto juga sering diajak ke sawah. Sering, Mbah Kromo menggendong Soeharto kecil di punggung ketika sedang membajak sawah. Kenangan itu tidak pernah dilupakan Soeharto. Terlebih ketika kakeknya memberi komando pada kerbau saat membajak sawah. Karena dari situlah, Soeharto belajar menjadi pemimpin. Soeharto juga suka bermain air, mandi lumpur atau mencari belut.

misteri_kelahiran_soeharto
Ketika semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Soeharto sekolah ketika berusia delapan tahun, tetapi sering berpindah. Semula disekolahkan di Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean. Lalu, pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) lantaran ibu dan ayah tirinya, Pramono pindah rumah ke Kemusuk Kidul. Kertosudiro kemudian memindahkan Soeharto ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Soeharto dititipkan di rumah bibinya yang menikah dengan seorang mantri tani bernama Prawirowihardjo. Soeharto diterima sebagai putra paling tua dan diperlakukan sama dengan putra-putri Prawirowihardjo. Soeharto kemudian disekolahkan dan menekuni semua pelajaran, terutama berhitung. Dia juga mendapat pendidikan agama yang cukup kuat dari keluarga bibinya.

Kegemaran bertani tumbuh selama Soeharto menetap di Wuryantoro. Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian. Sepulang sekolah, Soeharto belajar mengaji di sanggar bersama teman-temannya. Belajar mengaji bahkan dilakukan sampai semalam suntuk. Ia juga aktif di kepanduan Hizbul Wathan dan mulai mengenal para pahlawan seperti Raden Ajeng Kartini dan Pangeran Diponegoro dari sebuah koran yang sampai ke desa. Setamat Sekolah Rendah (SR) empat tahun, Soeharto disekolahkan oleh orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri. Setelah berusia 14 tahun, Soeharto tinggal di rumah Hardjowijono. Pak Hardjowijono adalah teman ayahnya yang pensiunan pegawai kereta api. Hardjowijono juga seorang pengikut setia Kiai Darjatmo, tokoh agama terkemuka di Wonogiri waktu itu.

Karena sering diajak, Soeharto sering membantu Kiai Darjatmo membuat resep obat tradisional untuk mengobati orang sakit. Soeharto kembali ke kampung asalnya, Kemusuk untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta. Itu dilakukannya karena di sekolah itu siswanya boleh mengenakan sarung dan tanpa memakai alas kaki (sepatu).

Setamat SMP, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai karena kondisi ekonomi. Soeharto pun berusaha mencari pekerjaan ke sana ke mari, namun gagal. Ia kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Di sana, ia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volk-bank). Tidak lama kemudian, dia minta berhenti.

Suatu hari pada tahun 1942, Soeharto membaca pengumuman penerimaan anggota Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL). KNIL adalah tentara kerajaan Belanda. Ia mendaftarkan diri dan diterima menjadi tentara. Waktu itu, ia hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan, karena Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke Dusun Kemusuk. Justru di sinilah, karier militernya dimulai.

Sekali lagi perhatikan ilustrasi gambar berikut ini, dimana kelahiran dan kematian beliau memuat sebuah simbol 121 yang teratur, tiada lain sebuah 121 yang merupakan sebuah pesan universal, di-ingat oleh banyak manusia sebagai pengemban amanah,

makna_121_asmaul_husna_dan_kitab_suciIngatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata:  “Mengapa Engkau hendak menjadikan  di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman:  “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2 ayat 30)

misteri_kelahiran_seharto_222Sebuah simbol 222 yang tentunya mengacu pada Soeharto adalah Presiden ke 2, dimana nama Beliau membentuk 101, yang merupakan sebuah manifestasi kepercayaan tuhan kepada soeharto untuk memimpin negeri, 99 sebagai Asmaul Hsuna + 2 =101 sebagai nama Soeharto. Sebuah 222 yang lain merupakan memori ingatan akan wahyu (Wahyu Diturunkan 22 tahun 2 bulan dan 22 hari),

Misteri G 30 S PKI


DNA kejadian dapat diperoleh dari sebuah peristiwa yang memunculkan tokoh Soeharto.  Mengutip wikipedia,

misteri_g_30_s_membentuk_33

Pada 8 Juni 1921, Sukirah melahirkan bayi laki-laki di rumahnya yang sederhana di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Kelahiran itu dibantu dukun bersalin bernama Mbah Kromodiryo yang juga adik kakek Sukirah, Mbah Kertoirono. Oleh ayahnya, Kertoredjo alias Wagiyo alias Panjang alias Kertosudiro bayi laki-laki itu diberi nama Soeharto. Dia adalah anak ketiga Kertosudiro dengan Sukirah yang dinikahinya setelah lama menduda. Dengan istri pertama, Kertosudiro yang menjadi petugas pengatur air desa atau ulu-ulu, dikaruniai dua anak. Perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama. Keduanya bercerai tidak lama setelah Soeharto lahir. Sukirah menikah lagi dengan Pramono dan dikaruniai tujuh anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo.

Belum genap 40 hari, bayi Soeharto dibawa ke rumah Mbah Kromo karena ibunya sakit dan tidak bisa menyusui. Mbah Kromo kemudian mengajari Soeharto kecil untuk berdiri dan berjalan. Soeharto juga sering diajak ke sawah. Sering, Mbah Kromo menggendong Soeharto kecil di punggung ketika sedang membajak sawah. Kenangan itu tidak pernah dilupakan Soeharto. Terlebih ketika kakeknya memberi komando pada kerbau saat membajak sawah. Karena dari situlah, Soeharto belajar menjadi pemimpin. Soeharto juga suka bermain air, mandi lumpur atau mencari belut.

Ketika semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Soeharto sekolah ketika berusia delapan tahun, tetapi sering berpindah. Semula disekolahkan di Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean. Lalu, pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) lantaran ibu dan ayah tirinya, Pramono pindah rumah ke Kemusuk Kidul. Kertosudiro kemudian memindahkan Soeharto ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Soeharto dititipkan di rumah bibinya yang menikah dengan seorang mantri tani bernama Prawirowihardjo. Soeharto diterima sebagai putra paling tua dan diperlakukan sama dengan putra-putri Prawirowihardjo. Soeharto kemudian disekolahkan dan menekuni semua pelajaran, terutama berhitung. Dia juga mendapat pendidikan agama yang cukup kuat dari keluarga bibinya.

Kegemaran bertani tumbuh selama Soeharto menetap di Wuryantoro. Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian. Sepulang sekolah, Soeharto belajar mengaji di sanggar bersama teman-temannya. Belajar mengaji bahkan dilakukan sampai semalam suntuk. Ia juga aktif di kepanduan Hizbul Wathan dan mulai mengenal para pahlawan seperti Raden Ajeng Kartini dan Pangeran Diponegoro dari sebuah koran yang sampai ke desa. Setamat Sekolah Rendah (SR) empat tahun, Soeharto disekolahkan oleh orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri. Setelah berusia 14 tahun, Soeharto tinggal di rumah Hardjowijono. Pak Hardjowijono adalah teman ayahnya yang pensiunan pegawai kereta api. Hardjowijono juga seorang pengikut setia Kiai Darjatmo, tokoh agama terkemuka di Wonogiri waktu itu.

Karena sering diajak, Soeharto sering membantu Kiai Darjatmo membuat resep obat tradisional untuk mengobati orang sakit. Soeharto kembali ke kampung asalnya, Kemusuk untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta. Itu dilakukannya karena di sekolah itu siswanya boleh mengenakan sarung dan tanpa memakai alas kaki (sepatu).

Setamat SMP, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai karena kondisi ekonomi. Soeharto pun berusaha mencari pekerjaan ke sana ke mari, namun gagal. Ia kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Di sana, ia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volk-bank). Tidak lama kemudian, dia minta berhenti.

Suatu hari pada tahun 1942, Soeharto membaca pengumuman penerimaan anggota Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL). KNIL adalah tentara kerajaan Belanda. Ia mendaftarkan diri dan diterima menjadi tentara. Waktu itu, ia hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan, karena Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke Dusun Kemusuk. Justru di sinilah, karier miPada 1 Juni 1940, ia diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah. Setelah enam bulan menjalani latihan dasar, ia tamat sekolah militer sebagai lulusan terbaik dan menerima pangkat kopral. Ia terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong serta resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945.

Dia bergabung dengan pasukan kolonial Belanda, KNIL. Saat Perang Dunia II berkecamuk pada 1942, ia dikirim ke Bandung untuk menjadi tentara cadangan di Markas Besar Angkatan Darat selama seminggu. Setelah berpangkat sersan tentara KNIL, dia kemudian menjadi komandan peleton, komandan kompi di dalam militer yang disponsori Jepang yang dikenal sebagai tentara PETA, komandan resimen dengan pangkat mayor, dan komandan batalyon berpangkat letnan kolonel.

Setelah Perang Kemerdekaan berakhir, ia tetap menjadi Komandan Brigade Garuda Mataram dengan pangkat letnan kolonel. Ia memimpin Brigade Garuda Mataram dalam operasi penumpasan pemberontakan Andi Azis di Sulawesi. Kemudian, ia ditunjuk sebagai Komadan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) Sektor Kota Makassar yang bertugas mengamankan kota dari gangguan eks KNIL/KL.

Pada 1 Maret 1949, ia ikut serta dalam serangan umum yangberhasil menduduki Kota Yogyakarta selama enam jam. Inisiatif itu muncul atas saran Sri Sultan Hamengkubuwono IX kepada Panglima Besar Soedirman bahwa Brigade X pimpinan Letkol Soeharto segera melakukan serangan umum di Yogyakarta dan menduduki kota itu selama enam jam untuk membuktikan bahwa Republik Indonesia (RI) masih ada.

Pada usia sekitar 32 tahun, tugasnya dipindahkan ke Markas Divisi dan diangkat menjadi Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan kolonel (1 Maret 1953). Pada 3 Juni 1956, ia diangkat menjadi Kepala Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro di Semarang. Dari Kepala Staf, ia diangkat sebagai pejabat Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro. Pada 1 Januari 1957, pangkatnya dinaikkan menjadi kolonel.

Lembaran hitam juga sempat mewarnai lembaran kemiliterannya. Ia dipecat oleh Jenderal Nasution sebagai Pangdam Diponegoro. Peristiwa pemecatan pada 17 Oktober 1959 tersebut akibat ulahnya yang diketahui menggunakan institusi militernya untuk meminta uang dari perusahaan-perusahan di Jawa Tengah. Kasusnya hampir dibawa ke pengadilan militer oleh Kolonel Ahmad Yani[butuh rujukan]. Atas saran Jendral Gatot Subroto saat itu, dia dibebaskan dan dipindahkan ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung, Jawa Barat. Pada usia 38 tahun, ia mengikuti kursus C SSKAD (Sekolah Staf dan Komando AD) di Bandung dan pangkatnya dinaikkan menjadi brigadir jenderal pada 1 Januari 1960. Kemudian, dia diangkat sebagai Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat di usia 39 tahun.

Pada 1 Oktober 1961, jabatan rangkap sebagai Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD) yang telah diembannya ketika berusia 40 tahun bertambah dengan jabatan barunya sebagai Panglima Kohanudad (Komando Pertahanan AD). Pada tahun 1961 tersebut, ia juga mendapatkan tugas sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Beograd, Paris (Perancis), dan Bonn (Jerman). Di usia 41 tahun, pangkatnya dinaikkan menjadi mayor jenderal (1 Januari 1962) dan menjadi Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan merangkap sebagai Deputi Wilayah Indonesia Timur di Makassar. Sekembalinya dari Indonesia Timur, Soeharto yang telah naik pangkat menjadi mayor jenderal, ditarik ke markas besar ABRI oleh Jenderal A.H. Nasution. Di pertengahan tahun 1962, Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) hingga 1965.

Sekitar setahun kemudian, tepatnya, 2 Januari 1962, Brigadir Jenderal Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Mayor Jenderal Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Setelah diangkat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pada 1 Mei 1963, ia membentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk mengimbangi G-30-S yang berkecamuk pada 1 Oktober 1965. Dua hari kemudian, tepatnya 3 Oktober 1965, Mayjen Soeharto diangkat sebagai Panglima Kopkamtib. Jabatan ini memberikan wewenang besar untuk melakukan pembersihan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai pelaku G-30-S/PKI.iternya dimulai.

Perhatikanlah bahwa peristiwa G 30 S PKI membentuk sebuan DNA kejadian berupa 33, sebuah peristiwa titik tolak dari Soeharto dan titik balik dari Soekarno, lihatlah titik balik Soekarno terhadap cita-cita negeri yang mulya terumuskan dalam PANCASILA

kelahiran_soekarno_23_dan_pancasila_76_membentuk_99Ketika G 30 S PKI dengan kode DNA kejadian 33, maka cita-cita negeri yang tertuang sebagai nilai 99 agar senantiasa dekat padaNya, terkoyak akibat G 30 S PKI yang membentuk 33, hingga untuk melengkapinya diperlukan sebuah 66 yang akan diemban oleh Soeharto (penjelasan dibawah akan melukiskan bagaimana Soeharto mengemban 66 ini)

Misteri Super Semar


soeharto_dan_angka27Titik tolak Soeharto dimulai dengan G 30 S PKI dan diterimanya SUPERSEMAR,mengutip wikipedia,

Pada pagi hari 1 Oktober 1965, beberapa pasukan pengawal Kepresidenan, Tjakrabirawa di bawah Letnan Kolonel Untung Syamsuri bersama pasukan lain menculik dan membunuh enam orang jendral. Pada peristiwa itu Jendral A.H. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Hankam dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata berhasil lolos. Satu yang terselamatkan, yang tidak menjadi target dari percobaan kudeta adalah Mayor Jendral Soeharto, meski menjadi sebuah pertanyaan apakah Soeharto ini terlibat atau tidak dalam peristiwa yang dikenal sebagai G-30-S itu. Beberapa sumber mengatakan, Pasukan Tjakrabirawa yang terlibat itu menyatakan bahwa mereka mencoba menghentikan kudeta militer yang didukung oleh CIA yang direncanakan untuk menyingkirkan Presiden Soekarno dari kekuasaan pada “Hari ABRI”, 5 Oktober 1965 oleh badan militer yang lebih dikenal sebagai Dewan Jenderal.

Peristiwa ini segera ditanggapi oleh Mayjen Soeharto untuk segera mengamankan Jakarta, menurut versi resmi sejarah pada masa Orde Baru, terutama setelah mendapatkan kabar bahwa Letjen Ahmad Yani, Menteri / Panglima Angkatan Darat tidak diketahui keberadaannya. Hal ini sebenarnya berdasarkan kebiasaan yang berlaku di Angkatan Darat bahwa bila Panglima Angkatan Darat berhalangan hadir, maka Panglima Kostrad yang menjalankan tugasnya. Tindakan ini diperkuat dengan turunnya Surat Perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberikan kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil segala tindakan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Langkah yang diambil Soeharto adalah segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sekalipun sempat ditentang Presiden Soekarno, penangkapan sejumlah menteri yang diduga terlibat G-30-S (Gerakan 30 September). Tindakan ini menurut pengamat internasional dikatakan sebagai langkah menyingkirkan Angkatan Bersenjata Indonesia yang pro-Soekarno dan pro-Komunis yang justru dialamatkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia di mana jajaran pimpinannya khususnya Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Omar Dhani yang dinilai pro Soekarno dan Komunis, dan akhirnya memaksa Soekarno untuk menyerahkan kekuasaan eksekutif. Tindakan pembersihan dari unsur-unsur komunis (PKI) membawa tindakan penghukuman mati anggota Partai Komunis di Indonesia yang menyebabkan pembunuhan sistematis sekitar 500 ribu “tersangka komunis”, kebanyakan warga sipil, dan kekerasan terhadap minoritas Tionghoa Indonesia. Soeharto dikatakan menerima dukungan CIA dalam penumpasan komunis. Diplomat Amerika 25 tahun kemudian mengungkapkan bahwa mereka telah menulis daftar “operasi komunis” Indonesia dan telah menyerahkan sebanyak 5.000 nama kepada militer Indonesia. Been Huang, bekas anggota kedutaan politik AS di Jakarta mengatakan di 1990 bahwa: “Itu merupakan suatu pertolongan besar bagi Angkatan Bersenjata. Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan saya kemungkinan memiliki banyak darah di tangan saya, tetapi tidak seburuk itu. Ada saatnya di mana anda harus memukul keras pada saat yang tepat.” Howard Fenderspiel, ahli Indonesia di State Department’s Bureau of Intelligence and Research di 1965: “Tidak ada yang peduli, selama mereka adalah komunis, bahwa mereka dibantai. Tidak ada yang bekerja tentangnya.”1 Dia mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia dalam rangka membebaskan sumber daya di militer.

Setelah dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat pada 14 Oktober 1965, ia segera membubarkan PKI dan ormas-ormasnya. Tepat 11 Maret 1966, dia menerima Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno melalui tiga jenderal, yaitu Basuki Rachmat, Amir Machmud, dan M Yusuf. Isi Supersemar adalah memberikan kekuasaan kepada Soeharto untuk dan atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Panglima Besar Revolusi agar mengambil tindakan yang dianggap perlu demi terjaminnya keamanan, ketenangan, serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi. Sehari kemudian, 12 Maret 1966, Menpangad Letjen Soeharto membubarkan PKI dan menyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS pada Maret 1967, Soeharto yang telah menerima kenaikan pangkat sebagai jenderal bintang empat pada 1 Juli 1966 ditunjuk sebagai pejabat presiden berdasarkan Tap MPRS No XXXIII/1967 pada 22 Februari 1967. Selaku pemegang Ketetapan MPRS No XXX/1967, Soeharto kemudian menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan dari Presiden Soekarno. Melalui Sidang Istimewa MPRS, pada 7 Maret 1967, Soeharto ditunjuk sebagai pejabat presiden sampai terpilihnya presiden oleh MPR hasil pemilihan umum.

Jenderal Soeharto ditetapkan sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967 setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (NAWAKSARA) ditolak MPRS. Kemudian, Soeharto menjadi presiden sesuai hasil Sidang Umum MPRS (Tap MPRS No XLIV/MPRS/1968) pada 27 Maret 1968. Selain sebagai presiden, ia juga merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan/Keamanan. Pada 1 Juni 1968 Lama. Mulai saat ini dikenal istilah Orde Baru. Susunan kabinet yang diumumkan pada 10 Juni 1968 diberi nama Kabinet Pembangunan “Rencana Pembangunan Lima Tahun” I. Pada 15 Juni 1968, Presiden Soeharto membentuk Tim Ahli Ekonomi Presiden yang terdiri atas Prof Dr Widjojo Nitisastro, Prof Dr Ali Wardhana, Prof Dr Moh Sadli, Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr Subroto, Dr Emil Salim, Drs Frans Seda, dan Drs Radius Prawiro.

DNA kejadian, kelahiran, serangan umum 1 maret 1949, super semar 11 maret 1966 dan kematian beliau semua mengandung 27, ada apakah 27 ini yang begitu penting bagi Soeharto ?,

  1.  Kelahiran 8-juni-1921 (8+6+1+9+2+1=27)
  2. Serangan Umum 1 Maret 1949 (1+3+1+9+4+9=27)
  3. SuperSemar 11-maret-1966 (1+1+3+1+9+6+6=27)
  4. Kematian 27-januari-2008 (2+7+1+2+0+0+8=20)
  5. Sebuah kode unik, 27+27+27+20 =101, Nama Soeharto membentuk susunan abjad, S=19,O=15,E=5,H=8,A=1,R=18,T=20 dan O=15, kesemuanya berjumlah 19+15+5+ 8+1+18+20+15=101

Soeharto & Golkar


Perhatikan gambar ini sebagai titik tolak pak Harto, yang memuat simbol DNA kejadian 33 dibawah ini

misteri_g_30_s_membentuk_33

Mengutipwikipedia,

Pada 22 Maret 1978, Soeharto dilantik kembali presiden untuk periode ketiga kalinya dan Adam Malik sebagai wakil presiden. Sidang Umum MPR 1 Maret 1983 memutuskan memilih kembali Soeharto sebagai presiden dan Umar Wirahadikusumah sebagai wakil presiden. Melalui Tap MPR No V tahun 1983, MPR mengangkat Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Republik Indonesia. Pada 16 Maret 1983, Presiden Soeharto mengumumkan susunan Kabinet Pembangunan IV yang terdiri atas 21 menteri, tiga menteri koordinator, delapan menteri muda, dan tiga pejabat setingkat menteri. Pada 1 Januari 1984, Presiden Soeharto mengisi formulir keanggotaan Golkar dan sejak itu ia resmi menjadi anggota Golkar.

Perhatikanlah nama pak Harto dan Golkar membentuk sebuah nilai 66 dari pasangan 33 pada DNA kejadian G 30 S PKI., perhatikan gambar dibawah ini,

SOEHARTO & GOLKAR

Sebuah hal yang sempurna ketika G 30 S PKI yang memunculkan DNA kejadian sebagai 33 akan berpasangan dengan GOLKAR yang membentuk DNA kejadian 66 dengan Soeharto, hingga membentuk 99 sebagai ingatan agar dekat kepadaNya. Kesemuanya ini mewujudkan cita-cita bangsa sebagai negeri yang (baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghofur

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda  di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. : “Makanlah olehmu dari rezki yang  Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.  adalah negeri yang baik dan  adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghofur).’ (As-Saba’ 15)

Kejatuhan Soeharto


Seiring perjalanan waktu Soeharto dan GOLKAR yang terus menerus diberi amanah untuk memimpin negeri, sebuah peristiwa kelam yang kembali terulang, mengutip wikipedia,

Soeharto yang mengawali kekuasaannya sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967 dan menjadi presiden pada 27 Maret 1968 terus menggenggam jabatan itu selama 31 tahun. Semula ada yang memperkirakan bahwa Soeharto akan menolak pencalonannya kembali sebagai presiden untuk periode yang keenam pada tahun 1998 setelah istrinya meninggal dunia pada 28 April 1996. Perkiraan itu ternyata keliru. Ketika usianya mencapai 75 tahun, ia bukan saja bersedia untuk dicalonkan kembali tetapi menerima untuk diangkat kembali sebagai presiden untuk periode 1998-2003. Ia menerima penganugerahan Bintang Lima atau Pangkat Jenderal Besar saat berusia 76 tahun (39 September 1997).

Pada 25 Juli 1996, Presiden Soeharto menerima PDI pimpinan Soerjadi dan menolak kepemimpinan Megawati Soekarnoputri untuk memimpin Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Dua hari kemudian terjadi peristiwa 27 Juli berdarah.

Krisis moneter yang melanda Asia pada tahun 1997 menerpa juga ke Indonesia. Bahkan, krisis itu menerjang juga sektor krisis ekonomi. Pada 8 Oktober 1997, Presiden meminta bantuan IMF dan Bank Dunia untuk memperkuat sektor keuangan dan menyatakan badai pasti berlalu. Presiden minta seluruh rakyat tetap tabah dalam menghadapi gejolak krisis moneter (29 November 1997).

Di tengah krisis ekonomi yang parah dan adanya penolakan yang cukup tajam, pada 10 Maret 1998, MPR mengesahkan Soeharto sebagai presiden untuk ketujuh kalinya. Kali ini, Prof Ing BJ Habibie sebagai wakil presiden. Pada 17 Maret 1998, ia menyumbangkan seluruh gaji dan tunjangannya sebagai presiden dan meminta kerelaan para pejabat tinggi lainnya untuk menyerahkan gaji pokoknya selama satu tahun dalam rangka krisis moneter.

Menghadapi tuntutan untuk mundur, pada 1 Mei 1998, Soeharto menyatakan bahwa reformasi akan dipersiapkan mulai tahun 2003. Ketika di Mesir pada 13 Mei 1998, Presiden Soeharto menyatakan bersedia mundur kalau memang rakyat menghendaki dan tidak akan mempertahankan kedudukannya dengan kekuatan senjata. Sebelas menteri bidang ekonomi dan industri (ekuin) Kabinet Pembangunan VII mengundurkan diri (20 Mei 1998). Krisis moneter dan ekonomi benar-benar menggerogoti sistem kepemimpinannya. Dampaknya, Soeharto tidak bisa bertahan di pucuk kepemimpinan negeri.

Hanya berselang 70 hari setelah diangkat kembali menjadi presiden untuk periode yang ketujuh kalinya, Soeharto terpaksa mundur dari jabatannya sebagai presiden. Presiden Soeharto lengser tepat 21 Mei 1998. Tepat pukul 09.00 WIB (Waktu Indonesia Barat), Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai presiden. Layar kaca televisi saat itu menyiarkan secara langsung detik per detik proses pengunduran dirinya.

Tanggal 12-20 Mei 1998 menjadi periode yang teramat panjang. Bagaimanapun, masa-masa itu kekuasaannya semakin tergerus oleh berbagai aksi dan peristiwa. Aksi mahasiswa menyebar ke seantero negeri. Ribuan mahasiswa menggelar aksi keprihatinan di berbagai tempat. Mahasiswa Trisakti, Jakarta mengelar aksinya tidak jauh dari kampus mereka. Peserta aksi mulai keluar dari halaman kampus dan memasuki jalan artileri serta berniat datang ke Gedung MPR/DPR yang memang sangat stategis. Tanggal 12 Mei 1998 sore, terdengar siaran berita meninggalnya empat mahasiswa Trisakti.

Sehari kemudian, tanggal 13 Mei 1998, jenasah keempat mahasiswa yang tewas diberangkatkan ke kediaman masing-masing. Mahasiswa yang hadir menyanyikan lagu Gugur Bunga. Tewasnya para mahasiswa disiarkan secara luas melalui pemberitaan radio, televise, dan surat kabar. Tewasnya keempat mahasiswa seakan sebagai ledakan suatu peristiwa yang lebih besar. Kamis, 14 Mei 1998, ibukota negara (Jakarta) dilanda kerusuhan hebat. Tanggal 15 Mei 1998, pesawat yang membawa Presiden Soeharto dan rombongan mendarat menjelang pukul 05.00 WIB pagi di pangkalan udara utama TNI AU Halim Perdanakusuma dari kunjungan ke Kairo, Mesir untuk mengikuti Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 15 (Group 15/G-15).

Tanggal 16 Mei 1998, Presiden mengadakan serangkaian pertemuan termasuk berkonsultasi dengan unsure pimpinan DPR. Tanggal 17 Mei 1998, Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya Abdul Latief mengajukan surat pengunduran diri sebagai menteri. Tanggal 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa mendatangi Gedung MPR/DPR. Aksi tersebut berakhir seiring dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Meninggalnya Soeharto


misteri_kematian_soeharto_sama_dengan_kelahiran_soekarnoSeiring berjalan waktu

Setelah Soeharto resmi mundur dari jabatannya sebagai presiden, berbagai elemen masyarakat mulai menuntut agar digelar pengusutan dan pengadilan atas mantan presiden yang bekuasa paling lama di Indonesia itu. Pada 1 September 1998, tim Kejaksaan Agung mengumumkan adanya indikasi penggunaan uang yayasan di bawah pemerintahan mantan Presiden Soeharto. Melalui Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada 6 September 1998, Soeharto muncul dan menyatakan bahwa dia tidak mempunyai kekayaan di luar negeri.

Jaksa Agung AM Ghalib dan Menko Wasbang/PAN Hartarto menemuinya di Jalan Cendana (Jakarta) untuk mengklarifikasi penyataan tersebut (21 September 1998). Pada 21 November 1998, Fraksi Karya Pembangunan (FKP) mengusulkan kepada pemerintah agar menetapkan mantan Presiden Soeharto sebagai tahanan kota. Ini merupakan tindak awal pengusutan harta dan kekayaan Soeharto yang diduga berasal dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN).

Pada 3 Desember 1998, Presiden BJ Habibie menginstruksikan Jaksa Agung AM Ghalib segera mengambil tindakan hukum memeriksa mantan Presiden Soeharto. Pada 9 Desember 1998, Soeharto diperiksa tim Kejaksaan Agung di Kejaksaan Tinggi Jakarta sehubungan dengan dana yayasan, program mobil nasional, kekayaan Soeharto di luar negeri, dan kasus Tapos. Majalah Time melansir berita tentang kekayaan Soeharto di luar negeri yang mencapai US$15 miliar (22 Mei 1999). Pada 27 Mei 1999, Soeharto menyerahkan surat kuasa khusus kepada Jaksa Agung AM Ghalib untuk menelisik kekayaannya di Swiss dan Austria, seperti diberitakan Majalah Time. Pada 2 Juni 1999, Soeharto mengadukan Majalah Time ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia atas tuduhan memfitnah pada pemberitaannya. Soeharto menuntut ganti rugi sekitar 27 miliar dollar AS.

Soeharto memiliki dan mengetuai tujuh buah yayasan, yaitu Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, Yayasan Supersemar, Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais), Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti (Dakab), Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Yayasan Trikora. Pada 1995, Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 90 Tahun 1995. Keppres ini menghimbau para pengusaha untuk menyumbang 2 persen dari keuntungannya untuk Yayasan Dana Mandiri.

Hasil penyidikan kasus tujuh yayasan Soeharto menghasilkan berkas setebal 2.000-an halaman. Berkas ini berisi hasil pemeriksaan 134 saksi fakta dan 9 saksi ahli, berikut ratusan dokumen otentik hasil penyitaan dua tim yang pernah dibentuk Kejaksaan Agung, sejak tahun 1999.

Menurut Transparency International, Soeharto menggelapkan uang dengan jumlah terbanyak dibandingkan pemimpin dunia lain dalam sejarah dengan perkiraan 15–35 miliar dolar A.S. selama 32 tahun masa pemerintahannya.[9]

Pada 12 Mei 2006, bertepatan dengan peringatan sewindu Tragedi Trisakti, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya telah mengeluarkan Surat Keputusan Penghentian Penuntutan (SKPP) perkara mantan Presiden Soeharto, yang isinya menghentikan penuntutan dugaan korupsi mantan Presiden Soeharto pada tujuh yayasan yang dipimpinnya dengan alasan kondisi fisik dan mental terdakwa yang tidak layak diajukan ke persidangan. SKPP itu dikeluarkan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan pada 11 Mei 2006, namun SKPP ini lalu dinyatakan tidak sah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 12 Juni 2006.

Sebuah perjalanan panjang pengemban amanah Tuhan untuk memimpin negeri, akhirnya meninggal sama persis dengan ketika beliau lahir (baca [Misteri Kematian Soeharto] Mengapa Tepat pkl 01.10 PM ?) yang memuat 222 sebagaimana simbol misteri_kelahiran_seharto_222Dan setahun sebelum beliau meninggal dunia, maka bencana demi bencana terjadi tahun 2007 yang membentuk 222, sebagai berikut ini

Perhatikan pak Harto meninggal tgl 27 januari 2008, yang beliau lahir 8 Juni 1921, artinya belum genap 133 hari (selang 27 januari 2008 ke 8 juni 2008 adalah 133 hari dari 87 tahun usia pak Harto), Sebuah simbol 133=1+3+3=7 dan 87=8+7=15, sekali lagi 7+15=22, sebuah simbol 22 pada kelahiran dan kematian pak Harto.,,

[Update … 22 ini muncul dan terbukti sebagai peristiwa besar dunia,  lihat film ini,

Sebuah siklus yang telah dituliskan untuk waspada bencana, terbukti tulisan yang dapat mencegah bencana besar, salah satunya

bila_kah_22Akhirnya sesuai dengan yang  dituliskan bahwa indonesia menangis dan berbela sungkawa sebagai HARI BERKABUNG, URUT DENGAN LONGSOR NTT 3-3-2007, GEMPA SUMBAR 6-3-2007 DAN PESAWAT GARUDA JATUH DAN TERBAKAR 7-3-2007, Saat 2007 lalu sikembar waspada telah memberikan arti 1-1-2007 adam air jatuh, 2-2-2007 Banjir Besar Jakarta, dan akhirnya munculah siklus 22 sebagai “HARI BERKABUNG, dimulai longsor, gempa dan pesawat”.

Artikel Bacalah Fenomena 22 posted Feb 26, 2007 11:18 pm sebulan lalu , dan sangat mencengankan setelah dimana tgl 22-2-2007 memang hari berduka sebagai mana di lansir oleh artikel Bilakah 22-2-2007 ? posted Feb 19, 2007 10:10 am , salah satu kutipannya adalah :

Bacalah 22/2/2005, jangan lupakan, Secara tegas dapat diambil kesimpulan 22.02.2005 atau 2 tahun lalu merupakan hari berkabung, dengan didahului, longsor, gempa meningkat, masalah pesawat

Dan benar terjadi sebagai hari berkabungan

Longsor : NTT (3.3.2007)
Gempa Meningkat : SUMBAR (6.3.2007)
Pesawat : Garuda – Yogya (7.3.2007)

waspada_terhadap_kembar_terbukti_2007

Setahun Sebelum Meninggalnya Soeharto


Sebuah tanda alam ketika Soeharto akan meninggal dunia, setahun sebelumnya, terjadi bencana di mana-mana (baca Inilah Kejadian Bencana Besar 2007: Pesawat Adam Air Jatuh, Jakarta Banjir Besar, Longsor NTT, Gempa Sumbar, Pesawat Garuda Terbakar dan Gempa Bengkulu

bencana_tahun_2007_peringatan_mengapa_

Perhatikan 222 diatas pada diri pak Harto dan 27 pada peristiwa penting yang ad pada Soeharto, maka tserbutlah 222 diatas menjelma menjadi sebuah memori tahun 2007, setahun sebelum pak Harto meninggal, tiada lain 2, 22 ataupun 222 ini merupakan sebuah memori tujuan mulya sebelumnya, dari Soekarno sampai Soeharto

kelahiran_soekarno_23_dan_pancasila_76_membentuk_99SOEHARTO & GOLKARUntuk mewujudkan negeri yang (baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghofur

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda  di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. : “Makanlah olehmu dari rezki yang  Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.  adalah negeri yang baik dan  adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghofur).’ (As-Saba’ 15)

Hingga sebuah ayat lanjutan “Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar  dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi  yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr .”

Dengan munculnya Lumpur Lapindo yang ganas (baca Kejadian Aneh-Aneh Jelang Lumpur Lapindo Meledak) , mengeringkan semua pepohonan dan kehidupan sebagai gambaran negeri yang sebenarnya dapat tumbuh subur berkah rahmah Allah swt, simbol jika berpaling dari Allah swt, gambaran pada ayat ““Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar  dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi  yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr .”

ledakan_lumpur_lapindo_22_11_2006_membentuk_99Setelah ledakan Lapindo, Adam Air Jatuh dan Banjir besar terjadi di Jakarta tepat tgl 2-2-2007, dalam skala maksimum dan berulang terus

Adam Air Jatuh Membentuk 99


Peringatan Demi Peringatan Atas Negeri Setelah Ledakan Lumpur Lapindo 22-11-2006


Perhatikan  GEMPA YOGYA 2006 & GEMPA TASIKMALAYA 2009Kebetulankah_22_gempa_yogya_27_mei_2006_dan_gempa_tasikmalaya_2_9_2009_Gempa Yogya 27 mei 2006 dan Gempa TasikMalaya,  kemiripan 22 yang Nyata,

GUNUNG MERAPI 2010 & GUNUNG KELUD 2014


gunung_merapi_dan_gunung_kelud_meletus_22_kebetulankah_Gunung Merapi Meletus dan Gunung Kelud Meletus sebuah kenyataan tentang bukti 22,

MENGAPA MERAPI, TSUNAMI JEPANG, KELUD , MH 370 Hilang MEMBENTUK POLA YANG SAMA (22) ?


  1. Sebuah ajakan  sebagai ingatan 22 itu yakni untuk kembali kepada ajaran suci yaitu al-qur’an dengan ingatan bahwa, Wahyu Diturunkan 22 tahun 2 bulan dan 22 hari
  2. Sebuah memori ingatan akan lafal Allah swt yang terekam dalam sebuah foto tepat tgl 22-11-2006, dimana lumpur lapindo meledak Lafal Allah dalam Ledakan Pertamina di Lumpur Lapindo Sidoarjo
  3. Sebuah doa 22 yang dipanjatkan untuk mengingatkan bangsa agar memurnikan ajaran tauhid agar selamat di dunia dan akhirat, Sebuah inspirasi muncul yang disebabkan keprihatinan masalah ini, berikut doa tersebut, perhatikan posting yang tidak dapat diubah (http://groups.yahoo.com/neo/groups/the_untold_stories/files) jika ingin cek harus login dengan email yahoo yang tercatat 9 desember 2006 doa_22doa_22Gempa Yogya 27-5-2006 yang membentuk simbol 22, 2+7+5+2+0+0+6=22, juga berulang ketika gempa tasikmalaya, 2-9-2009 yang membentuk simbol 2+9+2+0+0+9=22.

Kebetulankah_22_gempa_yogya_27_mei_2006_dan_gempa_tasikmalaya_2_9_2009_

Lihat gambar diatas ini, koq sama ya gempa yogya dan tasikmalaya ? pasti ada yang mengaturNya,

Gempa Yogya 27-5-2006 yang membentuk simbol 22, 2+7+5+2+0+0+6=22, juga berulang ketika gempa tasikmalaya, 2-9-2009 yang membentuk simbol 2+9+2+0+0+9=22.  (baca Kejadian Aneh-Aneh Jelang Gempa Yogya 27-mei-2006),  (baca Kejadian Aneh-Aneh Jelang Gempa Tasikmalaya). Dengan doa 22 diatas, seharusnya sebuah gempa atau peristiwa besar dapat dicegah baik korban jiwa maupun lainnya dengan cara mendekatkan diri padaNya. Sebagaimana bencana besar lainnya, senantiasa, situs ini memberikan sebuah warning akan terjadinya sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri padaNya.

[Update] Tragedi Beruntun Mina-Mekkah ter-rekam dalam film ini, ,  Tepat 24/3/2015 terjadi Pesawat German Jatuh dan sebelas (11) hari  terjadi Blood Moon di tanggal kembar 4/4/2015  Terbukti Dari film  diatas yang menunjukkan ALPEN hingga itulah gempa dahsyat nepal terjadi, Apakah yang terjadi setelah Blood Moon yang ke tiga ? di tanggal kembar  4/4/2015 ?, sebuah peristiwa alam dua puluh (20) hari setelahnya dunia  di kejutkan dengan gempa dahsyat raksasa tgl 25-4-2015 di Nepal, [Update … 22 ini muncul dan terbukti sebagai peristiwa besar dunia,  lihat film ini, [Update … 99+99+88 hari setelah Longsor BanjarNegara di tanggal  kembar, terjadilah Tragedi Mina 24-9-2015,


0 Responses to “Politik : Ada Peran Komunis dan IMF dalam Tumbangnya Soeharto”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: