17
May
16

PRIMER45 : Politik Roh Indonesia Merdeka 45

Garuda Pancasila Islami

Terkuak! Ternyata Asal Muasal Pancasila Adalah Syahadat dan Rukun Islam!
Pada catatan sejarah, Lambang Garuda Pancasila dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh presiden Soekarno.Bung Karno dan Sultan Hamid II
Lambang Kerajaan Samudera Pasai berisi KALIMAT TAUHID dan RUKUN ISLAM. Kepala burung bermakna Basmallah, sayap dan kakinya merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Badan burung itu merupakan Rukun Islam.

Tahukah Anda jauh-jauh hari sebelum lambang itu dipakai sebagai lambang Negara Republik Indonesia, lambang tersebut sudah lebih dahulu digunakan sebagai lambang Kerajaan Samudera Pasai???

Seperti yang kita ketahui, bahwa Kerajaan Samudera Pasai adalah sebuah kerajaan Islam pertama di Indonesia yang didirikan oleh Sultan Malikussaleh (Meurah Silu) pada abad ke 13 atau pada tahun 1267.
Kerajaan Samudera Pasai pada saat itu dikenal sebagai pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara, hal ini dikemukakan oleh seorang petualang bernama Ibnu Battutah dalam bukunya Tuhfat al-Nazha. Lambang kerajaan Islam Samudera Pasai ini dirancang oleh seorang Sultan Samudera Pasai yaitu Sultan Zainal Abidin. Lambang burung tersebut memiliki makna yaitu SYIAR ISLAM YANG KUAT.

R Indra S Attahashi menjelaskan bahwa lambang negara Samudera Pasai berisi kalimat Tauhid dan Rukun Islam. Rinciannya, kepala burung itu bermakna Basmallah, sayap dan kakinya merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Terakhir, badan burung itu merupakan Rukun Islam.

Indra melanjutkan penjelasannya bahwa lambang itu disalin ulang oleh Teuku Raja Muluk Attahashi bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahashi yang merupakan Sultan Muda Aceh yang diangkat pasca peristiwa Perang Cumbok pada 1945. Pada saat itu di Aceh Tamiang ada kerajaan sendiri bernama Kerajaan Sungai Iyu.

Indra menjelaskan, lambang Kerajaan Samudera Pasai itu sudah ada dalam silsilah keluarganya lebih dari 100 tahun lalu. Dari kakek atau nenek, lambang itu diwariskan dari generasi ke generasi yang selalu dikisahkan bahwa itu lambang Kerajaan Samudera Pasai.

Lambang itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi.

Lambang Garuda Pancasila ini ternyata terinspirasi dari lambang kerajaan Samudera Pasai, namun terlepas dari itu semua sejarawan LIPI, Aswi Warman Adam menegaskan kalau klaim itu menunjukkan kecintaan bangsa Indonesia.

Jadi, jangan beri ruang mereka yang berani menghina Pancalisa, sebab itu sebenarnya menghina Syahadat dan Rukun Islam. Mohon dibagikan ini agar semua orang tahu, semoga bermanfaat.

Suara Warga :

Politik Roh Indonesia Merdeka 45 (PRIMER45)

Mukadimah KepPres No 50/1984 menyatakan “Bahwa sesungguhnya atas berkat rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, Angkatan ’45 telah berhasil bersama-sama rakyat Indonesia mencetuskan Proklamasi Kemerdekaan bangsa dan tanah air Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang telah melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia; dengan demikian hapuslah kekuasan-kekuasaan fasisme, imperialisme, kolonialisme, dan feodalisme dari bumi Indonesia. Selanjutnya bersama-sama rakyat Indonesia mempertahankan, mengisi dan memperkembangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945 dan segenap Nilai-nilai Juang 45…..”.

Oleh karena itulah kepada Yang Terhormat Rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 2016, kami Generasi Penerus Angkatan 45 [Bab V Pasal 9 (2) Anggaran Dasar MuNas XII/2006] menghimbau kiranya Tatanilai Mental Revolusi diperkuat dengan PRIMER45 berpijak Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 (JSN45) sebagai berikut :

Tatanilai Dasar :

1. Semua nilai yang terdapat dalam setiap sila dari Pancasila,
2. Semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945,
3. Semua nilai yang terdapat dalam Undang Undang Dasar 1945, baik dalam Pembukaan, Batang Tubuh, maupun Penjelasannya.

Tatanilai Operasional :

1. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2. Jiwa dan Semangat Merdeka,
3. Nasionalisme,
4. Patriotisme,
5. Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka,
6. Pantang mundur dan tidak kenal menyerah,
7. Persatuan dan Kesatuan,
8. Anti penjajah dan penjajahan,
9. Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri,
10.Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya,
11,Idealisme kejuangan yang tinggi,
12.Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara,
13.Kepahlawanan,
14.Sepi ing pamrih rame ing gawe,
15.Kesetiakawnan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan.
16.Disiplin yang tinggi,
17.Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.

JSN45 tersebut diatas adalah satu kesatuan paham yang tidak terpisahkan dengan Sejarah Perkembangan JSN45, Rumusan JSN45, Metode Pelestarian JSN45, Pola Pelaksanaan Pedoman Umum Pelestarian JSN45 [1995].

Keyakinan kami, PRIMER45 ini akan dapat lebih mampu membekali Kebangkitan Generasi Penerus Angkatan 45 pada khususnya dan segenap anak bangsa Indonesia baik ketahanan diri dan kolektif guna penghayatan Mental Revolusi Indonesia Merdeka dan Bina Karakter Kejoangan serta Pemantapan Roh Negara Bangsa indonesia sekaligus manfaat terapi turut kurangi dampak krisis multi dimensional terkini akibat peningkatan Ancaman, Hambatan, Gangguan, Tantangan mengantisipasi pelemahan mesin-mesin kemasyarakatan, kenegarabangsaan dan kepemerintahan NKRI,

Jakarta, 17 Mei 2016

Generasi Penerus Angkatan 45,

Pandji R Hadinoto, Ketua DHD45 Jkt
KBP45 KelBes Pejoang45
Editor www.jakarta45.wordpress.com

MEMPERINGATI 70 TAHUN INDONESIA MERDEKA TANPA ROH ????

17 Agustus 2015 ini kita memperingati kemerdekaan RI yang ke 70 tahun , kita sebagai bangsa wajib merenungkan perjalanan bangsa ini apalagi sejak reformasi yang telah mengamandemen UUD 1945 , amandemen bukan hanya sekedar merubah pasala-pasala didalam batang tubuh UUD1945 tetapi amandemen telah merubah aliran pemikiran yang selama ini menjadi alat perjuangan the founding fathers , merubah aliran pemikiran pada UUD 1945 berarti meniadakan Pancasila , meniadakan Preambul UUD 1945 bahkan meniadakan negara Proklamasi mengapa ?

Sebab bung Karno mengatakan dalam pidato 17 Agustus1961 :Proklamasi dan Undang-Undang Dasar ’45 adalah satu “pengéjawantahan” daripada kita punya isi-jiwa yang sedalam-dalamnya, satu Darstellung daripada kita punja deepest inner self. 

Dengarkan sekali lagi bunyi Naskah Proklamasi itu:

“Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan  cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Dan dengarkan sekali lagi Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

 

Dan perjoangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Demikianlah bunyi Proklamasi beserta anak-kandungnya yang berupa Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45. Alangkah jelasnya! Alangkah sempurnanya ia melukiskan kita punya Pandangan-Hidup sebagai bangsa, kita punya Tujuan-Hidup, kita punya Falsafah-Hidup, kita punya Rahasia-Hidup, kita punya Pegangan-Hidup!

Karena itu maka Proklamasi dan Undang-Undang Dasar ’45 adalah satu “pengéjawantahan” daripada kita punya isi-jiwa yang sedalam-dalamnya, satu Darstellung daripada kita punja deepest inner self………………..”

Proklamasi kita adalah sumber kekuatan dan sumber tekad daripada perjoangan kita, oleh karena seperti tadi saya katakan, Proklamasi kita itu adalah ledakan pada saat memuncaknya kerahtotal daripada semua tenaga-tenaga nasional, badaniah dan batiniah – physik dan moril, materiil dan spirituil.

Declaration of Independence kita, yaitu Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45, memberikan pedoman-pedoman tertentu untuk mengisi kemerdekaan nasional kita, untuk melaksanakan ke Negaraan kita, untuk mengetahui tujuan dalam memperkembangkan kebangsaan kita, untuk setia kepada suara-batin yang hidup dalam kalbu rakyat kita.

Maka dari itulah saya tadi tandaskan, bahwa Proklamasi kita tak dapat dipisahkan dari Declaration of Independence kita yang berupa Undang-Undang Dasar ’45 dengan Pembukaannya itu.

“Proklamasi” tanpa “Declaration” berarti bahwa kemerdekaan kita tidak mempunyai falsafah. Tidak mempunyai Dasar Penghidupan Nasional, tidak mempunyai pedoman, tidak mempunyai arah, tidak mempunyai “raison d’être,” tidak mempunyai tujuan selain daripada mengusir kekuasaan asing dari bumi Ibu Pratiwi.

Sebaliknya, “Declaration” tanpa “Proklarnasi”, tidak mempunyai arti. Sebab, tanpa kemerdekaan, maka segala falsafah, segala dasar-dan-tujuan, segala prinsip, segala “isme”, akan merupakan khayalan belaka,- angan-angan kosong-melompong yang terapung-apung di angkasa raya……..”Amandemen UUD 1945 yang telah dilakukan 4 kali ternyata tidak lagi menjadikan Preambule UUD 1945 sebagai pedoman-pedoman ,tidak lagi menjadi tujuan melaksanakan negara kita , untuk setia kepada suara batin yang hidup dalam kalbu nya rakyat kita .

Tanpa kita sadari Amandemen UUD 1945 terutama pasal 1 ayat 2 telah merubah aliran pemikiran dari sistem Kolektivisme , kebersamaan , gotongroyong dengan sistem MPR diganti dengan Individualisme , Liberalisme, Kapitalisme dengan sistem Presidensiel

Kita perlu mengingatkan kembali pada para pemimpin di negeri ini tentang makna dana arti dari Proklamasi dan Preambule UUD 1945 agar ketersesatan yang terjadi saat ini bisa menyadarkan kita semua seperti apa yang di katakan Bung Karno dalam pidato nya ………..”

Saudara-saudara sekalian!

Dengan sengaja saya pada hari keramat ini membeberkan kembali di muka saudara-saudara semangat dan arti yang dalam daripada Proklamasi 17 Agustus ’45. Buat apa? Oleh karena saya ingin, supaya saudara-saudara semuanya terutama sekali para pemimpin, – baik pemimpin-pemimpin kecil maupun pemimpin-pemimpin yang berkaliber gembong, pemimpin-pemimpin di daerah maupun pemimpin-pemimpin di ibu-kota, pemimpin-pemimpin partai, organisasi karya, Angkatan Bersenjata, pemimpin-pemimpin pemuda dan pemudi, pemimpin-pemimpin wanita, ya pemimpin-pemimpin yang bertingkat Menteri sekalipun, – supaya semuanya menyadari semangat dan arti Proklamasi……….”Perjuangan untuk mengembalikan Pancasila dan UUD 1945 naskah asli memang bukan sesuatu yang gampang , bukan sesuatu yang mudah , sebab hampir semua pemimpin negeri ini lupa bawah aliran pemikiran yang di perjuangkan oleh bapak bangsa selama puluhan tahun untuk mencapai Indonesia merdeka itu adalah aliran anti Penjajahan , Penjajahan itu lahir dari Kolonialisme , Kapitalisme , Liberalisme , yang berakar dari Individualisme , amandemen UUD 1945 telah merontokan aliran pemikiran yang puluhan tahun telah menjadi alat perjuangan ,tidak saja menganti aliran pemikiran Amandemen UUD 1945 juga melahirkan 72 UU yang sangat liberal dan sama arti nya kita melegalkan kolonialisme , bukan nya ini sebuah pengkhianatan terhadap para pendiri bangsa negara ini ?

Peringatan Bung Karno masih sangat relevan di hari peringatan 70 tahun Indonesia Merdeka . …………………” Sekali lagi, semua kita, terutama sekali semua pemimpin-pemimpin, harus menyadari sangkut-paut antara Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45:

Kemerdekaan untuk “bersatu”;

kemerdekaan untuk “berdaulat”;

kemerdekaan untuk “adil dan makmur”;

kemerdekaan untuk “memajukan kesejahteraan umum”;

kemerdekaan untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”;

kemerdekaan untuk “ketertiban dunia”;

kemerdekaan untuk “perdamaian abadi”; kemerdekaan untuk “keadilan sosial”;

kemerdekaan yang “berkedaulatan rakyat”;

kemerdekaan yang “berke-Tuhanan Yang Maha-Esa”;

kemerdekaan yang “berkemanusiaan yang adil dan beradab”;

kemerdekaan yang berdasarkan “persatuan Indonesia”;

kemerdekaan yang berdasar “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan”; kemerdekaan yang “mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”; –

semua ini tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45, anak-kandung atau saudara-kembar daripada Proklamasi 17 Agustus ’45.

Setelah 70 tahun kemerdekaan dan diamandemen UUD 1945 , dicabut nya aliran pemikiran nya , apakah kita pantas memperingati Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ? ataukah kita membiarkan Indonesia tanpa roh nya , mari kita berjuang mengembalikan Pancasila dan UUD 1945 naskah asli nya , sesungguh nya kita mengembalikan Roh Indonesia yang sesungguh nya .

 

Aliansi Kebangsaan Bersama Eks Tiga Menteri Cari Solusi GBHN

Aliansi Kebangsaan Bersama Eks Tiga Menteri Cari Solusi GBHN

Jakarta, Obsessionnews – Dua Menteri era Orde Baru (orba) Presiden Soeharto, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Daoed Joesoef, mantan Menteri Koperasi Indonesia Subiakto Tjakrawerdjaja, beserta eks Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara pemerintahan Abdurrahman Wahid, Ryaas Rasyid berdiskusi mengenai Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), Kamis (19/5/2016) di aula SD Kupu-Kupu, Mampang, Jakarta Selatan.

Ketiga eks Menteri tersebut, bersama Aliansi Kebangsaan pimpinan Pontjo Sutowo ini mengungkapkan keprihatinan mereka soal GBHN sebagai kebijakan dasar negara, kini ditiadakan, bersamaan dengan perubahan kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari lembaga tertinggi menjadi lembaga tinggi negara.

“GBHN itu penting di gaungkan kembali agar pembangunan bangsa dan negara berjalan dengan relnya, harus disempurnakan,” ujar Daoed Joesof dalam diskusi Aliansi Kebangsaan, dengan tema mengangkat tema ‘Urgensi Haluan Negara’.

Bagaimana mungkin kita mengultuskan ide GBHN, lanjut Daoed, bila pembangunan yang mengecewakan itu bersumber pada keterbatasan pengertian GBHN itu sendiri. Pengertiannya, tidak mencakup, mengabaikan, satu faktor penting yang juga memerlukan panduan bagi perkembangnya yang ideal.

 

Pengabaian yang tidak disadari oleh perumus awalnya, siapapun dia, membuat pengertian GBHN misleading begitu rupa, hingga menjadi salah kaprah. Ini sesuatu kekeliruan mencetuskan kekeliruan yang lain dan seterusnya.

Menurut Daoed, anomaly inilah yang kiranya hendak diingatkan Aristoteles yang mengatakan, bahwa kesalahan kecil menjadi besar bila dibiarkan berlarut larut.

Sementara Subiakto Tjakrawerdjaja memaparkan, seperti kata bung Hatta pada 1932, yakni menyebutkan, didalam menyusun perencanaan ekonomi nasional haruslah diputuskan secara mufakat oleh rakyat itu sendiri

“Semua pengaturan pemerintahan, harus diputuskan oleh rakyat, bukan demokrasi politik, tapi demokrasi ekonomi,” kata Subiakto.

“Sekarang Undang undang, hanya diputuskan oleh presiden, Dewan Perwakilan Rakyat. Kita harus kembali ke GBHN sebagai lembaga tertinggi gbhn, karena ini ciri khas negara pancasila,” tambahnya.

Sementara Ryaas Rasyid juga setuju bahwa GBHN dihidupkan kembali, karena ia menilai tidak adanya lembaga tertinggi negara sebagai pemantau jalannya regulasi sebuah negara.

“Dulu setiap 5 tahun, lembaga-lembaga itu sampaikan laporannya kepada MPR, sekarang tidak, karena sederajat dengan DPR, BPK dan lain lain,” pungkasnya.

Acara diskusi ini juga dihadiri oleh Ekonom Indonesia Dawam Rahardjo dan pengamat politik Yudi Latif. (Popi Rahim)

Advertisements

0 Responses to “PRIMER45 : Politik Roh Indonesia Merdeka 45”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,195,878 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: