01
May
16

Politik : Keppreskan Roh Indonesia Merdeka 45

Jokowi Diminta Keppreskan Roh Indonesia Merdeka 45

Jokowi Diminta Keppreskan Roh Indonesia Merdeka 45
Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Jakarta, Obsessionnews – Memperingati 1 Mei 2016 sebagai Hari Buruh Internasional dan Hari Bersatunya Irian Barat (kini Papua), Ketua DHD45 Jakarta, Dr Ir Pandji R Hadinoto MH mengirimkan surat kepada Presiden RI Ir H Jokowi Widodo (Jokowi), agar mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang Roh Indonesia Merdeka 45 untuk memperkuat tata nilai Revolusi Mental.

“Keputusan Presiden ini akan dapat lebih mampu membekali baik ketahanan diri dan ketahanan kolektif masyarakat luas guna penghayatan Revolusi Mental Indonesia Merdeka untuk Bina Karakter Kejoangan dan Pemantapan Roh Negara Bangsa Indonesia sekaligus manfaat turut kurangi dampak krisis multi dimensional yang bisa melemahkan mesin birokrasi pemerintahan,” demikian Pandji dalam suratnya, Kamis (28/4/2016).

Seperti legislasi perUndangUndangan yang menyimpangi roh Pembukaan UUD 1945, kebijakan-kebijakan eksekutif yang menjauhi kepentingan daulat rakyat dan hajat hidup orang banyak, praktik-praktik ketatanegaraan yang terasa kurang mengindahkan daulat dan pandangan hidup negara bangsa Indonesia yaitu Pancasila, dan lain sebagainya,” tandas mantan Aktivis ITB ini.

Berikut ini Surat dari Pandji R Hadinoto kepada Presiden RI Joko Widodo:

Yang Terhormat Bapak Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, dalam rangka peringati tanggal 1 Mei 2016 yang bermakna Hari Buruh Internasional dan Hari Bersatunya Irian Barat (kini Papua) bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami himbau kiranya Tatanilai Revolusi Mental diperkuat dengan Keputusan Presiden tentang Roh Indonesia Merdeka 45.

Menurut hemat kami, Tatanilai Roh Indonesia Merdeka 45 itu setepatnya adalah Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 (JSN45) sebagai berikut :

Tatanilai Dasar :
1. Semua nilai yang terdapat dalam setiap sila dari Pancasila,
2. Semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945,
3. Semua nilai yang terdapat dalam Undang Undang Dasar 1945, baik dalam Pembukaan, Batang Tubuh, maupun Penjelasannya.

Tatanilai Operasional :
1. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2. Jiwa dan Semangat Merdeka,
3. Nasionalisme,
4. Patriotisme,
5. Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka,
6. Pantang mundur dan tidak kenal menyerah,
7. Persatuan dan Kesatuan,
8. Anti penjajah dan penjajahan,
9. Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri,
10.Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya,
11,Idealisme kejuangan yang tinggi,
12.Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara,
13.Kepahlawanan,
14.Sepi ing pamrih rame ing gawe,
15.Kesetiakawnan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan.
16.Disiplin yang tinggi,
17.Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.

Rumusan JSN45 tersebut diatas adalah satu kesatuan paham yang tidak terpisahkan dengan Sejarah Perkembangan jSN45, Rumusan JSN45, Metode Pelestarian JSN45, Pola Pelaksanaan Pedoman Umum Pelestarian JSN45 [1995].

Keyakinan kami, Keputusan Presiden ini akan dapat lebih mampu membekali baik ketahanan diri dan ketahanan kolektif masyarakat luas guna penghayatan Revolusi Mental Indonesia Merdeka untuk Bina Karakter Kejoangan dan Pemantapan Roh Negara Bangsa indonesia sekaligus manfaat turut kurangi dampak krisis multi dimensional yang bisa melemahkan mesin birokrasi pemerintahan, seperti legislasi perUndangUndangan yang menyimpangi roh Pembukaan UUD 1945, kebijakan-kebijakan eksekutif yang menjauhi kepentingan daulat rakyat dan hajat hidup orang banyak, praktik-praktik ketatanegaraan yang terasa kurang mengindahkan daulat dan pandangan hidup negara bangsa Indonesia yaitu Pancasila, dan lain sebagainya.

Jakarta, 28 April 2016

Pandji R Hadinoto, Ketua DHD45 Jkt
KBP45 KelBes Pejoang45
Editor www.jakarta45.wordpress.com

DHD45 Minta Jokowi Keppreskan Roh Indonesia Merdeka 45

Share on Facebook
Tweet on Twitter

Radarpolitik.com, Jakarta – Ketua DHD45 Jakarta Pandji R Hadinoto meminta Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk memperkuat tatanilai Revolusi Mental dengan Keputusan Presiden tentang Roh Indonesia Merdeka 45. Hal itu terkait dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional pada1 Mei 2016.

Menurutnya, selain bermakna Hari Buruh Internasional juga bersamaan dengan Hari Bersatunya Irian Barat (kini Papua) bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Hemat kami, Tatanilai Roh Indonesia Merdeka 45 itu setepatnya adalah Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 (JSN45) yang di paparkan melalui, tata nilai dasar dan tata nilai operasional,” jelasnya kepada Halloapakabar.com, di Jakarta, Kamis (28/4)

Tata nilai dasar itu kata Panji, adalah semua nilai yang terdapat dalam setiap sila dari Pancasila dan semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 serta semua nilai yang terdapat dalam Undang Undang Dasar 1945, baik dalam Pembukaan, Batang Tubuh, maupun Penjelasannya.

“Sedangkan tata nilai operasional meliputi, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Jiwa dan Semangat Merdeka, Nasionalisme, Patriotisme serta rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka,” ungkapnya.

Panji mengatakan, tata nilai operasional juga pantang mundur dan tidak kenal menyerah dan harus di landasi semangat persatuan dan kesatuan, Anti penjajah dan penjajahan serta percaya kepada diri sendiri atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri.

“Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya, merupakan Idealisme kejuangan yang tinggi dan harus berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara. Jiwa kepahlawanan harus tumbuh, Sepi ing pamrih rame ing gawe fan tetsp menjungjunh tinggi Kesetiakawnan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan,” jelasnya.

Selain itu, kata Panji, Disiplin yang tinggi, Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan. Harus masuk dalam Rumusan JSN45. Karena hal itu adalah kesatuan paham yang tidak terpisahkan dengan Sejarah Perkembangan jSN45, Rumusan JSN45, Metode Pelestarian JSN45 dan Pola Pelaksanaan Pedoman Umum Pelestarian JSN45 (1995).

“Keyakinan kami, Keputusan Presiden ini akan dapat lebih mampu membekali baik ketahanan diri dan ketahanan kolektif masyarakat luas guna penghayatan Revolusi Mental Indonesia Merdeka untuk Bina Karakter Kejoangan dan Pemantapan Roh Negara Bangsa indonesia sekaligus manfaat turut kurangi dampak krisis multi dimensional yang bisa melemahkan mesin birokrasi pemerintahan,” bebernya.

Legislasi perUndang-Undangan yang menyimpangi roh Pembukaan UUD 1945 dan berbagai kebijakan eksekutif yang menjauhi kepentingan daulat rakyat dan hajat hidup orang banyak, kata Panji adalah praktek- praktek ketatanegaraan yang terasa kurang mengindahkan daulat dan pandangan hidup negara bangsa Indonesia yaitu Pancasila. (roy/rdp)

Umumkan Nama yang Bersalah Terlibat Panama Papers !

Umumkan Nama yang Bersalah Terlibat Panama Papers!
Dr Ir Pandji R Hadinoto

Jakarta, Obsessionnews – Ketua DHD 45 Jakarta, Dr Ir Pandji R Hadinoto MH, Selasa (26/4/2016), menegaskan gaduh wabah Panama Papers yang kini bermuara kontroversi Politik Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) seharusnya dapat dihindari demi penciptaan rasa nyaman dan damai bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, langkah penghindaran itu dapat dilakukan dengan penerbitan Keputusan Presiden tentang Daftar Warganegara Indonesia Kontra Roh Indonesia Merdeka 45 setelah kepada yang bersangkutan terlebih dahulu diberikan kesempatan klarifikasi namun kemudian ditolak pemerintah pusat karena misalnya tidak cukup beralasan meyakinkan merujuk butir-butir operasional daripada Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 seperti :

1. Nasionalisme, 2. Patriotisme, 3. Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka, 4. Persatuan dan Kesatuan, 5. Idealisme kejuangan yang tinggi, 6. Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara, 7. Kesetiakawnan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan.

“Politik Kontra Roh Indonesia Merdeka 45 ini berwujud Keputusan Presiden diatas diyakini effektif, produkif dan konstruktif sekaligus pembumian Revolusi Mental melalui Nation & Character Building menuju kearah Indonesia Jaya 2045 yang akan datang,” tandas mantan Aktivis ITB ini. (Red)

Jejak Korupsi Global dari Panama

Jutaan dokumen finansial dari sebuah firma hukum asal Panama, bocor dan mengungkapkan bagaimana jejaring korupsi dan kejahatan pajak para kepala negara, agen rahasia, pesohor sampai buronan, disembunyikan di surga bebas pajak.

SEBUAH kebocoran dokumen finansial berskala luar biasa mengungkapkan bagaimana 12 kepala negara (mantan dan yang masih menjabat) memiliki perusahaan di yuridiksi bebas pajak (offshore) yang dirahasiakan. Dokumen yang sama membongkar bagaimana orang-orang yang dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengatur transfer dana sebesar US$ 2 miliar lewat berbagai bank dan perusahaan bayangan.

Setidaknya ada 128 politikus dan pejabat publik dari seluruh dunia yang namanya tercantum dalam jutaan dokumen yang bocor ini. Mereka terkait dengan berbagai perusahaan gelap yang sengaja didirikan di wilayah-wilayah surga bebas pajak (tax havens).

Total catatan yang terbongkar mencapai 11,5 juta dokumen. Keberadaan semua data ini memberikan petunjuk bagaimana firma hukum bekerjasama dengan bank untuk menjajakan kerahasiaan finansial pada politikus, penipu, mafia narkoba, sampai miliuner, selebritas dan bintang olahraga kelas dunia.

Temuan itu merupakan hasil investigasi sebuah organisasi wartawan global, International Consortium of Investigative Journalists, sebuah koran dari Jerman SüddeutscheZeitung dan lebih dari 100 organisasi pers dari seluruh dunia. Satu-satunya media di Indonesia yang terlibat dalam proyek investigasi ini adalah Tempo.

Dokumen yang diperoleh konsorsium jurnalis global ini mengungkapkan keberadaan perusahaan di kawasan surga pajak (offshore companies) yang dikendalikan perdana menteri dari Islandia dan Pakistan, Raja Arab Saudi, dan anak-anak Presiden Azerbaijan.

Ada juga perusahaan gelap yang dikendalikan sedikitnya 33 orang dan perusahaan yang masuk daftar hitam pemerintah Amerika Serikat karena hubungan sebagian dari mereka dengan kartel narkoba Meksiko, organisasi teroris seperti Hezbollah atau terkoneksi dengan negara yang pernah mendapat sanksi internasional seperti Korea Utara dan Iran.

Satu dari perusahaan itu bahkan menyediakan bahan bakar untuk pesawat jet yang digunakan pemerintah Suriah untuk mengebom dan menewaskan ribuan warga negaranya sendiri. Demikian ditegaskan seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat.

“Temuan ini menunjukkan bagaimana dalamnya praktek yang merugikan dan kejahatan di perusahaan-perusahaan yang sengaja didirikan di yuridiksi asing (offshore),” kata Gabriel Zucman, ekonomis dari University of California, Berkeley, AS dan penulis buku ‘The Hidden Wealth of Nations: The Scourge of Tax Havens’.

Zucman yang mengetahui proses investigasi kebocoran dokumen ini menegaskan bahwa publikasi atas dokumen rahasia ini seharusnya mendorong pemerintah untuk bekerjasama memberikan sanksi tegas pada yurisdiksi dan institusi yang terlibat dalam jejaring kerahasiaan finansial di dunia offshore.

Presiden China Xi Jinping. AP Photo/Ted S. Warren

https://projects.icij.org/panama-papers/power-players/?lang=en#69Sejumlah nama kepala negara yang dikenal mendukung gerakan anti-korupsi juga muncul dalam dokumen ini. Beberapa dokumen menunjukkan ada hubungan antara beberapa perusahaan offshore dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang pernah bersumpah akan melawan para koruptor. Ada juga nama Presiden Ukraina Petro Poroshenko, yang selama ini selalu sesumbar dirinya adalah tokoh bersih di negaranya yang penuh skandal korupsi.

Bahkan, dokumen ini juga berisi detail mengenai sejumlah perjanjian bisnis yang melibatkan perusahaan offshore yang dilakukan ayah dari Perdana Menteri Inggris David Cameron. Belum lama ini, Cameron mendesak pemerintahnya untuk membersihkan wilayah surga bebas pajak di Inggris.

Data yang bocor berisi informasi sejak 40 tahun lalu, sejak 1977 sampai awal 2015. Keberadaan dokumen ini memungkinkan publik untuk mengintip bagaimana dunia offshore bekerja, bagaimana fulus gelap mengalir di dalam jagat finansial global secara rahasia, mendorong lahirnya banyak modus kriminalitas dan merampok pundi-pundi negara dari pajak yang tak dibayarkan.

Kebanyakkan jasa yang ditawarkan perusahaan offshore tidak melanggar hukum, jika digunakan oleh warga negara yang taat hukum. Namun dokumen ini menunjukkan bagaimana bank, kantor pengacara dan pelaku dunia usaha kerap tidak mengikuti prosedur hukum yang berlaku untuk memastikan klien mereka tidak terlibat korupsi, pelarian pajak atau kegiatan kriminal lainnya.

Bahkan, dalam beberapa kasus, ada perantara yang mencoba melindungi diri sendiri dan klien mereka dengan sengaja menyembunyikan transaksi mencurigakan atau memanipulasi catatan.

Jutaan dokumen ini menunjukkan bahwa bank-bank besar adalah motor utama di balik pendirian perusahaan-perusahaan di British Virgin Islands, Panama, dan surga bebas pajak lain, yang sulit dilacak penegak hukum. Ada daftar sekitar 15.600 perusahaan papan nama (paper companies) yang dibuatkan oleh bank untuk klien mereka yang ingin keuangan mereka tersembunyi. Di antara bank tersebut adalah UBS dan HSBC.

Pada satu bagian dari catatan yang bocor ini, terungkap bagaimana bank, perusahaan dan sejumlah orang yang terkait dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin, bermanuver secara tertutup untuk memindahkan uang dalam jumlah besar. Pada satu transaksi, fulus yang digerakkan mencapai US$ 200 juta.

Orang-orang Putin ini mencoba menyamarkan pembayaran, memundurkan tanggal dokumen ke masa lalu (backdated) dan dengan demikian, memupuk kekuasaan dan pengaruh di dalam industri media dan otomotif di Rusia.

Sayangnya, juru bicara Kremlin menolak berkomentar atas informasi ini. Pada 28 Maret 2016 lalu, juru bicara Kremlin menyerang konsorsium jurnalis ICIJ dan menuduh kelompok ini tengah mempersiapkan sebuah ‘serangan informasi’ pada Putih dan mereka yang dekat dengan tokoh ini.

Vladimir Putin. SPUTNIK/ DMITRY ASTAJOV

https://projects.icij.org/panama-papers/power-players/?lang=en#42Dokumen bocor ini — diperiksa beramai-ramai oleh sebuah tim yang terdiri dari 370 jurnalis dari 76 negara– diketahui berasal dari sebuah firma hukum kecil namun amat berpengaruh di Panama yang bernama Mossack Fonseca. Firma ini memiliki kantor cabang di Hong Kong, Zurich, Miami dan 35 kota lain di seluruh dunia.

Firma ini adalah salahsatu pembuat perusahaan cangkang (shell companies) terbaik di dunia. Perusahaan cangkang adalah sebuah struktur korporasi yang bisa digunakan untuk menyembunyikan kepemilikan aset perusahaan. Total ada 214.488 nama perusahaan offshore di dokumen yang bocor ini. Ratusan ribu perusahaan itu terhubung dengan orang-orang dari 200 negara. ICIJ akan mempublikasikan seluruh nama perusahaan ini pada awal Mei 2016.

Data ini mencakup email, tabel keuangan, pasport dan catatan pendirian perusahaan, yang mengungkapkan identitas rahasia dari pemilik akun bank dan perusahaan di 21 wilayah/yuridiksi offshore, mulai dari Nevada, Singapura sampai British Virgin Islands.

Jejak Mossack Fonseca bisa terlacak di perdagangan berlian di Afrika, pasar lukisan dan barang seni lain berskala internasional, dan bisnis lain yang kerap bergerak di kegelapan. Firma ini juga melayani banyak keluarga kerajaan dan emir di Timur Tengah. Mereka membantu dua raja: Raja Mohammed VI dari Maroko dan Raja Salman dari Saudi Arabia. Di Islandia, dokumen yang bocor ini menunjukkan bagaimana Perdana Menteri Sigmundur David Gunnlaugsson dan istrinya secara rahasia memiliki firma offshore yang merupakan pemegang surat utang sebuah bank di negara ini yang bernilai miliaran dolar, pada saat Islandia dilanda krisis ekonomi.

Dokumen yang ada juga berisikan keterangan mengenai seorang terpidana pencucian uang yang mengaku memberikan kontribusi sebesar US$ 50 ribu yang dipakai membayar perampok dalam skandal Watergate. Ada juga nama 29 miliuner yang termasuk daftar 500 orang terkaya dunia versi majalah Forbes. Tak ketinggalan ada pula nama Jackie Chan, bintang film ternama asal Cina, yang punya sedikitnya enam perusahaan di bawah pengelolaan Mossack Fonseca.

Di Indonesia, nama-nama para miliarder ternama yang setiap tahun masuk dalam daftar orang terkaya versi Forbes Indonesia juga bertebaran dalam dokumen Mossack Fonseca. Mereka membuat belasan perusahaan offshore untuk keperluan bisnisnya. Salahsatunya adalah Sandiaga Uno, pebisnis terkemuka yang kini tengah mencalonkan diri menjadi calon Gubernur DKI Jakarta.

Ditanya soal ini, Sandiaga mempersilakan media mempublikasikan nama-nama perusahaan offshore miliknya. “Saya memang punya rencana membuka semuanya karena saya sekarang dalam proses mencalonkan diri menjadi pejabat publik,” katanya pada reporter Tempo, akhir Maret 2016 lalu.

Seperti banyak klien Mossack Fonseca lain, tidak ada bukti bahwa Jackie Chan atau Sandiaga Uno, menggunakan perusahaannya untuk tujuan tak terpuji. Memiliki perusahaan offshore bukanlah sesuatu yang otomatis ilegal. Untuk sejumlah transaksi internasional, memiliki perusahaan offshore bahkan merupakan sebuah pilihan yang logis secara bisnis.

Namun, dokumen Mossack Fonseca mengindikasikan bahwa klien dari firma itu meliputi penipu skema ponzi, mafia narkoba, penggelap pajak, dan setidaknya satu terpidana kasus pelecehan seks yang sedang dipenjara. Catatan menunjukkan bahwa ada satu pengusaha asal Amerika yang ditangkap setelah bepergian ke Rusia untuk berhubungan seks dengan anak-anak yatim piatu, sempat meneken sebuah dokumen untuk perusahaan offshore-nya, ketika dia sedang dipenjara di New Jersey.

Di Indonesia, dua nama yang kerap dicari penegak hukum untuk kepentingan penyidikan kasus korupsi, yakni Muhammad Riza Chalid dan Djoko Soegiarto Tjandra, juga tercantum dalam dokumen yang bocor ini.

Djoko S. Tjandra dalam resepsi pernikahan anaknya di Hotel Mulia, Jakarta, Jumat, 27 Juni 2008. (FOTO: TEMPO/ Tony Hartawan)

Tak hanya itu. Dokumen ini juga berisi detail baru mengenai skandal-skandal besar, mulai dari kisah perampokan emas legendaris di Inggris sampai skandal suap di organisasi sepakbola dunia, FIFA. Ada catatan yang mengungkap bahwa firma hukum milik Juan Pedro Damani, anggota Komisi Etik FIFA, memiliki relasi bisnis dengan tiga orang yang sudah didakwa terlibat dalam skandal suap FIFA: mantan Wakil Presiden FIFA Eugenio Figueredo dan ayah-anak Hugo dan Mariano Jinkis, yang dituduh menyuap FIFA untuk memenangkan hak siar semua pertandingan sepakbola di Amerika Latin.

Kantor Damiani di Uruguay tercatat mewakili satu perusahaan offshore yang terkait keluarga Jinkis dan tujuh perusahaan yang terkait dengan Figueredo. Ketika dimintai konfirmasi, Komisi Etik FIFA merespon dengan mengadakan penyelidikan awal atas hubungan Damiani dan Figueredo.

Juru bicara komisi ini menjelaskan bahwa Damiani memberitahu mereka soal hubungan bisnisnya dengan Figueredo pada 18 Maret 2016. Itu tepat satu hari setelah reporter mengirimkan pertanyaan pada Damiani mengenai hubungan antara kantor pengacaranya dan perusahaan yang terkait dengan mantan Wakil Presiden FIFA.

Nama pesepakbola terbaik dunia, Lione Messi, juga ada dalam dokumen ini. Catatan menunjukkan Messi dan ayahnya merupakan pemilik sebuah perusahaan di Panama: Mega Star Enterprises Inc. Perusahaan ini menambah daftar perusahaan cangkang milik Messi yang sedang diselidiki di Spanyol atas tuduhan penggelapan pajak.

Lionel Messi. AP/Fernando Vergara

Ada indikasi bahwa Mossack Fonseca memang bekerja keras untuk melindungi rahasia kliennya, tak peduli klien mereka orang terkenal atau tidak. Di Nevada, satu negara bagian di Amerika Serikat, firma ini mencoba melindungi diri dan kliennya dari dampak upaya hukum di pengadilan distrik Amerika Serikat, dengan memindahkan semua berkas dokumen perusahaan itu dari kantornya dan meminta bantuan ahli teknologi untuk membersihkan jejak elektronik dari komunikasi mereka di semua komputer dan telepon kantor.

Dokumen yang bocor ini juga menunjukkan bagaimana Mossak secara teratur menawarkan klien mereka untuk membuatkan dokumen dengan tanggal mundur (backdated documents) untuk membantu klien mereka mendapatkan keuntungan dari berbagai perjanjian bisnis mereka. Jasa semacam itu amat biasa ditawarkan hingga pada sebuah komunikasi email pada 2007, para karyawan Mossack membicarakan struktur harga khusus untuk para klien yang minta tanggal dokumen mereka dimundurkan. Setiap satu bulan ke belakang dalam penetapan tanggal dokumen perusahaan mereka, klien harus membayar US$ 8,75 pada Mossack.

Ketika dikonfirmasi, Mossack Fonseca menegaskan bahwa perusahaan mereka, “tidak melindungi atau mendukung aktivitas ilegal apapun. Tuduhan Anda bahwa kami menyediakan struktur yang sengaja didesain untuk menyembunyikan identitas pemilik aslinya sama sekali tidak berdasar dan keliru.”

Firma ini juga menegaskan bahwa praktek membuat tanggal mundur dari sebuah dokumen merupakan “praktek yang punya dasar kuat dan diterima dalam industri kami dan tujuannya bukan untuk menutupi atau menyembunyikan kegiatan yang melanggar hukum.” Selain itu, Mossack juga menolak berkomentar atas klien mereka secara spesifik karena mereka wajib menjaga kerahasiaan kliennya.

Salahsatu pendiri Mossack, Ramon Fonseca, dalam sebuah wawancara di televisi Panama belum lama ini menegaskan bahwa perusahaannya tidak punya tanggungjawab atas apapun yang dilakukan kliennya menggunakan perusahaan offshore yang dijual oleh Mossack. Dia membandingkan Mossack dengan sebuah pabrik mobil yang batas tanggungjawab hukumnya (liability) selesai ketika mobil keluar dari pabrik itu.

Menyalahkan Mossack Fonseca atas semua perilaku pemilik perusahaan yang dibantu Mossack, menurut Ramon, sama saja dengan menyalahkan pabrik mobil ketika mobil yang mereka produksi, dipakai untuk merampok.

MULAI DIBIDIK
Sampai belum lama ini, Mossack Fonseca memang hampir selalu beroperasi dalam bayangan. Baru belakangan ada tanda-tanda munculnya upaya pengawasan atas perusahaan ini. Perubahan positif ini terjadi setelah sejumlah pemerintahan mendapatkan bocoran dokumen tentang praktek yang terjadi di dalam Mossack. Otoritas di Jerman dan Brasil misalnya, sudah mulai bergerak menyelidiki beberapa praktek bisnis Mossack di negara mereka.

Pada Februari 2015, koran Jerman SüddeutscheZeitung memberitakan bahwa penegak hukum di sana menggeledah kantor bank terbesar Jerman, Commerzbank, dalam kasus penggelapan pajak yang menurut otoritas Jerman bisa berujung pada penetapan sejumlah karyawan Mossack Fonseca jadi tersangka kasus kriminal.

Kantor Mossack Fonseca di British Virgin Islands. (FOTO: Centro de Periodismo Investigativo)

Di Brasil, Mossack Fonseca sedang diincar dalam kasus penyuapan dan pencucian uang dalam sebuah operasi yang dikenal dengan nama operasi ‘Car Wash’ atau ‘Lava Jato’ dalam bahasa Portugis. Operasi ini sudah menjerat sejumlah politikus ternama di Brasil dan kini mengarah pada mantan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva. Bahkan, skandal ini disebut-sebut mengancam posisi Presiden Brasil saat ini, Dilma Rousseff.

Pada Januari 2016, jaksa Brasil menyebut Mossack Fonseca sebagai perusahaan ‘pencucian uang besar’ dan mengumumkan bahwa kejaksaan telah menetapkan lima pegawai kantor Mossack di Brasil sebagai tersangka atas peran mereka dalam skandal ini. Mossack sendiri membantah mereka terlibat pelanggaran hukum di sana.

Informasi yang terkuak dari kebocoran dokumen ini memperluas secara dramatis semua proyek investigasi yang pernah dikerjakan ICIJ mengenai perusahaan offshore selama empat tahun terakhir. Dalam sebuah kolaborasi jurnalisme global terbesar yang pernah ada, jurnalis yang bekerja dalam 25 bahasa berbeda, menggali semua data Mossack dan melacak jejak transaksi rahasia firma ini dengan klien-kliennya di seluruh dunia. Para jurnalis saling berbagi informasi dan memburu petunjuk yang disediakan oleh dokumen bocor ini dengan menggunakan database korporasi, catatan properti, laporan keuangan, berkas perkara pengadilan dan wawancara dengan penegak hukum.

Adalah para reporter di SüddeutscheZeitung yang pertama kali memperoleh jutaan data ini dan membaginya dengan ICIJ dan semua media dalam kolaborasi ini. Tak ada media yang diminta membayar untuk memperoleh dokumen ini.

Sebelum SüddeutscheZeitung memperoleh dokumen ini, aparat pajak di Jerman sebenarnya sudah membeli sebagian kecil dokumen serupa dari seorang pembocor. Dokumen itu kemudian berujung pada sejumlah operasi penggeledahan di Jerman pada awal 2015. Dokumen ini kemudian ditawarkan pada otoritas pajak di Inggris, Amerika Serikat dan sejumlah negara lain. Demikian diungkapkan seorang sumber yang mengetahui ihwal perkara ini.

Dokumen yang menjadi sumber laporan ini menawarkan lebih dari sekadar potongan informasi mengenai cara kerja sebuah firma hukum, atau katalog dari klien mereka. Informasi dari dokumen ini membuat publik bisa memahami sebuah industri yang selama ini berusaha keras menutupi semua praktek bisnisnya.

Data ini juga memberi petunjuk mengapa berbagai usaha untuk mereformasi sistem keuangan semacam ini, selalu gagal. Kisah mengenai Mossack Fonseca ini adalah kisah mengenai seluruh sistem offshore itu sendiri.

KEJAHATAN ABAD INI
Sebelum fajar menyingsing pada 26 November 1983, enam perampok menyelinap masuk ke gudang milik Brink’s-Mat di Bandara Heathrow, London, Inggris. Mereka mengikat penjaga keamanan, menyiram mereka dengan bensin dan menyalakan korek api lalu mengancam akan membakar mereka semua kecuali mereka membukakan pintu almari besi di sana. Di sana, para perampok menemukan hampir 7 ribu batang emas, berlian dan uang tunai. “Terimakasih banyak atas bantuannya. Selamat Natal,” kata salahsatu perampok ketika mereka pergi.

Media di Inggris ketika itu menyebut perampokan ini sebagai kejahatan abad ini: ‘Crime of the Century’. Apalagi belakangan sebagian besar hasil rampokan ini, termasuk hasil penjualan emas yang dicairkan, tak pernah ditemukan sampai sekarang. Kemana uang hasil rampokan itu mengalir adalah misteri yang terus menarik perhatian pemerhati dunia kejahatan di Inggris.

Sekarang dokumen Mossack Fonseca menunjukkan bahwa firma ini dan pendirinya, Jürgen Mossack, amat mungkin terlibat melindungi kekayaan hasil kejahatan fenomenal ini, dengan menyembunyikan sebuah perusahaan yang terkait dengan Gordon Parry, seorang makelar di London yang bertugas mencuci uang dari komplotan perampok Brink’s-Mat.

Enambelas bulan setelah perampokan itu, catatan menunjukkan Mossack Fonseca mendirikan sebuah perusahaan cangkang di Panama bernama Feberion Inc. Jürgen Mossack adalah satu dari tiga direktur ‘nominee’ perusahaan itu. Nominee adalah istilah di dunia bisnis gelap untuk menyebut orang yang namanya dipakai di dokumen perusahaan seolah sebagai pemilik namun sebenarnya tidak punya kendali atas operasional perusahaan itu.

Sebuah memo internal yang ditulis Jurgen Mossack menunjukkan bahwa baru pada 1986, dia sadar bahwa klien itu “tampaknya terlibat dalam pengelolaan dana dari hasil perampokan Brink’s-Mat di London. Perusahaan itu sendiri tidak melakukan sesuatu yang ilegal, namun bisa saja perusahaan itu menginvestasikan uang lewat rekening bank dan properti yang diperoleh secara tak sah.”

Setahun kemudian, pada 1987, catatan Mossack Fonseca menunjukkan dengan jelas bahwa ada kaitan antara Gordon Parry dan Feberion. Namun, bukannya membantu penegak hukum untuk memeriksa aset Feberion, Mossack malah mengambil langkah-langkah untuk mengamankan aset dan mencegah polisi mengendalikan perusahaan itu.

Misalnya, ketika polisi berhasil menguasai dua sertifikat kepemilikan Feberion, Mossack malah menerbitkan 98 saham baru, sebuah langkah yang secara efektif mencegah penyidik masuk ke dalam perusahaan itu dan menggagalkan upaya penegakan hukum. Baru pada 1995, tiga tahun setelah Parry dikirim ke penjara atas keterlibatannya dalam perampokan emas, Mossack memutus hubungan dengan Feberion.

Juru bicara Mossack membantah tudingan bahwa perusahaan mereka membentengi dana hasil perampokan Brink’s-Mat. Mereka menegaskan bahwa Jurgen Mossack tidak pernah terlibat dengan urusan bisnis apapun dengan Parry, dan tidak pernah dihubungi polisi soal kasus ini. Pembelaan Mossack Fonseca ini menunjukkan bagaimana pelaku bisnis offshore siap melakukan apapun untuk melayani pelanggan mereka.

Kantor Mossack Fonseca di Panama. (FOTO: Mathieu Tourliere, Revista Proceso)

Sistem offshore mengandalkan jejaring industri global dari para bankir, pengacara, akuntan dan para perantara yang bekerjasama untuk melindungi rahasia klien mereka. Para pakar kerahasiaan ini menggunakan perusahaan anonim, majelis wali amanat (trust), dan entitas papan nama (paper entities) lain untuk menciptakan sebuah struktur kompleks yang bisa dipakai untuk menyamarkan asal usul dana haram.

“Mereka (perusahaan seperti Mossak Fonseca–) adalah bensin yang menjalankan mesin ini,” kata Robert Mazur, mantan agen anti narkotika Amerika Serikat dan penulis buku ‘The Infiltrator: My Secret Life Inside the Dirty Banks Behind Pablo Escobar’s Medellín Cartel’. Menurut Mazur, “Mereka adalah bagian yang amat penting untuk suksesnya sebuah organisasi kriminal.”

Mossack Fonseca membantah tudingan itu. Mereka menegaskan bahwa mereka mengikuti “huruf demi huruf peraturan hukum dan juga spiritnya. Karena itulah, selama 40 tahun kami beroperasi, kami tidak pernah didakwa melanggar hukum.”

Para pria yang mendirikan Mossack Fonseca berpuluh tahun lalu, dan berlanjut hingga kini sebagai mitra utama perusahaan ini, adalah figur-figur yang amat dikenal di dunia politik dan publik Panama. Jürgen Mossack adalah seorang imigran asal Jerman yang semenjak kecil pindah ke Panama bersama keluarganya.

Ayahnya mencari kehidupan baru di Panama, setelah menjadi tentara Waffen-SS di era Hitler pada perang Dunia II. Ramon Fonseca adalah novelis yang kerap mendapat penghargaan, yang belakangan menjadi penasehat untuk Presiden Panama. Dia mengambil cuti dari pekerjaannya menjadi penasehat Presiden pada Maret 2016, setelah Mossack dikaitkan dengan skandal di Brasil dan setelah media mulai mempertanyakan cara kerja firma itu.

Dari basisnya di Panama, yang sudah lama dikenal sebagai zona rahasia finansial dunia, Mossack Fonseca melahirkan perusahaan-perusahaan anonim di Panama, British Virgin Islands dan surga finansial lainnya. Firma ini telah bekerja berdampingan dengan bank besar dan kantor pengacara ternama di tempat seperti Belanda, Meksiko, Amerika Serikat dan Swiss, membantu klien memindahkan uang atau memotong tagihan pajak mereka.

Analisa ICIJ atas dokumen yang bocor ini menemukan bahwa ada lebih dari 500 bank, cabang dan rekanan, yang pernah bekerja dengan Mossack Fonseca sejak 1970an untuk membantu klien mengelola perusahaan offshore.

UBS membantu mempersiapkan 1.100 perusahaan offshore lewat Mossack Fonseca. Sementara HSBC dan afiliasinya menciptakan lebih dari 2.300 perusahaan. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa ada indikasi Mossack bekerjasama dengan lebih dari 14 ribu bank, kantor pengacara, dan perantara lain untuk mendirikan perusahaan, yayasan, majelis wali amanat (trust), untuk pelanggan.

Mossack Fonseca menegaskan bahwa para perantara inilah yang sejatinya merupakan klien mereka, bukan para pelanggan yang menggunakan perusahaan offshore yang mereka ciptakan. Firma ini mengatakan bahwa para perantara ini justru menyediakan satu lapisan tambahan untuk memeriksa keabsahan klien mereka. Soal prosedur mereka, Mossack Fonseca berani menegaskan bahwa mereka “mengikuti dan bahkan melebihi ketentuan dan standar yang mengikat mereka.”

Dalam upayanya melindungi Feberion Inc., perusahaan cangkang yang terkait dengan perampokan emas di Brink’s-Mat, Mossack Fonseca menggunakan sebuah firma yang berbasis di Panama, Chartered Management Company, yang dikendalikan oleh Gilbert R.J. Straub, seorang ekspatriat asal Amerika yang pernah terlibat dalam skandal Watergate.

Pada 1987, ketika polisi Inggris memeriksa perusahaan cangkang itu, Jürgen Mossack dan satu direktur lain di Feberion mundur, dengan syarat mereka akan diganti oleh direktur baru yang ditunjuk perusahaan Straub, Chartered Management. Belakangan, Straub ditangkap oleh Badan Anti Narkotika Amerika Serikat, dalam sebuah kasus yang tidak langsung berkaitan dengan kasus Brink’s-Mat. Ini diungkapkan Mazur, bekas agen Badan Anti Narkotika Amerika Serikat.

Mazur-lah yang mengumpulkan keping demi keping bukti sampai Straub mengaku bersalah terlibat dalam kasus pencucian uang pada 1995. Kepada Mazur, Straub pernah mengaku terlibat dalam penyaluran dana ilegal untuk kampanye pemilihan kembali Presiden AS Richard Nixon pada 1972.

KORBAN KONSPIRASI RAHASIA
Ayah Nick Kgopa meninggal ketika dia baru berumur 14 tahun. Rekan sekerja ayahnya di sebuah tambang emas di utara Afrika Selatan mengatakan ayah Nick meninggal akibat paparan zat kimia di dalam tambang.

Nick dan adiknya yang tuna rungu, bisa bertahan hidup tanpa ayah mereka berkat kiriman uang bulanan dari sebuah dana sosial yang dirancang untuk membantu janda dan anak yatim dari pekerja tambang di Afrika Selatan.

Sayangnya, suatu hari kiriman uang mendadak berhenti. Laporan media memaparkan kalau keluarga Nick adalah satu dari sekian keluarga yang jadi korban tak langsung sebuah skandal penipuan masif senilai US$ 60 juta yang dilakukan sekelompok pengusaha Afrika Selatan. Menurut dakwaan jaksa, beberapa orang yang terkait perusahaan manajemen aset, Fidentia, berkomplot untuk merampok dana investasi, yang selama ini sebagian hasilnya dipakai untuk mendukung kehidupan anak yatim seperti Nick Kgopa. Total ada 46 ribu orang janda dan anak yatim yang kehilangan tunjangan bulanannya akibat penipuan ini.

Dokumen Mossack Fonseca yang bocor menunjukkan bagaimana setidaknya dua orang yang terlibat dalam penipuan ini menggunakan firma hukum asal Panama itu untuk menciptakan perusahaan offshore. Dokumen juga menunjukkan bagaimana Mossack terus menerus melindungi para penipu dan uang hasil penipuan mereka, meski otoritas Afrika Selatan sudah mengumumkan keterlibatan mereka dalam skandal ini.

Para penipu skema ponzi dan jejaringnya kerap menggunakan struktur perusahaan offshore untuk mendukung skema mereka dan menyembunyikan prosesnya. Kasus Fidentia misalnya bukanlah satu-satunya penipuan besar yang muncul dalam daftar klien Mossack Fonseca.

Di Indonesia, sejumlah investor menuding sebuah perusahaan yang didirikan Mossack Fonseca di British Virgin Islands terlibat dalam skema penipuan yang merugikan sedikitnya 3.500 orang dengan nilai lebih dari US$ 150 juta. “Kami amat membutuhkan dana untuk pendidikan anak kami pada bulan April ini,” kata seorang investor Indonesia dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah dalam emailnya pada Mossack Fonseca yang dikirim pada April 2007. “Tolong beri saran, apa yang bisa kami lakukan,” tulisnya lagi. Nama Mossack dan alamat emainya tercantum dalam leaflet perusahaan investasi itu.

Dalam kasus Fidentia, catatan Mossack menunjukkan bagaimana satu dari kelompok penipu yang belakangan dipenjara di Afrika Selatan, Graham Maddock, membayar US$ 59 ribu pada 2005 dan 2006 untuk menciptakan dua perusahaan offshore, termasuk satu yang bernama Fidentia North America. Catatan Mossack menunjukkan bahwa mereka memberikan pelayanan VIP pada Maddock.

Mossack juga menciptakan struktur perusahaan offshore untuk Steven Goodwin, pria yang belakangan disebut jaksa di Afsel berperan penting dalam penipuan Fidentia. Setelah skandal ini terbongkar pada 2007, Goodwin terbang ke Australia, kemudian ke Amerika Serikat, dimana pengacara Mossack menemuinya di sebuah hotel mewah di Manhattan, New York, untuk mendiskusikan keadaan perusahaan offshore-nya.

Karyawan Mossack menulis dalam catatan internal perusahaannya kalau dia dan Goodwin “berbicara dengan mendalam” mengenai skandal Fidentia dan dia “meyakinkan Goodwin untuk lebih melindungi” perusahaan offshore miliknya jika Goodwin melimpahkannya pada pihak ketiga. Dalam memo itu, karyawan Mossack menulis bahwa Goodwin tidak terlibat dalam skandal itu “dalam kapasitas apapun” dan dia “hanya korban dari keadaan.”

Pada April 2008, FBI menangkap Goodwin di Los Angeles dan mendeportasi dia kembali ke Afrika Selatan. Di sana, Goodwin mengaku bersalah dalam kasus penipuan dan pencucian uang. Dia kemudian divonis 10 tahun penjara.

Sebulan setelah Goodwin divonis, seorang karyawan Mossack menulis email yang berisi rencana mereka membuat frustasi penegak hukum di Afrika Selatan yang sedang berusaha merebut kembali aset Goodwin yang disembunyikan di perusahaan offshore, Hamlyn Property LLP. Perusahaan itu memang sengaja dibuat Goodwin untuk menguasai industri real estate di Afrika Selatan.

Karyawan ini menyarankan agar ada seorang akuntan yang diminta “mempersiapkan” audit untuk tahun fiskal 2006 dan 2007, dalam upaya “mencegah jaksa mengambil tindakan apapun atas badan hukum di belakang Hamlyn.” Dia menggunakan tanda kutip di kata “mempersiapkan”.

Tak jelas apakah saran itu benar-benar dilaksanakan atau tidak. Mossack Fonseca tidak menjawab pertanyaan soal relasinya dengan Goodwin. Kuasa dari Goodwin menjelaskan pada ICIJ bahwa kliennya “tidak memiliki hubungan apapun” dengan skandal Fidentia, dan “tidak terlibat langsung maupun tak langsung dengan 46 ribu janda dan anak yatim.”

JEJARING POLITIKUS
Pada 10 Februari 2011, sebuah perusahaan tak dikenal di British Virgin Islands bernama Sandalwood Continental Ltd. meminjamkan US$ 200 juta ke sebuah perusahaan gelap lain yang berbasis di Siprus dengan nama Horwich Trading Ltd. Pada keesokan harinya, Sandalwood menyerahkan hak untuk menagih pembayaran atas pinjaman itu –termasuk bunga– pada Ove Financial Corp., sebuah perusahaan misterius di British Virgin Islands. Untuk memperoleh hak itu, Ove membayar US$ 1 saja.

Jejak uang ini tak berhenti di sana. Pada hari yang sama, Ove menyerahkan hak untuk menagih pembayaran atas pinjaman itu pada sebuah perusahaan Panama bernama International Media Overseas. Perusahaan ini juga membayar hanya US$ 1 saja.

Dalam jangka waktu 24 jam saja, pinjaman itu, setidaknya di atas kertas, sudah berpindah ke tiga negara, dua bank dan empat perusahaan, membuat uang itu menjadi nyaris mustahil dilacak.

Ada banyak alasan mengapa orang-orang di belakang transaksi ini ingin perpindahan uang ini tersamarkan. Belakangan terungkap bahwa fulus jumbo ini berasal dari lingkaran terdekat Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebuah bank berbasis di St Petersburg, Bank Rossiya, yang pemilik dan komisaris utamanya dikenal sebagai ‘juru bayar Putin’ adalah lembaga yang membentuk Sandalwood Continental dan mengarahkan aliran uang ini.

Sementara International Media Overseas, yang mendapat hak tagih atas dana US$ 200 juta, dikendalikan di atas kertas oleh kawan lama Putin, Sergey Roldugin, seorang pemain cello klasik yang menjadi ayah baptis untuk anak perempuan tertua Putin.

Pinjaman US$ 200 juta ini adalah satu dari belasan transaksi dengan total nilai US$ 2 miliar yang bisa ditemukan dalam dokumen Mossack Fonseca, yang berisi nama orang dan perusahaan yang terkait dengan Putin. Mereka adalah pengendali utama Bank Rossiya yang menguasai mayoritas saham di perusahaan pembuat truk terbesar di Rusia dan punya sejumlah saham rahasia di aset-aset penting industri media di negara itu.

Pembayaran mencurigakan dari kroni Putin ini bisa jadi didesain sebagai setoran, kemungkinan sebagai imbalan atas kontrak atau bantuan dari pemerintah Rusia. Dokumen rahasia yang bocor ini menunjukkan bahwa sebagian besar pinjaman uang dalam transaksi ini bersumber dari sebuah bank di Siprus yang pada saat itu dimiliki oleh Bank VTB, yang dikendalikan oleh pemerintah Rusia.

Pada sebuah konferensi pers akhir Maret 2016, juru bicara Putin Dmitry Peskov mengatakan bahwa pemerintah Rusia tidak akan menjawab pertanyaan dari ICIJ atau media mitranya, karena pertanyaan yang diajukan “sudah disampaikan beratus kali dan dijawab beratus-ratus kali.” Peskov menambahkan bahwa Rusia sudah meyiapkan “semua amunisi legal yang mungkin di arena nasional dan internasional, untuk melindungi kehormatan dan martabat presiden kami.”

***

DI bawah perjanjian nasional dan internasional, firma seperti Mossack Fonseca yang membantu membuat perusahaan dan rekening bank seharusnya selalu mencari kemungkinan klien mereka terlibat dalam pencucian uang, penggelapan pajak, atau pelanggaran lain. Secara hukum, mereka diminta untuk memperhatikan orang-orang yang secara politik terkait (politically exposed persons) – yakni pejabat pemerintah, anggota keluarga mereka atau orang dekat. Jika seseorang masuk dalam kategori itu maka perantara yang membuatkan dokumen perusahaan untuk mereka diharapkan meninjau kembali seluruh kegiatan yang bersangkutan untuk memastikan mereka tak tersangkut kasus korupsi.

Mossack Fonseca memberitahu ICIJ kalau mereka “sudah menetapkan kebijakan dan prosedur yang ketat untuk mengidentifikasi dan menangani kasus-kasus dimana individu yang terlibat merupakan kategori politically exposed persons.”

Namun, seringkali, Mossack Fonseca seolah tak paham siapa sebenarnya klien mereka. Sebuah laporan audit pada 2015 menemukan bahwa Mossack hanya tahu identitas asli dari pemilik 204 perusahaan, dari total 14.086 perusahaan yang mereka dirikan di Seychelles, sebuah kawasan surga bebas pajak di Samudera India.

Otoritas di British Virgin Islands bahkan pernah mendenda Mossack Fonseca sebesar US$ 37.500 karena firma ini melanggar aturan anti pencucian uang ketika membuatkan perusahaan untuk anak mantan Presiden Mesir Husni Mubarak dan tidak menjelaskan siapa klien mereka meski Mubarak dan anaknya telah didakwa melakukan korupsi di Mesir. Review internal di Mossack Fonseca sendiri menyimpulkan bahwa ‘formula penilaian risiko (risk assesment) kita amat lemah.”

Mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak. (FOTO: AP)

https://projects.icij.org/panama-papers/power-players/?lang=en#20Analisa ICIJ sendiri atas dokumen Mossack yang bocor menemukan ada setidaknya 58 anggota keluarga dan orang dekat perdana menteri, presiden dan raja-raja yang jadi klien firma ini. Catatan menunjukkan, sebagai contoh, bahwa keluarga Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menggunakan yayasan dan perusahaan di Panama untuk menguasai saham rahasia di tambang emas dan sebuah real estate di London.

Anak-anak dari Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif juga memiliki sebuah real estate di London, lewat sebuah perusahaan yang dibuatkan oleh Mossack Fonseca.

Di Cina, anggota keluarga dari setidaknya delapan mantan maupun pejabat aktif Komite Pusat Politbiro Partai Komunis Cina, organ utama pemerintahan negeri itu, memiliki perusahaan offshore yang didirikan via Mossack Fonseca. Bahkan saudara ipar Presiden Xi Jinping termasuk yang mendirikan dua perusahaan di British Virgin Islands pada 2009.

Juru bicara pemerintahan Azerbaijan, Cina dan Pakistan tidak menjawab permohonan konfirmasi untuk informasi ini.

Daftar pemimpin dunia yang menggunakan Mossack Fonseca untuk mendirikan perusahaan offshore termasuk Presiden Argentina Mauricio Macri, yang pernah menjabat Direktur dan Wakil Presiden sebuah perusahaan berbasis di Panama, yang dikelola Mossack Fonseca, ketika Macri menjadi pengusaha dan kemudian Wali Kota Buenos Aires, Ibu Kota Argentina. Juru bicara pemerintah Argentina menegaskan bahwa Macri tak pernah memiliki saham perusahaan itu secara personal, karena perusahaan itu adalah bagian dari bisnis keluarga.

https://projects.icij.org/panama-papers/power-players/?lang=en#27

Ketika Rusia menginvasi wilayah Ukraina, Donbas, pada 2014, catatan menunjukkan bagaimana wakil dari Presiden Ukraina Petro Poroshenko berusaha mencari salinan rekening air dan listrik pribadi untuk Poroshenko sebagai kelengkapan dokumen pendirian perusahaannya di British Virgin Islands. Juru bicara Poroshenko menegaskan bahwa pendirian perusahaan itu tidak ada hubungannya dengan peristiwa politik atau militer apapun di Ukraina.

Penasehat keuangan Poroshenko menjelaskan bahwa Presiden tidak memasukkan perusahaan BVI itu dalam laporan kekayaannya karena perusahaan itu dan anak perusahaannya di Belanda dan Siprus tidak memiliki aset apapun. Perusahaan itu didirikan sebagai bagian dari restrukturisasi korporasi di bisnis Poroshenko.

Ketika Sigmundur David Gunnlaugsson menjadi Perdana Menteri Islandia pada 2013, dia juga menyembunyikan satu rahasia yang bisa mengganggu karir politiknya. Pada 2009, ketika dia terpilih menjadi anggota parlemen, Gunnlaugsson dan istrinya bersama-sama memiliki sebuah perusahaan offshore di British Virgin Islands. Beberapa bulan kemudian, dia menjual saham bagiannya ke istrinya dengan nilai US$ 1.

Perusahaan itu memegang surat utang yang semula bernilai jutaan dolar di tiga bank raksasa di Islandia. Ketiga bank itu rontok pada puncak krisis ekonomi dunia pada 2008 dan membuat perusahaan Gunnlaugsson otomatis menjadi kreditor dalam proses pailit ketiga bank itu.

Tahun lalu, pemerintah Islandia bernegosiasi dengan semua kreditor bank-bank yang tutup di sana. Namun Gunnlaugsson tetap tidak melaporkan keterlibatannya sebagai pemilik salahsatu perusahaan kreditor yang kemungkinan akan mendapatkan keuntungan finansial dari negosiasi itu.

https://projects.icij.org/panama-papers/power-players/?lang=en#49

Pekan lalu Gunnlaugsson membantah kalau kepentingan bisnis keluarganya memiliki pengaruh atas posisi pemerintahannya dalam negosiasi dengan kreditor. Catatan Mossack Fonseca yang bocor tidak menjelaskan dengan detail apakah posisi politik Gunnlaugsson merugikan atau menguntungkan nilai surat utang yang dia pegang melalui perusahaan offshore itu.

Dalam sebuah wawancara dengan mitra ICIJ, Reykjavik Media, Gunnlaugsson membantah menyembunyikan asetnya. Ketika nama perusahaan offshore yang terkait dirinya, Wintris Inc. disebut, Perdana Menteri itu berujar, “Saya merasa tak nyaman dengan pertanyaan ini, karena seolah Anda menuduh saya sesuatu.” Dia kemudian menghentikan wawancara.

Empat hari kemudian, istrinya mempublikasikan isu ini melalui Facebook. Dalam catatan yang ditulis istri Gunnlaugsson di media sosial itu, dia menegaskan bahwa dialah yang memiliki perusahaan offshore itu, dan bukan suaminya. Dia juga menegaskan bahwa semua pajak perusahaan itu sudah dibayar. Penjelasan istri Gunnlaugsson membuat sejumlah anggota parlemen Islandia makin mempertanyakan mengapa Perdana Menteri tidak membuat penjelasan itu sebelumnya. Satu anggota parlemen bahkan sudah mendesak Gunnlaugsson untuk mundur dari posisinya.

Kini Perdana Menteri Islandia melawan dan merilis sebuah penjelasan sepanjang 8 halaman untuk menegaskan bahwa “tidak ada ketentuan hukum apapun yang mengharuskan saya membuka informasi ini karena perusahaan itu milik istri saya dan perusahaan itu hanya perusahaan induk (holding company) yang tak terlibat dalam bisnis komersial apapun.”

MENUTUPI OFFSHORE
Pada 2005, sebuah kapal wisata bernama Ethan Allen tenggelam di Danau George, New York, AS, menewaskan 20 turis lanjut usia di atas kapal itu. Setelah korban kapal itu mengajukan tuntutan, terungkap bahwa perusahaan wisata pemilik kapal itu tak punya asuransi sama sekali karena mereka ditipu oleh gerombolan pemalsu polis asuransi.

Malchus Irvin Boncamper, seorang akuntan di St Kitts, di kepulauan Karibia, mengaku bersalah di pengadilan Amerika Serikat, atas perbuatannya membantu para penipu memuluskan upaya pemalsuan asuransi itu.

Belakangan kasus ini menjadi masalah untuk Mossack Fonseca karena Boncamper rupanya sudah lama punya pekerjaan sambilan menjadi “frontman” atau “nominee” atau nama bayangan untuk lebih dari 30 perusahaan yang dibuat Mossack.

Setelah vonis untuk Boncamper diketahui, Mossack bertindak cepat. Perusahaan ini mengganti nama Boncamper di semua perusahaan yang pernah melibatkan namanya, dan memundurkan tanggal dokumen agar tampak bahwa penggantian ini sudah dilakukan setidaknya satu dekade sebelumnya.

Kasus Boncamper ini menunjukkan bagaimana firma hukum kerap menggunakan taktik yang tak terpuji untuk menyembunyikan metode mereka atau perilaku klien mereka dari endusan penegak hukum.

Pada Operasi Car Wash di Brasil, jaksa menuding karyawan Mossack Fonseca menghancurkan dan menyembunyikan dokumen untuk menutupi keterlibatan mereka dalam kasus pencucian uang di sana. Dokumen polisi menunjukkan bahwa satu ketika seorang karyawan Mossack di kantor cabang mereka di Brasil mengirim email pada rekan sekerjanya, meminta rekannya itu untuk menyembunyikan dokumen seorang klien yang sedang diincar dalam penyidikan polisi: “Jangan tinggalkan apapun. Aku akan simpan semuanya di mobil atau rumahku.”

Di Nevada, AS, dokumen menunjukkan bagaimana karyawan Mossack Fonseca bekerja keras pada 2014 untuk mengaburkan kaitan antara kantor firma itu di Las Vegas dan kantor pusat mereka di Panama, untuk mengantisipasi perintah pengadilan AS yang akan memaksa mereka membuka informasi soal 123 perusahaan yang mereka dirikan di sana.

Informasi mengenai kaitan perusahaan di Nevada dan Panama penting karena para jaksa di Argentina sedang mencari kaitan sebuah perusahaan yang dibuat Mossack dan berbasis di Nevada itu dengan penyidikan skandal megakorupsi yang melibatkan bekas Presiden Néstor Kirchner dan Cristina Fernández de Kirchner.

Untuk lepas dari jerat hukum Amerika, Mossack menyatakan bahwa kantor cabangnya di Las Vegas yang bernama MF Nevada, bukanlah kantor cabang sama sekali. Markas utama Mossack di Panama tidak punya kewenangan apapun di kantor itu. Nah, dokumen internal yang bocor menunjukkan sebaliknya: Mossack di Panama memang mengendalikan rekening bank MF Nevada. Seorang pendiri dan seorang karyawan Mossack merupakan pemegang 100 persen saham MF Nevada.

Untuk menutupi kaitan ini, Mossack memindahkan semua dokumen dari kantor mereka di Nevada dan menghapus semua file di komputer mereka yang bisa mengaitkan Panama dan Nevada. Demikian terungkap dari percakapan email karyawan Mossack. Kekhawatiran utama mereka, satu email menjelaskan, adalah manajer kantor Nevada mungkin terlalu takut untuk berbuat apapun, sehingga “penyidik justru bisa menemukan kalau kita berusaha menyembunyikan sesuatu.”

Mossack Fonseca menolak menjawab pertanyaan soal insiden Brasil dan Nevada, namun membantah semua tuduhan bahwa mereka terlibat dalam upaya menghambat penegakan hukum dan menyembunyikan kegiatan ilegal. “Menyembunyikan dan menghancurkan dokumen yang mungkin dibutuhkan dalam proses penegakan hukum, bukanlah kebijakan kami,” demikian jawaban dari firma ini.

MEREFORMASI DUNIA GELAP
Pada 2013, Perdana Menteri Inggris David Cameron mendesak kawasan bebas pajak di negaranya –termasuk British Virgin Islands– untuk bekerjasama “membersihkan rumah kita sendiri” dan bergabung dalam gerakan bersama melawan pelarian pajak dan kerahasiaan dunia offshore. Cameron sebenarnya tak perlu memulai jauh-jauh. Dia tinggal melihat apa yang dilakukan ayahnya untuk tahu seberapa besar potensi tantangan dari upaya semacam itu.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron. (FOTO: REUTERS/Matthew Lloyd/Pool)

Ayah David Cameron, Ian Cameron, adalah seorang pialang saham dan miliarder dari Inggris, yang menggunakan Mossack Fonseca agar perusahaan dana investasinya, Blairmore Holdings, Inc., tidak harus membayar pajak di Inggris. Nama perusahaan itu diambil dari nama rumah keluarga Cameron di wilayah pedesaan Inggris.

Mossack kemudian mendaftarkan perusahaan investasi itu di Panama, meski banyak pemegang sahamnya berkewarganegaraan Inggris. Ian Cameron mengendalikan seluruh kegiatan perusahaan ini sejak pendiriannya pada 1982 sampai dia meninggal pada 2010.

Sebuah dokumen prospektus untuk investor Blairmore mencantumkan pengakuan bahwa perusahaan itu “sebaiknya dikelola dan diatur agar tidak menjadi bagian dari sistem di Inggris dan menjadi wajib pajak di Inggris.”

Perusahaan ini mencapai tujuan itu dengan menggunakan sertikat kepemilikan yang mustahil dilacak, yang biasa disebut ‘saham atas nama’ (bearer shares) dan mempekerjakan direksi ‘nominee’ di Bahama. Sejarah Ian Cameron menghindari pajak merupakan contoh bagaimana dunia offshore berjalin berkelindan dengan nama-nama elite politik dan bisnis di seluruh dunia. Tak hanya itu, keberadaan sistem rahasia ini kerap menjadi sumber pemasukan untuk banyak negara. Konflik kepentingan yang begitu dalam ini membuat semua upaya untuk mereformasi sistem finansial ini menjadi amat sulit.

Di Amerika Serikat saja, negara bagian seperti Delaware dan Nevada –yang memang memperbolehkan perusahaan didaftarkan secara anonym– terus melawan semua upaya reformasi untuk memaksa mereka jadi lebih terbuka. Negara asal Mossack Fonseca, Panama, juga menolak untuk terlibat dalam rencana global untuk saling bertukar informasi mengenai rekening bank nasabah, karena mereka takut industri offshore di negara mereka jadi tidak kompetitif lagi. Pejabat Panama mengaku siap bertukar informasi, namun dalam skala yang lebih kecil.

Kondisi ini mempersulit para penegak hukum yang harus membongkar dan menghentikan kejahatan yang semua transaksinya disembunyikan di balik lapisan kerahasiaan. Satu alat yang efektif untuk membongkar jejaring gelap ini adalah pembocoran berbagai dokumen offshore yang bisa menyeret semua transaksi gelap ini ke tempat yang lebih terbuka.

Kepada Tempo, Menteri Keuangan Indonesia Bambang Brodjonegoro menjelaskan bahwa pemerintah sudah mengantongi data mengenai ribuan perusahaan offshore dan perusahaan cangkang milik orang Indonesia di luar negeri. “Nilainya ribuan triliun rupiah,” kata Bambang. UU Pengampunan Pajak yang sedang dibahas di Senayan, kata dia, adalah upaya pemerintah menarik pulang semua dana itu.

Bambang Brodjonegoro. (FOTO: TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo)

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa berbagai kebocoran dokumen yang diungkap oleh ICIJ dan media mitranya, cukup efektif untuk mendorong adanya legislasi baru dan dimulainya penyidikan di belasan negara. Laporan semacam ini juga membuat para klien offshore ketakutan suatu saat rahasia mereka bakal terbongkar.

Pada April 2013, setelah ICIJ pertama kali mempublikasikan laporan berjudul “Offshore Leaks” mengenai kebocoran dokumen rahasia di British Virgin Islands dan Singapura, sejumlah klien Mossack Fonseca menulis email, meminta jaminan dari perusahaan itu bahwa rahasia mereka bakal aman dari kebocoran.

Sebagai jawaban, Mossack Fonseca meminta klien mereka agar tak usah khawatir. Mereka menegaskan bahwa komitmen mereka untuk menjaga privasi klien “adalah prioritas utama kami. Semua informasi rahasia Anda tersimpan dalam pusat data kami yang amat canggih dan semua komunikasi Anda dengan jejaring global kami dilakukan lewat saluran yang terenkripsi dengan algoritma berstandar dunia.”

***

Laporan ini ditulis dan disiapkan oleh : Bastian Obermayer, Gerard Ryle, Marina Walker Guevara, Michael Hudson, Jake Bernstein, Will Fitzgibbon, Mar Cabra, Martha M. Hamilton, Frederik Obermaier, Ryan Chittum, Emilia Díaz-Struck, Rigoberto Carvajal, Cécile Schilis-Gallego,Marcos García Rey, Delphine Reuter,Matthew Caruana-Galizia, Hamish Boland-Rudder, Miguel Fiandor and Mago Torres.

Di Indonesia, tim Tempo yang terlibat adalah Wahyu Dhyatmika, Philipus Parera, Agoeng Widjaya dan Mustafa Silalahi. (*)

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro:
Mereka Orang Terkaya
dan Terkenal
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro
Mossack Fonseca. (FOTO: REUTERS/Carlos Jasso)

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro:

Mereka Orang Terkaya dan Terkenal

Pemerintah mengklaim sudah memiliki data yang cukup lengkap mengenai orang-orang kaya dan terkemuka yang menyembunyikan kekayaannya di luar negeri. Nilai kekayaan orang Indonesia yang tersembunyi di negara-negara tax haven, menurut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, lebih dari Product Domestic Bruto Indonesia yang sekarang sekitar Rp 11.000 triliun. “Kami punya data intelijen tentang mereka,” ujarnya dalam perbincangan dengan Tempo di ruang kerjanya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat 1 April lalu.

Bambang mengatakan, tempat favorit orang Indonsia untuk mendirikan mendirikan shell company atau perusahaan cangkang adalah British Virgin Islands, Cook Island dekat Selandia Baru dan Singapura.

Belum lama ini Anda mengatakan ada perusahaan modal asing (PMA) yang diduga menghindari pajak. Bagaimana bentuknya?
Waktu itu datanya sekitar 2.000 PMA tidak membayar pajak dalam 10 tahun, bahkan lebih. Kalau orang pribadi bayar pajak karena ada income. Perusahaan bayar pajak kalau untung. Jadi kesimpulannya dia selalu mengaku rugi. Logikanya jika rugi mereka tutup dengan mengurangi operasi. Tapi ini tidak, perusahaan jalan normal. Gaji dibayar tepat waktu dan tidak ada isu pemutusan hubungan kerja. Kesimpulan, mereka menghindari pajak.

Bagaimana modus mereka menghindari pajak?
Sejak tahun lalu, kami melakukan pemeriksaan khusus terhadap PMA-PMA ini. Beberapa bisa kami lacak. Umumnya mereka menjual produk ke perusahaan terafiliasi di luar negeri. Ada juga perusahaan sengaja menjual produknya dengan margin rendah, mungkin dua persen, sehingga mengeluh rugi. Tapi perusahaan itu tidak tutup, malah 20 tahun dia ada di indonesia. Ternyata alasannya karena perusahaan itu mengolah bahan tambang rare earth, metal langka yang dibutuhkan industri elektronik. Perusahaan itu bangun smelter di Indonesia untuk mengamankan pasokan metal langka itu ke luar negeri. Sehingga mau di sini rugi tidak masalah, yang penting suplai datang ke sana. Nanti setelah jadi barang elektronik dapat untung gede. Ini jadinya semacam memindahkan keuntungan ke luar negeri. Modus lainnya, utang. Utang itu ada bunga. Bunga menjadi biaya. Biaya itu mengurangi penerimaan. Akhirnya pajak mengecil karena utangnya besar. Padahal utangnya pun tidak benar-benar utang. Modus ini tak hanya mengurangi pajak dari sisi penghasilan perusahaan, tapi juga pajak atas dividen. Karena mereka mengaku rugi, tidak ada dividen. Padahal dividennya ya pembayaran bunga utang tadi.

Lalu apa yang Anda lakukan terhadap mereka?
Yang bisa kami lakukan adalah pemeriksaan sementara. Ada pemikiran ke depan, kami bisa menerapkan semacam alternatif minimum tax payment dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan. Jadi katakanlah kalau sudah lewat tujuh tahun masih rugi, anda harus bayar pajak minimum. Mulai tahun ini kami juga menerapkan aturan debt to equity ratio. Utang yang kami akui dalam perhitungan pajak maksimum 4 kali dari modal. Sebelum ada ini, shareholder loan bisa 10 kali lipat dari modal.

Dari negara mana saja modal asing dalam perusahaan-perusahaan tersebut?
Kalau kami lihat data PMA paling besar itu dari Singapura, meski tidak bisa dibilang yang 2.000 perusahaan tadi banyak perusahaan dari negara itu. Yang jelas ada dari Jepang, Korea, Hongkong dan negara-negara tax haven lain. Bentuknya special purpose vehicle.

Sektor usaha apa yang paling banyak mereka geluti?
Manufaktur.

Data Panama Papers menunjukkan banyak orang pribadi, konglomerat hingga politisi, memiliki perusahaan di Panama, British Virgin Islands, Jersey dan tax haven countries lainnya. Apakah Direktorat Jenderal Pajak memantau mereka?
Kami punya data intelijen tentang mereka. Mungkin tidak meng-cover seluruhnya, tapi sudah menggambarkan kira-kira potensi uang orang Indonesia di luar negeri. Tempat favorit ada di British Virgin Islands. Kedua di Cook Island dekat Selandia Baru. Dan ketiga, Singapura. Tapi ada lagi di Mauritius, Jersey di Inggris, dan Cayman Islands. SPV-SPV itu sangat mungkin berinvestasi di indonesia.

Apakah ada di antara mereka yang terbukti melanggar peraturan?
Selama ini kami terkendala di data. Meskipun, kami tetap melakukan operasi intelijen untuk mendapatkan data perpajakan, dan itu valid, persoalannya data yang bisa digunakan untuk menindak mereka (di pengadilan misalnya –red) harus data resmi. (Solusinya –) nanti (akan ada–) pertukaran data secara internasional pada 2018. Sebenarnya kami bisa tukar-menukar informasi dengan rekan treaty (negara tetangga yang menandatangani kesepakatan pajak dengan Indonesia–). Tapi untuk sekarang belum bisa. Kita bisa minta data dia, tapi dia tidak bisa minta data ke kita. Siapa yang mau tukar kalau tidak ada timbal balik? Jadi exchange of information tidak jalan. Sekarang G20 bikin automatic exchange of information, paling cepat pada 2017.

Apa yang menghambat Indonesia belum bisa melakukan pertukaran data tersebut?
Kita harus mengamandemen Undang-Undang Perbankan. Kita harus displin dengan aturan global, tahun depan paling lambat undang-undang itu harus sudah direvisi. Bukan menghilangkan kerahasiaan, tapi membuka akses terhadap pajak, terhadap rekening simpanan yang selama ini tidak bisa diakses. Selain itu yang juga agak menyulitkan kami adalah Undang-Undang tentang lalu lintas devisa bebas yang mungkin membuat uang hasil ekspor kita, tidak ada di indonesia.

Dari data intelijen itu berapa banyak warganegara Indonesia yang diduga menempatkan hartanya di luar negeri?
Kami sudah mempunyai data daftar nama SPV, nama orang, dan akunnya di bank. Tapi kami tidak bisa mengaksesnya. Jumlah rekening luar negeri yang baru kami punya 6.000-an individu. Jangan membayangkan ini terpisah-pisah. Kadang-kadang misalnya Mr. X, nanti di bawahnya Ms. X, dan di bawahnya lagi X junior. Jadi bapak, istri, anak, atau nanti ada keponakan, dan kakaknya.

Berapa perkiraan nilainya duit dan aset mereka itu di luar negeri terutama tax haven countries?
Lebih dari product domestic bruto kita. PDB Indonesia itu sekitar Rp 11 ribu triliun. Ini lebih.

Apakah di antara mereka ada menjadi wajib pajak di kantor pajak besar (large tax office/LTO)?
Ada matching antara daftar nama itu dengan yang di LTO, ada individu dan perusahaan. Yang pasti mereka paling besar. Mereka paling kaya. Tidak mungkin yang dominan itu orang tidak kaya.

Siapa yang nilainya terbesar?
Yang paling besar itu justru nama-nama yang kita kenal. Orangnya di sini, baik-baik saja. Yang buron tidak banyak.

Apakah karena fakta tersebut pemerintah mendorong terbitnya Undang-Undang Pengampunan Pajak sejak tahun lalu?
Kalau ada program tax amnesty lebih jelas. Definisinya, kami meminta wajib pajak melaporkan aset yang belum pernah dilaporkan di dalam SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan). Selama ini wajib pajak kalau punya akun bank di luar negeri, berapa pun jumlahnya, pasti belum terlaporkan. Mereka hanya lapor soal kepemilikan rumah, mobil, dan akun bank di Indonesia. Kami berharap semua dilaporkan, dan ini dilakukan negara lain.

Contohnya Italia. Saya pernah bertanya kepada Menteri Keuangan Italia, bagaimana kamu menjaring data pajak? Mereka tahu uang warganegara Italia banyak di luar negeri. Mereka dulu pakai tax amnesty, tapi sekarang sudah tidak lagi, digantikan voluntary declaration karena sudah pada masuk uangnya. Mereka tidak mengejar deklarasi ini di banyak tempat, tapi hanya empat tempat yang mereka yakini banyak uang orang Italia di sana. Kebetulan Italia punya perjanjian pajak dengan empat tempat yang dianggap tax haven itu, yakni Swiss, San Marino, Monaco, dan Vatikan.

Sedangkan kita tidak bisa seperti mereka, karena tidak bisa menebak, apakah di Swiss, Singapura, Hongkong atau lainnya. Ini kelemahan selama ini.

Namun banyak kritikan terhadap tax amnesty, termasuk masyarakat internasional, yang menganggap fasilitas ini tidak adil karena mengampuni para pengemplang pajak…
Kami hanya mengampuni dia dari kesalahan pajak. Misalnya aset, itu kan ada asal-muasal, tidak mungkin mendadak punya aset di luar negeri, pasti ada income tapi duit tidak pernah masuk ke Indonesia. Berarti tidak pernah dilaporkan secara pajak. Sebenarnya dari segi pajak ini pelanggaran karena tidak melaporkan pendapatannya secara benar. Kesalahan itu diampuni. Pengampunan itu yang penting melaporkan atau repatriasi. Supaya basis pajak dan penerimaan Indonesia pada tahun-tahun mendatang semakin besar. Dan secara ekonomi makro kalau ada repatriasi, likuiditas masuk. Kemudian nilai tukar bisa membaik, investasi naik, ekonomi makro baik. Jadi banyak efek samping yang malah lebih penting dari pajak itu sendiri.

Mana yang lebih menguntungkan, menunggu pertukaran pajak itu berlaku atau pengampunan pajak?
Kesepakatan pertukaran data otomatis itu paling cepat 2017. Ini kesepakatan global, bukan bilateral. Memang tinggal dua tahun lagi terekspos semua pelanggar pajak ini. Kalau mau untung tunggu dua tahun lagi. Tapi pemerintahan ini sampai kapan? Cuma sampai 2019. Sedangkan itu uang, kalau 2018 pertukaran pajak berlaku, baru masuk 2019. Memang besar karena bayarnya 48 persen. Tapi itu kan nanti. Kita butuh perbaikan ekonomi dan anggarannya sekarang. Dengan tax amnesty itu, Presiden ingin mengajak orang Indonesia pemilik uang di luar negeri itu, sama-sama membangun negeri. Bagi Presiden itu definisi pengampunan pajak hanya satu, repatriasi. Kalau untuk saya, bisa repatriasi atau pajak. Karena presiden sudah gemes melihat Indonesia kok begini-begini saja.

Undang-undang tax amnesty ini terdengar hanya jalan pintas saja untuk keluar dari masalah penerimaan…
Bukan.

Bagaimana jika ada anggapan pengampunan pajak akan memfasilitasi mereka yang menempatkan harta di luar negeri dari ancaman pemeriksaan pajak hasil pertukaran data 2018?
Kami kasih kesempatan itu untuk sekarang. Negara lain juga melakukan tax amnesty dan voluntary declaration.

Bagaimana jika harta warganegara di Indonesia di luar negeri itu dahulu berasal dari kasus pidana seperti korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia?
Kami tidak mempermasalahkan dari mana uangnya. Pajak itu tidak peduli dari mana uang, yang penting laporkan dan bayar pajaknya. Mau uangnya haram, setengah haram, halal, pokoknya laporkan pendapatan kamu dan kami akan kenai pajak. Kalau mau mempersoalkan asal-usul ya penegak hukum yang berwenang. Tax amnesty hanya membebaskan dari masalah pajak. Kalau kasus pidana tetap jalan terus. Jangan disalahartikan. Dulu ada ide pengampunan nasional, bukan (itu berbeda–). Ini benar-benar pengampunan pajak. Yang diampuni hanya kesalahan di pajak. Ini tidak menghapus pidana. Tidak akan ada surat tentang bebas dari pidana yang telah dilakukan.

Apakah laporan harta wajib pajak yang diperbarui berkat peraturan tax amnesty nanti, bisa dipakai untuk mengusut dugaan pidana mereka sebelumnya?
Salah satu poin di Undang-Undang Pengampunan Pajak adalah kerahasiaan. Ini tidak boleh menjadi data untuk penyelidikan awal sampai ke pengadilan. Jadi kalau mau buktikan ada korupsi, cari bukti lain, jangan menggunakan data tax amnesty.

Apakah ada pengusaha Indonesia yang selama ini menempatkan asetnya di luar negeri, yang sudah menyatakan akan menarik pulang hartanya jika amnesti berlaku?
Sepertinya begitu. Ada yang ke Presiden langsung, ada yang ke saya dan Direktur Jenderal Pajak. Tak hanya dari luar, tapi juga dalam negeri. Karena di dalam negeri banyak orang yang belum bayar pajak dengan benar. Mereka masih menunggu. Mereka membutuhkan kepastian undang-undang ini. Ada yang mengakui, ada juga yang masih berusaha mengelak kalau punya akun bank. Tapi saya tidak mau kejar-kejar, bukan begitu caranya.

Kepastian apa yang mereka tunggu?
Mereka butuh kepastian bahwa kalau ikut tax amnesty, uang mereka jadi putih, untuk dipakai investasi. Uang yang tadinya hitam atau abu-abu, jadi putih semua. Mau investasi silahkan, toh sudah dilaporkan semua uangnya.

Jika UU pengampunan pajak jadi berlaku tahun ini berapa target tambahan penerimaan negara yang bisa kita peroleh?
Pokoknya besarlah.

Rp 100 triliun?
Lebihlah. Saya bilang, nanti akan terlihat di APBN Perubahan, berapa sebenarnya target yang kami harapkan. Pengampunan pajak itu paling tidak bisa menyelamatkan penerimaan pajak di tahun ini. Karena menutup kekurangan dari minyak dan gas susah. Paling tidak untuk pajak sendiri ini yang menolong.

Bagaimana jika Undang-Undang tax amnesty batal berlaku?
Kalau misalnya amnesti tidak berhasil, ya kami kejar. Tapi, kembali lagi, ini kan tidak gampang karena kita tidak punya basis data formal. Kita tidak bisa melakukan pertukaran data (dengan negara lain–) karena ada kerahasiaan bank. Kami jauh lebih senang kalau mereka melakukan secara voluntary daripada kami paksa. Nanti kalau dipaksa malah ribut, kenapa orang pajak galak. Sekarang kami kasih kesempatan kamu untuk minta ampun.

Jejaring Sang Mafia Minyak
Kilang Minyak. (Foto: Spencer Platt/Getty Images) Riza Chalid. (foto:twitter.com)
Johnny G. Plate. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Jejaring Sang Mafia Minyak

Dokumen The Panama Papers mengungkap bagaimana Muhammad Riza Chalid, orang kuat di balik transaksi minyak Zatapi yang merugikan Pertamina sebesar Rp 65, 5 miliar pada 2008 silam, membangun jejaring perusahaan offshore di British Virgin Islands. Dari data pemilik saham perusahaan inilah, terungkap siapa yang menangguk untung ratusan triliun rupiah dari impor minyak via Petral selama bertahun-tahun.

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menutup bibirnya rapat-rapat. Sambil menggelengkan kepala, dia mengaku belum mau berkomentar. “Saya pelajari dulu,” katanya. Sudirman sedang berada di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, awal April 2016 lalu, ketika reporter Tempo bertanya soal apa tindakan pemerintah menghadapi sejumlah perusahaan energi yang membuat struktur perusahaan offshore di kawasan suaka pajak. “Saya belum mau berkomentar, saya pelajari dulu,” katanya menegaskan.

Keberadaan sejumlah perusahaan energi Indonesia di kawasan bebas pajak seperti British Virgin Islands terungkap dalam bocoran dokumen internal firma hukum Mossack Fonseca. Dokumen yang kini dikenal dengan nama The Panama Papers itu dipublikasikan serentak di seluruh dunia pada awal April 2016 oleh lebih dari 100 media. Penggagas kolaborasi global ini adalah The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Tempo adalah satu-satunya media dari Indonesia yang tergabung dalam konsorsium ini.

Dokumen The Panama Papers pertama kali diperoleh koran Jerman Suddeutsche Zeitung pada awal 2015. Data yang dikirimkan bertahap sampai mencapai 11,5 juta files ini mencakup nama lebih dari 200 ribu perusahaan offshore di 21 kawasan suaka pajak. Ada hampir 900 individu dan perusahaan yang berdomisili di Indonesia dalam daftar itu.

Sebuah nama yang sudah dikenal malang melintang di dunia perminyakan Indonesia tercantum jelas dalam dokumen The Panama Papers. Dia adalah Muhammad Riza Chalid.

Nama tokoh misterius yang lebih suka menghindari media ini memang kerap muncul dalam sejumlah isu nasional yang kontroversial. Majalah Tempo yang pertama kali mengungkap keterlibatannya dalam skandal impor minyak Zatapi di Pertamina, pada Maret 2008.

Belakangan, nama Riza Chalid muncul dalam skandal korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) di Kementerian Dalam Negeri, skandal mafia impor minyak Petral sampai kasus pencatutan nama Presiden Joko Widodo dalam kisruh perpanjangan kontrak Freeport di Papua.

***

PADA dokumen Panama Papers, nama Riza muncul sejak 1998 silam. Penelusuran Tempo menemukan sebuah sertifikat kepemilikan untuk perusahaan offshore bernama Epcots International Ltd yang ditandatangani oleh dua orang pendirinya yakni: Riza Chalid dan pengusaha Rosano Barack. Perusahaan offshore itu didirikan pada 2 Juli 1998, dua bulan setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri.

Rosano Barack dikenal sebagai pengusaha yang dekat dengan Bambang Trihatmodjo, salahsatu anak Soeharto. Mereka bersama-sama mendirikan PT Bimantara Citra pada 1981. Sampai sekarang, Rosano adalah Komisaris Utama PT Global Mediacom dan PT Media Nusantara Citra (MNC), konglomerasi media yang dikendalikan pebisnis Harry Tanoesoedibjo. Kelompok usaha itu memang mengakuisisi Bimantara pada 2007 silam.

Yang menarik, Riza Chalid dan Rosano Barack bukanlah pemilik semua saham Epcots International. Ada 10 nama lain yang disembunyikan dan hanya disebut sebagai ‘The Bearer’. Mereka semua menggunakan alamat yang sama, yakni Chartwells Management Services di Singapura. Itulah kelebihan yang ditawarkan firma hukum seperti Mossack Fonseca. Mereka bisa membuat struktur korporasi dengan kerahasiaan berlapis, yang membuat kepemilikan asli atau beneficial owner dari sebuah perusahaan, nyaris tak bisa dilacak.

http://linkurious.icij.org/widget/618542c6Gainsford – Trio Riza-Nat-Johnny on Linkurious.

Jejak terakhir Epcots terbaca pada Februari 2010 lalu. Kala itu, dua karyawan Mossack Fonseca bertukar e-mail, memastikan bahwa perusahaan offshore itu masih aktif beroperasi. Mereka juga menegaskan bahwa Epcots masih dikelola oleh Rosano dan Riza, dan bahwa perusahaan ini memiliki 50 ribu saham yang harga selembarnya hanya US$ 1,- saja. Yang menarik, dari total jumlah saham itu, Rosano dan Riza masing-masing hanya memiliki lima lembar saham.

***

MAJALAH Tempo edisi 24 Maret 2008 menulis sebuah laporan investigasi berjudul ‘Ada Tapi di Zatapi’. Liputan khusus yang dikerjakan selama lebih dari enam bulan itu dengan gamblang mengungkap persekongkolan sejumlah pengusaha minyak dengan oknum pejabat di Pertamina dalam jual beli minyak mentah campuran berkode ‘Zatapi’. Kongkalikong ini diperkirakan merugikan negara sekitar Rp 65,5 miliar.

Impor 600 ribu barel minyak Zatapi senilai US$ 58,6 juta (Rp 545,9 miliar pada kurs waktu itu) diatur secara lihai. Agar bisa lolos mengikuti tender di Pertamina, setiap pemasok harus mengirim crude oil assay atau uji kimia minyak mentah — data yang biasa dipakai untuk memperkirakan nilai ekonomisnya. Data tersebut kemudian diuji oleh sebuah program komputer bernama Generalized Refining Transportation Marketing Planning System (GRTMPS). Hanya jenis minyak yang lolos GRTMPS yang diperbolehkan bersaing dalam lelang.

Pada Desember 2007, sebuah proses lelang impor minyak sudah dijadwalkan. Tapi menjelang tenggat, data Zatapi belum juga diterima oleh Unit Optimalisasi Pertamina untuk dimasukkan ke komputer. Unit inilah yang berwenang meng-input data minyak peserta tender.

Alih-alih didiskualifikasi, Zatapi malah melenggang ikut lelang. Adalah Chrisna Damayanto, ketika itu Vice President Perencanaan dan Pengelolaan Direktorat Pengolahan Pertamina, yang meng-input data crude oil assay yang dia klaim sebagai milik Zatapi ke GRTMPS. Berkat campur tangan Chrisna, jenis minyak mentah campuran itu bisa ikut tender dan bahkan menang.

Menurut Chrisna, dia melakukan terobosan yang menguntungkan Pertamina. “Kalau keputusan ini tidak tepat, resikonya saya tanggung,” ujarnya ketika itu. Berbeda dengan perhitungan Tempo yang menghitung harga Zatapi kemahalan US$ 11,72 per barel, Chrisna mengklaim Pertamina meraup profit karena mendapat potongan US$ 2,28 per barel dari harga Tapis.

Pasca laporan investigasi itu terbit, Maskas Besar Kepolisian RI sempat menetapkan lima orang tersangka dari Pertamina maupun perusahaan pemasok Zatapi. Belakangan kasus mereka dihentikan lantaran audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyatakan tidak ada kerugian negara dalam kasus impor Zatapi.

Siapakah orang-orang di balik impor Zatapi? Pembelian minyak campuran itu dikendalikan oleh sebuah perusahaan bernama Gold Manor International Ltd. Perusahaan itu dikelola oleh Muhamad Riza Chalid, Johnny Gerard Plate, Irawan Prakoso dan Schiller Marganda Napitupulu. Selain menggunakan bendera Gold Manor, mereka juga beroperasi dengan nama Global Energy Resources Pte. Ltd. Di Singapura, alamat Gold Manor sama dengan Global Energy, yakni di 1 Kim Seng Road, #15-01, East Tower, Great World City.

Selama bertahun-tahun, Global Energy adalah pemasok utama minyak ke tanah air. Laporan Kajian Restrukturisasi Pertamina pada 16 Juli 2007 mengungkapkan bahwa Global Energy merupakan pemasok terbesar (33,3 persen) minyak mentah ke Pertamina Energy Services Ltd. (PES) di Singapura. Pertamina Energy Services (PES) adalah anak usaha Pertamina Energy Trading Limited (Petral). Semua impor minyak ke Indonesia memang waktu itu diatur oleh Petral.

Siapa pemilik Gold Manor dan Global Energy? Sulit diendus jejaknya. Pasalnya, kedua perusahaan ini merupakan perusahaan offshore yang didaftarkan di British Virgin Islands. Tempo hanya bisa melacak pemilik Global Energy sampai lapis kedua yakni sebuah perusahaan cangkang lain bernama Orion Oil Limited. Tapi siapa di balik Orion Oil tetap jadi misteri. Nama perusahaan-perusahaan ini tak ada di Panama Papers.

***

SETELAH skandal Zatapi terkuak, rupanya peruntungan Riza Chalid tak serta merta terpuruk. Dia tetap mengendalikan impor minyak Pertamina, lewat Global Energy Resources. Hal ini baru terungkap pada November 2015 lalu, ketika Menteri Energi Sudirman Said menyewa jasa sebuah kantor auditor internasional untuk memeriksa Petral.

KordaMentha adalah nama auditor yang disewa pemerintah. Mereka berkantor di Australia. Setelah menelisik ribuan dokumen dan mewawancarai sejumlah tokoh kunci, KordaMentha menyimpulkan bahwa impor minyak Indonesia lewat PES dan Petral, merugikan negara lebih dari Rp 100 triliun.

Modus para mafia minyak itu kini terungkap jelas. Dalam laporan audit KordaMentha yang tebalnya mencapai 370 halaman, auditor mengungkapkan bagaimana Global Energy dan sebuah perusahaan lain bernama Veritaoil– selalu bertindak curang dalam tender-tender Petral sejak 2012.

Sejak awal, sebelum tender dibuka, kedua perusahaan ini sudah mendapatkan semua data rahasia proses pengadaan, termasuk harga perkiraan sendiri untuk tender minyak yang akan berlangsung.

Data rahasia tersebut bocor dengan bantuan orang dalam Pertamina, melalui sebuah grup e-mail bernama trading88@ymail.com. Auditor mencurigai lima staf PES terlibat persekongkolan untuk membocorkan informasi tersebut. Berdasarkan informasi itu, Presiden Joko Widodo memerintahkan Pertamina menutup Petral.

***

PENELUSURAN Tempo atas nama Gold Manor, Global Energy Resources dan Orion Oil di Panama Papers memang berakhir buntu. Tak ada informasi soal ketiga perusahaan offshore ini di dokumen bocor Mossack Fonseca. Amat mungkin pendirian ketiga perusahaan itu tidak menggunakan jasa Mossfon.

Akan tetapi, pelacakan atas jejak pebisnis minyak yang mengelola tiga perusahaan itu membuahkan hasil. Nama Muhamad Riza Chalid, Johnny Gerard Plate, dan Irawan Prakoso, bertebaran di dokumen Panama Papers. Hanya nama Direktur Utama Gold Manor, Schiller Napitupulu, yang absen.

Irawan Prakoso adalah Direktur Global Energy Resources. Di Panama Papers, terungkap kalau dia juga punya saham di sebuah perusahaan offshore bernama Twinn International Ltd yang juga berkedudukan di BVI. Perusahaan satu dolar AS milik Irawan ini berdiri pada 1 Juni 2007.

Sedangkan pelacakan atas nama Riza Chalid dan Johnny Gerard Plate, menemukan sebuah perusahaan offshore bernama Gainsford Capital Ltd. Di dalam perusahaan yang berkantor di British Virgin Islands tersebut, ada orang ketiga yang kerap disebut dalam percakapan internal.

Namanya Nai Song Kiat, seorang warga Singapura. Mengacu pada dokumen audit KordaMentha, Nai Song Kiat merupakan Direktur Veritaoil Pte Ltd. Perusahaan Nai termasuk yang dituduh menjarah Petral selama bertahun-tahun.

Foto kartu tanda penduduk Nai Song Kiat.

Gainsford didirikan di British Virgin Island pada 2001. Modal dasar perusahaan ini US$ 50 ribu, yang dipecah dalam 50 ribu lembar saham biasa. Tujuh tahun kemudian, pada 8 April 2008, Riza Chalid dan Johnny Plate memutuskan untuk mengalihkan saham mereka, masing-masing 75 dan 25 lembar, kepada Nai Song Kiat.

Tak hanya menyerahkan saham pada Nai Song, pada April 2008 itu, para pemegang saham juga menunjuk seorang direktur baru, menggantikan pejabat lama, Fernandez Patrick Charles. Direktur baru ini hanya punya satu nama: Eddie. Yang jelas, jika direktur lama adalah warga Singapura, maka penggantinya adalah orang Indonesia kelahiran Medan, Sumatera Utara.

http://linkurious.icij.org/widget/128b6f8bRiza Chalid – Rosanno Barack on Linkurious.

Selain memiliki Gainsford Ltd, Johnny Plate juga tercatat sebagai pemilik Serenity Capital Ltd, sebuah perusahaan offshore yang beralamat di British Virgin Island. Tapi soal ini, Johnny Plate membantah. “Kenal aja enggak. Enggak ada aset. Urusan apa kita,” kata Johnny.

Yang sepak terjangnya paling lincah memang Riza Chalid sendiri. Menurut dokumen Panama Papers, dia memiliki beberapa perusahaan di kawasan suaka pajak. Selain Gainsford, dia tercatat menjadi pemegang saham pada Tanc Pasific Ltd. Perusahaan ini dia miliki bersama sepuluh pemegang saham lain yang hanya ditandai dengan istilah “bearer”. Artinya, pemilik asli perusahaan itu keberatan jika namanya disebut.

Nama Riza Chalid juga muncul sebagai pemilik atau pemegang saham perusahaan cangkang lain seperti Sunrich Capital Ltd dan Cresswell International Ltd. Di perusahaan yang disebut terakhir, Riza berbagi saham dengan anaknya: Muhammad Kerry Adrianto.

Ihwal kepemilikan saham putra Riza terungkap pada November 2007, ketika Mossack Fonseca mengirim email pada Riza Chalid. Isinya adalah penegasan bahwa pada tanggal itulah, Muhammad Kerry Adrianto, putra sulung Riza Chalid, resmi mendapat pengalihan saham Cresswell. Dia hanya perlu membayar US$ 490 untuk 490 lembar saham, karena harga selembar saham perusahaan itu memang hanya US$ 1,-. Meski begitu, Riza mempertahankan posisi strategis sebagai pemegang saham terbesar dengan 510 lembar.

http://linkurious.icij.org/widget/abbb9e04Riza Chalid family on Linkurious.

Sayangnya upaya mengkonfirmasi data Panama Papers ini kepada Riza Chalid tidak membuahkan hasil. Riza menghilang sejak Kejaksaan Agung memanggilnya dalam kasus dugaan pencatutan nama Presiden Joko Widodo. Surat ke alamatnya, juga tidak dibalas.

Kepemilikan seseorang atas perusahaan offshore memang tidak serta merta bisa disebut pelanggaran hukum. Namun, tabir kerahasiaan dan perlindungan kawasan suaka pajak memungkinkan perusahaan offshore digunakan untuk menyembunyikan kekayaan dan kejahatan. Tanpa dokumen bocor The Panama Papers, sepak terjang orang-orang yang ditengarai melanggar hukum di daftar klien Mossack Fonseca bisa jadi tak akan pernah terungkap selamanya. (*)

Pesta Rahasia
Para Buronan
Nama buronan Indonesia muncul bersama 11,5 juta dokumen lain dalam Panama Papers. (Photo by Joe Raedle/Getty Images)
Joko Soegiarto Tjandra dan Agus Anwar selama pelariannya aktif menghidupkan perusahaan cangkang mereka. (FOTO: KORAN TEMPO/AMATUL RAYYANI)

Pesta Rahasia Para Buronan

Nama dua buronan penegak hukum Indonesia muncul bersama 11,5 juta dokumen lain dalam The Panama Papers. Lenyap dari Indonesia, dua pengusaha yang sudah divonis dalam kasus korupsi, Joko Soegiarto Tjandra dan Agus Anwar, terlacak aktif berbisnis lewat perusahaan cangkang (shell companies) yang dilindungi tabir kerahasiaan di kawasan suaka pajak. Bisa jadi petunjuk baru membuka skandal BLBI.

SEORANG staf senior Kejaksaan Agung mendadak menyela penjelasan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Arminsyah. Menatap atasannya dengan penuh arti, dia berbisik, “Off the record.” Arminsyah terdiam sebentar. Dia sedang menjawab pertanyaan reporter Tempo soal apa saja yang sudah dilakukan aparatur penegak hukum untuk melacak harta kekayaan pengusaha buron Joko Soegiarto Tjandra, pada Kamis siang, 7 April 2016 itu, ketika bawahannya mengingatkan. “Soal itu, kami tidak bisa menjawab,” kata Arminsyah kemudian.

Jajaran Kejaksaan Agung memang pantas bersikap ekstra hati-hati. Kegagalan mereka membawa pulang dua buron kelas kakap, Joko Tjandra dan Agus Anwar, sejak kabur bertahun-tahun lalu, sedang jadi sorotan lagi. Pasalnya, dua nama pebisnis yang sudah divonis dalam kasus korupsi ini, belakangan tercantum dalam dokumen bocoran firma hukum Panama, Mossack Fonseca. Informasi tentang dua buron ini terselip dalam data sebesar 2,6 terabyte dalam The Panama Papers. Data yang pertama kali bocor pada koran Jerman Suddeutsche Zeitung ini dipublikasikan serentak oleh 100 media di seluruh dunia di bawah koordinasi The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Tempo adalah satu-satunya media di Indonesia yang memperoleh data bocoran ini.

Kepada Tempo, Arminsyah mengaku para jaksa masih memantau aktivitas Joko Tjandra selama di pelarian. Joker, begitu aparatur penegak hukum menjuluki pengusaha ini, kini berdomisili di Papua Nugini dan kerap pergi ke Singapura, Hongkong, Australia hingga Cina. Kalau sudah tahu, mengapa tidak ditangkap?

“Dia tahu kalau sedang diincar, jadi sudah mempersiapkan segalanya sebelum berkunjung,” kata Arminsyah. Pergi ke manapun, kata dia, Joko selalu dikawal ketat orang-orang dekatnya. Selain itu, kata Arminsyah, anggaran Kejaksaan amat terbatas. Dua faktor itu membuat pengejaran para buron kakap ini jadi tersendat.

Joko Tjandra, 66 tahun, adalah buronan Kejaksaan Agung untuk kasus cessie (hak tagih) Bank Bali senilai Rp 546 miliar. Kasus itu terjadi pada 1999 lalu. Joko kabur dari bandara Halim Perdanakusuma dengan menggunakan pesawat carteran pada 9 Juni 2009 menuju Papua Nugini. Itu persis sehari sebelum Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM menyatakan bapak empat anak itu dilarang bepergian ke luar negeri. Kedekatan jarak antara waktu pelarian Joko dan penerbitan perintah cekal membuat banyak orang mencium bau amis kongkalikong.

Sementara Agus Anwar, 60 tahun, adalah mantan Direktur Bank Pelita dan Istimarat yang menikmati Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di puncak krisis ekonomi Indonesia pada 1998 silam. Setelah menolak membayar dana talangan negara sebesar Rp 550 miliar, Agus menghilang. Konon dia kabur ke Singapura. Kejaksaan mengatakan baru 70 persen dari uang itu yang dibayarkan Agus pada negara.

Pada 18 September 2012, Menteri Keuangan (waktu itu) Agus Martowardojo mengatakan Agus Anwar masih belum membayar utangnya, dan karena itu statusnya sebagai buron tak berubah. Perintah cegah ke luar negeri (cekal) untuk dia juga masih aktif. Artinya pemerintah masih mengira Agus Anwar berstatus WNI.

Belakangan, beredar kabar kalau Agus Anwar sudah menjadi warga negara Singapura sejak 2004. Paspornya bernomor E0887983B, dan beralamat di 15 Ardmore Park, #04-03 Singapore, 259959.

Tempo menemukan nama dua buron ini di dokumen Panama Papers dan menelusuri sepak terjang mereka selama di pelarian. Berbagai aktivitas bisnis mereka yang terungkap dari bocoran data Mossak Fonseca, seolah menunjukkan kalau mereka tengah berpesta di negeri orang, dengan uang yang seharusnya mereka kembalikan pada negara.

***
SETELAH kabur dari Indonesia, Joko langsung dikenal sebagai pebisnis terkemuka di Papua Nugini. Tiga tahun setelah lolos dari jerat hukum, sang Joker resmi menjadi warga negara itu. Namanya pun berubah menjadi Joe Chan.

Dengan paspor Papua Nugini, Joe alias Joko bisa bebas keluar masuk negara lain. Saking seringnya keluar negeri, pada Mei 2014 lalu pemerintah PNG bahkan harus membuat paspor baru untuk Joe Chan. Buku paspornya sudah dipenuhi stempel keimigrasian dari manca negara. “Halaman paspornya sudah habis,” kata Kepala Imigrasi PNG kala itu, Mataio Rabura, seperti dikutip dari Post Courier.

Joko Tjandra memang disambut luar biasa hangat di Papua Nugini. Pada awal April 2016, tak kurang dari Perdana Menteri PNG Peter O’Neill yang terang-terangan berterimakasih atas kiprah Joe Chan alias Joko Tandjra membantu perekonomian negaranya dengan berbagai proyek pembangunan. Di sana, Joko Tjandra membangun bisnis properti, salah satunya di pusat pemerintahan PNG di Waigani senilai US$ 44,4 juta.

Ketika ditanya soal status hukum Joko yang jadi buron di Indonesia, O’Neill mengaku tak tahu menahu. “Kami tak pernah menerima permintaan pemulangan Joe Chan dari Pemerintah Indonesia,” kata O’Neill.

Dokumen Panama Papers dengan gamblang mengungkap luasnya skala bisnis Joko Tjandra. Ada sekitar 27 files yang berisi nama Joko Tjandra di data bocoran ini. Dokumen paling tua berasal dari 1986.

Pada tahun itu, Joko Tjandra dan dua saudaranya: Eka Tjandranegara dan Gunawan Tjandra, membentuk C+P Holdings Limited. Tanggal yang tertera pada dokumen adalah 3 November 1986. Tak ada keterangan mengenai apa bidang usaha perusahaan ini. Yang jelas, ada satu nama lagi dalam sertifikat pendirian C+P Holdings: konglomerat ternama Prayogo Pangestu.

Prayogo bukanlah nama sembarangan dalam jajaran pengusaha terkemuka di tanah air. Dengan bendera Barito Pacific, dia merupakan salahsatu taipan yang besar dari bisnis kayu dan penguasaan hutan di era Orde Baru. Belakangan dia mendirikan PT Chandra Asri, yang bergerak di bisnis petrochemical.

Dari dokumen Panama Papers, terungkap kalau Prayogo dan Joko Tjandra punya relasi bisnis yang cukup dekat. C+P Holdings yang didirikan Joko Tjandra bersaudara dan Prayogo memiliki modal awal US$ 50 ribu, dengan nilai US$ 1 persaham. Prayogo menguasai 22.500 saham, dan Joko menguasai 14 ribu saham. Mereka berkantor di Citco Building, P.O. Box 662, Tortola, BVI. [embedded code dari Linkurious untuk Prayogo Pangestu, masuk ke sini]

Prajogo Pangestu, pemilik perusahaan Barito Group setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus pinjaman kepada Bahana Pembinaan Usaha Indonesia/ BPUI di Kejaksaan Agung Jakarta, 28 September 2001. (FOTO: TEMPO/ Arif Ariadi)

http://linkurious.icij.org/widget/2dfddc0dPrajogo Pangestu on Linkurious.

Kongsi ini bertahan sampai dua dekade. Pada 2006, Joko menjual 4.000 lembar sahamnya kepada Prayogo. Dengan transaksi itu, alamat perusahaan juga ikut berubah. C+P kini berkantor di Akara Building, kantor yang sama dengan Mossack Fonseca di sana.

Pada awal April 2016 lalu, ketika dikonfirmasi soal kepemilikan perusahaan C+P, pengacara Hotman Paris Hutapea yang kerap menjadi kuasa hukum Prayogo, tak kunjung merespon pertanyaan Tempo. Dalam sejumlah kasus, Hotman Paris juga pernah menjadi pengacara untuk saudara Joko Tjandra, Gunawan Tjandra.

***

JEJAK lain Joko Tjandra tercium pada sebuah dokumen lain bertanggal 11 Mei 2001. Di sana tercantum permintaan Joko pada Mossack Fonseca, untuk mendirikan sebuah perusahaan offshore bernama Shinc Holdings Limited di kawasan suaka pajak.

Shinc tercatat beralamat di Akara Building, Tortola, BVI, yang juga alamat kantor Mossack Fonseca dan C+P Holdings di British Virgin Islands. Sertifikat Shinc mencantumkan modal awal perusahaan sebesar US$ 50 ribu, dengan harga US$ 1 persaham. Di sertifikat itu, Joker menggunakan alamat rumahnya di Jalan Simprug Golf 1 Kavling 89, Jakarta Selatan. Di awal pendirian Shinc, Joko adalah pemilik tunggal sekaligus menjabat direktur perusahaan.

Sepuluh tahun kemudian, pada Agustus 2012, atau tiga tahun setelah Joko Tjandra dinyatakan buron di Indonesia, ada email dari sebuah perusahaan investasi pada Mossack Fonseca. Mengklaim mewakili Joko, perusahaan itu meminta Mossack mengubah komposisi saham Shinc yang dikuasai Joko Tjandra.

Dokumen Panama Papers menunjukkan bahwa Mossack Fonseca kemudian mengurus administrasi penyerahan kepemilikkan Shinc dari Joko kepada kedua putrinya, Joanne Soegiarto Tjandranegara dan Jocelyne Soegiarto Tjandra alias Jocy. Pada sertifikat perusahaan itu, kedua putrinya juga menggunakan alamat rumah yang sama dengan Joko Tjandra, di Simprug Golf, Jakarta Selatan.

http://linkurious.icij.org/widget/c78d636f

Joko Tjandra on Linkurious.

Yang menarik, nama Joko tak dihapus dari sertifikat kepemilikan baru Shinc. Dia disebut sebagai anggota perusahaan. Sementara Jocy dan Joanne sama-sama menjabat direktur. Tidak ada yang menjabat komisaris. Yang juga tak kalah menarik, Joko minta agar perubahan kepemilikan ini dibuat bertanggal mundur (backdated). Meski perubahan terjadi pada 22 Agustus 2012, Joko minta dokumen yang ada mencantumkan tanggal 10 Januari 2012.

Jocelyne dan Joanne, dua anak kandung Joko Tjandra, tak bisa diwawancara. Penjaga rumah mereka di Jalan Simprug Golf 1, Jakarta Selatan, tak mau menerima surat permohonan wawancara yang disodorkan, Rabu, 6 April 2016. Ia beralasan majikannya berada di luar negeri.

Di hari yang sama Tempo mengantarkan surat permohonan wawancara itu ke kantor mereka di lantai 53 Wisma Mulia, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Namun petugas di kantor itu juga menolak menerima surat wawancara itu.

***
KABUR ke Singapura dan menjadi warga negara di sana, rupanya tak membuat perangai Agus Anwar berubah. Dia tetap terbelit utang, dan menolak membayar cicilan pembayaran. Agus akhirnya dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Negeri Singapura setelah gagal membayar utangnya sebesar Sin$ 103,3 juta, atau senilai Rp 1,3 triliun. Kabar ini dilansir sebuah koran Singapura pada 4 Maret 2011.

Untuk mengembalikan utangnya, pengadilan menyita saham milik Agus Anwar di beberapa bank swasta di Singapura. Tak ada informasi soal berapa nilai saham itu dan apakah semuanya sudah menutup triliunan utang Agus Anwar.

Yang jelas, besar kemungkinan, harta Agus Anwar tak hanya itu saja. Pasalnya, dokumen Panama Papers mengungkapkan bagaimana lihainya Agus membuat struktur perusahaan offshore di kawasan suaka pajak. Skema macam itu kerap digunakan orang atau perusahaan yang ingin menghindari pembayaran pajak atau kewajiban lain di negaranya. Terlebih Mossack Fonseca adalah salahsatu firma hukum paling top, yang biasa menyamarkan kepemilikan sebuah perusahaan di suaka pajak, sampai nyaris tak terlacak.

Dari penelusuran Tempo, Agus memiliki setidaknya lima perusahaan cangkang. Perusahaan itu adalah Quants Global Limited, Gem City Capital Limited, Oakwell Pacific Limited, Oregon Holdings Group Limited, dan Viscorp International Group Limited. Umumnya dia pemilik tunggal perusahaan dan juga menjabat sebagai direktur perusahaan tersebut. Semua perusahaan itu rata-rata berdiri pada 2006 dan 2008, dengan menggunakan identitas Agus sebagai warga Singapura.

http://linkurious.icij.org/widget/062c71d4Agus Anwar on Linkurious.

***ARMINSYAH tampak tak kaget ketika diberitahu ada nama Joko Tjandra dan Agus Anwar dalam dokumen Panama Papers. Ia juga menyebutkan masih banyak pengusaha lain yang memiliki perusahaan di BVI. Namun ia menolak berkomentar soal jumlah dan siapa saja mereka. Menurut dia, persoalan aset dan kekayaan para pengusaha yang disembunyikan di luar negeri, lebih tepat diurus instansi lain. “Kami hanya mengurus perkara hukumnya,” katanya.

Saat ditanya soal apa yang sudah dilakukan Kejaksaan Agung untuk mengejar aset dan kekayaan para buron itulah, staf Arminsyah menyela dan memberi isyarat pada atasannya, “Itu off the record,” katanya kemudian.

MUSTAFA SILALAHI | INGE KLARA | ANGELINA ANJAR

 


0 Responses to “Politik : Keppreskan Roh Indonesia Merdeka 45”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,062,175 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: