26
Dec
15

Peradaban : Bersih Transparan Profesional

Suara Pembaca :

KBP45

BERSIH TRANSPARAN PROFESIONAL (BTP)

Menapaktilas penegakan Kedaulatan Indonesia Merdeka 27 Desember 1949 dan memasuki tahun baru 2016 yang diprediksi berindikasi perekonomian Indonesia semakin kurang berkepastian cukup menggembirakan seperti hadirnya http://harianterbit.com/m/ekonomi/read/2015/12/23/51232/0/21/Urusan-Utang-Jokowi-Kalahkan-SBY-dan-Soeharto

Maka salah satu antisipasi internal struktural adalah perbaikan modus operandi seperti oleh birokrasi Pemerintahan agar dapat lebih berperilaku Bersih Transparan Profesional (BTP) ketika bekerja Pelayanan Publik demi Pro Revolusi Mental dan Pro Bela Negara serta Pro Penegakan Kedaulatan Indonesia Merdeka baik formal maupun substansiil dan materiil.

BTP dilakukan dengan jiwa, semangat, nilai-nilai B – BerKetuhanan Yang Maha Esa, T – Tegakkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, P – Perkokoh (Persatuan Indonesia, Musyawarah untuk Mufakat, Keadilan Sosial).

BTP juga diyakini dapat perkuat indikator-indikator kenegaraan seperti Indeks Persepsi Korupsi (IPK), Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Kompetitifitas, dlsb.

Langkah-langkah komputerisasi/digitalisasi berbagai penyelenggaraan birokrasi seperti eRecruitment, eRegistration, eProcurement, eTender, ePayment bahkan eVoting dlsb adalah upaya-upaya taktis bijaksana BTP demi strategi seperti TriCita (Indonesia Mulia 2015-2025, Indonesia Bermartabat 2025-2035, Indonesia Sejahtera 2035-2045).

Program BTP sendiri sudah dikiprahkan sejak tahun 2006 berbasis fasilitasi Kantor MenPan oleh aliansi Tiga Pilar Kemitraan prakarsa beberapa fungsionaris KADIN Indonesia.

Dan anugerah BTP pernah diberikan kepada Bupati Bangka Belitung pada tahun 2007 yang kebetulan bersingkatan nama BTP juga yaitu Basuki Tjahaja Purnama yang kini dikenal sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Dengan demikian, kini perlu kembali langkah taktis strategis berupa reaktivasi “lembaga fungsional skala nasional” BTP difasilitasi struktural fungsional oleh lembaga negara,

Jakarta, 26 Desember 2015

Pandji R Hadinoto, KelBes Pejoang45
PARTINDO – Partisan Indonesianis
Editor http://www.jakarta45.wordpress.com

Studiku

Prinsip Gerakan Moral Bersih, Transparan, dan Profesional dalam Implementasi GCG (Good Corporate Governance Principles)

In Artikel on September 24, 2008 at 4:49 am

Studiku

Prinsip Gerakan Moral Bersih, Transparan, dan Profesional (BTP) Sebagai Implementasi GCG (Good Corporate Governance Princip) mengandung pengertian-pengertian sebagai berikut:

Konsep BTP

 

Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam  menerapkan Good Corporate Governance (GCG), adalah melalui Gerakan Moral Bersih Transparan dan Profesional (BTP).  Gerakan Moral BTP di Perusahaan perlu dilakukan dengan kesadaran dan konsisten, sehingga diharapkan dapat mendorong kemajuan perusahaan dengan langkah terpenuhinya etika bisnis. Nilai dasar (basic value) yang terkandung dalam istilah Bersih-Transparan-Profesional, yaitu:

  • Bersih (Clean), terkandung nilai integritas (integrity), kredibilitas (credibility), jujur (honest), anti Korupsi, Kolusi & Nepotisme. Segenap jajaran perusahaan diharapkan berperilaku jujur, menjunjung tinggi integritas dan kredibilitas, serta mempunyai sikap anti KKN.
  • Transparan (transparency), terkandung nilai akuntabilitas (accountability), bertanggungjawab (responsibility), keterbukaan serta auditable. Segenap jajaran perusahaan diharapkan dapat berperilaku penuh rasa tanggung jawab, terbuka, serta mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada pihak-pihak berwenang.
  • Profesional (Professionalism), terkandung nilai kepatuhan (compliance), kapabilitas (capability), dan kemampuan (competency). Segenap jajaran perusahaan diharapkan dapat bekerja dengan trampil, teliti, akurat, dan tepat waktu. Selain itu juga perlu memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) serta berani mengambil risiko untuk mencapai keunggulan kompetitif (competitive advantage). Hal yang tidak kalah penting, adalah adanya kepatuhan seluruh pelaku dalam perusahaan terhadap segala peraturan perundang-undangan dan peraturan perusahaan yang berlaku.

Tujuan Gerakan BTP

 

Gerakan moral BTP di perusahaan dilakukan dengan tujuan agar:

  • Terwujudnya Good Corporate Governance secara konsisten dan berkesinambungan di perusahaan.
  • Terbentuknya budaya baru perusahaan (new corporate culture) yang mendukung peningkatan kinerja perusahaan secara keseluruhan.
  • Terbangunnya citra perusahaan (corporate image) yang baik, di mata stakeholders, masyarakat, dan pihak luar perusahaan lainnya.
  • Terhindarnya praktik-praktek KKN yang sangat merugikan perusahaan.

Pedoman Perilaku

 

Dalam pedoman Perilaku Etika Perusahaan (code of corporate conduct/Ethics), yang ditetapkan oleh Direksi, terkandung nilai-nilai etika/moral yang menjadi acuan dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Berikut ini beberapa contoh perilaku yang terkait dengan Gerakan Moral BTP:

Gerakan Moral “Bersih”.

  • Tidak melakukan suatu perbuatan tercela. Segenap karyawan dan pimpinan perusahaan diharapkan dapat  perbuatan-perbuatan yang melanggar etika / moral, hukum, ketentuan-ketentuan perusahaan maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Tidak melakukan praktek Kolusi, Korupsi, Nepotisme (KKN). Korupsi berarti menyelewengkan atau menggelapkan asset perusahaan untuk keuntungan pribadi atau pihak lain dan merugikan perusahaan / negara.   Kolusi berarti bekerja sama dengan pihak lain, baik secara pribadi atau bersama-sama, untuk mengambil keuntungan dengan melakukan perbuatan yang menyebabkan perusahaan mengalami kerugian. Nepotisme berarti perbuatan yang hanya memberikan keuntungan pada keluarga, teman-teman, kerabat dan seterusnya, yang dapat merugikan perusahaan.
  • Tidak menerima pemberian apapun. Tidak menerima uang, hadiah dan atau pemberian dalam bentuk apa saja dari siapapun juga yang diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu  bersangkutan  atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan yang dapat menyebabkan penyimpangan pelaksanaan tugas dan/atau pengambilan keputusan.
  • Selalu bersikap Jujur.Jujur berarti tindakan yang dilakukan sesuai dengan perkataan dan hati nuraninya atau satunya kata dan tindakan (tidak munafik).

Gerakan Moral “Transparan”.

 

Transparan berarti segala kegiatan yang dilaksanakan,  informasi yang dimiliki, dapat diketahui dan diawasi oleh pihak lain yang berwenang. Tidak ada sesuatu  hal yang ditutup-tutupi (disembunyikan) dan tidak ada yang dirahasiakan. Transparan sangat menuntut kejelasan siapa dan berbuat apa serta  bagaimana melaksanakannya.

Gerakan Moral “Profesional”.

 

Bersikap profesional berarti memiliki tekad bekerja secara sungguh-sungguh untuk memberikan hasil kerja (kinerja) terbaik dengan mengerahkan segenap kompetensi yang dimiliki secara optimal, yaitu:

  • Memberikan hasil (output)  yang  terbaik. Bekerja secara profesional ditunjukkan dengan  ketekunan, ketelitian, kerja keras, disiplin tinggi, serta berusaha memberikan hasil (output) yang terbaik bagi perusahaan.
  • Memiliki visi yang jelas dan kompetensi yang memadai. Profesionalisme menuntut segenap karyawan dan pimpinan perusahaan memiliki visi yang jelas dan kompetensi yang memadai.  Visi yang jelas akan lebih fokus terhadap apa yang dicita-citakan dan kompetensi yang memadai akan mengoptimalkan pekerjaan sehingga dapat memberikan hasil terbaik kepada perusahaan serta dapat  memacu kinerjanya.
  • Dapat bekerjasama dalam kelompok (teamwork). Kesuksesan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kesuksesan individual  melainkan  lebih ditentukan oleh hasil kerja kelompok.
  • Memiliki sikap Kreatif dan Inovatif. Profesionalisme dapat berkembang secara optimal pada individu yang memiliki sikap kreatif dan inovatif. Yaitu terletak pada mereka yang selalu berusaha mencari cara baru dalam mengatasi berbagai masalah dalam perusahaan (problem solving).

Sebenarnya cukup banyak perusahaan yang telah mempraktekkan bersih Transparan dan Profesional (BTP), hanya saja belum diformalkan dalam suatu keputusan manajemen perusahaan. Beberapa waktu yang lalu Kamar Dagang dan Industri (KADIN) bekerjasama dengan pihak-pihak terkait telah mencanangkan program Gerakan Moral Bersih Transparan dan Profesional  di kalangan perusahaan yang bergabung dengan KADIN. Selain itu KADIN juga telah menyusun Modul Gerakan Moral Bersih Transparan dan Profesional (BTP) dan modul Good Coorporate Governance (GCG) serta modul Kampanye Nasional Anti Suap. Semoga semakin banyak perusahaan yang sadar akan pentingnya Gerakan BTP tersebut sebagai salah satu implementasi GCG di perusahaan.

studiku

Jokowi-Ahok : Apa itu Bersih, Transparan dan Profesional 20 Februari 2014 19:42:10 Diperbarui: 24 Juni 2015 01:38:16 Dibaca : 914 Komentar : 14 Nilai : 9

Duo Gubernur dan Wakilnya Jokowi Ahok ini gemar benar menggelembungkan APBD DKI dengan menggenjot pajak, mulai dari 50 triliun mau jadi 75 triliun, lalu 100 triliun, kini sudah bicara 135 triliun. Maklum, perekonomian Jakarta yang pesat dan daya beli yang makin kuat mendukung. Berlainan dengan masa Sutiyoso dan masa awal Foke yang sulit dan miskin sehingga harus meminjam, menerbitkan obligasi dan lain-lain, Pemprov periode ini punya dana berlimpah untuk dibelanjakan. Belum lagi bicara CSR yang katanya berlimpah. Ya, berlimpah, karena Ahok akui sendiri tidak memungkiri pemberian CSR itu quid pro quo yaitu Pengusaha minta diperlancar usahanya dengan mempermudah izin usaha dan pendirian bangunan. Mengizinkan pengembang untuk memperkosa pantura Jakarta dan menyumbat muara sungai dan Banjir Kanal Barat dengan pulau-pulau buatan tentunya menghasilkan CSR yang super moncer! Herannya, dengan CSR sebesar itu tetap saja rakyat DKI yang sudah memenuhi target pajak Jokowi Ahok masih hidup dalam nestapa. Setelah tahun 2013 siklus banjir 5 tahunan terulang dalam setahun, kini di bulan Januari 2014 dan dua minggu pertama Februari 2014 terjadi banjir beruntun 6x. Setelah 1,5 tahun ribut bahwa obat banjir adalah Waduk Pluit, baru disadari masalahnya ada di hulu. Ternyata Jokowi Ahok tak pernah berkoordinasi dengan walikota tetangga soal aliran sungai. Normalisasi Waduk Pluit ternyata hanya 20%, dan itupun akhir November 2013 sudah terhenti. Normalisasi sungai katanya terus dilakukan, tapi sungai yang mana…? Mengapa hasilnya tidak ada…? Herannya, apabila DPRD telat mengesahkan APBD 1-2 bulan, Jokowi-Ahok selalu memblow-up ke media massa. Sementara mereka punya waktu setahun untuk bekerja untuk merealisasikan APBD itu tapi sedikit sekali yang dilakukan, sampai pertengahan Desember 2013 realisasi hanya 60%an, sehingga dikebut supaya bisa 80% dengan shopping-shopping yang hasilnya mulai terlihat saat ini. Kalau dikritik, alasannya selalu klise yaitu ‘kami baru setahun, satu setengah tahun’, ‘ya tidak bisa cepat-cepat’…! Yang lebih lucu lagi adalah soal pembelian busway dan bus wisata yang menghasilkan barang rongsokan dari China. Istri GTS saja lebih pinter belanjanya, DVD dan rice cooker buatan China di rumah sudah 5 tahun belum rusak-rusak juga, kok bus seharga Rp 3,7 miliar sudah mogok dalam sebulan…? Perlu dipertanyakan bagaimana sih prosedur administrasi, proses realisasi pembelian barang dan proyek di balai kota…? Logikanya kalau pembelian barang, penunjukan vendor dan penekenan kontrak senilai puluhan sampai ratusan miliar, apakah cukup si Kadis yang tahu? Gubernur dan Wakil Gubernur tak pernah dilapori, ditanyai, ikut neken kontrak, ikut neken persetujuan pembayaran…? Kita bicara bukan 1-2 rim HVS, tapi bus seharga Rp 3,7 miliar per unit, yang pemesanannya ke si China, Zhongtong, Ankai, Weichai dst sampai ribuan unit yang nilainya triliunan Rupiah…? Kok bisa ada atasan yang ajaib seperti Ahok, yang cukup ngomong ‘saya suruh beli bis berkualitas, belinya yang jelek. Saya suruh beli Mercedez Benz, belinya China’. Ahok sedang menyuruh istrinya belanja sayur hari ini atau sebagai Wagub mensupervisi Kadis anak buahnya..? Instruksinya apakah dituangkan di atas kertas atau hanya ngomong saja tanpa hitam di atas putih…? Setelah instruksi diberikan apa dilakukan review, kontrol…? Saat kontrak dibikin apakah dilapori, apakah tidak perlu ikut neken…? Kok diam saja tak ada masalah, bahkan sampai saat bus China itu sudah datang dan diresmikan. Baru setelah knalpot bus itu meledakkan asap hitam, tiba-tiba menyalahkan Kadis…? Apanya yang ‘Bersih, Transparan dan Profesional’ di sini…? Sampai hari ini Ahok masih berperilaku seperti tamu di balai kota, berkomentar seperti pengamat dan politikus, bukan bagian dari pemerintahan. Komunikasi dan marah-marah kepada anak buahnya bukan di ruang rapat internal, tapi diumbar ke media massa. Tentunya beliau ini pernah belajar manajamen kan, jadi mengerti : POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Nah, pembelian barang dan realisasi proyek itu sudah diplan kan di APBD, sudah diorganisir ke masing2 Kadis untuk dijalankan, si Kadis sudah jalankan. Masalahnya, P-O-A di atas sudah berisi instruksi Ahok hitam di atas putih belum, sudah diparaf dan diperiksa Ahok belum sebagai bukti C alias CONTROL…? Apabila si Ahok ini anak buah pengusaha seperti JK, CT, HT atau ARB, dengan cara kerja dagelan seperti ini pasti sudah lama diPHK. Tapi atasannya Mendagri juga sudah malas komentari dia atau alamat dimaki-maki seperti Marzuki Alie oleh penggemarnya yang sudah tidak punya pikiran logis lagi. Tahun 2014 ini APBD DKI ditargetkan Rp 70 triliun. Dari mana lagi kalau bukan memeras pajak rakyat DKI. Dengan NJOP yang dinaikkan, PBB pasti naik banyak. Subsidi silang yang dibuat Foke untuk masyarakat lemah dengan NJOP rendah kini terhapus oleh kenaikan NJOP sampai 200% yang dibuat Ahok. Pajak reklame naik, memanfaatkan tahun Pemilu dimana caleg dan capres perlu pasang billboard. Pajak hiburan dan restoran naik. Pajak progresif untuk kendaraan digenjot. Jalanpun mau dipajakin dengan ERP apabila berhasil. Tak henti-hentinya ditambahkan seperti seperti tengkulak menghitung rente. Tapi bagaimana kalau hasil pajak itu dibelanjakan dengan cara sembrono begini, beli barang rongsokan lalu bilang ngga tahu dan salahkan bawahan. Realisasi proyek pada mangkrak menghasilkan SILPA yang besar untuk gedein APBD tahun berikutnya. 76 waduk dan situ seluas 700 ha yang sudah ada di Jakarta bukannya dinormalisasi dan dibenahi dulu, malah sibuk mau bikin waduk di wilayah orang lain. Bikin ide beli ruko lalu dijadikan baskom, ide yang barusan dilontarkan lalu dianulir lagi. Bagaimana pertanggung-jawabannya terhadap rakyat pembayar pajak ? Mana yang disebut : Bersih, Transparan dan Profesional…? GTS69

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/gts69/jokowi-ahok-apa-itu-bersih-transparan-dan-profesional_54f85629a33311fa7d8b4697

Megapolitan

Ahok: Inisial Saya Berarti Bersih, Transparan, Profesional

Kamis, 6 Maret 2014 | 13:53 WIB
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan inisial namanya, BTP, merupakan kepanjangan dari “bersih, transparan, profesional”. Hal itu juga yang dia ingin terapkan saat memegang amanah sebagai pejabat publik.

Basuki menyampaikan hal itu ketika memberi sambutan dalam acara pengukuhan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta periode 2013- 2018, di Balai Agung, Balaikota Jakarta, Kamis (6/3/2014).

“Saya kurang berpengalaman berorganisasi, tapi saya kebetulan dikasih nama yang kebetulan sama dengan slogan Kadin. Istilah BTP itu artinya bersih, transparan, dan profesional,” kata pria yang akrab disapa Ahok itu.

Basuki mengakui baru menyadari korelasi inisial namanya dan slogan itu pada 2006, ketika dia menerima penghargaan piagam antikorupsi dari Mitra Award.

“Di situ, saya baru sadar singkatan nama saya BTP. Sebelumnya, saya selalu tulis nama saya Basuki Tjahaja Purnama, dalam kurung Ahok. Kayak tukang kwetiau ya,” ucapnya.

“Terus ketika saya tahu BTP, wah menarik ini. Saya baru tahu ‘Tjahaja’ di nama saya itu kalau disingkat pakai T,” katanya lagi.

Kadin DKI Jakarta sendiri dipimpin oleh Eddy Kuntadi sebagai Ketua Umum, Aip Syarifudin sebagai Ketua Dewan Penasihat, dan Dhaniswara Harjono sebagai Ketua Dewan Pertimbangan.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis : Alsadad Rudi
Editor : Kistyarini
Advertisements

0 Responses to “Peradaban : Bersih Transparan Profesional”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,193,028 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: