24
Dec
15

Kejoangan : Amir Sjarifoeddin, Pejuang Yang Dilupakan

LOGO PARTINDO

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
1949-1959

Mr. Raden Mas Sartono (lahir di Slogohimo, Wonogiri, 5 Agustus 1900 – meninggal di Jakarta, 15 Oktober 1968 pada umur 68 tahun) adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia dan menteri pada kabinet pertama Republik Indonesia. Tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partindo ini juga pernah menjabat ketua parlemen sementara (DPRS) pada Republik Indonesia Serikat (1949) dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat antara tahun 1950 sampai 1959, dan pernah menjabat Gubernur Bank Indonesia.

Menjelang Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928, ia termasuk yang memberi sponsor terlaksana Kongres II bersama temannya Mr. Soenario.

Dilahirkan sebagai keturunan bangsawan Jawa, Sartono berturut-turut mengikuti pendidikan di HIS, MULO, AMS, dan RHS yang ditamatkannya pada tahun 1922. Ia kemudian meneruskan pendidikannya ke Universitas Leiden Belanda dan mendapatkan gelar Meester in de Rechten pada tahun 1926.

Partai Indonesia atau disingkat Partindo adalah salah satu partai politik yang pernah ada di Indonesia. Pendirian partai ini merupakan hasil keputusan Sartono sewaktu ia menjabat ketua PNI-Iama menggantikan Soekarno yang ditangkap pemerintah Belanda tahun 1929. Sartono membubarkan PNI dan membentuk Partindo.

Tujuan pokok Partindo sama dengan PNI-Lama, yaitu mencapai Indonesia merdeka dengan menjalan kan politik non-kooperasi terhadap pemerintahan Belanda. Tindakan Sartono ini mendapat reaksi keras dari anggota PNI-Lama, di antaranya Hatta dan Sutan Sjahrir, serta golongan yang tidak menyetujui dengan pembubaran ini. Mereka membentuk Golongan Merdeka dan menjadi organisasi baru bernama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru). Partindo dan PNI-Baru bersaing dalam memperoleh simpati rakyat.[1]

17 Juni 2013

Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia Masa Partindo (Partai Indonesia)

Oleh: Inggrid Selviana dan Sri Wahyu Ningsih

Latar Belakang

Partindo merupakan organisasi kelanjutan dari PNI yang didirikan oleh Sartono yang pada saat itu menjabat sebagai ketua PNI-lama menggantikan Soekarno yang di tangkap pemerintah belanda tahun 1929. organisasi ini berdiri pada 30 april 1931 dengan harapan PNI akan bergabung dengan dengan partindo. Tujuan dari partindo adalah untuk mencapai satu Negara kesatuan Republik Indonesia Merdeka dan kemerdekaan akan tercapai apabila seluruh rakyat Indonesia bersatu padu. Konsep sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi yang diusung Ir.Soekarno diterima sebagai cita-cita dari partai ini. Karakteristik perjuangan partai ini adalah non kooperatif. Pada awalnya keputusan Sartono banyak mendapat kecaman dari anggota PNI-lama serta dari golongan yang tidak menyetujui pembubaran PNI. Namu sartono terus bejuang untuk memajukan organisasi partindo ini.

 

Partindo (Partai Indonesia)

Partindo salah satu organisasi yang banyak diminati pada masanya, hal ini di karenakan adanya Soekarno dalam organisasi ini yang memiliki daya tarik tersendiri di mata masyarakat. Awalnya setelah Soekarno di bebaskan dari penjara suka miskin tahun 1932, ia bertekad menyatukan kembali PNI-baru dengan partindo, tetapi usahanya mengalami kegagalan, sehingga ia akhirnya memutuskan untuk memilih partindo karena organisasi tersebut lebih sesuai dengan pribadinya dan menawarkan kebebasan untuk mengembangkan kemampuan agitasinya. Dia mengumumkan keputusannya tersebut pada tanggal 1 agustus 1932.

Setelah Ir.Soekarno bergabung dalam partai ini membuat partindo perkembangan meningkat pesat. Ir.Soekarno yang menjabat sebagai kepala cabang Bandung melakukan aksi-aksi yang memukau rakyat Indonesia. Dengan pidato-pidatonya yang menyihir membuat propaganda-propaganda partindo tersalurkan dan memikat rakyat Indonesia untuk masuk kedalam partai ini. Terbukti dengan jumlah keanggotaan yang meningkat dari 226 pada bulan agustus 1932 menjadi 3762 pada tahun 1933.

Pada kongres partindo juli 1933 Ir.Soekarno menjelaskan konsep marhaenisme kepada yang menentang analisa kelas dari PNI pendidikan dan lebih menyukai pejuangan membela rakyat kecil. Pada kongres ini juga Ir.Soekarno sukses menyampaikan konsep sosio-nasionalisme dan sosio-demokratisnya. Kongres-kongres yang selalu dipenuhi peminat ini membuat pemerintah melakukan wanti-wanti dengan melarang pegawai negeri untuk ikut bergabung dengan partai ini dan puncak aksi pengawasan pemerintah ini dengan dibuangnya tokoh yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan partai ini yaitu Ir.Soekarno ke Ende, Flores.

Tujuan Pembentukan Partindo

  • Menumpuk semangat mandiri.
  • Perbaikan hubungan dalam masyarakat (social, ekonomi, dll).
  • Pembentukan pemerintah rakyat berdasarkan demokrasi.
  • Mewujudkan Indonesia merdeka melauli hak-hak politik.
  • Untuk mencapai Indonesia merdeka yang mandiri tanpa campur tangan Negara penjajah.

Kegiatan Partindo

Dalam perkembangannya partindo melakukan kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan serta membangkitkan rasa Nasionalisme bangsa. Kegiatan itu diantaranya adalah

  • Meliputi kegiatan social dan ekonomi sebagai pusat.
  • Mempersiapkan Indonesia merdeka.
  • Mengadakan rapat dan kongres.

Kemunduran Partindo

Ada beberapa factor yang menyebabkan partindo mengalami kemunduran

  • Partindo dianggap terlalu radikal oleh pemerintah penjajah.
  • Ditangkapnya kembali Ir.Soekarno pada 1 agustus 1934.
  • Pada tanggal 18 november 1939 Sartono membubarkan partindo meski tanpa dukungan penuh dari anggotanya.

Penyebab Pembubaran Partindo

Partindo dibubarkan pada tahun 1939 oleh sartono tanpa ada dukungan penuh oleh anggotanya, mereka menganggap sartono membubarkan partindo tanpa ada alas an yang jelas. Namun menurut sartono ada beberapa penyebab yang mengharuskan partindo untuk dibubarkan yaitu:

  • PPKI melarang partindo untuk mengadakan rapat yang kemudian menyebabkan partindo keluar dari PPKI.
  • Kegiatan-kegiatan organisasi bersifat Radikal yang menyebabkan pemerintah melakukan pengawasan yang cukup ketat.
  • Partindo tidak bisa berkembang seperti pada umumnya.

Tokoh-Tokoh Partindo

  • Ir.Soekarno.
  • Sartono.
  • Anwari.
  • Adam Malik.
  • S. K. Trimurti.
  • Oei Tjoe Tat.
  • Moh. Hatta.
  • Gatot Mangkoeprodjo.
  • Assaat.
  • Siauw Giok Thjan.
  • Wikana.
  • Suwiryo.
  • Amir Sjarifoedin.
  • Yap Thiam Hien.

Kesimpulan

Partindo merupakan organisasi kelanjutan dari PNI yang didirikan oleh Sartono yang pada saat itu menjabat sebagai ketua PNI-lama menggantikan Soekarno yang di tangkap pemerintah belanda tahun 1929. organisasi ini berdiri pada 30 april 1931 dengan harapan PNI akan bergabung dengan dengan partindo. Tujuan dari partindo adalah untuk mencapai satu Negara kesatuan Republik Indonesia Merdeka dan kemerdekaan akan tercapai apabila seluruh rakyat Indonesia bersatu padu. Konsep sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi yang diusung Ir.Soekarno diterima sebagai cita-cita dari partai ini.

Tujuan pembentukan Partindo:

  • Menumpuk semangat mandiri.
  • Perbaikan hubungan dalam masyarakat (social, ekonomi, dll).
  • Pembentukan pemerintah rakyat berdasarkan demokrasi.
  • Mewujudkan Indonesia merdeka melauli hak-hak politik.
  • Untuk mencapai Indonesia merdeka yang mandiri tanpa campur tangan Negara penjajah.

Partindo dibubarkan pada tahun 1939 oleh sartono tanpa ada dukungan penuh oleh anggotanya, mereka menganggap sartono membubarkan partindo tanpa ada alas an yang jelas. Namun menurut sartono ada beberapa penyebab yang mengharuskan partindo untuk dibubarkan yaitu:

  • PPKI melarang partindo untuk mengadakan rapat yang kemudian menyebabkan partindo keluar dari PPKI.
  • Kegiatan-kegiatan organisasi bersifat Radikal yang menyebabkan pemerintah melakukan pengawasan yang cukup ketat.

Daftar Pustaka

Suhartono.1994. Sejarah Pergerakan Nasional Dari Budi Utomo sampai proklamasi 1908- 

  1. Yogyakarta: pustaka pelajar (anggota IKAPI).

Diposkan oleh Chaerol Riezal

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Sejarah Nasional Indonesia IV “PARTINDO”

11.07 |

Perkembangan Pergerakan Nasional Indonesia “ PARTINDO ”

Latar Belakang Terbentuknya PARTINDO

PARTINDO adalah suatu organisasi kelanjutan dari PNI yang didirikan oleh Sartono yang pada saat itu menjabat sebagai ketua PNI yang lama menggantikan Soekarno yang ditangkap oleh pemerintahan Belanda tahun 1929. organisasi ini berdiri pada 30 april 1931 dengan harapan PNI akan bergabung dengan partindo. Tujuan dari partindo adalah untuk mencapai satu Negara kesatuan Republik Indonesia Merdeka dan kemerdekaan akan tercapai apabila seluruh rakyat Indonesia bersatu padu. Konsep sosio – nasionalisme dan sosio – demokrasi yang diusung Ir.Soekarno diterima sebagai cita-cita dari partai ini. Karakteristik perjuangan partai ini adalah non kooperatif. Pada awalnya keputusan Sartono banyak mendapat kecaman dari anggota PNI-lama serta dari golongan yang tidak menyetujui pembubaran PNI. Namun sartono terus bejuang untuk memajukan organisasi partindo ini.

PARTINDO ( PARTAI INDONESIA )

Partindo adalah salah satu Organisasi paling diminati pada masa itu, dikarenakan adanya daya tarik tersendiri dari Soekarno di dalam Organisasi terhadap masyarakat. Awalnya pada saat Soekarno dilepaskan dari penjara pada tahun 1932, ia bertekad menyatukan kembali PNI baru dengan partindo tetapi usahanya tidak menuiakan hasil yang diinginkan, sehingga ia memutuskan untuk lebih memilih partindo karena organisasi tersebut lebih sesuai dengan dirinya sendiri dan menawarkan kebebasan untuk meningkatkan agitasinya. Beliau memutuskan hal tersebut pada 1 Agustus 1932. Setelah Ir.Soekarno bergabung dalam partai ini membuat partindo perkembangan meningkat pesat. Ir.Soekarno yang menjabat sebagai kepala cabang Bandung melakukan aksi-aksi yang memukau rakyat Indonesia. Dengan pidato – pidatonya yang menyihir membuat propaganda-propaganda partindo tersalurkan dan memikat rakyat Indonesia untuk masuk kedalam partai ini. Terbukti dengan jumlah keanggotaan yang meningkat dari 226 pada bulan agustus 1932 menjadi 3762 pada tahun 1933.

Pada kongres Partindo yang dilaksanakan pada Juli tahun 1933 Soekarno menjelaskan sebuah konsep kepada yang menentang dari kelas PNI pendidikan dan lebih menyukai berjuangan membela rakyat kecil. Pada kongres ini juga Ir. Soekarno juga berhasil menyampaikan konsep sosio – nasionalisme dan sosio – demokratisnya. Kongres yang selalu diminati ini membuat pemerintahan melakukan wanti – wanti dengan melarang pegawai negeri untuk bergabung dengan partai ini dan puncak aksi pengawasan pemerintahan ini dengan dibuangnya tokoh yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan partai ini yaitu Ir. Soekarno ke Ende, Flores.

Tujuan Pembentukan PARTINDO

Adapun Tujuan yang dimiliki oleh partindo ini adalah ;

  1. Menumpuk semangat mandiri.
  2. Perbaikan hubungan dalam masyarakat.
  3. Pembentukan pemerintahan rakyat berdasarkan demokrasi.
  4. Mewujudkan Indonesia merdeka melalui hak – hak politik.
  5. Untuk mencapai Indonesia merdeka yang mandiri tanpa campur tangan dari tangan penjajah.

Kegiatan PARTINDO

Dalam perkeembangannya Partindo melakukan kegiatan yang rutin dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan serta membangkitkan rasa Nasionalisme bangsa. Kegiatan itu diantaranya adalah :

  1. Meliputi kegiatan sosial dan ekonomi sebagai pusat.
  2. Mempersiapkan Indonesia merdeka.
  3. Mengadakan rapat dan kongres.

Kemunduran PARTINDO

Ada beberapa faktor Partindo mengalami kemunduran ;

  1. Partindo dianggap terlalu radikal oleh pemerintah penjajah.
  2. Ditangkapnya kembali Ir. Soekarno pada 1 Agustus 1934.
  3. Pada tanggal 18 November 1939 Sartono membubarkan partindo meski tidak mendapatkan dukungan penuh dari anggota – anggotanya.

Penyebab Kemunduran PARTINDO

Partindo dibubarkan Sartono pada tahun 1939 tanpa dukungan penuh dari anggota – anggotanya. Mereka menganggap Sartono membubarkan Partindo tanpa adanya alasan yang jelas. Namun, menurut Sartono sendiri ada beberapa alasan yang membuat Partindo itu diharuskan untuk bubar, yaitu :

  1. PPKI melarang Partindo mengadakan rapat yang kemudian menyebabkan Partindo keluar dari PPKI.
  2. Kegiatan – kegiatan yang bersifat radikal menyebabkan pemerintah melakukan pengawasan yang cukup ketat.
  3. Partindo tidak bisa berkembang pada umumnya.

Tokoh – Tokoh PARTINDO

  • Ir. Soekarno
  • Sartono
  • Anwari
  • Adam Malik
  • S. K. Trimurti
  • Oei Tjoe Tat
  • Moh Hatta
  • Gatot Mangkoeprodjo
  • Assaat
  • Siauw Giok Thjan
  • Wikana
  • Suwiryo
  • Amir Sjarifoedin

Yap Thiam Hien

PARTAI INDONESIA

Disingkat Partindo, didirikan di Jakarta tanggal 30 April 1931. Pendirian partai ini merupakan hasil keputusan Sartono sewaktu ia menjabat ketua PNI-Iama menggantikan Soekarno yang ditangkap pemerintah Belanda tahun 1929. Sartono membubarkan PNI dan membentuk Partindo. Tujuan pokok Partindo sama dengan PNI-lama, yaitu mencapai Indonesia merdeka dengan menjalan kan politik non-kooperasi terhadap pemerintahan Belanda. Tindakan Sartono ini mendapat reaksi keras dari anggota PNI-lama, di antaranya Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir, serta golongan yang tidak menyetujui dengan pembubaran ini. Mereka membentuk Golongan Merdeka dan menjadi organisasi baru bernama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-baru). Partindo dan PNI-baru bersaing dalam memperoleh simpati rakyat.

Setelah Soekarno dibebaskan dari penjara Suka miskin tahun 1932, bertekad menyatukan kembali PNI-baru dengan Partindo, tetapi usahanya mengalami kegagalan, sehingga ia akhirnya memutuskan untuk memilih Partindo karena organisasi tersebut lebih sesuai dengan pribadinya dan menawarkan kebebasan untuk mengembangkan kemampuan agitasinya. Dia mengumumkan keputusannya tersebut tanggal 1 Agustus 1932.

Jumlah anggota Partindo tahun 1932 meningkat cukup pesat karena daya tarik Soekarno. Akan tetapi kewibawaannya telah menurun dibandingkan saat ia memimpin PNI lama, pendapat-pendapatnya seringkali ditentang oleh pengurus Partindo lainnya dan peranannya lebih terbatas di Partindo cabang Bandung. Meskipun demikian, usul Soekarno untuk mengganti nama Partindo menjadi PNI (Partai Nasional Indonesia) mendapat dukungan dari banyak anggota. Meskipun mendapat banyak dukungan, usul tersebut menemui kegagalan, tetapi konsepnya tentang Marhaenisme dan sosio-ekonomi diterima partai.

Sejak Soekarno memilih Partindo, maka PNI-baru berjuang sekuat tenaga untuk menarik simpati rakyat. Antara kedua organisasi ini kadang terjadi saling ejek-mengejek. Pemimpin Partindo seperti Sartono dan Sujudi, dinilai sebagai kaum borjuis nasionalis yang menentang kapitalisme Barat tetapi mendukung kapitalisme Indonesia. Gerakan Swadesi Partindo juga mendapat kritikan. Menurut Hatta dan Sjahrir, kaum nasionalis harus bersatu untuk mencapai kemerdekaan. Aktivitas Partindo juga dihambat oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Meskipun mendapat pembatasan-pembatasan dan pelarangan, tokoh-tokoh Partindo tidak pernah menggubrisnya. Lewat majalah Pikiran Rakjat dan Soeloeh Indonesia Moeda, mereka melancarkan kritik pedas tentang situasi ekonomi, sosial, dan mengejek tindakan imperialisme Belanda. Melihat hal itu, Gubernur de Jonge menjalankan kewenangan Gubernur Jendral, yaitu exorbitante rechten, membuang aktivis pergerakan yang dianggap membahayakan ketenteraman negara. Soekarno kemudian dibuang ke Ende (Flores).

Penangkapan Soekarno dan larangan mengadakan rapat oleh pemerintah memberikan pengaruh kepada partai ini dan tahun 1936 pengurus Partindo mengumumkan pembubaran dirinya. Pembubaran ini atas ide Sartono yang menggantikan kedudukan Soekarno sebagai Ketua. Golongan yang tidak setuju kemudian mendirikan Komite Pertahanan Partindo di Semarang dan Yogyakarta untuk menghambat pembubaran itu, tetapi tidak berhasil. Dan akhirnya tahun 1937 partai tersebut benar-benar bubar dan sebagian besar anggotanya masuk dalam Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Gerindo sedikit berbeda dengan Partindo, yaitu menjunjung asas kooperasi terhadap Belanda.

Partai Indonesia (Partindo), Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), Partai Indonesia Raya (Parindra), dan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)

Partai Indonesia (Partindo)
Partai Indonesia (Partindo) didirikan oleh Sartono. Partindo mempunyai tujuan perjuangan sama dengan PNI, yaitu mencapai Indonesia merdeka. Dasar perjuangan Partindo adalah nonkooperatif, tidak menggantungkan diri pada orang lain, serta aktif menentang penjajahan. Tujuan itu akan tercapai dengan cara memperluas hak-hak politik menuju pemerintahan yang demokratis dan perbaikan ekonomi rakyat. Partindo dalam hal agama bersikap netral. Partindo memperjuangkan kebebasan berserikat dan berkumpul, kebebasan pers, mengusahakan perkumpulan-perkumpulan tani, dan pemberantasan buta huruf. Kedudukan Partindo makin kuat setelah Ir. Sukarno membantu memimpin Partindo.

Karena Partindo bersifat radikal, pemerintah Belanda melakukan tindakan pengawasan serupa dengan PNI. Mulai tahun 1931 pemerintah kolonial Belanda memperketat pengawasannya terhadap Partindo. Pemerintah kolonial Belanda melarang persidangan Partindo di seluruh Tanah Air dan melarang para pegawai negeri masuk menjadi anggotanya.

Pemerintah Belanda kembali menangkap Ir. Sukarno dan mengasingkannya ke Flores pada tahun 1934. Pada tahun 1938 Ir. Sukarno dipindahkan ke Bengkulu dan pada bulan Februari dipindahkan ke Padang. Ir. Sukarno baru bebas pada zaman Jepang (tahun 1942). Partindo tidak dapat berkembang karena mendapat tekanan keras dari pemerintah Belanda dan para pemimpinnya ditangkap. Pada tahun 1936 Partindo dibubarkan oleh Sartono.

Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru)

Pendukung PNI yang menyebut dirinya Gerakan Merdeka dan tidak menyetujui politik Sartono, mendirikan organisasi baru yang disebut Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). PNI Baru lahir pada tahun 1931. PNI Baru berhaluan nasionalis dan demokrasi. Dari PNI Baru muncul tokoh Sutan Syahrir (20 tahun) yang pada waktu itu masih menjadi mahasiswa di Amsterdam. Ia pulang ke Tanah Air atas permintaan Moh. Hatta untuk menjadi ketua partai. Walaupun cita-cita dan haluan kedua partai itu sama, yaitu kemerdekaan dan nonkooperatif, strategi perjuangannya berbeda. PNI Baru lebih menekankan pada pentingnya pendidikan kader, sedangkan Partindo lebih menekankan aksi massa untuk mencapai kemerdekaan.

Sifat perjuangan PNI Baru adalah nonkooperatif. Oleh karena itu, pemerintah Belanda pun melakukan tindakan serupa dengan Partindo. Drs. Moh. Hatta dan Sutan Syahrir ditahan selama 11 bulan. Pada awalnya, kedua tokoh tersebut diasingkan ke Boven, Digul, kemudian dipindahkan ke Sukabumi. Mereka dibebaskan pada saat pendudukan Jepang.Karena pemerintah Belanda mengadakan penekanan dan menangkap para pemimpinnya, perjuangan PNI Baru tidak banyak membawa hasil. Akibat tindakan keras Gubernur Jenderal de Jonge, PNI Baru pada tahun 1936 tidak berdaya dan mengalami kelumpuhan.

Partai Indonesia Raya (Parindra)

Dokter Sutomo pendiri Budi Utomo pada tahun 1931 mendirikan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) sebagai kelanjutan dari Indonesische Studie Club yang didirikan pada tahun 1924. Dokter Sutomo bermaksud menempuh jalan kooperasi dalam satu wadah partai besar. Untuk menyatukan partai-partai kecil agar memperoleh kekuatan besar, pada tanggal 24–26 Desember 1935 di Surakarta diadakan kongres fusi Budi Utomo dengan Persatuan Bangsa Indo- nesia. Hasil fusi menghasilkan partai baru yang disebut Partai Indonesia Raya (Parindra). Sebagai ketua terpilih dr. Sutomo. Kantor pusat Parindra ditetapkan di Surabaya. Selain Budi Utomo dan PBI, Serikat Sumatera dan Serikat Celebes bergabung pula ke dalam Parindra. Tujuan partai tersebut tercantum dalam namanya, yaitu Indonesia Raya. Untuk mencapai tujuan itu, dilakukan usaha sebagai berikut:

  1. memperkukuh semangat persatuan kebangsaan Indonesia,
  2. menjalankan aksi politik sehingga diperoleh pemerintahan yang berdasarkan demokrasi dan nasionalisme, dan
  3. meningkatkan kesejahteraan rakyat, baik di bidang ekonomi maupun sosial dengan bekerja keras.

Dalam kongresnya yang pertama di Batavia pada tanggal 15–18 Mei 1937, Parindra mengambil sikap kooperatif. Dengan sikap yang moderat, Parindra dapat mendudukkan wakilnya dalam Volksraad. Parindra berjuang untuk me- masukkan wakil sebanyak-banyaknya dalam Dewan Perwakilan Rakyat sehingga dapat memengaruhi politik pemerintah. Parindra banyak bergerak dalam bidang pemberantasan buta huruf dan perbaikan pelajaran. Untuk memperbaiki perekonomian rakyat, Parindra membentuk organisasi Rukun Tani, membentuk serikat-serikat pekerja, menganjurkan swadesi ekonomi, dan mendirikan Bank Nasional Indonesia.

Kongres kedua Parindra diselenggarakan di Bandung pada tanggal 24–27 Desember 1938. Karena pada saat itu dr. Sutomo sudah meninggal, kongres memilih K.R.M.H. Wuryaningrat menjadi Ketua Parindra. Kongres itu meng- ambil keputusan, antara lain sebagai berikut:

  1. berusaha keras mengurangi pengangguran;
  2. tidak menerima orang-orang Belanda peranakan menjadi anggota;
  3. meningkatkan transmigrasi guna memperbaiki kesejahteraan.

Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)

Pada tahun 1936 Partindo dibubarkan oleh Sartono. Para mantan pemimpin Partindo pada tanggal 24 Mei 1937 mendirikan partai baru yang disebut Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Pimpinan Gerindo, antara lain Sartono, Muh. Yamin, dan Amir Syarifudin.

Sesuai dengan situasi pada saat itu, Gerindo melakukan taktik perjuangan kooperatif dengan pemerintah kolonial. Dengan demikian, Gerindo mengizinkan anggotanya duduk dalam Volksraad. Tujuannya adalah mencapai pemerintahan negara yang berdasarkan kemerdekaan politik, ekonomi, dan sosial. Dalam kongres keduanya di Palembang, Gerindo memutuskan bahwa peranakan Eropa, Tionghoa, dan Arab dapat diterima menjadi anggota partai.

Karena kedudukan Muh. Yamin sebagai anggota Volksraad atas tunjukan partai lain, ia dipecat dari keanggotaan Gerindo. Muh. Yamin kemudian mendirikan partai baru yang disebut Partai Persatuan Indonesia (Parpindo). Partai tersebut bersifat kooperatif dan bertujuan mencapai kemajuan masyarakat dan negara berdasarkan keinginan rakyat.

http://www.berdikarionline.com/amir-sjarifuddin-pejuang-yang-dilupakan/

Amir Sjarifoeddin, Pejuang Yang Dilupakan

Amir Sjarifoeddin adalah seorang yang sangat mencintai manusia yang mendamba Indonesia merdeka dalam arti sepenuh-penuhnya dan mencurahkan pikiran dan tenaga, kemudian berakhir hidupnya karena kecintaannya kepada Negara yang diperjuangkannya. Ia seorang yang kompleks dalam arti positif bagi pengagumnya; namun juga dalam arti negatif bagi yang tidak sepakat dengan tindakan dan pandangan politiknya. Kompleksitas Amir inilah yang yang membuatnya tidak turut dalam urutan nama-nama yang harus dihapal dalam jajaran pahlawan nasional, juga yang membuat perjuangan-perjuangannya tidak tertoreh dengan tinta emas dalam sejarah nasional.

Lahir pada tanggal 27 April 1907 di Medan, dari Ayah bernama Soripada Harahap dengan Basunu br Siregar, yang keduanya berbeda agama. Soripada sendiri adalah anak dari Ephraim Harahap, seorang pemeluk kristen pada masa-masa awal misi zending di Parausorat, Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Sedangkan ibunya, Basunu Siregar, besar di Medan dan telah membaur dengan masyarakat Melayu-Deli dan memeluk agama islam. Karena perkawinan ini pula Soripada memeluk agama islam.

Beragam kesulitan dialami oleh keluarga ini dalam kehidupan sehari-harinya, baik karena sikap temperamen Soripada maupun kesulitan ekonomi. Soripada yang berprofesi sebagai hoofjaksa tidak mencapai karier yang cerah dalam pekerjaannya karena dijatuhi hukuman tidak boleh menjadi pegawai negeri setelah memukul seorang tahanan. Basunu sendiri mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri pada tahun 1931.

Sekalipun memeluk agama islam, hubungan keluarga Amir dari pihak ayah tetap terjalin dengan baik, yang terlihat dari usaha sepupunya, Gunung Mulia Harahap, untuk membantu Amir dalam pendidikan. Atas usaha Mulia, Amir melanjutkan pendidikannya di Kota Leiden, Belanda, sejak tahun 1911 hingga tingkat dua di Gymnasium di Haarlem pada tahun 1927. Pada tahun tersebut, Amir kembali ke kampung halaman karena masalah keluarga. Namun atas saran dan desakan teman-temannya, Amir kemudian melanjutkan pendidikannya di Batavia mengambil jurusan hukum.

Ia kembali dibantu oleh sepupunya Mulia yang telah kembali ke Batavia dan menjabat direktur pendidikan guru di Jatinegara. Hubungannya dengan aktivis pejuang kemerdekaan semakin intens, yang telah dimulai sejak dari negeri Belanda, ketika ia pindah ke asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106, menumpang pada Muhammad Yamin. Dalam Kongres Pemuda Kedua, yang dianggap sebagai batu penjuru bagi perjuangan menuju negara Indonesia merdeka dengan dirumuskannya Sumpah Pemuda, Amir turut sebagai peserta mewakili Jong Batak dimana ia duduk sebagai bendahara.

Dalam pandangan Amir, elemen-elemen yang penting dalam perjuangan adalah komunikasi dan pendidikan politik, bahasa, pers dan kantor berita, sekolah serta pendidikan rakyat. Ketertarikan ini pula yang mendorong ia giat hingga duduk sebagai pemimpin redaksi Indonesia Raja yang didirikan oleh Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI).  Ketika ia aktif di Partindo (Partai Indonesia), dimana ia menjadi salah satu pengurusnya, ia duduk di bagian propaganda dan penerbitan. Bidang komunikasi ini pula yang mengenalkannya dengan penjara karena ia sebagai pemimpin redaksi majalah Banteng menerbitkan karangan anonim berjudul “Massa Actie” yang sebenarnya adalah karangan Muhammad Yamin. Karangan ini dianggap pemerintahan kolonial berbahaya karena berisi petunjuk untuk melakukan perjuangan secara rasional dan terstruktur untuk menumbangkan kekuasaan kolonial.

Bagi penguasa, tidak ada pilihan buat Amir selain penjara karena dalam dirinya terkandung potensi yang sedemikian dahsyat. Seperti dituliskan oleh Gubernur Jawa Barat dalam suratnya tertanggal 10 November 1933, “Amir adalah seorang ekstremis dengan sepenuh hati, tegas, yakin dan mantap.” Hal ini terlihat dalam proses verbal yang dilakukan terhadap dirinya, tidak ada keraguan akan apa yang dilakukannya. Ia tidak mau membocorkan siapa yang menulis “Massa Actie”, walau siapapun yang paham atau akrab dengan dunia pergerakan, tentu saja termasuk intel-intel kolonial, mengetahui penulisnya. Namun menjadi sangat penting untuk mendapatkan pengakuan itu dari mulut Amir sendiri sebagai bentuk demoralisasi dan menebar perpecahan dikalangan kaum pergerakan. Hal itu sia-sia saja karena Amir terlahir, besar, dan selalu berada dalam situasi yang rumit serta berbeda-beda yang tidak banyak orang mengalaminya dan mampu melaluinya.

Ia adalah seorang pengurus Partindo yang lebih condong pada pandangan-pandangan kiri tapi sekaligus juga aktif dalam diskusi-diskusi kristen sejak tahun 1931 di Christelijte Studenten Vreeninging op Java (CSV op Java) yang mendekatkan dirinya dengan tokoh-tokoh pergerakan yang beragama kristen seperti J. Leimena, W. P. Tambunan, dll. Tak salah bila para missionaris menyukainya karena karakternya yang selalu bersemangat – tak kenal putus asa, tulus, tak mementingkan diri sendiri, dan memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi. Bahkan para missionaris menyatakan kristen akan berkembang pesat di Hindia Belanda seandainya lembaga zending memiliki beberapa orang missionaris seperti dia.

Bukanlah hal yang sangat mengejutkan bila T.B Simatupang, seorang arsitek militer modern Indonesia yang kemudian mengundurkan diri dari dunia kemiliteran dan mengaktifkan diri pada kegiatan gerejawi, dalam bukunya “Laporan dari Banaran” memberi ruang untuk Amir. Perjumpaan T.B Simatupang dengan Amir tidaklah intens karena T.B Simatupang lebih sering berada di sekitar Soekarno atau Jenderal Sudirman pada masa-masa awal kemerdekaan yang harus menghadapi aksi polisional Belanda melalui Agresi. Memang Amir selalu duduk dalam kabinet, bahkan pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan, tapi itu tidak membuat mereka sering berjumpa mengingat kondisi negara saat itu. Kekaguman ini lahir dari kharisma, keteguhan, catatan perjuangan, dan tentu saja yang kerelijiusan Amir berdasarkan informasi yang didapatkan oleh Simatupang dari pejuang-pejuang kemerdekaan yang lain.

Bila T.B Simatupang kagum pada Amir atas karakternya itu pada masa-masa Indonesia merdeka, maka penguasa kolonial telah lebih dulu kagum (sekaligus risau) pada masa Indonesia belum merdeka seperti tertulis dalam surat Gubernur Jawa Barat itu. Untuk orang yang keras hati akan prinsip dan tak kenal takut seperti ini tentu tempat yang paling cocok menurut penjajah adalah penjara. Selama delapan belas bulan ia berada dibalik jeruji, diantaranya enam bulan di Penjara Salemba dan satu tahun di Penjara Sukamiskin Bandung.

Keteguhan hati dan tak kenal takut Amir yang melegenda tak hanya sekali memukau Belanda, Dalam dokumen NEFIS (Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service), jawatan rahasia Kolonial Belanda, tertanggal 9 Juni 1947, dituliskan bagaimana ia tertawa ketika para penyidik Jepang tahun 1943 menyiksanya saat interogasi terkait keterlibatannya dalam gerakan bawah tanah menentang pendudukan Jepang. Ia tertawa bahkan ketika ia digantung dengan kaki diatas. Apa yang tertulis di dokumen tersebut pastilah akurat karena pada saat itu banyak tahanan Belanda ataupun anteknya yang juga ditahan ditempat yang sama.

Kegiatan bawah tanah yang menghantarkannya dalam tahanan Jepang dan dijatuhi hukuman mati merupakan salah satu resiko peranan yang dipilih oleh Amir. Walau samar-samar dan belum ada sejarawan yang menjadikan sebagai objek khusus penelitian sejarah, semua mahfum bahwa ada dua aras dalam memandang pendudukan Jepang.  Politik koperasi yang diwakili oleh figur Soekarno dan Hatta, dan politik non koperasi yang tokoh utamanya adalah Amir.

Amir Sjarifoeddin, meminjam istilah Nietsczhe, adalah Übermensch. Manusia super. Manusia yang berhasil merumuskan nilainya sendiri dan tiada takut untuk menghadapi resiko akibatnya. Dalam pergulatan menemukan nilai itu, ia telah melampaui nilai-nilai yang diyakini umum. Ia lahir dari keluarga islam dan kemudian menjadi kristen, tapi tidak pernah tercatat menunjukkan kecurigaan dan antipati terhadap islam. Ia seorang kristen, tapi ia juga seorang yang akrab dan menyatakan dirinya sebagai komunis tanpa pernah menjadi momok bagi golongan kristen-bahkan salah satu yang dihormati. Semua tahu bahwa kaum agamais menolak komunis karena salah mengartikan religio est opium. Ia terlahir sebagai Suku Batak, tapi ia adalah pendamba dan penganut sejati paham Indonesia yang mengayomi semua suku bangsa yang lahir dan besar di bumi pertiwi ini. Berteman akrab dengan keturunan Tionghoa yang dilematis posisinya di Indonesia. Seorang Batak yang selalu menjaga hubungan kekerabatan, tapi dengan berani menikah dengan Djaenah yang satu marga dengannya.

Tokoh sekompleks ini bagi orang kebanyakan, atau malah untuk orang sekaliber Hatta pun, sangat susah dipahami. Hatta dalam bukunya “Bung Hatta Menjawab” tahun 1978 menggambarkan Amir sebagai seorang ambisius yang mentah, tidak berwatak, tidak berkeyakinan, yang gampang berganti pikiran seperti berganti baju dan seorang yang berangasan. Bila keterlibatannya dengan setan komunis, seperti dalam disertasi Pendeta Frederiek Djara Wellem, adalah karena kecintaannya kepada manusia, maka bagi Hatta bukanlah demikian. Hatta tidak percaya bahwa ia telah diperdaya setan karena sedikit banyak Amir adalah setan.

Bisa jadi Hatta benar, bisa juga Hatta salah. Bila Hatta benar, maka tepatlah reaksi Amir Sjarifoeddin yang sangat tenang ketika menghadapi saat-saat terakhir hidupnya. Mungkin bagi orang kebanyakan, hanya setan yang tidak takut berhadapan dengan kematian dan bisa tertawa ketika disiksa. Tapi bagaimana kalau Hatta salah? Manusia seperti apakah yang mampu menerima kenyataan dan dengan tenang menghadapi hukum mati oleh prajurit yang pernah dipimpinnya dan akan berakhir hidupnya oleh peluru negara yang kemerdekaannya diperjuangkannya dengan sepenuh jiwa? Menerima eksekusi tanpa pernah dijatuhi vonis bersalah?

Jawaban atas pertanyaan ini secara simbolik ada pada permintaan terakhirnya sebelum eksekusi dilakukan. Ia meminta agar diberi waktu menuliskan surat untuk keluarga, diberi kesempatan menyanyikan Internasionale  – Mars gerakan Komunis sedunia – dan Indonesia Raya. Ketika peluru itu menembus tengkorak kepalanya, Kitab injil berada di kantung bajunya.

Ia, Amir Sjarifoeddin, yang telah menyadari absurditas kehidupan dan gagah menghadapinya. Kehidupan yang tidak linear, penuh liku, penuh onak, kadang menanjak dan seketika curam, penuh kontradiksi, perbuatan baik tidak selalu berbalas kebaikan. Kehidupan yang bisa membuat seorang penghianat jadi pahlawan, juga bisa membuat pahlawan menjadi penghianat.

Tanggal 19 Desember 1948, Ia pergi menjadi orang yang terlupakan, dilupakan, dan dihilangkan dari catatan sejarah sebuah bangsa.

Benny Sitorus, Aktivis dan bekerja formal di bidang keuangan
Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/amir-sjarifuddin-pejuang-yang-dilupakan/#ixzz3vCbIChIu
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

__._,_.___


0 Responses to “Kejoangan : Amir Sjarifoeddin, Pejuang Yang Dilupakan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,062,175 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: