23
Dec
15

Peradaban : Menduniakan Islam Indonesia

LOGO PARTINDO

Menduniakan Islam Indonesia

Oleh: Masykuri Abdillah

Posisi geografis Indonesia di Asia Tenggara yang jauh dari pusat Islam di Jazirah Arab menimbulkan asumsi bahwa Islam di Asia Tenggara adalah pinggiran (periferal). Namun, sebenarnya ekspresi Islam di wilayah ini memiliki karakteristik dinamis yang tidak sama dengan di Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Tengah, dan Asia Selatan.

Karakteristik Islam di Asia Tenggara, terutama Indonesia, pada dasarnya adalah Islam yang ramah (damai), moderat, dan toleran. Sementara, banyak negara Muslim di luar wilayah ini diwarnai oleh sistem pemerintahan yang otokratis/otoriter serta terjadinya kekerasan, konflik, dan perang, terutama yang dilakukan ISIS dan Alqaidah. Hal ini terjadi karena ekspresi keagamaan tidak terlepas dari pemahaman doktrin serta karakter, tradisi, dan budaya penganutnya.

Kini Indonesia bahkan dinilai sebagai negara Muslim paling toleran dan paling demokratis di dunia. Banyak pihak yang mengharapkan Indonesia dijadikan sebagai model negara Muslim modern yang demokratis. Karenanya, diperlukan upaya pengembangannya secara aktif sehingga bangsa Indonesia tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek globalisasi.

Di samping kondisi yang sangat positif ini, diakui juga bahwa di era reformasi ini muncul pula gejala menguatnya aliran atau gerakan Islam dari luar Indonesia, sejalan dengan proses globalisasi yang secara umum tidak bisa dielakkan. Sebagian dari aliran atau gerakan itu, terutama kelompok puritan, radikal, dan ekstremis telah merusak karakterisitk Indonesia yang damai, moderat, dan toleran, yang berujung pada terjadinya kasus terorisme, kekerasan, dan intoleransi beragama.

Bahkan, konflik di Timur Tengah pada saat ini, terutama di Irak, Suriah, dan Yaman yang notabene melibatkan salafi/wahabi di satu pihak dan syiah di pihak lain, ikut berpengaruh tehadap munculnya ketegangan tertentu di negara ini.

Untuk merespons perkembangan tersebut, sejumlah tokoh dan organisasi Islam telah melakukan upaya penguatan pemahaman Islam yang moderat dan wawasan kebangsaan. Salah satu ormas Islam, yakni Nahdlatul Ulama (NU), bahkan menegaskan kembali perlunya mempertahankan karakteristik Islam di negara ini dengan istilah “Islam Nusantara”, meski istilah ini bukanlah istilah baru. Hal ini karena Islam di Nusantara selama ini telah menunjukkan Islam yang ramah, moderat, dan toleran.

Namun demikian, agar karakterisasi Islam itu bisa diterima oleh Muslim di luar Indonesia, diperlukan istilah yang bersifat universial dan berasal dari Alquran. Dalam hal ini saya cenderung menggunakan istilah “Islam Rahmah-Wasathiyyah”. Kata rahmah (berarti kasih sayang atau ramah) yang berasal dari kata rahmatan li al-‘alimin, merupakan karakteristik agama Islam, sebagaimana terdapat dalam QS al-Anbiya [21]: 107. Kata ini dijadikan sebagai karakteristik Islam yang telah dikumandangkan ke penjuru dunia oleh International Conference of Islamic Scholars (ICIS) sejak 2004.

Sedangkan, wasathiyyah (berarti moderasi) merupakan karakteristik umat Islam, sebagaimana terdapat dalam QS al-Baqarah [2]: 143. Istilah “Islam wasathiyyah” ini dijadikan sebagai tema Munas ke-9 Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2015 di Surabaya sebagai karakteristik Islam yang harus dijaga dan dikembangkan di Indonesia. Sebelumnya, Muktamar ke-33 NU dan Muktamar ke-47 Muhammadiyah tahun ini juga menegaskan perlunya menjaga dan mempromosikan Islam moderat.

Secara empiris, karakteristik Islam yang damai dan moderat ini dapat dilihat dari tiga perspektif. Pertama, dalam konteks hubungan antara warga, umat Islam di wilayah ini sangat toleran terhadap kelompok lain. Kedua, dalam konteks hubungan antara Islam dan negara, umat Islam akomodatif terhadap ideologi negara dan sistem demokrasi. Ketiga, dalam konteks kehidupan dan perkembangan dunia, umat Islam dapat menerima modernisme meski tetap memiliki orientasi keagamaan.

Banyak pemimpin Muslim di berbagai negara, para pemimpin politik dari negara-negara Barat, dan pengamat internasional (terutama Indonesianis) menyarankan kepada negara-negara Muslim di dunia akan pentingnya belajar dari Islam Indonesia. Pemerintah dan sejumlah tokoh organisasi Islam di Indonesia menyadari akan hal ini, dengan berbagi pengalaman dengan para tokoh umat di negara lain.

Dalam konteks ini, pemerintah (Kementerian Luar Negeri dan Kementeriaan Agama) telah menginisiasi penyelenggaraan dialog antaragama (interfaith dialogue) baik tingkat internasional maupun regional, multilateral, maupun bilateral.

Dialog dengan tema “the First ASEM Interfaith Dialogue” yang awalnya diselenggarakan di Bali pada 2005 itu kini sudah banyak dilakukan di berbagai negara di dunia. Pemerintah bahkan menjadikan dialog ini sebagai program unggulan dalam diplomasi publik yang merupakan second track diplomacy, dengan melibatkan para intelektual dan tokoh berbagai organisasi keagamaan (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu). Mereka bisa menjelaskan dan memberikan testimoni tentang kondisi objektif dan pengalaman kehidupan beragama di Indonesia yang damai dan toleran.

Di samping itu, sejumlah tokoh dan organisasi Islam, terutama NU dan Muhammadiyah, juga telah menyelenggarakan forum-forum internasional dengan berbagai tema, baik terkait dengan perlunya pemahaman Islam yang damai dan moderat maupun terkait upaya memajukan umat dan mengatasi persoalan yang dihadapi mereka. Forum seminar internasional tentang hal ini juga dilakukan oleh sejumlah perguruan tinggi Islam di negara ini.

Pertemuan internasional dengan mengundang ulama dan tokoh Islam dunia itu memberikan pemahaman yang benar tentang Islam di Indonesia. Semula banyak yang menganggap Islam di Indonesia sebagai Islam sinkretis, yang bercampur dengan syirik, bid’ah, dan khurafat. Namun, kini mereka memahami Islam di Indonesia dalam hal akidah dan ibadah sama dengan yang dipraktikkan oleh mayoritas umat Islam di dunia.

Yang agak berbeda adalah ekspresi keagamaan dalam kehidupan masyarakat dan negara, yang notabene lebih damai dan toleran daripada di umumnya negara-negara Muslim. Ekspresi yang demikian ini menimbulkan keinginan banyak dari mereka untuk mempelajari dan mencontoh.

Hal tersebut juga mendorong keinginan banyak pemuda Muslim di seluruh dunia, baik dari negara-negara mayoritas Muslim maupun negara minoritas Muslim, untuk belajar Islam di negara ini. Saat ini sudah ada sejumlah mahasiswa asing yang belajar Islam di Indonesia, baik yang mendapatkan beasiswa dari Kemenag maupun yang mandiri.

Namun, jumlah mereka masih sedikit karena nilainya pun sangat terbatas. Padahal ada negara yang pendapatan per kapita rakyatnya sebenarnya lebih rendah dari Indonesia, tetapi memberikan banyak beasiswa kepada mahasiswa internasional (asing). Beasiswa ini merupakan bagian dari diplomasi publik yang dilakukan mayoritas negara.

Ke depan, upaya menduniakan Islam Indonesia itu akan semakin berhasil jika didukung juga anggaran biaya mencukupi. Anggaran biaya ini diperlukan untuk meningkatkan program diplomasi people to people yang melibatkan para tokoh dan organisasi keagamaan.

Dana ini juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dengan standar internasional, termasuk kualitas penelitian serta publikasi buku dan jurnal dalam bahasa dunia, di samping untuk beasiswa (program S-2 dan S-3) bagi mahasiswa asing dan rekrutmen dosen internasional. Untuk merealisasikan ini, tidak diperlukan lagi pendirian universitas baru, tetapi cukup memperkuat mandat dan dana yang memadahi bagi universitas yang sudah ada. []

REPUBLIKA, 18 Desember 2015

Masykuri Abdillah | Guru Besar, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Rais Syuriah PBNU

 

Sejujurnya kalau kita mau bicara tentang perubahan atau revolusi mental di negara ini, yang paling mendesak untuk berubah dan perlu melakukan revolusi mental adalah para pejabatnya, para petinggi pemerintahannya. Bukan rakyat kecil seperti kita. Mengapa? Karena rakyat masih melihat tokoh-tokoh publik bicara sesuka hati, jalannya mau didahulukan, kalau terlibat hukum bukannya mengakui salah malah mengadili pelapor yang menjadi korban atau yang membukakan aib, mau terbang ke luar negeri tapi tak mau beli tiket.

salam,
ananto
=====

Perubahan dan Revolusi Mental

Oleh: Rhenald Kasali

Saya sering menyaksikan banyak organisasi yang ingin berubah karena lingkungannya yang sudah berubah. Di dunia bisnis misalnya, populasi berubah, teknologi anyar dan kota-kota baru bermunculan, kompetitor semakin banyak, konsumen cepat bosan, regulasi gampang berubah, dan masih banyak lagi. Bahkan kita menyebutnya inilah era disruption : era kekacauan, sesuatu yang mengakibatkan tren yang lama terputus, bergeser. Jadi, jika perusahaan itu tidak berubah, bisnisnya pasti terancam. Bisa gulung tikar.

Kenyataannya, meski banyak perusahaan tahu harus berubah, banyak yang gagal melakukan perubahan. Atau, kalaupun berubah, hasilnya tak sesuai dengan harapan mereka. Perubahannya terlalu inkremental, terlalu kecil ketimbang tuntutan perubahan lingkungan bisnisnya. Akhirnya pendapatan perusahaan tak kunjung meningkat, sementara biaya terusbertambah.

Akibatnya setiap tahun perusahaan hanya sibuk melakukan pemangkasan biaya dan tak tahu bagaimana lagi cara menggenjot penerimaan. Perubahan memang tidak mudah. Stephen Covey menegaskan, ”Perubahan itu menyakitkan.” Itu sebabnya banyak orang, juga perusahaan atau organisasi lainnya, enggan berubah. Mengapa banyak perubahan yang gagal? Ada banyak faktor.

Namun yang paling sering saya jumpai adalah karena kita kerap kali terperangkap oleh cara berpikir lama, keberhasilan di masa lalu, dan terlalu menyederhanakan perubahan. Kita tidak memandang perubahan sebagai proses, tetapi peristiwa. Kita menganggap perubahan bakal berlangsung dengan sendirinya setelah melakukan kick off atau menetapkan kapan tanggal go live – nya.

Padahal, perubahan tidak akan pernah terjadi secara instan hanya karena kita sudah melakukan rangkaian seremoni. Setiap orang tidak akan langsung berubah hanya lantaran sudah menerima e-mail tentang perubahan, terbentuknya agen-agen perubahan, membaca brosur, mendengarkan pidato, mengetahui sasaran-sasaran yang ingin dicapai dan prosesnya. Seseorang juga tidak akan langsung berubah meski dia sudah mengikuti berbagai program pelatihan. Salah satu faktor yang membuat perubahan kian sulit adalah karena kita mesti beranjak dari kondisi lama ke kondisi baru. Kondisi lama sudah kita ketahui.

Sementara kondisi baru bagi sebagian orang masih gelap gulita. Untuk sampai ke sana, kita kerap harus menjalani proses yang tidak mudah. Menyakitkan, seperti kata Covey tadi. Kalau benar seperti itu, lalu mengapa belakangan kita begitu gencar mengampanyekan pentingnya perubahan? Atau dalam bahasa yang lain kita kenal dengan ungkapan revolusi mental?

Contoh yang Mengesalkan

”People don’t resist change. They resist of being changed ,” kata Peter Senge, pendiri Society for Organizational Learning yang juga pengajar di MIT Sloan School of Management. Kita tidak menolak perubahan, tetapi kita tidak ingin diubah. Anda bisa dengan mudah melihat buktinya di mana-mana. Di berbagai kantor pemerintahan kita melihat tempat parkir utama disediakan untuk pejabat-pejabat tinggi, kepala, pimpinan, menteri. Beda sekali dengan di Citibank yang mengutamakan gold customer yang boleh parkir persis di depan pintu.

Menjadi pejabat itu esensinya ya melayani masyarakatnya, bukan malah membuat repot. Baiklah, saya ambil satu contoh lagi. Ini contoh yang betulbetul membuat saya kesal. Kalau Anda sempat nonton TV atau mendengarkan siaran radio, di sana belakangan kerap ditayangkan iklan tentang perubahan dan revolusi mental.

Bagi saya, isinya membingungkan karena memakai bahasa langit. ”…menggembleng manusia Indonesia untuk menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala….” Ada lagi iklan yang dikemas dalam bentuk testimonial. Topiknya ada dua, yakni apa itu revolusi mental menurut Anda serta siapa dan apa yang mesti berubah. Saya tidak mempersoalkan isinya. Semuanya saya setuju.

Misalnya, revolusi mental artinya berubah dari yang jelek menuju yang baik. Lalu, siapa yang mesti berubah? Kita sendiri atau mulai dari rumah para tetua partai terlebih dahulu. Juga soal apa yang mesti berubah? Mulai dari jangan membuang sampah sembarangan, sikap jujur, disiplin, saling menghormati satu sama lain, toleransi. Tapi, catatan saya, bintang iklan itu semuanya rakyat kecil.

Ada atlet, pemahat, ibu rumah tangga, anak sekolah, pengemudi kendaraan umum, atau pedagang pasar. Lalu, mana pejabatnya? Kok tidak ada yang memberikan testimoni? Apakah pejabat kita sudah merevolusi mentalnya?

Revolusi Mental Pejabatnya

Bagi saya, iklan tadi mengonfirmasi pernyataan dari Peter Senge. Juga Peter Drucker yang begini bunyinya, ”Everybody has accepted by now that change is unavoidable. But that still implies that change is like death and taxes–it should be postponed as long as possible and no change would be vastly preferable. But in a period of upheaval, such as the one we are living in, change is the norm.” Semua orang mengakui bahwa perubahan itu tak terhindarkan, tapi kalau bisa pelaksanaannya ditunda selama mungkin.

Sejujurnya kalau kita mau bicara tentang perubahan atau revolusi mental di negara ini, yang paling mendesak untuk berubah dan perlu melakukan revolusi mental adalah para pejabatnya, para petinggi pemerintahannya. Bukan rakyat kecil seperti kita. Mengapa? Karena rakyat masih melihat tokoh-tokoh publik bicara sesuka hati, jalannya mau didahulukan, kalau terlibat hukum bukannya mengakui salah malah mengadili pelapor yang menjadi korban atau yang membukakan aib, mau terbang ke luar negeri tapi tak mau beli tiket.

Mentang-mentang biasa dilayani, maunya tiba di bandara langsung bisa terbang naik pesawat yang dikelola negara tanpa harus mengurus tiket jauh-jauh hari. Empatinya tidak pernah muncul. Kita ingin rakyat punya rasa malu kalau melanggar hukum, kalau tidak disiplin di jalan raya, malu kalau mencuri. Bagaimana bisa kalau petinggi negaranya justru tidak punya rasa malu? Sudah terbukti menjadi calo, masih tidak mau mundur juga. Sekarang malah mengadukan perkaranya ke polisi.

Perubahan membutuhkan peran pemimpin dan kepemimpinan. Bicara soal ini, Anda mungkin pernah mendengar ungkapan tentang roda dengan as atau sumbunya. Roda adalah rakyat, kita semua, sementara pemimpin menjadi as atau sumbunya. Sebagai as, kalau pemimpin bergerak sedikit saja, rakyatnya akan bergerak jauh lebih banyak. Seperti itulah mestinya peran pemimpin perubahan. Beri saja sedikit contoh yang baik, maka rakyat akan menirunya jauh lebih banyak.

Begitu pula sebaliknya, kalau pemimpin memberi sedikit saja contoh buruk, rakyat akan meniru lebih banyak lagi. Persis seperti di jalan raya. Ketika si petinggi negara membelah jalan dengan kawalan voorijder atau mobil polisi, setelah dia lewat, di belakangnya puluhan mobil segera membuntuti. Jadi, siapa yang mestinya direvolusi mentalnya? []

KORAN SINDO, 10 Desember 2015

Rhenald Kasali ; Pendiri Rumah Perubahan

Menyakinkan Perbedaan Adalah Sunnatullah

 

Oleh: Nasaruddin Umar

DIANTARA faktor penyebab terjadinya konflik keagamaan ialah adanya ketidak relaan masing-masing kelompok menerima perbedaan. Be­sarnya semangat untuk me­lihat orang lain sekeyakinan dirinya dengan melancarkan misi dan dakwah, termasuk dengan kekerasan. Memak­sakan kekerasan atas dasar dan tujuan apap­un tidak bisa diterima akal sehat dan ajaran agama. Allah Swt sendiri menegaskan di dalam Al-Qur’an: Tidak ada paksaan untuk (memasu­ki) agama (Islam). (Q.S. al-Baqarah/2:256).
Kita perlu meyakinkan kepada segenap umat beragama bahwa perbedaan itu adalah sun­natullah (Divine order), sebagaimana ditegas­kan dalam Al-Qur’an: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apak­ah kalian (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman se­muanya? (Q.S. Yunus/10:99). Perhatikan ayat ini menggunakan kata lau (wa lau sya’ Rab­buka), yang dalam kebiasaan Al-Qur’an jika di­gunakan kata lau, bukannya in atau idza yang memiliki arti yang sama, yaitu “jika”. Kekhusu­san penggunaan lau adalah isyarat sebuah pengandaian yang tidak akan pernah mungkin terjadi atau terwujud. Kata idza mengisyaratkan makna kepastian akan terjadinya sesuatu, se­dangkan kata in mengisyaratkan kemungkinan kedua-duanya, bisa terjadi atau bisa tidak ter­jadi.
Ayat tersebut juga dipertegas potongan ayat berikutnya yang menggunakan kalimat bertan­ya (shigat istifhamiyyah): Apakah kalian (hen­dak) memaksa manusia supaya mereka menja­di orang-orang yang beriman semuanya? Dalam ilmu Balaghah, salahsatu cabang ilmu bahasa Arab, shigat istifhamiyyah tersebut menegaskan ketidakmungkinannya hal yang dipertanyakan.
Menyampaikan misi dakwah dan petunjuk adalah sebuah keniscayaan setiap orang, apal­agi tokoh agama, namun untuk menerima atau menolak petunjuk itu hak progregatif Allah Swt, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an: Se­sungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (Q.S. al-Qashash/28:56).
Banyak ayat lain yang mendukung bahwa per­bedaan dan pluralitas di dalam masyarakat sudah merupakan ketentuan Allah Swt, seperti yang din­yatakan di dalam ayat: Di dalam ayat lain Allah Swt lebih tegas menekankan bahwa perbedaan setiap umat sudah dirancang sedemikian rupa: “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami beri­kan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Al­lah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan”. (Q.S. al- Maidah/5:48). Dalam ayat lain Allah Swt member­ikan suatu pernyataan indah: “Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang ber­lain-lain”. (Q.S. Yusuf/12:67).
Kita tidak perlu mempertanyakan mengapa Allah Swt menciptakan hambanya tidak serag­am. Dalam perspektif tasawuf dijelaskan bahwa semuanya itu sesungguhnya sebagai perwuju­dan nama-nama-Nya (al-asma’ al-husna’) yang bermacam-macam. Setiap nama-nama terse­but menuntut pengejahwentahan di dalam rea­lis alam raya. ***


0 Responses to “Peradaban : Menduniakan Islam Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: