17
Dec
15

Peradaban : Mencermati Jaringan Ideologi Trans Nasional

LOGO PARTINDO

Mencermati Jaringan Ideologi Trans Nasional

Oleh: Nasaruddin Umar

SALAH satupotensi yang bisa menimbulkan konflik keagamaan ialah pengaruh kekuatan ideologi trans nasional. Yang dimaksud ideologi trans nasional dalam arti deterritorialisasi ideolo­gy Kelompok Radikal (KR). Ketika bumi makin kecil dan makin datar seperti saat ini tidak ada lagi satu negara yang kebal terhadap penetrasi ideologi luar. Sarana media yang se­makin accessible memungkinkan inseminasi ideologi GK merebak kemana-mana, apalagi Indonesia yang berada di peta geografisnya be­rada di posisi silang, diapit dua benua dan dua samudra besar, ditambah lagi dengan sistem hukum kita yang sangat terbuka (untuk tidak menyebut liberal). Interaksi ideologi lokal dan universal yang memiliki kesamaan: Ideologi kek­erasan, menantang kita sebagai warga bangsa Indonesia untuk memikirkan ulang sistem bela negara di dalam era globalisasi saat ini.
Dinamika dan mobilitas masyarakat dari satu negara ke negara lain tak terbendung lagi. Bah­kan terjadi eksodus besar-besaran umat Islam ke negera-negara non-muslim, khususnya ke negera-negara maju seperti Eropa, AS, Can­ada, Australia, dan Rusia, dianalisis secara tajam oleh dua pakar, yaitu Murad W Hofmann, mantan Direktur Informasi NATO, dalam buku­nya “Religion on the Rise, Islam in the Third Mil­lennium” dan Olivier Roy dalam bukunya “Gol­balised Islam, The Search for A New Ummah”. Kedua pengamat ini melihat bahwa dampak ek­sodus yang dipicu oleh berbagai krisis, seperti krisis ekonomi dan politik, memberikan dampak hegemoni multi dimensi di negara-negara tu­juan. Tentu saja dampak tersebut ada yang positif dan ada yang negatif, termasuk dari sudut pandang mana kita melihatnya.
Ideologi trans nasional tidak gampang mem­bendungnya karena pintu-pintu masuknya banyak sekali. Kita tidak bisa melarang mereka masuk ke negeri kita jika mereka masuk menggunakan visa turis, visa student, visa diplomat, visa pelaut atau penerbang. Apalagi kalau mereka berhasil masuk melalui penyusupan di pulau-pulau kecil terluar Indonesia, yang tidak dilengkapi dengan petugas imigrasi. Belum lagi anak-anak Indonesia yang sekolah atau bekerja di Luar Negeri (LN) sudah digarap KR di sana. Tidak mungkin kita mende­teksi secara keseluruhan dan tidak mungkin juga kita menolak pulang ke negerinya sendiri. Mung­kin mereka termasuk orang yang sangat taat dan setia di tanah air di Indonesia tetapi menjadi ang­gota GK bahkan teroris di LN dengan menggu­nakan nama dan paspor lain. Tentu kasus seperti ini juga sulit terlacak. Ada beberapa contoh WNI tercatat sebagai anggota KL atau organisasi ter­larang tetapi keyika kembali di Indonesia menja­di ulama yang berpenampilan amat berwibawah. Timbul kesulitan aparat keamanan untuk menjer­atnya karena bukti materil dan formalnya tidak ditemukan.
Kita tidak mungkin melarang mereka masuk masjid untuk menunaikan shalat, tidak mung­kin juga melarangnya bercerita dengan para ja­maah di masjid dan mushallah. Terkadang mer­eka juga terlibat di dalam diskusi dan seminar. Bahkan di antara mereka sudah kawin-mawin dengan warga Indonesia dan sudah melahir­kan keturunan. Ternyata tidak sedikit jumlah­nya warga asing berdiam di kepulauan Indone­sia terdiri atas mereka yang sudah kehilangan halaman di negerinya, seperti warga Palestina, Rohingya, dan Bosnia. ***

Logo MKRRI

Harmonisasi Adat Dan Agama

Oleh: Nasaruddin Umar

SALAH satu hal yang perlu dicermati di dalam masyarakat ialah pergumulan adat dan agama. Ketegan­gan konseptual antara nilai-nilai adat dan nilai-nilai agama bisa menimbulkan konflik horizontal karena keduanya pasti memiliki loyalis di da­lam masyarakat. Keserasian antara adat istiadat bisa menjadi faktor yang sangat penting di dalam merawat keutu­han bangsa. Dalam lintasan sejarah, terutama dalam era kolonialisme Belanda, sering terja­di ketegangan antara kedua sumber nilai ini. Nilai adat istiadat dinilai paling orisinal karena bersumber dari dalam diri masyarakat pribumi bangsa Indonesia. Sedangkan nilai-nilai agama sering dimunculkan sebagai nilai-nilai keunikan yang bersumber dari luar nusantara. Dalam era Orde Lama kehadiran agama-agama yang ber­sumber dari luar seperti Agama Yahudi Kato­lik, Pritestan, Khonghucu, Hindu, Budha, dan lain-lain, dianggap nilai-nilai pendatang. Kedua sumber nilai ini sering dimainkan pemerintah kolonial untuk memecah belah kekuatan bang­sa Indonesia.
Untuk mengatasi persoalan ini, tokoh-tokoh agama dan dan adat berusaha untuk memaralelkan hubungan kedua sumber nilai ini agar tidak berhadap-hadapan satu sama lain. Di se­jumlah daerah dideklarasikan pernyataan sim­bolik “Adat bersendi Syara’ dan Syara’ bersendi Kitabullah”. Pernyataan ini ternyata efektif un­tuk menyatukan segenap warga bangsa.
Kata Adat berasal dari bahasa Arab dari akar kata ‘ada-ya’udu berarti kembali, mengu­langi; kemudian membentuk kata ‘adat berarti kebiasaan positif yang berlaku di dalam suatu wilayah. Kata ‘adat mirip dengan atau sering disamakan dengan kata ‘urf (dari akar kata ‘arafa-ya’rifu berarti mengetahui, mengenal) yang berarti tradisi yang popular di dalam suatu masyarakat. Bedanya, kalau ‘adat lebih formal dan mengarah kepada norma (norm), sedang­kan ‘urf lebih substantif dan mengarah kepada nilai (values). Adat istiadat atau biasa disebut dengan hukum adat, sudah merupakan lem­baga atau institusi formal yang memiliki sanksi dan reward bagi para pelanggar atau yang setia dengannya.
Kata syara’ berasal dari bahasa Arab dari akar kata syara’a-yasyra’u-syar’an berarti jalan, jalan menuju mata air. Syara’ selalu dihubung­kan dengan kata syari’ah yang berisi ajaran Is­lam. Ajaran Syari’ah itu sendiri secara komper­hensif berisi unsur akidah, hukum, dan akhlak. Ajaran akidah berisi tentang tata cara keiman­an dan keprcayaan kepada Allah Swt, malaikat, kitab suci, nabi dan rasul, eskatologis (hari akh­irat, hari pembalasan), dan qadha serta qadar, yang lebih dikenal dengan rukun iman. Hukum berisi norma-norma sosial kemasyarakatan dan tata cara berhubungan dengan Allah Swt, se­bagaimana diatur di dalam Rukun Islam. Se­dangkan akhlak berisi ajaran etika dan esteti­ka antara sesame umat manusia dan sesama makhluk.
Adat bersendi syara’ berarti adat kebiasaan yang berlaku di dalam masyarakat berdiri tegak di atas landasan syara’ atau nilai-nilai dasar Syari’ah Islam. Perlu ditegaskan kata “nilai-nilai dasar Syari’ah” yang bersifat abso­lut tetapi sekaligus bersifat universal, karena ada juga nilai-nilai “non-dasar Syari’ah” yang bersifat aksessoris (tahsiniyyah) dan temporer (waqi’iyyah). ***


0 Responses to “Peradaban : Mencermati Jaringan Ideologi Trans Nasional”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: