17
Dec
15

Kamis, 17 Desember 2015

Merasakan Kebesaran “Istana” Kerajaan Majapahit di Pendopo Agung, Trowulan – Kab. Mojokerto

Logo PANDJI

Siapa yang tak kenal dengan Kerajaan Mojopahit atau Majapahit? Menurut beberapa literatur, kerajaan kebanggan rakyat Indonesia yang mengusai lebih dari luas NKRI sekarang ini berdiri antara tahun 1293 hingga 1527. Puncak keemasan Mojopahit, dirasakan pada saat kepemimpinan Raja Prabu Hayam Wuruk dengan didampingi Mahapati Gajah Mada di antara tahun 1350 hingga 1359.

Berdasarkan literatur yang sudah diketahu secara umum pula, ibu kota atau pusat Kerajaan Mojopahit terletak di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Wilayah trowulan yang terletak dekat perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang ini, “berserakan” puluhan atau bahkan ratusan situs-situs yang merupakan jejak kebesaran Mojopahit. Ratusan situs-situs tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah seluas kurang lebih 11 x 9 kilometer. Bahkan di beberapa halaman rumah penduduk, pada saat mencangkul tanah beberapa jengkal saja, maka berbagai macam pecahan gerabah dari abad ke-14 dengan mudah didapatkan.

Candi Brahu yang berdiri dengan gagah, Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, dan situs-situs lainnya ini hanya berjarak beberapa ratus meter atau beberapa kilometer saja antara yang satu dengan yang lainnya. Petualangan mengunjungi lokasi-lokasi tersebut, serasa membangkitkan kembali kebesaran Kerajaan Mojopahit di masanya.

Salah satu situs yang biasanya dikunjungi di akhir petualangan adalah situs Pendopo Agung. Situs yang terletak di Desa Nglinguk, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur ini memberikan cerita banyak versi.

Satu versi dari banyak versi yang ada, menceritakan bahwa sesungguhnya di Pendopo Agung inilah dulu istana Kerajaan Mojopahit berdiri. Banyak cerita dari mulut ke mulut yang menasbihkan bahwa memang di lokasi inilah dahulu Prabu Hayam Wuruk beserta seluruh keluarganya bermukim. Sekitar beberapa puluh meter dari Pendopo Agung, terdapat kolam berukuran raksasa bernama Kolam Segaran yang dulunya dipercaya sebagai tempat pesta keluarga kerajaan atau pada saat menjamu tetamu pentingnya.

Lokasi Pendopo Agung yang tepat berada di titik -7.566281, 112.379927 atau koordinat 7°33’58.6″S 112°22’47.7″E ini hanya berjarak sekitar 14.5 kilometer dari pusat Kota Mojokerto ke arah Kabupaten Jombang. Melintasi jalan nasional Surabaya – Mojokerto – Jombang, tepat di perempatan Trowulan yang sangat ramai, diperlukan waktu 3 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor atau sekitar 20 menit berjalan kaki ke arah selatan menuju Pendopo Agung.

Menyusuri jalanan desa selebar ± 15 meter menuju lokasi, suasana perkampungan khas Mojokerto sudah bisa langsung dirasakan. Denyut industri kecil, infustri kreatif, dan perdagangan, maupun beberapa hasil pertanian banyak dijajakan di kanan kiri jalan. Hingga akhirnya di sisi kanan jalan, Pendopo Agung yang memiliki hamparan halaman parkir kendaraan yang sangat luas menyapa kita. Pohon-pohon dengan diameter batangnya lebih dari satu meter tampak rimbun menanungi para pengunjungnya.

Setelah beristirahat sejenak melepas penat, kita sempatkan berkeliling di sekitar Pendopo Agung. Foto-foto hitam putih para Panglima Daerah Militer (Pangdam) V/ Brawijaya yang membawahi wilayah Jawa Timur sejak Pangdam pertama hingga Pangdam sekarang, tampak terpasang di tiang-tiang pendopo.

Agak ke belakang pendopo, kita bisa jumpai seni relief yang terhampar di dinding yang menceritakan prosesi penobatan Raja Mojopahit pertama, Raden Wijaya. Di samping kanan dan kiri relief terdapat pahatan yang tertulis nama-nama Raja Mojopahit sejak raja pertama hingga terakhir.

Setelah puas menikmati seni relief dan membaca nama-nama para raja yang menduduki tahta kerajaan terbesar di Nusantara ini. kita isa langkahkan kaki kita ke beranda belakang Pendopo Agung. Di balik tembok pembatas pendopo, kita bisa saksikan bangunan dengan cungkup di atasnya. Bangunan persegi empat dengan atap berbentuk limas segi empat ini hanya tertutup tembok separuh dengan sambungan kawat mesh di atasnya.

Di dalam bangunan ini tertancap sebongkah batu kali berbentuk batangan dengan diameter sekitar 20 sampai 30 sentimeter. Menyisahkan sekitar 1.5 meter di atas tanah, konon benda ini punya cerita sendiri yang apabila disambungkan dengan cerita Pendopo Agung akan terasa cocok dan pas. Sebagaimana tertulis di papan kecil dengan dasar warna merah yang berbunyi “PAKU BUMI PENGIKAT GAJAH”, konon benda ini adalah semacam “tempat parkir” tunggangan para raja, yakni binatang berbadan besar gajah. Maka, apabila benar adanya bahwa benda ini adalah pengikat gajah, akan benar-benar sesuai dengan lokasi di depannya, yakni Pendopo Agung yang dipercaya sebagai Istana Kerajaan Mojopahit.

Cintailah negerimu, cintailah sejarahmu. Al Faatihah…

ANANTO PRATIKNO


0 Responses to “”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: