23
Nov
15

Kebudayaan : Hanacaraka dan Nomenklatur Agama

GeraKNusa

Mungkin kalau di zamannya Aji Saka sudah ada HP, tidak perlu Dora dan Sembodo tewas bersama. Sebelum Sembodo berangkat Dora bisa di-SMS dulu tentang perubahan instruksi itu, sehingga Dora siap melaksanakan perintah baru yang dititipkan pada Sembodo. Sayang pada waktu itu teknologi belum secanggih itu, walaupun saya juga masih bingung bagaimana caranya Aji Saka dan Sembodo, mondar-mandir Bumi Majeti (di India)-Medang Kamulan (di Jawa) PP, seperti orang mondar-mandir dari Blok M-Harmoni naik Bus Transjakarta saja.

 

salam,

ananto

=====

 

Hanacaraka

Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono

 

Kata syahibul hikayat, pada zaman dahulu kala ada sebuah kerajaan di Pulau Jawa, yang bernama Medang Kamulan. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raksasa jahat bernama Dewata Cengkar, yang hobinya memangsa manusia rakyatnya sendiri yang dijadikannya sate, dan jeroannya dijadikan soto babat. Pada suatu hari datanglah seorang pemuda bernama Aji Saka yang hendak membunuh raja zalim dan thogut itu. Aji Saka berasal dari Bumi Majeti yang dipercaya berlokasi di India.

 

Entah bagaimana caranya (waktu itu belum ada Boeing 747), Aji Saka berhasil mendarat di tanah Jawa dan langsung merapat ke Medang Kamulan. Aji Saka ini punya dua pengawal setia (karena itulah sampai hari ini setiap presiden Indonesia dalam upacara-upacara resmi selalu dijaga dua ajudan yang siap berdiri tegak di belakangnya) yang bernama Dora dan Sembodo.

 

Ketika hendak berangkat ke tanah Jawa, Aji Saka memerintahkan Dora (tidak ada hubungannya dengan Doraemon, si kucing Jepang) untuk tetap berjaga di Bumi Majeti untuk menunggui pusakanya yang sakti. Ia berpesan wanti-wanti kepada Dora bahwa tidak ada satu orang pun boleh mengambil pusaka itu, kecuali dirinya sendiri. Maka berangkatlah Aji Saka dengan dikawal oleh Sembodo.

 

Tercerita, terjadilah perkelahian seru antara Aji Saka dan raja kanibal Dewata Cengkar. Walaupun berdarah-darah, Aji Saka berhasil mendorong Dewata Cengkar ke laut dan naik takhta menjadi Raja Medang Kamulan dengan gelar Prabu Aji Saka. Sayangnya Dewata Cengkar tidak tewas walaupun tercebur ke laut, tetapi berubah menjadi buaya putih, yang tak kalah ganasnya dan meneruskan hobinya memangsa manusia penduduk Medang Kamulan.

 

Beruntung Prabu Aji Saka dibantu oleh seekor ular raksasa yang berhasil membunuh buaya putih. Setelah negara aman dan terkendali, Aji Saka teringat kepada pusakanya yang ditinggalkan di Bumi Majeti. Maka dia pun segera mengutus Sembodo untuk mengambil pusakanya di Bumi Majeti. Sesampai di Bumi Majeti, Dora tidak mau menyerahkan pusaka itu kepada Sembodo, karena ia berpegang kepada perintah bos bahwa tidak ada satu orang pun boleh mengambil pusaka itu, kecuali Aji Saka sendiri.

 

Di lain pihak, Sembodo juga ngotot , karena perintah bos adalah untuk mengambil pusaka itu. Maka berkelahilah kedua pengawal setia itu. Suatu perkelahian yang lama dan sangat seru, karena keduanya sama saktinya, tetapi akhirnya keduanya tewas karena sama-sama membela tuannya yang satu. Prabu Aji Saka, setelah menunggu sekian lama, merasa curiga mengapa Sembodo tidak datang-datang membawa pusaka yang ia pesankan.

 

Maka ia pun menyusul ke Bumi Majeti dan terkejut sekali ketika mengetahui bahwa keduanya sudah tewas demi membela dirinya. Untuk mengabadikan kesetiaan kedua pengawalnya, maka Prabu Aji Saka pun menciptakan sebuah puisi, yang kelak menjadi cikal-bakal huruf Jawa, yang berbunyi sebagai berikut, ”Hana Caraka, DataSawala, Padha Jayanya, Maga Batanga”, yang terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini, ”Dua Utusan, Saling Berselisih, Sama Saktinya, Inilah Mayatnya”.

 

Moral dari legenda di atas adalah bahwa Prabu Aji Saka boleh sakti mandraguna, dan bisa mengalahkan raja Dewata Cengkar yang jahat, namun dia teledor dengan perintah-perintahnya sendiri. Akibatnya dua ajudannya tewas, karena sama-sama mempertahankan perintah atasan.

 

Mungkin kalau di zamannya Aji Saka sudah ada HP, tidak perlu Dora dan Sembodo tewas bersama. Sebelum Sembodo berangkat Dora bisa di-SMS dulu tentang perubahan instruksi itu, sehingga Dora siap melaksanakan perintah baru yang dititipkan pada Sembodo. Sayang pada waktu itu teknologi belum secanggih itu, walaupun saya juga masih bingung bagaimana caranya Aji Saka dan Sembodo, mondar-mandir Bumi Majeti (di India)-Medang Kamulan (di Jawa) PP, seperti orang mondar-mandir dari Blok M-Harmoni naik Bus Transjakarta saja.

 

Meskipun demikian, tidak berarti bahwa di era teknologi informasi sekarang ini keteledoran (yang sengaja maupun tidak sengaja) tidak terjadi lagi. Inkonsistensi di kalangan para pemimpin justru lebih banyak terjadi di masa sekarang ini. Bukan lantaran tidak adanya teknologi informasi, melainkan justru karena terlalu banyaknya informasi yang masuk ke pada diri seorang pemimpin dan para anak buah, sehingga sangat mungkin terjadi distorsi informasi.

 

Hasil-hasil berbagai survei menunjukkan bahwa kepercayaan kepada Presiden Jokowi naik-turun, namun lebih banyak turunnya daripada naiknya, yang bukan semata-mata karena kinerja atau integritas presiden yang buruk, tetapi karena memang tidak mudah membereskan negara yang sudah diwarisi karut-marut ini dari rezim-rezim pendahulunya dalam waktu sebentar.

 

Mereka yang tidak sabar mulai kurang percaya, dan mulai berbagi ke teman-temannya di media sosial. Media massa pun menumpang popularitas dengan menggelar aneka talk show yang lebih banyak merupakan curahan isi hati dan dengki ketimbang solusi. Belum lagi hoax yang bisa dibuat oleh orang iseng di mana saja, yang kemudian diunggah ke media sosial, dan langsung di-forward ke semua netizen sehingga cepat beredar secara viral ke seluruh nusantara.

 

Tetapi juga tidak berarti pemimpin jaman sekarang tidak teledor, bahkan banyak yang berpura-pura teledor, membuat kesalahan yang seakan-akan tidak sengaja, padahal maksudnya memang mau mengadu domba antar para pengikutnya. Maksudnya sudah jelas demi kepentingan pribadi. Siapakah pemimpin-pemimpin yang dimaksud? Silakan temukan sendiri. Saya yakin di sekitar anda banyak contohnya. []

 

KORAN SINDO, 15 November 2015

Sarlito Wirawan Sarwono ;  Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

 

GerakNusa

Definisi Nomenklatur Agama

Oleh: Nasaruddin Umar

 

SALAH satu potensi masalah terutama di masa depan ialah definisi agama. Apa sesung­guhnya definisi agama? Siapa yang berhak mendefinisikan agama? Siapa yang menen­tukan sebuah ajaran disebut agama atau bukan agama? Apa kriteria agama? Siapa yang berhak menetapkan kri­teria agama? Apa itu aliran sesat? Siapa yang ber­hak menentukan aliran itu sesat atau tidak? Apa yang dijadikan dasar untuk menyesatkan sebuah aliran? Kalau aliran itu dinyatakan sesat, apa mesti dibubarkan? Siapa yang harus membubarkan? Ba­gaimana dan atas dasar apa membubarkannya? Apa definisi agama menurut negara? Apa definisi negara menurut agama? Apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan negara terhadap agama? Apa yang boleh dan tidak boleh dicampuri agama terhadap negara? Agama dan negara sama-sama menuntut loyalitas penuh terhadap masyarakat. Jika terjadi konflik antara agama dan negara, siapa yang menyelesaikan? Bagaimana dan atas dasar apa menyelesaikannya? Mungkinkan keduanya akur secara sejati di dalam mendapatkan loyalitas masyarakat? Di mana letak perbedaan peran pemimpin agama (ulama) dan pemimpin negara (um­ara)? Bagaimana hukum tata negara menjembatani otoritas dan otonomi hukum agama (syari’ah) dan hukum nasional (wadh’iy)? Jika terjadi sengketa hu­kum antara keduanya, instansi mana dan bagaima­na menyelesaikannya? Mungkinkah Mahkamah Konstitusi (MK) menyelesaikan sengketa hukum antara keduanya?

 

Sampai saat ini belum muncul ketegangan konsep­tual antara institusi dan hukum agama di satu pihak dengan institusi dan hukum negara di pihak lain. Ka­laupun muncul maka masih dapat diselesaikan “se­cara adat” karena sumber hukum antara keduanya sama. Ditambah lagi pengalaman sejarah panjang segenap warga bangsa tanpa membedakan agama dan etnik serta-merta bergotong-royong menyelesai­kan persoalan bangsa, termasuk mengusir para penjajah. Para pelaku sejarah masih hidup dan budaya dan peradaban keindonesiaan juga masih kokoh. Dari Sabang sampai Marauke masih terhimpun di dalam wadah kesatuan NKRI, yang diikat oleh bahasa yang sama: Bahasa Indonesia.

 

Akan tetapi jika para pelaku sejarah sudah tiada, sementara perubahan nilai-nilai sosial-budaya semakin drastis, ditambah lagi pengar­uh globalisasi dan informasi yang semakin gen­car, maka tidak mustahil apa yang tabu untuk dipersoalkan di masa lampau akan lebih mudah terjadi di masa mendatang.

 

Isu agama adalah isu paling sensitif, jauh men­galahkan isu primordialisme kesukuan dan ke­daerahan. Jika isu agama yang berbicara maka dampaknya akan sulit dibendung. Ini disebabkan karena ada motto: ‘Isy kariman au muts syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Ibarat pisau ber­mata dua, agama memiliki potensi sebagai fak­tor pemersatu bangsa seperti yang pernah ter­jadi di masa lampau. Dengan komando Allahu akbar, atau simbol-simbol agama lainnya, penja­jah bisa kalang kalang kabut, sungguhpun anak-anak bangsa hanya menggunakan bambo runc­ing. Akan tetapi pengalaman lain membuktikan, agama juga bisa tampil sebagai faktor desinte­grasi yang amat dahsyat. Karena itu, kita semua harus hati-hati menggunakan bahasa agama.

 

Saat ini yang amat diperlukan ialah agama tampil sebagai faktor sentripetal, yaitu pemer­satu dan pemberi semangat di dalam mencapai tujuan pembangunan bangsa. Sebaliknya kita berkewajiban untuk menghindari faktor sentrif­ugal agama, dengan menekankan perbedaan ajaran antara satu agama dengan gama lain­nya. ***

 

 

Jakarta

0 Responses to “Kebudayaan : Hanacaraka dan Nomenklatur Agama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,062,175 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: