20
Nov
15

Agama: Tradisi, Memori, dan Modernitas

Garuda Pancasila 3

Agama: Tradisi, Memori, dan Modernitas (1)

Oleh: Azyumardi Azra

 

Setiap perubahan dalam suatu masa  dapat memunculkan tantangan serius tertentu pada agama.  Karena itu, tidak heran jika kalangan ilmuwan dan akademisi—terutama yang bergerak dalam bidang agama dan perubahan sosial—memprediksi dan membangun berbagai teori tentang kian merosot dan bahkan menghilangnya agama dalam meningkatnya modernitas dalam berbagai lapangan kehidupan. Bukan tidak jarang prediksi dan teori itu meleset jauh.

 

Agama terus bertahan di tengah gelombang perubahan demi perubahan yang terkait dengan modernitas—termasuk globalisasi yang sering disebut para ahli sebagai salah satu puncak modernitas. Kebertahanan agama—khususnya agama wahyu; agama Yahudi, Kristianitas, dan Islam—terkait banyak dengan tradisi yang telah mapan selama berabad-abad. Tradisi ini tidak mudah berubah karena bersumber dari wahyu yang diyakini para penganut agama masing-masing sebagai permanen atau tidak berubah.

 

Tradisi agama mendapat tambahan kekuatan dengan ingatan bersama (collective memory) para penganutnya tentang doktrin dan praksis agama yang mendatangkan banyak kebaikan, manfaat dan keselamatan bagi umat manusia. Memori yang diabadikan dari waktu ke waktu dari satu generasi ke generasi berikutnya membuat tradisi keagamaan kian tidak mudah lenyap begitu saja.

 

Subyek tentang agama dengan tradisinya dan memori para penganutnya dalam tantangan modernitas masih menguasai imajinasi dunia akademis dan para ahli. Hal ini misalnya terlihat dari Konperensi selama tiga hari (9-11/11/2015) yang diselenggarakan Accademia Ambrosiana, Milan, Italia. Mengangkat tema ‘Tradizione, Memoria e Modernita’, Konperensi membahas tradisi ketiga agama Abramik (agama Yahudi, Kristianitas, dan Islam) dalam kaitan dengan memori penganutnya dalam menghadapi tantangan modernitas.

 

Penulis Resonansi ini mendapat kesempatan baik bukan hanya sebagai salah satu narasumber dalam Konperensi Akademi Ambrosiana ini, tetapi juga sekaligus sebagai pembelajar. Pembicaraan tentang tradisi, memori dan modernitas terkait agama Yahudi dan Kristianitas memberikan perspektif perbandingan yang kaya dengan tradisi Islam dan memori kaum Muslimin dalam menghadapi tantangan modernitas.

 

Dalam pembicaraan tentang tradisi versus modernitas dalam agama Yahudi misalnya, wahyu yang terkandung dalam kitab Torah (Taurat) memerlukan interpretasi baru untuk dapat memberikan jawaban terhadap tantangan modernitas. Tetapi interpretasi baru itu tidak bisa terlalu jauh dari teks, karena bisa dianggap otoritas ortodoksi sebagai ‘menyimpang’. Jadi, teks tetap penting bersamaan dengan perlunya pemahaman baru tentang konteks.

 

Salah satu kasus dalam konteks ini adalah tentang kedudukan perempuan. Secara tradisional kitab suci semacam Torah dan Injil mengajarkan pandangan bias terhadap perempuan. Dalam perspektif Torah misalnya, rahmat (blessing) Tuhan hanya diberikan kepada laki-laki, tidak kepada perempuan. Blessing ini dianggap sudah baku, yang kemudian diperkuat teks-teks yang dihasilkan ortodoksi keagamaan, pemimpin dan fungsionaris agama.

 

Dalam masa sekarang bukan hanya teks ayat kitab suci yang perlu dipertimbangkan kembali penafsirannya, tetapi juga mesti ditinjau ulang konteksnya—termasuk sejarah munculnya perumusan doktrin tertentu oleh otoritas ortodoksi. Pemahaman tentang blessing Tuhan hanya kepada laki-laki, tidak kepada perempuan adalah interpretasi subyektif para penafsirnya.

 

Jelas, sebelum kemunculan masa moderen dengan gagasan dan konsep tentang modernitas, perempuan menduduki posisi marjinal dalam masyarakat Yahudi, Kristiani dan bahkan juga Muslim. Tetapi dengan penyebaran modernitas, secara bertahap pandangan lebih positif terhadap perempuan mulai bertumbuh.

 

Dalam perspektif baru misalnya, perempuan dipandang memiliki kecenderungan spiritualistik lebih kuat dan lebih dalam daripada laki-laki. Karena itu, doktrin yang dihasilkan otoritas agama yang mendiskriminasikan perempuan dalam hal ibadah perlu dipertimbangkan kembali.

 

Dalam Islam misalnya ada fiqh yang menganjurkan perempuan untuk beribadah di rumah daripada ke masjid. Dalam perspektif baru, beribadah bersama antara jamaah laki-laki dan perempuan dapat memperkaya pengalaman spiritualitas. Hal ini tidak harus bertentangan dengan ortodoksi keagamaan.

Perspektif baru semacam ini memang bukan tanpa hambatan, khususnya dari otoritas ortodoksi keagamaan. Terdapat kecenderungan kuat otoritas keagamaan manapun mempertahankan penguasaan menyeluruh (totalitarianisme) terhadap pemahaman dan praksis doktrin yang telah menjadi tradisi dan melekat dalam memori penganutnya.

 

Karena itu setiap upaya memberikan pemaknaan baru terhadap tradisi dan memori selaras modernitas mengenai pengalaman historis keagamaan hampir selalu mendapat resistansi dan penolakan otoritas ortodoksi. Penekanan kuat pada teks dan konteks yang melibatkan hermeutika dalam menemukan perspektif baru mereka pandang berujung pada penyimpangan yang akhirnya menggoyahkan kitab suci dan bahkan agama itu sendiri.

 

Hasilnya, pergulatan antara tradisi dan memori pada satu pihak dengan modernitas bakal terus berlanjut. Namun dalam perjalanannya, kedua kubu ini juga dapat saling mengakomodasi dalam batas tertentu, sehingga tradisi dan modernitas dapat eksis berdampingan, walaupun bukan tanpa kecanggungan. []

 

REPUBLIKA, 12 November 2015

Azyumardi Azra | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Penerima MIPI Award 2014 dari Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia

Garuda Pancasila 1

Agama: Tradisi, Memori, dan Modernitas (2)

Oleh: Azyumardi Azra
Ihwal agama—dalam hal ini Islam—dalam kaitannya dengan modernitas pernah menjadi wacana akademis dan intelektual pada awal 1970-an ketika banyak negara, khususnya di Dunia Muslim—mulai melancarkan pembangunan ekonomi. Tetapi setelah hampir setengah abad sejak masa itu, kebanyakan negara di wilayah Dunia Muslim tetap berada pada pinggiran sejarah dan percaturan dunia. Banyak negara di ranah ini gagal dalam pembangunan dan modernisasi; modernitas tidak dapat berkembang baik guna memajukan kaum Muslim.
Dalam konteks itu orang boleh jadi ingat pada Bernard Lewis dengan karyanya What Went Wrong? The Clash between Islam and Modernity in the Middle East (2003). Menurut Lewis, wilayah Muslim Timur Tengah tidak bisa maju karena adanya benturan di antara Islam dan modernitas. Argumen pokok Lewis, bahwa yang salah dalam benturan itu adalah Islam yang tidak dapat berubah telah ditolak banyak ahli lain dan tidak perlu diulangi di sini.
Meski demikian, ikhwal modernitas dalam kaitan dengan Islam dan masyarakat Muslim kembali menjadi perbincangan para ahli dan akademisi. Pada hari terakhir Konperensi tiga hari (9-11/11/2015) Accademia Ambrosiana, Milan, Italia bertema ‘Tradizione, Memoria e Modernita’ pembahasan secara khusus diabdikan untuk mengkaji Islam dan modernitas.
Menurut Profesor Massimo Campanini, gurubesar Universitas Trento Italia, yang menyatakan tidak setuju dengan pandangan Lewi, kegagalan menjawab modenitas itu lebih terkait dengan sejumlah faktor. Di antaranya adalah friksi dan konflik politik, stagnasi ekonomi, dominasi fiqh terhadap ilmu alam dan filsafat, taklid buta terhadap pemikiran kuno daripada hasil penelitian, dan penolakan atau ketidakmampuan memperbarui sistem kebebasan dan HAM.
Karena itu, menurut Campanini, dengan adanya faktor tadi kegagalan dalam modernitas tidak dapat dikaitkan dengan agama. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan, masa klasik Islam kekuasaan politik Muslim berjaya, ekonomi bertumbuh makmur, ilmu alam dan filsafat mencapai kejayaannya dan masyarakat Muslim sendiri berkembang lebih kompleks dan terdiferensiasi.
Sejak abad pertengahan Dunia Muslim terhinggapi berbagai faktor tidak kondusif yang menghalangi upaya membangkitkan kemajuan masyarakat Muslim. Sementara itu, khususnya sejak abad 17, Eropa mengalami renaisans dan revolusi industri sehingga menjelang pertengahan abad 19 sebagian besar kawasan Dunia Muslim jatuh ke tangan imperialisme dan kolonialisme Eropa.
Dalam pandangan Campanini, berhadapan dengan realitas pahit itu, ada dua macam reaksi kaum intelektual Muslim; pertama, memodernitaskan Islam atau mengislamkan modernitas. Memodernitaskan Islam berarti percaya tradisi Islam tidak lagi mampu memecahkan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat moderen. Sedangkan mengislamkan modernitas percaya Islam sepenuhnya moderen dan rasional; karena itu mampu mengarahkan masyarakat atas dasar Alquran dan tradisi.

 

Menurut Campanini, masing-masing reaksi kalangan intelektual Muslim terhadap modernitas juga mengandung ekses. Ada kalangan pendukung memodernitaskan Islam yang menganggap Islam tidak lagi relevan. Ada pula pendukung pengislaman modernitas yang berusaha melawan sumber modernitas, yaitu Barat, dengan kekerasan dan bahkan terorisme.
Meski demikian, reaksi kedua pihak tersebut mengandung gagasan tentang perlunya kebangkitan  (nahdah), pembaruan (tajdid) dan reformasi (islah) dalam menghadapi modernitas. Sedangkan arus utama Muslim menekankan perlunya kaum Muslim dan pemikiran Islam untuk mengkaji modernitas secara mendalam dan mengelaborasinya menjadi ‘modernitas Islam’.
Penulis Resonansi ini dalam kesempatan yang sama (11/11/2015) turut membahas modernitas dan Islam dalam konteks masyarakat demokratis dan kebebasan beragama, khususnya di Indonesia. Sebelumnya, penulis (10/11/2015 juga membahas subyek ‘Tradisi dan Modernitas di Dunia Muslim’ di Universita Cattolica, Milan.
Menurut penulis, modernitas harus dilihat dalam dua perspektif; modernitas sebagai nilai dan modernitas sebagai tahapan sejarah. Dalam hal modernitas sebagai nilai, Islam mengandung banyak komonalitas dengan nilai-nilai modernitas termasuk orientasi ke masa depan (progressive) daripada ke masa silam; etos kerja yang tinggi; penggunaan akal pikiran;dan  inovasi pengetahuan sains dan teknologi.
Tetapi modernitas sebagai tahapan sejarah terkait dengan Eropa dimulai dengan percerahan (aufklaruung), renaisans, reformasi gereja, dan revolusi industri. Dalam konteks Eropa, modernitas mengandung karakter pertumbuhan toleransi sebagai prinsip politik dan sosial; penggunaan akal dengan orientasi anthroposentrik; peningkatan sains dan teknologi, industrialisasi dan mekanisasi; kebangkitan merkantilisme dan kapitalisme; dan ‘penemuan’ dan kolonisasi dunia non-Eropa.
Kaum Muslim Indonesia menerima modernitas secara diam. Nilai dan proses modernitas berjalan tanpa perdebatan substantif. Hasilnya, Indonesia dapat melangkah lebih mulus dalam proses adopsi modernitas untuk kemajuan.
Tetapi banyak Muslim di Timur Tengah, melihat modernitas tak lebih dari  Eropanisasi atau Westernisasi, liberalisasi dan sekularisasi. Karena itu, mereka berusaha melawan modernitas dengan cara apapun, termasuk dengan kekerasan dan terorisme. []

 

REPUBLIKA, 19 November 2015

Azyumardi Azra | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Penerima MIPI Award 2014 dari Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia

Garuda Pancasila 2

 

Tak Ada Ajaran NU Lawan NKRI

Sabtu, 14/11/2015 01:01

[image: Tak Ada Ajaran NU Lawan NKRI]

Muara Dua, *NU Online *
Instruktur Nasional Gerakan Pemuda Ansor Muhyidin Thohir, di Muara Dua,
Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, Jumat (13/11)
menegaskan, tidak ada ajaran Nahdlatul Ulama (NU) melawan NKRI.

“NKRI bagi warga NU itu titik. Tidak ada ideologi lain selain NKRI,” kata
Sekretaris PW GP Ansor Lampung itu pada Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD)
I berlangsung di Pondok Pesantren Darul Ulum, Kampung Karet Jaya, Kecamatan
Buay Pemaca asuhan Kiai Mohammad Syakur Tarmidzi.

Pada kegiatan mengambil tema “Bersinergi Menyatukan Hati Menolak Paham
Radikalisme dan Ekstrimime di Bumi Serasan Seandanan” itu, Muhyidin
mengajak santri untuk pintar. “Paham-paham bertentangan dengan NKRI harus
ditangkal. Termasuk bagi yang melarang Tahlil dan Yasin, harus dilawan
dengan dalil,” ujar dia lagi.

Terkait dengan permintaan Kiai Syakur agar pemuda NU di daerah itu
benar-benar digembleng, Muhyidin menyatakan kegiatan berlangsung Kamis 12
hingga Jumat 13 November 2015 tersebut ialah membuat kader militan.

33 pemuda, terdiri dari santri setempat dan warga Desa Talang Padang
antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka menerima materi, antara lain
keansoran, kebanseran hingga amaliyah-amaliyah NU. Termasuk mars GP Ansor,
mars Syubanul Wathan hingga Kader Penggerak NU. Sebelum mengikuti baiat,
mereka membuat rencana tindak lanjut untuk menggerakan Ansor di daerah
tersebut.* (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,63528-lang,id-c,daerah-t,Tak+Ada+Ajaran+NU+Lawan+NKRI-.phpx

Advertisements

0 Responses to “Agama: Tradisi, Memori, dan Modernitas”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,195,350 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: