11
Nov
15

Kebudayaan : Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan

Logo PKP 45

Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan

Oleh: Agus Muhammad
Pesantren merupakan salah satu unsur penting dalam dinamika historis bangsa Indonesia.  Secara hirtoris, pesantren telah “mendokumentasikan” berbagai peristiwa penting bangsa Indonesia, baik sejarah sosial , budaya, ekonomi maupun politik bangsa Indonesia.
Sebagai lembaga pendidikan, peran utama pesantren tentu saja menyelenggarakan pendidikan keislaman kepada para santri. Namun, dari masa ke masa, pesantren tidak hanya berperan dalam soal pendidikan, tetapi juga peran-peran sosial bagi masyarakat di sekitarnya.
Salah satu peran penting pesantren dalam sejarah perjalanan bangsa ini adalah keterlibatannya dalam perjuangan melawan penjajah. Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah. Bambu Runcing yang terkenal sebagai senjata para pejuang kemerdekaan adalah inisiatif dari Kiai Subeki atau Mbah Subki yang kemudian diabadikan sebagai nama pesantren, yakni Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.
Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (Gunung Agung, 1984), mantan Menteri Agama K.H. Saifudin Zuhri antara lain menulis, di antara pasukan yang singgah ke Parakan terdapat anggota Tentara Keamanan Rakyat dari Banyumas pimpinan Kolonel Soedirman – yang belakangan menjadi panglima besar. Mereka membawa peralatan tempur lengkap. Ketika itu mereka dalam perjalanan ke medan perang Ambarawa.
Menurut Wahjoetomo dalam Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan (Gema Insani Press, 1997) seperti dikutip Asyuri (2004), masyarakat pesantren mengadakan aksi terhadap Belanda dengan tiga macam. Pertama, uzlah (mengasingkan diri). Mereka menyingkir ke desa-desa dan tempat terpencil yang jauh dari jangakauan kolonial. Maka tidak aneh bila pesantren mayoritas berada di desa-desa yang bebas dari polusi dan kontaminasi oleh budaya hedonisme, kepalsuan, dan keserakahan
Kedua, bersikap nonkooperatif dan melakukan perlawanan secara diam-diam. Selain mengaji atau menelaah kitab kuning, para kyai menumbuhkan semangat jihad santri-santrinya untuk membela Islam dan menentang penjajah. Bahkan saat itu para kyai melarang santrinya untuk memakai pakaian yang berbau Barat atau penjajah seperti santri dilarang memakai celana panjang, dasi, sepatu dan sebagainya.
Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Dalam perspektif sejarah, pesantren sering mengadakan perlawanan secara silih berganti selama berabad-abad, untuk mengusir Belanda dari bumi Indonesia. Seperti kita kenal nama Pangeran Antasari, Sultan Hasanudin, Sultan Agung, Pattimura dan sebagainya. Beberapa pemberontakan yang dipelopori oleh kaum santri antara lain adalah pemberontakan kaum Padri di Sumatara Barat (1821-1828) yang  dipelopori kaum santri di bawah pimpinan tuanku Imam Bonjol;  pemberontakan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (1828-1830); Pemberontakan Banten yang merupakan respon umat Islam di daerah itu untuk melepaskan diri dari penindasan dalam wujud pemberlakuan tanam paksa pada tahun 1836, 1842, 1849, 1880, dan 1888 yang dikenal dengan pemberontakan petani; dan pemberontakan di Aceh ( 1873-1903) yang dipimpin antara lain oleh Teuku Umar dan Teuku Cik Ditiro yang membuat Belanda kesulitan masuk ke Aceh.
Peristiwa 10 November
Pada awalnya kalangan pesantren melalui kiai dan para santrinya berjuang sendiri-sendiri dalam melawan penjajah. Perjuangan kalangan pesantren mulai terkoordinir melalui peristiwa 10 November 1945 yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan.
Meski bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, tidak semua negara di dunia mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Belanda dan sekutunya termasuk yang belum mengakui kemerdekaan Indonesia.  Belum genap satu bulan sejak diproklamirkan, terdengar berita bahwa Indonesia sudah mulai diserang kembali oleh Belanda dan Sekutunya. Pada 10 Oktober 1945 Belanda dan Sekutunya telah menduduki Medan, Padang, Palembang, Semarang dan Bandung setelah melalui pertempuran sengit.
Menghadapi kenyataan ini, kalangan kiai pesantren segera merencanakan pertemuan diantara para pimpinan pesantren. Sebagaimana diceritakan K.H. Saifuddin Zuhri dalam Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (Al-Ma’arif, Bandung 1981), KH Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai lainnya lainnya untuk mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura atau utusan cabang NU untuk berkumpul di Surabaya, tepatnya di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jl. Bubutan VI/2. Namun pada 21 Oktober para kiai baru dapat berkumpul semua. Setelah semua kiai berkumpul, segera diadakan rapat darurat yang dipimpin oleh Kiai Wahab Chasbullah. Pada 23 Oktober Mbah Hasyim atas nama HB. (Pengurus Besar) organisasi NU mendeklarasikan sebuah seruan Jihad fi Sabilillah yang belakangan terkenal dengan istilah Resolusi Jihad.
Ada tiga poin penting dalam Resolusi Jihad itu. Pertama, setiap muslim – tua, muda, dan miskin sekalipun- wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Kedua, pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak disebut syuhada. Ketiga, warga Indonesia yang memihak penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan nasional, maka harus dihukum mati. Bahkan, haram hukumnya mundur ketika kita berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 km (jarak ini disesuaikan dengan dibolehkannya qashar salat). Di luar radius itu dianggap fardu kifayah (kewajiban kolektif, bukan fardu ain, kewajiban individu).
Fatwa jihad itu kemudian digelorakan Bung Tomo lewat radio disertai dengan teriakan Allahu Akbar sehingga berhasil membangkitkan semangat juang kalangan santri untuk melawan penjajah.
Para kiai dan santrinya kemudian banyak yang bergabung ke pasukan nonreguler Sabilillah dan Hizbullah yang terbentuk sebagai respon langsung atas Resolusi Jihad tersebut. Kelompok ini kemudian banyak berperan penting dalam peristiwa 10 Nopember. Komandan tertinggi Sabilillah sendiri adalah K.H. Masykur dan Komandan Tertinggi Hizbullah adalah Zainul Arifin. Diperkuat juga oleh Barisan Mujahidin yang dipimpinan langsung oleh Kiai Wahab Hasbullah.
Segera setelah itu, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas pasukan non regular Hizbullah dan Sabilillah dan tinggal menunggu komando. Pengajian-pengajian telah berubah menjadi pelatihan menggunakan senjata. Pada detik-detik ini pesantren-pesantren juga didatangi oleh para pejuang dari berbagai kalangan untuk minta kesakten kepada para kiai. Tanpa itu para pejuang merasa tidak akan mampu menghadapi pasukan Belanda dan Sekutu dengan senjata-senjata berat mereka.
Seperti ditulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Serambi, Jakarta, 2005), seruan jihad itu berhasil menggugah dan membangkitkan semangat juang kaum santri. Ribuan kiai dan santri dari berbagai daerah  mengalir ke Surabaya. Perang yang menewaskan Jenderal Mallaby itu dikenang sebagai salah satu momentum dari perjuangan kaum santri melawan penjajah.
Refleksi Keindonesiaan
Peran besar kalangan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan tentu patut menjadi refleksi bagi kita semua. Refleksi ini penting karena di tengah gegap gempita perayaan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus, kiprah pesantren bagi kemerdekaan Indonesia makin hari makin dilupakan orang, bahkan oleh kalangan pesantren sendiri. Ini tentu menyedihkan karena perjuangan kalangan pesantren terhadap eksistensi Negara Republik Indonesia tidak hanya berhenti setelah proklamasi, tetapi terus dilanjutkan di masa-masa kemudian.
Dalam pemberontakan DI/TII misalnya, kalangan pesantren tidak memberikan dukungan meskipun yang pemberontakan itu dilakukan oleh orang Islam dan ditujukan untuk mendirikan negara Islam. Pondok Pesantren Cipasung misalnya, yang didirikan tahun 1931 oleh KH Ruhiat, beberapa kali bentrok dengan kelompok DI/TII karena menolak mendukung dan bergabung dengan pemberontak tersebut. Padahal DI/TII lahir di wilayah yang sama dengan Pesantren Cipasung. Sebagai organisasi yang memayungi kalangan pesantren, NU juga dengan gigih menolak pemberontakan DI/TII, PRRI dan Permesta, karena NKRI sudah dianggap final.
Kesetiaan kalangan pesantren terhadap visi kebangsaan Indonesia mulai mendapat tantangan serius ketika muncul kalangan Islam garis keras yang mencoba menawarkan Islam sebagai solusi bagi penyelesaian berbagai krisis di Indonesia. Sebagian pesantren sudah mulai tergoda oleh gerakan yang antara membawa gagasan formalisasi syariat Islam. Ini menjadi persoalan karena kalangan pesantren sangat kental dengan ciri moderat, menghargai keberagaman, memandang wahyu dan akal sebagai acuan kebenaran yang saling membutuhkan serta menghagai nilai-nilai tradisi dan budaya lokal. Sementara Islam garis keras cenderung menolak prinsip-prinsip ini.
Pasca reformasi, eksistensi keindonesiaan memang menghadapi banyak tantangan serius. Dengan modal sejarah yang gemilang dalam memperjuangkan kemerdekaan, pesantren mestinya bisa berbuat banyak untuk turut membantu penyelesaian berbagai masalah kebangsaan. Sayangnya, para pemimpin pesantren yang belakangan marak terlibat dalam politik praktis tidak banyak yang memiliki visi kebangsaan seperti para pendahulu mereka. Kita berharap, pesantren melalui para kiai, santri dan alumninya di masa-masa mendatang dapat memainkan lagi peran kebangsaan seperti yang dilakukan oleh para pendahulu mereka. []
Agus Muhammad, pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama

Logo Kerabat 45

Bung Tomo: Santri yang Pahlawan

Oleh: A Helmy Faishal Zaini
“Andai tak ada takbir, saya tidak tahu dengan cara apa membakar semangat para pemuda untuk melawan penjajah.” (Bung Tomo).
Namanya Sutomo. Panggilan karibnya Bung Tomo. Ia arek Suroboyo asli, lahir pada 1920 di Surabaya dan meninggal pada 1981 di Padang Arafah, Arab Saudi, tatkala sedang menunaikan ibadah haji.
Ia adalah sosok pemuda yang selalu bersemangat dan berai-api dalam mengemukakan pendapat. Karakter yang demikian itu memang, meminjam analisis sosiolog Nur Syam (2007), adalah karakter khas masyarakat pesisiran yang terbuka, egaliter, dan cenderung ekstrover. Dan Sutomo muda adalah kristalisasi karakter masyarakat khas pesisiran yang menjunjung tinggi kesetaraan dan antipenjajahan.
Sutomo muda selalu gelisah dengan keadaan yang terjadi pada masa penjajahan. Ia sangat bersedih melihat banyak ketidakadilan terjadi di depan matanya. Ia bukan saja menangis, ia bertekad dalam hati bahwa suatu saat ia akan berbuat demi terbebasnya bangsa dari cengkeraman penjajah.
Tekad itulah yang kelak kemudian hari membawanya pada sebuah sejarah besar di mana ia menjadi salah satu aktor utamanya. Ya, peristiwa itu adalah pertempuran dahsyat arek-arek Suroboyo dengan NICA.
Sejarah pertempuran Surabaya yang puncaknya terjadi pada 10 November 1945 itu menurut Agus Sunyoto (2015) adalah sejarah pertempuran dahsyat yang pernah terjadi di nusantara. Banyak masyarakat sipil yang terlibat di dalamnya.
Mereka rata-rata hanya berbekal tekad dan semangat cinta Tanah Air dan agar terbebas dari segala macam bentuk penjajahan yang sangat merugikan. Dua bekal itulah yang mereka gamit mati-matian sampai berhasil dengan susah payah merebut kedaulatan Indonesia yang sesungguhnya.
Sosok religius
Banyak yang belum mengetahui sejarah di balik meletusnya peristiwa 10 November di Surabaya. Ia bukanlah perang yang tanpa sebab musabab. Ia bukan peristiwa tunggal. Ada banyak latar dan alasan yang menjadi pemantik semangat pertempuran dan perlawanan itu. Dan tentu saja pemantik utama perlawanan itu adalah fatwa Resolusi Jihad yang dimotori oleh KH M Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama NU.
Fatwa Resolusi Jihad adalah landasan historis-filosofis yang menjadi bahan bakar serta energi perlawanan arek-arek Suroboyo sehingga mereka bertindak tanpa ragu sama sekali. Apalagi, kondisi sosiologi masyarakat Surabaya yang memang “terbiasa” dengan budaya tawuran, tidak mengherankan jika ada tawuran yang “diperbolehkan” atas dasar fatwa pemuka agama, maka tentu saja bisa kita bayangkan bagaimana reaksi mereka. Kalap dan tidak keruan aksinya.
Dalam pusaran momentum Resolusi Jihad itulah sesungguhnya Bung Tomo mulai banyak diperhitungkan. Ia tercatat beberapa kali sowan kepada KH M Hasyim Asy’ari ke Tebuireng. Mbah Hasyim–sapaan karib KH M Hasyim Ays’ari–adalah sosok sepuh yang sangat mengerti potensi. Ia tampaknya membaca bakat “pembakar semangat” yang ada dan dimiliki oleh Bung Tomo kala itu.
Kedekatannya dengan Mbah Hasyim itulah yang menjadi bukti autentik bahwa sesungguhnya Bung Tomo adalah sosok santri yang religius dan agamis. Tentu saja tema santri yang saya maksud bukan santri yang merujuk pada definisi usang dan keliru yang dibuat oleh Clifford Geertz itu.
Santri dalam hemat saya, sebagaimana dikatakan KH A Mustofa Bisri (2015) adalah siapa saja yang memiliki akhlak mulia dan memiliki kepatuhan terhadap agama. Dua kualifikasi itu melekat pada diri Bung Tomo.
Maka jelas dan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Bung Tomo adalah sosok santri yang religius. Pekikan lafaz Allahu Akbar yang diteriakkannya saat membakar semangat perlawanan arek-arek Suroboyo adalah bukti lain dari sisi kesantriannya. Belum lagi, kedisiplinannya dalam beribadah yang mengantarkannya sebagai seorang Muslim yang disayang Allah sehingga nyawanya diambil tatkala sedang menunaikan ibadah haji. Semuanya adalah bukti dari kadar kesantrian seorang Bung Tomo.
Yang patut untuk dikemukakan dan dapat kita jadikan teladan dari seorang Bung Tomo adalah sosoknya yang rendah hati dan selalu ingin tidak terlihat oleh khalayak. Ia hidup sangat bersahaja. Ia dimakamkan di pemakaman umum Ngagel, Surabaya. Keputusan itu ditunaikan keluarga demi memenuhi amanahnya. Negara baru mengakuinya sebagai pahlawan pada 2008, sesaat setelah GP Ansor mendesak pemerintah untuk mengeluarkan gelar kepahlawanan atas jasa dan dedikasinya dalam melawan penjajah.
Banyak yang kurang menyadari bahwa Bung Tomo adalah sosok yang kritis bukan saja kepada penjajah, tapi juga kepada para penguasa, khususnya Orde Baru. Jiwa antikemapanannya ini adalah bukti sahih bahwa ia adalah pahlawan sejati yang selalu melandaskan sikap dan gerakannya pada nurani dan kata hati.
Yang menarik, pada suatu kesempatan, Bung Tomo pernah bilang ia bukanlah seorang Muslim yang saleh. Bagi saya, pengakuan Bung Tomo adalah pengakuan yang semakin memperteguh sikap kesantriannya.
Ihwal sikap rendah hati dan sikap kesantriannya itu, saya teringat sebuah bait kitab Al-Hikam milik Ibnu Athoillah As-Sakadari. Dalam kitab tersebut disebutkan “udfun wujudaka fi ardhil khumul, fama nabata mimma lam yudfan la yatimma nitajuhu”. Terjemahan bebas dari bait tersebut adalah “sembunyikanlah dirimu di dalam bumi ketidaktampakan (khumul). Sebab, sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak ditaman maka tak akan sempurna buahnya”.
Bung Tomo tampaknya adalah sosok yang pas untuk melukiskan bait di atas. Bung Tomo, tentu saja dengan seluruh kebersahajaannya, adalah sosok yang memendamkan diri demi ingin mendapatkan buah yang sempurna atas perjuangannya selama ini.
Mengingat Bung Tomo, menurut hemat saya, juga mengingatkan pada apa yang pernah dikatakan oleh Soe Hok Gie. Ia pada suatu ketika pernah mengatakan, “Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.”
Selamat Hari Pahlawan. []

REPUBLIKA, 09 November 2015

A Helmy Faishal Zaini | Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Logo PAKTA45

Kebangkitan Pahlawan

Oleh: Moeldoko

“Hentikan Gambang, Allah Maha Besar. Gambang, sudahlah, ayahmu (Teuku Umar) telah syahid. Gambang, sebagai perempuan Aceh, pantang meneteskan air mata untuk orang yang telah syahid di medan perang. Bangkitlah! Agar arwah ayahmu tenang. Perjuangan kita masih panjang Gambang..”

Begitulah ucapan Tjoet Nyak Dhien terbata-bata dengan meneteskan air mata-diperankan sangat baik oleh Christine Hakim tahun 1988-kepada putrinya, Tjoet Gambang, ketika Teuku Umar wafat saat merebut Meulaboh.

Seakan mendahului program bela negara yang sempat diwacanakan pemerintah beberapa waktu lalu, kesadaran tentang bangkitnya berbangsa seolah kembali digairahkan oleh kalangan sineas kita setelah lebih dari 22 tahun vakum. Masih melalui film epik tentang kepahlawanan, selanjutnya hadir Ahmad Dahlan dalam Sang Pencerah (2010), Albertus Soegijapranata dalam Soegija (2012), Soekarno dalam film dengan judul nama yang sama (2013), Tjokroaminoto dalam Guru Bangsa (April, 2015), dan film tentang sosok Jenderal Soedirman yang rilis tepat pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 2015.

Memang, memaknai kedalaman hadirnya sosok pahlawan nasional sangat bergantung pada persepsi seseorang. Namun, ada satu pandangan dan semangat sama yang dihadirkan para sineas tersebut saat berbicara tentang pahlawan nasional kita: bahwa pahlawan adalah mimbar sekaligus narasi bagi mereka yang memilih mengorbankan jiwa untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri, bahkan lebih besar daripada negara dan tanah air mereka.

Sudah seharusnya kisah tentang kepahlawanan mampu menjadi oase yang menampung kejernihan dalam merefleksikan kisah wajah patriotisme dengan senjatanya untuk pencapaian sebuah cita-cita berbangsa dan bernegara, yang sekaligus mendaur berlapis-lapis ragam tentang nilai keberanian dan pengorbanan. Film-film yang tak melibatkan kehadiran negara tersebut, kecuali barangkali Jenderal Soedirman yang produksinya dibantu TNI AD, juga mampu hadir sebagai alat penolak aneksasi bangsa lain. Mereka hadir sebagai upaya meremajakan kembali pengertian tentang hati dan jiwa para pahlawan yang selama ini dipelihara secara klise melalui kisah-kisah legenda, sejarah, dan mitos.

Setiap merayakan Hari Pahlawan, tampaknya kita perlu memaknai dengan konteks kekiniannya. Mengapa para pahlawan berjuang secara total dan berani mempertaruhkan jiwa raga? Nilai apa di balik pengorbanan yang luhur dan mulia itu? Jika dihayati dengan jernih, sejatinya mereka hanya ingin generasi penerus menikmati hak dasar manusia serta terbebas dari kemiskinan dan kebodohan. Makna lebih jauh lagi: sebuah visi besar, masa depan bangsa Indonesia sudah selayaknya berada dalam sebuah bingkai negara yang sejahtera, adil, makmur, dan aman.

Musuh baru

Saat ini zaman sudah bergerak maju dengan tingkat persaingan yang begitu kompleks. Perubahan yang terjadi bak turbulensi, begitu cepat dan terkadang sangat mengejutkan. Untuk menghadapi efek guncangannya, semangat kepahlawanan sangat penting dan menentukan. Sebab, salah satu kunci menghadapi masa sekarang dan masa depan adalah perjuangan secara total dan tidak setengah-setengah.

Memang situasinya berbeda. Paradigma tentang perang pun telah berubah. Dulu para pejuang menggunakan fisik dan kekuatan senjata dengan bertaruh jiwa raga. Perang sekarang sudah berubah wujud dengan medan tempur berbeda: tidak nyata, tanpa wilayah, serta bisa terjadi di mana saja dengan aktor negara (state)atau bukan. Pemerannya bisa terkamuflase melalui berbagai bentuk.

Sekarang era perang kebudayaan yang bentuknya kompleks dan mengerikan. Salah satu cirinya adalah menyenangkan korban. Tampak aneh, tetapi begitulah kenyataannya. Para korban narkoba merasa nikmat, padahal mereka korban. Demikian pula anak-anak kita lebih senang memilih artis dan restoran bermerek asing dibandingkan produk dalam negeri.

Di sisi lain, kesadaran tentang hak asasi manusia juga semakin kuat. Perjuangan akan kebenaran, kebaikan, cinta, dan kasih makin kencang, tetapi perilaku sadis dan kejam terhadap sesama manusia tetap terjadi. Kita semua seolah terperangkap dalam kondisi seperti ini dan kita kurang menyadari bahwa kekuatan kita semakin dilemahkan.

Sebagai generasi penerus para pahlawan, memberikan konteks kekinian atas nilai-nilai heroik mereka menjadi penting. Dalam mewujudkan harapan itu, sekarang kita juga dihadapkan pada kondisi persaingan yang sangat ketat. Keinginan tatanan masyarakat yang sejahtera dan aman tentu bukan keinginan kita semata karena bangsa lain pun juga terus berupaya untuk memenuhi kesejahteraan bangsanya.

Di masa depan, kita akan masih berhadapan dengan berbagai tantangan. Menurut James Canton dalam The Extreme Future, ada lima penentu masa depan: (1) perubahan (change), (2) kecepatan (speed), (3) risiko (risk), (4) kompleksitas, dan (5) sering mengejutkan (surprise). Dalam menghadapi situasi ini, kita memang harus antisipatif dengan tak henti melahirkan terobosan dengan beragam bentuk inovasi.

Mengejar kesempatan

Tahun ini, Global Innovation Index mencatat peringkat negara kita di posisi ke-97 dari 147 negara, kalah jauh dari Singapura yang berada di peringkat ke-7. Di tingkat regional lain, tetangga kita Malaysia di peringkat ke-32, Vietnamke-52, dan Thailand ke-55. Yang paling mengkhawatirkan laporan pada Innovation Output Sub-Index: kita di peringkat ke-85 yang berimplikasi pada rendahnya keluaran ilmu pengetahuan dan teknologi (di posisi ke-100) dan keluaran kreatif  (di posisi ke-78).

Hal yang sungguh penting untuk mengatasi ketertinggalan ini adalah kehadiran negara untuk segera membangun ekosistem inovasi yang sehat di negara kita. Salah satu peran utama adalah meningkatkan pemberdayaan institusi yang masih di peringkat ke-130 serta sumber daya manusia dan riset yang berada di peringkat ke-87. Sudah tidak ada alasan lagi bagi para inovator bahwa kita sulit mengurus paten dan tergoda mendaftarkan penemuan baru di luar negeri.

Dulu Singapura berusaha menarik sebanyak mungkin uang dari Indonesia. Sekarang mereka sudah berubah dengan berusaha menarik manusia-manusia unggul kita untuk menjadi bagian dari pembangunan negara mereka. Mereka serasa tak pernah henti untuk terus meningkatkan inovasi dengan berbagai cara dan kita seakan tak kuasa untuk berbuat sesuatu. Dalam menyikapi ini, kita tentu harus terus berjuang dengan meningkatkan kemampuan dan berperan aktif dalam persaingan global.

Masalah kita tentu bukan hanya inovasi. Kita masih menyimpan dua persoalan utama: stabilitas dan keterbukaan. Stabilitas menuntut toleransi dari berbagai sisi, sementara keterbukaan adalah ruh dari demokrasi. Peristiwa di Papua dan Aceh baru-baru ini sungguh menyadarkan bahwa kita harus belajar lagi tentang toleransi, sementara demokrasi kita memang masih berusia belia. Sebagai mantan Panglima TNI, saya pernah merasakan bagaimana rumitnya bermain di ruang sempit di antara keduanya dengan harus tetap menjaga keseimbangan nilai-nilai kedua hal tersebut.

Mengingat kondisi tersebut, saya sepakat program bela negara masih kontekstual dilaksanakan untuk memberikan penyadaran bahwa bangsa ini bisa menjadi besar jika kita memiliki kedisiplinan serta visi yang kuat seperti yang dicontohkan oleh para pahlawan kita. Disiplin yang kuat, visi yang jauh ke depan, serta semangat juang yang tak pernah menyerah akan menghasilkan karya yang inovatif untuk memulai hadirnya kemakmuran sebuah bangsa. Hal ini telah dibuktikan oleh 180 animator anak bangsa, yang dengan segala totalitas menghadirkan film Battle of Surabaya, yang dirilis tiga hari setelah film Jenderal Soedirman tayang di bioskop.

Film ini merupakan film animasi 2D dengan tema sejarah bangsa yang gaungnya mampu memberi sesuatu yang baru untuk film bergenre anime di Indonesia. Seolah mewarisi semangat juang Bung Tomo dan kawan-kawan, waktu tayang film Battle of Surabaya berani bersaing merebut penonton dengan film animasi Inside Out produksi Pixar yang distribusinya ditangani Walt Disney Pictures.

Meski seolah berakhir dengan kalahnya pertempuran dalam jumlah perolehan penonton-padahal bertempur di area sendiri dengan segala macam propaganda yang melibatkan emosi nasionalisme-paling tidak karya keroyokan anak-anak muda kita menyisakan sebuah harapan yang menyertakan renungan baru.

Harapannya adalah kita telah memiliki contoh generasi muda yang berani mengejar kesempatan untuk menjadi pahlawan dengan berbuat sesuatu yang inovatif bagi kemakmuran bangsa dan negara. Dan, sekaligus meninggalkan renungan: kenapa para patriot kita kini sering kalah dalam bersaing meski segala tumpah darah telah diupayakan secara maksimal? Jawaban saya sederhana. Kita kalah berperang bukan karena musuh kita yang kuat, tetapi lebih karena kita yang lemah. Namun, kita harus selalu bangkit, seperti pesan Tjoet Nyak Dhien kepada anaknya. []

KOMPAS, 10 November 2015

Moeldoko | Jenderal (Purn) TNI; Mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia


0 Responses to “Kebudayaan : Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: