09
Nov
15

Patriot Indonesia : KRONOLOGIS PERISTIWA DI SURABAYA Aug-Des 1945

KBP45

KRONOLOGIS PERISTIWA DI SURABAYA Agustus – Desember 1945
| |

17 Agustus 1945

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diumumkan di Jakarta jam 10 pagi. Berita dengan kode morse diterima di kantor berita Domei (Jl. Pahlawan 29) jam 11 pagi. Berita sempat diralat bahwa kejadian proklamasi itu tidak benar. Tapi orang Indonesia yang bekerja di Domei kadung membaca yang sudah diketik huruf ABC. Domei merupakan kantor berita yang menyuplai berita-berita ke suratkabar Suara Asia (Jl. Pahlawan 31), suratkabar sore di Jawa Timur. Meskipun sudah disensor oleh redaksi bangsa Jepang, ada juga yang menyelundupkan berita proklamasi tadi ke Suara Asia. Yang bekerja di Domei antara lain: Yacob (morsis), RM Bintarti, Sutomno (Bung Tomo), Astuti Askabul (kemudian jadi isteri A.Azis dan pemilik Surabaya Post). Yang bekerja di Suara Asia: Mohamad Ali (adik Imam Supardi, kemudian pemilik Panjebar Semangat). Oleh Suara Asia dibikin selebaran, disebar di tempat-tempat tempelan Suara Asia di seluruh Jawa Timur. Disiarkan dalam warta berita bahasa Madura oleh Radio Hoshokyoku Surabaya tanggal 18 Agustus 1945 jam 19.00 waktu Tokyo. Yang bahasa Indonesia baru tanggal 19 Agustus 1945.

18 Agustus 1945.

Di Jakarta ada rapat yang kemudian mengsahkan Undang-undang Dasar 1945. Para prajurit PETA dan Heiho dibubarkan oleh Jepang. Termasuk yang ada di Surabaya dan sekitarnya. PETA = Tentara Pembela Tanah Air, adalah para perwira yang dilatih dan ditugasi Jepang untuk menjaga daerahnya (Tanah Air). Heiho adalah orang Indonesia yang dilatih perang oleh Jepang, setelah terampil disuruh maju perang berasama pasukan Jepang melawan Sekutu.

19 Agustus 1945.

Terjadi insiden di Markas Polisi Istimewa Coen Boulevard 7 Surabaya (SMA St.Louis Jl. Dr.Sutomo), bendera Hinomaru (Jepang) diturunkan, bendera Merah Putih dikibarkan, dipelopori oleh Agen Polisi III Nainggolan..

21 Agustus 1945.

Komandan Polisi Istimewa Karesidenan Surabaya (Surabaya Syu Tokubetsu Keisatsutai) Inspektur Polisi Tk II Moehammad Jasin memproklamasikan bahwa Polisi sebagai Polisi Republik Indonesia proklamasi 17 Agustus 1945. Polisi Istimewa bermarkas di gedung SMA St. Louis Jl. Dr. Sutomo 7 Surabaya. Pemimpin polisi Jepang ditahan, komandan ditetapkan M.Jasin. Hubungan telepon diputus. Gudang senjata di belakang gedung dibongkar dikuasai oleh anak buah. Mengadakan apel pagi, lalu unjuk kekuatan berkeliling Surabaya dengan senjatanya (dan kendaraannya).

22 Agustus 1945.

Secara de facto Radio Surabaya (Surabaya Hoshokyoku) menjadi Radio Republik Indonesia (RRI).

23 Agustus 1945.

Instruksi Presiden membentuk Komite Nasional Indonesia (KNI semacam DPR) jatuh pada Surabaya 23 Agustus 1945. Dipelopori oleh Angkata Moeda diadakan persiapan pembentukan KNI di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jl. Bubutan 87 Surabaya. Rapat selama 3 hari (25-27 Agustus), menghasilkan susunan KNI Karesidenan Surabaya: Dul Arnowo (ketua), Bambang Soeparto dan Mr.Dwidjosewojo (wakil ketua), Ruslan Abdulgani (penulis), dan anggotanya 25 orang, antara lain: Mr. Masmuin, Radjamin Nasution, Dr. Angka Nitisastra. Untuk menyambut sidang pertama KNIP di Jakarta 29-31 Agustus, maka KNI Karesidenan Surabaya mengumumkan kepada rakyat Surabaya supaya hari itu mengibarkan bendera Merah Putih. Pengumuman itu dibendung oleh Kenpeitai (Polisi Tentara Jepang) dengan cara menyebarkan pamflet melarang pengibaran bendera Merah Putih, namun oleh orang Surabaya tidak digubris. Panflet disobek-sobek. Berarti perlawanan terhadap kekuasaan Jepang mulai tumbuh sejak itu. Oleh Ruslan Abdulgani peristiwa bendera itu disebut Flaggen Actie.

27 Agustus – 3 September 1945

Residen Sudirman setelah Indonesia merdeka sebagai pejabat paling tinggi di Karesidenan Surabaya (pada zaman Jepang sebagai Wakil Residen, Residennya orang Jepang) mendapat panggilan untuk menghadiri Sidang Pertama KNIP dan Permusyawaratan Pegawai Negeri di Jakarta. Berangkat tanggal 27 Agustus, pulang tanggal 3 September sore hari. Di Surabaya tanggal 2 September sudah dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang anggota dan pemimpinnya terdiri dari para bekas anggota tentara PETA.

28 Agustus 1945.

Inggris dan Belanda sebagai pemenang Perang Dunia II mengadakan persetujuan Civel Affairs Agreement (CAA) bahwa Inggris akan membantu Belanda dalam memperoleh kembali menguasai bekas jajahannya (yaitu Hindia Belanda = Indonesia). Maka orang-orang Belanda juga disamarkan dimasukkan sebagai anggota badan internasional pemenangan Perang Dunia II. Antara lain bisa jadi anggota Intercross (Palang Merah Internasional yang mengurusi orang-orang yang menderita), RAPWI (Rehabilitation Allied Prisoners of War and Internees = badan yang mengurusi para tawanan orang Jepang yang kalah perang dan para tawanan asing yang selama perang ditawan oleh Jepang), dan juga lewat pemboncengan pada gerakan pasukan Inggris yang mengurusi daerah Indonesia (misalnya diaku sebagai utusan dari Angkatan Laut Inggris untuk mengurusi bekas angkatan laut Jepang di Surabaya, seperti yang dilakukan oleh P.J.G.Heiyer. Dengan adanya CAA itu maka orang Belanda dengan leluasa masuk ke Indonesia menggunakan fasilitas persetujuan tadi, meskipun tujuan utamanya menjajah Indonesia kembali.

2 September 1945.

Dibentuk Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) bertempat di bekas gedung Badan Pembantu Prajurit (BPP) Jalan Kaliasin 121 (Jl. Basuki Rachmat). Rapat dihadiri hampir semua bekas pimpinan PETA, Heiho, kaum pergerakan dan lain-lain. Antara lain: Suryo (bukan Gubernur Suryo), Sutopo, Mohammad, Katamhadi, Rono Kusumo, Kunkiyat, Sungkono, Mustopo, Kholil Thohir, Yonosewoyo, Abdul Wahab, Usman Aji, Sutomo (Bung Tomo). BPKKP terbentuk dengan Dul Arnowo sebagai ketua, Daidantjo Mohammad (wakil), Daidantjo Sutopo (bagian umum), Notoamiprodjo dan Abdul Syukur (bagian keuangan). BKR terbentuk dengan Daidantjo Drg. Mustopo (ketua), Sunarso (bekas pegawai BPP, bagian tunjangan), dibantu bagian penerangan adalah: Daidantjo Katamhadi, Cudantjo Abdul Wahab, wartawan Antara Sutomo (Bung Tomo).

4 September 1945.

Penyempurnaan susunan BKR yang dirapatkan di GNI Jl. Bubutan 87 oleh para Daidantjo, Cudantjo dan Shodantjo menghasilkan tiga eselon BKR, yaitu BKR Jawa Timur, BKR Karesidenan, dan BKR Kota Surabaya. Pemimpin-pemimpinnya yang disahkan adalah: BKR Jawa Timur: Moestopo (panglima), Suyatmo (staf umum), Mohamad Mangundiprojo (urusan darat), Atmaji (urusan laut), Suyono Prawirobismo (polisi, penerangan), Suryo (keuangan/perlengkapan), Dr.Sutoyo (kesehatan), dll. BKR Karesidenan Ketua Abdul Wahab (cudantjo), wakil ketua Yonosewoyo, dll. BKR Kota Surabaya: Ketua Sungkono.

13 September 1945.

Suratkabar Suara Asia (terbit di Surabaya) tanggal 10 September 1945 memuat ajakan: Besok hari Selasa 11/9 moelai poekoel 6 sore di Tambaksari akan diadakan rapat besar oemoem. Sebeloem rapat besar dan masing-masing Siku ke lapang Tambaksari dan tibanja pawai dilapang terseboet, diharap sebeloem poekoel 6 sore. Koendjoengilah! Boelatkanlah kemaoean rakjat dalam rapat itu. Suara Asia 11 September 1945 memuat: Rapat Raksasa dan pawai ditoeenda. Soeara Asia 14 September 1945 memuat Soeara Asia mohon diri (terbit terakhir). (Begitu surat Pak Barlan meralat tanggal rapat raksasa di Tambaksari). Pada dokumen lain tercatat bahwa Rapat Raksasa di Tambaksari tadi terlaksana pada tanggal 21 September 1945 (berarti sesudah perobekan bendera Belanda di Yamato Hoteru tanggal 19 September 1945).
Dengan ditutupnya Soeara Asia dan kantor berita Jepang Domei (keduanya berkantor di Jalan Aloen-aloen 29 dan 31, sekarang Jalan Pahlawan), para wartawannya banyak bergabung dengan kantor berita “Berita Indonesia” cabang Surabaya yang kantornya berada di Jl.Tunjungan 100, pojok Embong Malang-Tunjungan. Antara lain wartawan tadi Sutomo (Bung Tomo), Abdul Wahab (fotografer yang kemudian memotret peristiwa perobekan bendera di Yamato Hoteru, 19 September 1945).

15-17 September 1945.

Ada desas-desus bahwa untuk mengangkut para tawanan bangsa asing yang ditawan oleh Jepang selama Perang Dunia II, akan diangkut oleh badan yang dibentuk oleh Pasukan Sekutu pemenang perang, yaitu RAPWI, datang ke Surabaya. Mereka bermarkas di Hotel Yamato Jalan Tunjungan. Memang benar sejak hari itu Hotel Yamato ramai dengan orang-orang bule, dan mereka juga mengendarai mobil atau truck baru dengan tulisan RAPWI. Selain itu mereka juga menamakan dirinya anggota Intercross. Ada juga mereka yang terjun payung langsung ke tempat para tawanan orang-orang Belanda di daerah Gunungsari. Oleh para penjaga tawanan (bangsa Jepang yang sudah takluk) orang-orang inipun dibawa ke Hotel Yamato, berkumpul dengan teman-teman orang bule dari RAPWI. Di depan hotel, orang-orang bule pemenang perang ini kelihatan sombong, hilir-mudik di depan gedung, dan mengusir (menyuruh menjauh) orang-orang Indonesia yang lewat di depan hotel. Orang-orang Indonesia (di surabaya) waktu itu memang miskin habis diperas oleh penjajahan Jepang selama 3,5 tahun. Kurus dan lemah.

19 September 1945.

Sejak datangnya oerang-orang Belanda yang menyelundup ke Surabaya, dan hampir bersamaan waktunya dengan dibebaskannya kaum interniran Belanda dari kamp-kamp tawanan, maka suasana Surabaya mulai panas karena terjadi saling mencurigai antara fihak pemuda dengan fihak Palang Merah International (Intercross). Pemuda Surabaya baru saja melakukan serangkaian kegiatan memperingati sebulan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan menyelenggarakan rapat umum di Lapangan Pasarturi pada tanggal 17 September 1945, Ada provokasi baru tentang datangnya kelompok orang Sekutu yang pertama dari Mastiff Carbolic dibawah pimpinan Letnan Antonissen dengan parasut di Gunungsari Surabaya. Mastiff Carbolic Party merupakan salah satu dari sejumlah kelompok yang diorganisir oleh anglo Dutch Country Section (ADCS) angkatan 136. Semula selama Perang Dunia II, ADCS adalah organisasi spionase yang dikirim ke Sumatera, Malaya (Malaysia) dan Jawa secara rahasia. Setelah Jepang menyerah mereka diterjunkan antara lain di Jakarta dan Surabaya untuk menghimpun informasi tentang keadaan kamp-kamp tawanan dengan kedok RAPWI. Fihak tentara Jepang setelah mendengar tentang pendaratan itu kemudian menjemput dan mengawalnya ke Yamato Hoteru. Sebelumnya di Hotel itu telah berkumpul pula sebagian besar orang Indo dan orang Indonesia. Pada hari Rabu Wage tanggal 19 September 1945, sementara pemimpin Mastiff Carbolic mengunjungi Markas Besdar Tentara Jepang, beberapa orang anggotanya bersama orang Belanda yang bergabung dalam Komite Kontak Sosial mengibarkan bendera Belanda Merah-Putih-Biru. Itu peristiwa heroik yang pertama dilakukan oleh Arek-arek Surabaya. Sebab waktu itu keadaan orang Surabaya miskin, kurang makan, habis dijajah orang Jepang, tidak punya senjata. Namun berani melawan orang-orang Belanda yang dengan sombong berada di hotel mewah. Rasa patriotismenya tidak bisa dibendung. Penyobekan bendera warna biru bisa terlaksana, sedangkan untuk pertamakalinya pertikaian di hotel tadi menimbulkan kurban. Dari pemuda Indonesia yang menjadi kurban: Sidik, Mulyadi, Hariono dan Mulyono. Dari pihak Belanda Mr. Ploegman, tewas ditusuk dengan benda tajam.

20 September 1945.

Pada 24 Agustus 1945 secara resmi para pembesar Jepang membacakan tentang berakhirnya Perang dan pernyataan Tenno Heika dan Seiko Sikikan di hadapan Pamong Praja. Bergeraklah para pemuda Indonesia yang di bawah naungan AMI (Angkatan Muda Indonesia pimpinan Ruslan Abdulgani) yang sejak proklamiran 17 Agustus 1945 selalu mencari keterangan, berani merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Tanggal 20 September 1945 sebuah rumah kediaman seorang perwira Jepang di Princesselaan 1 (Jalan Tidar) diambil alih para pemuda, Jepang perwiranya ditawan. Para jpemuda itu adalah Jamal (zaman Jepang jadi kaibodan), Pramudji, Sudjono, Suyono, M.Dimyati, Suwardi, Karyono YS (pelukis). Jamal mengajukan usul agar gedung itu dijadikan Markas Komando Revolusi Surabaya. Mereka lantas mendirikan Markas Besar Pemuda Republik Indonesia (PRI). Keesokan harinya Jamal telah memasang spandoek besar: MARKAS BESAR PEMUDA REPUBLIK INDONESIA. Maka berdirilah PRI.

21 September 1945.

Dua hari kemudian setelah peristiwa perobekan bendera Belanda 19 September 1945, baru missi RAPWI yang sesungguhnya datang, dibawah pimpinan Letnan P.G. De Back dari Dutch Navy. Mendengar laporan Letnan Antonissen, oleh De Back Mistiff Carbolic Party yang telah membuat onar di Surabaya segera dikirimkan ke Jakarta. De Back kemudian memerintahkan kepada pihak Jepang untuk mempersiapkan evakuasi interniran wanita dan anak-anak dari Semarang ke Surabaya. Semula pihak Jepang khawatir kalau semakin banyaknya orang Belanda ke Surabaya akan menambah keruhnya keadaan. Namun akhirnya terlaksana juga pemindahan para interniran wanita dan anak-anak dari Semarang ke Surabaya tanggal 29 September sampai 2 Oktober 1945. Sebanyak 2000 orang yang baru datang ditempatkan di Darmo dan Gubeng. Kedua tempat itu berkumpul sekitar 3000-4000 orang.

23 September 1945.

Rapat AMI diselenggarakan 23 September 1945 memutuskan AMI berintegrasi dalam bentuk organisasi pemuda, yaitu PRI. Pimpinan AMI Ruslan Abdulgani menyerahkan kepemimpinannya kepada Ketua PRI yaitu SUMARSONO. Susunan pengurus PRI awalnya adalah Ketua, I, II : Sumarsono, Kusnadi HD, Krissubanu. Sekretaris: Bambang Kaslan, Supardi. Ada bagian keuangan, bagian pembelaan, bagian penyelidik, bagian tempur penyelidik (combat intelligence). Bagian penyelidik banyak melibatkan polisi resmi seperti: Inspektur Polisi Suyono Prawirobismo, Mujoko, SUCIPTO DANUKUSUMO , Benny Notosuroto, Kusnadi, Jayengrono, dll.
Dengan begitu kegiatan PRI menjadi sangat luas sekali di Surabaya. Hampir semua organisasi pemuda bergabung pada satu organisasi PRI ini, sehingga dibentuk berbagai cabang maupun rayon, misalnya PRI angkatan bersenjata, PRI pelajar, PRI Sosial dan Wanita. Dan juga PRI Wilayah Utara dengan kode PRI-60, dengan ketua, wakil, staf, batalyon, kompi (karena gerakan selanjutnya PRI memang ikut bertempur mati-matian melawan pasukan Inggris. Juga ada PRI Wilayah Tengah dengan kode PRI-40, dan PRI Wilayah Selatan dengan kode PRI-20, masing-masing wilayah melibatkan para pemuda dan dengan susunannya yang lengkap. Selain wilayah, juga dibentuk cabang, misalnya PRI Cabang Kampemen, Sidodadi, Ketabang, Bubutan, Kaliasin, Darmo. Banyak dari mereka itu bersenjata berat: panser, bren carier.

Pada tanggal 23 September 1945 tiba di Surabaya Captein P.J.G.Huiyer (Belanda). Ia diutus oleh Laksamana Helfrich (komandan Angkatan Laut Hindia Belanda, setelah perang dunia selesai dia duduk di SEAC untuk mengurusi kembali daerah jajahannya), Huiyer berhasil membujuk Jendral Iwabe (panglima Angkatan Darat Jepang di Jawa Timur) menyerahkan Angkatan Laut Jepang (kaigun) di Tanjungperak dalam surat serah-terima hitam di atas putih. Setelah mendapat surat serah-terima pangkalan Angkatan Laut Jepang di Tanjungperak, Huiyer terbang meninggalkan Surabaya menunaikan tugas misi yang sama ke Kalimantan Timur, sempat memberikan informasi kepada atasannya (Admiral CEL Helfrich, The C-in-C Netherlands Forces in The East, angkatan laut Belanda yang bergabung dengan Sekutu) bahwa penduduk Surabaya merupakan kekuatan yang paling lemah di dunia.

29 September 1945.

Sejak rapat raksasa di Tambaksari tanggal 21 September 1945, berkumpullah ± 30 pemuda bekas Peta, Sekolah Pelayaran Tinggi, Seinendan dan sebagainya di sebuah rumah di Julianallan (Jl.Mabes Duryat). Mereka membahas keikutsertaan mereka dalam keanggotaan BKR. Kegiatan mereka dipimpin oleh Abdul Wahab, bekas Cudantjo Peta yang menjabat sebagai Ketua BKR Karesidenan Surabaya. Mereka membahas kenapa Indonesia sudah merdeka kok Polisi Sekutu (Allied Forces Police) menugasi orang Jepang (yang sudah takluk) menjagai instalasi-instalasi militer dan tempat umum yang penting (misalnya tempat tawanan bangsa asing, penjara) dengan menggunakan kain putih dengan tulisan merah di lengan baju sebelah kanan: “ALLIED FORCES POLICE”? Mereka tidak terima di negaranya yang sudah merdeka ada pasukan asing.

Atas kesepakatan bersama mereka membentuk “Pasukan Khusus” bertugas secara cepat merebut kekuasaan dari tangan “asing” itu termasuk pasukan Jepang yang telah dinyatakan takluk itu (tapi masih diberi tugas). Setelah persiapan bergerak siap, maka mereka lapor kepada Polisi Istimewa pimpinan M. Yasin. Gerakan akan dilakukan serentak juga dengan para Tonarigumi (Rukun Tetangga) seluruh Surabaya. Mereka diberitahu bakal ada gerakan perebutan kekuasaan terhadap orang Jepang, para Tonarigumi harus membantu secara serentak.

Pada pertemuan tanggal 29 September 1945 di Julianalaan diputuskan semua anggota 30 orang tersebut pada jam 18.00 harus siap menerima perintah bergerak yang disampaikan oleh Abdul Wahab. Perintah yang harus dilaksanakan sebagai berikut: 1. Melucuti senjata dan alat perang Jepang. 2. Menawan semua anggota pasukan Jepang baik laki-laki maupun perempuan. 3. Merampas menduduki tempat komunikasi tentara Jepang, dan pemerintahan Jepang. Gerakan diatur sedemikian rupa: 20.00-24.00 merampas komunikasi Jepang, 24.00 melucuti Polisi Sekutu Jepang. Jam 05.00 30 September 1945 harus sudah selesai. Jam 05.30 dengan alat pengeeras suara semua rakyat diteriaki/dipanggili “Siaaap! Siaaap! Serbu tentara Jepaaang! Serbu tentara Jepaaang!” Seluruh pelosok Surabaya tidak boleh ada yang kelewatan. Jam 06.30 seluruh anggota Pasukan Khusus 30 orang terbagi menjadi 15 kelompok masing-masing terdiri dari 2 orang, bertugas untuk memimpin rakyat untuk menyerbu dan melucuti tentara Jepang di tangsi, markas, dan dikonsentrasi tentara di seluruh pelosok Kota Surabaya. “Selamat berjuang! Merdeka!” ucap pemimpin Pasukan Khusus Abdul Wahab pada jam 19.00 29 September 1945.

30 September 1945.

Gerakan Pasukan Khusus pimpinan Abdul Wahab berlangsung seperti yang direncanakan. Dibantu oleh segala insstansi, kelompok pemuda, hingga seluruh penduduk Kota Surabaya. Masing-masing melaksanakan fungsinya sendiri-sendiri dengan disiplin. Misalnya para kelompok Tonarigumi (Rrukun Tetangga) seluruh kampung di Surabaya siap dengan teriakan “Siaaap!” serta menyiapkan kentongan (tabuhan) untuk dipukul titir kalau terjadi sesuatu di daerahnya. Beberapa kampung yang mewaspadai tempat orang Nippon sama mengurung tempat itu, dan kalau terjadi apa-apa yang ribut, maka segera mereka berteriak “Siaaap!” atau memukul tabuhan yang dibawa. Teriakan Siaaap! malam itu di Surabaya kemudian menjadi legenda bertempur rakyat Indonesia. Banyak buku ditulis periode perjuangan rakyat Indonesia itu disebut Periode Bersiaaap! Kalau tidak ada tabuhan ya tiang telepon dipukuli bertalu-talu. Pelaksanaan perintah 1, 2, 3 dan seterusnya berjalan mulus. Alat komunikasi utama direbut. Jepang yang jaga ditawan. Alat komunikasinya dipindahkan ke tempat lain. Pelucutan Polisi Sekutu Jepang terlaksana dengan bantuan Polisi Istimewa. Jepangnya ditawan di Penjara Kalisosok. Setelah mewaspadai selama semalam, pagi gari jam 07.30 Markas tentera Jepang di Sekolah dagang di Reinierz Boulevard (Jl. Diponegoro) diserbu, Jepangnya dibawa ke penjara.
Begitu juga markas atau tempat pembesar Jepang di mana-mana, pada direbut oleh para pemuda Indonesia. Markas di HBS-straat diduduki oleh Ketua BKR Karesidenan Surabaya, Abdul Wahab ditemani Suharyo Kecik (mahasiswa dari Jakarta), dan Hasanudin Pasopati (dari Madura). Krena luasnya tempat digunakan juga untuk menampung para heiho dari Sulawesi yang sedang mau pulang ke Pulau Jawa, tertahan di Tanjungperak. Para heiho tersebut sekaligus diajak angkat senjata merebut kekuasaan dari Jepang. Setelah Markas HBS-straat dikuasai, para Pasukan Khusus pindah menyerbu bersatu dengan Pasukan Khusus lainnya yang belum beres, antara lain ikut pasukan BKR Jawa Timur Drg.Mustopo menyerbu ke Tobu Jawa Butai, setelah selesai lalu bergabung menyerbu ke Kenpeitai yang belum mau menyerah. Malam itu direbut pula markas-markas Jepang lainnya, antara lain Kitahama Butai (bengkel kendaraan perang, truk, tank), Kohara Butai (banyak senjata dirampas dari situ atas petunjuk Cudantjo Suryo)., Kaigun Embongwungu, Markas di Hogendorplaan, Samurai di Karangrejo, markas penerbangan Morokrembangan, Rumah Sakit Karangmenjangan (untuk rumahsakit tentara Jepang) Tobu Jawa Butai. Termasuk Syucokan Kaka yang tinggal di gedung Residen (Grahadi) di Simpangweg. Terebut tanpa banyak perlawanan. Memang setelah Jepang menyerah, diperintahkan semua senjata tentera Jepang harus dikosongi pelurunya. Jadi meskipun terlihat masih membawa senjata, mereka bersiap hanya mematuhi kehendak tentara Sekutu. Yang ada perlawanan adalah di gedung General Electronica Jl. Kaliasin (menyerah pagi hari), gedung Kenpeitai (Tugu Pahlawan), gedung Kaigun Gubeng (Angkatan Laut, Grand City).

Yang istimewa adalah perebutan kekuasaan di arsenal Don Bosco. Ikut mengepung markas itu adalah Bung Tomo. Ternyata komandan Jepangnya tidak melawan. Mau menyerahkan markasnya asal kepada petinggi pemerintahan. Maka ke situ didatangkan M.Jasin dari Polisi Istimewa, Mohamad Mangundiprdjo dari BKR/KNI. Serah terima ditandatangani oleh pihak Jepang dan M.Jasin dan seorang pihak KNI. Markas Don Bosco adalah suatu arsenal (tempat timbunan senjata api). Komandan Jepang hanya minta satu pedang samurainya saja karena warisan dari kakeknya, tidak boleh. Dia harus ditawan di Kalisosok. Sedang rakyat yang mengepung markas diperbolehkan membawa senjata seadanya dan sekuatnya, boleh pilih sendiri. Rakyatpun berebutan mengambili senjata. Tidak perduli pelurunya cocok apa tidak. Tidak perduli bisa menembakkan atau tidak. Dengan bersenjata seperti itu perebutan kekuasaan terhadap orang Jepang kian marak. Melihat banyaknya senjata di gudang, maka Bung Tomo mengorganisir teman-temannya mengirimkan senjata tadi ke luar Surabaya. Pengiriman senjata dari Bung Tomo sampai di Tasikmalaya dan Jakarta. Tanggal 30 Seeptember orang Surabaya masih kelihatan ngentruk miskin tak berdaya. Tanggal 1 Oktober Arek-arek Surabaya sudah bersenjata, bergerombol berlalu-lalang di jalan kota, bahkan mereka sudah naik mobil dan truk rampasan, naik kendaraan sambil menyanyi-nyanyi Dari Barat sampai ke Timur, sajaknya yang semula “bahagia” diganti “Merdeka!”

1 Oktober 1945.

Pagi-pagi sekali Drg Mustopo sebagai Ketua BKR Jawa Timur bersama pasukannya (Abdul Wahab, Mujoko, Suyono, Moh. Jasin, Rahman) berangkat dari markasnya Jalan Bubutan 87 menuju ke Comidiestraat tempat Markas Tobu Jawa Butai. Tempat itu sudah dikepung sejak malam oleh rakyat Surabaya. Tobu Jawa Butai adalah markas pusat tentara darat Jepang untuk Jawa Timur. Setelah hari terang Mustopo berseru kepada komandan pasukan Jepang yang berada di gedung (gedung HVA = Handels Vereneging Amsterdam, kantor perserikatan dagang Belanda, zaman Jepang digunakan markas Tobu Jawa Butai) agar menyerah, karena markas sudah dikepung. Jendral Iwabe, komandan, mau menerima Mustopo dan kawan-kawannya. Maka diadakan serah-terima kekuasaan dari Komandan Tobu Jawa Butai kepada Ketua BKR Jawa Timur. Pada waktu itu masih ada sisa-sisa markas pasukan Jepang yang belum menyerah, maka timbul ide dari para pemuda yang hadir, agar Jenderal Iwabe membuat surat dengan huruf kanji, agar menyuruh semua tentara Jepang menyerahkan diri tidak melawan pasukan Indonesia. Dengan surat itu ditunjukkan ke tempat-tempat markas serdadu Jepang yang tidak mau menyerah (termasuk Markas Besar Kenpeitai) maka selesailah masalah perebutan kekuasaan dari serdadu Jepang kepada pemuda Indonesia. (Konon surat itu tidak saja digunakan untuk Markas Besar Kenpeitai Surabaya, melainkan juga diedarkan untuk menaklukkan pasukan Jepang di Mojokerto dan sekitarnya).

Sampai pagi hari tanggal 1 Oktober 1945 pasukan Jepang yang tidak mau menyerah adalah Markas Kenpeitai di gedung dulunya Paleis van Justitie (Gedung Pengadilan). Gedung ini pada zaman Jepang digunakan untuk Markas Kenpeitai, di mana banyak pejuang Indonesia diseret ke situ. Antara lain: Pamuji, A. Rakhman, Cak Durasim, Ir. Darmawan Mangunkusumo. Gedung itu dikepung, diserbu oleh rakyat beserta para petinggi BKR dan Polisi Istimewa. Antara lain yang mengurung dan menyerbu: Pemimpin Pasukan Khusus Abdul Wahab, Hasanudin Pasopati, Suharyo Kecik. Polisi Istimewa Mohammad Jasin, pasukan PRI Pramudji, Rambe, Sidik Arslan. Banyak timbul kurban dalam pertempuran itu. Pertempuran baru berhenti jam 16.00, karena jasa Mohammad Jasin, Polisi Istimewa. Ia masuk ke Kenpeitai, menemui komandannya yang sudah dikenal karena sama-sama polisi pada zaman Jepang. Akhirnya komandan tadi diajak M.Jasin keluar di teras gedung dengan mengibarkan bendera Merah-Putih. Tembak-menembak berhenti, dan selesai. Pemimpin Pasukan Khusus Abdul Wahab yang juga menjabat Ketua BKR Karesidenan Surabaya terkena peluru pahanya. Terpaksa tidak bisa giat lagi dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Kedudukannya sebagai Ketua BKR Karesidenan Surabaya diganti oleh wakilnya Yonosewoyo.

Gedung Kenpeitai yang sudah damai masih ditempati oleh sebagian kecil pasukan Kenpeitai, dan separoh lainnya ditempati pasukan baru yang menamai dirinya Polisi Tentara BKR. Pemimpinnya Suharyo Kecik, wakilnya Hasanudin Pasopati. Kebetulan tanggal 5 Oktober 1945 BKR (Badan Keamanan Rakyat) diubah nama dan fungsinya menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), sehingga nama Polisi Tentara Keamanan Rakyat bisa disingkat PTKR).

Selain Markas Kenpeitai, yang masih tidak mau menyerah dan melawan adalah Markas Kaigun Gubeng. Di sini juga banyak korban jiwa di antara para pemuda pengepungnya. Pertempuran baru selesai ketika Ketua BKR Kota Sungkono dan Ruslan Wongsokusumo menemui Laksamana Shibata di Ketabang (Jagung Suprapto). Setelah berunding, maka Laksamana Shibata memerintahkan penghentian tembak-menembak. Pertempuran pun usai.

Tanggal 1 Oktober adalah awal kedatangan tawanan wanita Belanda dari Semarang. Kebetulan Huiyer dari Angkatan Laut Belanda yang sudah merebut Pangkalan Angkatan Laut di Perak secara administrasi datang lagi di Surabaya. Dia melaporkan ikut sibuk mengurusi baik tentang misinya sebagai utusan Helfrich, maupun kedatangan tawanan wanita dari Semarang tadi. Ia melapor kepada Residen Sudirman yang waktu itu kepala pemerintahan tertinggi di Surabaya. Huiyer datang naik pesawat terbang khusus, pinjaman dari Hellfrich. Tapi tanggal 1 Oktober itu lapangan terbang Morokrembangan sudah dikuasai oleh pemuda Indonesia. Hijyer tidak bisa lagi terbang. Ia nanti ketahuan kedoknya sebagai orang Belanda yang mau menjajah lagi Indonesia, perginya naik keretaapi, sampai di Nganjuk ditawan oleh pemuda di sana, dan dikembalikan ke Surabaya, ditawan di Kalisosok.
Peran PRI sangat mendukung. Sekarang PRI juga bersenjata. Maka untuk menyempurnakan urusan organisasi, Sumarsono menduduki Simpang-club (Balai Pemuda) menjadi Markas Besarnya.
Bung Tomo yang dipilih sebagai urusan penerangan PRI pergi ke Jakarta untuk ikut rapat KNIP dengan sangu senjata rampasan cukup banyak.

12 Oktober 1945.

Para petinggi Surabaya menjemput Gubernur Jawa Timur RMTA Suryo di perbatasan Surabaya-Bojonegoro. RMTA Suryo adalah Gubernur Jawa Timur yang dipilih oleh Pemerintah Pusat Jakarta. Dulunya adalah Fuku Syutjo (wakil Residen) Bojonegoro, sama tingkatnya dengan Fuku Syutjo Surabaya Sudirman. Dengan datangnya Gubernur Suryo menunaikan tugas di Surabaya, kian kuatlah organisasi pemerintahan di Jawa Timur dalam suasana Indonesia Merdeka tanpa tentara asing menginjak bumi Jawa Timur.

Bung Tomo pulang dari Jakarta membawa oleh-oleh pikiran bagaimana menghimpun massa dan bagaimana mendirikan pemancar radio. Dengan kedua pemikiran yang diperoleh dari pemimpin-pemimpin di Jakarta itu, Bung Tomo yang semula bertugas sebagai seksi Penerangan PRI pusat, membentuk sendiri kekuatan massa dengan nama Barisan Pemberontakan Rakyat Surabaya bermarkas di Jalan Biliton 7 Surabaya, serta bersama ahli-ahli teknik radio RRI Surabaya mendirikan pemancar radio dengan nama yang sama di Jalan Mawar 10 Surabaya.

15 Oktober 1945.

Pemerintah Belanda (NICA = Netherlands Indies Civil Administration adalah pemerintah pengungsian Hindia Belanda di Australia bentukan H van Mook, deengan tujuan akan kembali menjajah Indonesia setelah Perang Dunia II, Belanda ikut sebagai pemenang karena membantu Sekutu) untuk menjajah Indonesia kembali kian cemas melihat perkembangan di Surabaya. Setelah melalui Intercross, RAPWI, bahkan Mistiff Carbolic dan petualangan PJG Huiyer tidak berhasil menguasai Surabaya, mereka mencoba mendaratkan angkatan lautnya dengan sekoci-sekocinya di Kedungcowek. Tapi segera ketahuan oleh penduduk, dan diteriaki “Siaaap!”, mereka gagal mendarat.

24 Oktober 1945.

Pada tanggal 24 Oktober 1945 sekira jam 11.00 pagi tampak sebuah pesawat terbang melayang-layang di tepi laut Perak. Ternyata pesawat tadi mengawal iring-iringan konvoi terdiri sekitar 6 destroyer dan kapal sejenis LST dan sejumlah kapal biasa sebanyak ± 60 buah. Di antaranya ada yang langsun mendarat di Rotterdamweg (Jl.Zamrut) Tanjungperak. Kapal perang yang lain mendarat di gedung Armada Moderlust. Itulah pendaratan pasukan Inggris ke Surabaya yang dipimpin oleh Brigadir AWS Mallaby. Tugas Mallaby adalah mengangkut keluar para tawanan perang asing dari Surabaya, baik orang asing yang ditawan oleh Jepang dulu (yang jumlahnya cukup banyak ± 4000 orang), maupun orang Jepang yang sudah takluk. Sebetulnya beberapa hari sebelumnya Menteri Penerangan Amir Syarifuddin telah memberi instruksi kepada Drg Mustopo bahwa akan tiba pasukan Inggris yang bertugas menjemput tawanan perang, jangan dihalang-halangi. Namun ketika mendapat laporan bahwa pasukan Inggris pimpinan Brigadir AWS Mallaby mendarat dengan begitu banyak kapal peerang, Mustopo sebagai Ketua BKR Jawa Timur merasa tidak nyaman ada tentara asing menginjakkan kakinya di Surabaya. Malam hari itu, dikawal oleh Dr. Sugiri, AWS Mallaby menemui “pemerintah” Surabaya di Kantor Gubernur. Sebagai pusat pemerintahan di situ piket Drg. Mustopo, M.Yasin, Bung Tomo dengan mikrofonnya. Di situ untuk pertama kalinya Mallaby bertemu deengan Mustopo. Mustopo bilang, kalau mau mendarat di Surabaya harus mendapat izin dari pemerintah. Mallaby tanya, “From whome we have to get permission to land our troops?” Dijawab Mustopo, “From the Minister of Defence of The Republic of Indonesia.” Mallaby, “Where can I meet your Minister of Defence?” Mustopo, “He sits before you.” Langsung Mallaby menyebut Mr berubah menjadi “Your Excellency”. Setelah itu dirundingkan bagaimana pasukan Mallaby bisa menunaikan tugas menjemput tawanan di Surabaya. Mustopo menganjurkan pasukan Mallaby tidak perlu mendarat lebih dari 800 meter dari pelabuhan. Nanti pasukan Indonesia saja yang mengantarkan para tawanan ke pelabuhan. Tapi Mallaby menolak tawaran ini dan akan terus menerjunkan pasukannya memasuki Kota Surabaya.

24 – 31 Oktober 1945.

Setelah pertemuan itu hari-hari atau malam hari Mustopo beberapa kali bertemu dengan Mallaby atau stafnya. Mallaby tetap bersikeras menerjunkan pasukannya ke pusat kota. Pernah mereka bertemu dengan kapasitasnya sebagai tentara di Prapatkurung, tidak dapat persetujuan. Pernah juga Mustopo diculik dari markasnya di Gedung HVA diharuskan membebaskan kpara interniran di penjara Kalisosok. Para tawanan asing, termasuk Huiyer, dibebaskan. Dalam keadaan panik Mustopo mengumumkan akan pidato di RRI, menolak kehadiran tentara Inggris di Surabaya. Siang hari sebelum pidato, Mustopo disertai para BKR anak buahnya berkeliling naik kendaraan mengumumkan penolakannya terhadap pendaratan tentara Inggris. Para Arek-arek Surabaya yang sudah merasa merdeka dan punya senjata, dengan berapi-api mendukung penolakan Mustopo. Ketika berpidato di RRI sanja harinya, Mustopo hanya berteriak, “Nica! Nica! (baca nika) Jangan mendarat! Kamu tahu aturan! Kamu tahu aturan, Inggris! Kamu sekolah tinggi! Jangan mendarat!” Tetapi pasukan Mallaby secara beregu maupun berkelompok lebih banyak, dengan senjata lengkap memasuki kota, menduduki tempat-tempat yang strategis seperti: Gedung Internatio (Jembatan Merah), gedung BPM (pertamina Jl. Veteran), Gereja Kristen dan Kantor Polisi di Bubutan, Kompleks SMAN Wijayakusuma, RRI Surabaya Jl. Simpang (depan rumahsakit yang sekarang jadi Surabaya Plaza), Konsulat Inggris dan Gedung olahraga dayung di Kayun, Rumahsakit Darmo dan sekitarnya, Kantor BAT Ngagel. Dengan keadaan seperti itu Mustopo menganjurkan kepada rakyat Surabaya supaya menghalang-halangi tentara asing itu menduduki bumi Surabaya yang merdeka. Mustopo sendiri lalu mengatur siasat Himitsu senso sen (perang rahasia) dikombinasikan dengan Senga sen (perang kota). Untuk melakukan siasat itu Mustopo pergi keluar Surabaya, singgah dulu ke Markas Besar PRI di Simpangs-club. Di sana diinterogasi oleh pemuda-pemuda PRI antara lain Sumarsono. Menuju keluar Surabaya, Mustopo melalui Wonocolo, memberi instruksi perang kepada kelompok BKR di sana (pabrik kulit Wonocolo), lalu ke Sidoarjo, Krian, Mojokerto, hendak menuju ke Gresik. Di Mojokerto ditawan oleh anggota PTKR Sabarudin, ditawan di Mojosari. Baru tanggal 30 Oktober 1945 dibawa oleh Sabarudin menghadap Bung Karno/Bung Hatta di rumah Gubernur Simpang (Grahadi).

Apa instruksi Mustopo dilaksanakan benar oleh Arek-arek Surabaya di segala lapisan, baik yang masuk organisasi masa seperti PRI, Hisbullah, BPRI, BKR kota, maupun sebagai orang kampung perorangan. Jalan-jalan besar seluruh Kota Surabaya yang pada zaman Jepang tidak pernah dilalui kendaraan (karena kendaraan bermotor hanya untuk berperang), maka kini dirintangi dengan segala barang tak berguna, misalnya batang pohon yang ditebang, almari atau kursi, dan di perempatan jalan selalu berkerumun rayat untuk menghalangi kendaraan asing yang lewat. Selain jalan, juga rakyat banyak tadi mengepung tempat-tempat yang diduduki oleh pasukan Inggris yang jumlahnya hanya beberapa regu saja. Karena tegang, kemudian tidak lagi ada kesabaran, terjadilah tembak-menembak antara rakyat Surabaya yang mengepung gedung, dengan seregu-empat regu pasukan Inggris yang di gedung. Alioran listrik dan air dimatikan. Meskipun pasukan Inggris dilengkapi dengan senjata hingga timbul kurban di antara rakyat yang mengepung, tapi mati satu tumbuh seribu. Pengepungan rakyat tidak bakal surut. Selama tiga hari (27-28-29 Oktober) terkurung di gedung, tentara Inggris tentu tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Peluru habis, makan habis, minta pertolongan lewat udara tidak mungkin, lari lewat darat juga tidak mungkin lagi. Sebentar lagi pasti hancur. Dendam rakyat Surabaya tidak bisa dibendung. Misalnya di Gedung RRI yang tingkat dua. Semula dengan senjata otomatis pasukan Inggris (kebanyakan sewaan dari India yang disebut Gukha) bisa membunuh rakyat yang berkerumun di depan gedung, ditembaki dari tingkat dua. Namun akhirnya rakyat yang dibantu oleh Polisi Istimewa, dapat membakar gedung RRI itu dari tingkat bawah. Tentu tentara Gurkha yang di tingkat dua akan terbakar juga. Mereka terpaksa lari keluar lewat ruang bawah yang terbakar. Yang selamat bisa melintas diterima oleh rakyat yang sudah terlalu banyak menderita korban jiwa. Jadi mereka yang lari dari gedung juga langsung saja dibunuhi.

Tanggal 28 Oktober 1945, baru dikurung dua hari saja, pasukan Inggris bisa dipastikan akan hancur seluruhnya. Brigadir Mallaby jadi was-was. Dia harus menghentikan kehancuran ini. Kepada siapa harus minta tolong? Minta tolong berdamai dari pihak pemerintah Surabaya tidak mungkin. Satu-satunya jalan minta tolong ke markas pusatnya di Jakarta. Minta dikirimkan orang yang bakal dipatuhi oleh Arek-arek Surabaya. Siapa? Setelah dirunding-runding, akhirnya jatuh pilihan mendatangkan Presiden Sukarno. Padahal pasukan Sekutu pemenang perang belum mengakui adanya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tapi akhirnya memenuhi permintaan Mallaby, mereka meminta Presiden Sukarno mendamaikan pertempuran di Surabaya. Kabar kedatangan Presiden Sukarno sudah diumumkan. Tapi rakyat Surabaya sudah tidak mau lagi percaya dengan janji-janji orang Inggris. Sudah beberapa kali sebelum tembak-menembak di Surabaya, patinggi bangsa Indonesia di Surabaya berunding dengan pihak Mallaby, sudah disepakati sesuatu, tapi kemudian dilanggar. Maka kabar bakal datangnya Presiden Sukarno juga harus diwaspadai. Radio Pembrontakan Rakyat Surabaya dengan suara Bung Tomo yang selalu memantau perkembangan pertempuran bersuara keras, para pemuda di Lapangan Terbang Morokrembangan harus sigap. Kalau yang turun bukan Presiden Sukarno, harap ditembak saja dengan penumpangnya yang lain.

Ternyata betul. Yang datang Bung Karno diikuti Wakil Presiden Mohamad Hatta, dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin. Turun dari pesawat mereka disambut oleh pemuda, dinaikkan kendaraan, dibawa lari masuk kota dengan bendera Merah-Putih selalu dikibarkan di konvoi mubil. Waktu itu Kota Surabaya sedang hujan peluru, dan jalan-jalan besar dihalangi baik oleh barang, maupun gerombolan pemuda. Namun rombongan Presiden Sukarno bisa dilarikan ke rumah Residen Sudirman di Van Sandicctstraat (Jl. Residen Sudirman). Di sana diberi laporan dulu oleh pihak pemerintah Indonesia.

Baru keesokan harinya berunding dengan Mallaby di rumah dinas Gubernur (Grahadi). Sebelum Mallaby tiba, datang dulu Drg. Mustopo yang digiring oleh Sabaruddin. Oleh para petinggi negara, antara lain Wakil Presiden Moh. Hatta, Mustopo dianggap sebagai pemicu pertempuran dengan pasukan Inggris di Surabaya. Perbuatan yang salah. Makanya langsung dipecat dari jabatannya oleh Presiden Sukarno.

Hasil perundingan dengan Mallaby, harus secepatnya diumumkan gencatan senjata. Pengumuman tadi harus segera disiarkan. Di siarkan lewat mana, wong RRI Simpang sudah terbakar hangus? Akhirnya diumumkan lewat siaran Radio Pemberontakan Rakyat Surabaya Jalan Mawar 10. Bung Karno dan Mallaby bersama staf pergi ke sana untuk mengumumkan gencatan senjata.

Baru keesokan harinya (30 Oktober) diadakan perundingan yang mengatur jalan tugasnya Mallaby mengangkut para tawanan keluar Surabaya. Perundingan diadakan di Kantor Gubernur. Harus menunggu kedatangan Panglima Divisi India 23, Mayor Jendral D.C.Hawthorn, atasan Mallaby. Hawthorn tiba dengan pesawat dari Jakarta jam 09.15.
Sementgara itu para pemuda Surabaya berdemonstrasi di depan tempat berunding, mereka dengan gagah mengendarai tank rampasan dari Jepang, berputar-putar tak berhenti di depan bekas gedung Kenpeitai yang sudah menjadi gedung PTKR. Arek-arek Surabaya saat itu sebagai pihak yang menang perang!

Diperoleh hasil, bahwa pasukan Mallaby diperbolehkan mengangkut tawanan dengan mobil-mobil pasukan Inggris dari segala tempat tawanan (tawanan bangsa Eropa terbanyak di Rumah Sakit Darmo, sedang prajurit Jepang di Jaarmarkt (Hitech Plaza) dan Penjara Koblen. Jalan-jalan besar yang akan dilalui mobil angkutan harus dibuka lebar. Untuk mengawasi penyelenggaraan itu maka dibentuk Kontak Biro, yaitu yang terdiri dari petinggi pasukan Inggris dan petinggi pemerintah Kota Surabaya. Anggota Kontak Biro (Contact Bureau) Inggris adalah: Brig. AWS Mallaby, Colonel LPH Pugh, Mayor M.Hodson, Capt. H.Show, Wing Commander Groom. Dari Indonesia: Sudirman (Resident), Dul Arnowo, Atmadji, HR.Mohammad, Sungkono, Suyono, Kusnandar, Ruslan Abdulgani, T.D.Kundan.

Jam 13 Kontak Biro sudah selesai disusun, ditandatangani oleh Hawthorn dan Presiden Sukarno. Karena Kontak Biro sudah terbentuk, tinggal pelaksanaannya saja, maka Mayor Jendral D.C.Hawthorn dan rombongan Presiden Sukarno meninggalkan tempat terbang kembali ke Jakarta.

Kontak Biro terus berunding, akan bekerja menurut aturan yang ditetapkan. Rencana bekerja selesai jam 16.30. Waktu itu di sana sini masih terdengar tembak-menembak..Maka harus dicegah. Gencatan senjata harus dilaksanakan. Maka para perunding langsung bekerja akan mendatangi tempat yang masih terdengar tembak-menembak. Yaitu yang pertama di Jembatan Merah. Dengan beberapa mobil dari depan gedung Gubernur tempat mereka berunding, mereka menuju pertama kali ke Jembatan Merah. Waktu melalui jalan Societeitstraat (Jl. Veteran), rombongan mobil sering dihadang oleh pemuda-pemuda Surabaya yang memprotes mengapa harus gencatan senjata, wong kita menang. Tentara Inggris harus meninggalkan gedung, agar aman. Mendapat hadangan begitu gaanti-berganti Dul Arnowo dan Residen Sudirman memberikan penerangan tentang pentingnya gencatan senjata. “Ya, tentara Inggris harus meninggalkan gedung, baru aman!”
Gedung Internatio di sebelah barat lapangan Jembatan Merah, diduduki tentara Inggris. Mereka dikurung oleh rakyat Surabaya, tapi masih saja melawan. Maka rombongan mobil Kontak Biro melalui Herenstraat (Rajawali) mendekati gedung Internatio. Berhenti di pertiga depan gedung. Hanya mobil Mallaby yang menuju depan gedung. Di sana, komandan pasukan Inggris Mayor Venu Gopal (Gurkha) keluar di teras, bercakap-cakap dengan Mallaby. Setelah itu, Mallaby dengan mobilnya berangkat lagi ke utara, lalu belok ke timur melalui Willemplein Noord (jalan sebelah utara lapangan) menuju Jembatan Merah. Sepanjang perjalanan dikerumuni para pengepung gedung Internatio, minta supaya tentara Inggris angkat kaki dari gedung. Sampai di ujung barat Jembatan Merah bertemu lagi dengan rombongan mobil dari Kontak Biro Indonesia. Permintaan rakyat kian ramai, sehingga rombongan sulit berjalan. Maunya meneruskan misi ke daerah Kembangjepun yang juga masih terdeengar tembak-menembak. Tetapi karena penuh sesak dikerumuni rakyat, para pihak Kontak Biro berunding di tempat. Akhirnya Mallaby setuju mengutus stafnya datang ke gedung, untuk membicarakan hal meninggalkan gedung. Yang diutus Kapten Show, perwira penyelidik yang sudah beberapa kali ikut berunding dengan pihak Indonesia. Kepergian Kapten Show akan diikuti oleh utusan dari Indonesia. Dipilih HR.Mohammad, yang berpakaian tentara dan yang paling tua. Untuk mengetahui bahasa mereka di gedung, pihak Indonesia menyertakan TD.Kundan (warga Surabaya keturunan India) sebagai jurubahasa. Ketiga orang tersebut menyeberangi taman Willemplein (Taman Jayengrono), lalu masuk ke gedung. Namun belum sampai 15 menit, terlihat TD Kundan lari keluar dari gedung, dan menyuruh orang bertiarap atau berlindung. Akan ada tembakan. Belum jelas teriakan TD Kundan, ternyata benar terdengar rentetan tembakan dari dalam gedung. Maka gemparlah pengepung gedung di lapangan. Termasuk para anggota Kontak Biro Indonesia. Mereka pada menyelamatkan diri, kebanyakan terjun ke Kalimas, dan menyeberang ke sebalah timur. Karena sudah berunding begitu lama (dari pagi sampai magrip) dengan akhir begitu, para petinggi Kontak Biro Indonesia tidak bertemu lagi malam itu, masing-masing pulang sendiri-sendiri. HR. Mohammad masih terkurung di dalam gedung. (Baru keesokan harinya dilepas oleh tentara Inggris di gedung itu). Keesokan harinya (31 Oktober 1945) mobil Mallaby ditemukan hancur di tempat, Dan Brigadir Mallaby tewas di dalamnya. Konon ditemukan oleh Dr. Sugiri, dan dibawa ke Rumah Sakit Simpang Surabaya.

Hari Rabu 31 Oktober 1945, Jendral Christison selaku Panglima Tentara Sekutu untuk Asia Tenggara mengeluarkan pengumuman yang mengandung ancaman (Warning to Indonesian), Presiden Sukarno mendapat perintah untuk datang jam 11 di Markas Besar Jendral Christison di Jakarta. Diberi tahu bahwa Brigadir AWS Mallaby telah dibunuh secara keji sekali, ketika menjalankan tugas berunding dengan pemimpin extremis Indonesia (Kantor Berita Belanda ANP). Dul Arnowo memberikan laporan berdasarkan kenyataan. Malam itu juga Presiden Sukarno berpidato melalui radio, menyesalkan kejadian tersebut. Dalam pidatonya antara lain mengemukakan: Surabaya merupakan satu kekuatan nasional kita. Di Surabaya TKR tersusun sangat baik. Pemuda dan kaum buruh telah membentuk persatuan-persatuan yang sangat teguh.

1 – 10 November 1945.

Hari-hari selanjutnya keadaan Kota Surabaya tidak banyak bergolak. Pelaksanaan pengangkutan tawanan perang berjalan lancar-lancar saja seperti yang telah dikukuhkan pada rapat-rapat Kontak Biro yang lalu. Gubernur RMTA Suryo melaksanakan tugas dengan sebaiki-baiknya. Pertamakali mengatur perekonomian rakyat Jawa Timur. Mengundang para pejabat datang ke Kantor Gubernur, diadakan arahan.
Hari Rabu 7 November 1945, Ruslan Abdulgani selaku sekretaris Kontak Biro menerima telepon dari Wing Commander Groom, pengganti Kapten Shaw, menyampaikan undangan kepada Gubernur Suryo bersama pemimpin dan anggota Kontak Biro untuk datang ke Bataviaweg (Jl. Jakarta) berkenalan dengan Jenderal Manseergh, pengganti Brigadir Mallaby. Jam 12.00 dengan berkendaraan mobil anggota Kontak Biro dan Gubernur Suryo menuju Bataviaweg. Kolonel Pugh dan Wing Commander Groom menerima rombongan di ruang sidang. Mayor Jenderal Mansergh yang berbadan tegap dan mengempit tongkat komando di tangan kiri masuk ruangan. Setelah berjabatan tangan dengan rombongan, semua dipersilakan duduk. Mansergh lalu mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan minta agar TD.Kundan untuk menterjemahkan akan apa yang dibacanya. Isi surat yang bernomor G-5 12-1 semula tertanggal 3 November 1945 dicoret dengan tinta dan diganti menjadi 7 November 1945 itu menuduh bahwa telah diinsafi sepenuhnya oleh selurujh dunia, bahwa orang-orang yang tidak bertanggung jawab dibiarkan membawa senjata, dibiarkan merampok, melakukan pengkhianatan dan pembunuhan terhadap wanita-wanita dan anak-anak yang tidak bersenjata, dan melakukan lain-lain tindakan keganasan yang sangat biadab. Itu semua menjadi tanggung jawab Tuan (Gubernur Jawa Timur). Mansergh minta supaya diatur lebih lanjut mengenai evakuasi warga negara asing yang ingin dipulangkan, dan supaya semua tentara Sekutu yang luka dan hilang, truk, peralatan dan sebagainya dengan segera dikembalikan.

Semua tuduhan Mansergh disangkal oleh Gubernur Suryo dengan tegas tapi sopan.

Kemudian Mansergh meninggalkan sidang dan minta Kolonel Pugh untuk mewakili fihak Inggris. Perbuatan ini ditiru oleh Gubernur Suryo. Ia berdiri dan meninggalkan sidang dan menugaskan Dul Arnowo dan Sungkono untuk meneruskan pembicaraan atas nama Indonesia. Perundingan dilanjutkan dengan suasana tegang.

Secara diam-diam Sekutu memperkuat posisinya. Tanggal 1 November pukul 08.00 Laksamana Muda Patterson dengan kapal perang HMS Sussex tiba di Surabaya, 1500 pasukan didaratkan dengan kapal Carron dan Cavallier. Tanggal 3 November menyusul pula Mayor Jendral E.C.Manseergh, Panglima Divisi ke-5 Infanteri India, tiba di Surabaya dengan membawa 24.000 pasukan, lengkap dengan panser, satu divisi arteleri dilindungi dari Tanjungperak dan Ujung oleh satu kruiser dan empat destroyer dengan meriam jarak jauh yang lengkap, ditambah 21 Sherman tank dan meriam yang dilindungi 24 pesawat terbang jenis Mosquito (pemburu) dan Thunmderbolts (pelempar bom). Pesawat-pesawat ini berpangkalan di kapal-kapal perusak yang mengadakan straffing serta menjatuhkan bom-bom di Surabaya. Kekuatan laut yang dikerahkan oleh Inggris terdiri dari jenis kapal LST destroyer. Kapal itu dibawah komando Naval Commander Force 64 yang dipimpin olehCaptain RCS Carwood. Beberapa buah kapal ini sudah beroperasi sejak kedatangan Inggris 25 Oktober 1945. Dan banyak lagi kekuatan Inggris dari laut, udara dan darat untuk menyerbu Surabaya 10 November 1945.

Esok harinya, Kamis 8 November 1945, Gubernur Suryo menerima sepucuk surat dari Mayor Jendral Mansergh disampaikan melalui kurirnya. Isinya menuduh bahwa Kota Surabaya telah diduduki oleh para perampok, pihak Indonesia tidak menepati janji yang telah dimupakati bersama. Indonesia menghalangi tugas melucuti senjata Jepang. Oleh karena itu ia dengan tentaranya akan menyerbu Surabaya dan sekitarnya, demikian juga daerah lain Jawa Timur, untuk melucuti ‘gerombolan yang tak mengenal aturan tertib hukum itu’. Pada akhir surat Mansergh “memanggil” Gubernur Suryo untuk datang di kantornya hari Jumat 9 November 1945 jam 11.00 pagi.

Gubernur Suryo membalas kedua surat itu bernomer 1-KBK tertanggal 9 November 1945 menjawab satu per satu secara singkat apa yang dituduhkan itu. Surat itu diantarkan ke kantor Manserg oleh Residen Sudirman, Ruslan Abdulgani dan TD Kundan, tiba di tempat Mansergh jam 11.00. Mansergh tidak mengira yang datang hanya utusannya, bukan Gubernur Suryo sendiri. Begitu menerima suratnya, Manseerg lalu memberikan dua dokumen (yang sudah dipersiapkan), yaitu satu ultimatum kepada “All Indonesians of Surabaya” dengan “instruction”. Yang satu lagi adalah surat penjelasan atas ultimatuim tersebut yang dialamatkan kepada RMTA Suryo, tertanggal 9 November 1945 dengan nomor G-512-11.

Surat ultimatum kepada bangsa Indonesia di Surabaya agar menyerahkan segala senjata yang mereka miliki. Semua pemimpin pemerintahan, pemuda, badan-badan perjuangan, diharuskan melapor dan menyerahkan ddiri kepada Inggris. Surat itu juga berisi instruksi cara-cara mereka harus menyerahkan diri. Sedang surat untuk Gubernur Suryo juga dijelaskan macam senjata apa saja yang harus diserahkan. Tidak hanya senapan, pistol, tank, granat, meriam, mortir, tetapi juga “spears, knifes, swords, sarpened bamboos, keris, blow-paper, poisoned arrows and darts”
Sudah ada usaha mencegah dilaksanakan ultimatum oleh RH.Mohammad dan Residen Sudirman, dan juga oleh Dokter Sugiri dan Ruslan Abdulgani. Tetapi tidak berhasil. Surat Gubernur Suryo tidak diperdulikan.

Pada siang hari jam 12.00 pesawat terbang Inggris menyebarkan pamflet di atas Kota Surabaya. Isinya juga ultimatum itu tadi.
Para pimpinan di Surabaya segera mengadakan hubungan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta. Maksudnya melaporkan kepada Presiden agar Presiden mendesak Inggris untuk mencabut ultimatumnya. Sore hari itu Gubernur Suryo, Residen Sudirman dan Dul Arnowo berkumpul di Pension Marijke Embong Sawo untuk membicarakan keadaan yang genting itu. Berkali-kali hubungan telepon ke Jakarta baru bisa sambung 1930 lansung dengan Presiden Sukarno. Presiden sudah berusaha dan Menteri Luar Negeri Akhmad Subarjo juga sudah menghubungi pimpinan tertinggi tentara Inggris di Jakarta. Presiden minta agar para pimpinan di surabaya menanti hasil pembicaraan Menteri Luar Negeri Subardjo. Sampai jam 21.00 belum ada kabar. Pukul 22.00 baru Dul arnmowo berhasil mengadakan kontak lagi dengan Jakarta. Menteri Luar Negeri Akhmad Subardjo sudah bertemu dengan Christison, tetapi tidak berhasil mengubah pendirian pimpinan tentara Inggris agar mencabut ultimatumnya itu. Akhmad Subardjo akhirnya bilang, “…. saya tidak dapat menilai keadaan di Surabaya, kalau Saudara berpendapat dapat mempertahankan kota itu, pertahankanlah!”

Dengan adanya keputusan Pemerintah Pusat melalui Menteri Luar Negeri Akhmad Subardjo, maka Gubernur Suryo dibantu oleh Dul arnowo yang sedang di Kantor Gubernur segera menyusun teks pidato. Teks pidato tadi kemudian disiarkan oleh Gubernur Suryo lewat pemancar RRI Surabaya yang ada di Embong Malang (sekarang jadi hotel JW Marriot).

“Saudara-saudara sekalian,

Pucuk pimpinan kita di Jakarta telah mengusahakan akan membereskan peristiwa di Surabaya pada hari ini. Tetapi sayang sekali sia-sia belaka, sehingga kesemuanya diserahkan kepada kebijaksanaan kita di Surabaya sendiri. Semua usaha kita untuk berunding senantiasa gagal. Untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, maka kita harus menegakkan dan meneguhkan tekad kita yang satu, yaitu berani menghadapi segala kemungkinan.

Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: Lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang tegfuh sikap itu. Kita tetap menolak ultimatum itu.

Dalam menghadapi kemungkinan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara Pemerintah, Rakyat, TKR, Polisi dan semua Badan-badan perjuangan pemuda dan rakyat kita. Mari kita sekarang memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa, semoga kita sekalian mendapat kekuatan lahir batin serta Rahmat dan Taufik dalam perjuangan.

Selamat berjuang!

Demikian isi pidato Gubernur Suryo yang dibacakan dengan tenang, tetapi tegas dan mantap. Pidato itu telah mendapat sambutan rakyat Surabaya dan menambah semangat berjuang mereka. Lebih-lebih sesudah mendengarkan siaran Radio Pemberontakan Rakyat pimpinan Bung Tomo.

Keesokan harinya tanggal 10 November 1945, mulai jam 06.00 Kota Surabaya dihujani peluru dari laut, darat dan udara. Para pemuda dengan bersenjata seadanya melawan serangan-serangan Inggris yang menggunakan granat, mortir, tank raksasa. Yang dihadapi oleh para pejuang hanya jatuhan bom, peluru dan meriam. Orang Inggrisnya tidak kelihatan.

Meskipun begitu, Kota Surabaya yang diperkirakan akan hancur perlawanannya dan takluk selama gempuran satu minggu selesai, ternyata bertahan hingga akhir November 1945. Akhir November 1945, para pejuang Indonesia baru angkat kaki dari Gunungsari dan Waru. Pada bulan Desember 1945, masih ada sisa-sisa perlawanan di Gedangan dan Krian.

Tidak ada lagi pemerintahan bangsa Indonesia di Kota Surabaya sejak itu. Sejak itu Kota Surabaya diperintah oleh A.M.A.C.A.B (Allied Military Adminstration Civil Affairs Branch). Setelah misi pasukan Inggris selesai, pemerintahan kota diberikan kepada pemerintah Belanda.

Baru kembali ke Pemerintah Republik Indonesia tahun 1950. Awalnya sebagai Ibu Kota Negara Jawa Timur, tetapi segera menjadi Ibu Kota Provinsi Jawa Timur, bagian dari provinsi Negara Kesatuan Indonesia Proklamasi 17 Agustus 1945.

Demikian, semoga bermanfaat.

Surabaya, 10 November 2010. .

Graphic1

249
0

SHARE

Facebook
Twitter

DAFTAR  GEDUNG  ATAU  TEMPAT YANG BERNILAI  SEJARAH KARENA TERJADI PERISTIWA PENTING DALAM PERGOLAKAN PERJUANGAN DI SURABAYA BULAN AGUSTUS-NOVEMBER 1945.

  1. Darmo Barrack: Kamp untuk menawan para interniran Belanda pada jaman pendudukan Jepang.
  2. Kohara Butai di Gunungsari: Batalyon tentara Jepang yang banyak menyimpan senjata. Senjata tersebut kemudian jatuh ke tangan bangsa Indonesia, dan dijadikan modal perjuangan.
  3. Lapangan Gunungsari: sebagai tempat mendarat parasutis Mastiff Carbolic yang menyamar sebagai misi RAPWI pada tanggal 18 September 1945. Oleh fihak Jepang rombongan ditempatkan di Hotel Oranje. Di antaranya terdapat seorang Indonesia, Dokter Rubiono. Pagi harinya tanggal 19 September 1945 meletuslah insiden bendera di Hotel Oranje.
  4. Jembatan Wonokromo dan sekitar Kebun Binatang Surabaya: salah satu tempat pertempuran seru antara tentara Sekutu melawan para pejuang Indonesia dalam pertempuran tiga hari maupun pertempuran yang meletus setelah 10 November 1945. Sepanjang jalan dipenuhi dengan barikade.
  5. Rumah Sakit Darmo: tempat interniran Belanda yang menjadi pusat pertahanan pasukan Mallaby. Di depan gedung itulah insiden pertama meletus antara pasukan Mallaby dengan pejuang Indonesia, 27 Oktober 1945.
  6. Gedung Sekolah Menengah Tinggi Jalan Darmo Boulevard 49: tempat pembentukan BKR Pelajar di bawah pimpinan Mas Isman. Pada perkembangan selanjutnya BKR Pelajar menjadi TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar).
  7. Gedung Sekolah St. Louis Coen Boulevard 7 (sekarang Jt. Dr. Sutomo): Markas Polisi Istimewa di bawah pimpinan M. Yasin. Pada tanggal 20 Agustus 1945 di markas Polisi Istimewa ini telah terjadi penurunan bendera Jepang Hinomaru diganti dengan Merah Putih. Aksi tersebut diteruskan dengan pengambilalihan persenjataan oleh anggota Polisi Istimewa dari tangan dan gudang Jepang di belakang markas.
  8. Pos polisi, perempatan Darmo Boulevard dan Coen Boulevard: tempat ini yang ditunjuk oleh Mayor Jendral E.C. Mansergh dalam pamflet ultimatumnya di mana pejuang Indonesia harus menyerahkan senjatanya.
  9. Gedung sebelah bioskop Dana, antara Darmo Boulevard dan Tamarindelaan (Pandegiling): tempat pembentukan/berdirinya Hokodan (Barisan Kebaktian) SE. 21/24 pada tanggal 10 April 1945. Setelah Indonesia Merdeka Hokodan pimpinan M. Afandi menjadi PAL (Penataran Angkatan Laut), kaum pekerja yang menguasai daerah Ujung.
  10. Gedung Jalan Kayun 34: tempat perundingan resmi pertama kali antara Pemerintah R.I. Daerah Surabaya dengan fihak Sekutu, masing-masing diwakili oleh Drg. Mustopo dan Brigadir A.W.S. Mallaby pada tanggal 25 Oktober 1945. Bertindak sebagai juru bahasa Yetty Noor (mahasiswa).
  11. Gedung Jalan Kayun 72-74: sekarang Kantor Pusat IKIP Negeri  Surabaya. Dulu sebagai gedung Konsulat Inggris di Surabaya. Ketika Huiyer ditangkap di Kertosono, dikembalikan ke Surabaya, pada tanggal 19 Oktober 1945, ditahan di gedung ini. Kemudian bersama-sama dengan tawanan APWI lainnya pada pertengahan Oktober 1945 dimasukkan ke Penjara Kalisosok.
  12. Rumah Jalan Biliton 7: tempat terbentuknya Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia Surabaya pimpinan Bung Tomo.
  13. Gedung Don Bosco di Princesselaan (Jalan Tidar): Gudang senjata Jepang terbesar di Surabaya. Diserbu dan direbut oleh rakyat Surabaya pada akhir September 1945. Senjata itu dibagi-bagikan kepada rakyat dan sebagian oleh Bung Tomo dikirim ke Jakarta. Cara pengambilalihan senjata di Don Bosco kemudian dijadikan model dalam pengambilalihan obyek kekuasaan Jepang lainnya di seluruh Jawa Timur. Gedung Don Bosco kemudian dijadikan Markas Genie Pelajar (TGP) di bawah pimpinan Hasanuddin Pasopati.
  14. Gedung di Kaliasin 121-125, sekarang Kantor PDAM: tempat Markas BKR Kota Surabaya di bawah pimpinan Sungkono. Kemudian pindah ke Jimertostraat 25 (sekarang Kantor Walikotamadya Surabaya), pindah lagi ke Kaliasin (Kantor DAMRI sekarang), dan terakhir pindah ke Pregolan 2-4. Dekat dengan Markas Pasukan Berani Mati di oowah pimpinan Jarot Subiyantoro.
  15. Gedung di Embong Malang, dulu pemancar NIROM (radio Belanda), kemudian menjadi pemancar Radio Surabaya. Studionya pada jaman Jepang ( Hosokyoku) berada di Simpangweg (gedung RRI Surabaya Jalan Pemuda sekarang). Ketika pada 29 Oktober 1945 studio Radio Surabaya hancur terbakar dalam perang dengan tentara Mallaby, siaran Radio Surabaya dilanjutkan di Embong Malang, di situlah Gubernur Jawa Timur RMTA Suryo mengucapkan pidato keramatnya menjawab ultimatum Mayor Jendral E.C. Mansergh pada tanggal 9 November 1945 malam hari (menjelang 10 November 1945).
  16. Gedung Radio Surabaya Simpangweg (Jalan Pemuda sekarang): dipergunakan rapat Pemuda Pelajar yang mencetuskan tekad meraka membela tanah air pada tanggal 1 Juli 1945. Di sini Bung Tomo untuk pertama kalinya mengucapkan pidato radio. Dalam pertempuran 28-29 Oktober gedung ini diduduki pasukan Mallaby dan menjatuhkan banyak kurban di fihak rakyat Surabaya. Akhirnya gedung ini dibakar oleh rakyat Surabaya dan pasukan Inggris yang berada di situ dihabisi nyawanya tak ada yang tersisa hidup.
  17. CBZ (Rumah Sakit Umum Simpang), sekarang berdiri bangunan Delta Plaza: tempat penampungan/perawatan para korban yang luka-luka. Juga fihak musuh yang luka dan tertawan dirawat di sini. Banyak yang tidak tertolong jiwanya dan dimakamkan secara massal di belakang Rumah Sakit.
  18. Balai Pemuda. Dulu Simpangsche Societeit. Menjadi Markas Besar PRI (Pemuda Republik Indonesia) Pusat. Organisasi pemuda ini sering bertindak ekstrim, dan banyak orang Indonesia atau Belanda dituduh mata-mata diinterogasi oleh Bagian Penyelidik PRI di gedung ini.
  19. Hotel Oranje, Yamato Hoteru, Hotel Majapahit Jalan Tunjungan: Menjadi pusat kegiatan orang-orang Eropa dan Belanda untuk mengembalikan kekuasaan Belanda di Surabaya. Oleh Sekutu direncanakan sebagai Markas Besar mereka. Ketika orang-orang bekas interniran Belanda mengibarkan bendera Belanda pada tiang gapura hotel, maka terjadi insiden perobekan bendera itu oleh orang-orang Indonesia pada tanggal 19 September 1945. Bendera Belanda itu dirobek warna birunya sehingga tinggal warna merah dan putihnya, lalu bendera merah putih tadi dikibarkan kembali di puncak tiang.
  20. Jalan Mawar 10-12: tempat Radio Pemberontakan Rakyat Surabaya Bung Tomo. Karena Radio Surabaya Simpang dibakar, maka untuk menyerukan penghentian tembak-menembak tanggal 29 Oktober 1945 Brigadir Mallaby dan Presiden Sukarno menggunakan Radio Pemberontakan di Jalan Mawar itu.
  21. Embong Sawo 34-36: Markas BKR Karesidenan Surabaya di bawah pimpinan Yonosewoyo.
  22. Embong Wungu 2-4: Markas Besar AL Jepang di bawah komando Laksamana Shibata. Pada tanggal 3 Oktober 1945 diserbu oleh pemuda Indonesia.
  23. Jalan Tunjungan 100 – Embong Malang 2: Setelah Kantor Berita Jepang Domei ditutup, wartawan nasionalis Indonesia mendirikan Kantor Berita sendiri bertempat di sudut jalan Tunjungan dan Embong Malang, dengan nama Kantor Berita Indonesia. Setelah diintegrasikan dengan Kantor Berita Nasional Antara, namanya menjadi Kantor Berita Indonesia Antara. Dari Kantor Berita tersebut selebaran Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia disebarluaskan.
  24. GNI (Gedung Nasional Indonesia) Jalan Bubutan: Pusat Pergerakan Nasional sejak jaman Hindia Belanda. Tempat pembenetukan KN I dan BKR dari tanggal 25 27 Agustus 1945. Tempat mempersiapkan rapat raksasa di Lapangan Tambaksari tanggal 21 September 1945.
  25. Penjara Koblen: Tempat tawanan Jepang di samping penjara Kalisosok dan Jaarmark. Ketika didengar berita Jepang mengadakan pembantaian terhadap rakyat Indonesia di Semarang (Batalyon Kido), rakyat Surabaya menjadi panas hatinya dan mengadakan aksi pembalasan dengan menyembelih Jepang di Penjara Koblen ini. Korban kira-kira 150 orang Jepang.
  26. Lapangan Pasarturi (dulu letaknya di belakang Pasarturi dekat viaduct). Pada hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia genap satu bulan, diselenggarakan rapat umum di Lapangan Pasarturi pada tanggal 17 September 1945.
  27. Gedung di Julianalaan 9 (sekarang Jl. Mobes M. Duryat): Markas Pasukan Berani Mati di bawah pimpinan Jarot Subiyantoro.
  28. Gedung di Wilhelminalaan – Princesselaan (Jalan Widodaren – Tidar): Para pemuda eks AMI (Angkatan Muda Indonesia) mengadakan pertemuan, kemudian membentuk PRI (Pemuda Republik Indonesia) mempergunakan tempat itu sebagai markas besarnya. Jalan Wilhelminalaan diubah namanya jadi Jalan Merdeka. Kemudian Markas PRI pindah ke Simpangsche Societeit. Tahun 1950 setelah Surabaya kembali menjadi daerah Republik, Wilhelminalaan diubah jadi jalan Widodaren.
  29. Marine (Kaigun) Gubeng, Gubeng Pojok: salah satu Markas Kaigun (AL) Jepang yang terkuat. Diserbu dan direbut oleh pemuda Indonesia pada tanggal 3 Oktober 1945 setelah melalui pertempuran sengit dan melalui perundingan-perundingan.
  30. Lapangan Tambaksari, sekarang Gelora 10 November: tempat diselenggarakannya rapat samudra tanggal 21 September 1945, dua hari setelah rapat serupa gagal diselenggarakan di Jakarta akibat tekanan Inggris terhadap Jepang yang melarang rapat-rapat oleh bangsa Indonesia. Rapat raksasa di Tambaksari menyadarkan pemuda Indonesia akan arti kemerdekaan, persatuan dan juga perlunya memiliki senjata untuk mempertahankan kemerdekaan negara. Pekik Merdeka menggelegar di tengah berkibarnya Merah Putih di seluruh lapangan. Mulai dari rapat ini maka perebutan senjata dari tangan Jepang dilaksanakan.
  31. Rumah Sakit Karangmenjangan, sekarang R.S. Dr. Sutomo: rumah sakit tentara Jepang. Bersama-sama antara BKR, Polisi Istimewa dan Pemimpin RS Simpang berhasil mengambilalih rumah sakit itu pada akhir September 1945 beriringan dengan pengambilalihan Don Bosco.
  32. HBS, sekarang gedung SMA Jalan Wijayakusuma 48: Salah satu Markas BKR Surabaya di bawah pimpinan Suharyo. Kemudian diduduki oleh pasukan Mallaby.
  33. THR (Taman Hiburan Rakyat) Jalan Kusumabangsa, dulu Jaarmark Canalaan. Tempat  interniran Belanda, kemudian tempat penawanan orang Jepang.
  34. Hotel Ngemplak, sudut Ambenganweg – Ngemplakweg: ditempati sebagai Markas BKR Laut, tempat pendaftaran masuk BKR Laut. Setelah pertempuran 10 November 1945 meletus dan tidak mungkin lagi dipertahankan markas kemudian dipindahkan ke Wonocolo dekat pemerahan susu.
  35. Thesinkstraat 30, sekarang Jalan Kecilung: Karena markas BKR Laut di Hotel Ngemplak (di sebelah utaranya) telah terlalu penuh, sebagian anggota BKR Laut yang ditarik dari Ujung dilimpahkan ke rumah-rumah sekitar Hotel Ngemplak, yaitu di Thesinkstraat. Sebagian pula dipindahkan ke Jalan Sulawesi 17 (Celebesstraat) dan Sidotopo.
  36. Gedung Gubernuran Jalan Pahlawan (Aloon-aloonstraat): sebagai pusat kegiatan pemerintahan sejak jaman Hindia Belanda, Jepang dan setelah Proklamasi. Tempat perundingan antara Presiden Sukarno dengan pasukan Sekutu untuk menghentikan pertempuran 3 hari yang nyaris membinasakan pasukan Inggris pimpinan Brigadir A.W.S. Mallaby.
  37. Bioskop King dan sekitar Alun-alun Contong: Markas PRI Tengah di bawah pimpinan Slamet Utomo.
  38. Jalan Tembok Dukuh 34 A: tempat Bung Tomo memberikan komando terakhir sebelum/menjelang pecahnya pertempuran 10 November 1945.
  39. Gedung Kenpeitai, Aloon-aloonstraat dan Viaduct. Pada jaman Belanda dipergunakan sebagai gedung pengadilan (Raad van Justitie). Sebagai simbul kekuasaan Jepang di Surabaya. Setelah melalui pertempuran sengit yang makan banyak korban di kedua belah fihak pada tanggal 2 Oktober 1945, maka pasukan Jepang menyerah kepada pejuang Indonesia. Sampai jebolnya pertahanan Indonesia di Viaduct pada tanggal 15 November 1945 gedung itu dipergunakan sebagai Markas BKR Karesidenan (kemudian dipindah ke Embong Sawo) dan PTKR (Polisi Tentara Keamanan Rakyat) di bawah pimpinan Hasanuddin Pasopati dan N. Suharyo. Dalam pertempuran merebut gedung Kenpeitai jatuh korban antara lain Abdul Wahab, Ketua BKR Karesidenan, tertembak kakinya. Dalam pertempuran 10 November 1945 gedung tersebut menjadi sasaran pertama pemboman pasukan Inggris dari laut dan udara. Sekarang tegak Tugu Pahlawan.
  40. Gedung Lindeteves, Jalan Pahlawan 120 (dulu Aloon-aloonstraat 32): tempat mereparasi berbagai senjata dan kendaraan perang antara lain tank. Terkenal dengan nama gedung Glinding Tipis. Pada akhir September 1945 gedung yang terkenal dengan nama Kitahama Butai direbut oleh pemuda Indonesia dengan perolehan banyak senjata dan kendaraan perang.
  41. Hoofd Bureau van Politie di Paradestraat, sekarang Taman Sikatan. Sebagai Markas Polisi Istimewa Kota Surabaya di bawah pimpinan Sucipto Danukusumo. Diketemukan pula nama Huiyer dalam daftar di Hoofd Bureau sehingga identitas Huiyer yang sejak akhir September telah berada di Surabaya dapat segera diketahui dan diawasi.
  42. Gedung HVA (Handels Vereeniging Amsterdam) Gomidiestraat, sekarang Gedung PTP XXII. Markas Besar Angkatan Darat Jepang di bawah Komando Jendral Iwabe. Berkat diplomasi Drg. Mustopo gedung HVA (markas dan senjatanya) berhasil diambil alih oleh bangsa Indonesia. Kemudian dijadikan Markas BKR Jawa Timur di bawah pimpinan Drg. Mustopo yang merangkap sebagai “Menteri Pertahanan, ad interim” RI sampai tanggal 30 Oktober 1945.
  43. Gedung Internatio, Willemplein (Taman Jayengrono), Herenstraat (Jalan Rajawali), Jembatan Merah dan sekitarnya. Sebagai gedung yang kokoh dan strategis digunakan oleh pasukan Mallaby yang mendarat di Surabaya tanggal 24 Oktober 1945. Dalam pertempuran tanggal 28-30 Oktober 1945 gedung Internatio dan lapangan Jembatan Merah termasuk daerah pertempuran yang paling seru. Meskipun telah diserukan gencatan senjata tembak-menembak belum berhenti juga. Ketika rombongan Kontak Biro antara lain Muhammad, Kundan, Ruslan Abdulgani, Dul Arnowo, Mallaby dan lain sebagainya berusaha menghentikan pertempuran di sekitar gedung tersebut, Mallaby tewas dan mobilnya terbakar di dekat Jembatan Merah.
  44. Penjara Kalisosok, Werfstraat. Tempat menawan tentara Jepang yang telah dilucuti. Huiyer, de Back dari Tim RAPWI juga ditawan di situ. Pada tanggal 27 Oktober 1945, pasukan khusus Inggris membebaskan Huiyer dengan menjebol dinding tembok bagian belakang gedung penjara.
  45. Jalan Jakarta 5 (Bataviaweg). Markas komando Mayor Jendral E.G. Mansergh. Gubernur Suryo menjelang tanggal 10 November 1945 dipanggil ke tempat ini. Katanya diajak berunding, tetapi justru diintimidasi bahwa fihak RI telah menduduki dan mengepung lapangan terbang Morokrembangan.
  46. Gitadelweg, Gedung Sekolah Al-Irsyat dan sekitarnya. Salah satu medan pertempuran sengit antara tentara Inggris dan pasukan PRI Utara di bawah pimpinan J. Rambe.
  47. Westerbuitenweg (Jalan Indrapura) di sekitar Masjid Kemayoran: tempat yang ditunjuk dalam pamflet ultimatum E.G. Mansergh bagi para pejuang Indonesia untuk menyerahkan senjatanya kepada Inggris.
  48. Pangkalan Ujung: pangkalan AL Jepang yang terbesar. Berhasil direbut oleh pemuda Indonesia pada tanggal 6 Oktober 1945. Dengan jatuhnya Ujung ke tangan Republik Indonesia berarti seluruh Surabaya telah berada dalam kekuasaan Republik Indonesia.
  49. Morokrembangan: sebagai pangkalan udara Belanda dan Jepang. Pada tanggal 29 Oktober 1945 pesawat yang ditumpangi Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta mendarat di tempat ini dalam hamburan hujan peluru. Di tempat inilah kabarnya mula-mula jenazah Brigadir Mallaby dimakamkan.
  50. Pulau Nyamukan: Lebih kurang 400 orang tentara Jepang bersenjata lengkap dengan perahu-perahunya di pulau ini pada tanggal 14 Oktober 1945 berhasil ditawan oleh BKR Laut dari Ujung. Mereka dibawa ke Ujung dan ditawan.

Source :  Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Tokoh Soemarsono

Kesaksian Rosihan tentang peristiwa Surabaya tak bersifat mutlak.

Oleh: Bonnie Triyana
Dibaca: 4652 kali

Click to zoom

PADA 10 November 2010 harian Kompas memuat artikel wartawan senior Rosihan Anwar yang berjudul “Inga-Inga 10 November 1945”. Ada tiga hal yang dia ingin katakan dalam artikelnya: pertama, dia adalah saksi sejarah yang turut hadir dalam beberapa peristiwa penting pada era awal revolusi Indonesia; kedua, dalam masa revolusi banyak orang yang tak bisa dipegang omongannya seperti para pemuda yang justru tidak ikut pertempuran; dan ketiga, seperti yang ditulis pada paragraf terakhir artikelnya, dia adalah seorang Sjahririest atau pengikut Sutan Sjahrir. Untuk persoalan yang ketiga, penulis tidak akan campur urusan.

Satu hal lain pula yang menarik adalah kesaksiannya yang menyebutkan kalau pemuda Soemarsono tak ada dalam pertempuran di Surabaya. Sebelumnya, Rosihan pernah menulis hal yang sama di harian Pikiran Rakyat, 22 November 2006. Sebagai sebuah kesaksian, apalagi hasil dari sebuah laporan pandangan mata seorang wartawan yang bertugas meliput pertempuran, tentu hal tersebut sah-sah saja. Tokh namanya sejarah sudah pasti terdiri dari beragam versi dan sudut pandang sepanjang berimbang dan jujur.

Tapi tulisan Rosihan tentang peristiwa Surabaya itu bak hendak meringkus satu kesimpulan final dalam genggamannya: karena dia tak melihat Soemarsono dalam tiga hari kunjungan reportasenya maka Soemarsono tak punya peran dalam pertempuran Surabaya. Pada paragraf 21 tertulis, “Selama tiga hari berada dalam kota pertempuran itu tidak satu kali pun saya lihat pucuk hidung para pemuda pejuang… Soemarsono juga tidak ada jejaknya sama sekali.” Seperti hendak meneguhkan tuduhannya, Rosihan kembali melanjutkan kalimatnya, “Inilah contoh klasik kasus perkataan bertentangan dengan perbuatan.”

Karena tidak melihat batang hidung Soemarsono di Surabaya, yang menurut kesaksiannya ia temui pada Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta pada 10 November 1945, Rosihan menyimpulkan bahwa “di zaman revolusi pun –yang konon penuh dengan kesediaan berkorban– sudah ada pemuda yang berjiwa perhitungan, pragmatis, realistis. Dasar orang Indonesia tidak berubah tabiatnya.” Kesaksian yang semula berdasarkan pandangan mata, kini turun menjadi sebuah penilaian yang bersifat personal.

Baru-baru ini terbit buku Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan yang disusun oleh Harsutejo dan diterbitkan Pustaka Sinar Harapan (2010). Buku tersebut membeberkan pengalaman Soemarsono dalam peristiwa di Surabaya. Dari buku itu dapat diketahui bahwa Soemarsono ada dalam pertempuran Surabaya dan peristiwa pertempuran itu tidak berdiri sendiri. Ada berbagai peristiwa yang mendahuluinya, yakni insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje pada 19 September 1945, rapat umum di Tambaksari, 21 September 1945 dan terbunuhnya Brigjend. AWS Mallaby pada 30 Oktober 1945 dan perintah sekutu kepada arek-arek Surabaya untuk menyerahkan senjata.

Menurut kesaksiannya, Soemarsono turut dalam peristiwa perobekan bendera di Hotel Oranje sebagai pemimpin Angkatan Muda Minyak (AMM). Dia bersama Ruslan Wijayasastra, wakilnya di AMM, berteriak-teriak, “Keep down the flag, keep down the flag.” Soemarsono pun jadi saksi bagaimana Ploegman, seorang Belanda yang mengamuk dengan mengibas-kibaskan balok ke arah pemuda akhirnya tewas di tangan para arek.

Pemuda Soemarsono juga berpidato dalam rapat umum di Tambaksari dan beberapa hari setelahnya ia mendirikan sekaligus menjadi ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang berpusat di Surabaya. Rapat umum Tambaksari tersebut memiliki arti penting dalam sejarah perlawanan rakyat di Surabaya terhadap sekutu. Pada rapat itulah rakyat yang dipelopori pemuda berkumpul menyatukan tekadnya memertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Menurut Soemarsono perlawanan rakyat Surabaya memiliki landasan ideologi yang kuat, yakni Pancasila itu sendiri.

“Saya menjelaskan arti kemerdekaan dan Pancasila menurut Bung Karno. Dalam kesatuannya Pancasila ini bagaikan lima jari yang terkepal untuk meninju kaum penjajah dan anteknya,” kata Soemarsono mengenang kembali pidato dalam rapat umum Tambaksari.

Banyak pihak menilai perlawanan pemuda di Surabaya tidak dilandasi ideologi dan pemahaman terhadap arti perjuangan itu sendiri. Sutan Sjahrir salah satu orang yang mencemaskan hal itu. Dalam risalah “Perdjoangan Kita” yang ditulisnya ia merisaukan perlawanan pemuda akan bersifat fasistis karena mewarisi perilaku Jepang.

Soemarsono berpendapat lain. “Perjuangan rakyat Surabaya bukanlah perjuangan amuk-amukan tetapi perjuangan yang dibimbing ideologi untuk mempertahankan dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia yang bermartabat,” kata dia.

Pada 9 November 1945 sore, Soemarsono yang bersama Subandi Widarta berada di Yogyakarta untuk mengikuti kongres pemuda, mendengar laporan keadaan gawat di Surabaya. Maka malam itu juga mereka kembali ke Surabaya tanpa menghadiri kongres dan baru tiba di Surabaya pada pagi buta. Inggris menepati janjinya. Bom berjatuhan di seluruh penjuru Surabaya pada 10 November 1945 pukul 06:00 pagi. Keterangan Soemarsono itu berbeda dengan kesaksian Rosihan yang menyebutkan kalau pemuda Soemarsono hadir dalam kongres dan naik ke mimbar untuk menyuruh para pemuda Surabaya pulang kampung bertempur melawan Inggris.

Menurut Soemarsono orang yang berpidato di panggung pada kongres pemuda di Yogyakarta itu adalah Muntalib wakil PRI dan wakil delegasi pemuda Jawa Timur. Muntalib sendiri kemudian gugur dalam pertempuran di Surabaya sekembalinya dari Yogyakarta. Pada 10 November 1945, setibanya di Surabaya, Soemarsono bermarkas di Pacarkeling. “Tiap pagi saya keluar dari tempat tersebut bersama Bambang Kaslan dan Supardi sesuai dengan situasi pertempuran,” kata Soemarsono seperti dikutip oleh Harsutejo.

Dalam buku Rosihan yang terdahulu, Kisah-Kisah Zaman Revolusi, Kenang-Kenangan Seorang Wartawan 1946-1949 (Pustaka Jaya, 1975), yang juga mengisahkan tentang perjalanan liputannya ke Surabaya, disebutkan kalau dia tak tahu geografi kota Surabaya dan tak pernah menyebutkan secara jelas di mana dia berada saat itu. Dalam buku yang sama dia juga tidak menulis secara jelas apakah ia datang ke front pertempuran atau hanya berdiam diri di belakang garis pertempuran. Jadi alasan Pak Cian di awal paragraf artikelnya di harian KOMPAS tiga pekan lalu mungkin bisa diterima sebagai apologia, “Pada usia 88 tahun apalah yang saya ingat dari peristiwa 10 November 1945 –65 tahun silam– saat arek Suroboyo melawan tentara Inggris. Wajah orang zaman itu telah kabur, namanya lupa, kejadiannya pun tampak samar-samar.”

dhn-451Hari Ini Dalam Sejarah, 21 September 1945, berlangsungnya Rapat Raksasa di Tambaksari Surabaya. Rapat Raksasa ini merupakan rangkaian peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia setelah Insiden Bendera di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Namun, karena rangkaian peristiwa sejarah sering dibaca secara tidak utuh, maka Rapat Raksasa Tambaksari jarang dibicarakan. Rapat Raksasa di Tambaksari merupakan ide dari Aidit yang pada saat itu menjadi aktivis Angkatan Pemuda Indonesia (API), organisasi yang dibentuk oleh pemuda-pemuda revolusioner dari Menteng 31 Jakarta pada awal September 1945. Pada saat itu, aktivis Menteng 31 sedang mempersiapkan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada Jakarta. Aidit lalu mengusulkan kepada Soemarsono untuk mengadakan rapat raksasa juga di Surabaya. Awalnya, Rapat Raksasa Tambaksari akan dilaksanakan pada 19 September 1945 namun ternyata peristiwa Insiden Bendera di Hotel Yamato lebih dulu terjadi.
Tokoh-tokoh yang berbicara pada rapat itu adalah Roeslan Widjajasastra [(anggota Dewan Pimpinan Pusat Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo)], Sapia (pimpinan dari Pemuda Indonesia Maluku (PIM) di Surabaya), Soemarsono (pimpinan Angkatan Muda Minyak Indonesia)
Rapat Raksasa di lapangan Tambaksari itu bukan hanya pertemuan massal belaka. Namun, seperti dijelaskan oleh Soemarsono dalam buku memoarnya Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah, rapat raksasa itu diakhiri dengan ikrar kebulatan tekad “Merdeka atau Mati”. Artinya, rapat raksasa ini turut menyemai semangat pemuda dan rakyat Surabaya untuk rela berjuang mati-matian mempertahakan Kemerdekaan Republik Indonesia.Referensi:
Soemarsono. 2008. Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku
Sejarah. Tanpa Kota Terbit: Hasta Mitra.

Yang Terlupakan : Rapat Raksasa Tambaksari (21 September 1945)

Minggu, 10 November 2013 | 12:30 WIB 0 Komentar | 3526 Views

Rakyat.jpg

Sejarah kerap dibaca secara sepotong-sepotong. Akibatnya, ada potongan sejarah tertentu yang seringkali terlupakan. Entah disengaja atau tidak. Termasuk pembacaan sejarah pertempuran heroik rakyat Indonesia di Surabaya melawan Inggris pada bulan November 1945.

Jika kita melihat kronik peristiwa ‘November 1945’ di Surabaya, ada empat momentum peristiwa yang saling terkait, yakni insiden bendera Hotel Yamato (19 September 1945), rapat raksasa Tambaksari (21 september 1945), pelucutan senjata tentara Jepang (29, 30 September, dan 1 Oktober 1945), pertempuran tiga hari melawan tentara Sekutu Inggris (28-30 Oktober 1945), dan pertempuran 10 November 1945.

Nah, biasanya, yang kerap diingat hanya Insiden Hotel Yamato, pertempuran tiga hari melawan Inggris yang menewaskan Brigjend AWS Mallaby, dan pertempuran 10 November 1945 itu sendiri. Padahal, ada satu momen peristiwa yang juga tak kalah pentingnya, yakni Rapat Raksasa di lapangan Tambaksari Surabaya tanggal 21 September 1945.

Rapat Raksasa di lapangan Tambaksari itu bukan hanya pertemuan massal belaka. Namun, seperti dijelaskan oleh Soemarsono dalam buku memoarnya Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah, rapat raksasa itu diakhiri dengan ikrar kebulatan tekad “Merdeka atau Mati”. Artinya, rapat raksasa ini turut menyemai semangat pemuda dan rakyat Surabaya untuk rela berjuang mati-matian mempertahakan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Soemarsono sendiri hadir dalam momen itu. Saat itu ia menjabat pimpinan organisasi pemuda bernama Angkatan Muda Minyak Indonesia. Dalam Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah, ia menceritakan sekilas latar belakang dan jalannya rapat raksasa bersejarah tersebut.

Menurut Soemarsono.

Menurut Soemarsono, sebelum tanggal 19 September 1945, Aidit datang ke Surabaya. Ia, antara lain, mengunjungi Soemarsono selaku tokoh gerakan pemuda di Surabaya. Saat itu Aidit adalah aktivis Angkatan Pemuda Indonesia (API), organisasi yang dibentuk oleh pemuda-pemuda revolusioner dari Menteng 31 Jakarta pada awal September 1945.

Saat itu, para aktivis Menteng 31 Jakarta sedang mempersiapkan Rapat Samudra di Lapangan Ikada Jakarta tanggal 19 September 1945. Rapat akbar tersebut dimaksudkan untuk membulatkan tekad rakyat Indonesia membela Proklamasi 17 Agustus 1945. Nah, Aidit selaku tokoh Menteng 31 mendesak Soemarsono agar juga mengorganisir Rapat Samudra serupa di Surabaya pada tanggal 19 September 1945.

Soemarsono menyanggupi usulan Aidit itu. Namun, dalam proses penyiapan Rapat Raksasa itu, Soemarsono sempat clash dengan Roeslam Abdulgani. Yang belakangan ini menjabat pimpinan Angkatan Muda Indonesia (AMI) di Surabaya. Bagi Roeslan, rencana menggelar rapat raksasa semacam itu bertemu dengan situasi yang tidak tepat. Ia khawatir rapat raksasa itu justru memicu bentrok dengan Jepang.

Mendengar sikap Roeslan Abdulgani itu, Soemarsono dan kawan-kawan pun terbakar amarah. Mereka pun menggelar semacam aksi demonstrasi saat Roeslan Abdulgani cs sedang menggelar rapat pengurus di sebuah gedung SMA. “Adakan rapat raksasa, ini tidak bisa ditolak oleh pengurus saja, kami menghendaki diadakan rapat raksasa, kami dari bawah,” kata Roeslan Widjajasastra, salah seorang pemuda dari gerakan bawah tanah kepada Roeslan Abdulgani. Roeslan Abdulgani pun tidak berkutik.

Namun, seperti diceritakan Soemarsono, agenda rapat raksasa yang sedianya digelar tanggal 19 September 1945 itu gagal terlaksana karena Insiden Bendera di Hotel Yamato. Alhasil, jadwal rapat akbar itu diundur hingga tanggal 21 September 1945.

Pada hari H, jumlah rakyat yang menghadiri Rapat Raksasa itu mencapai ratusan ribu orang. “Yang datang di Tambaksari itu ratusan ribu orang tumplek-blek. Membludak, belum pernah ada rapat sebesar itu,” kata Soemarsono menceritakan. Padahal, seperti diceritakan Soemarsono, proses sosialisasi rapat raksasa itu hanya dari mulut ke mulut dengan menggunakan corong.

Roeslan Abdulgani sendiri tidak hadir di rapat itu. Yang muncul justru Roeslan Widjajasastra. Menurut Soegiri DS dalam Spektrum Kemerdekaan Indonesia dan Demorkasi, awalnya Roeslan Widjajasastra ini adalah anak didik tokoh sosialis Djohan Sjahroezah. Roeslan Widjajasastra sempat ditempatkan Dewan Pimpinan Pusat Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Pada tahun 1950-an, Roeslan aktif di SOBSI dan menjadi kader Partai Komunis Indonesia (PKI).

Nah, saat Rapat Raksasa Tambaksari dimulai, Roeslan Widjajasastra inilah yang berpidato pertama. “Bung, biar saya yang bicara dulu, kalau ditembak oleh Jepang biar saya yang ditembak dulu. Bung sudah punya istri,” kata Roeslan Widjajasastra kepada Soemarsono saat meminta ijin untuk menjadi orator pertama.

Pembicara selanjutnya adalah Sapia, pimpinan dari Pemuda Indonesia Maluku (PIM) di Surabaya. Konon, tokoh ini pernah terlibat dalam pemberontakan kapal tujuh (Seven Provincien) di Surabaya tahun 1933. “Dia naik ke mimbar dan bicara penuh agitasi,” kenang Soemarsono.

Dan tak lama kemudian, giliran Soemarsono yang menyampaikan pidatonya di hadapan ratusan ribu orang itu. Ia mengutip pidato 1 Juni Bung Karno, yakni Pancasila. Tetapi Soemarsono menyebutnya dengan istilah “Lima K”, yakni Ketuhanan, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Kebangsaan, Kemerdekaan, dan Keadilan Sosial.

“Lima Sila ini kalau disatukan menjadi kepal, menjadi tinju untuk meninju imperialis, lawan-lawan bejat, lawan-lawan kemerdekaan, penjajah yang menjajah Indonesia. Ini kepal rakyat Indonesia yang bersatu!” kata Soemarsono.

Pidato Soemarsono mendapat tepukan bergemuruh. Rapat akbar berjalan sangat sukses. Lalu, di akhir rapat akbar, dibacakan ikrar kebulatan tekad untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan dengan semboyan “Merdeka atau Mati”.

Rapat Raksasa di Lapangan Ikada Jakarta pada tanggal 19 September 1945 dan Rapat Raksasa di lapangan Tambaksari Surabaya pada tanggal 21 September 1945 adalah rapat akbar terbesar dalam sejarah Republik Indonesia. Kedua rapat akbar raksasa itu berhasil memobilisasi dukungan, tekad, dan semangat rakyat Indonesia untuk membela dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Mahesa Danu (Disarikan dari buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah)

Penjelasan Foto artikel: Foto artikel ini hanya gambar ilustrasi saja dan sama sekali bukan gambar Rapat Raksasa Tambaksari Surabaya.

Rapat Raksasa 21 September 1945

Di Lapangan Tambaksari Surabaya

 Yousri Nur RA_Hitam_MP

Mengapa Hilang dari Sejarah Perjuangan Arek-Arek Surabaya?

 

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam

 

SETELAH peristiwa bersejarah “insiden bendera” di Hotel Yamato tanggal 19 September 1945, pemuda pejuang dan rakyat terus-menerus menunggu perkembangan. Suasana tanggal 20 September 1945, kelihatan ramai membicarakan rencana Rapat Raksasa di Lapangan Tambaksari, Surabaya, 21 September 1945.

Beberapa posko dan kantor pemuda, di antaranya di Markas PRI (Pemuda Republik Indonesia) di Wilhelmina Princesslaan atau Jalan Tidar menyelenggarakan rapat merencanakan rapat raksasa di Tambaksari. Selain itu, rapat KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah) Surabaya yang berlangsung di GNI (Gedung Nasional Indonesia) di Jalan Bubutan, juga membicarakan tentang rencana Rapat Raksasa di Tambaksari.

Rapat Raksasa ini awalnya digerakkan oleh Pemuda Minyak yang sudah membentuk panitia sebanyak 20 orang.  Begitu ada keputusan menyetujui rapat raksasa di Tambaksari, S.Kasman dan kawan-kawannya menggerakkan truk-truk pengangkut pegawai menuju Tambaksari. Bahkan di antaranya, truk tanki juga dijadikan alat angkut massa.

Rapat raksasa seperti di Surabaya tanggal 21 September 1945 ini sebelumnya  juga sudah berlangsung di Lapangan Ikada (kemudian bernama Lapangan Banteng) Jakarta tanggal 19 September 1945. Beberapa pemuda yang dikenal sebagai anggota GBT (gerakan bawah tanah) juga mempersiapkan mobil berpengeras suara, “berhallo-hallo” keliling kampung di dalam Kota Surabaya.

Para pemuda Indonesia yang sudah terbakar semangat “merdeka” setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, terus berusaha menyebarluaskan informasi itu secara langsung kepada rakyat. Walaupun kabar tentang kemerdekaan ini sudah disebarluaskan melalui mediamassa — radio dan suratkabar — namun belum semua penduduk mengetahui, sebab berita itu masih dari mulut ke mulut.

Begitu ada kabar yang disebarkan melalui mobil pengeras suara yang “berhallo-hallo” keliling kota masuk ke kampung-kampung, rakyat berduyun-duyun menuju Tambaksari. Apalagi disiarkan, dalam rapat raksasa itu akan berpidato para petinggi negeri ini. Acara rapat raksasa yang direncanakan dimulai pukul 15.00 atau jam tiga sore itu, telah ramai sejak pukul satu siang.

Pengerahan massa rakyat  dilaksanakan kelompok pemuda pejuang yang bergerak “di bawah tanah”. Demikian istilah yang digunakan untuk kegiatan secara diam-diam atau tersamar. Dengan berbagai agitasi dan propaganda yang dilakukan, ternyata hal ini benar-benar menarik masyarakat untuk datang ke Lapangan Tambaksari.

Selain berjalan kaki, bersepeda, naik beca, ada juga yang naik truk yang sebelumnya dirampas dari pos dan markas tentara Jepang. Bahkan ada pula pemilik truk yang memperbolehkan truknya dipakai pemuda untuk ke Lapangan Tambaksari.

Rakyat yang datang ke Lapangan Tambaksari itu  juga mendapat selebaran dan pamflet yang dibagi-bagikan melalui mobil berpengeras suara. Selebaran itu dicetak di beberapa percetakan yang biasanya mencetak suratkabar. Truk-truk yang membawa massa rakyat ke Lapangan Tambaksari juga ditempeli berbagai pamflet dan poster. Di samping itu ada pula yang ditulis dengan cat berupa kalimat yang membakar semangat.

Tidak hanya dalam Bahasa Indonesia, tulis Des Alwi dalam bukunya Pertempuran Surabaya November 1945. Ada yang ditulis dengan Bahasa Inggris, Bahasa Belanda dan juga Bahasa Perancis. Misalnya: Milik RI, Down with Colonialism, Soekarno-Hatta Yes! NICA No, Let Freedom ring all over the World. Bahasa Perancis juga ada selogan yang terinspirasi dari Revolusi Perancis, misalnya: Liberte, Egalite, Fraternite yang artinya kebebasan, persamaan, persaudaraan. Di samping disebarkan kepada masyarakat, juga banyak yang ditempelkan di dinding-dinding gedung yang sebelumnya dikuasai Jepang, kereta api dan truk maupun mobil-mobil yang ada waktu itu.

Para pemuda yang aktif sebagai panitia dalam penyelenggaraan Rapat Raksasa ini, pengurus PRI (Pemuda Republik Indonesia), antara lain: Hasan, Soemarsono, Soerjono, Dimjati, Hassanoesi, Abdoel Madjid, Pohan, Soemarno, Karjono,  Abdoel Sjoekoer dan Koesnadi.           Puncak keberhasilan menghimpun massa itu, salah satu yang perlu dicatat adalah inisiatif Hassanoesi yang mengerahkan turk-truk dan mobil hasil rampasan dari Jepang. Massa rakyat berebut naik truk dan mobil yang menuju Tambaksari.

Rapat raksasa itu bertujuan untuk meningkatkan semangat massa rakyat agar lebih berani berkorban demi mempertahankan  proklamasi kemerdekaan.  Di samping itu, juga perlu dipupuk rasa persatuan dan bertekad bulat menghadapi segala kemungkinan yang akan datang. Untuk mempertahankan kemerdekaan itu, dicanangkan tekad yang berbunyi: “Merdeka atau Mati”.

Dihadiri Residen Sudirman

Tepat pukul 16.00, Rapat Raksasa di Lapangan Tambaksari dimulai. Acara dibuka dengan pidato pengantar oleh Ketua BKR Surabaya Abdoel Wahab. Berturut-turut kemudian pidato yang membangkitkan semangat disampaikan oleh Residen Sudirman, Soemarsono, Lukitaningsih, Abdoel Sjoekoer, Sapia dan Koenadi.

Semua pembicara mendapat sambutan sangat meriah, tulis Des Alwi. Bahkan ada seorang tokoh PRI-Simpang dengan pidato berapi-api melontarkan secara ekspresif hal-hal yang tersimpan dalam lubuk hatinya, sehingga bisa memuaskan perasaan arek-arek Suroboyo.

Sekembalinya dari menghadiri Rapat Raksasa di Tambaksari itu. semangat rakyat berkobar-kobar, berikut datangnya keberanian untuk segera bergerak mempertahankan kemerdekaan. Kesimpulan tersebut sangat tepat, karena para pemuda tersebut sebelumnya tidak pernah minta izin kepada penguasa Jepang untuk menyelenggarakan Rapat raksasa itu. Persitiwa itu bagaikan bensin, sehingga api yang sudah panas semakin membara. Sekaligus bisa memperkuat keyakinan para pemuda bahwa sisa-sisa kekuasaan pasukan pendudukan Jepang harus dibongkar sampai ke akar-akarnya.

Massa pemuda juga meningkatkan aksinya dengan merobek-robek poster Jepang berisi larangan mengeluarkan pendapat, baik secara lisan maupun tulisan. Gerakan protes semacam ini kemudian berkembang menjadi aksi massal. Poster-poster Jepang diganti dengan plakat buatan anak-anak muda itu sendiri.

Ditangkap Kempetai

Lukitaningsih, wartawati Lembaga Kantor Berita Antara yang juga ketua Pemuda Puteri, merupakan satu-satunya tokoh pejuang wanita yang ikut pidato dalam Rapat Raksasa di Tambaksasi 21 September 1945. Di dalam buku Seribu Wajah Wanita Pejuang dalam Kancah Revolusi ’45, Lukitaningsih mengungkapkan, bahwa para pemimpin  pemuda dengan tegas bergantian pidato untuk membakar semangat juang. Tiada lain tujuannya, agar pemuda-pemuda dan rakyat tetap bersatu padu dan tetap mempertahankan berkibarnya sang merah-putih untuk selama-lamanya.

Selaku ketua Pemuda Puteri, ulas Lukitaningsih, ia mengetahui bahwa saat Rapat Raksasa berlangsung, pasukan Kempetai (Polisi Militer Jepang) bersenjata lengkap bersiaga di sekeliling lapangan Tambaksari. Mereka menempatkan truk, panser dan tank-tanknya. Begitu acara selesai sekitar pukul 19.00, sebelas orang yang dianggap tokoh ditangkap. “Termasuk saya, digiring masuk kendaraan Kempetai dan dibawa ke markasnya di bekas kantor Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi zaman Belanda) — yang sekarang sudah hancur dan di tempat itu didirikan Tugu Pahlawan.

Sejak ditangkap, kami yang sebelas orang itu ditempatkan di sebuah ruangan besar, kata Lukitaningsih. Kami menunggu nasib, entah mau diapakan. Yang jelas, Kempetai itu tersohor kekejamannya. Menurut cerita, jarang orang yang tertangkap di situ akan keluar hidup-hidup. Dengan penuh kesadaran akan hal itu, jiwa muda kami tidak gentar, hanya pasrah kepada Tuhan yang Maha Esa. Apa yang terjadi tidak kami pikirkan lagi.

Kami menunggu sambil berbincang-bincang, bagaimana kalau kami ditembak mati, bagaimana dengan teman-teman selanjutnya.Apabila selamat bagaimana strategi perjuangan kami selanjutnya. Pokoknya kami pertaruhkan segalanya demi kemerdekaan Indonesia, kata Lukitaningsih yang kemudian dikenal dengan nama Hj.Lukitaningsih Irsan Radjamin.. Selain sebagai wartawati dan redaktur senior di LKBN Antara di Jakarta, Lukitaningsih menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Wirawati Catur Panca, yakni organisasi para perempuan pejuang kemerdekaan RI.

Sekitar tengah malam pintu ruangan tempat kami disekap dibuka. Tampak beberapa pejabat pemerintahan dan tokoh pejuang datang untuk membebaskan kami. Ternyata setelah mengetahui sebelas orang disekap di markas Kempetai, para petinggi pemerintahan dan pejuang berusaha menghubungi pimpinan Kempetai. Kepada pimpinan tentara Jepang di Surabaya dikatakan, bahwa yang disekap itu adalah pemimpin pemuda Surabaya. Apabila mereka tidak dibebaskan, maka massa rakyat dan pemuda Surabaya akan menyerbu markas Kempetai.

Peristiwa itu merupakan modal yang sangat berarti untuk lebih mempersiapkan segenap lapisan pemuda dan rakyat. Kita harus siap mengadakan perlawanan kepada siapapun  yang akan menginjak-injak kehormatan bangsa, ujar menantu Radjamin Nasution — Walikota Surabaya yang pertama sejak zaman Jepang dan Indonesia merdeka itu.

Sejarah yang dilupakan

Kendati “Rapat Raksasa” tanggal 21 September 1945 ini merupakan  peristiwa bersejarah yang luar biasa, namun hampir tidak pernah menjadi bahan pembicaraan dalam sejarah perjuangan arek-arek Surabaya. Padahal puluhan ribu rakyat Surabaya berduyun-duyun menghadiri acara di lapangan sepakbola yang sekarang bernama Stadion Gelora 10 November di Jalan Tambaksari Surabaya. Konon kabarnya, ada masalah politis di balik peristwa itu.

Roeslan Abdulgani yang lebih akrab disapa Cak Ruslan dalam suatu wawancara khusus dengan penulis, mengakui adanya Rapat Raksasa di lapangan sepakbola  Tambaksari itu. “Saya memang tidak hadir, karena pada hari yang sama ada rapat KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah) Surabaya di GNI (Gedung Nasional Indonesia) Jalan Bubutan. Rapat membicarakan berbagai taktik dan cara menghadapi tentara Sekutu yang datang melucuti serdadu Jepang”. Pada hari yang sama ujar Cak Ruslan, ia mengobarkan semangat juang para pemuda dan menanamkan rasa permusuhan terhadap tentara Sekutu.

Namun lain lagi, yang diungkapkan dalam buku Hasil Survey Sejarah Kepahlawanan  Kota Surabaya, 1974, pada halaman 60, disebutkan bahwa panitia mendatangi Cak Ruslan untuk memimpin rapat raksasa di Tambaksari itu. Ternyata, Cak Ruslan tidak bersedia memimpin rapat raksasa itu. Cak Ruslan khawatir, kalau rapat raksasa yang juga disebut “rapat samudra” itu dilaksanakan, terjadi bentrok dengan tentara Jepang yang sudah siaga.

Menurut S.Kasman, Cak Ruslan yang ditemui oleh Sumarsono, Kuslan dan Djamal, menyatakan ketidak bersediaan Cak Ruslan, karena menghendaki  rapat raksasa itu memperoleh izin dari pihak Jepang yang masih diberi kewenangan. Ternyata para pemuda itu tidak mau minta izin dan mengambil keputusan tetap mengadakan rapat raksasa tanpa kehadiran Cak Ruslan.

Dalam buku yang diterbitkan Bapparda (Badan Pengembangan Pariwisata Daerah) Kota Surabaya itu, disebutkan saat itu semangat pemuda sudah meluap dan diarahkan kepada penguasa Jepang. Panitia Setiakawan Warga Sosialis Surabaya dalam buku In Memorium Djohan Sjahroezah, menyebutkan bahwa, waktu itu sudah ada rencana setelah rapat raksasa rakyat akan digerakkan melucuti senjata tentara Jepang.

Memang, begitu rapat raksasa selesai menjelang Maghrib, sekitar 150 ribu lebih rakyat berduyun-duyun keluar lapangan Tambaksari. Di antaranya ada yang beraksi merobek berbagai poster dan tempelan yang disebar oleh tentara Jepang. Beberapa mobil milik tentara Jepang diambilalih dan dibawa ke markas pemuda pejuang.

Nah, mengapa peristiwa besar yang disebut Rapat Raksasa di Lapangan Tambaksasi tanggal 21 September 1945 itu seolah-olah lenyap dari sejarah perjuangan Arek-arek Surabaya?

Logo PKP 45

Kilas Balik Pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya
1

Monumen untuk Pahlawan Tak Dikenal (1)

Tentara Inggris mendarat di Surabaya melalui Tanjung Perak pada 25 Oktober 1945. Kedatangan mereka itulah yang memantik pertempuran 10 November. Bagaimana mengapresiasinya?

PASTI banyak yang belum mengetahui bahwa di sisi utara Tugu Pahlawan ada sebuah monumen menarik. Bentuknya tiga patung dengan besar dan tinggi orang dewasa. Patung itu diwarnai cokelat. Tiga benda tersebut menggambarkan semangat perjuangan. Tampilannya gagah; membawa bambu runcing, senjata, dan bendera.

Sepintas memang tidak ada yang istimewa dari monumen itu. Tetapi, ternyata monumen tersebut sungguh sarat makna dan semangat perjuangan. Ini bisa dilihat dari sebuah tulisan di bawahnya yang berbunyi: Makam Pahlawan Tak Dikenal. Ada juga sebuah tulisan menyentuh lain: Di sini kau tidur dalam keabadian tanpa batas, sebagai pahlawan tak dikenal. Karena gugur saat berjuang tanpa pamrih. Membela bangsa dan negara, menjadi satu dalam pusara tanpa nama.

Meski disebut makam pahlawan, di area itu tidak ada batu nisan seperti taman makam pahlawan pada umumnya. ”Monumen tersebut untuk mengapresiasi para pejuang yang tidak dikenal saat melawan tentara Inggris,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemkot Surabaya Wiwiek Widayati.

Seperti sudah banyak ditulis dalam catatan sejarah kota ini, tentara Inggris menginjakkan kaki di bumi Surabaya pada 25 Oktober 1945. Tujuan mereka datang sebetulnya menegakkan ketertiban dan keamanan, membebaskan semua tawanan perang Sekutu, mengevakuasi interniran, serta melucuti dan memulangkan tentara Jepang. Pasukan itu dikomando Brigadir Jenderal (Brigjen) Mallaby.

Menurut Wiwiek, sejatinya makam para pejuang yang gu­gur dalam peperangan 10 November tersebar. Ada yang di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa maupun TMP Ngagel. Namun, jumlah pejuang yang gugur saat itu terlalu banyak dan tidak semua jenazahnya dikenali. ”Karena itu, agar jasa para pejuang yang tidak dikenal itu hilang ditelan zaman, kami membuatkan monumen tersebut,” ujarnya.

Pengunjung ke kawasan Tugu Pahlawan itu sejauh ini lumayan banyak. Antara 6 ribu sampai 10 ribu per bulan. Sebagian besar adalah para pelajar. Namun, sebagian pengunjung tersebut datang karena gencarnya upaya sosialiasi pengelola Museum 10 November. Misalnya, datang ke sekolah-sekolah. ”Kita ceritakan sejarahnya bagaimana,” kata Sutopo, kepala UPTD Tugu Pahlawan dan Museum 10 November.

Selain itu, rutin diadakan acara seni dan hiburan. Setidaknya tiga kali dalam setahun, panggung itu digelar. Misalnya, saat ulang tahun Kota Surabaya, Hari Kemerdekaan RI, dan Peringatan Hari Pahlawan. ”Kita sasar anak muda biar tidak hanya suka datang ke mal atau plaza saja. Tentu, kami sangat mengharapkan kunjungan mereka itu bukan sekadar melihat. Tapi, bagaimana memaknai semangat kepahlawanan dalam kehidupan saat sekarang ini,” terangnya. (dim/puj/c1/hud)

Taman Jayengrono, Taman Pelengkap Berseri Sejarah

SURABAYA agaknya ingin meneguhkan diri sebagai Kota Pahlawan. Di antaranya, melalui pembangunan taman-taman berseri sejarah. Pembangunan itu makin masif sejak Tri Rismaharini menjabat sebagai kepala dinas kebersihan dan pertamanan (DKP). Terbaru, pemkot tengah merampungkan Taman Jayengrono yang disebut juga sebagai Memorial Parak. Taman itu berlokasi di depan Jembatan Merah Plaza (JMP).

Menurut Aminudddin, Kabid Pertamanan dan Penerangan Jalan Umum DKP, Taman Jayengrono bakal menjadi klimaks refleksi pertempuran 10 November. Sebab, taman tersebut melengkapi taman-taman yang berkaitan dengan perjuangan arek-arek Suroboyo, seperti Tugu Pahlawan dan Bambu Runcing. ”Taman tersebut memiliki hubungan langsung dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya.

Seperti penah diberitakan, berdasar desain dari bappeko, taman itu bakal memiliki diorama yang tidak kalah komplet dengan kawasan Tugu Pahlawan. Di area tersebut, juga akan dibuat replika mobil yang dikendarai Brigjen Mallaby. ”Miniatur mobil Mallaby itulah yang membuat Jayengrono istimewa,” imbuh Aminuddin.

Taman Jayengrono bisa jadi taman terakhir yang berhubungan dengan seri perjuangan 10 November. Sebab, menurut dia, hingga kini pemkot belum berencana membangun taman bertema perjuangan lagi. ”Tahun depan mungkin belum ada taman perjuangan lagi. Saat ini, kami harus fokus pada Taman Jayengrono dulu,” tuturnya.

Taman Jayengrono memang pantas menjadi fokus pemkot. Sebab, selain membawa misi menginspirasi semangat nilai-nilai kepahlawanan, tempat tersebut digadang-gadang bisa membangkitkan lagi suasana malam di kawasan utara. Selain memiliki historis dan artistik yang tinggi, akan ada aneka bunga dan permainan lampu yang atraktif. Apalagi, pemkot bakal menyediakan stage kecil untuk aneka pertunjukan.

Pengerjaan Taman Jayengrono yang dimulai sejak akhir 2009 lalu, kini sedang memasuki tahap kedua. Direncanakan, proyek tersebut rampung pada tahap ketiga baru 2011 mendatang. Dengan demikian, agaknya memorial park itu belum bisa menjadi kadi peringatan Hari Pahlawan Tahun ini. (dim/puj/c6/hud)

Gedung Resolusi Jihad Tak Masuk Bangunan Heritage (2)

Pertempuran 10 November 1945 tentu meletus tidak secara tiba-tiba. Di antara pengobar semangat untuk turun ke palagan itu salah satunya disebut-sebut keluarnya Resolusi Jihad.


BANGUNAN rumah di Jalan Bubutan Gang VI Nomor 2 itu bernuansa lawas. Pintunya besar, atapnya tinggi. Kayu dan besinya juga masih asli. Memang ada yang terlihat baru, tetapi cuma cat tembok dan sebagian keramik lantai. Dalam rumah itu, terdapat sebuah ruang yang lumayan luas. Ukurannya sekitar 5 x 11 meter. Di sisi ruang itu ada bendera Murah Putih.

Tidak terlalu banyak sentuhan interior atau aksesori seperti rumah pada umumnya. Gelaran karpet hijau menghampar di ruang sederhana itu. Di sekeliling dinding tebal terpasang foto sejumlah ulama dan kiai ternama dari Nahdlatul Ulama (NU). Salah seorang di antara mereka KH Hasyim Asy’ari.

Mungkin masih belum banyak yang mengetahui bahwa ruang besar di bangunan rumah Jalan Bubutan VI/2 itu dulu menjadi markas para ulama dan kiai. Ruang tersebut sering menjadi tampat musyawarah mereka. Tidak terkecuali pertemuan untuk membahas usaha merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Menurut Wakil Ketua PC NU Surabaya Sholahuddin Azmiy, wujud bangunan tidak banyak berubah. Dua pintu yang terhubung ke kamar dan dua pintu menuju ruang lain dipertahankan. Begitu juga dua jendela besar yang menjadi ciri khas bangunan kuno. ”Kami tidak bisa mengubah seenaknya karena ini warisan,” ujarnya kemarin.

Namun, rumah yang kini menjadi Kantor PC NU Surabaya tersebut belum menjadi cagar budaya (heritage). Kata Azmiy, di tempat itu para ulama dan kiai se-Jawa dan Madura berkumpul sebelum meletus perang 10 November 1945. Salah satu hasil pertemuan para ulama itu adalah keputusan yang disebut sebagai Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. (lihat grafis)

Ketua PC NU Kota Surabaya KH Syaiful Chalim mengaku masih ingat betul cerita para pendahulunya. Salah satunya tentang KH Ridwan Abdullah (pendiri lambang NU) yang tidak lain kakeknya.

Dituturkan, setelah Resolusi Jihad dikumandangkan ulama seperti KH Hasyim Asy’ari, kakeknya juga ikut mendapat tugas untuk melecut semangat para pejuang. ”Kiai Ridwan masuk ke barak-barak prajurit. Dia mengatakan ini perjuangan bersama antara santri, masyarakat, dan tentara,” kenangnya.

Dengan tidak menafikan peran tokoh dan para pahlawan lain, cerita Syaiful, Resolusi Jihad itu tentu sangat membakar emosi untuk turun ke medan laga. Sebab, ulama sudah menyatakan bahwa bela negara bersifat wajib dan siapa saja yang gugur termasuk syahid.

Kini, 65 tahun sudah Resolusi Jihad berlalu. Syaiful berharap, semangat jihad an perjuangan ulama kala itu mesti menjadi teladan bersama. Terutama generasi muda. ”Kita harus meniru semangat,” jelasnya. Tentu semangat jihad dalam konteks saat ini bisa diterapkan pada tindakan bersama-sama melawan kemiskinan dan kebodohan.

Dalam peta yang dikeluarkan pemkot, memang gedung yang disebut-sebut markas pejuang dan tokoh-tokoh NU itu tidak masuk cagar budaya. Di wilayah Bubutan, ada 17 bangunan yang masuk cagar budaya. Antara lain, Gereja Immanuel, Kantor PMK Pasar Turi, Tugu Pahlawan, Penjara Koblen, GNI, Makam Tembaan, eks RS Mardi Santoso (kini Hallo Surabaya), dan Kantor Gubernuran.

Prof Aminuddin Kasdi, anggota tim cagar budaya pemkot, mengatakan, untuk masuk dalam heritage mesti ada dokumen pendukung. ”Nah, resolusi jihad belum masuk dalam penulisan sejarah,” ujarnya. “Selama ini beberapa pejuang yang masih hidup belum pernah menyampaikan. ”Bisa jadi memang benar ada, tetapi tidak terkomunikasikan dengan baik,” jelasnya. (dim/c1/hud)

Berburu Arsip sampai Belanda

TIDAK mau resolusi jihad hilang dari ingatan sejarah, menuntut tokoh NU berinovasi. Mereka berencana untuk membuat monumen di kantor Jalan Bubutan tersebut. Rencananya, monumen akan berupa memorabilia berkumpulnya para ulama dan kiai se-Jawa dan Madura di Surabaya. Rencana pembangunan sendiri sudah hampir final termasuk pengumpulan bukti sejarah.

Wakil Ketua PC NU Surabaya Sholahuddin Azmiy mengatakan, jika ruangan-ruangan kantor tersebut telah disiapkan. Salah satu lokasi utama adalah ruang utama kantor yang berada di tengah bangunan.

Selain berisikan nuansa resolusi jihad, muatan tentang sejarah NU juga akan diperkaya. Termasuk foto-foto hingga dokumentasi audiovisual dan video. Dia mengaku, pengumpulan arsip-arsip itu sudah terkumpul. Namun, belum sempurna. Azmiy berharap agar para ulama NU yang memiliki potongan sejarah bisa menyerahkan ke Bubutan.”Karena selama ini resolusi jihad seperti potongan sejarah yang terlupakan,” tambahnya.

Karena arsipnya banyak yang tersebar, panitia pembuatan monumen membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mengumpulkan. ”Termasuk copy arsip resolusi jihad yang kami temukan di Belanda,” tandasnya. (dim/hud)

Jalan Bung Tomo Cuma 550 Meter (3)

Satu di antara sosok yang selalu disebut dalam peristiwa 10 November 1945 adalah Sutomo atau lebih terkenal dengan panggilan Bung Tomo. Saat perang meletus, dia menjabat pimpinan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang kali pertama bermarkas di kawasan Jalan Tembok Dukuh, Bubutan.


JALAN itu lumayan lebar, tapi tidak panjang. Panjangnya tidak lebih dari 550 meter. Lokasinya terbilang bukan poros utama melainkan sempalan. Yakni, sirip dari akses panjang Jalan Ngagel. Jalan tersebut bisa tembus ke Jalan Ngagel Jaya Selatan. Bagian kanan dan kiri jalan itu kini cukup padat. Ada beberapa ruko dan dua makam, Taman Makam Pahlawan Ngagel dan Kompleks Pemakaman Pucang.

Itulah nama Jalan Bung Tomo. Dulu, sebelum berubah menjadi Jalan Bung Tomo, namanya adalah Jalan Kencana. Keputusan perubahan nama jalan itu diambil sebelum Bung Tomo ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Bung Tomo diputuskan menjadi pahlawan nasional pada November 2008.

Pemilihan nama Jalan Bung Tomo di kawasan Ngagel itu memicu polemik. Sebab, masih banyak pilihan jalan yang sebetulnya dianggap lebih layak. Suparto Broto, misalnya. Dalam website-nya, sejarawan ternama itu pernah mengusulkan Jalan Indrapura dinamakan Jalan Bung Tomo.

Mengapa? Sebab, pada 9 November 1945, Indrapura termasuk salah satu titik sentral rakyat Surabaya yang memegang senjata dan harus menyerahkan senjata kepada tentara Inggris.

Meski jalan itu pendek dan terasa nyelempit, Bung Tomo kini tidak hanya diabadikan sebagai nama jalan beraroma pahlawan. Nama Bung Tomo juga dijadikan nama stadion atau gelanggang olahraga di kawasan Benowo. Wali kota yang menorehkan tinta emas nama Gelora Bung Tomo (GBT) itu adalah Bambang Dwi Hartono yang kini menjadi wakil wali kota mendampingi Wali Kota Tri Rismaharini.

Saat menyebut sosok Bung Tomo, yang terngiang-ngiang adalah pidatonya yang luar biasa dan berapi-api. Pidatonya membuat merinding. Pidato tersebut tegas dengan intonasi yang sangat kuat. Apalagi, ketika mengucapkan merdeka atau mati dan ketika membakar semangat dengan teriakan Allahu Akbar. Konon, sejumlah pihak menyatakan bahwa isi pidato yang dikumandangkan Bung Tomo itu terinspirasi Resolusi Jihad yang diprakarsai ulama pendiri NU. Yakni, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Menurut Chairman Surabaya Heritage V3 Freddy H. Istanto, sosok Bung Tomo memang sangat identik dengan peristiwa 10 November 1945. Tanpa mengabaikan peran pahlawan lain, saat itu Bung Tomo memiliki peran sentral. Khususnya sebagai pembangkit semangat. ”Itu yang fenomenal. Sebab, Bung Tomo mampu menggerakkan banyak orang,” ujarnya.

Bung Tomo, menurut Freddy, adalah orator ulung. Kemampuannya saat itu dianggap fenomenal. Kondisi saat itu berbeda dengan saat ini yang ditunjang bermacam media. ”Eranya sudah berbeda. Tapi, Surabaya tetap butuh sosok yang mampu menjadi penggerak,” katanya.

Saat ini, memang tidak mudah melacak jejak dan rumah tinggal Bung Tomo di Surabaya. Menurut beberapa cerita sejarawan dan literatur, saat memimpin BPRI, Bung Tomo disebut-sebut sering berpindah-pindah tempat.

Dalam buku Bung Tomo Suamiku, markas Bung Tomo, antara lain, berada di Jalan Tembok Dukuh, Jalan Mawar, dan Jalan Biliton. Kabarnya, dia juga pernah menetap di sebuah rumah di Jalan Ijen, Malang. Yang jelas, saat memimpin BPRI, usianya masih relatif muda. Yakni, sekitar 25 tahun. ”Nah, kematangan pada usia muda itulah yang harus diteladani,” ungkap Freddy. (dim/c12/nw)

Berpesan Ingin Dimakamkan seperti Rakyat Biasa

Di antara deretan batu nisan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel, terdapat sebuah tulisan: Makam Pahlawan Nasional Bung Tomo (1920-1981). Makam itu dikelilingi bambu runcing kuning. Di makam berukuran sekitar 5 x 5 meter tersebut, juga ada sebuah pendopo. Tertulis dengan huruf kapital berwarna emas di sana SUTOMO, BOENG TOMO.

Di pintu masuk makam ada sebuah cuplikan pidato Bung Tomo saat perang 10 November. Bung Tomo adalah pahlawan yang lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920. Tepatnya di kawasan Kampung Blauran. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo. Ayah Bung Tomo pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam sebelum pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal perusahaan mesin jahit.

Bung Tomo wafat di Padang Arafah, 7 Oktober 1981, pada umur 61 tahun saat naik haji. Jenazahnya lalu dimakamkan di TPU Ngagel. Putra pertama Bung Tomo, Bambang Sulistomo, mengatakan bahwa selama ini keluarga yang mengurus makam almarhum. Termasuk renovasi makam yang selesai pada 12 September 2009. Saat itu keluarga bersama Surabaya Society (SS) atau yang biasa disebut Seduluran Surabaya mengerjakan renovasi tersebut. “Tidak ada campur tangan pihak lain,” ungkapnya.

Makam yang terlihat saat ini memang sederhana. Meski berstatus makam pahlawan nasional, makam Bung Tomo tidak berada di areal makam pahlawan yang terletak hanya beberapa meter di depan kompleks TPU Ngagel. Renovasinya juga tidak berlebihan. Sebab, sebelum meninggal, Bung Tomo berpesan agar dimakamkan bersama rakyat biasa lain, bukan di taman makam pahlawan. “Makam kami tinggikan agar tidak kebanjiran saat hujan,” kata Bambang.

Menurut Endang, penjaga makam Bung Tomo, makam pengobar semangat arek-arek Suroboyo yang sangat heroik pada 10 November 1945 tersebut jarang dikunjungi warga. Kecuali keluarga dan beberapa kerabat. Karena itu, makam yang didominasi warna kuning tersebut selalu terkunci. Gembok baru dibuka ketika makam dibersihkan atau ada kunjungan. “Khawatir disalahgunakan karena ada pendoponya,” ujar Endang.

Soal perawatan, lanjut perempuan paro baya itu, seluruhnya ditangani keluarga Bung Tomo. Selama hampir dua tahun dia menjaga makam tersebut, tidak ada wakil pemerintah yang memberikan perhatian. “Keluarga yang sering ke sini untuk merawat dan membeli keperluan makam,” tambah Endang. (dim/c9/roz)

Menanti Jalan Roeslan Abdul Gani (4)

Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan menjadi salah satu saksi bisu peristiwa 10 November 1945. Seperti apa?


JIKA tengah melintas di Jalan Bubutan jalur sebelah kiri, silakan melongok ke bangunan bernomor 87. Di situlah GNI berada. Di sisi utara kompleks GNI terdapat sebuah tugu sebagai penanda perjuangan arek-arek Suroboyo saat berperang pada 10 November. Di tugu itu ada prasasti bertulisan “Gedung ini menjadi pusat pergerakan na­sional”. Di antaranya, pada 25-27 Agustus 1945, Ko­mite Nasional Indonesia (KNI) dan Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dibentuk di gedung te­sebut.

Selain Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin Bung Tomo dan beberapa elemen lain, BKR dan KNI menjadi wadah para tokoh dan rakyat untuk melawan tentara Inggris dan sekutunya. Di GNI diadakan rapat penting, Samodra Bersejarah. Pertemuan akbar yang menentang Ken Peitai itu terlaksana di Tambaksari pada 21 September 1945.

Dengan tidak mengabaikan tokoh lain, satu di antara tokoh yang berpengaruh dalam beberapa kali rapat di GNI itu adalah Roeslan Abdul Gani atau biasa dipanggil Cak Roes. Namun, sejauh ini, nama Cak Roes belum juga ditetapkan sebagai salah satu nama jalan di Kota Pahlawan. Toh, hingga kini, hal tersebut belum terwujud. Dalam perkembangannya, M. Noer (mantan Gubernur Jatim) yang menjadi nama jalan lebih dulu menggantikan Jalan Kedungcowek.

Kala itu, ada beberapa usul mengganti Jalan Perak Barat atau Perak Timur dengan nama Jalan Roeslan Abdul Gani. Mengapa? Sebab, tentara Inggris kali pertama mendarat di Tanjung Perak pada 25 Oktober 1945. Jalur Perak itu juga menjadi akses utama tentara di bawah komando Brigjen Mallaby. Apakah kelak bakal terwujud? Tunggu saja.

Suparto Brata, salah seorang penulis buku tentang 10 No­vember, menyatakan bahwa pada 23-25 Agustus 1945 di GNI memang diadakan rapat terus-menerus. Pelopornya adalah angkatan muda yang membentuk KNI. Saat itu, terpilih susunan KNI Karesidenan Surabaya dengan Doel Arnowo sebagai ketua dan Roeslan Abdulgani sebagai salah satu wakilnya. ”Salah satu hasil rapat adalah memutuskan bahwa seluruh rakyat Surabaya harus tetap mengibarkan sang Merah Putih,” ujarnya.

Padahal, saat itu, Ken Peitai (pasukan Jepang) yang berupaya menghalangi upaya masyarakat untuk mengibarkan bendera Indonesia. Namun, larangan Jepang itu tidak digubris rakyat Surabaya. Dwiwarna berkibar di mana-mana. Padahal, gerakan pengibaran bendera tersebut baru diumumkan presiden pada 1 September 1945. Karena itu, Surabaya menjadi salah satu daerah yang paling berani.

Sikap Ken Peitai yang terus menghalangi pengibaran bendera itulah yang disorot Cak Roes. Saking jengkelnya dengan pasukan Nippon, dia membuat gerakan dengan nama Flaggen Actie. ”Itu adalah salah satu sikap bonek (bondo nekat) arek Suroboyo yang patut diberi jempol.” (dim/c12/hud)

Cagar Budaya Nomor Satu

BERBAGAI peristiwa yang terekam di GNI Jalan Bubutan membuat bangunan tersebut masuk dalam deretan heritage (cagar budaya ). Karena itu, mesti terus dipelihara sampai kapan pun. Di antara ratusan bangunan dan situs cagar budaya, GNI tercatat di nomor urut satu. Hal itu tertuang dalam SK wali kota tahun 2006.

Papan dari dinas kebudayaan dan pariwisata (disbudpar) tentang cagar budaya itu diletakkan pada tembok gedung. Bersanding dengan pernyataan Presiden Soekarno tentang GNI sebagai tanda terima kasih kepada para pejuang.

Namun, Kadisbudpar Pemkot Surabaya Wiwiek Widayati menyatakan bahwa urutan tersebut sebetulnya tidak bermakna. Artinya, GNI bukan yang paling istimewa di antara bangunan atau cagar budaya lain. ”Hanya urutan saat inventaris,” ujarnya.

Widayati tidak menampik banyaknya sejarah yang tertorehkan pada tempat tersebut. Tetapi, hal tersebut juga tidak membuat gedung itu lebih diistimewakan. Khususnya dari segi perawatan dan pemeliharaan.

Dikatakan, sampai saat ini seluruh bangunan cagar budaya masih menjadi tanggung jawab pemilik. ”Namun, pemkot mempunyai rencana untuk memberikan insensif bagi para pemilik cagar budaya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut dibenarkan Murtiningrum, nenek berusia 65 tahun yang menjadi juru kunci makam dr Soetomo dan GNI. Kata dia, selama ini soal GNI segala sesuatunya diurus Yayasan GNI. Termasuk makam dr Soetomo yang berada satu kompleks. ”Bantuan lain biasanya dari swasta atau sekolahan,” katanya.

Lebih lanjut, Murtiningrum menjelaskan bahwa meski berasal dari dana sendiri dan terbilang pas-pasan, dirinya selalu sigap menjalankan tugas membersihkan gedung dan makam. Maklum, area tersebut masih kerap dikunjungi para pecinta sejarah. Terutama saat momentum bersejarah seperti Hari Pahlawan, Hari Kebangkitan Nasional, dan hari-hari penting lain.

Murtiningrum mengaku malu kalau makam pahlawan nasional dan gedung bersejarah itu sampai kotor. ”Karena di sini dahulu tempatnya pemuda mengadakan rapat akbar. Sejarahnya sangat kuat dengan Surabaya,” tuturnya.

Dia masih ingat betul setelah pertempuran dan Indonesia memasuki masa damai, GNI menjadi salah satu pusat keramaian kota. Acara seperti ludruk dan wayang sering dilaksanakan. Namun, saat ini gedung tersebut mulai kehilangan makna, kalah oleh mal atau plaza. Tidak seperti dahulu, kini cenderung sepi. ”Padahal, Pak Tom (dr Soetomo, Red) berpesan agar tempat ini bisa terus menjadi pusat kegiatan,” ungkapnya. (dim/c1/hud)

Kabut Gelap dari Gedung Internatio (5)

Hari ini (30/10), tepat 65 tahun yang lalu, Brigjen Mallaby tewas dalam amuk arek-arek Suroboyo pada peristiwa 10 November 1945. Selain menjadi markas tentara Inggris, Gedung Internatio merupakan saksi bisu terbunuhnya jenderal pemimpin tentara Inggris itu. Siapa sebetulnya pembunuh Mallaby?


BAGI sebagian warga kota, nama Gedung Internatio mungkin masih terasa asing. Padahal, bangunan tersebut boleh dibilang sangat bersejarah dalam babakan sejarah Kota Pahlawan. Sebab, di kawasan itulah salah satu titik pertempuran dahsyat meletus. Jumlah korban jiwa mencapai ribuan. Di depan Gedung Internatio itu pula, Mallaby -yang bernama lengkap Aubertin Walter Sothern Mallaby- mengembuskan napas terakhir.

Gedung Internatio terletak di Jalan Taman Jayengrono (dulu Willemstraat) atau dekat Jalan Rajawali sebelah kiri. Cagar budaya tersebut dibangun pada 1929 oleh Ir F.J.L. Ghijsels dan H. Von Essen dari AIA Architectural Office (Algemeen Ingenieurs id Architecten Bureau). Gedung berarsitek modern itu disebut Internatio (Internationale Crediet Handels Vereeniging Rotterdam.

Pertempuran di sekitar Gedung Internatio terjadi sehari setelah Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta, dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin datang ke Surabaya. Ketiganya sengaja diminta Inggris untuk bisa meredam kemarahan rakyat yang sudah sangat jengkel terhadap perlakuan tentara Inggris dan sekutunya. Kala itu mereka pun mengadakan perundingan dengan pimpinan Inggris di Gedung Negara Grahadi yang kala itu dipimpin Gubernur Suryo. Pada 30 Oktober siang, akhirnya tercapai perjanjian untuk tidak saling menembak dan tentara Inggris siap menarik pasukan.

Setelah perjanjian disepakati, rombongan Soekarno kembali ke Jakarta. Sorenya Mallaby berkeliling ke berbagai pos pasukan Inggris di Surabaya untuk memberitahukan perjanjian tersebut. Ketika dekat dengan markas Inggris di Gedung Internatio, mobil Mallaby dikepung para pejuang yang memang sebelumnya telah mengepung gedung itu.

Di pihak lain, satu di antara tokoh Surabaya yang berupaya masuk ke Gedung Internatio adalah HR Mohammad (sudah menjadi nama jalan di Surabaya Barat) untuk menyampaikan hasil perundingan di kantor gubernuran tersebut. Namun, sejuah ini belum jelas hasil pertemuan itu. Yang pasti, tidak lama setelah itu, bom dan tembakan menyalak di mana-mana sampai ada kabar bahwa Mallaby telah terbunuh.

Mobil Buick yang ditumpangi Mallaby hancur. Tewasnya Mallaby itulah yang membuat pihak Inggris geram. Mayjen Eric Carden Robert Mansergh sebagai pengganti Mallaby langsung mengeluarkan ultimatum 10 November. Intinya, Inggris meminta rakyat Indonesia menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan. Kalau tidak, tentara Inggris siap melakukan penyerangan habis-habisan. Ancaman itu tidak lantas menyurutkan langkah para pejuang.

“Tetapi, sampai sekarang belum diketahui pasti apa yang sebenarnya terjadi saat itu dan siapa yang membuat Mallaby terbunuh,” ujar Suparto Brata, salah seorang penulis buku tentang pertempuran 10 November.

Menurut Suparto, sampai 65 tahun ini, berbagai hal mengenai Mallaby memang terbilang masih simpang siur. Termasuk kebenaran jenazah Mallaby. Yang diyakini Suparto, dr Soegiri dari tentara angkatan laut kala itu menyebut telah menemukan jenazah Mallaby. “Itu hasil penelitian. Soegiri saat itu langsung membawanya ke Rumah Sakit Simpang,” katanya. Wajah dan tubuh Mallaby sudah sulit dikenali karena sebagian hangus dan hancur. Kabarnya, salah satu cirinya adalah bekas jam tangan di kedua lengannya.

Setelah meyakini itu, jenazah Mallaby dimakamkan di Kembang Kuning. Ketika keadaan kondusif dan tidak ada lagi gejolak, makam Mallaby digali dan dipindahkan ke Jakarta. Di ibu kota itulah kabar terakhir tentang Mallaby diketahui Suparto. “Yang jelas, sampai saat ini saya tidak mengetahui secara persis di mana makam Mallaby berada,” ungkapnya.

Bagaimana nasib mobil Buick yang ditumpangi Mallaby? Suparto juga tidak mengetahui persis. Dalam beberapa penelusuran, setelah insiden tersebut tidak ada yang memedulikan mobil Mallaby. Dia sendiri meyakini bahwa mobil Mallaby hancur. Sebab, pada berbagai dokumentasi yang dia miliki dan lihat tentang mobil-mobil Mallaby, tidak ada yang benar. “Gambar yang banyak beredar bukan mobil saat kejadian. Itu mobil tiruan yang diambil pada peringatan 10 November 1952,” ujarnya. (dim/c9/hud)

Masih Dibiarkan tanpa Aktivitas

KONDISI gedung bersejarah Internatio kini terbilang memprihatinkan. Fisik bangunan masih terlihat berdiri angkuh. Begitu pula halnya dengan kaca atau kusen gedung, sebagian besar masih tampak utuh. Tapi, cat dindingnya sudah banyak yang memudar. Besi-besi hitam yang menjadi aksesori dan pengaman pintu serta jendela mulai dimakan karat.

Sekeliling gedung yang dibangun pada era sebelum kemerdekaan itu kini ditutupi seng setinggi dua meter. Jika dilihat dari sela-sela seng, tampak kondisi gedung yang terbilang kurang terawat. Banyak tanaman liar dan perlengkapan gedung yang dibiarkan berserakan begitu saja.

Kabarnya, gedung itu dimiliki Amelia Wibowo, seorang pengusaha yang berhasil menyulap eks RS Mardi Santoso menjadi Restoran Hallo Surabaya di Jalan Bubutan. Nah, pemasangan seng yang mengelilingi Internatio tersebut, konon, untuk kepentingan proses renovasi. ”Bisa jadi, bakal ada renovasi,” ujar Prof Aminuddin Kasdi, anggota tim cagar budaya pemkot.

Lebih lanjut Aminuddin menjelaskan, gedung Internatio termasuk bangunan cagar budaya tipe A. Dengan demikian, sang pemilik tidak boleh sembarangan merevitalisasi gedung tersebut. Khususnya bentuk bangunan yang khas dengan banyaknya jendela dan pintu. ”Namun, sampai saat ini saya belum dengar adanya rencana revitalisasi,” imbuh guru besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Sayang, Amelia Wibowo belum berhasil dikonfirmasi untuk memastikan nasib gedung Internatio ke depan. Namun, sebelumnya, kepada Jawa Pos Amelia pernah mengaku tetap sangat peduli terhadap bangunan cagar budaya. Seperti halnya RS Mardi Santoso yang telah diubah menjadi restoran khas bernuansa tempo dulu, pihaknya juga siap memberikan sentuhan baru kepada gedung Internatio. ”Keaslian bentuk cagar budaya bakal tetap dijaga,” katanya saat itu.

Sementara itu, jika memang ingin menghidupkan kembali kawasan bersejarah tersebut dengan merevitalisasi Taman Jayengrono atau Memorial Park, agaknya, pemkot mesti bersikap tegas terhadap pedagang kaki lima (PKL) maupun angkutan umum. Sebab, kondisi di kawasan itu saat ini sungguh semrawut. Memang kawasan tersebut beberapa kali ditertibkan. Namun, PKL maupun angkutan umum itu masih mbandel. Karena itu, butuh ketegasan dan keseriusan. (dim/c3/hud)

Saputangan Merah Putih Jasin (6)

Sejarah juga mencatatkan nama M. Jasin sebagai salah seorang sosok penting dalam peristiwa 10 November 1945. Kala itu dia adalah komandan Polisi Istimewa yang merupakan cikal bakal Polri.


SEBUAH monumen berdiri tegak di perempatan Jalan Raya Darmo-Polisi Istimewa. Monumen dengan dua lambang polisi berukuran besar itu begitu jelas. Taman di sekeliling monumen tersebut cukup apik. Rumput dan bunga menghiasinya. Meski demikian, pasti tidak semua orang tahu bahwa bangunan tersebut merupakan salah satu tetenger Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Di monumen itu, terdapat prasasti emas nan penting. Bunyi tulisannya: Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan polisi sebagai Polisi Repuiblik Indonesia.

Jika dibandingkan dengan Bung Tomo, bisa jadi nama Jasin kurang familier saat ini. Padahal, perannya dalam upaya mempertahankan Surabaya kala pendudukan tentara Inggris dan sekutu juga tidak perlu disangsikan. Dia menurunkan paksa bendera Jepang di markas Polisi Istimewa di gedung ST Louis, lalu menggantinya dengan sang Merah Putih.

Menurut Suparto Broto, penulis sejarah tentang pertempuran 10 November 1945, polisi berpangkat inspektur I itu juga menjadi salah seorang tokoh dalam penyerbuan arek-arek Suroboyo ke markas Kempetai di kawasan Pasar Besar pada 2 Oktober 1945. Terjadi baku tembak dahsyat saat itu. Di tengah peluru yang berhamburan, Jasin yang menerobos kawat berduri tersebut langsung lari ke ruang Kempeitai. Dia ingin bertemu dengan Takahara, salah seorang pembesar Jepang. Kebetulan, Jasin mengantongi saputangan merah putih. Saputangan itu diserahkan kepada komandan Kempeitai, lalu ditarik ke luar.

Tangan pemimpin Kempeitai yang memegang saputangan merah putih tersebut dilambai-lambaikan ke hadapan rakyat yang mengepung gedung itu. Seluruh rakyat bersorak. Sebab, itu menandakan pengakuan terhadap Republik Indonesia.

Jasin juga menjadi salah seorang tokoh sentral yang memimpin perebutan senjata ke gudang-gudang milik Jepang. Salah satu gudang tersebut kini menjadi gedung Don Bosco di Jalan Tidar. Senjata-senjata itu lantas dibagikan kepada para pejuang lain untuk melawan tentara Inggris. (dim/c11/hud)

Menjadi Kompleks Pendidikan Ternama

GEDUNG Don Bosco termasuk salah satu di antara bangunan cagar budaya yang mesti dilestarikan. Gedung di Jalan Tidar tersebut juga memiliki catatan penting perjalanan Kota Pahlawan. Saat pertempuran 10 November 1945 meletus, gedung itu disebut-sebut sebagai salah satu markas senjata Jepang. Nama Don Bosco, ternyata, diambil dari nama seorang pastor Italia bernama Johanes Bosco.

Gedung itu pada 1927 menjadi tempat Yayasan Don (Bapak) Bosco yang mempunyai tujuan sama seperti Pastor Bosco. Awalnya, yayasan yang mempunyai banyak tanggungan anak asuh tersebut belum memiliki panti sendiri. Anak-anak itu terpaksa ditampung di panti-panti lain dan rumah pondokan. Pada 2 Desember 1931, Yayasan Don Bosco mempunyai panti di gedung sewaan di Jalan Ngemplak. Pada 1937, yayasan tersebut baru memiliki panti sendiri di Jalan Tidar itu.

Kini, 65 tahun pasca peristiwa 10 November, gedung Don Bosco tetap terawat dengan baik. Saat ini, bangunan tersebut menjelma menjadi salah satu kompleks pendidikan ternama di Kota Pahlawan. Selain panti asuhan, di kompleks itu berdiri TK, SD, SMP yang dikelola Yayasan St Louis serta SMA dan SMK yang dikelola oleh Yayasan Lazaris. Selain itu, ada beberapa poli kesehatan. ”Sudah lama jadi kompleks pendidikan,” ujar Wakasek SMAK St Louis 2 Bernadus Widodo.

Di salah satu sudut Panti Asuhan Don Bosco itu, terdapat sebuah tulisan bertinta warna emas. Tulisan tersebut berbahasa Belanda dengan tanda pengenal Van De Don Bosco sebagai pendiri gedung yang dibangun sekitar 1930 itu. Bernadus Widodo membenarkan bahwa gedung yang kini menjadi sekolah tersebut dulu merupakan tempat penyimpanan senjata. ”Yang banyak sejarahnya itu gedung di bagian depan,” ujarnya.

Bangunan yang dimaksud adalah gedung yang saat ini dijadikan sebagai kantor dan panti asuhan. Gedung itu juga dimanfaatkan sebagai asrama suster. Saat ini, di kompleks tersebut didirikan. ”SMA, SMK, TK, dan SD sekarang sudah menggunakan gedung baru,” katanya.

Nah, pengadaan gedung baru itu dimaksudkan untuk meningkatkan sarana dan prasarana kegiatan belajar. Sebab, hingga saat ini, warga yang berminat belajar di kompleks pendidikan tersebut sangat tinggi. Karena itu, berbagai pihak memutuskan untuk menambah bangunan tanpa mengubah bentuk gedung utama yang memiliki banyak kisah sejarah. (puj/c6/hud)

Kegigihan Dokter Gigi Moestopo (7)

Gedung PTPN XI di Jalan Merak juga menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah 10 November 1945. Dulu gedung bernama Hollands Vereeniging Amsterdams (HVA) itu pernah menjadi markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR) Jatim di bawah pimpinan Moestopo.


GEDUNG bergaya kolonial langsung terlihat saat melintas di Jalan Merak, Krembangan. Taman yang ditumbuhi berbagai pohon dan warna krem gedung terlihat menyatu. Di bawah jam dinding yang terdapat di wajah depan bangunan itu terpampang tulisan PT Perkebunan Nusantara XI (Persero).

Gedung yang pertama dibangun biro arsitek Hulswit, Fermont & ED pada 1920-1925 itu lebih dikenal sebagai saksi konglomerasi industri gula di Nusantara. Padahal, gedung itu juga merekam jejak para pejuang dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Satu di antara nama tokoh yang ”menguasai” gedung itu adalah Moestopo.

Penulis buku tentang peristiwa 10 November 1945, Suparto Brata menceritakan, sosok Moestopo memang termasuk tokoh menonjol sejak pergolakan perebutan senjata milik Jepang. Kata dia, dalam beberapa perundingan dan peristiwa penting adik kandung Wali Kota Mustajab itu selalu muncul. Termasuk perjanjian serah terima kekuasaan sekaligus pelucutan senjata Jepang dari Mayjen Iwabe Shigeo selaku panglima angkatan darat Jepang di gedung HVA tersebut.

Dalam beberapa cerita saksi sejarah, sarjana dokter gigi yang namanya sudah menjadi jalan di Kota Pahlawan ini benar-benar gigih. ”Saat tentara sekutu sampai di Surabaya, Moestopo juga yang pertama menghadapi,” ujar Suparto. Sebagai komandan BKR Jatim kala itu, memang Moestopo mengemban peran penting.

Selain memiliki keberanian yang luar biasa, Moestopo dikenal sebagai juru runding yang ulet. Berbagai perundingan dilakukan Moestopo dengan tentara sekutu sebagai pengganti Gubernur Soerjo. Banyak keputusan yang dihasilkan. Di antaranya tentara sekutu menghentikan gerakan sampai 800 meter dari Tanjung Perak.

”Saat sudah ditempati Moestopo, gedung (PTPN) itu juga dijadikan tempat berunding antara pejuang dan Inggris,” imbuh Suparto.

Tak hanya kegigihan yang dikenang Suparto. Dia juga cukup mengenal sosok Moestopo sebagai pribadi dengan kemampuan mirip Bung Tomo. Yakni, keahlian sebagai orator. Saat Inggris hendak menginjakkan kaki di Surabaya melalui Pelabuhan Tanjung Perak pada 25 Oktober 1945, Moestopo ikut berperan membakar semangat Arek Suroboyo melalui siaran di radio untuk tetap waspada.

Moestopo juga pandai menggertak tentara Sekutu. ”Inggris! Nica! Jangan mendarat! Kalian orang terpelajar! Tahu aturan! Jangan mendarat! Jangan mendarat,” ucapnya menirukan Moestopo saat itu.

Moestopo meninggal di Bandung pada 29 September 1986. Pahlawan nasional itu juga dimakamkan di Bandug. Namun, nama Moestopo yang ditetapkan sebagai pahlwan nasional pada 2007 itu masih terus harum di Surabaya. Selain dikenal sebagai pejuang 10 November, Moestopo tercatat sebagai orang yang ikut andil dalam membangun pendidikan di Kota Pahlawan. Sebab, dia pernah menjadi unsur pimpinan di Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair) dan RSUD dr Soetomo kala itu. (dim/c2/hud)

Pemkot Apresiasi Pengelola Bangunan

TIDAK banyak bangunan dan situs cagar budaya (heritage) di Kota Pahlawan yang terawat dengan baik. Di antara yang sedikit itu adalah gedung PTPN XI di Jalan Merak. Pengelola gedung tersebut juga tetap menjaga aroma klasik gedung peninggalan zaman Belanda itu. Pola lobi pada ruang transisi utama, kemudian ruang terbuka di tengahnya, plus tiang-tiang tinggi tetap utuh. Begitu juga bentuk bangunan yang memiliki banyak lorong dan jendela.

Ornamen-ornamen tempo dulu juga tetap terpelihara dengan baik. Salah satunya perjalanan tiga lambang Surabaya di lobi gedung. Keaslian lantai, kayu, dan besi yang menjadi pintu atau jendela masih terlihat. Bahkan, sentuhan permainan lampu di lorong-lorong gedung makin membuat gedung PTPN XI khas dan artistik.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemkot Wiwiek Widayati mengatakan, gedung PTPN XI termasuk salah satu bangunan cagar budaya yang memiliki tingkat keterawatan tinggi. Meski hingga saat ini belum ada insentif bagi para pemilik bangunan cagar budaya, PTPN bisa memenuhi tanggung jawabnya menjaga bangunan kuno. ”Semoga pemilik bangunan cagar budaya lain bisa mencontoh,” ujarnya.

Sekretaris Perusahaan PTPN XI Adig Suwandi menjelaskan, pihaknya memang berkomitmen dan konsisten dengan cagar budaya. Menurut dia, PTPN XI akan melakukan yang terbaik untuk menjaga keaslian dan keutuhan bangunan peninggalan Belanda itu. Baginya, gedung tersebut tidak hanya untuk aktivitas perkantoran, tetapi juga menjadi saksi sejarah. ”Banyak nilai yang harus dipertahankan,” imbuhnya. Kondisi itu setidaknya bisa dlihat dari beberapa diorama yang terdapat di lantai 2 gedung tersebut. Di situ terdapat diorama yang memiliki pengaruh pada perekonomian bangsa Indonesia. (dim/hud)

Langkah Terakhir sang Gubernur (8)

Nama lengkapnya Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo. Namun, dia lebih akrab disebut Gubernur Soerjo. Dia tidak lain adalah gubernur pertama Jawa Timur (Jatim) setelah kemerdekaan.


PATUNG di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, itu menjulang tinggi. Terlihat sesosok pria yang mengenakan peci berdiri tegak dengan sikap sempurna. Sosok tersebut adalah Soerjo, gubernur pertama Jatim sekaligus sang pahlawan. Patung itu merupakan satu di antara tetenger (landmark) di jantung Kota Pahlawan.

Pembuat patung tersebut adalah Thalib Prasojo, alumnus Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) angkatan 1967. Patung Gubernur Suryo itu dibuat oleh perupa kelahiran Bojonegoro itu pada 1975, ketika wali kota Surabaya dijabat oleh Muhadji Wijaya. Kelak, kali pertama Soerjo menduduki kursi sebagai gubernur pada 12 Oktober 1945 dijadikan patokan Hari Jadi Provinsi Jatim.

Pijakan patung sang gubernur pertama Jatim tersebut berbentuk segi empat. Di tiga sisinya terdapat berbagai tulisan. Di antaranya, penggalan teks pidato Soerjo (lihat grafis).

Menurut Samidi M. Baskoro, sejarawan Universitas Airlangga (Unair), sosok Soerjo memang terbilang unik. Dia adalah salah seorang tokoh penting di balik meletusnya perang 10 November 1045. Sejak muda, Soerjo memang dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat tinggi untuk membela tanah air. Karena itu, tidak heran jika Soerjo tidak gentar akan ancaman pimpinan tentara sekutu. Saat Brigjen Mallaby tewas, misalnya, kematian itu membuat murka Robert C. Mansergh. Panglima angkatan darat sekutu itu pun memanggil Soerjo untuk meminta tanggung jawab atas insiden pada 30 Oktober tersebut.

“Tetapi, Soerjo dengan tegas menolak permintaan Inggris untuk menyisir para pejuang,” cerita Samidi.

Pihak Inggris makin berang. Akhirnya, pada Jumat, 9 November 1945, secara tiba-tiba Inggris menyebarkan pamflet ultimatum lewat udara. Isinya, pejuang mengibarkan bendera putih. Jika tidak, Inggris akan membombardir melalui serangan udara, laut, dan darat mulai subuh pada 10 November 1945. Ultimatum itu membuat arek-arek Suroboyo makin waspada.

Soerjo melalui siaran radio meminta rakyat Jatim, terutama Surabaya, tetap tenang dan menunggu perintah dari Jakarta. Ternyata, kebijakan dari Jakarta menyerahkan sepenuhnya kepada Soerjo. Pada pukul 23.00, Soerjo lantas melakukan siaran di radio. Salah satu isi siarannya seperti tertulis dalam prasasti di patung yang berdiri tegak di Jalan Gubernur Suryo. “Lebih baik hancur daripada dijajah kembali,” ujar Samidi me­nirukan teks pidato Soerjo.

Sikap Soerjo yang tetap bertahan di Surabaya selama pertempuran dahsyat pantas diapresiasi. Sejarah mencatat, Soerjo merupakan birokrat terakhir yang melangkahkan kaki keluar Surabaya untuk membentuk pemerintahan darurat di Mojokerto. Sebab, sebagian besar wajah Su­ra­baya sudah hancur setelah di­bom­bardir sekutu. “Karena kondisi chaos, pemerintahan dipindah. Secara estafet Soerjo menjalankan pemerintahan dengan darurat,” paparnya. (dim/c8/hud)

Tak Banyak Berubah

KANTOR Gubernur di Jalan Pah­lawan juga menjadi saksi bisu amuk arek-arek Suroboyo melawan pen­jajah. Sejak sebelum kemerdekaan, Kantor Gubernur Jatim mengalami perpindahan lokasi beberapa kali. Pada zaman Belanda, awalnya kantor tersebut berada di sebuah gedung di Jalan Jembatan Merah. Kemudian, pada 1929, dibangun kantor baru yang berlokasi di Jalan Pahlawan 110. Pembangunan tersebut selesai pada 1931.

Pada masa pemerintahan Jepang, gedung tersebut difungsikan sebagai kantor Syuucho (karesidenan). Sebab, jabatan gubernur dalam organisasi pemerintahan Jepang tidak dikenal. Jabatan gubernur dihidupkan lagi pada masa kemerdekaan. Gubernur pertama adalah Soerjo.

Kepala Biro Umum Pemprov Jatim M. Amin mengatakan, tidak mudah menjaga bangunan cagar budaya itu. Setiap hari, setidaknya ada empat orang yang khusus ditugaskan untuk membenahi bangunan cagar budaya tersebut. ”Misalnya, menjaga jam kuno yang ada di atap gedung,” katanya.

Perawatan itu, misalnya, dilakukan dengan memberikan minyak dan oli. Fungsinya menjaga jam tersebut tidak berkarat. ”Kalau berkarat, jamnya tidak bisa jalan,” tambahnya.(puj/c6/hud)

Perobekan Bendera di Hotel Majapahit (9)

Siapa yang tidak tahu cerita perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato? Salah satu tokoh yang turut andil terjadinya perobekan bendera itu adalah sosok Residen Sudirman. Salah seorang pemuda Surabaya yang tak rela Surabaya tetap diduduki Belanda.


SEBUAH kamar terletak di sisi paling belakang Hotel Majaphit. Berada paling pojok dengan nomor 33. Di samping pintu cokelat berukuran besar terdapat sebuah papan nama bertuliskan, “Merdeka”. Menurut Marketing Manager Hotel Majapahit Pratiwi Sasotya Edi, ruang itu adalah kamar Hotel Majapahit dengan tipe Suite.

Namun, bisa jadi tidak semua orang tahu bahwa ruang tersebut kental dengan perang 10 November 1945. Sebab, pihak manajemen hotel tidak mengistimewakannya. Kamar itu memiliki isi yang sama dengan kamar Majapahit suite lain. ”Tetapi, kamar ini memiliki kisah istimewa karena saat diduduki Sekutu, kamar ini menjadi kantor utama,” ujar Pratiwi.

Majapahit Suite adalah sebuah kamar mewah yang memiliki fasilitas satu luxurious tempat tidur dengan pelayan eksklusif. Nah, kamar tersebut mempunyai sembilan tipe dengan tema berbeda. Yakni, Arjuna, Pandawa, Surabaya, Jawa, Madura, Oranye, Semeru, Sarkies, dan Merdeka. ”Kamar ini khusus diberi nama merdeka karena pascaperang 10 November hotel ini pernah bernama Hotel Merdeka,” imbuhnya.

Berdasar informasi yang diperolehnya, Residen Sudirman pernah berada di ruang itu untuk berunding dengan Sekutu. Saat itu, 18 September 1945, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr W.V.Ch Ploegman pada malam hari sekitar pukul 21.00 mengibarkan bendera Belanda di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato sisi sebelah utara.

Karena tidak ada izin dari pemerintah Indonesia, amarah para pemuda Surabaya meledak saat melihat bendera itu masih berkibar pada 19 September. Para pemuda menganggap Belanda mau menancapkan kekuasaan kembali di Indonesia dan dianggap melecehkan gerakan pengibaran bendera yang berlangsung di Surabaya.

Menurut penulis buku tentang 10 November Suparto Brata, tidak lama kemudian Residen Sudirman datang. Kedatangan pejuang dan diplomat ulung yang waktu itu menjabat wakil residen (fuku syuco gunseikan) itu menyibak kerumunan massa lalu masuk hotel. ”Yang diinginkan, Sudirman meminta bendera Belanda diturunkan,” ujarnya.

Sikap heorik Residen Sudirman terlihat saat Ploegman menolak permintaan itu. Berbagai sumber menyatakan, saat itu dengan angkuh dia menyatakan jika Belanda berhak berada di Indonesia karena negara tersebut merupakan kelompok Sekutu. Sikap itu dipicu oleh kemenangan Sekutu pada Perang Dunia II. ”Akhirnya terjadi perkelahian. Dan, perkelahian itulah yang memicu terjadinya perobekan bendera Belanda,” tuturnya. (dim/c2/mik)

Wakil Indonesia di Tingkat Internasional

HOTEL Majapahit adalah salah satu bangunan dan situs cagar budaya (heritage) di Surabaya yang terawat dengan baik. Maklum, hotel tersebut hingga kini masih aktif digunakan sebagai jujukan wisatawan lokal maupun internasional. Gaya arsitektur kolonial yang khas menjadikan hotel berbintang lima tersebut dituntut selalu tampil ciamik.

Itulah mengapa hingga kini hotel itu masih tertata apik dan bagus. Sebab, hotel yang berdiri pada 1910 tersebut adalah sebuah saksi sejarah terstigmanya Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Manajer Pemasaran Hotel Majapahit Pratiwi Sasotya Edi mengatakan bahwa pihaknya siap mempertahankan orisinalitas hotel. “Apalagi, gedung ini sangat cantik,” ucapnya.

Komitmen tersebut ditunjukkan dengan kebijakan yang berlaku di hotel itu. Yakni, renovasi dilakukan hanya pada sisi interior, sedangkan eksterior harus tetap pada bentuk aslinya. Karena itu, pengunjung hotel masih bisa menemui lantai, pintu, kosen, tiang, hingga bentuk bangunan yang asli sejak hotel tersebut dibangun. “Hotel ini juga termasuk cagar budaya, jadi tetap harus dijaga,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Jatim Jarianto memberikan apresiasi khusus terhadap manajemen Hotel Majapahit. Sebab, komitmennya dalam menjaga keutuhan hotel tersebut membuat hotel yang juga terkenal dengan nama Yamato dan Oranje itu bisa maju ke tingkat internasional. “Mengikuti ajang 2010 UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards for Culture Heritage Conservation di Bangkok, Thailand,” ungkapnya.

Dia mengatakan, hotel yang berada di Jalan Tunjungan itu memiliki kans besar untuk diakui Unesco. Sebab, hotel tersebut punya keunggulan dari sisi sejarah. Hotel itu menjadi saksi hidup perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan. “Peristiwa penyobekan bendera sangat kuat bagi warga,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Surabaya menyertakan tiga bangunan cagar budayanya untuk bertarung di Thailand. Yakni RS Darmo, Gereja Santa Perawan Maria, dan Hotel Majapahit. Seluruhnya telah melalui proses penjaringan oleh internal Disparta Jatim. Seleksi tersebut juga melibatkan akademisi, sejarawan, dan budayawan. “Sayang, sampai saat ini belum ada kabarnya,” ucap dia. (dim/c9/mik)

Pendiam tapi Berotak Cerdas (10)

Cerita 10 November 1945 juga selalu menempatkan nama Sungkono di garda depan. Ketika pertempuran dahsyat itu meletus, Sungkono yang masih berpangkat kolonel kala itu menjabat komandan pertahanan kota.


BEGITU masuk ke ruang utama atau lobi Gedung Juang 45 di Jalan Mayjen Sungkono, sebuah patung setengah badan menyambut. Patung itu berpeci atau berkopiah. Letaknya berada di atas batu tegak setinggi orang dewasa. Di kanan dan kiri batu penyangga patung itu terdapat hiasan bunga sederhana. Patung itu terletak paling depan di antara koleksi foto-foto perjuangan yang dimiliki Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Jawa Timur. Itulah patung Kolonel Sungkono.

Gedung itu terdiri atas tiga lantai. Bentuk bangunan Gedung Juang 45 tersebut sangat artistik. Di bagian depan bangunan, misalnya, terdapat ukiran berbentuk bambu runcing (takeyari). Yakni, senjata dari bambu dengan ujung dibuat lancip. Senjata inilah yang juga banyak digunakan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdakaan. Gedung ini diresmikan Presiden Soeharto pada 17 April 1993. Selain sebagai kantor DHD 45 Jawa Timur, fungsinya juga pendukung dalam pengumpulan data otentik yang berkaitan sejarah perjuangan bangsa.

Anggota DHD 45 Jatim Eddy Samson mengatakan, Sungkono memang termasuk satu di antara tokoh yang luar biasa dalam peristiwa 10 November. Sebetulnya, sosok Sungkono itu terbilang pendiam atau kalem. Tidak meledak-ledak. Tetapi, di balik sifat pendiam itu, Sungkono memiliki keberanian dan semangat yang menyala-nyala. Yang bersangkutan juga masuk kategori pejuang cerdas dan pandai mengatur strategi peperangan. Karena itu, tidak salah Sungkono diangkat sebagai komandan pertahanan Kota Surabaya yang menjadi pusat pertempuran melawan Inggris dan sekutunya.

Sungkono bersama beberapa tokoh lain seperti drg Moestopo, Doel Arnowo, dan Ruslan Abdul Gani juga merupakan pendiri BKR dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Kesatuan inilah yang menjadi cikal-bakal TNI (Tentara Nasional Indonesia). Beberapa kesatuan perjuangan lahir, salah satunya juga berkat inisiatif Sungkono. Misalnya, Tentara Republik Indonesia Pelajar/TRIP (Nama kesatuan TRIP ini sekarang juga sudah menjadi nama jalan di kawasan Gunungsari, yaitu Jalan Mastrip).

Lebih lanjut, Eddy mengungkapkan, keberanian sosok Sungkono terlihat ketika menghadapi ultimatum tentara Inggris pada 9 November 1945. Bunyi ultimatum itu tidak lain agar rakyat Indonesia menyerahkan diri. Menghadapi ancaman itu, Sungkono lantas mengadakan pertemuan dengan beberapa elemen perjuangan di markas Jalan Pregolan 4. Inti pertemuan penting itu: Tetap mempertahankan Kota Surabaya! Juga, menetapkan Sungkono sebagai komandannya. (dim/c1/hud)

Miskin Data Peninggalan Sungkono

SEBAGIAN orang mungkin mengira Sungkono dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) 10 November. Sebab, makam tersebut berlokasi di Jalan Mayjen Sungkono. Namun, ternyata di tempat itu tidak ada makam pejuang yang diangkat menjadi panglima Divisi I/Gubernur Militer Jawa Timur pada 19 Desember 1948 tersebut. Kala itu, Sungkono juga mendapat amanat dari Panglima TNI Jenderal Sudirman untuk memberantas peristiwa Madiun 1948.

Anggota DHD 45 Jatim Eddy Samson juga menyatakan belum mengetahui persis lokasi makam Sungkono. Dia mengungkapkan, Sungkono memang termasuk salah seorang sosok yang kurang terdokumentasi dengan baik. Begitu juga dengan peninggalan-peninggalannya. ”Memang harus mulai dicari lagi,” ucapnya.

Pernyataan senada disampaikan Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi DHD 45 Jatim Suhardi Djaharuddin. Namun, dia menyebutkan, apresiasi terhadap Sungkono telah diabadikan dalam beberapa hal. Di antaranya, penamaan jalan hingga pembuatan patung khusus di Gedung Juang 45. Dikatakan, sebagai salah satu elemen pelestari jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan 45, pihaknya akan terus berupaya melengkapi data-data tentang pahlawan. ”Termasuk Mayjen Sungkono,” tuturnya. (dim/c5/hud)

Berkat Kesabaran Dokter Soetopo (11)

Nama dokter Soetopo bisa jadi tidak sepopuler Sutomo alias Bung Tomo dalam peristiwa 10 November 1945. Meski demikian, peran Soetopo yang saat itu menjabat kepala Rumah Sakit (RS) Pusat Simpang juga terbilang luar biasa.


Mungkin, tidak banyak yang tahu bahwa terdapat prasasti penting di depan Surabaya Plaza (dulu Delta Plaza), Jalan Pemuda. Sayang, kondisi prasasti itu kurang terawat. Tanaman yang menghiasi juga terlihat tidak dirapikan. Di sebagian sisi tembok prasasti itu ada semprotan cat hitam. Padahal, prasasti tersebut merupakan penanda bahwa kompleks itu juga menjadi salah satu saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo untuk mempertahankan kemerdekaan.

Menurut Pandji R. Hadinoto, keluarga Soetopo, menangani ribuan korban peperangan tentu tidak mudah dan butuh kesabaran ekstra. Soetopo dan dokter lain tetap berjuang keras untuk memberikan pelayanan terbaik selama 24 jam. Saking banyaknya korban, tidak sedikit pasien yang terpaksa dikirim ke luar kota.

Menurut Pandji, para korban dan keluarganya tentu butuh logistik yang tidak sedikit. Karena itu, Soetopo juga bekerja keras untuk mengoordinasi pasokan makanan dari daerah-daerah lain. Di antaranya, ke Pemerintahan Sidoarjo. Saat itu Soetopo juga men­jadi pemimpin palang merah. Bersama beberapa dokter lain, seperti M. Soewandhie, Soetopo kerap menjadi pendamping tokoh pejuang ketika menyerbu markas tentara Inggris dan sekutunya. ”Yang menyerbu di depan, antara lain, barisan polisi istimewa yang dipimpin M. Jasin,” ujarnya. Dia mengetahui cerita tersebut dari catatan Soetopo.

Ketika menangani banyak pasien korban peperangan, fisik dan mental para perawat yang bekerja di RS Simpang drop. Soetopo memiliki cara lain agar tidak sampai kekurangan tenaga perawat. Yakni, memanggil tenaga sukarelawan melalui Radio Pemberontakan yang biasanya juga dipakai Bung Tomo untuk mengobarkan semangat Merdeka atau Mati. Cara itu ternyata sukses. Sukarelawan dadakan siap menjadi perawat dadakan. Jadi, Soetopo termasuk salah satu komandan penanganan korban peperangan. (dim/c12/hud)

Dikukuhkan sebagai Pejuang 45

PERAN dan perjuangan Soetopo dalam peristiwa 10 November 1945 berbuah penghargaan. Per 13 Juli 2010, dokter yang wafat pada 1982 itu mendapatkan pengukuhan sebagai Pejuang 45. Penghargaan tersebut sesuai dengan surat bernomor KM/Menkes/904/VII/2010 yang ditandatangani Menteri Kesehatan (Menkes) dr Endang Rahayu Sedyaningsih.

Dalam surat Menkes itu disebutkan juga jasa-jasa Soetopo. Yakni, dia pernah memimpin dokter-dokter Indonesia dalam pertemuan dengan dokter Belanda yang ditangkap dan diasingkan arek-arek Suroboyo serta menyerukan bantuan saat pertempuran 10 November. Soetopo juga pernah meminta bantuan Jawatan Kereta Api untuk mengangkut korban ke Malang dan Jombang serta memerintahkan evakuasi korban perang.

Selain itu, Soetopo adalah Menkes pada zaken kabinet (6 Januari-6 September 1950). Yang bersangkutan juga telah menerima Bintang Mahaputra Utama dan Bintang Satya Lencana Karya Satya serta Satya Lencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan. “Pengukuhan Pejuang 45 dr Soetopo dilakukan di Taman Pemakaman Keluarga Kuncen, Jalan Surodinawan, Mojokerto,” ujar Pandji R. Hadinoto. Penghargaan itu, lanjut dia, tentu merupakan kebanggaan tersendiri dan menjadi kado dalam peringatan Hari Pahlawan tahun ini.

Namun, penghargaan tersebut bukan akhir segalanya. Lebih dari itu adalah bagaimana meneladani semangat dan perjuangan Soetopo untuk bangsa dan negara. Menurut Pandji, pihak keluarga akan terus memberikan yang terbaik bagi bangsa. Salah satunya melalui lembaga pendidikan anak buta yang sudah berjalan sejak 9 Maret 1959. “Lokasinya di Jalan Gebang Putih,” ungkapnya. (dim/c9/hud)

Yayasan Tetap Eksis

SUARA angklung mengalun ketika Jawa Pos mengunjungi lembaga pendidikan yang didirikan Soetopo di kawasan Gebang Putih. Di dalam gedung Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) itu, terlihat puluhan siswa sedang belajar bermain musik. Di ruang latihan tersebut ada sebuah tulisan: I am blind, but not my heart (Saya buta, tetapi tidak hati saya).

Rila Wirawan, sang guru musik, terlihat asyik memainkan keyboard dan diiringi suara angklung. “Kami sedang berlatih untuk pertunjukan minggu depan,” katanya.

Dia menyatakan, musik adalah salah satu andalan di sekolah yang memiliki moto Yakin Pasti Akan Berhasil itu. Menurut Rila, sejak sekolah tersebut dibangun, musik angklung terus-menerus dipelajari. “Salah satu ekstrakurikuler yang paling menonjol di sekolah ini ya angklung,” ungkapnya.

YPAB yang saat ini dipimpin Prof Soedarso Djojonegoro (mantan rektor Unair) itu juga menaungi TK luar biasa, SD luar biasa, dan SMP luar biasa. Di kompleks tersebut ada sebuah asrama untuk siswa-siswi dari luar Surabaya. Selain angklung, YPAB memiliki ekstrakurikuler band, kolintang, karawitan, mengaji, dan pijat. (dim/c9/hud)

Mas Mansyur sang Penjaga Semangat (12)

Tak sedikit tokoh agama yang rajin turun gelanggang menjadi pengobar semangat rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan dalam peristiwa 10 November 1945. Selain KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah, nama KH Mas Mansyur tidak bisa diabaikan. Mantan ketua umum Muhammadiyah itu juga salah seorang ulama pejuang.


MURAL di dinding eks Penjara Kalisosok di Jalan Kutilang kini kembali digarap House of Sampoerna (HoS). Sejumlah gambar yang menjadi tetenger Surabaya diwarnai dengan cantik. Warna-warna kontras memenuhi gambar seperti di Tugu Pahlawan, Patung Jalesveva Jayamahe, gedung PTPN XI, hingga gedung Cerutu. Aktivitas itu bagian dari rangkaian menyambut Hari Pahlawan.

General Manager HoS Ina Silas mengatakan, pengecatan pagar eks Penjara Kalisosok itu memang bertujuan agar bangunan bersejarah tersebut tetap bagus, bersih, dan tidak terlihat kumuh. Pihaknya tidak melukis kembali tembok sepanjang sekitar 200 meter itu, tetapi hanya merawatnya agar tetap memberikan kesan berbeda di ruas jalan tersebut.

”Meski bangunan itu bukan milik kami, ini bentuk komitmen untuk ikut memperindah cagar budaya,” ujarnya.

Dalam catatan sejarah, Kalisosok memang banyak menyimpan cerita penting. Satu di antara tokoh yang disebut-sebut pernah merasakan hidup di penjara peninggalan Belanda itu adalah KH Mas Mansyur. Bahkan, konon kiai yang dikenal dengan sebutan Empat Serangkai bersama Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantoro tersebut menderita sakit saat di penjara dan lantas meninggal pada 25 April 1946.

Prof Achmad Djainuri, rektor Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Sidoarjo, menyatakan bahwa perjuangan Kiai Mas Mansyur memang terbilang istimewa. Termasuk dalam peristiwa 10 November. Kiai Mas Mansyur merupakan salah seorang ulama yang ikut aktif menjaga semangat rakyat untuk tidak tunduk terhadap penjajah. Saat perang terus berkecamuk, penjajah meminta pahlawan nasional kelahiran Sawahan, Surabaya, 25 Juni 1896, itu ikut mengimbau agar rakyat menyerah. ”Kiai Mas Mansyur diminta untuk berpidato agar perang dihen­tikan dan tunduk kepada sekutu,” ujarnya.

Tentu saja, cerita Djainuri, permintaan tersebut ditolak. Karena dianggap tidak patuh, sekutu yang sudah menguasai Penjara Kalisosok setelah insiden perobekan bendera di Hotel Yamato langsung memasukkannya ke tahanan. Padahal, ketika itu kondisi Kiai Mas Mansyur belum sembuh dari sakitnya. ”NICA yang menangkap dan beliau meninggal di dalam penjara,” katanya.

Jauh sebelum peristiwa penangkapan tersebut, sosok Kiai Mas Mansyur juga dikenal sebagai tokoh pergerakan yang tangguh. Terutama pergerakan pendidikan, keagamaan, dan nasionalisme. Di antaranya, mendirikan wadah tashwirul afkar bersama KH Wahab Chasbullah. Juga, beberapa lemba­ga yang mengusung gerakan cinta tanah air. Kiai Wahab dan Kiai Mas Mansyur memang disebut-sebut sebagai kawan dekat sejak muda.

Karena semangat cinta tanah air itulah, Kiai Mas Mansyur bersama tokoh-tokoh agama lain aktif membakar semangat rakyat, khususnya santri, untuk tidak mau takluk di tangan penjajah. Berkat suntikan semangat tersebut, laskar pergerakan Islam, seperti Hizbullah, Sabillah, hingga Mujahiddin, makin kukuh berprinsip hidup atau mati! ”Ya, saat itu para ulama dan kiai memang ikut serta membakar semangat dan ber­tempur,” tegasnya.

Kiai Mas Mansyur dimamkam di kompleks pemakaman keluarga Gipo di kawasan Ampel. Di lahan seluas sekitar 7 x 4 meter itu makam sang Pahlawan Nasional berada bersama dengan puluhan makam keluarga lain. Lokasi makam itu berada di sisi belakang Masjid Ampel dan tidak jauh dengan makam Mbah Sholeh.

Menurut Djainuri, wafatnya Kiai Mas Mansyur ketika itu mendapat perhatian banyak pihak. Salah satunya dari Panglima Sudirman. Atas jasanya yang besar dalam perjalanan kemerdekaan, pemerintah langsung menganugerahi pahlawan nasional pada 1960. ”Banyak keteladanan yang bisa diambil. Termasuk cara berjuangnya yang memegang teguh agama,” tandasnya. (dim/hud)

Keberanian Laksamana Atmadji Sudah Teruji (13)

Jika di kesatuan polisi ada sosok M. Jasin, kesatuan darat terdapat nama H R. Muhammad, Kolonel Soengkono, drg Moestopo, serta beberapa tokoh lain, di kesatuan laut dalam peristiwa 10 November 1945 juga muncul nama tokoh. Satu di antara mereka adalah Laksamana III Atmadji.


PRASASTI berbentuk batu besar terdapat di sisi utara pintu masuk gedung Administrator Pelabuhan (Adpel) Tanjung Perak. Sebuah tulisan berwarna emas tampak memudar dengan dasar warna hitam menghiasi prasasti tersebut. Bunyinya: Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1945 gedung ini pernah dipakai sebagai markas SPI (Serikat Pelayaran Indonesia) yang kemudian melebur dalam BKR (Barisan Keamanan Rakyat) Laut.

Prasasti itu diresmikan Panglima Armada RI (waktu itu) Laksamana Muda TNI Prasodjo Mahdi pada 25 Juli 1978. Di sisi selatan, terdapat juga prasasti yang ukurannya lebih kecil. Prasasti tersebut dibangun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemkot Surabaya. Isinya menyebutkan bahwa bangunan itu termasuk heritage (cagar budaya). Sesuai dengan peraturan daerah (perda), bangunan itu wajib dilestarikan.

Kepala Dinas Penerangan (Dispen) Armatim Letkol Laut Yayan Sugiana mengungkapkan, BKR Laut pertama dibentuk pada 10 September 1945 sebagai wadah perjuangan yang menggantikan SPI. Sejak pembentukan itu, BKR Laut menjadi ujung tombak menjaga keamanan pesisir. Mereka juga terlatih karena pernah bertugas di jajaran Koninklijke Marine (AL Belanda) dan Kaigun (AL Jepang). Melalui maklumat presiden, pada 5 Oktober 1945, nama BKR itu berubah menjadi TKR. (Tanggal perubahan nama BKR menjadi TKR itu dijadikan HUT TNI)

Ketika pertempuran meletus di Surabaya pada Oktober-November 1945, Atmadji memang tercatat sebagai TKR Laut untuk Surabaya yang saat itu menjadi anak buah drg Moestopo. Dalam beberapa perundingan dengan tentara Inggris di bawah pimpinan Brigjen Mallaby, Atmadji juga ikut mewarnai perundingan. Termasuk ketika menyambut kedatangan pasukan Inggris melalui Pelabuhan Tanjung Perak pada 25 Oktober 1945.

”Meski baru terbentuk, kekuatan yang sederhana tidak menyurutkan mereka untuk menggelar operasi lintas laut dalam rangka mempertahankan kemerdekaan,” tandasnya.

Sejatinya, para pejuang sudah siaga saat Inggris datang. Namun, Inggris berhasil mendarat karena Mallaby berhasil meyakinkan Moestopo bahwa mereka datang ke Surabaya untuk mengungsikan pasukan Jepang. Ternyata, janji dan pernyataan itu hanya kebohongan. Kondisi itu pun seolah menguji keberanian Atmadji dan tokoh lain bersama rakyat untuk terus berjuang sampai titik darah penghabisan.

Sebelum Inggris datang, sosok Atmadji termasuk salah seorang prajurit matra laut yang pemberani. Dia juga kerap ikut memimpin perebutan senjata dan perlengkapan perang Jepang sektor laut. Para pemuda pelaut yang tergabung dalam TKR, MKR, dan PAL pada 22 Oktober 1945 mulai melucuti Jepang dengan kapal selam bajakan jenis pemburu (submarine chaser) S-115. Salah satu tempat sasaran kala itu Pulau Nyamukan, Gresik. Operasi para pejuang itu berhasil menawan 419 tentara Jepang, 34 barkas pendarat, 217 senjata karabin, 22 senapan mesin, beberapa peti granat, dan peluru.

Hasil pelucutan itulah, antara lain, yang dijadikan senjata arek-arek Suroboyo untuk berjuang hidup atau mati melawan tentara Ing­gris dalam peristiwa 10 November. Namun, karena tentara Inggris datang dengan kekuatan luar biasa (disebut-sebut terbesar setelah Perang Dunia Kedua), pertempuran pun tidak seimbang. Di darat maupun laut.

Atmadji pun membuat kebijakan. Dia memindahkan markas tentara laut dari Ujung menuju Lawang. Sikap itu dilakukan untuk memudahkan koordinasi dan menyelamatkan cikal-bakal TNI-AL yang baru terbentuk itu. (dim/c1/hud)

Beruntung Tidak Kena Bom

Kepala Humas Adpel Utama Tanjung Perak Surabaya A. Wahid mengatakan, memang gedung itu sarat dengan cerita dan sejarah perjuangan. Maklum, sejak dibangun Belanda hingga pendudukan Jepang sampai meletusnya pertempuran 10 November 1945, gedung tersebut memiliki fungsi yang sama. ”Sejak awal dibangun, ini menara syahbandar. Paling dekat dengan laut,” ujarnya.

Pada saat peristiwa 10 November, banguan tersebut juga berfungsi penting, yakni markas para pejuang. Berdasar catatan sejarah adpel, di kawasan Gapura Surya yang menjadi terminal penumpang kapal laut juga rusak berat karena diserang dibom oleh tentara sekutu. Untungnya, gedung Adpel tidak rusak parah sehingga tetap bisa digunakan hingga saat ini. ”Karena itu, di sini juga ada prasasti penanda,” imbuhnya.

Untuk menjaga eksistensi dan orisinalitas gedung Adpel Tanjung Perak memberikan perlakuan khusus dalam perawatan. Sebab, gedung tersebut tergolong cagar budaya. Bahkan, pihaknya mengaku memiliki anggaran khusus agar bangunan bersejarah itu tetap lestari. ”Kami sudah berkomitmen untuk menjaga gedung. Gedung ini tidak akan kami ubah bentuknya,” ujar Wahid.

Lebih lanjut dia menjelaskan, setiap hari gedung tersebut selalu dibersihkan. Perawatan lebih mudah karena gedung menjadi perkantoran aktif. Tentu, setiap ada kerusakan selalu terpantau. Apabila ada kerusakan pada fisik yang tergolong bangunan lama, pihaknya tidak akan gegabah mengganti dengan barang baru. ”Sebisa mungkin tetap dikembalikan ke bentuk aslinya,” jelasnya. (dim/hud)

Berapi-api di Radio Pemberontakan (14)

Sebagian tokoh atau pimpin­an elemen perjuangan dalam peristiwa 10 November 1945 dikenal sebagai orator ulung. Salah satu media yang dimanfaatkan adalah radio. Nama radio itu cukup agigatif. Yakni, Radio Pemberontakan.


SEBUAH rumah di Jalan Mawar itu luas, sekitar 2.000 meter persegi. Namun, oleh pemilik agaknya telah dipecah menjadi beberapa bagian. Sebagian dikontrakkan dan sebagian lain untuk tempat usaha. Ada yang menjadi perusahaan advertising dan tempat kecantikan. Namun, tanda-tanda bahwa rumah itu termasuk rumah kuno masih tampak di beberapa sisi.

Itulah markas Radio Pemberontakan ketika peristiwa 10 November 1945 meletus. ”Ya, dahulu rumah ini memang markas pejuang,” ujar penghuni yang akrab dipanggil Bu Rin itu.

Di areal rumah itu juga terpasang tanda ca­gar budaya bertuliskan: Rumah Pak Amin (1935) Tempat Studio Pemancar Radio Ba­risan Pemberontakan Republik Indonesia (RBPRI). Di sini Ktut Tantri (warga negara Ame­rika) menyampaikan pidato­nya sehingga perjuangan Indonesia bisa dikenal di luar negeri.

Namun, menurut Bu Rin, saat ini di bangunan ter­sebut tidak ada lagi pe­ninggalan sejarahnya. Konon, saat Indo­nesia sudah dalam keadaan damai, perkakas ra­dio dikem­balikan ke RRI. ”Kata ayah saya, di sini hanya sebulan,” ujar perempuan paro baya itu.

Sejumlah catatan menyebutkan, tokoh yang cukup aktif siaran di Radio Pem­berontakan adalah Soemarsono. Kala itu, dia sebagai ketua Pemuda Rakyat Indonesia (PRI), salah satu elemen perjuangan untuk melawan tentara Inggris dan sekutu. Di antara kutipan pidatonya berbunyi: ”Tentara Inggris yang berkedok tentara sekutu itu sebenarnya tentara penjajah yang membantu NICA untuk menghancurkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Karena itu harus dilawan!”

Meski terbilang hanya seumur jagung, fungsi Radio Pemberontakan kala itu sungguh luar biasa. Sebab, informasi dan instruksi bisa diterima dengan cepat oleh rakyat. Selain Soemarsono, sosok yang juga kerap on-air adalah Sutomo alias Bung Tomo (ketua Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia) dan Gubernur Soerjo. Namun, di antara isi pidato sejumlah tokoh kala itu yang paling familier hingga kini adalah pidato Bung Tomo.

Menurut Suparto Brata, salah seorang pe­nulis buku tentang 10 November 1945, Soemarsono melalui Radio Pemberontakan me­mang tercatat ikut mengumandangkan kebulatan tekad melawan penjajah. ”Nah, pidato Seomarsono disusul oleh pidato Bung Tomo yang berapi-api,” ungkap­nya.

Diceritakan, Radio Pemberontakan di markas Jalan Mawar itu juga tidak hanya berfungsi sebagai tempat siaran. Lokasi itu juga menjadi tempat pertemuan penting. Misalnya, pada 28 Oktober 1945. Kala itu, sejumlah pimpinan BKR, Badan Perjuangan Bersenjata (BPB), dan elemen lain bertemu. Di antaranya, ada HR. Mohammad, Bung Tomo, dan Soemarsono. ”Hasil rapat, disepakati tidak menoleransi teror Inggris yang datang ke Surabaya,” ujar Suparto. (dim/c2/hud)

Promosikan Eks Markas Pemuda

SEBAGIAN besar warga metropolis mungkin sudah sangat akrab dengan gedung Balai Pemuda. Namun, pasti tidak semua warga paham cerita sejarah di balik keartistikan bangunan di Jalan Gubernur Suryo itu. Seusai proklamasi kemerdekaan Indonesia berkumandang, gedung itu pernah menjadi markas PRI (Pemuda Republik Indonesia).

Sebelum dikuasai pemuda, gedung tersebut terkenal sebagai tempat sangat eksklusif bagi orang Belanda. Ini bisa dilihat dari tulisan di prasasti marmer di halaman gedung. Bunyinya: Anjing dan orang-orang pribumi dilarang masuk. Namun, pada September-November 1945 tempat itu dijadikan markas besar PRI.

Ketua UPTD Balai Pemuda Yudha Nirwana mengatakan, Balai Pemuda harus terus dihidupkan. Saat ini kondisinya seakan-akan hilang dari daftar tujuan pemuda Surabaya untuk bergaul. Begitu juga ingatan tentang sejarah panjang gedung yang dahulu dikenal dengan nama Simpang Club itu. ”Ya, sekarang boleh dikatakan mati suri,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, pembongkaran bioskop Mitra 21 menjadi gedung sentra kesenian sejak 2009 menambah buruk perjalanan Balai Pemuda. Dikatakan, debu-debu konstruksi dan seng-seng yang membatasi gedung dengan proyek membuat orang segan membuat acara di Balai Pemuda Akibatnya, kepopuleran Balai Pemuda semakin melorot. ”Warga dari Jalan Pemuda tidak lagi bisa langsung ke sini karena pintu hanya dari Jalan Gubernur Suryo,” tandasnya.

Yudha mengatakan, pihak UPTD akan te­rus berupaya mempromosikan Balai Pe­muda sebagai tempat kumpul warga. Sa­lah satunya menjadikannya pusat per­gelaran kesenian. Saat ini proyek yang digarap serius adalah mengorbitkan ludruk. Proyek tersebut dimulai sejak awal 2010.

Yang membanggakan, lanjut Yudha, tahun ini sudah banyak warga asing yang menggelar acara di Balai Pemuda. Tercatat, warga Jerman dua kali membuat acara, warga Jepang tiga kali, disusul Amerika, Belanda, dan Australia masing-masing sekali mengadakan pertunjukan.

Masih di kawasan Balai Pemuda, gedung me­rah putih yang berada di sebelah barat juga me­nyimpan berbagai barang bersejarah. Misalnya, piano keluaran 1907 tapi masih berfungsi dengan baik, koleksi piring, gelas, mangkok, kaca hias be­sar setinggi 1 meter hingga lampu gantung ju­ga masih utuh. (dim/c2/hud)

Mimpi Abadi Cak Doel Arnowo (15)

Pertempuran 10 November 1945 melahirkan nama Doel Arnowo. Kelak, dia juga tercatat sebagai wali kota Surabaya pertama. Bahkan, dengan ide boneknya, kota ini memiliki ikon berupa Tugu Pahlawan.


TIGA patung berada di sisi barat Tugu Pahlawan. Dalam tulisan di bawahnya terdapat nama Gubernur Soerjo, Doel Arnowo, dan Bung Tomo. Jika Soerjo dan Sutomo menggunakan kostum pejuang, patung Doel Arnowo tidak demikian. Dia digambarkan mirip sosok birokrat dengan mengenakan setelan jas dan mengapit tas di tangan.

Selain nama Doel Arnowo, di bawah patung itu hanya dituliskan ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) yang pada 1950 menjadi wali kota Surabaya. Tidak banyak keterangan lain tentang Doel Arnowo. Misalnya, tanggal lahir dan wafatnya. Padahal, sejarah mencatat, dalam peristiwa 10 November 1945, nama Doel Arnowo yang akrab dipanggil Cak Doel itu termasuk tokoh yang berada di garda depan bersama tokoh lain.

Cak Doel juga sering ikut dalam perundingan-perundingan penting dengan tentara Inggris dan sekutunya. Bahkan, konon Cak Doel sebetulnya menjadi salah seorang tokoh kunci di balik kematian Brigjen Mallaby pada 30 Oktober 1945. Sayang, hingga meninggal pada 1985, Cak Doel tetap tidak bersedia membuka mulut siapa pemuda yang mengebom mobil Mallaby hingga sang jenderal itu meninggal.

Riyanto, kepala pemeliharaan dan perawatan Tugu Pahlawan, juga menyatakan kurangnya informasi mengenai Doel Arnowo yang lahir pada 1904 itu. Perpustakaan belum bisa memberikan gambaran lebih jauh soal sosok yang pernah menjadi wali kota pada 1950-1952 tersebut. ”Kami memang minim info. Masih ba­nyak yang harus dibenahi ,” ujarnya.

Suparto Brata, penulis buku tentang 10 November 1945, menyebutkan sosok Doel Arnowo sebagai tokoh kurus dan bertubuh kecil. Namun, yang bersangkutan terbilang tokoh kawakan. Dia aktif dalam pengambilan keputusan saat peristiwa 10 November. Sepengetahuannya, Cak Doel juga yang sejak 2 September 1945 memprakarsai Pemkot Surabaya menjadi bagian dari Republik Indonesia. ”Berdirinya Surabaya tidak bisa lepas dari perannya,” katanya.

Cak Doel juga ikut membidani kelahiran dua organisasi pemerintahan Indonesia di Surabaya. Yakni, Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Melihat semua perannya itu, Soeparto menyayangkan belum adanya nama jalan Doel Arnowo di Kota Pahlawan.

Doel Arnowo juga tercatat sebagai salah seorang tokoh yang ngotot meng­ganti nama-nama jalan berbau Belanda. Bahkan, dia bondo nekat ketika bermimpi ingin membangun sebuah tetenger (landmark) abadi dan menjadi ikon kota. Yaitu, Tugu Pahlawan.

Cak Doel lantas memilih lokasi bekas gedung Kenpeitai Jepang atau pada zaman Belanda sebagai gedung Raad van Justitie (gedung pengadilan). Lokasi tersebut menjadi saksi bisu penderitaan rakyat yang tidak mudah dilupakan pejuang atau warga Surabaya. Kini, mimpi Cak Doel itu telah terwujud. Tugu Pahlawan telah berdiri di Kota Pahlawan. (dim/c6/hud)

Tetap Mirip Potlot dalam Kurungan

TUGU itu sudah berdiri tegak di Kota Pahlawan selama 58 tahun. Selama rentang itu, beberapa kali dilakukan perubahan wajah infrastruktur pendukung. Pembenahan tugu setinggi 45 yard tersebut terakhir dilakukan pemkot pada 1990-1991 dengan arsitek Ir Sugeng Gunadi dari ITS. Wujudnya adalah yang tampak sekarang ini.

Namun, hingga kini, bentuk bangunan yang melingkari Tugu Pahlawan itu masih menuai kritik. Kesakralan bangunan pengenang pertempuran 10 November 1945 itu disebut-sebut berkurang. Kenapa? Menurut Prof Johan Silas, pakar tata kota, tribun dan pagar tinggi yang mengitari tugu itulah salah satu penyebabnya. Menurut dia, dinding atau tembok itu seolah menjadi jurang pemisah antara rakyat dan sejarah bangsa.

Menurut Johan Silas, salah satu buktinya adalah jumlah pengunjung yang minim ke Tugu Pahlawan maupun ke museumnya. Hingga kini, rata-rata pengunjung adalah para pelajar yang memang dituntut memiliki pengetahuan tentang sejarah bangsa. Bagaimana warga umum? Mereka lebih mengenal patung Suro dan Boyo daripada Tugu Pahlawan. ”Karena patung Suro dan Boyo lebih mudah diakses,” ujarnya kemarin (9/11).

Kritik itu sebetulnya juga pernah datang dari banyak pihak. Di antaranya muncul dari almarhum Kadaruslan (ketua Pusura). Bahkan, Cak Kadar -demikian biasa dia dipanggil- kala itu memberikan perumpaan unik. Tugu Pahlawan itu, kata dia, seperti potlot dikurungi (pensil dalam kurungan).

Johan berharap, pihak terkait seperti pemkot dan pemprov mau mengkaji ulang tembok tersebut. Di banyak tempat monumen memorial park tanpa tembok. Dia lantas mencontohkan Monumen Nasional (Monas) atau kompleks Lincoln Memorial Park di Amerika. Semua dibiarkan tanpa batas untuk memancing emosi yang melihat. ”Kalau ditutupi, konflik batin mengingat perjuangan tidak muncul,” tandasnya. (dim/c1/hud)

Film Soerabaia 45 Masih Faktual untuk Pembelajaran

Nyowo situk ilang-ilangan

Itulah salah satu bait kidungan dalam film Soerabaia 45. Kalau diterjemahkan bebas, itu berarti tali ijuk untuk tali layang-layang, nyawa cuma satu tidak apa-apa jika harus melayang.

Sebagian warga metropolis mungkin masih ingat dengan film Soerabaia 45 pada era 1990-an. Film yang disutradarai Imam Tantowi dan musiknya digarap Idris Sardi itu menghiasi bioskop papan atas. Misalnya, Mitra 21 (dekat gedung Balai Pemuda) yang kini sudah gulung tikar. Sejumlah aktor bermain dalam film tersebut. Di antaranya, Leo Kristi yang berperan sebagai Bung Tomo.

Tidak hanya gedung bioskop. Kala itu, film layar lebar yang bertujuan menggambarkan heroisme rakyat melawan tentara Inggris dan sekutu itu juga menjadi menu wajib di banyak sekolah. Tidak melulu perang-perangan. Dalam film yang berdurasi 123 menit tersebut, banyak adegan humor khas Surabaya dan bumbu-bumbu melankolis.

Yang menarik, ternyata film Soerabaia 45 bukan digarap atas prakarsa pemkot, melainkan pemprov yang bekerja sama dengan PT Sinar Permata Mas. Kabarnya, total anggaran pembuatan film itu (hanya) Rp 1,8 miliar. Padahal, film tersebut melibatkan banyak orang dan peralatan.

Kini nasib film Soerabaia 45 seolah mati suri. Menjelang peringatan 65 tahun Hari Pahlawan, sangat jarang orang mengingat film itu. Misalnya, mengadakan acara nonton bareng film tersebut. “Saya kira, film itu masih aktual atau relevan diputar saat ini. Bukan karena saya termasuk salah seorang pemainnya, tapi nilai yang disampaikan dalam film,” kata Dr Soetanto Soepiadhy, dosen Universitas 17 Agustus 1945, yang dalam film tersebut berperan sebagai drg Moestopo, saat dihubungi Jawa Pos kemarin (9/11).

Memang, bila mencermati film itu, banyak nilai-nilai bijak yang ingin disampaikan. Misalnya, kata Soetanto, semangat masyarakat untuk terus memupuk rasa gotong-royong. Dalam film itu, tecermin seluruh lapisan masyarakat yang berkorban jiwa dan raga untuk bangsa, bahkan menyumbang nasi bungkus sekalipun. “Intinya, film itu ingin menyampaikan bahwa nasionalisme is number one.” (dim/c8/hud)

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Advertisements

0 Responses to “Patriot Indonesia : KRONOLOGIS PERISTIWA DI SURABAYA Aug-Des 1945”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,195,350 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: