27
Oct
15

Hari Santri Nasional : Mengenang Perang Rakyat Semesta Bela Tanah Air

KBP45

Mengenang Perang Rakyat Semesta Bela Tanah Air

Oleh: Muhammad Sulton Fatoni

Kota Hiroshima dibom pada 6 Agustus 1945, menyusul Kota Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Jepang pun menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Konsekuensinya, Jepang menarik semua pasukan di wilayah kekuasaannya di Asia, termasuk Indonesia.
Tak menunggu lama, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pascamenyerah, senjata tentara Jepang dilucuti yang di Indonesia dilakukan oleh Allied Forces Netherland East Indies (AFNEI), yaitu pasukan sekutu yang dikirim ke Indonesia setelah selesainya Perang Dunia II.
Rupanya, kehadiran AFNEI diboncengi the Netherlands Indies Civil Administration (NICA), sebuah organisasi semimiliter yang bertugas memulihkan sistem administrasi sipil dan hukum pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia pascakejatuhan Jepang. Kehadiran kembali Belanda memicu reaksi perlawanan masyarakat Indonesia di beberapa tempat, termasuk di Surabaya.
Surabaya termasuk yang didatangi AFNEI dan NICA pada 15 September 1945 melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Pasukan Sekutu AFNEI dipimpin oleh Sir Philip Christison, sedangkan NICA dipimpin WR Petterson disertai Van Der Plass dan Van Mook. Kedatangan AFNEI dan NICA di Surabaya yang saat itu telah menjadi kota internasional dengan pelabuhannya yang terkenal seakan menjadi simbol penyerahan Indonesia.
Presiden Sukarno pun mengirimkan utusan ke Jombang menemui KH Hasyim Asyari untuk minta pendapat hukum tentang polemik pascakemerdekaan. Pada 17 September 1945, KH Hasyim Asyari menjawab permintaan Presiden Sukarno bahwa perjuangan membela Tanah Air itu jihad fi sabilillah, yaitu kategori peperangan yang sesuai tuntutan Allah SWT (doc PBNU, 1945).
Hari demi hari sejak kedatangan AFNEI dan NICA membuat suasana semakin tegang dan tidak menentu. Euforia kemerdekaan dihantui kolonialisme baru. Fatwa hukum KH Hasyim Asyari menyebar di internal para kiai dan pasukan Hizbullah dan Sabilillah.
Pada 19 September 1945, pasukan Hizbullah bentrok dengan pasukan Sekutu di Hotel Yamato Surabaya. Bentrok bermula dari aksi WV Ch Ploegman dan Spit yang mengibarkan bendera Belanda di atas Hotel Yamato (Bung Tomo, 2008). Hotel Yamato saat itu, selain menjadi markas Sekutu (Allied Command) juga dijadikan markas RAPWI (Rehabilitate of Allied Prisoners of War and Internees), yaitu pusat bantuan rehabilitasi untuk tawanan perang dan interniran.
Tindakan tersebut memancing kerumunan massa hingga terjadi aksi heroik Cak Sidik yang menewaskan Ploegman dan Cak Asy’ari, kader Pemuda Ansor yang menaiki tiang bendera di atas Hotel Yamato dan merobek bendera warna biru sehingga tersisa warna merah putih (Anam, 2013).
Bentuk laskar
Kurun 1943-1945 hampir semua pondok pesantren membentuk laskar-laskar. Dan yang paling populer adalah Laskar Hizbullah (untuk para santri) yang dipimpin KH Zainul Arifin (Ketua PCNU Jatinegara, pahlawan nasional) dan Laskar Sabilillah (untuk para kiai) yang dipimpin KH Masykur.
Pada kurun waktu tersebut, kegiatan pondok pesantren adalah berlatih perang dan olah fisik. Puncak darurat kemerdekaan Tanah Air terjadi memasuki bulan Oktober 1945. Para kiai makin intensif berkomunikasi dan mengonsolidasikan laskar-laskar. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggelar Rapat Besar Nahdlatul Ulama di Surabaya atas undangan KH Hasyim Asyari pada 21—22 Oktober 1945.
Rapat Besar Nahdlatul Ulama berakhir pada 22 Oktober yang menghasilkan keputusan Resolusi Jihad. Di antara isi Resolusi Jihad adalah tentang kewajiban setiap umat Islam untuk mempertahankan dan menegakkan Republik Indonesia; kehadiran NICA sebagai agen kejahatan dan kekejaman yang mengganggu ketenteraman; aktivitas NICA melanggar kedaulatan dan agama; pemerintah perlu memberikan tuntunan nyata kepada masyarakat; pemerintah agar memerintahkan dan melanjutkan perjuangan bersifat sabilillah untuk tegaknya negara Republik Indonesia merdeka dan agama Islam (doc PBNU, 1945). Sejarah telah mencatat terjadinya eskalasi pertempuran yang meningkat pasca-Resolusi Jihad sehingga saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan setiap 10 November.
Peperangan dahsyat di Surabaya dan sekitarnya yang disulut oleh Resolusi Jihad yang diputuskan di kantor NU di Jalan Bubutan Surabaya menggugah masyarakat di daerah-daerah lain. Para pejuang dari daerah Jawa Tengah menghadap KH Hasyim Asyari agar fatwa hukum Resolusi Jihad berlaku pula untuk daerah-daerah jauh di luar Surabaya, termasuk Jawa Tengah. KH Hasyim Asyari pun menggerakkan para kiai dan santri melalui Muktamar Nahdlatul Ulama di Purwokerto pada 26—29 Maret 1946.
Keputusan Muktamar NU di Purwokerto tahun 1946 meliputi tiga poin. “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fadlu ‘ain (jang harus dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata atau tidak) bagi orang jang berada dalam djarak lingkaran 94 Km. dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh); Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewajiban itu jadi fardlu kifayah (jang tjoekoep kalau dikerjakan sebagian sadja); Apabila kekoeatan dalam no. 1 beloem dapat mengalahkan moesoeh maka orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran 94 Km. wajib berperang djoega membantoe no. 1 sehingga moesoeh kalah; Kaki tangan moesoeh adalah pemetjah keboelatan tekad dan kehendak ra’jat dan haroes dibinasakan, menoeroet hoekoem Islam sabda chadits, riwajat Moeslim.” (doc PBNU, 1946).
Keputusan Muktamar NU di Purwokerto tersebut adalah keputusan hukum Islam untuk mengobarkan perang rakyat semesta. Keputusan hukum Islam yang mengikat setiap Muslim yang berada di tanah Indonesia, baik laki-laki, perempuan, anak-anak kecuali penjajah dan antek-anteknya (doc PBNU, 1946). Inilah konsep perang intifadah yang diputuskan para kiai untuk membela Tanah Air (Said Aqil Siroj, 2015). Eskalasi pertempuran pun makin meluas yang di antaranya dipicu oleh militansi umat Islam yang menemukan pijakan hukumnya.
Atas inisiatif Inggris, Indonesia dan Belanda dipertemukan dalam Perjanjian Linggarjati yang akhirnya ditandatangani pada 15 November 1946. Di antara poin perjanjian itu adalah pengakuan Belanda secara de facto wilayah Republik Indonesia atas Jawa, Madura, dan Sumatra.
Namun, Perjanjian Linggarjati tidak berumur panjang. Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan aksi penguasaan lahan-lahan produktif dan sumber daya alam di Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Operasi ini dikenal dengan Agresi Militer Belanda I.
Di Jawa Timur, Perang Rakyat Semesta pun berkobar kembali meski para pejuang Indonesia makin terdesak. Di Jawa Timur, misalnya, pergerakan para laskar Hizbullah menciut dan terbatas di area pesisir selatan, dari Jember, Lumajang, hingga Malang dan sebagian Mojokerto. KH Hasyim Asyari terus memantau perkembangan perjuangan dari Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang.
Hingga satu malam tanggal 25 Juli 1947, bertepatan tanggal 7 Ramadhan, datang Kiai Ghufron, pemimpin Sabilillah Surabaya yang diutus Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kiai Ghufron mengabarkan bahwa Singosari telah jatuh ke tangan Belanda.
Mendengar kabar itu, KH Hasyim Asyari terguncang hebat. Lalu beliau mengalami sakit pendarahan otak (Saifuddin Zuhri, 2012). Pada pukul 03.00 WIB dini hari KH Hasyim Asyari wafat.
Namun, perjuangan para kiai dan santri tidak sia-sia. Kini Indonesia telah merdeka dan menjadi kewajiban generasi penerus untuk mengisinya dengan aktivitas yang positif. Resolusi Jihad dan Keputusan Muktamar NU tahun 1946 sampai kini belum dicabut. Artinya, para kiai dan santri hingga kini masih siaga menjaga Tanah Airnya dari segala bentuk ancaman. []

REPUBLIKA, 21 Oktober 2015

Muhammad Sulton Fatoni | Ketua PBNU, Dosen Sosiologi Universitas NU Indonesia

 

HARI SANTRI

Panglima TNI: Tanpa Resolusi Jihad, Tidak Ada Indonesia

Kamis, 22/10/2015 12:30

[image: Panglima TNI: Tanpa Resolusi Jihad, Tidak Ada Indonesia]

Jakarta, *NU Online*
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo
mengatakan, kemerdekaan Indonesia diraih atas perjuangan seluruh komponen
bangsa, termasuk tokoh agama atau ulama. Menurutnya, fatwa Resolusi Jihad
pada 22 Oktober 1945 merupakan momen penting bagi upaya mempertahankan
kemerdekaan Tanah Air.

Ia mengatakan, pasukan NICA yang membonceng Sekutu saat itu hendak
menguasai kembali Tanah Air disambut para santri dengan perlawanan keras.
Santri-santri dari Pulau Jawa dan Madura mengonsolidasikan diri dan
berikhtiar sekuat tenaga mengusir penjajah yang menduduki Surabaya.

Resolusi Jihad yang difatwakan pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari
menjadi dalil para santri, arek-arek Surabaya, dan masyarakat secara luas
tentang perang menghadapi kaum kolonial sebagai perang suci, dan yang gugur
di medan pertempuran sebagai mati syahid. Pertempuran dahsyat pada 10
November yang diperingati sebagai hari pahlawan didorong oleh fatwa
tersebut.

“Tanpa Resolusi Jihad, tidak ada perlawanan heroik. Tanpa perlawanan
heroik, tidak ada hari pahlawan. Jika tidak ada hari pahlawan kemungkinan
besar tidak ada kemerdekaan Indonesia,” ujarnya saat memberikan orasi pada
acara puncak Kirab Hari Santri Nasional, Kamis (22/10), di Tugu Proklamasi,
Jakarta.

Dengan demikian, kata Gatot, kemerdekaan Indonesia bukan hasil pemberian
melainkan buah perlawanan yang melelahkan. TNI yang baru lahir setelah
Indonesia merdeka saat itu tak akan mampu melawan kembalinya pasukan musuh,
tanpa bekerja sama dengan rakyat, termasuk umat Islam.

“Bahwa kepentingan membela bangsa dan negara adalah kewajiban lintas
etnik,” serunya di hadapan Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Ketum PBNU KH Said
Aqil Siroj, para pimpinan ormas Islam, dan ribuan santri-pelajar dari
berbagai sekolah dan pondok pesantren yang memadati halaman Tugu Proklamasi.

Gatot datang bersama beberapa regu pasukan khusus dari Angkatan Darat,
Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Mereka mengikuti upacara penyambutan
sekitar 50 orang rombongan Kirab Hari Santri Nasional di Tugu Proklamasi.
Acara diisi antara lain dengan pembacaan shalawat dan pengibaran Sang Saka
Merah Putih. *(Mahbib)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,62990-lang,id-c,nasional-t,Panglima+TNI++Tanpa+Resolusi+Jihad++Tidak+Ada+Indonesia-.phpx

HARI SANTRI

Resolusi Jihad Sumbangsih NU untuk Negara Multikultur

Jumat, 23/10/2015 02:00

[image: Resolusi Jihad Sumbangsih NU untuk Negara Multikultur]

Waykanan, *NU Online *
Wakil Ketua PCNU Kabupaten Waykanan Lampung Kiai Mustajab menegaskan,
Resolusi Jihad 22 Oktober yang melatarbelakangi peristiwa 10 November 1945
merupakan sumbangsih Nahdlatul Ulama (NU) untuk Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang multikultur.

“NU dibentuk untuk ukhuwah Islamiyah, mempererat tali persaudaran antar
manusia, apa pun agama dan sukunya NU akan mewadahinya,” demikian
disampaikan Kiai Mustajab di Blambangan Umpu yang berada sekitar 220 km
sebelah utara Kota Bandar Lampung, Kamis (22/10).

Resolusi Jihad 22 Oktober yang hari ini diperingati sebagai Hari Santri
Nasional, demikian Kiai Mustajab lagi, adalah upaya dan karya para ulama
terhadap republik multikultur ini.

“Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari setelah bermusyawarah dengan para ulama
selama dua hari menandatangani Resolusi Jihad agar warga NU membela
Indonesia. Karena itu, wajib bagi warga NU untuk mengawal pemerintahan.
Wajib hukumnya orang NU untuk membuat perbaikan bangsa, tidak ada dalam
sejarah NU memberontak pada negara. NKRI Harga Mati dan Pancasila Jaya
harus dipegang teguh oleh warga NU,” kata dia.

Ia melanjutkan, NU didirikan 1926 sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah atau
organisasi sosial keagamaaan berbasis pondok pesantren dengan sejumlah
tujuan. “Seperti mengingatkan ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan bangsa
dan ukhuwah basyariyah atau persaudaraan umat manusia,” paparnya.

Karenanya, dengan mengamini hal tersebut, NU terus berpartisipasi agar
Waykanan, Indonesia menjadi Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur, demikian
Kiai Mustajab.* (Gatot Arifianto/Mukafi Niam) *

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,63004-lang,id-c,daerah-t,Resolusi+Jihad+Sumbangsih+NU+untuk+Negara+Multikultur-.phpx

Jokowi Deklarasi Hari Santri Nasional Diiringi Shalawat Badar

Kamis, 22/10/2015 16:30

[image: Jokowi Deklarasi Hari Santri Nasional Diiringi Shalawat Badar]

Jakarta, *NU Online*
Eksistensi kaum santri di Indonesia semakin diakui dengan ditetapkannya
Hari Santri Nasional (HSN) oleh Presiden Joko Widodo berdasarkan Keputusan
Presiden No 22 tahun 2015. Jokowi secara langsung mendeklarasikan Hari
Santri di Masjid Istiqlal, 22 Oktober 2015.

Para santri yang memenuhi masjid Istiqlal sontak mengumandangkan shalawat
Badar begitu Presiden Jokowi secara resmi mendeklarasikan Hari Santri
Nasional.

Ribuan santri berduyun-duyun datang ke Masjid Istiqlal untuk ikut merasakan
kegembiraan atas penetapan Hari Santri Nasional. Mereka datang dengan
identitasnya pesantren atau sekolahnya masing-masing. Raut gembira dan
bangga tampak jelas di wajah mereka.

Jokowi menyatakan, perjuangan republik Indonesia tak terwujud jika tak ada
semangat jihad. Jihad keindonesiaan dan kebangsaan untuk kemerdekaan.

Ia menambahkan, perjuangan tidak akan terwujud apabila tidak ada cita-cita
bersama untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan
umum.

“Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya untuk
mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita. Para santri
dengan caranya masing-masing bergabung dengan elemen bangsa menyusun
kekuatan di daerah terpencil, mengatur stategi, mengajarkan kesadaran arti
kemerdekaan,” katanya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyebut para tokoh santri seperti KH
Hasyim Asy’ari (NU), KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), KH Ahmad Hasan
(Persis), KH Ahmad Syurkati (Al Irsyad), dan lainnya sebagai orang-orang
yang berperan aktif dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Dengan
sejarah itu, saya yakin penetapan hari santri tidak akan menimbulkan
sekat-sekat sosial ataupun memicu polarisasi antara santri dan non santri.
Tapi sebaliknya, akan memperkuat semangat kebangsaan. Akan mempertebal
cinta tanah air atau memperkokoh integrasi,” paparnya.

Ia menambahkan, jika santri pada zaman dahulu ikut berjuang secara fisik
mempertahankan kemerdekaan, maka dalam konteks saat ini, santri harus ikut
memperjuangkan kesejahteraan, ilmu pengetahuan dan teknologi dan ia optimis
dengan peran santri yang semakin besar bangsa Indonesia akan mampu
menghadapi hambatan dan tantangan.

“Saya percaya dengan keragaman kita sebagai bangsa, suku, agama atau
budaya, melengkapi nilai-nilai untuk saling menghargai, saling menjaga
tolransi dan saling memperkuat persaudaraan antar bangsa.” *(Mukafi Niam) *

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,62996-lang,id-c,nasional-t,Jokowi+Deklarasi+Hari+Santri+Nasional+Diiringi+Shalawat+Badar-.phpx

Kebangkitan Kaum Santri dari Obor Resolusi Jihad Hingga Perjuangan di Era Modern

Oleh: Muhammad Irfai Muslim
Tanggal 22 Oktober 1945 Mbah Hasyim mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad untuk membakar semangat kaum santri untuk melawan penjajah. Fatwa yang dikeluarkan mbah Hasyim tersebut sangat manjur untuk memberikan semangat mengusir penjajah. Tidak dipungkiri efek yang luar biasa dari Resolusi Jihad tersebut. Bagaimana tidak, jihad fisabilillah yang dalam konteksnya adalah untuk membela agama Allah, kemudian direpresentasikan dengan membela tanah air yang hukumnya menjadi fardhu ‘ain bagi setiap individu. Berarti jelas, dalam pikiran kaum santri terbesit bahwa membela tanah air adalah sama dengan membela hak-haknya sebagai kaum Muslim di bumi yang ditempatinya, dan memperjuangkannya adalah sama dengan membela agama Allah, maka bila meninggal sama dengan syahid (yaitu meninggal di jalan Allah).
Mati syahid adalah sesuatu yang diidam-idamkan bagi setiap Muslim. Karena sangat jelas janji Allah bagi mereka yang membela-Nya adalah surga. Perjuangan-perjuangan jaman penjajahan memang betul konteksnya ketika itu adalah mempertahankan diri dari penjajah. Sebagai kaum santri, yang setelah perjuangan-perjuangan itu dilakukan ternyata beberapa tahun setelahnya masih saja dianggap kolot, tradisional dan stigma-stigma miring lainnya. Padahal kaum santri memiliki etos perjuangan, etos kerja, dan etos menuntut ilmu yang luar biasa.
Kalau kita jauh lebih dalam ingin memahami bagaimana kaum santri memiliki keunggulan-keunggulan dan kreatifitasnya, maka mesti kita menyelami lebih dalam kehidupan kaum santri. Di Indonesia sendiri kaum santri yang menjadi ulama-ulama besar dan diakui dunia sangat banyak. mereka terbukti dengan karya-karyanya. Sebut saja Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Khatib al-Minangkabawi, Syekh Makhfudz at-Turmusi, Syekh Yasin al-Fadani, Syekh Ihsan Jampes, Mbah Hasyim Asy’ari dan lain-lainnya. Mereka semua adalah kaum santri yang luar biasa ‘alim dan diakui dunia dengan kitab-kitabnya.
Ulama-ulama Nusantara begitu produktif dalam menulis. Sebagai contoh Syekh Nawawi al-Bantani, punya karya yang sampai sekarang masih dibaca di pesantren-pesantren salaf yaitu kitab syarah dari Safinatunnaja, Kasyifatus saja. Kaum santri ketika jaman perjuangan pun begitu produktif dan gigih memperjuangkan tanah airnya. Semangat Resolusi Jihad yang dikobarkan mbah Hasyim begitu efektif. Kalau boleh dibilang bahwa kemerdekaan NKRI salah satunya adalah hasil karya dari kaum santri yang membela tanah airnya. Tidak bermaksud untuk mendramatisir perjuangan para kaum santri, tetapi hanya sebatas ingin mengenang, mencoba merenungkan dan membayangkan betapa gigihnya kaum santri ketika masa perjuangan melawan penjajah. Dengan gagah berani dan tanpa rasa takut mengalahkan dan memukul telak penjajah. Semoga perjuangan kaum santri yang tidak pernah gentar ditiru oleh kaum santri masa kini.
Kini, stigma santri yang dianggap tradisional, kolot sedikit demi sedikit mulai menghilang dari peredaran. Karena nyatanya sekarang kaum santri atau bisa dikatakan lulusan pesantren sudah banyak yang yang berkecimpung di berbagai macam bidang keahlian. Tidak hanya melulu menjadi seorang pengajar agama saja. Perjuangan kaum santri sekarang berbeda dengan perjuangan kaum santri masa kini. Kalau jaman dulu perjuangannya adalah melawan penjajah dan memiliki cita-cita mati syahid di jalan Allah. Namun sekarang adalah bukan lagi mati di jalan Allah, dengan dinamisasi dunia saat ini perjuangan kaum santri lebih dahsyat lagi. Yaitu bagaimana bisa berjuang selalu hidup di jalan Allah. Kaum santri yang bisa masuk di berbagai sektor keahlian seperti bidang militer, ekonomi, politik, sosial kemasyarakatan dan agama, memiliki kompleksitas masalah-masalahnya sendiri. Yang pasti adalah bagaimana kaum santri menjaga betul marwah dari institusi pendidikannya (pesantren) dalam menjalankan kehidupannya di masyarakat.
Tuntutan memecahkan persoalan keagamaan, persoalan kemasyarakatan, dan kenegaraan adalah masalah yang harus dipecahkan kaum santri saat ini. Dengan modal ilmu pesantren, fondasi-fondasi agama yang dimilikinya mesti bisa mewarnai semua lini kehidupannya. Yang berjuang di bidang pendidikan, yang masuk dunia politik, sosial, pemerintahan, wirausaha, dan lainnya harus diwarnai dengan nilai-nilai kepesantrenan yang luhur yang diajarkan oleh para ulama. Jangan sampai sebagai yang bergelar “kaum santri” tidak bisa mengimplementasikan nilai-nilai luhur agama yang diadopsi pesantren dari para ulama. Semoga kaum santri dulu, kini, dan yang akan datang bisa menjadi teladan bagi mereka yang mau meneladani kehebatan dan kegigihan kaum santri dalam berjuang. Wallahua’alam. []

* Seorang santri

HARI SANTRI

Gus Mus: Lasykar Santri Berjuang Ikhlas untuk Tanah Air

Kamis, 22/10/2015 12:00

[image: Gus Mus: Lasykar Santri Berjuang Ikhlas untuk Tanah Air]

Jakarta, *NU Online*
Sebelum adanya ‘lasykar-lasykar’ seperti lasykar jihad, lasykar cinta,
lasykar pelangi, dan lasykar-lasykar yang lain; bahkan sebelum terbentuknya
TNI, di negeri kita sudah dikenal banyak lasykar yang jelas berjuang dengan
ikhlas untuk tanah air. Sebut saja misalnya, Lasykar Hizbullah pimpinan
Kiai Zainal Arifin; Sabilillah di bawah pimpinan K.H. Masykur; Barisan
Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo; Barisan Banteng
pimpinan dr. Muwardi; Lasykar Rakyat; dan masih banyak lagi yang lain.

Demikian tulis KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus dalam akun
Facebook resmi pribadinya, “Ahmad Mustofa Bisri”, Kamis (22/10).

Gus Mus menerangkan, lasykar-lasykar dan barisan-barisan itu, termasuk juga
TKR (Tentara Kemanan Rakyat, red), di zaman revolusi, berbondong-bondong
sowan kepada Kiai Subkhi Parakan Temanggung yang dijuluki Kiai Bambu
Runcing dan Jenderal Bambu Runcing. Setiap hari ribuan orang dari berbagai
‘kesatuan’/lasykar minta doa dan berkah beliau sbelum berangkat ke medan
perjuangan.

“Di antara yang sowan, tercatat: KH. Wahid Hasyim, KH. Masykur, KH. Zainul
Arifin, KH. Saifuddin Zuhri, dan Panglima Besar Jenderal Soedirman sebelum
bergerak ke Ambarawa,” jelas Pengasuh Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang,
Jawa Tengah ini.

Kiai Subkhi sendiri, lanjutnya, selaku Rais Syuriyah Cabang NU Temanggung,
pada tanggal 25 Oktober 1945, setelah mendapat instruksi dari PBNU untuk
jihad fi sabilillah, berjuang mengusir penjajah Belanda, bersama Pengurus
NU Cabang dan Barisan Muslimin Parakan-Temanggung, mengadakan mujahadah
selama 10 hari. Setelah itu diadakan latihan kemiliteran oleh Lasykar
Hizbullah.

Dalam revolusi fisik yang berkecamuk antara 1945-1950, tambah Pj Rais Aam
PBNU 2014-2015 ini, Kiai Subkhi bersama KHM. Siradj Payaman, KHM. Dalhar
Watucongol, dan KH. Mandur Temanggung, serta tentara rakyat, berhasil
mengusir NICA dan Sekutu dari Magelang; kemudian setelah bergabung dengan
pasukan Jendral Soedirman, mengusir mereka pula dari Ambarawa.

“Rahmat Allah untuk Kiai Subkhi, Jendral Soedirman, para kiai dan santri
pejuang kemerdekaan yang telah mendahului kita. Al-Fãtihah. Selamat Hari
Santri,” tutup Gus Mus.

Saat berita ini ditulis, keterangan sejarah Gus Mus di beranda Facebooknya
ini telah di-sukai oleh 2419 orang, 128 komentar, dan 648 kali
dibagikan. *(Red:
Fathoni)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,62987-lang,id-c,nasional-t,Gus+Mus++Lasykar+Santri+Berjuang+Ikhlas+untuk+Tanah+Air-.phpx

 

Hari Santri Teguhkan Komitmen Keislaman dan Keindonesiaan

Kamis, 22/10/2015 11:37

[image: Hari Santri Teguhkan Komitmen Keislaman dan Keindonesiaan]

Jombang, *NU Online*
Hari Santri Nasional bukan semata sebuah parade. Yang terpenting adalah
bagaimana para santri mampu memberikan kiprah terbaik bagi perjalanan
bangsa di masa mendatang.

“Indonesia sekarang dihadapkan dengan tantangan yang sangat berat.
Dibutuhkan komitmen yang tinggi bagi seluruh warga untuk membentengi negeri
ini dari sejumlah ancaman yang menghadang,” kata Ketua PC GP Ansor Jombang
Jawa Timur, H Zulfikar Damam Ikhwanto, Rabu (22/10).

Menurut Gus Antok, sapaan akrabnya, komitmen keindonesiaan yang dibalut
dengan keislaman menjadi pra-syarat bagi terjaganya bangsa Indonesia dari
berbagai ancaman ideologi agama global yang cenderung ekstrim. “Dan di
sinilah kiprah para santri akan dipertaruhkan,” katanya.

Karenanya momentum Hari Santri Nasional yang diperingati secara serentak di
berbagai penjuru tanah air hendaknya dapat menggelorakan komitmen para
santri akan niat murni tersebut. “Kita hidup di tengah kontestasi pengaruh
ideologi agama global yang cenderung ekstrim radikal dan pengaruh
liberalisme materialisme yang kebablasan,” ungkapnya.

Untuk dapat kian mengoptimalkan peran santri dalam pembangunan, Gus Antok
berharap agar santri tidak boleh lagi dimarjinalkan seperti babakan sejarah
sebelumnya. “Demikian juga santri, tidak boleh jadi penonton, harus pro
aktif berkontribusi dalam perubahan dan pembangunan,” tandasnya.

Baginya, Hari Santri Nasional memiliki pijakan dalam perjuangan dengan
Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. “Ini
tentu akan menjadi pijakan sejarah yang penting bagi perjalanan dan
perjuangan santri di masa mendatang,” tegasnya.

Disamping peringatan Hari Santri Nasional mampu menggelorakan semangat
perjuangan yang telah diteladankan para ulama, kiai dan santri tempo dulu,
hari bersejarah ini juga bisa terus mengingatkan kalangan santri untuk
berkiprah di masa mendatang. “Kita bangga memperingati hari santri, karena
juga memperingati Resolusi Jihad, serta bangga sebagai benteng kiai dan
bangsa,” pungkasnya. *(Ibnu Nawawi/Fathoni)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,62985-lang,id-c,nasional-t,Hari+Santri+Teguhkan+Komitmen+Keislaman+dan+Keindonesiaan-.phpx

 

HARI SANTRI

Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah

Kamis, 22/10/2015 04:01

[image: Inilah Perwira TNI Didikan Hizbullah]

Jakarta, *NU Online*
Para kiai dan santri terlibat di lapangan dalam membela tanah air yang akan
diserang kembali oleh Belanda para perang kemerdekaan. Setelah perang usai,
sebagian besar kelompok santri kembali ke pesantren untuk mengajar agama,
tetapi ada beberapa yang akhirnya tetap aktif dalam dunia militer.

Berikut nama-nama perwira TNI yang merupakan hasil didikan Hizbullah, salah
satu kelompok pasukan perlawanan yang berasal dari kelompok santri seperti
disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf.

1. Mayor KH. Mustofa Kamil-Banten
2. Mayor KH. Mawardi-Surakarta
3. Mayor KH. Zarkasi- Ponorogo
4. Mayor KH. Mursyid-Pacitan
5. Mayor KH. Sahid-Kediri
6. Mayor KH. Abdul Halim-Majalengka
7. Mayor KH. Thohir Dasuki-Surakarta
8. Mayor KH. Raji’un-Jakarta
9. Mayor KH. Munasir Ali-Mojokerto
10. Mayor KH. Wahib Wahab-Jombang
11. Mayor KH. Hasyim Latif-Surabaya
12. Mayor KH. Zainuddin-Besuki
13. Mayor KH. Zein Thovib-Kediri

Selain yang berasal dari Hizbullah, terdapat beberapa perwira TNI berlatar
belakang santri ex-PETA. Berikut nama-namanya.

1. Brigjen KH. Sulam Syamsun
2. Brigjen KH. Zein Toyib
3. Brigjen KH. M. Rowi
4. Brigjen KH Abdul Manan Wijaya
5. Brigjen KH Iskandar Sulaiman
6. Brigjen KH. Abdullah Abbas

*Red: Mukafi Niam*

*Sumber:*

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,62966-lang,id-c,nasional-t,Inilah+Perwira+TNI+Didikan+Hizbullah-.phpx

HARI SANTRI

Inilah Perwira PETA yang Berasal dari Kalangan Santri

Kamis, 22/10/2015 02:04

[image: Inilah Perwira PETA yang Berasal dari Kalangan Santri]

Jakarta, *NU Online*
Peran kalangan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan tak diragukan lagi.
Pada zaman Jepang, para santri ikut memanfaatkan pelatihan militer Pembela
Tanah Air (PETA) yang terbukti sangat bermanfaat dalam mempertahankan
kemerdekaan Indonesia dari Belanda yang berupaya kembali lagi menjajah.

Berikut nama-nama perwira PETA yang berasal dari kalangan santri
sebagaimana disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf.

1. KH M Basoeni (Daidancho Pelabuhan Ratu, Bogor),
2. KH Soetalaksana (Daidancho Tasikmalaya, Priangan),
3. KH Pardjaman (Daidancho Pangandaran, Priangan),
4. KH Hamid (Kastaf Daidan 11 Pangandaran, Priangan),
5.KH R Aroedji Kartawinata (Daidancho Cimahi, Priangan),
6. KH Masjkoer (Daidancho Bojonegoro),
7. KH Tubagus Achmad Chatib (Daidancho Labuan, Banten),
8. K E. Oyong Ternaja (Daidancho Malingping, Banten),
10. KH Sjam’oen (Daidancho Cilegon, Banten),
11. KH R.M. Moeljadi Djojomartono (Daidancho Manahan, Surakarta),
12. KH ldris (Daidancho Wonogiri, Jogja),
13. KH R Abdoelah bin Noeh (Oaidancho Djampang Kulon, Bagor),
14. KH lskandar Sulaiman {Daidancho Daidan lV Malang),
15. KH Doerjatman (Daidancho Tegal),
16. KH R Amien Ojakfar (Daidancho Pamekasan, Madura),
17. KH Abdoel Chamid Moedhari Daidancho Daidan III Ambunten, Sumenep).

Nama-nama di atas adalah perwira PETA berpangkat daidancho (mayor) yang
memimpin batalyon. Hamid Rusdi, pahlawan yang jadi nama jalan di Malang
adalah Ketua Gerakan Pemuda Ansor Malang, perwira PETA dengan pangkat
syudanco (komandan kompi), Brigjen Abdul Manan Wijaya adalah santri
Tebuireng juga didikan PETA, termasuk Brigjen KH Sullam Syamsun.

*Red: Mukafi Niam*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,62965-lang,id-c,nasional-t,Inilah+Perwira+PETA+yang+Berasal+dari+Kalangan+Santri-.phpx

Hari Santri Nasional, Momentum Kebangkitan Santri

Oleh: Faried Wijdan*
Tepat tanggal 15 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo resmi menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Ada yang menyambutnya dengan gembira dan gegap gempita. Namun ada juga yang ‘sinis’ dan nyinyir’. Mereka yang sinis dan nyinyir berkomentar bahwa Penetapan Hari Santri Nasional adalah pemenuhan janji kampanye dan balas budi Jokowi atas dukungan Kaum Nahdliyyin di Pilpres 2014 kemarin. Apapun komentar sebagian orang penetapan Hari Santri Nasional patut diapresiasi. Keputusan ini dinilai untuk menghargai jasa para santri yang terlibat alam memperjuangkan kemerdekaan RI.
Meski ada ormas yang menyatakan ‘kurang setuju’ dengan penetapan Hari Santri Nasional, karena dikhawatirkan akan mengukuhkan kategorisasi di kalangan umat Islam, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan beberapa ormas Islam lainya menyatakan dukungannya. Ada dan tiadanya Keppres, PBNU tetap akan merayakannya dengan menghelat berbagai acara untuk memperingati Hari Santri, di antaranya Kirab Hari Santri Nasional, pada 16-22 Oktober 2015, yang di dalamnya akan digelar Ekspedisi Pelayaran Lintas Laut Jakarta-Surabaya-Bali dengan menggunakan kapal perang yang diikuti 1.000 santri dengan melibatkan badan otonom, pesantren, dan ormas-ormas Islam.
Mengapa tanggal 22 Oktober? Tanggal ini adalah tanggal bersejarah. Tanggal di mana Hadratus Syaikh Hasyim Asari, pendiri NU, memaklumatkan fatwa yang sohor disebut Resolusi Jihad sehingga menginspirasi perlawanan yang dipandegani oleh laskar kiai dan santri melawan Pasukan Sekutu (NICA) pada tanggal 10 November 1945. Inti daripada Resolusi Jihad ini adalah bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain (wajib) bagi setiap individu. Tanggal ini dipilih karena mempresentasikan subtansi kesantrian, yakni spritualitas dan patriotisme dalam rangka melawan kolonialisme, yakni Agresi Militer Belanda kedua. Resolusi Jihad dianggap sebagai seruan penting yang memungkinkan Indonesia tetap bertahan dan berdaulat sebagai negara dan bangsa. Menurut salah satu Sejarawan NU, Agus Sunyoto, kaum santri merupakan representasi bangsa pribumi dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa bangsa ini menegakkan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad 22 Oktober tersebut. Setelah Jepang kalah perang, Tentara sekutu (NICA), berusaha kembali menjajah Indonesia dalam agresi militer kedua. Tentara NICA kocar-kacir. Mereka kaget akan heroiknya perlawanan orang-orang pribumi dari kalangan kiai dan santri.
Santri bukan korban ‘pesakitan sejarah’
Pernah suatu hari dalam sebuah seminar, Sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara dalam makalahnya bertajuk Pergerakan Kaum Santri di Jawa Barat, memberikan pernyataan “Mengapa penulisan sejarah kaum santri ini kurang mendapat perhatian sejarah? Akibat kurangnya kesadaran dan perhatian umat Islam sendiri, terutama di kalangan santri terhadap sejarah Islam Indonesia yang menjadikan peran sejarahnya ditiadakan. Umumnya pesantren lebih mendalami tarikh nabi. Itu pun yang di dalamnya menuturkan akhlak Rasulullah. Bukan tentang sejarah bagaimana Rasulullah menciptakan perubahan sejarah. Akibat pengertian sejarah seperti itu, maka kalangan santri sendiri tidak ada yang berminat mendalami, bagaimana sejarah ulama pendahulu dalam mendakwahkan agama Islam di Indonesia yang penuh liku dan tantangan. Tetapi pengungkapan sejarah tak akan berhenti. Masih banyak kiranya ‘sejarah’ yang tak masuk dalam sejarah.”
Banyak bukti sejarah bahwa tidak sedikit putra terbaik bangsa (santri) yang ditempa di pesantren mempunyai peranan penting dalam perjuangan fisik, aktif berandil dalam mendirikan bangsa dan mengisi era kemerdekaan. Melihat fakta ini, tidak berlebihan seandainya santri pesantren disebut “alat revolusi” dan penjaga keutuhan Indonesia.
Pada 1512, ketika embrio NKRI masih bernama Kerajaan Demak, Pati Unus yang merupakan santri didikan Wali Songo dengan gagah berani memimpin 10.000 pasukan dalam 100 kapal untuk menyerbu Portugis di Malaka. Tujuannya sederhana, Portugis tidak lebih jauh masuk ke Nusantara dan mengancam kedaulatan. Satu abad lebih sebelum peristiwa Resolusi Jihad 1945, meletuslah Pemberontakan Cirebon (1802-1818) yang dipandegani oleh para santri. Nama-nama tokoh yang ada dalam arsip PH. Van der Kemp, seperti Bagus Serrit, Jabin, Neirem dan Bagus Rangin adalah para santri, sebagaimana pula tertulis dalam Kidung Candhini. Kidung ini ditulis para santri yang tak disebutkan namanya itu secara tersamar ingin menyatakan keinginannya untuk merdeka. Bisa jadi akibat kekalahan dalam “pemberontakan” tersebut, mereka melakukan perantauan dan bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Selanjutnya Pada 19 Juli 1825, Pangeran Diponegoro yang merupakan santri dan ahli tarekat dari padepokan Tegalrejo, Yogyakarta mengobarkan Perang Jawa (Java Oorlog) hingga membuat Belanda mengalami kerugian 20 juta gulden dan nyaris bangkrut. Perang Jawa ini konon melibatkan ratusan ribu kiai, ulama, dan santri tidak hanya dari seantero Pulau Jawa, namun sampai Bugis, Sulawesi Selatan. Salah satu Kiai yang tidak pernah dibicarakan dalam adalah Kiai Abdul Jalal 1, kawan dekat Kiai Mojo, yang merupakan pendiri Pesantren Kiai Abdul Jalal, Kaliyoso, di bagian Utara Surakarta. Kiai Abdul Jalal bersama santrinya ikut mem-back up baik logistik maupun pasukan membantu perjuangan Pangeran Diponegoro.
Ketika hasil politik etis menjadikan para elite pribumi memimpikan berdirinya negara Indonesia, para ulama dan kiai NU pada Muktamar NU pada 1925 di Banjarmasin telah membulatkan tekad untuk memperjuangkan lahirnya Republik Indonesia sebagai Darussalam (negara kesejahteraan), bukan Darul Islam (negara Islam). Ini adalah sebuah gagasan progresif ketika belum banyak orang berpikir tentang konsep dasar negara Indonesia. Tanggal pada 20 November 1945, meletuslan pertempuran Magelang. Setelah NICA dan Sekutu yang dipimpin Van Der Plas dan Van Mook mendarat di Ambarawa pada tanggal 29 September. Gubernur Jawa Tengah saat itu Wongsonegoro justru ‘mempersilahkan’ masuk rombongan Sekutu itu dan melepaskan ribuan tawanan Sekutu. Anehnya setelah dilepas tawanan itu dipersenjatai dan balik mengambil kekuasaan Gubernuran. Kiai Chudlori, pendiri Pesanten Tegalrejo,  atas perintah Mbah Hasyim memerintah para santri, pemuda masjid dan mushalla serta segenap masyarakat untuk merebut kembali Ambarawa. Pertempuran berlangsung sengit sampailah utusan Jendral Soedirman, Letkol Sarbini dan letkol Isdiman turut membahu berjuang. Para santri Mbah Chudori, menempati garda terdepan perjuangan menggebuk Tentara sekutu ini. Dalam peristiwa ini muncul nama duo santri, yakni;  Adzroi, santri asal Magelang yang dikenal dengan ke-dugdeng-annya dan keberaniannya dan Sastrodiharjo, menempati garis terdepan pertempuran dan berhasil menghempas mundur sekutu.
Ketika era perang senjata (perang konvensional) sudah berakhir dan berganti rupa menjadi perang dingin (nonkonvensional), Kiai Ahmad Shiddiq Jember melakukan ijtihad intelektual yang brilian sehingga menghasilkan rumusan pemikiran yang menjadikan prinsip-prinsip tauhid dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah kompatibel dengan Pancasila. Dan masih banyak lagi sejarah dan peran santri yang belum tercatat dalam noktah sejarah.
Dengan metode rekontruksi yang kuat dan kritis secara epistemologis, inilah momentum para santri sejarawan maupun sejarawan yang santri berlomba-lomba menuliskan sejarah tentang peran dan perjuangan santri untuk bangsa ini yang belum/tak terungkap. Saatnya mengungkap dan meluruskan ‘sejarah resmi’ negara yang dikaburkan oleh penguasa. Jangan lagi menjadi ‘korban pesakitan sejarah’!
Saatnya santri menciptakan momentum
Dr. Soetomo, pendiri “Boedi Oetomo”, jebolan pendidikan ala Barat, mengakui keunggulan Pesantren sebagai pendidikan yang genuine Nusantara. Dalam Polemik Kebudayaan, ia menulis “Pesantren itoe pergoeroean kepoenja’an bangsa kita jang asali, serta beberapa riboe sebeloem pengaroeh Barat mempengaroehi djoega atas pengadjaran dan pendidikan kita. Sebeloem gopermen Hindia Belanda memboeka sekolahnja, ada waktoe itoe, Pesantrenlah jang menjadi soember pengetahoean, menjadi mata air ilmoe, bagi bangsa kita seboelat-boelatnya. Semoea pergoeroean dari jang paling bawah hingga jang teratas, ketjoeali memberi pengetahoean pada moerid-moeridnja, djoega memberi alat-alat goena berdjoeang di doenia ini haroes disandarkan kepada pendidikan jang bersemangat kebangsaan, tjinta kasih pada Noesa dan Bangsa choesoesnya, dan pada doenia dan sesama oematnja oemoemnja poen haroes menggeberikan moerid-moerid akan menjediakan diri oentoek menoendjang keperloean oemoem. Kekoeatan batin haroes dididik, ketjerdasan roh diperhatikan dengan dengan sesoenggoeh-goehnja, sehingga pengetahoean jang diterima olehnja itoe akan dapat dipergoenakan dan disediakan oentoek melajani keperloean oemoem teroetamanja.”
“Pondok Systeem: Pendidikan itoe tidak akan begitoe sempoerna buahnja, kalau ilmoe itoe tidak dipraktikkan di dalam hidoep sehari-hari. Oleh karena itu, seboleh-boleh pergoeroean merdeka haroes mempoenjai pondokan. Di dalam pondokan itu, sesoedah habis sekolah goeroe-goeroe dan moerid-moeridnya dapatlah hidoep bersama-sama begitoe roepa sehingga anak-anak itoe tertarik oleh adat-istiadat, kelakoean jang sopan santoen dan tabi’at yang tinggi goeroe-goeroenya jang hidoep bersama-sama dengan mereka, sehingga dengan sendirinja dapat meroebah sikap hidoepnja, levenshouding-nya. Jang penting lagi, ialah pengaroehnya atas pendidikan anak-anak itoe. Di dalam pondok ituoe, boekan sadjaa pengadjian anak-anak itoe terjdjaga, tetapi hidoepnya sehari-hari akan dapat toentoenan dan pengawasan.”
Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang merupakan metamorfosa dari Kadewaguruan yang diinisiasi oleh Maulanan Malik Ibrahim dan Sunan Ampel, pesantren merupakan model pendidikan yang paling ideal. Pesantren tidak hanya mencetak out put-out put yang mempunyai intelektualitas yang tinggi, tapi juga sosok yang memiliki kecerdasan spiritual di atas rata-rata. Pesantren itu komunal yang senantiasa mengajarkan kebersamaan. Pesantren itu integral, tempat piwulang moral sampai ketrampilan hidup (life skill). Pesantren adalah model pendidikan futuristik yang menatar soal keduniaan sampai keakhiratan. Pribadi santri digambarkan sebagai sosok yang mempunyai kepribadian saleh (baik ritual maupun sosial), berawawasan inklusif, toleran, humanis, kritis dan berorientasi pada komitmen kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan (al-musawah). Santri selalu  terinspirasi dan diselimuti nilai-nilai Islam di satu sisi dan semangat serta kesadaran penuh tentang kebangsaan Indonesia yang majemuk di sisi lain. Santri adalah mereka yang dalam tubuhnya mengalir darah merah putih dan tarikan nafasnya terpancar kalimat tahlil.
Kata “Santri” terdiri dari 4 huruf (sin, nun, ta’, ra’), yang mengandung makna fungsi diciptakan manusia:
Pertama, Sin, berarti “satrul al aurah” (menutup aurat), yaitu menutup aurat secara tampak oleh mata (dhahiri) dan yang tersirat atau tidak tampak (bathini). Santri memiliki custom dan habitus yang selalu dipandu oleh budi dan naluri. Santri adalah sosok yang mempunyai rasa malu, jika melakukan perbuatan keji, lacur dan kriminal, yang keluar dari rel agama dan berlawanan dengan adab setempat.
Kedua, Nun, berarti “naibul ulama” (wakil dari ulama). Dalam koridor ajaran Islam dikatakan dalam suatu hadits bahwa “al ulama warasatul ambiya’ (ulama adalah pewaris nabi). Peran dan fungsi ulama dalam masyarakat sama halnya dengan rasul, sebagai pengayom atau pelayan umat dalam segala dimensi. Santri seyogyanya memiliki kepekaan-kepekaan sosial, tanggap akan problematika kemasyarakatan dan aktif serta cerdas mencarikan solusinya.
Ketiga, Ta’, berarti “tarku al ma’ashi” (meninggalkan kemaksiatan). Dengan bekal ilmu agama yang yang dipunyai, santri seharusnya patuh pada prinsip, konsisten mengamalkan ajaran agama dalam setiap matra kehidupannya. Santri seharunsya menjauhi perilaku-perilaku korup, destruktif, dan anarkis. Tarku al ma’ashi tidak hanya mencakup pelanggaran-pelanggaran hukum yang telah ditetapkan-Nya, tetapi pelanggaran-pelanggaran sosial dan melawan hukum positif.
Keempat, Ra’. Berarti “raisul ummah” (pemimpin ummat). Sebagai mahluk sosial dalam komunitas berbangsa, santri dituntut memberikan manfaat kepada orang lain dalam kerangka ibadah sosial. Selanjutnya adalah sebagai ‘imaratul ardhi, yaitu membangun bumi dalam arti mengelola, mengembangkan, dan melestarikan sumber daya alam. Santri harus menjadi pelopor gerakan hijau (go green) dan mengejawantahkan Fikih Lingkungan (fiqih biah) yang mereka pelajari di pesantren.
Kapital sosial santri sungguh luar biasa. Intitusi pendidikan agama ini senantiasa menyatukan diri secara integral bersama masyarakat, memiliki basis dan jejaring sosial yang sungguh dahsyat. Potensi yang dimiliki oleh santri selama ini dinilai masih belum tereksplorasi dan termanfaatkan dengan baik dalam membangun bangsa, padahal santri merupakan individu-individu pilihan masyarakat yang diharapkan mampu berbuat sesuatu demi kebangsaan dan kesejahteraan umat. Santri di pesantren tidak hanya melulu mengkaji kitab kuning, berzikir dan ‘ngliwet’, namun sudah menjalankan langkah-langkah praktis dalam soal community development sejak ratusan silam.  Pesantren memiliki empat sumber kapital sosial yakni nilai, solidaritas, resiprositas dan kepercayaan jika dianalisa dari  teori kapital sosial ala Alejandro Portes.
Alhasil, kaum santri harus terus mengembangkan diri untuk meneruskan estafet perjuangan para sesepuh. Perlu dipikirkan bagaimana menciptakan santri agar memiliki kemampuan diferensial dan distinctive dalam menghadapi perkembangan perubahan mondial (global) dan dapat berkiprah dalam wilayah-wilayah sosial, ekonomi, politik maupun pemerintahan. Santri bukan hanya menguasai kitab-kitab kuning saja tapi juga mampu survive dan memberikan warna tersendiri dalam berbagai sektor kehidupan.
Kurikulum dan program pendidikan pesantren harus dimodifikasi dan dikembangkan sesuai dengan perubahan tantangan global dengan memberikan pendidikan yang berbasis pada life skill. Pesantren harus juga mengajarkan ilmu-ilmu modern. Santri meski mempunyai bidang “keahlian dunia”. Entah dia sebagai dokter, ahli kimia, ahli IT, ahli desain komunikasi visual, ahli astronomi, ahli nuklir, dan lain-lain sehingga mandiri, tak tergantung ‘angin politik’. Jika santri tidak mempunyai “keahlian ilmu dunia”, mereka bisa saja ‘tergoda’ untuk hanya menjadi guru les mengaji dan sibuk ‘menyusun proposal’.
Di era digital sekarang ini, santri fardhu ain melakukan jihad-jihad kekinian dengan menguasai bahasa asing selain Bahasa Arab, melek IT dan sosial media. Santri harus menjadi aktor-aktor penyeru dakwah moderat dan toleran di dunia maya. Santri harus aktif dan berani mentransfer, mengkampanyekan sekaligus mensosialisasikan doktrin Islam yang toleran dan anti kekerasan, baik melalui jalur pendidikan, kultural, politik dan media.
Akhirul kalam, Selamat Hari Santri Nasional. Hari Santri adalah milik umat Islam Indonesia secara keseluruhan. Mari kita selalu ingat kata Gus Mus “Santri bukan yang mondok saja, siapun yang berakhlak seperti santri, dialah santri.” []
* Alumnus Pesantren Negeri Hadil Iman, MAPK Surakarta

Mbah Hasyim dan Sejarah Resolusi Jihad

Oleh: A Helmy Faishal
Adalah Sayyid Muhammad Asad Shihab, seorang jurnalis dari Timur Tengah yang masih termasuk kakek buyut Prof Dr M Quraisy Shihab, penulis biografi yang luar biasa. Ia pandai menggali data, jernih melihat sekaligus cermat mencatat.
Di tangan beliau pulalah, lahir sebuah buku, yang dalam hemat saya sangat monumental, berjudul Allamah Muhammad Hasyim Asya’ari wadhiu Libinati Istiqlali Indonesia (Mahaguru Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia). Sebuah buku yang sangat penting untuk dibaca generasi muda kita yang kian hari rasa-rasanya kian kabur sejarah.
Dalam buku tersebut terlukis dengan jelas betapa KH Hasyim Asy’ari adalah sosok ulama yang bukan saja fokus mendidik santri-santrinya, namun lebih dari itu. Ia juga menjadi garda depan pemikir utama masa depan bangsa dan negara. Ia pemegang teguh komitmen dalam berbangsa dan bernegara.

Komitmen kebangsaan dan kenegaraan itu tercermin dalam misalnya pernyataannya pada momentum Resolusi Jihad yang berbunyi ”berperang menolak dan melawan penjajah itoe fardloe ain (jang harus dikerdjakan oleh tiap-tiap orang islam, laki-laki, perempoean, anakanak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 Km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh.
Bagi orang-orang jang berada di loear itoe djadi fadloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”. Diktum Resolusi Jihad yang kemudian menjelma menjadi pemompa semangat dan kenekatan perlawanan rakyat Indonesia yang didominasi sipil dan sebagian besar dari kalangan santri itu adalah karya agung progresif nan revolusioner yang lahir dari pikiran jernih dan hati yang suci dari ulama-ulama dan kiai-kiai saat itu, termasuk di dalamnya adalah KH Hasyim Asy’ari yang kala itu masih menjabat sebagai Rais Akbar PBNU. Penting untuk dicatat bahwa meletusnya pertempuran pada 26- 29 Oktober di Surabaya antara rakyat sipil dengan NICA pemicu utamanya adalah fatwa Jihad Fi Sabilillah yang dikeluarkan oleh ulama-ulama NU yang diinisiasi oleh KH Hasyim Asy’ari. Fakta inilah yang tampaknya menjadi tesis utama yang digali oleh Muhammad Asad Shihab dalam merekam sepak terjang KH Hasyim Asy’ari.
Peletak Dasar Kemerdekaan
Fakta bahwa perlawanan rakyat di Surabaya terhadap NICA yang didasari seruan jihad via Resolusi Jihad itu tampaknya selama ini kurang diperhatikan oleh para pemerhati sejarah. Ketika berbicara kemerdekaan, fokus kita hanya tertuju pada seremonial pembacaan teks proklamasi yang meminjam bahasa Muhidin M Dahlan (2015) dibuat dengan sangat tergesa-gesa.
Teks yang dibuat dengan keadaan tergesa-gesa akibatnya juga menyisakan banyak tanda tanya di kemudian hari. Banyak kalimat dan frasa janggal yang menghiasi teks proklamasi yang belakangan muncul ke permukaan. Sebut saja misalnya kalimat ”hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan”. Kalimat ”pemindahan kekuasaan” dinilai oleh banyak kalangan merupakan legitimasi faktual bahwa sejatinya bangsa Indonesia tidak pernah merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Bangsa Indonesia hanya berganti penguasa.
Di luar ketergesa-gesaan itu sesungguhnya ada fakta unik dan menarik bahwa sejatinya momentum pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI tersebut belum ”berbunyi” di mata dunia. Ia ibarat press conference, namun tak diliput oleh media. Tentu saja hanya berhenti pada pelaksanaan seremonial belaka.
Selebihnya, sebagaimana dituturkan Agus Sunyoto (2015), tidak ada perubahan apa-apa. Namun, selang beberapa bulan setelah itu, saat terjadi pertempuran dahsyat di Surabaya, di mana sipil dan santri menjadi aktor utamanya, mata dunia perlahan terbuka. Merekamenyaksikan fakta baru bahwa ”Indonesia” masih ada dan rakyatnya bangun dari keterjajahannya.
Perlawanan ini, pertempuran ini, tidak lain adalah buah dari fatwa Resolusi Jihad yang diinisiasi oleh KH Hasyim Asy’ari. Maka itu, tidak mengherankan jika ia dijuluki sebagai peletak dasar kemerdekaan Indonesia. Sebuah kesimpulan yang menurut hemat saya tidak salah dan tidak mengada-ada.
Dalam momentum tanggal 22 Oktober ini, tentu saja sembari mengingat kebaikan dan semangat cinta Tanah Air yang selalu digaungkan oleh KH Hasyim Asy’ari, saya ingin mengajak kita semua untuk meneladani sikap-sikap nasionalismenya yang selalu tumbuh dan berkembang sepanjang waktu.
KH Hasyim Asy’ari tampaknya ingin memberi pelajaran kita bersama bahwa berjuang adalah berjuang. Tuhan sama sekali tidak mempersoalkan kemenangan ataupun kekalahan kita, yang terpenting bagi- Nya adalah proses perjuangan itu sendiri. Rasa cinta Tanah Air yang demikian tinggi itulah yang rasa-rasanya belakangan patut kita curigai telah berangsur luntur dari generasi muda bangsa ini.
Apalagi di tengah arus budaya pop dan silang-sengkarut ideologi transnasional yang sudah sedemikian masif ini. Yang paling utama dan penting untuk dicatat adalah betapapun juga, KH Hasyim Asy’ari adalah sosok kiai yang sepanjang hayatnya masih merasa tetap menjadi santri. Sikap kesantriannya inilah yang melahirkan sikap tawaduk dan juga rendah hati di hadapan siapa saja.
Republik ini harus bersyukur memiliki seorang ulama yang bukan saja jernih melihat, namun juga cerdas bertindak, dan teguh dalam memegang prinsip. Ulama bernama KH Hasyim Asy’ari itu tidak lahir kemudian menjadi tokoh begitu saja. Ia sebagaimana lazimnya manusia lainnya, digembleng melalui pendidikan agama yang penuh sikap kedisiplinan dan ketaatan. Demikianlah, pada mulanya, KH Hasyim Asy’ari adalah santri. Selamat Hari Santri! []

Koran SINDO, 22 Oktober 2015

A Helmy Faishal  Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Aswaja Selaras dengan Karakter Pancasila

Kamis, 29/10/2015 19:01

[image: Aswaja Selaras dengan Karakter Pancasila]

Pamekasan, *NU Online*
Paham Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) sangat selaras dengan karakter
Pancasila. Sebab, dalam sejarahnya, nenek moyang bangsa Indonesia memiliki
kepekaan toleransi yang kukuh dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian
serta kemanusiaan.

Demikian ditegaskan pengasuh Pesantren Al-Abror KH Syatibi Sayuthi Iyyad,
Rabu (28/10) dalam pelantikan Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar Nahdlatul
Ulama (IPNU) dan Ikatan PK Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Al-Abror,
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura.

Dikatakan, karakter Pancasila yang berhaluan Aswaja tersebut meliputi taat
beragama, menghormati sesama manusia, bisa mempersatukan semua unsur,
kepemimpinan dan keadilan sosial.

Kiai Syatibi menambahkan, keselaran Pancasila dan Aswaja itu dapat melebur
dalam ajaran khas Islam bangsa ini. Dan itu tercermin dalam Islam Nusantara.

“Islam Nusantara ini bukan paham atau aliran keagamaan baru. Melainkan, ia
merupakan perwujudan dari Islam yang tawazun, tasamuh, dan rahmatan
lil’alamin. Pijakannya ialah menyemai kasih sayang kepada semua makhluk
Allah,” tegasnya. *(Hairul Anam/Abdullah Alawi)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,63169-lang,id-c,daerah-t,Aswaja+Selaras+dengan+Karakter+Pancasila-.phpx

Advertisements

0 Responses to “Hari Santri Nasional : Mengenang Perang Rakyat Semesta Bela Tanah Air”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,224,177 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: