20
Oct
15

Kebudayaan : Islam Nusantara Gabungan Etika dan Pergumulan Budaya

Garuda Pancasila 1

Islam Nusantara Gabungan Etika dan Pergumulan Budaya

Ahad, 18/10/2015 21:00

[image: Islam Nusantara Gabungan Etika dan Pergumulan Budaya]

Jepara, *NU Online*
Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Mlonggo Jepara bekerja sama
dengan SMK Az Zahra Mlonggo Jepara menyelenggarakan Seminar “Islam
Nusantara di Tengah Ancaman Radikalisme” di aula SMK, Kompleks Pesantren Az
Zahra, Jalan Raya Jepara-Bangsri Km. 12 Sekuro Mlonggo Jepara, Sabtu
(17/10) pagi.

Dalam kegiatan yang dihadiri puluhan pelajar itu salah satu narasumber KH
Nuruddin Amin, Pengasuh Pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara menegaskan,
Islam Nusantara yang menjadi tema besar dalam Muktamar ke-33 NU ialah
penggabungan Islam sebagai etika dan Islam dalam pergumulan budaya.

Islam, menurut pria yang akrab disapa Gus Nung ini, merupakan ajaran yang
bersifat kaffah, total dan menyeluruh. Semua ketentuan beragama baik itu
fiqih, tasawuf dan sebagainya diyakini warga NU ialah implementasi dari
ajaran Aswaja.

Sedangkan Islam sebagai pergumulan budaya, lanjutnya, sudah termaktub dalam
fiqih. Sebab fiqih selalu sesuai dengan kondisi sosial masyarakat. Hal ini
sejalan dengan alhukmu yadûru ma‘a illatihi. Sehingga tradisi yang
berkembangkan di tengah masyarakat, tegasnya, sudah dilegitimasi dalam
fiqih.

Misalnya, orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji meski berangkat ke
tanah suci tetapi tidak harus menjadi “Arab”. “Haji ialah nilai etik
bagaimana kita berserah diri total kepada Allah. Mentauhidi Allah secara
total,” terangnya.

Sekembalinya ke tanah air, misalnya, tidak mesti jamaah memakai jubah dan
peci putih, tetapi bisa menggantinya dengan mengenakan blangkon. Pada ranah
itu, kata Gus Nun, kita harus bisa membedakan antara Islam dan kultur arab.
Sunan Kudus yang melarang masyarakat menyembelih sapi ialah strateginya
untuk menghargai kebudayaan. Sehingga, sebagai pengikut Islam di Indonesia
tidak larut dengan kultur Arab.

“Arab memiliki kultur, kita (Indonesia) juga mempunyai budaya sendiri.
Misalnya, blangkon peci hitam dan sejenisnya merupakan ciri khas dari
kita,” imbuhnya.

Pembicara lain, Hamzah Sahal menerangkan, Islam Nusantara bukanlah hal yang
baru. Islam Nusantara, menurutnya, bisa dilakukan dengan menikmati
karya-karya ulama Nusantara.

Hamzah menyimpulkan, salah satu gudangnya Islam Nusantara tidak lain adalah
Jepara. Sosok Kiai Saleh Darat dalam khazanah Islam Nusantara pernah
menerjemah Al-Qur’an dalam bahasa Jawa atas saran dari RA Kartini meski
penerjemahannya tidak sampai rampung.

Selain karya ulama yang mumpuni, Jepara juga memiliki institusi yang kuat.
Sebagai proses penelusurannya menulis pesantren tua di Jawa, aktivis muda
NU itu menyebut Pesantren Balekambang Jepara berada di urutan pesantren
tertua ke-23 yang usianya lebih tua jika dibandingkan dengan pesantren
Tebuireng, Krapyak dan Mranggen.

Sehingga sebagai warga Jepara tidak hanya mempopulerkan ukirannya, RA
Kartini sebagai pejuang perempuan tetapi juga mempopulerkan Kartini sebagai
muslimah yang dengan gagasan brilian.

“Alhasil tugas pesantren maupun warga NU ialah nguri-nguri warisan ulama
terdahulu agar niat-niat jahat kelompok yang ingin menggembosi tradisi kita
menyingkir semua. Radikalisme juga surut dengan sendirinya,” kata dia.

Kaum santri, kaum sarungan harus selalu memberikan sumbangsh lebih terhadap
sejarah panjang berbangsa, bernegara dan ber-Nahdlatul Ulama (NU).
Kegiatan juga dihadiri Dwi Suryoatmojo, Peneliti Madya Kementerian
Pertahanan yang dalam paparannya menitikberatkan pemuda harus selalu
membangkitkan semangatnya untuk mencegah radikalisme.

Selain Seminar kegiatan yang berlangsung 2 hari ini juga diisi dengan
Latihan Kader Muda (Lakmud) dan Pentas Padang Bulan.* (Syaiful
Mustaqim/Mahbib)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,62886-lang,id-c,nasional-t,Islam+Nusantara+Gabungan+Etika+dan+Pergumulan+Budaya-.phpx

 Garuda Pancasila 2

Islam Moderat Pas untuk Indonesia yang Majemuk

Ahad, 18/10/2015 15:00

[image: Islam Moderat Pas untuk Indonesia yang Majemuk]

Demak, *NU Online*
Islam yang mengedepankan sikap moderat (*wasathiyah*) dinilai cocok untuk
bangsa di Tanah Air yang memiliki sangat heterogen. Islam moderat dianggap
mengejawantahkan semangat rahmatan lil alamin, rahmat bagi segenap alam
semesta.

“Islam wasathiyah itu Islam tengah, moderat, toleran, santun, tidak
memaksakan diri dan sangat menghargai perbedaan, dan ini pas untuk bangsa
Indonesia yang masyarakatnya majemuk,” kata H Fathul Mufid ketua STAIN
Kudus saat menjadi narasumber seminar yang diadakan MUI Kabupaten Demak
bersama Pemkab Demak di gedung Bina Praja Setkab Demak.

Sementara itu, ketua MUI Jawa Tengah KH Ahmad Daroji sebagai pembicara
kedua lebih menyoroti sitem penyampaian dakwah Islam. Menurtnya, Islam
wasathiyah atau Islam rahmatan lil alamin dalam syiar akan menggunakan pola
pikir para wali yang mengutamakan cara persuasif, mengindari konflik, dan
sangat menghargai potensi daerah lewat budaya lokal.

“Kita tahu Sunan Kali Jaga itu sangat arif . Lewat budaya wayang kulit,
dakwahnya bisa diterima masyarakat. Begitu juga Sunan Kudus yang hampir
sama model dakwahnya,” kata Kiai Daroji.

Seminar dengan tema Islam Wasathiyah untuk Demak dan Indonesia yang
berkeadilan dan berkeadaban itu digelar Kamis (15/10), dalam rangka
menyambut tahun baru Hiriyah 1437. Seminar yang dihadiri Bupati Demak
beserta Muspida, pengurus, ormas dan tokoh masyarakat, ini dimoderatori
ketua PC Ansor Demak H Abdurrahman Kasdi. *(A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,62878-lang,id-c,nasional-t,Islam+Moderat+Pas+untuk+Indonesia+yang+Majemuk-.phpx

Garuda Pancasila 3

NU Harus Terus Aktif Bentengi Umat dari Paham Radikal

Jumat, 16/10/2015 16:00

[image: NU Harus Terus Aktif Bentengi Umat dari Paham Radikal]

Padangpariaman, *NU Online*
PWNU Sumatera Barat mengajak para ulama dan santri untuk meningkatkan peran
aktifnya membentengi umat dari paham-paham keagamaan radikal, yang selalu
membid’ahkan amaliah yang dilakukan umat Islam, dan mengkafirkan pihak lain.

Ketua PW NU Sumatera Barat, Maswar mengungkapkan hal itu pada pelantikan
PCNU Kabupaten Padangpariaman, Kamis (15/10), di Hall Saiyo Sakato Pemkab
Padangpariaman, di Pariaman. Pelantikan PCNU masa khidmat 2015-2020
dihadiri Bupati Padangpariaman Ali Mukhni, Ketua PC GP Ansor Padangpariaman
Zeki Aliwardana, Ketua PC IPNU Padangpariaman Fauzan Ahmad, MWC NU
se-Padangpariaman.

Menurut Maswar, PCNU Padangpariaman harus berperan aktif mengantisipasi
munculnya aliran radikal, seperti ISIS. “Sekarang sudah ada kelompok yang
menamakan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang berkedok berkegiatan
sosial. Namun dalam aksi sosialnya, disebarkan paham bahwa shalat itu tidak
wajib, zakat tidak wajib. Sasaran rekruitmennya adalah anak-anak pintar
yang tidak mampu. Setelah direkruitmen, didoktrin, akhirnya anak-anak itu
melawan terhadap orangtuanya. Kalau anak tersebut sudah dibai’at, maka anak
itu lebih radikal lagi,” tutur Maswar.

Dikatakan Maswar, ada paham yang banyak mengharamkan kegiatan yang sudah
tumbuh di masyarakat. Peringatan Isra’ Mi’raj haram, maulud Nabi Muhammad
Saw juga haram, berdoa dan berzikir bersama usai shalat wajib, juga haram.
Pakaian yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad Saw, juga haram. “Semua itu
adalah tantangan ulama, khususnya Nahdlatul Ulama untuk membentengi umat
dari paham yang keliru tersebut,” kata Maswar.

Ketua PCNU Padangpariaman Masri Can sebelumnya menyampaikan, NU di
Padangpariaman sudah banyak berbuat sejak lama. Tahun 1960-an, khususnya
1965 saat meletus pemberontakan G 30 S/PKI, NU Padangpariaman sangat aktif
membentengi umat dari ancaman PKI itu. Ada apel besar yang dilaksanakan NU
bersama Ansor dengan dihadiri belasan ribu orang.

“Pasca bencana gempa 30 September 2009, yang menghancurkan daerah
Padangpariaman, NU juga berperan aktif melakukan rehabilitasi, pembangunan
sarana dan prasana yang dibutuhkan masyarakat, bantuan pengobatan dan
pelatihan dai siaga bencana. Apa yang diberikan NU tersebut, sangat
bermanfaat bagi masyarakat Padangpariaman yang terkena bencana gempa saat
itu,” kata Masri Can yang juga Kepala Kantor Kementerian Agama
Padangpariaman ini. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

*Foto:Ketua PWNU Sumatera Barat Maswar melantik Pengurus Cabang Nahdlatul
Ulama Kabupaten Padangpariaman, Kamis (15/10/2015), di hall Saiyo Sakato
Pemkab Padangpariaman, di Pariaman.*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,62832-lang,id-c,daerah-t,NU+Harus+Terus+Aktif+Bentengi+Umat+dari+Paham+Radikal-.phpx

Logo NasPan45

Kemerdekaan Agama, Toleransi, dan Radikalisme di Indonesia (II)

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dan, situasi akan semakin memburuk serta berbahaya pada saat politisi menyalahgunakan agama untuk tujuan-tujuan pragmatisnya sendiri. Selama sikap semacam ini berlanjut di kalangan mereka yang juga menyebut dirinya sebagai pemeluk agama, tidak ada harapan bahwa perdamaian akan terwujud.

Dengan frasa Bhinneka Tunggal Ika, Mpu Tantular sebenarnya ingin menyaksikan bahwa antara penganut Hindu (khususnya Syiwa) dan penganut Buddha dapat membina hidup bersama dengan damai dan serasi dalam kerajaan itu.

Bilamana pada akhirnya Kerajaan Majapahit runtuh, bukanlah disebabkan oleh konflik agama antara penganut Hindu dan penganut Buddha, melainkan menurut catatan sarjana Prancis Coedes karena sebab-sebab berikut. Pertama, munculnya Malaka sebagai pusat perdagangan dan sebuah awal penyebaran Islam.

Kedua, pecahnya perang suksesi di kalangan elite puncak Majapahit. Dan, ketiga, adanya upaya Cina di bawah pimpinan Kaisar Yung Lo untuk mengambil alih posisi Jawa sebagai yang dipertuan di nusantara dan di semenanjung. (Lih. G Coedes, The Indianized States of Southeast Asia, ed Oleh Walter F Vella, terj. Oleh Susan Brown Cowing. Honolulu: East-West Center Press, 1968, hlm 241).

Sekalipun Kerajaan Majapahit telah masuk ke museum sejarah, Bhinneka Tunggal Ika rumusan Mpu Tantular bertahan sampai hari ini di Indonesia, sebagaimana telah disebut di atas. Tidak ada masalah dalam menerima ciptaan sastrawan Buddha ini.

Kenyataannya, seluruh rakyat Indonesia telah menerima sasanti Bhinneka Tunggal Ika sebagai warisan sejarahnya sendiri, sesuatu yang amat penting bagi pengembangan iklim kemerdekaan agama, harmoni sosial, dan toleransi di negeri ini.

Kemudian, kita tengok pula kehadiran Islam dan agama Kristen di kepulauan ini beberapa abad silam. Saat kedatangan kedua agama ini, akar-akar sosiokultural Hindu-Buddha masih sangat kuat, dan bahkan perilaku rakyat umum masih dipengaruhi oleh nilai-nilai agama kosmopolitan asal India ini.

Diperlukan waktu beberapa abad bagi Islam dan Kristen untuk menggantikan posisi dominan Hinduisme dan Buddhisme di nusantara. Islam, khususnya, sejak abad ke-17, telah tampil sebagai agama yang sangat berpengaruh di kawasan ini. Keberhasilan besarnya bukan diraih melalui peperangan, melainkan “melalui perembesan damai, toleran, dan bersifat membangun” (penetration pacifique, tolerant, et constructive), sebagai disimpulkan oleh Yosselin de Yong.

Berdasarkan gejala sosial ini, watak utama Islam Indonesia dengan sendirinya bersifat damai dan toleran, sampai suatu ketika belum lama ini muncul kelompok sempalan kecil dengan topangan ideologi radikal dari luar negeri sebagai filsafat politik yang dianutnya untuk melakukan tindakan-tindakan brutal dan kejam. Dalam kasus semacam ini, agama pastilah merupakan bahaya dan kutukan bagi kehidupan manusia.

Kemudian, kita lihat pula agama Kristen dan persandingannya dengan Islam dalam masalah toleransi dan perdamaian. Dengan mengesampingkan sisi imperialistik dari penganut Kristen Eropa, agama Kristen sendiri adalah agama perdamaian, toleransi, dan harmoni.

Pernyataan Yesus dalam Bibel berikut ini, “Anda telah dengar dan dikatakan bahwa ‘Kamu harus mencintai tetanggamu dan membenci musuhmu’. Tetapi aku katakan kepadamu, ‘Cintailah musuhmu, sayangilah orang yang mengutukmu, berbuat baiklah kepada orang yang membencimu, dan doakanlah mereka yang memanfaatkanmu dengan dengki dan yang menganiayamu’.” (Matteus 5:43-44) adalah salah satu bukti teologis bahwa agama Kristen pada dasarnya adalah sebuah agama kasih dan damai.

Sama halnya dengan Islam. Islam menurut definisi berarti damai dan sikap penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Alquran sebagai sumber utama Islam dalam sebuah ayat menegaskan, “Tidak ada paksaan dalam beragama.” (QS al-Baqarah [2]: 256). Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satu pun Kitab Suci sepanjang sejarah peradaban manusia yang demikian gamblang membela prinsip kebebasan beragama. []

REPUBLIKA, 13 Oktober 2015

Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah


0 Responses to “Kebudayaan : Islam Nusantara Gabungan Etika dan Pergumulan Budaya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,880 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: