20
Oct
15

Bela Negara : Maklumat Pemuda Indonesia 2015

KBP45

MAKLUMAT PEMUDA INDONESiA 2015
(Rilis ke-3)

Kami putra dan puteri Indonesia mengaku

1) bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia,
2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, 3) berbahasa persatuan, bahasa Indonesia, 4) berideologi yang satu, Pancasila,
5) berkonstitusi yang satu, Undang Undang Dasar 1945,
6) bernegara yang satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia,
7) berbendera persatuan bangsa, Bendera Merah Putih.
8) berbudaya kebangsaan yang satu, Bhinneka Tunggal Ika
9) berketahanan hidup yang satu, keseimbangan lingkungan hidup nasional dan global.

Semoga dengan demikian rangkaian Tahun Baru 1 Muharram 1437 H / 14 Oktober 2015, Wajib Bela Negara 19 Oktober 2015 dan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015 dapat lebih termaknai istimewa bagi upaya penyegaran kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Penyuluh Masyarakat Untuk Damai & Aman (PEMUDA)

1) Pandji R Hadinoto, 2) Henky Sutanto, 3) Peter J Manoppo, 4) R Urip K, 5) Greg Wisnu Rosariastoko, 6) John S Keban, 7) Harry Sorongan, 8) D Roy Wijaya, 9) Mukhlis Pane, 10) Datu ARN Hajarudin Al Nusantara, 11)
Surya P Simatupang, 12) Zafir MA Pontoh, 13) Royono R Murad, 14) Rahmat Hamka, 15) Nanang RI Iskandar, 16) Arif Susanto, 17) Hj Endang Sulistyorini, 18) Lasman Siahaan, 19) Andre Lukman, 20) Agus Surya, 21) Hartsa Mashirul, 22) Din Syafaruddin Osman, 23) Maizal Alfian, 24) Winarsih Dewi, 25) DP Yoedha, 26) M Taufik Budiman, 27) Andri Maha Putra, 28) Yana Sopyan, 29) Tri LS Boedjonagoro, 30) Djoenarsono Bardosono, 31) Swastiarso Herry Putranto, 32) Salamuddin Daeng, 33) Hamaydi Harahap, 34) Yessy Anwar, 35) Konrad Rumantir, 36) Adlis Yunus, 37) Wiwik Maskat, 38) Corry Maskat, 39) Rustammy Atmo, 40) H Buchari A Rachman, 41) Agus Jabo, 42) Ari Mulia Subagja, 43) Cuk Conk Narasipati, 44) Oti Setiawan, 45) Budhy Waluyo

Jakarta, 19 Oktober 2015

Koordinator,

Pandji R Hadinoto
KBP45 KelBes Pejoang45 / Laskar DHD45 Jkt
Editor www.jakarta45.wordpress.com

Nasionalis 45

Bela Negara

Oleh: Putu Setia
Undang-Undang Dasar 1945 empat kali direvisi. Di amendemen ketiga pada Pasal 27, yang tadinya dua ayat, ditambah satu ayat lagi. Bunyinya: (3) Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.

Amendemen ini saya kira hanya pemanis. Siapa sih warga negara yang tak mau membela negara? Bahkan para pujangga kita di masa lalu melahirkan pepatah: “Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, masih enak di negeri sendiri.” Kalau tim nasional sepak bola kita bertanding ke luar negeri, saya selalu membelanya, meski yakin tak bisa menang. Jadi, ada atau tidak ayat tambahan itu saya kira tak menjadi masalah.

Ternyata saya keliru, maklum buta hukum. Sebuah ayat, apalagi pasal, di setiap undang-undang rupanya berujung pada “kepentingan tertentu”. Saya jadi yakin selundupan pasal tembakau di Undang-Undang Kesehatan, munculnya poin kretek di Rancangan Undang-Undang Kebudayaan, pasti ujung-ujungnya adalah “kepentingan tertentu”. Juga ada payung hukum untuk sebuah rencana besar yang membutuhkan anggaran.

Tambahan ayat di Pasal 27 UUD itu, contohnya, bukan hal sepele. Lewat ayat yang kalimatnya ringkas itu, lahir Direktorat Jenderal Bela Negara di Kementerian Pertahanan. Dan kini direktorat itu merancang program bela negara yang akan diresmikan Presiden Jokowi. Bahkan, sebelum diresmikan secara nasional, sudah ada pelatihan “kader-kader bela negara”. Para kader di seluruh Bali, misalnya, siap memasuki markas di kompleks militer pusat pendidikan dan pelatihan Kodam Udayana.

Apakah ini wajib? Karena konstitusi menyebutkan “wajib”, maka program yang diberi nama “Pendidikan dan Pelatihan Kader Bela Negara” itu awalnya disebut wajib. Bahkan wajib diikuti anak usia taman kanak-kanak sampai usia 50 tahun. Targetnya, 10 tahun ke depan ada 100 juta warga yang mengikuti program ini. Namun belakangan penjelasan dari Kementerian Pertahanan berbeda, bukan wajib melainkan sukarela.

Yang jelas, tak sama dengan wajib militer, begitu penjelasan Kementerian Pertahanan lagi. Wajib militer itu sudah disiapkan rancangan undang-undangnya dengan nama RUU Komcad (Komponen Cadangan). RUU ini, bersama RUU Rahasia Negara dan RUU Keamanan, sudah diserahkan pemerintah ke DPR pada Januari lalu. Mungkin karena tahu DPR sangat lelet membahas undang-undang (dari target 37 baru selesai 2 UU), maka program bela negara harus diluncurkan.

Wajib militer itu berat, hanya untuk usia 18 tahun ke atas. Bela negara lebih santai karena disesuaikan dengan peserta. Pegawai bank beda latihannya dengan murid sekolah dasar. Materi untuk politikus beda dengan materi untuk penyair kalau ada yang mau ikut. Inti materinya soal disiplin nasional, lalu mengobarkan semangat nasionalisme, patriotisme, dan cinta Tanah Air. “Ini bagian dari pembentukan karakter bangsa yang juga mendorong program pemerintah dalam revolusi mental,” kata Laksamana Pertama M. Faisal, Direktur Bela Negara. Kurikulum pun sudah disiapkan dengan rapi.

Kenapa kurikulum dan materi bela negara ini tak dihibahkan saja ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, juga ke Kementerian Pendidikan Tinggi untuk diajarkan di sana? Mungkin sasarannya lebih luas, seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu. Termasuk pegiat di media sosial. Di dunia maya, kita sering baca celotehan yang mem-bully Presiden Jokowi, bahkan dengan kasar. Setelah program bela negara ini berjalan, tentu yang melecehkan Jokowi tak ada lagi. Kalau kita wajib membela negara, tentu wajib juga membela Kepala Negara. Begitu kan arahnya? []

TEMPO, 17 Oktober 2015

Putu Setia | Pengarang, Wartawan Senior Tempo

Tegaskan Kembali ‘Keindonesiaan’, Hadapi Globalisasi!

Senin, 19 Oktober 2015
Buku : ‘Keindonesiaan : Demokrasi Ekonomi, Keberdaulatan dan Kemandirian’, oleh Prof Sri-Edi Swasono (Ist)Buku : ‘Keindonesiaan : Demokrasi Ekonomi, Keberdaulatan dan Kemandirian’, oleh Prof Sri-Edi Swasono (Ist)JAKARTA– Bangsa Indonesia memiliki modal kuat untuk menghadapi Globaliasi dengan menegaskan kembali Nilai-nilai Utama Keindonesiaan. Apabila dibiarkan globalisasi akan mengancam nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Hal ini disampaikan oleh Prof Sri-Edi Swasono dalam Launching buku terbarunya yang berjudul ‘Keindonesiaan : Demokrasi Ekonomi, Keberdaulatan dan Kemandirian’, Sabtu (17/10) di rumah Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Bung Hatta, Jakarta.
“Kita harus mempertahankan kedaulatan dan kemandirian nasional dalam menghadapi globalisasi yang kapitalistik. Saya mengajak masyarakat untuk ikut proaktif mendisain wujud dan mekanisme globalisasi,” tegasnya.
Khusus kepada Universitas Indonesia, Sri-Edi Swasono mengingatkan bahwa Universitas Indonesia menyandang tuntutan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai utama ‘Keindonesiaan’ yang dikandungnya yang merupakan ruh kehidupan bangsa Indonesia.
“Kita tidak perlu spekulasi. Nilai-nilai utama Keindonesiaan adalah ‘kebersamaan’ atau mutualism yang berasas ‘kekeluargaan’ atau brotherhood sebagai ‘kebutuhan bersatu’,” jelasnya.
Dalam bukunya ‘Keindonesiaan : Demokrasi Ekonomi, Keberdaulatan dan Kemandirian’, Sri-Edi Swasono menjelaskan bahwa ideologi ‘kebersamaan’ atau mutualism adalah doktrin yang menempatkan interdependensi elemen-elemen sosial sebagai penentu hubungan-hubungan individu dan sosial. Semua kegiatan kolektif diikat oleh sentimen kekeluargaan yang menumbuhkan semangat saling tolong menolong, saling menghormati perbedaan dan saling mengutamakan kepentingan bersama.
“Dimensi kebersamaan Indonesia sebagai negara maritim atau negara kepulauan akan menjadi khas. Disini berlaku doktrin,– ribuan pulau Indonesia tidak dipisahkan oleh lautan, tetapi disatukan oleh lautan,” tegasnya.
Baca Lengkap:

Sudah Ada 67 Juta Kader Bela Negara, Target 100 Juta Kader Dianggap Realistis

Senin, 19 Oktober 2015 | 12:34 WIB

http://assets.kompas.com/data/photo/2015/10/18/134632920151016-155143780x390.jpgKOMPAS.com/ABBA GABRILLINDirektur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Timbul Siahaan, di Kantor Dirjen Pothan, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2015).

Terkait

8

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Timbul Siahaan optimistis bahwa program bela negara dapat memenuhi target melatih 100 juta kader dalam 10 tahun.

Timbul mengatakan, Kementerian Pertahanan sebenarnya sudah pernah melatih 67 juta kader bela negara, sebelum program yang dibuat secara khusus diresmikan.

“Dari beberapa kali pelaksanaan sebelumnya, sebenarnya sudah ada 67 juta kader kita. Jadi 100 juta masih logikalah,” ujar Timbul dalam wawancara dengan Kompas.com, Jumat (16/10/2015).

Menurut Timbul, sebagian besar dari 67 juta kader itu diperoleh dari pelatihan yang dilakukan terhadap lembaga kementerian dan TNI.

Salah satu lembaga perbankan milik pemerintah juga pernah dilatih oleh Kemenhan, antara lain Bank Negara Indonesia (BNI).

Contoh lain dapat dilihat dalam data Dirjen Pothan, antara lain pelatihan terhadap pegawai Kementerian Dalam Negeri sebanyak 1,4 juta orang.

Ada pula pelatihan di Kementerian Sosial sebanyak 1,1 juta orang, Kementerian Pemuda dan Olahraga sebanyak 1,5 juta, dan beberapa kementerian lain.

“Institusi TNI biasanya menggunakan pelatihan untuk meningkatkan jiwa korsa prajurit. Sementara, seperti BNI dan lembaga kementerian, biasanya memanfaatkan program untuk menitipkan materi berupa visi-misi bagi karyawannya,” kata Timbul.

Selain itu, menurut Timbul, bentuk sosialisasi dan penyuluhan tentang konsep bela negara juga dilakukan di lembaga pendidikan, lingkungan pemukiman masyarakat, maupun dari komunitas-komunitas tertentu.

“Jadi ini bukan program yang kita mulai dari nol. Kalau sekarang saja sudah 67 juta, mencapai 100 juta tidak banyak dong?” kata Timbul.

Untuk bulan ini saja, Kemhan akan melatih 4.500 kader pembina yang dilakukan di 45 kabupaten/kota. Pelatihan dimulai hari ini dan akan terus dilakukan selama satu bulan penuh.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

·        Pro Kontra Program Bela Negara

Penulis

: Abba Gabrillin

Editor

: Laksono Hari Wiwoho


0 Responses to “Bela Negara : Maklumat Pemuda Indonesia 2015”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,062,175 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: