04
Oct
15

Ketahanan Nasional : Pembinaan Masyarakat Bela Tanah Air

FOTO

Suara Pembaca :

Pembinaan Masyarakat Bela Tanah Air

Pemberdayaan etos joang anak bangsa seharusnya juga bisa jadi kunci strategis bagi 7 butir Ketahanan Bangsa (www.jakarta45.wordpress.com).
Pembinaan masyarakat-masyarakat bela tanah air (MASBETA) yang tersemangati bait “Indonesia Tanah Airku” [lagu kebangsaan Indonesia Raya] kini dapat menjadi solusi bagi rakyat terorganisir dan terlatih untuk tujuan menangkal bahkan menumpas anasir2 perang-perang modern, asimetrik, termandatkan (proxywar) yang walaupun nirmiliter dapat berdaya perusak Persatuan Indonesia.
MASBETA swadaya yang terfasilitasi oleh pemerintah dapat berperan sebagai komponen-komponen cadangan dan pendukung sesuai UU No 3/2002 tentang Pertahanan Negara.
Komponen Cadangan MASBETA ini dapat pula diinspirasi dari peran Pembela Tanah Air (PETA) yang terbentuk 3 Oktober 1943 atas gagasan Gatot Mangunpraja yang pada 7 September 1943 ajukan permohonan kepada Gunseikan yang menurut sumber tertentu ditanda-tangani dengan darahnya sendiri. Gatot mohon agar dibentuk kesatuan bersenjata di kalangan penduduk sendiri. Beberapa hari kemudian sejumlah alim ulama juga ajukan permohonan yang sama yaitu K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar dan H. Moh. Sadri yang menuntut agar segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan Pulau Jawa. Eksponen-eksponen PETA diketahui cikali bakal BKR (Badan Keamanan Rakyat), TKR (Tentara Keamanan Rakyat), TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan TNI (Tentara Nasional Indonesia).
Banyak tokoh-tokoh PETA berperan istimewa bagi Proklamasi Indonesia Merdeka seperti alm Latif Hendraningrat, pengibar bendera Merah Putih yang kini disimpan di Tugu Monumen Nasional, alm Soedirman, Panglima Besar TNI pimpinan militer kala Perang Kemerdekaan Republik Indonesia 1945-1949, dlsb.
MASBETA ini dapat berkiprah juga sebagai Generasi Penerus 45 yang mengemban 17 butir Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 dan membekali dirinya dengan 123 Karakter Negarawan [www.jakarta45.wordpress.com] guna turut pembentukan kader-kader Kepemimpinan masa depan.

Jakarta, 2 Oktober 2015

Pandji R Hadinoto, KBP45 KelBes Pejoang45
Laskar DHD45 Jkt KTA No CB.04.05.01866
Editor www.jakarta45.wordpress.com

Sejarah Berdirinya PETA (Pembela Tanah Air)

PETA atau Pembela Tanah Air adalah salah satu organisasi yang ada di Indonesia sebagai salah satu organisasi yang di siapkan untuk membela dan mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Organisasi ini memiliki peran yang cukup penting apa lagi dengan di bentuk oleh pemerintahan Jepang di Indonesia. Sejarah PETA di mulai dari penyerahan tanpa syarat yang di lakukan Letnan Jenderal H. Ter Poorten dari Belanda pada 8 maret 1942. Dengan penyerahan yang terjadi ini membuat pemerintahan Jepang kemudian menduduki dengan kekuasaan yang di miliki.

Tidak hanya itu, dengan adanya ini membuat Jepang mencoba untuk menarik hati masyarakat Indonesia untuk mendapatkan bantuan dalam mengalahkan negara lain di perang Asia Timur. dengan upaya yang di lakukan ini tentunya membuat Jepang kemudian membentuk satu organisasi yaitu PETA (pembela tanah air). 3 oktober 1942 menjadi moment yang kemudian pemerintahan Jepang menunjuk Gatot Mangukupraja sebagai pendiri organisasi ini. tujuannya adalah untuk membuat rakyat Indonesia berfikir jika Organisasi ini asli dari anak bangsa.

Sebagai organisasi yang di bentuk oleh Jepang tentunya memiliki tujuan. Tujuan tersebut adalah untuk memenuhi kepentingan peperangan Jepang di Lautan Pasifik untuk membela Indonesia dari serangan Blok Sekutu. Namun, selain itu pembentukan organisasi ini sebagai strategi jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme untuk memberikan kesan jika ini organisasi di bentuk oleh Indonesia.

Namun, dengan adanya PETA membuat organisasi ini kemudian berkembang dengan pesat dan di manfaatkan oleh Indonesia sebagai media untuk meraih kemerdekaan. Organisasi ini di ikuti oleh para pelajar yang di siapkan sebagai tentara Jepang. Selain itu pasukan ini hanya membantu untuk melawan pihak sekutu di perang Asia Pasifik bukan sebagai pasukan resmi. Di antara prajurit yang ada, membuat Soedirma sebagai mantan guru di Muhammadiyah sebagai orang yang berpengaruh di masa revolusi.

Dengan adanya PETA membuat beberapa tingkat pangkat dalam organisasi ini:

  1. Daidanco (komandan batalyon) merupakan pegawai pemerintahan, pemimpin agama, pamng praja, politikus dan penegak hukum
  2. Cudanco (komandan kompi) merupakan guru dan juru tulis
  3. Shodanco (komandan peleton) pelajar dari sekolah lanjutan pertama dan atas
  4. Budanco (komanda regu) merupakan pemuda yang pernah bersekolah dasar
  5. Giyuhei (prajurit sukarela) pemuda yang belum pernah bersekolah

Dengan terbentuknya PETA membuat para anggotanya kecewa karena Jepang yang selalu berjanji untuk membuat masa depan yang lebih cerah, tinggi namun hanya membuat rakyat Indonesia hanya menderita. Dengan kondisi ini kemudian terjadi pemberontakan pada 14 februari 1945 dengan di pimpin oleh Supriyadi. Namun pada tanggal 18 agustus 1945, tentara Daidan Jepang untuk menyerah dengan memberikan senjata, dan esoknya Jepang meninggalkan Indonesia. Dengan adanya Sejarah PETA ini membuat perjuangan yang di berikan sangat luar biasa.

Tentara Sukarela Pembela Tanah Air atau PETA (郷土防衛義勇軍 kyōdo bōei giyūgun?) adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang. Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela. Pelatihan pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu Resentai.

Tentara PETA telah berperan besar dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh nasional yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman. Veteran-veteran tentara PETA telah menentukan perkembangan dan evolusi militer Indonesia, antara lain setelah menjadi bagian penting dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga akhirnya TNI. Karena hal ini, PETA banyak dianggap sebagai salah satu cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia.

Latar belakang

Pembentukan PETA dianggap berawal dari surat Raden Gatot Mangkoepradja kepada Gunseikan (kepala pemerintahan militer Jepang) pada bulan September 1943 yang antara lain berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang. Pada pembentukannya, banyak anggota Seinen Dojo (Barisan Pemuda) yang kemudian menjadi anggota senior dalam barisan PETA. Ada pendapat bahwa hal ini merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan memberi kesan bahwa usul pembentukan PETA berasal dari kalangan pemimpin Indonesia sendiri. Pendapat ini ada benarnya, karena, sebagaimana berita yang dimuat pada koranAsia Raya” pada tanggal 13 September 1943, yakni adanya usulan sepuluh ulama: K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar dan H. Mohammad Sadri, yang menuntut agar segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan Pulau Jawa [1]. Hal ini menunjukkan adanya peran golongan agama dalam rangka pembentukan milisi ini. Tujuan pengusulan oleh golongan agama ini dianggap untuk menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama. Hal ini kemudian juga diperlihatkan dalam panji atau bendera tentara PETA yang berupa matahari terbit (lambang kekaisaran Jepang) dan lambang bulan sabit dan bintang (simbol kepercayaan Islam).

Bendera PETA.png

Pemberontakan batalion PETA di Blitar

Pada tanggal 14 Februari 1945, pasukan PETA di Blitar di bawah pimpinan Supriadi melakukan sebuah pemberontakan. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan PETA sendiri maupun Heiho. Supriadi, pimpinan pasukan pemberontak tersebut, menurut sejarah Indonesia dinyatakan hilang dalam peristiwa ini. Akan tetapi, pimpinan lapangan dari pemberontakan ini, yang selama ini dilupakan sejarah, Muradi, tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir. Mereka semua pada akhirnya, setelah disiksa selama penahanan oleh Kempeitai (PM), diadili dan dihukum mati dengan hukuman penggal sesuai dengan hukum militer Tentara Kekaisaran Jepang di Eevereld (sekarang pantai Ancol) pada tanggal 16 Mei 1945.

Pembubaran PETA

Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, berdasarkan perjanjian kapitulasi Jepang dengan blok Sekutu, Tentara Kekaisaran Jepang memerintahkan para daidan batalion PETA untuk menyerah dan menyerahkan senjata mereka, dimana sebagian besar dari mereka mematuhinya. Presiden Republik Indonesia yang baru saja dilantik, Sukarno, mendukung pembubaran ini ketimbang mengubah PETA menjadi tentara nasional, karena tuduhan blok Sekutu bahwa Indonesia yang baru lahir adalah kolaborator Kekaisaran Jepang bila ia memperbolehkan milisi yang diciptakan Jepang ini untuk dilanjutkan. [2][3][4]. Sehari kemudian, tanggal 19 Agustus 1945, panglima terakhir Tentara Ke-16 di Jawa, Letnan Jendral Nagano Yuichiro, mengucapkan pidato perpisahan pada para anggota kesatuan PETA.

Peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia

Pemuda Indonesia dalam pelatihan di Seinen Dojo yang kemudian menjadi anggota PETA

Sumbangsih dan peranan tentara PETA dalam masa Perang Kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Demikian juga peranan mantan Tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman. Mantan Tentara PETA menjadi bagian penting pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), mulai dari Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga TNI. Untuk mengenang perjuangan Tentara PETA, pada tanggal 18 Desember 1995 diresmikan monumen PETA yang letaknya di Bogor, bekas markas besar PETA.

Advertisements

0 Responses to “Ketahanan Nasional : Pembinaan Masyarakat Bela Tanah Air”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,305,342 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: