04
Sep
15

Kebudayaan : Khitah Islam Nusantara

logo_BARPETA

Khitah Islam Nusantara

Oleh: Ma’ruf Amin

Akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya.

Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru. Hal ini wajar karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini.

Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang yang digelar beberapa waktu lalu, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah. Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU.

Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para mua’sis (pendiri) dan ulama NU. Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran, dan moderat.

Tiga pilar

Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting di dalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikrah); kedua, gerakan (harakah); dan ketiga, tindakan nyata (amaliyyah/amaliah).

Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi di dalam memahami teks-teks Al Quran. Salah satu pernyataan Imam al-Qarafi, ulama ahli usul fikih, menyatakan jika ”al-jumûd ‘alã al-manqûlãt abadan dalãl fi al-din wa jahl bi maqasidihi”, pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan di dalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati di kalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir di kalangan NU.

Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jamiah (perkumpulan) dan jemaah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi. Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdh bi al-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis.

Pilar ketiga adalah amaliah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan nahdliyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fikih dan usul fikih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliah yang diperintah Al Quran dan Sunah Nabi. Dengan cara demikian, amaliah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama di tengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang di dalam usul fikih disebut dengan ’urf atau ‘ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan demikian inilah pada dasarnya yang dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan para pendiri NU kepada kita semua.

Penanda Islam Nusantara

Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para nahdliyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas.

Kedua, tawazuniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan.

Ketiga, tatawwu’iyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, nahdliyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara di atas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa.

Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan.

Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat.

Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional.

Ijtihad

Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada di dalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban.

Islam Nusantara tidak berhenti di sini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati di kalangan nahdliyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al Quran dan Sunah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai nahdliyin di sini misalnya adalah maãlahah (kebaikan).

Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan di tengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: ”idhã wujida nasssS fathamma masslahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar’ al-Lãh—jika ditemukan teks, maka di sana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka di sana adalah hukum Allah”. Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di ruang yang lebih luas.

Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi. []

KOMPAS, 29 Agustus 2015

Ma’ruf Amin | Rais Aam Nahdlatul Ulama

Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi

Rabu, 02/09/2015 08:00

[image: Pakar IT ITB: Islam Nusantara Bisa Gerakkan Kebangkitan Teknologi]

Bandung, *NU Online*
Pakar Teknologi Informasi Institut Teknologi Bandung, Basuki Suhardiman
menilai, ide Islam Nusantara yang diusung Nahdlatul Ulama merupakan peluang
untuk menunjukkan jati diri bangsa.

Sebab selama ini menurutnya, memang ada jenis keislaman yang secara unik
dalam sejarah Islam di Indonesia. Dan jenis ini menurut Basuki bukan hal
baru. Adapun guliran slogan Islam Nusantara itu dinilai bagian dari
*marketing*, atau pemasaran gagasan pemikiran.

“Sebagai orang teknik yang sering menggali khazanah sejarah teknologi,
Islam Nusantara itu cukup bagus untuk membangkitkan gairah generasi
mengenal sejarah masa lalu. Sejarah Wali Songo misalnya bukan semata urusan
dakwah dalam ruang lingkup seni dan akhlak saja, melainkan juga kaya
akan *legacy
*(warisan) ekonomi, teknologi, dan mesin tempur, “ujarnya kepada *NU Online*,
Senin (29/8).

Peneliti Comlabs ITB yang sering aktif terlibat diskusi di PWNU Jawa Barat
itu menilai, bahwa kajian Islam Nusantara harus menukik pada histori
teknologi karena sekarang bangsa kita sudah tertidur lama dalam urusan
teknologi.

“Ada rekam jejak dari sejarah jika sebuah bangsa tidak melakukan inovasi,
tidak melakukan reengineering pasti akan mengalami keruntuhan karena kalah
dalam kompetisi. Khilaffah Ottoman mundur akibat beku dalam sains dan
teknologi. Majapahit bahkan runtuh karena tidak melakukan pembaharuan. Dan
kejayaan Demak dengan Wali Songo-nya maju karena inovatif,” paparnya.

Basuki melanjutkan, Wali Songo kreatif dalam urusan dakwah. Misalnya
mengubah wayang golek menjadi wayang kulit sebagai siasat atau kompromi
supaya kesenian bisa laras dengan doktrin fiqih. Kemudian Raden Rahmat
Ngampel juga kreatif dalam membuat skema pertanian sehingga hasil panen di
kawasan Jawa Timur lebih baik, di Cirebon Sunan Gunung Jati juga banyak
melakukan terobosan seperti memasok sarana perdagangan dari pedalaman
dibawa ke pelabuhan.

“Kita kaya akan sejarah.Cuma memang bangsa kita ini termasuk kategori kelas
rendah dalam urusan baca, menempati level paling bawah setara dengan negara
Zambia. Akibatnya kita menjadi semacam bangsa yang zero naratif *nation*,”
kritiknya.

Menurut Basuki, sebuah bangsa bisa maju ukuran umumnya bisa dilihat dari
punya tradisi membaca, bagus dalam urusan matematika, dan cakap menguasai
ilmu alam.

“Kalau membaca saja tidak pernah, bagaimana bisa maju urusan matematika dan
ilmu alam?” Orang-orang NU punya tradisi membawa, karena itu gerakan
membaca perlu digulirkan oleh PBNU, apalagi Ketua Umum PBNU-nya juga pinter
sejarah,” jelasnya.

Karena itu menurut pria asal Sidoarjo ini, gema Islam Nusantara yang paling
mendasar adalah mengambil gerakan literasi, terutama sejarah, berlanjut
pada pengembangan kesusastraan, lalu riset pada sains.

“Ini kesempatan baik di mana ada ide besar yang dikembangkan oleh
organisasi besar. Dulu kiai-kiai tradisional pun tergolong kreatif dalam
menjawab persoalan masyarakat. Sekarang harus dilakukan,” pesannya. *(Yus
Makmun/Mahbib)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,61961-lang,id-c,nasional-t,Pakar+IT+ITB++Islam+Nusantara+Bisa+Gerakkan+Kebangkitan+Teknologi-.phpx

Mengaji Islam Nusantara Sebagai Islam Faktual

Oleh: Irham
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak lama lagi akan menggelar hajatan besar yaitu muktamar NU ke-33 pada tanggal 1-5 Agustus 2015 di Jombang Jawa Timur. Muktamar ke-33 ini bertemakan “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Islam dan Dunia.” Tema ini dibuat menjelang satu abad keberadaan NU di tanah air Indonesia. Hal yang ingin disampaikan adalah untuk menunjukkan bahwa NU di Indonesia dan di dunia sebagai Islam Nusantara yang mengembangkan Islam rahmat bagi seluruh alam. Namun tema tersebut menyisakan perdebatan di masyarakat yang belum kunjung selesai.

Sudah banyak artikel yang ditulis terkait dengan konsep Islam Nusantara oleh para pakar baik dalam media online maupun media cetak. Sayangnya banyak juga yang belum dapat memahami, sehingga banyak tanggapan yang tidak menerima. Secara umum argumentasi tidak menerimanya konsep Islam Nusantara adalah menolak pengotakan Islam dengan menyebutkan term nama tempat/sejenisnya. Seperti halnya term Nusantara, Arab, Afrika dan seterusnya yang diletakkan setelah term Islam. Argumentasi yang selalu diajukan itu ialah Islam hanyalah satu di dunia ini dan universal tidak ada Islam Arab, Islam Amerika, Islam Afrika apalagi Islam Nusantara. Tulisan ini akan menjelaskan perdebatan tersebut, Islam sebagai ajaran yang universal dan Islam sebagai keberagamaan (faktual).

Sumber utama ajaran umat Islam sedunia tetaplah sama, yaitu al-Quran dan al-Hadist. Sumber ajaran itu tidak berubah dan tidak berbeda sampai kapan pun dan di mana pun. Namun umat Islam dalam menjalankan sumber ajaran tersebut ternyata menemui perbedaan. Ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, segala permasalahan masyarakat waktu itu bertumpu kepadanya. Pemahaman dan pelaksanaan Islam sesuai dengan perintah Nabi. Kemudian setelah Nabi wafat, para sahabat Nabi yang menjadi tumpuan selanjutnya. Persoalan kemudian yang muncul adalah adanya perbedaan pendapat dalam memahami ajaran. Hal ini terjadi karena pemahaman sahabat sendiri beragam. Terlebih ketika menemui permasalahan baru.

Perbedaan tersebut terus berkembang hingga kini, terlihat seperti beragamnya ilmu fikih, tafsir, kalam, dan seterusnya. Mulai dari permasalahan ketuhanan, peribadatan, mu’amalah, hinga pada ilmu pengetahuan dan sosial. Dalam hal ini ada dua perkara yang bisa kita pahami, yakni Islam sebagai ajaran. Islam ini sebagai ide, inspirasi, dan sumber pedoman bagi pemeluknya dalam segala sendi kehidupan. Islam sebagai ajaran berlaku secara univeral, tetap dan tidak berubah dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda, yaitu al-Quran dan al-Hadist. Selanjutnya Islam ini melahirkan Islam faktual.

Islam faktual merupakan respon pemeluknya terhadap sumber ajaran, wujudnya adalah keberagamaan. Keberagaman merupakan perilaku, pemahaman, dan keayakinan orang beragama. Wujudnya terbentuk dari proses faktualisasi ajaran yang tidak terlepas dari latar belakang sosio-histori umat beragama. Seperti, tingkat pengetahuan, budaya, ekonomi, politik dan sejarah. Sehingga dengan latar belakang yang berbeda, sudah tentu keberagamaan yang terwujud adalah berbeda. Jadi, adanya Islam Arab, Islam India, Islam Nusantara, Islam Amerika dan seterusnya adalah keniscayaan.

Dalam Islam faktual pun tidak sepenuhnya berbeda. Ada hal yang hampir semua umat Islam sepakat tidak berbeda. Yaitu hal-hal yang pokok dalam Islam, seperti rukun iman dan rukun Islam. Inilah yang dimaksud dengan keberagamaan yang keberadaannya sama sifatnya (univokalitas). Kemudian keberagamaan yang keberadaannya memang berubah dan berbeda yaitu Maqasidus Syari’ah (tujuan utama) dan penafsiran (furu’us syar’iyah). Bagaimana tujuan syariah dirumuskan dan ditafsirkan. Pada level ini sudah tentu latar belakang sosio-histori terlibat yang menyebabkan adanya pemahaman yang majemuk dan beragam.

Islam Nusantara

Islam Nusantara bukanlah merupakan ajaran. Sekali lagi, Islam Nusantara perwujudannya adalah Islam faktual yang bisa dilihat secara sosiologis maupun antropologis. Keberadaannya sudah tentu berbeda dengan Islam yang ada di Arab atau yang ada di Barat. Islam Nusantara merupakan keberagamaan umat muslim yang terbangun atas dasar kondisi sosial-budaya-sejarah Nusantara yang panjang. Terbentuknya tidak terlepas dari para penyebar Islam di Nusantara.

Sejak awal, para pendahulu menyebarkan Islam dengan cara kedamaian, bukan dengan pertumpahan darah. Senjata dakwah yang digunakan adalah kebudayaan. Wali Songo misalnya, mempelajari terlebih dahulu kebudayaan setempat sebelum berhasil berdakwah di tanah Nusantara (Jawa). Faktanya pendekatan kebudayaan ini efektif. Islam mengalami akselerasi mulai abad 12, 13 hingga abad 15 masehi. Padahal, sejak abad 7 masehi Islam sudah masuk ke Nusantara namun lama tidak berkembang (baca Agus Sunyoto: Atlas Wali Songo dan Azra: Jaringan Ulama Nusantara).

Islam yang dikembangkan di Nusantara berkarakter seimbang, berada di tengah, mengayomi, tidak berpihak pada yang ekstrim, kemudian toleran, dan adil. Dengan prinsip ini Islam mampu mewarnai segala sendi kehidupan masyarakat. Seperti, dalam falsafah masyarakat, kesenian, kesusastraan, kebudayaan, tradisi, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Dengan demikian Islam dapat diterima dan mendarah daging dalam kehidupan. Inilah yang disebut dengan Islam wasatiyah sebagai karakter Islam Nusantara.

Banyak contoh Islam Nusantara sebagai Islam wasatiyah, misalnya, kaidah masyarakat Minangkabau yang berbunyi “adat basandi syarak” (adat yang bersendikan Islam). Kemudian dalam kebudayaan Jawa seperti ritual selametan, kenduren, peringatan kelahiran, kematian, kehamilan, ataupun pernikahan. Dan sejarah yang tidak bisa dilupakan adalah proklamasi 17 Agustus 1945. Yang selanjutnya melahirkan kesepakatan antara kelompok nasionalis dan agamis membentuk NKRI bukan negara agama dan bukan negara sekuler. Yakni, negara Pancasila dengan dasar UUD 1945. Contoh ini nampak jelas, menunjukkan adanya akomodasi antara agama dan kebudayaan. Selain itu masyarakat Islam di Nusantara menunjukkan dinamis. Mampu merespon perubahan jaman, terlebih di era modernitas, mampu melestarikan dan juga mengembangkan kebudayaan. Bukannya statis, seperti yang dinyatakan Geertz (baca: Bambang Pranowo, Memahami Islam Jawa).

Mengkaji Islam Nusantara

Memahami Islam Nusantara tidak bisa terlepas dari faktor sejarah, budaya, dan politik dimana ajaran Islam diimplementasikan dan dikembangkan di Nusantara. Faktor ruang dan waktu itu sudah tentu sangat mempengaruhi karakter Islam Nusantara. Sehingga untuk mengetahui bagaimana Islam Nusantara dapat terwujud dan seperti apa karakternya, harus meneliti bagaimana gejala agama itu terbentuk. Menurut M. Atho Muzhar seorang pakar sosiologi hukum Islam dalam bukunya yang berjudul “Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek,” menjelaskan bahwa ada lima gejala agama yang bisa diteliti secara kualitatif maupun kuantitatif, yaitu pertama, naskah-naskah sumber ajaran agama dan simbol-simbol agama. Kedua, para penganut atau pemimpin dan pemuka agama. Ketiga, ritus-ritus, lembaga-lembaga, dan ibadat-ibadat seperti, shalat, haji, waris, dst. Keempat, tempat ibadat. Kelima, organisasi keagamaan.

Hemat penulis, untuk mengaji gejala agama khususnya dalam memahami Islam Nusantara dapat menggunakan tiga pendekatan ini. Pertama, pendektan sosiologis dan antropologis. Pendekatan ini untuk mengetahui bagaimana praktek ajaran Islam di masyarakat. Kedua, pendekatan filologi. Pendekatan ini dapat melalui naskah-naskah kuno (manuskrip) yang ditulis ulama-ulama/santri-santri dahulu yang masih banyak tercecer di pesantren, di perpustakaan dalam negeri maupun luar negeri, dan yang masih disimpan oleh ahli waris. Pendekatan ini dapat mengungkapkan sejarah, pemikiran dan perilaku umat Islam masa lampau. Ketiga, pendekatan sejarah dan arkeologi. Pendekatan ini untuk membaca kembali sejarah bagaimana Islam di Nusantara terbentuk dan terjadi, dengan melihat benda-benda sejarah. Tentu dalam menggunakan pendekatan tersebut sebelumnya harus memahami ajaran-ajaran Islam yang berkembang di Nusantara. Tanpanya akan menjadi bias seperti halnya yang dilakukan Geert.

Pemahaman yang komprehensif akan dapat membuat rumusan Islam Nusanatara dengan baik.  Seperti halnya yang dinyatakan oleh Bambang Pranowo sosiolog muslim dalam bukunya “Memahami Islam Jawa”,  bahwa ada lima paradigma untuk memahami masyarakat Islam di Nusantara ini dengan baik. Pertama, memperlakukan masyarakat muslim yang sebenarnya, tanpa memandang derajat kesalehan/status sosial mereka. Kedua, memahami religiusitas sebagai proses yang dinamis bukan statis. Ketiga, perbedaan manifestasi religiusitas masyarakat muslim harus dianalisis dengan perbedaan penekanan dan intepretasi atas ajaran-ajaran Islam. Keempat, karena di dalam Islam tidak ada kependetaan, maka orang muslim harus diposisikan sebagai orang yang aktif bukan pasif dalam proses pemahaman, penafsiran, dan pengartikulasian ajaran-ajaran Islam di dalam kehidupan keseharian. Kelima, faktor sejarah, sosial budaya, politik, ekonomi, sebagai faktor yang melatarbelakangi proses terbentuknya tradisi Islam yang khas.

Dengan demikian Islam Nusantara bukanlah mengotakkan Islam, melainkan pemahaman keberagamaan Islam di Nusantara ini. Karakter dan tipologi aslinya adalah seperti awal-mulanya Islam masuk ke Nusantara, yakni wasatiyah yang tidak melepaskan dengan kebudayaan.  Islam Nusantara merupakan bagian dari representsi dari rahmatan lil’alamin. []

*) Penulis adalah sekretaris PAC GP Ansor Kecamatan Juwana Kabupaten Pati dan mahasiswa sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta – Awardee LPDP

Kedudukan Perempuan dalam Islam Nusantara

Kamis, 03/09/2015 06:10

 

Kudus, NU Online
Berbeda dengan di Arab, kedudukan perempuan di Indonesia bukanlah makhluk domestik. Misalnya, jika di Arab mereka tidak boleh menyetir mobil, di Indonesia boleh.

Ulil Abshar Abdalla pernah menyaksikan di Bekasi, seorang perempuan bercadar naik sepeda motor untuk berjualan sayur. “Pemandangan ini hanya kita bisa temukan di Nusantara,” katanya di Stadium General “Memperbincangkan Islam Arab dan Islam Nusantara” di GOR STAIN Kudus, Selasa (1/9).

Di negara Timur Tengah, kata pria kelahiran pati ini, perempuan adalah makhluk rumahan atau konco wingking.

Hebatnya lagi, lanjutnya, perempuan di masa Kerajaan Islam Pasai pernah dipimpin ratu perempuan. Begitu pula di Indonesia pernah dipimpin Presiden perempuan meski hanya sementara. Hal ini jelas berbeda di negara Amerika yang tidak pernah dipimpin perempuan.

Selain kedudukan perempuan yang tidak domestik, Pengurus PP Lakpesdam NU ini menyebut ciri Islam Nusantara yang cinta damai bukan mengajak perang.

Ia menjelaskan Islam datang ke India, Pakistan, Afganistan serta Afrika Utara dengan jalur perang. Tetapi Islam masuk ke Nusantara melalui pedagang, juru dakwah dan ulama. Mereka berasal dari Persia, Arab, Yaman, India dan sebagainya.

“Alhasil, Islam yang dibawa ke Indonesia tidak suka rebut tetapi suka perdamaian,” katanya.

Terkait politik, kata dia, Islam Nusantara berdamai dengan kekuasaan politik yang ada. “Yaitu menerima NKRI bukan menerima dasar negara yang lain.”

Mengakui NKRI, bagi Islam Nusantara sama artinya dengan menjalankan ruh Islam. Menjalakan etika Islam universal. Begitu pula dengan mengakui demokrasi, pemilu, partai politik, KPK dan sebagainya.

“Kita harus mampu mempertahankan dan memperjuangkan etika Islam. Visi Islam yang universal. Islam yang kontekstual yang rahmatan lil alamin. Membuat tersenyum seluruh elemen bangsa yang dilandasi dengan cinta kasih dan kasih sayang terhadap sesama,” pungkas Ulil yang juga politisi Partai Demokrat. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

 

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,61977-lang,id-c,nasional-t,Kedudukan+Perempuan+dalam+Islam+Nusantara-.phpx

Konsep Islam Nusantara Mampu Cegah Islam Transnasional

Senin, 31/08/2015 17:00

 

Yogyakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Prof. Mahasin mengatakan warga Nahdlatul Ulama perlu mengimplementasikan konsep Islam Nusantara yang dinilai mampu menjadi benteng masuknya paham transnasional.

“Bukan hanya sekadar slogan, tapi harus menjadi konsep pengamalan nilai Islam dalam kehidupan nyata sehingga mampu membentengi paham keagamaan yang tidak cocok dengan kondisi di Indonesia,” kata Mahasin dalam sarasehan tokoh agama dan masyarakat dengan tema “Menuju Islam Nusantara Berkemajuan di Yogyakarta, Ahad.

Konsep penerapan Islam Nusantara seperti yang diangkat sebagai tema utama Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur itu, ia tegaskan, bukan merupakan aliran baru dalam Islam, melainkan konsep pengamalan nilai-nilai Islam dengan tanpa menafikan budaya-budaya Nusantara.

“Apalagi budaya lokal di Nusantara sejak awal telah memiliki kearifan tersendiri dengan mengutamakan unsur kedamaian, tata krama, dan toleran,” kata dia.

Menurut Mahasin, masyarakat khususnya umat Islam di Indonesia saat ini cenderung terbuka dan menyerap berbagai paham keagamaan “transnasional” atau yang berasal dari luar negeri seperti ekstrimisme dan liberalisme.

“Termasuk meniru budaya atau ciri khas berpakaian di mana paham itu berasal. Padahal cara berpakaian belum tentu berhubungan dengan Islam melainkan hanya menggambarkan budaya negara setempat,” kata dia.

Sayangnya, setelah meniru dan menyerap paham transnasional itu, ia mengatakan, kebanyakan menganggap bahwa pemahaman keagamaan termasuk budaya yang diserap itu merupakan yang paling benar dan paling asli dibanding pemahaman yang lain.

Selain itu, Mahasin mengatakan, munculnya berbagai pemahaman transnasional juga membuat hubungan antarumat Islam di Nusantara menjadi renggang, sebab dengan paham impor tersebut banyak Umat Islam di Indonesia berubah memiliki cara pandang yang kaku dan cenderung keras dalam menghadapi perbedaan.

“Seperti aksi pemukulan sedemikian rupa terhadap penganut paham Syiah dan Ahmadiyah. Ini siapa yang bertanggung jawab? itu bukan cara yang digunakan oleh ajaran Islam yang asli, karena di dalam Islam orang yang berbeda tidak lantas dipukuli,” kata Mahasin. (Antara/Mukafi Niam)

 

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,61923-lang,id-c,nasional-t,Konsep+Islam+Nusantara+Mampu+Cegah+Islam+Transnasional-.phpx

Medan Terjal Menuju Islam Nusantara

Oleh: Khairi Fuady
Sebagai sebuah corak keberagamaan yang bercita-cita untuk menjadi role model kiblat Islam rahmatan lil’alamin di dunia, Islam Nusantara tentu masih sangat memerlukan kritik. Kritik adalah salah sebuah sarana untuk meneguhkan Islam Nusantara secara konseptual. Karena tanpa kritik, kita tidak akan bisa mendeteksi sejauh mana penerimaan masyarakat terhadap term yang mendadak nge-pop akhir-akhir ini.

Namun tampaknya, semakin Islam Nusantara mengudara, betul bahwa ada adagium yang mengatakan semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpa, rupanya Islam Nusantara pada perjalanannya bukan cuma diterpa oleh berbagai kritikan, tetapi juga berbagai tanggapan sarkastis dan propaganda negatif sebagai sebuah paham yang dituding sesat dan menyesatkan.

Ironisnya, hal ini bukan hanya berasal dari kalangan yang belum paham atau memang awam mengenal istilah ini. Akan tetapi juga datang dari berbagai tokoh populis seperti Mamah Dedeh –mamahnya ibu-ibu pengajian televisi, Habib Rizieq Shihab – Pucuk Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Dokter Hamid Fahmi Zarkasyi –mahaguruyang menjadi referensi baku kawan-kawan kajian INSISTS, sampai selebritas twitter Hadidz Ary yang mencitrakan diri sebagai murobbi-nya gerakan Indonesia Tanpa JIL.

Tanpa tedeng aling-aling, di depan jamaah pengajian subuh dan disaksikan oleh seluruh pemirsa ANTV suatu pagi, Mamah Dedeh mengatakan “Coret Islam Nusantara” yang secara otomatis statemen beliau tersebut langsung dikutip dan disebar-luaskan oleh media-media yang notabene sempat masuk list BNPT sebagai media “radikal”. Lebih ekstrem lagi, Habib Rizieq tampak niat banget untuk menghantam Islam Nusantara ini hingga beliau meluangkan waktu untuk membuat propaganda di media bahwa JIN (Jemaat Islam Nusantara – istilah yang sesungguhnya beliau bikin sendiri) adalah sebuah gerakan yang harus ditumpas eksistensinya di negeri ini lantaran pahamnya sesat dan menyesatkan, lengkap dengan pointer-pointer yang beliau inventarisir sebagai dalil atau dalih bahwa Islam Nusantara ini memang sesat. Ah yang beneer?

Sebagai sebuah tulisan populer, saya ingin mengajak segenap pembaca untuk terlebih dahulu merenggangkan urat saraf masing-masing sebelum lebih jauh menyimak. Saya hanya ingin menggaransi terlebih dahulu bahwa tulisan ini nantinya tidak akan se-galak artis twitter bernama Hafidz Ary yang dengan serampangan mengatakan bahwa corak Islam Nusantara yang dirintis para ulama dan segenap awliyaa di negeri ini adalah produk rintisan kaum Islam Liberalis. Hafidz semacam melakukan jurus mabuk hingga pura-pura lupa bahwa liberalisme Islam di negeri ini adalah gerakan yang nge-pop belakangan bahkan tergolong impor, atau bahasa kerennya biasa disebut transnasional. Sedangkan Islam Nusantara adalah corak keberagamaan yang telah lama menyatu dengan urat nadi bangsa Indonesia.

Saya juga akan berusaha untuk tidak menjadi se-gegabah ustadz beken bernama Felix Siauw yang mengatakan bahwa “Nasionalisme tidak ada dalam Islam”, lalu kemudian kepleset lidah berfatwa menghalalkan VCD bajakan karena “segala sesuatu di dunia ini milik Allah”, lalu mengharamkan akifitas selfie dan ternyata beliau juga suka selfie, dan yang paling menggelikan adalah mengkampanyekan Hijab Syar’ie ala beliau sendiri hingga kemudian diketahui ternyata beliau juga jualan jilbab.

Bismillah. Akhi, don’t be amazed too much, jangan latah!, Islam Nusantara bukan paham kok, bukan pula ajaran, apalagi mazhab baru yang mencoba peruntungan untuk numpang tenar di bumi Indonesia ini. Islam Nusantara adalah model keberagamaan yang sejak lama menjadi model dakwahnya para Kyai di Jawa, para Buya di Sumatera, para Tuan Guru di Kalimantan, dan para Gurutta di Sulawesi. Islam Nusantara adalah Islam yang ketika harus berhadapan dengan The Old Establishing Beliefs– seperti Hinduisme di Indonesia, maka dengan lentur tidak menjadikan sapi sebagai hewan kurban karena sapi adalah hewan yang mulia menurut kepercayaan masyarakat Hindu. Para awliyaa kala itu paham bahwa Islam cukup selow dengan memperbolehkan kerbau dan kambing sebagai substitute animal (baca; pemain cadangan) untuk dikurbankan. Dan ini Islami banget, kok. Toh dulu juga al-Qur`an ketika melarang minum khamr juga metodenya bertahap.

Awalnya dengan menyatakan bahwa di dalam khamr terdapat itsmun kabiir (dosa besar) dan juga manaafi’ linnaas(manfaat untuk manusia), hanya saja dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu kemudian memrintahkan jangan melaksanakan shalat dalam keadaan mabuk, hingga pada akhirnya baru mengharamkan khamr secara tegas. Metode semacam ini dalam istilah Arab disebut dengan tadriijiyyan, atau step by step.

Islam Nusantara adalah Islam yang mengerti lokalitas sehingga masyarakat Islam Banjar sangat akrab dengan tradisi baaruhan, di Jawa ada tradisi slametan, bahkan muslim yang sudah meninggal dunia pun diurus sampai seratus hariannya dan diperingati setiap tahunnya. Islam Nusantara juga mengerti psikologis masyarakat untuk berkesenian hingga dikenal tradisi maulidan, barzanjian, diba’an, dan lain-lain.

Kesemua contoh di atas adalah ke-khasan tersendiri bagi corak keberislaman di Indonesia, yang jika digali lebih dalam adalah identitas kearifan lokal atau local wisdom itu sendiri. Karena sejatinya identitas inilah yang mahal, identitas ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Maka sudi lah kiranya kita belajar dari Kyai Haji Hasyim Asy’ary yang bertahun-tahun mengaji di Mekkah tapi mind set-nya tidak pernah ter-Arab-kan. Sudi pula lah kiranya kita menengok sejarah Wapres legenda kita Mohammad Hatta yang belajar di Belanda tapi tidak ter-barat-kan. Beliau bahkan masyhur dengan gagasan ekonomi koperasinya, hingga gagasan politik luar negeri Mendayung di atas Dua Karang-nya yang sampai hari ini menjadi khas kebijakan luar negeri Indonesia yang nonblock dan nonafiliate. Dan sejarah menjadi saksi bagaimana beliau tetap hidup Islami dengan sifat qana’ah-nya hingga sampai akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu bermerek Bally.

Terakhir, Islam Nusantara tidak pernah anti Arab seperti yang dituduhkan Habib Rizieq. Tapi Islam itu sendiri bukanlah Arabisme karena memang spiritnya universal. Turun sebagai agama langit (samawi), tapi eksistensinya membumi. Bahkan kalau mau jujur, para ulama, Kyai, dan Tuan Guru itu kurang ngerti Arab apa coba? Dari dulu juga buku-buku wajib di Pesantren adalah kitab-kitab berbahasa Arab. Bukan sekadar gombal dan retoris untuk menjadi Arabis sampai urusan ngobrol dan ngopi saja harus menyapa dengan akhi dan ukhti.

Islam Nusantara juga tidak pernah anti-barat, karena prinsip dasarnya adalah memungut hikmah darimana pun sumbernya. Hikmah adalah milik orang Islam yang tercecer. Karenanya, Islam Nusantara sangat menghargai tradisi dan sekaligus juga terbuka dengan modernitas. Kaidah fikih populernya; “al muhaafazhah alal qadiim al shaalih, wal akhdzu bil jadiid al ashlah”. Pijakan historis yang kokoh, dan kemampuan merespon masa depan dengan tangkas. Inilah yang disebut dengan prinsip, identitas, dan jati diri. Tak heran kalau kemudian mantan Presiden kita Baharuddin Jusuf habibi yang diketahui lama tinggal di Barat, toh ternyata juga tidak serta merta sepakat dengan tradisi Barat yang individualistis sampai nenek-nenek harus jauh dari cucunya karena ibunya lebih suka menitipkan anaknya di penitipan bayi. Di negara maju, kata Pak Habibi, tak pernah ada istilah ngemong cucu. Dan sebagai Profesor Jenius di bidang teknologi, ternyata ketika beliau ditanya lebih memilih makanan yang diolah oleh Food Processor atau sambal yang di-ulek, dengan tegas beliau memilih yang kedua, karena sambal yang di-ulek oleh wanita Indonesia sungguh tiada duanya. Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwatith tariieq. []

*) Penulis adalah kader muda Nahdhatul Ulama dari Kalimantan Selatan, mahasiswa tingkat akhir Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

INSPIRASI MUKTAMAR NU

Blangkon, Ciri Khas Jamaah KBIH Arafah Jepara

Ahad, 30/08/2015 13:05

[image: Blangkon, Ciri Khas Jamaah KBIH Arafah Jepara]

Jepara, *NU Online*
Pengasuh pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara KH Nuruddin Amin (Gus Nung)
membawa sedikitnya 125 jamaah haji asal Jepara. Salah satu ciri khas dari
Jamaah Haji Nusantara KBIH Arafah Bangsri Jepara untuk jamaah laki-laki
yang berjumlah 58 orang ialah blangkon.

Gus Nung menyatakan bahwa jamaah haji tidak melulu menggunakan kopiah haji.
Menurutnya, jamaah haji tetapi boleh mengenakan blangkon sebagai tutup
kepala.

“Wong kaji ora kudu nganggo kopiah putih tapi ugo oleh nganggo blangkon,”
kata Gus Nung.

Sementara 67 jamaah putri belum mengenakan ciri khusus.

Sejak dipublikasikan di jejaring sosial fesbuk, penanda khusus ini banyak
menuai apresiasi dari pelbagai kalangan netizen.

Dipilihnya blangkon sebagai identitas bukan tanpa alasan. Menurut Gus Nung,
blangkon memiliki ciri yang sangat spesifik dan tiada duanya. Saat
dihubungi via jejaring sosial suami Hj Hindun Anisah ini menjawab bahwa
blangkon dari segi bentuknya sudah mirip dengan sorban hanya saja motifnya
kain batik.

“Blangkon ini ciri khas Keraton Mataram Ngayogyokarto Hadiningrat. Kerajaan
ini merupakan salah satu kerajaan Islam Jawa yang ada di tanah Nusantara,”
tutur Ketua KBIH Arafah.

Sejak digulirkan ide menarik ini, puluhan jamaah memberi respon yang
positif. Tujuannya selain memudahkan untuk mengidentifikasi teman di tanah
haramain juga mereka nyaman memakainya setiap ada aktivitas maupun jamaah
rutin di masjid.

Identitas blangkon masih terinspirasi dari Islam Nusantara yang
dikonseptualisasikan Muktamar Ke-33 NU. Dengan memakai blangkon pihaknya
ingin menunjukkan corak keislaman yang spesifik di salah satu bagian
Indonesia yang diidentifikasi sebagai Islam Nusantara.

“Makanya kami sengaja mempraktikkan pengamalan Islam Nusantara dengan wujud
memakai blangkon,” terangnya, Kamis (27/8) lalu.

Tutup kepala ini dikenakan ketika berangkat ke masjid serta
kegiatan-kegiatan KBIH di tanah suci kecuali saat sedang ihram. Misalnya
saat Arbain, ziarah ke Jabal Uhud, Ziarah ke Masjid Quba, Jannatul Baqi’
Al-Ghorqod, Ziarah Madinah serta aktivitas ibadah yang lain.

Tahun ini KBIH Arafah berangkat dari 24 Agustus hingga 4 Oktober 2015. KBIH
ini menempati Kloter 12 SOC (sebelumnya kloter 13) dari Jepara. Maju satu
kloter akibat akumulasi jamaah yang belum keluar visa hajinya. (*Syaiful
Mustaqim/Alhafiz K*)

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,61899-lang,id-c,internasional-t,Blangkon++Ciri+Khas+Jamaah+KBIH+Arafah+Jepara-.phpx

Membangun Epistemologi Islam Nusantara

Oleh: Ali Romdhoni*
Keunikan kondisi umat Islam di Indonesia salah satunya ditandai dengan keberadaan organisasi kemasyarakatan (ormas) Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad. Keempat ormas ini memiliki ribuan dan bahkan hingga jutaan pengikut (jama’ah).
Selain memiliki jama’ah, ormas-ormas ini juga memiliki variasi model kajian keislaman yang terus dikembangkan dan dipraktikkan oleh anggota komunitasnya.
Selanjutnya, tradisi studi keislaman yang dikembangkan keempat ormas di atas bisa diklaim sebagai representasi dari tradisi studi keislaman khas Indonesia. Membangun kesimpulan seperti di atas sangat penting, terutama untuk meneguhkan dan mewujudkan mimpi umat Islam Indonesia, bahwa ke depan Islam di Nusantara berpotensi besar menjadi model dan rujukan masyarakat dunia.
Untuk mewujudkan mimpi di atas, perlu penelusuran epistemologi pemikiran keislaman (teologi, fikih, tasawuf, model dakwah) serta karakteristik ormas-ormas di Indonesia, kemudian direkonstruksi dengan tetap melihat akar kultural yang melatarbelakangi kelahiran ormas.
Dalam kajian filsafat ilmu, epistemologi membahas sumber, struktur, metode dan validitas satu pengetahuan. Epistemologi juga dipahami sebagai ilmu yang mengkaji keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan. Dalam konteks Islam Nusantara, kita perlu mengkaji historisitas pemikiran keislaman yang dikembangkan satu ormas, serta dinamikanya dari waktu ke waktu.
Kajian historis atas pemikiran keislaman satu ormas sangat penting, karena ormas yang mampu bertahan (survive) sampai hari ini memiliki pengalaman sejarah yang berbeda, dan masing-masing unik.
Selain itu, tipologi pemikiran keislaman yang dikembangkan satu ormas merupakan hasil dialektika antara ajaran Islam yang dikaji oleh komunitas, realitas sejarah di sekitar dan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan oleh anggota ormas. Dari sini kemudian lahir interpretasi versi masing-masing ormas. Dalam pandangan penulis, lembaran panjang sejarah Islam di mana pun merupakan pergumulan masyarakat Islam untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam yang mereka kaji dalam ruang dan waktu tertentu.
Karena itu, kalau pun setiap ormas di negeri ini memiliki kesimpulan yang unik dalam melihat realitas sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama, hal itu lebih disebabkan kecenderungan corak pemikiran (‘ideologi’) yang sudah terbangun sejak lama, dan melatarbelakangi berdirinya satu ormas. Iya, sikap ormas adalah hasil ijtihad yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu.
Maka wajar ketika suatu ormas di Indonesia kelak mengalami pergeseran paradigma, seiring dengan laju perkembangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Ormas yang sangat ekstrim dan fundamental dalam menafsir teks-teks agama, suatu saat bisa menampakkan wajah yang toleran dan ramah dalam bersikap. Hal ini bergantung pada pergulatan pemikiran para anak mudanya, serta sikap dari figur petinggi ormas itu.
NU dan Islam Nusantara
Islam Nusantara sebagai sebuah brand (merek, nama) lahir dari kegigihan, kerja keras dan proses panjang yang dilewati warga nahdliyyin di Indonesia dalam memperlihatkan dan menawarkan wajah Islam yang ramah dan peka terhadap persoalan kemanusiaan. Sebagai merek, Islam Nusantara sudah didengar oleh para calon pengguna (user). Bahkan sebagian dari mereka sudah mulai hunting di pasaran.
Islam dan masyarakat Indonesia yang memeluknya dinilai oleh warga dunia sebagai hal yang unik, yang berbeda dari umat Islam di beberapa negara yang memiliki jumlah muslim mayoritas. Di sini kemudian orang-orang mulai melacak proses masuknya Islam di Nusantara, mulai dari metode penyampaian nilai-nilai Islam serta respon masyarakat lokal dalam menerima ajaran agama Islam.
Dalam kondisi yang demikian, para pengusung Islam Nusantara harus menyiapkan diri dan semakin memantapkan langkah dalam menerima pertanyaan, kritikan dan juga tanggapan sinis dari masyarakat. Semua itu ada manfaatnya, terutama untuk mengukuhkan bangunan epistemology dari Islam Nusantara sebagai brand baru, yang kemunculannya sudah dinanti pengguna.
Setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan para pengusung Islam Nusantara. Pertama, merumuskan bangunan pengetahuan Islam Nusantara. Ke depan, Islam Nusantara tidak terbatas menjadi topik pembicaraan di forum-forum informal dan bahan komentar di jejaring media sosial. Tetapi sangat mungkin menjadi bahan diskusi serius bagi para ilmuwan dunia. Karena itu, bangunan epistemology Islam Nusantara harus segera digali dan dirumuskan.
Kedua, melakukan sosialisasi yang terorganisir kepada publik. Hal ini supaya nama ‘Islam Nusantara’ tidak diplintir kesana dan kemari. Mengingat dewasa ini masih saja ada pihak-pihak yang secara sengaja menyebarkan informasi yang memancing emosi pembaca.
Ketiga, mengajak beberapa elemen di Indonesia yang memiliki kesamaan visi dalam menampilkan wajah Islam yang ramah. Sehebat apa pun gagasan dan konten Islam Nusantara tidak bisa hanya diusung oleh sebagian kecil pihak. Apabila orang-orang yang tidak bertanggung jawab jumlahnya lebih besar, maka pesan Islam Nusantara akan dipahami oleh masyarakat secara keliru. Karena itu, seluruh elemen yang dimiliki bangsa ini harus diajak dan libatkan dalam menawarkan wajah Islam Nusantara yang ramah dan menjawab problem dunia modern.
Penulis prihatin dengan beberapa pihak yang kurang bijak dalam menawarkan dan menerima nilai-nilai atau pemikiran keislaman dewasa ini. Fanatisme yang berlebihan dari penganut organisasi keislaman terkadang justru melahirkan sikap ekstrim, permusuhan, dan kebencian dalam memandang kelompok lainnya. Tulisan ini penulis maksudkan sebagai ajakan untuk berfikir besar, menjadi muslim yang berkontribusi bagi kelangsungan umat manusia dunia. Dari Islam Nusantara untuk kelangsungan dunia. Wallahu a’lam. []
*Ali Romdhoni, dosen filsafat dan kajian Qur’an Universitas Wahid Hasyim Semarang

http://www.sinarharapan.co/news/read/150831049/haji-dan-neogeopolitik-arab-saudi

Haji dan Neogeopolitik Arab Saudi

Kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji telah diberangkatkan ke Arab Saudi pada 21 Agustus 2015.

31 Agustus 2015 20:15 Ribut Lupiyanto OPINI dibaca: 332

inShare

Musim ibadah haji telah tiba. Kelompok terbang (kloter) pertama jemaah haji telah diberangkatkan ke Arab Saudi pada 21 Agustus 2015. Kementerian Agama menyiapkan kuota para calon jemaah haji sebanyak 155.200 orang untuk keberangkatan 2015. Sejarah mencatat masyarakat Indonesia menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci sejak 1888.

Setiap tahun, jumlah jemaah haji Indonesia adalah terbesar sedunia. Jumlah penduduk Indonesia yang sudah menunaikan haji hingga 2014 ditaksir mencapai 2,5 juta jiwa (1,15 persen) dari sekitar 217,5 juta penduduk muslim. Animo berhaji muslim Indonesia terus meningkat setiap tahun. Tidak sedikit muslim Indonesia yang telah dan akan melakukan haji lebih dari sekali. Indonesia pernah meraih penghargaan sebagai Penyelenggara Ibadah Haji Terbaik Dunia 2013, yang diberikan World Hajj Convention (Kemenag, 2013).

Statistik di atas wajar mengingat Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar sedunia. Hal ini tentu menjadikan posisi Indonesia strategis di mata Arab Saudi. Musim haji merupakan momentum pengerukan devisa yang sangat besar bagi negara tersebut. Untuk itu, penting kiranya mempelajari dinamika geopolitik Arab Saudi, sehingga Indonesia dapat menerapkan geostrategi yang jitu dalam hubungan bilateral yang menguntungkan.

Kebijakan geopolitik almarhum Raja Abdullah telah mengantarkan Arab Saudi sebagai kekuatan terpenting di kawasan Timur Tengah. Kompetisi sengit dilakukan dengan Iran yang memiliki perbedaan pandangan keagamaan.

Rivalitas terakhir yang kentara adalah  ketika perang saudara di Suriah. Riyadh mendukung pemberontak, sedangkan Teheran mendukung rezim di Damaskus. Suwefi (2015) mencatat Raja Abdullah telah banyak menorehkan tinta sejarah bagi geopolitik internasional Arab Saudi. Antara lain pada 1991 Raja Abdullah menolak AS menempatkan pasukan di Saudi dan lebih mendorong negoisasi.

Raja Abdullah kembali tak izinkan AS menyerang Irak lewat jalur Arab Saudi pada 2003. Pada 2013, Arab Saudi mendukung kelompok perlawanan Suriah untuk menjatuhkan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Masih pada 2013, Arab Saudi menolak kursi Dewan Keamanan PBB sebagai protes ketidak mampuan PBB. Terakhir pada 2014, Arab Saudi bergabung dalam koalisi internasional pimpinan AS menyerang ISIS.

Kekuatan geopolitik Arab Saudi terletak pada dua aspek, yaitu pengaruh politik di Timur Tengah dan terkait kebijakan minyak dunia. Kepemimpinan awal Raja Salman langsung diuji dinamika kekuatan syiah di Irak, Suriah, Yaman, Lebanon, dan Bahrain. Konflik Sunni-Syiah berpotensi pecah dan terus melebar. Sejak lama Arab Saudi menerapkan kebijakan menyeimbangkan eksistensi ulama, suku, kerajaan dan kepentingan Barat.

Kepemimpinan Raja Salman diprediksi tidak akan banyak mengubah kebijakan luar negeri Arab Saudi minimal dalam jangka pendek hingga menengah.

AS sebagai sekutu utama menjadi pihak paling berkepentingan terkait kebijakan geopolitik Arab Saudi. Pascawafatnya Raja Abdullah, pemerintah AS langsung menyatakan harapan untuk melanjutkan kemitraan yang erat antara AS dan Arab Saudi di bawah kepemimpinan Raja Salman. Seperti  Inisiatif Perdamaian Arab atau kampanye untuk menurunkan dan kekalahan ISIS.

Kekuatan geopolitik minyak Arab Saudi ditunjukkan kekayaan yang dimiliki mencapai 16 persen dari cadangan minyak dunia. AS mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari dari Saudi. Arab Saudi merupakan negara pemimpin OPEC dan mempunyai pengaruh besar terhadap harga energi dunia.  Pangeran Salman yang berpandangan Barat dikenal pragmatis dan lebih progresif.

WikiLeaks sempat memperingatkan Arab Saudi agar reformasi dilakukan dengan mempertimbangkan faktor sosial dan budaya secara hati-hati dalam jangka panjang. Penerapan demokrasi yang prematur jika dilakukan akan mengarahkan perpecahan negara dalam tribalisme.

Geostrategi Diplomasi

Kepemimpinan baru Arab Saudi di bawah Raja Salman penting disikapi sebagai langkah strategi membangun diplomasi. Hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi telah terjalin lama dengan mesra. Bidang kerja sama yang menonjol kedua negara antara lain dalam hal pendidikan, keagamaan, haji, pengiriman tenaga kerja, minyak bumi, dan lainnya.

Susilo Bambang Yudhoyono pernah menyebutkan, Arab Saudi adalah sahabat sejati Indonesia. Beberapa hal penting diperhatikan pemerintahan Jokowi dalam revitalisasi hubungan Indonesia-Arab Saudi.

Pertama, meneguhkan strategi diplomasi yang menguntungkan bagi bangsa Indonesia. Kebijakan luar negeri bebas aktif mesti ditonjolkan. Hubungan bilateral mesti dijalankan dalam psikologis kesetaraan.  Kedua, melakukan renegosiasi terkait tenaga kerja Indonesia, khususnya perempuan. Pemerintah mesti menjamin keselamatan dan kesejahteraan TKW yang sebagian besar menjadi pembantu rumah tangga.

Moratorium pengiriman TKW mesti dipertahankan hingga kesepakatan yang menguntungkan TKW dan Indonesia terjadi. Ke depan pengiriman TKW pembantu rumah tangga mesti semakin dikurangi dan diganti dengan tenaga-tenaga untuk profesi yang lebih menjanjikan.

Ketiga, melakukan renegoisasi terkait pengelolaan ibadah haji. Diplomasi haji penting mengedepankan keselamatan dan kenyamanan jemaah. Kualitas pemondokan, transportasi, makanan, pengamanan, dan lain-lain mesti berstandar tinggi dan dipenuhi Arab Saudi.

Revitalisasi geopolitik diplomasi mesti tetap memprioritaskan masa depan hubungan. Indonesia mesti melepas bayang-bayang pengaruh AS.

Keberanian Indonesia dapat menjadi cambuk bagi Arab Saudi untuk menirunya. Perwujudan semua ini akan menciptakan kekuatan geopolitik baru (neogeopolitik) antara Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar dengan Arab Saudi yang merupakan negera Islam terkaya.

Penulis adalah deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration).
Sumber : Sinar Harapan

__._,_.___


0 Responses to “Kebudayaan : Khitah Islam Nusantara”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,880 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: