01
Sep
15

Kebudayaan : Blangkon, Ciri Khas Islam Nusantara Jepara

 Jakarta45

INSPIRASI MUKTAMAR NU

Blangkon, Ciri Khas Jamaah KBIH Arafah Jepara

Ahad, 30/08/2015 13:05

[image: Blangkon, Ciri Khas Jamaah KBIH Arafah Jepara]

Jepara, *NU Online*
Pengasuh pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara KH Nuruddin Amin (Gus Nung)
membawa sedikitnya 125 jamaah haji asal Jepara. Salah satu ciri khas dari
Jamaah Haji Nusantara KBIH Arafah Bangsri Jepara untuk jamaah laki-laki
yang berjumlah 58 orang ialah blangkon.

Gus Nung menyatakan bahwa jamaah haji tidak melulu menggunakan kopiah haji.
Menurutnya, jamaah haji tetapi boleh mengenakan blangkon sebagai tutup
kepala.

“Wong kaji ora kudu nganggo kopiah putih tapi ugo oleh nganggo blangkon,”
kata Gus Nung.

Sementara 67 jamaah putri belum mengenakan ciri khusus.

Sejak dipublikasikan di jejaring sosial fesbuk, penanda khusus ini banyak
menuai apresiasi dari pelbagai kalangan netizen.

Dipilihnya blangkon sebagai identitas bukan tanpa alasan. Menurut Gus Nung,
blangkon memiliki ciri yang sangat spesifik dan tiada duanya. Saat
dihubungi via jejaring sosial suami Hj Hindun Anisah ini menjawab bahwa
blangkon dari segi bentuknya sudah mirip dengan sorban hanya saja motifnya
kain batik.

“Blangkon ini ciri khas Keraton Mataram Ngayogyokarto Hadiningrat. Kerajaan
ini merupakan salah satu kerajaan Islam Jawa yang ada di tanah Nusantara,”
tutur Ketua KBIH Arafah.

Sejak digulirkan ide menarik ini, puluhan jamaah memberi respon yang
positif. Tujuannya selain memudahkan untuk mengidentifikasi teman di tanah
haramain juga mereka nyaman memakainya setiap ada aktivitas maupun jamaah
rutin di masjid.

Identitas blangkon masih terinspirasi dari Islam Nusantara yang
dikonseptualisasikan Muktamar Ke-33 NU. Dengan memakai blangkon pihaknya
ingin menunjukkan corak keislaman yang spesifik di salah satu bagian
Indonesia yang diidentifikasi sebagai Islam Nusantara.

“Makanya kami sengaja mempraktikkan pengamalan Islam Nusantara dengan wujud
memakai blangkon,” terangnya, Kamis (27/8) lalu.

Tutup kepala ini dikenakan ketika berangkat ke masjid serta
kegiatan-kegiatan KBIH di tanah suci kecuali saat sedang ihram. Misalnya
saat Arbain, ziarah ke Jabal Uhud, Ziarah ke Masjid Quba, Jannatul Baqi’
Al-Ghorqod, Ziarah Madinah serta aktivitas ibadah yang lain.

Tahun ini KBIH Arafah berangkat dari 24 Agustus hingga 4 Oktober 2015. KBIH
ini menempati Kloter 12 SOC (sebelumnya kloter 13) dari Jepara. Maju satu
kloter akibat akumulasi jamaah yang belum keluar visa hajinya. (*Syaiful
Mustaqim/Alhafiz K*)

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,61899-lang,id-c,internasional-t,Blangkon++Ciri+Khas+Jamaah+KBIH+Arafah+Jepara-.phpx

Medan Terjal Menuju Islam Nusantara

Oleh: Khairi Fuady
Sebagai sebuah corak keberagamaan yang bercita-cita untuk menjadi role model kiblat Islam rahmatan lil’alamin di dunia, Islam Nusantara tentu masih sangat memerlukan kritik. Kritik adalah salah sebuah sarana untuk meneguhkan Islam Nusantara secara konseptual. Karena tanpa kritik, kita tidak akan bisa mendeteksi sejauh mana penerimaan masyarakat terhadap term yang mendadak nge-pop akhir-akhir ini.

Namun tampaknya, semakin Islam Nusantara mengudara, betul bahwa ada adagium yang mengatakan semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpa, rupanya Islam Nusantara pada perjalanannya bukan cuma diterpa oleh berbagai kritikan, tetapi juga berbagai tanggapan sarkastis dan propaganda negatif sebagai sebuah paham yang dituding sesat dan menyesatkan.

Ironisnya, hal ini bukan hanya berasal dari kalangan yang belum paham atau memang awam mengenal istilah ini. Akan tetapi juga datang dari berbagai tokoh populis seperti Mamah Dedeh –mamahnya ibu-ibu pengajian televisi, Habib Rizieq Shihab – Pucuk Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Dokter Hamid Fahmi Zarkasyi –mahaguruyang menjadi referensi baku kawan-kawan kajian INSISTS, sampai selebritas twitter Hadidz Ary yang mencitrakan diri sebagai murobbi-nya gerakan Indonesia Tanpa JIL.

Tanpa tedeng aling-aling, di depan jamaah pengajian subuh dan disaksikan oleh seluruh pemirsa ANTV suatu pagi, Mamah Dedeh mengatakan “Coret Islam Nusantara” yang secara otomatis statemen beliau tersebut langsung dikutip dan disebar-luaskan oleh media-media yang notabene sempat masuk list BNPT sebagai media “radikal”. Lebih ekstrem lagi, Habib Rizieq tampak niat banget untuk menghantam Islam Nusantara ini hingga beliau meluangkan waktu untuk membuat propaganda di media bahwa JIN (Jemaat Islam Nusantara – istilah yang sesungguhnya beliau bikin sendiri) adalah sebuah gerakan yang harus ditumpas eksistensinya di negeri ini lantaran pahamnya sesat dan menyesatkan, lengkap dengan pointer-pointer yang beliau inventarisir sebagai dalil atau dalih bahwa Islam Nusantara ini memang sesat. Ah yang beneer?

Sebagai sebuah tulisan populer, saya ingin mengajak segenap pembaca untuk terlebih dahulu merenggangkan urat saraf masing-masing sebelum lebih jauh menyimak. Saya hanya ingin menggaransi terlebih dahulu bahwa tulisan ini nantinya tidak akan se-galak artis twitter bernama Hafidz Ary yang dengan serampangan mengatakan bahwa corak Islam Nusantara yang dirintis para ulama dan segenap awliyaa di negeri ini adalah produk rintisan kaum Islam Liberalis. Hafidz semacam melakukan jurus mabuk hingga pura-pura lupa bahwa liberalisme Islam di negeri ini adalah gerakan yang nge-pop belakangan bahkan tergolong impor, atau bahasa kerennya biasa disebut transnasional. Sedangkan Islam Nusantara adalah corak keberagamaan yang telah lama menyatu dengan urat nadi bangsa Indonesia.

Saya juga akan berusaha untuk tidak menjadi se-gegabah ustadz beken bernama Felix Siauw yang mengatakan bahwa “Nasionalisme tidak ada dalam Islam”, lalu kemudian kepleset lidah berfatwa menghalalkan VCD bajakan karena “segala sesuatu di dunia ini milik Allah”, lalu mengharamkan akifitas selfie dan ternyata beliau juga suka selfie, dan yang paling menggelikan adalah mengkampanyekan Hijab Syar’ie ala beliau sendiri hingga kemudian diketahui ternyata beliau juga jualan jilbab.

Bismillah. Akhi, don’t be amazed too much, jangan latah!, Islam Nusantara bukan paham kok, bukan pula ajaran, apalagi mazhab baru yang mencoba peruntungan untuk numpang tenar di bumi Indonesia ini. Islam Nusantara adalah model keberagamaan yang sejak lama menjadi model dakwahnya para Kyai di Jawa, para Buya di Sumatera, para Tuan Guru di Kalimantan, dan para Gurutta di Sulawesi. Islam Nusantara adalah Islam yang ketika harus berhadapan dengan The Old Establishing Beliefs– seperti Hinduisme di Indonesia, maka dengan lentur tidak menjadikan sapi sebagai hewan kurban karena sapi adalah hewan yang mulia menurut kepercayaan masyarakat Hindu. Para awliyaa kala itu paham bahwa Islam cukup selow dengan memperbolehkan kerbau dan kambing sebagai substitute animal (baca; pemain cadangan) untuk dikurbankan. Dan ini Islami banget, kok. Toh dulu juga al-Qur`an ketika melarang minum khamr juga metodenya bertahap.

Awalnya dengan menyatakan bahwa di dalam khamr terdapat itsmun kabiir (dosa besar) dan juga manaafi’ linnaas(manfaat untuk manusia), hanya saja dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu kemudian memrintahkan jangan melaksanakan shalat dalam keadaan mabuk, hingga pada akhirnya baru mengharamkan khamr secara tegas. Metode semacam ini dalam istilah Arab disebut dengan tadriijiyyan, atau step by step.

Islam Nusantara adalah Islam yang mengerti lokalitas sehingga masyarakat Islam Banjar sangat akrab dengan tradisi baaruhan, di Jawa ada tradisi slametan, bahkan muslim yang sudah meninggal dunia pun diurus sampai seratus hariannya dan diperingati setiap tahunnya. Islam Nusantara juga mengerti psikologis masyarakat untuk berkesenian hingga dikenal tradisi maulidan, barzanjian, diba’an, dan lain-lain.

Kesemua contoh di atas adalah ke-khasan tersendiri bagi corak keberislaman di Indonesia, yang jika digali lebih dalam adalah identitas kearifan lokal atau local wisdom itu sendiri. Karena sejatinya identitas inilah yang mahal, identitas ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Maka sudi lah kiranya kita belajar dari Kyai Haji Hasyim Asy’ary yang bertahun-tahun mengaji di Mekkah tapi mind set-nya tidak pernah ter-Arab-kan. Sudi pula lah kiranya kita menengok sejarah Wapres legenda kita Mohammad Hatta yang belajar di Belanda tapi tidak ter-barat-kan. Beliau bahkan masyhur dengan gagasan ekonomi koperasinya, hingga gagasan politik luar negeri Mendayung di atas Dua Karang-nya yang sampai hari ini menjadi khas kebijakan luar negeri Indonesia yang nonblock dan nonafiliate. Dan sejarah menjadi saksi bagaimana beliau tetap hidup Islami dengan sifat qana’ah-nya hingga sampai akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu bermerek Bally.

Terakhir, Islam Nusantara tidak pernah anti Arab seperti yang dituduhkan Habib Rizieq. Tapi Islam itu sendiri bukanlah Arabisme karena memang spiritnya universal. Turun sebagai agama langit (samawi), tapi eksistensinya membumi. Bahkan kalau mau jujur, para ulama, Kyai, dan Tuan Guru itu kurang ngerti Arab apa coba? Dari dulu juga buku-buku wajib di Pesantren adalah kitab-kitab berbahasa Arab. Bukan sekadar gombal dan retoris untuk menjadi Arabis sampai urusan ngobrol dan ngopi saja harus menyapa dengan akhi dan ukhti.

Islam Nusantara juga tidak pernah anti-barat, karena prinsip dasarnya adalah memungut hikmah darimana pun sumbernya. Hikmah adalah milik orang Islam yang tercecer. Karenanya, Islam Nusantara sangat menghargai tradisi dan sekaligus juga terbuka dengan modernitas. Kaidah fikih populernya; “al muhaafazhah alal qadiim al shaalih, wal akhdzu bil jadiid al ashlah”. Pijakan historis yang kokoh, dan kemampuan merespon masa depan dengan tangkas. Inilah yang disebut dengan prinsip, identitas, dan jati diri. Tak heran kalau kemudian mantan Presiden kita Baharuddin Jusuf habibi yang diketahui lama tinggal di Barat, toh ternyata juga tidak serta merta sepakat dengan tradisi Barat yang individualistis sampai nenek-nenek harus jauh dari cucunya karena ibunya lebih suka menitipkan anaknya di penitipan bayi. Di negara maju, kata Pak Habibi, tak pernah ada istilah ngemong cucu. Dan sebagai Profesor Jenius di bidang teknologi, ternyata ketika beliau ditanya lebih memilih makanan yang diolah oleh Food Processor atau sambal yang di-ulek, dengan tegas beliau memilih yang kedua, karena sambal yang di-ulek oleh wanita Indonesia sungguh tiada duanya. Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwatith tariieq. []

*) Penulis adalah kader muda Nahdhatul Ulama dari Kalimantan Selatan, mahasiswa tingkat akhir Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Islam Nusantara, Islam yang Merangkul Nusantara

Jumat, 28/08/2015 11:01

[image: Islam Nusantara, Islam yang Merangkul Nusantara]

Solo, *NU Online*
Model Islam yang dibawa para walisongo ke Nusantara, atau kemudian populer
disebut sebagai istilah Islam Nusantara, menjadikan kebudayaan Nusantara
sebagai sarana untuk berdakwah.

Demikian menurut Wakil Ketua Pengurus Cabang Internasional Nahdlatul Ulama
(PCINU) Amerika Serikat, Akhmad Sahal pada kegiatan bedah buku Islam
Nusantara yang diselenggarakan Lakpesdam NU Surakarta, di Kantor NU
setempat, Kamis (27/8) malam.

“Islam Nusantara itu Islam yang merangkul Nusantara. Maksudnya, dalam
pendekatan terhadap kenyataan kebudayaan Nusantara ini tidak memakai cara
tumpas kelor, tetapi dijadikan sarana untuk pengislaman, dan selaras dengan
Islam,”

Ditambahkan Sahal, model Islam Nusantara yang membawa nilai dakwah yang
santun dan damai, merupakan perwujudan dari Islam yang kaffah (menyeluruh)
dan rahmatan lil alamin. “Islam Nusantara ini Islam yang kaffah dan memakai
ilmu, bukan sekedar pokoe (yang penting) memakai istilah kaffah,” jelas
Sahal.

Lebih lanjut diungkapkan Sahal, para ulama Islam Nusantara ini memiliki
sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah saw. “Jadi sanadnya bukan
dari Syekh Google. Tapi mereka mendapatkannya dari para guru yang memiliki
mata rantai keilmuan hingga Rasulullah,” ujar dia.

Sementara itu, menurut narasumber lainnya, KH Abdullah Sa’ad, munculnya
istilah Islam Nusantara masih perlu dikaji lebih lanjut, khususnya yang
perlu dicari pertama kali adalah siapa yang memulai memperkenalkan istilah
ini.

“Kalau dalam bahasa pesantren, perlu diketahui dulu siapa mushanifnya dari
mana asalnya, agar lebih jelas ketika kita akan memberikan hukum terhadap
sesuatu, termasuk Islam Nusantara ini,” ujar Pengasuh Pesantren Al-Inshof
Karanganyar, Jawa Tengah itu. *(Ajie Najmuddin/Fathoni)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,61858-lang,id-c,nasional-t,Islam+Nusantara++Islam+yang+Merangkul+Nusantara-.phpx

NU, Demokrasi, dan Kepemimpinan Karismatis

Oleh: Fajar Kurnianto

 

DEMOKRASI tidak menafikan adanya perdebatan, pertentangan, hingga ketegangan antarpihak yang berkepentingan di dalamnya. Di titik ini, tidak ada persoalan. Yang justru jadi tantangan adalah bagaimana mengelola semua itu sehingga tidak menimbulkan ekses negatif secara individual maupun organisasional.

 

Di sinilah sikap lapang dada dan bijaksana menjadi penentu. Dalam beberapa hal, keberadaan sosok yang punya karisma kepemimpinan ( charismatic leadership) yang menjadi penengah juga ikut menentukan.

 

Richard Hull (1999) mengatakan, kepemimpinan adalah kemampuan memengaruhi pendapat, sikap, dan perilaku orang lain. Ini berarti bahwa setiap orang mampu mengatur dan memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama dan dapat berfungsi sebagai pemimpin.

 

Kepemimpinan ( leadership) merupakan proses yang harus ada danperludiadakandalamkehidupan manusia selaku makhluk sosial. Hidup bermasyarakat memerlukan pemimpin dan kepemimpinan. Kepemimpinan dapat menentukan arah atau tujuan yang dikehendaki dan dengan cara bagaimana arah atau tujuan tersebut dapat dicapai.

 

Kegaduhan yang sempat terjadi di Muktamar Ke-33 Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), Jombang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu bisa dicermati sebagai sebuah kenyataan dan dinamika serta proses demokrasi dalam berorganisasi. Dan, itu berhasil dilewati dengan baik setelah KH Mustofa Bisri kembali terpilih sebagai rais am NU, meski kemudian menolaknya, yang dianggap salah satu sosok karismatis di NU. Gus Mus, demikian dia biasa disapa, mengimbau semua peserta muktamar untuk tenang, tertib, dan menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Imbauan ini berhasil, kondisi pun kembali normal.

 

Demokrasi memang perlu sosok pemimpin karismatis yang bisa membuat situasi menjadi kondusif, tenang, dan berjalan lancar, meski tidak sama sekali melenyapkan segala pertentangan di dalamnya (disensus). Pemimpin karismatis menampilkan ciriciri: memiliki visi yang amat kuat atau kesadaran tujuan yang jelas, mengomunikasikan visi itu secara efektif, mendemonstrasikan konsistensi dan fokus, serta mengetahui kekuatan-kekuatan sendiri dan memanfaatkannya.

 

Karismatis dalam bahasa Yunani berarti ’’karunia diinspirasi Ilahi’’. Orang-orang yang karismatis memiliki daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga membuat mereka secara tidak sadar mengikuti sosok karismatis tersebut. Kepemimpinan karismatis membuat para anggota yang dipimpinnya mengikuti inovasi-inovasi yang diajukan pemimpin ini. Ada dua tipe pemimpin karismatis: karismatis visioner dan karismatis di masa krisis (Ivancevich, 2007).

 

Pemimpin karismatis visioner mengaitkan kebutuhan dan target dari pengikutnya dengan target atau tugas dari organisasi. Pemimpin karismatis visioner juga memiliki kemampuan untuk melihat sebuah gambar besar dan peluang yang ada pada gambar besar tersebut (Barbara Mackoff dan Wenet, 2001).

 

Tipe pemimpin karismatis di masa krisis akan menunjukkan pengaruhnya ketika sistem harus menghadapi situasi di mana pengetahuan, informasi, dan prosedur yang ada tidak mencukupi (Ian I. Mirtoff, 2004). Pemimpin jenis ini mengomunikasikan dengan jelas tindakan apa yang harus dilakukan dan apa konsekuensi yang dihadapi.

 

House (1977) menyatakan, karisma seorang pemimpin mampu memberikan sesuatu yang sangat besar dan efek yang sangat luar biasa bagi bawahannya. Mereka meyakini bahwa keyakinan seorang pemimpin itu adalah benar.

Mereka menerima pendapat pemimpin tanpa pernah mempertanyakan alasannya. Mereka menyayangi pemimpin mereka dan terlibat secara emosi dalam misi organisasi. Mereka menjadi sangat yakin bahwa mereka mampu memberikan kontribusi yang lebih terhadap tujuan organisasi.

 

Kepemimpinan karismatis, menurut Max Weber, adalah salah satu dari tiga bentuk kekuasaan. Pertama, kekuasaan tradisional atas dasar suatu kepercayaan yang telah ada ( established) pada kesucian tradisi kuno.

Kedua, kekuasaan yang rasional atau berdasar hukum (legal) yang didasarkan atas kepercayaan terhadap legalitas peraturan-peraturan dan hak bagi mereka yang memegang kedudukan, yang berkuasa berdasar peraturan-peraturan untuk mengeluarkan perintah. Ketiga, kekuasaan karismatis yang didapatkan atas pengabdian diri atas kesucian, sifat kepahlawanan atau yang patut dicontoh dari ketertiban atas kekuasaannya.

 

Jam’iyah NU kental sekali dengan sosok-sosok pemimpin karismatis. Secara tradisional, mereka adalah para kiai yang memiliki sekaligus memimpin pondok-pondok pesantren, terutama pondok-pondok pesantren tertua. Mereka biasanya disebut dengan ’’kiai khos’’ atau ’’kiai sepuh’’.

 

Mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kerap kali menyebut mereka. Mereka ini disebut-sebut ikut andil dalam menentukan kebijakan Gus Dur, baik saat menjadi presiden, ketua Dewan Syura PKB, maupun ketua PB NU. Sebagai salah satu tradisi santri, Gus Dur sangat menghormati dan memuliakan mereka.

 

Secara organisasional NU, para kiai karismatis itu ada dalam struktur kepengurusan syuriah, ada juga yang tidak. Peran mereka begitu penting, sehingga sejauh ini NU secara organisasi dapat berjalan di atas visi para pendirinya. []

 

JAWA POS, 07 Agustus 2015

Fajar Kurnianto  ;   Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta

HAUL

Ulama Wafat Sejatinya Hidup melalui Ilmu-ilmunya

Sabtu, 29/08/2015 13:02

[image: Ulama Wafat Sejatinya Hidup melalui Ilmu-ilmunya]

Jepara, *NU Online*
Ulama yang telah meninggal secara lahir sudah “wafat”, namun sejatinya
masih “hidup”. Hal ini lantaran ilmu yang diajarkan ulama masih ditularkan
hingga sekarang. Demikian diuraikan KH Dzikron Abdullah, pengasuh pesantren
Addainuriyah Semarang saat menyampaikan mauidloh dalam Haul I KH Ahmad
Cholil di Desa Bakalan Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara, Jum’at
(28/8) sore.

KH Ahmad Cholil almarhum menurut Ketua Idaroh Wustho Jatman Provinsi Jawa
Tengah ini merupakan sosok ulama yang tawadlu’, mukhlis (ikhlas) dan aliman
(alim) serta khusnin niyat (baik niatnya).

“Sehingga pantas panjenengan hadir di maqbarah ini,” tuturnya kepada ribuan
jamaah yang hadir.

Hal lain ditambahkan Bupati Jepara, H Ahmad Marzuqi. Haul menurutnya
merupakan tradisi Aswaja yang harus diuri-uri (dilesatarikan). Mewakili
shohibul bait, Marzuqi mengutip sebuah sabda yang artinya barang siapa yang
dibingungkan dengan beragam urusan, solusinya agar memohon kepada Allah
lewat wasilah kepada ahli kubur.

Senada dengan Kiai Dzikron, tujuan dari hormat Haul yakni sebagai bukti
berbakti kepada guru dan kiai. Harapannya yang ditinggalkan bisa meneruskan
perjuangan dan mengambil manfaat serta nasihat yang telah diberikan oleh
ulama. *(Syaiful Mustaqim/Fathoni)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,61881-lang,id-c,daerah-t,Ulama+Wafat+Sejatinya+Hidup+melalui+Ilmu+ilmunya-.phpx

Pesantren Membentuk Generasi Bertakwa

Oleh: KH. MA. Sahal Mahfudh
Setiap institusi agama ataupun yang lain, memberikan kedudukan sangat penting bagi ilmu pengetahuan. Dalam Islam, ilmu pengetahuan menduduki posisi utama, karena ia adalah sarana yang paling tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Dalam kaitan ini, Rasulullah bersabda: “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia, maka ia harus berilmu, begitu juga apabila ia menghendaki kehidupan akhirat. Apalagi jika ia menghendaki keduanya (dunia dan akhirat)”.

Yang dimaksud science di sini adalah ilmu pengetahuan dalam pengertian yang luas, bukan dalam batasan satu nilai atau disiplin tertentu. Secara kontinyu ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat dan sangat dipengaruhi oleh aspek kehidupan yang luas, mulai dari ekonomi, sosial, budaya dan juga apresiasi intelektual masyarakat. Akan tetapi di balik itu, proses perkembangan tersebut sangat bergantung pada lembaga pendidikan.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan dengan totalitas kepribadiannya yang khas, selalu memberikan kebebasan untuk menentukan pola dinamis kebijaksanaan pendidikannya. Sehingga setiap tawaran pengembangan, baik benupa transfer dari luar (non-pesantren) mau pun atas prakarsa sendiri, tentunya akan melalui sektor pertimbangan dari dalam pesantren sendiri yaitu pertimbangan tata nilai yang telah ada dan berlaku di pesantren selama ini.

Istilah “pesantren” mulai dikenal sejak pertama kali lembaga itu didirikan. Untuk mengetahui sejarah pesantren, ada beberapa pendapat yang umum berlaku. Di antaranya disebutkan, pertama kali pesantren didirikan oleh Sunan Malik Ibrahim di Gresik pada awal abad ke-17 (tahun 1619 M).

Dalam perjalanannya, pesantren begitu mengakar di tengah-tengah masyarakat dengan prestasi yang sangat kentara, yaitu munculnya para alumni pesantren yang mendapat legitimasi dari masyarakat sebagai ulama atau kiai yang tangguh dan mampu mengembangkan dirinya di bidang keilmuan agama Islam, dibarengi dengan kepekaan yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial dan lingkungan. Hal ini berangkat dari titik tekan pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin yang senantiasa dipertahankan dan kemauan membuka diri dari segala perubahan dan perkembangan zaman.

Akan tetapi, satu dan lain hal yang perlu dimengerti adalah keteguhan sikap para pendiri pesantren yang tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda pada waktu dulu, sehingga segala bentuk kegiatan pendidikan pesantren tidak diproyeksikan untuk memproduksi tenaga kerja. Maka, ijasah-ijasah formal pun pada awalnya sama sekali tidak dikenal oleh kalangan pesantren. Pesantren hanya terfokus pada pandangan dasar thalab al-‘ilmi li wajhi Allah. Prinsip demikian ini masih dapat ditemui di beberapa pesantren sampai sekarang.

Sistem pendidikan pesantren yang ditempuh selama ini memang menunjukkan sifat dan bentuk yang lain dari pola pendidikan nasional. Akan tetapi hal ini tidaklah bisa diartikan sebagai sikap isolatif, apalagi eksklusif pesantren terhadap komunitas yang lebih luas. Pesantren pada dasarnya memiliki sikap integratif yang partisipatif terhadap pendidikan nasional.

Pendidikan nasional yang tertuang dalam GBHN bertujuan meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kecerdasan, keterampilan, budi pekerti luhur dan akhlak yang mulia. Dari sinilah, meskipun pola penyelenggaraan pendidikan pesantren berbeda dengan pendidikan nasional, akan tetapi ia tetap merupakan suatu lembaga pendidikan yang mendukung dan menyokong tercapainya tujuan pendidikan nasional. Secara institusional dan melalui pranata yang khas, pesantren merangkum upaya pengembangan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan dasar pendidikannya.

Pola dasar pendidikan pesantren terletak pada relevansinya dengan segala aspek kehidupan. Dalam hal ini, pola dasar tersebut merupakan cerminan untuk mencetak santrinya menjadi insan yang shalih dan akram. Shalih, berarti manusia yang secara potensial mampu berperan aktif, berguna dan terampil dalam kaitannya dengan kehidupan sesama makhluk. Filosofi “shalih” diambil dari surat Al-Anbiya’ 105:

“Sesungguhnya bumi ini diwariskan kepada orang-orang yang shalih”.

Sehingga untuk melestarikan bumi seisinya beserta seluruh tatanan kehidupannya, pesantren coba membekali santrinya dengan ilmu pengetahuan yang punya implikasi sosial menyeluruh dan mendasar. Seperti: ilmu pertanian, ilmu politik, teknologi, perindustrian, ilmu kebudayaan dan lain sebagainya. Menurut kalangan pesantren, pengkajian ilmu-ilmu semacam itu bersifat kolegial (fardlu kifayah).

Sementara “akram” merupakan pencapaian kelebihan dalam kaitan manusia sebagai makhluk terhadap khaliqnya, untuk mencapai kebahagian di akhirat, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu seklian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

Dalam kaitan ini, pesantren secara institusional telah menekankan pendalaman terhadap ilmu pengetahuan keagamaan (tafaqquh fiddin).

Berangkat dari sikap pendirinya pada sebelum masa kemerdekaan yang sama sekali tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda, maka pesantren praktis menolak campur tangan pemerintah. Akibatnya kesan tertutup dan eksklusif begitu lekat di tubuh pesantren. Akan tetapi setelah masa kemerdekaan, pesantren mulai membuka diri seluas-luasnya kepada ‘dunia luar’ dengan digalangnya banyak kerjasama antara pesantren dan pemerintah atau dengan lembaga-lembaga lain, seperti LSM-LSM di negeri ini.

Macam dan bentuk pesantren yang amat banyak, sebanyak kiai yang mempunyai otoritas tertinggi atas pesantren, adalah hal yang selama ini menjadi sorotan para ahli dan pengamat masalah pesantren. Namun justru dari keberagaman bentuk pesantren inilah, akan dapat dicapai insan kamil. Adalah mustahil, bila kesempurnaan tersebut dicapai dengan bentuk pendidikan yang hanya satu macam.

Pesantren dengan tujuan utamanya mencetak insan yang shalih dan akram, merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai implikasi dunia dan akhirat. Tidak hanya shalih saja, akan tetapi juga akram. Keduanya haruslah tidak terpisahkan, sehingga di samping mendalami ilmu-ilmu keagamaan, pesantren juga harus mulai mendalami ilmu pengetahuan umum. Apalagi pesantren telah melebarkan sayap dengan membentuk lembaga madrasah sebagai lembaga pendidikan klasikal dan perguruan tinggi yang kian hari semakin ditingkatkan mutu manajerialnya dan proses belajar mengajarnya.

Pesantren yang lahir dan berbasis di pedesaan, di dalamnya terbentuk suatu miniatur kehidupan masyarakat luas. Ia adalah sebuah lembaga yang memiliki kemnungkinan dan kesempatan besar membentuk kader berwawasan sosial dan peka terhadap lingkungannya, di samping memupuk ketakwaan terhadap Allah SWT.

Prospek pengembangan ilmu pengetahuan merupakan tanggung jawab semua kalangan lembaga pendidikan, tanpa memandang pada dasar pendidikan yang dianut. Hanya saja, skala prioritas penekanan terhadap ilmu pengetahuan yang dikembangkan, berlainan antara satu lembaga pendidikan dengan yang lain. Sementara pesantren lebih menekankan pada pengetahuan yang sesuai dengan dasar pendidikannya, sesuai dengan nafas dan tuntutan Islam.

Untuk lebih mendukung adanya pengembangan ilmu pengetahuan secara pesat, pesantren masih saja memperhatikan sistem pendidikannya sendiri. Dalam hal ini, transfer ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus dilaksanakan, sejauh tetap menyelamatkan nilai-niilai dan identitas pesantren, sehingga tidak hanyut oleh perubahan-penubahan. Dalam kaitan ini, pesantren memiliki prinsip:

“Memelihara sistematika dan metodologi lama yang masih relevan dan mengambil serta mengembangkan cara baru yang lebih baik”.

Dengan demikian pesantren tidak akan pernah terkesan sebagai lembaga pendidikan konvensional yang menutup diri dan mengisolasi dari perkembangan kehidupan. []

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah disampaikan dalam Dinamika Islam RRI Stasion Regional I Semarang, Sahur ke-18 Ramadlan 1412 H. Judul asli Pesantren Membentuk Generasi Iptek dan Bertakwa.


0 Responses to “Kebudayaan : Blangkon, Ciri Khas Islam Nusantara Jepara”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,062,175 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: