29
Aug
15

Kebudayaan : Keadilan Qur’ani

Jakarta45

Keadilan

Oleh: M. Quraish Shihab

Apakah kata yang dapat menggambarkan ajaran Islam secara utuh? Ada yang berkata tauhid, ada lagi yang memilih kata salam/damai. Ada juga yang memilih kata kasih, namun yang paling banyak pendukungnya adalah adil.

Pada masa lalu di Yunani pernah berkumpul sekian banyak filsuf membahas makna Keadilan. Ada yang berkata: “Keadilan tecermin dalam kebenaran ucapan dan kesetiaan membayar utang.” Ada juga yang menggambarkannya dengan: “Bantuan untuk teman-teman dan mudharat terhadap musuh.” Filsuf Thrasymachus menegaskan bahwa Keadilan tidak lain “kecuali keberpihakan kepada yang kuat“.

Sang filsuf menunjuk kenyataan yang dialami oleh masyarakat apa pun dengan sistem pemerintahan apa pun yang mereka anut. Dalam masyarakat itu—menurutnya—terlihat betapa faktor kekuatan mengarahkan makna keadilan. Pemerintah atau penguasa dalam segala kondisi membuat peraturan perundangan yang mengantar kepada terciptanya jaminan untuk kelanggengan kekuasaan mereka. Di sana tidak diperlukan kompetensi sehingga tidak wajar bertanya: “Mengapa saya lebih mampu dari dia, tapi mengapa dia di kedudukan itu?” Karena di sana yang berlaku adalah kekuatan; kekuatan materi, kelompok, atau kekuatan tipu daya.

Dalam pandangan agamawan hal tersebut tidak dapat dibenarkan, karena Tuhan semesta alam Yang Maha-adil itu adalah Tuhannya yang kuat dan yang lemah sehingga seperti ucap Sayyidina Abubakar ra. ketika menerima jabatan kekhalifahan: Yang kuat di antara kamu, lemah hingga hak orang lain yang direbutnya kukembalikan kepada pemiliknya, dan yang lemah, kuat sampai kukembalikan haknya yang direbut orang lain.

Keadilan dalam pandangan agama dan moralis adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya yang semestinya. Keadilan adalah memberi hak kepada pemiliknya dengan cara yang terbaik dan dengan secepat mungkin. “Penundaan pembayaran utang bagi yang mampu adalah kezaliman,” begitu sabda Nabi saw. Itu karena penundaan tersebut tidak pada tempatnya. Demikianlah, segala sesuatu ada tempatnya.

Ada “tempat” bagi Tuhan, antara lain Dia harus diesakan dan diagungkan sesuai kebesaran-Nya. Manusia pun ada tempatnya. Tidak adil/ kezaliman/ keliru kalau anak dihormati sebagaimana penghormatan kepada ayah. Tidak adil juga bila peci Anda tempatkan di kaki atau mandi di ruang tidur dan makan di WC. Keadilan dalam masyarakat terlaksana dengan baik bila setiap anggotanya berada pada tempat yang sesuai dengan kemampuan dan kodratnya. Ini mencakup pemimpin mereka yang tertinggi hingga rakyat jelata yang lemah. Karena itu, KKN adalah kezaliman.

Dari sini perlu ada ukuran/kriteria bagi segala sesuatu agar ia ditempatkan di tempat yang semestinya. Sebelum meletakkan sesuatu, ketahuilah apa sesuatu itu dan apa tempat yang tersedia untuknya. Atau bila Anda telah memiliki tempat tertentu, maka letakkanlah di sana apa yang sesuai, karena keliru jika Anda meletakkan air di wadah yang bocor. Tidak adil juga jika Anda meletakkan seorang yang bodoh atau tidak tepercaya menjadi pemimpin karena itu berakibat fatal. “Apabila satu tugas diserahkan kepada yang tidak memiliki kriteria yang diperlukan untuknya, maka nantikanlah kehancurannya,” begitu sabda Nabi saw. Di tempat lain beliau mengingatkan, “Siapa yang memilih seseorang sedang dia mengetahui ada yang lebih mampu daripada yang dipilihnya, maka dia telah mengkhianati Allah, Rasul, dan amanat kaum muslimin.”

Keadilan adalah dasar utama dalam segala persoalan. Ia harus ditegakkan terhadap yang dibenci sekalipun (QS. al-Mâ’idah [5]: 8). Itu sebabnya banyak ulama menegaskan bahwa, “Negara/ Pemerintahan non-muslim yang menegakkan keadilan akan didukung Allah ketimbang Negara/ Pemerintah yang mengaku Muslim tapi tidak menegakkan keadilan.” Wa Allâh A’lam. []

Logo Mapindo

Deklarasi Islam Tentang Perubahan Iklim

Oleh: Azyumardi Azra
Bumi makin panas, sehingga makin banyak jumlah orang yang tewas karena kepanasan. Sebaliknya di belahan bumi lain, cuaca kadang-kadang sangat dingin sehingga juga menewaskan banyak manusia.

Musim kemarau dan musim hujan di kawasan seperti Indonesia juga terasa  semakin tidak menentu. Begitu juga musim panas dan musim dingin di bumi belahan utara dan belahan selatan yang iklimnya terus berubah.Perubahan iklim bukan lagi wacana akademik ilmiah teoritis, tetapi juga sudah secara kasat mata melanda umat manusia di hampir seluruh penjuru dunia.
Karena itu, sangat tepat waktu belaka para pemimpin Muslim dari sekitar 20 negara—termasuk Ketua MUI Din Syamsuddin dan Direktur Pusat Kajian Islam Universitas Nasional, Fachruddin Mangunjaya—mengeluarkan ‘Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim’. Bersama sejumlah pemimpin agama lain yang berkumpul di Istanbul, Turki, pekan lalu (17-18/8/2015)  mereka sepakat tentang perlunya perhatian dan kepedulian bersama menghadapi masalah perubahan iklim.
Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim memaparkan ringkas berbagai gejala perubahan iklim secara cepat, seperti pemanasan global (global warming) dalam beberapa dasawarsa terakhir yang mengancam kelangsungan hidup manusia, dan lingkungan hidup secara keseluruhan. Deklarasi Islam  mengutip banyak ayat al-Qur’an dan Hadits yang mengajarkan kepada kaum Muslimin [dan umat manusia secara keseluruhan] untuk menjaga lingkungan hidup; tidak melakukan ‘kerusakan baik di langit maupun di muka bumi’, misalnya. Deklarasi juga mengemukakan bermacam Sunnah  Nabi Muhammad SAW  tentang pentingnya pemeliharaan lingkungan hidup.
Sumber kerusakan lingkungan yang menimbulkan perubahan iklim juga dikemukakan—hal yang sudah diketahui banyak kalangan masyarakat. Kerusakan alam bersumber terutama bersumber dari tingkat konsumsi tidak terkendali di negara-negara maju dan kaya  (termasuk negara-negara Muslim penghasil BBM fosil). Gaya hidup tidak peduli ini misalnya meningkatkan emisi gas, salah satu penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim.
Deklarasi Istanbul menyatakan, 1,6 miliar kaum Muslim turut memikul tanggungjawab menghadapi perubahan iklim. Karena itu, selain menghimbau negara-negara lain, Deklarasi juga menyeru negara-negara Muslim kaya penghasil BBM fosil agar berusaha serius menghasilkan enerji terbarukan menjelang pertengahan abad 21.
Selain itu, Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim menyerukan agar negara-negara kaya meningkatkan bantuan keuangan pada masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim. “Negara-negara kaya memiliki kewajiban moral mengurangi konsumsi, sehingga kaum miskin dapat mengambil manfaat dari apa yang masih tersisa dari sumber alam yang tidak bisa terbarukan”.
Dalam konteks itu, Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim benar belaka. Terdapat dampak akumulatif perubahan iklim berlipat ganda di banyak negara Muslim. Berbagai dampak akumulatif itu misalnya terlihat dengan kian seringnya terjadi banjir, longsor, kegagalan pertanian- peternakan, dan kian memburuknya kualitas lingkungan hidup.
Dampak akumulatif itu terkait dengan masih banyaknya kaum Muslim miskin di berbagai negara di Asia dan Afrika. Konflik politik berkepanjangan yang terjadi di negara-negara tersebut membuat pembangunan dan perbaikan ekonomi tidak bisa terlaksana untuk memperbaiki keadaan.
Hasilnya, kaum miskin tidak berpendidikan dan ketrampilan memadai berbondong pergi ke wilayah urban—melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Menduduki lahan di mana saja, di bantaran sungai, di bawah kolong jembatan dan tempat lain yang tidak layak dan kumuh; mereka melakukan pekerjaan apa saja untuk mendapatkan sesuap nasi.
Keadaan ini menimbulkan banyak dampak negatif lebih lanjut. Selain berlanjutnya kemiskinan, yang terjadi juga adalah perusakan lingkungan hidup. Lingkungan hidup di banyak negara Muslim termasuk paling kotor di dunia, sejak dari lingkungan pemukiman sampai sungai. Meski Eropa dan Amerika Utara juga mengalami dampak perubahan iklim, tetapi lingkungan hidup, seperti pemukiman, taman, dan hutan tetap terpelihara baik; masyarakatnya rata-rata cukup disiplin, misalnya dengan tidak membuang sampah seenaknya.
Gejala ini juga terlihat jelas di Indonesia. Lingkungan hidup di negara ini termasuk salah satu yang paling rusak di antara negara-negara lain. Bahkan, Indonesia adalah salah satu di antara  negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia, terutama karena penebangan hutan—apakah resmi atau liar.
Jauh sebelum Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim dikeluarkan, MUI telah mengeluarkan sejumlah fatwa terkait penyelamatan lingkungan hidup. Misalnya ada Fatwa MUI No 22/2011 tentang Pertambangan Ramah Lingkungan; Fatwa MUI No 47/2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Pencegahan Kerusakan Lingkungan; Fatwa  No 4/2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem. MUI Pusat bahkan sejak 2010 memiliki Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam.
Kenapa fatwa-fatwa itu nampaknya tidak efektif? Hal ini mengisyaratkan rendahnya kesadaran kaum Muslimin Indonesia tentang perlunya  penyelamatan lingkungan ekosistem guna mengurangi akumulasi dampak perubahan iklim. Inilah salah satu ‘pekerjaan rumah’ bagi setiap Muslim yang peduli. []

REPUBLIKA, 27 Agustus 2015

Azyumardi Azra | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bidang sejarah dan anggota Council on Faith, World Economic Forum Davos

Logo Kerabat 45

Islam Nusantara dan Penguatan Demokrasi

Oleh: Arfianto Purbolaksono

Sebagai salah satu organisasi yang telah banyak memberikan sumbangan terhadap bangsa ini, Nahdlatul Ulama (NU) lahir dengan tradisi pemahaman ahlussunah waljamaah yang memiliki pandangan adanya sintesis antara rasional dan tekstualitas. Juga, senantiasa menjunjung tinggi petunjuk Alquran dan as-sunah sebagai rujukan utama umat Islam.
Karena itu, dapat dikatakan bahwa dasar tradisi NU merupakan keterbukaan pemahamannya. Sedangkan, demokrasi merupakan sebuah sistem yang tidak berhenti dalam satu titik idealitas bentuknya. Maka, demokrasi akan selalu berkaitan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, salah satunya adalah nilai-nilai Islam.
Sebagai negara yang mayoritas beragama Islam, agama menjadi salah satu modal sosial bagi perkembangan dalam masyarakatnya. Emile Durkheim dalam bukunya, The Elementary Form of Religious Life, mengatakan, agama secara langsung telah berevolusi dari agama kesukuan menjadi agama civil.
Dalam hal ini, Durkheim berpendapat bahwa semua masyarakat memerlukan suatu gabungan yang terdiri dari sistem ajaran dan simbol, norma-norma, dan nilai-nilai sebagai identitas nasional yang berperan sebagai agama civil baru bagi masyarakat modern.
Agama tidak lagi dipandang sebagai sesuatu hal yang irasional, intoleran, dan kaku. Agama sebagai fakta sosial yang tumbuh di masyarakat dapat memengaruhi perkembangannya. Agama yang bersifat formalistik bertransformasi menjadi civil religion yang lebih menghargai pluralitas, egalitarian, dan liberal sebagaimana paradigma civil society yang menopang proses demokratisasi dalam sistem politik.
Dalam kajian hubungan budaya politik dan demokrasi, diakui bahwa agama memiliki peran yang positif terhadap keduanya. Alexis Tocqueville mengungkapkan, agama (sebagai nilai dan asosiasi) secara positif memengaruhi demokrasi di Amerika Serikat. Agama berperan menciptakan kegairahan dan motivasi yang abadi karena ia merupakan sebuah sistem nilai. Interaksi agama dan politik ini yang akhirnya memunculkan kegairahan, motivasi, dan kepentingan manusia.
Melihat adanya hubungan yang saling bersinergi antara nilai agama dan proses demokratisasi, NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki peluang untuk menjadi penggerak utama dalam proses tersebut, religious groups often support democracy (Kalyvas, 1998, 2000; Linz, 1978). NU memiliki karakter khasnya sendiri.
Dengan pola yang bersifat kultural membuat karakter yang lebih plural dan toleran. Hal ini menjadi modal dasar untuk membangun civil religion yang mendukung penguatan demokrasi Indonesia. Penguatan demokrasi dilakukan dengan pendidikan politik bagi masyarakat. Pendidikan demokrasi bagi masyarakat inilah yang akan menentukan keberlanjutan demokrasi di Indonesia.
Namun, proses demokratisasi di Indonesia bukan tanpa halangan pada masa depan. Salah satunya adalah masih adanya pemahaman sebagian kelompok Islam yang memandang Islam dan demokrasi tidak sejalan. Kemudian, demokrasi saat ini di Indonesia hanya ditinjau dari aspek prosedural. Hal ini memiliki peluang pembusukan demokrasi dari kelompok yang memiliki pragmatisme politik untuk kepentingan kekuasaan semata dan menanggalkan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan politik masyarakat dalam proses demokratisasi pun mengalami hambatan.
Peran strategis dalam demokratisasi adalah dengan memanfaatkan pesantren sebagai institusi pendidikan. Pendidikan demokrasi dapat berawal dari membangun kesadaran berdemokrasi itu sendiri. Pemahaman yang terbuka dan tetap menjaga tradisi kuat, pesantren menjadi institusi yang efektif secara kultural. Dengan memberikan kesadaran demokrasi yang berlandasakan etika moral agama, diharapkan institusi pesantren melahirkan santri-santri yang dapat mendorong perubahan di masyarakat.
Menurut Wolin, “To become a democrat is to change one’s self, to learn how to act collectively, as a demos. It requires that the individual go ‘public’ and thereby help to constitute a ‘public’ and a ‘open’ politics, in principle accessible for all to take part in it, and visible so that all might see or learn about the deliberation and decision making occuring in public agencies and institusion.” (Sheldon S Wolin, 2008: 289).
Santri akan menjadi agen demokrasi dalam model deliberatif dengan membawa kepentingan umat atau publik di tingkat lokal harus berdasarkan fakta, bukan berdasakan subjektivitas ideologi, berorientasi jauh ke depan bukan demi kepentingan jangka pendek yang memunculkan kompromistis atau dagang sapi, dan melibatkan pendapat semua pihak secara inklusif. Hal ini akan membawa perubahan terhadap penyelenggaraan demokrasi.
Semoga dengan Muktamar NU yang ke-33 ini, NU dapat kembali menjadi garda terdepan bagi penguatan demokrasi Indonesia ke depan. Selamat bermuktamar dan umat menunggu peranannya. []

REPUBLIKA, 07 Agustus 2015

Arfianto Purbolaksono | Peneliti Bidang Politik di The Indonesian Institute (TII)


0 Responses to “Kebudayaan : Keadilan Qur’ani”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: