26
Aug
15

Ekonomi Keuangan : China Kembali Bikin Geger AS dan Dunia

http://finance.detik.com/read/2015/08/25/071738/3000254/6/china-kembali-bikin-geger-as-dan-dunia?f991104topnews

China Kembali Bikin Geger AS dan Dunia
Wahyu Daniel – detikfinance
Selasa, 25/08/2015 07:17 WIB
China Kembali Bikin Geger AS dan Dunia Foto: Bursa Saham China (Reuters)

New York -Setelah beberapa waktu lalu membuat geger dunia karena dengan sengaja mendevaluasi mata uang yuan, China kembali membuat geger dunia karena kejatuhan bursa sahamnya hingga 9% pada Senin kemarin.

Kondisi ini membuat bursa saham di dunia berjatuhan, termasuk juga harga komoditas. Bahkan, bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) ikut anjlok setelahnya.

Indeks Dow Jones di Wall Street sempat terjun 1.000 poin atau hampir 7%, beberapa saat setelah pembukaan perdagangan. Pada penutupan, Dow Jones naik dan tercatat turun 3,6%.

“Bila belum ada perbaikan di China, pemburukan masih akan terjadi besok (di Wall Street),” kata Analis, Randy Frederick, dilansir dari Reuters, Selasa (25/8/2015).

Tak hanya bursa AS, indeks saham Hang Seng di Hong Kong juga turun 2% kemarin. Indeks Nikkei di Jepang turun 6%. Lalu, bursa saham di Eropa turun 5,4% kemarin.

Selain bursa saham, harga minyak juga turun. Minyak produksi AS turun 5,5% kemarin menjadi US$ 38,24 per barel. Sementara harga minyak jenis Brent turun 6% menjadi US$ 42,69 per barel.

Menurut Reuters, kejatuhan bursa China merupakan yang terparah sejak krisis keuangan 2007 lalu. Banyak pelaku pasar berharap, pemerintah China melakukan kebijakan untuk menahan pelemahan bursa sahamnya, seperti pemangkasan suku bunga acuan.

(dnl/dnl)

http://finance.detik.com/read/2015/08/25/205752/3001177/6/saktinya-china-kebijakannya-bikin-pasar-saham-dunia-dan-harga-minyak-naik

Saktinya China, Kebijakannya Bikin Pasar Saham Dunia dan Harga Minyak Naik
Wahyu Daniel – detikfinance
Selasa, 25/08/2015 20:57 WIB
Saktinya China, Kebijakannya Bikin Pasar Saham Dunia dan Harga Minyak NaikFoto: Reuters

London -Pasar saham, harga minyak, dan harga-harga obligasi di dunia naik hari ini, setelah bank sentral China, yaitu People’s Bank of China (POBC) memangkas bunga acuan dan jumlah cadangan bank, untuk mendorong perekonomian.

China makin berpengaruh terhadap sektor keuangan dunia. Setelah sebelumnya, penurunan nilai mata uang yuan (devaluasi) yang dilakukan, membuat geger pasar keuangan dunia, sehingga berjatuhan.

Bank sentral China memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 4,6%. Ini merupakan kelima kalinya China memangkas suku bunga sejak November tahun lalu.

Sebelumnya suku bunga China 4,85%, kebijakan China ini memangkas suku bunganya ini memang ditunggu-tunggu investor dunia, tujuannya untuk mendorong perekonomian. Serta memulihkan bursa sahamnya, yang jatuh hingga 8% pada perdagangan Senin awal pekan ini.

“Investor menunggu mereka (China) bertindak, dan mereka melakukannya. Apakah ini cukup? Mungkin tidak, namun ini cukup untuk menahan penurunan lebih lanjut,” ujar Analis, Kallum Pickering, dilansir dari Reuters, Selasa (25/8/2015).

Reuters mencatat, bursa saham Eropa naik. Demikian juga dengan harga-harga komoditas, karena China merupakan konsumen komoditas terbesar di dunia.

Harga minyak produksi AS naik 3,1% menjadi US$ 39,4 per barel. Sementara minyak jenis Brent harganya naik 2,9% menjadi US$ 43,91 per barel.

Hari ini, bursa saham Wall Street di AS dibuka naik tinggi, setelah sebelumnya jatuh hingga nyaris 4%.

Indeks Dow Jones naik 272,12 poin (1,71%) ke 16.143,47. Indeks S&P500 naik 31,1 poin (1,64%) ke 1.924,31. Sementara indeks Nasdaq naik 150,18 poin (3,32%) menjadi 4.676,43.(dnl/hen)

http://news.detik.com/berita/3000315/china-berlakukan-aturan-setiap-keluarga-miliki-satu-anak

Selasa 25 Aug 2015, 08:37 WIB

Laporan Dari Beijing

China Berlakukan Aturan Setiap Keluarga Miliki Satu Anak
Andri Haryanto – detikNews

China Berlakukan Aturan Setiap Keluarga Miliki Satu AnakIlustrasi (Foto: Andri Haryanto/detikcom)

Beijing – Bukan hanya sukses menekan jumlah kendaraan di jalanan, pemerintah China juga terbilang berhasil membendung laju pertumbuhan penduduknya.

Jurus yang digunakan adalah membatasi jumlah anak. Setiap pasangan diwajibkan memiliki satu anak. Namun ini tidak berlaku mutlak. Ada beberapa pasangan yang diperbolehkan memiliki dua anak.

“Misalkan ada salah satu pasangan yang sudah tidak punya siapa-siapa, dia diperbolehkan untuk punya dua anak,” kata Tiery, warga Beijing, China, yang mahir berbahasa Indonesia ini, Selasa (25/8/2015).

Namun demikian, kebijakan tersebut berdampak kepada China sendiri. Mereka kekurangan warga-warga berusia produktif.

“Orangtua lebih banyak dari kaum muda,” ujar Tiery.

Dampak lainnya yaitu kepada ekonomi di China. Karena kurangnya usia-usia produktif akibat dari penerapan aturan, banyak investor dan juga pengusaha pindah ke berbagai negara, seperti Vietnam, Thailand, dan juga Indonesia.

“Harga barang-barang buatan China jadi lebih mahal karena kurangnya tenaga-tenaga produktif,” beber Tiery.
(ahy/fdn)

On 08/25/2015 09:00 PM, Awind wrote:

http://www.antaranews.com/berita/514366/menkeu-gejolak-berlanjut-hingga-fed-keluarkan-keputusan?utm_source=topnews&utm_medium=home&utm_campaign=news

 

MenKeu : Gejolak Berlanjut Hingga FED Keluarkan Keputusan
Rabu, 26 Agustus 2015 00:24 WIB |
Pewarta: Satyagraha

Menkeu: gejolak berlanjut hingga Fed keluarkan keputusan

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan gejolak ekonomi yang sedang terjadi di dunia saat ini diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mengeluarkan keputusan terkait penyesuaian suku bunga acuan.

“Kita lihat sampai September ini, sampai pertemuan FOMC (Federal Open Market Comittee) masih ada gejolak. Makanya tugas kita menjaga, semoga dalam gejolak ini, kita bisa menjaga stabilitas ekonomi,” ujarnya di Jakarta, Selasa.

Menkeu kembali menegaskan saat ini kondisi stabilitas ekonomi masih terkendali, dan seluruh indikator makro menunjukkan belum ada tanda-tanda terjadinya krisis, berbeda ketika terjadi krisis finansial pada 1998.

“Pertumbuhan kita masih positif di semester satu, masih 4,7 persen, trade balance juga surplus, current account turun defisitnya. Jadi kondisi makro masih bagus, belum lagi perbankan, NPL dan CAR dalam kondisi sehat. Kondisinya sama sekali berbeda dengan 1998,” ujarnya.

Terkait keputusan Bank Sentral Tiongkok (The Peoples Bank of China/PBoC) yang terbaru memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, Menkeu mengatakan hal tersebut tidak berpengaruh secara langsung kepada perekonomian Indonesia.

Menurut dia, aksi terbaru PBoC tersebut lebih berdampak pada situasi internal Tiongkok yang ingin mendorong sektor konsumsi masyarakat untuk meningkatkan kinerja perekonomian yang sempat mengalami kelesuan.

“Kalau cut rate menurut saya lebih ke internal dan mendorong pertumbuhan. Tapi yang berpengaruh keluar kalau dia melakukan devaluasi, dan dia (kemungkinan) masih terus melakukan devaluasi, karena Yuan masih overvalued,” ujarnya.

Meskipun dalam beberapa hari terakhir, kurs rupiah dan bursa saham mengalami tekanan akibat pengaruh global, namun pada Selasa sore, sempat mengalami penguatan atau mendapatkan respon positif dari para pelaku pasar.

Hal tersebut terlihat dari nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta yang bergerak menguat sebesar 25 poin menjadi Rp14.024 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp14.049 per dolar AS.

Langkah Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah salah satunya dengan melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder cukup membantu mata uang rupiah untuk bergerak positif terhadap dolar AS.

“Kebijakan BI itu menjaga volatilitas mata uang rupiah sehingga pergerakannya menjadi terbatas, cenderung positif,” kata Analis dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong.

Menurut dia, meski kebijakan Bank Indonesia itu bersifat jangka pendek, namun dapat membantu mengurangi kekhawatiran pasar dan pelaku usaha di dalam negeri di tengah sifat penguatan dolar AS yang sudah mengglobal.

Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup menguat sebesar 64,77 poin atau 1,56 persen menjadi 4.228,50 menyusul pelaku pasar yang kembali melakukan aksi beli.

Analis HD Capital Yuganur Wijanarko menjelaskan bahwa pelaku pasar yang kembali melakukan aksi beli terhadap beberapa saham BUMN dan saham emiten lainnya telah menopang IHSG BEI agar tidak terus terpuruk.

“Kondisi jenuh jual (oversold) akhirnya mendorong aksi beli investor sehingga IHSG terhindar dari kejatuhan lebih lanjut,” katanya.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2015

On 08/25/2015 10:11 PM, Awind wrote:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/25/190844726/Menko.Darmin.Besarnya.Dana.Asing.di.Perekonomian.RI.Membuat.Rupiah.Rentan

Ekonomi / Makro

Menko Darmin: Besarnya Dana Asing di

Perekonomian RI Membuat Rupiah Rentan

MenKo Darmin : Besarnya Dana Asing di Perekonomian RI Membuat Rupiah Rentan
Selasa, 25 Agustus 2015 | 19:08 WIB
altESTU SURYOWATI/Kompas.com Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang baru saja dilantik, Rabu (12/8/2015) Darmin Nasution, tiba di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta. Darmin menyoroti perekonomian Indonesia selama ini salah karena kebijakan yang diambil didasarkan pada data-data yang tidak akurat.

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengakui, merosotnya nilai tukar rupiah tak hanya disebabkan oleh faktor eksternal. Besarnya dana asing dalam ekonomi Indonesia juga dinilai membuat rupiah rawan goyah.

“Tidak harus persoalan yuan ini yang harus didengungkan. Rupiah sudah rentan kalau soal kurs. Ya karena terlalu besar dana asing di dalam ekonomi kita,” ujar Darmin saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa (25/8/2015).

Dia menjelaskan, besarnya dana asing dalam ekonomi Indonesia bisa terlihat dari besarnya kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN), yaitu surat utang negara (SUN) yang mencapai 38 persen.

Tak hanya Darmin, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo juga sempat resah dengan besaran persentase asing pada SBN. Berdasarkan keterangan Agus pada April lalu, kepemilikan asing pada SBN pernah mencapai 40 persen, tetapi turun hingga 37 persen dan naik kembali ke angka 38,8 persen saat ini.

Sementara itu, angka aman kepemilikan asing pada SBN, kata Agus, ialah di bawah 30 persen. Jika dibandingkan dengan beberapa negara, persentase kepemilikan asing pada SBN di Indonesia memang terbilang tinggi.

Di India, misalnya, kepemilikan asing pada SBN hanya 7 persen, Brasil 20 persen, Korea Selatan 16 persen, dan Thailand 14 persen. Selain pada SBN, dana asing juga banyak terdapat di bursa saham Indonesia. Bahkan, kata Darmin, persentasenya mencapai 60 persen.

“Nah, kalau sebanyak itu asing, itu artinya apa? ‘Batuk’ sedikit ya keluar dia, kita goyah,” kata Darmin.

Menurut dia, meski dana asing memiliki risiko tersendiri, Indonesia tetap membutuhkan dana tersebut untuk investasi di segala bidang. Dia pun mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa menghilangkan semua dampaknya bagi perekonomian Indonesia saat ini.

Salah satu upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang saat ini dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong belanja, terutama belanja modal.

Selain itu, pemerintah juga mengaku akan mengundang investor untuk mengerjakan proyek besar, tetapi investasinya tidak masuk ke dalam penanaman modal asing (PMA). Alasannya, dengan PMA, dana asing di Indonesia akan manjadi lebih besar.


Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

res :  Dalam waktu satu tahun hutang membengkak 13%, untuk selanjutnya apakah terus membengkak?

http://www.sinarharapan.co/news/read/150825166/utang-ri-membengkak-13-persen

Utang RI Membengkak 13 Persen

Dihitung dari akhir Desember 2014 di posisi Rp 12.440 rupiah sudah melemah hampir 13 persen.

25 Agustus 2015 19:45 Faisal Rachman Ekonomi dibaca: 89

IsJAKARTA – Menguatnya kurs dolar AS terhadap rupiah membuat utang luar negeri, baik swasta maupun pemerintah, kian membengkak. Mengutip Bloomberg, Selasa (25/8) pagi, rupiah dibuka melemah ke Rp14.055 per dolar AS. Gerak rupiah ini melemah delapan poin atau setara 0,06 persen.

Dihitung dari akhir Desember 2014 di posisi Rp 12.440 rupiah sudah melemah hampir 13 persen. Jika dihitung berdasarkan asumsi rupiah dalam APBN-P 2015, pelemahannya menjadi di kisaran 12,5 persen.

Paling kentara, dikatakan analis Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Dani Setiawan, posisi rupiah saat ini akan membebani defisit anggaran dan pembayaran bunga utang dan pokok utang pemerintah. Dalam APBN-P 2015, asumsi rupiah dipatok di level Rp 12.500 per dolar AS.

“Kenaikan beban utang tersebut in line dengan persentase pelemahan rupiah. Artinya, dengan pelemahan 13 persen, beban outstanding utang rata-rata akan bertambah sebesar itu,” ujarnya kepada SH, Selasa (25/8).

Ia mengakui setiap perjanjian utang memiliki kesepakatan tersendiri. Namun, jika menghitung rata-ratanya, pemerintah harus merogoh kocek lebih dalam. “Apalagi utang luar negeri itu 71 persennya denominasi dolar AS,” ucapnya.

BI baru-baru ini melansir, posisi Utang Luar Negeri (ULN) sampai akhir kuartal II tercatat US$ 304,3 miliar. Jumlah tersebut terdiri atas ULN sektor publik (pemerintah) senilai US$ 134,6 miliar (44 persen dari total ULN) dan ULN sektor swasta US$ 169,7 miliar (55,8 persen dari total ULN).

Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati mengatakan, pemerintah tahun ini menyusun anggaran belanja dalam APBN-P 2015 hampir Rp 2.000 triliun. Namun, ia me­nyayangkan rencana belanja yang ditambal dari utang tak mampu terserap.
Sumber : Sinar harapan

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Prasyarat Mental Atasi Krisis

Oleh: Yudi Latif

Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia mestinya memantulkan semangat optimistis jiwa pemenang. Namun, memburuknya perekonomian dan kegaduhan politik yang tak kunjung reda membuat cuaca kebatinan bangsa ini diliputi kabut pesimistis. Suka atau tidak, kita tidak bisa menutup mata akan kenyataan adanya berbagai krisis yang mengancam kehidupan bangsa. Kita tidak bisa tenang-tenang saja, seolah-olah keadaan bangsa ini tak ada masalah, segalanya on the right track.

Selain krisis ekonomi, seperti ditandai dengan merosotnya nilai tukar rupiah, jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan, jatuhnya harga komoditas andalan, menurunnya penerimaan pajak, dan ancaman pemutusan hubungan kerja dalam skala masif, kita juga dihadapkan pada ancaman lima macam krisis yang ditengarai Bung Karno pada 1952. Pertama, krisis politik, yang membuat banyak orang tidak percaya lagi kepada demokrasi. Kedua, krisis alat kekuasaan negara. Ketiga, krisis cara berpikir dan cara meninjau. Keempat, krisis moral. Kelima, krisis gejag (kewibawaan otoritas).

Kelima macam krisis itu seakan berdaur ulang mengancam kehidupan demokrasi hari ini. Bertahun-tahun pemerintahan demokratis diperjuangkan oleh gerakan reformasi dengan keringat dan darah. Namun, ketika kesempatan itu diraih, politik dirasa kurang berkhidmat bagi kepentingan orang banyak, aparatur negara belum mampu menegakkan hukum dan ketertiban, politisi dan pejabat kurang memperhatikan visi dan wawasan perjuangan, serta perilaku politik dan birokrasi tercerabut dari etika. Orang-orang yang menggenggam otoritas saling bertikai, berlomba menghancurkan kewibawaan negara.

Lebih buruk lagi, di titik genting krisis multidimensi ini, penyelenggara negara dan masyarakat politik justru kehilangan rasa krisis dan rasa tanggung jawab. Kepemimpinan negara dan elite politik hidup dalam penjara narsisme yang tercerabut dari suasana kebatinan rakyat. Elite politik lebih tertuju pada upaya memanipulasi pencitraan, bukan mengelola kenyataan, lebih mengutamakan kenyamanan diri ketimbang kewajiban memajukan kesejahteraan sosial.

Situasi itulah yang melahirkan krisis kepemimpinan. Pemimpin ada kalau mereka hadir dalam alam kesadaran dan penderitaan rakyat. Bung Karno mengatakan, ”Mereka seharusnya belajar bahwa seorang tidak dapat memimpin massa rakyat jika tidak masuk ke dalam lingkungan mereka…. Demi tercapainya cita-cita kita, para pemimpin politik tidak boleh lupa bahwa mereka berasal dari rakyat, bukan berada di atas rakyat.” Secara retoris, Bung Karno juga mempertanyakan, ”Berapa orangkah dari alam pemimpin Indonesia sekarang ini yang masih benar-benar ’rakyati’ seperti dulu, masih benar-benar ’volks’ seperti dulu?”

Dengan tercerabut dari lumpur kehidupan rakyat, para penyelenggara negara cenderung mengembangkan sikap defensif untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Misalnya saja, kita mendengar ada pejabat yang menyatakan jatuhnya nilai rupiah adalah baik bagi perekonomian nasional.

Lebih dari itu, ketika dihadapkan pada berbagai persoalan pelik yang menuntut semangat solidaritas dan tanggung jawab bersama, kepedulian politik kita justru hanya berhenti pada persoalan bagi-bagi kekuasaan. Kegaduhan politik hanya di sekitar persoalan siapa, partai apa, mendapatkan apa. Belakangan, indikasi pertarungan kepentingan mulai merobek kekompakan kabinet. Padahal, dalam situasi krisis, mentalitas yang harus ditumbuhkan bukanlah eker-ekeran mempertentangkan hal remeh-temeh, melainkan mentalitas gotong royong; berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Berbeda dengan ledakan harapan banyak orang, pemerintahan demokratis sering dihadapkan pada aneka masalah dan kekecewaan yang sulit diatasi. Karena itu, betapapun legitimasi kinerja memainkan peranan penting bagi kelangsungan pemerintahan demokratis, yang lebih menentukan bukanlah kesanggupan mereka menuntaskan masalah itu, melainkan cara pemimpin politik menanggapi ketidakmampuannya dengan ketulusan dan kelapangan jiwa melibatkan partisipasi segenap elemen bangsa.

Untuk keluar dari krisis menuju politik harapan, suatu bangsa harus keluar dari tahap anarki, tradisionalisme, apatisme, menuju penciptaan pemimpin publik yang sadar. Tahap pertama, seluruh tindakan politik diabsahkan menurut logika pemenuhan kepentingan pribadi, yang menghancurkan sensibilitas pelayanan publik. Tahap kedua, untuk mencapai sesuatu, pemimpin mendominasi dan memarjinalkan orang lain. Pada tahap ketiga, peluang-peluang yang dimungkinkan demokrasi tak membuat rakyat berdaya, tetapi justru membuatnya apatis.

Pada tahap keempat, tahap politik harapan, para pemimpin menyadari pentingnya merawat harapan dan sikap optimistis dalam situasi krisis, dengan cara memahami kesalingtergantungan realitas serta kesediaan bekerja sama menerobos batas-batas politik lama. Kekuasaan digunakan untuk memotivasi dan memberi inspirasi yang memungkinkan orang lain mewujudkan keagungannya. Warga menyadari pentingnya keterlibatan dalam politik dan aktivisme sosial untuk merealisasikan kebajikan bersama. []

KOMPAS, 25 Agustus 2015

Yudi Latif  ;   Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

70  Tahun Tenun Keindonesiaan

Oleh: Asep Salahudin

Kalau ada sebuah bangsa yang menjadi panggung interaksi semua agama, etnisitas, dan lintas budaya, maka ia Indonesia. Kalau ada sebuah bangsa yang memiliki ratusan pulau membelah garis Khatulistiwa, dengan bahasa dan kultur bahkan warna kulit yang tidak serupa tetapi masih sepakat bersatu, maka ia Nusantara.

Kalau ada sebuah negara yang wujudnya masih tegak padahal “hanya” ditenun semboyan silam Bhinneka Tunggal Ika yang dianggit dari kitab Sutasoma Empu Tantular abad ke-14, maka ia NKRI. Kalau ada sebuah nation  yang seluruh warganya bisa dipersatukan falsafah Pancasila, maka  ia negara Indonesia.

Namun, juga harus dikatakan bahwa kalau ada sebuah negeri  dengan kekayaan sumber daya alam melimpah tapi rakyatnya berada dalam indeks garis kemiskinan yang parah, maka lagi-lagi ia Indonesia. Bangsa dengan kesuburan tanah yang bisa menanam apa pun jenis  tumbuh-tumbuhan, tapi beras, kedelai, dan aneka buah ternyata harus impor dari negara lain.

Kalau ada sebuah negara dengan Ketuhanan Yang Maha Esa  bertengger sebagai sila pertama dasar negaranya, tapi setiap hari berita yang menerpa adalah ihwal korupsi yang tidak pernah berhenti, anggaran negara yang selalu dikemplang, dan tingkah kerumunan politikus yang  lebih mengerikan dari monster sekalipun, maka harus dengan jujur ditulis bahwa  kawasan itu adalah negeri kepulauan yang saat ini merayakan ulang tahun ke-70 kemerdekaannya.

Gambaran paradoks

Sungguh Indonesia menggambarkan tentang situasi yang serba ambigu dan nyaris kita selalu kesulitan dari mana sesungguhnya benang kusut itu harus diurai. Kita senantiasa tersekap dalam kegamangan yang tak berkesudahan, dalam sikap diri yang seolah-olah tak punya kemampuan menurunkan norma-norma yang baik  menjadi bagian akhlak keseharian.

Sekian undang-undang dan aturan yang kita bikin sekaligus  agama yang menjadi pegangan seperti  menguap tanpa bekas. Berhenti sebatas penataran dan khotbah. Pancasila pun alih-alih menjadi jalan kebudayaan, malah hanya menyisakan sekadar monumen yang dikunjungi setiap 1 Juni lengkap dengan gemuruh upacara, retorika murahan, dan  pekik pidato yang diulang-ulang.

Ketika manusia pergerakan mencanangkan “Indonesia merdeka”, maka sesungguhnya lengkap di dalamnya upaya mewujudkan cita-cita luhur tergelarnya kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, musyawarah mufakat, hikmah kebijaksanaan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Indonesia yang seharusnya dibentangkan dengan rute yang jelas, tegas, dan terukur.

Kita sangat tak habis pikir membaca artikulasi politik kaum pejuang ketika merumuskan keindonesiaan. Dengan fasilitas ala kadarnya tapi mampu bikin trayektori politik imajinatif, bisa meretas jalan keindonesiaan yang bukan saja tepat, melainkan sangat kontekstual, revolusioner, dan visioner.

Di bawah ancaman Hindia Belanda dengan kekuatan senjata yang masih kukuh tidak kemudian membuat nyali mereka ciut, tapi kian menyala-nyala. Bagaimana Bung Karno lewat Klub Studi Bandung dan pamflet yang terus dibikin  dengan  bahasa radikal  untuk menyulut kesadaran massa pada akhirnya harus dihadapkan ke pengadilan pada Agustus 1930.

Dengan lantang diungkapkannya, “…Kami punya pidato-pidato bukanlah pidato paderi di dalam gereja atau pidato juru khotbah di dalam masjid. Kami adalah nasionalis revolusioner, nasionalis yang radikal, nasionalis kepala banteng! Kami punya bahasa adalah bahasa yang keluar dari kalbu yang berkobar-kobar dengan semangat nasional, berkobar-kobar dengan rasa kecewa atas celaka dan sengsara rakyat.”

Tak kalah garang Bung Hatta pada 9 Maret 1928 melalui pembelaannya di Mahkamah Den Haag bukan saja jiwanya disulut keberaniannya  yang tanpa batas, tapi juga iman kebangsaannya yang tak pernah lekang, “Bahwa kekuasaan Belanda akan berakhir, bagi saya hal itu sudah pasti. Soalnya bukan iya atau tidak, tapi cepat atau lambat. Janganlah Nederland memukau diri bahwa  kekuasaan kolonialnya akan kukuh kuat sampai akhir zaman.”

Demikian juga Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Amir Sjarifuddin, Natsir, Muhammad Yamin, Wahid Hasyim, Soedriman, Otto Iskandar Dinata dengan cara masing-masing memburu mimpi keindonesiaan dalam tenun kebersamaan.

Bahkan, dalam kasus Tan Malaka, sosok yang pertama kali menulis “Indonesia Merdeka”  dalam Naar de Republiek Indonesia (1924) dan disebut-sebut Bung Karno sebagai “seorang yang mahir dalam revolusi” bukan saja tak mencicipi masa kemerdekaan yang diperjuangkannya selama 30 tahun tanpa lelah untuk bangsanya, tetapi juga dengan sangat tragis harus mati di tangan bangsanya sendiri dalam sebuah kemelut yang gelap.

“Kemerdekaan” bukan sebagai hadiah dari kolonial, tapi diperjuangkan dengan raga dan roh. Chairil Anwar dengan bagus memotret pergulatan kaum pejuang itu dalam “Aku”: …biar peluru menembus kulitku/aku tetap meradang menerjang/luka dan bisa kubawa berlari/berlari/hingga hilang pedih peri/dan aku akan lebih tidak peduli/aku mau hidup seribu tahun lagi.

Kemerdekaan dan proklamasi yang digelorakan dari Gang Pegangsaan oleh Soekarno dan Hatta atas nama seluruh rakyat Indonesia bukan kata tanpa rajah, melainkan di belakangnya terhampar keniscayaan para pewarisnya mengelola keindonesiaan dengan politik lurus.

Politik tentu tidak harus selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan lewat sirkulasi kekuasaan demokrasi pemilu lima tahunan atau melalui pilkada, tapi tak kalah pentingnya bagaimana menjadikan politik itu sebagai tindakan (dan kebijakan) harian untuk mempercepat massa menemukan peluang  ekonomi, budaya, dan harkat sosial. Politik adalah siasat etik, bukan konspirasi licik. Cara menggapai keutamaan.

Termasuk politik adalah sikap bagaimana kita sebagai warga memperlakukan “liyan” secara lapang dan penuh tanggung jawab. Bahwa liyan secara ontologis bukanlah orang lain (mereka) yang diperlakukan secara berbeda apalagi diskriminatif, tapi liyan sejatinya adalah bagian eksistensial dari tubuh kita, dari cara kita “mengada”. Lewat tubuh liyan, kita satu sama lain saling menemukan keunikan diri, saling belajar dan berempati, menuju sukma  keindonesiaan yang majemuk. Liyan menjadi ruang kebersamaan melakukan transendensi.

Sebuah pertanyaan

Tujuh puluh tahun usia yang tidak lagi bisa dianggap muda. Usia yang telah menghabiskan enam presiden dan Joko Widodo yang ketujuh. Tidaklah keliru kalau rezim sekarang mengenang masa depan dengan cara menating ingatan silam generasi pertama dalam mengusung pemerintahannya, revolusi mental dan Nawacita, sekaligus mengingatkan pentingnya kembali ke laut selaras dengan karakter negeri bahari, memastikan kehadiran negara dalam penegakan hukum, tidak ada lagi politik diskriminasi.

Sejauh mana program ini berhasil diimplementasikan? Jawabannya harus didiskusikan dengan kepala jernih agar setiap kekuasaan tak terkena kutukan: mendaur ulang kesalahan yang sama. Supaya kemerdekaan terhindar dari utopia. []

KOMPAS, 22 Agustus 2015

Asep Salahudin  ;   Dekan Fakultas Syariah IAILM Pesantren Suryalaya Tasikmalaya; Dosen di FISS Unpas Bandung


0 Responses to “Ekonomi Keuangan : China Kembali Bikin Geger AS dan Dunia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: