25
Aug
15

Kebudayaan : Memaknai Islam Nusantara

Rumah Proklamasi 17845 (3)

Islam Nusantara, Jaran Kepang, dan Logika Soto

Oleh: Fariz Alniezar*

Akhir-akhir ini media massa riuh dihiasi perdebatan sengit seputar Islam Nusantara. Ada banyak pihak yang pro, tak sedikit pula yang kontra dan bahkan menuding secara sepihak agenda tersembunyi di balik Islam Nusantara.
Pada tataran ini, saya sungguh teringat perkataan Cak Nur (2002). Dengan sangat jelih dan analitik, ia mengatakan bahwa dalam kurun waktu sepuluh sampai lima belas tahun yang akan datang—dari ucapan itu dikeluarkan tahun 2002—anak-anak muda NU akan menguasai wacana. Dan nyatanya sekarang ucapan itu benar belaka, wacana Islam nusantara hari ini didominasi dan digulirkan oleh anak-anak muda NU.
Tulisan pendek ini ingin memberikan sumbangsih gagasan kepada para pengkritik Islam Nusantara. Sebab dari serangkaian kritik yang dilayangkan untuk wacana Islam Nusantara selama ini, menurut saya kerap dan masih sering terjebak dan berkutat pada perdebatan terminologik, bukan epistemik.
Salah satu artikel yang mempertanyakan Islam Nusantara adalah milik saudara Faisal Ismail bertajuk “Problematika Islam Nusantara”. Artikel tersebut pada dasarnya tidak memiliki pijakan epistemologik yang kuat untuk kemudian dengan gegabah menyimpulkan bahwa istilah Islam Nusantara itu kurang tepat, dan bahkan tidak benar. Ibarat seorang koboi, saudara Faisal Ismail nampaknya baru belajar bagaimana memegang pistol sehingga arah bidikan mata pistolnya tak keruan sekaligus tidak jelas sasaran.
Sebelum masuk ke dalam ranah epistemologik, sebaiknya kita periksa dahulu apa maksud dan arti Islam dan juga Nusantara itu sendiri. Hal ini sangat vital sebagai pijakan dikursif bahwa Islam dan Nusantara yang kita maksudkan dalam terma Islam Nusntara memiliki definisi yang sama antara kita.
Islam adalah Agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang berpedoman kapada Al-Quran dan Hadist. Atau dalam bahasa yang lebih kontekstual, Islam berarti sebuah substansi nilai dan seperangkat metodologi yang bisa saja ia memiliki kesamaan atau juga pertemuan dengan substansi nilai yang berasal-muasal dari agama, ilmu atau bahkan tradisi lain di luarnya.
Sementara itu, Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV mencatat bahwa lema Nusantara berarti sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Maka merujuk pada dua definisi tersebut, dan jika kita berdisiplin dengan kamus, maka Islam Nusantara adalah Islam Indonesia itu sendiri.
Setelah jelas duduk terminologisnya, maka persoalan selanjutnya adalah mendudukkan Islam Nusantara secara epistemik. Dan pada persoalan inilah apa yang di sampaikan oleh para pengkritik Islam Nusantara, termasuk Saudara Faisal Ismail, mempunyai masalah yang serius.
Para pengkritik mula-mula mengutip pendapat Abdul Ala Al-Maududi dalam bukunya Toward Understanding Islam (1966) yang mengatakan bahwa Islam tidak bisa dinisbatkan kepada pribadi atau kelompok manusia manapun karena Islam bukan milik pribadi, rakyat atau negeri manapun. Islam bukan produk akal seseorang, bukan pula terbatas pada masyarakat tertentu, dan tidak diperuntukkan untuk negeri tertentu.
Dengan mengutip pendapat Abul Ala Al-Maududi tersebut sesungguhnya para pengkritik Islam Nusantara terjebak pada pemaknaan bahwa Islam tidak bisa dilokalisirkan dalam bentuk apapun. Pelokalisiran Islam, baik dalam bentuk ekspresi, budaya, dan juga penerjemahan ritus ibadah menurutnya sama sekali tidak benar.
Pelokalisiran tersebut, lebih lanjut, menurut mereka akan melahirkan aneka varian Islam yang tidak terbilang jumlanya. Jika ada Islam Nusantara, maka kemudian hari akan muncul Islam Jawa Timur, Islam Lamongan, Islam Jawa Tengah, dan tentu saja Islam Betawi.
Logika semacam ini sesungguhnya sangat mudah untuk dipatahkan. Sebab argumentasinya tidak berpijak pada pemahaman yang jernih pada sebuah persoalan dan cenderung membabi buta asal main kritik semata.
Para pengkritik Islam Nusantara mungkin sedikit lupa bahwa Islam adalah Agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang memiliki sumber utama berupa suci Al-Quran dan Hadis. Al-Quran dan Hadis di hadapan umat Islam, jika meminjam analogi istilah sehari-hari, ia ibarat segenggam padi.
Padi adalah bahan mentah. Al-Quran dan Hadis pun juga bahan mentah. Dibutuhkan sebuah kreativitas tingkat tinggi untuk mengolah bahan mentah tersebut supaya kemudian bisa dimakan. Kreativitas tersebut kemudian hari dikenal dengan istilah memasak. Dengan dimasak, padi yang mentah tadi menjelma menjadi beras dan nasi yang matang dan siap untuk kemudian dimakan.
Kreativitas dalam beragama adalah ekspresi keagamaan itu sendiri. Sebuah ekspresi keberagamaan tentu saja bersumber dari pemaknaan atas sebuah agama itu sendiri. Perbedaan menafsirkan diktum agama inilah yang kemudian hari menjelma menjadi “model” keberagamaan. Nah, model keberagamaan ini sangat banyak, dan salah satunya adalah yang berbasis kesamaan lokus dan juga kebudayaan.
Maka dengan alur kronologis seperti itu sesungguhnya Islam Nusantara bukanlah barang baru. Ia ada secara alamiah sebagai model dan cara beragama sebuah masyarakat. Itu saja tidak lebih.
Jauh daripada itu, penting untuk dicatat bahwa bahan mentah seperti padi di atas bukan berarti tidak bisa dimakan. Kita tahu, padi bisa dimakan oleh para pemain jaran kepang yang identik dengan perangai “edan dan ngamukan”.
Oleh karena itu, di tangan masyarakat yang miskin kerativitas dalam beragama, Islam menjadi sedemikian garang dan “ngamukan”. Ciri-ciri masyarakat Jaran Kepang adalah sensitif dan reaktif dalam menerima perbedaan. Masalah pada masyarakat yang demikian ini sesungguhnya hanya satu, yakni sebab mereka memakan barang mentah bernama Al-Quran dan Hadis tersebut.
Para pengkritik Islam Nusantara nampaknya juga harus belajar dari kearifan kuliner bernama soto. Di seluruh wilayah, soto adalah sebuah makanan yang basis bahan bakunya sama. Dengan bahan baku yang sama tersebut, di tangan orang-orang yang memiliki krativitas dan kebetulan lokusnya juga berbeda soto bisa di-ijtihadi dan kemudian menjelma menjadi beraneka macam dan varian.
Soto Lamongan, soto Kudus, soto Betawi, dan juga soto Bogor kita tahu tentu saja berbeda satu dengan yang lainnya, namun percayalah pada soto-soto tersebut bahan bakunya sama, dan yang begitulah juga sebetulnya yang terjadi pada Islam Nusantara.
Walhasil, sebagai penutup tulisan ini, izinkanlah saya mengutip secara serius petikan status facebook Gus Yahya Staquf ihwal mereka yang phobia terhadap Islam Nusantara: “Karena kau cuma tiang yang dipancang tergesa-gesa kemarin sore dan pangkalmu cuma dangkal-dangkal saja ditanam, maka engkau jadi takut setengah mati pada angin. Bahkan semilir yang segar pun kau caci dan kau kutuki. Kami pohon berakar tunjang mencengkeram jauh ke jantung ibu pertiwi kami dan menjalar memenuhi mukanya. Maka kami menyapa angin dengan senang hati. Menitipinya serbuk-serbuk sari untuk menyuburi putik-putik bunga yang indah. Demi buah-buah yang berguna bagi seluruh dunia.”Wallahu a’lam bisshawab. []
Fariz Alniezar, mengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta

Jakarta45

Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU

Senin, 24/08/2015 19:02

[image: Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU]

Forum Muktamar Ke-33 NU di Jombang pada awal Agustus 2015 lalu membahas
perihal “Khashaish Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah” atau Aswaja
Perspektif NU pada sidang komisi bahtsul masail diniyah maudhu’iyyah.
Materi ini dibahas di masjid utama pesantren Tambakberas Jombang yang
dipimpin oleh KH Afifuddin Muhajir. Berikut ini rumusannya.
*Khashaish Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdhiyah*

Islam sebagai agama samawi terakhir memiliki banyak ciri khas (*khashaish*)
yang membedakannya dari agama lain. Ciri khas Islam yang paling menonjol
adalah *tawassuth*, *ta’adul*, dan *tawazun*. Ini adalah beberapa ungkapan
yang memiliki arti yang sangat berdekatan atau bahkan sama. Oleh karena
itu, tiga ungkapan tersebut bisa disatukan menjadi “*wasathiyah*”. Watak
*wasathiyah* Islam ini dinyatakan sendiri oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى
النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) kami menjadikan kamu (umat Islam), umat penengah (adil
dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul
(Muhammad SAW) menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah;143)

Nabi Muhammad SAW sendiri menafsirkan kata وَسَطًا dalam firman Allah di
atas dengan adil, yang berarti *fair* dan menempatkan sesuatu pada
tempatnya. Perubahan fatwa karena perubahan situasi dan kondisi, dan
perbedaan penetapan hukum karena perbedaan kondisi dan psikologi seseorang
adalah adil.Selain ayat di atas, ada beberapa ayat dan hadits yang
menunjukkan watak *wasathiyah* dalam Islam, misalnya firman Allah:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ
الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah
kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”
(QS. Al-Isra’: 29)

Dalam firman-Nya yang lain,

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ
سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula
merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS.
Al-Isra’: 110)

Sementara dalam hadits dikatakan,

خَيْرُ اْلأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا

“Sebaik-baik persoalan adalah sikap-sikap moderat.”

Mirip dengan hadits di atas adalah riwayat,

وَخَيْرُ اْلأَعْمَالِ أَوْسَطُهَا وَدِيْنُ اللهِ بَيْنَ الْقَاسِىْ
وَالْغَالِىْ

“Dan sebaik-baik amal perbuatan adalah yang pertengahan, dan agama Allah
itu berada di antara yang beku dan yang mendidih.”

Wasathiyyah yang sering diterjemahkan dengan moderasi itu memiliki beberapa
pengertian sebagai berikut: *Pertama*, keadilan di antara dua kezhaliman (عدل
بين ظلمين) atau kebenaran di antara dua kebatilan (حق بين باطلين), seperti
wasathiyah antara *atheisme* dan *poletheisme*. Islam ada di antara
atheisme yang mengingkari adanya Tuhan dan *poletheisme* yang memercayai
adanya banyak Tuhan. Artinya, Islam tidak mengambil paham *atheisme* dan
tidak pula paham *poletheisme*, melainkan paham *monotheisme*, yakni paham
yang memercayai Tuhan Yang Esa. Begitu juga *wasathiyyah* antara boros dan
kikir yang menunjuk pada pengertian tidak boros dan tidak kikir. Artinya,
Islam mengajarkan agar seseorang di dalam memberi nafkah tidak kikir dan
tidak pula boros, melainkan ada di antara keduanya, yaitu *al-karam* dan
*al-jud*. Allah berfirman;

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ
بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak
berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di
tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

*Kedua*, pemaduan antara dua hal yang berbeda/berlawanan. Misalnya, (a).
*wasathiyyah* antara rohani dan jasmani yang berarti bahwa Islam bukan
hanya memerhatikan aspek rohani saja atau jasmani saja, melainkan
memerhatikan keduanya. *Wasathiyyah* antara *nushûs* dan *maqâshid*. Itu
berarti Islam tak hanya fokus pada *nushûs* saja atau *maqâshid* saja,
melainkan memadukan antara keduanya. (b). Islam pun merupakan agama yang
menyeimbangkan antara `*aql* dan *naql*. Bagi Islam, akal dan wahyu
merupakan dua hal yang sama-sama memiliki peranan penting yang sifatnya
komplementer (saling mendukung antara satu sama lain). Kalau diibaratkan
dengan pengadilan, akal berfungsi sebagai *syahid* (saksi) sementara wahyu
sebagai hakim, atau sebaliknya, yakni akal sebagai hakim sementara wahyu
sebagai *syahid*. (c). Islam menjaga keseimbangan antara dunia dan
akhirat, antara individu dan masyarakat, antara ilmu dan amal, antara
*ushul* dan *furu’*, antara sarana (*wasilah*) dan tujuan (*ghayah*),
antara optimis dan pesimis, dan seterusnya.

*Ketiga*, realistis (*wâqi’iyyah*). Islam adalah agama yang realistis,
tidak selalu idealistis. Islam memunyai cita-cita tinggi dan semangat yang
menggelora untuk mengaplikasikan ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan
hukumnya, tapi Islam tidak menutup mata dari realitas kehidupan
yang–justru–lebih banyak diwarnai hal-hal yang sangat tidak ideal. Untuk
itu, Islam turun ke bumi realitas daripada terus menggantung di langit
idealitas yang hampa. Ini tidak berarti bahwa Islam menyerah pada pada
realitas yang terjadi, melainkan justru memerhatikan realitas sambil tetap
berusaha untuk tercapainya idealitas. Contoh *wasathiyyah* dalam arti
*waqi’iyyah* ini adalah pemberlakuan hukum ‘*azîmah* dalam kondisi normal
dan hukum *rukhshah* dalam kondisi *dharurat* atau hajat.

Watak *wasathiyyah* dalam Islam Ahlussunnah wal Jama’ah tercermin dalam
semua aspek ajarannya, yaitu akidah, syariah, dan akhlaq/tasawwuf serta
dalam *manhaj*. Dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari
golongan Ahlussunnah wal Jama’ah, watak *wasathiyyah* tersebut antara lain
terjadi dalam hal-hal sebagai berikut:

1. Melandaskan ajaran Islam kepada Al-Qur’an dan As-sunnah sebagai sumber
pokok dan juga kepada sumber-sumber sekunder yang mengacu pada Al-Qur’an
dan As-sunnah seperti ijma’ dan qiyas.

2. Menjadikan ijtihad sebagai otoritas dan aktifitas khusus bagi
orang-orang yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang tidak mudah untuk
dipenuhi. Sedangkan bagi yang tidak memenuhi syarat-syarat ijtihad, tidak
ada jalan lain kecuali harus bermazhab dengan mengikuti salah satu dari
mazhab-mazhab yang diyakini penisbatannya kepada *ashabul madzahib*. Namun,
Nahdlatul Ulama membuka ruang untuk bermadzhab secara manhaji dalam
persoalan-persoalan yang tidak mungkin dipecahkan dengan bermadzhab secara
*qauli*.

Pola bermadzhab dalam NU berlaku dalam semua aspek ajaran Islam; aqidah,
syariah/fiqh, dan akhlaq/tasawwuf, seperti dalam rincian berikut: (a). Di
bidang syariah/fiqh, Nahdlatul Ulama mengikuti salah satu dari madzhab
empat, yaitu madzhab Imam Abu Hanifah, Madzhab Imam Malik ibn Anas, madzhab
Imam Muhammad bin Idris as-Syafii dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. (b).
Di bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan madzhab
Imam Abu Manshur al-Maturidi. (c). Di bidang akhlaq/tasawuf mengikuti
madzhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan madzhab Imam Abu Hamid al-Ghazali.

3. Berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur’an di dalam melakukan dakwah dan
amar makruf nahi mungkar, yaitu dakwah dengan *hikmah*/kearifan, *mau’izhah
hasanah*, dan *mujadalah bil husna*.

4. Sebagai salah satu wujud dari watak *wasathiyyah* dengan pengertian
*al-waqi’iyyah* (realistis), Nahdlatul Ulama menghukumi NKRI (Negara
Kesatuan Republik Indonesia) dengan Pancasila sebagai dasarnya sebagai
sebuah negara yang sah menurut pandangan Islam dan tetap berusaha secara
terus menerus melakukan perbaikan sehingga menjadi negara adil makmur
berketuhanan Yang Maha Esa.

5. Mengakui keutamaan dan keadilan para shahabat Nabi, mencintai dan
menghormati mereka serta menolak dengan keras segala bentuk penghinaan dan
pelecehan terhadap mereka apalagi menuduh mereka kafir.

6. Tidak menganggap siapapun setelah Nabi Muhammad saw sebagai pribadi yang
*ma’shum* (terjaga dari kesalahan dan dosa).

7. Perbedaan yang terjadi di kalangan kaum muslimin merupakan salah satu
dari fitrah kemanusiaan. Karena itu, menghormati perbedaan pendapat
dalam *masa`il
furu`iyyah-ijtihadiyah* adalah keharusan. Nahdhatul Ulama tak perlu
melakukan klaim kebenaran dalam masalah *ijtihadiyyah* tersebut.

8. Menghindari hal-hal yang menimbulkan permusuhan seperti tuduhan kafir
kepada sesama muslim, *ahlul qiblah*.

9. Menjaga *ukhuwwah imaniyyah-islamiyyah* di kalangan kaum muslimin
dan *ukhuwwah
wathaniyyah* terhadap para pemeluk agama-agama lain. Dalam konteks NU,
menjaga *ukhuwwah nahdliyyah* adalah niscaya terutama untuk menjaga
persatuan dan kekompakan seluruh warga NU.

10. Menjaga keseimbangan antara aspek rohani dan jasmani dengan
mengembangkan tasawwuf `*amali*, majelis-majelis dzikir, dan sholawat
sebagai sarana *taqarrub ilallah* di samping mendorong umat Islam agar
melakukan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. (*Red
Alhafiz K*)

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,61776-lang,id-c,nasional-t,Inilah+Penjelasan+Mengenai+Aswaja+Perspektif+NU-.phpx

Logo PKP 45

Memahami Islam Nusantara dalam Bingkai Ilmu Nahwu

Oleh: Umar A.H.
Akhir-akhir ini banyak perdebatan muncul tentang “islam nusantara” yang jadi tema besar Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, pada 1 – 5 Agustus mendatang. Sebagian pakar setuju dengan konsep tersebut, namun tidak sedikit yang meragukan (baca : sinis) dengan gagasan tersebut karena dianggap bagian dari rangkaian proses sekularisasi, liberisasi pemikiran Islam yang telah digelorakan sejak tahun 80-an oleh Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid.

Sebagian lagi menilai bahwa gagasan Islam Nusantara juga berpotensi besar untuk memecah-belah kesatuan kaum Muslim, sehingga akan muncul istilah Islam Nusantara, Islam Amerika, Islam Australia, dan sebagainya. Gagasan Islam nusantara disinyalir akan memicu sikap saling menonjolkan kedaerahannya didalam eksistensinya ber-Islam. Seperti cara membaca Qur’an dengan langgam Jawa yang akan memunculkan berbagai egoisme Islam yang bersifat kedaerahan seperti gaya baca Sunda, Batak, Makassar, Aceh, Palembang.

Bagi pengusung ide “islam nusantara”, – sebagaimana dikatakan oleh Moqsith Ghazali- Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita walisongo. Islam nusantara tidak anti arab, karena bagaimanapun juga dasar-dasar islam dan semua referensi pokok dalam ber-islam berbahasa Arab.

Terlepas dari perbedaan prespektif di atas, untuk memahami istilah islam nusantara  -bagi kami orang awam-, tidak diperlukan pembahasan yang jlimet, ruwet bin ndakik-ndakik sebagaimana yang dipaparkan oleh para cendekiawan, kiai, professor, tetapi dengan memahami kata dari term islam nusantara yang mana terdiri dari dua kata yang digabung menjadi satu, atau dalam kamus santri dinamakan idhafah yaitu penyandaran suatu isim kepada isim lain sehingga menimbulkan makna yang spesifik, kata yang pertama disebut Mudhaf (yang disandarkan) sedang yang kedua Mudhaf ilaih (yang disandari).

Imam ibnu malik, pakar nahwu dari Andalusia spanyol menyatakan :

نُوناً تَلِي الإعْرَابَ أو تَنْوِينَا # ممّا تُضِيفُ احْذِفْ كَطُورِ سِينَا

وَالثَّانِيَ اجْرُرْ وانو من أَوْ فِي إذا # لَمْ يَصْلُحِ الّا ذَاكَ وَالّلامَ خُذَا

لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ واخصص أولا # أو أعطه التعريف بالذي تلا

Terhadap Nun yang mengiringi tanda i’rob atau Tanwin dari pada kalimah yg dijadikan Mudhaf, maka buanglah! demikian seperti contoh: thuuri siinaa’

Jar-kanlah! lafazh yg kedua (Mudhof Ilaih). Dan mengiralah! makna MIN atau FI bilamana tidak pantas kecuali dengan mengira demikian. Dan mengiralah! makna LAM

pada selain keduanya (selain mengira makna Min atau Fi). Hukumi Takhshish bagi lafazh yg pertama (Mudhaf) atau berilah ia hukum Ta’rif sebab lafazh yg mengiringinya (Mudhaf Ilaih

Dari teori di atas dapat dipahami bahwa istilah islam nusantara merupakan gabungan kata islam yang berarti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad serta kata nusantara yang dalam KBBI merupakan nama bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia, penggabungan ini bertujuan untuk mencapai makna yang spesifik. Namun penggabungan kata ini masih menyisakan berbagai pemahaman, karena sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Malik diatas, bahwa penggabungan (idhafah) harus menyimpan Huruf Jar (harf al-hafd) yg ditempatkan antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih untuk memperjelas hubungan pertalian makna antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih-nya. Huruf-huruf simpanan tersebut berupa MIN, FI dan LAM.

Peng-Idhafah-an dengan menyimpan makna huruf MIN memberi faidah Lil-Bayan (penjelasan) apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa jenis dari Mudhaf. Teori ini tidak bisa di aplikasikan pada susunan Islam nusantara karena nusantara bukan jenis dari kata islam, jika dipaksakan akan memunculkan pemahaman bahwa islam nusantara merupakan islam min (dari) Nusantara, toh pada kenyataannya Islam hanya satu yaitu agama yang dibawa oleh Rasul akhir zaman.

Peng-Idhafah-an dengan menyimpan makna huruf LAM berfaidah Kepemilikan atau Kekhususan (Li-Milki, Li-Ikhtishash). Memahami dengan teori ini akan memunculkan takhsis dalam terhadap islam, islam untuk orang nusantara, realitanya islam agama yang universal, bukan agama yang khusus golongan atau bangsa tertentu.

Sedangkan Idhafah dengan menyimpan makna huruf  FI berfaidah Li-Dzarfi apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa Dzaraf  bagi lafazh Mudhaf. Teori ini merupakan yang paling tepat digunakan dalam memahami term islam nusantara, karena sebagaimana disebut di atas kata nusantara merupakan nama bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia, artinya Islam Fi Nusantara, agama islam yang berada dinusantara, yaitu agama islam yang dibawa oleh Nabi yang diimani oleh orang-orang nusantara. Makna kata islam disini tidak tereduksi karena di-idhafah-kan dengan kata nusantara, karena hubungan antara Mudhaf-Mudhaf ilaih disini sebatas menunjukan spesifikasi tempat atas Mudhaf ilaih.

Dari uraian singkat diatas, dapat dipahami bahwa term Islam Nusantara bukan merupakan upaya me-lokal-kan islam, atau bahkan membuat “agama” Islam Nusantara akan tetapi usaha dalam memahami dan menerapkan islam tanpa mengesampingkan tempat islam di imani dan dipeluk.

Wa Allahu ‘Alam bi al-Shawab. []

Umar A.H, santri ndeso


0 Responses to “Kebudayaan : Memaknai Islam Nusantara”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: