18
Aug
15

Kebudayaan : NU dan Inspirasi dari Cheng Ho

 GeraKNusa
NU dan Inspirasi dari Cheng Ho
Oleh: Endang SuryadinataMenjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) pengurus besar NU menggelar seminar “Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara”, di Gedung PBNU Kramat Raya, dengan narasumber Profesor Chi Min Tan dari Universitas Nanking, Selasa, 28 Juli lalu.

Berdasarkan sejarah, Cheng Ho lahir pada 1370 M dari keluarga miskin etnis Hui di Yunan yang muslim. Namun kariernya melesat pada era Cheng Tzu, kaisar ketiga Dinasti Ming yang berkuasa dari tahun 1403 sampai 1424. Karier puncaknya adalah laksamana yang memimpin ekspedisi sejak 11 Juli 1405 ke sekitar 37 negara, termasuk Nusantara.

Maka, ada banyak jejak historis Cheng Ho di berbagai tempat di Nusantara. Di Sumatera dan Jawa, ada banyak hal yang dikaitkan dengan sosok Cheng Ho. Misalnya klenteng Mbah Ratu di Surabaya atau Sam Po Kong di Semarang. Jadi, sosoknya sampai diapresiasi oleh umat beragama selain Islam.

Sewaktu singgah di Surabaya, yang bersamaan dengan hari Jumat, Cheng Ho sempat berkhotbah di hadapan ratusan warga dan mengajari mereka cara-cara bertani yang efektif. Bahkan, ketika menghadap Raja Majapahit Wikramawardana, Cheng Ho menunjukkan jiwa besarnya. Padahal, kalau mau menuruti nafsu amarah, ia punya alasan yang dibenarkan menurut hukum Islam. Bayangkan, sekitar 170 anggota ekspedisinya baru saja dibantai oleh Raja Majapahit tersebut. Raja sendiri semula juga menduga kehadiran Cheng Ho untuk melampiaskan api dendamnya. Ternyata semua hal buruk itu tidak terbukti.

Yang menarik lagi, Cheng Ho datang menghadap raja disertai para pendeta Han San Wei, yaitu tiga agama besar beraliran Han: Buddha, Konghucu, dan Tao. Padahal Cheng Hoo maupun juru mudi dan juru masaknya beragama Islam. Dengan demikian, spirit toleransi dan penghormatan atas perbedaan agama sudah dihayati Cheng Ho sejak dini.

Tidak mengherankan jika kemudian kehadiran Cheng Ho mampu membentuk sebuah relasi harmonis antara nilai-nilai Islam, Cina, dan Jawa dalam suatu jalinan harmoni. Elemen dan arsitektur Masjid Demak yang terkenal, misalnya, sangat dipengaruhi arsitektur Cina (Sugeng Haryadi, Sejarah Berdirinya Masjid Agung Demak dan Grebek Besar, 2002).

Apa yang dilakukan Cheng Ho kian membenarkan uraian sejarawan Prancis, Prof Dr Denys Lombard dalam mahakaryanya Nusa Jawa: Silang Budaya (1996), bahwa ada kontribusi positif dari peradaban Cina atau Tionghoa yang memperkaya peradaban lokal di Nusantara.

Dan dalam hal corak penghayatan Islam yang dibawa Cheng Ho ke Nusantara, ternyata bercorak moderat atau jalan tengah serta menjauhi penghayatan keagamaan yang ekstrem. Perbedaan, termasuk perbedaan keyakinan, juga sungguh dihargai, bukan dikutuk. Ini semua sangat sesuai dengan gagasan Islam Nusantara yang kian mengemuka di kalangan NU belakangan ini.

Terbukti penghayatan Islam khas Indonesia yang moderat itu diapresiasi, termasuk oleh Perdana Menteri Inggris David Cameron. Beberapa negara Eropa pun meminta NU mengirim dai atau guru agama moderat. Maklum, di tengah godaan menggunakan cara-cara ekstrem, termasuk kekerasan, Islam sebagaimana diperlihatkan Gus Dur dan para Nahdliyin, tetap lebih suka Islam yang memberikan rahmat dan damai bagi semesta. Bukan Islam yang garang dan antikemanusiaan seperti ISIS. []

TEMPO, 06 Agustus 2015
Endang Suryadinata | Penggemar Sejarah

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/08/17/nt881v313-mui-merdeka-itu-menolak-hegemoni-asing

MUI : Merdeka itu Menolak Hegemoni Asing

Senin, 17 Agustus 2015, 19:29 WIB

Komentar : 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Choli Nasfis menuturkan, sejatinya kemerdekaan Indonesia yang ke-70 belum dicapai. Menurutnya, Merdeka itu independen dalam melakukan tindakan dan terbebas dari kendali serta tekanan negara lain.

“Hari ini kita menunggu detik-detik peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Bangsa Indonesia gegap gempita dengan pekik kemerdekaan seusai proklamator mengumumkan kemerdekaan,” kata Cholis Nafis kepada ROL, Senin (17/8).

Choli mengatakan, dahulu presiden Soekarno menyetakan bahwa ‘Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia’. Tentu, pernyataan tersebut untuk menyatakan merdeka dari penjajahan Jepang.

“Negara Indonesia telah merdeka dan berdaulat, tetapi apakah bangsa Indonesia juga telah merdeka?. Merdeka itu independen dalam melakukan tindakan dan terbebas dari kendali dan tekanan pihak lain,”kata Kiai Cholil.

Artinya, lanjutnya, sistem bernegara, konstitusi, dan undang-undang harus berpijak pada kepentingan nasional yang menolak hegemoni dan tekanan Asing. Serta kekayaan negara harus dikelola oleh dan untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Sejumlah Ormas Islam Juga Setuju Hari Santri pad 22 Oktober

Senin, 17/08/2015 17:01

Bogor, NU Online
Beberapa Ormas Islam seperti Mathla`ul Anwar, Persatuan Ummat Islam (PUI), Al Washliyah dan Forum Komunikasi Da`i Muda Indonesia (FKDMI) menyepakati tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren di Bogor, Sabtu (15/08/15). Kegiatan FGD yang dibuka secara resmi oleh Sekjen Kemenag Nur Syam tersebut dihadiri pula oleh Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, Asdep Pemberdayaan dan Kerukunan Umat Beragama Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Iwan Eka S; serta Asdep Agama, Kesehatan, Pemuda  dan Olah Raga Sekretariat Kabinet R.I Teguh Supriyadi sebagaimana dilaporkan oleh kemenag.go.id.

Menurut Suwendi, Kepala Seksi Ketenagaan Subdit Pendidikan Diniyah, kegiatan ini merupakan lanjutan dari FGD sebelumnya yang dihadiri oleh Ormas Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam FGD pertama, kedua ormas Islam terbesar tersebut juga telah menyepakati tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Pemilihan tanggal 22 Oktober dikaitkan dengan resolusi jihad yang dikobarkan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asyari di Jawa Timur pada 22 Oktober 1945. Resolusi jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 di Surabaya yang menewaskan Jenderal Mallaby. Tanggal 10 Nopember ini kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Hari Santri ini juga diharapkan menjadi momentum kebangkitan kaum santri serta bentuk apresiasi yang kongkrit atas peran santri terhadap perjuangan merebut kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan NKRI.

Utusan Ormas Mathla`ul Anwar, Muhammad Lili Nahriri mengatakan Hari Santri ini penting diakui Pemerintah sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa kaum santri dalam membela tanah air. Red: Mukafi Niam

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,61643-lang,id-c,nasional-t,Sejumlah+Ormas+Islam+Juga+Setuju+Hari+Santri+pad+22+Oktober-.phpx

Garda Masyarakat Madani

Oleh: Budi Setiyono

BANYAK hal yang jadi agenda pembahasan dalam Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) pada 1-5 Agustus 2015 di Jombang, Jatim. Agenda tersebut berkait satu magnitude penting yang menjadi alasan mengapa Jombang dipilih sebagai tempat penyelenggaraan muktamar. Poin itu berkait keinginan kontemplatif warga nahdliyin untuk kembali menata barisan jamiyah menghadapi berbagai macam persoalan yang dihadapi bangsa. Spirit itu dimaksudkan untuk menggembalikan roh dan semangat NU seperti pada awal berdirinya, mengingat para ulama pendiri berasal dari Jombang. Tak dapat dimungkiri, sebagai organisasi besar di Indonesia, eksistensi dan perjalanan NU dipengaruhi berbagai macam perkembangan sosial politik di Tanah Air yang dinamis.

Pengaruh itu tentu membawa berbagai akibat positif dan negatif. Tanpa antisipasi yang baik, pengaruh eksternal itu dapat menyeret NU dalam pusaran yang menyebabkan organisasi mengalami instabilitas internal. Sejauh ini NU mampu bermain lentur sehingga peran dan eksistensinya tetap diperhitungkan. Nahdlatul Ulama adalah civil society organization (CSO) terbesar yang telah lama berdiri, bahkan sebelum Indonesia lahir. Organisasi itu didirikan di Surabaya pada 31 Januari 1926. Pembentukan NU merupakan hasil perjuangan panjang dari sejumlah ulama Islam berbasis pesantren, dengan tujuan melestarikan ajaran Islam tradisional dan meningkatkan semangat nasionalisme dalam merespons tekanan kolonial Belanda. Sejarah NU menunjukkan bahwa organisasi ini memiliki karakteristik kuat sebagai gerakan masyarakat madani atau civil society, ruang di mana rakyat bergerak mandiri untuk mencapai tujuan. Kemunculan NU yang dipelopori para kiai berasal dari gerakan rakyat independen tanpa campur tangan negara. Bahkan NU menunjukkan perannya sebagai penyeimbang kuat bagi pemerintah, baik pada masa kolonial, Orla, Orba, ataupun sekarang ini. Dalam perspektif politik deliberatif, NU adalah entitas yang penting sebagai lembaga penopang demokrasi. Sebagai organisasi masyarakat madani, ia pilar untuk mewujudkan kedaulatan rakyat yang mendorong kinerja kelembagaan dan tata kelola negara yang baik.

Teori politik deliberatif berpendapat, perbedaan ruang antara masyarakat sipil dan negara bisa merevitalisasi makna demokrasi karena demokrasi membutuhkan pemerintah partisipatif dan akuntabel. Adapun mekanisme partisipasi dan akuntabilitas yang efektif memerlukan lembaga sipil independen (Warren 2001; Putnam 1993). Dalam hal ini, organisasi semacam NU diperlukan untuk memainkan peran menyalurkan suara rakyat sehingga menjamin legitimasi, akuntabilitas, dan transparansi. Pada gilirannya dapat memperkuat fungsi negara yang efektif dan efisien, sekaligus memperkuat kapasitas negara untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. Sosok Mumpuni Sungguh pun peran sebagai CSO tidak diragukan, terdapat kesalahkaprahan sebagian orang ketika mengasosiasikan NU secara terminologis dengan konsep yang dikotomis diametrikal: tradisional dan modern. Nahdlatul Ulama pada satu sisi sering diasosiasikan sebagai organisasi tradisional, sedangkan Muhammadiyah pada sisi lain sebagai organisasi modern. Terminologi ini sesungguhnya tidak tepat.

Nahdlatul Ulama memang memiliki keminatan untuk melestarikan tradisi nilai-nilai Islam yang toleran, tasamuh, yang diwujudkan dalam tekad melestarikan apa dari tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Tapi secara organisatoris, NU tetap harus bisa menguasai dan memperlihatkan kompatibilitas dengan dunia modern. Ia harus mendorong warganya untuk selain menguasai ilmu agama juga menguasai iptek kontemporer. Jadi, tidak boleh terus-menerus diasosiasikan sekelompok manusia yang gaptek, terbelakang, tertindas, dan hanya bergulat pada kajian kitab kuning. Karena itu, ke depan NU perlu dipimpin sosok yang bukan saja memiliki ilmu agama secara mumpuni, melainkan juga menguasai iptek modern. Idealnya, dia berpendidikan luar negeri dari negara maju dan pernah memimpin organisasi Islam di tingkat internasional. Akan lebih baik lagi bila ia pernah memimpin jamiyah NU pada level wilayah, sehingga pengalaman empiriknya dapat melengkapi wawasan ipteknya. Dengan demikian, NU diharapkan memperkokoh posisinya sebagai garda masyarakat madani di Indonesia. []

SUARA MERDEKA, 28 Juli 2015

Budi Setiyono MPol Admin PhD | Dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Diponegoro, Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah

Advertisements

0 Responses to “Kebudayaan : NU dan Inspirasi dari Cheng Ho”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,225,090 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: