24
Jul
15

Papua : Masjid Pertama di Patimburak, Fakfak dan Rusuh Tolikara

Ini Dia Masjid Pertama di Tanah Papua
Afif Farhan – detikTravel – Jumat, 24/07/2015 07:14 WIB

Fakfak – Tahukah Anda, Papua memiliki masjid berusia 145 tahun di Kabupaten Fakfak. Masjidnya pun unik, memiliki gaya arsitektur ala bangunan Eropa. Inilah Masjid Tua Patimburak, yang disebut-sebut masjid tertua di tanah Papua.

Islam ternyata juga punya sejarah panjang di Bumi Cendrawasih. Ini terbukti dari Masjid Tua Patimburak yang masih berdiri hingga kini dan digunakan sebagai tempat beribadah umat Muslim setempat.

Dari situs resmi Kementerian Agama yang dikunjungi detikTravel, Jumat (24/7/2015) Masjid Tua Patimburak berlokasi di Desa Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua. Untuk menuju ke sana, pertama traveler naik angkutan umum dari Kabupaten Fakfak ke Distrik Kokas selama dua jam. Kemudian, lanjut naik perahu selama satu jam untuk tiba di Desa Patimburak.

Usut punya usut, masjid tersebut punya nama asli yakni Masjid Al Yasin. Namun karena berlokasi di Desa Patimburak dan umurnya sudah sangat tua, maka lebih familiar dengan nama Masjid Tua Patimburak.

Diketahui, Masjid Tua Patimburak didirikan tahun 1870 oleh seorang imam bernama Abuhari Kilian. Dia berasal dari Kesultanan Ternate dan mendapat tugas untuk menyebarkan Islam ke tanah Papua.

Meski belum terbukti secara literatur, Masjid Tua Patimburak disebut-sebut sebagai masjid pertama yang ada di Papua. Namun coba perhatikan, tampak jauh Masjid Tua Patimburak tidak terlihat seperti masjid.

Tampak jauh, kubah Masjid Tua Patimburak mirip dengan kubah mirip gereja-gereja di Eropa pada masa lampau. Atapnya berupa seng (seperti rumah-rumah di Papua) dan berwarna hijau, merah dan kuning.Next

Masjid yang ada di tepi pantai dengan latar belakang perbukitan hijau (Dadang Lesmana/ACI)

Halaman 12

Kasus Tolikara, Kepala BIN Beri Keterangan Pers di Istana

rabu, 22 juli 2015 | 13:44 WIB

Kasus Tolikara, Kepala BIN Beri Keterangan Pers di Istana

Kiri-kanan: Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Mendagri Cahyo Kumolo, Menag Lukman Hakim Syaifudin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Menko Polhukam Tedjo Edy Purdjianto, dan Kepala BIN Sutiyoso memberikan keterangan pers terkait insiden Tolikara, di Istana Negara, Jakarta, 22 Juli 2015. TEMPO/Subekti.

http://pekanews.com/2015/07/kabin-sutiyoso-pembuat-rusuh-di-tolikara-untuk-menyerang-jokowi-dan-saya/

editorJuly 22nd, 2015, 1:54 pmNo comment 46 views

★★★★★

KaBIN Sutiyoso : Pembuat Rusuh di Tolikara untuk Menyerang Jokowi dan Saya

Share this on WhatsApp

Sutiyoso dan Jokowi
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatakan, kerusuhan di Tolikara, Papua bertujuan untuk menyerang Presiden Joko Widodo.

“Orang itu memanfaatkan peristiwa ini untuk menyerang Pak Jokowi, nyerang pemerintahan, nyerang saya juga sebagai Kepala BIN, nyerang Kapolri. Itu sudah biasa,” ujarnya saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2015.

Namun, Sutiyoso tak mau mengatakan siapa aktor intelektual yang berencana menyerang Jokowi dengan membuat kegaduhan di Tolikara. Dia mengatakan, tak menutup kemungkinan adanya keterlibatan asing.

“Ya tanya polisi saja. Harus ada investigasi untuk jawab itu kan kita nggak bisa menuduh sembarang orang. Penyelidikan polisi masih panjang. Bisa saja keterlibatan pihak asing,” ujarnya menuding.

Sutiyoso tak mau disalahkan terkait kerusuhan yang berujung pada pembakaran masjid dan ruko di Tolikara. Pasalnya, BIN sudah memberikan informasi terkait ancaman itu pada 11 Juli 2015.

“Direspons oleh aparat, Polres langsung rapat Muspida, melibatkan bupati, tokoh agama. Semuanya sudah dilibatkan termasuk melibatkan presiden GIDI, itu respons yang baik,” kata dia.

Sehingga, pada tanggal 17 Juli 2015 sudah banyak polisi dan tentara yang berjaga di wilayah itu.

“Kalau nggak ada informasi dari kita dari mana dia dapat informasi itu,” ujarnya membela diri.

Menurut dia, kerusuhan pecah karena aparat keamanan menghadapi massa yang brutal.

“Terjadi bukan di Tolikara aja, di mana mana kalau menghadapi massa brutal ya seperti itu.”

Editor: Wira

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Ini Kesaksian Jemaah Salat Id Korban Rusuh di Tolikara

Selasa, 21 Juli 2015 | 15:38 WIB

Ini Kesaksian Jemaah Salat Id Korban Rusuh di Tolikara

Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo bersama warganya pada awal Desember 2014 lalu. TEMPO/Cunding Levi

TEMPO.CO, Jakarta – Insiden yang terjadi di Tolikara, Papua, pada Jumat, 17 Juli 2015, meninggalkan beragam versi. Seorang jemaah yang melaksanakan salat Idul Fitri di Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) 1702-11, Karubaga, Nurmin, 32 tahun, menceritakan kembali pengalamannya saat itu.

Pada Jumat pagi, Nurmin berjalan dari rumahnya yang terletak sekitar lima meter dari markas Koramil menuju lapangan Koramil untuk melaksanakan salat Id. Ada ratusan umat muslim yang sudah berkumpul di lapangan markas Koramil. Salat Id pun dimulai.

Namun ketika rakaat pertama takbir kelima, Nurmin mendengar ada suara lantang yang diteriakkan sejumlah orang. “Tidak ada yang namanya ibadah gini, harus berhenti!” kata Nurmin menirukan suara yang didengarnya itu saat diwawancara Tempo, Selasa, 21 Juli 2015.

Mendengar teriakan tersebut, jemaah kehilangan konsentrasi ibadah. Tiba-tiba kondisi mulai memanas karena saling lempar batu antara orang-orang yang berteriak dan jemaah salat Id. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan dari aparat. “Semua berlari ketakutan,” ujarnya.

Berita Menarik 
Ditinggal Mati Suami, Wanita Ini Ingin Menikahi Anjingnya
Insiden Lillehammer, Kasus Salah Bunuh Agen Mossad
ISIS Rekrut Ayam Jadi Pembom Bunuh Diri, Kehabisan Amunisi?

Keadaan mulai ricuh. Nurmin melihat beberapa orang melempar batu ke arahnya, sejumlah kios dan rumah warga di sekitar markas Koramil terbakar. Nurmin dan beberapa jemaah salat Id lantas masuk ke dalam kantor Koramil. “Kami berkumpul di situ, takut kena batu,” ujarnya.

Nurmin mengaku rumahnya ikut terbakar. “Saya tidak tahu siapa yang membakar rumah saya karena banyak orang saat itu,” ujar Nurmin. (Baca: EKSKLUSIF: Marthen Jingga dan Nayus Akui Bikin Surat Edaran)

Nurmin heran karena selama ini umat muslim dapat melaksanakan ibadah dengan baik. “Tahun kemarin aman-aman saja,” ujarnya. Dia mengaku tidak tahu apa yang membuat kerusuhan tersebut terjadi.

Keterangan dari Nurmin ini sejalan dengan kronologi yang disampaikan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Natalius Pigai. Sehari setelah kejadian, atau pada Sabtu, 18 Juli 2015, Komnas HAM langsung mengeluarkan hasil analisis sementara kerusuhan di Karubuga, Tolikara, Papua.

Pigai menjelaskan, jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) marah dan memprotes polisi yang berjaga di sekitar lapangan markas Koramil. “Mereka protes karena sudah memberi imbauan, kemudian polisi balik menembak warga,” kata Pigai.

Rentetan tembakan polisi melukai sebelas orang, dan mengakibatkan satu orang meninggal. Kondisi semakin ricuh karena sejumlah kios, rumah, dan tempat ibadah dibakar. “Masyarakat melampiaskan kemarahan ke arah tempat ibadah. Kalau polisi tidak menembaki warga, pasti reaksi mereka berbeda,” kata Pigai. (Baca: EKSKLUSIF: Marthen Jingga Revisi Surat Edaran, Ini Isinya)

Dia menyayangkan sikap aparat yang arogan. Menurut dia, polisi di Papua terbiasa menangani kerusuhan dengan cara kekerasan.

Sementara itu, Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengakui polisi yang menjaga pelaksanaan salat Id sempat mengeluarkan tembakan peringatan. Namun massa mengamuk hingga menyebabkan puluhan kios dan sebuah tempat ibadah di sekitar lapangan markas Koramil habis terbakar.

DEVY ERNIS | PUTRI ADITYOWATI | DEWI SUCI

Hidayat Nur Wahid : Banyak Bendera Israel di Tolikara

Kamis, 23 Juli 2015 | 17:42 WIB

Hidayat Nur Wahid: Banyak Bendera Israel di Tolikara  

Ketua fraksi Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Jakarta — Tuduhan campur tangan asing dalam kerusuhan yang terjadi di Tolikara 17 Januari lalu kembali terlontar. Politikus Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid  menyampaikan temuan tim Komite Umat untuk Tolikara kepada wartawan di Jakarta, Kamis 23 Juli 2015.

Menurut Hidayat yang juga anggota Dewan Syuro Komat, ditemukan gambaran bendera Israel di beberapa rumah di Tolikara. Juga di tempat-tempat yang mudah dilihat warga Tolikara. “Kenapa  ada bendera bangsa Israel di Papua? Ini sangat layak dipertanyakan,” kata Hidayat yang juga Wakil Ketua MPR ini.

Hidayat mengatakan, fakta ini ditemukan tim Komat yang sudah terjun ke Tolikara Papua, sejak Selasa lalu. Gambaran bendera Israel itu menjadi aneh, karena selama ini Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. ” Bahkan di Jakarta pun kita menemui bendera ini. Ada apa dengan hal tersebut,” kata Hidayat.

Menurut Hidayat,  permasalahan di Papua sangat rentan untuk menjadikan kepentingan bagi pihak asing mengeluarkan Papua dari NKRI. Soalnya di Papua jarang terjadi konflik antaragama, sekalipun ada hanya antarsuku. Karena itu, Hidayata mencurigai, konflik sengaja diciptakan agar situasi Papua memburuk.

Jika memburuk pemerintah Indonesia bakal  dianggap lalai atau tidak mampu menjaga stabilitas keamanan di Papua. Di sinilah peran asing nantinya akan mengambil alih tanah Papua yang  banyak sumber daya alamnya. (Baca: Saat Rusuh Tolikara, Hanya 42 Aparat yang Berjaga)

Ada pihak asing yang berusaha mengganggu kerukunan hidup beragama di Papua. Salah satunya dengan menciptakan konflik antara umat Kristen dan Islam di Kabupaten Tolikara. “Permasalahan di Papua memang sangat rentan dijadikan sarana pihak-pihak asing mengeluarkan Papua dari Indonesia,” ujarnya.

Indikasi yang Hidayat percaya adalah ekspos di media sosial yang seolah-olah menimpakan semua kesalahan terhadap aparat setempat. Menurutnya faktor ini mudah sekali dimanfaatkan untuk memicu gerakan yang mengancam keutuhan negara.

Pada hari sebelumnya, Kepala BIN Sutiyoso sempat mengutarakan hal senada terkait keterlibatan pihak asing dalam penyerangan Tolikara ini. Meski begitu baik Sutiyoso dan Hidayat menggarisbawahi dugaan itu masih tahap kemungkinan. Pesan utama Komat untuk Kolitara pun mendorong pemerintah memulihkan kembali perdamaian dan toleransi di Papua. (Baca: Kisruh Tolikara Ada Campur Tangan Asing?)

Komat sendiri ialah komite yang terbentuk atas inisiatif beberapa tokoh lintas agama atas penyerangan umat muslim yang menyelenggarakan salat Id. Dalam laporan tim pencari faktanya, Komat menyatakan ada sekitar 500 orang.

BINTORO AGUNG S.

EKSKLUSIF TOLIKARA : Polisi Papua Tetapkan 2 Tersangka

Kamis, 23 Juli 2015 | 15:53 WIB

EKSKLUSIF TOLIKARA: Polisi Papua Tetapkan 2 Tersangka   

Suasana kawasan pertokoan yang kembali dibuka di kota Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, pasca kerusuhan Lebaran, 23 Juli 2015. TEMPO/Maria Hasugian

TEMPO.COJakarta – Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Yotje Mende mengatakan pihaknya sudah menetapkan dua tersangka dalam kasus kerusuhan di Tolikara. Polisi pun akan segera meringkus dua orang itu. “Ada tersangka dua orang. Segera akan dilakukan penangkapan,” ucapnya melalui pesan singkat, Kamis, 23 Juli 2015. (Baca juga: Penembakan di Tolikara, Kapolri: Sudah Sesuai Ketentuan)

Kapolda menuturkan penetapan tersangka Tolikara itu dilakukan setelah polisi melakukan pemeriksaan terhadap 50 orang. “Nama tersangka kasus Tolikara masih dirahasiakan,” ujarnya. Menurut dia, hal itu dilakukan karena penangkapan baru akan dilakukan pada esok hari.

Yotje mengatakan penangkapan belum bisa dilakukan hari ini karena kondisi belum memungkinkan. “Penangkapan baru akan dilaksanakan besok, 24 Juli, dengan mengedepankan tindakan persuasif,” ucapnya.

Baca:
Pasca-Insiden Tolikara, Tiga Instruksi Jokowi
Kepala BIN Pastikan Tak Ada Dendam Tersisa di Tolikara

Sebelumnya, bentrokan terjadi pada Jumat pagi lalu, ketika puluhan orang yang diduga anggota jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) memprotes penyelenggaraan salat id di lapangan Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) 1702-11, Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua. Mereka berdalih telah memberitahukan agar kegiatan ibadah Lebaran tak dilaksanakan di daerah tersebut karena berbarengan dengan acara seminar dan kebaktian kebangunan rohani (KKR) pemuda GIDI. (Baca juga: Perda Tolikara Tak Dilaporkan ke Pusat, tapi Berlaku)

Polisi yang mengamankan lokasi kerusuhan sempat mengeluarkan tembakan peringatan. Namun massa di Tolikara mengamuk hingga menyebabkan puluhan kios dan sebuah musala di sekitar lapangan habis terbakar. Seorang korban tewas dan belasan lainnya luka-luka terkena tembakan peluru.

MITRA TARIGAN

Dua Tersangka Provokator Tolikara Sudah Ditangkap

Kamis, 23 Juli 2015 | 17:52 WIB

Dua Tersangka Provokator Tolikara Sudah Ditangkap

Perenus Wanimbo, 28 tahun, salah satu dari 11 orang korban tertembak rusuh Tolikara pada Jumat, 17 Juli 2015 lalu. Perenus yang menderita tertembak di bagian betis kanan, kini sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dok 2 Kota Jayapura, Papua. Tempo/Cunding Levi

TEMPO.COJayapura – Kepolisian Daerah Papua sudah menangkap dua tersangka yang diduga terlibat kerusuhan di Kabupaten Tolikara, Papua. Dua pria itu kini dalam perjalanan ke Markas Polda Papua.

Kepala Polda Papua Inspektur Jenderal Yotje Mende mengatakan dua orang itu diamankan sore tadi oleh anggota kepolisian di Tolikara. “Sekarang sedang dibawa dari Tolikara ke Wamena untuk dibawa ke Jayapura,” ucap Yotje, Kamis, 23 Juli 2015.

Yotje menuturkan dua orang itu diduga sebagai provokator kerusuhan di Tolikara pada perayaan hari raya Idul Fitri lalu. “Dari hasil penyelidikan di lapangan, mereka adalah provokatornya,” ujarnya. Dua orang itu diketahui berinisial HK dan JW. Yotje masih enggan mengungkap lebih detail identitas dua tersangka itu.

Dari penyelidikan yang dilakukan kepolisian, kerusuhan tersebut terjadi secara spontan. Semua berawal dari penyelenggaraan kegiatan keagamaan berbeda pada waktu bersamaan. Umat Islam setempat melaksanakan salat id, sedangkan jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) melaksanakan seminar internasional.

Sebelumnya, GIDI menerbitkan surat edaran yang memberitahukan kegiatan seminar internasional di Tolikara sekaligus meminta umat Islam setempat tak melaksanakan salat id. Ketika umat Islam tetap melaksanakan salat id, jemaat GIDI melakukan protes yang berujung kerusuhan.

NINIS CHAIRUNNISA

Insiden Tolikara : PolDa Papua Bantah Kurang Personil

Kamis, 23 Juli 2015 | 18:26 WIB

Insiden Tolikara: Polda Papua Bantah Kurang Personil, tapi...

Perenus Wanimbo, 28 tahun, salah satu dari 11 orang korban tertembak rusuh Tolikara pada Jumat, 17 Juli 2015 lalu. Perenus yang menderita tertembak di bagian betis kanan, kini sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dok 2 Kota Jayapura, Papua. Tempo/Cunding Levi

TEMPO.COJakarta – Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Yotje Mende membantah anggapan bahwa pecahnya kerusuhan di Tolikara karena pihaknya kekurangan personel. Namun Yotje mengakui bahwa anak buahnya kurang mengantisipasi situasi yang berkembang. “Personel sebenarnya cukup. Kejadian kemarin karena kurang antisipasi saja,” kata Yotje Mende, Kamis, 23 Juli 2015.

Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso menyatakan kurangnya personel kepolisian saat insiden Tolikara terjadi. Kepolisian hanya menempatkan 42 petugas di lokasi tempat diadakannya dua kegiatan keagamaan berbeda.

Soal jumlah personel, Yotje menuturkan jumlah tersebut cukup. Menurut dia, Tolikara adalah kota kecil yang sudah memiliki personel pengamanan cukup. Sehari-hari pun, tak pernah ada konflik antara umat Islam dan jemaat gereja setempat. “Kerukunannya sangat bagus sekali di Papua. Situasi kemarin itu situasional yang tak disangka,” ujarnya.

Dia mengakui bahwa polres dan pemda setempat kurang mengantisipasi kemungkinan pecahnya konflik, mengingat kerukunan antarumat beragama di daerah itu selama ini terjalin baik. Personel kepolisian yang ditempatkan pun tak terlalu banyak, meski ada dua kegiatan keagamaan berbeda, yaitu pelaksanaan shalat id dan seminar internasional jemaat GIDI.

Yotje menuturkan kerusuhan itu terjadi secara spontan. Umat Islam yang sedang melaksanakan shalat id didatangi jemaat GIDI yang hendak protes karena salat tetap dilaksanakan. Sebelumnya, GIDI telah mengeluarkan edaran berisi imbauan untuk tak melakukan salat id karena ada kegiatan seminar internasional. Protes itu pun berujung pada kerusuhan.

Terkait dengan kerusuhan ini, Polda Papua telah menetapkan dan menangkap dua tersangka. Dua pria ini dianggap telah melakukan provokasi yang berujung pada kerusuhan. Mereka kini sudah diamankan dan akan dibawa menuju Jayapura.

NINIS CHAIRUNNISA

Advertisements

0 Responses to “Papua : Masjid Pertama di Patimburak, Fakfak dan Rusuh Tolikara”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,305,316 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: