22
Jul
15

Keuangan : Dialektika Penindasan Utang Luar Nergeri dan Modal Asing

Jakarta45

DIALEKTIKA PENINDASAN UTANG LUAR NEGERI DAN MODAL ASING DI INDONESIA.

Refleksi: Beginilah terjadinya pemerasan di Indonesia sebagai dampak dari utang luar negeri, dan modal asing,  menurut pemahaman orang awam, yang digambarkan secara grafik (Attach Pdf atau Word)

 

Penjelasan  tentang grafik : Garis titik-titik merah meruapakan batasan NKRI, yang mengantungkan dirinya pada Utang luar negeri dan Modal asing dalam menjalankan kebijakkan Infrastruktur Pembangunan. Anak panah merah tebal dalam grafik, menunjukkan besaran utang luar negeri, dan anak panah warna coklat adalah Modal asing.  Dengan demikian NKRI telah menghasilkan PRODUKSI DAN JASA (BRUTO SOSIAL PRODUK). Dari broto sosial produk tersebut, Pemerintah mendapatkan Pajak sebagai masukan.  Para kapitalis Birokrat, komprador+pemodal besar, dan bisnis militer mendapatkan surplus Economi (nilai tambah). Demikian juga BUMN dan para perantara juga mendapatkan surplus ekonomi. Komponen-komponen yang berada dalam garis titik-titik merah ini berada dalam cengkeraman pihak asing ( utang luar negeri dan Modal asing), yang dalam konteks ini Utang Luar Negeri ditempatkan diatas, dan Modal Asing ditempatkan dibawah , dalam grafik.Sehingga NKRI terjepit ditengah-tengah.

 

Sementara itu ekonomi Rakyat (ekonomi lemah) terus menggantungkan hidup mereka , dan berada dalam kerangkeng eksploitasi oleh kekuatan ekonomi yang berada dalam starta atas, yang ditunjukkan dalam garis  titik-titik warna ungu yang memagarinya. Dalam konteks ini rakyat tidak mendapatkan pembagian nilai lebih, mereka hanya menerima upah dan penghasilan subsisten. Ini dibuktikan antara lain dalam bentuk semakin besarnya kemiskinan dan semaikn tingginya tingkat pengangguran. Kebangkitan posisi ekonomi rakyat terblokir, sementara strata atas dalam ekonomi menikmati nilai tambah ekonomi yang massif.

 

Demikianlah dialektika penindasan Utang Luar negeri dan modal asing di Indonesia. Meskipun dana tabungan tidak dipakai, tapi toh harus juga menbayar bunga utang. Dalam konteks ini Rakyat kecil mengalami dobel penindasan (penindasan rangkap), yaitu dari utang luar negri + modal asing, dan dari para pemodal besar, bisnis militer, dan perantara-perantaranya, yang dalam grafik dilukiskan sebagai strata atas.

Secara keseluruhan dampak dari Utang luar negeri dapat disimpulkan bahwa : Indonesia yang Merdeka sekarang ini dapat dikatakan merupakan replika dari Indonesia yang Terjajah pada zaman kolonialisme Belanda, yang dampaknya adalah: INDONESIA TERUS MERUPAKAN PEMASOK  SURPLUS EKONOMI YANG SETIA PADA PIHAK ASING!!!  .

 

Utang Luar Negeri.

 

Dalam dunia perekonimian masalah utang luar negeri adalah suatu masalah yang masih belum bisa dipecahkan oleh pemerintah NKRI. Pemerintah NKRI sampai saat ini masih belum mampu untuk melunasi utang negaranya.  Bisa dipercaya bahwa utang luar negeri NKRI akan memperburuk keuamngan negara, karena penghasilan NKRI (Broto sosial Produk- lihat grafik) hanya sebagaian yang bisa masuk kas negara (tabungan), karena sebagian harus digunakan untuk membayar utang luar negeri tersebut, dan sebagian lagi dari nilai lebih masuk kekantong para kapitalis birokrat,komprador dan perantara-perantara dan calo-calo.

 

Utang luarnegeri NKRI tidak hanya memiliki resiko terhadap keuangan negara, tapi beresiko juga pada masyarakat. Karena pembanyaran utang melalui APBN, pada dasarnya dibayar oleh masyarakat melalui pajak (lihat grafik). Sampai sekarang masyarakat terus menanggung bunga utang oblikasi rekapitalisasi perbankan tidak kurang Rp. 50 triliun/tahun kepada  perbakan (data BPS). Keadaan seperti ini akan ditanggung juga oleh generasi bangsa dimasa depan.  Demikianlah bentuk mekanisme  penindasan dalam konteks utang Luar negeri di NKRI.

Sulit untuk mengharapkan kebijakan ekonomi Indonesia bersih dari kepentingan lembaga multilateral atau negara donor asing, seperti IMF, Bank Dunia, Tiongkok. Ini disebabkan oleh karena Pemerintah Indonesia dimana kondesi keuangan negara kita sekarang ini buruk, dan kondesi sosisal kita secara signifikan masih di warnai oleh kemiskinan dan pengangguran (terbuka plus terselubung), kita sudah buru-buru melangkah ke arah pembanunagn mega infrastruktur canggih, dengan high tech industri secara selektif dan bertahab sebagai gengsi, yang mebutuhkan dana sebesar sekali. Untuk maksut tersebut tiada jalan lain, kecuali Indonesia akan semakin terjerat oleh Utang luar negeri, yang dalam konteks ini sebasar Rp.650 Triliun, yang disertai dengan tenaga kerja dari Tiongkok.

Dampak dari utang luar negeri:

1.   Dampak langsung dari utang yaitu cicilan dan bunga utang yang semakin mencekik, sampai negra harus menguras bersih tabungan pemerintah (lihat grafik), karena kita sudah terjebak dalam jaringan utang luar negeri, yang menurut istilahnya pak Kwik Kian Gie disebut debt trap.

2.   Hilangnya kemandirian akibat keterbelengguan atas keleluasan arah pembangunan negeri, oleh si pemberi utang, dan hilangnya kehendak untuk melaksanakan Pasal 27 (aya2) UUD 45 . Ini adalah dampak yang paling hakiki dari utang Uar negeri.

Dampak tersebut diatas nampak sangat serius, kareana kedaulatan dalam pengolahan ekonomi Indonesia akan terampas, sehingga pada akhirnya arah pembangunan kita penuh dengan kompromi dan di setir, sehingga NKRI akan semakin terjepit (lihat grafik) dan terbelenggu dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh negara pendonor.

Menurut aliran neoklasik memang ada yang positif dari utang luarnegeri. Hal ini dikarenakan menambah cadangan devisa dan mengisi modal pembangunan untuk mengejar ketinggalan-ketinggalan dari negara-negara maju. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Jokowi bahwa tambah utang menguntungkan; ya menguntungkan siapa???

Adalah cukup beralasan dalam kondesi keuwangan NKRI sekarang ini dan kondesi sosial kita yang secara signifikan masih diwarnai oleh kemiskinan dimana-mana, dan pengangguran baik yang berbuka maupun yang tertutup, kita melakukan lompatan katak tanpa pertimbangan-pertimbangan yang mendalam dalam melakukan pembangunan  mega infrastrukrur, langkah ini sangat dikhawatirkan akan merusak upaya-upaya pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja yang luas, dan meningkatkan kewalitas sumberdaya manusia secara menyeluruh.

Nampaknya sudah tidak ada lagi peluang untuk mengurangi jumlah utang luar negri, karena masih banyak utang lama yang sudah jatuh tempo tapi belum dibayar cicilan dan bunga utangnya, hingga April 2015, total utang luar negeri Indonesia sudah mencapai 299,84 miliar dollar AS, Sabtu (18/7), utang luar negeri Indonesia sudah menembus Rp. 4002 triliun. Utang pemerintah sendiri tercatat sudah Rp 2.845,25 triliun, dan utang pda Tiongkok sejumlah Rp.650 triliun.

Sampai sekarang saya tidak yakin bahwa strategi pembangunan infrastruktur yang didasarkan pada utang luarnegeri, akan dapat membawa Indonesia kearah berdaulat dibidang Politik, Berdikari dibidang ekonomi dan Berkepribadian dibidang Budaya, yang di diklarasikan dalam Trisakti Bung Karno, yang digembar-gemborkan Jokowi dalam pemilu dan pilpres 2014 untuk meraih kemenangannya.

Roeslan.

__._,_.___

Attachment(s) from roeslan roeslan12@googlemail.com [nasional-list] | View attachments on the web

2 of 2 File(s)


Posted by: roeslan <roeslan12@googlemail.com>

 

 


0 Responses to “Keuangan : Dialektika Penindasan Utang Luar Nergeri dan Modal Asing”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,880 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: