22
Jul
15

Bencana Sosial : Kronologi Insiden Tolikara Versi Polisi

http://www.gatra.com/fokus-berita/156879-kronologi-insiden-tolikara-versi-polisi.html

Kronologi Insiden Tolikara Versi Polisi

Created on Sunday, 19 July 2015 12:13

Kapolda Papua, Irjen Pol Yotje Mende (antaranews)

Jayapura, GATRANews– Kepolisian Daerah Papua mengklaim pelaku pelemparan umat muslim saat sholat idul fitri 1436 H di Karubaga, Tolikara berkisar 300-500 orang. Massa terus bertambah dan brutal, apalagi saat aparat keamanan berusaha membubarkan massa dengan tembakan peringatan.

Kapolda Papua, Irjen Pol Yotje Mende mengatakan saat aparat berusaha membubarkan pelaku pelemparan, massa berhamburan disekitar halaman Koramil 1702/Wms. Mereka memenuhi halaman depan dan belakang koramil.

Disaat aparat melakukan upaya pembubaran massa, 500-an massa makin brutal dan melakukan pembakaran kios di sekitar lapangan tempat dilakukan sholat tersebut.

Kios yang pertama dibakar adalah kios bernama Silvia dan kios milik Sutarno. Mobil Strada miliknya ikut terbakar.

Dari pembakaran dua kios ini, api langsung menjalar ke kios-kios lain disekitarnya, sehingga terjadi kebakaran hebat yang melanda 54 kios yang dimiliki oleh 38 kepala keluarga.

“Dari pembakaran kios itu, api juga menjalar ke mushola yang terletak dideretan kios-kios yang dibakar. Jadi menurut pengakuan saksi mata, mushola yang berada dideretan kios tak langsung dibakar, tapi api yang melahap mushola berasal dari kios disekelilingnya,” jelas kapolda kepada wartawan di Jayapura.

Lanjut Kapolda Yotje, saksi mata juga menyebutkan, pembakaran kios terjadi karena ada isu yang beredar bahwa ada warga tewas tertembak. Sebab itulah massa beringas langsung membakar kios yang ditinggal pemiliknya yang rata-rata sedang melakukan sholat ied.

“Kios yang juga menjadi tempat tinggal warga tersebut rata-rata berukuran kecil, luasnya sekitar 4×6 meter. Setelah didata, ada 48 kios milik warga pendatang dan 6 kios milik warga asli Tolikara. Bahkan ada keluarga dari Presiden GIDI yang kiosnya ikut dibakar,” jelasnya.

Dalam pertemuan dengan Muspida di Tolikara yang dilakukan Kapolda Yotje sehari sebelumnya, didapat kesepakatan bahwa Bupati Toalikara Usman Wanimbo akan mengganti semua kerugian kios dan rumah yang dibakar massa.

Bupati juga akan melakukan pertemuan perdamaian kedua warga muslim dan kristiani didaerahnya. “Kesepakatan perdamaian dilakukan untuk kedua belah pihak tak memperpanjang masalah kericuhan yang terjadi di Tolikara. Pemkab setempat juga akan membantu pemulihan kesehatan bagi korban tembak pasca rusuh tersebut,” paparnya


Reporter: LLL

Editor: Nur Hidayat

Selasa, 21 Juli 2015 , 21:24:00
 Musala di Tolikara Dibakar, Masjid Baru Mulai Dibangun

TOLIKARA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo melakukan peletakan batu pertama tanda dimulainya kembali pembangunan musala yang terbakar di Tolikara pada perayaan Idul Fitri, Jumat (17/7) lalu. Peletakan batu pertama masjid di halaman markas komando rayon militer (Koramil) itu dilakukan Tjahjo bersama tokoh agama, Pangdam Trikora dan Bupati Tolikara, Selasa (21/7).

“Saya juga memberikan dana sedikit sebagai stimulan pembangunan awal masjid secara gotong royong. Panglima TNI dan Pangdam setuju tanah Koramil dipakai dahulu untuk pembangunan Masjid Tolikara yang terbakar,” ujar Tjahjo melalui pesan elektronik ke media.

Tjahjo dalam pesannya juga meminta Gubernur Papua Lukas Enembe agar memprioritaskan agenda kerja dengan turun langusng ke tengah masyarakat. Sebab, saat ini Lukas masih didera penyakit.

“Ini untuk menenangkan dan memahamkan masyarakat akan pentingnya kerukunan umat beragama di Papua. Ini tanggungjawab gubernur, pemda harus hadir di tengah-tengah masyarakat yang sedang ada permasalahan,” ujar Tjahjo.

Terkait adanya permintaan dari DPRD Tolikara, agar kasus penembakan juga diusut, Tjahjo mengaku telah meminta pada Polri untuk menyelidikinya. Terutama guna mencari dalang provokasi penyerangan dan perusakan kios-kios serta musala di Tolikara.

Sedangkan demi menormalkan aktivitas warga, Pemkab Tolikara telah menyediakan gedung pemda untuk sementara ditempati pedagang yang kiosnya dibakar. “Agar masyarakat bisa berdagang kembali dan perekonomian berjalan normal. Saya juga meminta TNI dan Polri membuat posko penjagaan sementara di batas masuk Kabupaten Tolikara,” ujarnya.

Mantan Sekjen DPP PDIP itu menambahkan, upaya mencegah warga dari luar daerah masuk ke Tolikara diperlukan agar suasana segera kondusif. Dengan demikian masyarakat juga bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

“Dalam pengamatan saya selama di Tolikara, warga masyarakat beraktivitas wajar. Suasana biasa, tenang. Prajurit TNI dan masyarakat gotong royong membersihkan reruntuhan puing-puing kios dan masjid yang terbakar,” ujar Tjahjo.(gir/jpnn)

 

http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2015/07/20/74277/laporan-langsung-dari-tolikara-bismillah-kami-ke-tolikara.html

Laporan Langsung dari Tolikara :

Bismillah, Kami Ke Tolikara

Bismillah, Kami Ke Tolikara

Senin, 20 Juli 2015 – 12:06 WIB

Hidayatullah.com – Menembus Tolikara bukan pekerjaan mudah, Selain butuh waktu juga butuh nyali. Saat hendak menuju lokasi, hidayatullah.com, ditemani tim Baitul Maal Hidayatullah (BMH ) terkendala beberapa hal, Mulai factor keamanan, transportasi dan konsumsi.

“Begitu tiba, di Wamena, kami langsung melapor di kantor Kodim Wamena, setelah dipastikan kondisi aman, kami langsung mendapat izin dari Komandan Kodim Wamena untuk menuju Tolikara, “ ujar Sarmadan dari hidayatullah.com, Senin ( 20/05/2015).

Persoalan kedua, stok Bahan Bakar Minyak ( BBM) berjenis solar menjadi langka, Ini dikuasai Restu, non Sopir Strada Triton 4wd yang menemani Sarmadani.

“Kami harus mencari solar ke semua penjualan eceran,” ujar Restu ditirukan Sarmadani.

Persoalan selanjutnya, ketika hendak makan siang, Belum ada warung Muslim yang buka. Ada warung makan hanya saja menjual daging babi.

“Jangan. Di warung itu Pak, meragukan untuk kita” ungkap Restu melarang kami.

Untuk bekal konsumsi tim hidayatullah.com dan BMH membeli beberapa bungkus roti dan air mineral.

Ya beginilah kondisi menuju Tolikara, Selain terpencil, hingga berita adanya musibah saat Idul Fitri lalu belum ada satupun pihak selain aparat keamanan apalagi wartawan yang dikabarkan bisa masuk.

“Bismillah kami ke Tolikara, Semoga Allah berikan kekuatan iman,” ujar Sarmadani meminta doa dan dukungan pembaca,*

Rep: Cholis Akbar

Editor: Huda Ridwan

+++++

http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2015/07/20/74280/laporan-langsung-dari-tolikara-kirim-tim-dakwah-bmh-bersiap-bantu-muslim-di-tolikara.html

Laporan Langsung dari Tolikara :

Kirim Tim Dakwah, BMH Bersiap Bantu Muslim di Tolikara

Senin, 20 Juli 2015 – 12:08 WIB

Kirim Tim Dakwah, BMH Bersiap Bantu Muslim di Tolikara

Hidayatullah.com-Tragedi yang menimpa Muslim Tolikara telah menjadi perhatian semua pihak, termasuk Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

“Alhamdulillah, pagi tadi, tim BMH telah sampai di Wamena. Untuk ke Tolikara tim harus menempuh jarak kurang lebih 100 Km dari Wamena, dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam mengunakan Strada Triton 4WD,” demikian ungkap Humas BMH Pusat Imam Nawawi.

Untuk bisa mendapatkan jenis kendaraan tersebut, tim BMH harus menyewa dengan biaya sebesar 3 juta rupiah. Dan, setelah melapor ke kantor aparat di Wamena, tim BMH pun berangkat ke Tolikara tepat pukul 10: 45 Waktu Indonesia Timur.

Kedatangan BMH langsung ke Tolikara tidak lepas dari upaya-upaya merealisasikan niat baik kaum Muslimin yang peduli terhadap kondisi kaum Muslim Tolikara.

Sebagai informasi, tim pertama yang diterjunkan BMH Pusat terdiri dari Kepala BMH Cabang Jayapura, Dai Tangguh BMH di Jayapura yang membawa misi dakwah dengan kelembutan dan kedamian.

“Setelah tim ini berhasil melakukan asessment, BMH Pusat akan menerjunkan tim lanjutan untuk kelangsungan program dakwah, pembangunan masjid kembali, serta pendidikan anak-anak Muslim di Tolikara,” pungkas Imam.*/Sarmadani

Rep: Cholis Akbar

Editor: Huda Ridwan

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://pekanews.com/2015/07/meski-tolikara-cuma-kabupaten-kecil-tapi-bendera-dan-simbol-israel-banyak-dijumpai/

Meski Tolikara Cuma Kabupaten Kecil, Tapi Bendera dan Simbol Israel Banyak Dijumpai

editor

July 23rd, 2015, 4:00 pm

★★★★★

Share this on WhatsApp

Seorang relawan dengan back-round bendera Israel di sebuah kios di Tolikara. foto: Hidayatullah

Seorang relawan dengan back-round bendera Israel di sebuah kios di Tolikara. foto: Hidayatullah

Semakin dikenali, kabupaten Tolikara semakin di jumpai keanehan. Pasalnya, kabupaten Tolikara merupakan bagian dari Provinsi Papua dengan luas sekitar 5.234 KM2.

Kemudian, seperti dilaporkan laman Hidayatullah (22/7/2015), Tolikara yang diapit Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Jawawijaya Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Jayawijaya merupakan kabupaten baru hasil pemekaran pasca hadirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus.

Dan Kabupaten Tolikara yang beribukota di Karubaga terbagi dalam 514 Desa dan 35 Kecamatan. Meski demikian, jangan bayangkan desa di daerah layaknya di Jawa. Sebab, satu desa kadang hanya puluhan rumah.

Komoditi unggulan Kabupaten Tolikara yaitu sektor pertanian dan jasa. Sub sektor Pertanian komoditi yang diunggulkan berupa Jagung dan Ubi Kayu.

Yang menarik, meski merupakan tempat terpencil dan akses masih sulit, beberapa pihak mengatakan, pesawat milik orang asing bisa datang dan pergi seenaknya.

Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di wilayah ini tersedia 1 bandar udara, yaitu Bandara Bokondini, namun beberapa saksi yang ditemui hidayatullah.com, banyak bandara khusus orang asing yang hilir mudik tidak bisa terpantau.

“Di sini banyak pesawat asing datang dan pergi tidak terpantau. Karena aparat di sini sedikit,” demikian ujar salah seorang aparat yang tak mau disebutkan namanya kepada hidayatullah.com.

Yang tidak kalah menarik, banyak bendera-bendera Israel jadi pajangan warga. Pantauan hidayatullah.com, mudah dijumpai kios-kios warga dihias mengikuti bendera Israel biru-putih bergambar Bintang David.

Kebetulan, saat beberapa jam menginjakkan kaki di Tolikara pertama kali hari Senin (21/07/2015) media ini bisa menyaksikan ramainya masyarakat luar Tolikara mengikuti arak-arakan penutupan kegiatan seminar dan KKR Pemuda GIDI tingkat internasional yang diselenggarakan sejak tanggal 13 Juli 2015.

Diperkirakan sekitar 7000 orang mengikuti arak-arakan, dan sebagian banyak mengibarkan bendera Israel.

Sementara itu, banyak warga lokal sendiri masih kurang memahami arti bendera-bendera Israel tersebut.

Gambar dan logo Israel di Tolikara

[jks]

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

LUIS surati Kapolri terkait teror umat Kristen Papua saat Idul Fitri
A. Z. Muttaqin Ahad, 3 Syawwal 1436 H / 19 Juli 2015 22:39
image
Laskar Umat Islam Surakarta saat mendatangi Mapolres Solo
SOLO (Arrahmah.com) – Beberapa perwakilan elemen Islam Solo mendatangi Mapolres Solo, Ahad (19/7/2015) pukul 13.30 wib. Hadir dalam audiensi ini adalah Salman Al Farisy (LUIS), Joko Sutarto (Tim Advokasi Umat), Musidi (JAS), Rosyid (FKAM) ditrerima Kompol Giyono selaku Kasat Intel Polresta Solo.
Endro Sudarsono melaporkan, dalam pertemuan ini Salman Al Farisy membacakan Surat yang ditujukan kepada Kapolri, dan diterima kompol Giyono yag didampingi dari pejabat Polda Jateng.
Berikut ini selengkapnya isi surat LUIS kepada Kapolri,yang diterima redaksi Ahad (19/7/2015)
No : 256/HM-DPP LUIS/VII/2015
Hal : Pengusutan Kasus Pembubaran Sholat Iedul Fitri yang disertai Pelemparan Batu dan Pembakaran Mushola, Rumah dan Kios
Kepada : Yth. Bapak Kapolri
Di Jakarta
Dengan Hormat,
Berdasarkan telaah dan kajian dari Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) bahwa Tragedi Pembakaran Mushola Baitul Mustaqin kabupaten Tolikara Papua Jumat, 17 Juli 2015 sekitar pukul 07.00 saat Imam Sholat Iedul Fitri mengumandangkan takbir pertama telah ditemukan data-data sebagai berikut:
Adanya Surat Resmi Pelarangan Berjilbab dan Perayaan Idul Firti pada tanggal 17 Juli 2015 dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) No : 90/SP/GIDI-WT/VII/2015 yang ditembuskan ke Bupati, Ketua DPRD, Kapolres dan Kodim Tolikara tertanggal 11 Juli 2015 yang ditandatangani Ketua GIDI Tolikara Pdt. Nayus Wenea, S.Th dan Sekertaris Marthen Jingga, S.Th; MA dengan Alamat Surat kepada Umat Islam Se-Tolikara
Mushola Baitul Mustaqin merupakan Mushola yang berada di wilayah hukum Koramil 1702/JWY
Kerugian yang terjadi :
1 tempat ibadah Mushola Baitul Mustaqin di wilayah hukum TNI
70 rumah kios yang berkontruksi kayu terbakar
38 rumah terbakar
12 orang terluka dari kelompok Perusuh semuanya dari Jemaat GIDI
153 orang mengungsi
Kelompok pembakar Mushola Baitul Mustaqin berjumlah 150 orang
Berdasarkan temuan data diatas maka patut diduga bahwa Surat dari GIDI tentang Pelarangan Berjilbab dan Perayaan Idul Firti pada tanggal 17 Juli 2015 merupakan awal provokasi dan penyebab terjadinya “Tragedi Dibakarnya Mushola Baitul Mustaqin.”
Untuk itu kami meminta kepada Kapolri untuk :
Menangkap, memeriksa Ketua GIDI Tolitora Pdt. Nayus Wenea, S.Th dan Sekertaris Marthen Jingga, S.Th; MA karena telah menciptakan rasa tidak nyaman dan diskriminatif terhadap umat Islam di Tolikora, serta mendalami dugaan adanya hasut, menggerakan massa maupun aktor intelektual dibalik pembakaran Mushola Baitul Mustaqin
Menangkap 150 orang perusuh karena telah merusak Mushola Baitul Mustaqin yang merupakan simbol tempat ibadah umat Islam sekaligus perlu diingat bahwa Mushola tersebut berada di wilayah hukum TNI, yang merupakan fasilitas negara untuk Bimbingan Mental (Bintal) para prajurit.
Segera memprioritaskan pendekatan penegakan hukum dan menyampaikan ke publik para pelaku pengrusakan Mushola Baitul Mustaqin agar ada kepastian hukum sekaligus menghindari adanya penilaian pembiaran perbuatan melawan hukum.
Surakarta, 19 Juli 2015
Ketua II LUIS
Salman Al Faris
__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Senin, 20 Juli 2015
Presiden GIDI Bantah Surat Edaran Larangan Ibadah
Presiden Sinode Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), Pendeta Dorman Wandikbo (Ist)Presiden Sinode Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), Pendeta Dorman Wandikbo (Ist)JAYAPURA- Presiden Sinode Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), Pendeta Dorman Wandikbo menegaskan bahwa badan pengurus pusat tidak pernah mengeluarkan surat edaran yang mengandung unsur larangan ibadah bagi umat muslim maupun penggunaan jilbab di Tolikara. Hal ini disampaikannya kepada Bergelora.com di Jayapura, Senin (20/7).
 
Pendeta Dorman Wandikbo mengatakan, pihaknya tidak pernah melarang umat muslim beribadah maupun menggunakan jilbab di wilayah Tolikara, seperti termuat dalam surat edaran nomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015, yang dikeluarkan di Karubaga tertanggal 11 Juli 2015. Surat tersebut ditandatangani oleh Ketua Wilayah Toli, Pendeta Nayus Wenda dan Sekretaris, Pendeta Marthen Jingga, dengan logo GIDI, serta ditembuskan kepada Bupati Tolikara, Ketua DPRD Tolikara, Polres Tolikara, Dandramil Tolikara dan file.
“(Surat) itu betul ada, tapi tanpa konfirmasi dengan saya selaku Presiden GIDI. Tanpa konfirmasi ke Bupati Tolikara sebagai ketua panitia juga sebagai penanggunjawab. Setelah kasi keluar surat itu tanggal 11 Juli, lalu tanggal 12 atau 13 Kapolres telpon Pak bupati dan saya,” jelasnya.
Baca Lengkap:
__._,_.___

Posted by: Demi Tanah Air <demitanahair@yahoo.com>


Jangan Sampai Kerusuhan Tolikara Meluas di Tanah Air
Senin, 20 Juli 2015 | 9:43

[MEDAN] Kerusuhan di Tolikara, Papua saat perayaan Idul Fitri 1436 Hijriyah bisa merembet ke daerah lain jika pemerintah daerah bersama dengan forum komunikasi antarumat beragama dan kepolisian tidak mengambil langkah antisipasi.

“Papua merupakan daerah yang selama ini tenang dan damai, justru membara saat Idul Fitri. Patut diduga, ada dalang di balik kerusuhan tersebut,” ujar Ketua Forum Suara Rakyat Indonesia, Gandi Parapat kepada SP di Medan, Sumatera Utara, Senin (20/7).

Gandi mensinyalir, ada kelompok menginginkan terjadinya benturan yang mengarah ke suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) di Tanah Air. Sasaran awal dipancing dari daerah terpencil, yang kemudian meluas ke tingkat daerah di Tanah Air. “Pemerintah bersama unsur lainnya perlu turun langsung ke daerah terpencil, melakukan sosialisasi untuk mempererat tali silaturahmi dan kerukunan antarumat bergagama. Sangat memungkinkan, Tolikara tersulut karena terhasut,” katanya.

Menurutnya, bangsa ini akan hancur jika mudah dipecah. Apalagi, bangsa ini dikenal dunia internasional karena mampu menyatukan masyarakatnya yang heterogen tersebut. Meski berbeda suku maupun agama, masyarakatnya saling menghormati. “Bila kerukunan antarumat beragama ini sudah tercoreng maka bisa berdampak pada ekonomi bangsa ini. Patut diantisipasi, insiden Tolikara juga bisa terjadi di daerah terpencil lainnya. Tokoh agama dan elemen masyarakat pun harus berperan,” sebutnya.

Ditambahkan, Sumut juga pernah diorganisir kelompok tertentu supaya bisa terbelah. Untungnya, masyarakat di daerah itu cepat mengantisipasi perpecahan tersebut. Sehingga, daerah itu tetap aman dan tidak mudah terpecah akibat berbedaan. [155/N-6]

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Ada Brondongan Timah Panas Dahului Insiden Tolikara

Minggu, 19 Juli 2015
Salah satu korban tertembak aparat sebelum insiden, sedang digotong dari lokasi penembakan menuju Bandara Karubaga untuk dievakuasi ke RSUD Dok 2 Jayapura (Foto : Badan Pengurus GIDI). (Ist)‏Salah satu korban tertembak aparat sebelum insiden, sedang digotong dari lokasi penembakan menuju Bandara Karubaga untuk dievakuasi ke RSUD Dok 2 Jayapura (Foto : Badan Pengurus GIDI). (Ist)‏JAYAPURA- Insiden di Tolikara yang menyebabkan terbakarnya sebuah rumah ibadah didahului dengan brondongan timah panas yang melukai 12 orang dan menewaskan seseorang. Hal ini dijelaskan olehPresiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Pendeta Dorman Wandikmbo dalam kronologi yang diterima Bergelora.com di Jayapura, Papua, Sabtu (18/7).
Dibawah ini kronologi lengkap versi pimpinan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) atas insiden/peristiwa di Kabupaten Tolikara:
Pada Jumat, 17 Juli 2015, pukul 08.30 WIT, beberapa Pemuda gereja mendatangi kelompok umat Muslim yang sedang melangsungkan Sholad ied, dengan maksud menyampaikan aspirasi secara damai dan terbuka, bahwa sesuai (Peraturan Daerah) Kabupaten Tolikara, berdasarkan aspirasi Gereja dan Masyarakat – isinya boleh melaksanakan ibadah, tapi tidak menggunakan toa atau penggeras suara karena dapat menggangu ribuan pemuda yang bersiap untuk melangsungkan seminar dan KKR, apalagi jarak toa atau pengeras suara dengan tempat dilangsungkannya ibadah umat GIDI hanya berjarak sekitar 300meter.  
 
Baca Lengkap:
 

__._,_.___


Posted by: Chalik Hamid <chalik.hamid@yahoo.co.id>

On 07/20/2015 09:23 PM, Awind wrote:

http://www.antaranews.com/berita/507984/negara-harus-hadir-ciptakan-keharmonisan-antarumat-beragama

Negara Harus Hadir Ciptakan Keharmonisan Antarumat Beragama
Selasa, 21 Juli 2015 02:17 WIB | 142 Views
Pewarta: Gilang Galiartha

Negara             harus hadir ciptakan keharmonisan antarumat beragama

Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai. (ANTARA FOTO/Dhoni Setiawan)

Jakarta (ANTARA News) – Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Natalius Pigai menyebutkan bahwa Negara harus hadir dalam upaya menciptakan kehidupan masyarakat yang sarat keharmonisan antarumat beragama.

“Saya kira yang paling pertama dan utama adalah, kehadiran Negara. Negara harus hadir,” kata Natalius saat dihubungi ANTARA News dari Jakarta, Senin.

“Kehadiran Negara itu bisa berupa instrumen hukum yang menjamin kebebasan beragama, artinya aturan yang tidak mengekang kebebasan beragama tetapi justru memberikan ruang untuk kebebasan beragama,” ujarnya menambahkan.

Selain kehadiran Negara dalam bentuk regulasi, Natalius juga menekankan betapa pentingnya menegakkan keadilan dalam bersikap di antara para pemimpin bangsa.

Sebab keadilan bersikap akan selalu menjadi hal penting yang direspon oleh masyarakat.

“Contohnya begini, ketika ada gereja dibakar pemerintah serius memperhatikan, tetapi ketika masjid dibakar pemerintah diam, saya kira itu kan masalah. Atau sebaliknya, misalkan insiden yang terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua, yang menyebabkan mushala terbakar seluruh negara memperhatikan, tetapi ketika ada rumah ibadah lain dilarang berkegiatan atau hingga dibakar negara tidak memperhatikan, itu akan menjadi masalah,” katanya.

Selain dua hal tersebut, kehadiran negara dan keadilan bersikap, Natalius juga menyoroti peran penting Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam menghidupkan toleransi serta membentuk harmoni antarumat beragama.

Menurut Natalius, selama ini FKUB belum berjalan secara optimal, terlihat dengan masih terjadinya pelarangan pembangunan rumah ibadah di sejumlah daerah di Indonesia.

“Lucunya, FKUB itu kan dikelola oleh wakil kepala daerah, sementara biasanya untuk proyek pembangunan termasuk pembangunan rumah ibadah ditangani langsung oleh kepala daerah. Ketika anggaran jadi urusan kepala daerah, sementara urusan yang berkaitan dengan ketenteraman, kedamaian warga dan lain sebagainya justru menjadi urusan wakil kepala daerah,” ujarnya.

Sementara itu dari peranan masyarakat, Natalius meyakini mayoritas masyarakat Indonesia memiliki cara pandang yang cukup moderat, toleran dan menghargai sesama, bahkan faktanya hubungan kekerabatan di Indonesia sebagian besar masih berbasis etnik atau budaya ketimbang agama.

“Ikatan yang besar itu, memupuk toleransi antara yang satu dengan yang lain. Hanya saja yang menjadi persoalan adalah akan selalu ada orang-orang tertentu yang kerap menjadi motor pergerakan intoleransi, aktor intelektual. Semua konflik selalu ada aktor intelektual di dalamnya,” pungkas Natalius.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2015

__._,_.___

Posted by: Awind <j.gedearka@upcmail.nl>

Kasus Tolikara

Ada Apa Kapolda Ingatkan Gubernur Papua?
Selasa, 21 Juli 2015 | 17:31

[JAYAPURA] Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Pol Yotje Mende menyarankan agar Gubernur Lukas Enembe untuk lebih peduli dalam konflik sosial yang terjadi di Karubaga, Kabupaten Tolikara, pada Jumat (17/7) pagi.

“Saya sarankan kepada Gubernur untuk peran aktifnya, termasuk juga dengan tokoh adat dan masyarakat setempat,” kata Kapolda Papua Irjen Pol Yotje Mende di Kota Jayapura, Papua, Selasa.

Ia mengatakan berdasarkan UU nomor 7 tahun 2012, menyebutkan bahwa jajaran provinsi, seperti TNI dan Polri tingkat daerah jika sudah terlibat langsung dalam penanganan konflik sosial, maka secara otomatis kepala daerahnya juga harus aktif di dalamnya.

“Jangan hanya bola panas ini diserahkan kepada kepolisian. Kami (polisi) akan aktif dengan penegakan hukumnya dan Gubernur dengan penanganan kemanusiaannya, sebab banyak juga saudara kita menjadi korban dalam kejadian ini. Termasuk pada penanganan rekonsialisi dan rekonstruksi,” katanya.

Mende mengemukakan bahwa hingga kini jajarannya tengah bekerja untuk melakukan penegakkan hukum secara humanis, karena menyesuaikan dengan situasi yang terjadi di lapangan.

“Masih banyaknya massa yang berkumpul di Tolikara untuk melaksanakan KKR dan seminar gereja GIDI. Tidak semua massa disana adalah pelaku ricuh sehingga kami juga harus hati-hati dalam penyelidikan dan penyidikan,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Papua Lukas Enembe meminta media massa, khususnya media nasional serta media sosial (facebook, twitter) dan lainnya tidak membesar-besarkan (memblow up – red.) insiden Tolikara.

Sebab selama ini, Papua dibangun dengan semangat toleransi dan kerukunan umat beragama di bawah semboyan Kasih Menembus Perbedaan, kata Gubernur Lukas dalam keterangan pers yang diterima, Senin malam.

Gubernur juga meminta umat Kristen dan Muslim di Kabupaten Tolikara dan di seluruh Papua dan Indonesia untuk menjaga perdamaian dan tidak terprovokasi oleh isu atau berita-berita yang provokatif dan tidak berimbang.

“Kasus Tolikara ini kan bersifat insidental, muncul karena kesalahpahaman baik antaraumat beragama maupun masyarakat dengan pihak keamanan. Tidak perlu dibesar-besarkan lagi seakan-akan kita di Papua ini tidak junjung toleransi,” ujarnya. [Ant/L-8]

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.bergelora.com/nasional/kesra/2188-gidi-bantah-larang-perayaan-hari-raya-idul-fitri.html

GIDI Bantah Larang Perayaan Hari Raya Idul Fitri

Minggu, 19 Juli 2015Dilihat: 28

Isiden di Tolikara, Papua (Ist)‏JAYAPURA- Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) membantah melarang umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri pada Jumat (17/7) lalu. Namun Gereja GIDI meminta agar kegiatan sholat tersebut tidak menggunakan pengeras suara (Toa) karena sedang berlangsung seminar nasional dan internasional pada jarak 250 meter dari lokasi sholat.

“Tidak benar pemuda gereja GIDI, masyarakat Tolikara, dan umat Kristiani melarang umat Islam untuk merayakan hari raya Idul Fitri dan Sholat ied. Namun dua minggu lalu kami sudah kirim surat pemberitahuan agar tidak menggunakan penggeras suara karena sedang sedang ada seminar nasional dan internasional hanya berjarak sekitar 250 meter,” demikian Presiden GIDI, Pendeta Dorman Wandikmbo dari Tolikara, Papua dalam kepada Bergelora.com, di Jayapura, Sabtu (18/7)

Dibawah ini Pernyataan Sikap Presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terkait insiden/peristiwa di Kabupaten Tolikara, Propinsi Papua :

Sejak tadi malam, 17 Juli 2015, saya mengikuti berbagai pemberitaan di media massa yang terkesan menyudutkan pihak gereja, ditulis berdasarkan laporan/argumentas aparat keamanan (TNI/Polri), serta penyebaran berbagai surat kaleng/palsu di media social (Medsos), yang menempatkan orang Papua sebagai pihak yang anti toleransi umat beragama, maka dalam kesempatan ini saya perlu menegaskan atau menyampaikan beberapa hal agar dapat dipahami oleh seluruh warga Indonesia;

Pertama, tidak benar pemuda gereja GIDI, masyarakat Tolikara, dan Umat Kristiani melarang umat Islam untuk merayakan hari raya Idul Fitri (Sholat ied), namun harus mematuhi surat pemberitahuaan yang telah dilayangkan pemuda/gereja dua minggu sebelum kegiatan dilangsungkan; yakni tidak menggunakan penggeras suara (toa), apalagi jarak antar pengeras suara dengan tempat dilangsungkannya seminar nasional/internasional hanya berjarak sekitar 250meter. (baca juga kronologi singkat yang kami susun).    

Kedua, pimpinan gereja wilayah Kabupaten Tolikara, Presiden GIDI, Bupati Kabupaten Tolikara, Usman Wanimbo, dan tokoh masyarakat setempat telah menyampaikan maksud pemuda GIDI (Ibadah tidak menggunakan penggeras suara) sejak dua minggu sebelum hari “H” kegiatan seminar, dan hari raya idul fitri.

Kami menilai, aparat Kepolisian dan aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Tolikara tidak punya itikad baik untuk menjaga keamanan dan ketertibatan masyarakat Tolikara, termasuk umat Muslim sendiri. Kami sangat menyayangkan lambannya sosialisasi yang dilakukan aparat keamanan kepada warga muslim, sehingga terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, apalagi toleransi umat beragama sejak puluhan tahun lalu di Tolikara, dan secara umum di seluruh tanah Papua sangat baik, dan paling baik di Indonesia.  

Ketiga, yang sangat disayangkan, para pemuda (11 orang tertambak timah panas aparat TNI/Polri saat dalam perjalanan ke Musolah untuk berdiskusi dengan warga setempat, 1 anak usia 15 tahun meninggal dunia, Endi Wanimbo, usia 15 tahun), belum sempat diskusi atau negosiasi dilangsungkan, aparat TNI/Polri sudah mengeluarkan tembakan secara brutal dan membabi buta, sehingga 12 orang tertembak.

Jadi amukan dan kemarahan masyarakat bukan disebabkan oleh aktivitas ibadah umat muslim, tapi lebih karena tindakan dan perlakukan biadab aparat TNI/Polri, yang tidak membukan ruang demokrasi atau untuk mendiskusikan hal-hal yang baik bagi keberlangsungan ibadah kedua belah pihak.

Keempat, tidak benar masyarakat Tolikara, atau warga gereja GIDI melakukan pembakaran terhadap Mushola (seperti pemberitaan berbagai media massa di tingkat nasional), namun hanya beberapa kios yang dibakar pemuda, dan merembet hingga membakar Musolah karena dibangun menggunakan kayu, dan berhimpit-himpit dengan kios/rumah milik warga Papua maupun non-Papua, sehingga dengan cepat melebar dan terbakar.

Tindakan spontan yang dilakukan beberapa pemuda membakar beberapa kios ini muncul karena ulah aparat keamanan yang tak bisa menggunakan pendekatan persuasive, tapi menggunakan alat-alat Negara (senjata dan peluru) untuk melumpuhkan para pemuda tersebut.

Kami minta Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), dan Panglima TNI untuk juga mengusut tuntas penembakan warga sipil oleh aparat keamanan yang menyebabkan 1 orang meninggal dunia (Endi Wanimbo, usia 15 tahun), dan 11 orang terluka.  

Kelima, saya sebagai pimpinan tertinggi gereja GIDI di seluruh Indonesia, telah menasehati umat saya agar tidak melarang umat apapun, termasuk saudara Muslim untuk melangsungkan ibadah, namun ibadah harus dilangsungkan di dalam koridor hukum wilayah tersebut, dan juga mematuhi surat atau himbauan yang dikeluarkan, demi keamanan, ketertibatan, dan ketentraman masyarakat setempat.  

Keenam, yang datang mengikuti ibadah/seminar internasional di Kabupaten Tolikara bukan hanya warga GIDI di wilayah tanah Papua, tapi dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia, antara lain pemuda dari Nias, Sumatera Utara, Papua Barat, Kalimantan (Dayak), Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan diperkikran mencapai 2.000 orang pemuda GIDI.

Ketujuh, sebagai presiden GIDI, kami menyampaikan permohonan maaf kepada warga muslim di Indonesia, secara khusus di Kabupaten Tolikara atas pembakaran kios-kios yang menyebabkan Musolah (rumah ibadah warga muslim) ikut terbakar; Aksi ini merupakan spontanitas masyarakat Tolikara karena ulah aparat keamanan di Tolikara yang melakukan penembakan secara brutal.

Kedelapan, Kapolri dan Panglima TNI juga harus mengusut tuntas insiden penembakan terhadap 12 warga gereja, yang menyebabkan satu anak usia sekolah meninggal dunia; Ini merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat, karena menggunakan alat Negara untuk menghadapi pemuda-pemuda usia sekolah yang tak datang untuk melakukan perlawanan atau peperangan. 

Demikian pernyataan sikap ini dibuat untuk disebarluaskan kepada berbagai jaringan di tingkat lokal, nasional, dan internasional, terutama media massa, agar pemberitaan terkait insiden/peristiwa yang tidak kita inginkan ini dapat berimbang. Tuhan memberkati kita semua.

Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua,

18 Juli 2015

Presiden GIDI

Pendeta Dorman Wandikmbo (HP: 081248604070);

Nb : Jika Pendeta Dorman susah dihubungi, bisa lewat Ketua Pemuda GIDI (081344354689).

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai penyebab kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua pada Jumat (17/7) pagi tadi disebabkan oleh pengeras suara (speaker). JK menjelaskan, di daerah tersebut ada dua acara yang letaknya berdekatan yang digelar dari dua umat agama berbeda, Islam dan Kristen Protestan.

“Ada acara Idul Fitri, ada pertemuan pemuka masyarakat gereja. Memang asal-muasal soal speaker itu,” ujar JK dalam konferensi pers di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat.

Ia menuturkan, masyarakat seharusnya dapat mengetahui bahwa ada dua kepentingan yang terjadi bersamaan.

“Satu Idul Fitri, satu karena speaker, saling bertabrakan. Mestinya kedua-duanya menahan diri. Masyarakat yang punya acara keagamaan lain harus memahami,” kata JK. (Yuliana Lantipo)

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/19/nrqp1u-pembakaran-mushala-papua-diyakini-ada-pihak-perkeruh-suasana

Pembakaran Masjid

Pembakaran Mushala Papua, Diyakini Ada Pihak Perkeruh Suasana

Minggu, 19 Juli 2015, 21:46 WIB

Komentar : 0

Sisa-sisa masjid Tolikara yang dibakar

Sisa-sisa masjid Tolikara yang dibakar

A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, ‪JAKARTA — Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) mengatakan, insiden pembakaran mushala di Kabupaten Tolikara, Papua karena ada pihak yang memperkeruh suasana.

‪Anggota Jakatarub Rio Tuasikal menyayangkan terjadinya peristiwa ini mengingat masyarakat Papua telah mengalami sejumlah konflik berdarah yang menewaskan ratusan warga. Namun, yang justru jadi kekuatan selama ini, masyarakat Papua khususnya Kabupaten Tolikara tidak pernah bentrok terkait masalah agama.

“Perlu disesalkan pula dalam penyebaran informasi soal insiden tersebut terdapat sejumlah pihak yang memperkeruh suasana dengan memperbesar sentimen keagamaan. Apalagi kemudian menghasut dengan pendekatan mayoritas versus minoritas,” katanya, Ahad (19/7).

Kurangnya informasi yang bisa diakses langsung karena minimnya infrastruktur di wilayah ini membuat berita-berita yang meresahkan tersebut tidak bisa langsung diklarifikasi. Melihat kejadian tersebut, pihaknya menilai adanya provokasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang menginginkan terjadinya perpecahan di Tanah Papua dan juga Indonesia demi menghilangkan narasi damai yang ada.

“Atas kejadian tersebut Jakatarub menyampaikan empati yang mendalam atas apa yang dialami umat Muslim di Karubaga, Kabupaten Tolikara yang terganggu hak asasinya untuk beribadah dan menderita secara moril maupun materiil karena insiden tersebut,” katanya.

Dia menambahkan, sudah selayaknya warga negara Indonesia (WNI) dilindungi hak asasinya dimanapun dia berada, apapun agama, suku, ras, dan latar belakangnya. Pihaknya juga menyerukan pemerintah daerah Kabupaten Tolikara dan Pemerintah Provinsi Papua agar mengusut tuntas dan menindak tegas provokator serta pelaku insiden ini.

Kemudian memberikan jaminan perlindungan kepada semua warganya agar dapat menjalankan hak asasinya termasuk hak untuk beribadah. Selain itu, seruan agar pemerintah pusat agar lebih dalam lagi usahanya untuk memajukan pembangunan dan menyelesaikan konflik di wilayah Papua dengan keberpihakan pada masyarakat Papua.

“Agar insiden ini tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi atau golongan dan memecah belah kerukunan bangsa,” ujarnya.

Pihaknya juga menyampaikan imbauan kritis pada setiap elemen dan tokoh masyarakat Indonesia agar berhati hati dalam menyampaikan informasiyang belum jelas kebenarannya dan berpotensi memicu sentimen keagamaan.

“Kemudian, kesadaran agar tiap elemen masyarakat kembali kejati diri asal bangsa kita yang menghargai keberagaman dan toleransi‬,” ujarnya.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.antaranews.com/berita/507697/presiden-bp-gidi-tidak-pernah-keluarkan-rekomendasi

Presiden BP GIDI Tidak Pernah Keluarkan Rekomendasi
Sabtu, 18 Juli 2015 18:31 WIB | 8.885 Views
Pewarta: Evarukdijati

Presiden BP           GIdI tidak pernah keluarkan rekomendasi

Direktur Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama, Oditha R Hutabarat (kanan), didampingi Kepala Biro Humas PGI, Jeirry Sumampow (kiri), memberikan keterangan pers di Jakarta, Sabtu (18/7). Dalam keterangannya mereka menyesalkan aksi kekerasan oleh Gereja Injil di Indonesia (GIDI) pada umat Islam yang sedang beribadah salat Ied di Karubaga, Tolikara, Papua, pada Jumat (17/7). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

… mereka membubarkan dan menyelamatkan diri ke belakang Markas Koramil setempat…

Jayapura, Papua (ANTARA News) – Kepala Polda Papua, Inspektur Jenderal Polisi Yotje Mende, menyatakan, Presiden Badan Pekerja Gereja Injili di Indonesia (BP GIdI), Dorman Wandikmo, tidak pernah merekomendasi surat edaran terkait kerusuhan berlatar SARA, di Karubaga, Papua.

Mende, di Jayapura, Sabtu. mengakui, kerusuhan di Karubaga, Jumat (17/7), disebabkan edaran Badan Pekerja Tolikara.
Kekerasan berlatar SARA ini menambah panjang pelanggaran HAM di bidang agama di Tanah Air. Tercatat juga pelarangan pembangunan gereja di Kompleks Yasmin (kasus Gereja Yasmin) oleh sementara kalangan mayoritas setempat sebagaimana penyerbuan fisik berdarah pada komunitas penganut Ahmadiyah.
Juga pengeboman dan teror pada sejumlah gereja di Jakarta saat kebaktian Natal pada awal dasawarsa 2000-an. Rangkaian peristiwa ini dikenal dengan nama Bom Natal.

Padahal UUD 1945 sebagai sumber hukum formal tertinggi di Indonesia menjamin kemerdekaan tiap warga negara Indonesia untuk memeluk dan mengamalkan ajaran agamanya masing-masing.

Dalam surat edaran yang ditandatangani Nayus Wenda dan Jingga itu, melarang perayaan Idul Fitri dan juga melarang agama lain dan gereja denominasi lain mendirikan tempat-tempat ibadah di Tolikara.

Dikatakan Mende, Wandikmo menyatakan bantahannya itu dalam pertemuan yang juga dihadiri Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Fransen Siahaan, di Karubaga, Sabtu (18/7).

Menurut Mende, ada kemungkinan surat edaran tertanggal 11 Juli itu, sempat disalahtafsirkan peserta seminar dan kebaktian kebangunan rohani pemuda GIdI.

“Memang saat umat Islam sedang shalat Idul Ied, sekitar 300-an orang menyerang dengan cara melempari umat Islam hingga mereka membubarkan dan menyelamatkan diri ke belakang Markas Koramil setempat,” kata Mende.

Dikatakan, saat itulah anggota TNI AD setempat menggeluarkan tembakan peringatan hingga menyebabkan jatuh korban di kelompok penyerang.

Akibatnya para pemuda marah dan membakar kios atau warung yang berjumlah 54 (bukan 70) yang lokasinya bersebelahan dengan mushola hingga menyebab mushola ikut terbakar.

“Pembakaran itu dilakukan spontan dan tidak direncanakan,” kata Mende, mengutip pernyataan Mandikmo, yang diungkapkan saat pertemuan di Karubaga.

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2015

http://www.gatra.com/nusantara-1/nasional-1/156832-tokoh-agama-papua-tangkap-pelaku-pembakaran-mushola-dan-penyerangan-umat-muslim-di-tolikara.html

Tokoh Agama Papua: Tangkap Pelaku Pembakaran &

Penyerangan Umat Muslim di Tolikara

Created on Saturday, 18 July 2015 15:31

Para tokoh agama Papua mendeklarasikan perdamaian dan menolak kekerasan (GATRAnews/Khatarina Lita)

Jayapura, GATRAnews – Para pimpinan dan tokoh agama di Papua menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya pembakaran mushola dan penyerangan terhadap umat muslim yang sedang melaksanakan Sholat Ied.

Pernyataan sikap yang diperoleh dari rapat terbatas di Kanwil Kementrian Agama Provinsi Papua yang dihadiri oleh lebih dari 15 tokoh agama dan pimpinan umat kristiani dan muslim di Papua juga menghasilkan enam poin yang harus diselesaikan oleh semua pihak.

Tokoh dan pimpinan agama juga meyerukan bahwa di negara NKRI tidak ada satu golongan agama yang dapat mengklaim wilayahnya dan melarang umat beragama lain untuk beribadah sesuai dengan agama dan keyakinannya.

Berita Terkait
Polisi: 11 orang Kena Tembak di Insiden Tolikara Papua

GMKI Imbau Jangan Terprovokasi Aksi Intoleransi di Tolikara

Kapolda Papua: Kondisi Tolikasa Relatif Terkendali

Kemenag Minta Ketua GIDI Mohon Maaf

GP Ansor: Polisi Harus Usut Pembakaran Masjid di Papua

Irman Gusman: Perlu Peran Tokoh Lintas Agama Dalam Insiden Tolikara
“Kami juga menyesalkan terjadinya pembakaran mushola dan penyerangan terhadap umat muslim di Tolikara yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa disaat perayaan Idul Fitri. Atas kejadian ini, kami juga mendesak kepada pihak yang berwenang agar segera menyelesaikan masalah tersebut dengan tuntas dan profesional dengan memproses para pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku,” ucap Pendeta Herman Saud dalam pembacaaan pernyataan sikap di Kantor Wilayah Kementrian Agama Papua, Sabtu (18/7).

Para pimpinan gereja dan tokoh agama di Papua juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia dan khususnya di tanah Papua, agar tetap tenang da menjalankan aktifitas seperti biasanya.

“Kami juga meminta kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan isu yang tidak benar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Aparat keamanan agar segera meredakan suasana dengan tindakan tegas, tetapi tanpa kekerasan dan dapat mengidentifikasikan pelaku serta penyebabnya, sehingga kerusuhan tidak meluas dan tidak terulang,” jelasnya.

Sehari sebelumnya, lebih dari 70-an rumah dan kios dibakar sekelompok orang, tepat bersamaan saat umat muslim di Karubaga, ibukota Tolikarra-Papua sedang melaksanakan Sholat Idul Fitri 1436 H di Lapangan Koramil 1702/Wms.

Akibat situasi ini, warga yang sedang melaksanakan sholat Ied berlarian menyelamatkan diri ke Koramil setempat. Warga ketakutan karena jarak pembakaran rumah dengan lokasi Sholat Ied jaraknya berdekatan, tak lebih dari 50 meter.

Juru bicara Polda Papua, Kombes Pol Rudolf Patrige menuturkan sekelompok orang juga sempat melempari Mushola Baitul Mutaqien hingga berujung pada pembakaran mushola tersebut.

Sesaat setelah kejadian, Bupati Tolikara Usman Wanimbo dan Ketua DPRD dengan menggunakan pengeras suara dan konvoi keliling kota, menghimbau warga untuk menghentikan aksinya dan tidak melakukan tindak kekerasan.

Penyerangan sekelompok orang kepada umat muslin saat melakukan sholat ied di Tolikara, dipicu edaran surat dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) yang dikeluarkan oleh Badan Pekerja WIlayah Tolikara bernomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015 yang ditujukan kepada umat muslim se-Kabupaten Tolikara.

Isi surat tersebut adalah “tidak mengijinkan umat muslim di Tolikara merayakan Idul Fitri karena bersamaan dengan seminar dan KKR Pemuda GIDI tingkat internasional”.

Didalam surat yang ditanda-tangani oleh Ketua GIDI wilayah Tolikara, Pendeta Nayus Wenda juga melarang agama lain dan denominasi lain tidak boleh mendirikan tempat ibadah di wilayah Kabupaten Tolikara, selain gereja GIDI.


Reporter: LLL

Editor: Nur Hidayat


Advertisements

0 Responses to “Bencana Sosial : Kronologi Insiden Tolikara Versi Polisi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,308,288 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: