16
Jul
15

Kebudayaan : Bedug Nusantara Jatidiri Budaya Indonesia

GeraKNusa

Bedug Nusantara Jatidiri Budaya Indonesia

Suara Pembaca :

Bedug terdengar bertalu-talu digebug di malam takbiran jelang Hari Lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1436H. Perangkat Bedug juga Kentongan tercatat adalah produk budaya Nusantara jauh sebelum abad ke-7 Masehi, artinya secara alami telah terjadi kerjasama tatacara keagamaan Islam dengan tradisi budaya Nusantara yang kontekstual sampai kini, dan bahkan bisa berlanjut berulang kedepan sebagai gaya hidup muslim/muslimah Indonesia yang melekat.

Bedug dan Kentongan sehari-hari masih digunakan untuk permakluman publik semisal waktu solat, waktu rembug desa, syiar maklumat desa, dlsb.

Dalam konteks hari-hari nasional dapat segera diawali saat peringatan Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 yad melalui pemberdayaan tradisi permakluman publik dengan tabuhan Bedug Nusantara yang akan memeriahkan suasana sekaligus menjaga semangat kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kiprah Bedug Nusantara dapat diamanatkan oleh Peraturan atau Keputusan Presiden dan dilakukan diseluruh negeri, yang untuk kali pertama ditujukan pada hari peringatan Proklamasi Indonesia Merdeka 2015 yang dapat dijadwalkan 3 (tiga) hari sejak tanggal 16 Agustus (sebagai hari persiapan Naskah Proklamasi), tanggal 17 Agustus (sebagai hari Proklamasi) dan tanggal 18 Agustus (sebagai hari penetapan Konstitusi Republik Indonesia)

Semangat Kejoangan Indonesia memang perlu digelorakan berkesinambungan apalagi ditengah kerisauan publik akan situasi dan kondisi terkini terutama saat penggerusan kesejahteraan rakyat terjadi akibat dampak gangguan sistemik terhadap perekonomian hajat hidup orang banyak.

Hari-hari Nasional resmi dapat didaftarkan juga di Peraturan/lKeputusan Presiden tersebut diatas, sehingga upaya-upaya pemberdayaan masyarakat terstruktur dapat dioperasionalkan demi senantiasa terwujud solidaritas nasional bagi Persatuan Indonesia
Jakarta, 15 Juli 2015

Pandji R Hadinoto, KBP45 KelBes Pejoang45
Editor http://www.jakarta45.wordpress.com

Bedug Warisan Budaya Yang Mesti Dilestarikan
Selasa, 14/07/2015 03:02

Subang, NU Online
Bedug merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Nusantara yang mesti dijaga dan dilestarikan. Kalau tidak demikian, bedug ini akan punah dan hanya akan menjadi sejarah.

Demikian disampaikan oleh Bupati Subang H Ojang Sohandi pada penutupan kegiatan lomba bedug DKM Masjid Besar Baiturrohman, Purwadadi, Subang, Ahad (12/7) malam.

“Bedug merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang harus kita lestarikan, dengan lomba bedug ini kita ikut menjaga dan melestarikannya,” katanya.

Senada dengan Ojang, Ketua DKM Masjid Besar Baiturrohman KH Agus Syarifudin mengatakan bahwa sebelum ada pengeras suara atau teknologi modern lain, bedug dan kentongan merupakan alat yang dimanfaatkan untuk mengingatkan waktu shalat. Karena, suaranya bisa terdengar dalam radius sekian meter.

“Sebelum ada speaker, radio, teve, orangtua dulu pakai bedug untuk mengingatkan orang bahwa waktu shalat telah datang, supaya orang ingat dan melaksanakan sholat, sebelum menabuh bedug biasanya 15 menit sebelumnya ditabuh kentongan dulu,” ungkapnya.

Wakil Ketua PCNU Subang ini menegaskan bahwa warga NU sudah paham dan mengerti tentang masalah bid’ah, karena kitab-kitab yang membahas tentang bid’ah sudah banyak dan sering dikaji di pesantren. Dengan demikian, menurutnya, bedug ini masuk dalam kategori bid’ah hasanah karena bisa mengingatkan orang untuk segera melaksanakan shalat.

“Kalau memang bedug ini bid’ah speaker juga harusnya lebih bid’ah, karena speaker datangnya belakangan jauh setelah ada bedug,” tambahnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Tak Tak Tak… Dug Dug Dug.

Bunyi bedug yang menjadi penanda awal sebelum adzan yang mengajak umat Muslim untuk menunaikan shalat. Selain itu, bedug juga menjadi alat komunikasi.

Pengertian

Bedug adalah alat musik tabuh seperti gendang. Bedug merupakan instrumen musik tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik. Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu shalat atau sembahyang. Bedug terbuat dari sepotong batang kayu besar atau pohon enau sepanjang kira-kira satu meter atau lebih. Bagian tengah batang dilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Ujung batang yang berukuran lebih besar ditutup dengan kulit binatang (kerbau, sapi atau banteng) yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang. Bila ditabuh, bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh.

Sejarah

Dari Cina

Bedug sebenarnya berasal dari India dan Cina. Berdasarkan legenda Cheng Ho dari Cina, ketika Laksamana Cheng Ho datang ke Semarang, mereka disambut baik oleh Raja Jawa pada masa itu. Kemudian, ketika Cheng Ho hendak pergi, dan hendak memberikan hadiah, raja dari Semarang mengatakan bahwa dirinya hanya ingin mendengarkan suara bedug dari masjid. Sejak itulah, bedug kemudian menjadi bagian dari masjid, seperti di Negara Cina,Korea dan Jepang, yang memosisikan bedug di kuil-kuil sebagai alat komunikasi ritual keagamaan.

Asli Warisan Nusantara

Namun menurut Drs M Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang yang melakukan studi bedug di Jawa bersama tim Sampoerna Hijau, pada masa prasejarah, nenek moyang kita juga sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu. Pemakaiannya berhubungan dengan religi minta hujan.

Kata Bedug juga sudah disinggung dalam kidung Malat, sebuah karya sastra berbentuk kidung. Susastra kidung berisi cerita-cerita panji. Umunya ditulis pada zaman Mahapahit, dari kurun waktu abad ke 14-16 Masehi. Dalam Kidung Malat dijelaskan, instrumen musik membrafaon bedug dibedakan antara bedug besar yang diberi nama teg-teg dengan bedug ukuran biasa.

Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda waktu seperti perang, bencana alam, atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah dalam bahasa Jawa: wis wanci keteg. Artinya “sudah waktu siang” yang diambil dari waktu saat tegteg dibunyikan.

Cornelis De Houtman dalam catatan perjalanannya D’eerste Boek menjadi saksi keberadaan bedug yang sudah meluas pada abad ke-16. Ketika komandan ekspedisi Belanda itu tiba di Banten, ia menggambarkan di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang digantung dan dibunyikan memakai tongkat pemukul yang ditempatkan di sebelahnya. Fungsinya sebagai tanda bahaya dan penanda waktu. Kesaksian ini jelas menunjuk pada bedug.

Kendati demikian, pengaruh Cina pun tidak dinafikan. Ditilik dari sisi konstruksi, teknik pemasangan tali/pasak untuk merekatkan selaput getar ke resonator pada bedug Jawa, mirip pada cara yang digunakan pada bedug di Asia Timur seperti Jepang, Cina, atau Korea. Bukti lain terlihat pada penampilan arca terakota yang ditemukan di situs Trowulan. Arca-arca prajurit berwajah Mongoloid itu tampak menabuh tabang-tabang, sejenis genderang yang terpengaruh budaya timur tengah. Kemungkinannya itulah instrumen musik yang dimainkan orang-orang Cina Muslim di ibukota Majapahit.

Menariknya, tabang-tabang sebenarnya merupakan instrumen musik yang sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Di dalamnya ada pengaruh kuat dari India dan budaya Semit beragama Islam. Namun diperkenalkan dan dimainkan oleh masyarakat Cina Muslim.

Jadi, bedug bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya waditra (instrumen musik membrafon, di mana secara fisiografis terjadi perpaduan antara waditra membrafon etnik Nusantara dengan wadistra sejenis dari luar seperti India, Cina, dan Timur Tengah.

Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengani waktu salat atau sembahyang. Saat Orba berkuasa bedug pernah dikeluarkan dari surau dan masjid karena mengandung unsur-unsur non-Islam. Bedug digantikan oleh pengeras suara. Hal itu dilakukan oleh kaum Islam modernis, namun warga NU melakukan perlawanan sehingga sampai sekarang dapat terlihat masih banyak masjid yang mempertahankan bedug.

Fungsi

  • Fungsi sosial: bedug berfungsi sebagai alat komunikasi atau petanda kegiatan masyarakat, mulai dari ibadah, petanda bahaya, hingga petanda berkumpulnya sebuah komunitas.
  • Fungsi estetika: bedug berfungsi dalam pengembangan dunia kreatif, konsep, dan budaya material musikal.

Permainan (Seni Ngadulag)

Seni ngadulag berasal dari daerah Jawa Barat. Pada dasarnya, bedug memiliki fungsi yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, tabuhan bedug di tiap-tiap daerah memiliki perbedaan dengan daerah lainnya, sehingga menjadikannya khas. Sehingga lahirlah sebuah istilah “Ngadulag” yang menunjuk pada sebuah keterampilan menabuh bedug. Kini keterampilan menabuh bedug telah menjadi bentuk seni yang mandiri yaitu seni Ngadulag (permainan bedug). Di daerah Bojonglopang, Sukabumi, seni ngadulag telah menjadi sebuah kompetisi untuk mendapatkan penabuh bedug terbaik. Kompetisi terbagi menjadi 2 kategori, yaitu keindahan dan ketahanan. Keindahan mengutamakan irama dan ritme tabuhan bedug, sedangkan ketahanan mengutamakan daya tahan menabuh atau seberapa lama kekuatan menabuh bedug. Kompetisi ini diikuti oleh laki-laki dan perempuan. Dari permainan inilah seni menabuh bedug mengalami perkembangan. Dahulu, peralatan seni menabuh bedug hanya terdiri dari bedug, kohkol, dan terompet. Tapi kini peralatannya pun mengalami perkembangan. Selain yang telah disebutkan di atas, menabuh bedug kini juga dilengkapi dengan alat-alat musik seperti gitar, keyboard, dan simbal.

Lalu, tahukah kamu? Ada bedug terbesar di dunia loh! Bedug terbesar di dunia berada di dalam Masjid Darul Muttaqien, Purworejo. Bedug ini merupakan karya besar umat Islam yang pembuatannya diperintahkan oleh Adipati Tjokronagoro I, Bupati Purworejo pertama. dibuat pada tahun 1762 Jawa atau 1834 M. Dan diberi nama Kyai Begelan. Ukuran atau spesifikasi bedug ini adalah: Panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, diameter bagian depan 194 cm, diameter bagian belakang 180 cm. Bagian yang ditabuh dari bedug ini dibuat dari kulit banteng. Bedug raksasa ini dirancang sebagai “sarana komunikasi” untuk mengundang jamaah hingga terdengar sejauh-jauhnya lewat tabuhan bedug sebagai tanda waktu salat menjelang adzan dikumandangkan.

(Dikutip dari berbagai sumber) – See more at: http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/pendidikan/asal-usul-bedug.html#sthash.fSokluPR.dpuf

Sejarah Asal Usul Beduk

Beduk adalah alat yang dipakai oleh kelompok Islam bermazhab di Nusantara untuk menandai masuknya waktu sembahyang. Sejak Islam datang ke Nusantara bedug sudah dipakai di hampir seluruh masjid, sehingga biasa dijadikan tanda bagi para kelana akan adanya sebuah desa. (Lihat Centini). Belum diketahuai asal usul alat ini, ada yang memperkirakan dari Cina, atau India, tetapi ada yang merupakan kreativitas asli Nusantara.

Dari China

_________________________________________________________

Bedug senantiasa dikaitkan dengan media panggil peribadatan. Ada pendapat tradisi bedug dikaitkan dengan budaya Cina. Adanya Bedug dikaitkan dengan ekspedisi pasukan Cheng Ho abad ke-15. Laksamana utusan kekaisaran Ming yang Muslim itu menginginkan suara bedug di masjid-masjid, seperti halnya penggunaan alat serupa di kuil-kuil Budha di Cina. Ada pula pendapat bedug berasal dari tradisi drum Cina yang menyebar ke Asia Timur, kemudian masuk Nusantara.

Asli Warisan Nusantara

_____________________________________________________

Namun menurut Drs M Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang yang melakukan studi bedug di Jawa bersama tim Sampoerna Hijau, pada masa prasejarah, nenek moyang kita juga sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu. Pemakaiannya berhubungan dengan religi minta hujan.

Kata Bedug juga sudah disinggung dalam kidung Malat, sebuah karya sastra berbentuk kidung. Susastra kidung berisi cerita-cerita panji. Umunya ditulis pada zaman Mahapahit, dari kurun waktu abad ke 14-16 Masehi. Dalam Kidung Malat dijelaskan, instrumen musik membrafaon bedug dibedakan antara bedug besar yang diberi nama teg-teg dengan bedug ukuran biasa.

Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda waktu seperti perang, bencana alam, atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah dalam bahasa Jawa: wis wanci keteg. Artinya ”sudah waktu siang” yang diambil dari waktu saat tegteg dibunyikan.

Cornelis De Houtman dalam catatan perjalanannya D’eerste Boek menjadi saksi keberadaan bedug yang sudah meluas pada abad ke-16. Ketika komandan ekspedisi Belanda itu tiba di Banten, ia menggambarkan di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang digantung dan dibunyikan memakai tongkat pemukul yang ditempatkan di sebelahnya. Fungsinya sebagai tanda bahaya dan penanda waktu. Kesaksian ini jelas menunjuk pada bedug.

Kendati demikian, pengaruh Cina pun tidak dinafikan. Ditilik dari sisi konstruksi, teknik pemasangan tali/pasak untuk merekatkan selaput getar ke resonator pada bedug Jawa, mirip pada cara yang digunakan pada bedug di Asia Timur seperti Jepang, Cina, atau Korea. Bukti lain terlihat pada penampilan arca terakota yang ditemukan di situs Trowulan. Arca-arca prajurit berwajah Mongoloid itu tampak menabuh tabang-tabang, sejenis genderang yang terpengaruh budaya timur tengah. Kemungkinannya itulah instrumen musik yang dimainkan orang-orang Cina Muslim di ibukota Majapahit.

Menariknya, tabang-tabang sebenarnya merupakan instrumen musik yang sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Di dalamnya ada pengaruh kuat dari India dan budaya Semit beragama Islam. Namun diperkenalkan dan dimainkan oleh masyarakat Cina Muslim.

Jadi, bedug bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya waditra (instrumen musik membrafon, di mana secara fisiografis terjadi perpaduan antara waditra membrafon etnik Nusantara dengan wadistra sejenis dari luar seperti India, Cina, dan Timur Tengah.

Debedukisasi

______________________________________________________

Pada Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin Kalimanatan Selatan 1936 kembali mengukuhkan penggunaan Beduk dan kentongan, bahwa pemakaian kedua alat tersebut di masjid-masjid sangat diperlukan untuk memperbesar syiar Islam. Dengan adanya keputusan itu serangan Islam modernis bisa dieliminir, dan tradisi pemakaian beduk terus dipertahankan.

Pada masa orde baru ketika organisasi NU mulai ditekan sementara Islam modernis mulai mendapat tempat, maka ”debedukisasi” dilakukan, sehingga banyak beduk-beduk bersejarah yang hilang dan sebagian besar digudangkan. Kemudian dikembangkan program speakerisasi, sehingga hampir tiap masjid yang sudah dihilangkan beduknya diganti dengan memasang speaker di menara atau di kubah. Hanya dilingkungan masjid Nu dan kelompok Islam bermazhab seperti Perti, Al Washliyah, Mathlaul Anwar dan sebagainya, atau mesjid yang belum diambil oleh kelompok Islam modernis tetap memakai beduk. Hal itu menadji petanda masjid yang dikelola oleh Islam bermazhab dengan Islam modernis yang tidak bermazhab.

Jumat, 30 September 2011

Satu Islam – Jakarta – Ratusan orang meriung di sungai. Tua muda. Laki-laki dan perempuan. Mereka berjejal. Berbaur. Berendam di air yang dingin. Membasuh sekujur tubuh. Dari ujung kaki hingga kepala.

Belasan bocah terlihat sumringah. Bersiap di bibir kali. Berancang-ancang. Sekejap kemudian mereka terjun ke dalam air. Byur…. Gelak tawa pun membahana. Kebahagiaan benar-benar meruap dari bekas pemandian noni-noni Belanda itu.

Itulah keceriaan warga Padang, Sumatera Barat, di Sungai Lubuk Minturun. Di penghujung Sya’ban yang lalu, mereka beramai-ramai menjalankan ritual mandi Balimau. Mandi dengan menggunakan limau alias jeruk nipis.

Pada Rabu 17 Juni 2015 itu, warga Lubuk Minturun, Koto Tengah, Padang, sudah berjubel sejak siang hari. Ritual ini digelar hingga petang. Saat bulan Sya’ban berganti Ramadan. Selain Sungai Lubuk Minturun, prosesi ini juga dihelat di berbagai tempat, seperti sungai Batang Kuranji, Batu Busuk, bahkan di pantai.

Balimau sudah dimulai sejak berabad silam. Terutama menjelang Ramadan. Kebiasaan ini menyebar dari Minangkabau hingga Riau. Tak jelas dari mana berasal. Sebagian mengaitkan dengan tradisi penyucian diri di Sungai Gangga, India. Ada pula yang menyebut kebiasaan ini muncul pada zaman Belanda.

Yang jelas, tradisi ini dimaknai sebagai penyucian diri menyambut Ramadan. Bagi masyarakat Minang, Balimau berarti menyucikan diri dengan limau atau jeruk nipis. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Selama berabad-abad silam.

***

Tradisi Balimau sangat unik. Masyarakat tak menggunakan sabun saat mandi. Mereka memilih limau untuk bersuci. Ini diyakini sebagai warisan masa lalu. Sebab, tempo dulu tak ada sabun. Ya limau itulah yang digunakan oleh masyarakat untuk mandi. Buah ini bisa meluruhkan minyak di badan.

Balimau merupakan rangkaian panjang. Sejak pagi setiap keluarga sudah menyiapkan limau. Juga ramuan wewangian alami sebagai pelengkap. Saat itu, kaum ibu juga memasak lemang, ketan yang dimasak di dalam bambu, dan berbagai masakan lainnya, untuk sajian makan di hari Balimau. Makan siang di hari Balimau merupakan pesta besar. Berbagai menu tersaji.

Setelah Zuhur, masyarakat menenteng rantang. Berisi aneka macam makanan dan juga limau. Rantang-rantang itu diantarkan ke sanak famili. Ternyata, Balimau tak sekadar urusan mandi. Melainkan juga mempererat tali silaturahmi.

Setelah Salat Asar, barulah para lelaki berbondong ke sungai. Mereka membawa ramuan Balimau untuk mandi. Di waktu yang sama, kaum perempuan juga mandi Balimau. Namun bukan di tempat umum. Melainkan di rumah masing-masing.

***

Balimau hanyalah satu di antara keunikan tradisi Nusantara menyambut Ramadan. Di Jawa, tradisi ini juga ada. Disebut dengan padusan. Masyarakat mendatangi sungai, kolam pemandian, dan juga pantai untuk mandi. Menyucikan diri menyambut bulan Puasa.

Tak hanya bersuci. Masyarakat Nusantara juga punya kebiasaan unik menjelang Ramadan. Di Semarang, ada “Dugderan”. Tradisi yang diambil dari suara “dug” dan “der.” Berasal dari suara bedug bertalu-talu dan gelegar meriam yang memekakkan telinga.

Tradisi Dugderan diawali oleh arak-arakan. Dari kantor Walikota Semarang menuju Masjid Kauman. Dalam iring-iringan itu, diaraklah patung kambing berkepala naga. Makhluk ini diyakini merupakan hasil perpaduan budaya Jawa dan China. Semarang memang didominasi oleh dua suku bangsa itu.

Saat arak-arakan tiba di Masjid Kauman, melalui pengeras suara, Walikota Semarang mengumumkan bahwa esok hari merupakan awal puasa. Setelah pengumuman itulah petugas menabuh bedug bertalu-talu. Disusul oleh gelegar meriam.

Dugderan pertama kali digelar pada 1881, sebagai bentuk komunikasi antara pemerintah dengan warganya dalam menetapkan awal puasa.

Sementara, bedug dan meriam, menjadi simbol penyatuan dua kebijakan, antara pemerintah dan ulama. Bedug ditabuh di area masjid, meriam berdentum di area kantor bupati. Bunyi kedua benda inilah yang menjadi pertanda sudah ada kesepakatan antara pemerintah dan ulama soal awal Ramadan.

Pemandangan unik juga terlihat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pada malam ke-21 bulan Ramadan, masyarakat di sana menggelar festival lampion atau yang dikenal dengan Tanglong. Biasanya, tradisi ini dihelat bersama Bagarakan, tradisi membangunkan orang sahur.

Tanglong diyakini ada sejak Islam masuk Banjarbaru. Dulu, warga karib dengan Badadamaran atau menyalakan lampu dari getah damar. Lampu-lampu ini biasanya dipajang di halaman dan pinggir jalan sejak malam ke-21 Ramadan hingga menjelang Lebaran.

Namun, sejak 25 tahun silam, tradisi itu mulai pudar. Apalagi pohon damar yang diambil getarnya untuk Dadamaran mulai langka. Warga kemudian menggantinya dengan pelita bersumbu kain yang diletakkan di botol atau kaleng bekas minuman. Tradisi ini pun berkembang. Bentuk pelita berkembang menjadi lampion aneka bentuk.

Sejak tahun 2000, Tanglong kemudian mulai dilombakan. Digelar bersamaan dengan Bagarakan Sahur. Berpawai keliling kota. Kedua tradisi ini menjadi momentum menciptakan keindahan dan kesejukan beragama. Selain itu juga memupuk silaturahmi.

Semakin tahun,  pola lampion yang ditampilkan dalam festival ini semakin beragam. Mulai burung hingga menyerupai Buraq, makhluk menyerupai kuda bersayap, yang diyakini sebagai tunggangan Nabi Muhammad saat Isra’ dan Mi’raj.

Masyarakat di Nusantara memang sangat kaya akan budaya. Tak jarang tradisi itu muncul dan mewarnai kehidupan beragama. Seperti tradisi Balimau, Dugderan, maupun Tanglong. Tradisi unik masyarakat lokal rupanya bisa hidup harmonis dengan agama. Berdampingan secara damai.

Sejarah Singkat Bedug di Nusantara

Main. Hampir seluruh masjid di Indonesia memiliki bedug, biasanya dipergunakan sesaat sebelum adzan untuk mengingatkan waktu shalat dan mengajak umat Islam shalat berjamaah di Masjid. Ada yang berpendapat, bedug terkait erat dengan budaya Tiongkok yang dibawa masuk ke masjid-masjid nusantara oleh Laksamana Cheng Ho yang kebetulan juga muslim. Namun, bila ditilik dari sisi sejarah, nenek moyang kita sudah mengenal nekara dan moko, semacam genderang untuk ritual minta hujan yang terbuat dari perunggu atau logam lainnya.


Kata bedug sendiri sudah disinggung dalam kidung Malat, karya sastra berisi cerita-cerita panji yang ditulis pada zaman Majapahit di abad 14-16 masehi. Disana disebutkan 2 macam bedug, yaitu bedug besar yang diberi nama tegteg dan bedug biasa. Pada masa itu bedug berfungsi sebagai alat komunikasi, penanda waktu dan pemberi peringatan. Menurut Cornelis de Houtman dalam D’Eerste Boek, penggunaan bedug sudah meluas pada abad ke-16. Ini dia saksikan sendiri saat ekspedisi ke Banten.


Bedug dapat disebut sebagai perwujudan akulturasi budaya lokal dengan Tiongkok, India dan Timur Tengah. Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan mengukuhkan penggunaan bedug dan kentongan sebagai bagian syiar Islam yang selama ini telah dirintis oleh para Wali Songo. Meskipun saat ini penggunaan bedug sudah mulai digerus gerakan modernisme Islam, namun di pelosok desa-desa muslim di seluruh nusantara sisa-sisanya masih banyak kita lihat. Sudah sepantasnya bedug sebagai warisan budaya kita lestarikan dan jaga bersama-sama.

Haji Hasan Pembawa Bedug Masjid dari Armada Cheng Ho 1414
14 Juli 2015 00:30:21Dibaca : 2,093
Haji Hasan Pembawa Bedug Masjid dari Armada Cheng Ho 1414

“Dug, dug, dug”.

Suara pukulan bedug yang kedengarannya menggema mantap dari kejauhan maupun kedekatan, merupakan suara yang melegakan hati setelah menjalani sehari puasa dimasa Ramadhan. Legendanya tambur besar yang merupakan alat tanda waktu magrib dan buka puasa disetiap masjid itu adalah bersama dengan Armada Tionghoa Ming yang dipimpin oleh Laksamana Mahmud Shamsuddin Cheng Ho dari Tiongkok datang di Nusantara, maka sampai sekarang bedug tersebut dikaitkan dengan jasa pengekspornya Cheng Ho bagi umat Islam Nusantara diabad 15 Masehi.

Disini sekedar membedah sejarah kejadian itu, bagaimana asal usulnya dan bagaimana juga kebenarannya.

Kita mulai dari menelusuri latar belakang Cheng Ho, keturunan Muslim yang menurut pandangan umum pantas sebagai pembawa bedug masjid tersebut, sebab Laksamana Armada Ming diabad 15, Mahmud Shams ed-Din Cheng Ho kelahiran didaerah Kunming Yunnan di barat daya Tiongkok yang eyangnya, Sayyid Ejjal Shams ed-Din Omar سید اجل شمس‌الدین عمر  (1211-1279), menurut Catatan Tartar, Shams ed-din merupakan warga Ahl al-Bayt dari keturunan keponakan dan anak menantu Rasullulah SAW, Ali ibn Abi Talib علي بن أبي طالب yaitu Khalifah Ar-Rashyidin (pemimpin pertama agama Islam) yang keempat dan terachir setelah Nabi Muhammad wafat.

Keluarga Shams ed-Din dipimpin oleh neneknya (Shams ed-Din Omar al-Bukhari) dan ayahnya (Kamal ed-Din) membawa pasukannya menyerah dan menggabungkan diri kepada Mongol Tartar sewaktu Genghis Khan menyerbu dan menumpas Khwarizmi Shah, dengan itu mereka dibawa dari Khwaresmi (sekarang Bukhara, Uzbekistan) sebagai tahanan perang oleh Genghis Khan ke Yanjing (sekarang Beijing, Tiongkok). Sayyid Ejjal mulai masuk dalam pemerintahan dan menjabat bendahara kerajaan Tartar pada tahun 1259, yang kemudian diusia tuanya dikirim ke Yunnan untuk menjabat gubernur di Yachi dibekas Kerajaan Dali yang baru dicakup oleh Tartar Kublai Khan pada tahun 1274. Sewaktu di Yunnan, Sayyid Ejjal meng-islamisasi sedikit-dikitnya sejuta penduduk bekas Kerajaan Dali tersebut yang kebanyakannya merupakan Tionghoa keturunan Semu (serba ragam orang asing Sogdiana dan Gujarati) yang berniaga teh dan sutra melalui Jalur Selatan. Kedudukan gubernur itu menurun sampai Melik Tekin (Haji Ma) ayahnya Mahmud Shams ed-Din Cheng Ho pembela sisa Tartar Pangeran Basalawarmi sebelum dimusnahkan oleh pasukan Ming, yang akibatnya Mahmud yang terlahir di Yunnan itu menjadi tawanan perang dan dijadikan kasim pengabdi Istana Ming di Nanjing, sewaktu beliau hanya berusia 10 tahun pada 1381.

Sebelum Sayyid Ejjal dianugrahi gelar Raja Dian-yang (Dian adalah nama kecil Yunnan dan ‘yang’ berarti utara) gubernur Yachi (Kunming, Yunnan) oleh Kublai Khan, pernah menjabat kepala daerah di Chang’an (sekarang Xi’an), bertahun-tahun disana beliau berjasa memperkembangkan ajaran Islam dan melestarikan salah satu masjid tua setempat yang didirikan ditahun 705, yaitu Masjid Gang Kaji Besar.

Xi’an merupakan salah satu kota tua yang sejak 2000 tahun lalu sudah menjadi ibukota Dinasti Han, dari sanalah terbukanya Jalur Perniagaan Karavan Unta yang dikemudian hari disebut Jalur Sutra diabad ke-2 Masehi. Xi’an mencapai puncak kemakmurannya sewaktu menjadi ibukota Dinasti Tang diabad 7 Masehi, merupakan metropolitan yang terbesar didunia dengan penduduk sedikit-dikitnya sejuta orang dan pusat perniagaan internasional dengan ratusan ribu pedagang Semu yang datang dari Barat melalui Jalur Sutra pada waktu itu. Disana didirikan dua pasar perdagangan, Pasar Timur disebelah timur Istana Tang memperdagangkan teh, sutra, ceramik dan lain-lain produk dalam negeri untuk diekspor dan, Pasar Barat disebelah barat Istana Tang merupakan pemukiman saudagar mancanegara dengan barang-barang impor mereka. Dengan demikian juga banyak masjid yang didirikan dibagian barat kota sejak masa itu, yang sekarang masih tersisa 7 masjid disana, diantaranya adalah Masjid Agung Xi’an yang tersohor dan Masjid Gang Kaji Besar yang akan diperhatikan disini.

Sekarang tiba pada masalah tambur besar dari Tiongkok yang menjadi bedug pemanggil shalat umat Islam di Nusantara itu. Pastinya bedug bukan penemuan atau ciptaan Tionghoa, sudah diketemukan keberadaan tambur dikebudayaan Mesopotamia (Irag) sekitar 6000 tahun lalu. Semula bedug merupakan alat tabuh pembangkit semangat serdadu dan tanda perintah penyerbuan diwaktu perang sejak purba kala, yang kemudian juga menjadi alat musik. Masuknya bedug di Tiongkok diperkirakan juga selama itu dijaman kebudayaan purba lebih dari 4500 tahun lalu, yang kemudian dari alat perang menjadi tanda pemberi waktu di-vihara setelah masuknya ajaran Buddhis dijaman Dinasti Han 2000 tahun lalu, sejak itu menjadi budaya Tionghoa yang membunyikan genta didini hari dan memukul bedug pada magrib.

Diatas telah disebutkan Pasar Timur dan Pasar Barat yang membelah Xi’an dijaman Tang. Sejak zaman itu sudah dibangun gerdu pemberi tanda waktu kota didepan Istana Tang yang terletak dipertengahan kota Xi’an, pukul genta didini hari dan pukul bedug pada senja hari. Namun setelah jatuhnya Tang dan ratusan tahun kemudian, melalui kerusakan total kota Semula Xi’an oleh serbuan Tartar diabad 12, meskipun sudah ada pembangunan kembali oleh Sayyid Ejjal Shams ed-Din sewaktu berdinas disana pada abad 13, tidak juga dibangun kembali gerdu tambur itu, sampai 13 tahun setelah berdirinya Dinasti Ming diabad 14, pada tahun 1380, ditengah kota Xi’an bekas situs Istana Tang itu dibangunlah Gerdu Tambur Besar baru untuk pemberi tanda waktu kota yang masih berdiri disana sampai hari ini. Cheng Ho kebetulan bersinggah di Xi’an dalam rangka tilik asal leluhurnya pada tahun 1412, dan Tambur Besar Xi’an tersebut menjadi prototipe bedug dimasjid Nusantara.

Ada diceritakan bahwa datangnya bedug bersama Armada Cheng Ho. Asal usul adanya pelayaran Cheng Ho bisa diceritakan sebagai berikut. Setelah Kaisar Ming Yongle berhasil kudeta merebut tahta dari keponakannya ditahun 1402, memerintahkan pembentukan armada militer raksasa untuk memerangi sisa Mongol Tartar yang bangkit sebagai kekuatan Timur di India, juga dengan misi memburu mantan Kaisar Jian-wen yang berhasil lolos ke-Hormuz setelah tahtanya direbut. Armada Ming tersebut dipercayakan kepada tiga laksamana sarbon yang di-Sinisasi-kan ‘Sam Po’ (Cheng Ho, Ong Khing Hong dan Ho Sian) sebagai duta besar Ming, yang diantaranya Sam Po Cheng Ho yang diutus sebagai ‘Wali Kaisar’ untuk memimpinnya, dengan demikian Armada ‘Penjelajah Lautan Asing’ Ming tersebut pada umumnya dikenal sebagai Armada Cheng Ho dikemudian hari. Segera armada dibentuk pada tahun 1402, Cheng Ho diutus membawa armadanya ke Jepang supaya Shogun menanggulangi masalah perompak Ronin yang selama itu merongrong pesisir Tiongkok, dan pada tahun selanjutnya 1403, Cheng Ho berlayar menuju Siam (Thailand) untuk percobaan sebelum Pelayaran Perdana ke Lautan Barat (Lautan Hindia dibaratnya Kerajaan Lambri, Aceh) pada tanggal 11 Juli 1405, armada tersebut achirnya dibubarkan pada tahun 1434 setahun setelah Cheng Ho meninggal dunia. Dari 1402-1434 keseluruhan pelayaran Armada Ming tersebut sebanyak 11 kali, diantaranya 9 kali dipimpin Cheng Ho disertai dua Sam Po lainnya, dan 2 kali dipimpin oleh Sam Po lain tanpa Cheng Ho. Masih banyak pelayaran rombongan detasemen yang belum jelas perinciannya seperti yang pernah menuju Luzon, Brunei, Mecca, Mogadishu dan lain-lain, mungkin juga ada yang menyasar sampai di Australia, Eropah Barat maupun suatu tempat disebelah timur Benua Amerika, sebelum Columbus.

Sejak Cheng Ho diberi kuasa untuk berlayar ke Hormuz, walau sudah berlayar tiga kali, sejauh armada mencapai hanya di Sri Langka. Sekembalinya Cheng Ho dari pelayaran ke-3 (1409-1411), segera diperintahkan lagi oleh Kaisar yang tidak puas untuk mempersiapkan armada yang lebih besar demi menyelesaikan misinya. Dalam waktu dua tahun mempersiapkannya, selain membentuk armada yang sekali-kalinya terbesar, juga perlu mencari ahli paham kebudayaan Timur Tengah dan mahir bahasa Arab sebagai pandu pelayaran ke-4-nya, dan Cheng Ho menemukannya calon itu di Xi’an setelah gagal mencarinya dimana-mana.

Karena mengetahui asal dari mana eyangnya, memerlukan Cheng Ho tilik leluhur di Xi’an. Sekalian Cheng Ho mencari pandunya disana dengan mengumpulkan banyak umat Islam Xi’an di Masjid Agung pada tahun 1412. Pilih punya pilih achirnya mengenal Kyai Haji Hasan, sang ustad dari Masjid Gang Kaji Besar yang pernah dilestarikan oleh eyang Sayyid Ejjal tersebut. Hasan yang ternyata mahir aneka bahasa selain Arab, pernah tinggal di Sri Langka dan juga sudah naik Haji seperti ayah dan kakek Cheng Ho sendiri. Berhari-hari Cheng Ho mendapat pencerahan Islam darinya, sehingga dalam waktu singkat bisa mengenalnya secara mendalam, selain sangat cerdas dan luas pengetahuannya, berbudi luhur juga berkepribadian tegas yang mantap diambil sebagai penasehat kepercayaannya dan patut diangkat Wakil Duta menuju Hormuz ditahun 1413.

Sewaktu armada melintasi Selat Malaka, menyadari nilai strategis Malaka dalam lintas perniagaan Jalur Sutra Maritim, Hasan menganjurkan Cheng Ho membangun benteng depot untuk kepentingan armada berteduh ditengah perjalanan, walaupun setelahnya dijajah oleh Portugis, sampai sekarang masih ada bekas situs Sam Po tersebut disana. Sewaktu mencapai Negara Kotte (Colombo, Sri Langka), Hasan yang sedang diutus menghadap Raja Parapramabahu VI, karena paham bahasa Tamil, bisa mencium komplotan Patih Alagakkonara yang menggerakkan pasukan hendak merampok Kapal Pusaka, Hasan memimpin pasukan dengan menyamar sebagai orang Arab menerobos dan menyulutkan api membakar kota dibelakang musuh, dengan mengepung dari muka-belakang berhasil menangkap Patih tersebut dan dibawa kembali ke Nanjing, namun dikembalikan lagi setelah diberi amnesti Kaisar Yongle.

Ternyata Haji Hasan memegang peran utama dalam pelayaran ini, selain sangat diperlukan untuk memimpin shalat dan menegakkan peradatan Islam disepanjang pelayaran dalam armada yang disertai 27600 anak kapal dan serdadu yang kebanyakannya Muslim, juga atas ketegasan mengambil keputusan dan kecerdasan memberi siasat perang, Hasan berjasa menyelamatkan Cheng Ho dan armadanya dari ancaman bahaya selama 11 bulan pelayaran tersebut, dari Nopember 1413 hingga Agustus 1415.

Armada sudah hampir mencapai pangkalnya di Malaka dalam pelayaran kembali dari Hormuz, sekonyong-konyong dihantam badai dahsyat dipertengahan Selat yang hampir menggulingkan kapal-kapalnya, pada saat yang genting dan kalut begitu, terlihat Haji Hasan tenang bersujut menyanyikan tartil Al-Qur’an dengan suara yang menggema keatas langit, konon tidak lama kemudian topan lewat, langit cerah dan permukaan laut kembali tenang, dan seluruh armada mendapat keselamatan karenanya. Allahu Akhbar الله أكبر .

Bila demikian, apakah memangnya Cheng Ho yang memimpin armadanya itu memperkenalkan kebudayaan pukul bedug dimasjid? Hal ini perlu kita kaji lebih lanjut yang kemungkinannya, betul meragukan. Mahmud Shams ed-Din yang sudah menjadi kasim sejak usia 10 tahun, meskipun dirinya keturunan Muslim tetapi beliau dibesarkan didalam Istana Tionghoa Ming yang senantiasa bernuansa condong Buddhisme dan Taoisme, maka dalam hidupnya berkejauhan dengan ajaran Islam dan tidak pernah naik Haji. Sewaktu armada tiba di Nusantara, juru tulisnya mencatat sudah banyak umat Islam bermukim di Palembang, Gresik, Malaka dan Lambri, dengan itu sukar dipercaya bahwa Cheng Ho pernah akan berpengaruh dalam pembawaan maupun penyebaran Islam di Nusantara. Dengan kebiasaan tulisan para cendekiawan yang selama ini menjunjung tinggi beliau, senantiasa meng-kredit-kan segala jasa Armada pada Cheng Ho seorang, tidak pernah mengemukakan tokoh-tokoh yang disampingnya, seperti Kyai Haji Hasan, ustad Masjid Gang Kaji Besar Xi’an dan penegak adat Islam disepanjang pelayaran ke-4 Armada Cheng Ho, boleh jadi Haji Hasan yang sesungguhnya pembawa bedug dari dipukul memanggil shalat jemaah Muslim maupun buka puasa dalam Armada yang kemudian masuk kedalam masjid, dan berperan penyebar dini Islam yang tiba di Nusantara pada tahun 1414.

Sekembalinya Haji Hasan dengan Cheng Ho menghadap Kaisar Yongle, beliau dihargai tinggi dalam jasa memperkembangkan hubungan diplomatik dan perekonomian disepanjang pelayaran itu, juga berulang kali keajaiban menyelamatkan armada, maka hendak dianugrahi banyak hadiah dan kedudukan tinggi dipemerintahan oleh Kaisar, tetapi semua ditolak hanya satu permohonannya kepada Kaisar supaya membantu melestarikan lagi Masjid Gang Kaji Besar yang selama ini sudah banyak rusaknya. Kaisar memujudkan harapannya dengan mengeluarkan dana besar dan memerintahkan Cheng Ho pribadi untuk melaksanakan proyek pembaharuan dan perluasan Masjid yang sampai tampaknya seperti sekarang ini.

Tidak banyak peninggalan catatan mengenai Haji Hasan diluar Kampung Muslim Xi’an, karena Hasan hanya sekali saja menyertai Cheng Ho dalam pelayaran ke-4 itu, segera kembali Xi’an beliau meneruskan tugas ustad-nya di Masjid Gang Kaji. Hanya Cheng Ho menegakkan sebuah batu prasasti dwi-bahasa Mandarin dan Arab yang mencatat jasa Hasan di-Masjid di Gang Kaji Besar (Da-xue-xi Xiang), Kampung Muslim Xi’an.

Memperingati 610 tahun Pelayaran Cheng Ho.

Monterey Park, 11 Juli 2015.

Selasa, 03 Desember 2013

Warisan Budaya Bercorak Islam

Abad ke-15 dan ke-17 merupakan masa puncak perkembangan pengaruh Islam di Indonesia. Pe-ngaruh itu tidak saja berlangsung dalam bidang religi (agama), tetapi juga dalam bidang politik dan sosial-budaya. Perkembangan pengaruh Islam di Indonesia dapat kita ketahui dari berbagai pening-galan sejarah bercorak Islam, seperti masjid, kera-ton, nisan, kaligrafi, dan karya sastra.

  1. Masjid

Masjid-masjid kuno di Indonesia bentuknya masih menunjukkan gaya Indonesia asli. Atapnya menggunakan atap tumpang (bersusun) yang jum-lahnya tiga atau lima susun, seperti terdapat pada Masjid Demak, Masjid Sendang Duwur, Masjid Agung Banten, Masjid Agung Palembang, dan Masjid Baiturrahman di Aceh. Sebagian masjid-masjid kuno di Jawa dilengkapi gapura seperti yang ada pada keraton atau candi. Bahkan, menara Mas-jid Sunan Kudus yang dibangun pada abad ke-16 bentuknya menyerupai Candi Langgam di Jawa Timur. Dengan demikian, pengaruh Hindu pada tem-pat peribadatan Islam tetap ada. Hal itu bisa terjadi karena beberapa kemungkinan, Pengaruh itu disengaja, agar para pemeluk Is-lam tingkat pemula tidak terlalu asing dengan tempat ibadat yang baru. Karena teknik membuat bangunan yang diku-asai hanya warisan dari ajaran Hindu.

Masjid yang berada di Indonesia biasanya di-lengkapi dengan bedug dan kentongan. Kedua alat ini adalah warisan budaya nenek moyang dari zaman prasejarah. Pada masa itu, bedug dan ken-tongan digunakan sebagai alat panggil masyarakat. Misalnya, saat kepala suku menginginkan rak-yatnya berkumpul atau orang tua menginginkan anaknya yang di sawah agar segera pulang.

Pada mulanya, masjid di Indonesia tidak dilengkapi dengan menara. Suara adzan yang dikumandangkan jangkauannya sangat terbatas. Se-mentara itu, banyak warga yang bekerja jauh dari tempat tinggalnya, misalnya di sawah atau di ladang. Untuk mengatasi hal itu dipakailah bedug dan kentongan. Biasanya alat ini dibunyikan lebih dahulu, baru kemudian dikumandangkan adzan.

  1. Keraton

Keraton artinya tempat tinggal ratu atau raja. Dari tempat tinggalnya itu, seorang ratu atau raja mengendalikan roda pemerintahan kerajaan. Jadi, keraton adalah pusat pemerintahan. Rumah atau bangunan tempat tinggal raja disebut istana. Seni bangunan masjid dan keraton di Indone-sia mempunyai ciri khusus yang berbeda dengan bentuk arsitektur di negara Islam lain. Hal itu bisa terjadi karena yang membuat bangunan terse-but adalah bangsa Indonesia sendiri. Disamping memeluk agama Islam, mereka juga masih dise-mangati oleh kebudayaan tradisional. Jadi, seni bangunan berupa masjid dan keraton merupakan perpaduan antara kebudayaan tradisional dan ke-budayaan Islam.

Di berbagai daerah di Indonesia banyak istana peninggalan zaman Islam, seperti Istana Maimun (Deli), Istana Sultan Riau Lingga, Istana Sultan Ter-nate, Istana Pagaruyung (Sumatera Barat), Keraton Cirebon, Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, Istana Mangkunegaran, dan Istana Raja Gowa.

  1. Nisan dan kompleks makam

Nisan adalah batu atau kayu yang terdapat pada makam dan berfungsi sebagai tanda kubur. Pada batu nisan peninggalan Islam ada hiasan ukir-ukiran dan kaligrafi. Bentuk nisan ada yang seder-hana dan ada yang diukir dengan pahatan sangat indah. Pada bagian depan nisan dipahatkan tulisan dengan huruf Arab. Tulisan-tulisan pada batu ni-san biasanya menerangkan tahun wafat dan riwa-yat singkat orang yang dimakamkan. Batu-batu nisan peninggalan sejarah Islam di In-donesia antara lain adalah: nisan makam Fatimah binti Maimun di desa Leran (Gresik), nisan Malik al-Saleh di Lhokseumawe (Aceh), nisan Ratu Nahrasiyah di Sam-udera Pasai, nisan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, batu nisan di Troloyo (Jawa Timur).

  1. Seni Kaligrafi

Kaligrafiatau Khot adalah menulis indah dan disusun dalam aneka bentuk menarik dengan meng-gunakan bahasa Arab. Dalam dunia Islam, kaligrafiterdiri atas petikan ayat-ayat suci Al Qur’an. Ben-tuknya beraneka macam, dari yang sederhana, ber-bentuk tulisan mendatar, sampai bentuk yang rumit seperti sebuah lingkaran, segitiga atau mem-bentuk suatu bangun tertentu seperti masjid.Seni kaligrafiIslam berkembang pesat karena agama Islam melarang melukis makhluk hidup se-hingga para pelukis Islam mencurahkan bakat lukisannya pada seni kaligrafi. Beraneka ragam hias kaligrafi dapat kita temukan pada dinding masjid, keramik, keris, batu nisan, dan berbagai hiasan di rumah-rumah.

  1. Karya sastra

Dalam dunia Islam sastra mendapat tempat yang terhormat. Ini berkaitan dengan tradisi tulis-menulis yang dijunjung tinggi masyarakat Islam. Peninggalan karya sastra yang bercorak Islam di Indonesia mengambil bentuk hikayat, suluk, syair, kitab sejarah, ajaran agama, dan sejarah.Contoh karya sastra berbentuk hikayat adalah Hikayat Hamzah, Hikayat Jauhar Manikam, Hikayat Hang Tuah, dan Hikayat Raja-raja Pasai.Kitab Suluk contohnya Syair Perahudan Syair Si Burung Pingai (Hamzah Fansuri), Suluk Wijil(Sunan Bonang),Suluk Suka Rasa, dan Suluk Kaderesan.Contoh karya sastra yang berbentuk syair, misalnya: Syair Abdul Muluk, Gurindam Dua Belas.

Contoh karya sastra yang berbentuk sejarah adalah Sejarah Melayukarya Tun Muhammad. Contoh karya sastra berisi ajaran agama ada-lah Tajus Salatinatau Mahkota Segala Rajakarya Bu-khari al Jauharidari Aceh, tahun 1603 M.Contoh karya sastra yang mencampur unsur sejarah dan ajaran agama Islam misalnya kitab Bus-tanus Salatina, karya Nuruddin ar-Raniri. Contoh karya-karya sastra peninggalan Islam berupa surat menyurat dan dokumen kerajaan, misalnya: Adat Mahkota Alam karya Sultan Iskandar Muda,Kitab Salokantara karya Sultan Trenggana

Diposkan oleh Muhammad abdul aziz di 09.16

 Tadarus Warna-Warni Pemikiran Islam Nusantara

Oleh: M. Rikza Chamami, MSI

Mencari Islam original hari ini sama halnya mencari intan berlian di dasar lautan. Islam yang ada hari ini adalah ijtihad Islam original yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Namun demikian, bukan berarti Islam yang ada hari ini bukan original. Islam tetap original sebagai sebuah ajaran suci dan agama yang memberikan pengayoman dunia dan akhirat. Sedang umatnya melakukan ijtihad mencari originalitas agamanya.

Yang perlu dibahas dalam paper singkat ini adalah sebuah definisi makro tentang Islam. Penulis merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut memberikan penjelasan akademik terhadap respon pemikiran Islam. Pendapat “Islam ya Islam” tidak ada embel-embel, bukanlah salah. Definisi itu adalah sunnatullah. Sebab itu pendapat yang didasari atas argumentasi yang kuat menurut keyakinannya.

Di sisi lain, pendapat yang menyebutkan bahwa Islam masih butuh embel-embel. Seperti Islam Nusantara, Islam Jawa, Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam toleran dan lain-lain. Pendapat demikian juga punya dasar argumentasi, bahwa embel-embel itu sebagai pelengkap dan penjelas atas luasnya makna Islam. Sama dengan istilah kopi. Ada kopi tubruk, kopi item, kopi susu dan kopi-kopi lainnya.

Dalam kajian Islamic studies (dirasah islamiyyah) selalu dibahas Islam normatif dan Islam historis. Perbedaan pandangan antara dua pendapat di atas merupakan aplikasi dari pemahaman dua model kajian Islam itu. Islam normatif hadir memberi jawaban Islam original, sesuai aturan dan sangat syar’i sehingga Islam ya Islam (tidak butuh embel-embel). Sedangkan Islam historis adalah realitas Islam yang melalui perjalanan sejarah, maka lahir istilah Islam Nusantara, Islam Jawa, Islam rahmatan lil ‘alamin dan lainnya.

Penulis masih ingat betul ketika mengambil mata kuliah Metodologi Studi Islam di Program Doktor UIN Walisongo. Mata kuliah yang fantastis ini diajar oleh Prof Dr H Mujiyono MA, seorang guru besar fiqh lingkungan dan aktivis Muhammadiyah. Begitu luasnya pemahaman yang membuat penulis tercengang dalam memahami Islam. Walau pun organisasi Muhammadiyah yang dianutnya, ia tak segan membuka wawasan terhadap semua ajaran dan keanekaragaman Islam. Sebab itu adalah realitas Islam di Indonesia.

Satu buku tebal 571 halaman karya Abuddin Nata berjudul Studi Islam Komprehensif tak boleh lepas untuk dibaca. Abuddin Nata (2011) menyebutkan ada dinamika pemikiran Islam yang sangat dinamis muncul. Sehingga Islam yang lahir dalam dataran empiris ada 31 warna-warni, antara lain: Islam normatif, Islam ideologis, Islam politik, Islam formalistis, Islam dogmatis, Islam ekslusif, Islam tekstualis-literalis, Islam radikal, Islam fundamentalis, Islam tradisionalis, Islam historis dan kultural, Islam rasional dan intelektual.

Warna-warni lainnya adalah: Islam substantif, Islam moderat, Islam humanis, Islam transformatif, Islam nusantara, Islam dinamis, Islam aktual, Islam reformis, Islam alternatif, Islam interpretatif, Islam inklusif-pluralis, Islam modernis, Islam kosmopolitan, Islam esoteris, Islam liberal, Islam warna-warni, Islamku Islam Anda dan Islam kita, Islam mazhab HMI dan Islam rahmatan lil alamin.

Dengan demikian, cukup tegas bahwa Islam dengan embel-embel bukan “agama” baru dan bukan “ijtihad baru, melainkan dinamika pemikiran yang berkembang dalam merespon keberislaman. Alhasil, jika ini yang dimaksudkan, maka melihat Islam sebagai agama dengan Islam sebagai pemikiran juga terjadi perbedaan.

Islam sebagai agama selalu dilihat dengan kacamata doktrin ketuhanan. Doktrin ketuhanan ini yang melahirkan kebenaran mutlak. Saking yakinnya dengan kemutlakan kebenaran dimaksud, semua orang terkadang berubah wujud menjadi “tuhan-tuhan” kecil yang menyebut ini kebenaran dan itu kesalahan. Kebenaran manusia (yang disebut kebenaran Tuhan) tadi itu yang membuat awal dari pintu masuk perbedaan. Oleh sebab itu, Islam normatif ternyata juga melahirnya persepsi beda dalam sisi agama.

Oleh sebab itu, Nabi Muhammad telah memberikan orientasi matang di dalam melihat agama. Bahwa agama adalah keyakinan yang harus didialogkan. Keyakinan orang terhadap Islam, Allah, Nabi dan Al Qur’an sebagai kitab suci merupakan tanggung jawab individu.

Dan isi dari ajaran Islam itu kemudian menjadi tanggung jawab sosial yang perlu didialogkan. Dalam dialog (sebut saja dialog teologi) inilah lahir fanatisme. Tinggal siapa yang mengajarkan fanatisme ini. Jika yang melatih fanatis adalah anti dialog, maka lahir ilmu itu. Tapi jika belajar fanatisme dengan cara dialogis, maka lahir dialog teologi (bukan tukar menukar teologi/keimanan).

Sebagai pemikiran, Islam tentu saja lahir dengan beragam pola pikir. Jelas saja, namanya juga pemikiran. Jadi pikiran satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Untuk membuat identitas pemikiran itu, maka muncul penamaan-penamaan yang ada setelah kata Islam. Apapun namanya, itulah identitas (entah disebut identitas ideologi, budaya, kelompok atau apapun) yang jelas untuk membuat orang semakin bermana.

Sebab nama itu sangat penting. Sama halnya, santri ketika belajar Alfiyyah Ibnu Malik bab ‘alam: Ismun yu’ayyinul musamma muthlaqa, ‘alamuhu kaja’farin wa hirniqa. Bahwa nama itu hal yang sangat mutlak disandarkan pada yang diberi nama. Memang agak kaget, ketika Islam yang sebegitu suci kok kemudian disempitkan dengan identitas sosiologis. Namun akan tidak jadi aneh kalau kita mau melihat Islam itu adalah Islam empirik, Islam bumi dan Islam nyata di dunia.

Batasan Islam sebagai pemikiran ini nampaknya tidak bisa dibendung. Akan lahir ribuan istilah yang tentang Islam. Termasuk ada Islam negeri dan Islam swasta—sebagai simbolisasi Islam versi negara dan Islam versi sipil. Maka, dapat diambil benang merah, bahwa keanekaragaman Islam Nusantara (Indonesia) adalah rahmat Tuhan. Dan ini menjadi bukti, bahwa kajian keislaman masih sangat menarik untuk didialogkan.

Yang paling penting dipegang adalah, jika mendialogkan Islam sebagai pemikiran perlu pikiran yang jernih dan tidak boleh emosi. Sebab ini adalah bagian dari kajian pemikiran yang menggunakan akal—bukan menggonakan okol (kekuatan emosi dengan pukulan). Akan lebih menarik jika kajian-kajian semacam ini menghadirkan khazanah-khazanah khas pesantren yang cukup unik dengan siraman Kiai-Kiai. []

Dosen FITK, Mahasiswa Program Doktor Islamic Studies UIN Walisongo dan Mantan Pjs Ketua Umum PP IPNU


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Dakwah Islam Nusantara

Oleh: Abdul Moqsith Ghazali

[image: Inline image 1]

Islam masuk ke Nusantara tak menghancurkan seluruh kebudayaan masyarakat.
Wali Songo mendakwahkan Islam bahkan dengan menggunakan strategi
kebudayaan. Dalam beberapa kasus, Islam justru mengakomodasi budaya yang
sedang berjalan di masyarakat Nusantara. Tradisi sesajen yang sudah
berlangsung lama dibiarkan berjalan untuk selanjutnya diberi makna baru.

Sesajen dimaknai sebagai bentuk kepedulian kepada sesama bukan sebagai
pemberian terhadap dewa. Begitu juga tradisi nyadran dengan mengalirkan
satu kerbau ke pantai Jawa tak dihancurkan, melainkan diubahnya hanya
dengan membuang kepala kerbau atau kepala sapi ke laut. Nyadran tak lagi
dimaknai sebagai persembahan pada dewa, melainkan sebagai wujud syukur
kepada Allah. Hasil bumi yang terhidang dalam upacara tak ikut dilarungkan
ke laut, tapi dibagi ke penduduk.

Dalam menyampaikan ajaran Islam Wali Songo menggunakan cara-cara persuasif
bukan konfrontatif. Anasir-anasir Arab yang tak menjadi bagian dari ajaran
Islam tak dipaksakan untuk diterapkan. Sunan Kudus membangun mesjid dengan
menara menyerupai candi atau pura. Memodifikasi konsep “Meru” Hindu-Budha,
Sunan Kalijogo membangun ranggon atau atap mesjid dengan tiga susun yang
menurut KH Abdurrahman Wahid untuk melambangkan tiga tahap keberagamaan
seorang muslim, yaitu iman, islam, dan ihsan. Ini kearifan dan cara ulama
dalam memanifeskan Islam sehingga umat Islam tetap bisa ber-Islam tanpa
tercerabut dari akar tradisi mereka sendiri.

Para Wali tak ragu meminjam perangkat-perangkat budaya sebagai perangkat
dakwah. Sunan Kalijogo menggunakan Wayang Kulit sebagai media dakwah. Ia
memasukkan kalimat syahadat dalam dunia pewayangan. Doa-doa,
mantera-mantera, jampi-jampi yang biasanya berbahasa Jawa ditutupnya dengan
bacaan dua kalimat syahadat. Dengan cara ini, kalimah syahadat menjelma di
hampir semua mantera-mantera yang populer di masyarakat.

Itu cara dakwah yang ditempuh para ulama Nusantara yang ternyata efektif
dalam mengubah masyarakat. Dalam berdakwah, para ulama Nusantara sempurna
mengamalkan firman Allah, ud`u ila sabili rabbika bil hikmah wal
maw`idhatil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan. Jika dakwah dengan
jalan hikmah dan mau`idhah hasanah tak menghasilkan perubahan, maka jalan
dialog yang dilakukan, bukan pentungan dan pedang yang dihunjamkan.

Dengan cara dan strategi dakwah yang demikian, Islam dianut banyak orang.
Islam memang masuk ke Indonesia sejak abad ke 13, tapi kenyataannya Islam
betul-betul dipilih warga Nusantara secara luas baru pada periode Wali
Songo. Ini berkah dari dakwah penuh perdamaian para ulama. Jawa bisa
diislamkan tanpa pertumpahan darah. Begitu juga dengan dakwah damai yang
dilakukan para ulama Nusantara lain di Sumatera bagian utara, Kalimantan,
Maluku, dan lain-lain bahkan hingga ke Melaka.

Cara-cara persuasif para ulama Nusantara dalam menyiarkan Islam tersebut,
kini menjadi “trademark” Islam Nusantara, yaitu Islam yang sanggup
berdialektika dengan kebudayaan masyarakat. Ajaran-ajaran Islam bisa
diserap masyarakat tanpa menumbangkan basis-basis tradisi masyarakat.
Hubungan Islam dan kebudayaan Nusantara adalah ‘alaqah jadaliyah (hubungan
dialektik) bukan ‘alaqah ikhdha’ (hubungan penundukan-subordinatif) oleh
satu pihak pada pihak lain. Islam Nusantara lebih mendahulukan cara-cara
persuasi daripada konfrontasi, lebih mengutamakan jalan damai ketimbang
jalan perang walau dalam beberapa kasus perang tak terhindarkan terutama
sejak kaum penjajah merampas kedaulatan Nusantara.

Di tengah kecenderungan sebagian umat Islam untuk mendakwahkan Islam dengan
jalan kekerasan, maka “jalan damai Islam” yang fondasinya telah diletakkan
para ulama Nusantara bisa dijadikan solusi untuk menyelesaikan konflik dan
ketegangan.

Harapannya, melalui jalan damai ini kemajuan di berbagai aspek kehidupan
bisa dicapai. Bukankah dalam suasana damai, umat Islam bisa bekerja lebih
produktif dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, memperbaiki pereokonomian
umat, dan lain-lain. Sebaliknya, dalam kekerasan yang tak berkesudahan,
energi umat Islam akan terkuras untuk pekerjaan yang tak banyak gunanya
bagi kepentingan izzul Islam wal muslimin, izzu Nusantara wa nusantariyyin,
izzu Indonesia wa indunisiyyin. []

Abdul Moqsith Ghazali, dosen pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta.


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Nasionalis 45

0 Responses to “Kebudayaan : Bedug Nusantara Jatidiri Budaya Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: