14
Jul
15

Kenegarawanan : Indonesia Inspirator Peradaban Dunia

Indonesia Inspirator Peradaban Dunia
Selasa, 14 Juli 2015 – 00:12 WIB

Suara Pembaca:
Indonesia Inspirator Peradaban Dunia

Lebaran 1436 H kali ini terasa istimewa, bangsa Indonesia diberkahi sambutan simpatik dari para cendekiawan lintas bangsa tentang gagasan Islam Nusantara, sebagaimana dapat dikutip dari situs VOA Indonesia, bertempat di PBB, New York, Amerika lewat diskusi publik membahas wajah Islam moderat di Indonesia, Selasa (7/7/2015) waktu setempat. Diskusi publik ini digagas oleh perwakilan tetap Indonesia di PBB, diikuti oleh pemuka agama, pengamat, diplomat, serta tokoh masyarakat.

Tercatat, Dr. James B. Hoesterey dari Universitas Emory di Atlanta, Georgia yang menganggap Islam Nusantara sebagai gagasan yang layak dicontoh oleh dunia internasional. “Sebagai seorang antropolog yang sudah lama melakukan penelitian di Indonesia, saya senang bahwa dunia luar dan wakil-wakil serta duta besar dari negara masing-masing dapat mendengarkan sedikit lebih dalam mengenai Islam di Indonesia yang mungkin tidak sama dengan Islam di negara mereka, misalkan Arab Saudi. Kalau kita lihat ke depan, mungkin Indonesia bias menjadi contoh,” kata Dr. James.

Demikian juga Dr. Chiara Formichi, pakar sejarah Islam di Indonesia dari Universitas Cornell di Ithaca, New York, mengatakan banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Islam di Indonesia. “Gagasan Islam Nusantara sangat erat dengan budaya dan sejarah Indonesia. Saya tidak tahu bisa diterapkan di negara lain atau tidak, tetapi yang jelas bisa menjadi contoh untuk mengerti mengapa seseorang memeluk Islam,” katanya.

Peristiwa bersejarah ini seperti mengulang peristiwa Bung Karno berpidato To Build The World A New, 30 September 1960 ditempat yang sama, yang tercatat menginspirasi dunia dengan gagasan Pancasila yakni Belief in God, Humanity, Nationalism, Democracy, Social Justice.

Pendapat para cendekiawan Barat itu patut dicermati bahkan disyukuri mengingat dari pengalaman empiris, Politik Etis produk pikir cendekiawan Belanda yang dikiprahkan penjajah Hindia Belanda pada akhir abad 19 pasca penikmatan sumber daya muka bumi Indonesia sejak 1870, kemudian berbuah keberdayaan masyarakat negara jajahan Indonesia dapat lebih memaknai kedaulatan nasionalnya sehingga bangkit sejak 1908 menuju Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945. Dan kini adalah saat tepat bagi Negara-negara kreditor yang telah menikmati sumber-sumber daya alam Indonesia sejak 1967 untuk ber “politik etis abad-21” misal antara lain dengan aksi penghapusan transaksi utang piutang sebagian bahkan se-banyak2nya demi harmonisasi lintas bangsa di dunia.

Bagaimanapun gagsan-gagasan besar seperti Konperensi Asia Afrika, Negara Kepulauan Republik Indonesia, dan kini tentang Poros Maritim, diakui adalah produk pikir strategik bangsa besar Indonesia yang telah dan akan berdampak inspiratif terbaik bagi peradaban dunia.

Jakarta, 13 Juli 2015

Pandji R Hadinoto, Kerabat 45
Pembudaya Jiwa Semangat Nilai-nilai 45
Pengamal Pancasila Tap MPRRI XVIII/1998
Editor www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-indonesia-inspirator-peradaban-dunia.html#ixzz3fq6PIxGT

 Empat Temuan Ini Disebut Peradaban Dunia Berasal Dari Indonesia
Reporter : Pandasurya Wijaya | Jumat, 3 April 2015 08:02
Empat temuan ini sebut peradaban dunia berasal dari Indonesia

gunung padang. disparbudjabar.go.id

Merdeka.com – Pada Oktober 2010 lalu Indonesia kedatangan seorang ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxford, Inggris. Dia adalah Stephen Oppenheimer.

Lewat bukunya yang merupakan catatan perjalanan penelitian genetis populasi di dunia, ia mengungkapkan bahwa peradaban yang ada sesungguhnya berasal dari Timur, khususnya Asia Tenggara.

Sejarah selama ini mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia.

Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan Sundaland atau Indonesia.

Apa buktinya? Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia, kata Oppenheimer dalam diskusi di Gedung LIPI, Jakarta, ketika itu.

Pernyataan dia seolah mendukung sejumlah teori yang menyatakan beberapa temuan di Indonesia menjadi tonggak dari peradaban dunia.

Apa saja temuan-temuan itu? Simak ulasannya berikut ini.

Mulai dari :Benua Atlantis

Sejarah Budaya & Peradaban “Tatar Sunda”: (Sunda Land) Saampareun Jagat ( Dok SALAKANAGARA)

Oleh : Ahmad Yanuana Samantho, S.IP, MA

Pengantar

Era Globalisasi saat ini telah menggiring banyak bangsa dan kelompok warga dunia untuk menerima begitu saja nilai-nilai pandangan dunia dan budaya serta gaya hidup dari negara-bangsa pemenang Perang Dunia II (Barat: Amerika & Eropa) yang ditunjang oleh perkembangan sains dan teknologi.

Namun kemilau kemajuan material dan kesejahteraan ekonomi yang dijanjikan oleh peradaban moderen Barat, ternyata semakin terbukti rapuh dan mengabaikan kesejahteraan bersama lahir dan batin, serta melukai keadilan sosial. Gerakan massal protes sosial “Occupy Wall Street” dan “99% fight to 1 %”,  yang saat ini semakin menggelora di seantero kota-kota besar di Amerika dan Eropa, serta revolusi di beberapa negera Timur Tengah dan Afrika, menjadi bukti kepalsuan dan kegagalan filsafat ideologi materialisme-kapitalisme-individualisme yang sekular dan antrophosentrik bahkan anti Tuhan YME dan anti tradisi agama-agama dan budaya lokal.

Krisis multi-dimensional (ipoleksosbudhankamnas) yang diakibatkan oleh filsafat Barat Moderenisme itu, akhirnya mulai menyadarkan minoritas cendikiawan dan tokoh Barat, untuk berpaling dan menoleh kepada warisan kearifan lokal Timur dan agama-agama Timur. Bahkan, sebagai suatu contoh, Prof.Dr, George Mc. Lean, seorang akademisi filsafat dari Chatolik Washington University USA, pada tahun 2009, pernah sengaja berusaha keras membawa rombongan para pemikir dari Barat, untuk bekerja sama dengan para ilmuwan dan sarjana filsafat-budaya di Indonesia (termasuk saya) mengali kearifan Timur Nusantara dengan menyelengarakan National Research Seminars di 10 Universitas di Pulau Jawa tentang “Philosophy Emerging from Culture”.

Sebagai salah satu unsur terbesar penyusun Budaya Nusantara, Sejarah & Budaya Sunda mendapat porsi perhatian yang penting dari para sarjana dan cendikiawan nasional dan dunia. Negeri Indonesia, pada dekade belakangan ini menjadi perhatian dunia, antara lain karena publikasi penelitian beberapa sarjana tingkat dunia semisal Prof.Dr. Arisyio Nunes Dos Santos yang mempublikasikan hasil penelitiannya selama 30 tahun dan menulis buku berjudul: Atlantis, The Lost Continent Finnally Found, The Definitive Location of Plato’s Lost Civilization, yang terbit tahun 2005, (terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh Ufuk Jakarta tahun 2010, berjudul yang sama, dengan tambahan anak judul: “Indonesia ternyata Tempat Lahir Peradaban Dunia.”

Indonesia ternyata Tempat Lahir dan Sumber Peradaban Dunia.

Teori dan Hipotesis Prof. Santos yang sangat kontroversial dan menyentak kesadaran publik dunia itu tak urung juga menyentak kesadaran sebagian rakyat Indonesia, yang selama ini sebagian besarnya seperti terjangkiti penyakit mental rendah diri dan kurang percaya diri bahkan “tidak tahu diri.” Padahal ternyata Indonesia bukanlah negara pinggiran, terkebelakang dan pariah. Ternyata Indonesia memiliki warisan sejarah peradaban kuno yang unggul dan cemerlang.

Sentakan kesadaran itu bertambah lagi frekuensinya setelah Prof.Dr. Stephen James Oppenheimer, dokter ahli Human Genom (Genetika & DNA) dari Oxford University, London, Inggris, mempublikasikan hasil penelitian DNA-nya selama 20 tahun lebih di Indonesia & Asia Tenggara serta Papua Nugini.

Buku Oppenheimer berjudul: Eden in The East, The Drowned Continent in South East Asia, menyimpulan teorinya bahwa Asia Tenggara atau tepatnya Paparan Benua Sunda (Sunda Land) adalah lokasi “Syurga Adn” (Eden)-nya keluarga “Manusia Pertama“ Nabi Adam as. & Siti Hawa, tempat lahirnya peradaban umat manusia sedunia, pada kurun waktu 80.000 – 6.000 tahun yang lalu.

Induk Peradaban di Nusantara yang unggul itu menjadi inspirator yang melahirkan peradaban-peradaban dunia lainnya seperti Sumeria, Mohenjodaro-Harrapa-India, Mesir, Indian Maya & Aztek di benua Amerika Selatan, Yunani dan Eropa serta Persia. Namun kemudian Induk Peradaban di Nusantara itu musnah terkena bencana banjir besar kolosal global 3 kali pada sekitar 12.000 – 6.000 tahun yang lalu, yang salah satunya, menurut Oppenheimer terkait dengan legenda/mitos banjir besar Nabi Nuh as. Mitos dan legenda banjir besar itu ternyata ada (banyak yang mirip) dan hidup ceritanya di beberapa sejarah peradaban besar lainnya, seperti Sumeria, India, Mesir, Yunani, Eropa dan penduduk asli Amerika (indian Maya & Aztek, dll.) yang terekam pada kitab-kitab /inskripsi sucinya, prasasti dan artefak tinggalan budaya mereka.

Prof. Santos sampai pada kesimpulan peenelitiannya bahwa Peradaban Atlantis yang hilang, yang diceritakan Plato (427-347 SM) dalam bukunya Critias dan Timeaus, itu, dia temukan tenyata berlokasi di Nusantara/Indonesia (Sunda Land). Kesimpulan atau teorinya ini begitu diyakini oleh Santos dan para pengikutnya, karena detail-detail 32 ciri geografis-ekologis dan ciri-ciri sosio-antropologis-budaya yang diceritakan oleh Plato itu, 100% terpenuhi di Nusantara (Sunda Land), berbeda dengan 10 lokasi lainnya yang menjadi objek studi banding Santos, seperti: Pulau Thera/Creta di Yunani, Inca di Peru, Indian Maya di Mexico, Pulau tenggelam di Samudra Atlantik, Benua Antartika, Skandinavia di Laut Utara, Troy (Hisarlik), Celtiberia, Afria Barat Daya (Selat Giblartar/Spanyol) danTartasos, yang sangat kecil presentasi keberadaan ciri-ciri tersebut. Santos juga banyak mendapat petunjuk tentang lokasi Atlantis tersbut dari berbagai mitos, legenda dan informasi kitab-kitab suci Hindu-Budha (India), inskripsi di situs arkeologis Mesir, Sumeria, dll.

Temuan-temua ilmiah dan historis dari kedua sarjana kelas dunia tersebut, semakin meyakinkan lagi, karena kemudian, banyak sarjana, sejarawan, budayawan-filosof dan peneliti lain yang menemukan banyak fakta dan bukti-bukti lain yang memperkuat teorinya Santos maupun Oppenheimer, baik dari dalam negeri Indonesia sendiri maupun dari luar negeri. Dari University of Canterbury, Christchurch, New Zealand, Dr. Edwina Palmer menemukan banyak ternyata bangsa Jepang itu berasal dari Sundaland. Dia menulis 2 artikel ilmiah hasil penelitiannya yang berjudul: “Out of Sunda? Provenance of the Jomom Japanese” dan “Out of Sundaland: The Provenance of Selected Japanese Myths”.  Begitu pula, ada para peneliti dari Korea yang yakin bahwa nenek moyang bangsa Korea berasal dari lembah Pasemah, Pagar Alam, Sumatra Selatan, sebagaimana yang dikatakan oleh arkeolog Indonesia yang bergabung dengan para peneliti dari Korea tersebut: Dr. Retno Purwanti, dari Balai Arkeologi Palembang. Bahkan Oppenheimer pu dengan tak ragu-ragu mengatakan dalam wawancaranya dengan Majalah Tempo edisi Bahasa Inggris edisi 8 Febuary 2011, bahwa “Southeast Asia is The Source of Western Civilization”.

Dari dalam negeri, sampai kini telah bermunculan kelompok swadaya masyarakat dan para aktifis pencinta dan peneliti sejarah Peradaban Nusantara dan budaya etnis Nusantara, yang kemudian menemukan beberapa petunjuk dari berbagai situs purbakala yang kemungkinan besar terkait dengan sejarah Induk Peradaban di Nusantara kuno, yang bisa membuktikan keberadaan peradaban Lemuria maupun Atlantis di Nusantara. Misalnya kelompok Turangga Seta (TS) atau Greget Nuswantoro (GN), yang mengklaim menemukan petunjuk tersebut di relief dan bangunan Candi Cetho & Candi Sukuh di Gunung Lawu, Surakarta; Candi Penataran di Blitar, lalu mempublikasikan lewat berbagai media. Dari petunjuk itu TS/GN lalu menemukan keberadaan bukit yang diduga Piramida yang ditimbun di Bukit Lalakon, Soreang-Cililin, Bandung, Juga Bukit Piramida Sadahurip di desa Pangatikan, Sukawening Garut.

Penemuan dan penelitian TS itu kemudian ditindaklanjuti oleh beberapa kelompok peneliti swasta/LSM seperti Grup Atlantis Indonesia dan Great Pandora Nuswantara (di mana saya aktif sebagai pembinanya), bahkan juga oleh Lembaga semi pemerintah, seperti Team Survey Penelitian Bencana Katastropik Purba dari Staf Khusus Kepresidenan RI (SBY), yang dipimpin oleh Andi Arif. Temuan-temuan Team pimpinan Andi Arif ini, bahkan lebih spektakuler lagi, karena didukung oleh biaya yang cukup, peralatan teknologi dan para ahli yang kompeten yang dihimpunnya. Team Andi Arif ini mengumumkan telah menemukan lagi 3 Piramida atau Candi Punden Berundak di Garut, dan telah menemukan beberapa situs yang diduga Piramida Klotok di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, serta situs bekas kota tenggelam di Laut Selatan Provinsi Banten (berita tentang hal ini dapat dilihat di Blog Bayt al-Hikmah Institute atau Blog Atlantis Sunda yang saya kelola), atau di berbagai media online lainnya.

Berbagai kelompok pegiat dan peneliti sejarah budaya dan Peradaban Nusantara Kuno ini, pun tumbuh semakin banyak, dan semakin aktif kegiatannya. Termasuk Kelompok peneliti dari Australia yang dipimpin oleh Hans Berekoven dengan Kapal beradar sonar bawah laut bernama Southern Sun, Atlantis Sunda Archaelogical Research Project yang telah berusaha mengajak LIPI dan Bakorsurtanal untuk meneliti sisa-sisa keberadaan Atlantis/lemuria di Perairan Laut Jawa dan sekitarnya.

Temuan Jejak Sejarah Para Nabi Allah di Nusantara dan Agama-agama Dunia.

Dari sisi lain, yaitu dimensi kajian sejarah filsafat, ilmu kebahasaan dan sejarah agama-agama, saya sendiri telah menemukan banyak sumber informasi yang memperkuat keyakinan bahwa Peradaban Atlantis dan Lemuria (yang lebih dahulu eksis) di Nusantara dan wilayah sekitarnya { dari Madagaskar-pantai Afrika Timur, sampai ke Pulau Easter/Rapanui di Samudra Pasifik Timur, Dari New Zealand di selatan sampai Hawai (Hawa Iki/Jawa Iki) di Utara Pasifik}. Peradaban Atlantis dan Lemuria itu identik atau paralel dengan sebaran ras dan bahasa Austronesia, sebagaimana yang diteliti oleh Prof.Dr. Sangkot Marzuki, direktur lembaga Eikjman Institute, bersama sekitar 98 ilmuwan Asia lainnya yang bergabung dalam the Pan-Asia Single Nucleotide Polymorphism Consortium under the Auspices of The Human Genome Organization (Mapping Human Genetic Dicersity in Asia).

Peradaban Austronesia atau Sunda Land, atau Lemuria dan Atlantis, atau Kerajaan Rama & Alengkapura di Nusantara, itu saya temukan (hipotesisnya) sebagai tempat persemaian peradaban umat manusia dan tempat lahir agama-agama dunia yang terkait dengan sejarah para Rasul Allah SWT, sejak Nabi Adam as, Nabi Syist, Idris as (Hermes Trimegistus), Nabi Nuh as, sampai Nabi Ibrahim as (Abraham/Brahman). Kesamaan inti ajaran agama Sunda Wiwitan, Kejawen, Hindu, Budha, Yahudi, Kristen dan Islam. Bahkan ada temuan informasi yang mungkin masih sulit diterima oleh kebanyakan umat Islam awam, bahwa ternyata, Agama Sunda Wiwitan, Kejawen, atau Kaharingan dari Kalimantan, serta Hindu, Budha, Taoisme itu pada awalnya berkarakter Tauhid (Monotheis) sebagaimana yang dimiliki agama terakhir: Islam. Ini misalnya terlihat pada tulisan Dr. Zakir Abdul Karim Naik: Kesamaan antara Hindu dan Islam[8], Juga hal ini saya tulis dalam buku Peradaban Atlantis Nusantara di Bab 11 WarisanFilosofis dan Spiritual Atlantis: Konteks Keindonesia (p.339-356), dan Bab 12: Dari Kebijaksanaan Abadi (Perennial Wisdom) untuk Dialog Antar Peradaban: Sebuah Perspektif Islam (p.357-468). Ini semakin memperkuat landasan dan latar belakang kenapa muncul motto “Bhineka Tunggal Ika” dalam lambang negara kita Garuda Pancasila. Dalam sumber aslinya motto Bhineka Tunggal Ika itu berlanjut dengan kalimat: Tan Hanna Dharma Mangrwa, yang artinya: “Tak ada Kebenaran (al-Haqq) yang mendua.”

Hubungan Sunda dengan Nabi Ibrahim as.

Lutfia Az-Zahra, di Grup Atlantis Indonesia menulis:

Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera.

Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.

Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa/Sundaland/ Nusantara.

Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim

Orang orang Arab menyebut penduduk Nusantara sebagai “Bani Jawi”

Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.

Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (yang merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).

Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.

Sekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui penyelusuran yang lebih mendalam, diperoleh fakta, bahwa Brahmayang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim.

Brahma adalah Nabi Ibrahim

Mitos atau Legenda, terkadang merupakan peristiwa sejarah. Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi kabur, ketika kejadiannya di lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada.

Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah (Qatura/Keturah), yang kelak akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu Deutro).

Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).

Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi Jawa adalah Nabi Ibrahim, di antaranya :

1. Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya bernama Saraswati.

2. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Ismail, sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali)…

3. Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang mengajarkan ke-ESA-an ALLAH.

Ajaran Monotheisme di dalam Kitab Veda, antara lain :

Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yg berhak disembah

Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci

Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar

Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan

Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan : kami tidak menyembah kecuali Tuhan yg satu

Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang sesungguhnya”

Dalam Brahama Sutra disebutkan : “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yg kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”.

Sumber : http://religiku.wordpress.com/2007/09/10/hindu-dan-islam-ternyata-sama/

Ajaran Monotheisme di dalam Veda, pada mulanya berasal dari Brahma (Nabi Ibrahim). Jadimakna awal dari Brahma bukanlah Pencipta, melainkan pembawa ajaran dari yang Maha Pencipta.

4. Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah (Ka’bah) di Bakkah (Makkah), sementara Brahmamembangun rumah Tuhan, agar Tuhan di ingat di sana (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali).

Bahkan secara rinci, kitab Veda menceritakan tentang bangunan tersebut :

Tempat kediaman malaikat ini, mempunyai delapan putaran dan sembilan pintu… (Atharva Veda 10:2:31)

Kitab Veda memberi gambaran sebenarnya tentang Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim.

Makna delapan putaran adalah delapan garis alami yang mengitari wilayah Bakkah, diantara perbukitan, yaitu Jabl Khalij, Jabl Kaikan, Jabl Hindi, Jabl Lala, Jabl Kada, Jabl Hadida, Jabl Abi Qabes dan Jabl Umar.

Sementara sembilan pintu terdiri dari : Bab Ibrahim, Bab al Vida, Bab al Safa, Bab Ali, Bab Abbas, Bab al Nabi, Bab al Salam, Bab al Ziarat dan Bab al Haram.

Peradaban Agama Sunda Wiwitan di Sekitar Lokasi Gunung (Supervolcano) Sunda Purba hingga Krakatoa

Penemuan fosil dan artefak tahun-tahun terakhir ini disekitar Gua Pawon sampai Gunung Padang (Kab Bandung Barat sampai Cianjur) memang cukup mengejutkan. Ada sejumlah fosil mammoth dan sejumlah peninggalan dari jaman megalitikum. Sejumlah peneliti dari IAGI dan Wanadri yang setia menyusuri DAS Citarum menjumpai beberapa situs seperti di bawah ini:

Situs Desa Gunung Padang, di Campaka Cianjur

Gunung Sunda Purba sendiri pernah meletus serta menjadi tiga gunung anakan Gn Burangrang, Gn Tangkubanperahu dan Gn Bukit Tunggul. Puncaknya ada di atas Gn Tangkubanperahu dengan perkiraan ketinggina sampai 4.000 mdpl. Konon letusannya membuka Sanghyang Tikoro, sehingga Danau Purba Bandung menjadi daratan.

Nama Gn. Sunda Purba pun adalah bahasa lokal yang sama dengan penulisan geologist jaman pertengahan yang memperkirakan Sundaland (Paparan Sunda) berdiri di atas Sunda Plate (Lempeng Sunda tektonis). Douwess Dekker lah yang merubah nama Sundaland menjadi Nusantara, sehingga orang Malaysia pun sekarang merasa menjadi orang Nusantara. Bahkan mereka merasa sebagai sebuah kekaisaran (lebih tinggi dari kerajaan dan negara) dengan nama Kekaisaran Sunda Nusantara, berkedudukan di Kuala Lumpur.

Penemuan-penemuan baru piramida di Indonesia bahkan cukup menakutkan kelompok tertentu yang seolah akan mengembalikan keberadaan agama Sunda Wiwitan. Ini pendapat-pendapat dari masing-masing sumber, bukan saya, dan mohon maaf, hanya sekedar sharing bacaan.

Orang Pasundan merasa Sunda bukanlah etnis rakyat di Jawa Barat melainkan orang-orang se-Paparan Sunda yang berkumpul di pusat peradaban. Agama yang dianutnya pun adalah Sunda Wiwitan. Beberapa penganut Kejawen mengakui Sunda Wiwitan sebagai sumber “ke-jawa-an”, di mana agama Sunda yang monotheisme adalah ajaran Islam dari Brahma (Abhram menurut Taurat, Abraham menurut Injil dan Ibrahim menurut Quran), serta ajaran-ajaran sebelum Brahma (mungkin ajaran Islam sejak Nabi Adam as), di mana ajaran yang diusung adalah garis Habil dengan musuh ajaran Qabil.

Gunuung Krakatoa berkali-kali meletus dahsyat (dan diduga menjadi salah satu penyebab bencana besar katastopik yang memusnahkan peradaban Atlantis Nusantara dengan banjir dan Gempa serta Letusan Vulkanik raksasa menurut Santos, dan lokasinya dekat dengan suku Kanekes Banten (Baduy), yang sangat mempertahankan Agama Sunda Wiwitan dan mengaku bahwa Nabi panutan mereka adalah langsung Nabi Adam as.

Sunda Wiwitan yang berkembang dan disempurnakan oleh ajaran Al-Quran menjadi agama yang menurut faham Kejawen adalah Manunggaling Kawula Gusti yaitu bersatunya hamba dengan Tuhan-nya. Perspektif ajaran Kejawen berdimensi tasawuf percampuran antara kebudayaan Jawa, Hindu, dan Budha yang dianggap orang kurang menghargai aspek fiqh syariat dengan hukum-hukum agama Islam, alasannya adalah bahwa penyebar agama Islam pada waktu itu lebih mementingkan Islam diterima dahulu walau harus menyesuaikan dengan adat Jawa. Kejawen sendiri bukanlah berasal dari kata Jawa, melainkan dari “jawi” atau bermakna kesederhanaan. Tetapi orang Jawa sudah menggunakan atau memakai gelar “Sayidina Panatagama”, “Khalifatullah”, “Ajaran agama ageming aji” (perhiasan) untuk raja-raja Jawa, karena raja adalah dianggap wakil Allah di dunia.

Kitab Mahabarata dan Ramayana serta takwil Al-Qur’an merupakan sumber inspirasi ajaran Kejawen yang mengandung ajaran moral dan karakter prilaku tuntunan hidup dengan pola pemahaman kajian pikiran Jawa yang lebih terfokus pada aspek indra batin dan prilaku batin. Strategi pendekatan Kejawen adalah mencari pendekatan (taqorub) kepada Tuhan bahkan selalu ingin menyatu dengan Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti) dan analisanya bersifat batiniah.

Sunda Wiwitan di Jawa Barat menjadi agama Sunda yang cenderung melengkapinya dengan ajaran Al-Quran al-Karim dalam bentuk tajalli (manifestasi Ilahiyah) dan Nga-Hyang (Fana Fillah), mirip dengan kejawen, tetapi tetap melaksanakan syariat secara hakiki. Penyatuan diri dengan Allah secara fisikal adalah tidak mungkin karena manusia berbeda zat dengan Allah, tetapi manusia harus mampu mencapai dimensi maqomat ketuhanan sesuai kemampuan akalnya. Maka secara tasawuf, tajalli adalah menyatukan diri kepada penampakan Diri Tuhan yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan/mewujudkan diri”. Tidak mengherankan, pada 1576M, Raja Sunda Galuh (atau dikenal dengan raja Pakuan Pajajaran karena berkantor di Pakuwuan yang berjajar, yaitu Prabu Siliwangi (Sribaduga Maharaja, karena raja adalah mandataris dari board of director raja-raja dari trias politica pemerintahan Paparan Sunda ala kearifan lokal: Tri Tantu di Buana ) lebih suka mengalah dan menghilang (raib atau tilem/fana/moksa) ketimbang harus berperang sesama bangsa yang dikepalai oleh panglima-panglima Gujarat dan China yang menjadi wakil Kerajaan Demak, Cirebon, Bali dan Banten. Hal yang sama juga terjadi kepada raja majapahit terakhir: Prabu Brawijaya V, yang memilih moksa di Gunung Lawu (lokasi Candi Cetho dan Sukuh) ketimbang terus mempertahankan kekuasaan politiknya yang diperebutkan kalangan istananya dan keluarganya.

Oleh sebagian kalangan Islam kaum santri Indonesia berwarna Islam Saudi Arabia yang literal-harfiyah (Wahabiyin), konsep penyatuan manusia dengan Tuhan dalam Kejawen dan agama Sunda dianggap mengarah kepada penyekutuan Tuhan atau prilaku Syirik. Anehnya banyak ahli-ahli spiritual Islam Timur Tengah (juga Persia) bahkan banyak belajar kepada agama Islam Sunda ini. Apakah karena pola pikir tasawuf Jawa/Sunda/Nusantara pada waktu itu sudah lebih maju ketimbang tasawuf Arab? Di mana Nabi Muhammad SAW sendiri melaksanakan tingkat-tingkat di atas syariat seperti tarekat, hakekat dan marifat. Kemudian untuk menjadi marifatullah seseorang harus mengikuti sunnah Rasul dalam sifat siddiq, amanah, tabligh dan fatonah? Memang ajaran tasawuf Islam (Islamic Mysticism) itu lebih leluasa berkembang di kalangan para pengkikut Ahlu Bayt Nabi (baik dari kalangan Syiah pada khususnya maupun kalangan Sunni pada umumnya, Di pulau Jawa (Jawa Barat & Jawa Timur), kita mengenal tokoh Syekh Siti Jenar yang mengajarkan kesederhanaan hidup, ketulusan-kejujuran dan penyatuan diri dengan kehendak Tuhan YME (Manunggaling Kawulo lan Gusti) serta “Hamemayu Hayuning Bawono” (Rahmatan lil Alamin, dalam bahasa al-Qur’an).

Dari sudut pandang Tasawuf, gambar relief-relief dan pesan moral di Candi Borobudur yang merupakan peninggalan kerajaan Budha, itu pun ternyata dapat dipahami dan sangat sejalan dengan pola suluk (perjalanan) dan pembinaan spiritual dalam tasawuf, meneuju kesempurnaan tauhid dan makrifatullah. Begitu juga di Jawa barat telahdiketemukan Komplek Candi Jiwa di Batu Jaya Karawang yang merupakan peninggalan Kerajan Budha-Hinddu (?) Taruma Negara. Dan kerajaan Sunda sebelumnya.

Masih banyak warisan ajaran mulia dari para leluhur nusantara, khususnya dari Sunda Wiwitan maupun Kejawen serta masukan dari berbagai agama dan tradisi suci yang pernah tumbuh dan masih hidup di Nusantara ini yang masih sangat relevan dan perlu digali lebih dalam lagi serta dididikan kepada para putra bangsa Nusantara karena akan bermanfaat bagi kebangkitan spiritual dunia di millenium ketiga ini, di mana Nusantara pada umumnya dan urang Bogor (Sunda) pada khususnya, akan berperan penting dan strategis dalam proses maha hebat di akhir zaman ini, sebagaimana diramalkan dalam Uga Wangsit Prabu Siliwangi, atau ramalan Pandita Ronggowarsito tentang Satrio Piningit Sinihan Wahyu yang akan menjadi atau menengakkan Sistem Pemerintahan Ratu Adil di akhir zaman ini, serta ramalan atau prediksi para pujangga waskita lainnya. Dalam hal ini, saya rasa para budayawan, sesepuh dan para cendikiawan ilmuwan lain yang hadir di sini mungkin lebih tahu dan lebih paham daripada saya yang baru belajar ini.

Salah satu tokoh Budaya Sunda, yang sudah meninggalkan kita belum lama ini, yaitu almarhum Abah Hidayat Suryalaga, dari Bandung, pernah memberikan beberapa copy bukunya yang belum diterbitkan kepada saya yang berjudul: Rawayan Jati Kasundaan, dan Falsafah Sunda. Begitu juga Almarhum Anis Jati Sunda. Keduanya masih sempat penulis temui di Konferensi Internasional Budaya Sunda Kuno: Alam, Filsafat dan Budayanya di Hotel Salak, Bogor 25-26 Oktober 2010. Semoga Sang Hyang Widhi Wasa, Sang Hyang Pangersa, Tuhan YME/Allah SWT melapangkan jalanNya menuju Kebahagiaan dan Kesmpurnaan bersama-Nya. Dan kita yang menjadi muridnya dapat mengikuti jejak amal salehnya serta ajaran kemuliaan dan keluhuran ajaran kasajatian hirup.

Demikian sedikit pengantar diskusi pada Sarasehan atau Gempungan Budaya Sunda kali ini, semoga bisa menjadi pemicu diskusi konstrukstif-progresif dan mendorong penelitian lebih lanjut, demi membangkitkan national character building bangsa Nusantara/Indonesia para umumnya dan khususnya komunitas Budaya Sunda di Tatar Sunda.*** (AYS).

………………………………………………………………………………………………….

[1] Judul Makalah yang dipresentasikan dalam acara “Gempungan Budayawan Sunda”, hari Sabtu, 10 Desember 2011, di Rumah Kediaman Wakil Bupati Bogor: H. Karyawan Faturahman, S.H, MH., di Komplek Karadenan, Cibinong Bogor.

[2] Akademisi (dosen) & Peneliti Sejarah, Filsafat, Budaya-Peradaban dan Agama-agama, di PMIAI Universitas Paramadina Islamic College for Advaced Studies (ICAS) Jakarta; Penulis buku PERADABAN ATLANTIS NUSANTARA, terbitan Ufuk, Jakarta, 2011; anggota Pengurus ISIP (International Society for Islamic Philosophy) cabang Indonesia, Philipina, Austarlia & New Zealand; Pembina Grup Atlantis Indonesia & Great Pandora Nuswantoro di FB; Pengelola Situs Bayt al-Hikmah Institute

Menjadikan Indonesia sebagai Soko Guru Peradaban Dunia
Ilustrasi @abrrar
Oleh : Dr Sukamta
Di tengah berkecamuknya permasalahan bangsa, Sumpah Pemuda menjadi momentum yang tepat bagi kita untuk merefleksikan maknanya. Bangsa Indonesia telah berkali-kali memperingatinya, namun permasalahan bangsa belum juga terurai. Memang ini semua membutuhkan waktu. Dan ketidakjelasan mindset bangsa cukup signifikan menyebabkan kemajuan berjalan lambat meskipun Sumpah Pemuda telah terlewati 86 tahun lamanya, juga kemerdekaan yang 69 tahun sudah berlalu. Refleksi kita terhadap Sumpah Pemuda hendaknya menembus sekat-sekat yang ada hingga menyelami sanubari terdalam sejarah dan kekayaan bangsa. Mindset, yang merupakan derivasi dari visi bangsa kita, perlu terus diasah agar dapat memberikan arah perjalanan bangsa secara jelas.
Benar, selama ini bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, bangsa yang majemuk namun mampu hidup berdampingan dan bangsa yang secara geostrategis diapit oleh 2 samudera dan 2 benua. Namun hal ini bukanlah identitas yang menjadi visi, melainkan hanyalah sebuah identitas berupa fakta alamiah.
Bangsa Amerika menjadikan kebebasan (freedom) sebagai identitas yang sekaligus menjadi visi. Hal tersebut mengalir dan mendarah daging dalam jiwa setiap masyarakat Amerika. Jargon “novus ordo seclorum” menunjukkan visi Amerika untuk membawa masyarakat dunia pada satu tata dunia baru yang menjunjung tinggi kebebasan. Hasilnya, Amerika telah menjadi negara besar dan maju serta mampu “berekspansi” ke seluruh penjuru dunia. Jepang juga terkenal dengan sifat ksatria-nya. Jiwa Bushido demikian melekat pada jiwa-jiwa masyarakatnya. Jargon “hakko ichiu” juga merupakan visi besar bangsa Jepang yang menginginkan semua bangsa di dunia dari 8 penjuru mata angin berada di bawah satu atapnya. Demikian juga dengan bangsa Tiongkok yang memiliki visi “zhong guo” yang terkandung maknanya dalam nama negerinya : tiong / zhong (tengah) dan guo / kok (negeri). Bangsa Tiongkok menginginkan negerinya menjadi pusat peradaban dunia.
Visi-visi tadilah yang melahirkan mindset ekspansi. Amerika dengan visi besarnya itu kini mampu berekspansi dan “menguasai” dunia dengan ajaran demokrasi liberal dan kapitalismenya. Jepang juga mampu berekspansi dan merajai dunia dengan produk-produk teknologinya bahkan sempat “head to head”, meminjam istilah Lester Thurow, dengan Amerika. Tiongkok juga mampu berekspansi dan “menguasai” dunia dengan jumlah rasnya yang berjumlah sekitar 1.5 milyar dan produk-produknya yang membanjiri pasaran dengan harga bersaing. Kini Tiongkok pun menjadi “ancaman” yang digadang-gadang akan menggantikan Amerika sebagai penguasa dunia. Jargon Lebensraum Hitler juga menjadi inspirator bagi Jerman untuk berekspansi mencari ruang hidup (leben = hidup, sraum = ruang) ke bangsa-bangsa lain. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Bangsa Arisan
Bangsa Indonesia telah dijajah oleh bangsa-bangsa lain seperti Spanyol, Belanda, Portugis dan Jepang selama berabad-abad. Konon, bangsa Eropa terinspirasi mencari rempah-rempah ke nusantara dari sebuah buku Ittinerario yang menyebutkan adanya sebuah wilayah kepulauan di wilayah Timur yang kaya akan rempah-rempah, bertanah subur dan beriklim tropis. Terlepas dari benar atau tidaknya berita ini, penjajahan bangsa-bangsa tadi memang fakta.
Alih-alih untuk berekspansi, bangsa kita sibuk dengan keterkungkungan dalam negeri akibat penjajahan tadi. Penjajahan yang terjadi sebagai akibat dari segala hal ada di sini. Mulai dari minyak bumi, batu bara, gas alam, karet, kelapa sawit, bauksit, rempah-rempah, perikanan, hingga kekayaan flora dan fauna. Kekayaan alam inilah yang menjadikan bangsa kita kurang memiliki jiwa ekspansi karena justeru bangsa-bangsa lainlah yang berekspansi ke nusantara untuk mengeruk kekayaan alamnya.
Kecenderungan “mangan ora mangan asal kumpul” menandakan bangsa kita suka dengan kebersamaan. Jargon ini tetap hidup hingga sekarang. Maka tidak mengherankan jika masyarakat kita dikenal suka dengan aktivitas kumpul-kumpul dalam berbagai bentuknya seperti perkumpulan, paguyuban dan arisan. Pada level politik, hal ini menjadi social capital yang membentuk corak pengambilan keputusan dengan mengedepankan prinsip musyawarah untuk mufakat.
Tapi hampir dapat dipastikan, bangsa Indonesia tidak pernah melakukan ekspansi ke bangsa-bangsa lain. Memang nenek moyang kita dahulu para pelaut yang menjelajahi samudera. Tapi hal ini tidak lantas menjadi indikator bahwa bangsa kita melakukan ekspansi. Masyarakat kita lebih cenderung untuk berkumpul di negerinya sendiri. Maka muncul pameo “hujan emas di negeri orang, masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri.” Di sini, “orang bilang tanah kita tanah surga, rumput dan batu tumbuh jadi tanaman,” kata Koes Plus.
Kimia Perubahan
Minimnya jiwa ekspansi yang diakibatkan secara tidak langsung oleh keterlenaan jiwa karena kenyamanan di negeri sendiri, menyebabkan pula bangsa kita menjadi bangsa yang rapuh. Hampir tidak ada kemandirian yang kita miliki. Banyak sekali sektor kita yang tergantung dengan kepentingan asing. Tidak ada keadaan yang mampu memaksa kita untuk menciptakan sesuatu yang dapat menjadi komoditas bangsa yang layak ekspor, selain bahan mentah.
Melihat realita seperti ini, hendaknya kita tanamkan dalam jiwa kita masing-masing tekad kuat untuk berubah. Untuk melakukan perubahan, alangkah baiknya kita menengok kimia perubahan yang tercipta saat Sumpah Pemuda dahulu.
Pada masa sebelum tahun 1928, para pemuda terpecah-pecah ke dalam kelompok-kelompok suku. Kemudian pada tahun 1928, mereka yang berasal dari beragam organisasi seperti Jong Java, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Islamiten Bond, Jong Celebes, Jong Sumatera, Jong Borneo, merasa terpanggil untuk berkumpul, berinteraksi dan berdiskusi demi kemajuan bangsa. Interaksi ini menghasilkan kesenyawaan dan keterikatan dalam hal pandangan dan perasaan. Ibarat reaksi kimia yang terjadi akibat dua unsur yang berinteraksi yang menyebabkan elektron-elektron bertemu lalu menghasilkan senyawa baru. Yang kemudian melahirkan kimia perubahan dalam pikiran dan jiwa mereka. Berubahlah mindset dan perasaan mereka yang sebelumnya terpecah ke dalam suku-suku bangsa. Mereka yang datang dari berbagai daerah dengan unsur-unsur kimia suku yang berbeda seperti fisik, bahasa, adat dan budaya, melebur menjadi satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa; Indonesia. Tercetuslah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai tonggak berdirinya sebuah bangsa.
17 tahun kemudian, tepatnya 17 Agustus 1945 adalah puncak perlawanan rakyat Indonesia dengan diproklamasikan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini menjadi tonggak berdirinya sebuah negara. Lalu 53 tahun lamanya Indonesia menyibukkan dirinya dengan pembangunan. Hingga kemudian lahirlah senyawa baru tahun 1998 bernama reformasi. Sejak itulah bangsa Indonesia melakukan perbaikan dalam semua sektor kehidupan berbangsa dan bernegaranya.
Syarat Perubahan
Kimia perubahan yang terjadi pada Sumpah Pemuda tadi memberi contoh sebuah perubahan yang nyata dalam generasi kita. Maka, hal penting yang menjadi syarat perubahan di sini adalah adanya interaksi. Jika kita ingin berubah, banyak-banyaklah berinteraksi dengan segala hal. Berinteraksilah dengan peradaban lain, dengan orang lain. Lakukanlah diskusi dan curah gagasan, bukan sekadar kumpul-kumpul atau arisan. Diharapkan dengan interaksi-interaksi ini terbentuklah kimia perubahan yang melahirkan senyawa baru berupa mindset dan jiwa ekspansi.
Jika kita ingin menumbuhkan mindset dan jiwa ekspansi pada generasi muda, dorong dan bukalah peluang mereka untuk berinteraksi dengan peradaban luar. Sekitar 1 dekade belakangan ini ada gelombang berbondong-bondongnya generasi muda kita untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Ini sinyal yang bagus dan harus terus ditingkatkan. Anggaran pendidikan nasional 20% turut andil penting dalam menciptakan gelombang ini. Dengan menimba ilmu dari bangsa Amerika, Eropa, Tiongkok, Jepang, dst, diharapkan lahir jiwa ekspansi, bukan malah lahir perasaan inferiority complex terhadap bangsa-bangsa yang sudah maju.
Karenanya, tidak hanya sekadar interaksi, generasi muda harus mampu meneguhkan jati diri, identitas dan visinya sebagai bangsa Indonesia yang memiliki kepribadian tangguh serta berbudi luhur. Jika tidak, maka alih-alih jiwa ekspansi yang lahir, tapi justeru perasaan minder. Alih-alih mampu memberi pengaruh positif kepada bangsa-bangsa lain, tapi justeru terlarut oleh arus global yang akhirnya “menjajah” bangsanya sendiri.
Modal Ekspansi
Seiring dengan kemajuan zaman, ekspansi tidak melulu dilakukan dengan persenjataan militer. Budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta tata nilai dapat menjadi modal ekspansi.
Bangsa Amerika, Eropa, Tiongkok, Jepang dan India, tidak serta merta melakukan ekspansi yang bebas tata nilai. Amerika berekspansi dengan tata nilai kebebasan dan demokrasi. Tiongkok juga berekspansi dengan nilai-nilai keluhuran filosofi Konfusianisme. Demikian juga dengan Jepang dan India yang masing-masing memiliki tata nilai dan budayanya.
Maka, tata nilai adalah modal ekspansi yang paling utama. Tata nilai yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah nilai-nilai luhur yang ada pada Pancasila. Seharusnya, Pancasila inilah yang kita jadikan sebagai nilai jual ketika berhadapan dengan bangsa-bangsa yang lain. Hampir semua ideologi di dunia terakomodasi dalam payung bernama Pancasila. Hal ini unik, karena sepertinya belum ada negara di dunia ini yang mampu mengakomodasi keragaman ideologi yang ada ke dalam dasar negaranya seperti Indonesia. Indonesia bukan negara agama sekaligus bukan negara sekular, tapi agama menjadi dasar yang menjiwai kehidupan berbangsa. Karenanya, Pancasila inilah nilai jual bangsa Indonesia di kancah global. Pancasila bisa menjadi contoh tata nilai bagi bangsa-bangsa lain. Dan inilah modal ekspansi kita.
Tidak Asal Ekspansi
Selama ini bangsa kita juga dianggap telah melakukan “ekspansi” dengan mengirim tenaga-tenaga kerja (TKI) pembantu rumah tangga ke berbagai negara di dunia yang pada praktiknya banyak mengalami intimidasi dan kekerasan dari para majikannya. Kita harus berusaha untuk menciptakan generasi muda yang tangguh sehingga dapat berekspansi ke seluruh penjuru dunia untuk menjadi tenaga kerja yang dihargai dan disegani karena keahlian, kepribadian dan intelektualitasnya.
Selama ini juga bangsa kita telah melakukan “ekspansi” secara ekonomi dengan mengekspor bahan-bahan mentah ke berbagai penjuru dunia. Sebetulnya hal ini tidaklah terlalu menguntungkan karena bahan mentah itu berharga cukup murah yang memiliki selisih harga yang besar dengan harga jual ketika bahan tersebut telah siap pakai. Selisih yang besar inilah yang menjadi keuntungan bagi negara-negara importir bahan mentah tadi. Ke depannya kita harus mampu mengelola sendiri bahan mentah menjadi barang siap pakai agar kemakmuran itu dapat kita rasakan.
Demikian harapan-harapan yang menjadi pekerjaan rumah kita semua. Bangsa ini memerlukan tekad perubahan dan ini dapat kita refleksikan dari semangat Sumpah Pemuda. Dengan modal nilai Pancasila, keahlian, intelektualitas, kekayaan alam dan kepribadian bangsa, kita dapat menciptakan mindset ekspansi ke segala penjuru dunia pada jiwa generasi muda. Menjadikan Indonesia sebagai soko guru peradaban dunia. Semoga. []

sumber : Bersama Dakwah

JokoWi-JK Bikin Universitas Bakal Pusat Peradaban Islam Dunia
Noor Aspasia Hasibuan, CNN Indonesia
Rabu, 17/06/2015 14:15 WIB
Jokowi-JK Bikin Universitas Bakal Pusat Peradaban Islam DuniaPresiden Joko Widodo (kanan) didampingi Wapres Jusuf Kalla (tengah) dan Menag Lukman Hakim Saifuddin (kiri) bersiap menyalami para tamu undangan seusai acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/1). (ANTARA/Andika Wahyu/pd/15.
Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintah Jokowi-JK berencana untuk membangun perguruan tinggi atau universitas Islam moderat yang diproyeksikan menjadi pusat peradaban Islam dunia. Salah satu usaha yang akan dilakukan pemerintah untuk mewujudkan rencana ini melalui merekrut tenaga pengajar asing.

“Nanti akan melibatkan banyak guru besar dari luar negeri selain yang sudah tersedia di Indonesia,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Kantor Wapres, Jakarta, Rabu (17/6). (Baca juga: Jokowi Pilih Berbaju Militer saat Terima PP Muhammadiyah)

Melalui pembangunan universitas ini, pemerintah berencana untuk menghasilkan para cendekiawan muslim, dan pemikiran-pemikiran Islam yang bisa digunakan oleh seluruh muslim dunia. Adapun rencana pembangunan perguruan ini ditujukan untuk mahasiswa pascasarjana baik untuk S2 dan S3.

“Karena yang S1 biarlah menjadi konsentrasi perguruan tinggi islam negeri yang ada sekarang ini seperti STAIN, IAIN, UIN,” kata Lukman menjelaskan. (Baca juga: Beberapa Sekolah di Inggris yang Melarang Siswa Muslim Puasa)

Kendati sudah mendetailkan rencana pembangunan ini, pemerintah masih mematangkan dan mendalami konsep lebih mendalam agar realisasi pembangunan ini sesuai dengan output yang dicanangkan.

Adapun anggaran yang dipakai, Lukman menjamin tidak akan menganggu pagu lembaga negara atau universitas lainnya. “Keppres tersendiri terkait hal ini sehingga kemudian ada alokasi anggaran dari APBN,” katanya

Untuk mewujudkan hal ini pemerintah melibatkan sejumlah tokoh masyarakat, tokoh Islam, ormas-ormas Islam. Sebelumnya, JK mengatakan sumber inspirasi pemerintah menjadikan peradaban Islam moderat ialah konflik Timur Tengah. (Baca juga: Kementerian Agama Setuju Mengaji Jangan Pakai Rekaman)

“Pada saat kondisi di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Afrika mengalami banyak kesulitan dan diperkirakan jangka panjang, maka indonesia mempunyai peran yang besar untuk pemikiran-pemikiran Islam yg moderat,” kata JK di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6).

Untuk diketahui, JK mengatakan pemerintah tengah mempersiapkan langkah-langkah kesiapan Negara Indonesia untuk menjadi pusat Islam moderat dunia salah satu cara yang disiapkan ialah lewat metode pendidikan perguruan tinggi.

“Indonesia akan punya pusat penelitian, pusat pengembangan pikiran-pikiran agama internasional,” kata JK dalam pidato pembukannya di ijtimak ulama Komisi Fatwa MUI, Tegal, Jawa Tengah awal bulan ini.

JK menegaskan bahwa Indonesia siap mengeluarkan dana untuk proyek pembangunan ini walaupun menyentuh angka di Rp 10 triliun.

Etika Sosial Islam Nusantara

Oleh: Ali Masykur Musa

Hampir semua sejarawan sepakat, penyebaran Islam di kawasan Nusantara tumbuh dan berkembang melalui proses dan pola secara damai. Penduduk di kepulauan ini pada umumnya menerima dan memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW secara sukarela, tanpa dilatarbelakangi paksaan yang berarti.
Islam berkembang pesat di Indonesia karena pengaruh para sufi yang menyebarkan ajaran Islam yang inklusif dan akomodatif terhadap kehidupan sosial budaya setempat. Dakwah damai ini dilanjutkan para kiai atau syekh yang tidak punya kepentingan politik dengan mendirikan pesantren yang mengutamakan akhlak dan kearifan lokal. Pola pembumian Islam secara damai ini menjadi ikon penting Islam di bumi Nusantara hingga kini.
Pengertian inilah yang disebut dengan Islam Nusantara, yang masih disalahpahami. Sayangnya, di tengah kesejukan Islam Nusantara, ajaran wahabisme muncul untuk menghancurkannya. Kelompok Wahabi mengklaim dapat mengembalikan umat Islam kepada ajaran Islam dan akidah yang murni.
Dengan pedoman al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah (kembali kepada Alquran dan al-hadis) mereka ingin kembali kepada Alquran dalam makna harfiah. Alquran dianggap hanya deretan huruf yang tak berkaitan dengan konteks di sekitar. Mereka menolak sejumlah tradisi masyarakat. Semua keadaan ingin dikembalikan pada keadaan zaman Nabi Muhammad SAW. Mereka tak setuju rasionalisme dalam filsafat Islam. Demi literalisme Alquran, ushul fiqih mereka acuhkan.
Kearifan beribadah adalah wujud pemahaman menyeluruh terhadap beragama. Secara umum, hampir semua ibadah di Islam terbagi dua varian utama: simbol (madzhar) dan substansi (jauhar).
Simbol mengajarkan tentang gerakan ritual, cara, jumlah, waktu, dan tempat dalam setiap ibadah. Substansi mengajarkan tujuan di balik gerakan ritual itu.
Meskipun Islam mengenalkan simbol, tetapi tujuan beragama adalah substansi, bukan simbol. Puncaknya ketika Islam mengajarkan bahwa beragama bukanlah menghadapkan jasad ke timur dan barat, tetapi melahirkan praktik sosial yang mendalam. Inilah makna Nabi Muhammad diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.
Jika kita melihat sikap keberagamaan umat Islam di zaman modern ini, hampir semuanya memberikan volume sangat besar ke dalam simbol. Umat Islam selalu merasa cukup jika telah melaksanakan ibadah ritual. Mereka tidak pernah melirik kembali tujuan di balik simbol ibadah.
Karena lebih menitikberatkan simbol, agama pun bagaikan aktivitas rutin harian yang sangat kering. Akibatnya, agama hanya mampu melahirkan kesalehan individual, tidak sampai pada kesalehan sosial.
Pemahaman salah dalam beragama bisa mengarahkan penganutnya kepada jebakan fundamentalisme dan radikalisme. Artinya, ketika agama dibajak untuk melegalkan radikalisme atas nama agama, maka agama menjadi instrumen pembenaran.
Untuk mencegah meluasnya radikalisme, dibutuhkan penguatan Islam Nusantara melalui sistem pendidikan yang mampu memberikan pemahaman yang benar akan teks agama. Ini diharapkan bisa memutus ideologi radikal.
Mayoritas pesantren di Indonesia menganut ideologi ahlussunnah waljamaah (aswaja). Ideologi aswaja mengusung ajaran moderat (tawasuth), seimbang (tawazun), toleran (tasamuh), dan adil (i’tidal) sebagai etika sosial. Budaya kafir-mengafirkan tidak dikenal di pesantren. Selagi masih bersyahadat dan mengimani ajaran Islam, tak ada alasan mencap orang/kelompok lain kafir.
Pesantren yang berpegang teguh pada aswaja menghindari tafsir tunggal teks agama. Setiap teks terbuka akan berbagai penafsiran baru. Inilah yang menjadikan pesantren mampu menjaga eksistensinya. Karena pesantren senantiasa inklusif dan terbuka pada penafsiran baru yang tidak bertentangan dengan ajaran substantif Islam, menunjukkan pesantren terbuka terhadap keragaman pemikiran.
Pesantren merupakan lembaga yang inklusif dan menghargai perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat tak lantas ditolak, apalagi dikecam. Perbedaan pendapat merupakan keniscayaan dinamika pemikiran manusia yang mempunyai perspektif dan kapasitas pemikiran berbeda.
Sikap demikian sejatinya juga dipelajari oleh pesantren dari ulama-ulama aswaja yang tak memaksakan kebenaran tunggal. Sebab, dalam setiap kebenaran terdapat kemungkinan kesalahan, pun sebaliknya.
Kearifan ini bisa terbaca, misalnya, dari ungkapan Imam Abu Hanifah, salah satu pendiri mazhab fikih. Terkait hasil ijtihadnya, ia mengatakan, “Inilah pendapatku. Jika ada yang datang kepadaku untuk menyampaikan pendapat yang lebih baik, aku akan menerimanya.”
Kearifan yang demikian dipraktikkan tokoh pesantren almaghfurlah Abdurrahman Wahid. Menurut Gus Dur, ribuan sumber tertulis (dalil naqli), baik berupa ayat Alquran maupun hadis akan memiliki peluang yang sama bagi pendapat yang berbeda. Islam sangat menghargai perbedaan pendapat.
Yang dilarang oleh Islam adalah saling bertentangan yang mengakibatkan perpecahan (QS Ali Imran: 103). Hal inilah yang menjadikan pesantren sebagai pelopor Islam yang rahmatan lil alamin sebagai wajah Islam Nusantara yang cinta kedamaian dan menolak kekerasan.
Untuk menanggulangi kaum fundamentalis dan radikal, inklusivitas pemikiran dan penerimaan keberagaman melalui pendidikan di pesantren harus tetap dipelihara dan bahkan diperkuat. Tiada lain, pesantren harus mempertahankan ideologi aswaja yang mengedepankan Islam yang wasath (tengah-tengah) dalam segala hal.
Pesantren harus tetap memperjuangkan dakwah kultural yang sarat nilai dan nirkekerasan. Amar makruf nahi mungkar harus tetap dilaksanakan dengan jalan yang makruf tanpa mengedepankan konflik.
Inilah ideologi pesantren yang harus tetap dipertahankan dan bahkan diperjuangkan. Melalui pesantren, identitas Islam yang toleran, moderat, damai diajarkan dan disebarluaskan. Sekarang, saat tepat bagi Islam Indonesia menjadi pelopor kepada dunia.
Tidak boleh lagi ada nyawa yang hilang sebagai korban perjuangan beragama. Islam yang santun dan moderat itulah substasi Islam Nusantara sebagai wajah Islam dunia ke depan yang penuh kebajikan dan kedamaian. []

REPUBLIKA, 09 Juli 2015
Ali Masykur Musa | Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>


0 Responses to “Kenegarawanan : Indonesia Inspirator Peradaban Dunia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: