12
Jul
15

Kebudayaan : Islam Nusantara ke Perhimpunan Bangsa-bangsa

   Jakarta45

PBNU Senang, Diskusi Islam Nusantara Digelar di Gedung PBB

Rabu, 08/07/2015 18:59

[Jakarta, *NU Online*
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH. Said Aqil Siroj, bersyukur
gagasan Islam Nusantara yang dijadikan tema besar Muktamar ke-33 Nahdlatul
Ulama, 1 – 5 Agustus mendatang, diterima oleh dunia internasional.

“Saya dengar PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) sampai menggelar diskusi
khusus tentang Islam Nusantara. Alhamdulillah, Islam Nusantara bisa
diterima dunia internasional,” kata Kiai Said di Jakarta, Rabu (8/7/2015).

Dikutip dari situs voa indonesia, PBB menggelar diskusi membahas wajah
Islam moderat di Indonesia di markas besar mereka di New York, Amerika
Serikat, Selasa (7/7/2015) waktu setempat. Diskusi yang digagas oleh
perwakilan tetap Indonesia di PBB ini diikuti oleh pemuka agama, pengamat,
diplomat, serta tokoh masyarakat.

“Ini membanggakan,” lanjut Kiai Said.

Lebih lanjut Kiai Said meminta pihak-pihak di luar NU, khususnya yang terus
mempertanyakan gagasan Islam Nusantara, untuk tidak lagi memperdebatkannya.

“Saya tegaskan lagi Islam Nusantara bukan agama baru, bukan juga aliran
baru. Dan yang paling penting Islam Nusantara tidak akan mengajarkan
seseorang menjadi radikal, tidak akan mengajarkan permusuhan dan
kebencian,” tegasnya.

Dalam diskusi tentang Islam Nusantara di PBB, Dr. James B. Hoesterey dari
Universitas Emory di Atlanta, Georgia, menganggap Islam Nusantara sebagai
gagasan yang layak dicontoh oleh dunia internasional.

“Sebagai seorang antropolog yang sudah lama melakukan penelitian di
Indonesia, saya senang bahwa dunia luar dan wakil-wakil serta duta besar
dari negara masing-masing dapat mendengarkan sedikit lebih dalam mengenai
Islam di Indonesia yang mungkin tidak sama dengan Islam di negara mereka,
misalkan Arab Saudi. Kalau kita lihat ke depan, mungkin Indonesia bisa
menjadi contoh,” kata Dr. James.

Sementara Dr. Chiara Formichi, pakar sejarah Islam di Indonesia dari
Universitas Cornell di Ithaca, New York, mengatakan banyak pelajaran yang
bisa dipetik dari Islam di Indonesia.

“Gagasan Islam Nusantara sangat erat dengan budaya dan sejarah Indonesia.
Saya tidak tahu bisa diterapkan di negara lain atau tidak, tetapi yang
jelas bisa menjadi contoh untuk mengerti mengapa seseorang memeluk Islam,”
katanya.

Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama akan digelar di Jombang, Jawa Timur, 1 – 5
Agustus mendatang. Muktamar yang merupakan forum permusyawaratan tertinggi
di Nahdlatul Ulama tersebut mengangkat tema ‘Meneguhkan Islam Nusantara
untuk Peradaban Indonesia dan Dunia’. *Red: Mukafi Niam Foto: VOA
Indonesia*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,60756-lang,id-c,nasional-t,PBNU+Senang++Diskusi+Islam+Nusantara+Digelar+di+Gedung+PBB-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Landasan Operasional Islam Nusantara

Oleh: Zainul Milal Bizawie

Saat ini istilah Islam Nusantara telah menimbulkan polemik pro dan kontra. Bagi NU sebagai ormas Islam terbesar, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Bahwa Islam di Nusantara didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya. Dari pijakan sejarah itulah, NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran. Presiden Jokowi juga telah menyatakan dukungannya secara terbuka atas model Islam Nusantara, yaitu Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama dan penuh toleransi.

Namun, banyak kalangan yang melontarkan kritik dan penolakan terhadap istilah Islam Nusantara karena terkesan memperhadapkan dengan Islam di Arab, bahkan dianggap rasial dan menimbulkan fanatisme primordial dan akan semakin mengkotak-kotakkan umat Islam, bahkan dituduh sebagai bagian strategi baru dari agenda islam liberal dan zionis. Karenanya, agar tidak terjadi tumpang tindih dan kesalahpahaman terkait Islam Nusantara, penting kiranya memaknai Islam Nusantara sebagai konsep dan bagaimana operasionalisasinya dalam konteks keberagamaan di Indonesia saat ini. Hal ini karena kita bertanggung jawab menyebarluaskan paham Islam Nusantara sebagai bentuk penegasan Islam yang memberi kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh rakyat Indonesia.

Memaknai Islam Nusantara

Islam Nusantara adalah Islam yang khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Karakter Islam Nusantara menunjukkan adanya kearifan lokal di Nusantara yang tidak melanggar ajaran Islam, namun justru menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Kehadiran Islam tidak untuk merusak atau menantang tradisi yang ada. Sebaliknya, Islam datang untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi dan budaya yang ada secara tadriji (bertahap). Bisa jadi butuh waktu puluhan tahun atau beberapa generasi. Pertemuan Islam dengan adat dan tradisi Nusantara itu kemudian membentuk sistem sosial, lembaga pendidikan (seperti pesantren) serta sistem Kesultanan (KH. Said Aqil Siraj: 2015). Tradisi itulah yang kemudian disebut dengan Islam Nusantara, yakni Islam yang telah melebur dengan tradisi dan budaya Nusantara.

Pemahaman tentang formulasi Islam Nusantara menjadi penting untuk memetakan identitas Islam di negeri ini. Islam Nusantara dimaksudkan sebuah pemahaman keislaman yang bergumul, berdialog dan menyatu dengan kebudayaan Nusantara, dengan melalui proses seleksi, akulturasi dan adaptasi (Abdul Mun’im DZ: 2010). Islam nusantara tidak hanya terbatas pada sejarah atau lokalitas Islam di tanah Jawa. Lebih dari itu, Islam Nusantara sebagai manhaj atau model beragama yang harus senantiasa diperjuangkan untuk masa depan peradaban Indonesia dan dunia (Ahmad Baso: 2015). Islam Nusantara adalah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara. Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima orang Nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil ‘alamin.

Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasut (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik. Model Islam Nusantara itu bisa dilacak dari sejarah kedatangan ajaran Islam ke wilayah Nusantara yang disebutnya melalui proses vernakularisasi dan diikuti proses pribumisasi, sehingga Islam menjadi embedded (tertanam) dalam budaya Indonesia (Azyumardi Azra:2-15). Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun, namun tidak harus bernama dan berbentuk seperti Islam Nusantara karena dalam Islam Nusantara tidak mengenal menusantarakan Islam atau nusantarasasi budaya lain.

Dalam konteks ini, budaya suatu daerah atau negara tertentu menempati posisi yang setara dengan budaya Arab dalam menyerap dan menjalankan ajaran Islam. Suatu tradisi Islam Nusantara menunjukkan suatu tradisi Islam dari berbagai daerah di Indonesia yang melambangkan kebudayaan Islam dari daerah tersebut. Dengan demikian, corak Islam Nusantara tidaklah homogen karena satu daerah dengan daerah lainnya memiliki cirikhasnya masing-masing tetapi memiliki nafas yang sama. Kesamaan nafas merupakan saripati dan hikmah dari perjalanan panjang Islam berabad-abad di Nusantara yang telah menghasilkan suatu karakteristik Islam Nusantara yang lebih mengedepankan aspek esotoris hakikah ketimbang eksoteris syariat.

Salah satu dari masterpiece Islam Nusantara adalah tegaknya NKRI dan Pancasila (Zainul Milal Bizawie: 2014). Dalam pandangan Islam Nusantara, Indonesia adalah darussalam dan Pancasila merupakan intisari dari ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah. Karenanya, mempertahnakan NKRI dan mengamalkan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia utk menjalankan syariat Islam. Pancasila merupakan pengejawantahan dari Islam Nusantara, karena itu nilai-nilai Pancasila harus terus ditegakkan, apalagi saat ini tengah terjadi liberalisasi sistem politik dan ekonomi serta budaya, sehingga keberadaan Pancasila menjadi samar-samar.

Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam. Tentu saja, Islam Nusantara tidak seekstrim apa yang terjadi di Turki era Mustafa Kemal Attaturk yang pernah mengumandakan adzan dengan bahasa Turki. Ada pokok-pokok ajaran Islam yang tidak bisa dibudayakan ataupun dilokalkan. Dalam hal ini, penggunaan tulisan Arab Pegon oleh ulama-ulama terdahulu adalah salah satu strategi jitu bagaimana budaya lokal bedialektika dengan budaya Arab dan telah menyatu (manunggal). Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai dan menghargai keberagaman. Islam yang merangkul bukan memukul, Islam yang membina bukan menghina, Islam yang memakai hati bukan memaki-maki, Islam yang mengajak taubat bukan menghujat, dan Islam yang memberi pemahaman bukan memaksakan.

Landasan dan Operasionalisasinya

Dalam membangun karakteristik Islam Nusantara, peran penyebar masuknya Islam di Nusantara seperti Walisongo cukup dominan dalam pembentukan kultur Islam Nusantara. Para Wali yang merupakan gabungan antara ahli syari’ah dan tasawuf ini telah mengembangkan Islam ramah yang bersifat kultural. Sifat kultural ini bisa terbentuk, karena penekanan para Wali atas substansi Islam yang akhirnya bisa membumi ke dalam bentuk budaya keagamaan lokal pra-Islam. Proses ini yang disebut KH. Abdurrahman Wahid (1980-an) sebagai pribumisasi Islam, di mana ajaran Islam disampaikan dengan meminjam “bentuk budaya” lokal. Pribumisasi Islam ala Walisongo mengajarkan toleransi, substansi dan kesadaran kebudayaan di dalam dakwah Islam. Pola pribumisasi Islam inilah yang akhirnya membentuk perwujudan kultural Islam. Sebuah perwujudan keislaman yang bersifat kultural yang merupakan pertemuan antara nilai-nilai normatif Islam dengan tradisi lokal.

Perwujudan kultural ala Walisongo ini kemudian mencapai titik paripurna di dalam pesantren. Hal ini tidak lepas dari jejaring ulama Nusantara pada abad-abad setelahnya yang menggambarkan proses kesinambungan yang terus berproses menyempurnakan. Proses tersebut mengalami persilangan lintas kultur, dengan transmisi keilmuan, jaringan ulama dan interaksi kebudayaan. Persilangan lintas kultural antara kawasan Nusantara dengan Arab, Yaman, Haramain, Ottoman dan kawasan Asia tengah menjadi titik penting untuk melihat bagaimana penyerbukan lintas budaya terjadi. Islam Nusantara lahir dari interaksi antar budaya yang menghasilkan harmoni dalam tradisi, ritual dan pemahaman konsep-konsepnya. Islam di Nusantara tidak berangkat dari kekerasan, namun dari cara-cara perdamaian untuk meresap di hati.

Bentuk operasionalisasi Islam Nusantara adalah proses perwujudan nilai-nilai Islam melalui (bentuk) budaya lokal. Dalam tataran praksisnya, membangun Islam Nusantara adalah menyusupkan nilai Islami di dalam budaya lokal atau mengambil nilai Islami untuk memperkaya budaya lokal atau menyaring budaya agar sesuai nilai Islam. Proses tersebut dimungkinkan karena dalam Islam terdapat kaidah fikih al-‘adah al-muhakkamah (adat bisa menjadi hukum) maupun pengembangan dan pemahaman aplikasi nash (al Qur’an dan Hadits). Kaidah Fiqh dan pengembangan tersebut semata-mata ditujukan untuk tercapainya maqāṣīd al-syarīʻah (tujuan syariat), yaitu terwujudnya kemaslahatan (maṣlaḥah) manusia di dunia dan akhirat, suatu kebaikan dan kemanfaatan yang bernaung di bawah lima prinsip pokok (al-kulliyāt al-khams), yaitu hifẓ ad-dīn, hifẓ al-ʻaql, hifẓ an-nafs, hifẓ al-māl, dan hifẓ al-ʻirḍ.

Oleh karenanya, sudah selayaknya kita terlepas dari pandangan orientalis, para peneliti barat atau cendekiawan pribumi yang berprespektif seperti mereka, bahwa Islam di Nusantara sebagai periferal, singkretis, pinggiran, dan Islam yang jauh dari bentuk asli yang terdapat dan berkembang di pusatnya di Timur Tengah. Justru dalam perjalanan sejarah, Islam Nusantara teruji telah tahan banting dan sanggup mengemban Islam rahmatan lil alamin dan untuk kepentingan kemaslahatan ummat. Islam Nusantara sudah selayaknya dijadikan model dan suatu cara pandang membangun dan mengkaji berbagai persoalan di dunia.

Dalam konteks inilah, meneguhkan Islam Nusantara dimaksudkan untuk memperkokoh dan upaya terus menerus menemukan (Invention), meramifikasi, merekonsiliasi, mengkomunikasikan, menganyam dan menghasilkan konstuksi-konstruksi baru (inovation). Konstruksi tersebut tidak harus merupakan pembaharuan secara total atau kembali ke tradisi masa lalu secara total, melainkan bisa saja hanya pembaharuan terbatas. Sebuah invensi tidak dimaksudkan menemukan tradisi atau autentitas secara literal, mengkopi apa yang pernah dilakukan, melainkan bagaimana tradisi lokal itu menjadi suatu yang dapat dimodifikasi ulang sehingga dalam konteks kekinian jadi relevan dan kontekstual. Dengan demikian, Islam Nusantara merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan tidak berhenti dalam menemukan bentuk dan manhaj berfikir dan bertindak dalam keberislaman yang selalu mengkontekstualisasikan dalam gerak sejarah. []

Zainul Milal Bizawie, Penulis buku Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad, Penggiat Historiografi Islam Nusantara


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

http://www.sinarharapan.co/news/read/150707104/islam-nusantara-suatu-keniscayaan

Islam Nusantara, Suatu Keniscayaan

Hukum di Arab bukanlah buatan manusia

07 Juli 2015 16:50 Herman Hakim Galut OPINI dibaca: 161

Islam Nusantara adalah model yang diinilai cocok untuk diaplikasikan di Indonesia. Ide ini kembali didengungkan pejabat teras Nahdlatul Ulama (NU) dalam musyawarah nasional (munas) organisasi itu di Jakarta, baru-baru ini.

NU ingin membuat suatu pemisahan tegas antara Islam dengan seluruh perangkat ajarannya serta Arab dengan seluruh rakyat dan perangkat kebudayaannya. Salah satu contoh, agar langgam pembacaaan Alquran tak perlu lagi dalam langgam Arab, tetapi dalam  langgam budaya lokal di Indonesia, seperti Jawa dan Sunda.

Kalau ihwal itu ditempatkan pada ranah kebudayaan, contoh yang disebutkan di atas mencakup ekspresi rasa (seni dan cita rasa) dan karsa (keterampulan) rakyat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Meminjam istilah Kristen, yang diuraikan itu digolongkan sebagai tata ibadah atau liturgi. Apabila  ditempatkan ke ranah politik, seseorang yang buta politik sekali pun akan mengetahui ungkapan religius orang Arab sangat berbeda dengan ungkapan religius orang Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
????
Hukum  di Arab bukanlah buatan manusia, melainkan langsung dari Sang Pencipta. Dalam ekspresi keagamaan, orang Arab dan bangsa Indonesia memiliki religiusitas yang berbeda. Orang Arab memilih monarki dalam sistem pemerintahan, sementara orang Indonesia lebih menyukai model negara-bangsa (nation  state) yang berdasarkan konstitusi buatan manusia.

Konstitusi mengatur pembagian kekuasaan dalam tiga cabang, yakni eksekutif (presiden), legislatif (DPR) dan yudikatif (kehakiman). Konstitusi menetapkan pula masa jabatan seorang presiden cukup dua kali saja. Presiden baru  dipilih melalui pemilihan umum. Inilah sila demokrasi, bahwa monopoli kekuasaan tak diberi tempat di bumi Indonesia.

Di dunia Arab, pengaturan semacam ini dianggap tak layak karena hukum positif buatan manusia adalah dosa besar. “Hukum buatan manusia yang hidupnya tak kekal (mortal) tidak layak membuat undang-undang,” ujar Tarek Heggy, seorang reformis, dalam artikelnya yang dibuat dalam buku Reforming Islam.

Berpijak ke pola pikir semacam itu, tak heran sumber kekuasaan di hampir semua negara di dunia Arab, kecuali Mesir dan Tunisia, berpusat pada keluarga tertentu yang masih punya hubungan keluarga dengan Nabi Muhammad saw.

Pendidika
Perbedaan mendasar antara dunia Arab dan Indonesia adalah pendidikan para bapak bangsanya. Inisiator gerakan Budi Oetomo pada 1908 berlatar belakang pendidikan Barat. Gerakan Sumpah Pemuda diprakarsai tokoh pemuda yang berwawasan global dan berperilaku lokal (ingat slogan think globally, act locally). Presiden Soekarno dan Wakil Presiden (Wapres) Muhammad Hatta juga merupakan proklamator yang berpendidikan Barat.

Contoh-contoh ini jauh dari maksud mengagung-agungkan Barat, namun lebih kepada penekanan bahwa para bapak bangsa Indonesia berkemampuan membedakan westernity dan modernity.  Mereka tidak mengambil westernity dari sudut pandang budaya dan agama. Akan tetapi, mereka mengambil modernity yang merupakan pergulatan manusia dalam mencapai kemajuan (human progress) lewat pengembangan sains dan teknologi. Kedua bidang itu merupakan produk dari berbagai gerakan di Eropa, seperti renaisans , Revolusi Prancis, pencerahan, Magna Carta, Revolusi Industri , demokrasi, dan deklarasi hak asasi manusia (HAM).

Human progress bukanlah suatu yang partikular orang Barat,  melainkan universal bagi umat manusia di seluruh dunia. Insinyur yang membangun Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Mendut tidak mengacu teknologi Barat, tetapi kepada kemampuan diri sendiri. Pertanyaannya, mengapa sekarang kita kurang mampu membuat jalan tol yang tahan lama seperti Candi Borobudur?

Tidak bermaksud melecehkan sistem pendidikan di dunia Arab, namun panelis Tunisia dalam sebuah simposium di National Press Club, Washington DC, Desember 2014, mendapati kurikulum di kawasan itu tidak menggiring anak didik agar ikut mengambil bagian secara aktif dalam proses human progress. Pendidikan di Arab sangat menekankan kemampuan menghafal berbagai teks keagamaan. Seorang panelis perempuan dari Tunisia mengutip perkataan seorang ibu di Tunisia yang menanyakan alasan tujuan seseorang harus belajar psikologi.

Perdebatan seputar Islam di Indonesia harus mengikuti secara bulat ajaran Islam dalam bungkusan budaya Arab tak akan menghasilkan apa-apa. Ini karena religiusitas dan sejarah  keduanya sudah sangat berbeda.

Konsili
Solusi terbaik mengatasi konflik interpretasi yang terjadi sekarang agar para pemimpin teras Islam di Indonesia, baik dari Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah, menggelar konsili guna membahas ajaran mana yang diterima dan yang dianggap sesat.

Sejak lahirnya Islam pada abad ketujuh,  pemimpin Islam baru sekali menggelar konsili atau Saqifat Bani Saida. Berbeda dengan tradisi greco-Roman (Katolik dan Protestan). Pemimpin Katolik telah menggelar 20 konsili, yang pertama berlangsung di Nicea atas prakarsa  Kaisar Konstantin Roma  pada 325 . Konsili berikutnya menyusul di Efesus (sekarang Turki) pada 431 atas prakarsa Kaisar Theodosius. Pemimpin Protestan menggelar sinode hampir setiap tahun untuk membahas berbagai isu seputar peningkatan pelayanan kepada umat dan lain sebagainya.

Kalau pemimpin Islam Indonesia memiliki keberanian iman menggelar konsili dan  menelurkan keputusan-keputusan strategis yang menyatukan umat, besar kemungkinan peran Indonesia makin cemerlang di panggung internasional. Pencapaian ini bagian dari human progress orang Indonesia.

Keputusan ini diharapkan bisa membebaskan kita  dari dari slogan lama yang cuma menekankan kuantitas, yakni sebuah negara dengan umat Islam terbesar di dunia. Generasi muda Islam Indonesia menghendaki negara ini mayoritas rakyatnya modern dan cemerlang. Ini sebuah keniscayaan.

Penulis adalah wartawan, anggota National Press Club di Washington DC.

Sumber : Sinar Harapan

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

 

Indonesia Tak Tepat Tiru Corak Islam Timur Tengah dan Maghrib Arabi

Selasa, 07/07/2015 21:30

Jakarta, *NU Online*
Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PP
Lakpesdam) NU ikut menyumbangkan ide, wacana, dan gagasan Islam Nusantara
dengan menggelar diskusi bertajuk ‘Antara Agama Tradisi dan Tradisi Agama:
Sebuah Upaya Meneguhkan Islam Nusantara’.

Acara yang digelar di lantai 8 Gedung PBNU, Selasa (7/7) ini menghadirkan
Pakar Islam Nusantara, Drs Agus Sunyoto, dan Pengamat Kawasan Timur Tengah
dan Maghrib Arabi, Dr Arwani Syaerozi dengan moderator Savic Ali, aktivis
muda Nahdlatul Ulama dan Pimred NU Online.

Dalam pengantarnya, Savic menjelaskan bahwa wacana Islam Nusantara semakin
kaya dan berkembang. Kelompok yang kontra ditanggapi dengan baik oleh
berbagai kalangan NU seperti para kiai, intelektual, maupun aktivis muda
NU.

Namun demikian, kata Savic, Islam Nusantara tetap mempunyai tantangan besar
mengingat umat Islam di Indonesia masih ada yang menganggap bahwa Islam
Nusantara bersifat Jawa sentris. Padahal menurutnya, Nusantara secara
demografi mencakup seluruh wilayah Asia Tenggara.

Dalam pemaparannya, Agus Sunyoto menerangkan, bahwa Islam Nusantara harus
melihat perjalanan sejarah. Selain memiliki paham inklusif, toleran, dan
ramah, Agus menjelaskan bahwa Islam Nusantara mendorong kemajuan keilmuan
dan peradaban seperti yang telah dibangun para Wali Songo.

“Seperti teknik metalurgi atau pengecoran, ilmu falak, palalindon atau ilmu
gempa, ilmu fisionomi atau ilmu memahami karakter tubuh dan masih banyak
lagi. Ilmu-ilmu yang kini modern itu justru dikembangkan oleh orang-orang
Nusantara,” ungkap penulis buku Atlas Wali Songo itu.

Sementara itu, Arwani Syaerozi menjelaskan, bahwa masyarakat Indonesia yang
multikultural dan lebih majemuk daripada masyarakat Timur Tengah (Asia
Barat dan Afrika Timur) dan Maghrib Arabi (Afrika Utara) tidak tepat jika
ber-Islam meniru corak Timur Tengah dan Maghrib Arabi.

“Konsep Islam Nusantara yang mengakomodir kearifan lokal dan memperhatikan
nilai-nilai luhur bangsa sangat tepat diterapkan di Indonesia dan dijadikan
model di negara-negara muslim di dunia,” jelasnya.

Menurutnya, Islam Nusantara mampu mengkombinasikan antara ber-Islam secara
tekstual dan kontekstual. “Hal ini adalah konsep yang sejalan dengan
Maqasid al-Syariah (tujuan-tujuan syariat),” tuturnya.

Diskusi ini dihadiri oleh Ketua PP Lakpesdam NU, H Yahya Ma’shum beserta
seluruh jajaran pengurus pusat lainnya dan peserta dari berbagai unsur
organisasi NU dan aktivis Islam Nusantara. *(Fathoni) *

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,60719-lang,id-c,nasional-t,Indonesia+Tak+Tepat+Tiru+Corak+Islam+Timur+Tengah+dan+Maghrib+Arabi-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

http://www.suara-islam.com/read/index/14840/-Sejumlah-Kyai-NU-Tolak-Islam-Nusantara-Jadi-Tema-Muktamar-NU-ke-33Kamis, 09/07/2015 12:11:30 |

Sejumlah Kyai NU Tolak Islam Nusantara Jadi Tema Muktamar NU ke-33

KH Muhyiddin Abdusshomad (foto: Bangsa Online)

Surabaya (SI Online) –  Pro dan kontra mengenai gagasan “Islam Nusantara” sebagai tema utama Muktamar NU ke-33 terus berlanjut. Sejumlah Kyai NU di Jember, Jawa Timur mengaku tidak setuju dengan istilah Islam Nusantara. Mereka lebih cenderung dengan Islam Rahmatan lil Alamin.

Seperti diketahui Muktamar ke-33 NU di Jombang mendatang akan mengambil tema sentral “Meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia”. Tema ini secara resmi diluncurkan di gedung PBNU, Jakarta pada Senin malam (09/03) lalu.

Menurut kalangan NU yang menolak, istilah Islam Nusantara mempersempit ruang lingkup Islam dan cenderung eksklusif.

”Padahal NU sendiri tidak hanya di Indonesia tapi juga berkembang di luar negeri. Bagaimana dengan teman-teman NU yang berada di Singapura, Malaysia dan sebagainya,” kata KH Misbahussalam, Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdjatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jember kepada wartawan, Selasa (7/7/2015).

Bahkan, menurut Misbah, ada dugaan disosialisasikannya Islam Nusantara untuk mengakomodasi ajaran Syiah, Islam Liberal, Wahabi dan idelogi lain yang bertentangan dengan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).

Apalagi mulai muncul pendapat bahwa Syiah di Indonesia ada lebih dulu ketimbang Sunni. Artinya, Syiah harus diakomodasi oleh Islam Nusantara karena bagian dari khazanah atau kekayaan agama Nusantara. ”Panitia Muktamar harus mengganti istilah Islam Nusantara dengan istilah yang tidak bertentangan dengan ideologi NU,” katanya.

KH Muhsyiddin Abdusshomad, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Jember juga minta agar Panaitia Muktamar NU ke-33 memakai Islam Rahmatan Lil Alamin yang selama ini sudah jadi jati diri NU. “Istilah Islam Rahmatan lil Alamin yang dipakai selama ini sudah benar karena ada rujukannya dalam Alquran,” katanya, Selasa (7/7/2015).

Menurut dia, istilah Islam Nusantra tak punya sumber baik dalam Alquran, hadits, ijma’ maupun qiyas. ”Justru banyak pihak baik di internal maupun eksternal NU menyerang NU karena persoalan istilah Islam Nusantara,” kata Kiai Muhyiddin.

KHA Muhith Muzadi juga mengaku tak setuju dengan istilah Islam Nusantara. Alasannya, Islam itu satu. Yaitu Islam yang sudah jelas ajarannya. “Rumusan khittah itu sudah jelas dan itu adalah ideologi NU. Kalau Islam Nusantara pasti ada mafhum mukholafah. Berarti Islam non Nusantara,” kata kiai penggagas khittah NU 26 yang diratifikasi KH Ahmad Siddiq itu.

red: abu faza

sumber: Bangsa Online

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.suara-islam.com/read/index/14760/Sebagaimana-Islam-Liberal–Masyarakat-Juga-Harus-Menolak-Ajaran-Islam-Nusantara

Senin, 29/06/2015 16:49:12 |

Sebagaimana Islam Liberal, Masyarakat Juga Harus Menolak Ajaran Islam Nusantara

  1. Didin Hafidhuddin

Bogor (SI Online) – Menanggapi munculnya istilah Islam nusantara, KH. Didin Hafidhuddin mengajak masyarakat untuk menolak pemikiran tersebut sebagaimana selama ini masyarakat juga menolak pemikiran liberalisme.

“Saat ini gerakan kelompok liberal mulai menurun karena masyarakat sudah tahu kesalahannya dan dananya juga sudah tidak ada lagi,” ujar Kyai Didin kepada Suara Islam Online, Ahad (28/6/2015).

Menurutnya, sebelumnya sudah ada istilah seperti Islam rahmatan lil alamin, Islam yang hanya amar makruf tapi nahi munkarnya tidak ada. “Sekarang kan begitu, kalau ada orang maksiat atau mau kawin sejenis itu dibiarkan saja dengan dalih hak asasi manusia,” ujar Kyai Didin.

Kapan bisa dikatakan rahmatan lil alamin, ketika Islam dilaksanakan secara kaffah, bukan dibuat-buat, jelasnya.

Terkait Islam nusantara, menurut Kyai Didin ajarannya seolah-olah Islam itu harus tunduk ke nusantara, bukan nusantara yang harus tunduk sama Islam. “Ini membahayakan sekali. Kalau Islam ya Islam saja, Islam itu di atas nusantara,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemikiran seperti Islam Nusantara malah akan menjustifikasi terhadap nilai-nilai sinkretisme, mencampur adukkan antara nilai Islam dengan tradisi.

“Menurut para ulama tradisi itu dibagi dua, ada yang sejalan dengan syariat dan ada yang tidak. Misalnya halal bihalal itukan sejalan dengan silaturahim itu bagus dan sah-sah saja, tetapi kalau yang tidak sejalan itu misalnya menyatakan kepercayaan terhadap animisme yang menjadi budaya bangsa, itu tidak boleh,” pungkasnya.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.suara-islam.com/read/index/14825/Menag-Klaim-Gagasan-Islam-Nusantara-tak-Bermuatan-PolitikRabu, 08/07/2015 09:04:11 |

MenAg Klaim Gagasan Islam Nusantara tak Bermuatan Politik

Menag Lukman Hakim Saifuddin (foto: liputan6.com)

Jakarta (SI Online) – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengklaim gagasan Islam Nusantara tidak untuk memecah belah persatuan umat Islam.

“Saya pikir tidak ada hubungannya,” kata Lukman kepada sejumlah wartawan seusai mengikuti diskusi Majelis Kemisan “Islam Nusantara” di rumah dinas Menag, Komplek Widya Chandra, Jakarta Selatan, Selasa (07/7/2015).

Lukman mengklaim, kontroversi mengenai gagasan Islam Nusantara di masyarakat lebih kepada perbedaan pemahaman mengenai Islam Nusantara itu sendiri. “Kontroversi lebih kepada tidak adanya kesamaan pemahaman akan substansi Islam Nusantara itu,” lanjutnya.

Menurut Lukman tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kemunculan istilah Islam Nusantara. Sebab. itu hanya istilah lama yang ada dalam sejarah Islam di Indonesia yang kini dimunculkan kembali.

“Tidak ada yang dikhawatirkan, karena Islam Nusantara bukan untuk menegasikan kelompok lain,” tegas politisi PPP kubu muktamar Surabaya itu.

Lukman bersikukuh Islam Nusantara yang kini turut ia kampanyekan dapat menjadi model bagi negara-negara lainnya.

“Bagaimana Islam ratusan tahun di nusantara, kekhasannya di Indonesia, ya mungkin bisa menjadi model bagi negara-negara lain di dunia untuk mengambil sisi positif yang bisa diterapkan di tempat lain,” pungkasnya.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Islam Nusantara vs Berkemajuan

Oleh: Ahmad Najib Burhani
Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) akan menyelenggarakan muktamar pada waktu yang berdekatan yakni minggu pertama Agustus 2015.
Tema yang diangkat sekilas mirip: Muhammadiyah ”Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” dan NU ”Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Meski terlihat bersinggungan, ”Islam berkemajuan” dan ”Islam Nusantara” adalah respons yang berbeda terhadap fenomena yang sama yaitu globalisasi, terutama globalisasi kebudayaan, baik dalam bentuk arabisasi ataupun westernisasi.
Globalisasi sering dipahami sebagai proses penyatuan dunia di mana waktu, jarak, dan tempat bukan lagi persoalan dan ketika setiap hal dan setiap orang di bumi ini terkait satu sama lain. Ada empat pergerakan utama dalam globalisasi yaitu barang dan layanan, informasi, orang, dan modal. Perpindahanempat haltersebutdari satunegara kenegara lain memang telah terjadi sejak dahulu kala.
Namun, perpindahan dengan sangat cepat hanya terjadi setelah revolusi dalam teknologi telekomunikasi dan transportasi pada beberapa dekade belakangan ini. Akibat dari revolusi itu, dimensi jarak dan waktu menjadi semakin kabur dan sedikit demi sedikit menghilang. Dalam konteks Indonesia, globalisasi ini menyebabkan masyarakat secara mudah mengakses informasi dari luar ataupun berinteraksi secara intens dalam sebuah ruang global.
Ketika Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mendeklarasikan kekhilafahan di bawah Abu Bakar al-Baghdadi, kita dikejutkan dengan ada sejumlah orang Indonesia yang sudah bergabung dengan mereka di Timur Tengah dan sebagian dari mereka merekrut anggota di Indonesia serta melakukan baiat di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Ketika konflik Sunni dan Syiah terjadi di Suriah, pengaruhnya merembet ke Indonesia dengan munculnya gerakan anti- Syiah seperti dalam bentuk Aliansi Nasional Anti-Syiah (ANNAS).
Globalisasi juga menyebabkan trans-national capitalist network (TNC) masuk dalam kehidupan masyarakat dan menyedot kekayaan yang mestinya diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat. Bekerja sama dengan ”komprador”, para kapitalis global itu menciptakan jurang yang begitu lebar antara mereka yang kaya dan miskin seperti terjadi di daerah penambangan Freeport di Papua.
Filosofi yang mendasari globalisasi adalah asimilasionisme. Dalam filosofi ini, yang kuat akan mendominasi yang lemah. Maka itu, dalam globalisasi budaya, salah satu dampaknya adalah homogenisasi. Ini misalnya terwujud dalam bentuk McWorld atau McDonaldization. Contoh lainnya adalah memandang Islam secara homogen dengan mengidentikkannya dengan Arab dan arabisasi.
Islam Nusantara
Homogenisasi ini tentu tidak serta-merta diterima oleh masyarakat. Respons balik atau resistensi terhadap homogenisasi ini di antaranya dalam bentuk indigenization. Islam Nusantara yang dipopulerkan anak-anak NU dan menjadi tema Muktamar NU Ke-33 di Jombang pada 1-5 Agustus nanti adalah satu bentuk respons terhadap globalisasi dengan melakukan indigenisasi.

Islam Nusantara merupakan istilah yang sering dipakai untuk mengacu pada Islam ala Indonesia yang otentik; langgamnya Nusantara, tapi isi dan liriknya Islam; bajunya Indonesia, tapi badannya Islam. Ide Islam Nusantara ini berkaitan dengan gagasan ”pribumisasi Islam” yang pernah dipopulerkan almarhum KH Abdurrahman Wahid. Penggunaan resmi nama ini di antaranya dalam Jurnal Tashwirul Afkar Edisi No 26 Tahun 2008.
Munculnya Islam Nusantara adalah bagian dari apa yang biasanya disebut sebagai ”paradoks globalisasi”. Dalam istilah TH Erikson (2007, 14), ”Semakin orang mengglobal seringkali dia menjadi semakin terobsesi dengan keunikan budaya asalnya.” Dalam kalimat ilmuwan lain,”Ketika dunia semakin global, perbedaan- perbedaan kecil antar umat manusia itu semakin ditonjolkan” (Ang 2014).
Banyak yang menduga bahwa semakin kita mengenal dunia luar dan kelompok yang berbeda, kita menjadi semakin terbuka. Namun, seringkali yang terjadi tidak sejalan dengan logika itu. Di tengah globalisasi banyak orang yang semakin fanatik dan tidak menerima perbedaan serta pluralitas. Ini misalnya terjadi dalam beberapa pilkada yang ”mengharuskan” putra daerah yang dipilih.
Dalam konteks dunia, justru di era globalisasi ini hampir setiap tahun kita melihat kemunculan negara baru dalam keanggotaan PBB. Tentu saja respons terhadap globalisasi dalam bentuk ”Islam Nusantara” adalah pilihan terbaik dibandingkan dengan penolakan total atau penerimaan total.
Dalam merespons terhadap globalisasi, terutama yang datang dari Barat, beberapa kelompok agama justru mencari perlindungan dalam homogenitas dan eksklusivitas kelompoknya. Sepertinya kedamaian itu bisa terjadi dengan menolak keragaman atau sesuatu yang asing. Di tengah globalisasi, banyak orang yang mencoba menutup diri dan menghalangi orang yang berbeda hadir di tengah masyarakat.
Fenomena kemunculan perumahan atau kluster perumahan eksklusif untuk komunitas agama tertentu adalah misal. Kuburan/ pemakaman dan rumah kos pun kadang dibuat untuk pengikut agama tertentu. Respons terhadap globalisasi yang lebih buruk lagi tentu saja seperti dalam bentuk radikalisme dan terorisme. Islam Nusantara bisa menjadi respons yang sangat baik terhadap globalisasi jika ia tidak mengarah pada parokhialisme dan sektarianisme.
Islam Berkemajuan
Respons lain terhadap globalisasi ditampilkan oleh Muhammadiyah dengan slogan ”Islam berkemajuan”. Sebelum 2009 slogan ini jarang terdengar bahkan di kalangan Muhammadiyah sendiri. Ia baru diperkenalkan kembali, setelah cukup lama terpendam, dengan terbitnya buku berjudul Islam Berkemajuan: Kyai Ahmad Dahlan dalam Catatan Pribadi Kyai Syuja (2009). Buku yang ditulis oleh murid langsung Kyai Dahlan ini di antaranya menjelaskan seperti apa karakter Islam yang dibawa oleh Muhammadiyah.
Istilah yang dipakai oleh Muhammadiyah awal untuk menyebut dirinya adalah ”Islam berkemajuan”. Pada Muktamar di Yogyakarta 2010, istilah ini lantas dipakai dan dipopulerkan untuk mengidentifikasi karakter keislaman Muhammadiyah. Dalam kaitannya dengan globalisasi, Islam berkemajuan itu sering dimaknai sebagai ”Islam kosmopolitan” yakni kesadaran bahwa umat Muhammadiyah adalah bagian dari warga dunia yang memiliki ”rasa solidaritas kemanusiaan universal dan rasa tanggung jawab universal kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan dan pemisahan jarakyangbersifat primordialdan konvensional” (Tanfidz Muhammadiyah 2010, 18).
Mengapa Islam kosmopolitan menjadi pilihan Muhammadiyah? Muhammadiyah menyadari bahwa kelahirannya merupakanprodukdari interaksi TimurT engah dan Barat yang dikemas menjadi sesuatu yang otentik di Indonesia. Ia memadukan pemikiran Muhammad Abduh, sistem yang berkembang di Barat, dan karakter Indonesia. Karena itu, kosmopolitanisme yang dikembangkan Muhammadiyah diharapkan menjadi wahana untuk dialog antar peradaban.
Ringkasnya, kelahiran dari slogan ”Islam Nusantara” dan ”Islam berkemajuan” memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi pada 1920-an. Ketika itu, sebagai respons terhadap berbagai peristiwa di Arab dan Turki (Comite Chilafat dan Comite Hijaz), lahirlah NU.
Sementara Muhammadiyah lahir sebagai reaksi terhadap penjajahan, misi Kristen, pemikiran Abduh, dan budaya Jawa. Bisa dikatakan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah semacam deja vu. []

Koran SINDO, 3 Juli 2015

Ahmad Najib Burhani | Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

 


0 Responses to “Kebudayaan : Islam Nusantara ke Perhimpunan Bangsa-bangsa”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: