04
Jul
15

Kebudayaan : Islam Nusantara

FOTO

Islam Nusantara II

Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono

Semasa SMA saya paling payah dalam ilmu kimia. Meski begitu saya masih ingat bahwa O2 disebut oksigen atau zat asam. Tapi kalau sudah ditambah dengan hidrogen (zat air) menjadi H2O, namanya sudah berubah menjadi air dan kalau ditambah lagi dengan sulfur menjadi H2S04, namanya berubah lagi menjadi asam sulfat walaupun dalam kedua senyawa itu masih ada unsur oksigen. Hakikat dari suatu zat akan langsung hilang begitu dicampur dengan unsur lain. Jadi kalau oksigen ya oksigenlah. Tidak ada oksigen Arab, oksigen Pakistan, atau oksigen Nusantara.

Tapi itu dalam ilmu kimia, satu cabang dari ilmu fisika. Coba sekarang kita beralih ke luar ilmu kimia. Kita semua tahu “kursi”, kan? Kursi di mana-mana juga kursi, yaitu suatu benda yang dibuat manusia untuk dijadikan tempat duduk. Mau di Mekkah atau di Cibinong, yang namanya kursi ya kursi. Tapi coba sekarang tambahkan unsur lain, misalnya “kayu”, kursi kita menjadi kursi kayu, ada sifat kayunya tetapi masih tetap kursi, kan?

Atau boleh kita tambah lagi dengan “hijau”, menjadi “kursi kayu hijau”, tetapi sifat kekursiannya masih melekat. Atau boleh ditambah terus sehingga menjadi misalnya “kursi kayu hijau saya di sudut kamar tidur mama”. Banyak sekali tambahan unsurnya, tetapi tetap tidak kehilangan sifat kekursiannya. Itulah yang ada dalam ilmu metafisika atau filsafat.

Filsafat adalah ilmu tentang berpikir. Dalam berpikir, manusia menggunakan ide yang diwujudkan dalam kata atau istilah. Ada ide-ide yang bersifat universal (berlaku di mana saja, kapan saja, di seluruh dunia), ada yang bersifat partikular (khusus, bagian dari universal), bahkan ada yang singular (individual). “Kursi”, misalnya, adalah ide universal, sedangkan “kursi hijau” adalah ide partikular (khusus kursi yang berwarna hijau, tidak termasuk yang warna lain), sedangkan “kursi hijau saya” adalah ide singular, hanya ada satusatunya, yaitu kursi hijau yang itu, yangadadikamarmama. Tapi khususnya dalam ilmu kimia tidak ada universal, partikular, singular, karena hal-hal yang lebih khusus (partikular) itu senantiasa identik dengan yang umum (universal). Begitu juga dalam matematika, angka “2” berarti dua, kapansaja, dimanasaja, apakah dia umum maupun khusus. Ketika ditambah dengan angka lain, hakikatnya langsung berubah, misalnya 22, 2.000, 2.000.000 (semua berubah hakikat, bukan lagi dua).

Begitu juga dengan ide tentang Islam Nusantara. Beberapa waktu lalu, sebelum puasa, di depan Munas NU di Masjid Istiqlal, Presiden Jokowi meluncurkan istilah baru itu. Maksudnya tentu saja adalah Islam yang dipraktikkan di Indonesia, yang sejuk, damai, inklusif, moderat, dan toleran. Istilah ini langsung jadi kontroversial. Mereka yang tidak setuju melayangkan protes kepada Presiden Jokowi. Argumentasi mereka, Islam ya Islam, tidak perlu ditambah embel-embel, karena rujukannya sudah jelas: Alquran dan hadis. Yang keluar dari itu malah bisa menjadi aliran sesat.

Tapi argumentasi seperti itu salah karena agama bukan tergolong ilmu kimia atau matematika. Dalam ilmu kimia, memang benar tidak ada O2 lain dan dalam matematika tidak ada angka 2 lain, selain yang sudah dimaksud dari sono-nya karena memang tidak ada partikular atau singular yang berbeda dari universalnya.

Namun agama bukan kimia dan juga bukan matematika. Analogi agama (termasuk Islam) yang lebih tepat adalah “kursi” bukan “oksigen”. Islam yang universal memang ada, yaitu hakikat yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW. Tapi ketika Islam itu dipraktikkan oleh manusia biasa, langsung terjadi Islam yang partikular.

Masalahnya, dalam mempraktikkan agama, manusia selalu mengandalkan pikirannya (satu-satunya alat dalam sistem psiko-fisik manusia untuk menganalisis masalah), maka terjadilah penafsiran. Ketika masuk unsur tafsir, masuklah faktor kebiasaan, adat, kesenangan, kepentingan kelompok, kebudayaan, dan 1.001 faktor lain yang memecah-mecah keuniversalan Islam menjadi partikular, bahkan individual atau singular.

Karena itulah ada Islam Sunni, Islam Syiah. Islam mazhab Syafii, Islam mazhab Hambali, Islam Afghanistan, Islam Arab Saudi, dan Islam Nusantara. Di Nusantara ada Islam Minangkabau yang patriarkat, Islam Tapanuli yang beradat persis sama dengan Kristen Batak, Islam Jawa Tengah yang percaya kepada Nyai Loro Kidul, dan bertradisi selamatan seperti orang Hindu, Islam Kudus yang masjidnya bermenara seperti kuil Hindu dan tempat wudunya berornamen arca Hindu, dan masih banyak lagi. Semua itu tidak kehilangan hakikat keislamannya walaupun tidak sama dengan Islam yang di Arab.

Pada suatu waktu di masa lalu, kebetulan saya dan dua orang Indonesia lain pernah salat Idul Fitri di sebuah masjid di Birmingham, Inggris. Masjid itu adalah masjid komunitas Pakistan setempat. Banyak penganan dijajakan (namanya juga Lebaran), tetapi kami tidak tertarik karena penganan-penganan itu terlalu manis buat lidah kami.

Maka kami pun langsung masuk dan duduk mengambil tempat di dalam masjid dan mendengarkan khotbah dalam bahasa Urdu yang tidak kami pahami.

Untunglah ketika takbir dan salat dimulai, ayat Alfatihah yang dibacakan akrab di telinga kami sehingga kami pun merasa khusuk seperti di rumah sendiri, sampai tibalah saatnya di pengujung surat Alfatihah imam membaca … “waladhdhoollin”…, maka dengan semangat 45 kami bertiga yang berislam Nusantara segera menyahut keras-keras beramai-ramai … “amiiinnn“.

Tapi ternyata hanya kami bertiga yang mengamini secara penuh semangat. Jamaah yang lain diam saja. Di situlah kami bertiga menyadari bahwa Islam Nusantara ya hanya berlaku di Indonesia dan tentunya Islam yang non-Nusantara tidak bisa dimasukkan ke Indonesia, apalagi dengan cara paksaan dan kekerasan. []

KORAN SINDO, 28 Juni 2015

Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Ihwal Pembangunan Museum Islam Nusantara

Oleh: Achmad Fatturohman Rustandi

Pesantren sebagai salah satu basis pendidikan, sudah eksis jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Corak Pesantren saat ini berbeda dengan masa lalu. Dulu, santri tidak hanya dididik ilmu agama, namun ilmu pertanian, ilmu astronomi, ilmu tehnik, dan arsitektur, layaknya universitas saat ini. Peran sentral pesantren sebagai tulang punggung lembaga pendidikan di Nusantara yang berlangsung beberapa abad, akhirnya digantikan oleh universitas yang dibawa dari Barat pada masa kolonialisme.

Pesantren Tebuireng sejak awal berdirinya pada tahun 1899 sudah mewarnai pergerakan revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Tren positif ini terus terjaga hingga kini, ikhtiar mewarnai masa kemerdekaan selalu ada, api Tebuireng tidak pernah padam. Pesantren akan terus mewarnai bangsa ini, sejak dulu, sekarang, dan selamanya.

Tebuireng bersama PBNU pada 22 Oktober 1945 mengeluarkan Resolusi Jihad, fatwa mengusir tentara Belanda yang tergabung dalam NICA, untuk mempertahankan Republik Indonesia yang baru berdiri, semangat yang sama masih tetap ada, namun dengan cara berbeda, sekarang Pesantren ikut serta dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa, agar Indonesia menjadi Bangsa yang unggul berwibawa.

Museum Sebagai Manifesto Islam Nusantara

Terkait hal itu, pembangunan Museum Islam Nusantara Hasyim Asy’ari (MINHA) di lingkungan Pesantren Tebuireng, layak diapresiasi. Pembangunan museum tersebut diharapkan bisa terintegrasi dengan wisata religi makam Gus Dur, mengingat peziarah makam Gus Dur kian membludak dan datang dari berbagai daerah. Kami berharap para pengunjung tidak hanya melakukan wisata religi namun juga wisata edukasi, mendapatkan pengetahuan holistik tentang Islam Nusantara, sejarah masuknya Islam, persebarannya, dari masa Wali Songo sampai Gus Dur.

Museum sebagai citra peradaban di Indonesia, diharapkan mampu menggambarkan Islam Nusantara secara komprehensif, agar generasi saat ini paham akan perjuangan berdirinya republik ini yang tidak lepas dari peran kaum santri dan pesantren.

Belajar tentang nilai-nilai Islam Nusantara sangat mendesak, karena paham radikalisme yang dibawa gerakan Islam transnasional yang makin marak dan celakanya digandrungi banyak anak muda. Ini sangat membahayakan karena menafikan semangat nasionalisme. Menggelorakan Khilafah, tanpa melihat sejarah, dan melupakan cita-cita para pendiri bangsa tentang Negara Indonesia yang berasaskan Pancasila. Untuk itu museum diharapkan sebagai tempat kesadaran kolektif memahami perjalanan panjang bangsa Indonesia hingga merdeka.

Gagasan untuk mengabadikan, mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengomunikasikan, dan  memamerkan kepada masyarakat tentang benda peninggalan bersejarah tentang perkembangan dan perjuangan agama Islam di Nusantara akan diwujudkan dalam satu museum. Gagasan ini muncul dari berbagai elemen masyarakat, di antaranya sejarahwan, budayawan, ulama, kalangan pesantren dan masyarakat secara luas.

Tata pamer museum ini nanti tidak sekadar memamerkan benda-benda koleksi museum, tetapi lebih ke participative and interactive exhibition agar pengunjung mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dengan berpartisipasi dan berinteraksi. Tata pamer seperti ini juga akan memberi kesan adanya keterikatan antara pengunjung, koleksi serta kisah di balik koleksi.

Mewarnai Peran Museum di Indonesia

Sebagai salah-satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia, Tebuireng tidak memiliki dasar ilmu arkeologi maupun museologi, sehingga pengiriman kader untuk belajar arkeologi dan museologi merupakan keniscayaan yang harus dilakukan, sehingga gagasan museum yang berbasis Islam Nusantara bisa diejawantahkan dengan baik.

Santri memiliki piranti ilmu agama sebagai representasi Islam Nusantara. Sedangkan Universitas Gadjah Mada memiliki Jurusan Arkeologi dan Museologi sebagai lembaga pencetak kader museum yang unggul. Diyakini kerja sama dua institusi ini bisa menjadi kekuatan yang luar biasa dalam menghidupkan diskursus relasi agama dan budaya dalam bingkai Museum Islam Nusantara.

Museum Islam yang masih sedikit di Indonesia baik secara jumlah maupun kualitas, menjadi tantangan tersendiri. Kerja keras dan kerja nyata sangat dibutuhkan oleh seluruh pemangku kepentingan untuk mensukseskan misi Islam Nusantara, menjaga, mengabarkan, dan melestarikan hasil karya, karsa, dan rasa para ulama pendahulu kita. []

*) Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng pecinta Ilmu Arkeologi dan Museologi

http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

http://ramadhan.antaranews.com/berita/504877/ketua-mpr-islam-di-indonesia-toleran-dan-bukan-radikal

Ketua MPR : Islam di Indonesia toleran dan bukan radikal

Kamis, 02 Juli 2015 20:29 WIB | 2.198 Views

Pewarta: Try Reza Essra

Ketua MPR Zulkifli Hasan memberikan sambutan dalam acara buka puasa bersama dengan ICMI (MPR)

Jakarta (ANTARA News) – Ketua MPR Zulkifli Hasan menggelar buka puasa bersama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan dalam sambutannya ia memaparkan bagaimana Islam yang sebenarnya di Tanah Air.

“Kita di MPR dan ICMI memberikan contohlah bahwa, Islam di Indonesia itu adalah Islam yang ramah, Islam yang rahmatan lil alamin, yang toleran dan bukan radikal. Kita tunjukan kepada dunia bagaimana Islam di Indonesia itu,” katanya di rumah dinas Ketua MPR di Jakarta, Kamis.

Menurut Zulkifli yang juga Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI, organisasi ini turut berjasa dalam memperkenalkan Islam yang sebenarnya, yakni toleran dan mengedepankan kekayaan intelektual.

Gelaran buka puasa bersama tersebut turut dihadiri beberapa tokoh nasional seperti Ketua Presidium ICMI Sugiharto, tokoh nasional Jafar Hafsah dan masyarakat umum.

Acara tersebut diawali dengan pembacaan Alquran, tausiyah, buka bersama, sholat maghrib berjamaah, ramah tamah dan sholat Isya serta Tarawih bersama.

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 201

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Perpaduan Harmons Tiongkok dan Nusantara

Menyusuri Jalan Raya Pasuruan – Malang, Jawa Timur yang beraspal mulus
memberikan kenyamanan tersendiri. Berkendara di ruas jalanan khas Jawa
Timur yang hampir tidak menemukan lubang dan kerusakan lainnya sebagaimana
jalanan di wilayah Jawa Barat membuat pengendara merasa aman.

Dari kediaman neneknya Mas Dimas, untuk mencapai jalanan yang mulus ini
harus menempuh perjalanan hingga ± 37 km. Jalur sepanjang itu bisa
dilintasi melalui Mojokerto – Mojosari – Pungging – Ngoro – Watu Kosek –
Gempol. Sungguh perjalanan yang menyenangkan karena selain aspal yang
mulus, kita bisa menikmati kegagahan Anak Gunung Arjuno selepas Ngoro
Industrial Park (NIK).

Tidak lama setelah melintasi perbatasan Kab. Mojokerto – Kab. Pasuruan,
dari Jalan Raya Pasuruan – Malang, perjalanan Dimas Bramantya masih
perlu dilanjutkan kembali sekitar 10 km ke arah selatan, tepatnya ke arah
Pandaan dan Malang.

Perjalanan Mas Dimas kali ini, sejatinya akan menuju ke sebuah titik
koordinat 7.651526, 112.687432. Titik di mana merupakan sebuah lokasi
perpaduan keharmonisan antara kultur Tiongkok dan kultur Nusantara. Titik
itu bernama Masjid Muhammad Cheng Hoo.

​Muhammad Cheng Hoo, konon nama ini diambil dari Cheng Ho atau Zheng He,
merupakan seorang pelaut dan penjelajah Tiongkok terkenal yang melakukan
beberapa penjelajahan antara tahun 1405 hingga 1433 di beberap kawasan Asia
Tenggara hingga Afrika, termasuk Indonesia tentunya. Selama masa
penjelajahan ini, Cheng Hoo, yang biasa akrab ditulis dengan Laksamana
Cheng Hoo ini juga melakukan penyebaran agama Islam yang damai.

Masjid Cheng Hoo yang terletak persis di pinggir Jalan Raya Pasuruan –
Malang ini dapat dipastikan sangat menarik pengguna jalan yang melintas di
depannya. Desain dan arsitektur yang kental dengan nuansa Tiongkok, membuat
pengunjung yang baru pertama kali singgah tidak akan menyangka bahwa
bangunan berwarna merah khas Tionghoa ini merupakan sebuah masjid. Tidak
sedikit warga yang sebelumnya mengira bahwa bangunan ini adalah sebuah
Klenteng, tempat peribadatan kaum Tionghoa.

​Walaupun nuansa Tiongkok terlihat sangat kental, namun unsur Islam dan Jawa
juga banyak disisipkan di dalamnya. Bangunan atas berbentuk joglo,
misalnya, jelas ini merupakan desain khas masyarakat Jawa pada umumnya.
Bagaimana perpaduan antara Tiongkok dan Nusantara ini? Silahkan baca
kelanjutannya di
http://klipingmasjid.blogspot.com/2015/07/perpaduan-harmonis-tiongkok-dan.html

ANANTO PRATIKNO


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

 

Prof Abd A’la: Islam Nusantara Bisa Menjadi Pendekatan Bagi Muslim Dunia

Kamis, 02/07/2015 16:01

Surabaya, *NU Online*
Dalam seminar Internasional dengan tema NU dan Islam Nusantara, yang
digelar pada hari rabu (1/7) di GreenSA Surabaya oleh Panitia Daerah
Muktamar ke-33 NU berjalan penuh dengan diskusi. Salah satu mahasiswa
Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel, Khoirul Anwar mempertanyakan kenapa Islam
Nusantara, kenapa bukan Islam Indonesia?

“Apakah keaslian dari Islam Nusantara original?” tanya Anwar. Dia juga
menyampaikan kekhawatirannya jika Islam Nusantara terus disuarakan akan
terjadi perpecahan di dalam Islam itu sendiri, akan ada Islam ini dan Islam
itu.

Kegelisahan Khoirul Anwar terjawab oleh Prof Abd A’la, salah satu
narasumber, yang mengatakan bahwa saat ini banyak paham radikalisme yang
tersebar di seluruh dunia terutama di Negara Timur Tengah. Oleh karena itu,
lanjutnya, Islam Nusantara yang ramah, inklusif dan toleran bisa menjadi
pendekatan muslim dunia untuk membangun peradaban Islam Rahmatan lil Alamin.

“Pemetaan dalam Islam tidak mungkin terjadi, apapun itu, misalnya Islam
Arab, Islam Indonesia, Islam Australia dan lain-lain, semuanya sama bagi
saya. Islam bukanlah terletak pada branding atau labelnya. Akan tetapi
ajaran yang dianutnya,” tegas Prof A’la.

Islam ala Nusantara, terangnya, dibangun oleh para wali songo dalam
menyebarkan agama Islam. Istilah Nusantara tidak hanya wilayah Indonesia,
tetapi mencakup seluruh wilayah Asia Tenggara. Islam Nusantara bagi Rektor
UIN Sunan Ampel Surabaya ini adalah Islam yang merawat tradisi dan budaya
lokal masyarakat dengan menghadirkan harmoni (keselarasan), bukan
kekerasan.

Menurutnya, visi misi Islam Nusantara dan Nahdlatul Ulama sangatlah jelas.
Diantaranya merawat nilai-nilai keberagaman berdasarkan Islam Rahmatan lil
Alamain. Toleran dan saling menghormati sesuai kearifan lokal. “Yang
terpenting adalah mampu menggabungkan ilmu tradisional dan ilmu modern
serta pengetahuan agama dan sains,” jelasnya.

Pengamat NU dari Australia, Prof Greg Barton menambahkan, kalau kita beli
nasi bungkus, apapun bungkusnya, pasti kita lebih memilih isinya yaitu
nasi. “Jadi apapun nama Islamnya yang penting adalah ajarannya,”
ujarnya. *(Rofi’i
Boenawi/Fathoni)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,60573-lang,id-c,nasional-t,Prof+Abd+A%E2%80%99la++Islam+Nusantara+Bisa+Menjadi+Pendekatan+Bagi+Muslim+Dunia-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

http://www.antaranews.com/berita/505163/menag-al-quran-kandung-isyarat-isyarat-tentang-iptek

Menag: Al-Quran kandung isyarat-isyarat tentang iptek

Jumat, 3 Juli 2015 23:52 WIB |

Pewarta: Agus Salim

Al-Quran tidak hanya mengandung pokok-pokok ajaran agama yang meliputi akidah, syariah dan akhlak, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia dan lingkungannya, tetapi juga isyarat-isyarat tentang iptek,”

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Agama Lukman Haim Saifuddin menyatakan Al-Quran mengandung isyarat-isyarat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), ayat-ayat akam (kauniyah) yang dapat dijadikan motivasi dan inspirasi dalam berbagai rekayasa, baik sosial, teknik dan genetika.

“Al-Quran tidak hanya mengandung pokok-pokok ajaran agama yang meliputi akidah, syariah dan akhlak, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia dan lingkungannya, tetapi juga isyarat-isyarat tentang iptek,” kata Menteri Agama dalam peringatan Nuzulul Quran di Jakarta, Jumat.

Menag menyebutkan Al-Quran merupakan kitab suci yang tidak hanya untuk bangsa yang hidup pada awal abad ke-7 M, tetapi juga untuk masyarakat modern bahkan untuk masyarakat dunia yang akan datang yang berkebudayaan dan berperadaban maju.

“Hal itu karena Al-Quran tidak hanya mengandung pokok-pokok ajaran agama,” kata Menag.

Menurut dia, Al-Quran membawa misi perubahan yang memungkinkan masyarakat mewujudkan peradaban baru berkat kemampuannya mengembangkan iptek dan pengamalan hukum-hukum Ilahi, baik yang termaktub dalam kitab suci maupun yang terbentang di alam raya.

Ia menyebutkan banyak sekali iptek yang telah ditemukan dan memberi manfaat besar bagi dunia berkat adanya informasi dalam Al-Quran.

“Namun demikian masih terdapat lebih banyak lagi informasi kemukjizatan yang masih menjadi misteri yang menunggu kesanggupan manusia untuk membuktikan kebenarannya,” katanya.

Ia mengajak masyarakat menjadikan peringatan Nuzulul Quran sebagai momentum untuk memperbaiki interaksi dengan Al-Quran.

Ia mengajak masyarakat meningkatkan kualitas interaksi dengan kitab suci, bukan hanya sekedar membacanya pada tingkat aspek ibadahnya, tetapi juga pada perenungan atau penggalian hikmah dan isyarat-isyarat Al-Quran.

“Dengan cara itu kita dapat menerjemahkan nilai-nilai universalitas Al-Quran yang diyakini sebagai pandangan hidup dan petunjuk bagi kehidupan manusia sehingga dapat menjadi petunjuk bagi arah perjalanan bangsa ini,” kata Lukman Hakim.

Editor: Ruslan Burha

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>


0 Responses to “Kebudayaan : Islam Nusantara”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,880 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: