28
Jun
15

Kebudayaan : Islam Indonesia

 Jakarta45

Islam Indonesia
Oleh: Gregorius Afioma
Menjelang Ramadan, ucapan “Islam Indonesia, bukan Islam di Indonesia” dari Jokowi pada 14 Juni lalu, serta ajakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melalui akun Twitter-nya pada 5 Juni 2015 agar warteg tetap dibuka selama bulan puasa demi toleransi terhadap kalangan non-muslim, tidak serta-merta mendapat dukungan publik secara luas.
Reaksi yang demikian sangatlah ironis di tengah tendensi kekerasan atas nama agama yang terjadi selama bulan puasa. Razia yang dilakukan oleh kelompok radikal, seperti Front Pembela Islam (FPI), misalnya, selalu berujung tindak kekerasan dan perusakan.

Lantas, apakah yang disampaikan Presiden Jokowi dan Menteri Saifuddin itu berlebihan?
Memang pernyataan Jokowi bisa dianggap berlebihan di saat krisis identitas keislaman masih menggerogoti kaum muslim. Masih banyak kalangan muslim yang tidak melihat sebutan Islam Nusantara sebagai hal yang membanggakan.
Pasalnya, otentisitas Islam selalu diukur dengan episentrum kelahiran Islam di Jazirah Arab. Relasi antara Islam di Arab dan di Indonesia ibarat pola relasi pusat dan pinggiran. Pusat dianggap lebih otentik, sedangkan pinggiran sebagai yang tergradasi. Karena itu, desakan pemurnian Islam di Indonesia semakin kuat agar tidak menjadi Islam kelas dua.
Tentu saja anggapan demikian sangat berbahaya. Umat Islam bisa mengabaikan modalitas keberagamaan yang ada selama ini. Benih-benih Islam yang sudah hadir sejak abad ke-7 justru berkembang pesat di Indonesia karena melewati proses persenyawaan yang sangat baik dengan budaya-budaya pra-Islam. Semua itu tidak lepas dari usaha para Wali Sanga dan para pemikir Islam kontemporer, seperti Gus Dur atau Cak Nur.
Hasilnya, karateristik Islam Indonesia terlihat lebih damai, moderat, toleran, dan terbuka. Konflik yang terjadi, meski masih ada, tidak seintensif di Timur Tengah. Wajah Islam yang demikian tidak lepas dari unsur-unsur pra-Islam yang menjadi tempat persemaian bagi benih-benih keislaman. Budaya dan agama, yang semula memang hanyalah dua entitas berbeda, kini tumbuh saling mengkonstitusikan satu sama lain.
Berkat wajah Islam yang demikian, penerimaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara menjadi mudah. Asas kesetaraan sebagai warga negara dijunjung tinggi di atas segalanya. Hak-hak sebagai warga negara dikedepankan ketimbang kepentingan-kepentingan primordial, seperti agama, budaya, suku, dan etnis.
Namun, jika tidak melihat fakta keberagamaan itu sebagai kekuatan, bukan hanya umat Islam yang berkonflik, tapi nilai keindonesiaan juga bisa terganggu. Sebab, hanya Islam Indonesia yang dikenal toleran, moderat, dan terbuka, yang sangat kokoh menyanggah keindonesiaan selama ini.
Bertolak dari kenyataan itu, Jokowi berupaya menyadarkan kaum muslim bahwa Islam Indonesia bukanlah Islam kelas dua. Islam Indonesia tidak kalah otentik dari Islam Timur Tengah. Mengingat jumlah penganut Islam di Indonesia yang mencapai 12, 5 persen dari total 1,6 miliar pemeluk Islam di dunia, karateristik Islam Nusantara justru bisa menjadi referensi bagi peradaban Islam di dunia.
Searah dengan pemikiran tersebut, pernyatan Saifuddin sangatlah wajar. Diperbolehkannya warteg dibuka demi menghormati hak-hak umat non-muslim sangat bernada toleran dan sesuai dengan karateristik Islam Indonesia itu sendiri. []

TEMPO, 23 Juni 2015

Gregorius Afioma | Penulis

Sumber Agama Islam itu Alquran dan Hadis, bukan Nusantara
Minggu, 21/06/2015 03:44:27 | Dibaca : 34252

Prof KH Ali Musthafa Ya’qub, MA
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Rais Syuriah PBNU
Istilah “Islam Nusantara” belakangan ramai diperbincangkan. Istilah yang diproduksi oleh kalangan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) ini belakangan aktif dikenalkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Presiden Jokowi pun ikut menyebutnya.

Istilah baru sebagai lawan istilah “Islam Transnasional” yang diproduksi untuk menyebut kelompok organisasi Islam yang berjuang untuk tegaknya syariat Islam secara legal formal dan memiliki jaringan ke Timur Tengah ini mencuat karena pertama kali dimunculkan dalam praktik pembacaan Alquran dengan langgam Jawa di Istana Negara Jakarta saat peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw 1436 beberapa waktu lalu.

Uniknya, walaupun gagasan ini lahir dari sebagian kalangan “Islam Tradisional”, namun tidak semua tokoh dan ulama dari kalangan tradisional menyetujuinya. Salah seorang Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof KH Ali Musthafa Ya’kub, MA., termasuk salah satu ulama yang menolak gagasan Islam Nusantara bila yang dimaksud adalah menjadikan Nusantara sebagai “sumber”.

Pendapat-pendapat Kyai kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 yang pernah mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang itu, terungkap dalam wawancara singkat dengan penulis Jejak Islam, Andi Ryansyah, di ruang Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/6). Berikut sebagian kutipan wawancara tersebut:

Bagaimana pandangan Pak Kyai tentang istilah “Islam Nusantara”?

Kalau “Islam Nusantara” itu Islam di Nusantara, maka tepat. Kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu juga tepat. Namun kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, maka itu tidak tepat. Sebab sumber agama Islam itu Alquran dan Hadis. Apa yang datang dari Nabi Muhammad itu ada dua hal yaitu agama dan budaya.Yang wajib kita ikuti adalah agama, akidah dan ibadah. Itu wajib, tidak bisa ditawar lagi. Tapi kalau budaya, kita boleh ikuti dan boleh juga tidak diikuti. Contoh budaya: Nabi pakai sorban, naik unta, dan makan roti.

Demikian pula budaya Nusantara. Selama budaya Nusantara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka boleh diikuti. Saya pakai sarung itu budaya Nusantara dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Shalat pakai koteka itu juga budaya Nusantara, tapi itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu tidak boleh. Jadi harus dibedakan antara agama dan budaya.

Tadi Pak Kiai menyatakan Islam yang bercorak budaya Nusantara itu tepat, padahal Pak Kiai tadi juga menyatakan sumber agama Islam bukan dari apa yang ada di Nusantara, jadi maksudnya apa Pak Kyai?

Maksud saya, Islam yang bercorak budaya Nusantara itu boleh saja sepanjang tidak bertentangan dengan Islam. Tapi kalau Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, baik akidah maupun ibadah harus asli dari Nusantara, maka itu tidak tepat.

Tapi saya katakan Islam itu bukan Arab sentris. Islam itu apa kata Alquran dan Hadis, bukan Arab sentris. Tidak semua budaya Arab harus kita ambil. Sebab ada budaya Arab yang bertentangan dengan ajaran Islam. Contohnya, orang- orang minum khamr di zaman Nabi dan beristri lebih dari empat.

Tadi saya katakan, Nabi pakai sorban, apa kita wajib pakai sorban? Tidak ada hadits yang menunjukkan keutamaan memakai sorban. Tidak ada hadits yang mengatakan memakai sorban itu mendapat pahala. Para ulama mengatakan sorban itu budaya Nabi, budaya kaum Nabi pada zamannya.

Pak Kyai bagaimana sebaiknya umat Islam memandang budaya?

Sepanjang budaya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka kita boleh mengambilnya. Ini masuk wilayah muamalah. Silakan ikuti budaya Arab, silakan pakai sorban. Tapi jangan mengatakan orang yang tidak pakai sorban, tidak mengikuti Nabi. Saya pukul kalau ada orang yang mengatakan seperti itu. Silakan makan roti karena mengikuti budaya Nabi. Tapi jangan mengatakan orang yang makan nasi, tidak mengikuti Nabi.

Demikian juga budaya Nusantara. Sepanjang budaya Nusantara tidak bertentangan dengan Islam, silakan ambil. Islam sangat memberikan peluang bagi budaya, selama budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, boleh kita ambil. Silakan berkreasi dan ambil budaya apapun, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Kemunculan “Islam Nusantara” ini membuat sebagian orang membandingkan dengan “Islam Arab”, bagaimana menurut Pak Kiai?

Saya tidak sependapat dengan bandingan-bandingan seperti itu. Islam itu Islam saja.

Jadi istilah “Islam Nusantara” itu tidak ada ya Pak Kiai?

Ya, Islam itu agama. Nusantara itu budaya. Tidak bisa disatukan antara agama dan budaya.

Apa nasihat Pak Kyai untuk umat Islam di tengah polemik isu “Islam Nusantara” serta NU dan “Wahabi” ?

Pertama, kita harus membedakan antara agama dan budaya. Agama: akidah dan syariah, kita harus mengikuti Rasulullah. Sementara, budaya itu masuk muamalah. Budaya apa pun, termasuk budaya Arab selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, silakan. Tapi hati-hati, sebab bisa saja orang pakai sorban itu dalam rangka mencari popularitas. Ketika semua orang tidak pakai sorban, tapi ada satu orang pakai sorban, maka itu diharamkan dalam Islam karena sorban itu menjadi pakaian popularitas. Menurut seorang Ulama Arab, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, hal itu menunjukkan kesombongan. Penampilan itu menunjukkan seorang merasa lebih mirip nabi. Itu arogan dan tidak bagus.

Kedua, NU dan “Wahabi” tidak ada pertentangan, yang ada perbedaan. Persamaannya banyak dan perbedaannya sedikit. Perbedaannya itu tidak menimbulkan kekafiran dan perbedaan itu tidak terjadi setelah NU dan “Wahabi” ada. Jadi perbedaannya hanya dalam hal furu’iyyah, bukan hal yang prinsip. []
__._,_.___

Kamis, 25/06/2015 03:03

Kiai Said: Dengan Budaya, Islam Kuat

Jakarta, *NU Online*
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara telah memiliki kekayaan
budaya dan tradisi. Oleh karena itu, Wali Songo menggunakan strategi lain
dalam berdakwah. Pendekatan yang dilakukan adalah berperadaban dengan
tradisi yang sudah ada. Sehingga Islam yg dibawa Wali Songo bisa menyatu
dengan budaya.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat didaulat
berpidato pada acara ‘Sholawat dan Tahlil untuk Bangsa’ yang digelar
bersamaan peluncuran Majelis ‘Pecinta Sholawat Nusantara’ (Pesona) di Graha
Gus Dur DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta, Selasa (23/6/2015) malam.

“Lalu bagaimana Wali Songo berdakwah, yakni berangsur-angsur (*al-Tadrij*).
Islam disebarkan tanpa menyakiti siapapun. Tidak pernah mengancam, apalagi
mengintimidasi. Jadi, *sweeping* itu nomor terakhir,” ujar Kiai Said.

Bahkan, lanjut Kiai Said, Wali Songo tetap menjaga hubungan baik dengan
tetua adat. Para wali dalam dakwahnya memperkecil perintah yang membebani,
meminimalisir kewajiban (*taqlilut-takaalif*).

Menurut Kiai Said, para pendakwah masa kini menggunakan Islam Nusantara
dalam rangka mempertahankan tradisi yang sudah ada. “Kenapa pakai Islam
Nusantara? Karena kita ingin mempertahankan Islam Aswaja dan budaya yang
sudah kita warisi dari nenek moyang kita,” tegasnya.

Islam Nusantara, lanjut dia, merupakan Islam yang sudah menyatu dengan
budaya, yang sudah melebur dengan tradisi. “Dengan Islam, budaya menjadi
ramah. Dengan budaya, Islam menjadi kuat,” tandas Kiai Said.

Doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah ini mengingatkan, waktu itu
Hadratusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari tak henti-hentinya mengingatkan
kepada putranya, Kiai Abdul Wahid Hasyim, agar tidak mempertentangkan
antara Islam dan kebangsaan. “Kedua hal penting itu jangan
dipertentangkan,” ujarnya menirukan Mbah Hasyim.

Kiai Said menyatakan keteguhan ormas yang dipimpinnya, yakni NU, dalam
mengajarkan akidah Islam yang bertumpu pada tradisi lokal. Karena itu, Ia
menegaskan bahwa pada Muktamar ke-33 NU yang akan dihelat di Jombang 1-5
Agustus mendatang mengusung tema yang menitikberatkan pada nilai-nilai
Islam Nusantara.

“Karena itu, pada Muktamar NU yang akan datang, untuk pertama kalinya
dilaksanakan di Jombang, mempunyai tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk
Peradaban Indonesia dan Dunia,” tuturnya disambut aplaus ribuan warga
Nahdliyin yang hadir.

Tema tersebut, tambah Kiai Said, menjadi bukti komitmen NU sebagai
organisasi keagamaan yang menjadi pilar peradaban Islam yang bertumpu pada
kearifan lokal. Hanya saja, Kiai Said menyayangkan masih banyak masyarakat
bahkan para kiai NU yang belum memahami betul yang dimaksud Islam Nusantara.

Selain Ketua Dewan Syura PKB KH Abdul Aziz Mansyur, Hadir dalam acara
tersebut para ulama NU dan pengasuh pesantren, antara lain KH Kholil Asad
Syamsul Arifin (Situbondo), KH Munif Zuhri (Girikusumo, Demak), Rais
Syuriah PWNU Jawa Timur KH Miftahul Akhyar, KH Yusuf Chudlori (Magelang),
dan Mustasyar PBNU Tuan Guru Haji Turmudzi Badruddin. *(Musthofa
Asrori/Mahbib)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,60389-lang,id-c,nasional-t,Kiai+Said++Dengan+Budaya++Islam+Kuat-.phpx


0 Responses to “Kebudayaan : Islam Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,880 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: