18
Jun
15

Kepemudaan : Kepanduan Indonesia dalam Sejarah

Image

“Kepanduan dimana pun djuga hanjalah satu, dan dasarnja, satu udjudnja, satu tudjuandja nusa dan bangsa manusia dan dunia jang mempunjai sifat salam dan bahagia” -Supardo (Sesepuh Kepanduan Indonesia)-

Aku adalah seorang pramuka, dahulu, sekarang, dan selamanya. Aku ingat pertama kali memasuki organisasi ini ketika masih SMP dulu. Masih zaman orde baru tentunya. Ketika itu kepanduan tengah memasuki masa-masa kejayaanya karena dianggap sebagai salah satu saluran indoktrinasi paham orde baru. Aku tidak mau melihat hal itu. Yang aku tahu, keputusanku untuk tergabung dengan pramuka puluhan tahun lalu itu tidak pernah kusesali hingga saat ini. “Tidak ada kata pensiun bagi seorang Pramuka”, ujar salah seorang pelatihku. Aku benar-benar mengingat perkataan itu hingga kini. Aku adalah seorang pramuka, dahulu, sekarang, dan selamanya.

Di luar segala kekurangannya, aku melihat pengaruh positif kegiatan kepanduan dalam diriku dan teman-teman yang pernah tergabung Pramuka lainnya. Aku ingin menyebarkan pengaruh positif ini sehingga aku pernah terjun langsung untuk membina satu pangkalan Pramuka di Bandung. Ketika itu Pramuka sudah tidak lagi menjadi kegiatan favorit. Ia tergerus oleh modern dance, basket, futsal dan lain-lain. Organisasi yang sangat mengakar dalam sejarah Indonesia ini begitu saja tersingkir oleh organisasi-organisasi baru yang banyak mengadopsi budaya luar. Pramuka dianggap kuno, “orde baru banget”, tidak asyik dan sebagainya. Aku sedih melihat kenyataan itu. Dengan susah payah aku mempertahankan pramuka untuk eksis di pangkalan yang kubina walaupun pihak sekolah dan orang tua banyak menentangnya. Sedikit siswa-siswi berhasil kukumpulkan untuk kubina menjadi seorang Pramuka. Kusajikan aspek-aspek pendidikan yang tidak mereka dapatkan dalam sistem pendidikan modern. Bukan hal-hal cliche seperti “Budi pekerti”, “sopan santun”, dan sebagainya. Aku hanya ingin menanamkan prinsip “Jadilah dirimu sebaik-baiknya dirimu sendiri” kepada adik-adik binaanku. Itulah Pramuka yang sejati. Yang bangga dan bisa mengembangkan dirinya sebaik mungkin layaknya tunas kelapa yang dapat tumbuh di mana saja. Untuk menjadi pemuda-pemudi yang memiliki sikap, bukan mereka yang hanya mengekor mayoritas. Aku selalu teringat pesan Lord Baden Powell berikut.

…Lebih baik melihat suatu hal dari sisi baiknya daripada dari sisi buruknya. Cara yang benar untuk memperoleh kebahagiaan ialah dengan membahagiakan orang lain. Berusahalah agar kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada ketika kamu datang. Dan ketika tiba giliranmu untuk meninggalkan dunia ini, maka kamu akan meninggal dengan hati bahagia karena ketika masih hidup kamu tidak menyia-nyiakan waktumu, tetapi telah kamu gunakan dengan sebaik-baiknya…

-PESAN LORD BADEN POWELL OF GILWELL YANG TERAKHIR-

Image

Tiga generasi kepanduan

Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.  -W.R. Soepratman, Indonesia Raya-

Seperti telah kusebutkan sebelumnya, Pramuka atau kepanduan adalah organisasi yang memiliki akar kuat pada sejarah bangsa ini. Bukankah kata “pandu” tercantum pada lagu kebangsaan negara kita ? Ya, kepanduan adalah satu-satunya organisasi yang masih berdiri sejak peristiwa sumpah pemuda hingga saat ini walaupun namanya berubah-ubah seiring zaman. Beruntunglah aku menemukan buku 5 Tahun Pandu Rakyat Indonesia yang menyajikan sekilas sejarah kepanduan di Indonesia hingga tahun 1950. Buku ini diterbitkan oleh Pengurus Besar pandu Rakyat Indonesia tahun 1951. Pada awalnya buku ini hendak diterbitkan seiring peringatan hari ulang tahun ke-V Pandu Rakyat Indonesia tanggal 28 Desember 1950, tapi karena satu dan lain hal penerbitannya diundur hingga tahun berikutnya. Buku kenangan ini memuat berbagai terstimoni tokoh-tokoh kepanduan saat itu termasuk di dalamnya kilasan sejarah kepanduan di Indonesia yang ditulis oleh Sdr. Himodigdojo (Pemimpin Bag. Penerbitan). Berikut garis besarnya :

Gerakan kepanduan dirintis oleh Lord Baden Powell of Gilwell (1857 – 1941). Pada tahun 1908 ia menulis buku “Scouting for Boys” yang isinya sangat menarik berbagai kalangan. Buku ini hingga saat ini menjadi “kitab suci” anggota pandu di seluruh bagian dunia.

Beberapa tahun sebelum meletusnya Perang Dunia pertama, benih kepanduan mulai ditanam di Indonesia. Pada tahun 1912 seorang bernama P. Joh. Smits mendirikan cabang N.P.O. (Nederlandse Padvinderij Organisatie) atas anjuran perkumpulannya di Nederland. Dalam waktu singkat usahanya memancing berbagai kalangan untuk membentuk organisasi serupa. Berdirilah perkumpulan0perkumpulan kepanduan Belanda dengan alirannya masing-masing di Indonesia. Pada tanggal 4 September 1914 seluruh organisasi tersebut disatukan dalam De Nederlands Indische Padvinderij Vereniging (NIPV).

Tidak seperti organisasi kepanduan sebelumnya, NIPV mulai membuka keanggotaan bagi orang pribumi. Itupun masih diisi kalangan bangsawan karena hanya mereka yang bisa mengenyam pendidikan. Kapan resminya organisasi kepanduan Indonesia yang mandiri tidak dapat ditentukan dengan pasti, tapi pada tahun 1916 atas inisiatif S.P. Mangkunegoro VII di Solo didirikan “Javaanse Padvinderij Organisatie” (JPO). Setelah itu didirikan pula organisasi “Taruna Kembang” untuk daerah Kasunanan di bawah pimpinan Pangeran Surjobroto.

Sampai tahun 1922 perkembangan Kepanduan Indonesia sangat subur : Budi Utomo mendirikan Nationale Padvinderij di bawah pimpinan Daslam Adiwarsito; Sarekat Islam mendirikan “Wira Tamtama” di bawah pimpinan A. Zarkasi; Muhammadyah mendirikan “Hizbul Wathan” di bawah asuhan Djumaeri; Sarekat Rakjat yang berhaluan kiri dan berada di bawah kendali PKI turut mendirikan kepanduan sendiri yang dikomandoi Sujar. Sebagian besar perkumpulan organisasi kepanduan Indonesia saat itu memang menginduk kepada organisasi yang lebih besar, oleh karena itu seringkali pemerintah kolonial kurang menyambutnya dengan baik.

Karena sifatnya yang menjadi “onderbouw” organisasi politik, kepanduan Indonesia saat itu memang melanggar asas kepanduan yang “terlepas dari segala ikatan dari luar dan menurut garis-garis yang telah diberikan Baden Powell”. Materi-materi pendidikan dan pelatihan yang diberikan pun seringkali berbeda antar organisasi tergantung kepentingannya masing-masing. Tapi yang pasti organisasi ini menjadi sangat beken di kalangan pelajar saat itu. Tahun 1922 perkumpulan kepanduan ini semakin semarak dengan didirikannya Jong Java Pandvinderij, Nationale Islamitische Padvinderij (Napitij) milik Jong Islamiten Bond, Indonesisch Nationale Padvinderij Organisatie dan Pandu Pemuda Sumatera.

Kalangan agama ikut meramaikan dunia kepanduan ini. Sampai tahun 1935 telah berdiri Al Kasjaaf, Tri Darma (Kristen), Al Wathony, Kepanduan Masehi Indonesia, Kepanduan Azas Katholik Indonesia, Pandu Indonesia, Pandu Kasultanan, Hizbul Wathan, Kepanduan Islam Indonesia, Sinar Pandu Kita, dan Kepanduan Rakjat Indonesia.

Image

Pandu-pandu S.I.A.P. (di bawah naungan SI) bersiap mengawal pemimpin2nya. Di deretan tengah duduk diantaranya A.M. Sangadji, Soerjopranoto, HOS Tjokroaminoto, dan HA Salim

Majunya gerakan kepanduan di kalangan Pribumi ini tentu mengkhawatirkan pemerintah kolonial karena bisa “menambah tenaga penentang pemerintah kolonial”. Oleh karena itu pada tanggal 5 April 1926 atas undangan pimpinan NIPV diadakan pusat permusyawaratan pusat pimpinan organisasi kepanduan Indonesia yang terbesar : HW, JPO, NPO, NP dan NIPO di Jogjakarta. Pertemuan itu dipimpin sendiri oleh komisaris besar NIPV tuan G.J. Ranneft. Ia menyerukan penggabungan organisasi kepanduan Indonesia ke dalam NIPV. Dikarenakan penolakan atas alasan prinsipil dari HW dan NPO, konperensi selama dua hari itu gagal menghasilkan keputusan apa-apa.

Pada tahun 1928 NIPV mencoba kembali untuk menarik kepanduan Indonesia dalam lingkungannya. Anggaran dasarnya dirobah supaya dapat mengakomodir kepentingan golongan kepanduan Indonesia, tapi langkah ini pun lagi-lagi ditolak sebagian besar kepanduan Indonesia.

Pada tahun 1927 kelompok-kelompok kepanduan Indonesia telah mulai membicarakan wacana penggabungan atau fusi, yang dalam prakteknya banyak menemui hambatan karena sebagian besar bergantung kepada organisasi induknya. Atas kebijaksanaan para penganjurnya, pada tahun 1929 didirikanlah badan federatif bernama PERSAUDARAAN ANTARA PANDU INDONESIA (PAPI) dengan anggotanya : JJP, INPO, NATIPIJ, PPS, dan SIAP. Sedangkan HW belum memberikan kepastian. Sebagai pegurus besarnya dipilih Mr. Soenario (INPO), Dr. Moewardi (JJP) dan Ramelan (SIAP). Pimpinan pusatnya berada di Batavia, sedangkan di daerah dibentuk PAPI daerah.

Terbentuknya PAPI merupakan fase pertama menuju arah persatuan. Seiring upaya penggabungan perkumpulan pemuda oleh Jong Java dan Pemuda Indonesia, percepatan penggabungan Pandu Kebangsaan (Dulunya JJP), PPS dan INPO diwujudkan dalam bentuk organisasi baru bernama KEPANDUAN BANGSA INDONESIA (KBI) tanggal 13 September 1930. Anggotanya antara lain Soeratno Sastroamidjojo, Pintor, Tirtosoepono, Nyonya Abdul Rachman, Dr. Bahder Djohan, dll. Untuk menunjukan haluan nasionalismenya, KBI telah menggunakan panji dan kacu berwarna merah-putih.

Persatuan kepanduan Indonesia ini tentu saja semakin mengkhawatirkan pihak kolonial sehingga rintangan-rintangan secara halus maupun terang-terangan mulai dikeluarkan. Peringatan hari Diponegoro dan Kartini yang penting artinya bagi pandu Indonesia dilarang diadakan. Beberapa pemimpin kepanduan ditangkapi. Bahkan Komisaris Besar NIPV melarang kepanduan Indonesia menggunakan istilah “padvinder” atau “padvinderij” yang kemudian digantikan oleh kata “pandu” atau “kepanduan” oleh H. Agus Salim. Pandu Indonesia bahkan tidak berkenan menyambut kedatangan Lord Baden Powell ke pulau Jawa, dalam rangka perjalanan ke Australia (1935). Walau demikian  berbagai rintangan tersebut  membuat Pandu Indonesia semakin solid.

baden

Pada tanggal 30 April 1938 PAPI merintis pertemuan yang dihadiri KBI, SIAP, NAPITIJ, dan Hizbul Wathon di Solo. Menghasilkan Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI). Pada tahun 1941 anggota BPPKI bertambah dengan masuknya K.I.I. Hizbul Wathan, Sinar Pandu Kita, Al Wathoni, dan KAKI.

BPPKI sempat mewacanakan pengadaan PERKINO (Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem) tapi gagal dilaksanakan karena kedatangan Jepang. Selama jaman Jepang gerakan kepanduan dilarang sama sekali, sebagai gantinya mereka dimasukkan dalam gerakan Keibondan atau Seinendan.

Pasca kemerdekaan, tepatnya pada bulan September 1945, tokoh-tokoh kepanduan berkumpul di gedung Balai Mataram Jogjakarta untuk menyiapkan Kongres Kepanduan yang dilakukan di kota Bengawan selama tiga hari tanggal 27-29 Desember 1945. Kongres ini langsung disambut oleh berduyun-duyung anggota Pandu dari seantero Jawa. Sekitar 300 perwakilan Pandu dan pemimpinnya menghadiri acara itu.

Tepat pada tanggal 28 Desember 1945 itulah ditempa keputusan untuk mendirikan PANDU RAKJAT INDONESIA. Ditandai dengan Janji Ikatan Sakti yang berbunyi :

1. Melebur segenap Perkumpulan Kepanduan Indonesia dan dijadikan satu organisasi Kepanduan : Pandu Rakjat Indonesia.

2. Tidak akan menghidupkan lagi kepanduan yang lama

3. Tanggal 28 Desember diakui sebagai Hari Pandu bagi seluruh Indonesia

4. Mengganti setangan leher yang beraneka warna dengan warna HITAM.

Selama lima tahun berdirinya PRI banyak sekali rintangan yang dihadapi karena saat itu masih dalam nuansa perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Contohnya ketika Kepanduan mengadakan upacara peringatan kemerdekaan Indonesia ke-III tanggal 17 Agustus 1948 di halaman Gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta, acara itu ternodai akibat aksi pembubaran oleh Polisi Militer Belanda yang mengakibatkan jatuhnya nyawa seorang Pandu bernama Suprapto.

IMG_0005

IMG_0007

***

Demikian sekilas ulasan sejarah Kepanduan di Indonesia hingga berdirinya Pandu Rakjat Indonesia tahun 1945. Perjalanan sejarah sebenarnya masih panjang hingga terbentuknya PRAMUKA lewat keputusan Presiden RI nomor 238 tanggal 20 Mei 1961 dengan lambang Tunas Kelapanya.  Gerakan Pramuka pun diresmikan tanggal 14 Agustus 1961 ditandai dengan penganugerahan panji-panji kepada Organisasi Kepanduan oleh Presiden Soekarno. Tanggal 14 Agustus hingga kini tetap dirayakan sebagai hari Pramuka.

pad

Ada satu lagi hal menarik, perkembangan kepanduan di Indonesia (lagi-lagi) tidak bisa dilepaskan dari peranan kaum Teosofi. Semboyan Padvinders “Karaktervorming! Broederschap! Lichamelijke ontwikkeling! (Pembangunan Karakter, Persaudaraan, dan pembanguan fisik) sangat sesuai dengan cita-cita kaum Teosofi.

Kedekatan antara Kepanduan dengan Teosofi juga ditunjukan dari kehadiran Van Hinloopen Labberton (Suhu Agung Teosofi Indonesia) pada upacara pelantikan pengurus kepanduan Hindia Belanda pada tahun 1917 oleh istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Countess van Limburg Stirum – van Sminia. Selain itu, seorang anggota Gerakan Teosofi terkemuka, A. Meijroos memimpin gerakan Pramuka di Ardjoenaschool (Sekolah kaum teosofi di Bandung). Yang menarik lagi, ternyata markas gerakan Padvinderij di Bandung menempati markas Gerakan Teosofi Bandung (Bandung Loge) !

Image

Pada suatu hari Bung Karno dengan kawan-kawan 7 orang in cluis Bung Karno, di satu rumah yang dulu bernama Regentsweg di Bandung, tujuh orang ini meletakkan, melahirkan satu gedung baru, yaitu gerakan Partai Nasional Indonesia. Dari tujuh orang ini Saudara-saudara, berkembang, berkembang, berkembang, berkembang, berkembang,akhirnya Saudara-saudara menjadi pelopor dari pada gerakan revolusioner yang… pada tanggal 17 Agustus mengkirbalikkan sama sekali kekuasaan yang berakar dari imperialisme di Indonesia…. dengan tujuh orang ini Saudara-saudara, dari gerakan revolusioner ini makin kuat.   -Soekarno-

Apabila Surabaya dikenang sebagai kota pahlawan, maka Bandung selayaknya dikenang sebagai kota nasionalis. Rasanya aku tidak perlu lagi mengungkit kiprah pahlawan-pahlawan nasional seperti Bung Karno, Sjahrir, Dr. Tjipto, Douwes Dekker, Abdoel Moeis dll. di kota “Parijs van Java” ini. Tapi yang pasti kota ini melahirkan sebuah organisasi revolusioner bernama Partai Nasional Indonesia. Satu-satunya partai yang mengemban tugas suci untuk “menyatukan seluruh rakyat Indonesia dengan tiada membedakan agama, suku dan sebagainya dalam suatu kekuatan yang maha hebat.” Suatu partai yang menyerukan perjuangan non-koperasi, melaksanakan “tercapainya Indonesia merdeka secepat mungkin.”

Kita hampir saja melupakan itu. Propaganda orde baru yang membenci segala hal berbau “Soekarno” termasuk partai yang didirikannya menghilangkan ingatan masyarakat atas pergerakan nasional yang banyak dilahirkan di Bandung. Bandung yang memiliki peran dalam melahirkan dan menyatukan tokoh-tokoh perintis kemerdekaan tergeser namanya oleh Surabaya dan Jogjakarta yang lebih berperan pada era “mempertahankan kemerdekaan”. Dalam catatan sejarah itu, Bandung hanya dikenal lewat peristiwa “Bandung Lautan Api”-nya.

Bandung yang saat itu menjadi salah satu pusat pendidikan di Hindia Belanda tidak bisa dipungkiri telah tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pusat pergerakan nasional yang sangat berpengaruh. Pada tahun 1913 di Bandung, seorang Suwardi Suryaningrat yang telah bermitra dengan Douwes Dekker dan Dr. Tjipto telah menyebarkan selebaran “Als ik nederlander was” yang sangat menggusarkan pemerintah kolonial. Para penulisnya mendapat hukuman pengasingan dari pemerintah. Jangan pula dilupakan bahwa sebelumnya, pada  tanggal 25 Desember 1912 kota Bandung turut menjadi saksi didirikannya “De Indische Partij  – partai politik pertama di Hindia Belanda oleh Tiga Serangkai (DD, Tjipto, dan Ki Hajar Dewantara).

Sekitar satu dekade setelah didirikannya Indinsche Partij, seorang pemuda bernama Soekarno tiba di Bandung untuk melanjutkan pendidikannya di Technische Hogeschool. Semenjak kakinya menginjak peron stasiun Bandung kala itu, Soekarno telah memasuki episode baru hidupnya dalam dunia politik. Udara Bandung telah dihirupnya. Udara perubahan. Udara kreativitas.

“Minggu terahir bulan Juni tahun 1921 aku memasuki kota Bandung, kota seperti Princeton atau kota pelajar lainnya dan kuakui bahwa aku senang juga dengan diriku sendiri. Kesenangan itu sampai sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok.” -Soekarno

Pembukaan Studie Club di Surabaya oleh Dr. Soetomo pada Juli 1924 menginspirasi Soekarno muda untuk membuka kelompok serupa di Bandung. Kelompok ini bertujuan untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Studie Club Bandung yang dipimpin Soekarno termasuk sangat progresif diantaranya dengan menerbitkan majalah Suluh Indonesia Muda dan menjalin hubungan dengan Perhimpunan Indonesia di Nederland. Studie Club Bandung ini nantinya akan menjelma menjadi sebuah organisasi besar yang pernah merajai dunia perpolitikan Indonesia pada zamannya. Organisasi itu adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). Berikut sekilas sejarah partai berlambang banteng tersebut seperti dimuat dalam buku Banteng Segitiga karya Soenario SH..

Image

Para pengurus PNI (1927)

PNI didirikan di sebuah paviliun selatan rumah di Regentsweg no. 22 (sekarang jl. Dewi Sartika) Bandung pada suatu malam tanggal 4 Juli 1927. Mereka yang berada di tempat itu antara lain Mr. Iskaq, Mr. Sartono, Mr. E.S. Budyarto Martoatmodjo, Mr. Sunario, Dr. Samsi Sastrowidagdo, Ir Soekarno, Ir. Anwari, dan Dr. Tjipto Mangunkusumo. Mereka semua akan tercatat sebagai pendiri PNI, kecuali Dr. Tjipto yang menolak diikutsertakan atas alasan keamanan. Meski demikian Soekarno tetap menganggap Dr. Tjipto sebagai salah satu pendiri, selain Sujadi dan J. Tilaar yang menjadi penghubung antara pemuda di Bandung dengan Hatta di Nederland.

Pembentukan PNI sendiri terjadi secara tidak sengaja. Semua ini diawali atas kedekatan kantor arsitek Soekarno dan Anwari dengan kantor advokat milik Mr. Iskaq yang sama-sama berada di Regentsweg 8 (Kini Hotel Swarha) alun-alun Bandung. Mr. Iskaq merupakan advokat lulusan Leiden yang pernah aktif dalam organisasi Perhimpinan Indonesia di Nederland. Ketika kantor arsitek Soekarno dan Anwari pindah ke Regentsweg 22 ia pun bertemu dengan Dr. Samsji yang berkantor di bagian atasnya. Pertemuan antara tokoh-tokoh tersebut langsung berlanjut kepada keinginan untuk membentuk partai nasional yang beraliran non cooperation. Sempat terjadi debat serius mengenai prinsip non koperasi yang akan diusung partai ini.  Tapi akhirnya Soekarno berhasil mempertahankan keyakinannya atas prinsip tersebut. “…Kita tidak lagi berjalan perlahan-lahan, 350 tahun sudah cukup perlahan,” ujar Soekarno mengusung suatu gerakan radikal.

PNI pun didirikan dengan susunan pengurus sebagai berikut :
1. Ir. Soekarno                                 : Ketua
2. Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo   : Sekretaris / Bendahara
3. Dr. Samsi Sastrowidagdo       : Anggota
4. Mr. Sartono                                 : Anggota
5. Mr. Sunario                                 : Anggota
6. Ir. Anwari                                    : Anggota
Pada awalnya PNI merupakan singkatan dari Perserikatan Nasional Indonesia hingga kemudian diubah menjadi Partai Nasional Indonesia pada kongres pertama di Surabaya tahun 1928. Pokok maksud pembentukan PNI adalah mencapai kemerdekaan penuh untuk Indonesia. Yang hendak diakui hanyalah pemerintahan yang disusun dan dibangun oleh rakyat. Bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda ditolal, tapi hendak dibangunkan suatu bentuk tata negara nasional, di dalam lingkaran perhubungan-perhubungan yang berkalu sekarang. Yang diterima menjadi anggota adalah sekalian orang Indonesia, yang telah beurmur 18 tahun, sedang sekalian bangsa timur asing hanya boleh menjadi  donatur.

Image

Soekarno memberi ceramah di hadapan massa PNI (Ilustrasi dari Film Soekarno, 2013)

Pendirian PNI disambut masyarakat luas. Kharisma Soekarno dalam tiap-tiap rapat umum memberikan sumbangan besar bagi perluasan pengaruh PNI. Pada awal tahun 1929 anggota PNI tercatat 6000 orang, 1500 di antaranya berada di Bandung. Dalam rapat-rapat yang seringkali dihadiri ribuan orang, terpampang simbol-simbol “banteng segitiga”, semboyan-semboyan revolusioner, dan seringkali gambar Pangeran Diponegoro. Sejak diperkenalkan pada event kongres pemuda II tahun 1928, lagu Indonesia Raya pun menjadi lagu  wajib yang diputar pada setiap rapat PNI. Rapat-rapat ini biasanya turut dihadiri agen Politieke Inlichtingen Dienst (PID) bersama Patih, Wedama, Asisten-wedana dan sebagainya yang dengan ketat mengawasi setiap materi yang dibawakan pembicara. Saat itu pegawai pemerintahan dilarang terlibat kegiatan politik. Dalam satu waktu, seorang patih yang sedang mengawasi rapat PNI begitu terpikat oleh pidato-pidato Soekarno sehingga ia tidak sengaja ikut bertepuk tangan. Tidak lama kemudian si Patih ini dipensiunkan (peristiwa patih keplok).

“Kami tidak mempunyai pengeras-suara, karena itu aku harus berteriak sampai parau. Di waktu sore aku memekik-mekik kepada rakyat yang menyemut di tahah-lapang. Di malam hari aku membakar hati orang-orang yang berdesak-desak sampai berdiri dalam gedung pertemuan. Dan di pagi hari aku memekik urat leher dalam gedung bioskop jang penuh sesak dengan para pecinta tanah air. Kami pilih gedung bioskop untuk pertemuan pagi, karena pada jam itu kami dapat menyewanya dengan ongkos murah.”  -Soekarno-

Perkembangan PNI sangat mengkhawatirkan pemerintah kolonial sehingga pada tahun 1929 mereka mengadakan razia dan penangkapan-penangkapan tokoh nasional. Di antara tokoh yang ditangkap merupakan para aktivis PNI seperti Soekarno, Gatot Mangkupraja, Maskun dan Supriadinata. Proses pengadilan mereka yang dilakukan di gedung Landaad Bandung menghasilkan pleidoi legendaris buatan Soekarno berjudul “Indonesia Menggugat”. Soekarno dan kawan-kawannya akhirnya dijatuhi hukuman penjara yang berujung pada pembubaran PNI. Pembubaran partai ini sangat disesalkan oleh Soekarno.

Bekas-bekas anggota PNI pun terpecah. Sebagian mengikuti Mr. Sartono lewat organisasi “Partai Indonesia” (Partindo) yang didirikan tanggal 29 April 1931. Partai ini mengalami pelemahan karena motornya “Soekarno” tidak lagi terlibat di dalamnya. Walau demikian tenaga-tenaga baru mulai terlibat di partai ini, antara lain Amir Sjarifuddin, M. Yamin, Mr. Sujudi, Gatot Mangkupraja, dll. Di sisi lain, sebagian anggota PNI lama membentuk “Pendidikan Nasional Indonesia” yang mengambil sikap lebih lunak dibandingkan Partindo.

Pemerintah Kolonial tetap mengawasi Partindo dengan kecurigaan penuh. Pada tahun 1936 banyak tokoh-tokoh partai ini yang  mendapatkan hukuman pengasingan dari pemerintah, dengan demikian berakhir pulalah perjuangan Partindo pada tanggal 18 November 1936. Kondisi demikian tidak melemahkan upaya segenap perintis kemerdekaan untuk menjalankan perjuangan politiknya. Pada tanggal 24 Mei 1937 beberapa bekas tokoh Partindo mendirikan Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia), dipimpin oleh A.K. Gani. Nasib organisasi ini berakhir seiring kedatangan Jepang ke Nusantara.

Pasca kemerdekaan, tepatnya tanggal 4 Desember 1945 bertempat di Pegangsaan Barat No. 6 Jakarta, di rumah Soewirjo beberapa bekas anggota PNI, Partindo, dan Gerindo membentuk partai politik baru dengan nama “Serikat Politik Indonesia” atau Serindo. Setelah dilakukan pendekatan dengan partai politik lain, pada kongres di Kediri tanggal 129-31 Januari 1946 Serindo dan partai-partai lainnya melakukan fusi untuk membentuk PNI. Selanjutnya PNI akan banyak melibatkan anggota-anggotanya dalam kabinet yang sering berganti dalam masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Puncak kejayaan PNI adalah ketika berhasil menempatkan Ali Sastroamidjojo tahun 1954 dan mendorong diadakannya Konperensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung. Sebelum diadakannya konperensi tersebut, PNI sempat mengadakan kongres ke-VII di kota yang sama. PNI seakan-akan merayakan kejayaanya di kota yang telah melahirkannya. Luar biasa kemeriahan yang berlangsung di Bandung kala itu, seperti terlihat dalam dokumentasi yang dimuat buku laporan kongres PNI ke-VII berikut :

Image

Image

Gedung Concordia di Bandung, tempat diadakannya kongres PNI ke-VII tahun 1954

Image

Massa PNI membludak menghadiri rapat umum di Lap. Tegalega Bandung

PNI menjadi salah satu partai yang memperoleh hasil terbesar dalam pemilu 1955. Tapi dikarenakan tidak ada partai yang memperoleh suara mayoritas, maka seperti sebelum-sebelumnya, kabinet yang terbentuk pun seringkali seumur jagung, jatuh bangun dalam waktu singkat. Stabilitas nasional menjadi terganggu. Para tahun 1958 Presiden Soekarno akhirnya membubarkan parlemen dan mencanangkan demokrasi terpimpin. Sejak itu PNI menjadi penyokong utama program-program Presiden Soekarno hingga kejatuhannya tahun 1967.

Selepas terjadinya peristiwa pemberontakan Gestok, PNI kembali mengalami perpecahan. Semua itu diawali ketika Sekertaris Jenderal Partai, Ir. Surachman mengeluarkan statemen tanggal 1 Oktober yang memberikan simpati terhadap gerakan kudeta tersebut. Pemecatan pun dilakukan terhadap mereka yang menolak garis kebijakan partai, namun mereka yang dipecat pada tanggal 4 Agustus 1965 mengeluarkan deklarasi pembentukan PNI Baru. Kedua versi PNI ini baru bersatu setelah diadakan Kongres Luar Biasa di Bandung tanggal 24-27 April 1966 yang diprakarsai Letjen Soeharto selaku pemegang kuasa Supersemar.

Saat itu PNI telah menuju jurang kehancuran yang disebabkan kekisruhan internal dan serangan eksternal. Demonstrasi dan teror dilakukan terhadap kantor-kantor PNI di seantero negeri. Kebijakan-kebijakan pemerintah pun banyak yang merugikan dan membatasi gerak partai ini. Puncaknya adalah ketika pemerintah Orde Baru membatasi jumlah partai pada tahun 1973. Tepatnya pada tanggal 10 Januari 1973 pukul 24.00 resmilah fusi antara PNI, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, dan Partai Murba menjadi  Partai Demokrasi Indonesia (PDI).  Tanggal tersebut turut menjadi tanggal matinya PNI yang terlahir tanggal 4 Juli 1927 di Bandung.

Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai Partai Rakyat telah tidak ada. Tetapi sebagai pergerakan rakyat dengan semboyannya “Indonesia Merdeka Sekarang” dan banteng sebagai lambang perjuangannya telah berhasil bersama-sama seluruh rakyat Indonesia mengantarkan rakyat Indonesia memasuki pintu gerbang Kemerdekaan Bangsa Indonesia dant etap tegar mempertahankan Pancasila di bumi Indonesia.

Image

Guntur Soekarnoputra menjadi jurkam untuk PNI

Image

Para pengurus PNI berpose bersama Soeharto selaku pemegang kuasa Supersemar tahun 1966

****

Demikian sejarah singkat Partai Nasional Indonesia (PNI) sejak lahir hingga “kematiannya” dikisahkan dengan detail oleh salah seorang pendirinya, Prof. Soenario SH. dalam buku Banteng Segitiga (Yayasan Marinda Jakarta, 1988). Buku yang sangat berharga karena ditulis oleh pelaku sejarahnya langsung. Prof. Soenario SH. atau lebih dikenal sebagai Mr. Soenario lahir tanggal 28 Agustus 1902, lulus tahun 1925 dari Universitas Leiden, selanjutnya sangat aktif dalam dunia perpolitikan nasional. Di antaranya dalam pendirian PNI, Sumpah Pemuda, Kepanduan, Kabinet RI, dan lain-lain. Beliau adalah salah satu generasi perintis kemerdekaan yang usianya cukup lanjut. Bayangkan saja, ketika buku ini ditulis tahun 1972 beliau telah berusia 70 tahun. Beliau pun sempat menyaksikan cetak ulang buku ini tahun 1988. Sebelumnya pada tanggal 6 Agustus 1985 Presiden Soeharto memberikan gelar Mahaputera Adipradana kepada Mr. Soenario.

Lewat kisah yang dipaparkan Mr. Soenario dalam buku Banteng Segitiga ini aku mengajak pembaca untuk mengingat kembali peran Bandung dalam sejarah pergerakan Nasional. Kota ini harus dicatat sebagai lokasi munculnya partai politik pertama yang menggariskan perjuangan non koperatif. Bandung selayaknya tidak hanya dikenal lewat mojang-mojangnya yang cantik atau factory outletnya. Bandung harus dikenal lewat kemampuannya untuk menghasilkan perubahan-perubahan di negeri ini. Mereka yang menentang perubahan pasti merasa khawatir apabila Bandung melepaskan energinya kembali. Lihat saja beberapa aksi spektakuler  di masa orde baru yang diawali dari aksi mahasiswa di Bandung.

Kota yang dirancang untuk pensiunan dan pelajar ini memang tidak bisa dianggap remeh. Penguasa kota ini bisa saja terlibat korupsi, suatu aib yang memalukan, tapi warganya adalah penggerak perubahan. Kota ini sangat berpengaruh secara politis. Bandung adalah barometer. Bandung adalah episentrum.  Bandung adalah energi.

Advertisements

0 Responses to “Kepemudaan : Kepanduan Indonesia dalam Sejarah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,223,021 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: