16
Jun
15

Kenegarawanan : Makna 45 Tahun Bung Karno Wafat

KBP45

Makna 45 Tahun Bung Karno Wafat
Rabu, 17 Juni 2015 – 23:40 WIB

Suara Pembaca:
Makna 45 Tahun Bung Karno Wafat

Peringatan 45 tahun Bung Karno wafat pada tanggal 21 Juni 2015 layaklah dimaknai bersuasana bathin yang serupa dengan saat proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 dalam arti berlatar ibadah Ramadhan.

Angka 45 itu juga dapat jadi tanda ingatan  pada peristiwa2 kebangsaan, kenegaraan dan kejoangan rakyat di episode tahun 1945 seperti pemberontakan Pembela Tanah Air di Blitar 14 Pebruari 1945; pidato Bung Karno 1 Juni 1945 tentang Pancasila dimuka sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia; proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945; pensyahan Undang Undang Dasar Republik Indonesia 18 Agustus 1945; pembentukan Badan Keamanan Rakyat 23 Agustus 1945 yang cikalbakali Tentara Keamanan Rakyat, Tentara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia; rapat akbar arek-arek Suroboyo dukung proklamasi Indonesia Merdeka di Tambaksari 18 September 1945 yang berlanjut perlawanan heroik patriotik melawan tentara Sekutu pemenang perang dunia ke-2 di bulan Oktober – Nopember 1945 dan kini dikenal sebagai Kepahlawanan 10 Nopember 1945; rapat raksasa rakyat Jakarta dukung proklamasi Indonesia Merdeka di IKADA 19 September 1945; pendirian Pandu Rakyat Indonesia 28 Desember 1945 dan lain sebagainya.

Tampaknya, pembinaan Karakter Mulia adalah relevan strategis dengan suasana bathin Marhaban ya Ramadhan baik di tahun 1945 (perjuangan kemerdekaan formal) maupun di tahun 2015 ini (perjuangan kedaulatan substansial).

Ramadhan 1436H ini menyimpan pula angka 114 tahun terhitung dari hari lahir Bung Karno di jalan Pandean IV No 40, Paneleh, Surabaya, yang bertepatan dengan angka jumlah Surah Al Qur`an, sehingga kini boleh menjadi pertanda spiritual bagi anak bangsa agar lebih peduli perjuangkan Pembudayaan NIlai-nilai Operasional Kejoangan45 yaitu (1)Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
(2)Jiwa semangat merdeka, (3)Nasionalisme,
(4)Patriotisme, (5)Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka, (6)Pantang mundur dan tidak kenal menyerah, (7)Persatuan dan kesatuan, (8)Anti penjajah dan penjajahan,
(9)Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya pada kekuatan dan kemampuan diri
(10)Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya, (11)Idealisme kejuangan yang tinggi, (12)Berani, rela, dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara, (13)Kepahlawanan, (14)Sepi ing pamrih rame ing gawe, (15)Kesetiakawanan, senasib seperjuangan dan kebersamaan,(16)Disiplin yang tinggi, (17)Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.

Sejarah bangsa mencatat bahwa Bung Karno juga pimpinan kepanduan NPO (Nationale Padvinders Organisatie,1923) yang lalu jadi INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie,1926) dan juga dikenal sebagai politisi visioner PNI (Partai Nasional Indonesia, 1927) sehingga tepatlah kini juga dibudayakan Politik Kepemimpinan ber Karakter Pandu Indonesia yang telah teruji ikut bekali pergerakan nasional dan bela negara yang bertatanilai kearifan lokal dan jatidiri kejoangan bangsa yang bijak secara berkelanjutan dikobarkan guna upaya-upaya pembangunan Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 kiprahkan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, sekaligus perkuat peta jalan Revolusi Mental Kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu kinilah saat yang strategis memantapkan kedaulatan Karakter Pandu Indonesia ditengah arus kuat regionalisasi (MEA 2015) bahkan globalisasi.

Piagam Karakter Pandu Indonesia tanggal 27 Desember 2014 jelas menyatakan bahwa mengingat semakin disadari pentingnya kiprah Peradaban Kepulauan ber Wawasan Nusantara per Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 dan kesepahaman bahwa syair lagu kebangsaan “Indonesia Raja 28 Oktober 1928” khususnya “Pandoe Iboekoe” melekat cita patriotisme dan tafsir-tafsir harfiah sebagai berikut :

1) “Pandoe” yang sebenarnya bermakna Pemula (Pengerak Mula), Perintis/Pelopor, dan Penuntun/Penyuluh yang intinya adalah Penunjuk/Penggembala Jalan Lurus bagi anak bangsa;

2) “Iboekoe” yang sebetulnya bermakna Tanah Air dalam konteks Ibu Pertiwi;
dimana kedua tafsir itu diyakini telah turut serta “menghantarkan” ke Proklamasi Indonesia Merdeka 17845, maka Piagam Karakter Pandu Indonesia ini ditujukan bagi perkuatan bina bangsa dan karakter ke-Indonesia-an guna ikut “menghantarkan” ke Indonesia Jaya 2045 (di saat 100 tahun Indonesia Merdeka 17845) berstrategi tatanilai “Tri Politika Indonesia Jaya 2045″ :

1) Politik TRIKESRA Kesejahteraan Rakyat
berdasar potensi yang sejatinya dimiliki Indonesia yaitu a) Kelautan/Kemaritiman, b) Pangan Lokal, c) Energi Terbarukan,
2) Politik TRIKARYA yakni (a) Peningkatan Kecerdasan, (b) Pengentasan Kemiskinan, (c) Penegakan Kedaulatan Rakyat,
3) Politik TRICITA Kenegaraan yaitu a) Indonesia Mulia (2015-2025), b) Indonesia Bermartabat (2025-2035), c) Indonesia Sejahtera Lahir Batin (2035-2045)

Dan selaku Pandu Indonesia baik nalariah maupun nuraniah, berhak dan berkewajiban budayakan selalu politik harmonisasi TRISTRATEGI bagi Bina Mental Kearifan Negarawan Kerakyatan yakni :

(1) TRISAKTI yakni (a) Politik Berdaulat, (b) Ekonomi Berdikari, (c) Budaya Berkepribadian,
(2) TRIPAKTA atau TRI Politik Anti Korupsi Tanpa Akhir yaitu (a) Tidak Ingkari Janji Konstitusional, (b) Tidak Koruptif terhadap Pancasila & Pembukaan UUD45, (c) Tidak Korupsi APBN/APBD, Keuangan BUMN/BUMD dan Pajak, serta
(3) TRILOGI 17845 yaitu (a) 17 butir Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 / Roh Indonesia Merdeka, (b) 8 butir Kepemimpinan Hastabrata, (c) 45 butir Pengamalan Pancasila Tap MPRRI No XVIII/1998.

Praktek2 Hukum Negara, kerja lembaga2 tinggi negara dan lembaga2 negara/daerah prakarsa dan kiprah Pandu-pandu Indonesia Sejati oleh karenanya perlu senantiasa melakukan Tri Politika Indonesia Jaya 2045 dan Politik TriStrategi agar berdaya guna optimal dalam praktek2 kenegaraan bagi kemashalatan masyarakat dan ketahanan bangsa terutama antisipasi hadapi ancaman seperti kajian http://www.kompasiana.com/msirp/early-warning-runtuhnya-indonesia-target-asing-pemilu-2014-dan-2019-perang-2020-2030_552a2983f17e617b65d623d4

Untuk itulah sepertinya QS 45 Al Jaatsiyah (Yang Bertekuk Lutut) dapat pula menjadi tambahan bekal rujukan bersama saat menunaikan amanah ibadah Ramadhan kali ini dan dalam kesempatan yang baik ini perkenankan juga diucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa dan Mohon Maaf Lahir Bathin 1436H kepada handai tolan.

Jakarta, 18 Juni 2015

Pandji R Hadinoto, KBP45 KelBes Pejoang45
Pembudaya Jiwa Semangat Nilai-nilai 45
Pengamal Pancasila Tap MPRRI XVIII/1998
Editor www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 – 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.
Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya – berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat – menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.
Latar belakang dan pendidikan
Soekarno dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru di Surabaya, Jawa. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari Buleleng, Bali

Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur. Pada usia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger School (H.B.S.) di sana sambil mengaji di tempat Tjokroaminoto. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Jawa).

Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Masa pergerakan nasional

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929, dan memunculkan pledoinya yang fenomenal: Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hassan.

Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu.Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Masa penjajahan Jepang
Soekarno bersama Fatmawati dan Guntur

Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk “mengamankan” keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.

Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Soekarno diantara Pemimpin Dunia

Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.

Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok Peristiwa Rengasdengklok.

Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.

Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang,antara lain dalam kasus romusha.

Masa Perang Revolusi

Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok.

Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.

Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.

Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan,sistem pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.

Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1948 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda.

Masa kemerdekaan

Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.

Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai “kabinet seumur jagung” membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai “penyakit kepartaian”. Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.

Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat “bom waktu” yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.

Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRC).

Masa-masa kejatuhan Soekarno dimulai sejak ia “bercerai” dengan Wakil Presiden Moh. Hatta, pada tahun 1956, akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia, dan puncaknya, pemberontakan G 30 S, membuat Soekarno di dalam masa jabatannya tidak dapat “memenuhi” cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.

Sakit hingga meninggal

Soekarno sendiri wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, Jakarta, setelah mengalami pengucilan oleh penggantinya Soeharto. Jenazahnya dikebumikan di Kota Blitar, Jawa Timur, dan kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno.

Peninggalan

Pada tanggal 19 Juni 2008, Pemerintah Kuba menerbitkan perangko yang bergambar Soekarno dan presiden Kuba Fidel Castro. Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan peringatan “kunjungan Presiden Indonesia, Soekarno, ke Kuba”.

Penamaan

Nama lengkap Soekarno ketika lahir adalah Kusno Sosrodihardjo. Ketika masih kecil, karena sering sakit-sakitan, menurut kebiasaan orang Jawa; oleh orang tuanya namanya diganti menjadi Soekarno. Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda). Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah. Sebutan akrab untuk Ir. Soekarno adalah Bung Karno.

Achmed Soekarno

Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis Achmed Soekarno. Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, “Siapa nama kecil Soekarno?” karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki nama keluarga. Entah bagaimana, seseorang lalu menambahkan nama Achmed di depan nama Soekarno. Hal ini pun terjadi di beberapa Wikipedia, seperti wikipedia bahasa Ceko, bahasa Wales, bahasa Denmark, bahasa Jerman, dan bahasa Spanyol.

Sukarno menyebutkan bahwa nama Achmed di dapatnya ketika menunaikan ibadah haji.

Dan dalam beberapa versi lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Sukarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab. (Wikipedia)

Read more at http://info-biografi.blogspot.com/2010/02/ir-soekarno.html#msj1ci8ijf8zY5IQ.99

“PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO”

Sajak Chairil Anwar, 1948

Ayo! Bung Karno kasi tangan
kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar
bicaramu,
dipanggang atas apimu,
digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Atas melangkah ke depan
berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang
laut
Bung Karno! Kau dan aku satu
zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal
kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal
kita bertolak & berlabuh
Percakapan Obrolan Berakhir

 
Opini

Laksamana TNI (Pur) Slamet Soebijanto (Ist)Laksamana TNI (Pur) Slamet Soebijanto (Ist)Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.

Oleh : Laksamana TNI (Pur) Slamet Soebijanto*

“ Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah “ (Presiden R.I. Soekarno)

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang terbentuk bangsanya dahulu, baru negaranya. Sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, adalah tonggak sejarah bersatunya bangsa-bangsa yang tinggal di Bumi Nusantara, tonggak terbentuknya Bangsa Indonesia. Para Pemuda telah mengambil keputusan  stategis dan penting bagi perjalanan cita-cita mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Keputusan dan  tekad mempersatukan diri  menjadi satu kesatuan kebangsaan, meningkatkan  semangat juang dan keberanian diri untuk segera memerdekakan bangsa dari penindasan asing. Dibuktikan dengan keberaniannya  saat terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945, memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Pertanyaannya, mengapa bangsa-bangsa yang tinggal di Nusantara yang berbeda suku, berbeda adat istiadat dan budaya, berbeda bahasa, berbeda agama dan berbeda tempat/pulau mau bersatu  dan berikrar menjadi : Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa?

Tentunya bukan keputusan sembarangan, pasti ada sesuatu kekuatan yang melatarbelakangi dan mendorong bersatunya bangsa-bangsa yang ada di Nusantara. Kalau dipelajari dan dicermati dengan teliti,  kekuatan tersebut adalah adanya nilai-nilai luhur dan budaya yang berkembang dan tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat, yang melahirkan adat-istiadat, norma, kaidah dan asas dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai kebenaran yang bertitik tolak pada ajaran agama-agama yang dipeluk masyarakat Nusantara, nilai-nilai kebenaran yang bertitik tolak pada kebenaran ilmu, nilai-nilai kebenaran yang bertitik tolak pada kebenaran rasa persatuan, nilai-nilai kebenaran yang bertitik tolak pada kebenaran nilai etika dan budaya, nilai-nilai kebenaran yang bertitik tolak pada kebenaran profesi. Nilai-nilai kebenaran tersebut pada dasarnya adalah nilai kebenaran Ilahiyah, yang diturunkan sejak Nabi Adam oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk dipakai sebagai panduan dalam menjalani kehidupan ini.

Lima Kebenaran Ilahiyah 

Lima kebenaran Ilahiyah  berkembang dan tumbuh subur di bumi Nusantara  sejak zaman pra sejarah, dipegang teguh dan dipratekkan dalam kehidupan sehari-hari,menyebabkan masyarakat Nusantara dikenal sebagai bangsa-bangsa yang rilijius. Sebagai bangsa yang relijius, maka perilaku kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat selalu berkeadaban dan berkeadilan, selalu menjaga hubungan baik antar sesama, saling menghormati, tolong menolong dan bergotong royong, sejauh mungkin menghindari percecokan, dan setiap permasalahan selalu  dipecahkan dengan cara bermusyawarah untuk mufakat, karena yang dicari adalah kebenaran/keadilan.

Peristiwa kecil yang terjadi sekitar tahun 1923-1927, suatu pertemuan yang tidak tercatat dalam sejarah, dan sengaja dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia untuk  menghindarkan dari pantauan VOC/Belanda, tanpa pamrih, yang dilakukan oleh para Raja dan Sultan di Tapak-Sereng Bali (bukan Tampak Siring), menghasilkan kesepakatan dan keputusan strategis untuk  mempersatukan diri, meleburkan wilayah kerajaan dan kesultanan menjadi satu wilayah besar Nusantara. Keluhuran budi dan kebesaran jiwa yang ditunjukkan oleh para Raja dan Sultan, adalah cerminan dari jiwa-jiwa yang dilandasi oleh “ lima kebenaran Ilahiyah”, yang selalu dipegang teguh dan digunakan sebagai panduan dalam  menjalankan pemerintahan, sekaligus sebagai wujud rasa tanggung jawab moral dan keinginan luhur ingin segera mengentaskan derita panjang masyarakat dari penindasan VOC/Belanda.

Lima nilai kebenaran Ilahiyah” inilah,  disepakati dan digunakan para pendahulu bangsa sebagai dasar untuk mempersatukan dan pengikat bangsa-bangsa di Nusantara, sebelum membentuk negara. Nilai-nilai kebenaran Ilahiyah yang selalu didengungkan dan ditanamkan pada berbagai pertemuan dan kesempatan, dilakukan dari generasi ke generasi oleh para tokoh agama, Ilmuwan, tokoh pergerakkan, para Raja, Sultan dan para Pemangku adat telah membangkitkan dan membangun semangat nasionalisme serta militansi rakyat Nusantara. Nilai-nilai kebenaran Ilahiyah yang disampaikan dalam berbagai pidato dan ceramah tersebut, dalam proses perjalanan waktu semakin mengerucut dan tajam, berhasil difahami dengan benar dan diambil intisarinya, kemudian dirumuskan dalam lima susunan rumusan kalimat pendek, padat, berisi dan penuh makna, yang satu sama lainnya saling kait-mengkait, dan tersusun dengan urutan yang pasti, tidak bisa dibolak-balik. Rumusan kalimat pendek “lima kebenaran Ilahiyah” yang diperkenalkan dan disampaikan oleh Soekarno dalam berbagai kesempatan diskusi pada saat terlibat pembicaraan tentang kemerdekaan bangsa.

Lima Kebenaran Ilahiyah yang berkembang dan tumbuh di bumi Nusantara, dikenal dengan nama Pancasila, bagi bangsa Indonesia adalah asas, sifat dan jatidiri. Dengan demikian, Pancasila adalah Imam dan pemimpinya Bangsa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila adalah lintasan sejarah bangsa, Pancasila dirancang sebagai tujuan bangsa dan dirancang sebagai sistim berbangsa dan bernegara.

Lima Lintasan

Pancasila sebagai lintasan sejarah bangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang negaranya ditakdirkan terletak diantara dua  Samudra dan dua Benua, sekaligus sebagai “Pintu Dunia”, terletak diantara 00 – 150 Lintang Utara dan 00 – 150 Lintang Selatan, artinya geografi Indonesia berada di pusat mineral dunia, sehingga Indonesia bagaikan gadis cantik yang sempurna, diperebutkan untuk dikuasai oleh negara-negara dunia, karena ada ungkapan “ barang siapa mengusai Indonesia akan menguasai dunia”. Para pendiri bangsa sangat mengerti dan faham akan potensi yang dimiliki, dan suatu niscayaan pada suatu saat Indonesia akan tumbuh menjadi kekuatan kawasan yang diperhitungkan/ditakuti. Langkah pertama yang dilakukan para pendiri bangsa adalah mempersatukan  bangsa-bangsa di Nusantara dengan ikatan nilai-nilai kenearan Ilahiyah, yang berkembang dan tumbuh menjadi norma, kaidah dan asas dalam kehidupan bermasyarakat.

Perjuangan panjang  untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut dapat dikelompokan dalam 5 lintasan Lintasan I, perjuangan yang dirintis oleh  tokoh-tokoh agama yang melakukan perlawanan terhadap VOC, seperti Perang Diponegoro, Perang Padri, Perang Maluku dan perang-perang lainnya yang terjadi di Nusantara. Lintasan II, perlawanan  oleh para cerdik cendekia dengan membentuk Boedi Oetomo pada tahun 1908, Lintasan III,  perlawanan rakyat yang membentuk laskar-laskar perlawanan menghadapi Belanda dalam agresi I dan II, dan kelompok perlawanan ini kemudian menjadi cikal bakal TNI. Dengan demikian adalah benar TNI adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, TNI adalah tentaranya Rakyat. Lintasan IV, perjuangan Para Raja dan Sultan yang menyumbangkan harta bendanya, membantu peperangan melawan penjajah. Dan Lintasan V, adalah perlawanan rakyat dengan caranya sendiri diseluruh wilayah tanah air. Dengan demikian Kemerdekaan Indonesia adalah benar-benar hasil perjuangan panjang para tokoh agama, para cerdik cendikia, kelompok perlawanan rakyat yang jadi cikal bakal TNI, para Raja/Sultan dan rakyat pada umumnya, bukan hasil perjuangan partai.

Tujuan Berbangsa

Pancasila sebagai tujuan berbangsa, Sila 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, menyatakan dan menegaskan bahwa setiap warga negara Indonesia harus beragama dan menjalankan agamanya dengan baik dan benar. Disadari bahwa kehidupan didunia hanya sementara dan tujuan hidup sebenarnya adalah selamat dunia akhirat. Sila 2, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan meletakkan agama sebagai landasan berbangsa dan bernegara, maka disetiap jiwa manusia Indonesia pasti  melekat jiwa kasih sayangnya, dan dalam menjalani kehidupannya pasti berkeadilan dan berkeadaban. Sila 3.  Persatuan Indonesia. Dengan landasan agama, maka  setiap manusia Indonesia pasti akan menjaga  hubungan satu sama lain, menjaga tali silaturahmi, menjaga persatuan. Sila. 4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.  Landasan agama  mengajarkan kasih sayang sesama manusia,  menuntun setiap manusia Indonesia untuk mengutamakan kepentingan bersama dan akan selalu bermusyawarah mufakat dalam memecahkan setiap persoalan yang ada, karena yang dicari adalah kebenaran/keadilan. Sila. 5, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah hasil akhir. Dengan demikian betapa indahnya Pancasila sebagai tatanan nilai yang digali dari budaya sendiri, budaya bangsa-bangsa di Nusantara digunakan sebagai regulator dan koridor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sistim Negara

Pancasila sebagai sistim berbangsa dan bernegara. Potensi yang dimiliki Indonesia mendorong para Pendiri Bangsa bersikap hati-hati, cermat dan bijaksana dalam menyiapkan Indonesia sebagai negara yang  berdaulat dan merdeka. Dari sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Negara yang dipilih adalah Kesatuan Kebangsaan yang berbentuk Republik, Negara Kekeluargaan dan Undang-undang Dasar 1945, adalah undang-undang yang disusun dalam bingkai sistim kekeluargaan. Tata/sistim pemerintahan yang disiapkan berdasarkan Pancasila, menganut sistim majelis, tidak menganut sistim partai. Majelis Permusyawaratan Rakyat,  adalah kumpulan 5 Majelis sesuai sila-sila Pancasila. Majelis I, Majelis Ketuhanan Yang Maha Esa diisi oleh tokoh-tokoh agama wakil-wakil dari agama-agama yang ada di Indonesia dan datang dari  wilayah. Majelis II, Majelis Kemanusiaan yang adil dan beradab, diisi oleh para ilmuwan/cerdik cendikia yang merupakan wakil-wakil yang datang dari wilayah. Majelis III, Majelis Persatuan Indonesia adalah diisi oleh TNI dan bala pertahanan, wakil-wakil ditunjuk oleh Pemimpin TNI dan ditetapkan sebagai wakil dari daerah, dan harus tinggal didaerah yang diwakili. Majelis IV, Majelis Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,  diisi oleh Raja, Sultan dan Pemangku Adat yang datang dari wilayah. Majelis V, Majelis Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,  diisi oleh pimpinan profesi yang datang dari wilayah dan mewakili wilayahnya.

Gambar Skema: Pancasila sebagai tata berbangsa dan bernegaraGambar Skema: Pancasila sebagai tata berbangsa dan bernegara

Majelis Kebenaran

Dengan demikian, orang-orang yang duduk didalam majelis, sebenarnya adalah wakil-wakil kebenaran. Majelis I: Mewakili kebenaran berdasarkan Kebenaran Agama, Majelis II: Mewakili kebenaran berdasarkan Kebenaran Ilmu, Majelis III, Mewakili kebenaran berdasarkan Kebenaran arti pentingnya Persatuan-Kesatuan, Majelis IV: Mewakili kebenaran berdasarkan Kebenaran nilai Etika dan Budaya Bangsa  dan Majelis V : Mewakili kebenaran berdasarkan Kebenaran Profesi.

Carut marut yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, karena bangsa Indonesia telah meninggalkan sejarah bangsanya sendiri, meninggalkan “nilai-nilai luhur dan budaya bangsa, yang mengandung kebenaran Ilahiyah” yang menjadi adat-istiadat, norma, kaidah dan asas dalam kehidupan bermasyarakat. Meninggalkan Pancasila dan memaksa bangsa ini untuk menggunakan “demokrasi yang bukan nilai dan budaya bangsa Indonesia“, sebenarnya adalah pengkhianatan terhadap para pendiri bangsa dan rakyat Indonesia. Adalah terbukti benar bahwa untuk menghancurkan Indonesia, “negara yang terbentuk bangsanya lebih dahulu” baru negara, yang harus dihancurkan adalah filosofi bangsanya yaitu Pancasila.

Semoga dengan ditetapkan Bulan Juni sebagai Bulan Pancasila, bulan perenungan terhadap Sila-sila Pancasila yang merupakan nilai-nilai kebenaran ilahiyah, menyadarkan semua anak bangsa bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah Negara yang terbentuk Bangsanya lebih dahulu yang berlandaskan pada “nilai-nilai kebenaran Ilahiyah”. Negara Kesatuan Kebangsaan yang berbentuk Republik, Negara Kekeluargaan, Negara yang dibangun  melalui perjuangan panjang, mengorbankan jutaan jiwa dan harta benda rakyat Nusantara. Oleh karena itu, kedepan “tidak perlu ada dikotomi orde lama, orde baru maupun orde reformasi“, karena pada dasarnya kita sebenarnya adalah  keluarga besar yang tinggal dirumah besar Indonesia. Dan sudah saatnya bangsa ini melepas baju-baju kepentingan dan mengganti dengan baju-baju pengabdian, kembali ke Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945,  dan menggunakan Pancasila sebagai tatanan berbangsa dan bernegara, Pancasila berdaulat Bangsa selamat.

*Penulis adalah Mantan Kepala Staff Angkatan Laut, Tentara Nasional Indonesia (TNI) 2005-2007

Opini

Roch Basoeki Mangoenprojo‏. (Ist)Roch Basoeki Mangoenprojo‏. (Ist)Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.

Oleh : Roch Basoeki Mangoenprojo

Sudah banyak sekali tulisan tentang Soekarno, Proklamator dan Presiden RI pertama. Baik kehebatan maupun kelemahannya. Semua cenderung melihat sebagai pribadi seorang pemimpin yang paling menonjol di antara banyak sosok pemimpin lainnya. Hal begitu membuat Bung Karno dikagumi oleh banyak rakyatnya, namun banyak pula yang menjadi tidak suka terhadap pribadinya maupun pendapat-pendapatnya. Dengan kata lain beliau adalah tokoh kontroversial yang pendapatnya diakui dunia. Terutama dalampidato di Markas Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang Pancasila dengan judul “To Build A World Anew”,– tetapi sebaliknya belum menemukan proporsi peranan yang pas di negeri sendiri (seperti Ho Chin Minh di Vietnam misalnya).

Belajar dari pandangan masyarakat yang demikian, di tengah kompleksitas permasalahan bangsa dan negara yang sangat tinggi, muncullah beberapa pertanyaan sesuai ukuran Pancasila. Betulkah pendapat banyak orang bahwa Indonesia hanya membutuhkan satu orang sosok pemimpin sebagai Ratu Adil untuk menyelesaikan kompleksitas permasalahan Bangsa-Negara dan memakmurkannya? Adakah upaya Soekarno untuk melaksanakan Sila ke empat “musyawarah mufakat” di dalam kepemimpinannya, sehingga beliau tidak pernah menenggelamkan peranan para pemimpin lainnya? Dimanakah posisi sosok Soekarno dalam kancah pembentukan bangsa dan Negara di antara para pemimpin lainnya?

 

Permasalahan Bangsa-Negara.

Soekarno, Karto Suwiryo dan Semaun adalah murid HOS. Tjokroaminoto. Semaun penggerak komunisme di Indonesia adalah murid paling progresif. Mendirikan Partai Komunis di tahun 1922 dan melakukan pemberontakan terhadap Belanda di tahun 1926 yang tidak diikuti oleh yang non komunis. Pemberontakan ini gagal total bahkan melahirkan cemooh dari Tan Malaka. tokoh sosialis, pengembara di luar negeri dan pemimpin Negara komunis lainnya. Sementara Karto Suwiryo pemimpin Islam terkemuka, kemudian mencapai puncaknya menjadi pemimpin Negara Islam Indonesia dengan basis Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (TII) di tahun 1950-an.

Soekarno sendiri dikenal sebagai penggerak paham nasionalisme yang mencoba meramu pemikiran murid HOS lainnya, dengan melahirkan Partai Nasional Indonesia di tahun 1927 atau disingkat PNI. Soekarno merasakan betapa kuatnya aliran Islam dan Sosialisme/Komunisme sebagai kekuatan politik di dalam masyarakat Hindia Belanda. Soekarno ingin menampung semua denyut yang mengalir dengan kuat itu. Ketika Oktober tahun 1928 Sumpah Pemuda dideklarasikan, bukti bahwa denyut aliran-aliran tersebut ada dan telah menyatakan lebur menjadi satu. Satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah-air Indonesia.

Fakta kemudian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia telah diberlakukan dan digunakan oleh seluruh warga bangsa. Demikian juga dengan tanah-air. Deklarasi Djuanda menyebut Indonesia sebagai Negara Kepulauan di tahun 1955 memperkuat ikatan tanah air itu, apalagi sesudah UNCLOS (badan PBB) mengesahkannya di tahun 1982. Namun yang berkait dengan “satu bangsa” dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika belum lagi terwujud, sampai dengan HUT RI ke 70. Apakah kendala terwujudnya ide “satu bangsa”? Inilah tingginya tingkat kompleksitas permasalahan bangsa-negara Indonesia, meliputi seluruh aspek kehidupan ipoleksosbud.

Menyatukan pemikiran masyarakat yang majemuk sungguh sulit, apalagi menyatukan perasaan senasib sebagai bangsa (Ernst Renan) maha sulit. Rasa senasib sepenanggungan sebagai prasyarat terjadinya suatu bangsa hanya terwujud pada tahun 1945 sampai dengan 1949, “Merdeka ataoe Mati”. Tapi demikian kedaulatan Negara diakui (Desember 1949), hilanglah perasaan senasib itu berganti dengan “indahnya kekuasaan”.

Prasyarat terjadinya Bangsa yang lain adalah, adanya kesamaan tujuan di dalam kehidupan bersama (Otto von Bauer). Itupun hanya dapat dirasakan sampai tahun 1949, yaitu untuk mengusir penjajah dan berhasil. Setelah itu sampai saat ini 2015, tujuan bernegara semakin kabur. Parpol peserta pemilu, masing-masing membuat tujuan bernegara yang berbeda-beda. Kondisi ini, masihkah layak kita menyebut sebagai satu bangsa?

Prasyarat ketiga adalah usulan Bung Karno di dalam pidatonya “Lahirnya Pancasila”, 1 Juni 1945. Yaitu selain dua syarat di atas, bangsa harus ada di dalam satu kesatuan geo-politik, yang konsepnya sampai hari ini belum jelas sekalipun sudah ada “Wawasan Nusantara”.

Di benak saya Wawasan Nusantara haruslah dijabarkan langkah operasionalnya, merupakan upaya mewujudkan satu kesatuan geo-politik. Untuk itulah kita harus berani mengklaim bahwa Indonesia merupakan BENUA MARITIM, dituntut untuk menjadi BANGSA MARITIM dan NEGARA MARITIM. Isue maritimlah yang akan menyatukan Indonesia dalam satu kesatuan geo-politik.

Kegagalan seorang jenius bernama Soekarno memimpin bangsa ini (1965) merupakan bukti bahwa Indonesia tidak mungkin dipimpin oleh satu orang, betapapun hebatnya orang itu. Tingkat kompleksitas permasalahan bangsa sungguh sangat tinggi, di luar batas kemampuan satu orang. Di alinea 3 Pembukaan UUD sudah diyakini, Kemerdekaan Kebangsaan hanya akan terwujud bila disertai Rachmat Tuhan dan Keinginan Luhur seluruh penyelenggaranya. Tak cukup satu orang pemimpin, semua pihak akan merasa benar sendiri, bahkan merasa paling benar.

Musyawarah Mufakat

Indonesia haruslah dipimpin oleh ‘Kebenaran Bersama’ yang dihasilkan oleh proses Musyawarah Mufakat, yaitu melalui Lembaga Tertinggi Negara (MPR-RI). Kebenaran Bersama tertuang dalam output lembaga tertinggi itu dalam bentuk TAP-MPR. Tetapi harus dicermati penyusunan keanggotaan MPR-RI dan mekanisme berkerjanya. Ini sudah saya jelaskan lengkap dalam buku saya yang terbit pada bulan Juni 2014 “Kepemimpinan Indonesia, Metodologi Pencegah Negara Gagal” Harusnya tidak lewat penunjukkan, apalagi hanya menjadi juru stempel kehendak penguasa. MPR-RI haruslah melahirkan ‘Kebenaran Bersama’ dari seluruh masyarakat.

Kembali ke Soekarno. Apakah Soekarno melakukan proses musyawarah mufakat itu? Di masa pemerintahan Soekarno belum pernah ada MPR-RI yang terbentuk (selain MPRS). Sebagai Presiden Mandataris beliau tidak diangkat oleh MPR-RI. Namun saya melihat perilaku pribadinya, sebelum beliau mengambil keputusan selalu mengedepankan musyawarah mufakat.

Peristiwa-peristiwa berikut ini menunjukkan. Naskah pledoi “Indonesia Menggugat” dirumuskan bersama lima orang, sebelum dibacakan dalam sidang di Landraad Bandung (1929).

Bung Karno diminta oleh pemimpinan sidang untuk menawarkan Dasar Negara kepada Forum BPUPKI, 1 Juni 1945. Jawabannya adalah tepuk tangan berdiri sebanyak 12 kali. Terlihat bahwa Soekarno hanyalah “penggali”. Camkan ini, kalau tanpa tepuk tangan itu apakah Pancasila terlahir? Maka Pencetus Pancasila adalah Sidang BPUPKI.

Pancasila resmi terdapat di Pembukaan UUD 1945, pengemasan oleh Panitia Sembilan yang dibentuk BPUPKI. Inilah karya monumental hasil musyawarah mufakat riil oleh sembilan pemimpin Indonesia. Di sinilah peranan Soekarno yang tidak ingin menonjol sebagai salah satu dari sembilan pemimpin.

Terlihat dari perbedaan urutan unsur Pancasila antara isi pidato beliau dengan naskah Pembukaan UUD 1945. Dalam pidatonya, sila Ketuhanan berada di urutan ke lima sedangkan dalam Pembukaan UUD berada di urutan pertama. Beliau suka memufakati kehendak para delapan pemimpin lainnya. Paling layak menyandang predikat ‘Pendiri Negera’ adalah kesembilan pemimpin ini.

Soekarno mengangkat kembali Nasution menjadi KSAD (1955) adalah hasil musyawarah dengan para pimpinan TNI-AD. Waktu itu AH Nasution dicopot dari jabatan KSAD tahun 1952, diganti dengan empat KSAD berikutnya yang sulit bekerjasama dengan institusi lainnya. AH Nasution setuju diangkat kembali dengan catatan, yaitu dilakukan di pusara Jenderal Sudirman, dengan dihadiri oleh seluruh Panglima Teritorium. Mungkin pusara merupakan simbol implementasi alinea 3 berdasarkan pada nilai-nilai masyarakat di saat itu.

Mungkin masih banyak lagi yang disaksikan oleh pembaca. Sekali lagi, beliau konsisten terhadap kemufakatan ‘Kebenaran Bersama’.

Soekarno dalam Kepemimpinan

Soekarno adalah pemimpin kontroversial. Artinya sulit dinilai dengan norma apapun, baik dengan nilai-nilai universal-global maupun tradisional. Beliau adalah sosok peradaban yang mendahului jamannya, bukan cuma level nasional tetapi juga disimak, bahkan dilaksanakan oleh sebagian pemimpin dunia seperti di Afrika Selatan, Inggris dan China.

Dari uraian di atas boleh didiskripsikan bahwa Soekarno memimpin negeri ini tidak sendirian. Beliau bersama-sama para pemimpin lainnya menyusun dan memufakati ‘Kebenaran Bersama’ sebagai bangsa.

Diskripsi kepemimpinan beliau yang berkait dengan musyawarah mufakat terurai sebagai berikut.  Ir. Soekarno berwawasan ‘peradaban’. Mengubah masyarakat terjajah menjadi merdeka hanya bisa dilakukan dengan pendekatan perubahan peradaban dunia, yaitu hilangnya penindasan antar kekuatan. Itu harus dimulai dari perubahan sikap dalam dirinya sendiri. Sebagai pemimpin ia mengajak para pemimpin lain agar menjadikan dirinya sebagai contoh pembaharu, setidaknya dimulai dari cara berpakaian dan berpenampilan maupun dalam berwawasan. Hindarkan kesan bahwa bangsa Indonesia itu inlader yang minderwardig, ataupun ambtenaar penguasa. Saat itulah lahir Nation and Character Building.

Kepemimpinan Bung Karno selalu mengajak bermusyawarah. Bng Karno tidak punya ambisi kekuasaan terhadap rakyat, tetapi ingin membuat Indonesia memiliki daya tawar yang tinggi di tingkat/level global. Oleh karena itu ia selalu berhadapan dengan mereka (pemimpin) yang tak suka bermusyawarah-mufakat atau ber-Indonesia.

Beberapa contoh musyawarah yang beliau lakukan dan tidak pernah menenggelamkan pemimpin lain, adalah adalah ketika bersama Bung Hatta, berlangsung sejak 1942-1955, sekalipun sering ada friksi antara keduanya namun berhasil mengokohkan predikat Dwitunggal Soekarno-Hatta sampai hari ini.

Bersama Pak Dirman, dua kali terjadi friksi namun berakhir mulus. Saat pak Dirman berkata “100 persen merdeka” kemudian mengubah menjadi “politik TNI adalah politik Negara” (1947).

Di Desember 1948 pak Dirman yang lagi sakit paru-paru diminta mengikuti pemerintah yang telah ditangkap Belanda, namun pak Dirman tidak mau. Si Bung justru mengijinkan pak Dirman masuk hutan memimpin gerilya.

Bersama Ali Sastroamijoyo, beliau mengumandangkan nama Ali ini sebagai Perdana Menteri Indonesia yang menjadi otak terjadinya Konperensi Asia Afrika (KAA) di Bandung di tahun 1955. Ali Sastroamijoyo diberikan keleluasaan untuk berkonsultasi dengan para pemimpin di Negara-negara Asia dan Afrika yang sudah dan belum merdeka.

Bersama Djuanda, Bung Karno memberi kepercayaan untuk menyiapkan dan memperjuangkan konsepsi Negara-Kepulauan yang berisi bahwa wilayah Indonesia meliputi juga laut yang berada di antara pulau-pulau. Kemudian konsep ini ditindak-lanjuti oleh Mochtar Kusumaatmaja, agar disyahkan oleh PBB dan UNCLOS.

Siap Menderita

Pemimpin harus siap menderita demi rakyatnya. Bahkan ia hancurkan dirinya sendiri saat dihinakan dan dikandangkan di Wisma Yaso. Ajakan pasukan KKO untuk melawan penguasa ditolak. “Itu berarti mengajak perang saudara” kata Bung Karno. Khawatir Indonesia akan bubar. Masih banyak peristiwa serupa dari Bung Karno.

Yang tidak dilakukan dan tidak seharusnya beliau lakukan adalah sebagai berikut. Panitia Sembilan, para penyusun naskah Pembukaan UUD terlalu cepat bubar sehingga alur pemikiran “Indonesia” terputus dengan pembuat UUD 1945, apalagi dengan para pemburu kekuasaan. MPR-RI yang sesuai kehendak pasal 2 UUD 1945 dan berakar dari jiwa Pembukaan UUD belum diwujudkan. Tidak melakukan konsolidasi kekuatan pasca perang revolusi, bahkan di tengah keberhasilan merebut Irian Barat tidak mengonsolidasi kekuatan organisasi Indonesia sebagai Negara ‘yang berhasil’. Tidak seharusnya Soekarno menerima pengangkatan sebagai Presiden Seumur Hidup. Ini hasil musyawarah mufakat yang menyesatkan.

Konsistensi melakukan proses musyawarah yang dilakukan sendiri bukan oleh MPR-RI sebagai Lembaga Tertinggi Negara, membawa konsekuensi yang harus dihadapi. Yaitu ketika pemimpin lainnya berubah arah kiblat kebijakannya dan meninggalkan permufakatan yang telah dibuat. Misalnya, menerima kehadiran neo-capitalism dan neo-colonialsm.

Pandangan Salah

Nama Soekarno menjadi terlalu besar, tidak proporsional. Lantas menjadi kurang bermanfaat bagi kelanjutan kehidupan bangsanya. Hal itu terjadi karena beberapa hal.

Masyarakat terlalu berharap akan lahirnya Ratu Adil sebagai pemimpin yang akan menyelamatkan kehidupan masa depannya. Ratu Adil dalam konsep tradisional adalah seseorang pemimpin yang mengatasi segala hal. Konsep yang tak mungkin menjadi nyata melihat kompleksitas yang dihadapi oleh bangsa yang ingin mengubah peradaban (nilai-nilai).

Tanpa sadar pandangan di atas membuat para pengagum dan pengikutnya berlomba untuk semakin meninggikan nama Soekarno, itu berarti akan ‘menenggelamkan’ nilai pemimpin lainnya. Padahal Soekarno sendiri tidak pernah mau ‘bersaing’ dengan pemimpin lainnya, apalagi untuk menenggelamkannya. Kalau toh ada yang tenggelam, karena mereka melawan kehendak rakyat yang dipimpin Soekarno dan kawan-kawan dalam musyawarah mufakat. Contohnya Tan Malaka dan Muso.

Belum ada upaya bangsa ini untuk memposisikan kepemimpinan Bung Karno dalam kebersamaannya dengan segudang pemimpin lain, yang juga berjasa besar bagi kemerdekaan bangsa ini dan seterusnya.

Kultus-individu terhadap kepemimpinan Soekarno adalah upaya pihak lain untuk mendiskreditkan sosok Bung Karno sebagai pemimpin dunia, serta mengacaukan perjuangan bangsa ini untuk ber-Indonesia

*Penulis adalah Purnawirawan TNI/AD, tinggal di Bandung. Menjadi Ketua Dewan Pembina M-3 (Masyarakat Musyawarah Mufakat).

Opini

Bambang Sulistomo (Ist)‏Bambang Sulistomo (Ist)‏Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.

Oleh : Bambang Sulistomo

Siapapun tidak bisa memungkiri, bahwa Ir Soekarno yang di sebut sebagai Bung Karno adalah salah satu pendiri peletak dasar dasar kemerdekaan republik ini.  Perjuangannya sejak masa muda, didahului dengan mempelajari perjuangan kemerdekaan dari para pendahulunya,  dan kemudian menggalang teman-temannya yang sepakat untuk mencapai suatu negara yang merdeka dan berdaulat, sehingga mengakibatkan dia ditahan, diadili dan dibuang ketempat pengasingan oleh kekuasaan penjajahan.

Mencermati sejarah perjuangan Bung Karno,  merupakan bagian dari  suatu sejarah kepahlawanan yang heroik dan sekaligus banyak mengandung unsur romantisme yang manusiawi.

Menelusuri dan mencermati sejarah kehidupan politik Bung Karno,  mau tidak mau kita harus membaginya dalam  kurun  waktu kehidupannya, dimulai dari masa muda menjadi mahasiswa, masa menggalang kekuatan untuk  mendirikan gerakan dan partai politik, masa dia ditahan, diadili dan diasingkan oleh  pemerintah jajahan Belanda, masa penjajahan bala tentara Jepang, masa persiapan kemerdekaan, masa awal kemerdekaan, masa demokrasi parlementer, masa demokrasi terpimpin dan masa akhir kekuasannya.

Kesemua kurun waktu yang kita cermati tersebut, telah membentuk keseluruhan kepribadian Bung Karno, membentuk alam fikirannya, membentuk cita citanya, membentuk kelompok pendukungnya, membentuk corak perjuangannya, dan membentuk keyakinannya. Artinya , kita seharusnya dapat  mencermati keseluruhan  fikiran, gagasan, sikap  dan tindakan Bung Karno sampai pada saat dia diharuskan turun dari  kekuasaannya.

Pertama :  Sejak dikalahkannya tentara penjajahan Belanda oleh pendudukan bala tentara Jepang, para pejuang kemerdekaan seolah-olah terbagi dalam dua kekuatan, yaitu kelompok para pejuang yang mendukung pendudukan balatentara Jepang, yang pada awalnya “mengizinkan” dikibarkannya bendera merah-putih, dan melahirkan semangat anti nasionalisme anti “penjajahan barat”. Dan kelompok lainnya yang mendukung perlawanan pendudukan tersebut, karena Jepang dianggap sebagai negara yang dalam perang dunia ke dua tersebut,  mendukung fasisme Jerman dan Italia.  Kedua kelompok pejuang  tersebut pada masa sesudah 17 agustus 1945, akan sangat berperan dalam mempertahankan kemerdekaan dari keinginan kembali tentara sekutu untuk mengembalikan kekuasaan Belanda dinegeri ini. Yaitu kelompok pejuang bersenjata yang menolak perundingan damai dengan Belanda. Kedua, adalah pejuang yang menyetujui upaya perundingannya yang dianggap “menyerahkan” sebagian wilayah pada Belanda,

Semangat Revolusioner

Kedua :  Bung Karno sangat merasakan ‘semangat revolusioner’ dalam perjuangan kemerdekaan, oleh sebab itu semangat tersebut menjadi kebanggaan yang dibangun olehnya sebagai strategi untuk menyelesaikan semua permasalahan bangsa ini melalui pendekatan politik. Tetapi beberapa  sahabat Bung Karno, para pejuang terdidik lainnya berpendapat,  bahwa permasalahan bangsa yang baru merdeka, seharusnya diselesaikan melalui pembangunan kelembagaan, pembangunan ekonomi yang merata dan pembangunan kedaulatan rakyat. Perbedaan strategi pembangunan inilah yang akhirnya membuat wakil presiden Bung Hatta saat itu mengundurkan diri dari jabatannya. Dan sebagai reaksi mundurnya wakil presiden, akhirnya muncul gerakan politik dan militer beberapa daerah yang menolak strategi pembangunan Bung Karno tersebut. Tapi akhirnya Bung Karno berhasil menghentikan semua gerakan tersebut, dan dia semakin erat merangkul kekuatan politik yang mendukung strategi revolusioner-nya itu.

Ketiga: Perjuangan Bung Karno untuk mendirikan negara yang berdaulat dan merdeka dari penjajahan  merupakan hal yang paling mendasar,  yang menjadi semacam keyakinannya, bahwa semua bangsa di dunia harus merdeka dari penjajahan. Hal tersebut juga  tercermin dalam pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu gagasannya untuk mendukung konferensi Asia Afrika, dan sampai pada saat Bung Karno mencanangkan “trikora” dan “dwikora”, merupakan kenyataan, bahwa Bung Karno sangat kuat keinginanannya agar semua negara yang terjajah dapat memerdekan dirinya dengan cara-cara yang “revolusioner”. Sikap revolusioner ini tentunya mendapatkan sambutan yang besar dari negara negara blok timur, yang pada saat perang dingin bersaing berebut pengaruh di dunia dengan negara  blok barat.

Karena saat itu, pada umumnya negara-negara blok timur dianggap merupakan negara  bekas jajahan, dan negara blok barat sebagai negara penjajah. Sikap Bung Karno pro blok timur seperti ini tentu “meresahkan” negara blok  barat. Sehingga untuk mengurangi tekanan gerakan politik Bung Karno dan kawan-kawan, dengan gerakan “Non blok-nya”, dalam perundingan internasional untuk membebaskan “Irian Barat” dari penjajahan Belanda, saat itu beberapa negara barat akhirnya menekan Belanda, dan membawa masalah tersebut ke PBB.

Nasakom

Ke-empat :    Dalam membangun kekuatan pendukung politiknya, Bung Karno tentu melihat sejarah pergerakan kemerdekaan, bahwa faham nasionalisme, faham ke-agamaan dan faham marxisme, merupakan faham yang telah menggerakan “kesadaran” perjuangan kemerdekaan. Untuk itulah Bung Karno kemudian melahirkan gagasan “trisakti” (berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang budaya) serta “Nasakom” sebagai simbol persatuan kekuatan politik bangsa, yang diharapkannya dapat menyelesaikan semua permasalahan politik bangsa secara revolusoner.

Permasalahannya kemudian adalah, setelah hasil pemilihan umum 1955, dan kemudian DPR hasil pemilu tersebut dibubarkan Bung Karno,  beberapa partai politik yang mendapatkan kursi terbesar  seperti PNI, NU dan PKI menyatakan dirinya sebagai pendukung “Nasakom tanpa reserve” setelah  Bung Karno mengeluarkan dekrit presiden 5 Juli 1959, dengan menyatakan kembali pada UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar Negara.

Sebagai suatu gagasan (dalam alam pemikiran) Bung Karno,  Nasakom akhirnya “terwujud” menjadi kekuatan politik (artian fisik), yang akhirnya tentu saja dimanfaatkan oleh partai politik pendukung gagasan tersebut, agar lebih dekat dan dapat ikut memanfaatkan semangat revolusioner dari kekuasaan Bung Karno.

Ke-lima : sebagai kekuatan politik, tentu ketiga partai politik tersebut “bersaing” kuat untuk menunjukkan sikap siapa yang paling revolusioner, terutama  sebagai peluang dalam alam  perang dingin. Bung Karno dalam melihat arah perang dingin,  tentu mengamati dan menilai bahwa negara blok timur yang paling mendukungnya,  dan terlihat sesuai dengan slogan dan visinya yang revolusioner.

Didalam negeri tentunya yang dapat melihat “peluang” slogan revolusioner tersebut adalah PKI.  Tapi PKI juga menyadari, bahwa tanpa kekuatan bersenjata dia tidak akan sepenuhnya bisa mendukung (mengendalikan) gerak revolusionernya Bung Karno, meskipun Bung Karno setuju untuk membentuk “poros” Jakarta, Pyong Yang, Hanoi, Peking.

Saat itu yang dianggap menjadi hambatan PKI untuk mengendalikan kekuasaan Bung Karno sepenuhnya, adalah kekuatan militer Angkatan Darat, yang selalu menolak dengan keras permintaan PKI agar diwujudkan “angkatan kelima”, yaitu rakyat revolusioner yang dipersenjatai.

Ke-enam :  Bung Karno tentu bukan tidak melihat persaingan pengaruh diantara partai politik pendukung Nasakom-nya, maupun  persaingan yang hebat antara PKI dan Angkatan Darat.

Tapi saat itu siapa kekuatan politik yang bisa menjamin bahwa segala persaingan perebutan pengaruh tersebut tidak akan terwujud menjadi semacam “bumerang” bagi Bung Karno sendiri? Dan siapa yang dapat menjamin, bahwa dalam membangun kekuatan politik Nasakom  dengan gagasan demokrasi terpimpin yang revolusioner, dan membangun perekonomi untuk kesejahteraan rakyat bisa berlangsung secara bersamaan ? .Dan siapa bisa menjamin, bahwa  politik “non blok” Bung Karno yang lebih condong bekerja sama dengan negara negara blok timur itu tidak menimbulkan kecurigaan dan ketidak senangan negara blok barat dan para simpatisannya dinegeri ini sendiri ?

Bung Karno sering menyebut dirinya sebagai pemimpin besar revolusi (PBR), tapi siapa yang bisa mengingatkan Bung Karno, agar “revolusi yang multi komplek” (sosial, politik, ekonomi, mental dan sebagainya) itu bisa berjalan dengan strategi yang sesuai dengan kebutuhan membentuk masyarakat yang adil dan makmur, membentuk jatidiri bangsa seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 ?

Akhir Yang Tragis

Yang kita perlukan agar generasi muda dapat mencermati adalah, bahwa Bung Karno dengan gagasan pembangunan kehidupan politiknya yang revolusioner, dan Jenderal Suharto dengan pembangunan ekonomi sebagai titik berat, dimana   kedua pemimpin  tersebut menyebutkannya sebagai ujung tombak dari “pengamalan demokrasi terpimpin Pancasila”, ternyata kedua pemimpin tersebut mengakhiri kekuasaannya dengan tragis.

Tapi jika kedua pemimpin tersebut masih hidup, bagaimana misalnya pendapat dan tanggapannya melihat keadaan bangsa kita saat ini, dimana korupsi oleh birokrasi dan penegak hukum merajalela, hukum dan keadilan jadi barang dagangan sehingga mengakibatkan krisis kepercayaan, karena mafia pangan sulit diberantas, nasib buruh dan tani tidak meningkat, narkoba jadi dagangan karena  semakin laris telah menghancurkan masa depan banyak generasi muda,   kesejangan sosial ekonomi semakin lebar, sehingga harus dibantu dengan “raskin”, sistem politik demokrasi pancasila dan peran partai politik yang semakin  tidak jelas , bahwa negeri ini tampak “tidak berdaya” menjaga kedaulatan pengelolaan sumber daya alam-nya ?

Dan bagaimana misalnya tanggapan kedua pemimpin tersebut, bahwa saat ini keterbukaan informasi publik masih bisa kita pertahankan sebagai bagian penting untuk menjujung kedaulatan rakyat, bahwa jaminan kesehatan dan ketenaga kerja nasional sudah terwujud, jaminan untuk sekolah dengan gratis. Apakah ada impian Bung Karno tersebut diatas yang bisa diwujudkan,  apakah rakyat bisa menilai apa saja impian Bung Karno yang sesuai dengan harapan rakyat itu sendiri ?

*Ketua Bidang nilai kepahlawanan, Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional, Putra Bung Tomo

Opini

Direktur, Resistance And Alternative To Globalization (RAG), Bonny Setiawan (Ist)‏Direktur, Resistance And Alternative To Globalization (RAG), Bonny Setiawan (Ist)‏Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.

Oleh: Bonnie Setiawan

Revolusi sejati ialah sebagai kukatakan tadi, suatu proses, satu proses masyarakat yang berisikan, berintikan penjebolan dan penanaman, satu proses masyarakat untuk membongkar sistem masyarakat itu sampai ke akar-akarnya. Sistem masyarakat, sistemnya, Saudara-saudara… Bukan sekadar mengubah mental thinking, neen, neen, neen. Social political system, susunan masyarakat, susunan politik masyarakat. Susunan ini harus kita ubah. Sebagai kukatakan tadi, ada orde kapitalis, ada orde sosialis. Nah, kita berjuang untuk orde sosialis ini. Dan jikalau kita membongkar orde kapitalis untuk menjadi orde sosialis, itulah revolusi.( Bung Karno, “Revolusi adalah menjebol dan membangun”, Pidato di depan GMNI, 3 Desember 1966)

Sukarno atau Bung Karno, nama luar biasa yang dikenal oleh hampir rakyat di seluruh dunia, adalah tokoh revolusioner yang selalu kita kenang di setiap bulan Juni. Bulan Bung Karno. Menamai dirinya sebagai “Pemimpin Besar Revolusi” dan “Penyambung lidah Rakyat Indonesia”. Bung Karno dengan sadar berusaha memimpin bangsa dan rakyatnya agar Indonesia bisa mencapai era keemasan, setelah kita melewati jembatan emas kemerdekaan. Bung Karno sepanjang hidupnya hanya memikirkan satu hal, Rakyat Indonesia. Setiap detik dan setiap menit dalam hidupnya, beliau memikirkan bagaimana rakyat Indonesia bisa keluar dari eksploitasi satu manusia atas manusia lainnya (exploitation de l’home par l’home) dan menjadi negeri gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.

Semangatnya yang tidak kenal lelah dan tidak kenal waktu, membuatnya sebagai seorang Revolusioner. Semangatnya untuk mengubah secara mendasar penderitaan masyarakat menjadi masyarakat yang adil dan makmur selalu menjadi obsesinya. Semangatnya untuk merubah segala hal sejak dari akarnya, sejak dari dasarnya, menjebol dan membongkar masyarakat lama, menjadi masyarakat baru Indonesia yang sosialistis, adalah Bung Karno punya jiwa dan bara.

Semangat revolusioner sejatinya tersebut menyebar ke sekelilingnya, menyebar ke rakyatnya, menyebar ke partai-partai politik, menyebar ke seluruh dunia. Hanya Bung Karno-lah yang paling mampu menyebarkan virus semangat revolusioner luar biasa itu kepada seluruh rakyatnya, agar Indonesia berubah menjadi negara besar dan makmur. Itulah semangat dan cita-cita revolusioner beliau yang tak boleh padam dan tak akan bisa padam.

Mengingat beliau adalah mengingat ke-revolusionerannya. Tidak bisa lain. Karena itulah identitas beliau. Tanpa itu, maka itu bukanlah Bung Karno. Itu “Bung Karno” jadi-jadian, “Bung Karno” pura-pura, pseudo Sukarnois. Dan meski sekarang banyak orang, termasuk partai-partai politik oligarki Orde Baru, menyanjung-nyanjung nama beliau, bisakah mereka menyanjung kerevolusionerannya Bung Karno? Bisakah mereka mendukung sang pemimpin besar Revolusi? Yaitu merubah sistem masyarakat, susunan masyarakat, dari sistem kapitalisme ke Sosialisme Indonesia? Inilah ujian dasar bagi seseorang atau kelompok yang katanya penganut atau penyuka Bung Karno. Tidak diperlukan fans-club Bung Karno. Apalagi lips-service kalimat-kalimat Bung Karno, kalau kenyataannya hanya untuk menipu rakyat !

Trisakti adalah temuan revolusioner Bung Karno. Trisakti yang sekarang dijadikan pedoman program pemerintah Jokowi-JK. Ingatlah, Trisakti itu adalah konsep revolusioner. Trisakti adalah jantung revolusioner konsep Bung Karno. Sebagaimana dikatakan Bung Karno tentang “Panca Azimat Revolusi”, yaitu Nasakom (1926), Panca Sila (1945), Manipol-USDEK (1959), Trisakti (1964) dan Berdikari (1965). Kelimanya ini adalah konsep-konsep dasar revolusinya Bung Karno.  Sebagaimana dikatakan Bung Karno sendiri:

“Revolusi kita adalah Revolusi kiri. Kiri karena apa ? Pantjasila op zich zelf is al kiri ! Apalagi djikalau kita memperhatikan Sila kelima daripada Pantjasila: Keadilan Sosial. Maka dengan tegas dan djelas saja katakan, bahwa Revolusi kita adalah revolusi kiri.” (amanat Presiden Sukarno tanggal 27 Oktober 1965)

Bahkan lebih jauh lagi Bung Karno nyatakan dalam Kongres PNI di tahun 1963, bahwa Marhaenisme ialah Marxisme yang diterapkan di Indonesia, yang kemudian ditegaskan dalam sidang BPK PNI di Bandung pada bulan April 1964. Maka apakah kurang hebatnya kerevolusioneran Bung Karno. Bahkan beliau sanggup mengorbankan nyawa dan hidupnya sendiri untuk tetap menjaga agar konsep-konsepnya bisa hidup terus dan agar rakyat Indonesia bisa terus bersatu menjalankan konsep-konsepnya.

Maka bila setiap kali kita memperingati Bulan Bung Karno, maka selalulah kita harus memperingati kerevolusionerannya, mengingat-ingat dan memamah-mamah konsep-konsepnya yang hebat-hebat tersebut. Konsep-konsep tersebut telah membuat Bung Karno dihormati oleh kawula sejagad, dihormati oleh rakyat-rakyat seluruh dunia, dan diperingati oleh bangsa-bangsa di dunia, sebagai orang besar dari Indonesia yang telah menawarkan konsep-konsep hebat pada dunia.

Kini ketika Trisakti telah kembali menjadi panduan program pemerintah secara resmi, maka apakah yang bisa kita harapkan dari pemerintah dan masyarakat Indonesia? Tidak lain untuk kembali kepada semangat revolusioner Bung Karno. Kembali kepada api dan jiwa revolusi Agustus 1945. Kembali kepada amanat penderitaan rakyat. Kembali kepada jati-diri revolusi Indonesia.  Yaitu merubah secara mendasar sistem dan susunan masyarakat yang masih timpang, eksploitatif dan tidak adil ini, untuk berangsur-angsur menuju ke masyarakat Sosialisme Indonesia. Masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Karena memang hanya itulah resep dasar kemajuan negara kita, resep tunggal kemakmuran bangsa ini. Yaitu menemukan dan menggenggam revolusi Indonesia kembali dalam menjalankan program-program dan agenda pembangunan masa kini. Hakul Yakin akan bisa terwujud Indonesia yang makmur, adil dan beradab.

*Penulis adalah Direktur Resistance And Alternative To Globalization (RAG)

Opini

Makarim Wibisono‏ (Ist)Makarim Wibisono‏ (Ist)Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.


Oleh : Makarim Wibisono*

Setahun setelah  menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika di Bandung April 1955, Bung Karno beserta 14 anggota rombongan resminya  memenuhi undangan Presiden Amerika Serikat, Dwight Eisenhower  untuk melakukan kunjungan kenegaraan di Amerika Serikat sejak 15 Mei 1956 selama 19 hari. Kedatangan Bung Karno disertai puteranya Mohammad Guntur Sukarnoputra yang masih berusia 12 tahun  disambut karpet merah dan acara penerimaan yang meriah.

Presiden Eisenhower telah mengirim pesawat pribadinya Columbine III untuk menjemput Bung Karno dari Bandara Hickham di Honolulu, Hawai menuju Bandara National di Washington-DC.  Wakil Presiden  (Wapres) Amerika Serikat, Richard Nixon, Menteri Luar Negeri  (Menlu),  John Foster Dulles dan pejabat-pejabat tinggi  Amerika Serikat lainnya menyambut kedatangan Bung Karno dan rombongan di  Bandara National.

Suasana penerimaan di Bandara sangat ramah dan hangat karena  Wapres Nixon dan Menlu Dulles telah berkunjung ke Indonesia sebelumnya. Wapres Nixon menyamakan Bung Karno dengan George Washington dan mengatakan “Anda telah berhasil memimpin rakyatmu untuk meraih kemerdekaan, dan dalam masa damai ini Anda memimpin rakyatmu untuk mencapai kemajuan.”

Berulangkali dalam pernyataannya  Bung Karno mengemukakan bahwa kunjungannya ini dimaksudkan untuk membangun “saling pengertian dan persahabatan yang sesungguh-sungguhnya antara Indonesia dan Amerika Serikat.” Hal ini disambut hangat masyarakat Amerika Serikat mengingat Bung Karno mengunjungi Washington terlebih dahulu sebelum melakukan kunjungan muhibah ke Uni Soviet dan Tiongkok.

Ekspresi  Spontan Memikat.

Membalas kata sambutan Wapres Richard Nixon, Bung Karno menjelaskan latar belakang maksud kunjungannya ke AS secara artikulatif  dan berkata :

“I came here to confirm or to modify the impression of your country which I have collected for so many years. Above all, I came here to learn something from America-not in the first place from America merely as a country or a nation or a people, but from America as a state of mind.”

Jadi yang ingin dipelajari Bung Karno mengenai bangsa Amerika adalah cara berpikir dan sudut pandangnya mengenai berbagai pokok permasalahan kehidupan.

New York Times terbitan 20 Mei 1956 melaporkan bahwa Bung Karno telah memukau hadirin dalam Sidang Gabungan Senat Amerika Serikat dan Dewan Perwakilan Amerika Serikat dengan pidatonya yang bolak balik mendapat tepukan hangat dan ovasi berdiri untuk menghormatinya. Hal ini oleh para pengamat Amerika Serikat dianggap sebagai salah satu pidato yang berikan  ungkapan terkuat dari sudut pandang Asia yang pernah terdengar di Washington-DC.

Tanpa keragu-raguan Bung Karno mengkritik pendekatan Amerika Serikat pada masalah bantuan luar negeri Amerika Serikat di Asia. Amerika Serikat dianggap berusaha membeli stabilitas dengan membagikan  hadiah-hadiah senjata dan pembentukan pakta militer. Bung Karno menyatakan “Military aid is no substitute for ASEAN stability.” Bung Karno menegaskan bahwa bangsa-bangsa Asia menolak bantuan itu karena dapat memaksanya melepaskan kemerdekaaannya.

Secara lugas dan memikat Bung Karno menjelaskan mengenai nasionalisme di Asia dan proses kebangkitannya. Bung Karno mengatakan :

“For us, nationalism means … the effort to provide equal esteem for our peoples; it means  the determination to take the future into our own hands. … Nationalism … is the mainsprings of our efforts. …Fail  to understand that, and no … torrent of words, no Niagara of Dollars will produce anything but bitterness and disillusionment. … We ask you to understand and sympathize with the fact that our national struggle is incomplete. How can it be complete when millions of our people in Asia and Africa are still under colonial domination.

Menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari media massa Amerika Serikat, Sandusky Register Star News terbitan 17 Mei 1956 melaporkan  Bung Karno menegaskan bahwa Indonesia menentang perjanjian-perjanjian regional yang mengikat anggotanya pada komitmen militer karena hal ini akan menambah kecurigaan dan sahwa-sangka yang pada gilirannya akan meningkatkan ketegangan dikawasan.

Menjawab pertanyaan kemungkinan keanggotaan  Republik Rakyat Tiongkok di PBB, Bung Karno menegaskan:

“We believe that all countries governed by their own peoples have a right to membership in the United Nations….It is a fact of history that China’s revolution was won by her people.“

Secara  indah Bung Karno membuat analogi di depan The National Press Club, bahwa usaha Amerika Serikat menentang komunisme dan usaha Indonesia menentang kolonialisme adalah kegiatan politik menuju kearah tujuan  yang sama yaitu memberikan kebebasan yang lebih luas bagi umat manusia.

Bertalian dengan masalah kolonialisme, Bung Karno secara jujur mengakui bahwa hal ini yang menimbulkan masalah dalam hubungan negara-negara Asia dengan Negara-negara barat termasuk Amerika Serikat.  Bung Karno  tanpa tedeng aling-aling  menyatakan:

“It is true the United States has no  colonial possessions in Asia, but remember there are other aspects of colonialism besides the facts of political possession. There are economic and social aspects.”

Pada masa itu Bung Karno sudah mengingatkan adanya dimensi sosial dan ekonomi dari kolonialisme.

Akhirnya untuk menyimpulkan hasil kunjungan Bung Karno ke Amerika Serikat 1956, saya ingin mengutip  laporan Wallace Fanning  WRC 18 Mei 1956 setelah meliput pidato Bung Karno di depan National Press Club bahwa “Presiden Sukarno telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang berkepribadian dan tamu Negara yang menyenangkan.”

*Penulis adalah Mantan Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Special Rapporteur PBB untuk Palestina, Chairman of Board of Governance of ICWA, Ketua Pelaksana Forum Dubes RI, Penasehat Komnasham dan Guru Besar Universitas Airlangga.

Nursjahbani Katjasungkana, SH (Ist)‏Nursjahbani Katjasungkana, SH (Ist)‏Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.

Oleh : Nursjahbani Katjasungkana, SH

Tanggal 6 Juni tahun ini, kita merayakan   kelahiran Bung Karno yang ke 114 dan 21 Juni nanti tepat 46 tahun wafatnya. Bung Karno adalah salah satu pendiri Republik Indonesia, penggagas dasar negara Pancasila dan pernah dijuluki sebagai Pemimpin Besar Revolusi serta salah satu penggagas  Konperensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, sebuah konfrensi yang diselenggarakan untuk melawan kekuatan baru kapitalisme global yang dikuasai blok Barat.

Setelah absen selama 32 tahun dibawah pemerintahan Jendral Soeharto, sejak reformasi, kelahiran Pancasila kembali dirayakan secara resmi dalam upacara kenegaraan. Pada peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni yang lalu, puja-puji kepada sang Penggagas dikemukan pula oleh Presiden Jokowi yang mengakui bahwa Bung Karno merupakan  inspiratornya yang utama.

Pada tingkat dunia, namanya sangat harum baik karena pidato-pidatonya yang membangkitkan semangat perjuangan melawan kolonialisme dan kapitalisme mapun sebagai salah satu penggagas gerakan non-blok. Negerinya yang ketika itu baru berumur 10 tahun berhasil menggerakkan negara-negara Asia Afrika dan menegaskan posisi politiknya ditengah Perang Dingin yang sedang berlangsung antara blok Barat dibawah Amerika Serikat dengan sekutunya dan blok Timur dibawah Rusia dan kawan-kawannya. Kedua blok itu saling berebut pengaruh dan di beberapa negara menimbulkan perang. Sebuah konferensi akbar diselenggarakan di Bandung pada bulan April 1955 dan dikenal dengan Konferensi Asia-Afria (KAA) Bandung.

Setelah sukses menjadi tuan rumah peringatan 50 tahun KAA pada tahun 2005 yang lalu, Indonesia berhasil menghidupkan kembali  semangat KAA Bandung. Sebuah deklarasi bernama Kemitraan Strategis  Asia Afrika Baru (the New Asia-Africa Strategic Partnership/NAASP) diluncurkan. Bulan April tahun ini bersama dengan Afrika Selatan,    menjadi tuan rumah merayakan 60 tahun Konferensi Asia Afrika,  sekaligus memperingati 10 tahun  NAASP. Kebangkitan spirit KAA Bandung itu kembali diperkuat ketika saat ini gelombang baru ketegangan internasional mengancam  perdamaian dunia. Situasi politik global saat ini tidak kalah tegangnya dengan situasi politik global ketika KAA 1955 dilangsungkan .

Deklarasi NAASP menekankan multilateralisme, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan promosi perdamaian dan keamanan global. Salah satu poin utama yang ditekankan dalam  Deklarasi NAASP tersebut didasarkan pada Deklarasi KAA Bandung 1955. Deklarasi ini menekankan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan untuk tujuan menegakkannya sesuai dengan  prinsip-prinsip yang tercantum dalam piagam PBB.

Sementara KAA 1955 yang digagas oleh Bung Karno, Nehru, Tito dan Nkrumah dipandang sebagai langkah besar perjuangan bangsa-bangsa Asia Afrika dan khususnya negara Indonesia yang masih sangat muda. Sampai saat ini spirit KAA Bandung  tetap menginspirasi bangsa-bangsa dari dunia ketiga ini untuk melawan segala bentuk penindasan karena kolonialisme, kapitalisme dan globalisasi. Tentu, semua itu tak lepas dari peranan Soekarno sebagai penggas KAA Bandung Karenanya,  adalah penting bagi pemimin-pemimpin negara Asia Afrika utamanya bagi bangsa Indonesia sendiri untuk merefleksikan dan merenungkan  nasib Bung Karno, yang gagasan dan visinya tentang Pancasila yang menjadi dasar negara kita serta semangat anti kolonialisme dan kapitalisme menjadi spirit bangsa-bangsa Asia-Afrika.

Mencopot Bung Karno

Tragis, bahwa Bung Karno telah menjadi korban perang dingin yang terjadi pada waktu itu. Karena melakukan perlawanan yang sangat keras, akibatnya Bung Karno  menjadi lawan utama bagi kekuatan kapitalisme dan akhirnya  tersingkir secara brutal sebagai presiden RI oleh agen mereka  yang dipimpin oleh Jendral Soeharto meski secara piawai diberhentikan lewat proses politik melalui Sidang istimewa MPRS tahun 1967. Sebelumnya yakni pada 11 Maret 1966 Bung Karno  dipaksa untuk menandatangani sebuah dokumen yang disebut Supersemar, yang menugaskan  Soeharto untuk “mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk menjamin keamanan, ketenangan dan stabilitas pemerintah dan revolusi dan untuk menjamin keamanan dan otoritas pribadi  Sukarno sebagai Presiden”.

Alih-alih mengamankan Bung Karno, Soeharto menyusun segala kekuatan untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya dan jabatan Bung Karno sebagai Presiden  secara dramatis  dicopot dalam sidang istimewa  MPRS pada tanggal 12 Maret 1967.  Bung Karno kemudian dikenakan status sebagai tahanan rumah di istana Bogor. Kesehatannya terus  memburuk karena ia menolak  perawatan medis  dan akhirnya wafat  karena gagal ginjal di Rumah Sakit Angkatan Darat Jakarta pada tanggal 21 Juni 1970 pada usia 69 tahun.

Bersenjatakan Supersemar, Soeharto menetapkan kebijakan untuk melakukan pembubaran dan pembantaian terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) dan para pendukungnya. Mereka yang dianggap berfaham komunis  baik dikalangan masyarakat luas, pejabat sipil dan militer dan kelompok-kelompok yang dianggap akan mengganggu kekuasaannya dibersihkan.

Istilah Gerakan 30 September (G-30S) berubah menjadi G-30S/PKI karena PKI dianggap dibalik G-30S tersebut. Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Soeharto  itu sejak awal telah  menegaskan keberpihakannya pada blok Barat. Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah segera saja menjadi rayahan para agen kapitalis seraya memperkuat Soeharto dengan berbagai alat kekuasaan dan mendiamkan semua pelanggaran hak asasi manusuia yang terjadi. Korupsi merajalela sementara utang negara kepada badan-badan keuangan dunia melangit  sehingga kehidupan rakyat sangat tertindas dan hanya segelintir orang atau kelompok yang dekat dengan kekuasaan  yang menikmati “kue pembangunan”.

Banyak aspek dari kudeta di atas yang harus kita pelajari kembali. Namun yang jelas, setelah terjadinya G-30S pada dinihari 1 Oktober 1965 itu, Soeharto berhasil menumpas G-30S.  Sesudahnya, propaganda penghinaan seksual terhadap Gerwani yang dituduh memutilasi para jendral yang terbunuh dalam aksi G-30S tersebut. Faham komunisme yang dianggap atheis, telah menggerakkan sekelompok masyarakat khususnya kelompok organisasi keagamaan untuk melakukan pembunuhan massal, exterminasi, penyiksaan dan penghilangan paksa serta perbuatan-perbuatan kejam lainnya, kekerasan seksual, pemenjaraan, perbudakan  dan penahanan sewenang-wenang. Diduga, 500 ribu sampai sejuta orang mati dibunuh dan jutaan lainnya menjadi korban kejahatan-kejahatan tersebut.

Kejahatan-kejahatan tersebut dilakukan   secara sistimatis dan meluas hampir diseluruh wilayah NKRI. Sesungguhnya, karena alasan paling menonjol dari semua kejahatan itu dilakukan atas dasar identitas politik yakni komunis atau partai politik yang merupakan sekelompok orang yang bertujuan politik sama. Banyak ahli hukum Internasional memasukkan peristiwa pembantaian 1965 tersebut sebagai genosida. Tujuan pemusnahan atas dasar pandangan politik ini bahkan berlangsung sampai sekarang dengan adanya stigma dan kekerasan terhadap para korban dan penyintas.

Sampai saat ini sistim impunitas tetap berlangsung, para pelaku utama sebagiannya telah tiada dan pemerintah tak mengeluarkan sepatah kata maaf apalagi memberikan keadilan dan rehabilitasi serta reparasi bagi korban

Seperti halnya  para korban dan penyintas ini, Bung Karno juga  tak pernah mendapatkan rehabilitasi. Padahal tanpa bukti yang kuat, Bung Karno  dituduh  telah memberikan ‘toleransi’ kepada  “gerakan G-30S “. Sementara itu karena PKI yang dianggap dalang G-30S dan menyebabkan terbunuhnya 6 orang jendral dan satu perwira Angkatan Darat, partai ini bersama seluruh simpatisan dan pengikutnya benar-benar “dihapuskan”  dari bumi Nusantara. Pemimpin dan para pengikut PKI benar  dimusnahkan atau dipenjarakan atau dimasukkan kamp tahanan tanpa pernah diadili,  meski mungkin hanya satu atau pemimpin tertingginya yang terlibat dalam G-30S itu.

Kabarnya Bung Karno melakukan protes keras atas pemusnahan ini, tapi tak digubris oleh Soeharto. Penolakan negara sampai sekarang masih terjadi dan karenanya akuntabilitas dan sistim impunitas masih saja berlangsung. Menanggapi peluncuran laporan Komnas HAM (2012) tentang kejahatan kemanusiaan 1965/1966 ini, Djoko Suyanto, Menteri Polhukham pada waktu itu bahkan menyatakan bahwa pembantaian itu perlu dilakukan untuk menyelamatkan bangsa.

Rehabilitasi Korban

Sekarang setelah diluncurkan kembali  Deklarasi NAASP yang  menegaskan kembali  pentingnya prinsip-prinsip hak asasi manusia yang sudah ditegaskan dalam KAA Bandung, sudah saatnya arsitek berdirinya negara Indonesia berdasarkan Pancasila serta  arsitek Deklarasi Bandung itu  direhabilitasi. Status tahanan rumah yang disandangnya sampai Bung Karno wafat, adalah pelanggaran HAM yang harus dipertanggungjawabkan oleh Negara. Pandangan politik  bahwa Bung Karno terlibat dalam G-30S juga harus diselidiki dengan benar karena bangsa Indonesia berharap mengetahui sejarah pengambilalihan kekuasaan yang terjadi pada waktu itu.

Pemerintahan Jokowi, yang baru-baru ini berniat untuk menyelesaikan masalah HAM masa lalu dapat membentuk  sebuah komite untuk menyelidiki kondisi pengambilihan kekuasaan itu oleh Soeharto berikut pembantaian dan bentuk-bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan yang terjadi sesudahnya. Rehabilitasi terhadap Bung Karno dan juga para korban  kejahatan politik 1965, sebenarnya dapat diakukan oleh Jokowi dengan mengeluarkan Peraturan Presiden berdasarkan pasal 14 UUD 1945 yang berbunyi : “Presiden memberikan grasi dan rehabilitasi dengan pertimbangan Mahkamah Agung”. Pada tahun 2003, sebetulnya Mahkamah Agung (MA) sudah mengirimkan pertimbangannya  kepada Presiden agar “mengambl langkah-langkah konkrit ke arah penyelesaian yang sangat diharapkan oleh korban-korban Orde Baru”. Dalam surat pertimbangannya itu MA juga menyatakan bahwa pertimbangan ini dilandasi oleh keinginan MA untuk memberikan penyelesaian dan kepastian hukum yang dapat memulihkan status dan harkat mereka sebagai warga negara yang sama serta didorong oleh semangat rekonsiliasi bangsa.

*Penulis adalah, Koordinator International People’s Tribunal (IPT) 1965.

Ketika Bung Karno Dihadiahi Sebutir Kepala Belanda

Presiden Soekarno dan beberapa anggota kabinet berpose
sebelum dibawa (ditangkap) Tentara Belanda untuk
diasingkan. Dokumentasi: Istimewa.

Assalamualaikum, wr. wb

Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1946-1949 membawa banyak cerita yang jarang diketahui publik tanah air saat ini. Seperti suatu kejadian di Istana Kepresidenan (Gedung Agung) di Yogyakarta pada 1948, Bung Karno, panggilan akrab Presiden Soekarno, dihadiahi sebutir kepala Belanda! Bagaimana bisa?
Suasana Indonesia pada 1948 umumnya masih dipenuhi dengan aksi-aksi gerilya melawan Belanda yang ingin kembali menancapkan pengaruh di Indonesia. Aksi-aksi Gerilya oleh pejuang Indonesia hampir merata, termasuk di Sumatera dan pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Pulau Tello yang berada di sekitar kepulauan Nias Sumatera Utara. Kebetulan Bung Karno memiliki sekretaris yang berasal dari pulau tersebut.
Suatu ketika sekretaris dari Pulau Tello itu (tidak disebutkan/tidak diketahui namanya termasuk dalam buku Biografi Soekarno karangan Cindy Adams) mohon pamit kepada Presiden Soekarno untuk bergabung dengan gerilyawan, masuk hutan, dan membaur dengan rakyat, melawan Belanda. Saat itu perlawanan gerilya pejuang Indonesia dikomandoi oleh Panglima Jenderal Sudirman. Bung Karno tidak bisa menolak keinginan sekretarisnya itu, maka diizinkanlah ia keluar istana bergabung bersama gerilyawan.
Perang terus berjalan, begitu pula pemerintahan tetap terus berjalan yang saat itu beribukota di Yogyakarta. Kebetulan saat itu Presiden Soekarno belum ditangkap dan diasingkan Belanda (terjadi pada Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948). Sehingga komunikasi dengan para gerilyawan tetap terjalin untuk mengetahui perkembangan perjuangan di lapangan. Perjuangan pejuang Indonesia kemudian juga menjadi perhatian dunia yang mulai mengecam tindakan Belanda.
Suatu ketika sekretaris Bung Karno yang berasal dari Pulau Tello Nias itu datang secara khusus ke istana, menemui sang Presiden dengan membawa keranjang. Barangkali menurut Bung Karno keranjang tersebut berisi buah tangan (oleh-oleh/hadiah) untuknya. Hal itu memancing rasa penasaran “apa isi keranjang itu?” tanya Bung Karno. Sekretaris kemudian balik melontarkan pertanyaan, “bapak betul-betul mau melihatnya?”, tanyanya, yang kemudian dijawab oleh Bung Karno dengan tegas “ya mengapa tidak.”. Mantan sekretarisnya itu kemudian membuka penutup keranjang lalu dikeluarkan kepala tentara belanda yang masih berdarah-darah. Kepala tersebut digelindingkan hingga ke dekat kaki Bung Karno, seraya berkata “inilah tanda kemenangan saya pertama pak, oleh-oleh untuk bapak” teriaknya dengan riang. Seakan ia ingin menunjukkan keberhasilannya dalam bergerilya, mengoleh-olehi Bung Karno dengan kepala tentara belanda yang ia pancung.
Bagaimana reaksi Bung Karno? Seketika ia merasa kaget dan mungkin agak sedikit jijik, “bawa keluar…bawa keluar!!” begitulah reaksinya setelah melihat kepala digelindingkan dengan darah yang masih berdesir.
Wassalamualaikum, wr. wb
Sumber:
Roso Daras, 2013, Total Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer,  Imania: Depok

Bung Karno dan Nasakom

Sabtu, 20 Juni 2015
Lily Chodidjah Wahid (Ist)‏Lily Chodidjah Wahid (Ist)‏Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.
Oleh: Lily Chodidjah Wahid
Salah satu kebijakan politik Presiden Soekarno yang jarang mendapat sorotan orang adalah kebijakan pembangunan sebuah Front Nasional, Nasakom,–yang merupakan sebuah upaya  persatuan nasional antara tiga kekuatan politik ideologis besar di Indonesia,– Nasionalisme, Agama dan Komunisme.
Pada tahun 1960-an Presiden Soekarno sangat terobsesi dengan wacana nasional religius. Situasi politik dunia saat itu terbelah antara kutub Uni Soviet dan negara-negara sosialis berhadapan dengan Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis. Perang dingin antara kedua kutub itu mempengaruhi politik dunia. Bung Karno yang secara historis mementang kolonialisme dan imperialisme tentu saja tidak bisa sejalan dengan kepentingan Blok Amerika Serikat. Banyak yang mencurigai Bung Karno cenderung lebih dekat ke negara-negara sosialis.
Tentu saja Bung Karno juga menghitung kekuatan penetrasi kepentingan Blok Amerika Serikat dan negera-negara kapitalis lainnya ke Indonesia. Maka Bung Karno mengupayakan membangun sebuah front nasional yang menyatukan tiga kekuatan ideologi besar,–Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom) yang telah memiliki rekam sejarah perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia.
Baca Lengkap:

Bung Karno dan Komando Trisakti

Kamis, 18 Juni 2015
Bung Karno pada Pidato Pertama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945‏ (Ist)Bung Karno pada Pidato Pertama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945‏ (Ist)Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.
Oleh : Oliver Supit 
Bagi penerima ajaran-ajaran Soekarno atau pengikut setia Bung Karno dan para pendukungnya, di bulan Juni setidaknya terdapat tiga hari yang patut diperingati, adalah hari Lahirnya Pancasila, Trisakti,  dan hari lahir serta wafatnya Bung Karno.
Tentu kita bukan bermaksud mengkultuskan seorang tokoh seperti Bung Karno. Namun sangat keliru bila melupakan sumbangsih Bung Karno terhadap perjalanan bangsa Indonesia, baik pada masa-masa merintis kemerdekaan melawan kolonialisme dan Proklamasi Kemerdekaan RI. Terlebih pula atas sikap Bung Karno terhadap berbagai peristiwa yang dihadapi kaum revolusioner, maupun perjuangannya dalam membangun kekuatan The New Emerging Forces yang anti imperialis.
Akhirnya, kita juga diingatkan oleh kematian tragis yang menimpa seorang Presiden Pertama RI, yang hampir seluruh masa hidupnya diabdikan kepada bangsa dan tanah air yang dicintainya,– tetapi harus wafat dalam posisi sebagai seorang tahanan politik yang tidak diperlakukan sepantasnya sebagai seorang Proklamator dan pendiri Negara RI oleh rezim yang merebut kekuasaan negara yang selama ini beliau berjuang untuk menegakkan dan mempertahankan kedaulatannya.
Baca Lengkap:

Kembali Ke Jalan Bung Karno!

Rabu, 17 Juni 2015
M. Ikhyar Velayati Harahap (Ist)‏M. Ikhyar Velayati Harahap (Ist)‏Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.
Oleh : M. Ikhyar Velayati Harahap
 
Media Online Bergelora.com meminta saya menulis tentang Bung Karno dalam mengenang Bulan Bung Karno dan Pancasila. Sudah waktunya kita bicara apa adanya, karena negara dan bangsa Indonesia sedang dalam keadaan darurat.
Perlu diingat, masih banyak orang dari golongan sisa-sisa pencemooh Bung Karno dan kaum munafik lainnya yang berusaha memisahkan cita-cita perjuangan Bung Karno dengan kekinian. Mereka terus berusaha membendung pelaksanaan ajaran politik Bung Karno secara utuh keseluruhan. Mereka menyisir mana ajaran yang boleh dan mana yang tidak boleh diterapkan dari ajaran Pendiri Bangsa Indonesia ini. Pikiran dan politik sesat merekalah yang masih mendominasi cara fikir bangsa Indonesia ini sendiri tentang menjadi Indonesia. Baik langsung ataupun tak langsung, sadar atau tidak sadar,– telah berkhinanat menjadi kaki tangan kepentingan Imperialisme. Merekalah yang aktif melucuti kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan martabat budaya Indonesia,– sehingga bangsa ini terpuruk seperti saat ini. Sudah waktunya pandangan Soekarno-phobia ini dihapus dari kalangan generasi muda yang akan memimpin Indonesia di masa depan. Saatnya mempelajari dan melaksanakan ajaran Soekarno kembali secara utuh dan menyeluruh.
Bukan suatu kebetulan yang jatuh dari langit, rakyat diseluruh Nusantara yang sedang berlawan melahirkan seorang Soekarno. Ia tumbuh dan dewasa secara politik bersama kaum pelopor lainnya di tengah perlawanan rakyat terhadap kolonialisme Belanda dan fascisme Jepang. Sejarah Bung Karno lekat dengan perjuangan rakyat nusantara menuju ”Bangsa“ baru seperti tercermin dari pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945. Belanda masuk ke Indonesia diawali dari penggabungan enam perusahaan dagang Verenigde Oostindie Compagnie (VOC) pada 20 Maret 1602, yang bertujuan untuk menghadapi pesaing ekonomi  yaitu Spanyol dan Portugis dalam menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di kepulauan nusantara. VOC mendapat hak-hak istimewa (octrooi) dari Kerajaan Belanda, berupa hak  monopoli perdagangan, memiliki mata uang, mewakili pemerintah Belanda di Asia, mengadakan pemerintahan sendiri, mengadakan perjanjian dengan penguasa-penguasa lokal, menjalankan kekuasaan kehakiman, memungut pajak, memiliki angkatan perang, dan menyatakan perang, persis seperti ‘Negara dalam Negara’.
Pada tahun 1799 VOC mengalami kebangkrutan akibat korupsi yang kronis. Padahal wilayah Hindia Timur merupakan wilayah terluas dan terpenting bagi operasi VOC, sehingga tidak heran VOC di Asia tunduk pada Gubernur Jendral di Batavia. Jadi hanya beberapa puluh tahun saja Negara Belanda menjajah rakyat Nusantara, selebihnya di jajah oleh serikat dagang Belanda.
Baca Lengkap:
Advertisements

0 Responses to “Kenegarawanan : Makna 45 Tahun Bung Karno Wafat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,193,053 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: