12
Jun
15

Kebangsaan : Bung Karno, Nahdlatul Ulama dan Kokohnya NKRI

logo_BARPETA

Bung Karno, NU dan Kokohnya NKRI

Oleh: M Hanif Dhakiri
Ketika memberikan sambutan pada Muktamar Ke-23 Nahdlatul Ulama, 28 Desember 1952 di Solo, Jawa Tengah, Presiden Sukarno (Bung Karno/BK) menyatakan: ”Saya cinta sekali kepada Nahdlatul Ulama (NU)”.
Dan BK menyatakan sangat gelisah jika ada yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Mengapa BK begitu cinta dan dekat dengan NU? Menurut BK, karena antara NU dan dirinya memiliki kesamaan visi, ideologi dan cita-cita yang fundamental. Menurut BK, NU adalah organisasi keagamaan yang terbuka dan dinamis.
Di dalamnya ada berbagai pendapat yang berkembang dan terus dilestarikan, sehingga NU memperkokoh fakta dan kultur kebinekaan masyarakat. Kedua, sebagaimana BK, NU juga organisasi keagamaan yang berwatak nasionalis. Menurut BK, NU ikut dalam revolusi kemerdekaan. NU ikut berkorban, berjuang, membanting tulang dan mengucurkan darah untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, mempertahankannya dan mempersatukan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Sementara, ada organisasi lain yang tidak membantu terbentuknya negara Indonesia yang kuat, tapi justru menggerogotinya. Ketiga, menurut BK, NU adalah organisasi yang bervisi sosialis, yaitu suatu visi yang menentang sistem yang menghisap manusia kepada manusia lain. Bahkan BK menilai, dalam pandangan NU, sosialisme merupakan cita-cita sejati dari ajaran Islam.
BK dan NU memang ibarat dua sisi mata uang. NU berangkat dari pemikiran dan tradisi keagamaannya yang terbuka dan dinamis, secara terus-menerus memperkokoh bangunan negara-bangsa melalui pribumisasi Islam; di mana Islam diposisikan sebagai etika sosial yang memberi warna dan makna pada budaya masyarakat yang ada, yang pada akhirnya menjadi kokohlah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang majemuk dari segi agama, keyakinan dan budaya.
Sementara BK, berangkat dari nasionalisme dan mimpi revolusinya, bersama masyarakat yang disebut marhaen atau ”abangan” dalam terminologi Clifford Geertz secara terusmenerus berusaha memperkuat NKRI menjadi negara yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, masyarakat santri yang menjadi cikal bakal NU dan masyarakat marhaen-abangan sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat selama berabadabad. Masyarakat santri atau Islam tradisional berkembang bersama dan menyatu dengan kultur masyarakat marhaenabangan yang sudah ada.
Kultur masyarakat yang ada sendiri menjadi semakin kuat dan bermakna karena ada suntikan nilai-nilai Islam rahmatan lil Islam rahmatan lil alamin. Hubungan saling menguatkan ini pada akhirnya membentuk Islam Nusantara yang kokoh yang mampu bertahan dari gempuran nilai-nilai Barat yang dibawa kaum penjajah, serangan kaum Islam puritan, atau terjangan nilai-nilai modern yang dibawa globalisasi, sampai saat ini.
Bersatunya kaum tradisionalis Islam dan masyarakat marhaen-abangan merupakan fondasi paling kokoh atas peradaban Nusantara dan tegaknya NKRI sampai saat ini. Kedekatan kaum tradisionalis Islam dengan masyarakat marhaenabangan bukanlah ”koalisi karena kebutuhan sementara” (marriage of inconvenience), bukan juga sekadar hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence), tetapi menyatu dalam berbagai manifestasi kebudayaan, di mana keduanya saling mengisi, memberi dan menerima (take and give ) dan pada akhirnya saling menguatkan.

Itulah genealogi historisideologi yang bisa menjelaskan kedekatan antara Islam tradisional dan masyarakat marhaenabangan, yang kemudian dibuktikan juga dengan kedekatan kiai-kiai NU dengan BK. Simak misalnya ketika terjadi perdebatan mengenai dasar negara pada Sidang BPUPKI tahun 1945. BK dan NU bisa dikatakan dalam posisi yang sama, setidaknya NU-lah yang selalu menjembatani perdebatan antara BK dengan kelompok yang menentang pemikiran-pemikirannya.
Suatu ketika pernah Presiden Sukarno bertanya kepada Kiai Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU: ”Pak kiai, apakah nasionalisme itu termasuk ajaran Islam?”. Kiai Wahab menjawab, ”Nasionalisme ditambah bismillaah itulah Islam. Kalau Islam dilaksanakan dengan benar pasti umat Islam akan nasionalis.”
Kemudian, pada 21-22 Oktober 1945, untuk merespons mendaratnya pasukan sekutu di Surabaya dan beberapa pelabuhan lain di Indonesia, ulama NU berkumpul di Surabaya untuk membicarakan langkah-langkah yang diperlukan. Dalam pertemuan itu, hal paling penting yang dibahas adalah status hukum NKRI berdasarkan Pancasila yang diproklamasikan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.
Setelah melalui pembahasan selama dua hari, akhirnya diputuskan bahwa NKRI berdasarkan Pancasila adalah sah secara fikih. Karena itu, umat Islam wajib mempertahankan kemerdekaan dan mengusir tentara sekutu. Kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan hukumnya fardu fardu ain bagi mereka yang tinggal dalam radius 90 km dari keberadaan tentara sekutu.
Keputusan NU yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad itu sangat melegakan BK sebagai presiden yang baru di negara yang juga baru berdiri. Ini sekaligus membuktikan bahwa visi nasionalisme NU sangat kuat dan nyata, seperti diakui oleh BK sendiri.
Puncaknya, ketika terjadi pemberontakan terhadap NKRI yang dilakukan oleh golongan Islam ”modernis”, terjadi pembangkangan terhadap kepemimpinan BK, maka NU berada di garis depan memberi jaminan kepada BK bahwa ”semua gerakan yang melawan pemerintahan yang sah adalah makar (bughat).
Karena statusnya menurut hukum agama (fikih) adalah makar, maka pemerintah wajib menumpas.” Bahkan, NU kemudian memberi gelar kepada BK sebagai ”penguasa sementara dengan kekuasaan penuh” (waliyyul amri ad-dharuri bis-syaukah), sebagai legitimasi kepada BK selaku kepala negara yang sah dan, oleh karenanya, ipso facto harus dipatuhi dan ditaati oleh semua golongan, termasuk umat Islam.
Begitu dekat dan cintanya kepada NU, sampai BK saat memberikan sambutan pada Muktamar Ke-23 NU di Solo tersebut menyatakan: ”Meski harus merayap, saya akan datang ke Muktamar ini. Agar orang tidak meragukan kecintaan dan kedekatan saya dengan NU”. Telah puluhan tahun NUmarhaen bersatu dalam jiwa dan berbagai manifestasi budaya.
Orang seperti BK dianggap sebagai pemimpin bagi warga NU. Sementara para tokoh dan ulama NU juga dianggap sebagai pengayom oleh kaum marhaen. Persatuan keduanya telah menjadi inti kekuatan Nusantara di masa lalu dan NKRI di masa kini. Meminjam kalimat Snouck Hurgronje, ”Islam tradisional dan kaum marhaen di Indonesia yang kelihatannya demikian statis dan demikian kuat terbelenggu oleh pikiran-pikiran masa lalu, sebenarnya telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat fundamental.
Tetapi perubahan- perubahan tersebut demikian bertahap-tahap, demikian rumit dan demikian dalam tersimpan. Itulah sebabnya bagi para pengamat yang tidak kenal dengan pola pikiran Nusantara, maka perubahan-perubahan tersebut tidak akan bisa terlihat, walaupun sebenarnya terjadi di depan matanya sendiri, kecuali bagi mereka yang mengamatinya secara seksama”. Selamat memperingati hari lahir BK, 6 Juni 1901-6 Juni 2015. []

Koran SINDO, 6 Juni 2015

M Hanif Dhakiri | Aktivis NU, Menteri Ketenagakerjaan RI

http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

REPINDO

Selempang yang Hilang: Mengenang Pancasila

Minggu, 07 Juni 2015 , 07:11:00 WIB

Oleh: Adhie M. Massardi

INDONESIA negara berpulau-pulau, bersuku-suku, banyak beda-bedanya daripada sama-samanya. Meskipun begitu, tujuannya satu. Ini kata guru SD. Makanya, kata Pak Samingoen, nenek moyang kita menyebutnya Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi satu tujuan.
Kata-kata itu lalu ditulis pada selembar kain. Seekor burung kemudian mencengkeramnya. Membawanya keliling Nusantara. “Nama burung itu Garuda Pancasila,” kata Pak Samingoen. Kita sudah hapal sangat. Makanya, waktu Bu Kasur nyanyi “Garuda Pancasila, akulah pendukungmu”, kita bisa mengikutinya dengan saksama.
Tapi burung itu sekarang sdh punah. Selembar kain yang kemudian jadi selempang bertulis Bhinneka Tunggal Ika itu juga sudah entah ke mana. Padahal selempang “Bhinneka” itu harus tetap ada. Itu identitas kita yang membuat kita dihargai dan dihormati orang.
Nilai selempang “Bhinneka Tunggal Ika” bagi Indonesia kira-kira sama dengan selempang bertulis “Miss Universe” bagi Gabriela Isler. Waktu cewek asal Venezuela itu jalan-jalan keliling dunia dengan selempang “Miss Universe”, pada 2013, di setiap negara yg disinggahi ia disambut karpet merah. Ada puja-puji, juga jamuan makan malam dengan para pemuka negara. Dengan selempang itu, Gabriela memang jadi wanita paling bermartabat di muka bumi.
Kini ia tak punya selempang itu. Ada wanita lain, dari negara lain, Paulina Vega dari Kolumbia yg merenggut selempang itu dari tubuhnya. Padahal tanpa selempang itu, Gabriela tak ubahnya wanita lain, yang di mata pria bisa dikategorikan “wanita kira-kira” atau “wanita tanyaan”. (Kira-kira bisa diajak tidur nggak ya. Atau ditanya: Berapa semalam?) Hampir semua lelaki memang sialan kalau lihat cewek seronok kayak Gabriela.
Nasib Indonesia sekarang kurang lebih seperti Gabriela itu. Di mata dunia, dikategorikan seperti “negara kira-kira” dan “negara tanyaan”. Kira-kira bisa dikuasai nggak ya. Kira-kira bisa dipecah-belah nggak ya. Atau ditanya: Berapa harga satu undang-undang? Berapa harga pejabat negaranya? Berapa harga Papua yang kaya sumber daya alamnya?
Lebih dari itu, Indonesia tanpa selendang “Bhinneka Tungal Ika” rasanya memang akan jadi tidak lucu. Kalau tidak hati-hati, persepsi pun bisa diseragamkan. Misalnya soal pornografi. Padahal yang kata kita porno, di Sanur merupakan pemandangan harian, untuk semua umur lagi. [***]

Sumber:

http://www.rmol.co/read/2015/06/07/205297/Selempang-yang-Hilang:-Mengenang-Pancasila-

http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>


0 Responses to “Kebangsaan : Bung Karno, Nahdlatul Ulama dan Kokohnya NKRI”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: