10
Jun
15

Kebudayaan : Pesantren Islam Nusantara

FrontNas45
Pesantren Islam Nusantara

Oleh: Munawir Aziz

 

PESANTREN selama ini jadi salah satu pilar kokoh kemerdekaan dan kemandirian negeri ini. Jaringan ulama pesantren pula yang membangun pilar perjuangan untuk kemerdekaan bangsa ini.

 

Pada awal abad XX, ulama pesantren membentuk jaringan dan membangun rasa nasionalisme untuk melawan rezim kolonial. Tapi kontribusi besar pesantren dan jaringan ulama tidak banyak diakomodasi dalam narasi pengetahuan yang diciptakan oleh penguasa, terutama Orde Baru.

 

Kontribusi besar pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pergerakan kebangsaan inilah yang perlu kembali direnungkan saat ini. Ketika bangsa ini menghadapi tantangan moral generasi muda dan ancaman perpecahan NKRI, kita perlu bercermin pada pesantren.

 

Sebagai lembaga pendidikan, pesantren terbukti menghasilkan pejuang kemerdekaan dan orang-orang besar sebagai ulama, pendidik, cendekiawan, politikus, atau pemimpin bangsa. Gerakan #AyoMondok yang diinisiasi Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI, asosiasi pondok pesantren NU) merupakan agenda penting untuk kembali mengenalkan pesantren sebagai episentrum pendidikan nasional dan gerakan kebangsaan.

 

Tentu #AyoMondok bukan sekadar selebrasi gagasan melainkan perlu diikuti pembenahan internal dan manajemen pesantren supaya kontekstual dengan zaman ini, dengan pertumbuhan signifikan kelas menengah. Pada masa kampanye Pilpres 2014, Joko Widodo berjanji berpihak pada kepentingan pesantren.

 

Dia mengungkapkan tentang penetapan Hari Santri, sebagai wujud keberpihakan terhadap kearifan lokal, tradisi Islam Nusantara, dan legitimasi politik terhadap komunitas pesantren. Menurut Jokowi, ”Santri adalah kearifan lokal. Jadi kalau kita buat penetapan Hari Santri, berarti kita telah memberikan penghargaan lebih tinggi terhadap santri, yakni menjadikan kearifan nasional” ungkap Jokowi.

 

Sejarah Islam Nusantara dan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran santri dan pesantren. Keduanya menjadi instrumen penting penyebaran agama. Catatan-catatan sejarah, semisal Ma Huan dan inskripsi makammakam di Jawa menyebut bahwa penyebaran Islam di Indonesia pada kisaran abad XI-XIV.

 

Pada titik inilah, Islam mulai menjadi bagian dari dinamika agama di Nusantara, yang terkait dengan gerak misi Buddha dan Hindu di Jawa dan Sumatra. Santri mulai mencatatkan sejarahnya ketika Walisongo menjadi juru dakwah dengan strategi damai.

 

Walisongo, yang merupakan misi keagamaan dan politik Ottoman kemudian ber–jejaring dengan ulamaulama dari Campa dan India. Inilah yang menjadi model transformasi Islam ke seluruh Nusantara. Silang koneksi Ottoman, Arab, Tiongkok, India, dan Nusantara jadi bagian dari sejarah politik keagamaan di negeri ini. Hingga, proses lahirnya Islam Indonesia yang bertahan hingga kini dengan segenap variannya.

 

Politik Kebangsaan

 

Pada masa revolusi, jaringan santrikiai berperan penting memperjuangkan kemerdekaan dan melawan kolonial. Fatwa Jihad Kiai Hasyim Asyíari (1871-1947) pada 22 Oktober 1945 menggerakkan ribuan santri untuk berjuang bersama dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya dan peristiwa Palagan Ambarawa (Bizawie; 2013). Lagi-lagi, peran sejarah santri ini tersisih dari naskah sejarah Indonesia modern. Lalu, bagaimana santri dimaknai dalam kontestasi politik saat ini? Kiprah KH Abdurrahman Wahid (19- 40-2009) menjadi penanda penting.

 

Gus Dur yang meneruskan jejak perjuangan ayahanda (KH Wahid Hasyim, 1914-1953) dan kakeknya, tampil sebagai santri yang tidak hanya menguasai pengetahuan agama tapi juga berhasil mentransformasikan ilmunya dalam strategi politik kebangsaan. Peran sejarah santri sering dipinggirkan dalam wacana pengetahuan ataupun politik penguasa. Pada era Jokowi-JK, santri dan komunitas pesantren dapat menjadi bagian penting dari upaya pemerintah menerjemahkan konsep revolusi mental.

 

Dalam tradisi santri, revolusi mental bergerak secara dinamis tanpa terjebak pada isu-isu ideologis. Revolusi mental sudah jadi bagian dari tradisi sejarah santri, dengan perlawanan kontinu terhadap kolonialisme ataupun upayaupaya yang menghancurkan bangsa. Santri juga bisa menjadi agen untuk menebar Islam yang ramah dan mengampanyekan Islam yang rahmatan lil lamin.

 

Di titik ini, risiko akibat gesekan ideologi antarkelompok Islam ataupun ideologi lintas agama bisa diredam. Gerakan #AyoMondok yang diinisiasi RMI dan jaringan pesantren di negeri ini perlu didukung sebagai langkah strategis berkontribusi dalam sistem pendidikan nasional. []

 

SUARA MERDEKA, 1 Juni 2015

Munawir Aziz, Koordinator Media dan Informasi Rabithah Ma’- ahid Islamiyyah (RMI, asosiasi pesantren NU) Jawa Tengah, peneliti tentang Islam Nusantara

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>


0 Responses to “Kebudayaan : Pesantren Islam Nusantara”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,063,568 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: