05
Jun
15

Kebangsaan : Indonesia Kuat Karena Masyarakat Sipilnya Kokoh

Nasionalis 45

PWNU Jabar: Indonesia Kuat karena Masyarakat Sipilnya Kokoh

Rabu, 03/06/2015 12:01

[image: PWNU Jabar: Indonesia Kuat karena Masyarakat Sipilnya Kokoh]

Bandung, *NU Online*
Ketua PWNU Jawa Barat, Dr H Eman Suryaman menilai, saat ini keberadaan
Nahdlatul Ulama harus lebih kuat dalam memegang peranan sebagai pilar
penyangga Republik Indonesia. Sebab menurutnya, kekuatan sebuah bangsa
ditentukan kekuatan Civil Society-nya.

“Banyak studi yang telah membuktikan bahwa Indonesia masih bisa eksis
sekalipun dilanda krisis ekonomi dan krisis politik karena masyarakat
sipilnya yang kokoh. Bandingkan coba dengan negara-bangsa di Uni Soviet,
atau negara-negara lain yang terpecah. Itu semua karena peranan *civil
society*-nya lemah dan kemudian hancur,” terangnya kepada NU Online, Senin
(1/6).

Menurut Eman, keberadaan Nahdlatul Ulama dan ormas Islam moderat lainnya,
juga gerakan swadaya telah banyak berjasa menjadikan negara ini tetap
integral dengan kemajemukan suku-bangsa dan agama. Oleh sebab itu, ia
berharap agar seluruh kekuatan masyarakat sipil harus tetap eksis mengawal
negara ini.

“Kalau dulu di zaman Orde Baru masyarakat sipil dikuatkan untuk mengimbangi
negara, sekarang masyarakat sipil harus bermitra karena memang negara sudah
banyak diisi oleh kekuatan sipil. Kemitraan maksudnya agar program-program
negara berjalan baik, cepat dan mampu menjawab hajat warga. Dengan
kemitraan pula, peran kontrol berupa kritik, saran dan masukan lebih
komunikatif,” ujarnya.

Eman melihat pentingnya paradigma komunikasi yang baik karena dalam ruang
demokrasi komunikasi itu sarana timbal-balik sejalan dengan prinsip
musyawarah. Dengan partisipasi aktif melalui komunikasi, garis politik
republikanisme yang selalu menaruh perhatian terhadap warga bisa lebih
efektif.

*Gabung NU*

Lain daripada itu, Eman juga berharap saat ini para intelektual dan kaum
profesional juga harus mengambil peranan di dalam negara. Atau, jika tidak
tertarik ke dalam lingkar kekuasaan, bisa memilih jalur kelompok sipil
seperti ormas-ormas Islam moderat seperti NU.

“Untuk para intelektual, dosen, jurnalis, pejabat, dan pengusaha, masuklah
pada kelompok sipil yang besar agar ilmu dan kontribusi kerjanya dirasakan
masyarakat. Di Jawa Barat misalnya, kami sangat open untuk menunggu kiprah
kaum profesional. Ini supaya kita sama-sama maju, dan makin semangat
bergotong-royong bergiat membangun bangsa,” pesannya. *(Sakri/Fathoni)*

Sumber:

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,59945-lang,id-c,nasional-t,PWNU+Jabar++Indonesia+Kuat+karena+Masyarakat+Sipilnya+Kokoh-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2015/05/26/70339/islam-nusantara-islamisasi-nusantara-atau-menusantarakan-islam-1.html

“ISLAM NUSANTARA” : Islamisasi Nusantara atau Menusantarakan Islam ? [1]

Selasa, 26 Mei 2015 – 06:19 WIB

Islam tidak memerlukan predikat atau sifat lain. Jika Islam diberi sifat yang lain, justru akan mempersempit Islam itu sendiri

Oleh: A. Kholili Hasib

BELAKANGAN ini makin ramai diskusi di media sosial dan forum-forum tentang term “Islam Nusantara”. Agus Sunyoto, Wakil Ketua PP Lesbumi NU, menjelaskan istilah ini.

“Definisi Islam Nusantara, menurut saya, adalah Islam yang berkembang di Negara Kesatuan Republik Indonesia atau Nusantara yang memiliki ciri khas tersendiri, yang kelihatan berbeda sama sekali dengan Islam yang mainstream dilakukan di Timur Tengah. Tetapi ada juga sambungan-sambungan dan kaitan-kaitan dari pengaruh Timur-Tengah”, kata Agus Sunyoto dalam wawancara di Majalah AULA Mei 2015.

Dari segi terminologi, istilah “Islam Nusantara” kurang tepat. Karena bisa membawa pada pengertian bahwa  Islam Nusantara merupakan bagian dari jenis-jenis Islam yang banyak. Kita harus menyatakan bahwa Islam itu satu dan tidak plural (banyak). Adapun yang nampak banyak, sebenarnya adalah ‘madzhab’, aliran pemikiran, pemeluk dan lain-lain.

Menyematkan sifat pada kata Islam perlu hati-hati.

Pengggunaan kata sifat yang ditempelkan kepada Islam, misalnya “Islam Jawa”, Islam Bali”, “Islam Arab”, “Islam China”, “Islam Pluralis” “Islam Sekular” dan lain-lain akan membuat kesan bahwa Islam itu plural.

Prof. Syed M. Naquib al-Attas, pakar sejarah Islam Melayu, menekankan pemakaian bahasa secara benar sehingga makna yang benar mengenai istilah dan konsep kunci yang termuat didalamnya tifak berubah atau dikacaukan.  Setiap terminologi kunci mengandungkan sebuah paradigma (Syed M Naquib al-Attas,Islam dan Sekularisme, hal. 198).

Karena itu, term ‘Islam’ tidak memerlukan predikat atau sifat lain. Jika Islam diberi sifat yang lain, justru akan mempersempit Islam itu sendiri. Maka, seharusnya yang tepat adalah istilah “Muslim Nusantara” karena hakikatnya pemeluk Islam itu terdiri dari banyak bangsa dan suku, termasuk didalamnya Muslim yang ada di Nusantara ini. Atau lebih tepat menggunakan istilah “Islam di Nusantara”. Karena agama Islam telah menyebar luas ke seluruh dunia, termasuk di Nusantara.

Kesan Islam itu plural dalam term “Islam Nusantara” merupakan bagian dari misi liberalisasi agama Islam. [Baca juga: “Islam Nusantara”, Makhluk Apakah Gerangan?]

Pemahaman bahwa Islam itu tidak satu tapi banyak merupakan proyek liberalisasi dengan mengusung ideologi relativisme dan pluralisme. Menggiring kepada sikap pembiaran terhadap model-model Islam yang lain yang belum tentu sesuai dengan ajaran Islam. Aroma relativisme dan permisivisme mendompleng dalam terminologi “Islam Nusantara” bisa disimak dalam pendapat Agus Sunyoto. Dia mengatakan: “Kalau dikumpulkan ya kelompok-kelompok dari aliran kepercayaan macam-macam itu sebetulnya yang mewarisi Islam Nusantara. Saya lama meneliti golongan kebatinan yang beraneka ragam. Karena mereka memiliki traidisi yang sama, tradisi kebudayaan dan keyakinan yang sama pula” (majalah AULA, Mei 2014 hal. 17).

Menurut pendapat tersebut, aliran kebatinan dan aliran-aliran kepercayaan — yang dipengaruhi animisme dan dinamisme — dimasukkan dalam rumpun model “Islam Nusantara” yang harus dirawat tidak boleh disalahkan.* (bersambung)

Penulis adalah pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jawa Timur

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2015/05/26/70345/islam-nusantara-islamisasi-nusantara-atau-menusantarakan-islam-2.html

“ISLAM NUSANTARA” : Islamisasi Nusantara atau Menusantarakan Islam ? [2]

Selasa, 26 Mei 2015 – 07:31 WIB

Dalam bersikap terhadap tradisi Nusantara, ada yang diterima dan ada yang harus ditolak. Budaya atau kepercayaan lokal yang tidak sesuai dengan pokok ajaran Ahlus Sunnah ditolak

PADAHAL aliran kebatinan memiliki cirri iqtha’usy syari’ah (menggugurkan kewajiban syariah). Pesantren Sidogiri Pasuruan menerbitkan buku yang khusus mengkaji masalah ini berjudul Bahaya Aliran Kebatinan (Tim Penulis Pustaka Sidogiri, 1432 H).

Di halaman 190 ditulis “Ciri-ciri umum kebatinan itu, baik yang ada di Indonesia maupun yang di bagian lain dunia Islam, adalah iqtha’usy syari’ah, membatalkan ajaran-ajaran agama. Seperti menggugurkan kewajiban ibadah salat, puasa, zakat dan lain-lain. sementara semua larangan agama dianggap tidaka dad an boleh saja dilakukan. Karenanya Imam Abu Nu’aim al-Asfhihani, ulama sufi dan hafidz abad kelima Hijriyah, menganggap kebatinan itu mubahiyyun, serba boleh melakukan apa saja, seperti beliau tulis dalam pembukaan kitab Hilyatul Auliya’ “.

Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari juga berpendapat bahwa aliran kebatinan mubahiyyun termasuk aliran yang sesat. Dalam kitabnya Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah beliau menulis: “Di antara aliran yang berkembang setelah tahun 1330 H, adalah aliran Ibahiyyun (serba boleh), yang berpendapat, bahwa apabila seseorang telah mencapai puncak kecintaan kepada Allah, hatinya bersih dari kelalaian, dan telah berketetapan memilih keimanan daripada kekufuran, maka perintah dan larangan Allah menjadi gugur darinya dan Allah tidak akan memasukkannya ke neraka meskipun melakukan dosa-dosa besar. Sebagian mereka juga mengatakan, bahwa ibadah-ibadah lahiriyah gugur dari kewajibannya, dan ibadah yang harus dilakukannya cukup merenung dan memperbaiki akhlak batin saja. Sayyid Muhammad berkata dalam Syarh Ihya Ulumuddin: ‘Pedapat ini merupakan kekufuran, zidiq dan kesesatan’. Memang kaum Ibahiyyun selalu ada sejak masa dulu, mereka pada umumnya orang-orang bodoh, tersesat dan tidak memiliki tokoh yang mengetahui ilmu syar’i secara memadai” (KH Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 11-12).

Berdasarkan hal itu, dalam bersikap terhadap tradisi Nusantara, ada yang diterima dan ada yang harus ditolak. Budaya atau kepercayaan lokal yang tidak sesuai dengan pokok ajaran Ahlus Sunnah ditolak.

Di sinilah diperlukan ilmu alat ushul fikih. Dalam Islam, ada aspek ushul dan ada aspek furu’. Ushul dalam Islam bersifat tetap, final dan qath’i. sedangkan aspek furu’ merupakan medan ‘kreatifitas’ ulama mujtahid. Bisa terjadi perbedaan antara ulama satu dengan ulama yang lain. Kewajiban shalat merupakan perakar ushul. Barangsiapa yang mengingkarinya maka dia kufur. Budaya atau aliran kepercayaan apa saja yang membolehkan tidak shalat fardhu, tidak boleh dipelihara.

Meskipun budaya itu adalah produk tradisi Nusantara.

Maka, jika ada sekelompok orang mentradisikan shalat dengan berbahasa daerah misalnya, maka tetap dihukum sebagai kelompok sesat. Cara-cara seperti ini tidak dilakukan Walisongo.

Sedangkan apa yang dilakukan para dai Walisongo adalah memasukkan pandangan hidup Islam kepada tradisi-tradisi yang bisa diafirmasi. Salah satu keberhasilan para dai penyebar agama Islam di Nusantara adala melalui bahasa. Proses pengislamannya — salah satunya — dengan memasukkan term-term Arab-Islam ke dalam bahasa lokal. Ada banyak kosa kata bahasa Melayu dan Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Misalanya kosa kata ‘akal’, ‘musyawarah’, ‘adil’, ‘adab’, ‘akhlak’, ‘dewan’, ‘kalimat’, ‘khutbah’, ‘jama’ah’, ‘kursi’, ‘zahir’, ‘batin’, ‘kalbu’, ‘kuliah’, dan lain sebagainya.

Keberhasilan mengislamkan bahasa oleh para dai terdahulu dicatat oleh Prof. al-Attas sebagai keberhasilan yang mengalahkan pencapaian Hindu-Budha. Karena mereka berhasil mengangkan bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan di kepulauan Nusantara (M. Naquib al-Attas, Historical Fact and Fiction, hal.xvi).

Sementara bahasa kaum Hindu, sansekerta, tidak popular kecuali di kalangan istana dan para pemuka agama mereka saja. Sementara bahasa Melayu yang telah banyak menyerap istilah Arab-Islam itu lebih merakyat area penyebarannya luas seiring dengan luasnya dakwah Islam di bumi Nusantara.

Dikenal pula di sini jenis tulisan Arab-Jawi yang sering disebut tulisan Pegon (pego). Tulisan berbahasa jawa atau sunda tapi dengan menggunakan huruf Arab. Jenis tulisan ini populer di pesantren tradisional yang diajarkan berabad-abad lamanya, sejak kedatangan Islam. Namun, sayang jenis tulisan ini tidak lagi populer di Indonesia – hanya dikenal oleh anak-anak Pesantren. Jenis tulis ini merupakan keunikan Muslim di Nusantara warisan para dai penyebar Islam terdahulu.

Pakaian orang-orang Muslim di Indonesia dan Malaysia juga memiliki kekhasan. Mereka memakai sarung, baju takwa dan songkok Nasional (songkok berwarna hitam). Baju takwa mirip dengan baju gamis Arab yang dipotong sampai pinggang. Konon nama ‘baju takwa’ ini diambil dari firman Allah Subhanahu Wata’ala, ..wa libasut takwa.. Blangkon, juga disebut-sebut tidak lepas dari simbol Arab-Islam yaitu berasal dari serban imamah, yaitu kain panjang yang dililitkan di kepala dengan model tertentu. Di tanah jawa, serban imamah itu dibuat praktis, yaitu lilitannya dilekatkan supaya dengan mudah bisa dilepas dan dipakai lagi. Karena di Jawa, maka kemudian kainnya menggunakan batik. Sehingga kita bisa memperhatikan, serban imamah yang biasa dipakai oleh para ulama Hadramaut Yaman atau habaib Indonesia bentuknya hampir mirip dengan blankon.

Simbol-simbol dan tradisi di Nusantara yang berlaku di kalangan Muslim Nusantara tersebut merupakan produk Islamisasi. Kita lebih tepat menyebut tradisi Nusantara yang terislamkan. Bukan agama Islam yang ternusantarakan. Sebab, pengaruh Islamnya lebih kuat dan mengakar bahkan mengandung filosofi yang berdasarkan al-Qur’an dan hadis.

Setelah terislamkan, yang terlihat adalah warna Islamnya bukan warna Hindu-Budha atau animisme-dinamisme.

Hasilnya, Dari abad ke-15 sampai ke-17 di bumi Nusantara terlihat perubahan pemikiran dalam pandangan hidupnya (worldview), yang melahirkan filsuf, ulama’ dan pemikir tingkat internasional dengan karya-karya yang berbobot. Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan:

“Abad-abad ke-enam belas dan ke-tujuh belas suasana kesuburan dalam penulisan sastera falsafah, metafizika dan teologi rasional yang tiada terdapat tolak bandinganya di mana-mana dan di zaman apa pun di Asia Tenggara. Penterjemahan al-Qur’an yang pertama dalam bahasa Melayu telah diselenggarakan beserta syarahannya yang berdasarkan al-Baydawi; dan terjemahan-terjemahan lain serta syarahan-syarahan dan karya-karya asli dalam bidang falsafah, tasawuf dan ilmu kalam semuanya telah diselenggarakan pada zaman ini juga” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, hal.45).

Maka, cara yang telah dilakukan Walisongo harus dilanjutkan dakwah dan perjuangannya. Dakwah mereka adalah memasukkan nilai-nilai Tauhid ke dalam tradisi Muslim Indonesia, bukan mengindonesiakan makna Tauhid. Jika memasukkan nilai Tauhid, maka inilah yang dinamakan Islamisasi. Manakala menusantarakan makna Tauhid, maka ini bisa berujung kepada liberalisasi Islam. Sejak berabad-abad lamanya Indonesia merupakan bumi Aswaja, bukan bumi Liberal. Tiga setengah abad Indonesia dijajah Belanda, namun Indonesia masih berpegang pada tradisi Islam, bukan tradisi Barat-Kristen. Hal ini menunjukkan akar Islamisasi di bumi Nusantara ini sangat kuat.

Dan yang juga penting, Al-Attas mencatat, bahwa kedatangan Islam di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah kepulauan tersebut. Melayu kemudian menjadi identik dengan Islam. Sebab, agama Islam merupakan unsur terpenting dalam peradaban Melayu. Islam dan bahasa Melayu kemudian berhasil menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism,  hal. 178).*

Penulis adalah pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jawa Timur

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Islam, Kejumudan, dan Keindonesiaan

Oleh: Abdul Waid

PENULIS pernah ditanya oleh Irsyad Manji, intelektual muslimat asal Kanada, pada acara bedah bukunya Allah, Liberty and Love: the Courage to Reconcile Faith and Freedom (2011) di LKiS, Surowajan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, tahun 2012.

Pertanyaannya,” mengapa arsitektur masjid-masjid di Indonesia secara keseluruhan menyerupai arsitektur masjid di negara Arab Saudi dan sama sekali tidak mencerminkan budaya Indonesia seperti arsitektur bangunan Jawa, Bali, Sunda, atau Madura? Jangan memaksakan untuk selalu sama dalam segala hal dengan Arab karena bisa mengundang kekerasan.

Terorisme adalah salah satunya”. Penulis tidak bisa menjawab pertanyaan Irsyad Manji itu karena memang dalam banyak hal kita selalu mencontoh Arab. Jika ada satu ritual Islam yang mencoba menghilangkan simbol-simbol Arab dan pada saat yang sama menonjolkan simbol- simbol keindonesiaan (non-Arab), hal itu dianggap melanggar pakem.

Bahkan, lebih jauh lagi, bisa dianggap dosa. Contoh kasus terbaru adalah pembacaan ayat suci Alquran dalam acara Isra Mikraj di Istana Negara, Jakarta, oleh seorang qari Muhammad Yaser Arafat dengan menggunakan langgam Jawa. Kejadian ini membuat gusar banyak pihak. Wakil Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnaen, misalnya, menyebutnya sebagai hal konyol.

Situasi ini dianggap mempermalukan Indonesia di mata internasional. Bagi mereka yang menolak pembacaan Alquran dengan langgam Jawa, meyakini bahwa kitab Tuhan itu harus dibaca dengan langgam Arab, intonasi Arab, dan dialektika Arab. Di luar itu, dianggap salah.

Benarkah demikian? Atau, masih adakah celah keramahan Islam bagi orangorang non-Arab? Dalam buku The Phonology of Tone and Intonation (2004), Carlos Gussenhoven mengatakan, langgam bicara seseorang dan intonasinya ketika berbicara dan membaca, mustahil bisa diubah. Ia terbentuk oleh pengaruh lingkungan sejak lahir.

Intonasi bicara semua orang di dunia dan langgam baca tidak mungkin bisa sama. Pasalnya, lidah mereka lahir dan terbentuk oleh lingkungan dan budaya yang berbeda-beda. Karena itu, seperti apa pun langgam pembacaan Alquran oleh orang Arab, tidak akan pernah sama persis dengan langgam orang Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Italia, atau pun orang Jawa.

Dari sini tampak jelas bahwa menyeragamkan langgam pembacaan Alquran adalah upaya yang terlalu memaksakan dan sia-sia. Di sisi lain, upaya tersebut akan menguatkan pandangan sebagian pihak bahwa Islam adalah agama eksklusif dan antitoleransi. Bila kita telusuri norma-norma hukum Islam, agama ini sebenarnya telah merespons keanekaragaman budaya dengan kelahiran sebuah kaidah fikih,” adat kebiasaan itu dapat ditetapkan sebagai hukumî.

Kaidah yang juga diakui oleh imam paling populer di Asia Tenggara, Abu Abdillah Muhammad bin Idris As-Syafiíi yang kemudian menyimpulkan bahwa adat istiadat, termasuk pembacaan Alquran dengan langgam Jawa, dapat dijadikan sebuah hukum (diterima sebagai kebenaran dalam hukum) selama tidak melanggar ketentuan-ketentuan pokok syariat.

Ketentuan-ketentuan pokok dalam pembacaan Alquran adalah tajwid (ilmu pengetahuan tentang kaidah serta caracara membaca Alquran dengan sebaikbaiknya). Pembacaan Alquran bisa salah jika melanggar ketentuan tajwid. Dari semua ketentuan yang ada dalam tajwid, tidak ada larangan membaca Alquran dengan langgam Jawa, Sunda, Sumatra, atau Madura. Ketentuan tajwid ini pun sebenarnya masih mengundang perdebatan.

Sebab, tajwid dan perangkat-perangkat lainnya dalam Alquran (bukan Alquran-nya) adalah produk budaya. Tahun 62 H, Abul Aswad al-Duali dan Hajjaj bin Yusuf al- Tsaqafi menciptakan titik-titik dalam huruf Arab.

Tahun 180 H, Imam Kholil bin Ahmad al-Faraidi menciptakan tandatanda bacaan huruf Arab dalam Alquran seperti fathah, kasroh, sukun, dhommah, dan lain-Tahun 210 H, Imam Abu Ubaid Qosim bin Salam (wafat 224 H) menciptakan ilmu tajwid. Dengan demikian, tajwid adalah produk budaya dan hasil kreativitas manusia, bukan murni ketentuan pokok dalam wahyu.

Kearifan Lokal

Salah satu cara untuk mengeluarkan agama dari lubang kejumudan adalah meneguhkan agama yang ramah terhadap kearifan lokal. Ingat, radikalisme pemahaman yang melahirkan tindakan ekstrem seperti terorisme berawal dari kejumudan pola pikir yang memaksa semua hal harus sama persis dengan apa yang ada di Arab. Tidak hanya dalam persoalan ritual ibadah, pemaksaan itu juga dikerahkan pada tata kelola pemerintahan, sistem politik, hukum, kepemimpinan, cara berpakaian, manajemen bisnis, dan lain-lain.

Artinya, Arab adalah kiblat yang diyakini sebagai bagian pokok dan penting dalam agama. Kejumudan semacam itu harus segera diakhiri untuk menatap masa depan agama yang lebih cerah. Dalam konteks Indonesia, bentuk penekanan kearifan lokal dalam agama adalah menghadirkan Islam keindonesiaan yang khas.

Mengacu pada konsep almaqosid al-syariíah (tujuan-tujuan ditetapkannya hukum), semua budaya lokal yang ada di Indonesia dapat diterima dalam Islam selama tidak bertentangan dengan menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta. Hanya dengan menekankan kearifan lokal itulah Islam akan dikenal sebagai agama damai dan santun, dan agama yang layak diterapkan di tiap ruang dan waktu.

Mari kita bawa Islam ke Indonesia, tetapi jangan bawa Arab ke Indonesia. Bukankah Walisongo berhasil menyebarkan Islam kali pertama di tanah Jawa karena mengadopsi kearifan lokal? []

SUARA MERDEKA, 27 Mei 2015

Abdul Waid, dosen Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen

http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Halau Ekstremisme, Bumikan Islam Rahmatan lil Alamin

Rabu, 03/06/2015 10:09

Pringsewu, NU Online
Beberapa faktor yang dapat memicu radikalisme dan terorisme antara lain penyalahgunaan simbol keagamaan, lingkungan yang tidak kondusif terkait kesejahteraan dan keadilan, perilaku tak adil oleh kelompok atau negara terhadap kelompok tertentu, serta kebebasan dan dominasi media yang tidak terkontrol.

Demikian disampaikan Dr KH. Khairuddin Tahmid, dosen IAIN Bandar Lampung, dalam Seminar Nasional Anti Radikalisme yang digelar MUI Kabupaten Pringsewu, di Aula Kantor Bupati Pringsewu, Selasa (02/05).

Menurut Kiai Khairuddin, sapaan kesehariannya, cara untuk minimalisasi radikalisme adalah dengan membumikan ajaran Islam sebagai rahmat bagi semua (rahmatan lil ‘alamin).

“Kita harus mengakui keragaman manusia merupakan realitas objektif yang tidak dapat ditolak dan dihilangkan,” tegas pria yang pernah menjadi ketua PWNU Provinsi Lampung ini sembari menambahkan bahwa Islam memandang keragaman dan kemajemukan sebagai sunnatullah.

Ia mengatakan, upaya serius dalam menghalau paham ekstrem harus dilakukan melalui peran institusi keagamaan, institusi pendidikan di semua jenis dan jenjang,   dan institusi-institusi kaderisisasi.

Kiai Khairuddin menjelaskan, bentuk pencegahan paham radikalisme dan terorisme dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, gerakan kultural dan persuasif melalui pendekatan pencegahan, perlindungan dan deradikalisasi. Kedua, gerakan represif melalui pendekatan politik dan hukum dengan membuat peraturan perundang-undangan dan menegakkannya.

Selain Khairuddin, acara yang dibuka Bupati Pringsewu ini menghadirkan narasumber lain, Wakil Sekjen MUI Pusat DR Amirsyah Tambunan. Ia lebih banyak menyoroti salah satu aliran radikal yang sedang gencar menyebarkan ajarannya yaitu ISIS.

Menurut Amirsyah, ISIS merupakan gerakan keagamaan yang merupakan salah satu kategori dari gerakan sosial yang menyalahgunakan agama. Gerakan ini mengatasnamakan Islam yang melncarkan aksi ke arah political rupture, perpecahan politik melalui pemberontakan bersenjata atau revolusi.

Oleh karena itu ormas-ormas dan lembaga-lembaga Islam di Indonesia menolak keberadaan gerakan ISIS yang dinilai sangat potensial memecah belah persatuan umat Islam dan menggoyahkan NKRI berdasarkan Pancasila.

MUI, lanjutnya, menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk tidak terhasut oleh agitasi dan provokasi ISIS yang berusaha untuk menjelmakan cita-citanya, baik di Indonesia maupun di dunia. Kepada segenap organisasi atau lembaga Islam, masjid/mushalla, dan keluarga Muslim untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan upaya menangkal berkembangnya gerakan ISIS di seluruh pelosok Tanah Air

“MUI Mendukung Iangkah cepat, tepat, dan tegas Pemerintah untuk melarang gerakan ISIS di Indonesia, dan mendorong Pemerintah melakukan upaya penegakan hukum sesuai dengan perundangan yang berlaku,” tegasnya di hadapan kurang 250 peserta. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Sumber:

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,59940-lang,id-c,daerah-t,Halau+Ekstremisme++Bumikan+Islam+Rahmatan+lil+Alamin-.phpx

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Penggunaan Langgam Nusantara Menurut Para Ahli al-Quran Pringsewu

Senin, 01/06/2015 10:01

Pringsewu, NU Online
Fenomena bacaan al-Qur’an menggunakan langgam Nusantara, khususnya langgam Jawa, menimbulkan banyak perdebatan, termasuk di kalangan awam sekali pun.  

Dengan keterbatasan referensi, dibumbui dengan ego pemahaman dan organisasi masing masing, sebagian masyarakat sudah mengambil keyakinan dan prinsip bahwa membaca al-Qur’an dengan langgam daerah masing masing tidak diperbolehkan. Namun, sebagian lagi mengatakan bahwa hal tersebut sah selama kaidah-kaidah dalam membaca al-Qur’an digunakan dengan benar.

H. Sholehuddin, salah satu qori terbaik di Pringsewu, Lampung, mengatakan bahwa diperbolehkan membaca al-Qur’an menggunakan langgam daerah tertentu. Boleh di sini dengan syarat kaidah membaca al-Qur’an seperti tajwid,  fashohah, dan lainnya tetap dipakai agar tidak mengubah makna al-Qur’an.

Juara MTQ tingkat Provinsi Lampung ini mengajak masyarakat untuk tidak berpikir sempit dalam menyikapi fenomena ini. “Niati membaca al-Qur’an untuk beribadah ikhlas karena Allah SWT,” ujar pria yang langganan jadi dewan juri MTQ tingkat Provinsi tersebut.

Ustadz Jumangin,  Ketua Jam’iyyatul Qurra wal Huffadh (JQH) NU Kabupaten Pringsewu, mengatakan bahwa membaca al-Qur’an dengan menggunakan langgam merupakan bentuk kekayaan khasanah budaya.
Menurutnya, membaca al-Qur’an dengan menggunakan lantunan lagu akan lebih dapat diresapi. Dan ketika al-Qur’an dibaca dengan lagu yang sesuai dengan seni budaya seseorang, tentunya akan lebih menjadi daya tarik sehingga al-Qur’an akan dapat lebih membumi di seluruh budaya.

Ustad Munawir, Ketua Lembaga Bahtsul Masail NU Provinsi Lampung menyatakan, fenomena langgam Nusantara memang baru mencuat setelah Peringatan Isra Miraj di Istana Merdeka Jakarta menampilkan model bacaan Langgam tersebut.

Menurutnya sebuah kewajaran bila terjadi perbedaan pendapat. Hal ini karena masyarakat belum terbiasa mendengarnya. Selama tidak memiliki niatan untuk merendahkan keagungan AlQuran,  menurutnya hal ini sah sah saja. Dan yang lebih penting adalah tidak mengubah makna dari ayat ayat alquran ketika di baca menggunakan langgam Nusantara. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Sumber:

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,59887-lang,id-c,daerah-t,Penggunaan+Langgam+Nusantara+Menurut+Para+Ahli+al+Quran+Pringsewu-.phpx

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Islam dan Akulturasi Budaya

Oleh: Lukman Hakim Saifuddin
Salah satu jalur penyebaran Islam di Indonesia adalah melalui perangkat budaya. Ajaran Islam yang ditanamkan melalui perangkat budaya ini, mau-tak mau, menyisakan warisan agama lama dan kepercayaan yang ada, yang tumbuh subur di masyarakat pada waktu itu, untuk dilestarikan kemudian dibersihkan dari anasir syirik. Pembersihan anasir syirik ini merupakan satu upaya untuk meneguhkan konsep monoteisme (tauhid) dalam ajaran Islam.
Salah contoh, budaya wayang. Wayang adalah bagian dari ritual agama politeisme, namun kemudian diubah menjadi sarana dakwah dan pengenalan ajaran monoteisme. Ini suatu kreativitas yang luar biasa, sehingga masyarakat diislamkan melalui jalur ini. Mereka merasa aman dengan Islam, karena hadir tanpa mengancam tradisi, budaya, dan posisi mereka.
Salah satu mazhab yang berkembang di Indonesia adalah mazhab yang saat mengambil konklusi fikihnya disesuaikan dengan konteks lokal. Salah satu contohnya, perihal pelaksanaan perintah zakat fitrah. Secara tekstual, zakat fitrah haruslah diberikan dalam bentuk gandum-sesuai dengan bahan makanan pokok di Arab Saudi. Namun ulama kita berijtihad untuk mengganti gandum dengan beras dalam pelaksanaan zakat fitrah, karena disesuaikan dengan bahan makanan pokok di Indonesia.
Bisa dikatakan bahwa proses pengislaman budaya Nusantara oleh para ulama terdahulu dibarengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam, sehingga keduanya melebur menjadi entitas baru yang kemudian kita kenal sebagai Islam Nusantara.
Dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, Wali Songo memiliki peran yang cukup besar dalam proses akulturasi Islam dengan budaya Jawa. Mereka menghasilkan karya-karya kebudayaan sebagai media penyebaran Islam. Untuk memperkenalkan unsur-unsur budaya baru hasil akulturasi Islam dengan budaya Jawa itu, para wali melakukan pengenalan nilai-nilai baru secara persuasif. Dan, terkait dengan persoalan-persoalan yang sensitif, seperti bidang kepercayaan, para wali membiarkan penghormatan terhadap leluhur sebagaimana yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa.
Untuk itulah tuntutan menghadirkan kembali Islam yang damai, moderat, adil, dan toleran, bukan karena kerinduan semata akan Islam Nusantara yang sejuk dan mendamaikan. Tapi sudah merupakan kebutuhan, terutama semenjak nilai-nilai kenusantaraan kita mulai terkikis oleh paham-paham baru yang meresahkan masyarakat.
Jalur perangkat budaya inilah yang harus ditumbuhkembangkan dalam proses Islamisasi dewasa ini. Seperti yang pernah dipaparkan cendekiawan muslim Nurcholish Madjid, Islam semakin diharapkan tampil dengan tawaran-tawaran kultural yang produktif, konstruktif, serta mampu menyatakan diri sebagai pembawa kebaikan untuk semua umat manusia, tanpa eksklusivisme komunal. Inilah sebuah penegasan betapa pentingnya eksistensi Islam kultural.
Lebih jauh, Nurcholish memaparkan bahwa beragam budaya dan agama berkembang dalam masyarakat, di mana keduanya tak jarang lebur dan terjadilah akulturasi. Akulturasi tersebut sering kali menyebabkan berbagai hal yang dapat membingungkan orang untuk membedakan mana yang produk agama, dan mana yang merupakan produk budaya. Walaupun antara agama dan budaya tidaklah dapat dipisahkan, tapi yang jelas tidak dibenarkan mencampuradukkan di antara keduanya.
Perangkat budaya adalah bentuk investasi masa depan bagi umat Islam Indonesia dalam menghadapi dinamika keberagamaan yang penuh warna. Perangkat budaya ini merupakan sumber etik moral dan pijakan kultural bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut pengamatan cendekiawan Abdurrahman Wahid (almarhum), dalam buku Membangun Demokrasi (1999), ketika Islam datang ke tanah Jawa, Islam dengan cepat beradaptasi dengan apa yang ada. Akulturasi antara Islam dan budaya setempat berlangsung secara damai. Proses akulturasi dan adaptasi antara budaya yang satu dan budaya yang lain-atau dalam antropologi kultural disebut konsep integrasi kultural-ini tidak dapat dihindari karena pluralitas agama, budaya, dan adat-istiadat yang ada tidak-bisa-tidak saling bergesekan.
Abdurrahman Wahid melihat dalam proses akulturasi timbal-balik antara Islam dan budaya lokal ini terakomodasi suatu kaidah atau ketentuan dasar dalam ilmu ushul fikih. Kaidah itu berbunyi: “al-‘adah muhakkamah”, yang berarti, “adat itu dihukumkan”, atau lebih lengkapnya, “adat adalah syariat yang dihukumkan” (al-‘adat syari’ah muhakkamah). Artinya, adat dan kebiasaan suatu masyarakat adalah sumber hukum dalam Islam.
Dalam ilmu ushul fikih, budaya lokal dalam bentuk kebudayaan itu disebut ‘urf . Karena ‘urf suatu masyarakat-sesuai dengan uraian di atas-mengandung unsur yang salah dan yang benar sekaligus, maka dengan sendirinya orang-orang muslim harus melihatnya secara kritis. Hal ini sesuai dengan berbagai prinsip Islam yang menentang tradisionalisme.
Kemampuan mengawinkan kearifan lokal dan nilai-nilai Islam ini mempertegas bahwa antara agama dan budaya lokal tidak dapat dipisahkan satu sama lain, tapi tentu bisa dibedakan antara keduanya. Untuk itu, sejak kedatangan Islam di Indonesia pada abad VII Masehi hingga sampai detik ini, Islam mampu bertahan dan berakulturasi dengan kearifan lokal.
Hal ini memperlihatkan bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin mampu beradaptasi dan berdialog dengan budaya lokal, kebiasaan, dan cara berpikir penduduk setempat yang saat itu masih dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan Buddha.
Pada titik singgung inilah perangkat budaya menemukan bentuknya sebagai investasi besar bagi tumbuh dan berkembangnya Islam di Indonesia. Sebuah investasi, yang mau-tak mau, harus dirayakan, dipelihara, dan disemai agar kehadiran Islam di tengah perangkat-perangkat budaya lokal, selalu teduh dan meneduhkan. []

TEMPO, 26 Mei 2015

Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI

http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

 

Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia

Sabtu, 30/05/2015 07:09

[image: Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia]

Jakarta, *NU Online *
Rais Am PBNU KH A Mutofa Bisri berpendapat, di Nusantara Islam dikembangkan
dan dipelihara melalui jaringan para ulama Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja)
yang mendalam ilmunya sekaligus terlibat secara intens dalam kehidupan
masyarakat di lingkungan masing-masing.

Maka masyarakat muslim yang terbentuk adalah masyarakat muslim yang dekat
dengan bimbingan para ulama sehingga peri hidupnya lebih mencerminkan
ajaran Islam yang berintikan rahmat. “Islam Nusantara adalah solusi untuk
peradaban,” kata kiai penyair yang akrab disapa Gus Mus ini.

Lebih lanjut pengasuh Pondok Pesantren Leteh Rembang ini menerangkan,
Islam Nusantara yang telah memiliki wajah yang mencolok, sekaligus
meneguhkan nilai-nilai harmoni sosial dan toleransi dalam kehidupan
masyarakatnya.

Hal itu menurutnya, karena para ulama Aswaja memberikan bimbingan dengan
ilmunya yang mendalam, dan kontekstual, serta mengedepankan kebersamaan dan
persatuan masyarakat/bangsa secara keseluruhan.

Ia katakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945 serta bersendikan Bhinneka Tunggal Ika, secara
nyata merupakan konsep yang mencerminkan pemahaman Islam ahlus sunnah wal
jama’ah yang berintikan rahmat.

“NU didirikan untuk memelihara kebersamaan para ulama Aswaja di Nusantara
dalam membimbing umatnya,” tutur budayawan ini.

*Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?*

Dalam makalahnya di acara Diskusi Panel bertema *Indonesia’s Role In
Addressing Global Islamist Extremism *yang diselenggarakan oleh Jakarta
Foreign Correspondents Club (JFCC) di Jakarta, Kamis (28/5), Gus Mus
menyampaikan langkah penanganan masalah ekstremisme keagamaan kepada
pemerintah.

Ia memaparkan, pemerintah perlu memahami bahwa Islam Nusantara yang teduh
yang telah menjadi wajah Indonesia, sungguh telah sesuai dengan ajaran dan
contoh Pemimpin Agung Muhammad SAW. Bahwa pemahaman agama dalam
keberagamaan (harmoni sosial dan toleransi) seperti yang ada di Indonesia
selama ini, saat ini sangat diperlukan oleh dunia yang penuh kemelut ini.

“Pemerintah perlu juga kokohnya sistem nilai Islam Nusantara, mengingat
mayoritas warganya beragama Islam dan wajib dijaga dari ancaman propaganda
ekstremisme,” tuturnya.

Hal berikut yang perlu dilakukan pemerintah adalah menyadari bahwa
Indonesia dapat memainkan peran amat penting dalam upaya perdamaian dunia
dengan menawarkan nilai-nilai Islam Nusantara sebagai model untuk umat
Islam di seluruh dunia.

Dituturkannya, Nahdlatul Ulama telah dan akan terus bergerak mendakwahkan
nilai-nilai Islam Aswaja demi perdamaian dunia. NU juga mengupayakan
konsolidasi para ulama Aswaja seluruh dunia serta menjalin kerja sama
dengan berbagai pihak secara Internasional.

“Di Tanah Air, jelas Nahdlatul Ulama tak henti-hentinya berjuang membimbing
umat dan menjaga keselamatan negara. Di kancah Internasional, Nahdlatul
Ulama tidak menunggu pihak mana pun untuk mengambil langkah-langkah
strategis,” paparnya dalam diskusi di depan awak media asing tersebut.

Di akhir presentasinya Gus Mus membeberkan pengembangan organisasi dan
kerjasama yang telah dilakukan NU. Yakni menginisiasi terbentuknya
perkumpulan ulama ahlussunnah wal jama’ah di Afghanistas yang kemudian
menamakan dirinya sebagai “Nahdlatul Ulama Afghanistan” dan bersepakat
memegangi prinsip-prinsip *tawassuth *(moderat), *tasaamuh *(toleran),
*tawaazun
*(berimbang/obyektif), *i’tidal* (adil), dan musyaarakah (kebersamaan dalam
masyarakat), persis dengan NU.

“Kerja sama juga telah dirintis bersama Universitas Wina, Austria, di bawah
kepemimpinan Prof Dr Rüdiger Lohker, untuk membangun suatu pusat penelitian
terapan (applied research) dalam rangka strategi menghadapi ekstremisme
agama,” pungkas dia.

Panelis lain dalam acara tersebut adalah Dekan Fakultas Sains Islam
Universitas Al Azhar Mesir, Prof. Dr. Abdel-Moneem Fouad, mantan rektor UIN
Syarif Hidayatullah Prof Dr Azyumardi Azra, dan guru besar studi Islam
University of Venna Prof. Dr. Rudiger Lohlker. *(Ichwan/Mahbib)*

Sumber:

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,59849-lang,id-c,nasional-t,Rais+Aam+PBNU++Islam+Nusantara++Solusi+Peradaban+Dunia-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

KBP45

http://news.okezone.com/read/2015/04/22/340/1138476/ketum-pbnu-sudah-saatnya-kiblat-peradaban-islam-dipindah

KetUm PBNU : Sudah Saatnya Kiblat Peradaban Islam Dipindah

abu, 22 April 2015 – 18:34 wib

KH Said Aqil Siroj

Mohammad Saifulloh

MAKASSARKetua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj, mengungkapkan tujuan diangkatnya tema ‘Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia’ dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33, tak lain untuk mendorong peran Islam dalam mengawal terciptanya perdamaian. Akan tetapi juga dikatakannya, Islam tanpa dibarengi semangat nasinalisme tak akan mampu mempersatukan umat.

“Islam saja tanpa nasionalisme akan menjadi ekstrim, dan nasionalisme saja tanpa ada landasan Islam akan kering,” kata Kiai Said dalam sambutannya di acara Pra Muktamar Nahdlatul Ulama yang dilaksanakan di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Rabu (22/4/2015).

Kiai yang juga bergelar profesor di bidang tasawuf tersebut mengambil contoh beberapa negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, namun dirundung peperangan berkepanjangan karena ketiadaan semangat nasionalisme pada warga negaranya. Antara lain Somalia, Afghanistan, Libya, Irak, Suriah, dan terbaru Yaman.

“Ulama di negara-negara itu luar biasa alim, kitab-kitab karyanya jadi pelajar-pelajar kita, tapi tidak dapat berperan dalam mewujudkan perdamaian. Di (negara) kita, Alhamdulillah, keberadaan ulama-ulama NU dengan nasionalismenya mampu menjaga keutuhan NKRI,” tegas Kiai Said.

Karena nasionalisme itu juga, masih kata Kiai Said, konflik yang berakar pada perselisihan faham keagamaan di Indonesia bisa dengan cepat diredam. Dia mencontohkan, konflik NU dan Syiah di Puger bisa diatasi sebelum meluas, sementara kasus Ahmadiyah di Jawa Barat dapat diredam sebelum memakan korban jiwa dalam jumlah besar.

Melalui tema ‘Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia’, Muktamar NU yang akan diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur, mendatang, diharapkan mampu menghasilkan keputusan yang dapat merubah kiblat perdaban Islam dunia ke Indonesia.

“Sudah saatnya kiblat peradaban Islam dipindahkan. Bukan lagi di Arab, di Iraq, di Afghanistan, tapi di Indonesia. Islam Nusantara, Islam NU, sudah mampu menunjukkan bagaimana Islam yang semestinya menjadi pengayom terciptanya perdamaian,” pungkasnya disambut tepuk tangan peserta Pra Muktamar.

Sementara ahli sejarah Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof. Dr. Oman Fathurrahman, dalam sesi seminar Islam Nusantara sebagai Islam Mutamaddin Menjadi Tipe Ideal Dunia Islam, mengungkap riset yang dilakukannya telah menemukan banyak manuskrip yang menunjukkan sejarah masuknya Islam di Indonesia tanpa melalui jalan peperangan. Manuskrip tersebut disebutnya layak dijadikan landasan atas perpindahan peradaban Islam dari kawasan Timur Tengah ke Indonesia.

“Jika di abad 17–18 peradaban Islam ada di Arab dan sekitarnya, sekarang Indonesia-lah pusat perdaban Islam tersebut,” kata Oman.

Meski demikian Oman menyayangkan belum adanya ‘buku putih’ yang bisa menjadi rujukan pembelajaran bahwa Indonesia adalah pusat peradaban Islam baru. “Makanya saya mendorong, mungkin PBNU akan melakukannya, mari bersama-sama kita rumuskan dan terbitkan buku putih tentang Islam Nusantara ini,” pungkasnya.

(ful)

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

 

Ulama Nusantara Kembangkan Islam dengan Ilmu dan Pergulatan Sosial

Sabtu, 30/05/2015 00:01

[image: Ulama Nusantara Kembangkan Islam dengan Ilmu dan Pergulatan Sosial]

Jakarta, *NU Online*
Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) menyebut kekhasan pengembangan
Islam di Nusantara. Jaringan ulama Aswaja yang memiliki kedalaman ilmu
agama dan meleburnya mereka di tengah masyarakat, dengan sendirinya
membentuk corak masyarakat Nusantara yang khas pula.

“Keterlibatan ulama di tengah perubahan masyarakat tanpa henti, menjadi
ciri khas ulama Nusantara yang bertanggung jawab untuk terus memberikan
tawaran pemikiran yang terbaik di zamannya,” kata Gus Mus pada forum yang
diinisiasi Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC) di Jakarta, Kamis
(28/5).

Pada diskusi bertema Indonesia’s Role In Addressing Global Islamist
Extremism, Gus Mus yang hadir sebagai narasumber menyebut, konsekuensi dari
metode dakwah ulama Nusantara itu berujung pada pembentukan masyarakat
muslim yang bergerak dalam bimbingan ulama itu sendiri.

“Dengan kedalaman ilmunya dan pemahaman atas dinamika sosial itu, para
ulama mengedepankan kebersamaan, gotong royong, dan persatuan sosial. NKRI
yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, jelas merupakan konsep yang
mencerminkan pemahaman Islam Aswaja yang berintikan rahmat terhadap
sesama,” kata Gus Mus.

NU sendiri hadir dalam rangka merawat kebersamaan jaringan ulama Aswaja di
Nusantara dalam tugasnya membimbing masyarakat. Para pendiri NU dengan
kesadarannya akan jaringan ulama Nusantara ini mencoba menajamkan gerakan
agar lebih terstruktur untuk memegang prinsip lama dan mengembangkan diri.

Gus Mus kemudian menyebut NU sebagai komunitas epistemik dalam pengertian,
“Kelompok ulama sebagai intelektual pemikir yang terus-menerus
mengembangkan gagasan-gagasan mengenai Islam Nusantara sebagai sistem nilai
dan penerapannya dalam menanggapi masalah-masalah aktual dari waktu ke
waktu.”

NU juga membangun struktur kepemimpinan sosial yang efektif dengan ulama
dalam posisi tertinggi. Dengan supremasinya di tengah masyarakat, ulama NU
membimbing basis massanya yang luas dalam mengamalkan ajaran Islam
Nusantara dalam praktik nyata hidup keseharian. (*Alhafiz K*)

Sumber:

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,59847-lang,id-c,nasional-t,Ulama+Nusantara+Kembangkan+Islam+dengan+Ilmu+dan+Pergulatan+Sosial-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

 

Delegasi Mesir: Islam di Indonesia Lebih Islam dari Islam di Dunia Arab

Sabtu, 30/05/2015 11:01

[image: Delegasi Mesir: Islam di Indonesia Lebih Islam dari Islam di Dunia
Arab]

Jakarta, *NU Online*
Menyongsong perhelatan Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, berbagai
kegiatan dilakukan di beberapa tempat di Jakarta. Salah satunya diskusi
pra-muktamar yang dihelat di kantor The Wahid Institute (TWI), Jalan Taman
Amir Hamzah, Matraman, Jakarta, Jumat (29/5).

Diskusi umum bertajuk “Konsolidasi Dunia Islam Menghadapi Radikalisme dan
Terorisme” yang dimoderatori Yahya Cholil Staquf itu digelar saat menerima
kunjungan delegasi Mesir. Sebelumnya, mereka mengunjungi kantor PBNU dan
kantor redaksi harian Kompas. Mereka berharap besar kepada ormas Islam
terbesar di Indonesia ini.

Delegasi Mesir tersebut antara lain Utusan Khusus Grand Syeikh Al Azhar
Prof Dr Abdelmonem Fouad Othman, Redaktur Senior Harian Al-Ahram Mohamed
Aboelfadl Ahmed, dan Duta Besar Mesir untuk Indonesia Bahaa Dessouki.
Selain mereka bertiga, turut bergabung Guru Besar Studi Islam Universitas
Wina, Austria, Prof Dr Rudiger Lohlker.

Dalam presentasinya di Aula TWI, Redaktur Senior Harian Al-Ahram Mohamed
Aboelfadl Ahmed menyatakan, kelompok Islam di dunia manapun tidak semuanya
mengabarkan Islam damai sebagaimana yang dilakukan NU dan Al-Azhar.

“Islam di Indonesia yang saya tahu mengedepankan kedamaian dan toleransi.
Saya melihat Islam di negeri ini lebih Islam daripada Islam di dunia Arab
itu sendiri,” ujar Ahmed.

Ahmed berharap, Islam di Indonesia tetap istiqamah mempertahankan sikap
positif tersebut. “Saya berharap Islam yang dikawal NU di sini terus
mengedepankan toleransi. Semoga ada kerjasama antara Indonesia dengan
Mesir, dalam hal ini, NU dan Al-Azhar, yang bisa dibangun untuk
mengampanyekan Islam damai yang penuh toleran,” harapnya.

Ahmed menuturkan, Mesir sekarang ini menghadapi kelompok teroris yang
menguasai perbatasan Rafah dan Gaza. “Ini sangat membahayakan bagi kami.
Meski demikian, sekarang telah mampu dikondisikan berkat kerjasama berbagai
pihak,” tandasnya.

Menurut Ahmed, penting sekali bagi Mesir untuk belajar Islam khas Indonesia
yang penuh kedamaian dan kasih sayang. “Saya berharap pada waktu Muktamar
NU nanti ada sesuatu yang konkrit, yakni bagaimana Islam yang sebenarnya
dan penuh kedamaian ini bisa diketahui banyak orang. Semoga menghasilkan
keputusan yang bisa memberi kontribusi bagi dunia Islam,” ujarnya.

Hadir dalam diskusi tersebut, Direktur TWI Zannuba Arifah Chafshoh alias
Yenny Wahid, para peneliti TWI, Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA)
Hasibullah Satrawi, Dosen STAINU Jakarta Arif Zamhari, serta puluhan
wartawan dan aktivis lintas organisasi. *(Musthofa Asrori/Mahbib)*

Sumber:

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,59853-lang,id-c,nasional-t,Delegasi+Mesir++Islam+di+Indonesia+Lebih+Islam+dari+Islam+di+Dunia+Arab-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Kang Said: Saatnya Indonesia Jadi Kiblat Islam

Jumat, 29/05/2015 11:30

[image: Kang Said: Saatnya Indonesia Jadi Kiblat Islam]

Kediri, *NU Online*
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj
mengatakan, dunia Arab yang akhir-akhir ini dirundung konflik antarwarga
negara, menjadikan umat Islam tidak bisa berharap banyak pada kemajuan
peradaban Islam dari negara-negara Islam di Timur Tengah.

“Mesir masih gonjang-ganjing. Yaman perang saudara, Arab semua, Islam
semua, sudah 6 bulan, yang mati sudah 2000 lebih. Apa yang bisa diharapkan
dari negara seperti itu. Peradaban, kemajuan kebudayaan apa yang bisa kita
harapkan, kemajuan apa untuk Islam, dari Irak, Yaman, Syiria, yang bisa
kita harapkan. Tidak ada,” paparnya dalam acara ‘Reuni Akbar Ke V Himpunan
Alumni Santri Lirboyo (Himasal)’ di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren
Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur, Selasa (26/5).

Karenanya, menurut pria kelahiran Cirebon 3 Juli 1953 ini, sudah saatnya
umat Islam Indonesia memberikan contoh kepada dunia bahwa Islam di
Indonesia yang tidak mempertentangkan antara agama dan nasionalisme, patut
dijadikan sebagai kiblat beragama atau teladan dalam kehidupan beragama dan
bernegara.

“Sudah saatnya yang menjadi *qiblatul islam*, bukan *qiblatus sholah*, awas
jangan salah paham. Qiblat budaya Islam, kiblat akhlak Islam, Indonesia.
Indonesianya, Nahdlatul Ulama,” katanya.

Dalam pandangan kiai yang akrab disapa Kang Said ini, salah satu sebab
konflik di Timur Tengah adalah karena tidak adanya rasa nasionalisme
terhadap tanah airnya. Mencintai tanah air dengan cara menjaga, merawat,
dan mempertahankannya dengan baik, harus diutamakan daripada berdakwah,
karena dakwah tidak mungkin dilakukan apabila konflik terus berlangsung.

“Oleh karena itu Mbah Yai Hasyim Asy’ari selalu mengatakan, Islam dan
nasionalisme harus saling memperkuat. *Man laisa lahu ardl, laisa lahu
tarikh. Wa man laisa lahu tarikh, laisa lahu dzakiroh*. Barang siapa tidak
punya tanah air, tidak akan punya sejarah. Sejarah ditulis di tanah air
ini. Ada orang pidato, Islam, Islam, Islam. Ini mau berjuang Islamnya di
atas angin apa? Di atas tanah air. Oleh karena itu, tanah air dulu kita
amankan, kita kuatkan, baru bicara Islam. Bangun masjid, madrasah,
pesantren, di atas tanah air. Kalau tanah airnya konflik, perang
saudara, *kober
mboten* (sempat tidak)? Nggak sempat,” tegasnya.

Karena kehendak menjadikan Indonesia sebagai kiblat Islam, menjadi harapan
bagi kemajuan peradaban, kemajuan akhlak, dan karakter bagi umat Islam di
dunia, Muktamar NU yang akan digelar pada 1-5 Agustus mendatang di Jombang
Jawa Timur mengambil tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban
Indonesia dan Dunia”.

“Ada yang tanya, kenapa Islam Nusantara, tidak Islam Ahlussunah wal Jama’ah
saja? Maksudnya Islam Nusantara itu ya Ahlussunah wal Jama’ah, Islam yang
membawa hidayah dan *rohmah*, Islam yang menyatu dengan budaya. Langit,
wahyu, menyatu dengan kecerdasan manusia, budaya manusia, kreativitas
manusia. Tidak bertentangan dengan budaya, tidak menghapus budaya,”
jelasnya. (Khoirul Anwar/Mahbib)

Sumber:

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,59834-lang,id-c,nasional-t,Kang+Said++Saatnya+Indonesia+Jadi+Kiblat+Islam-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>


0 Responses to “Kebangsaan : Indonesia Kuat Karena Masyarakat Sipilnya Kokoh”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,880 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: