17
May
15

Perekonomian : Inflasi dan Daya Beli Konsumen

KBP45

http://sinarharapan.co/news/read/150515054/keyakinan-konsumen-terus-turun

Keyakinan Konsumen Terus Turun

Terdengar menggelikan ketika dalam situasi seperti ini pemerintah justru menaikkan target penerimaan pajaknya 43 persen.

15 Mei 2015 18:52 Editorial dibaca: 164

inShare

Ist / Dok

Inflasi dan daya beli konsumen.

SENTIMEN negatif mulai menjalar di kalangan konsumen, yang memengaruhi optimisme mereka, dalam memandang perkembangan ekonomi ke depan. Indikator itu tidak bisa dipandang sebelah mata karena bisa makin berkembang dan berubah menjadi pesimisme yang meluas.
Penurunan keyakinan konsumen tersebut tercermin dari hasil survei yang dilakukan bank Indonesia (BI). Dalam publikasinya pekan lalu, BI mencatat penurunan indeks keyakinan konsumen (IKK) pada April 2015, sebanyak 9,5 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan IKK tersebut berlanjut dari bulan Maret, namun angkanya lebih besar. Pada Maret, tercatat penurunan IKK sebesar 3,3 poin.

Pelemahan tersebut berkaitan dengan kedua komponen pembentuknya, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK),  yang masing-masing turun 8,6 poin dan 10,3 poin dari bulan sebelumnya. Hal yang lebih mengejutkan adalah bertambah luasnya sebaran kota-kota yang mengelami penurunan IKK, yang kini menjadi 16 kota.
Hasil survei ini mengindikasikan melemahnya optimisme konsumen kita, terhadap keberhasilan pemerintah menangani berbagai masalah ekonomi karena pendekatan yang dilakukan kurang berhasil. Tentu saja kita tidak menginginkan melemahnya sikap optimistis itu meluas karena bisa berubah menjadi apatisme dan penurunan kepercayaan terhadap pemerintah.
Namun, data itu memperkuat hasil temuan dan indikator yang terpapar sebelumnya, seperti penurunan indeks manufaktur yang terus turun selama beberapa bulan terakhir. Data yang lebih mengejutkan adalah kegagalan kita mencapai target pertumbuhan ekonomi, yang ternyata hanya 4,7 persen, jauh di bawah sasaran kuartal pertama tahun ini.
Meski pemerintah masih optimistis akan terjadi dorongan kinerja ekonomi mulai kuartal II, banyak kalangan masih menyangsikannya karena beberapa persoalan mendasar belum bisa dikelola dengan baik. Pemerintah masih belum mampu menggenjot anggarannya untuk membiayai pos-pos prioritasnya, karena penerimaan pajaknya juga tidak mencapai target. Ditambah neraca transaksi berjalan yang masih terus defisit, belum terlihat faktor pendongkrak pertumbuhan yang akan memperbaiki kinerja dalam kuartal ini.
Kita justru patut mempertanyakan kinerja pemerintah dalam menjaga momentum ekonomi, yang tampaknya tidak memiliki arah dan program yang jelas. Setelah tahun lalu gagal mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi, mestinya pemerintah melakukan terobosan dan koreksi agar trend penurunan bisa dihentikan. Hal ini tidak bisa dilakukan hanya dengan gebrakan-gebrakan yang sporadis, tetapi melalui perencanaan yang berkelanjutan.
Kita memang mencatat ada terobosan dalam kebijakan investasi dengan memudahkan dan mempercepat proses perizinan, namun masih harus ditunggu bagaimana realisasinya di lapangan. Selain itu, aplikasi investasi sering mengecoh karena angkanya sangat besar namun pelaksanaan lambat. Hal itu terbukti dari besarnya proyek-proyek yang mangkrak, bahkan menurut data BKPM beberapa waktu lalu, berbagai proyek yang nilai keseluruhan mencapai Rp 1.000 triliun, tak jelas pelaporannya berlanjut atau tidak.
Maka bila berbagai data dan indikator okonomi tidak menggembirakan, jangan disikapi secara biasa-biasa saja. Itu semestinya dipersepsi sebagai sinyal negatif yang harus diwaspadai. Pemerintah harus lebih berhati-hati dalam menetapkan kebijakannya agar tidak berdampak negatif terjadap dunia usaha. Salah satu contoh sederhana bisa dikemukakan di sini, misalnya pelarangan rapat di hotel bagi PNS, ternyata memukul bisnis perhotelan serta perbankan yang selama ini mengucurkan kredit kepada pengusaha perhotelan.
Kita juga mencatat keluhan Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) mengenai dampak pelarangan transhipment di laut. Secara jangka panjang bisa saja kebijakan tersebut berdampak positif, yaitu terpeliharanya populasi ikan di perairan kita. Namun, kita juga harus mendengarkan keluhan pengusaha, misalnya perkiraan ATLI, bahwa akibat kebijakan tersebut terdapat enam dari 13 Unit Pengolahan Ikan berbasis tuna akan kesulitan bahan baku, kecuali memenuhinya dari impor.
Kiranya kita patut memperhatikan catatan lapangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), yang memperlihatkan pelambatan kegiatan bisnis hampir di semua sektor riil. Ia mengatakan situasi tersebut membuat para pengusaha khawatir. Bahkan di industri otomotif, sektor yang menjadi andalan Indonesia itu ikut turun 20 persen, sektor perhotelan turun 40 persen, dan industri makanan-minuman juga turun 10 persen.
Terdengar menggelikan ketika dalam situasi seperti ini pemerintah justru menaikkan target penerimaan pajaknya 43 persen.

“Kami setuju ambisi besar itu, tapi langkahnya seperti apa. Saya sudah sampaikan, target pajak itu tak masuk akal,” kata Ketua Apindo, Haryadi B Sukamdani, beberapa waktu lalu.
Kita meminta pemerintah melakukan melakukan langkah-langkah tepat untuk mendorong iklim usaha tetap bergairah, ekonomi tumbuh, sekaligus menjaga agar tidak terkontraksi. Banyak hal harus dilakukan untuk menjaga iklim usaha tetap kondusif, termasuk pentingnya menjaga stabilitas politik dan kepastian hukum.

Bila salah pengelolaan, momentum bisa lepas dan rakyat juga yang menanggung bebannya.

Kita harus menjaga agar kepercayaan konsumen tetap tinggi dan ekspektasi mereka pun optimistis. Naik-turunnya kepercayaan konsumen berpengaruh terhadap belanja masyarakat, yang berdampak lebih jauh ke pertumbuhan ekonomi. Pemerintah harus mampu merebut kembali kepercayaan konsumen, melalui kerja keras dan kesediaan berkorban lebih besar. (*)
Sumber : Sinar Harapan

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>


0 Responses to “Perekonomian : Inflasi dan Daya Beli Konsumen”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,062,175 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: