04
May
15

Kenegarawanan : Politik Karakter Sumber Daya Manusia

Politik Karakter Sumber Daya Manusia
Minggu, 03 Mei 2015 – 01:02 WIB

Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Suara Pembaca:
POLITIK KARAKTER SUMBER DAYA MANUSIA

Di Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2015 ini, semakin disadari bahwa Sumber Daya Manusia diakui jadi faktor kunci bagi pemberdayaan Sumber-sumber Daya Alam dan kiprah Poliitik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan Keamanan bertujuan kelola pembangunan masyarakat, bangsa dan negara, apalagi menuju Bonus Demografi 2030 kearah Indonesia Jaya 2045.

Oleh karena itulah manusia berkepentingan Mengenal Jati Diri sebagaimana sabda Rasulallah “Man `Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbhu” yang artinya Kenalilah Dirimu agar engkau mengenal Tuhanmu.

Salah satu metoda Kenalilah Dirimu itu adalah seperti Petunjuk Karakter Pribadi Insani dari Al Qur`an, temuan alm Lukman AQ Sumabrata yakni Karakter Diri Dibalik Juz Al Qur`an yang dideskripsi sebagai berikut :

JUZ 1 Melayani dan dilayani

JUZ 2 Jaga penampilan dan temperamental

JUZ 3 Pandai berargumen dan bijaksana mengambil keputusan

JUZ 4 Realistis dan perayu

JUZ 5 Feminin dan suka mengungkit

JUZ 6 Pandai memanjakan orang dan susah diatur

JUZ 7 Solidaritas tinggi dan pendendam sejati

JUZ 8 Konsekuen dan bicara seenaknya

JUZ 9 Berempati tinggi dan bicara seenaknya

JUZ10 Tidak Ceroboh dan materialistik

JUZ11 Mudah terpengaruh dan mudah bergaul

JUZ12 Pandai menyimpan rahasia dan merasa paling bisa

JUZ13 Teguh pendirian dan susah menerima nasihat

JUZ14 Keras kepala namun peduli sesama

JUZ15 Selalu optimis dan pemberontak

JUZ16 Sabar, mandiri, tertutup dan pendendam

JUZ17 Perfeksionis, berani tampil beda dan suka memaksakan keinginan

JUZ18 Gemar menolong, tulus, jeli melihat kesalahan dan banyak pertimbangan

JUZ19 Suka berkomentar dan tak kenal kata menyerah

JUZ20 Ngeyel, mudah panik, sangat komitmen dan jeli menangkap peluang

JUZ21 Arogan tapi sabar, tak mau mengalah tapi bijaksana

JUZ22 Ingin selalu menonjol, susah meninggalkan masa lalu, optimis dan kreatif

JUZ23 Manja, libido tinggi, konseptual dan komunikatif

JUZ24 Gemar mencela, membentuk orang sesuai keinginannya, peduli sesama, tegas dan pantang menarik omongan

JUZ25 Cinta keindahan, negosiator handal, namun egois dan pandai berkelit

JUZ26 Cermat konsisten namun kaku dan tak mau mengalah

JUZ27 Ulet, mandiri namun sombong dan sulit memaafkan

JUZ28 Egois, materialistis, suka mengatur tapi tak mau diatur, disiplin, tegas dan tak mudah putus asa

JUZ29 Jagonya strategi, gemar menolong, suka memaksakan diri dan ingin menang sendiri

JUZ30 Pandai memahami orang lain, dinamis, ingin menang sendiri dan merasa paling benar.

Selain Kenalilah Diri diatas yang sebenarnya strategis bagi ide Revolusi Mental yang dilontarkan Presiden JokoWi pada tahun 2014, tampaknya masih perlu juga adanya pendampingan oleh Revolusi Karakter Bangsa menurut pemikiran M Soeparno [ISBN 929-161-567-6, Januari 2006] yang beridealisasi capaian sebagai berikut :

1) Bangsa Indonesia adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, patuh kepada hukum, perundang-undangan serta peraturan yang berlaku;

2) Bangsa Indonesia adalah manusia yang bangga sebagai warga negara Indonesia serta mencintai Tanah Air dan Bangsanya, berbudi pekerti baik, siap membela negara dan bangsa demi tegaknya negara Republik Indonesia;

3) Bangsa Indonesia didalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa adalah manusia yang memiliki jiwa kebersamaaan, gotong royong, toleransi serta anti segala bentuk kekerasan;

4) Bangsa Indonesia adalah manusia yang berbadan sehat, bersih, hemat, jujur, tertib, cermat, rajin, tepat waktu serta berdisiplin tinggi;

5) Bangsa Indonesia adalah manusia yang memiliki kemauan belajar dengan jangkauan masa depan, penuh inisiatif, kreativitas, inovasi yang dilandasi dedikasi yang tinggi demi kemajuan, pengabdian dan manfaat bagi kehidupan dirinya, bangsa dan negaranya serta umat manusia.

Pendampingan itu beralasan merujuk QS An-Nisa 9 yaitu “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang (bangsa) yang meninggalkan di belakang mereka anak-anak (generasi) yang lemah yang mereka khawatirkan kesejahteraannya (lahir dan batin) Maka hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”

Dengan pendampingan ini diharapkan Revolusi Mental tidak berganti makna jadi Revolusi “mental” (bouncing) kearah pro degradasi karakter bangsa seperti yang kini malah terindikasi di banyak tayangan layar kaca dan terberitakan di media-media cetak dan sosial elektronik.

Rekomendasi langkah pendampingan lain adalah memperbanyak pelantunan Hymne Pramuka yakni “Kami PRAMUKA Indonesia, Manusia Pancasila, Satyaku kudharmakan, Dharmaku kubaktikan, Agar jaya Indonesia, Indonesia tanah air ku, Kami jadi PANDUMU” di berbagai agenda kepemudaan, selain gerakan SAVE INDONESIA budayakan  http://m.edisinews.com/berita-piagam-karakter-pandu-indonesia.html.

Salam 5 Jari, Salam Pancasila

Jakarta, 2 Mei 2015

Pandji R Hadinoto, KBP45 KelBes Pejoang45

Pembudaya Jiwa Semangat Nilai-nilai 45
Pengamal Pancasila Tap MPRRI XVIII/1998
Editor www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA
Pendidikan Karakter dan Bonus Demografi
Oleh: A. Helmy Faishal Zaini

2015 Indonesia mulai menapaki tahun bonus demografi. Tahun yang dinanti-nanti. Sebab pada momentum inilah Indonesia tidak boleh alpa. Bonus demografi bisa berari berkah jika kita berhasil mengelolanya, namun juga sebaliknya, ia bisa bisa bermakna bencana jika kita tidak berhasil maramu dan menghadapinya, sebagaimana yang terjadi pada Afrika selatan dalam kurun waktu 1960-2000.

Bonus demografi adalah momentum di saat 100 orang yang berusia produktif (15-16 tahun) menanggung kurang dari 50 orang dengan usia yang sudah tidak produktif. Di Indonesia sendiri diperkirakan mengalami puncak momentum bonus demografi pada kurun tahun 2028-2031. Pada kurun tahun itu 100 orang usia produktif menaggung 4,9 orang dengan usia tidak produktif lagi.

Setidaknya, ada tiga syarat utama untuk memeroleh keberkahan bonus demografi, yakni dengan cara investasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan juga lapangan kerja. Ketiga aspek tersebut sesungguhnya adalah aspek primer yang menjadi basic need kehidupan sehari-hari manusia.

Pada tulisan singkat ini saya ingin berkonsentrasi pada bidang pendidikan dalam bingkai merespon bonus demografi. Sebab, bagaimanapun juga pendidikan adalah tulang punggung utama serta tonggak kemajuan sebuah bangsa.

Sampai saat ini pendidikan memang sudah mendapat alokasi 20 persen dana APBN. Alokasi anggaran yang bisa dibilang lumayan. Namun, dengan besaran dana seperti itu tidak berarti langsung menjamin meningkatnya kualitas pendidikan kita. Ada banyak persoalan yang masih menghiasi dunia pendidikan. Terutama sekali adalah soal implementasi pendidikan karakter.

Sebagaimana diamanatkan oleh tujuan pendidikan nasional yang dituangkan dalam UU no 20 tahun 2003 bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didikagar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berkahlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dari tujuan yang panjang tersebut sesungguhnya bisa kita sarikan dan ringkas, secara herarkis menurut saya, menjadi tiga tujuan besar saja yakni: berimlu, bertkwa, dan juga berakhlak mulia. Adapun selain ketiga sifat dan sikap di atas, sesungguhnya hanya merupakan derivat dari sikap fundamental yang tiga itu saja.

Lalu apakah peserta didik kita hari ini sudah mampu memenuhi ketiga kriteria yang termaktub dalam tujuan pendidikan nasional tersebut? Pertanyaan ini penting kita urai untuk bisa mengukur tingkat keberhasilan tujuan pendidikan dan untuk lebih jauh lagi dalam rangka merespon bonus demografi.

Pertama aspek ilmu. Aspek ini menurut saya merupakan motif utama tujuan orang dalam menempuh pendidikan. Ilmu yang saya maksud di sini bukanlah dalam pengertian ilmu pengetahuan, namun lebih dari itu ilmu yang merupakan “kelanjutan sikap” yang didasarkan pada pengetahuan itu sendiri.

Katakanlah sebagai ilustrasi, untuk sebilah pedang, data mengenai bahan pembuatan, tahun pembuatan, tingkat ketebalan serta siapa saja yang pernah terhunus olehnya adalah pengetahuan yang berisi seperangkat data mengenai pedang itu sendiri. Adapun ilmu adalah tindakan atas pedang yang diambil oleh seorang yang berpengetahuan tadi. Pedang tersebut mau bermanfaat atau bermudarat, tergantung ilmu yang dimiliki oleh pemilik pedangnyanya.

Persoalnnya kemudian adalah nyatanya sampai hari ini kita masih kabur dalam mendefnisikan apa yang dimaksud dengan ilmu itu sendiri. Hal itu terbukti dengan misalnya ukuran pintar dan tidaknya peserta didik dalam dunia pendidikan hari ini masih menggunakan penilaian yang sifatnya pengukur pengatuan, bukan ilmu. Labih dominan mengukur kognisi dibandingkan afeksi atau bahkan psikomotor.

Kealpaan dalam memaknai ilmu yang hanya diartikan sebagai sebatas pengetahuan tersebut membuat fenomena yang kita temukan hari ini yang melanda peserta didik menjadi lumrah adanya. Corat-corat, pesta bikini, dan juga sejumlah tindakan dekaden lainnya.

Kedua pada aspek ketakwaan. Istilah takwa dalam kamus diartikan sebagai terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya (KBBI: 2008). Beralaskan dari pengertian tersebut bisa dikatakan bahwa perwujudan takwa adalah sikap ketertundukan dalam menjalankan peritah Tuhan dan menjauhi segala larangan. Artinya takwa adalah dimensi afeksi dan psikomotor.

Parameter untuk mengukur sikap ketakwaan seorang sesungguhnya bisa dilihat dari sikap dan perilakunya (akhlak mulia). Bagaimanapun juga akhlak mulia, yang merupakan keturunan sah dari sikap ketakwaan adalah alat yang paling sah untuk mengukur sikap ketakwaan.

Urgensi Pendidikan Karakter

Banyak persoalan yang harus segera kita selesaikan dalam rangka menyembut momentum bonus demografi terutama dalam bidang akhlak dan perilaku ini. Nah pada momen seperti inilah sesungguhnya kita menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter.

Thomas Lickona (2013) dalam Educating for Character mengatakan bahwa pendidikan karakter bertujuan agar peserta didik memiliki moral action, bukan hafalan definisi tentang moral, namun lebih kepada tentang bagaimana nilai moral tersebut muncul dalam perilaku. Untuk mencapai tahapan moral action peserta didik harus melewati tahapan moral knowing (pengethauan akan moral) dan moral feeling (kedasaran akan moral) terdahulu.

Lebih jauh ia juga mengatakan bahwa setidaknya ada lima tanda kehancuran sebuah bangsa yang berdampak pada karakter peserta didik. Pertama, meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Kedua, penggunaaan bahasa dan kata-kata yang buruk. Ketiga, pedoman moral baik dan buruk semakin kabur. Keempat, etos kerja menurun. Kelima, ketidakjujuran dan rasa saling curiga antara sesama semakin membudaya.

Lima tanda yang diungkapkan oleh Lickona tersebut sampai hari ini masih banyak kita temui menghiasi dunia pendidikan Indonesia. Oleh karenanya dalam momentum menyambut bonus demografi ini revitalisasi pendidikan karakter adalah persoalan yang tidak bisa dikesampingkan adanya jika kita tidak ingin keberkahan bonus demografi ini menjadi sesuatu yang sia-sia belaka atau bahkan malah menjadi bencana. []

A. Helmy Faishal Zaini, Ketua Fraksi PKB DPR dan Anggota Komisi X DPR

Situasi Ekonomi-Politik Kini Kacau, ARM Se-Indonesia Akan Bergerak!
Rabu, 11 Maret 2015 – 09:14 WIB

Jakarta – Koordinator Aliansi Rakyat Merdeka (ARM) Moh Jumhur Hidayat menilai dalam beberapa waktu terakhir ini, keadaan ekonomi politik Indonesia terasa semakin tidak menentu sehigga kurang memberi harapan perbaikan ke depan.

“Bahkan sebaliknya, semakin menimbulkan kekhawatiran berupa gejolak politik akibat sengketa berlarut beberapa partai politik (parpol) serta ‘marahnya’ rakyat dan civil society akibat naiknya harga-harga dan berkurangnya rasa aman, serta berlarutnya konflik KPK-Polri,” paparnya di Jakarta, Selasa (10/3/2015).

Bahkan, lanjutnya, pihak Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan klaim 67% Koalisi Merah Putih di DPR akan segera mengadakan hak angket yang bisa berujung pada “Jatuhnya Presiden Jokowi”.

“Tentunya ini bukan peristiwa biasa dan oleh karena itu para pimpinan gerakan ARM baik di pusat maupun di daerah agar terus mencermati keadaan, berkonsolidasi internal dan mengintensifkan komuniasi dengan segenap kekuatan rakyat,” tegas Jumhur yang juga aktivis gerakan buruh.

Sehubungan dengan hal ini pula, lanjut Jumhur, dirinya ingin manyampaikan bahwa perjuangan ARM adalah perjuangan bersama rakyat. “Karena itu kita harus lebih wapada dan benar-benar mendengar apa kehendak rakyat yang menjadi binaan kita masing-masing di berbagai sektor dan daerah!” seru mantan Aktivis ITB yang dipenjara 3 tahun oleh rezim Orde Baru di LP Nusakambangan ini.

Terkait dengan ini pula, lanjut Jumhur, melalui jaringan komunikasi yg ada, kita bisa bertukar informasi shg sewaktu-waktu bisa mengambil sikap bersama secara serentak demi ikut menyelamatkan jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jumhur menyerukan kepada para Pimpinan Serikat Buruh, Aktivis Gerakan Pedagang Kaki Lima, Miskin Kota dan Serikat Petani, serta Pimpinan OKP khususnya yang berkoordinasi dalam Aliansi Rakyat Merdeka (ARM) untuk bergerak bersama. “Selamat berjuang!” seru Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (FSPMI) dan Ketua Pembina Gerakan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Gaspermido) ini. (ira)

Advertisements

0 Responses to “Kenegarawanan : Politik Karakter Sumber Daya Manusia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,193,053 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: