12
Mar
15

Kepemudaan : PEMIMPIN (Pedoman Mimbar Pemuda Indonesia)

Logo Mapindo
Salam Pandu Ibuku !
Agenda PEMIMPIN Pekan Pemuda Indonesia berkerangka Pola Kerja MAPINDO sbb :PERSPEKTIF

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Bung Karno – 1963)

PROBLEMATIKA (Diagnostik)

“Kesungguhan Bernegara”

Professor Achmad Syafii Maarif
[republika.co.Id 3 Maret 2015]

Berbanding lurus dengan fenomena sepinya kehadiran negarawan di Indonesia, sikap ketidaksungguhan bernegara telah lama ditunjukkan oleh mereka yang menduduki posisi-posisi strategis pada hampir semua tingkat pemerintahan.

Parpol telah gagal mendidik kadernya agar punya komitmen dan kejujuran dalam berpolitik untuk membela kepentingan bangsa dan negara, jauh melampaui kepentingan pribadi dan partai. Ungkapan yang terdengar belum lama ini bahwa presiden adalah “petugas partai” dengan sendirinya telah menempatkan partai di atas kepentingan bangsa dan negara. Sesuatu yang semestinya tidak layak diucapkan, jika saja memang ada niat baik untuk memperbaiki kondisi Indonesia yang secara moral dan wawasan ke depan masih kelabu.

Sebagai bangsa yang dikenal heroik, semestinya kita sadar bahwa perjalanan untuk meraih kemerdekaan hampir 70 tahun yang silam sungguh panjang dan berliku. Arsip sejarah pergerakan kebangsaan yang embrionya dimulai sejak awal abad ke-20 sungguh kaya dengan cita-cita mulia dan kesediaan untuk berkorban tanpa pamrih.

Sebagian para pejuang itu tidak sempat menyaksikan kibaran Bendera Merah Putih sebagai lambang kemerdekaan bangsa menggantikan bendera tiga warna sebagai simbol penjajahan karena mereka telah dipanggil Allah sebelum tanggal 17 Agustus 1945.

Darah yang tertumpah, air mata yang telah kering, dan harta rakyat yang diserahkan untuk merebut kemerdekaan semestinya tidak disia-siakan oleh generasi yang datang kemudian setelah tujuan mulia itu tergenggam di tangan bangsa sendiri.

Inilah kesaksian sendu Ali Sastroamidjojo saat mendengar siaran proklamasi kemerdekaan itu, “Reaksi kami sukar saya gambarkan di sini. Istri saya yang tidak sering saya lihat menangis, waktu itu tiba-tiba duduk diam-diam seperti orang termenung dan air mata bertetesan dari matanya. Saya pun merasa sangat terharu. Bermacam-macam kenangan dari zaman yang lampau timbul di pikiran saya. Indonesia merdeka! Kata-kata yang melambangkan cita-cita bangsa kita dan yang sudah begitu lama kita perjuangkan dengan penuh penderitaan dan pengorbanan sudah menjadi kenyataan! Bangsa kita, negara kita sudah merdeka! Bermacam emosi timbul di hati saya. Rasa gembira bercampur dengan sedih. Gembira karena saya masih diperkenankan Tuhan untuk mengalami cita-cita bangsa itu tercapai, dan sedih karena ingat pada kawan-kawan seperjuangan yang telah tidak ada lagi di antara kita dan tidak bisa menikmati hasil perjuangan dan pengorbanan mereka. (Lihat Ali Sastroamidjojo, Tonggak-Tonggak Di Perjalananku. Jakarta: Kinta 1974, halaman 140).

Di antara pejuang nasionalis yang tidak sempat menyaksikan Proklamasi Kemerdekaan itu adalah Wahidin Soedirohoesodo (wafat 1917), Ahmad Dahlan (wafat 1923), HOS Tjokroaminoto (wafat 1934), Tjipto Mangunkusumo (wafat 1943), dan masih banyak yang lain yang makamnya mungkin tidak bertanda. Tan Malaka, seorang nasionalis-marxis, malah dibunuh oleh anak bangsa sendiri pada 1949, sebuah tragedi berdarah dan keji yang terjadi di ujung era revolusi kemerdekaan.

Di era revolusi kemerdekaan (1945-1949), rakyat kita terlalu banyak yang mati terbunuh. Hampir di seluruh nusantara, makam para pejuang itu telah menjadi saksi hidup bagi kita yang masih bernapas sampai sekarang. Penyair Chairil Anwar dalam lirik sadurannya di bawah judul “Krawang-Bekasi”, dengan sangat menghunjam hulu hati, antara lain, seperti terbaca di bawah ini.

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami
(Lihat HB Jassin, Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45. Jakarta: Gunung Agung, 1959, halaman 66. Ejaan disesuaikan).

Dengan membaca kembali autobiografi para pejuang dan puisi para penyair tentang makna kemerdekaan, siapa tahu jiwa kita akan tersentak dan bersedia mengkritik kelakuan masing-masing yang mungkin sudah menyimpang jauh dari jalan yang benar dan lurus sehingga sikap kesungguhan dalam mengurus negara akan pulih kembali. Jalan untuk pemulihan kesadaran masih terbuka lebar, dengan syarat orang bersedia keluar dari kubangan dosa dan dusta!

SOLUSI KEPEMUDAAN (Terapi)

DASAR PELATIHAN

Pusat Studi PEMIMPIN “Save Indonesia” oleh MAPINDO adalah berkerangka turut perkuat pembinaan Kader-kader Patriot Kebangsaan Pancasila Indonesia a.l berbasis Jatidiri Indonesia seperti Kajian Napak Tilas Patriot Indonesia a.l. Napak Tilas Dr Moewardi yang berkasnya telah dikirimkan ke Yayasan Obor Indonesia dan juga tercantum di buku Pandu Ibuku terbitan Yayasan Obor Indonesia, juga memperhatikan sesuai sikon kontekstual :

A) Modul http://m.edisinews.com/berita-piagam-karakter-pandu-indonesia.html

B) Modul Trilogi Jiwa Bela Negara melalui
1) pembentukan kepribadian dan akhlak mulia kaum muda,
2) penanaman semangat kebangsaan, cinta tanah air dan bela negara bagi kaum muda, 3) peningkatan keterampilan kaum muda sehingga siap menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, patriot dan pejuang yang tangguh, serta menjadi calon pemimpin bangsa berjatidiri Pancasila yang handal pada masa depan,

Rujukan a.l. Hand Out Bela Negara DepHan

C) Modul Pembekalan Kepemimpinan Demokrasi Pancasila dilakukan melalui pemahaman Trilogi Daulat Rakyat sbb :

1) Pidato Bung Karno pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945 yakni “dasar demokrasi Indonesia ialah dasar mufakat, dasar perwakilan dan dasar permusyawaratan” singkat kata “Negara Indonesia bukan satu negara unuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan walaupun golongan kaya, tetapi mendirikan negara ‘semua buat semua’, ‘satu buat, semua semua buat satu’ dan yakin bahwa syarat mutlak untuk kuatnya Negara Indonesia ialah Permusyawaratan, perwakilan”.

2) Bung Hatta menyatakan ” Pendeknya cara mengatur pemerintahan negeri dan cara menyusun perekonomian rakyat, semuanya harus diputuskan rakyat dengan cara mufakat, inilah arti kedaulatan rakyat, tidak saja dalam hal politik melainkan juga dalam sisi ekonomis dan sosial ada demokrasi [Ke Arah Indonesia Merdeka 1933].

3) Pembukaan UUD 1945 bahwa “negara yang berkedaulatan rakyat, berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan/perwakilan, oleh karena itu, sistem negara yang terbentuk dalam Undang-Undang Dasar harus berdasar atas Kedaulatan Rakyat dan berdasar atas permusyawaratan/perwakilan, memang aliran ini sesuai dengan sifat masyarakat Indonesia”.

D) Modul Pembekalan Kenegarawanan merujuk Trilogi Indonesia Merdeka 1945 :
1) Pancasila 1 Juni 1945
2) Proklamasi 17 Agustus 1945
3) UUD 18 Agustus 1945

Rujukan a.l. Negara Pancasila

E) Modul Pembekalan Kemuliaan

Rujukan a.l.  Karakter Mulia

METODA PELATIHAN

1) Ekstra Kurikuler berorientasi paket-paket kelompok umur 8-12 tahun, 12-18 tahun, 18-30 tahun
2) Interaktif Dialogis
3) Duplikasi ber Ke-Indonesia-an
4) Inspiratif Keteladanan
5) Kecakapan/Kompetensi ber Kearifan Lokal
6) Mentorship Pemuliaan
7) Multi Bhakti
8) Keseimbangan ImTaq dan IpTek (manusia berkiprah seutuhnya)
9) Berkelanjutan s/d Pemantauan Alumni

PEMEKARAN PELATIHAN

Sesuai kebutuhan Modul bisa dikembangkan jadi misalnya Saptalogi, Hastalogi dst

RUJUKAN PELATIHAN TAMBAHAN

A.l. Majalah PEMIMPIN 1937-1940, Buku-buku Sejarah Indonesia, Pandu Ibuku dlsb

CATATAN KHUSUS

Domain PEMUDA maksimum umur 30 tahun sedangkan Domain PANDU seumur hidup.

OPERATOR

Badan Kerja Sama Pandu Indonesia (BKSPI/JOB Joint Operating Body) antara MAPINDO (Provider) dengan Yayasan Obor Indonesia (Facilitator)

Salam Pandu Ibuku Selalu !

Tangerang Selatan, 10 Maret 2015

Originator,

MAPINDO – Majelis Pandu Indonesia

DR Ir Pandji R Hadinoto MH
(Pusat Studi PEMIMPIN “Save Indonesia”)
Praktisi Kepanduan :
Alumni Pandu Rakyat Indonesia 1958-1961
Alumni Gerakan Pramuka 1961-1967


0 Responses to “Kepemudaan : PEMIMPIN (Pedoman Mimbar Pemuda Indonesia)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: