07
Jan
15

AirAsia : Asuransi Rp1,25Miliar/Korban, Bayar !

Asuransi Rp1,25 Miliar Per Korban AirAsia Harus Tetap Dibayarkan!

Pandji4

Jakarta –  Ganti rugi bagi keluarga korban penumpang AirAsia QZ8501 sebesar Rp1,25 miliar harus tetap dibayarkan. Tidak boleh ada alasan bahwa dana asuransi itu terancam tak cair, karena izin penerbangan AirAsia QZ8501 itu diduga ilegal.

Ketidakserasian antara Ijin Trayek Direktorat Jenderal Perhubungan (DitJenHub) dengan Ijin Terbang Bandara secara yuridis formal, seharusnya dalam konteks praktek keperdataan asuransi bukanlah jadi bahan pertimbangan utama untuk kemudian secara tekstual berkesimpulan sebagai Illegal Flight, mengingat penerbitan Ijin Terbang Bandara Pemberangkatan bagaimanapun sudah diakui (general acceptance) oleh operator-operator teknikal terkait seperti pihak ATC dan pihak Bandara Tujuan.

“Artinya legalitas ijin terbang terbitan oleh Bandara Pemberangkatan telah berfungsi dalam praktek penerbangan berdasarkan otoritas Bandara Pemberangkatan,” tegas Advokator Politik Hukum, Dr Ir Pandji R Hadinoto MH di Jakarta, Selasa (6/1/2015), terkait Legalitas Biasa Polis Asuransi Penerbangan Ekstra.

Menurut Pandji, sudut pandang ini penting agar Kemanusiaan Yang Adil Beradab (Sila-2 Pancasila) dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Sila-5 Pancasila) terselenggara baik apalagi demi hak-hak para korban kecelakaan penerbangan.

“Bahwa ada perkara ketidakserasian praktek kebijakan operasional dengan praktek kebijakan regulator, hal itu adalah masalah tersendiri terkait good governance khusus tatakelola koordinasi internal regulator dengan subordinatnya yang tidaklah bijak diperlakukan serta merta berdampak negatif atau halangan terhadap hak-hak para korban,” ungkapnya.

Apalagi, lanjut Pandji, dikabarkan AirAsia dapat ganti rugi pesawat Rp1 triliun. “Dengan alasan-alasan seperti di atas maka hak Rp1,25 miliar per korban PerMenHub Nomor 77/2011 tentang ganti rugi kecelakaan pesawat seharusnya serta merta terselenggara,” tandas Inisiator PARRINDO (Parlemen Rakyat Indonesia).

Pandji menegaskan, bagaimanapun tidaklah elok bila bencana penerbangan yang tragis ini jadi polemik dan kemudian disikapi secara yuridis formal semata tanpa pertimbangan cita ideologi negara bangsa Indonesia yakni Pancasila.

“Selain itu juga perlu dirumuskan kebijakan ganti rugi uang rakyat yang digunakan ekstra bagi pembiayaan task forces BASARNAS dan mitra-mitra kerja lainnya akibat kelemahan pemrakarsa bencana yakni pihak operator pesawat terbang,” tutur Koordinator Poros Koalisi Proklamasi 17845 ini.

Sebagaimana diberitakan, AirAsia sebenarnya mengasuransikan penerbangannya. Perusahaan asuransi penanggung jawab utama penerbangan itu adalah Allianz. Klaim untuk pesawat diperkirakan US$ 94 juta. Sementara masing-masing penumpang yang jadi korban, keluarganya dapat santunan US$ 165.000 atau sekitar Rp 2 miliar.

Namun, dana asuransi itu terancam tak cair, karena izin penerbangan AirAsia QZ8501 itu diduga ilegal. Polis asuransi yang diterbitkan secara umum harus seusai dengan peraturan yang berlaku jika ingin dicairkan, peraturan ini termasuk izin terbang dan standar aturan penerbangan. (Ars)

Peradi: Keluarga Korban Bisa Tuntut AirAsia

Senin, 5 Januari 2015 | 16:07 WIB
AFP PHOTO / ADEK BERRY Anggota Basarnas menurunkan jenazah korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 dari helikopter Bell-420 yang membawanya dari KRI Banda Aceh di Laut Jawa dekat perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Sabtu (3/1/2015).


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Otto Hasibuan mengatakan, keluarga korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 bisa menuntut maskapai penerbangan tersebut.

“Ada dua hal yang bisa dituntut keluarga korban kepada pihak AirAsia atas kecelakaan pesawat tersebut,” kata Otto Hasibuan di Jakarta, Senin (5/1/2015), seperti dikutip Antara.

Dia menjelaskan, hak keluarga korban atas peristiwa jatuhnya pesawat dengan rute penerbangan Surabaya-Singapura tersebut tidak hanya pada klaim asuransi semata.

“Namun, juga hak yang lebih luas jika benar AirAsia melanggar jadwal penerbangan,” katanya.

Jika terbukti ada pelanggaran, batasan limitasi jumlah tanggung jawab ganti rugi kepada penumpang sebagaimana diatur Undang-Undang Penerbangan, kata dia, menjadi tidak berlaku. Sebab, hal itu bukan lagi sekadar kecelakaan, bukan kelalaian, melainkan merupakan perbuatan melawan hukum “tort” sesuai Pasal 1365 KUHP perdata.

Otto menambahkan, kalau benar terbukti ada pelanggaran tentang jadwal penerbangan dan karena perubahan jadwal tersebut mengakibatkan atau berkaitan dengan kecelakaan tersebut, keluarga penumpang dapat menuntut ganti rugi AirAsia dengan dasar perbuatan melawan hukum.

Sementara itu, jika kecelakaan tersebut terjadi karena “human error“, yaitu karena kesalahan pilot dan lain-lain, keluarga penumpang juga dapat menuntut ganti rugi kepada AirAsia karena mengakibatkan kerugian bagi penumpang atau keluarga adalah tanggung jawab perusahaan.

Selanjutnya, kalau kecelakaan terjadi kerena kesalahan design pesawat, itu adalah tanggung jawab perusahaan yang membuat pesawat Airbus, dan perusahaan tersebut juga bisa diminta tanggung jawab. Tuntutan-tuntutan tersebut tentu di luar asuransi penerbangan yang wajib dibayar.

“Masyarakat harus disadarkan akan haknya di depan hukum jika terjadi sebuah kecelakaan agar perusahaan penerbangan lebih berhati-hati dan tidak menganggap enteng nyawa manusia,” ujar Otto.

Dalam kesempatan itu, Otto juga menyampaikan ucapan dukacita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Peradi, baik secara institusi maupun perorangan, tidak akan berdiam diri jika ada keluarga korban yang meminta bantuan.

 

Rabu, 07 Januari 2015 , 14:25:00

Biaya Pencarian Korban AirAsia Dibebankan Pada Maskapai
Operasional Basarnas Didanai Negara

 

Tim pencari pesawat AirAsia QZ801 memantau dari udara. Foto: istimewa
Tim pencari pesawat AirAsia QZ801 memantau dari udara. Foto: istimewa

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi V DPR, Yudi Widiana Adia menyatakan biaya pencarian korban jatuhnya pesawat AirAsia dibebankan kepada maskapai, kecuali kegiatan official Basarnas yang didanai oleh negara.

Hal ini disampaikan Yudi menanggapi operasi pencarian dan evakuasi korban AirAsia yang sudah berlangsung 11 hari. Tentunya aktivitas tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit.

“Secara undang-undang anggaran pencarian dibebankan kepada maskapai. Untuk luar negeri mereka yang nanggung sendiri. Untuk kegiatan official Basarnas di backup negara,” kata Yudi saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Rabu (7/1/2015).

Ditanya mengenai pembagian tanggungjawab pembiayaan antara AirAsia dengan Basarnas selaku leading sector pencarian dan evakuasi, Yudi menyebut tergantung kesepakatan antara Basarnas dengan pihak maskapai.

“Itu tergantung kesepakatan antara Basarnas dengan pihak maskapai. Kan ada sumbangan-sumbvangan juga dari SKK Migas untuk BBM dan lain-lain,” jelasnya. (fat/jpnn)

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Sandro Gatra
Sumber : Antara

0 Responses to “AirAsia : Asuransi Rp1,25Miliar/Korban, Bayar !”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,062,175 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: