05
Jan
15

AIRASIA : Perlu Pengadilan Penerbangan AdHoc

Perlu Dibentuk Pengadilan Penerbangan AdHoc

ilustrasi. (ist)

Jakarta – Pengamat Politik Hukum, Dr Ir Pandji R Hadinoto MH, menilai peristiwa hukum AirAsia QZ8501 dengan Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Teluk Kumai dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, bisa menjadi tonggak sejarah penerbangan tropis yang penting bagi dunia penerbangan nasional dan internasional pada khususnya.

Beberapa perkara prinsip muncul seperti: pertama, opini perlunya kelengkapan perangkat pengenal pesawat elektronis yang terus menerus memancar, tidak saja bekerja pasca kecelakaan pesawat saja, yang ternyata tidak bekerja di AirAsia QZ8501 sehingga search & rescue kehilangan 3 hari pertamanya.

Kedua, begitu juga muncul perkara pengabaian taklimat cuaca pra take off. Ketiga, ada isu ketidakserasian antara ijin trayek regulator 6 (enam) bulanan dengan ijin terbang operasional yang kini sedang dalam proses investigasi Kementerian Perhubungan. “Kedua perkara terakhir di atas dapat terkait hubungan kausal sebab akibat dengan ujung perkara,” tandasnya, Senin (5/1).

Keempat, lanjut dia, resiko penghilangan nyawa manusia yang dapat pula dituduhkan sebagai dilakukan sengaja dan terencana. Kelima, good corporate governance dikesampingkan secara sengaja dan kontras

“Atas kelima perkara di atas, sebenarnya sanksi regulatif semata terasa belum cukup beri efek jera memadai, dibutuhkan sanksi-sanssi pidana dan perdata guna law enforcement yang tepat manfaat ditengah kuatnya arus regionalisasi MEA 2015 dan globalisasi neolib yang sulit terbendung,” tegas Pandji.

“Dan itu berarti perlu lembaga Pengadilan Penerbangan setidaknya AdHoc dibentuk guna menjaga martabat dan wibawa kenegaraan Indonesia dipergaulan dunia penerbangan, kini dan esok,” tandas Koordinator PARRINDO (Parlemen Rakyat Indonesia).

Pangkalan Bun adalah tempat terdekat dari lokasi penemuan benda-benda diduga bagian dari pesawat AirAsia QZ8051 rute Surabaya – Singapura yang hilang kontak pada Minggu (28/12/2014) pagi. Tim SAR menemukan beberapa serpihan benda-benda yang diduga bagian pesawat tepatnya di kawasan Selat Karimata.  (Pur)

Pandji: Tangkap Pesawat Terbang Asing Ilegal !

Minggu, 04 Januari 2015 – 01:02 WIB

Pandji R Hadinoto (kanan)

Jakarta – Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada Jumat (2/1/2015), membekukan sementara ijin rute penerbangan Surabaya-Singapura pp yang dikantongi PT Air Asia Indonesia karena telah melanggar persetujuan terbang yang diberikan.

Yakni, berdasarkan Surat Ditjen Perhubungan Udara No: AU.008/30/6/DRJU.DAU-2014 tertanggal 24 Oktober 2014 perihal Ijin Penerbangan Luar Negeri Periode Winter 2014/2015, bahwa rute Surabaya-Singapura pp yang diberikan kepada Indonesia AirAsia adalah sesuai dengan jadwal penerbangan pada hari Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu.

“Namun, pada pelaksanaannya penerbangan AirAsia rute Surabaya-Singapura pp dilaksanakan di luar ijin yang diberikan, yaitu antara lain pada hari Minggu. Dan pihak Indonesia AirAsia tidak mengajukan permohonan perubahan hari operasi kepada Ditjen Perhubungan Udara,” jelas Kepala Komunikasi Publik Kemenhub, JA Barata, sepeti dilansir berbagai media.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Perhubungan Hadi M Djuraid mengungkapkan, Kemenhub mendapatkan fakta baru sebelum pesawat AirAsia QZ 8501 hilang kontak. Ternyata, AirAsia tidak mengambil data cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelum pesawat terbang. “Berdasar laporan Kepala BMKG kepada Menteri Perhubungan, memang AirAsia tidak mengambil data cuaca sebelum terbang,” bebernya.

Ia ungkapkan pula, AirAsia tidak mengambil data cuaca sebelum pesawat QZ8501 take off pukul 05.36 WIB. Padahal, data cuaca tersebut sangat berguna bagi pilot saat menerbangkan pesawatnya. Anehnya, AirAsia baru mengambil data cuaca pada pukul 07.00 WIB, yakni 42 menit setelah pesawat QZ8501 hilang dari radar ATC pukul 06.18 WIB. Diduga, AirAsia baru mengambil data cuaca pada pukul 07.00 WIB karena adanya tekanan psikologis setelah pesawatnya hilang dari radar ATC.

Pertanyaan lebih lanjut, bagaimana dengan pesawat asing ilegal yang masuk wilayah udara Indonesia yang berarti tidak mengantongi ijin dari Kemenhub dan bahkan tidak mengambil data cuaca dari BMKG. Oleh karena itu, menurut Pengamat Politik Hukum Dr Ir Pandji R Hadinoto MH, bijaklah bahwa Kapal Ikan asing Ilegal ditangkap bahkan dibom, maka Pesawat Terbang Asing Ilegal harus segera ditangkap kalau perlu diledakkan pula.

Namun, kita dikejutkan lagi dengan adanya berita Pesawat Terbang Ilegal seperti Sabtu 3 Januari 2015 terberitakan di layar kaca TV. “Pembekuan ijin trayek terbang saja tidaklah cukup, karena ilegalitas terkait kedaulatan negara,” tegas Pandji R Hadinoto di Jakarta, Sabtu malam (3/1/2015).

Pandji menilai, khazanah perkara kriminalitas kini menjadi lebih kaya yaitu Illegal Flight disamping Illegal Fishing, Illegal Logging, Illegal Trading dan lain sebagianya, Illegalitas lainnya.

Menurut Pandji, negara harus berperan melenyapkan semua Illegalitas yang merugikan masyarakat dan negara, baik material maupun immaterial apalagi nyawa.

“Sehingga saatnya Pengadilan Penerbangan juga perlu dibentuk menyusul pembentukan Pengadilan Perikanan,” tutur Koordinator PARRINDO (Parlemen Rakyat Indonesia). (ari)

BERITA LAINNYA

Izin Terbang Ilegal, Kemenhub Duga Tak Hanya AirAsia

Minggu, 04 Januari 2015 – 07:08 WIB

Jakarta – Sejak Sabtu (3/1), Kementerian Perhubungan meminta keterangan sejumlah pihak untuk mengetahui pihak yang bertanggung jawab terkait izin terbang ilegal maskapai AirAsia rute Surabaya-Singapura. Dari beberapa keterangan diduga izin ilegal banyak digunakan sejumlah maskapai.

”Kami telah meminta keterangan beberapa pihak yang mengeluarkan izin terbang AirAsia itu, termasuk internal Kemenhub. Saya menyatakan itu izin ilegal karena tak pernah ada persetujuan dari Kemenhub. Saya menduga hal seperti ini juga dilakukan maskapai lain,” kata Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Kompas, terkait jadwal terbang AirAsia yang ilegal, kemarin Menhub meminta keterangan direksi PT Angkasa Pura I yang membawahi pengelolaan Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, Lembaga AirNav Cabang Juanda yang mengelola navigasi penerbangan di bandara itu, dan koordinator slot penerbangan internasional.

”Pemeriksa dari Kemenhub juga akan turun ke lapangan. Mereka akan memeriksa semua pihak terkait. Untuk AirAsia diketahui penggunaan jadwal itu sejak 28 Oktober. Kami akan periksa sampai ketemu semua yang bertanggung jawab mengeluarkan izin itu,” kata Jonan.

Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widyatmoko menyatakan akan ada tahapan evaluasi setelah izin penerbangan AirAsia rute Surabaya-Singapura dibekukan. Selama tahapan evaluasi belum tuntas, AirAsia tidak akan banyak berkomentar.

”Kami akan sepenuhnya bekerja sama dalam tahapan evaluasi tersebut,” kata Sunu di Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur, Surabaya.

Anggota Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Toos Sanitioso, mengatakan, pelanggaran yang berujung pembekuan rute itu bukan fokus KNKT. Namun, laporan bahwa AirAsia tidak mengambil laporan cuaca sebelum terbang menjadi bahan untuk diinvestigasi. (*)

Pemilik AirAsia: Ini Mimpi Terburuk Saya

Minggu, 28 Desember 2014 – 21:25 WIB

Tony Fernandes

Jakarta – CEO Air Asia Group Dato Anthony Francis “Tony” Fernandes dalam akun twitter resminya, menyatakan bagaimana menghilangnya pesawat Air Asia QZ8501 jurusan Surabaya Singapura sebagai mimpi buruk terburuknya.

Namun Tony menegaskan bahwa Air Asia tidak akan berhenti begitu saja. Ia mengaku tersentuh dengan dukungan yang terus mengalir dari para pengusaha penerbangan lainnya.

“I am touched by the massive show of support especially from my fellow airlines. This is my worse nightmare. But there is no stopping,” tulis dia. (Saya tersentuh dengan pertunjukan besar dukungan terutama dari sesama penerbangan saya. Ini adalah mimpi saya lebih buruk. Tetapi tidak ada berhenti)

Tony juga menyebutkan, sebagai CEO dirinya akan bersama-sama dengan seluruh karyawan dan penumpang untuk menghadapi masa sulit ini.

Taipan pesawat pemilik klub sepakbola Queens Park Rangers ini juga menambahkan prioritas utama Air Asia saat ini adalah menjaga dan memberi perhatian semampu mungkin terhadap keluarga dari kru dan penumpang pesawat ini.

“We will do whatever we can. We continue to pass information aa it comes,” sebutnya.

Tony meminta seluruh staf Air Asia untuk tetap kuat tabah menghadapi musibah ini dan tetap memberikan pelayanan yang terbaik. “Pray hard. Continue to do your best for all our guest,” ujarnya. (sor)

 

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-pemilik-airasia-ini-mimpi-terburuk-saya.html#ixzz3NwC38FQY

Apakah Air Asia QZ8501 Pesawat Hantu?

Sabtu, 03 Januari 2015, 18:15 WIB

Komentar : 88
 Jusman Syafii Jamal

Jusman Syafii Jamal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mantan menteri perhubungan Jusman Syafii Djamal menyebut mengenai pesawat hantu (ghost airplane) ketika membahas jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501. Istilah itu ia gunakan untuk menyebut pesawat yang terbang tanpa izin resmi.

Jusman menyoroti sanksi sementara berupa penutupan rute Surabaya-Singapura yang dikeluarkan kementerian perhubungan terhadap Air Asia. Karena, maskapai penerbangan itu dianggap melanggar persetujuan rute.

Air Asia disebut tak memiliki izin untuk terbang dengan rute Surabaya-Singapura pada Ahad. Izin diberikan hanya untuk empat hari, yakni Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu.

Jusman pun meminta agar tata cara pemberian sanksi itu diperiksa dengan seksama. Apakah memang telah melalui penyelidikan yang mendalam.

Apa Direktur Operasi Maskapai telah diperiksa ? Apa Kepala Bandara Juanda telah diperiksa ? Apa otoritas Bandara telah diperiksa ? Apa Slot Coordinator telah diperiksa ? Apa Direktur pemberi ijin rute juga telah diperiksa,” ujarnya melalui akun facebook seperti ditulis laman unilubis.com.

Menurutnya, proses itu merupakan sebuah mata rantai. Sehingga, tak mungkin ada pilot yang berani terbang jika tidak ada izin rute yang resmi.

Tak mungkin pula counter check in dan gate dibuka oleh manajer Bandara Juanda jika tidak ada izin slot yang resmi. Apalagi jika tidak ada clearance kelaikan udara dan clearance manifest dari otoritas penerbangan.

ATC tak mungkin melayani adanya permintaan ijin take off dan landing pesawat tanpa ijin. Apalagi bandara yang dituju adalah Changi Singapura yang terkenal sangat ketat. Tak mungkin mereka mau menerima “pesawat hantu” yang angkut penumpang bertiket kalau tak berijin resmi,” tulisnya.

Ia menyatakan, sulit untuk percaya kalau Bandara Changi mau menerima pesawat hantu mendarat di landas pacunya. Apalagi menyediakan gate dan membuka counter imigrasi jika pesawat Air Asia mendarat nantinya.

Terlebih, lanjutnya, Air Asia merupakan perusahaan publik yang terdaftar di pasar saham dengan GCG baku. Bahkan, perusahaan itu dikenal sebagai tempat kumpulan entrepreneur hebat berintegritas.

Sehingga, ujar dia, sulit untuk dipercaya akan melakukan tindakan ilegal seperti itu. Dengan risiko, akan mengorbankan citra Air Asia yang menyandang nama negara Malaysia hanya untuk satu keuntungan kecil yang tak seberapa.

Saya agak heran dan terus terang geleng kepala tak habis fikir. Apa benar begitu ? Apa tak terburu buru menjatuhkan sanksi pembekuan rute ? Kalau benar itu yang terjadi , ini disebut fenomena “Ghost Airplane”, pesawat terbang komersial yang diijinkan menjual tiket untuk terbang pada jadwal dihari minggu dan berhasil terbang tanpa kendala pada jam 5.30 wib, dengan didampingi oleh dokumen resmi, manifest, dan ijin penggunaan slot serta gate check dan counter di Bandara tentu sangat tidak lazim.”

KRI Bung Tomo Bawa Tiga Mayat Korban AirAsia

Selasa, 30 Desember 2014 – 20:41 WIB

Jakarta – Tiga jasad korban jatuhnya AirAsia bernomor penerbangan QZ8501 berhasil dievakuasi di Selat Kalimata, lebih kurang 10 km dari Pangakalan Bun.

Ketua Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI Bambang Sulistyo mengatakan ketiga jenazah terdiri dari dua wanita, satu laki-laki. “Saat ini ada di KRI Bung Tomo,” kata Bambang kepada media di Jakarta, Selasa (30/12/2014).

Ketiga jenazah dievakuasi tim pada pukul 16.50 sore tadi. Bambang mengatakan saat evakuasi berlangsung gelombang laut setinggi 2-3 meter. Tim mengalami kesulitan namun tetap berusaha mengevakuasi korban maupun serpihan pesawat.

Pencarian di daerah evakuasi dilakukan oleh KRI Bung Tomo, KRI Yos Sudarso dan kapal Basarnas. Tengah merapat ke daerah evakuasi untuk menambah kekuatan tim nanti malam yakni KRI Bandca Aceh, tiga kapal dari Singapura, KRI Pulau Remang, dan KRI Pulau Rengas.

“Kapal-kapal ini akan tiba di lokasi dan kalau dimungkinkan akan melakukan evakuasi sampai pagi hari,” jelas Bambang. (*/rmol)

 

Forward Laks Widodo Asp
(Panglima Koarmabar)
—-

YTH BPK PANGLIMA… SELAMAT SORE MHN IZIN MELAPORKAN KRONOLOGIS KEJADIAN DITEMUKANNYA SERPIHAN PESAWAT AIRASIA QS 8501 SBB:

1. SELASA, 30 DES 14 PUKUL 12.40 WIB POS 03°54`48″ D – 110°31`04″ T  PSWT HERCULES C-130 MENEMUKAN BENDA TERAPUNG YG DIDUGA SERPIHAN PSWT & TERLIHAT DIKEDALAMAN LAUT 25-30 M SEPERTI PSWT TERBALIK

2. AKSI YG DILAKS MENGERAHKAN UNSUR TERDEKAT YAITU KRI TOM & YOS

3. PKL 13.15 WIB KRI TOM MELAKS EVAKUASI PINTU EMERGENSI EXIT DIDUGA SERPIHAN PSWT AIRASIA QS 8501 DI POS 03°52` S – 110°27` T.

4. PKL 13.25 WIB KRI TOM MELAKS PENERBANGAN HELY BO NV-412 UTK MEMANTAU DIDUGA PSWT TERBALIK DI KEDLMAN LAUT SEKALIGUS MEMANTAU KEADAAN DISEKITARNYA.

5. PKL 13.30 WIB KRI TOM MELAKS EVAKUASI PINTU EMERGENSI EXIT.

6. PKL 14.00 WIB KRI TOM BERHASIL MENGANGKAT SERPIHAN PINTU EMERG EXIT EQUIPMENT (TERTULIS UTK 40 PERS) BERWARNA ABU2 PERAK BESERTA TABUNG OKSIGEN & SERPIHAN BAGASI KABIN PENUMPANG

7. PKL 15.20 HELY BO MEMBAWA SERPIHAN KE LANUD ISKANDAR PANGKALAN BUN, KALTENG

Dmkn bpk sbg laporan
@ Asops GPBA/Ltk M.Nursid sbg LO TNI AL Posko IDMCC BASARNAS

 

Dicurigai Ada Oknum Atur Perubahan Jadwal Penerbangan AirAsia

Air-Asia-

Jakarta – Kementerian Perhubungan mencurigai adanya oknum dari pihak bandara yang bekerja sama dengan perusahaan pesawat AirAsia terkait adanya pelanggaran jadwal penerbangan AirAsia QZ8501 rute Surabaya ke Singapure yang hilang kontak pada Minggu (28/12/2014).

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Perhubungan Udara Djoko Muriatmodjo mengatakan, pihaknya telah mengi‎rimkan tim investigasi ke Bandara Juada Surabaya untuk melakukan kajian mengenai dugaan pelanggaran yang telah dilakukan oleh pesawat AirAsia. Bahkan Kemenhub sudah mengintruksikan memindahkan personil terkait dengan adanya insiden kecalakan AirAsia.

“Itu yang sedang kita selidiki, bahkan kita sudah memindahkan personil yang diduga terkait dengan pengaturan jadwal penerbangan AirAsia,” ujarnya di Jakarta, Senin (5/1/2015).

Djoko sendiri mengaku, Kemenhub tidak memberikan izin penerbangan kepada AirAsia pada hari Minggu, lantaran pada Surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Nomor AU.008/30/6/DRJU.DAU-2014 tanggal 24 Oktober 2014 tercatat bahwa izin penerbangan rute Surabaya Singapure PP yang diberikan kepada Indonesia AirAsia adalah sesuai jadwal perbankan yakni Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu.

“Ini kan berarti antara aturan dan pelaksananya beda,” terangnya.

Karena itu, Kemenhub sementara mengambil keputusan untuk membekukan penerbangan AirAsia rute Surabaya Singapure begitu juga sebaliknya, sampai menunggu hasil investigasi dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak Kemenhub. Menurutnya, jika pada investigasi itu ditemukan juga pelanggaran jadwal penerbangan di maskapai lain, maka Kemenhub juga akan melakukan pembekuan.

“Kalau memang ada yang salah, rute yang terjadi pelanggaran maka akan kita suspend juga,” jelasnya. (Abn)

Kemenhub Ancam Bekukan Izin Terbang Ilegal

Kemenhub

Jakarta – Maskapai penerbangan PT Indonesia AirAsia tujuan atau rute Surabaya-Singapura untuk sementara dibekukan sampai proses investigasi. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menilai AirAsia telah melanggar jadwal terbang yang sudah ditetapkan.

Plt Dirjen Perhubungan Udara, Djoko Murdiatmojo menegaskan tak akan ada diskriminasi dan akan menindak tegas setiap maskapai yang melanggar aturan main penerbangan yang telah ditetapkan.

“Tidak ada kita diskriminatif, kita akan perlakuan sama,” ujar Djoko dalam konferensi pers di Kantor Kemenhub, Jakarta, Senin (5/1/2014).

Hal itu berlaku untuk perusahaan maskapai penerbangan mana saja. Oleh karena itu, saat ini Kemenhub sedang mencocokkan izin rute dengan realiasi jadwal penerbangan. Kalau ada yang tidak cocok dan terjadi pelanggaran Kemenhub akan melakukan pembekuan juga, seperti yang dilakukan oleh PT Indonesia AirAsia.

“Sebagaimana kita perlakukan pada PT Indonesia AirAsia,” jelasnya.

Seperti diketahui, PT Indonesia AirAsia rute Surabaya-Singapura dibekuan izin terbangnya, berlaku hingga evaluasi dan investigasi kecelakaan pesawat AirAsia Indonesia QZ 8501 selesai dilakukan. Pembekuan Sementara ini tertuang dalam Surat Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. AU. 008/1/1/DRJU-DAU-2015 tanggal 2 Januari 2015.

Pada Surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Nomor AU.008/30/6/DRJU.DAU-2014 tanggal 24 Oktober 2014 perihal Izin Penerbangan Luar Negeri Periode Winter 2014/2015, bahwa rute Surabaya-Singapura PP yang diberikan kepada maskapai adalah sesuai dengan jadwal penerbangan pada hari Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu.

Tapi, penerbangannya dilakukan di luar izin yang diberikan, antara lain, hari Minggu dan pihak AirAsia Indonesia tidak mengajukan permohonan hari operasi kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Hal ini merupakan pelanggaran atas persetujuan rute yang telah diberikan. (Pur)

Tidak Ada Korelasi, Kecelakaan AirAsia dengan Pelanggaran Jadwal Penerbangan

 

AirAsia

Jakarta – Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Perhubungan Udara Djoko Muriatmodjo menegaskan tidak ada hubungannya kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 dengan kesalahan jadwal penerbangan yang dilakukan AirAsia rute Surabaya ke Singapure pada hari Minggu (28/12/2015).

“Jadi kecelakaan pesawat AirAsia dengan kesalahan jadwal penerbangan itu dua hal yang berbeda,” ujarnya di Kantor Kemenhub, Senin (5/1/2015).

Menurutnya, pelanggaran yang dilakukan pihak AirAsia dengan melakukan jam terbang pada hari Minggu adalah kesalahan administrasi. Adapun mengenai kecelakaan jatuhnya AirAsia itu belum bisa dipastikan ‎penyebabnya karena apa. Bisa jadi kata Djoko, ada penyebab lain di luar itu. “Ini yang sedang diselidiki, jadi belum bisa disimpulkan,” tuturnya.

Penyebab lain yang dimaksud Djoko, bisa karena mesin, cuaca atau hal-hal lain di luar dugaan. Semua itu katanya, perlu penyelidikan yang mendalam dengan mempelajari data yang tersimpan dari kotak hitam yang sampai saat ini belum berhasil ditemukan.

Hanya saja kata Djoko, pihak Kemenhub perlu melakukan investigasi untuk mencari tahu siapa orang yang bertanggung jawab mengeluarkan izin ilegal kepada AirAsia QZ8501 pada hari Minggu. Meski tidak hubungannya dengan insiden yang terjadi. Namun menurutnya, sekecil apapun aturan jika tidak ditaati bisa jadi akan menimbulkan masalah yang besar.

Karena itu, Kemenhub terpaksa membekukan‎ jadwal penerbangan AirAsia rute Surabaya Singapure begitu juga sebaliknya, terhitung sejak tanggal 2 Januari 2015, sampai menunggu ada hasil investigasi dan evaluasi berjalan tuntas. Djoko juga menegaskan, jika dalam hasil investigasi itu ternyata banyak kesalahan yang dilakukan oleh maskapai lain, maka Kemenhub juga tidak segan-segan untuk mencabut izin penerbanganya.

‎Diketahui, berdasarkan surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara No AU.008/30/6/DRJU.DAU-2014 tanggal 24 Oktober 2014 perihal izin penerbangan luar negeri periode winter 2014/2015, rute Surabaya-Singapura yang diberikan kepada Indonesia AirAsia adalah hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu. (Abn)

Berbeda, Jadwal Penerbangan Pesawat di Bandara dengan Milik Pemerintah

Jadwal penerbangan

Jakarta – Pelaksana tugas Dirjen Perhubungan Udara Djoko  Muriatmodjo mengakui banyak maskapai yang memiliki jadwal penerbangan yang berbeda dengan jadwal yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan, seperti kesalahan penerbangan yang dilakukan oleh AirAsia QZ8501 rute Surabaya ke Singapure.

‎”Memang kadang data penerbangan yang ada di bandara berbeda dengan yang dimiliki Kemenhub,” ujarnya di Jakarta, Senin (5/1/2015).

Karena itu kata Djoko, Kemenhub telah mengirimkan tim investigasi dengan meminta keterangan kepada para pihak, untuk mengatahui siapa orang yang paling bertanggung jawab terkait izin ilegal maskpai AirAsia. Dari berbagai keterangan kesalahan jadwal penerbangan juga diduga dilakukan oleh maskapai lain.

“Kami akan periksa, siapa orang yang bertanggung jawab atas pengeluaran izin itu,” katanya.

Sementara pesawat AirAsia rute Surabaya ke Singapure telah dibekukan oleh Kemenhub begitu juga sebaliknya. Djoko meminta selama hasil evaluasi dan investigasi belum tuntas, pihak AirAsia tidak boleh banyak memberikan komentar. Pasalnya, AirAsia juga melakukan kesalahan lain karena tidak mengambil berita cuaca dari BMKG sebelum lepas landas.

Diketahui, berdasarkan Surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Nomor AU.008/30/6/DRJU.DAU-2014 tanggal 24 Oktober 2014 tercatat bahwa izin penerbangan rute Surabaya Singapure PP yang diberikan kepada Indonesia AirAsia adalah sesuai jadwal penerbangan yakni Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu.

‎Namun, pihak AirAsia justru meminta izin penerbangan pada Minggu 28 Desember 2014. “Ini kan berarti antara aturan dan pelaksananya beda,”‎jelasnya.

Djoko menegaskan, jika pada hasil investigasi nanti ternyata ditemukan pelanggaran oleh maskpai lain. Maka kata dia, pemerintah dalam hal ini Kemenhub tidak segan mencabut izin penerbangan bagi semua maskapai yang dinyatakan bersalah karena tidak mematuhi aturan yang ada. (Abn)

 

http://www.antaranews.com/berita/472104/25-penyelam-rusia-siap-cari-jenazah-korban-airasia

25 penyelam Rusia siap cari jenazah korban AirAsia

Sabtu, 3 Januari 2015 15:57 WIB |

Pewarta: Dewanto Samodro

Pencarian Menyisir Sungai Co Pilot heli Bolkow BO-105 TNI AL, Lettu laut (P) Fetaro Hia menyisir untuk mencari mayat hasil informasi warga, di sepanjang Sungai Cabang, Tanjung Puting Kalteng, Jumat (2/1). Heli Bolkow BO-105 milik TNI AL melakukan pencarian dengan menyisir Sungai Cabang Tanjung Puting Kalteng, atas informasi warga tentang keberadaan jenazah korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. (ANTARA FOTO/HO-Kapten laut (P) Erich Yuliontirta) ()

Pangkalan Bun (ANTARA News) – KP Balam milik Mabes Polri akan mengantarkan 25 penyelam dari Rusia ke muara Teluk Kumai untuk ditransfer ke KRI Pattimura pada Sabtu.

Sebanyak 25 penyelam dari Rusia tersebut akan membantu proses pencarian dan evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 di perairan Selat Karimata.

Hingga pukul 15.30 WIB anak buah kapal KP Balam masih menunggu kedatangan KRI Pattimura ke muara dan 25 penyelam Rusia itu di Pelabuhan Panglima Utar Kumai, Kalimantan Tengah.

Sebelumnya Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya FH Bambang Soelistyo mengatakan dua pesawat dari Rusia untuk membantu pencarian korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 telah tiba.

Dia mengatakan pada hari ketujuh pesawat Rusia akan bergabung melakukan pencarian di Selat Karimata dan sedang dalam perjalanan ke wilayah pencarian.

Salah satu pesawat, menurut dia, dapat mendarat di air sehingga memudahkan evakuasi. “Tapi dengan catatan tinggi gelombang terbatas,” ujarnya.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menemukan objek di dasar laut yang diduga bangkai pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata, sejak Kamis (1/1).

“Peralatan kami mendeteksi objek di dalam laut yang tampaknya bukan objek alam. Harapan optimis kami itu adalah bangkai pesawat yang jatuh,” tuturnya.

Ridwan mengatakan posisi terduga bangkai pesawat terdeteksi di koordinat 3 derajat 52 menit 9.44 detik Lintang Selatan dan 110 derajat 35 menit 11.06 detik Bujur Timur di kedalaman 29 meter hingga 30 meter. Objek yang terdeteksi memiliki ketinggian sekitar tiga meter..

Pesawat AirAsia Indonesia QZ8501 rute Surabaya-Singapura dilaporkan hilang kontak dari pusat pengendali lalu lintas udara pada Minggu (28/12).

Pesawat QZ8501 berjenis Airbus A320-200 dengan registrasi PK-AXC membawa 155 penumpang terdiri dari 137 orang dewasa, 17 anak-anak, dan satu bayi. Selain itu, juga terdapat dua pilot, empat awak kabin dan satu teknisi.

Tim gabungan pencarian dan penyelamatan mulai mendapatkan titik terang setelah menemukan serpihan pesawat dan jenazah sejak Selasa (31/12).

Badan SAR Nasional telah mengonfirmasi bahwa yang ditemukan adalah serpihan pesawat AirAsia dan jenazah penumpangnya.

Editor: AA Ariwibowo

Minggu, 04 Januari 2015 , 05:58:00

Anggota Basarnas Kerja Keras, Berapa Tunjangan Bulanannya?
Langsung Terdiam jika Anak Sudah Tanya Kapan Pulang

 

SELALU SIGAP: Tim Basarnas menurunkan dua jenazah penumpang AirAsia dari helikopter Dolphin di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Jumat (2/1). Kiprah anggota Basarnas cukup menonjol dalam upaya pencarian korban. Foto: Guslan Gumilang/Jawa Pos
SELALU SIGAP: Tim Basarnas menurunkan dua jenazah penumpang AirAsia dari helikopter Dolphin di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Jumat (2/1). Kiprah anggota Basarnas cukup menonjol dalam upaya pencarian korban. Foto: Guslan Gumilang/Jawa Pos

APA yang tampak di muka, belum tentu seindah di punggung. Perumpamaan itu terjadi pada personel Basarnas. Keberhasilan menjadi tim SAR terbaik di Asia sayangnya tak dibarengi dengan tingkat kesejahteraan yang mumpuni.

 

Berdasar pada pola penggajian Pegawai Negeri Sipil (PNS), besaran gaji yang diterima oleh pegawai Basarnas per bulannya ditentukan oleh golongan mereka di PNS. Golongan ini mengacu pada lama kerja kerja menjadi PNS.

Tentu jumlah tersebut pun terasa kurang pas dibanding dengan resiko besar yang harus mereka terima. Terlebih bagi mereka yang masuk dalam tim rescuer, yang notabene memiliki resiko cedera bahkan kehilangan nyawa.

”Karenanya, kita ada yang namanya tunjangan resiko tinggi,” ujar Kasubag Humas dan Media, Basarnas, Yusuf Latif.

Agar lebih adil, besaran tunjangan resiko tinggi ini disesuaikan pos masing-masing anggota Basarnas. Semakin tingggi resiko yang harus ditempuh, maka semakin besar tunjangan yang akan diberikan.

Sejauh ini, besaran tunjangan resiko tinggi  paling besar berjumlah Rp 1 juta per bulan. ”Tentu tim rescuer yang memiliki tunjangan resiko paling tinggi. Kalau besarannya, tergantung. Macam-macam,” ungkap pria kelahiran Ujung Pandang itu.

Untuk mendapatkan tunjangan bulanan itu pun tidak mudah. Tunjangan bisa didapat jika anggota Basarnas telah lulus ujian SAR Dasar. Proses ujian akan dilaksanakan dalam jangka waktu sebulan.

Dalam ujian tersebut, para anggota SAR wajib belajar teknik-teknik penyelamatan dasar baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Selain itu, mereka akan digembleng secara fisik dan mental.

Tak jarang, uji fisik dilakukan dengan kegiatan outbound seperti naik gunung atau tower. Ujian ini berlaku untuk seluruh anggota Basarnas, baik petugas lapangan maupun petugas di kantor. “Kalau gagal, mereka harus ulangi lagi tahun depan,” katanya.

Lalu bagaimana dengan tunjangan saat seorang sedang melaksanakan tugas berhari-hari? Seperti dalam proses pencarian AirAsia QZ8501 misalnya? PNS golongan 3B itu mengaku, remunerasi merupakan hal yang tidak pasti. Terkadang, ada tambahan yang bisa dibawa pulang. Namun tak jarang pula mereka pulang hanya dengan membawa banyak pakaian kotor.

Kendati demikian, diakui Yusuf, besarnya gaji tidak menjadi prioritas utama. Baginya, dapat menyelamatkan korban dalam keadaan selamat adalah kepuasan terbesar.

”Saat bertugas, bagi kami melaksanakan tugas adalah tujuan utama. Untuk urusan itu (remunerasi), urusan nanti,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh sang istri Mei Rita Janis. Bagi perempuan 35 tahun itu, kepulangan suaminya dalam kondisi sehat merupakan hal terpenting. Sebab, diakui Rita, tak jarang sang suami pulang dalam kondisi cedera. Apalagi saat Yusuf masuk menjadi tim rescuer selama 10 tahun, sejak tahun 1993.

Meski hidup dalam bayang-bayang rasa cemas, Rita mengaku telah siap sepenuhnya sejak awal. Karena, sebelumnya ia telah mendapat penjelasan terkait pekerjaan Yusuf sebelum menikah dengannya. Penjelasan itu pun dilakukan langsung oleh perwakilan pihak Basarnas.

Perlakuan itu bukan hanya padanya, namun pada seluruh calon istri dari anggota Basarnas. ”Ini kan memang resiko. Tentu harus siap. Banyak-banyak berdoa saja,” tuturnya.

Yusuf sendiri sempat merasa was-was jika sang istri akan kabur mendengar penjelasan yang diberikan oleh kepala Basarnas tempatnya bekerja saat itu. ”Karena uda terlanjur cinta kali ya. Jadi ya menikah juga akhirnya,” ujarnya kemudian tertawa.

Dalam menjalankan tugasnya, ada satu kelemahan yang kadang membuat dia ingin segera pulang. Yakni bila sang anak M. Fathullah Fitroh Yusuf (11) sudah mulai bertanya kapan ia akan pulang.

Setelah dijawab oleh Yusuf, siswa kelas 5 SD itu akan menandai hari kepulangan sang ayah. Bila tak kunjung sampai rumah, ia akan kembali bertanya kapan sang ayah akan pulang. ”Dia sih nanyanya selalu, papa kapan pulang. Udah kalau itu cuma bisa diam aja,”  tuturnya.

Dengan segala masalah yang ia hadapi, Yusuf mengaku tidak pernah menyesal masuk menjadi tim penyelamat. Ia justru bangga bisa mengabdi pada negara dan membantu sesama.

Meski tak jarang pula, atas kerja keras yang ia dan tim lakukan, mereka tak pernah menjadi sorotan. Ia percaya, Tuhan tahu siapa yang telah bekerja keras untuk melakukan penyelamatan.  Ia justru memilki harapan-harapan tinggi untuk Basarnas.

Pria yang telah mengabdi selama 21 tahun itu berharap seluruh sarana dan prasarana Basarnas dalam dilengkapi dengan peralatan-peralatan canggih. Sehingga ke depan, seluruh proses SAR dapat sepenuhnya dilakukan oleh Basarnas tanpa bergantung pada sistem lembaga lain.

“Sederhananya saja, misal untuk boat. Saat ini kan kapal masih fiber. Mungkin nanti bisa diganti dengan yang lebih canggih. Karena kan kita perlu melakukan update,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, ia turut meluruskan dugaan masyrakat yang menyebut pihaknya hanya bekerja pada saat terjadi bencana besar. Ia menegaskan, bahwa hal itu salah. ”Setiap hari ada sekitar 20 file aktif penyelamatan yang dilakukan oleh Basarnas di seluruh Indonesia. bahkan tidak pernah ada jeda kosong,” jelasnya.

Selain tetap melakukan pertolongan SAR, peningkatan kekuatan dan kualitas juga terus diasah setiap harinya. Mulai dari kekuatan fisik, latihan pola pikir, hingga kekuatan teknik SAR paling baru.

“Kita nggak sama dengan penjual peti mati. Saat ada yang meninggal kita untung. Justru, kita harus siap terus. Karena kita selalu berperinsip, kejadian musibah kapan pun dimana pun bisa terjadi. Sehingga harus selalu siap,” pungkasnya.

Cerita Mahdi berbeda lagi, PNS golongan 2A ini sudah 4 tahun menjadi petugas SAR. Dia rekrutmen Basarnas Banjarmasin. Selama operasi pencarian AirAsia 8501 ini, Mahdi banyak bertugas berjaga di Posko di Pangkalan Bun. Namun bukan berarti dia tak terlibat misi penyelamatan.

’’Hari pertama dan kedua, saya berada di Kapal Rib, namun karena ombak tidak bersahabat, tim saya gagal mencapai lokasi sasaran,’’ ujar pria asal Sampit itu. Menurut dia, penugasan di posko sering dirotasi. Personel yang bertugas di titik sasaran apabila kelelahan akan digantikan di posko.

Belakangan ini Mahdi banyak menangani evakuasi jenazah, dari helikopter ke ambulans. Meski belum banyak pengalaman terlibat kejadian besar, tak jarang Mahdi harus meninggalkan keluarga saat liburan.

’’Terakhir saya terlibat SAR saat ada speed boat yang tenggelam di Sampit. Pada hari ketiga operasi saat itu lebaran haji. Tapi bagaimana lagi namanya resiko pekerjaan, gak ada libur juga,’’ paparnya.

M. Iqbal anggota Basarnas asal Jakarta punya cerita berbeda. Dia sudah tidak pulang sejak kejadian longsor Banjarnegara.

’’Setelah kejadian Banjarnegara kan dilanjut banjir di Bandung. Setelah banjir teratasi kita sempat mengira akan off, ternyata ada kejadian AirAsia ini,’’ paparnya. Di Pangkalan Bun Iqbal bertugas sebagai koordinator pengisian perbekalan, salah satunya BBM helicopter Dolphin milik Basarnas dan heli lain milik TNI. (mia/gun/kim)

Senin, 05 Januari 2015 , 05:20:00

” Sukhoi Saja Mau Bayar Rp 1,25 Miliar”

 

Keluarga korban AirAsia QZ8501. Foto: Jawa Pos/dok.JPNN
Keluarga korban AirAsia QZ8501. Foto: Jawa Pos/dok.JPNN

JAKARTA – Asosiasi maskapai penerbangan nasional (Indonesia National Air Carrier Association/Inaca) menegaskan bahwa ahli waris korban kecelakaan pesawat AirAsia tidak akan mendapat santunan Jasa Raharja. Pasalnya, kecelakaan itu terjadi dalam penerbangan rute internasional.

“Dalam aturannya, santunan Jasa Raharja tidak untuk penerbangan internasional, jadi ahli waris korban tidak akan dapat yang Rp 50 juta itu karena rute Surabaya ke Singapura itu penerbangan internasional. Beda kalau itu terjadi dalam penerbangan domestik, misalkan Surabaya ke Jakarta,” ujar Sekretaris Jenderal Inaca, Tengku Burhanudin kepada Jawa Pos kemarin (4/1).

Namun begitu, Tengku meminta keluarga korban tidak kecewa karena Pemerintah sudah memiliki payung hukum dalam Peraturan Menteri Perhubungan nomor 77 tahun 2011 yang mengatur soal ganti rugi kecelakaan pesawat.

Dalam aturan itu ahli waris korban meninggal berhak mendapatkan ganti rugi Rp 1,25 miliar per orang. “Di luar negeri malah dibawah itu,” kata Tengku.

Meskipun dalam Konvensi Montreal disebutkan bahwa ahli waris korban meninggal kecelakaan pesawat berhak mendapat USD 165.000 (sekitar Rp 2 miliar) per penumpang, namun kata Tengku, belum banyak yang meratifikasi itu.

“Umumnya di negara lain USD 40-70.000 (sekitar Rp 500-875 juta), tapi Indonesia sudah USD 100.000. Angka itu sudah sangat besar,” lanjutnya.

Dalam kasus kecelakaan yang merenggut 162 nyawa ini, Inaca mendesak AirAsia untuk mengikuti aturan main di Indonesia. Sebab maskapai yang digunakan memakai maskapai penerbangan dalam negeri, memakai brand Indonesia.

Selain itu para penumpangnya juga mayoritas orang Indonesia. “Sukhoi yang bukan maskapai Indonesia saja mau bayar Rp 1,25 miliar,” tukasnya.

Seperti diketahui pesawat Sukhoi SSJ-100 yang sedang sedang melakukan joy flight promotion ke salah satu maskapai nasional jatuh di Gunung Salak Bogor pada 9 Mei 2012.

Dalam kecelakaan itu korbannya mencapai 45 orang. Tragedi itu menjadi ujian pertama bagi Permenhub 77 tahun 2011. Nyatanya, Sukhoi mentransfer Rp 1,25 miliar ke rekening ahli waris korban 6-7 bulan setelah kejadian.

Tengku menambahkan, para korban kecelakaan pesawat AirAsia bisa jadi juga memiliki asuransi optional yang biasanya ditawarkan pada saat pembelian tiket pesawat. Mengenai hal itu, Inaca yakin AirAsia memiliki catatannya.

“Pihak keluarga korban bisa menanyakan langsung ke AirAsia, saya kira AirAsia tidak akan menutup-nutupi karena itu hak orang lain. Etika bisnis pasti dijaga,” ungkapnya.

Demikian juga asuransi-asuransi lain kemungkinan dimiliki oleh penumpang secara pribadi. Dalam kasus Kementerian Perhubungan yang menyatakan penerbangan AirAsia di hari minggu (28/12/2014) pada saat terjadi kecelakaan tidak memiliki ijin, Tengku enggan menjawab.

“Itu harus diteliti benar-benar, sepertinya kok nggak mungkin terbang tanpa izin” kata dia.

Menurut Tengku, kasus izin itu tidak bisa dijadikan alasan oleh perusahaan asuransi manapun untuk tidak membayarkan kewajibannya. Sebab perusahaan asuransi itu tidak memiliki wewenang untuk menentukan suatu penerbangan ilegal atau tidak ilegal.

“Begitu orang meninggal ya harus bayar. Kecuali kalau mati bunuh diri. Ini kan jelas kecelakaan. Jangan sampai nanti dituntut ahli waris,” tegasnya.

Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Hendrisman Rahim mengatakan, mengenai kewajiban santunan dalam kecelakaan pesawat akan diurusi oleh asuransi umum yang menjadi mitra AirAsia.

“Kami di industri asuransi jiwa itu menangani penumpang yang beli polis kita sebelum terbang sama AirAsia. Jadi kami tidak ikut-ikutan yang Rp 1,25 miliar itu,” sebutnya.

Hendrisman mengaku beberapa perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI sudah melaporkan kepadanya secara lisan mengenai penumpang yang memiliki polis. Namun jumlah totalnya belum bisa ditentukan karena masih harus menunggu laporan dari masing-masing perusahaan.”Itu tersebar di banyak perusahaan, jadi saat ini belum bisa kami sebutkan,” tukasnya.

Dalam pertemuan dengan anggota AAJI, Hendrisman mengaku semua sepakat untuk membayar pertanggungan kepada ahli waris. Untuk itu pihak keluarga diminta untuk menyiapkan syarat-syaratnya.

“Ya seperti biasalah, surat kematian dan lain-lain. Pokoknya kalau proses identifikasi selesai, itu betul orangnya kita segera bayar. Tidak akan dipersulit karena ini jelas kecelakaan,” tegasnya.

“Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Julian Noor mengatakan klaim asuransi umumnya baru diproses oleh ahli waris korban setelah proses evakuasi, identifikasi dan pemakaman selesai dilakukan.

“Untuk yang sesuai aturan Permenhub Rp 1,25 miliar itu prosesnya pembayarannya bisa langsung oleh pihak asuransi atau lewat maskapai,” tuturnya.

“Sementara pihak AirAsia juga tidak akan mengalami kerugian materi karena asuransi akan mengganti pesawat yang rusak akibat kecelakaan dengan harga yang sesuai. Dalam kasus AirAsia, pesawat Airbus A320-200 harganya dikisaran Rp 1 triliun per unit.

“Ganti rugi sebesar itu tidak akan membuat perusahaan asuransi kolaps karena mereka sudah memiliki sistem resiko yang disetting bagus,” jelasnya. (wir)

Sabtu, 03 Januari 2015 , 06:04:00

AirAsia Dapat Ganti Rugi Pesawat Rp 1 Triliun

AirAsia Dapat Ganti Rugi Pesawat Rp 1 Triliun. Foto Jawa Pos/JPNN.com

AirAsia Dapat Ganti Rugi Pesawat Rp 1 Triliun. Foto Jawa Pos/JPNN.com

JAKARTA – Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai pihak maskapai AirAsia sama sekali tidak mengalami kerugian finansial akibat kecelakaan pesawat yang menewaskan 162 penumpang itu. Pasalnya, perusahaan asuransi-lah yang menanggung semua kewajiban dan kerusakan.

“AirAsia hanya rugi dalam hal imej saja, urusan finansial semua yang menanggung adalah pihak asuransi, mulai dari asuransi pesawat hingga asuransi untuk penumpang,” ujar Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Julian Noor kepada Jawa Pos (Induk JPNN.com), Jumat (2/1).

Dari sisi kerugian pesawat, AirAsia akan langsung mendapatkan penggantian senilai harga pesawat yang jatuh di perairan dekat Pangkalan Bun. Nilainya disesuaikan dengan harga pesawat sejenis dipotong biaya penyusutan.”Itu seperti asuransi mobil aja, kalau tabrakan total loss bakal dapat ganti senilai harga mobil. Untuk pesawat AirAsia itu bisa Rp 1 triliun,” tandasnya.

Data dari situs airliners.net, pesawat itu Airbus A320-200 itu dikirimkan dari pabrikannya di Perancis, Oktober 2008. Harga pesawat sejenis pada tahun itu berada pada kisaran USD 73,2 juta (sekitar Rp 915 miliar) hingga USD 80,6 juta (sekitar Rp 1 triliun).

“Itu nanti ada appraisal internasional yang khusus menghitung harga pesawat dikurangi biaya penyusutannya,” terangnya.

Julian mengaku mendapat informasi bahwa penanggung jawab asuransi pesawat AirAsia di Indonesia adalah PT Jasindo yang mendapat backup dari lead insurance Allianz.

“Soal asuransi untuk penumpangnya saya belum dapat informasi. Bisa jadi gabung di Jasindo, bisa juga di perusahaan lain,” sebutnya.

Namun begitu, dia menegaskan bahwa sesuai aturan internasional berdasar Konvensi Montreal seharusnya ganti rugi untuk kecelakaan pesawat bisa lebih Rp 2 miliar per penumpang. Namun Indonesia tidak meratifikasi Konvensi Montreal.”Indonesia punya Permenhub 77/2011 yang ganti ruginya Rp 1,25 miliar per penumpang,” lanjutnya.

Menurut dia, angka tersebut sudah sangat baik karena mendekati yang diamanatkan di dunia internasional. Besaran di tiap negara berbeda-beda tergantung dari tingkat ekonomi masing-masing.”Selain dapat Rp 1,25 miliar, juga dapat santunan dari Jasa Raharja Rp 50 juta per penumpang,” jelasnya.  (wir/gun)

Senin, 05 Januari 2015 , 05:29:00

Dugaan Kepala Basarnas Marsekal Madya F.H.B. Soelistyo
Bangkai Pesawat Tertutup Lumpur

 

TERJANG OMBAK: Tim penyelam dari Basarnas Special Group dengan kapal karet menerjang ombak untuk bergabung dengan para penyelam dari TNI-AL di KRI Banda Aceh, Minggu (4/1). Foto: Jawa Pos
TERJANG OMBAK: Tim penyelam dari Basarnas Special Group dengan kapal karet menerjang ombak untuk bergabung dengan para penyelam dari TNI-AL di KRI Banda Aceh, Minggu (4/1). Foto: Jawa Pos

JAKARTA – Pada hari kedelapan upaya pencarian pesawat AirAsia QZ8501 dan jenazah penumpang, muncul kendala baru. Selain faktor cuaca buruk, gelombang, serta arus bawah laut, tim SAR menemukan kondisi dasar laut di lokasi yang diduga tempat badan pesawat sangat keruh.

 

Kepala Basarnas Marsekal Madya F.H.B. Soelistyo menyatakan, 89 penyelam dari TNI dan Basarnas Special Group (BSG) belum bisa melakukan penyelaman kemarin (4/1).

Penyebabnya adalah arus laut yang kencang mencapai 2 knot serta kondisi air laut yang berlumpur.

”Hanya dua penyelam terpilih yang akhirnya menyelam. Itu pun tidak mendapatkan hasil,” paparnya dalam konferensi pers kemarin.

Mendengar laporan hasil penyelaman tidak maksimal, Soelistyo menginstruksi lima kapal yang punya alat remotely operated vehicle (ROV) –yang mampu mendeteksi benda di bawah laut– untuk mendekat ke lokasi pencarian.

Yakni KM Jayabaya yang mengangkut petugas KNKT, kapal RSS Supreme Singapura, RSS Swift Singapura, kapal Crest Onyx Rusia, dan kapal Baruna Jaya. ”Namun, karena arus laut terlalu kencang, ROV tidak bisa dioperasikan,” jelasnya.

Lumpur itu diprediksi mengganggu sinyal yang dikirimkan pinger atau alat pengirim sinyal yang menempel di bodi pesawat. Pinger itu akan berfungsi jika terkena air. ”Mungkin rangka pesawat tertutup lumpur sehingga sinyal pinger tidak bisa ditangkap radar,” duga Soelistyo.

Menanggapi hal itu, mantan penerbang pesawat tempur Hawk MK-53 tersebut menjelaskan, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Sebab, sampai kini tim gabungan belum menerima sinyal dari pinger AirAsia.

Kemungkinan yang lain adalah radar yang dimiliki lima kapal tersebut belum menjangkau posisi pesawat. ”Kan alat juga punya jarak jangkaunya. Mungkin belum terjangkau,” tambah dia.

Keruhnya kondisi air juga berpotensi memperlambat pencarian kotak hitam (black box). Ditambah derasnya arus laut, sangat mungkin peranti perekam suara di dalam pesawat itu bisa terseret jauh ke timur mendekati Laut Jawa.  (aph/mia/gun/byu/c9/kim)

 

Senin, 05 Januari 2015 , 15:11:00

Kemenhub Bantah Sengaja Incar Kesalahan AirAsia

 

ilustrasi
ilustrasi

JAKARTA – Plt Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Djoko Murdiatmojo menegaskan bahwa pihaknya tidak pilih kasih dalam melakukan pengecekan terkait izin rute mengudara maskapai di Indonesia.

Pernyataan Djoko ini menindaklanjuti kabar yang menyebutkan bahwa pihaknya sengaja mengincar atau mencari kesalahan AirAsia, yang dikabarkan telah melanggar izin terbang rute Surabaya-Singapura. Yang berdampak pada dibekukannya rute Surabaya-Singapura.

Ia menjelaskan bahwa semua airline di Indonesia tengah dicek izin rutenya, apakah sudah sesuai dengan ketentuan. Kalau nanti ada yang melanggar ketentuan, pihaknya tak segan akan membekukan rute tersebut.

“Kami sekarang sedang mencocokkan semua izin rute airline di Indonesia, kalau ada pelanggaran akan kita bekukan juga seperti rute AirAsia,” ujar Djoko saat menggelar jumpa pers di kantornya, Senin (5/1).

Di Indonesia kata Djoko tidak ada standar ganda dalam memberikan izin terbang. “Audit ini dilaksanakan kepada seluruh airline, tidak ada diskriminasi. Standar ganda itu tidak ada,” tegasnya. (chi/jpnn)

Senin, 05 Januari 2015 , 15:55:00

Hari Kesembilan, Sudah 37 Korban AirAsia Ditemukan

Hari Kesembilan, Sudah 37 Korban AirAsia Ditemukan. Foto JPNN.com
Hari Kesembilan, Sudah 37 Korban AirAsia Ditemukan. Foto JPNN.com

PANGKALANBUN – Pencarian korban pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata, Kotawaringin Barat, Kalimantah Tengah terus dilkukan oleh Tim SAR. Hingga memasuki hari kesembilan sejak Minggu, 28 Desember 2014 dinyatakan pesawat AirAsia hilang, pencarian korban yang dikoordinir oleh Basarnas sudah menemukan 37 jenazah, Senin (5/1).

Total 37 jenazah ini setelah tiga korban hari ini, Senin (5/1) ditemukan. Korban ditemukan oleh kapal Malaysia yang ikut melakukan pencarian di perairan Selat Karimata. Jenazah sudah dibawa ke Pangkalanbun, Kotawaringin Barat.

Minggu (4/1), Kepala Basarnas, Marsdya F Henry Bambang Sulistyo memastikan total adal 34 yang sudah ditemukan. 9 di antranya yang berhasil diidentifikasi Tim DVI Polda Jatim dan sudah diserahkan ke keluarganya. [Lihat: Inilah Data Jenazah Telah Dievakuasi dan Proses Identifikasi]

Itu berarti, masih ada 25 jenazah yang belum dikenali. Perinciannya, 13 jenazah masih menjalani pemeriksaan final dan 12 jasad sudah masuk tahap rekonsiliasi. (awa/jpnn)


0 Responses to “AIRASIA : Perlu Pengadilan Penerbangan AdHoc”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: