16
Dec
14

Mata Uang : Peringkat Dunia Rupiah dan JokoWi

MINGGU, 14 DESEMBER 2014 | 16:45 WIB

Rupiah Masuk Lima Besar Mata Uang Tak Dihargai

Ilustrasi uang rupiah. TEMPO/Subekti
TEMPO.COJakarta – Mata uang rupiah termasuk lima alat tukar yang tak dihargai di dunia. Saat ini, kurs tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat adalah 12.260. Adapun mata uang yang diakui secara internasional oleh PBB berjumlah 180. 

Dilansir dari The Richest, dari 180 mata uang, Indonesia masuk ke dalam urutan keempat mata uang dengan nilai tukar yang paling rendah terhadap dolar AS. Majalah The Economistmenyebutkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korupsi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi alasan nilai tukar rupiah sangat rendah. (Baca: Akhir Pekan, Pelemahan Rupiah Terparah Se-Asia)

Pada urutan pertama mata uang yang tak diminati adalah riyal, yang merupakan mata uang Iran. Penghasil minyak ini mata uangnya masih terhitung lemah. Nilai tukar US$ 1 setara dengan 26.905,00 riyal. Adapun peringkat kedua, adalah mata uang Vietnam, Dong, dengan nilai tukar 21.393,96 per dolar AS. (Baca: Rupiah Melemah, Ini Penjelasan Menteri Keuangan

Adapun Dobra yang merupakan mata uang negara Sao Tome, berada di peringkat ketiga dengan kurs 19.750 per dolar AS. Peringkat kelima yaitu rubel yang merupakan mata uang Belarus yaitu 10.869 per dolar AS. 

Nilai rupiah lebih buruk bila dibandingkan leone, mata uang Sierra Leone, dengan kurs 4.363 per dolar AS. Adapun riel, mata uang Kamboja, kursnya setara 4.058 per dolar AS.

Kurs rupiah terhadap dolar AS, terus melemah dalam beberapa waktu terakhir. Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, 12 Desember 2014, dibandingkan mata uang Asia lain, rupiah melesak paling dalam. Rupiah anjlok 117 poin (0,95 persen) ke level 12.467 per dolar Amerika.

Analis dari PT Monex Investindo Futures, Zulfirman Basir, mengatakan penguatan dolar di pasar global dan lonjakan permintaan korporasi dalam negeri memicu pelemahan rupiah. “Rupiah kini mendekati level terendah dalam enam tahun terakhir.”

DEVY ERNIS

http://sinarharapan.co/news/read/141217026/mata-uang-garuda-makin-tak-berharga

 

Mata Uang Garuda Makin Tak Berharga

17 Desember 2014 19:13 Faisal Rachman Nusantara dibaca: 14

Rupiah kini menduduki posisi keempat nilai mata uang terendah di dunia.

Terpuruknya nilai tukar rupiah ke level mendekati Rp 13.000 per dolar Amerika Serikat (AS) membuat rupiah makin tak berharga. Lebih mengenaskan lagi, dengan posisi nilai tukar seperti saat ini, rupiah menduduki posisi keempat nilai mata uang terendah di dunia dari total 180 mata uang yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dalam daftar terbaru yang dirilis The Richest, posisi rupiah hanya lebih baik dibandingkan mata uang Iran, rial, yang dihargai 26.905 per dolar AS, Vietnam, dong, dengan nilai tukar 21.393,96 per dolar AS, serta dobra, mata uang Sao Tome, dengan kurs 19.750 per dolar AS. Lebih memalukan, nilai tukar rupiah kini lebih buruk bila dibandingkan leone, mata uang Sierra Leone, dengan kurs 4.363 per dolar AS, serta riel, mata uang Kamboja yang kursnya setara 4.058 per dolar AS.

Beberapa bulan terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tren negatif. Bahkan, pada perdagangan, Selasa (16/12), rupiah sempat menyentuh angka Rp 12.900 per dolar AS.

Rupiah terakhir kali menyentuh level Rp 12.900 per dolar AS di akhir era Orde Baru 16 tahun lalu, tepatnya pada 17 Agustus 1998. Kala itu pairing US$/IDR mencapai Rp 12.900 per dolar AS. Gejolak politik setelah Soeharto turun di bulan Mei 1998 sempat membuat rupiah menyentuh rekor pelemahan di level Rp 16.650 per dolar AS pada 17 Juni 1998.

Melihat fenomena yang terjadi pada rupiah, sejumlah kalangan mempertanyakan langkah yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas mata uang garuda tersebut. Ini lantaran kebijakan moneter ketat yang dilakukan pemerintah dan BI, dengan alasan menjaga defisit neraca transaksi berjalan, juga dinilai tak berhasil. Sebaliknya, laju ekspor yang diharapkan ternyata masih saja lebih kecil dibandingkan impor sepanjang tahun.

Padahal, kebijakan yang diambil jelas membuat ekonomi makin melambat. Perusahaan tak bisa lagi melakukan ekspansi bisnis akibat likuiditas bank mengetat. Imbasnya, lapangan kerja baru yang seharusnya terbuka pun menjadi terhambat. Rakyat juga yang akhirnya terkena dampak.

“Ini semua karena fundamental ekonomi kita yang rapuh dan terus dibiarkan. Pemerintah selama ini kerap terlena hanya mengejar pertumbuhan ekonomi yang semu, tanpa melakukan pembenahan sistematis. Jangan heran jika kurs rupiah dan ekonomi kita gampang diobok-obok,” kata ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam kepada SH di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, terlepas dari sejumlah faktor yang membuat rupiah melemah, fluktuasi kurs yang sangat tinggi seminggu belakangan menunjukkan rapuhnya fundamental ekonomi kita. Hal ini tak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang memanfaatkan banyaknya celah menjadi kesempatan meraup keuntungan sendiri.

 

Fenomena Global

Namun, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan, pelemahan nilai tukar lebih bersifat temporer dan lebih dipengaruhi kondisi eksternal alias fenomena global. Dikatakan, per 15 Desember 2014, pelemahan rupiah harian baru mencapai 2 persen. Fluktuasi rupiah masih lebih baik ketimbang rubel Rusia yang mengalami pelemahan 10,2 persen, ataupun lira Turki yang mengalami pelemahan harian 3,4 persen. Secara year to date pelemahan rupiah baru mencapai 4,5 persen, lebih baik dibandingkan pelemahan yang dialami rubel 48,8 persen, lira 8,9 persen, dan real 12,4 persen.

Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVI) Muhamad Idrus menuturkan, akibat fluktuasi kurs yang tinggi, para pedagang valas mengambil posisi masing-masing agar tak mengalami kerugian besar. “Saat ini spread antara posisi jual dan beli rata-rata sekitar Rp 100. Sebelumnya spread paling hanya sekitar 15-20 poin,” ujarnya.

Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) seperti tidak memiliki strategi ataupun konsep pasti untuk menyelamatkan rupiah. “Mereka se­ngaja memperlambat ekonomi dengan sejumlah kebijakannya. Jadi, wajar saja jika rupiah akhirnya seperti ini,” katanya. Menurutnya, dengan pelemah­an rupiah yang disengaja dan terus berlanjut, ekonomi terus melambat dan memengaruhi sektor riil. “Kalau demi alasan memperbaiki current account, lalu pertumbuhan hanya jadi 5 persen, apanya yang untung? Untuk menambah lapangan kerja itu setidaknya dibutuhkan pertumbuhan di atas 6,5 persen,” tuturnya.

Purbaya mencatat sejak 2010-2014, rupiah melemah sekitar 25-30 persen dibandingkan mata uang negara lain. Dengan anjloknya rupiah, timbul sejumlah dampak negatif, di antaranya beban utang luar negeri yang meningkat, impor barang modal yang menjadi lebih mahal, dan peluang forex lost dari perusahaan.

Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, BI telah melakukan intervensi di pasar, sehingga bisa terlihat pergerakan nilai tukar rupiah mulai membaik dan kini sudah kembali ke sekitar Rp 12.600-an per dolar AS.
Sumber : Sinar Harapan

++++

 

http://sinarharapan.co/news/read/141217022/-div-jokowi-jangan-khawatirkan-rupiah-div-div-div-div-div-

 

Jokowi: Jangan Khawatirkan Rupiah

17 Desember 2014 19:00 Ninuk Cucu Suwanti/Toar S Purukan Nusantara dibaca: 2

 

Proyeksi pertumbuhan industri 2015 diyakini meleset.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kian terpuruk membuat iklim usaha dalam negeri semakin tidak kondusif. Namun, Presiden Joko Widodo atau yang kerap disapa Jokowi mengatakan, lemahnya nilai tukar rupiah tidak perlu menjadi hal yang dikhawatirkan.

Dalam rapat terbatas, Rabu (17/12), ia memban­dingkan kondisi RI dengan sejumlah negara lain yang nilai mata uangnya tak beruntung melawan dolar AS. “Dari sisi fundamental ekonomi, saya kira tidak perlu banyak hal yang dikhawatirkan.

Memang semua negara ini mendapatkan pelemahan nilai tukar. Kita melihat, negara kita bila dibandingkan Jepang, Malaysia, apalagi Rusia kita masih berada dalam kondisi baik,” ucap Jokowi dalam rapat bersama menteri-menteri bidang ekonomi, membahas nilai tukar dan strategi pencapaian target pertumbuhan ekonomi, serta anggaran dan rencana kerja pemerintah, di kantor kepresidenan, Rabu.

Ia mengatakan, justru naiknya nilai dolar bisa dijadikan kesempatan. Sisi industri harus didorong dan diberikan insentif agar industri-industri yang berorientasi ekspor lebih maju.
Sebaliknya, kalangan pe­ngusaha mendesak pemerintah mengambil langkah cepat strategis terhadap pelemahan rupiah. Terlebih, mayoritas pengusaha lokal justru meng­andalkan pinjaman modal dalam bentuk dolar.

 

Implikasinya, pada akhir tahun yang menjadi batas jatuh tempo utang, kalangan pengusaha menjadi kelimpungan membayar.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto kepada SH menyatakan, selain pengusaha yang meng­andalkan pinjaman dalam bentuk dolar, pelemahan rupiah sangat dirasakan para importir karena barang yang mereka impor menjadi lebih mahal.

“Kedua pihak itulah (importir dan peminjam) yang lebih banyak terkena penga­ruh,” ujarnya dalam perbincangan, Selasa (16/12).

Ia mengakui, saat ini eks­portir sedikit lebih untung karena harga barang menjadi murah. Tetapi, saat yang sama, harga komoditas lain juga sangat lemah atau turun sehingga manfaat yang didapat tidak begitu berarti.

Jika dibiarkan berlarut, pelemahan rupiah akan semakin merepotkan pengusaha, terutama dalam merencanakan bisnis. Proyeksi  pertumbuhan industri pelayaran nasional adalah salah satu yang terimbas. Semula yang ditarget mencapai 5 persen per tahun, kini  diperkirakan meleset menyusul melemahnya pendapatan pengusaha pelayaran yang tergerus hingga 25 persen.

Sebagaimana Suryo, Carmelita menegaskan, untuk industri berbasis barang impor, seperti galangan kapal yang masih harus membeli komponen dari luar negeri, pelemahan rupiah sangat memukul. Di bidang pelayaran, industri pelayaran internasional adalah yang pa­ling terdampak.

Dalam struktur biaya ope­rasional, biaya perawatan menjadi salah satu pos yang terdampak. “Pengusaha pelayaran harus menanggung biaya operasional lebih tinggi, meliputi biaya perawatan, pembelian suku cadang, dan bahan bakar kapal. Semua itu menggunakan mata uang dolar AS. Sementara itu, pendapatan perusahaan dalam negeri mayo­ritas transaksi rupiah,” tutur Ketua Umum INSA, Carmelita Hartoto, Rabu.

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengamini pernyataan Kadin dan INSA. Ia mengakui, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cukup berpengaruh kepada industri yang masih menggunakan bahan baku impor. Terhadap ini, pihaknya terus mendorong agar ke depan industri harus mengoptimalkan penggunaan bahan baku dan komponen lokal. “Butuh waktu satu atau dua tahun untuk menekan ketergantung­an impor bahan baku dan kompenen yang persentasenya masih sekitar 70 persen,” ucapnya.

Terhadap pelemahan, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito mengungkapkan, salah satu dampaknya adalah terjadinya penjualan oleh investor asing di bursa saham dan obligasi. “Ada penjualan di obligasi negara sekitar Rp 10 triliunan sehingga mengakibatkan nilai tukar mendadak melemah terhadap dolar AS. Itu diikuti investor saham,” katanya.

Pada perdagangan kemarin, investor asing melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senuilai Rp 1,24 tri­liun. Namun, sisa pembelian bersih oleh investor asing (foreign net buy) sebesar Rp 46,2 triliun sejak awal 2014 sampai dengan kemarin masih mengompensasi, bahkan tercatat sebagai sejarah tertinggi di bursa saham Indonesia. “Kita tidak perlu khawatir berlebihan,” ujarnya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengakui, bank sentral sejak Senin (15/12) sudah mengintervensi pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN), dengan melakukan pembe­lian. Senin, BI membeli hingga Rp 1,5 tri­liun dan Selasa pagi membeli kembali sebesar Rp 200 miliar.

Menurutnya, pembelian kali ini menjadi yang tertinggi tahun ini. Pasalnya, baru saat ini juga terjadi capital outflow di SBN yang butuh intervensi sebesar itu. (Faisal Rachman/Ellen Piri)

 

On 12/16/2014 10:48 PM, Awind wrote:

http://www.tempo.co/read/news/2014/12/16/087628988/Strategi-Jokowi-Atasi-Pelemahan-Rupiah

Selasa, 16 Desember 2014 | 21:45 WIB

Strategi Jokowi Atasi Pelemahan Rupiah

Strategi             Jokowi Atasi Pelemahan Rupiah

Presiden Jokowi bersama Ibu Iriana Widodo saat persiapan pemotretan bersama Kabinet Kerja di halaman Istana Negara, Jakarta, 27 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joko Widodo menyatakan telah mempersiapkan langkah untuk mengatasi pelemahan rupiah dalam jangka pendek. Jokowi yakin pelemahan rupiah tidak akan berlangsung lama karena fundamental ekonomi Indonesia terus mengalami perbaikan. (Baca: Alasan Jokowi, Pelemahan Rupiah Tidak akan Lama)

Menurut Jokowi, pelemahan nilai tukar tidak hanya dialami oleh Indonesia. Tekanan di Indonesia, kata Jokowi, disebabkan oleh tingginya arus modal keluar. “Mulai ada penarikan dana lagi ke Amerika Serikat,” kata Jokowi dalam penutupan Rapat Kerja Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Selasa, 16 Desember 2014.

Demi menahan laju penurunan rupiah, Jokowi mengatakan, pemerintah akan menyiapkan langkah perbaikan kinerja perdagangan dengan meningkatkan ekspor di sektor industri dan menekan laju impor. Selain itu, menurut Jokowi, Bank Indonesia sudah melakukan intervensi pasar agar rupiah tidak semakin terpuruk. (Baca: Jokowi Hadiri Penutupan Raker BPK)

Secara terpisah, Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena megatren global. “Tanggal 19 Desember ada rapat The Fed, jadi wajar kalau orang berspekulasi,” ucap Sofyan.

Secara statistik, kata dia, selama periode Desember 2013-2014, depresiasi rupiah mencapai 2,5 persen. Angka ini masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan pelemahan yen Jepang yang sebesar 15 persen, dolar Singapura 6 persen, dan ringgit Malaysia 6 persen. Sofyan menolak jika kondisi saat ini disamakan dengan 1998. “Saat itu kan ada guncangan politik. Kalau sekarang kan aman,” katanya.

Pendapat berbeda disampaikan Direktur Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati. Menurut Enny, depresiasi rupiah bisa lebih buruk lantaran tingkat ekspor Indonesia terhadap impor masih lebih rendah dibanding negara lain di Asia. Selain itu, utang luar negeri Indonesia relatif lebih tinggi. “Karena itu, jika dilihat secara tahunan, depresiasi rupiah bisa lebih buruk ketimbang mata uang lain,” kata Enny kepada Tempo.

ANGGA SUKMAWIJAYA | ROBBY IRFANI

 

 

http://sinarharapan.co/news/read/141217020/jokowi-minta-pengusaha-manfaatkan-kenaikan-nilai-dolar-div-div-div-div-

 

Jokowi Minta Pengusaha Manfaatkan Kenaikan Nilai Dolar

17 Desember 2014 12:00 Finansial

 

Banyak negara juga mengalami nasib serupa dengan RI.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo meminta kalangan pengusaha untuk tak mengkhawatirkan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sebaliknya, presiden meminta pengusaha memanfaatkan momentum fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar untuk mendorong peningkatan ekspor.

“Kesempatan seperti ini, dari sisi industri di dorong diberi insentif sehingga industri yang berorintasi ekspor bisa bergerak lebih cepat sehingga mengambil keuntungan dari pelemahan rupiah ini,” kata Presiden yang akrab disapa Jokowi, saat membuka rapat terbatas bidang ekonomi di Kantor Presiden Jakarta, Rabu pagi.

Kepala Negara mengatakan pelemahan mata uang lokal terhadap dolar  tidak hanya dialami Indonesia, namun juga dialami oleh negara lainnya.

“Kita melihat negara kita dibandingkan dengan Jepang, Malaysia dan Rusia, kita pada posisi yang sangat baik,” katanya.

Presiden mengatakan meski demikian komunikasi antara pemerintah, Bank Indonesia dan juga Otoritas Jasa Keuangan terus dilakukan untuk mengelola fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

 

Tunggu Kebijakan Minyak Murah dan Jebloknya Rupiah

Oleh FUAD AL ATHOR (TANGERANG), TEROPONGSENAYAN
Rabu, 17 Desember 2014 – 08:20:51 WIB

BENARKAH kesempatan emas rendahnya harga minyak mentah di pasaran internasional tak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah Indonesia. Dihimpit oleh lemahnya nilai tukar rupiah terhadap US dolar membuat pemerintah kelimpungan menyikapi situasi. Padahal, dengan harga minyak yang mencapai US$ 57 per barel seharusnya pemerintah bisa mengambil langkah-langkah yang diperlukan, tidak hanya untuk mendapatkan keringanan pada beban APBN, akan tetapi juga guna mengamankan stok nasional sebanyak mungkin.

Harga minyak dunia terjun bebas di akhir tahun ini, menyusul lonjakan produksi minyak serpih alias shale oil di AS. Selain itu, pertumbuhan permintaan akan minyak di Asia dan Eropa juga tersendat, sementara produsen besar di Timur Tengah yang tergabung di OPEC –yang paling ngotot adalah Arab Saudi- enggan melakukan pemangkasan pada pasokan global.

Pada pembukaan perdagangan Senin (15/12) harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2015 dibuka melemah 1,28 persen ke posisi US$ 57,07 per barel. Sementara harga minyak Brent untuk pengiriman Januari 2015 berada di posisi US$ 62,08 per barel.

Terjun bebasnya harga ini sejatinya adalah perang harga di pasar minyak antara negara-negara Organization Petroleum Exporting Countries (OPEC) dengan Amerika Serikat (AS). Booming produksi minyak serpih (shale oil) AS menyebabkan pasokan minyak dalam negeri AS melimpah. Kuota impor minyak AS turun drastis. Dampaknya harga komoditas ini turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir.

Otomatis penurunan harga ini menggerus pendapatan negara-negara yang selama ini bergantung pada minyak, termasuk negara anggota OPEC. Negara OPEC yang paling tergantung pada minyak adalah Venezuela dan Iran.

Dasar dari hitungan perang harga ini adalah perkiraan dengan harga di bawah US$ 70 per barel Amerika masih akan lebih memilih mengonsumsi minyak impor sebab rata-rata biaya produksi Shale Oil masih berada di antara US$ 70 sampai US$ 77 per barel. Sementara negara seperti Arab Saudi produksi di darat (on shore) hanya menelan biaya produksi sekitar US$ 10-17 per barel. Ini adalah sebuah kekuatan besar yang mampu menentang AS.

Di sisi lain, pasar minyak Asia seperti Jepang dan Korea malah melirik USA untuk mendapatkan pasokan minyak nasionalnya. Mereka mulai mengimpor dari USA sebab dianggap lebih murah ongkos pengirimannya ketimbang membeli ke Timur Tengah. Hal ini menambah potensi perang harga semakin menghebat. Pada September dan Oktober, Korea Selatan telah mengimpor 1,6 juta barel minyak dari AS dan Kanada. Lalu, Jepang juga mulai mengimpor minyak dari AS sejak Oktober silam. Hal itu membuat produsen Timur Tengah terus memotong harga demi pangsa pasar.
Posisi Indonesia terhadap situasi harga minyak global ini?

Indonesia masih akan sulit untuk ikut menikmati penurunan harga minyak dunia. Penyebabnya tak lain adalah tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia yang masih tinggi tidak menyurutkan impor minyak. Apalagi, kurs rupiah masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sehingga membuat beban impor juga tinggi. Pada hari selasa (16/12/14) rupiah mencapai Rp. 12.900 per US Dolar. Ini nilai paling jeblok semenjak 1998 yang sampai di kisaran Rp. 16.000 per dolar AS. Pelemahan ini semakin mengantarkan ekonomi Indonesia ke ambang krisis atau kondisi ekonomi rentan.

Untuk bisa keluar dari kategori ekonomi rentan, Indonesia harus mampu memanfaatkan pelemahan rupiah untuk meningkatkan ekspor manufaktur. Namun, hal itu pun belum menjamin keuntungan yang lebih bagi Indonesia. Ini karena impor bahan baku juga akan meningkat. Kendati demikian, penurunan harga minyak dunia dipastikan akan menurunkan defisit transaksi berjalan.

Penguatan nilai tukar rupiah sangat diperlukan. Rupanya prediksi pasar bahwa rupiah akan menguat jika Jokowi terpilih meleset. Hal ini tentu dipengaruhi oleh kondisi politik dalam negeri. Meskipun ada analis yang menilai bahwa penguatan ekonomi di AS juga sebagai faktor menguatnya nilai dolar AS.

Mengentalnya kubu oposisi dalam KMP disinyalir menjadi penyebab yang membuat pasar agak khawatir akan stabilitas politik dalam negeri. Beberapa momentum politik di DPR menjadi gambaran politik Indonesia masih fragile. Dan ini akan sangat berpengaruh pada proses pengajuan APBN-P 2015 mendatang.

Pemerintahan Jokowi dinilai gagal memanfaatkan momentum “hangatnya” pemerintahan baru untuk segera melakukan konsolidasi di level elit politik. Politik yang semasa kampanye dititik-beratkan pada alur massa pasca pilpres alur berubah menjadi antara elit. Politik mobilisasi massa beralih pada politik negosiasi. Di sinilah letak lingkungan strategis pemerintahan Jokowi yang terlambat dikondisikan. Bahkan, kepresidenan terkesan cuek dan abai terhadap terbelahnya politisi Senayan.

Dampaknya, Pemerintahan akan sulit untuk segera memberikan stabilitas pada pasar yang cenderung wait and see pada keadaan makro politik dalam negeri. Agar tak terjebak di kemudian hari ada baiknya kepresidenan segera membuat langkah-langkah agar semua cabang Trias Politika berjalan dengan bergotong royong. Sebagai kepala pemerintahan ia boleh-boleh saja tancap gas kabinetnya dengan sedikit mengejek “kekanak-kanakan” DPR, namun sebagai kepala negara ia berkewajiban menciptakan kondusivitas semua cabang kekuasaan.

Sementara di sisi kebijakan energi, pemerintah masih belum akan membuat langkah-langkah yang radikal mengingat hambatan utamanya adalah ada pada minimnya infrastruktur. Bagaimana hendak menimbun stok minyak mentah yang sedang murah, Kalau kapasitas kilang saja masih punya 7 kilang dan yang bisa dioperasikan hanya 6, semuanya bisa menampung sekitar 800 ribu barel.

Dengan kondisi seperti ini pemerintah tak akan mengambil langkah yang menentukan pada saat-saat perang harga minyak mentah ini. Sangat disayangkan memang. Tapi menjaga kestabilan ekonomi makro yang tampaknya sangat tergantung pada stabilitas politik ini juga perlu dijadikan prioritas oleh pemerintah. Jangan sampai kita terjatuh pada krisis ekonomi untuk kali kedua seperti pada tahun 1998 lagi. Wassalam. (b)

(Fuad al Athor, tinggal di Tangerang, adalah associate writers of LiPI (Lingkar Pemikir Indonesia)

  

5 Sebab yang Bikin Rupiah Terus Jeblok

By Siska Amelie F Deil on Dec 15, 2014 at 12:29 WIB

Liputan6.com, Jakarta- Dalam sepekan terakhir nilai tukar rupiah tercatat terus anjlok. Hingga awal pekan ini, nilai tukar rupiah bahkan menyentuh level terendah sejak November 2008 di kisaran 12.600 per dolar AS.

Mengutip data Bloomberg, Senin (15/11/2014), nilai tukar rupiah tercatat melemah 1,04 persen ke level 12.597 pada perdagangan pukul 9.05 waktu Jakarta. Sebelumnya nilai tukar rupiah anjlok parah hingga menyentuh level 12.610 per dolar AS.

Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah kian menyusut terhadap dolar, antara lain penguatan dolar hingga spekulasi perusahaan lokal yang melakukan aksi beli dolar sebelum akhir tahun.

Sejumlah investor asing tercatat telah menarik dana hingga Rp 10,09 triliun dari obligasi berdenominasi rupiah bulan ini sejak 11 Desember.

Ekonom Standard Chartered Eric Alexander Sugandi menjelaskan, terdapat kombinasi sejumlah faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus menurun.

“Faktor pertama yaitu data ekonomi AS yang semakin membaik dan memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya lebih cepat dari perkiraan,” ungkap Eric saat dihubungi Liputan6.com.

Kekhawatiran akan penguatan dolar AS karena peningkatan data ekonomi Faktor lain menurut Eric yaitu perputaran uang atau Great Rotation di mana dana asing yang berendar kembali masuk ke Amerika Serikat menjelang akhir tahun.

Dua sentimen tersebut merupakan faktor yang paling berpengaruh pada pergerakan rupiah belakangan ini. Selain itu, faktor berikutnya adalah kebutuhan dolar yang meningkat di akhir tahun.

“Kebutuhan dolar di akhir tahun dari korporasi lokal juga aliran dana yang berkaitan dengan penjualan obligasi belakangann ini tampak memberatkan rupiah,” ungkap Chief Trader Asian and Emerging Markets di Mizuho Bank Ltd, Shigehisa Shiroki.

Menurutnya, nilai tukar rupiah kini benar-benar berada di bawah tekanan. Eric juga menjelaskan, faktor keempat adalah persepsi pasar saat rupiah menembus level tertentu yang dengan cepat memicu aksi beli dolar.

“Namun mendekati natal dan akhir tahun, transaksi dolar akan berkurang karena sudah banyak pelaku pasar yang berlibur,” tuturnya.

Faktor kelima yang menekan nilai tukar rupiah adalah defisit transaksi berjalan yang terbilang masih cukup besar. Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sebesar US$ 6,8 miliar di kuartal ketiga dan Bank Indonesia berharap adanya penurunan defisit sebesar US$ 24 miliar sepanjang tahun ini.

“Kalau dilihat dari nilai fundamentalnya, seharusnya rupiah masih berada di kisaran 12.000-12.200 per dolar AS,” ungkap Eric.

Di tengah kondisi ini, BI diprediksi akan mulai melakukan intervensi dan mengambil tindakan untuk menahan rupiah melemah lebih jauh. Terlebih lagi saat ini, nilai tukar rupiah melemah melampaui nilai fundamentalnya.

Hal ini tentu saja memicu market panic, tapi tak akan lama dan rupiah dapat segera berbalik.

Eric awalnya memprediksi nilai tukar rupiah dapat bertahan di kisaran 12.200 per dolar AS di akhir tahun. Tapi dengan sejumlah faktor tersebut, nilai tukar rupiah masih akan terperosok lebih jauh ke kisaran 12.500-12.700 per dolar AS selama sepekan ke depan. (Sis/Nrm)

Jakarta45
Kamis, 11/12/2014 06:30 WIB

Ungguli Obama, Jokowi Finish di Posisi 8 ‘Person of The Year’ Majalah TIME

Ayunda W Savitri – detikNews
Jakarta – Nama Presiden Joko Widodo masuk dalam polling Person of The Year yang digelar Majalah TIME. Meski tidak menduduki puncak peringkat, Jokowi berhasil menggunguli Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Dikutip dari situs TIME, Rabu (10/12/2014) malam, pejuang Ebola berada di peringkat teratas pilihan redaksi majalah asal Paman Sam tersebut. Disusul oleh Ferguson Protesters di peringkat kedua dan Vladimir Putin di peringkat ketiga. Sementara Massoud Barzani berada di peringkat keempat disusul Jack Ma.

Sedangkan untuk pilihan pembaca melalui polling, gelar jawara Person of The Year 2014 disabet Perdana Menteri India Narendra Modi dengan perolehan suara mencapai 16,2 persen. Ferguson Protesters berada di posisi kedua dengan raihan suara 9,2 persen.

Nah, untuk posisi Jokowi yang juga mantan Gubernur Jakarta, pembaca menempatkannya di urutan kedelapan dengan mengantongi suara 2,7 persen. Sementara Obama yang sebelumnya telah dua kali terpilih menjadi Time of The Year berada di peringkat ke-11 dengan suara 2,2 persen.

Sebelumnya dalam polling yang dibuka sejak pertengahan November hingga 6 Desember 2014 itu, Jokowi pernah menempati peringkat ke-7 dengan 2,8 persen dan Obama di peringkat ke-12 dengan 2,3 persen. Sayang posisi tersebut bergeser hingga penutupan polling yang disampaikan melalui Twitter, Facebook dan situs TIME.com sendiri.

Berikut 15 besar Person of The Year versi pilihan pembaca TIME:
1. Narendra Modi (16,2%)
2. Ferguson Protestors (9,2%)
3. Joshua Wong (7%)
4. Malala Yousafzal (4,9%)
5. Ebola Doctors and Nurses (4,5%)
6. Vladimir Putin (4,3%)
7. Laverne Cox (3,4%)
8. Joko Widodo (2,7%)
9. Pope Francis (2,6%)
10. Chibok Girls (2,5%)
11. Barack Obama (2,2%)
12. Beyonce (2,1%)
13. Jennifer Lawrance (2%)
14. Angela Merkel (1,8%)
15. Taylor Swift (1,7%)

(aws/fdn)

Advertisements

0 Responses to “Mata Uang : Peringkat Dunia Rupiah dan JokoWi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,223,884 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: