16
Nov
14

Ekonomi Politik : Harga Minyak Dunia Turun, BBM Premium Rp 4.500 ?

FASTNEWS, Jakarta (15/11) –  Rencana pemerintahan Joko Widodo menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinilai tidak tepat. Pasalnya,  sejumlah kalangan menilai pada saat ini harga minyak dunia yang menjadi acuan harga BBM bersubsidi dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), mengalami penurunan tajam selama empat tahun terakhir.

Hingga penutupan perdagangan akhir pekan ini, Jumat (14/11/2014) harga minyak mentan acuan WTI spot berada di level US$ 75,82 per barel, sehari sebelumnya sempat meenyentuh level US$ 74,21 per barel. Level tersebut terendah selama kurang lebih empat tahun terakhir. Harga minyak mentah sempat berada di level US$ 71,24 pada 24 Agustus 2010.

Di satu sisi, sejumlah pengamat menyebutkan perubahan harga BBM tidak tergantung harga minyak mentah dunia karena itu akan berarti mengikuti mekanisme pasar. Namun di sisi lain, faktanya sejak era pemerintahan Megawati, perubahaan (kenaikan) harga minyak mintah dunia memicu perubahan harga BBM bersubsidi.

Pada era Megawati, ketika harga minyak mentah dunia menyentuh level US$ 32,68, BBM bersubsidi pun ikuti naik, premium naik Rp 100 menjadi Rp 1.550 per liter dan solar naik Rp 250 menjadi Rp 1.150 per liter. Pada 2003, ketika minyak mentah dunia menyentuk level tertinggi US$ 37,96, premium ikut naik Rp 260 menjadi Rp 1.810 per liter dan solar menjadi Rp 1.890 per liter atau naik Rp 740.

Memasuki era pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SB) – Jusuf Kalla (JK), kenaikan harga BBM bersubsidi lebih lagi. Selama tiga kali kenaikan BBM subsidi pada era tersebut, mencapai hingga 300 persen. Pada Maret 2005, ketika minyak mentah dunia menyentuh level US$ 56,8 per barel, kenaikan BBM bersubsidi premium sebesar RP 590 menjadi Rp 2.400 per barel dan solar naik Rp 210 menjadi Rp 2.100 per liter.

Selang delapan bulan berikutnya, tepatnya Oktober 2005, premium naik tajam Rp 2.100 menjadi Rp 4.500 per liter dan solar naik Rp 2.200 menjadi Rp 4.300 per liter. Saat itu harga minyak mentah kembali menyentuh level tertinggi di harga US$ 69,91 per barel.

Kenaikan ketiga kalinya pada era SBY-JK, terjadi pada 2008, di mana kala itu harga minyak menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah ke harga US$ 145,31 per barel. Pemerintah pun menaikkan BBM bersubsidi premium naik Rp 1.500 menjadi Rp 6.000 per liter sedangkan solar naik Rp 1.200 menjadi Rp 5.500.

Pada periode keduanya Presiden SBY yang didampingi wapres Boediono pada periode 2009-2012 kembali menurunkan harga BBM bersubsidi premium kembali ke level Rp 4.500 dan solar pun kembali ke level Rp 4.500 per liter. Saat itu harga minyak mentah dunia berangsur turun dan menyentuh level tertinggi pada periode tersebut di harga US$ 113,39 per barel.

Namun pada 2013 lalu ketika harga minya dunia stabil di kisaran US$ 90 – US$ 113 per barel, pemerintahan SBY kembali menaikan harga BBM bersubsidi premium ke level Rp 6.500 dan solar ke Rp 6.500.

BBM Naik, Pengusaha Istana Makin Kaya.

Lalu bagaimana harga minyak dunia 2014 ini setelah pergantian tampuk pimpinan nasional ke Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla? Minyak dunia sebetulnya meluncur tajam hingga menyentuh level terendah selama kurang lebih empat tahun. Menyentuh level terendah di harga US$ 74.2 per barel pada perdagangan Kamis (13/11/2014).

Meski demikian Presiden Jokowi rencananya akan menaikan harga BBM bersubsidi sekitar Rp 1.500 – Rp 3.000. Hal itu berarti harga BBM bersubsidi akan berada di kisaran Rp 8.000 – Rp 9.500 per liter. Pertanyaan lain pun kembali muncul, mengapa ketika Jusuf Kalla menjabat wapres, kenaikan harga BBM bersubsidi begitu drastis? Padahal negara bisa meraup untunng sekitar US$ 25 per barel, mengingat asumsi harga minyak mentah pada APBN-P 2014 mencapati US$ 106 per barel

Pengamat ekonomi, Tarli Nugroho menyarankan agar pemerintahan Jokowi-JK tidak menaikan harga BBM bersubsidi.  Menurutnya subsidi adalah hak rakyat dan bentuk insentif untuk rakyat. “Yang bermasalah selama ini adalah angka subsidi milik pemerintah itu ilusi,” tegasnya.

Lebih lanjut diungkapkan Tarli, kenaikan harga BBM bersubsidi hanya menguntungkan para pengusaha yang berada dibalik Jokowi-JK. Menaikkan harga BBM bersubsidi memang akan menambah pendapatan negara. Lalu peningkatan pendapatan tersebut akan turut mendorong belanja negara untuk pembiayaan proyek infrastruktur meningkat tajam. Siapa yang diuntungkan? Tentu, pengusaha-pengusaha di lingkaran istana, pendukung Jokowi – JK yang dengan mudahnya mendapatkan proyek.

Ditambahkan Tarli, harga riil BBM bersubsidi tidak dapat diketahui publik karena pemerintah, Pertamina dan SKK Migas selama ini tidak transparan dalam memberikan penjelasan berapa sebenarnya biaya pokok produksi BBM. “Selalu koar-koar subsidi sekian-sekian, tapi angka-angka itu tidak pernah terverifikasi,” tegas Tarli.

Di sisi lain menurut Tarli, penurunan tajam harga minyak mentah dunia tidak serta merta harga BBM bersubsidi juga harus turun. Menurutnya itu akan memberi kesan perubahan harga BBM dalam negeri mengikuti mekanisme pasar. Menaikan ataupun menurunkan harga BBM seturut harga minyak dunia tidak tepat. “Konstitusi kita melarang soal yang menyangkut hajat hidup orang banyak diserahkan pada mekanisme pasar,” tandasnya.

Tarli menjelaskan kalau logika harga minyak turun lalu harga BBM juga harus turun, berarti apalagi kalau harga minyak naik, berarti pemerintah sangat boleh menaikan harha BBM. Masalahnya bukan  soal naik atau turunnya harga minyak, tapi soal bagaimana sebenarnya perhitungan subsidi pemerintah, karena subsidi itu bukan barang haram.

Menurut Tarli, yang dituntut oleh masyarakat adalah kenaikan tingkat pendapatan masyarakat. Jadi, bukan harga BBM yang diturunkan, tapi standar pendapatan masyarakat yang dinaikan. Jangan bunuh ekonomi rakyat dengan kebijakan ekonomi yang hanya pro konglomerat dan modal asing. Rakyat harus diberi kredit murah, supaya bisa mengembangkan usaha. Pasar tradisional harus dilindungi, industri ritel harus dibatasi, karena itu adalah urat nadi ekonomi rakyat. Selain itu, batasi impor produk-produk agro agar para petani mendapatkan pasar dengan mudah. “Berapapun harga BBM, kalau daya beli rakyat tinggi, tidak akan jadi beban,” tegas Tarli. FN-05

– See more at: http://fastnews.today/article/harga-minyak-dunia-turun-tajam-seharusnya-bbm-premium-rp-4500#sthash.fJkKs959.dpuf

Advertisements

0 Responses to “Ekonomi Politik : Harga Minyak Dunia Turun, BBM Premium Rp 4.500 ?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,150,513 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: